Showing posts with label adab. Show all posts
Showing posts with label adab. Show all posts

Sunday, September 27, 2020

Catatan kunjungan Gus Baha’ ke Madura ( belajar menghormati guru dari seorang Gus Baha’)

* Catatan kunjungan Gus Baha’ ke Madura ( belajar menghormati guru dari seorang Gus Baha’)

Sebuah “kaidah alam” yang bukan rahasia lagi, bahwa di balik kemuliaan luar biasa yang dicapai seseorang, pasti ada penghormatan dan tadhim yang juga luar biasa kepada seorang guru

Bagaimana seorang Sayyidina Abu Bakar menangis haru ketika mendapat izin untuk mengawal hijrah Rasulullah padahal harta bahkan nyawa adalah taruhannya. beliau menganggap “khidmah” adalah sebuah anugrah tak terkira, alih-alih menganggapnya sebagai beban atau bahan keluhan seperti realita banyak santri di era kita ini.

Bagaimana seorang Imam Subki turun dari Onta yang dinaikinya setelah mengetahui bahwa orang “baduwi” penuntun ontanya pernah menghadiri pengajian Imam Nawawi.

Bagaimana seorang Syaikhona Kholil sampai rela turun dari sebuah delman karena “khawatir” kuda delman itu adalah salah satu dari keturunan kuda gurunya Syaikh Abdul Ghani Bima, dan bagaimana beliau sangat menghormati guru beliau Syaikh Abdul Adhim An-Naqsyabandi bahkan setelah Syaikhona wafat dan berpindah ke alam barzakh.

“ tadi ketika saya mau ziarah ke makam Syaikhona Kholil, tiba-tiba di depan gang saya “diusir” oleh beliau, beliau menyuruh saya untuk berziarah dulu ke makam Gurunya Syaikh Abdul Adhim “ jawab seorang Waliyyullah al-Mursyid Habib Muhsin Al-Hinduan Sumenep ketika ditanya mengapa beliau kembali di tengah jalan sebelum sampai ke Makam Syaikhona Kholil.

Bagaimana raut wajah Habib Umar akan berubah khusuk dan penuh Tadhim setiap kali siaran radio di mobil beliau memutar ulang rekaman pengajian guru beliau Habib Abdul Qodir Assegaf, bagaimana seorang Habib Mundzir al-Musawa akan segera turun dari kursi lantas bersimpuh di lantai ketika mendapat telpon dari gurunya Habib Umar Bin Hafidz meski jarak sang guru ribuan kilometer di Tarim Hadhramaut sana.

Dan masih banyak bukti-bukti nyata lainnya. Pun begitu dengan Gus Baha’, meski kealiman dan kegeniusan beliau adalah sisi yang banyak dikenal dan diekspos selama ini, dari dulu saya sudah curiga, bahwa dibalik kemuliaan luar biasa yang beliau dapatkan saat ini pasti ada penghormatan luar biasa juga kepada para guru beliau.

Selama ini kita mengetahui hormat dan kefanatikan beliau kepada Mbah Yai Maimun Zubair, itu sudah bukan rahasia lagi. Tapi kunjungan beliau Madura kemarin membuat saya mengetahui sisi “tadhim” lain dari seorang Gus Baha’.

Seperti biasa, destinasi yang wajib dikunjungi beliau pertama kali ketika menginjakkan kaki di bumi Madura adalah Makam Syaikhona Kholil, beliau seakan ingin mengajarkan kita satu adab : kalo mau bertamu ke suatu tempat, sowan dulu ke tuan rumahnya, ke shohibul wilayahnya, jangan asal “nyelonong” masuk begitu saja. Saya tidak sempat mengawal Gus Baha’ di Bangkalan, tapi melalui “orang dalam” yaitu dua murid kinasih beliau Habib ( Sodiq alkhered dan Muhammad Ismail Al-Ascholy ) saya mendapat info bahwa Gus Baha’ sedang menuju salah satu pesantren di Kota Sampang yang namanya mungkin masih asing di telinga masyarakat Madura : PP. Bustanul Huffadz As-Saidiyah.  Saya awalnya bertanya-tanya, di tengah jadwal padatnya, untuk apa beliau rela meluangkan waktunya untuk berkunjung ke sebuah tempat ?

Saya sampai di pondok Bustanul Huffadz sekitar jam 16:30 Wib, ketika itu Gus Baha’ dan rombongan sudah ada di dalam bersama pengasuh. saya masuk, Gus Baha’ mempersilahkan saya untuk duduk di dekat beliau. Jika dulu beliau selalu menanyakan :

“ mengapa nikah kok jauh-jauh ke Yaman ? “

Kali ini beliau bertanya :

“ katanya sekarang udah jadi artis ? “

Saya tersenyum tanpa jawab, dalam hati saya berkata :

“ jauh lebih artisan panjenengan Gus 😅”

Bagi saya seorang Gus Baha’ adalah sebuah fenomena, ketika keviralan beliau tak kalah dengan para artis dan para tokoh, Ceramah-ceramah beliau bahkan ditonton jutaan kali di Youtube, tapi beliau seakan tak peduli dengan semua itu. Terbukti sampai sekarang - disaat orang-orang berlomba-lomba untuk membeli Hp Iphone atau Android terbaru - beliau justru masih tetap memakai hp Nokia Simbian jadul yang mungkin sudah gak layak jual atau bahkan sudah punah di pasaran. Beliau gak punya Fb, Wa, apalagi Instagram.

Pada akhirnya saya tau, bahwa ternyata beliau berkunjung ke pondok itu bukan untuk mengisi seminar atau ceramah, melainkan untuk silaturrahmi sekaligus hurmat dan tabarruk. Apakah beliau pernah ngaji disana ? Tidak ! Jadi begini ceritanya :

Gus Baha’ mempunyai Sanad al-Quran melalui jalur ayahnya Kh. Nur Salim, Kh. Nur Salim mengambil sanad dan berguru kepada Kh. Abdullah Salam Kajen, dan Kh. Abdullah Salam berguru kepada Kiai Said Ismail pendiri pondok yang Gus Baha’ kunjungi.

Jadi kunjungan Baha’ bukan dalam rangka hurmat kepada guru (langsung) beliau tapi guru dari guru ayah beliau ! Kiai Said sendiri ternyata memang dikenal sebagai seorang ahli quran yang banyak mencetak ulama-ulama besar seperti Kh. Hasan Askari (Mbah Mangli) Kh. Abdullah Salam dan masih banyak murid beliau lainnya. Gus Baha sendiri pernah mengatakan bahwa Kiai Said adalah seorang ulama kelahiran Mekkah yang sudah hafal Quran sebelum usia baligh, dan ketika disebut nama Syaikh Said dalam Sanad Quran maka yang dimaksud adalah Kiai Said Sampang.

Pada acara di Sumenep kemarin, Gus Baha’ juga menyampaikan :

“ saya ini punya komitmen dari dulu untuk tetap istiqomah membaca kitab-kitab Mbah Mun, bersama santri saya juga Muhibbin. Saya tidak mau menjadi “tersangka” seorang santri yang menyia-nyiakan ilmu gurunya “ beliau lalu menukil komentar Imam Syafi’i :

الليث أفقه من مالك و لكن ضيعه أصحابه

“ Imam Laits itu lebih Alim fiqh daripada Imam Malik. Hanya saja ilmu beliau disia-siakan oleh murid-muridnya “ ( tidak ada yang memperhatikan dan membukukan ilmu-ilmu beliau sehingga madhzab beliau menjadi punah )

Dari Gus Baha’ dan para guru kita.. kita belajar bahwa kunci kemuliaan memanglah banyak, “ atthuruq ilallah bi adad anfasil kholaiq”  ucap seorang ulama, jalan menuju Allah ada sangatlah banyak sebanyak nafas para mahluk. Tapi bagi ia yang telah mengikrarkan dirinya sebagai seorang murid dan santri, kunci kemuliaan dunia-akhiratnya hanya ada pada tadhim dan cintanya kepada para guru. Persis seperti sebuah kalam yang dinukil oleh Mbah Hasyim Asyari dalam “Adabul alim wal muta’allim “

" الذي لا يعتقد جلالة أستاذه لا يفلح "

“ orang yang tak pernah meyakini keagungan dan kemuliaan gurunya ia tak akan pernah hidup beruntung dan bahagia “

Juga persis seperti pesan indah dari Sulthonul Awliya’ Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani :

" من أراد الفلاح فليصر ترابا تحت أقدام الشيوخ "

“ barang siapa yang menginginkan kebahagiaan (dunia-akhirat) maka jadilah ia debu di bawah telapak kaki para guru “

Mereka sudah melakukan dan membuktikan, tinggal kita ? Ingin memilih jalan yang mana ?

* Ismael Amin Kholil, Bangkalan , 25 September, 2020

Sunday, June 9, 2019

KETIKA ADAB MELAMBUNGKAN DERAJAT SYAIKHONA KHOLIL BANGKALAN

KETIKA ADAB MELAMBUNGKAN DERAJAT SYAIKHONA KHOLIL BANGKALAN

Dulu ketika masih kecil dan belum masuk pesantren, saya bisa dikatakan "awam" pengetahuan tentang sosok Syaikhona kholil Bangkalan. Yang saya ketahui dari para Santri, beliau yang saya ziarahi makamnya bersama ribuan santri Bangkalan pada setiap malam Jum'at itu adalah salah satu "Bujhuk" (buyut) saya. Saya baru mulai mengetahui keagungan nama seorang Syaikhona ketika mondok di PP. Darul Falah Amtsilati Jepara. Kala itu salah seorang sahabat memperlihatkan buku biografi Syaikhona Kholil berjudul : Surat kepada Anjing Hitam. Bermula dari situ, saya mulai mengetahui sedikit tentang sosok Syaikhona, tentang bagaimana beliau pernah menjadikan Bangkalan sebagai Pusat peradaban ilmu pada zamannya, juga tentang bagaimana beliau dengan "didikan emasnya" berhasil mencetak  ribuan ulama yang tersebar di penjuru nusantara.

Kisah tentang kehebatan Syaikhona bahkan masih "membuntuti" saya ketika sampai di Tarim Hadhramaut. Di awal-awal saya belajar disana, Salah satu senior menuturkan bahwa ternyata Syaikhona Kholil memiliki hubungan yang sangat erat dengan Habib Ali Bin Muhammad Al-Habsy Shohibul Maulid. Syaikhona bahkan disebut pernah berjumpa dengan Habib Ali, entah bagaimana caranya beliau sampai ke Seiwun di waktu itu. Konon suatu hari Habib Ali berkata pada murid-muridnya bahwa sebentar lagi akan datang seorang ulama besar, tak lama kemudian datanglah Syaikhona. Habib Ali menyambut beliau dan keduanya terlihat berbincang-bincang akrab, dan uniknya pada pertemuan itu Habib Ali bercengkrama dengan Syaikhona memakai bahasa Madura.. !!

" Sae Non ? Kakdimmah Salakkah ? " tanya Habib Ali kepada Syaikhona waktu itu.

Syaikhona dan Habib Ali memang hidup dalam kurun zaman yang sama, mereka berdua juga  pernah berguru kepada guru yang sama yaitu Syaikh Ahmad Zaini Dahlan Mufti Syafi'iyah di Mekkah kala itu.

Belakangan saya juga baru mengetahui bahwa ulama-ulama besar sekaliber Sayyid Muhammad Al-Maliki, Syaikh Ali Gomaa, Habib Salim Assyathiri, Habib Umar bin Hafidz dll memiliki sanad keilmuan yang bermuara kepada Syaikhona Kholil. Itu karena mereka mengambil sanad keilmuan dari Syaikh Yasin Al-Fadani, sedangkan Syaikh Yasin dalam berbagai fan mengambil sanad dari Kh. Ma'sum Lasem dan Kh. Tubagus Bakri Banten, yang mana keduanya sama sama berguru dan mengambil sanad dari Syaikhona Kholil Bangkalan. Jadi tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Syaikhona bukan hanya bisa disebut sebagai "Syaikhu Syuyukhi Jawa" atau Maha guru dari para ulama Jawa, Syaikhona juga layak disebut sebagai Maha guru dari Ulama-ulama dunia.

