Showing posts with label salaf. Show all posts
Showing posts with label salaf. Show all posts

Monday, October 28, 2024

𝐃𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐝𝐳𝐡𝐚𝐛 𝐒𝐢𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐏𝐚𝐫𝐚 𝐒𝐚𝐥𝐚𝐟 𝐁𝐞𝐫𝐦𝐚𝐝𝐳𝐡𝐚𝐛?

𝐃𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐝𝐳𝐡𝐚𝐛 𝐒𝐢𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐏𝐚𝐫𝐚 𝐒𝐚𝐥𝐚𝐟 𝐁𝐞𝐫𝐦𝐚𝐝𝐳𝐡𝐚𝐛?

Aly bin Abdillah Al-Madiniy (w.234 H) dalam kitab Al-Ilal menyampaikan :

لَمْ يَكُنْ فِي أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسلم من لَهُ صُحْبَة يَذْهَبُونَ مَذْهَبَهُ وَيُفْتُونَ بِفَتْوَاهُ وَيَسْلُكُونَ طَرِيقَتَهُ إِلَّا ثَلَاثَةٌ عَبْدُ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَزَيْدِ
بْنِ ثَابِتٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ.

Tidaklah diantara para sahabat Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسلمyang memiliki murid-murid yang :
[1] 𝐛𝐞𝐫𝐦𝐚𝐝𝐳𝐡𝐚𝐛 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐝𝐳𝐡𝐚𝐛𝐧𝐲𝐚,
[2] dan b𝐞𝐫𝐟𝐚𝐭𝐰𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐟𝐚𝐭𝐰𝐚-𝐟𝐚𝐭𝐰𝐚𝐧𝐲𝐚,
[3] dan 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐦𝐩𝐮𝐡 𝐦𝐞𝐭𝐨𝐝𝐞𝐧𝐲𝐚 (dalam berijtihad),
melainkan tiga sahabat, yakni:
[1] 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐛𝐢𝐧 𝐌𝐚𝐬’𝐮𝐝 (di Kufah)
[2] 𝐙𝐚𝐢𝐝 𝐛𝐢𝐧 𝐓𝐬𝐚𝐛𝐢𝐭 (di Madinah)
[3] 𝐀𝐛𝐝𝐢𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐛𝐢𝐧 𝐀𝐛𝐛𝐚𝐬 (di Mekkah).

Kemudian beliau menyebutkan satu persatu para salaf dari kalangan tabi'in yang mengambil madzhab mereka dan berfatwa dengan fatwa mereka :

𝐌𝐚𝐝𝐳𝐡𝐚𝐛 𝐙𝐚𝐢𝐝 𝐛𝐢𝐧 𝐓𝐬𝐚𝐛𝐢𝐭 :
[1] Said bin Musayyib
[2] Urwah bin Az-Zubair
[3] Qabishah bin Dzu'aib
[4] Kharijah bin Zaid
[5] Sulaiman bin Yasar
[6] Aban bin Utsman
[7] Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah
[8] Al-Qasim bin Muhammad
[9] Salim bin Abdillah
[10] Abu Bakr bin Abdirrahman Al-Makhzumiy
[11] Thalhah bin Abdillah bin Auf
[12] Nafi' bin Jubair
Kemudian datang generasi berikutnya :
[1] Ibnu Syihab Az-Zuhriy
[2] Yahya bin Said Al-Anshoriy
[3] Abdullah bin Dzakwan
[4] Bukair bin Abdillah
[5] Abi Bakr bin Muhammad bin Hazm
Kemudian datang generasi berikutnya
[1] Malik bin Anas
[2] Katsir bin Farqad
[3] Al-Mughirah bin Abdirrahman
[4] Abdul-Aziz Al-Majisyun

𝐌𝐚𝐝𝐳𝐡𝐚𝐛 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐛𝐢𝐧 𝐌𝐚𝐬'𝐮𝐝
[1] Alqomah
[2] Al-Aswad bin Yazid
[3] Masruq bin Al-Ajda'
[4] Ubaidah As-Salmaniy
[5] Al-Harits bin Qais
[6] Amr bin Qais Asy-Syurahbil
Kemudian datang generasi setelahnya :
[1] Ibrahim An-Nakho'i
[2] Amr bin Syarahil Asy-Sya'biy
Kemudian datang generasi setelahnya :
[1] Al-A'masy
[2] Abu Ishaq As-Sabii'iy
Kemudian datang setelahnya: Sufyan Ats-Tsauriy

𝐌𝐚𝐝𝐳𝐡𝐚𝐛 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐛𝐢𝐧 𝐀𝐛𝐛𝐚𝐬 :
[1] Atho' bin Abi Rabah
[2] Ikrimah
[3] Thawus bin Kaisan
[4] Mujahid
[5] Abu Sya'tsa' Jabir bin Zaid
[6] Said bin Jubair
Kemudian datang generasi setelahnya :
[1] Amru bin Dinar
Kemudian datang generasi setelahnya :
[1] Ibnu Juraij
[2] Sufyan bin Uyainah.

Monday, November 13, 2017

SYUBHAT RABU PUNGKASAN

SYUBHAT RABU PUNGKASAN

(Penjelasan Ustadzuna Alhabib Taufiq bin Abdul Qodir Asseggaf, Pasuruan)

Hari Rabu ini, adalah Rabu terakhir Bulan Shofar . Berikut ini adalah penjelasan Ustadzuna Habib Taufiq bin Abdulqodir Assegaf terkait dengan Rabu Pungkasan, yang diyakini sebagian orang sebagai hari sial:

Dahulu orang-orang Jahiliyah Arab meyakini bahwa Akhir Rabu ini (Bulan Shofar) sebagai Hari  Naas dan Hari Bala. Sehingga mereka menghentikan semua aktifitasnya. Toko ditutuo, pekerjaan mereka tinggalkan, bahkan mereka menutup rumahnya rapat-rapat. Mereka tidak mau keluar rumah karena takut mendapatkan bala.

Mereka serba ketakutan. Maka Rasulullah SAW datang membawa agama rahmat ini, meniadakan hal yang seperti itu. Beliau SAW bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيرَةَ وَلَا صَفَر

Tidak ada itu gara-gara si A akhirnya datang penyakit menular kepada yang lainnya. Tidak ada itu gara-gara burung ini atau itu akhirnya datang bala`, tidak ada pula gara-gara bulan Shofar.”

Karena itu, tidak boleh kita menyakini di hari itu akhirnya kita apes semuanya, tidak!

Disinilah para ulama' salaf merubah image Hari Rabu itu. Dirubah imagenya yang asalnya ketakutan, dirubah menjadi penuh harapan.

Mereka dulu ketakutan tapi diganti ayo baca-baca Al-Quran, baca-baca dzikir.

Dianjurkan beberapa dzikir diantaranya membaca Surat Yasin (ketika sampai ayat) ''Salamun qoulam mir rob birrohim '' dibaca 313x , dengan tafaul/berharap dengan jumlah sahabat perang badar yang sebanyak 313 insya Alloh kita ''Salam..'' dijadikan orang yang selamat.

Yang asalnya ketakutan menjadi harapan.

Kemudian yang asalnya di dalam rumah karena takut (jika keluar) kena bala' malah diadakan satu demostratif begitu, oleh salafus soleh, keluar/pergi keluar kota. Itu sebenarnya bukan dianjurkan/disunahkan pergi keluar kota, tidak.

Itu sebagai penentangan terhadap pengaruh jahiliyyah, yang asalnya mereka susah, ketakutan malah dianjurkan untuk berbahagia.

Sampai-sampai diantara mereka (salafussoleh) membuat mayoran (berkumpul makan bersama) potong kambing. Masih inget kita dulu ada di Umbulan (salah satu tempat rekreasi di Pasuruan) bersama Habaib dulu itu.

Itu sebagai ''protes'' jangan kita seperti orang jahiliyyah yang ketakutan di hari ini...maka kita berbahagia bersama-sama tapi sambil berdo'a, bukan melupakan diri kepada Alloh SWT.

Jadi ajaran itu sebenarnya bukan ajaran bi'dah justru itu adalah menentang dari pada keyakinan jahiliyyah.

Alhamdulillah, kita diatur semuanya oleh salafus soleh, ente baca ini, baca ini, baca Al Qur'anul Karim, ''salamun qoulam...” dan seterusnya' dengan harapan selamat. Kenapa Tidak? setiap ada ayat rahmat kita dianjurkan memohon kepada Alloh, setiap ada ayat adzab kita dianjurkan juga meminta perlindungan kepada Alloh.

Tidak ada masalah...ajaran-ajaran ini. Semuanya adalah islami, justru ini adalah mengeluarkan kita dari pada keyakinan-keyakinan jahiliyyah.

Salah sekali kalau ada yang mengatakan itu adalah karena pengaruh jahiliyyah, justru itu adalah omongan-omongan orang yang jahil (bodoh), karena ini adalah sebagai bentuk ''protes'' , sebagai bentuk penentangan terhadap keyakinan jahiliyyah, yang diajarkan salafus soleh. Alhamdulillah 'ala dzalik.

Jadi akhir Rabu jangan ada yang meyakini hari itu adalah hari na'as, tapi anda juga jangan jadi orang lupa/lalai kepada Allah, ibadah juga pada Allah biar selamat, jangan seakan-akan menantang turunnya adzab Allah...kenektemenan (kena sungguhan) nanti, itu sombong namanya.

