Showing posts with label mimpi. Show all posts
Showing posts with label mimpi. Show all posts

Monday, November 23, 2020

JANGAN SEMBARANGAN MENCERITAKAN MIMPI

JANGAN SEMBARANGAN MENCERITAKAN MIMPI

Oleh : Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)
***

Jika Anda punya mimpi, berhati-hatilah menceritakan. Sebab, mimpi itu jika sudah ditakwil maka akan ditetapkan menjadi takdir. Selama belum ditakwil, maka ia bagaikan menggelantung di kaki burung yang terbang melayang-layang. Begitu ada yang menafsirkannya, maka burung itu akan hinggap. Maknanya; nasib telah tersegel, takdir berlaku, dan apa yang diisyaratkan Allah lewat mimpi pasti akan terjadi tanpa bisa dicegah lagi. Abu Dawud meriwayatkan,

: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الرُّؤْيَا عَلَى رِجْلِ طَائِرٍ، مَا لَمْ تُعَبَّرْ فَإِذَا عُبِّرَتْ وَقَعَتْ » سنن أبي داود (4/ 305)

Artinya,
Rasulullah ﷺ bersabda: “Mimpi-mimpi itu berada di kaki burung (terbang melayang) selama tidak ditafsirkan/ditakwilkan. Jika sudah ditafsirkan/ditakwilkan maka akan terjadi.” (H.R. Abu Dawud)

Jadi, menakwil mimpi memang harus hati-hati. Ucapan takwil mimpi itu bisa “ganas” jika kebetulan memang jitu tafsirnya. Jika sudah diucapkan maka tidak bisa ditarik lagi. Seperti ucapan nikah, talak, rujuk dan membebaskan budak yang tidak bisa dibatalkan jika sudah diucapkan.

Pernah ada kejadian, seorang wanita di zaman Nabi ﷺ ditinggal suaminya safar untuk berdagang dalam keadaan hamil. Lalu wanita ini bermimpi melihat tiang rumahnya roboh dan juga bermimpi melahirkan anak yang buta sebelah. Saat dia datang kepada Nabi ﷺ untuk menanyakan takwilnya, Nabi ﷺ mengucapkan kata-kata baik dan mendoakan agar suaminya pulang dengan selamat dan melahirkan anak saleh. Apa yang diucapkan Nabi ﷺ terjadi sesuai kenyataan. Suami wanita itu pulang dengan selamat dan dia juga melahirkan anak dengan selamat.

Ternyata kejadian ini berulang tiga kali.

Suami wanita itu pergi safar sebanyak tiga kali dengan meninggalkan istrinya dalam keadaan hamil. Wanita itu mimpi pada kejadian kedua sama persis dengan mimpi yang pertama kali. Kejadian kedua direspon Nabi ﷺ dengan ucapan kebaikan yang sama.

Pada kali yang ketiga, wanita itu datang lagi kepada Nabi ﷺ untuk menceritakan mimpinya. Ternyata Nabi ﷺ saat itu tidak ada. Wanita itupun ditemui oleh Aisyah. Ketika mimpinya diceritakan kepada Aisyah, maka Aisyah menakwilkan: Suami kamu akan mati dan anakmu menjadi anak yang tidak saleh.

Ternyata itulah yang terjadi!

Wanita itu tentu saja menangis. Ketika Rasulullah ﷺ bertanya kepada Aisyah, maka diceritakanlah kisahnya. Setelah faham, Rasulullah ﷺ menegur Aisyah,

“Ah, Aisyah, kalau kamu menakwil mimpi seorang mukmin, katakanlah yang baik-baik. Sebab mimpi itu sesuai dengan apa yang ditakwilkan.”

Kisah ini diriwayatkan dalam Sunan Al-Dārimī dan sanadnya di-ḥasankan oleh Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī dalam Fatḥu Al-Bāri.

Perhatikan, betapa rawannya takwil mimpi. Begitu ia diucapkan, maka tersegellah nasib, yang bahkan Nabi ﷺ pun tidak bisa mengubahnya.

Jadi bagaimana sebaiknya jika punya mimpi yang kita sangat ingin menceritakan?

Paling aman jangan menceritakan mimpi. Jika harus menceritakan, maka ceritakan kepada orang berilmu yang mengerti dasar-dasar ilmu takwil mimpi dan adab-adab menakwilkan. Yang bisa menakwilkan dengan baik. Yang jika tahu takwilnya buruk tetap bisa mengucapkan kata-kata baik sehingga tidak membahayakan orang yang bermimpi. Rasulullah ﷺ bersabda,

: «وَلَا تَقُصَّهَا إِلَّا عَلَى وَادٍّ، أَوْ ذِي رَأْيٍ
Artinya,

“Janganlah kamu ceritakan kecuali kepada orang yang terdekat, atau orang yang bisa memberi nasihat.” (H.R. Abū Dāwūd)

Jangan sembarangan menceritakan mimpi.

Apalagi kepada orang jahil.

Meski dia jahil, jika takwilnya sudah terucap, dan ternyata benar, maka akan tersegellah mimpi itu menjadi takdir dan pasti akan menimpa orang yang memimpikannya.

اللَّهُمَّ إِنِّي أسألُكَ رُؤْيا صَالِحَةً صَادِقَة غَيْرَ كاذبةِ، نافِعَةً غَيْرَ ضارةٍ

Versi Situs: https://irtaqi.net/2020/11/03/jangan-sembarangan-menceritakan-mimpi/

***
17 Rabi’ul Awwal 1442 H

Tuesday, October 23, 2018

Ketika Habib Abu Bakar Mimpi Disentil Sayyidina Ali

Khoiron, NU Online | Selasa, 23 Oktober 2018 15:00

Jalan Karya Bakti di Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Kota Depok, sesak orang berpakaian serbaputih saban Ahad sore. Pengajian memang digelar rutin di tempat ini. Pesertanya bisa mecapai ribuan. Ibu-ibu, bapak-bapak, remaja, hingga anak-anak dari ragam penjuru Jabodetabek tumpah ruah di jalanan sekitar kediaman al-Habib Abu Bakar bin Hasan al-Atthas az-Zabidi.