* Akhlak dan Adab luhur, kunci keagungan Syaikhona.

Selama ini banyak yang memandang Syaikhona sebagai sosok waliyullah pemilik ribuan karomah, yang seringkali perilakunya tidak bisa dinalar akal
orang-orang biasa. Syaikhona juga dikenal sebagai salah satu Inspirator berdirinya NU, seorang "murobbi" sejati yang murid-murid didiknya berhasil menjadi ulama-ulama besar yang menyebarkan Islam di seluruh penjuru Nusantara. Disini saya tak akan membahas tentang ribuan karomah dan keajaiban yang Syaikhona miliki, selain karena memang sudah banyak yang menceritakannya, saya rasa terlalu banyak membahas bab karomah hanya akan membuat kita menganggap bahwa Syaikhona adalah sosok yang tak bisa dijangkau dan dijadikan panutan. Toh padahal tujuan utama kita mengkaji sejarah seorang ulama adalah untuk menteladani tindak-lampahnya. Saya hanya akan menunjukkan satu "kunci", dimana dengannya Syaikhona bisa meraih dan menggapai semua kemuliaan yang terus mengalir sampai detik ini, dimana dengan "kunci" itu Hingga saat ini nama Syaikhona Kholil masih sangat diagungkan, ribuan peziarah juga memadati "pesarean" Syaikhona tiap harinya.

"Kunci" kemulian itu adalah Adab. Adab mulia Nan luhur adalah hal yang paling menonjol dari sejarah hidup seorang Syaikhona. Dimulai dari masa-masa beliau menuntut ilmu. Ketika nyantri di Pasuruan, Setiap memasuki Kawasan pesantren Sidogiri (setelah berjalan kaki sepanjang 7Km dari Kebon Candi tiap harinya) beliau selalu mencopot sandalnya sebagai wujud ta'dhim terhadap para Masyayikhnya.

Ketika Mondok di Genteng Banyuwangi, Syaikhona berkhidmah penuh kepada sang guru KH. Abdhul Bashir. beliau mengisi bak mandi, mencuci pakaian, mencuci piring dan memasak untuk Sang kiai. Beliau juga bekerja sebagai pemetik buah kelapa dengan upah 3 sen setiap 80 pohon. dan yang lebih menakjubkan, Syaikhona sama sekali tidak memakai sepeser-pun dari hasil jerih payahnya itu, semua uang penghasilannya beliau persembahkan untuk gurunya, untuk makanan sehari-harinya Syaikhona lebih memilih untuk memungut makanan sisa kiainya.

العبد و ما ملك ملك لسيده

" hamba sahaya dan semua yang ia miliki adalah milik dari tuannya "

Mungkin kalam shufi satu ini bisa mewakili prinsip seorang Syaikhona, "saking" tinggi-nya adab dan tadhim beliau terhadap gurunya, sampai-sampai beliau menganggap dirinya adalah seorang hamba sahaya yang bukan siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa  dihadapan sang Guru.

Pun ketika Syaikhona menuntut ilmu di Mekkah. Ketika berguru kepada Syaikh Muhammad Arrahbini yang merupakan seorang tunanetra, setiap malam Syaikhona sengaja tidur di pintu Musholla Sang guru, dengan harapan beliau akan menginjaknya ketika memasuki pintu musholla, lantas Syaikhona terbangun dan menuntun gurunya menuju pengimaman.

Di Makkah ,Syaikhona yang terkenal memiliki tulisan yang indah sering menulis kitab Alfiah dengan tangannya sendiri lantas menjualnya dengan harga 200 Ryal per-kitab. Seperti ketika mondok di Banyuwangi, Lagi-lagi hasil jerih payahnya itu beliau persembahkan untuk para gurunya, sedangkan untuk makanan sehari-harinya, Syaikhona lebih memilih untuk memungut dan memakan kulit-kulit semangka.

Masih pada fase pendidikan Syaikhona di Mekkah, Adab luhur yang menjadi prinsip beliau disana adalah, beliau sama sekali tidak pernah membuang hajat di tanah Suci Mekkah. Untuk menghormati Kota kelahiran Kanjeng Nabi ini, Syaikhona rela berjalan sejauh 6km keluar batas tanah suci untuk membuang hajat.

Tak cukup sampai disitu, ketika sudah menjadi seorang kiai besar yang disegani dimana-mana. Kala itu beliau pernah menaiki sebuah dokar, ditengah perjalanan beliau bertanya pada si kusir :

"kudanya bagus pak.. Dari mana ? "

" Dari Bima Kiai.. " jawab sang kusir.

Mendengar Nama itu beliau teringat akan seorang gurunya di Makkah yg berasal dari Bima. Beliau ingat bahwa gurunya itu mempunyai ratusan ekor kuda. Beliau lantas menyuruh kusir berhenti, Syaikhona lekas saja turun dari dokar itu karena beliau khawatir kuda itu adalah salah satu keturunan dari kuda-kuda yang dimiliki oleh gurunya dari Bima, Syaikh Abdul Ghoni Al-bimawy !!

Dalam menghormati ilmu dan ulama Syaikhona selalu total dan tak pernah tanggung-tanggung. Setiap hal yang berkaitan dengan ilmu, sekecil apapun nisbat-nya akan beliau muliakan. Kisah beliau dengan kuda dari Bima diatas adalah bukti nyatanya.

Beradab tinggi terhadap ilmu dan ulama adalah harga mati bagi Syaikhona, bahkan meski ulama itu adalah murid hasil didikan beliau sendiri. Sebagaimana dikisahkan oleh Kh. Ahmad Ghazali Muhammad dalam kitabnya "Tuhfah Arrawi",  sebelum wafatnya, Syaikhona pernah berkunjung ke Jombang untuk mengikuti pengajian Hadits yang diasuh oleh santrinya sendiri yaitu Kh. Hasyim Asyari di Tebuireng. Tak hanya itu, Syaikhona bahkan mengambil lalu membalik sandal Kiai Hasyim sebelum beliau turun dari musholla layaknya seorang santri yang mengharap berkah dari gurunya !

Tentunya masih banyak kisah-kisah tentang kehebatan adab dan akhlak Syaikhona yang belum terlacak hingga saat ini. Dan dengan itulah Syaikhona berhasil meraih semuanya, kejayaan, kemuliaan, dan nama agung yang masih sangat semerbak baunya sampai saat ini.

Generasi milenial yang hidup di masakini saya rasa tidak sedang mengalami krisis ilmu, media-media penyalur ilmu di zaman ini bahkan jauh lebih lengkap dibandingkan pada generasi sebelumnya. Perbedaan mencolok yang membuat kita jauh tertinggal dari para salaf kita terdahulu adalah kemerosotan Adab dan akhlak yang makin menjamur pada generasi kita ini. Tentunya faktor utamanya adalah kurangnya pengetahuan akan sosok-sosok Agung yang layak untuk dijadikan panutan.

Dengan tulisan ini saya ingin mengajak untuk tidak memandang kehidupan seorang waliyullah dari  "puncak" kemuliaan yang ia miliki. Tapi sudah seharusnya kita menilik jauh ke belakang, hingga kita tahu bagaimana dan dengan apa ia bisa mendapatkan dan meraih semua kemuliaan itu. Dengan itu kita bisa mengambil benang merah bahwa seorang wali bukanlah mahluk yang tak bisa dijangkau, ia adalah manusia sama seperti kita. Hanya saja Allah menganugrahkan untuknya ribuan keistimewaan. Ketika kita membaca sejarah hidup Syaikhona dari titik nol, dari titik dimana Syaikhona mulai melangkah untuk menjadi seorang ulama yang begitu harum namanya hingga saat ini, kita bisa mengambil banyak sekali nilai-nilai Adab yang bisa kita teladani. yang dengan mengamalkan adab-adab luhur itu dalam kehidupan kita- meski mungkin sangat mustahil bagi mahluk seperti kita untuk menjangkau derajat Syaikhona - mudah-mudahan kelak kita bisa diakui sebagai santri beliau "bil ittiba', dan dikumpulkan bersama beliau kelak bersama para anbiya' dan awliya'. 

فتشبهوا إن لم تكونوا مثلهم * إن التشبه بالكرام فلاح

" serupailah mereka jika engkau tidak bisa sama persis seperti mereka * sesungguhnya menyerupai orang-orang mulia adalah kunci keberuntungan.. "

Ismael Amin Kholil, 18 April, 2019
Memperingati Haul Maha Guru Ulama Nusantara yang ke 97.

Monday, October 22, 2018

BAJU DAN ILMU

BAJU DAN ILMU

Saya sangat beruntung, pernah beberapa tahun mondok dikajen dan mendekat dengan kiai Sahal(allahu yarham). Beliau pribadi yang sangat sederhana dalam hidup, dan terutama dalam berpakaian. Seringkali dalam keseharian hanya memakai baju taqwa, sarung batik, dan kopiah.

Untuk ukuran kiai sekelas beliau, ini sangat sederhana sekali.

Dan ternyata tak hanya dalam keseharian, ketika menghadiri undangan pun beliau juga berpakaian sederhana.Karena baju yang sederhana ini pula, beliau pernah ditolak untuk masuk ke sebuah acara, dimana beliau adalah bintang tamu yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya oleh sang panitia acara.

Saya masih ingat, ketika membuat undangan apapun, yai Sahal(allahuyarham) tidak pernah kerso(mau) bila ditulis dengan KH. Beliau hanya kerso ditulis: H.Sahal mahfudz.

Ini menunjukkan betapa para kiai yang sesungguhnya, malah seringkali merasa tidak pantas menyertakan gelar kiai, karena sekali lagi kiai atau ustad adalah wujud penghormatan orang lain kekita, bukan wujud kita membanggakan diri.

Dan ketika dirumah pun, saya belajar hal yang hampir sama pada bapak.Dalam menghadiri undangan pun, bapak saya juga sering berpakaian seadanya. Biasanya baju apa saja yang paling atas, sarung apa saja yang ada ditumpukan atas, dan kopiah(kadang hitam kadang putih).Dibeberapa kesempatan ditambah surban kecil putih(tapi waktu itu, ini sangat jarang).

Pernah suatu kali, bapak menghadiri undangan nikahan. Bapak rawuh dan diterima oleh salah satu panitia yang tahu siapa bapak(kebetulan sang manten adalah alumni kwagean), maka bapak langsung didudukkan dibarisan paling depan tengah.

Tak berselang lama ada panitia lain yang tidak tahu, langsung saja menghampiri bapak dan ngomong:"ngapuntene, niki ten ngajeng panggenane poro menteri lan kiai-kiai ageng. Panjenengan ten wingkeng mawon(maaf, dibarisan sini tempatnya para menteri dan kiai-kiai besar. Silahkan anda pindah kebelakang saja).

Bapak mengiyakan, dan langsung pindah kebelakang.

Hingga beberapa saat muncul lagi panitia yang awal, dan kaget kok bapak malah pindah ke barisan belakang. Dimintalah bapak kebarisan depan lagi. Bapak pindah, manut sesuai arahan.

Masalah belum usai, ternyata panitia lain mengerutu. Kok ini tamu gak penting pindah kedepan lagi. Akhirnya disuruh pindah kebelakang lagi.

Bapak manut saja, wong tamu.

Hingga akhirnya bapak disuruh pindah lagi oleh panitia yang tahu tadi, namun bapak menolak. "Pun kulo ten mriki mawon mboten nopo-nopo(sudah, saya disini saja tidak apa-apa)".