Tetap mengharap selamat kepada Alloh, dengan membaca Al Qur'an, dengan berdzikir kepada Allah swt. Kemudian aktifitas seperti biasa, malah orang-orang dahulu lebih menggunakan ''liburlah tidak ada masalah, tapi libur untuk rekreasi, kemudian mayoran''.

Itu dahulu...tapi tidak harus... Mudah-mudahan kita semua jadi pengikut salafus soleh...aaamiiin ...''

(Di sampaikan dalam pengajian "Madros" Rabu pagi 17-12-2014 di kediaman Al Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf)

Sunday, November 12, 2017

KEHEBATAN BAHASA ARAB ASY-SYAFI’I

KEHEBATAN BAHASA ARAB ASY-SYAFI’I

Di antara syarat mutlak seseorang pantas disebut ulama adalah mengetahui bahasa Arab. Jika seorang dai masih mungkin orang yang bisa berbahasa Arab atau yang tidak bisa berbahasa Arab, tetapi untuk tingkatan ulama, tidak bisa tidak pengetahuan bahasa Arab adalah syarat mutlak yang tidak bisa ditawar lagi. Apalagi seorang mujtahid. Orang yang mencapai derajat ijtihad, pastilah orang yang memiliki pengetahuan bahasa Arab yang membuatnya mampu memahami makna-makna pelik dalam bahasa sehingga tidak keliru memahami makna sebuah ungkapan dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah.

Dari sini kita bisa meyakini bahwa setiap mujtahid pastilah memiliki pengetahuan bahasa Arab. Semua imam madzhab yang menjadi mujtahid muthlaq adalah ulama-ulama yang jelas memiliki pengetahuan bahasa Arab yang layak untuk memahami langsung Islam dari sumbernya. Termasuk di antaranya di sini Asy-Syafi’i. Tetapi Asy-Syafi’i dalam hal ini istimewa. Beliau bukan hanya memiliki pengetahuan bahasa Arab, tetapi lebih dari itu level pengetahuan beliau dalam bidang ini telah mencapai tingkat yang serupa dengan “keajaiban”. Bagaimana penjelasannya?

Telah diketahui, Asy-Syafi’i yang memiliki kecerdasan luar biasa itu belajar bahasa Arab pada salah satu kabilah Arab yang masih murni bahasa Arabnya yaitu kabilah Bani Hudzail. Khusus untuk mendalami bidang ini sekitar sepuluh atau belasan tahun beliau habiskan untuk menguasainya. Asy-Syafi’i belajar sastra, sejarah Arab, menghapal puisi, memahami makna-makna lafaz langsung dari konteks penggunaannya dan seterusnya sampai beliau memiliki kemampuan bahasa dan sastra yang menakjubkan.

Konon, Asy-Syafi’i bisa membuat syair padat isi dan bermutu secara irtijal (spontan tanpa mengkonsep) lengkap dengan wazan ‘arudh tertentu, qofiyah yang konsisten, dan pemilihan kata yang akurat!

Dalam salah satu syairnya, Asy-Syafi’i sendiri bersaksi, andai saja memperbanyak syair  itu tidak merendahkan martabat ulama niscaya beliau bisa saja membuat syair  yang lebih hebat dari pada penyair jahiliyyah yang bernama Labid. Siapapun yang pernah mengkaji kumpulan puisi Asy-Syafi’i dalam kitab “Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i” pasti akan mengetahui kefasihan dan keindahan bahasa Asy-Syafi’i. Syair-syairnya sangat bermutu, aghrodh (tema-tema)  puisinya sangat berkelas, dan bahkan versi terjemahannyapun masih sangat indah jika dinilai dari sudut pandang sastra.

Az-Za’faroni, salah satu murid Asy-Syafi’i di Baghdad pernah menceritakan satu kisah menarik. Pada saat Asy-Syafi’i mengasuh sebuah kajian, ada sejumlah orang Arab pedalaman yang yang tidak dikenal sebagai ahli fikih berkali-kali datang dan menghadiri forum kajian Asy-Syafi’i. Az-Za’faroni heran lalu bertanya kepada mereka apa tujuannya datang, karena mereka datang hanya mendengar dan tidak mencatat seperti umumnya murid-murid Asy-Syafi’i yang mengambil ilmu fikih darinya. Apa jawabannya? Ternyata tujuan mereka datang adalah ingin belajar kefasihan bahasa Asy-Syafi’i!

Bisa dibayangkan. Ilmu fikih  adalah ilmu serius. Ini adalah ilmu hukum dalam Islam. Jika orang yang menyampaikannya sampai dipandang sanggup menyampaikan dengan bahasa yang indah dan fasih, mustahil orang seperti itu jika tidak memiliki kemampuan bahasa Arab yang sangat tinggi.

Ahmad bersaksi bahwa kata-kata Asy-Syafi’i adalah hujjah dalam bahasa Arab.

Ibnu Hisyam pengarang Sirah Nabawiyyah yang terkenal itu juga bersaksi bahwa Asy-Syafi’i adalah sumber bahasa Arab yang kata-katanya bisa dijadikan hujjah untuk memaknai lafaz Arab. Ibnu Hisyam lama belajar kepada Asy-Syafi’i, dan selama itu tidak  pernah satu kalipun mendengar Asy-Syafi’i melakukan lahn (kesalahan berbahasa)!

Kata Az-Za’faroni, semua syair yang dibacakan ke hadapan Asy-Syafi’i pasti beliau mengetahuinya.

Kata Ar-Robi’ bin Sulaiman, muridnya di Mesir, seandainya Asy-Syafi’i menulis kitab-kitabnya dengan memakai bahasa yang ia gunakan saat berbicara niscaya kitab-kitabnya tidak akan sanggup dibaca karena kekayaan bahasa yang dimiliki.

Kepiawaian Asy-Syafi’i dalam bahasa Arab sampai menarik perhatian ahli bahasa yang terkenal bernama Al-Azhari. Pakar bahasa ini mengumpulkan semua lafaz-lafaz gharib yang pernah dipakai Asy-Syafi’i kemudian dijelaskan maknanya dalam sebuah kitab yang berjudul “Az-Zahir Fi Ghoribi Alfadzi Asy-Syafi’i” (الزاهر في غريب ألفاظ الشافعي). Kitab ini menjadi salah satu rujukan penting untuk memahami istilah-istilah fikih madzhab Asy-Syafi’i.

Wajar dengan kemampuan bahasa seperti ini, Asy-Syafi’i memiliki kualitas ijtihad yang tajam, mendalam dan kokoh sehingga dikagumi oleh ulama besar selevel Al-Baihaqi. Kata Al-baihaqi:

وَقَدْ قَابَلْتُ بِتَوْفِيقِ اللَّهِ تَعَالَى أَقْوَالَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ بِمَبْلَغِ عِلْمِي مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ , ثُمَّ بِمَا جَمَعْتُ مِنَ السُّنَنِ وَالْآثَارِ فِي الْفَرَائِضِ وَالنَّوَافِلِ وَالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ وَالْحُدُودِ وَالْأَحْكَامِ , فَوَجَدْتُ الشَّافِعِيَّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَكْثَرَهُمُ اتِّبَاعًا وَأَقْوَاهُمُ احْتِجَاجًا وَأَصَحَّهُمْ قِيَاسًا وَأَوْضَحَهُمْ إِرْشَادًا. وَذَلِكَ فِيمَا صَنَّفَ مِنَ الْكُتُبِ الْقَدِيمَةِ وَالْجَدِيدَةِ فِي الْأُصُولِ وَالْفُرُوعِ وَبِأَبْيَنِ بَيَانٍ وَأَفْصَحِ لِسَانٍ.

Artinya : “Dengan pertolongan Allah Ta’ala aku telah membandingkan ijtihad-ijtihad masing-masing para imam madzhab itu, sejauh pengetahuanku terhadap Kitabullah azza wajalla, kemudian (sejauh pengetahuanku terhadap) hadis-hadis dan atsar yang aku kumpulkan terkait hal-hal wajib, nawafil, halal, haram, hudud dan hukum. Ternyata kudapati Asy-Syafi’i rahimahullah yang paling mengikuti (Al-Qur’an dan As-Sunnah), yang paling kuat hujjahnya, yang paling sahih qiyasnya, dan paling jelas bimbingannya. Hal itu (bisa ditemukan) pada kitab-kitab yang beliau karang, baik yang lama maupun yang baru, dalam ushul maupun furu’ (yang dijelaskan beliau) dengan penjelasan paling gamblang dan bahasa yang paling fasih” (Ma’rifatu As-Sunan Wa Al-Atsar, juz 1 hlm 213)

Versi situs: http://irtaqi.net/2017/09/03/kehebatan-bahasa-arab-asy-syafii/

رحم الله الشافعي رحمة واسعة
اللهم اجعلنا من محبي العلماء الصالحين

***
Muafa
13 DzulHijjah 1438 H

‘IMRITHI ATAUKAH ‘AMRITHI?

‘IMRITHI ATAUKAH ‘AMRITHI?

Kita tengah membicarakan seorang pakar manzhumah bermadzhab Asy-Syafi’i asal Mesir yang wafat pada 989 H.

Nama lengkapnya Syarofuddin Yahya bin Nuruddin bin Musa bin ‘Amiroh. Karya manzhumahnya dalam ilmu nahwu yang bernama “Ad-Durrotu Al-Bahiyyah”, yakni bentuk puisi dari matan Al-Ajurrumiyyah, terkenal bukan hanya di kalangan madzhab Asy-Syafi’i tetapi juga madzhab-madzhab lainnya. Manzhumah ini bahkan lebih populer dengan nama pengarangnya. Jika disebut orang “Nazhom ‘Imrithi”, terutama di pondok-pondok pesantren, maka yang dimaksud adalah “Ad-Durrotu Al-Bahiyyah” itu.