Tapi itu dulu. Pemandangan jamaah pengajian duduk lesehan saban Minggu bakda Ashar itu kini sudah tak ada. Habib Abu Bakar, sang pengasuh, pada 7 Oktober 2018 secara resmi mengumumkan penutupan majelis ta'limnya itu setelah sebelumnya menemui isyarat lewat mimpi yang tak biasa. Mimpi?

Ya. Habib Abu Bakar bercerita bahwa Amirul Mu'minin Sayyidina Ali bin Abi Thalib menemuinya di alam mimpi dan tiba-tiba menyentil bibirnya. Habib terkejut. Ia berkesimpulan, ini isyarat dari sahabat Nabi berjuluk "pintu ilmu" itu agar ia lebih banyak menutup mulut. Habib sudah mengonsultasikan ihwal ta'bir mimpinya ini kepada guru-gurunya, termasuk yang di Kota Zabid, Yaman. Salah satu perintahnya adalah menutup majelis ta'lim sebab ilmu yang disampaikan tak menyentuh kalbu murid. 

Dengan penuh rendah hati Habib menangkap mimpi itu sebagai bentuk kasih sayang kakek buyutnya, Sayyidina Ali karramallahu wajhah. Ia bersyukur dengan teguran tersebut karena dirinya memang masih banyak kekurangan. Teman karib Gus Dur saat belajar di Mesir ini pun berjanji akan lebih banyak diam. Berbicara ke publik hanya bila ada hal yang sangat penting. Sampai tutup usia, Habib tidak akan membuka majelis ta'lim sebelum ada isyarat baru yang mengizinkannya.

Keputusan Habib Abu Bakar ini sungguh menohok hati. Nyaris tak ada alasan awam yang membenarkan ia mundur dari kegiatan majelis ta'lim. Habib Abu Bakar dikenal sebagai sosok kharismatik yang tidak punya musuh. Dakwahnya juga tak meledak-ledak, apalagi sampai mencaci dan menghujat. Sosok habib yang moderat, humoris, dan tak bosan-bosan mengimbau jamaahnya mencintai maulid Nabi. Satu-satunya "alasan rasional" untuk tak lagi berceramah ke khalayak adalah mimpi.

Sudah 38 tahun Habib Abu Bakar malang melintang di dunia dakwah, sepulang dari Mesir, Yaman, Maroko, dan Makkah. Ribuan muridnya tersebar di berbagai daerah yang pernah ia singgahi, mulai dari Ternane, Ambon, Makassar, Banjarmasin, Flores, Deli Serdang, hingga sejumlah kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Papua.

Sesuai pesan gurunya, Sayyid  Muhammad bin Alawi al-Maliki, Habib mengaku tak mau neko-neko dalam berdakwah. Yang pokok dalam dakwah adalah kemanfaatan ilmu, bukan kuantitas jamaah. Meskipun, dengan prinsip ini, Habib Abu Bakar sendiri akhirnya juga mendapat banyak murid di berbagai wilayah di Indonesia.

Mundurnya Habib Abu Bakar dari aktivitas dakwah tentu tak bermakna ia menghindari, apalagi mengabaikan dakwah. Ini pemaknaan kelewat harfiah. Sang habib hanya tidak ingin tampil menonjol, banyak bersuara, untuk hal-hal yang tidak terlalu krusial. Tapi, menurut saya, pesan yang paling penting di balik keputusan "aneh" ini sedikitnya dua poin.

Pertama, betapa ketatnya syarat seseorang menjadi pendakwah. Sikap Habib tersebut di satu sisi adalah simbol kerendahan hati, tapi di sisi lain penetapan yang standar tinggi dalam berdakwah. Menjadi juru dakwah bukan semata urusan pandai bicara, tapi juga soal kedalaman ilmu agama, akhlak, teladan, dan sampainya pesan ruhani ke hati khalayak. Bila Habib Abu Bakar yang berilmu luas dan "tidak neko-neko" saja mendapat sentil dari Sayyidina Ali, lalu bagaimana dengan kebanyakan dai?

Pesan kedua, sasaran utama dakwah sesungguhnya adalah diri sendiri, baru kemudian orang lain. Di sinilah relevansi memprioritaskan muhasabatun nafs (introspeksi) ketimbang gemar menghakimi perilaku orang lain. Pesan ini menemukan momentumnya seiring santer bermunculan di zaman sekarang orang-orang lebih gemar menjadi juru dakwah ketimbang juru dengar, lebih giat berceramah daripada belajar, lebih sering mengkhutbahi orang lain ketimbang diri sendiri. Beramar-makruf nahi-munkar ke orang lain sebelum benar-benar mampu beramar-makruf nahi-munkar dengan diri sendiri.

Pada tahap ini, Habib Abu Bakar sebenarnya tidak sedang mengikhbarkan soal mimpi dan penutupan majelis ta'lim Ahad sore. Di tengah ketenaran yang makin meningkat, ia justru menjauh dari itu semua. Pilihan sikap semacam ini seolah hendak menampar keras para juru dakwah yang kerap tergiur dengan popularitas, banyaknya jamaah, serta pundi-pundi keuntungan dari "profesi" mengisi pengajian. Wallahu a'lam.

(Mahbib Khoiron