Tetap dibelakang, sebelah pinggir, bapak duduk hingga akhir acara.

Namun sebelum selesai, ternyata resepsi ditutup dengan doa.Dipanggillah nama bapak disertai penjelasan kalau bapak adalah kiai dari sang pengantin untuk menimpin doa.

Hahaha entah, bagaimana perasaan panitia yang mengusir beberapa kali tadi.

Fenomena Ini sesuai dengan dawuh yang diceritakan bapak beberapa hari yang lalu:

يكرم المرء بلباسه قبل الجلوس وبعلمه بعد الجلوس
"Seseorang, dimulyakan karena bajunya sebelum dia duduk. Dan dimulyakan karena ilmunya setelah duduk. "

Banyak orang yang menilai kemulyaan seseorang dengan melihat baju apa yang dipakai, seberapa besar surbannya, atau seberapa wah jubahnya. Namun ketika sudah duduk, maka standar mulai berubah, dengan keilmuanlah seseorang dimulyakan.

Yang terjadi akhir-akhir ini banyak yang mengejar kemasan kiai, ulama, atau ustad. Namun lupa mengisinya dengan ilmu yang membuat dia pantas disebut kiai, ataupun sebutan lain.

Karena kiai, ulama, ataupun ustad bukanlah gelar yang bisa kita cari, apalagi beli. Tapi adalah sesuatu anugerah yang diberi oleh tuhan, dan dilegitimasi oleh masyarakat.

"Ketika kita sudah berlaku layak, maka gelar yang layak juga akan datang dengan sendirinya."

Seorang gusdur pun pernah guyon:
"Saya lebih senang dipanggil GUS, karena sebutan KIAI terlalu berat buat saya".

"Jadi Kiai itu kan harus kuat tirakat: makan sedikit, tidur sedikit, ngomongnya juga sedikit. Nggak kuat saya. Enakan jadi Gus aja: dikit-dikit makan, dikit-dikit tidur, dikit-dikit ngomong"

Hahaha

#salamKWAGEAN

Saturday, October 20, 2018

PASANGAN MAKRUH

PASANGAN MAKRUH

(Ringkasan Mauidhoh alm KH. Syaerozi)

Saat walimatul arsy putra pengasuh PP Mambaul Maarif Denanyar, Umar bin KH Zainal Arifin Abu Bakar dan Muzadlifah Nur binti KH M Slamet Jakarta di Denanyar, Sabtu (17/2/2018), KH Saerozi Lamongan menjelaskan pasangan yang makruh. ’’Lelaki juwelek menikah dengan perempuan cuwantik itu makruh,’’ ucapnya disambut ger-geran ribuan tamu yang hadir termasuk Gus Ipul.

’’Karena mengganggu ketenangan lingkungan,’’ tambahnya, kembali disambut ger-geran. Ketika si istri memperkenalkan sang suami, bisa jadi dia dituduh telah diguna-guna. ’’Nemu nok endi   Nduk arek lanang koyok ngunu,’’ ucapnya, lagi-lagi disambut tawa hadirin. ’’Malah bisa menimbulkan fitnah. Banyak yang mendoakan agar si suami segera mati. Akeh sing arep-arep rondone,’’ ucapnya.

Inginkan menikah dengan cewek secantik apapun, menurut Kiai Saerozi adalah hak kita. Sah-sah saja. Demikian pula perempuan ingin menikah dengan cowok seperti apapun juga haknya. Sah-sah saja. ’’Tapi mbok yo bercermin. Modalku iki koyok opo. Biar tidak menyusahkan yang ngelamarno, karena bolak-balik ditolak,’’ ucapnya.

Kiai Saerozi juga berpesan agar ibu-ibu tidak gampang menyampaikan segala yang terlintas dibenaknya kepada suami. Lihat rumah bagus, ngomong ke suami. Lihat kursi bagus, ngomong ke suami. Walaupun istri maunya ngomong saja, itu sudah membebani pikiran suami. ’’Sebab perempuan itu bawaannya ngomong, laki-laki bawaannya mikir. Semakin banyak wanita ngomong, semakin banyak pula suami mikir. Kalau suami banyak mikir, ususnya jadi kaku. Akhirnya banyak suami yang mati duluan,’’ tuturnya.

Sebanyak 85 persen penyakit, kata Kiai Saerozi, disebabkan oleh pikiran. ’’Tidak ada penyakit yang disebabkan oleh omongan. Itulah sebabnya orang sakit jiwa badannya sehat-sehat. Sakit flu dan pilek saja tidak pernah, karena tidak pernah mikir,’’ paparnya disambut tawa hadirin.

Diminta atau tidak, kata Kiai Saerozi, suami cari uang itu pasti untuk istri. Hanya saja suami tidak berani ngomong akan belikan ini,  akan belikan itu. ’’Sebab kalau suami ngomong duluan, istri nagihnya ngalah-ngalahi bank. Dan istri selalu ingat, tak pernah lupa omongan suami,’’ ucapnya disambut ger-geran ribuan tamu yang hadir.

Sebenarnya, Kiai Saerozi menjelaskan empat maqolah. Saya datang hanya menangi dua yang terakhir. Orang mencari kenikmatan pada kemewahan, padahal adanya kenikmatan itu pada kesehatan. Semewah apapun, kalau tidak sehat, pasti rasanya tidak nikmat. Sebaliknya, sesederhana apapun jika sehat, pasti nikmat.

Orang mencari rezeki  di bumi, padahal adanya rezeki itu aslinya di langit. Rezeki itu pemberian Allah, bukan hasil jerih payah kita. ’’Hanya saja Allah memberikannya bersamaan usaha kita. Makanya Rosulullah SAW bersabda, harrik yadak, unzil alaika rizqo, gerakkan tanganmu niscaya Allah pasti menurunkan rezeki kepadamu,’’ jelasnya.

Nyambut gawe yang paling baik itu apa? ’’Yang sesuai hatimu. Istafti qolbak. Tanya hatimu. Jadikan kerjamu adalah hiburanmu,’’ pesannya.

Kerja apapun, jika hati kita senang, hasilnya pasti bagus. ’’Ngulang kok seneng, anak rame seperti apapun tidak ngersulo. Alhamdulillah aku teko arek-arek rame. Kalau tidak senang ngulang, anak rame bisa ditutuki,’’ urainya.

Senang itu tanda bersyukur. Jika hati kita senang dalam melakukan apapun, Allah yang akan membangun, menyempurnakan dan memberikan hasil terbaik. ’’Guru ngulang kok atine suweneng, muridnya pasti pinter-pinter,’’ bebernya.

Inilah sebabnya, murid selalu dianjurkan untuk menyenangkan hati guru. Jangan sampai menyakiti hati guru. KH Djamaludin Ahmad sering menyampaikan dawuh. Kata beliau, dawuh ini juga sering disampaikan KH Mahrus Ali Lirboyo. Intinya, murid yang menyakiti guru akan diuji tiga hal. Pertama, hilang ilmunya. Kedua, lidahnya ketul tidak bisa menyampaikan ilmu. Ketiga, jadi orang fakir miskin sebelum wafat

  
Semoga Allah menjadikan kita semua orang-orang yang menyenangkan bagi semua makhluk Allah.

(Rojiful M)

Wednesday, October 17, 2018

Kisah Nyata Keindahan Akhlak Putri Al-Habib Umar bin Hafidz - Yaman

Kisah Nyata Keindahan Akhlak Putri Al-Habib Umar bin Hafidz - Yaman

Selagi aku masih duduk di Daruzzahro, Guru Mulia Al-Habib Umar bin Hafidz pernah berkata kepada salah satu putri beliau :
“Darul Mustofa dan Daruzzahro ini bukanlah kepunyaan kita, sekalipun ayah yang mendirikannya tetapi sejatinya adalah kepunyaan Kakek kita Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam beserta putri kecintaan beliau ibu kita Sayyidah Fatimah Azzahro Radhiyallohu ‘Anha, maka sekali-sekali kamu jangan berbuat seenaknya di dalamnya, harus tunduk dengan segala macam peraturannya, jangan memakan hak-hak tamu Azzahro sebelum mereka semua telah habis makan kecuali sisa-sisa puing makanan dari mereka. Ingat !! peran kita di sini hanya sebagai pembantu, khaddam, dan pelayan yang melayani rumah ini beserta tamu-tamunya”.

Al Habib Umar bin Hafidz

Pada suatu hari, saat jam istirahat, aku hendak pergi ke kamar kecil, tetapi aku melihat putri kecil putri bungsu Habib Umar bin Hafidz duduk seorang diri di salah satu tangga Daruzzahro sambil memegang perut, maka aku pun menghampirinya dan bertanya:

“Ada apa denganmu wahai putri mulia?“

Maka dengan polosnya ia menjawab bahwa ia dalam keadaan lapar dari tadi, sebab sebelum pergi ke sekolah tidak sempat bersarapan terlebih dahulu, khawatir terlambat ucapnya. Spontan aku membalas ucapannya dan berujar:

“Mengapa yang mulia tidak mengambil sepotong roti di ruang makan Darruzzahro saja?”.

Ia hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Atau pulang sebentar ke rumah mengambil sarapan?”, tawarku kembali.

Ia pun tetap membalasnya dengan gelengan.

Aku semakin keheranan: “Bukankah engkau putri guru mulia kami (Habib Umar bin Hafidz)? Pemilik Daruzzahro ini wahai yang mulia?”.

Maka ia pun menceritakan pesan sang ayah untuk putra putri dan seluruh keluarga. Mendengarnya, aku tercengang dan terkejut, ku rasakan sudut mataku mulai berembun, hatiku bergetar mendengar penuturannya. Tidak hanya sampai di situ, putri kecil guru mulia mengejutkanku dengan perkara lain. Merasa kasihan dan tak tega, aku pun merogoh saku baju dan mengambil selembar uang di dalamnya:

“Jika begitu ku mohon ambilah ini sebagai hadiah dariku, dan belilah sedikit makanan untuk mengganjal perut yang mulia”, ucapku penuh harap sambil menyodorkan selembar uang itu ke hadapannya. Ia tersenyum ramah, mata beningnya menatapku lembut dan ia menolak halus pemberianku dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, namun aku terus merayu dan memohon agar dia bersedia menerimanya, tetapi putri kecil guru mulia tetap bersikeras untuk tidak menerimanya dan terus mengindahkan tangannya dari tanganku, melihat usahaku tiada henti, dengan polosnya ia berkata:

“Maafkan aku saudaraku, bukannya menolak pemberianmu, dan ingin melukai perasaanmu, akan tetapi ayah mengajarkan kami untuk tidak memberatkan orang lain dan tidak berharap belas kasih manusia selain belas kasih Allah Subhanahu wa Ta’ala, simpanlah uang itu, karena engkau lebih memerlukannya ketimbang aku, lagi pula kalau ayahanda mengetahui pasti beliau tidak akan menyetujuinya”.

Tes tes… ku rasakan air mataku mulai berjatuhan di pipiku, aku memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ku lihat kerudungnya nampak kumal, pakaiannya pun terlihat lusuh, ia hanya menggunakan keresek putih untuk alat-alat sekolahnya, kakinya penuh debu tanpa mengenakan sandal, aku terdiam terpaku tak mampu berkata sekalimat pun sampai putri guru mulia berlalu dari hadapanku sambil berlari-lari kecil dengan wajah yang tetap riang.

Aku menelan ludah susah payah, gemetar jiwaku menatap bayangnya yang perlahan menghilang dari pandanganku, hatiku bergetar hebat, pendidikan macam apa ini yang membuat anak sebelia dia memiliki hati sedemikian mulia. Sambil berderai air mata ku segerakan langkahku menuju kamar. Sesampainya di kamar ku membenamkan kepalaku di bantal dan pecah tangisku seketika, bagaimana tidak?