Demikian hebat kemampuan beliau dalam membuat manzhumah sampai-sampai Hasan Habannakah (guru ulama-ulama besar Asy-Syafi’iyyah kontemporer seperti Romadhon Al-Buthi, Musthofa Dib Al-Bugho, Musththofa Al-Khin, dan lain-lain) menyebutnya sebagai “aayatan fin nazhmi” (آية في النظم)/ “ayat dalam membuat nazhom”. Karya-karya manzhumah beliau memang bermutu tinggi, pilihan katanya fasih, mudah dihapal, bahasanya mudah dan mengena langsung ke pokok ilmu yang dibicarakan.

Karya manzhumah beliau selain Ad-Durrotu Al-Bahiyyah adalah,

• Nihayatu At-Tadrib (نهاية التدريب) yang merupakan manzhumah dari matan Abu Syuja’ dalam bidang fikih

• At-Taisir (التيسير) yang merupakan manzhumah dari kitab fikih madzhab Asy-Syafi’i yang berjudul “Tahriru Tanqih Al-Lubab” karya Zakariyya Al-Anshori

• Tashilu Ath-Thuruqot (تسهيل الطرقات) yang merupakan manzhumah dari kitab ushul fikih ringkas karya Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini yang berjudul “Al-Waroqot”

Pertanyaannya, mana yang lebih tepat dalam melafalkan nama beliau, apakah dilafalkan ‘Imrithi (العِمْرِيْطِي) dengan mengkasrohkan ‘ain ataukan ‘Amrithi (العَمْرِيْطِي) dengan memfathahkan ‘Ain?

Kata (عمريط) sesungguhnya adalah nama tempat di Mesir sebagaimana ditegaskan Az-Zirikli dalam kitab Al-A’lam,

العمريطي: فقيه شافعي، من العلماء، من قرية عمريط (بشرقية مصر)

Artinya : “nama العمريطي adalah seorang fakih bermadzhab Asy-Syafi’i. termasuk ulama dari desa عمريط , Mesir bagian timur. (Al-A’lam, juz 8 hlm 175)

Jadi, kata tersebut adalah laqob yang diperoleh dari nisbat terhadap nama sebuah desa di Mesir. Dengan demikian dhobth lafaz yang harus dijadikan rujukan sebenarnya adalah dhobth lafaz isim ‘alam yang terkait dengan nama negeri yang lazimnya bisa ditemukan pada kitab-kitab Mu’jamu Al-Buldan.

Al-Hazimi dalam kitabnya; “Asy-Syarh Al-Mukhtashor Linazhmi Al-Waroqot” menegaskan bahwa pelafalan yang tepat adalah membacanya dengan memfathahkan ‘ain (العَمْرِيْطِي)/‘Amrithi.

Bahkan beliau menegaskan bahwa membaca dengan mengkasrohkan ‘ain adalah bentuk lahn (kesalahaan berbahasa). Konsepsi lahn bisa dibaca pada artikel saya yang berjudul “Memerangi Lahn”.

Al-Hazimi berkata,

(العَمريطى) بفتح العين إشتهر عند البعض العِمريطى بكسر العين وهذا فيه لحن

Artinya: “…’Amrithi adalah dengan memfathahkan ‘ain. Di sebagian kalangan lafaz ini populer dengan lafaz ‘Imrithi dengan mengkasrohkan. Ini mengandung unsur lahn…” (Asy-Syarh Al-Mukhtashor Linazhmi Al-Waroqot, juz 1 hlm 3)

Cara pelafalan ‘Amrithi ini juga ditegaskan oleh Hasan Habannakah pada saat beliau memberi pengantar untuk editannya terhadap kitab “Nihayatu At-Tadrib. Pelafalan ‘Amrithi itulah yang lebih masyhur.

Hanya saja, Az-Zabidi dalam kamusnya yang berjudul “Taju Al-‘Arus Min Jawahiri Al-Qomus” menjelaskan bahwa desa di Mesir asal ulama yang kita bicarakan ini dibaca dengan mengkasrohkan ‘ain. Az-Zabidi berkata,

وعِمْرِيطُ، بالكَسْرِ: قريةٌ بشَرْقِيَّةِ مِصْرَ

Artinya : “…’Imrith dengan mengaksrohkan (‘ain) adalah desa di Mesir bagian timur “ (Taju Al-‘Arus Min Jawahiri Al-Qomus juz 19 hlm 492)

Az-Zabidi adalah seorang pakar bahasa Arab, karena itu informasi dari beliau juga tidak bisa diremehkan.

Barangkali karena ada dua informasi berbeda seperti inilah maka ada sebagian peneliti yang memilih jalan mengkompromikan, misalnya seperti yang dilakukan oleh Yasir Al-Miqdad pada saat mentahqiq kitab At-Taisir, manzhumah karya Al-‘Amrithi untuk kitab mukhtashor fikih berjudul “Tahriru Tanqih Al-Lubab”. Menurut Yasir, melafalkan ‘Amrithi adalah betul, melafalkan ‘Imrithi juga betul.

Adapun analisis yang saya condongi adalah, pelafalan ‘Imrithi “diterima” bukan karena itu benar, tetapi barangkali karena sudah kadung populer di tengah-tengah masyarakat sebagaimana diterimanya lafaz “zakat fitrah” (seharusnya zakat fitri), “muhrim” (seharusnya mahrom), “Ibnu Roslan” (seharusnya Ibnu Arsalan) dan semisalnya karena sudah telanjur populer. Pelafalan yang sudah “kadung populer” itulah yang diriwayatkan oleh Murtadho Az-Zabidi.

Wallahua’lam.

Versi situs: http://irtaqi.net/2017/10/29/imrithi-ataukah-amrithi/

***
Muafa
9 Shofar 1439 H

MANA YANG BENAR; ALIRAN TAFWIDH ATAUKAH ALIRAN TAKWIL?

MANA YANG BENAR; ALIRAN TAFWIDH ATAUKAH ALIRAN TAKWIL?

Renungan Terkait Cara Orang Awam Berakidah

Studi Kasus: Pilihan Akidah An-Nawawi Dalam Memahami Sifat-Sifat Allah

*******

Dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat terkait sifat Allah, telah diketahui ada dua aliran utama yang saling mengkritik, yaitu aliran tafwidh (التفويض) dan aliran ta’wil (التأويل). Aliran tafwidh dipegang kelompok salafi sementara aliran ta’wil dipegang kelompok Asy’ariyyah.

Bagi orang awam, bagaimana cara memilih pendapat yang paling kuat dari dua aliran ini?

Tentu saja kaum muslimin awam -apalagi yang baru masuk Islam- akan susah diseret untuk memahami pembahasan filosofis terkait shifah dengan maushuf, jauhar dengan ‘arodh, perbuatan manusia diciptakan Allah atau hamba, perdebatan antara mu’tazilah-jabriyyah-‘Asy’ariyyah, diskursus antara epikureanis dengan stoasis, dan lain-lain. Menyerat awam pada perdebatan seperti ini malah bisa menimbulkan fitnah, yakni memberi kesan Islam itu ruwet sehingga justru malah bisa membuat mereka menjauh bahkan keluar dari Islam.

Jalan paling logis bagi kaum muslimin awam adalah bertaklid pada ulama yang dipercayai terkait isu ini. Dalam memilih ulama pun, bisa jadi kaidahnya sangat sederhana selama dianggap masuk akal dan menentramkan jiwa.

Untuk memahami cara pikir orang awam dalam hal ini, marilah kita ambil contoh kasus An-Nawawi terkait pilihan akidah beliau dalam memahami sifat Allah.

Keutamaan An-Nawawi adalah perkara yang sudah diketahui. Beliau adalah salah seorang ulama yang sangat berkah umur dan waktunya. Ilmunya sangat dalam dan luas, dihormati sebagai Asy-Syaikh di kalangan Asy-Syafi’iyyah dan memiliki banyak kitab yang terbukti sangat berkah dan bermanfaat lintas zaman dan lintas madzhab.

Ketenaran An-Nawawi bukan hanya dalam hal keilmuan, tapi juga dalam kesalihan, ibadah, sikap zuhud dan karomah.

Sejak kecil An-Nawawi sudah menunjukkan tanda-tanda keistimewaan yang menunjukkan beliau bukan “orang biasa”. Di saat teman-teman sebayanya di waktu kecil menghabiskan umur untuk bermain-main, An-Nawawi tidak mau bergabung dengan mereka. Ketika beliau dipaksa ikut main, beliau menangis lalu lari dan membaca Al-Qur’an. Pernah juga di bulan Ramadhan, An-Nawawi kecil melihat cahaya terang benderang di rumahnya. Ketika sang ayah dibangunkan, beliau tidak melihat apa-apa. Ternyata malam itu adalah malam 27 Ramadhan. Maka tahulah sang ayah bahwa malam itu adalah malam lailatul qodar.

Kehidupan masa kecil An-Nawawi seolah-olah menunjukkan bahwa beliau lahir dan tumbuh dalam pengawasan Allah dan memang disiapkan Allah untuk menjadi orang besar, panutan umat, dan pelita kaum muslimin.

Masalahnya (jika dianggap sebagai masalah), akidah An-Nawawi dalam hal memahami sifat Allah adalah akidah Asy’ariyyah yang dibid’ahkan oleh kelompok salafi!