Jiwaku hancur lembur dihantam akhlak mulia sebegitu luhur, benar benar kami ini murid yang tak tau diri, jauh kami merantau dari negara kami hanya demi menimba ilmu serta mengambil keberkahan dari Guru Mulia beserta Sang Istri, malam-malam kami tidur dengan nyenyak, tidak pernah sedikitpun kekurangan air dan makanan, bahkan kami menganggap tempat ini seperti rumah kami sendiri, terkadang kami berbuat semaunya, makan dengan kenyang dan menggunakan kipas angin dan AC sepuasnya, tetapi guru mulia yang mendirikan tempat ini pun merasa tidak memilikinya dan tidak berlaku seenaknya.

Hatiku benar-benar serasa dicambuk rasa malu yang begitu dalam, teramat malu atas ketidaktahuan kami, atas sedikitnya perhatian dan kepedulian kami. Guru mulia beserta keluarga begitu memuliakan para pelajarnya melebihi penghormatan kami kepada beliau. Huhuhu… aku terus saja menangis.

Sampai akhirnya terdengar suara peringatan waktu istirahat segera berakhir. Aku pun menghentikan tangisanku dan menyeka air mata. Masih dengan mata yang sembab aku bangkit berdiri dan berniat mengambil air wudhu.

Saat ku lewati ruang makan Daruzzahro, sungguh ku menyaksikan pemandangan yang kembali sangat membuat hatiku miris. Ku lihat tangan mungil putri mulia memunguti beberapa pecahan roti yang tersisa dari bekas sarapan sebagian pelajar tadi pagi. Melihatnya aku membuang pandangan karena tak sanggup menyaksikannya.

Kejadian tersebut sangat membekas di hatiku sehingga aku merenungkannya selama berhari-hari. Semenjak itu aku jadi jarang ikut makan bersama dengan teman-teman lainnya, kecuali menunggu mereka telah usai semua, dan aku mulai bermujahadah melunturkan kesombongan yang ada di diriku.

Terkadang aku sengaja memakan roti yang sudah kering dan keras yang sudah ku hancurkan sebelumnya, atau memakan bekas-bekas nasi yang akan dibuang, atau makan bersama kawan tetapi dengan suapan yang terbatas, ketika kenyang hanya 3 suap, jika memang dalam keadaan lapar hanya 9 suap, semua itu sengaja ku lakukan agar diriku yang sangat payah ini dapat merasakan kerasnya menuntut ilmu tanpa memanjakan diri sedikitpun, terlebih-lebih setiap mengingat kejadian di atas hatiku sangat malu terhadap Sang Guru.

Kami hanya seorang murid dan hanya menumpang di tempat ini, harusnya kami yang menjadi pelayan bukannya memanjakan diri terus menerus.

Wallohu ‘Alam.

(Diceritakann oleh seorang Alumni Darul Musthofa, Tarim, Hadhromaut, Yaman, yang bersumber Mii AL Bein Yahya‎).

Monday, September 17, 2018

NGAJI LAKU

NGAJI LAKU

Saya berangkat mondok tahun 1999, beberapa bulan setelah tamat dari MI. Dengan nebeng acara nikahan, dan sekalian mengantarkan mbak nung(allahuyarham) kerumah mertua. Karena memang bapak belum punya kendaraan selain sepeda onthel dan becak ketika itu.

Acara nikahan di rembang pagi, sehingga sampek kajen siang hari. Alhamdulillah bisa sowan ke pengasuh pondok, yaitu yai Sahal(Allahuyarham). Menimbang begitu sibuknya beliau, dan sangat disiplinnya beliau dalam mengatur waktu.

Saya diantar bapak, ibuk(Allahuyarham), mbak, dan satu santri senior yang memang dipondok dipanggil mbah basirun(disamping karena keseniorannya, juga karena mbah basirun memelihara brewok lebat).

Karena brewoknya mbah basirun, bahkan ketika akan mendaftar dikantor pondok yang disungkemi dia, bukan bapak saya. Hehehe

Saya dikajen menganggur beberapa bulan, hanya makan, tidur dan dolanan. Karena memang telat untuk daftar dimadrasahnya. Dan karena saya didawuhi yai untuk bertempat dikamar ndalem, tak ada kegiatan pengajian.

Saya nikmati kebebasan dari pengawasan orang tua, dan perlahan belajar bagaimana menjaga diri dalam arti sebenar-benarnya. Saya belajar banyak dari kemandirian ini. Mulai belajar 'ngerawat awak' hingga 'ngerawat otak'.

Saya gudiken(penyakit gatal) hebat, lalu belajar dari teman-teman bagaimana menyembuhkan. Saya tak faham dengan obrolan teman-teman, saya belajar mengikuti topik obrolan. Dari gaya hidup, dan kebiasaan lingkungan.

Saya berkenalan dengan budaya baca dan musik pun disini. Dari para senior yang berbeda-beda hobi, namun penuh dengan kelebihan yang menurut saya keren dan sedikit banyak memberi pengaruh positif ke saya.

Ada yang hobi baca quran dan semua kitab sufi, hingga selalu bersikap sesufi mungkin. Ada yang hobi membaca novel dan mendengarkan lagu klasik, berpengaruh pada sikapnya yang tenang namun pasti. Ada juga yang sukanya hanya mendengarkan musik dangdut dan india, jarang membaca namun banyak bicara. Sesuai dengan karakternya yang ceria dan selalu membahagiakan suasana.

Keresahan hingga keresahan silih berganti dengan pembelajaran-pembelajaran saya dalam mengatasinya, salah satu keresahan saya adalah: "mondok di pondoknya yai Sahal, yang terkenal kealimannya, namun beberapa tahun disana tak pernah ikut ngaji langsung(tatap muka dan membawa kitab) dengan beliau. Serasa ada yang mengganjal dihati". Karena memang, ditahun saya masuk pondok, yai sudah tidak mengajar lagi dipondok kecuali bulan puasa. Dan bulan puasa, adalah saatnya saya liburan, pulang kerumah.

Maka praktis saya bertahun-tahun tak pernah ikut ngaji yai secara langsung.

Hingga suatu hari, keresahan saya tertangkap oleh mas ipar saya, yai ishaq(Allahuyarham). Beliau hanya berpesan pada saya: "dek, ngaji itu tak hanya buka kitab, lalu memberi makna. Dan tak harus yai membacakan kitab lalu menerangkan. SETIAP HARI MELIHAT TINDAK-TANDUK DAN KEBIASAAN YAI ADALAH NGAJI. KEBERADAAN YAI, ADALAH KITAB TERBUKA YANG SELALU MENYEDIAKAN kesempatan UNTUK DIMUTHOLA'AH, DIPELAJARI OLEH SANTRI." 

Jadi, saya tak perlu menyesali keminiman kesempatan ngaji langsung pada beliau, karena ngaji laku selalu tersedia. Bagaimana yai berjalan, ngendikan(bertutur), dan apapun yang yai lakukan selalu mengandung pembelajaran.

Karena LAKU adalah intisari ILMU.

لسان الحال افصح من لسان المقال

Tingkah laku(perbuatan) jauh lebih lantang terdengar oleh hati dari sekedar ucapan.

Mulai saat itu, hingga kini, tak pernah usai saya mengaji pada yai Sahal. Karena memang masih terlampau luas samudra ilmu yang beliau praktekkan dalam laku, yang terbuka untuk dimuthola'ah dan ditiru.

Untuk para beliau, lahumul faatihah

#salamKWAGEAN

Monday, September 10, 2018

IKHTIYATH KALIMAT TAUHID

IKHTIYATH KALIMAT TAUHID
Oleh: @ziatuwel

Mengapa kita jarang sekali temukan lambang-lambang bertorehkan kalimat tauhid di acara-acara lingkungan pesantren? Lihat saja saat ada pagelaran imtihan, haflah, haul, pawai ta'aruf, istighotsah, maulid akbar, atau sejenisnya. Jarang sekali kita lihat kalimat tauhid tercetak di bendera, spanduk, kaos, peci, koko, sorban, apalagi ikat kepala.

Mengapa? Bukankah kalimat tauhid itu luhur? Apakah kalangan pesantren kurang ghirah keislamannya? Apakah mereka tidak bangga dengan ketauhidannya? Atau jangan-jangan mereka tidak suka kalimat tauhid?

Sebelum Anda menerka yang tidak-tidak, ada satu hal yang musti dipahami. Justru para kiai dan santri itu mungkin lebih akrab dengan kalimat tauhid daripada kita yang setiap hari pakai ikat kepala bertoreh lafal tauhid. Selain dikumandangan lima kali sehari saat adzan, kalimat tauhid juga diwiridkan dan diendapkan di alam bawah sadar mereka secara berjamaah tiap usai sembahyang.

Afdhaludz-dzikri fa'lam annahu; laa ilaaha illallaah. Diwiridkan serempak oleh imam dan makmum, ada yang 40 kali, 70 kali, atau 100 kali, kemudian dipungkasi dengan; 'muhammadur-rasuulullaah'. Demikian lima kali sehari, belum lagi jika ada yang mengamalkan wirid tahlil tambahan.

Kalau demikian, mengapa jarang sekali terlihat simbol-simbol kalimat tauhid di gelaran-gelaran mereka?

Saya tidak berminat membahas gegeran simbol kalimat tauhid yang lagi ramai belakangan. Tidak pula hendak membahas penggunaan bendera tauhid sejak masa Rasulullah, para sahabat, hingga peran politisnya di masa kini. Ini hanya tulisan ringan yang sekedar menguak satu 'tradisi' kaum pesantren berkaitan dengan pelabelan kalimat tauhid. Yaitu tradisi ikhtiyath; kehati-hatian fikih.

Ikhtiyath bisa kita sebut sebagai tradisi moral kalangan santri dalam berfikih. Ikhtiyath inilah yang membuat mereka membuat kobokan kaki di luar tempat wudhu sebelum masuk masjid, memilih pakai mukenah terusan daripada potongan, pelafalan niat sebelum takbirotul ihrom, koor niat puasa setelah taraweh, memakai sandal khusus dari toilet ke tempat salat di rumah.

Apalagi dalam kaitannya dengan kalimat tauhid. Ada kehati-hatian fikih bagi kalangan santri agar tidak sembrono meletakkan kalimat suci tersebut di sembarang tempat. Bagi santri, kalimat tauhid adalah jimat dunia akhirat yang sangat luhur. Ia tidak boleh tercecer, tergeletak, terbuang, atau bertempat di lokasi kotor apalagi najis.

Jika ia dicetak di sandangan semisal kaos, baju, topi, atau bandana, dikuatirkan bisa bercampur najis ketika dicuci. Jika dicetak di spanduk-spanduk atau bendera temporer, dikuatirkan akan tercampakkan sewaktu-waktu. Kalau dicantumkan di lambang pesantren, akan menyulitkan saat membuat undangan, kartu syahriyah, baju almamater, dan lainnya. Apalagi jika dicetak di stiker-stiker. Di tempat-tempat tersebuy, kalimat tauhid bisa sangat rawan terabaikan.

Bagi kalangan pesantren, kalimat tauhid hanya boleh dicantumkan di tempat-tempat spesial yang sekiranya bisa terjaga kehormatannya. Semisal panji peperangan yang tentu akan dijaga kibarannya hidup atau mati. Sebagaimana kisah dramatis Sayyidina Ja'far at-Thayyar. Atau bendera kerajaan yang tentu akan dirawat dan dimuliakan, sebagaimana bisa kita lihat di kasunanan Cirebon.

Almarhum simbah Kiai Zainal Abidin termasuk sosok yang sangat ketat dalam hal ikhtiyath perkara tauhid. Beliau selalu tutup mata jika lewat Jalan Magelang yang di kiri kanannya penuh patung-patung 'makhluk bernyawa'. Beliau selalu berpaling kalau ada tanda palang salib, juga tidak berkenan dengan atribut-atribut semacam akik atau yang identik dengan perjimatan. Ngregeti iman, kata beliau. Kalimat tauhid tidak lagi berkibar di spanduk atau ikat kepala, melainkan sudah terpatri kuat di dalam sanubari beliau.

Kalimat tauhid, bagi Mbah Zainal, sama sucinya dengan mushaf Quran. Bahkan saya menyaksikan sendiri, dingklik (tatakan kayu) yang biasa digunakan untuk membaca Quran pun beliau muliakan. Pernah suatu kali hendak salat jamaah isya di bulan Ramadan, ada satu dingklik yang tergeletak di belakangku. Ketika beliau lewat, dingklik itu beliau pindah ke sampingku agar tidak kubelakangi.

Bahkan tulisan 'almunawwir' pun sangat beliau muliakan, sebagaimana dikisahkan oleh Kang Tahrir, santri ndalem Mbah Zainal. Memang lazim di Krapyak, kami membuat stiker kecil bertulis 'almunawwir community'. Fungsi stiker ini untuk menandai kendaraan santri sehingga mudah dikenali. Biasanya dipasang di spidometer, plat nomor, atau body sepeda motor.

Nah, menurut penuturan Kang Tahrir, Mbah Zainal tidak berkenan jika melihat ada nama 'almunawwir' kok dipasang di slebor, lebih rendah dari lutut, atau tempat-tempat lain yang kurang pantas. Biar bagaimanapun, 'almunawwir' adalah nama pesantren sekaligus nama pendirinya yang merupakan ulama besar ahli Quran Nusantara, simbah Kiai Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad.

Demikian hati-hatinya sikap beliau terhadap nama 'almunawwir'. Lebih-lebih terhadap ayat-ayat Quran, hadits Nabi, dan kalimat tauhid. Maka bagi teman-teman yang sedang hobi menunjukkan identitas keislaman dengan atribut berlabel kalimat tauhid, mohon dijaga dengan baik agar benda-benda tersebut tidak tercampakkan.

___
Kalibening, Salatiga, Jumat Kliwon 7 September 2018.

*Foto: almarhum Mbah Kiai Zainal Abidin bin Munawwir bersama Syaikh Muhammad Syarif as-Shawwaf dari Universitas Ahmad Kaftaro, Suriah. Kunjungan Syaikh Syarif di Krapyak ini pada tahun 2011, yang kemudian kutulis reportasenya untuk Majalah Almunawwir Pos edisi I. Dalam kesempatan ini beliau juga berpesan agar kami tetap menjaga kedamaian negeri, serta jangan mudah terhasut dengan apa yang saat itu sedang terjadi di Suriah.

Tuesday, September 4, 2018

I S T I Q O M A H

I S T I Q O M A H

"Kulo kaleh panjenengan niku nopo? “
ummatu Rasulillah SAW”,
umate kanjeng Nabi seng paleng lemah, nggeh ta?.

Awak.e gak patek kuat, nggeh nopo mboten?. Umure endeg, nggeh ta?.
Rizkine molak-malik; sak niki enten, mbenjing mboten enten; emben setengah enten, enggeh?.

Ngken kapan maleh rodok enten, di samping enten yo sek nduwe utang; umure endeg!. Mboten mampu, umat Muhammad Rasulillah SAW niku.

Kranten kewontenan kulo kaleh panjenengan kados mekaten kolo wau, dipun dawuhaken dening Rasulullah SAW, nopo niku?.

Dipun aturi istiqomah; “inna ahabbal a’maal ‘indalllaah adwamuhaa wa in qallat”. Sing paling dicintai Gusti Allah niku lelakonmu seng istiqomah senajan titik.

Saben isuk sampeyan moco nopo?.
Mboten moco nopo-nopo!.
Gak tuman khatam qur’an?.
“Mboten saget, mboten sempat”.
Moco nopo?. “Cumak “qul hu”
Istiqomah?. Istiqomahno!.

Lho niku seng didelek.i niku.
Kadang-kadang kulo kaleh panjenengan mboten..., kadung metenteng, nggeh ta?.

Nopo maleh katek (tepak) posoan, masya Allah!... Sampek jam siji-loro (sek) darusan.. gak peduli, bah tonggone grebegen, babahno!. Nggeh ta?.
Bah tonggone loro ati, babahno!. Pokok.e darusan!. Kadung ngotot!. Entek riyoyoe, entek Ramadlane, nopo maleh entek; wes tanggal selikuran, (akhire ngajine) prei setahun!. Lho niki lho, kulo kaleh panjenengan niku nopo?. Ayok istiqomah!.

Dipun dawuhi dening Gusti Allah; “tatanazzalu ‘alayhimul malaaikat”.
Barokahe istiqomah, (bakal) dibarengi malaikat.
Nopo tandane kulo kaleh sampeyan niku dibarengi malaikat?.
Ibadah, dzikire, perjuangane “an laa takhaafuu wa laa tahzanuu”. Ngadepi nopo mawon mboten tuman goncang atine;
mboten tuman bingung.
Nek sampek goncang, bengung, susah mergo gawane manungsane, pantes (nek ngantos) kaget..!.

Tapi gak suwe-suwe!. Niki lho!.
Niku tandane istiqomah. Yak nopo kiro-kiro?. Pun istiqomah nopo dereng?.
Mugi-mugi saget istiqomah...
Mboten akeh-akehan, mboten!.

Titik-titik.an, pokok.e ajheg!. Istiqomah seng diwoco, istiqomah panggonane, nopo maleh atek istiqomah waktune!. Pun nggeh!."
~Hadlratusy Syaikh KH. Achmad Asrori Alishaqy RA

By ning Nurul Istivadah

Saturday, September 1, 2018

KANTONG BOCOR

KANTONG BOCOR

Imam mesjidil haram almakki dalam khutbahnya mengatakan:

إحذروا الكيس المثقوب
Hati-hati dengan kantong yg bocor

" تتوضأ أحسن وضوء " لكــن. .. تسرف في الماء' كيس مثقْوب
Engkau telah berwudhu dgn sebaik-baik wudhu akan tetapi engkau boros memakai air, (itu sama dengan)
kantong bocor

" تتصدق عَلى الفقراء بمبلغ ثم .. تذلهم وتضايقهم *كيس مثقْوب.
Engkau bersedekah kepada fakir miskin kemudian, engkau menghina dan menyulitkan mereka, (itu seperti)
kantong bocor

تقوم الليل وتصوم النهار وتطيع ربك" لكــن. .. قاطع الرحم كيس مثقْوب
Engkau sholat malam hari, puasa di siang hari, dan mentaati tuhanmu, tapi engkau memutuskan (tali) silaturrahmi, (jelas itu adalah)
kantong bocor

تصوم وتصبر عَلى الجوع و العطش" لكـن .. تسب وتشتم وتلعن كيس مثقْوب
Engkau sabar dengan haus dan lapar, tapi engkau menghina dan mencaci, (sama dengan)
kantong bocor

" تلبسين الطرحه والعباية فوق الملابس "لكـن .. العطر فواح كيس مثقْوب
Engkau memakai baju kerudung dan kebaya, tapi minyak Wangi menyengat, (itu)
kantong bocor

تكرم ضيفك وتحسن إليه لكـن .. بعد خروجه تغتابه وتخرج مساوئه كيس مثقْوب
Engkau memuliakan tamumu dan berbuat baik kepadanya, tapi setelah dia pergi engkau menggunjingkanya, (sungguh itu)
kantong bocor

أخيرا ً لا تجمعوا حسناتكم في كيس مثقْوب . تجمعوها بصعوبة من جهة .. ثم تسقط بسهولة من جهه أخرى..
يا رب اسألك لي ولأحبتي الهداية والغفران .
Pada akhirnya engkau hanya mengumpulkan kebaikanmu dalam kantong bocor, satu sisi engkau mengumpulkan dengan susah payah kemudian engkau menjatuhkannya dg mudah di sisi lain.

Ya Rabb, kami mohon hidayah dan ampunan atas kami dan orang-orang yg kami cintai
عجائب الشعب العربي :

Keganjilan-keganjilan kaum muslimin umumnya :

1- لايستطيع السفر للحج لأن تكلفة الحج مرتفعه .. لكن يستطيع السفر رغبةً في تغيير الجو !
ألا إن سلعة الله غالية
1. Tidak mampu pergi haji karna biayanya besar, akan tetapi sanggup pergi wisata mengganti suasana,
bukankah perdagangan Allah itu mahal

2- لايستطيع شراء الأضحية لغلاء السعر لكن يستطيع شراء آيفون لمواكبة الموضة.
ألا إن سلعة اللَّـه غالية

2. Tidak sanggup membeli hewan qurban karna harganya yg mahal, tapi sanggup membeli iPhone sekedar ganti model.
bukankah perdagangan Allah itu mahal

3- يستطيع قراءة محادثات تصل إلى ١٠٠ محادثه في اليوم ..
ولا يستطيع قراءة ١٠ آيات من القرآن بحجة ليس لديه وقت لقراءة القرآن
ألا إن سلعة الله غالية

Sanggup membaca chatingan hingga seratus percakapan tiap hari, namun tidak sanggup membaca 10 ayat alquran dengan dalih tiada waktu yg cukup untuk membaca.
bukankah perdagangan Allah itu mahal

قليل من سيرسلها لأنه يشعر بالحرج .

Sedikit yg mau menyebarkannya/ men share karena merasa berat..

تخيل ان الله يراك وانت تنشرها لاجله.

Angankan di benakmu bahwa Allah selalu melihatmu.. Dan engkau menyebarkannya karenaNya..
اذا اعجبتك الفكرة .. فانشرها .
وإذا لم تعجبك .. فمر كأنك لم ترى شيئا.

Jika engkau terpanggil sebab tulisan ini maka sebarkanlah.. Namun jika tidak maka anggap engkau tidak pernah lihat..

يارب من يرسلها ترزقه من حيث لايحتسب

Ya Rabb... Siapa yg mau menshare tulisan ini berilah rizki dari arah yg tidak disangka-sangka..Aamiin...

Tuesday, August 28, 2018

Habib Munzir menjawab mengenai adab memakai Pengeras suara di Masjid selain adzan

Habib Munzir menjawab mengenai adab memakai Pengeras suara di Masjid selain adzan. Baca sampai tuntas.
---------------
kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari hari anda,
Saudaraku yg kumuliakan,
Pengeras suara tidak ada dimasa Rasul saw, maka semua yg tidak ada/ belum ada dimasa rasul saw boleh digunakan jika bermanfaat dan tidak bertentangan dg syariah, dan haram digunakan jika membawa kerugian/keburukan dan atau hal yg tampaknya baik namun bertentangan dg syariah.

Sebagaimana shalat fardhu ditambah misalnya menjadi 6 waktu, hal itu sekilas adalah kebaikan, namun bertentangan dg syariah, maka hal itupun dilarang.

Mengenai pengeras suara, ia hanya alat syiar, dan adzan yg terdengar dari pengeras suara tidak wajib dijawab, karena ia bukan suara manusia, tapi suara alat yg memperbesar suara, sebagaimana siaran langsung di Masjidilharam dalam shalat tarawih kita tak bisa bermakmum pada televisi, karena ia hanya alat penyampai dari siaran tersebut, maka pengeras suara banyak ditentang oleh ulama kita masa lalu, sebabnya menggganggu.

Namun dimasa itu belum banyak suara yg ribut, seperti suara televisi didalam rumah, motor, mobil dll yg itu semua membuat suara adzan muadzin tanpa pengeras suara tak akan terdengar walau hanya beberapa rumah dari masjid. Maka kini pengeras suara diakui oleh Jumhur (mayoitas seluruh madzhab, demikian untuk adzan.)