Lalu bagaimana memahami dua hal yang nampak kontradiktif ini?

Bagi umumnya penganut Asy-Syafi’iyyah, barangkali karena kesalihan, karomah dan keberkahan kitab-kitab imam An-Nawawi inilah justru mereka malah menjadi yakin bahwa pilihan akidah An-Nawawi dalam memahami sifat Allah adalah pilihan yang diduga paling tepat dan paling diridhai Allah. Apalagi bagi umumnya Asy-Syafi’iyyah di Indonesia, referensi utama kajian akidah adalah kitab ‘Aqidatu Al-‘Awam karya Ahmad Al-Marzuqi yang mana penulisnya mengklaim bahwa akidah dan manzhumah itu diajarkan langsung oleh Rasulullah melalui mimpi!

Memahami kasus An-Nawawi ini, dalam nalar wajar ada tiga kemungkinan cara memahami;

Pertama, memahami bahwa orang yang memiliki akidah bid’ah bisa saja menjadi wali dan kekasih Allah yang dicintai, diridhai dan disayangi-Nya

Kedua, memahami bahwa pilihan akidah An-Nawawi sebaiknya jangan disebut bid’ah. Tapi lebih lembut sedikit disebut saja khotho’ (الخطأ)/kesalahan. Jika itu bukan bid’ah, tapi “hanya” khotho’, maka pilihan akidah beliau adalah termasuk ijtihad yang dipuji secara umum oleh Rasulullah, yakni; Jika benar pahalanya dua jika salah pahalanya satu.

Ketiga: Memahami bahwa justru akidah An-Nawawi terkait memahami sifat Allah itulah yang lebih benar disisi Allah daripada madzhab tafwidh.

Nampaknya, bagi kaum muslimin awam akan lebih mudah menerima pemahaman yang ketiga. Logikanya mungkin sederhana. Jika dikatakan akidah An-Nawawi terkait sifat Allah adalah bid’ah, maka tentu Allah murka, karena Nabi menyebut setiap bid’ah itu sesat dan setiap sesat di neraka. Tidak mungkin orang yang dimurkai Allah (apalagi ini terkait masalah akidah) akan dimuliakan dengan karomah.

Yang lebih ajaib terkait An-Nawawi ini adalah karomah beliau yang langsung berpaut erat dengan tokoh aliran tafwidh. Konon An-Nawawi pernah berdoa kepada Allah untuk menghancurkan berhala di zamannya yang tidak bisa beliau hilangkan hanya dengan amar makruf nahi munkar. Doa yang dinisbatkan kepada beliau berbunyi,

اللهم أقم لدينك رجلاً يكسر العمود المخلّق1، ويُخرّب القبر الذي في جيرون

Artinya: “Ya Allah, bangkitkanlah untuk dien-MU seorang lelaki yang akan menghancurkan obelisk itu (yang berada di dekat sungai Qoluth), dan merobohkan kuburan yang berada di Jairun (An-Nubuwwat, juz 1 hlm 73)

Uniknya, sebagian ulama memandang bahwa Allah mengabulkan doa ini satu generasi sesudahnya dengan membangkitkan hamba-Nya yang beraliran tafwidh; Ibnu Taimiyyah!

Sejarah mencatat sebagaimana diuraikan Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah Wa An-Nihayah bahwa orang yang menghancurkan berhala itu adalah Ibnu Taimiyyah. Karomah dari ulama terakhir ini juga cukup terkenal dan tidak perlu diingkari.

Dari sini kita sedang berhadapan dengan dua ulama yang sama-sama besar, tetapi berbeda aliran dalam memahami sifat Allah. Keduanya adalah ulama yang tidak bisa diingkari jasanya untuk Islam kecuali bagi orang yang mengingkari sinar matahari di siang bolong. Kaum muslimin menyaksikan bagaimana beliau berdua menghabiskan umur untuk berkhidmat pada dinullah. Keduanya bahkan juga memiliki kesamaan wafat dalam keadaan belum pernah menikah. Suatu totalitas untuk dakwah dan tabligh yang luar biasa.

Jika kisah karomah doa An-Nawawi itu memang benar, apakah dengan kasus ini sudah sepentasnya kaum muslimin berhusnudhon kepada dua ulama besar ini, bahwa mereka semua adalah wali Allah, yang ikhtilafnya dimaafkan dalam kasus akidah terkait sifat Allah?

Mungkinkah persoalan debat terkait memahami sifat Allah antara aliran tafwidh dan ta’wil dimasukkan area yang harus dikembangkan sikap tasamuh dan lapang dada? Ataukah tetap tidak ada kompromi dalam hal ini, yang dianggap bid’ah harus tetap digolongkan bid’ah, menyimpang harus tetap digolongkan menyimpang?

Patut direnungkan. Wallahua’lam.

Versi situs : http://irtaqi.net/2017/11/04/mana-yang-benar-aliran-tafwidh-ataukah-aliran-takwil/

***
Muafa
15 Shofar 1439 H

Thursday, October 5, 2017

Derajat ulama' ahli hadits

kita yang mana ????

:'(

Mengenai gelar Al Musnid, Al Hafidh dll, hal itu bukan pada madzhab syafi’i saja, namun ia adalah gelar bagi pakar syariah, sebagaimana Doktor, Prof, Drs, SH, dll, maka dalam Islam adalah Al Imam, Al Hujjah, Al Hafidh, AL Musnid, Al Mufassir, Al Allamah, dll, adapula bagi para shalihin misalnya : Azzaahid (orang yg dikenal sangat Zuhud), Al Arif billah, dan banyak lagi.

- Al Hafidh adalah ahli hadits yg sudah hafal 100 ribu hadits dgn sanad dan hukum matannya.
- Al Hujjah adalah ahli hadits yg sudah hafal 300.000 hadits dgn sanad dan matannya,
- Al Hakim adalah yg lebih dari itu dan menguasai kedalaman ilmu hadits
- Al Musnid adalah orang yg banyak menyimpan sanad hadits dari diri beliau hingga Rasul saw, misalnya, dariku, dari guruku fulan, dari ayahnya, dari gurunya…., sampai pada Imam Bukhari misalnya, lalu diteruskan sampai Rasul saw. almusnid adalah yg memiliki sanad hadits seperti ini
- Al Imam adalah guru guru dari para pakar hadits di zamannya, sebagaimana Imam berarti pemimpin, maka ia adalah pemuka/pemimpin ulama dimasanya.

di Indonesia yg mencapai derajat Al Hafidh adalah almarhum Al Hafidh Alhabib Abdullah bin Abdulqadir Balfaqih, ALmarhum Alhabib Salim bin jindan, Almarhum Alhafidh Al Musnid ALhabib Ali bin Abdurrahman ALhabsyi kwitang.

Gelar Alhafidh, ribuan dimasa para Imam Imam madzhab hingga tak terdata, dan kini hanya tinggal beberapa orang saja.
Di atas itu adalah Hujjatul Islam, diantaranya Imam Ghazali, Imam Nawawi, Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy, dan banyak lagi.

Dbiatas itu adalah para Imam Muhadditsin, puluhan jumlahnya, mereka adalah para pengumpul hadits, dan dari puluhan itu terpilihlah 7 besar, yg dikenal dengan nama Imamussab’ah (Imam yg tujuh), yaitu Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abu Dawud, Imam Attirmidziy, Imam Annasai, Imam Ibn Majah, Imam Muslim dan Imam Bukhari.

Tentunya Imam Muhaddits puluhan jumlahnya, diantaranya Imam Daruqutni, Imam Hakim, Imam Baihaqiy dll, namun derajat riwayat hadits mereka kalah kuat oleh Imam tujuh, dikarenakan kejelian Imam Tujuh atas periwayat periwayat hadits.

Dari Imam Tujuh ini disaring lagi menjadi enam Imam saja, dikenal dg nama Kutubussittah, yaitu 7 imam diatas namun gugur Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ahmad bin Hanbal adalah pada peringkat ketujuh, yg terendah dari 7 imam tersebut, padahal ia hafal 1 juta hadits dg sanad dan hukum matannya,
Lalu kalau Imam yg hafal 1 juta hadits ini sudah diperingkat ketujuh, maka bagaimana kedahsyatan 6 imam diatasnya?,
Dan dari 6 Imam ini disaring lagi menjadi dua bagian, yaitu kutubul Arba’ah, yaitu 4 imam : Imam Nasai, Imam Tirmidziy, Imam Ibn Majah, dan Imam Abu Dawud.,

Diatas empat imam ini adalah dua Imam besar yg digelari Syaikhain, (dua maha guru) yaitu Imam Muslim dan Imam Bukhari, dan dua kitab riwayat hadits mereka disebut Shahihain.
Dan dari dua Maha Guru ini maka yg tertinggi adalah Imam Bukhari, (Muhammad bin Ismail bin Bardizbah Al Bukhari) Ketika Imam Muslim dan Imam Bukhari hidup sezaman, maka orang orang saling ingin tahu mana diantara mereka yg lebih jaya dalam ilmu hadits, maka para ahli hadits berkata : Jika kita menemukan masalah dalam periwayat hadits, sudah pasti masalah itu sudah terjawab oleh Imam Muslim, dan jika kita berpuluh puluh tahun memperdalam hadits, belum akan mampu mengejar keluasan ilmu Imam Muslim.,

Suatu hari Imam Muslim mendapat satu kendala dalam masalah hadits yg tak ia temukan jawabannya, ia sudah merasa mustahil ada seorang pun yg tahu jawabannya, maka orang orang menyarankannya kunjung ke Bukhara, yaitu kepada Imam Bukhari, ketika Imam Muslim sampai, dan menanyakan masalah yg tak pernah bisa terjawab oleh ulama dimasa itu, maka Imam Bukhari menjawabnya dg lancar dan mudah bagaikan mudahnya orang membaca surat Al Ikhlas.., maka menyungkurlah imam muslim di kaki Imam Bukhari sambil menangis dan berkata : Izinkan aku mencium kedua kakimu wahai Raja Ahli Hadits.. (Sayyidul Muhadditsin).

Sebagaimana Imam Bukhari sudah hafal 600 ribu hadits dg sanad dan hukum matannya pada usia 16 tahun, dan suatu saat orang mengeluh padanya tentang suatu masjid disuatu wilayah yg siapa saja orang asing masuk kesana maka ia akan dihujani pertanyaan tentang dalil dalil shalat serta rukun2nya, maka Imam Bukhari berkata : Jika aku sampai kepada mereka, akan kukeluarkan 10 ribu hadits shahih dalam Bab shalat saja, semoga mereka bisa berubah dari kejahatannya itu.

Imam Syafii adalah Guru dari Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Malik adalah guru dari Imam Syafii, dan Imam Malik hidup sezaman dg Imam Hanafi, dan keduanya berguru kepada Imam Nafi, yg langsung berjumpa dg para sahabat Rasul saw, dan tentunya para sahabat Rasul saw dari Rasulullah saw.

sumber: Habib Munzir Al Musawwa.

Thursday, September 21, 2017

Beban berat yg di tanggung oleh para ulama' salaf ketika mencari ilmu .

Beban berat yg di tanggung oleh para ulama' salaf ketika mencari ilmu .

1. Ibnu Tohir berkata : aku pernah dua kali mengalami pendarahan di kaki, sekali di baghdad dan sekali di makkah. saat itu aku berjalan kaki tanpa memakai sendal untuk belajar hadits, aku tdk naik kendaraan sama sekali dan kitab2ku ku taruh di punggung.
~Siyaru a'lamin nubala' (19/363) ~

2. Al'allamah ahli nahwu Abu bakar al khoyyath tidak pernah lepas dari kitab, semua waktunya di gunakan untuk belajar bahkan ketika di jalan, terkadang beliau jatuh ke dalam lubang yg ada di jalan atau terkadang tertabrak kendaraan.
~Almusyawwiq ilal qiro'ah watolabil ilmi (ص 62 )~

3. Ibnu Aqil sangat menyingkat waktu makannya, beliau lebih memilih menelah kue kecil dan seteguk air daripada memilih roti, karena waktu yg dihabiskan utk mengunyah sepotong roti bisa tergantikan dengan mutola'ah kitab atau menulis sebaris faedah yg tdk ditemukan di waktu yg lain.
~Dzail tobaqotul hanabilah (1/145)~

4. Dawud at Thoi memilih minum roti remuk yg dicampur air dari pada sepotong roti, kata beliau :
"antara mengunyah sepotong roti dengan minum roti remuk campur air terdapat bacaan al qur'an 50 ayat "
~ Al mujalasah wa jawahirul ilmi (1/346)

5. Ja'far bin Darstawaih berkata :
" dulu kami biasa mencari tempat duduk di majlisnya Ali bin al madini mulai dari setelah ashar padahal ngajinya masih besok hari. kami semalaman duduk disitu karena jika berpindah khawatir di tempati oleh orang lain jadi nggak bisa mendengarkan pengajian beliau "
~Al jami' liakhlaqir rowi (2/138)~

6. Muhammad bin ismail as shoigh berkata :
" suatu hari aku melewati baghdad, disana aku bertemu dengan ahmad bin hambal yg sedang berlari sambil menjinjing sendalnya ,khawatir tertinggal pelajaran , aku berkata kepadanya :
"wahai aba abdillah, apakah kau tidak malu ?
sampai kapan kau akan berlari bersama anak2 ? "
beliau menjawab : "sampai mati. "
~manaqib imam ahmad (ص 32) ~

7. Sahabat abu hurairoh terkadang ketika belajar sampai pingsan diantara mimbar Rasululloh dan kamarnya Aisyah, sampai orang2 mengatakan bahwa abu hurairoh gila, padahal beliau tidak gila tapi kelaparan.
~Hilyatula uliya' (1/379) ~

8. ibnu katsir berkata : " terkadang imam bukhori terbangun di suatu malam kemudian beliau menghidupkan lampunya dan menuliskan faedah yg sedang terlintas di fikirannya kemudian mematikan lapu lagi utk tidur. kemduian bangun lagi dan menulis faedah lagi, begitu seterusnya berulang sampai 20 kali dalam semalam "
~ Al bidayah wan nihayah (11/31)~

9. Ibnu qosim berkata : " imam malik bin anas dalam mencari ilmu sampai mencopot atap rumahnya utk dijual kayunya "
~Tarikh baghdad (2/13)~

10. Ubaid bin ya'isy berkata :
" dalam 30 tahun aku tidak pernah mengangkat tanganku utk makan, saudariku yg menyuapiku sedangkan aku menulis "
~al jami' liakhlaqir rowi (2/178)~

11. Abu Yusuf berkata :
"Putraku meninggal dan aku tidak menghadiri pemakamannya, kutinggalkan dia kepada kerabat dan tetanggaku karena aku kuatir tertinggal pelajaran dari Abu Hanifah, dimana penyesalan karena tertinggal pelajaran tidak bisa hilang dariku. "
~Manaqib Abu Hanifah (1/472)~

12. Abu Ja'far bin Nufail berkata :
" Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Ma'in mendatangi kami, kemudian Yahya merangkulku sambil bertanya :
" wahai abu ja'far apakah engkau pernah membaca didepan ma'qol bin ubaidillah dari dari 'atho', bahwa paling sedikitnya waktu orang yg haid adalah sehari ?"
Ahmad bin Hambal berkata : "Mengapa kau tidak duduk dulu !"
Yahya menjawab : " aku khawatir wafat sebelum mendengar jawaban dari Ja'far. "
~Tarikh dimasyqo (32/353)~

13. Muhammab bin Hubaib berkata :
" kami dulu menghadiri majlisnya Abi Ishaq ibrahim bin ali al hujaimi untuk mendengarkan hadits, dan beliau biasanya duduk di teras atas rumahnya.
jalan-jalan besar daerah Hujaim penuh sesak dengan manusia yg menghadiri majlis beliau utk mendengarkan haditsnya .
Biasanya saya bangun di waktu sahur dan ternyata di sana orang2 telah mendahuluiku dan mereka telah mengambil tempat masing2.
tempat yg digunakan duduk oleh orang2 itu dihitung dan diperkirakan jumlahnya sekitar 30. 000 tempat duduk."
~Al Jaami' liakhlaqir rowi (2/57)~

14. Ibnu Syihab Az Zuhri berkata :
"dalam jangka waktu 45 tahun aku sering pulang pergi antara negara Syam dan Hijaz, maka tidaklah ku temukan satu hadits yg kuangggap jauh tempatnya ! "
~Hilyatul auliya' (3/362)~

15. Yahya bin Sa'id al qotton berkata :
"Dulu biasanya aku berangkat belajar sebelum pagi dan aku tidak pulang dari belajar sampai waktu Isya' "
~Al Jami' liakhlaqir rowi (1/150)

16. dikisahkan dari Tsa'lab -ahli bahasa- beliau tidak pernah berpisah dari kitab utk belajar. ketika seseorang mengundangnya utk hadir di rumahnya, maka beliau memberikan syarat yaitu disediakan tempat khusus yg agak luas agar bisa meletakkan kitab utk membaca.
~Al hits ala tolabil ilmi ص76) ~

17. Umar bin Hafs al asyqor berkata :
" kami dulu bersama Al Bukhori di bashroh untuk menulis, kemudian dalam beberapa hari kami kehilangan beliau, lalu kami temukan beliau dalam sebuah rumah dalam keadaan telanjang dan telah habis semua miliknya, akhirnya kami mengumpulkan uang untuk beliau dan kami memberikan pakaian utknya. "
~Tarikh Dimasyqo (52/58)~

18. Al Hafidz abdurrahman bin Yusuf berkata :
" aku pernah meminum air seniku sendiri sebanyak lima kali, ketika aku belajar hadits "
al khotib berkata : "beliau melakukan hal itu karena darurat, dalam perjalanan dan tdk ada air sama sekali "
~Tarikh Baghdad (10/280)

19. Kholaf bin Hisyam berkata :
"aku pernah kesulitan pada satu bab dari ilmu nahwu, maka ku infakkan uangku sebanyak 80.000 dirham hingga akhirnya aku mahir dalam bab yg sulit itu. "
~Siyaru a'lamin nubala' (10/578)~

20. Imam ahmad bin hambal berkata :
" seringkali aku ingin berangkat pagi2 sekali ke majlis hadits tapi ibuku memegang bajuku dan berkata :
" jangan pergi dulu sampai orang2 adzan dan sampai pagi menjelang "
dan seringkali aku berangkat pagi2 sekali ke majlisnya Abi Bakar bin 'iyasy dan selainnya. "
~Al jami' liakhlaqir rowi (1/151)~

Wallohu a'lam.