Mengenai acara lainnya, maka jika bermanfaat bagi masyarakat banyak maka boleh, jika justru masyarakat banyak terganggu (selain adzan) maka hendaknya tak digunakan.

Kita pun acara Majelis Rasulullah SAW setiap malam selasa di Masjid Almunawar, Pancoran, tak menggunakan speaker luar ketika jamaah masih belum memenuhi masjid, kita hanya memakai speaker dalam karena tak mau mengganggu masyarakat.

Namun setelah jamaah semakin banyak hingga memenuhi pelataran masjid hingga mencapai lebih dari 15.000 orang, maka kami menggunakan speaker luar hanya dihadapkan ke jamaah dan ke jalan raya, tidak dihadapkan ke belakang masjid yg merupakan perumahan.

Namun justru hal itu mengundang protes masyarakat, mereka meminta speaker diaktifkan ke belakang masjid pula agar mereka bisa dengar. Maka atas permintaan masyarakat kami mengaktifkannya, dan tentunya hadirin kini mencapai 20.000 muslimin atau lebih.

Demikia pula majelis setiap malam jumat dirumah saya, kita tak menggunakan toa, hanya sound system di rumah, namun dengan semakin banyaknya hadirin dan kini mencapai 15.000 muslimin muslimat, yg memenuhi hingga jalan raya, maka kami konfirmasi pd tetangga apakah mereka terganggu, ternyata tidak ada yg terganggu bahkan senang karena wilayah itu awalnya sepi dan rawan perampok, kini menjadi lebih aman dan kerawanan sirna. Maka kami menggunakan toa.

Namun saya menyesalkan juga jika acara puluhan orang saja namun sudah menggunakan toa, boleh saja jika masyarakat tidak terganggu, namun jika banyak yg terganggu maka hendaknya disampaikan dg baik baik bahwa hal itu mengganggu.

Saya juga menyesalkan beberapa masjid yg menyetel ngaji setengah jam sebelum adzan dengan speaker luar yg sangat keras, sungguh saya tidak mengerti apa maksudnya?  Jika maksudnya membangunkan orang yg tahajjud maka cukuplah dg adzan awal (adzan pertama sebelum adzan subuh), hal itu sunnah dan riwayatnya shahih, adzan awal adalah untuk membangunkan orang tahajjud.

Namun cukuplah dg itu, yaitu membangunkan orang tahajjud, namun jika suara ngaji terus distel 30 menit sebelum adzan subuh, apa tujuannya? Jika tujuannya untuk membangunkan orang tahajjud maka jika ia bangun dan shalat tahajjudpun ia akan sangat terganggu dg suara speaker itu, maka suara speaker itu justru mengganggu orang yg tahajjud, padahal maksudnya membangunkan yg tahajjud.

Lalu setelah orang bangun maka orang itu sangat terganggu kekhusyuannya dg suara itu karena berkesinambungan 30 menit sebelum adzan, yg disaat saat itulah saat terbaik untuk berdoa, dalam keadaan sunyi dan tangis, bisikan tasbih terdengar oleh kita sendiri dalam rukuk dan sujud, namun itu semua buyar dg suara keras dari masjid yg terus tidak berhenti.

Jika hal ini dilakukan dibulan Ramadhan mungkin masih bisa ditoleransi karena orang tidak terganggu, mereka makan sahur, dan yg belum bangun sahur akan bangun untuk sahur,
namun diluar ramadhan hal itu mengganggu, mengganggu orang yg tidak tahajjud dan mengganggu orang yg tahajjud.
namun kembali pada masyarakatnya, jika mereka setuju maka boleh saja.

Untuk masalah anda saran saya anda musyawarah dg beberapa tetangga, jika mereka terganggu pula maka datanglah pada RT atau pengurus masjid, dg baik baik tanpa emosi, sampaikan hal itu, Insya Allah mereka akan mengerti.

Setahu saya sebagian besar negara di dunia tak ada yg berbuat hal ini, di Malaysia, Jordan, Emirate, arab saudi, Yaman, dan banyak lainnya, mereka tak menggunakan toa sembarangan selain adzan dan acara besar.

Dan mengganggu orang lain haram hukumnya.’

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,
Wallahu a’lam

Allahuma sholi 'ala sayyidina Muhammad nabiyil umiyi wa 'alihi wa shohbihi wa salim

Silahkan tag & share

Saturday, January 13, 2018

Ortu Durhaka

Ortu Durhaka

Seseorang mendatangi Amirul Mukminin Sayyiduna Umar bin Khottob -Rodliyallohu 'anhu- sambil mengadukan anaknya yg durhaka kepadanya.
Kemudian Umar mendatangkan sang anak dan mencelanya karena telah durhaka kepada ortunya.

Sang anak berkata :
" Wahai amirul mukminin, bukankah seorang anak mempunyai hak-hak atas orang tuanya ?"
Umar berkata : "benar, anak punya hak-hak atas ortunya."
"Apa saja hak-hak tersebut, wahai amirul mukminin ?"
tanya sang anak.

Umar menjawab :
"hak-haknya adalah mendapatkan ibu yg baik, mendapatkan nama yg baik dan mendapat pengajaran Al qur'an "

sang anak berkata :
"wahai amirul mukminin, ayahku tidak melakukan itu semua. Ibuku adalah orang Negro yg dulunya milik orang Majusi, aku diberi nama Kecoa dan aku tidak pernah di ajari Al qur'an satu hurufpun."

Umar menoleh kepada orang yg mengadu tadi dan berkata :
"Engkau mengadukan durhakanya anakmu namun engkau telah mendurhakainya sebelum ia durhaka kepadamu, dan engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu !"

Wallohu a'lam.

~Al Futuhatul 'Aliyyah~

Monday, January 1, 2018

Adab seorang murid.

Adab seorang murid.

Syaikhul islam Taqiyuddin As Subki sangat mengagumi Syaikhul islam Muhyiddin An Nawawi dan menganggap Imam Nawawi sebagai gurunya sendiri walaupun belum pernah bertemu, Karpet tempat duduk Imam Nawawi ketika mengajar di Darul Hadits pun di cium oleh Syaikhul islam Taqiyuddin sambil bersyair :

Di dalam Darul Hadits terdapat makna yg lembut # di atas karpet aku bersungkur dan beristirahat.
Barang kali aku bisa menyentuhkan wajah panasku # di tempat menyentuhnya telapak kaki Imam Nawawi.

Syekh Taqiyuddin bersama putranya berkunjung ke rumahnya Imam Nawawi, namun ternyata setelah sampai disana Imam Nawawi telah meninggal dunia.

Putranya Syeh Taqiyuddin yg bernama Syeh Tajuddin suatu kali bercerita :
"Ketika aku berkendaraan dengan ayahku -Syeh Taqiyuddin- di sebagian jalan menuju daerah Syam -untuk mengunjungi Imam Nawawi-, tiba2 ayahku mendengar seorang petani daerah Syam yg berkata :
'Aku pernah bertanya kepada Al Faqih Muhyiddin An Nawawi tentang permasalahan seperti ini dan seperti ini ....'
Lalu ayahku turun dari kudanya dan berkata :
"Demi Allah, aku tidak akan menaiki kendaraan sedangkan disini ada orang yang pernah melihat Muhyiddin An Nawawi sedang berjalan kaki."

Kemudian ayahku bersikeras kepada petani itu agar mau menaiki kuda ayah , dan ayahku bersumpah atas nama Allah agar petani itu mau menaikinya. Sedangkan ayahku berjalan sampai ke daerah Syam."

Syeh Abdul Wahhab As Sya'roni mengomentari kisah itu, beliau berkata :
"Maka seperti itulah duhai saudaraku, perbuatan para ulama' terdahulu terhadap guru-gurunya, padahal sang guru belum pernah di temuinya sama sekali, karena Syeh Taqiyuddin mendatangi Imam Nawawi setelah wafatnya selang beberapa waktu."

Wallohu a'lam.

~Tadzkirun Nas~

Monday, September 18, 2017

Ada gajah

Diriwayatkan bahwa di majelisnya Imam Malik bin Anas -semoga Allah ta'ala merahmatinya- terdapat banyak santri yg mengambil ilmu dari beliau.
Kemudian ada seseorang yg berkata : "Ada gajah yg datang .... "
Maka keluarlah semua santri imam Malik untuk melihat gajah, kecuali satu santri yg bernama Yahya bin Yahya Al Laitsi Al andalusi (Spanyol), cuma dia sendiri yg nggak keluar.

Imam Malik bertanya kepadanya : "mengapa kau tidak ikut keluar utk melihat makhluk ajaib itu, padahal di negaramu nggak ada gajah lho ? "
Yahya berkata : "saya datang dari negaraku hanya untuk melihat anda, belajar dari petunjuk dan ilmu anda, saya tidak datang untuk melihat gajah "

Jawaban Yahya membuat Imam malik -semoga Allah meridlonya- terheran, lalu beliau memberi julukan kpd Yahya sebagai "Orang Andalus yg paling cerdas"

Setelah Yahya selesai belajar kpd Imam Malik, ia kembali kenegara asalnya yaitu Andalusia.
Sampai akhirnya ia menjadi seorang ulama' yg unggul dan madzhab Maliki menjadi masyhur di negara tsb.
Riwayat kitab karya Imam Malik yaitu Al Muwattho' yg paling masyhur dan paling bagus adalah dari Yahya ini.
Yahya di Andalus di hormati oleh para penguasa, beliau doanya mustajab dan wafat tahun 234 Hijriyah.
di makamkan di pemakaman Ibnu Abbas, daerah Cordoba,
makam beliau sering dipakai utk washilah meminta hujan.

Wallohu a'lam.

~Hayatul Hayawan~

Friday, September 8, 2017

Adabnya Pedagang

Adabnya Pedagang

Seorang pedagang selayaknya tidak berjualan di jalanan tempat kaum muslimin lewat, shg mempersempit mereka.
boleh mempekerjakan anak pandai dan dewasa yg tidak berlaku dholim dalam menakar dan tdk mengurangi timbangan.
Memerintahkan pekerjanya utk menyempurnakan takaran dan tidak tergesa2 dalam menimbang. Ketepatan timbangan seperti dua sayap burung yaitu benar2 seimbang.
keseimbangannya seperti mi'yar, benangnya panjang, tepat penunjukan jarumnya, jelas ayunanya dan seimbang bandulannya.

Setiap hari selayaknya memulai aktivitas jual beli dengan memeriksa timbangan dan memebtulkan kerusakannya.
Memerintahkan pekerjanya utk melebihkan takaran minyak,. apabila orang mulia datang kepadanya, muliakanlah. Utamakan tetangga, kasihi orang2 lemah dan berbuat adil kepada orang yg lainnya.

Juallah barang2 dengan harga yg sepatutnya, jika hargnya murah niscaya banyak pelanggannya. jika harganya mahal niscaya berkurang pelanggannya.

Ketika duduk menunggu pembeli, gunakan waktu utk dirosah al qur'an, menundukkan pandangan dari hal2 yg di larang,
tidak membeli barang dengan harga murah dari orang dungu yg datang kpdnya.

Tidak menolak peminta2, tidak mencegah orang yg memberi.
jika ia sebagai pemberi, maka pekerjanya lebih utama utk di beri.
hanya membeli baik takaran maupun timbangan hanya dari orang2 yg bisa di percaya. tdk memuji-muji barang dagangan ketika menjual tapi mencela-cela barang dagangan ketika membeli.
Senantiasa Jujur, berhati2 lah jangan sampai berkata2 kotor ketika tawar menawar, jangan berbohong ketika mengobrol.
mengurangi pergaulan dengan orang2 pasar, mengurangi sendau gurau dan mengurangi perdebatan.