Refrensi :

سير أعلام النبلاء (19/363)
سمعت ابن طاهر يقول بلت الدم في طلب الحديث مرتين، مرة ببغداد، وأخرى بمكة، كنت أمشي حافيا في الحر، فلحقني ذلك، وما ركبت دابة قط في طلب الحديث

المشوق إلى القراءة وطلب العلم (ص 62 )
كان العلاّمة النّحوي محمّد بن أحمد أبو بكرٍ الخيّاط البغدادي يدرسُ جميع أوقاته ، حتّى في الطّريق ،و كان رُبَّما سَقَطَ في جُرفٍ أو خَبَطَتْهُ دَابّةٌ

ذيل طبقات الحنابلة (1/ 145)
قال ابن عقيل-رحمه الله- أنا أقصر بغاية جهدي أوقات أكلي، حتى أختار سف الكعك وتحسية بالماء على الخبز،
لأجل مابينهما من تفاوت المضغ، توفرا على مطالعة، أو تسطير فائدة لم أدركها فيه

المجالسة وجواهر العلم (1/346)
كَانَ دَاوُدُ الطَّائِيُّ -رحمه الله- يَشْرَبُ الْفَتِيتَ وَلَا يَأْكُلُ الْخُبْزَ ، فَقِيلَ لَهُ فِي ذَلِكَ ، فَقَالَ : بَيْنَ مَضْغِ الْخُبْزِ وَشُرْبِ الْفَتِيتِ قِرَاءَةُ خَمْسِينَ آيَةً

الجامع لأخلاق الراوي وآداب السامع (2/138)
قال جعفر بن درستويه –رحمه الله- وكنا نأخذ المجلس في مجلس علي بن المديني وقت العصر اليوم لمجلس غد فنقعد طول الليل مخافةمخافة أن يؤخذ مكانه

مناقب الإمام أحمد (ص 32)
قال محمد بن إسماعيل الصائغ -رحمه الله - كنت في إحدى سفراتي ببغداد ، فمر بنا أحمد بن حنبل وهو يعدو ، ونعلاه في يده ،فأخذ أبي هكذا بمجامع ثوبه ، فقال: يا أبا عبد الله، ألا تستحي؟ إلى متى تعدو مع هؤلاء الصبيان؟ قال: إلى الموت.

حلية الأولياء (1/379)
قال أبو هريرة –رضي الله عنه- لقد رأيتني أصرع بين منبر رسول الله صلى الله عليه و سلم وبين حجرة عائشة رضي الله تعالى عنها فيقول الناس إنه مجنون وما بي جنون ما بي إلا الجوع.

البداية والنهاية (11/31)
وقد كان البخاريُّ يستيقظُ في الليلةِ الواحدة من نومه ، فيوقد السراج ويكتب الفائدة تمر بخاطره ، ثم يطفئ سراجه ، ثم يقوم مرة أخرى وأخرى ، حتى كان يتعدد منه ذلك قريباً من عشرين مرة

تاريخ بغداد (2/13)
قال ابن القاسم -رحمه الله- أفضى بمالك بن أنس رحمه الله طلب العلم إلى أن نقض سقف بيته فباع خشبه

الجامع لأخلاق الراوي وآداب السامع (2/178)
قال عبيد بن يعيش -رحمه الله- أقمت ثلاثين سنة ما أكلت بيدي يعني بالليل كانت أختي تلقمني وأنا أكتب

مناقب أبى حنيفة للإمام الموفق المكى (1/472)
أبا يوسف يقول مات ابنٌ لي، فلم أحْضُر جِهازَهُ ولا دفنه وتركتُهُ على جيراني وأقربائي ، مخافةَ أن يفوتني من أبي حنيفة شيءٌ لا تَذهَبُ حسْرَتُه عنى

تاريخ دمشق (32/353)
قال أبو جعفر بن نفيل -رحمه الله- قدم علينا أحمد بن حنبل ويحيى بن معين فسألني يحيى وهو يعانقني ! فقال: يا أبا جعفر قرأتَ على معقل بن عبيد الله عن عطاء: أدنى وقت الحائض يوم ؟
فقال له: أبا عبد الله يعني أحمد بن حنبل: لو جلست ! قال: أكره أن يموت أو يفارق الدنيا قبل أن أسمع

الجامع لأخلاق الراوي وآداب السامع (2/57)
قال محمد بن حبيب -رحمه الله- كُنَّا نَحْضُرُ مَجْلِسَ أَبِي إِسْحَاقَ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَلِيٍّ الْهُجَيْمِيِّ لِلْحَدِيثِ وَكَانَ يَجْلِسُ عَلَى سَطْحٍ لَهُ وَيَمْتَلِئُ شَارِعُ الْهُجَيْمِ بِالنَّاسِ الَّذِينَ يَحْضُرُونَ لِلسَّمَاعِ وَيُبَلِّغُ الْمُسْتَمْلُونَ عَنِ الْهُجَيْمِيِّ
قَالَ: وَكُنْتُ أَقُومُ فِي السَّحَرِ فَأَجِدُ النَّاسَ قَدْ سَبَقُونِي وَأَخَذُوا مَوَاضِعَهُمْ وَحُسِبَ الْمَوْضِعُ الَّذِي يَجْلِسُ النَّاسُ فِيهِ وَكُسِّرَ فَوُجِدَ مَقْعَدُ ثَلَاثِينَ أَلْفَ رَجُلٍ.

حلية الأولياء (3/362)
قال ابن شهاب الزهري -رحمه الله- مكثت خمساً وأربعين سنة أختلف بين الشام والحجاز، فما وجدت حديثا أستطرفه! -أستبعد مكانه-.

الجامع لأخلاق الراوي وآداب السامع (1/150)
قَالَ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ الْقَطَّانَ -رحمه الله- كُنْتُ أَخْرُجُ مِنَ الْبَيْتِ قَبْلَ الْغَدَاةِ فَلَا أَرْجِعُ إِلَى الْعَتَمَةِ

الحث على طلب العلم ص (76)
وحُكيَ عن ثعلب -اللغوي- أنه كان لا يُفارقه كتابٌ يَدْرُسه ، فإذا دعاه رجلٌ إلى دعوةٍ ، شَرَطَ عليه أن يوسعَ له مِقدارَ مِسْوَرَةٍ -متكأ-يضعُ فيها كتابًا ويقرأ

تاريخ دمشق (52/58)
قال عمر بن حفص الاشقر -رحمه الله- كنا مع البخاري بالبصرة نكتب، ففقدناه أياما، ثم وجدناه في بيت وهو عُرْيان، وقد نفد ما عنده، فجمعنا له الدراهم، وكسوناه.

تاريخ بغداد (10/280)
قال الحافظ عبد الرحمن بن يوسف بن خِراش-رحمه الله- شربت بولي في هذا الشأن - يعني الحديث - خَمْسَ مَرّات.!
قلت - أي الخطيب البغدادي: أَحْسَبُه فَعَلَ ذَلِكَ في السَّفَرِ اضْطِرارًا ؛ عند عدم الماء - والله أعلم .

سير أعلام النبلاء (10/578)
قال خلف بن هشام -رحمه الله- أُشكِل عليَّ بابٌ من النحو، فأنفقتُ ثمانين ألف درهم حتى حذقته

الجامع لأخلاق الراوي وآداب السامع (1/151)
قال الإمام أحمد -رحمه الله- كنت ربما أردت البكور إلى الحديث ، فتأخذ أمي ثيابي وتقول : حتى يؤذن الناس ، وحتى يُصبحوا .وكنت ربما بكرت إلى مجلس أبي بكر بن عياش وغيره

Friday, September 8, 2017

Pelajaran dari pencuri

Pelajaran dari pencuri

Iman Ahmad Bin Hambal -semoga Allah merahmatinya-, siapakah yg belum pernah mendengar kemasyhuran nama beliau ?
semua orang sudah tahu bahwa beliau adalah pendiri madzhab hambali salah seorang imam ahlus sunnah wl jama'ah.
Ketika zaman Mihnah beliau di hukum penjara dan dicambuk setiap hari oleh penguasa saat itu, karena beliau tidak mau mengakui bahwa al qur'an adalah makhluk.

Apakah anda tahu mengapa Imam Ahmad bisa sampai kuat menahan cambukan yg di terimanya setiap hari selama 28 bulan di dalam penjara ?
Itu karena Allah memberikan pertolongan kepada beliau, yaitu dengan datangnya seorang laki2 yg bernama Abul Haitsam,
Abul Haitsam mendatangi Imam Ahmad dan berkata :
" Wahai Ahmad, aku ini seorang pencuri. aku telah dicambuk sebanyak 18.000 kali agar aku mengaku telah mencuri, namun aku tidak mau mengaku padahal aku tahu bahwa aku berada diatas kebatilan.
Jadi kau harus berhati2, jangan sampai panasnya cambukan pada tubuhmu membuat hatimu risau, padahal engkau berada diatas kebenaran "

Sejak saat itulah, setiap kali beliau di cambuk agar mengakui bahwa al qur'an adalah makhluk, maka beliau mengingat ucapan si pencuri dan setelah itu beliau selalu mendoakan si pencuri semoga mendapat Rahmat dari Allah ta'ala.

Imam Ahmad di penjara, saat itu yg berkuasa adalah Al Mu'tashim yg berakidah Mu'tazilah. Al Mu'tashim meninggal digantikan oleh Al Watsiq, pada waktu ini hukuman Imam Ahmad malah semakin berat.
Al Watsiq meninggal digantikan oleh Al Mutawakkil, pada masa pemerintahan Al Mutawakkil inilah Imam Ahmad dibebaskan dari penjara, beliau di hormati dan di muliakan. Al Mutawakkil menulis surat keseluruh penjuru kekuasaannya bahwa zaman Mihnah telah di cabut, ajaran ahlus sunnah di terangkan dan bahwa al qur'an bukanlah makhluk.
Mulai saat itulah aqidah Mu'tazilah mulai meredup.