Wallohu a'lam.

~Al Adab Fid Din Lil Ghozali~

Sunday, September 3, 2017

ADAB-ADAB SUAMI THD ISTRI

ADAB-ADAB SUAMI THD ISTRI

Bagi pasangan suami hedaknya memperhatikan 12 hal penting berikut ini:

1. Walimah/resepsi pernikahan , karena mengadakan hal ini merupakan kesunnahan.

2. Berakhlak yg baik kepada istri dan bersabar kepada cobaan2 yg akan timbul darinya.
dalam hadits shohih disebutkan : " bersikap baiklah kpd wanita karena ia di ciptakan dari tulak rusuk yg paling atas makanya paling melengkung. jika engau melusruskannya ia akan patah, jika engkau biarkan ia tetap melengkung, maka bersikap baiklah kpd wanita "
Ketahuilah bahwa akhlak yg baik pada istri bukanlah mengindari cobaan yg timbul darinya, melainkan sabar dalam menghadapi hal tsb dan dewasa dalam menyikapi kegegabahan dan kemarahannya, sebagaimana yg telah di ajarkan oleh Rasululloh shollallohu alaihi wasallam . di dalam shohih bukhori dan muslim dijelaskan bahwa istri2 Nabi shollallohu alaihi wasallam pernah berdebat dengannya, bahkan salah satu dari mereka pernah tidak menyapa dari siang hingga malam hari, hadits ini sangat masyhur.

3. Suami hendaknya mengajak sang istri utk bercanda, sebagaimana Rasululloh shollallohu alaihi wasallam pernah melakukannya bersama Aisyah -semoga Allah meridloinya-
Rasul juga bercanda dengan istri2nya yg lain, beliau berkata kepada jabir :
" mengapa engkau tidak menikahi perawan yg dapat englau ajak utk bercanda dan ia dapat mencandaimu ?"

4. Candaan itu seharusnya sesuai kadar dan tdk berlebihan. tidaklah kedua mempelai terlalu larut dalam kesenangan bercanda hingga sang istri kehilangan hormatnya kepada suami, oleh karena itu hendaklah tidak terlalu sering bercanda dan dilakukan sekedarnya saja.

5. Suami hendaknya dapat mengatasi emosi ketika diliputi kecemburuan dan hendaknya ia tidaklah melupakan hal2 buruk yg akan ia lakukan, sebab hal itu dikhawatirkan berpotensi menjadi petaka di kemudian hari, akan lbih baik baginya utk tidak berburuk sangka kpd sang istri. bahkan Rasululloh shollallohu alaihi wasallam melarang seseorang utk mengunjungi saudaranya di malam hari.

6. Seorang suami hendaknya dapat mengontrol rezeki yg di dapatkan, tidak terlalu boros dan tdk terlalu pelit. seorang suami seharusnya juga tidak terpengaruh oleh makanan enak yg dimiliki oleh saudaranya, karena hal2 demikian benar2 dapat membutakan hati.

7. Suami seharusnya mempelajari ilmu tentang haid dan hukum2nya sehingga akan memudahkan dirinya utk mengerti sang istri. ia dapat mengetahui cara bergaul dengan perempuan yg sedang datang bulan , ia dapat mengajarkan sang istri asumsi yg benar, dan dapat menghindarkan sang istri dari bid'ah yg mungki dilakukan sebelumnya. suami juga dapat mengajarkan hukum2 di dalam sholat , haid dan istihadhoh .

8. Jika sang suami memiliki beberapa istri , sudah menjadi kewajiban baginya utk bersikap adil, yaitu adil di dalam giliran menginap dan pemberian2. bukan hanya adil di dalam cinta dan hubungan badan, karena dua hal ini tidak dapat di kontrol.
jika ingin bepergian ditemani salah satu istri ,sebaiknya mengundi. barang siapa yg keluar undiannya maka dialah yg akan menemani dirinya bepergian.

9. Jika ketidak patuhan dilakukan oleh sang istri, maka sang suami haruslah mendidiknya dengan baik dan mengajarinya utk patuh dengan tekun, tentunya dilakukan secara bertahap. dimulai dengan memberi nasehat dan ancaman, jika tdk berhasil beralih utk tidak menggaulinya di ranjang, memalingkan punggungnya, tidur diranjang yg berbeda, atau tdk mengajaknay berbicara selama kurang dari 3 hari. jika tetap tdk berhasil, barulah diperkenankan utk memukul istri tetapi dengan pukulan yg tdk menyakitkan, yaitu tdk sampai mengeluarkan darah dan tidak memukul wajah.

10. Adab di dalam berhubungan badan, diantaranya sunnah memulainya dengan baca basmallah dan tdk mengahadap qiblat. hendaknya keduanya menutup diri dalam satu selimut dan tdk mengenakan pakaian.
hubunagn intim harusnya dimulai dengan candaan, pelukan, dan kecupan. beberapa ulama' menyukai hubungan badan di malam jum'at.
Jika suami telah sampai titik klimaks maka hendaknya bersabar hingga sang istri juga mencapai puncak kenikmatannya.
jika suami ingin hubungan badan lagi maka hendaknya membasuh kemaluannya dan berwudlu terlebih dahulu.

11. Adab ketika melahirkan :
a. Suami tdk terlalu senang dan istri tdk terlalu takut dan bersedih, karena tidak diketahui mana yg lebih baik diantara senang dan sedih saat proses persalinan berlangsung.
b. ketika bayi telah lahir, hendaknya suami mengumandangkan adzan di telinganya.
c. membrikan nama yg baik.
d. aqiqah dengan dua kambing utk anak laki2, satu kambing utk anak perempuan.
e. tidak terlalu banyak memberi anak kurma dan manisan.
f. khitan.

12. Hal2 yg berkaitan dengan pernikahan, yaitu pereraian.
adapun perceraian adalah hal yg boleh namun paling dibenci oleh Allah.
Makruh hukumnya bagi seorang suami tiba2ingin menceraikan istri yg merasa tdk melakukan kesalahan apa2 kpdnya, dan tidak diperkenankan pula bagi seorang istri utk buru2 meminta sang suami utk menceraikannya,
jika perceraian memang benar2 harus terjadi, maka hendaknya diperhatikan 4 hal berikut ini :
a. Menceraikan istri dalam keadaan suci.
b. mencukupkan pada satu talak saja.
c. Hendaklah tetap bersikap lembut kpd sang istri dengan memberikan hal2 yg disukai agar luka hatinya terobati.
dikisahkan pada suatu hari Al Hasan bin Ali mentalak istrinya, lalu ia mengirimkan uang 10.000 dirham , si istri berkata : " ini sebuah hadiah kecil dari seornag kekasih yg hebndak pergi "
d. Hendaklah tdk membuka rahasia istri yg di talak.

Demikianlah paparan mengenai hal2 yg harus di perhatikan oleh suami.

wallohu a'lam.

~Mukhtashor Minhajul Qoshidin~

Thursday, August 31, 2017

Doa umat nabi umat yang tak dikabulkan

Mahbib, NU Online | Jumat, 25 Agustus 2017 15:00

Suatu ketika Nabi Musa melihat seorang lelaki dari umatnya yang sedang merintih dan berdoa. Ia terlihat begitu khusyuk dan mengiba kepada Allah yang maha kuasa. Melihat lelaki tersebut, sang nabi merasa iba hingga berkata:

يا ربي لو كانت حاجته بيدي لقضيتها

“Wahai Tuhanku andai saja aku berkuasa memenuhi permintaanya. Tentu akan kukabulkan,” gumam Nabi Musa.

Tak selang berapa lama, kemudian Allah mewahyukan sebuah kabar yang mengejutkan. Wahyu tersebut berkata:

يا موسى إن له غنما و إن قلبه عند غنمه و أنا لا أستجيب دعاء عبد يدعوني و قلبه عند غيري

“Wahai Musa, sesungguhnya ia memiliki  seekor kambing. Dan Sungguh, (ketika berdoa) hatinya terpaku terhadap kambingnya. Dan Aku (Allah) tidak akan mengabulkan doa seorang hamba yang meminta kepadaku, sedang hatinya terpaku pada selain diri-Ku.”

Betapa Allah maha mengetahui segala sesuatu. Ya, lelaki yang dipandang Nabi Musa telah berdoa dengan setulus hati dan sepenuh jiwa. Ternyata di mata Allah ia tak ada apa-apanya. Karena memang dalam hatinya, terpaut akan perkara dunia berupa kambing yang ia miliki. Maka, atas dasar itulah doanya tak dikabulkan oleh Allah subhanahu wata’ala.

Kemudian setelah menerima wahyu tersebut, Nabi Musa segera mengabarkannya kepada lelaki tersebut. Maka bergegaslah lelaki itu untuk kemudian melupakan seluruh perkara duniawi dan kemudian berdoa kepada Allah dengan sepenuh jiwa. Hingga akhirnya Allah pun mengabulkan doa hamba tersebut.

Lewat kisah tersebut, betapa berharga pelajaran yang kita dapat. Kesungguhan berdoa baik dari segi lahir maupun batin sagat penting sebagai modal utama demi tercapainya doa. Karena sekali lagi ditegaskan, Allah tidak akan mengabulkan doa seorang hamba sedang hatinya terpaku kepada selainNya. Semoga kita selalu diberi kekuatan dalam meraih khusyuk saat berdoa. (Ulin Nuha Karim)

Kisah ini disarikan dari kitab Risalah Nawadirul Hikayah karya Syaikh Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al Qulyubi halaman 21. 

Tuesday, August 29, 2017

ADAB BERPAKAIAN

ADAB BERPAKAIAN

Pakaian di tinjau dari segi memakainya terdapat 5 macam :
1. haram bagi mukallaf.
2. haram bagi orang2 tertentu.
3. makruh.
4. mubah (boleh dipakai).
5. mutanazzah anhu (hendaknya tdk dipakai)

Pakaian yg haram di pakai adalah pakaian hasil ghosob atau curian.
Pakaian yg haram bagi orang2 tertentu adalah pakaian sutra, boleh dipakai perempuan tapi haram dipakai lelaki yg sudah baligh.
Apakah sutra mubah dipakai anak kecil atau tidak ?
jawabnya ada 2 pendapat, begitu juga tentang kebolehan memakai sutra bagi orang baligh ketika berperang melawan musyrikin. ini adalah macam pakaian yg mubah.
Pakaian yg makruh adalah pakaian yg panjang sampai batasan yg bisa menyebabkanya menjadi angkuh dan sombong,
begitu juga dengan pakaian yg bercampur antara sutra dan katun dan tdk diketahui kadar masing2nya apakah setengahnya sutra setengah lagi katun atau salah satunya lebih banyak ?
Pakaian Mutanazzah anhu adalah semua pakaian yg dapat memancing perhatian orang lain, misalnya pakaian yg tdk biasa dipakai oleh orang2 sekitar kampung/negrinya.

Maka hendaklah seseorang memakai pakaian yg biasa mereka pakai sehari-hari agar tidak dicap macam2 atau menjadi sasaran gunjingan. Kalau ini terjadi, orang yg berpakaian 'aneh' itu akan terlibat pula dalam menanggung dosa gunjingan.

Berkaitan dengan cara berpakaian, maka hukumnya terdapat dua macam yaitu wajib dan mandub (anjuran).

Cara yang wajib ada 2 macam :
1. yg memenuhi hak2 Allah ta'ala.
2. yg memenuhi hak2 manusia secara khusus

Cara wajib yang memenuhi hak2 Allah adalah menutup aurat dari padangan orang lain sebagaimana yg telah kami terangkan pada pembahasan "larangan membuka aurat" .
sedangkan cara wajib yg memenuhi hak2 manusia adalah pakaian yg mampu melindungi diri dari panas, dingin dan lain2 hal yg bisa membahayakannya. dalam hal ini manusia wajib memakainya dan tidak boleh meninggalkannya karena jika tidak memakainya maka berarti mempercepat proses kebinasaan bagi dirinya, dan ini di haram hukumnya.