Wallohu a'lam.

~At Tobaqotul Kubro~

Sunday, August 20, 2017

Ini Alasan Kenapa Ngaji Ihya Ulumiddin Karya Al-Ghazali Tidak Berurutan

Hafiz, NU Online | Ahad, 02 Juli 2017 10:02

Pringsewu, NU Online
Mustasyar MWCNU Ambarawa Kabupaten Pringsewu KH Muhammad Dalhar yang rutin mengajarkan KitabIhya Ulumiddin di kediamannya menuturkan beberapa keunikan saat mengajarkan kitab ini kepada santrinya. Salah satunya adalah dengan tidak mengajarkan kitab tersebut secara berurutan dari bagian awal.

"Saya selalu mengajarkannya tidak dari jilid satu tapi dari jilid dua, empat lanjut ke jilid satu dan tiga," kata kiai yang juga rutin membaca Kitab Ihya Ulumuddinsetiap Jumat di Masjid Jami Pengaleman ini, Jum'at (30/6).

Hal ini dilakukannya karena dari berbagai pengalamannya di pesantren di mana ia mengaji, para masayikh juga melakukan hal serupa.

"Kalau ngajinya berurutan biasanya tidak bisa selesai sesuai target ataupun terkadang ada hal-hal aneh yang terjadi," kata alumnus Pesantren Tegalrejo Magelang ini.

Salah satunya Ia menceritakan kisah di mana para santri didatangi makhluq ghaib yang mencekik leher para santri saat mengaji Kitab Ihya Ulumuddin secara berurutan dari awal. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Sunday, August 6, 2017

Tashawuf Menurut Imam Ahmad bin Hanbal dan Syekh Ibnu Taimiyah

Tashawuf Menurut Imam Ahmad bin Hanbal dan Syekh Ibnu Taimiyah

Tashawuf adalah bagian dari ajaran Islam, yang diambil dari akhlak mulia Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Untuk tetap terus istiqamah maka diperlukan seorang guru pembimbing, namanya adalah Mursyid. Pengalaman ilmu syariat secara kontinyu ini namanya adalah Thariqah. Tasawuf ibaratnya adalah ilmu secara teoritis, dan Thariqah adalah praktik nya. Sama halnya dengan ilmu tajwid sebagai landasan teori, dan qiraat adalah praktiknya.

Apakah ulama yang diikuti oleh aliran Salafi tidak setuju dengan Tashawuf? Tidak juga. Berikut beberapa pendapat ulama Hanabilah dan Syekh Ibnu Taimiyah tentang Tashawuf:

ﻭﻧﻘﻞ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ اﻟﻘﻼﻧﺴﻲ ﺃﻥ ﺃﺣﻤﺪ ﻗﺎﻝ ﻋﻦ اﻟﺼﻮﻓﻴﺔ: ﻻ ﺃﻋﻠﻢ ﺃﻗﻮاﻣﺎ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﻨﻬﻢ، ﻗﻴﻞ: ﺇﻧﻬﻢ ﻳﺴﺘﻤﻌﻮﻥ ﻭﻳﺘﻮاﺟﺪﻭﻥ، ﻗﺎﻝ: ﺩﻋﻮﻫﻢ ﻳﻔﺮﺣﻮﻥ ﻣﻊ اﻟﻠﻪ ﺳﺎﻋﺔ.

Ibrahim Al-Qalansi mengutip bahwa Ahmad bin Hanbal berkata: "Tidak aku temui sebuah kaum yang lebih utama dari pada kaum Shufi". Ada yang mengatakan: "Tapi mereka mendengarkan syair dan menikmatinya". Ahmad bin Hanbal berkata: "Biarkan mereka bahagia bersama Allah sejenak" (Mathalib Uli Nuha, 5/253)

(ﻭاﻟﺼﻮﻓﻴﺔ: ﻫﻢ اﻟﻤﺸﺘﻐﻠﻮﻥ ﺑﺎﻟﻌﺒﺎﺩاﺕ ﻓﻲ ﻏﺎﻟﺐ اﻷﻭﻗﺎﺕ اﻟﻤﻌﺮﺿﻮﻥ ﻋﻦ اﻟﺪﻧﻴﺎ) ، اﻟﻤﺘﺒﺘﻠﻮﻥ ﻟﻠﻌﺒﺎﺩﺓ ﻭﺗﺼﻔﻴﺔ اﻟﻨﻔﺲ ﻣﻦ اﻷﺧﻼﻕ اﻟﻤﺬﻣﻮﻣﺔ.

Shufi adalah orang yang sibuk dengan ibadah di segala waktu, berpaling dari materialisme, selalu ibadah dan membersihkan jiwa dari akhlak tercela

ﻭﻗﺎﻝ: اﻟﺼﻮﻓﻲ اﻟﺬﻱ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ اﻟﻮﻗﻒ ﻋﻠﻰ اﻟﺼﻮﻓﻴﺔ ﻳﻌﺘﺒﺮ ﻟﻪ ﺛﻼﺛﺔ ﺷﺮﻭﻁ: اﻷﻭﻝ: ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻋﺪﻻ ﻓﻲ ﺩﻳﻨﻪ.

Ibnu Taimiyah berkata: Shufi yang berhak menerima wakaf disyaratkan, pertama harus orang yang adil dalam agama

اﻟﺜﺎﻧﻲ: ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻼﺯﻣﺎ ﻟﻐﺎﻟﺐ اﻵﺩاﺏ اﻟﺸﺮﻋﻴﺔ ﻓﻲ ﻏﺎﻟﺐ اﻷﻭﻗﺎﺕ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﻜﻦ ﻭاﺟﺒﺔ؛ ﻛﺂﺩاﺏ اﻷﻛﻞ ﻭاﻟﺸﺮﺏ ﻭاﻟﻠﺒﺎﺱ ﻭاﻟﻨﻮﻡ ﻭاﻟﺴﻔﺮ ﻭاﻟﺼﺤﺒﺔ ﻭاﻟﻤﻌﺎﻣﻠﺔ ﻣﻊ اﻟﺨﻠﻖ، ﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺁﺩاﺏ اﻟﺸﺮﻳﻌﺔ، ﻗﻮﻻ ﻭﻓﻌﻼ،

Kedua harus berperangai dengan adab syariat di segala waktu, walaupun bukan wajib. Seperti etika makan, minum berpakaian, tidur, pergi, berkawan, interaksi sosial dan sebagainya, baik ucapan maupun perbuatan

اﻟﺜﺎﻟﺚ: ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻗﺎﻧﻌﺎ ﺑﺎﻟﻜﻔﺎﻳﺔ ﻣﻦ اﻟﺮﺯﻕ، ﺑﺤﻴﺚ ﻻ ﻳﻤﺴﻚ ﻣﺎ ﻳﻔﻀﻞ ﻋﻦ ﺣﺎﺟﺘﻪ

Ketiga harus menerima dengan kecukupan rezeki, sekira tidak menyimpan rezeki yang melebihi keperluannya (Mathalib Uli Nuha, 4/288)

Ma'ruf Khozin, Anggota Aswaja NU Center PWNU Jatim

Wednesday, May 3, 2017

20 ULAMA YANG TIDAK MENIKAH, No 20 SEORANG WANITA

Mereka rohimahumuLlahu lebih memilih Ilmu dan tidak menikah.
1. Abdullah bin Abi Najih al-Maki, seorang taabi'ut taai'in
2. Al Adib an-Nahwiyi, Abu Abdirrohman Yunus bin Habib al-Bashriyyi (90-182 H)
3. Husain bin Ali al-Ju'fiy (119-203 H)
4. Al-Imam az-Zahid al-'abid al-Muhdits al-Faqih Abu Nasyr, Bisyru bin Harits bin Abdirrohman Al-Marwaziy, terkenal dengan nama Bisyr al-haafiy (150-227 H)
5. Hannad bin as-Sariy (152-243 H)
6. Al-Imam al-Mujtahid, Abu Ja'far, Muhammad bin Jarir ath-Thobary (224-310 H)
7. Al-Imam Abu Bakr bin al-Anbaari, Muhammad bin al-Qosim binMuhammad (271-328 H)
8. Al-Imam Abu Ali al-Farisi, al Hasan bin Ahmad (288-377H)
9. Imamul Hadits wal Muhadditsin, Abu Nashr as Sajziy
10. Al-Hadizh al-Faqih az-Zahid, Abu Sa'd as-Samaan ar-Rozi (371-445 H)
11. Al Hafizh al anmathi, Abul Barokat Abdul Wahab bin Mubarok bin Ahmad al-Baghdadi (462-538 H)
12. Al Imam Abul Qosim, Mahmud bin Umar az-Zamakhsyari (28 rojab 487-malam arofah 538 H)
13. Al-Imam al Mufassir al Muhdits, Abu Muhammad bin al-Khosysyab al-Hanbali al-Baghdadi (492-567 H)
14. Abul Fath, Nashihuddin al-Hanbali / Ibn Maniy (501-583 H)
15. Al Wazir Jamaluddin Abul Hasan Ali bin Yusuf as-Syaibani al-Qifthi (567-646 H)
16. Al Imam Ahlul Masyriqi wal maghrib, Syaikhul Islam, Alamul Auliya, Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syarof an-Nawawi asy-Syafi'i (Imam Nawawi) (631-rojab 676/45th)
17. Imam Ibn Taymiyah al-Haroni ad-Dimasyqi (661-728 / 67th)
18. Al Allamah al Faqih al Mufassir Syeikh Basyirul Ghozi al-halaby (1274-1339 H)
19. Syeikh Abul Wafa` al-Afghani (1310-1395 H)
20. Al Alimah al Muhadditsah al Kamilah, Karimah binti Ahmad bin Muhammad bin Hatim al-Marwaziyah (Marwa 365 - Mekkah 463 H)
رحمهم الله تعالى ، ونفعنا الله بهم بعلومهم وبركاتهم
Di nukil dari kitab " Al 'Ulama_u Al Uzzab, Alladzina Atsaruu al Ilma 'ala al-Zawwaj , karya Abdul Fattah Abu Ghoddah.