Cara yg mandub(anjuran) juga ada 2 macam :
1. yg memenuhi hak2 Allah ta'ala.
2. yg memenuhi hak2 manusia

Cara mandub yg memenuhi hak2 Allah adalah seperti memakai serban dan sejenisnya yg dapat menutupi perhiasan atau pakaian indahnya -jika ia memakainya- dari pandangan orang lain tatkala berkumpul dengan mereka atau pada momen2 tertentu yg dihadiri banyak orang misalnya pada hari2 raya dan semisalnya.
(hal ini adalah utk menghindari kecemburuan dan iri dengki dari orang lain yg melihatnya, dan agar orang2 yg berpakaian sederhana, bahkan jelek, tdk merasa rendah diri atau sebagainya karenanya)

Cara mandub yg memenuhi hak2 manusia adalah berpakaian dengan pakaian yg pantas dan sedap dipandang mata, apapun jenis pakaiannya asalkan mubah, pakaian yg tdk menjadikan pemakainya terhina dan tdk menjatuhkan harga dirinya diantara mereka.

Sebaik2 pakaian adalah yg menutupi aurat dan sebaik2 warna pakaian adalah yg berwarna putih sebagaimana sabda Nabi shollallohu alaihi wasallam :
" sebaik2 pakaian kalian adalah yg berwarna putih"
dalam riwayat lain :
" hendaklah kalian memakai pakaian berwarna putih yg dipakai oleh orang2 yg masih hidup dari kalian dan kafanilah orang yg meninggal dari kalian dengan kain yg berwarna putih"
Dari Ibnu Abbas -semoga Allah meridloi keduanya- berkata :
Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :
" pakailah pakaian kalian yg berwarna putih, sebab itulah pakaian kalian yg terbaik bagi kalian, dan kafanilah orang yg meninggal dari kalian dengan kain yg berwarna putih. "

Wallohu a'lam.

~Al Guniyyah~

Saturday, August 19, 2017

Nasehat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Nasehat Syekh Abdul Qadir
Al-Jailani

(1) Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah ( dalam hatimu ) :
“Aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak, bisa jadi di akhir usianya dia memeluk agama islam dan beramal saleh. Dan bisa jadi di akhir usia, diriku kufur dan berbuat buruk.”

(2) Jika bertemu dengan seorang yang bodoh, maka katakanlah ( dalam hatimu ) :“Orang ini bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena dia bodoh ( tidak tahu ), sedangkan aku bermaksiat kepada-Nya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak. Dia tentu lebih baik dariku

(3) Jika bertemu orang tua, maka ucapkanlah ( dalam hatimu ) :
“Dia telah beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, jauh lebih lama dariku, tentu dia lebih baik dariku.”

(4) Jika bertemu dengan seorang yang berilmu, maka ucapkanlah ( dalam hatimu ) :“Orang ini memperoleh karunia yang tidak akan kuperoleh, mencapai kedudukan yang tidak akan pernah kucapai, mengetahui apa yang tidak kuketahui dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku.”

(5) Jika engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinilah bahwa dia lebih baik darimu. Ucapkan dalam hatimu :“Bisa jadi kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku”

(6) Jika bertemu anak kecil, maka ucapkanlah ( dalam hatimu ) :“Anak ini belum bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, , sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepada-Nya. Tentu anak ini jauh lebih baik dariku.”

Foto: pemanis tak pake buatan 😇

#Nahdlatululama #alanu

KISAH HABIB ALI TENTANG MASUK ISLAMNYA SEORANG GURU DI AMERIKA SERIKAT DENGAN PRANTARA ANAK USIA 4 TAHUN.

KISAH HABIB ALI TENTANG MASUK ISLAMNYA SEORANG GURU DI AMERIKA SERIKAT DENGAN PRANTARA ANAK USIA 4 TAHUN.
.
Seorang ibu di USA, dia seorang Muslim berkata kepadaku, dia berkata "Aku bimbang dengan yang terjadi keapda anak saya".
umurnya 3,5 tahun atau 4 tahun. Saya bertanya: "masi berumur 4 tahun apa yang kamu bimbangkan? "
.
katanya "Benar , dia pergi ke sekolah, kawan kawannya disekolah serta guru guru perempuan yang berlainan agama mempengaruhi pada pemahaman akhlak, muamalah, pembicaraan tentang Nabi Isa a.s dan kisah kelahirannya, kadang anak itu makan daging khinzir (babi) dari kue kue yang didapatnya dari kawan kawannya, anakku pernah bertanya kepadaku beberapa persoalan, dia mendengar penyangkalan tentang Ke Esaan Allah ta'ala." dan ibu itu melanjutkan: "ini membuat bimbang saya kalau Allah murka kepadaku apabila aku tidak waspada dalam mendidik anakku".
.
ini betul.. kita akan dihisab, bukannya didikan itu sekedar memberinya makanan, minuman dan pakaian, serta merealisasikannya untuk selembar ijazah dan pekerjaan. Bukan itu saja ukuran keberhasilan di dalam didikan.. akan tetapi apakah yang kamu ajarkan dalam merajut hubungan dengan Allah.
.
saya katakan lagi pada perempuan itu perkara ke dua, perhatikan perkataan ini.. saya katakan padanya: "didik anak ini untuk beradap terhadap gurunya"
.
(ibu itupun protes) "saya marah dan bimbang dengan gurunya,(tapi dusuruh) "didik anak ini untuk beradap kepada gurunya"
Katanya lagi :"saya bimbang kalau guru itu menukar agama anak ini"
.
Saya berkata: "inilah caranya yang diajarkan oleh Rasulullah Saw, didiklah anakmu untuk menghormatinya walaupun dia bukan seorang Islam, didiklah adab terhadap guru itu walaupun banyak pelajar lain yang tidak beradab terhadapnya dengan membuat kericuhan atau mencelanya, didiklah dia untuk menasehati kawan kawannya, supaya dia berkata kepada teman temannya 'perkara ini tidak baik, Islam mengajarkan kita untuk beradab kepada guru kita'. (dan juga) sediakan makanan untuk anakmu dan letakan di dalam tas dan masukan lebih banyak 1 atau dua kali lipat lebih banyak dari biasanya, katakan padanya (kepad si anak) : 'jika ada teman yang memandangmu, berikan makanan tersebut dan katakan 'Islam mengajarkan kami tuk bermurah hati'"
.
taukah apa hasilnya? kamu akan merasa heran.. Guru itupun menjadi seorang Muslim. kebanyakan kita sudah mencapai umur 40 tahun atau 50 tahun tapi tidak ada seorangpun yang menjadi Muslim karena kita. Sementara ditangannya masuk Islam pemandu kereta yang datang dari negara lain, sedangkan dia tidak memikirkan untuk mengislamkannya adakah Akhlaku bersamanya? adakah perbuatanku sehingga miningkatkan keagamaannya dan mengislamkannya?
.
adakah kita komitment dengan dakwah Islam di dalam hati kita?
adakah kita menyadari tentang Agama kita dari perkara sholat, puasa serta menyempurnakan amalan?
.
begitu juga kita sebagai pembawa risalah untuk disampaikan kepada orang lain, di dalam menyadarkan orang lain?
taukah kamu apa yang terjadi?
.
anak yang berusia 3 setengah atau 4 tahun ini, berjumpa dengan gurunya dan guru tersebut tertarik dengan adabnya. pada suatu ketika , guru itu datang dari arah belakang murid-muridnya, dan guru itu mendengar sekumpulan murid yang mencela guru tersebut...
.
dan guru itu mendengar anak itu berkata "jangan mencela,ibu saya berkata kalau NAbi Saw mengajarkan ktia beradap terhadap guru kita"
.
guru itu terhenti , dia memanggil anak itu dan bertanya : "apa yang kamu katakan kepada mereka?" katanya lagi: "jangan takut.. katakan padaku"
.
anak itu berkata: "aku menyuruh mereka beradab dengamu karena kaulah yang mengajari kami"
.
(Gurunya bertanya lagi) "dari mana kata katamu ini?" anak itu berkata: " Ibu saya berkata bahwa Nabi tidak suka terhadap orang yang tidak beradab dengan gurunya".
.
Guru itu berhenti dan diam, sesekali dia melihat pelajar itu menawarkan kepada pelajar pelajar lain makanan. sedang dalam masyarakat setempat, sangat ganjil perbuatan memberi sesuatu tanpa mengharapkan balasan.
.
perkara ini dianggap sulit... biasanya memberi karena ingin mendapatkan balasannya.. kata guru tersebut: "kau memberi mereka makanan?, adakah mereka mengancammu, adakah mereka memukulmu supaya engkau memberikan makanan kepada mereka? "
.
anak itu berkata :" tidak ibu berkata pada saya bahwa, Nabi sangat cinta orang yang pemurah, suka sifat pemurah, saya ingin menjadi pemurah agar Nabi Muhammad Saw mencitai saya "
.
guru berkata: "bolehkah saya menghubingi ibu kamu?". guru itupun menghubingi ibunya, hal tersebut terjadi di amerika lebih kurang 2 tahun setengah atau 3 tahun yang lalu.. (perhitungan waktu saat Habib Ali memberikan taussiyah)
.
guru itupun datang kepada ibunya dan berkata : " saya melihat akhlak anak ini sangat baik, anakmu berkata kepadaku bahwa agamamu yang mendorong semua hal itu apakah benar itu ajaran agamamu?"
.
si ibu berkata: " Betul.NAbi memerintahkan " dan dijelaskan sedemikian rupa, oleh sebab itu giru itu masuk Islam, moga moga maksud dari kisah ini sampai kepada kalian semua
yang menyadarkan, kitalah umat Nabi saw yang dimuliakan dengan akhlak , pegangannya kitab yang diturunkan kepadanya, berjalan diatas lidahnya dan meninggalkannya kepada kita sebagai petunjuk dari Allah SWT keadaan seperti inilah yang kita perlukan kepada seluruh kehidupan kita , kajian maksud ini pada rumah tanggamui, diatas gudang gudangmu dan pekerjaanmu sehingga kita terbebas dari kelemahan yang ada pada diri kita terbebas dari kelemahan bukan semata mata dengan kekuatan anggota badan atau tangan atapun senjata. bukan itu saja..
.
MasyaAllah
.
Wallahu a'lam bishowab
.
Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa alaihi wa shohbihi wa salim.
.
Silahkan Tag & Share ~
.
Jangan lupa kunjungi fanspage kami lainnya dan Jangan lupa Like & pantau terus postingannya disini lainnya :
=> Video Dakwah Islami
=> Dakwah Para Habaib dan Ulama Was Sholihin
=> Rumah-muslimin
Instagram kami di :
=> https://www.instagram.com/dakwah_ulamaku/ (dakwah_ulamaku )
Website kami di :
=> http://rumah-muslimin.blogspot.co.id (masih tahap editing)
.
Like kalian sangat berarti bagi kami untuk terus dapat membuat postingan-postingan yang bermanfaat, Jazakumullah khayron. syukron katsiron.

Bagaimanakah bentuk adanya prasangka buruk kepada ALLAH?

Imam Syafi'i pernah ditanya:
"Bagaimanakah bentuk adanya prasangka buruk kepada ALLAH?"

Beliau menjawab:
"Was-was dan ketakutan terus menerus akan terjadinya musibah, selalu cemas takut akan kehilangan nikmat.
Semua hal ini adalah bentuk prasangka buruk kepada ALLAH SWT."

Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad nabiyyil umiyyi wa'ala 'alihi washohbihi wa salim.

Silahkan tag & share