Oleh Ustadz Rizalullah

Sunday, April 16, 2017

EMPAT WALI QUTHUB / KUTUB


Ini adalah foto empat pemimpin para Imam Thariqoh (Tasawwuf), pemimpin para wali walinya ALLAH yang disebut dengan al-Aqthab al-Arba’ah (empat wali Kutub) /A’immatu Thariqah wal-Haqiiqah yang mana terdiri dari :

1. Sayyid Syaikh Abdul Qadir Al JaiLani Qs,
2. Sayyid Syaikh Ahmad Al Rifa'i Al Kabir Qs,
3. Sayyid Syaikh Ahmad Al Badawi Qs,
4. Sayyid Syaikh Ibrahim Ad-Dasuqi Qs,

Foto foto ini asalnya merupakan hasil dari lukisan tangan yang tersimpan di perpustakaan perpustakaan kuno..yang kemudian diabadikan kerana sangat berharga dan langka, dan tentunya juga merupakan khazanah sejarah Islam khususnya dunia Sufisme. Kerana keempat Wali tersebut merupakan kiblat bagi dunia thariqah (Tasawwuf). Syekh Abul-Huda As-Sayyadi telah menjelaskan keutamaan keempat Imam Agung tersebut dalam kitabnya Qiladatul-Jawahir yang berbunyi sebagai berikut :

قد اشتهر في المشرق والمغرب بين المسلمين شأن الأربعة الأقطاب المعظمين، أعني شيخنا ومفزعنا السيد أحمد الكبير الحسيني الرفاعي، وسيدنا السيد الشيخ عبد القادر الجيلاني الحسني، وسيدنا السيد الشيخ أحمد البدوي الحسيني، وسيدنا السيد الشيخ إبراهيم الدسوقي الحسيني . فهؤلاء الأربعة بلا ريب خلاصة بقية السلف، وأئمة جميع الخلف، وأعلام الأولياء، وأولياء الصلحاء، وأشياخ الخرقة والطريقة، وأقطاب الطريقة والحقيقة . ثبتت لدى المسلمين غوثيتهم وولايتهم، ووجبت عند الموحدين حرمتهم ورعايتهم، وهم رضيالله عنهم بمنزلة واحدة في النسب والمرتبة، إلا أن الأقوال تنوعت فيهم وفي مشاربهم وأحوالهم ومذاهبهم، وقدوفق الله لكل واحد منهم من أتباعه من جمع آثاره وذكر أخلاقه وأطواره

Turunnya makanan dari langit

"".
Pada waktu al-ghoust A'dzom berRiyadloh selama 40 hari, dalam hati nya berkata tidak akan makan dari makanan yg telah di hidangkan. Dan tidak akan minum dari minuman yg sudah di siapkan kecuali hanya minum air pada waktu berbuka. Sampai ALLOH menurunkan sesuatu dari langit kepada Al-ghoust dan beliau baru akan berbuka dari riyadloh nya.
Sebelum genap 40 hari kurang 2 hari mendadak atap kamar nya pecah dan masuklah seorang laki laki, di tangan kanannya membawa tempat makanan dan ada rantai nya yang semua nya terbuat dari emas. Di tangan kiri nya membawa tempat makanan dan ada rantai nya juga yang terbuat dari perak. Semuanya berisi penuh buah buahan.

Lalu di hidangakan di hadapan al-ghoust.
Beliau bertanya Apa ini?! Laki2 itu menjawab hidangan ini saya ambil dari alam yg sangat mulia agar engkau berkehendak memakan nya.

Al-ghoust berkata pergilah menjauh dari ku!!!! Karena kakek ku (nabi Muhammad saw) melarang makanan di taruh di tempat yang terbuat dari emas dan perak. Seketika itu juga lelaki itu pergi berlari.......

Setelah genap 40 hari pada waktu berbuka turun lah malaikat dari langit dengan membawa tempat makanan yang terbuat dari besi yg penuh dengan makanan. Malaikat berkata wahai al-ghoust a'dzom ini adalah hidangan dari DZAT YANG MAHA PEMURAH untuk mu sekalian. Kemudian al-ghoust mengambil lalu menikmati hidangan tsb bersama jamaah dan sahabat sahabatnya. Dan beliau bersyukur kepada ALLOH dengan memperbanyak syukur.

Sumber kitab tafrikhulkhotir hal:21

Thursday, April 13, 2017

Islam Politik yang Tidak Islami

Nadirsyah Hosen

Tulisan ini dimuat di http://geotimes.co.id/islam-politik-yang-tidak-islami/

Banyak yang berasumsi jika ayat suci dibawa ke dalam politik kekuasaan, maka dengan sendirinya politik kekuasaan akan berjalan sesuai dengan ajaran Islam. Pada gilirannya, semua tindakan atas nama politik dipersepsikan sama dan sebangun dengan menegakkan kemuliaan ajaran Islam. Asumsi tersebut tidak sepenuhnya benar. Sejarah khilafah masa silam justru menunjukkan sebaliknya: politik kekuasaan telah membawa ayat suci jatuh dalam kubangan kekotoran ambisi kekuasaan.

Imam al-Thabari mengisahkan kepada kita dalam kitabnya, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (jilid 10, halaman 29), bahwa pada 28 Muharram 279 H (sama dengan 30 April 892) –seribu seratus dua puluh lima tahun yang lalu, pada bulan yang sama, yaitu April, Ja’far al-Mufawwad dicopot sebagai putra mahkota (wali al-‘ahd) oleh ayahnya sendiri, Khalifah al-Mu’tamid (842-892). Ja’far digantikan oleh saudara sepupunya, al-Mu’tadhid (861-902).

Imam al-Thabari sendiri berusia sekitar 50 tahun saat kejadian itu. Beliau menyelesaikan 11 jilid kitabnya di usia 70 tahun. Para sejarawan berpatokan pada kitab Tarikh-al-Thabari ini untuk memahami sejarah masa silam. Bukan saja catatannya otentik, tapi beliau juga menceritakan apa adanya. Catatan al-Thabari menunjukkan betapa rumitnya persoalan kekuasaan khilafah itu berikut intrik politiknya.

Begini kisahnya. Ketika al-Mu’tamid menggantikan ayahnya yang mati dibunuh, yaitu Khalifah al-Muhtadi setelah hanya setahun berkuasa, al-Mu’tamid memegang kekuasaan tapi sesungguhnya dia seorang yang lemah. Yang mengatur kekuasaan sesungguhnya adalah saudaranya sendiri, yaitu al-Muwaffaq (842-891). Putra al-Mu’tamid, yaitu al-Mufawwad, dijadikan putra mahkota dan menguasai wilayah barat, sedangkan saudaranya khalifah, yaitu Al-Muwaffaq, menguasai daerah timur, dan menjadi wakil putra mahkota. Ada kesepakatan kalau al-Mu’tamid wafat dan anaknya al-Mufawwad masih belum cukup dewasa, maka al-Muwaffaq yang naik.

Al-Muwaffaq memiliki seorang anak yang merupakan jenderal perang yang hebat, yaitu al-Mu’tadhid. Entah kenapa al-Muwaffaq memenjarakan anaknya selama dua tahun di Baghdad. Namun, di kalangan militer, nama Jenderal al-Mu’tadhid sangat terkenal. Ketika al-Muwaffaq sakit parah, Gubernur Baghdad meminta Khalifah al-Mu’tamid menjenguk saudaranya yang tengah sekarat, dengan harapan ini bisa mencegah bebasnya sang Jenderal al-Mu’tadhid dari sel penjara.

Sayangnya, rencana Gubernur Baghdad itu gagal total. Militer masih setia pada sang Jenderal, dan Khalifah al-Mu’tamid tidak punya pilihan selain mengangkat jenderal yang notabene keponakannya sebagai penguasa wilayah barat menggantikan ayahnya yang pernah memenjarakannya.

Pengaruh sang Jenderal tidak berhenti sampai di situ. Seperti di singgung di atas, Khalifah sampai tega mencopot posisi putra mahkota dari anaknya sendiri, al-Mufawwad, dan memberikannya kepada keponakannya, Jenderal al-Mu’tadhid. Imam Thabari mencatat bahwa surat pemberitahuan pergantian putra mahkota langsung dikirimkan ke provinsi dan wilayah, serta diumumkan selepas salat Jum’at beberapa hari kemudian.

Sang Jenderal yang kekuasaanya menjadi sangat luas mulai menangkapi para pejabat yang dulunya setia kepada ayahnya. Ingat, ayahnya sendiri yang menjebloskan dia ke penjara. Tidak menunggu lama, lima bulan kemudian, al-Mu’tadhid berkuasa menjadi khalifah, setelah pada 14 oktober 892 Khalifah al-Mu’tamid meninggal dunia.

Imam Thabari melaporkan meninggalnya sang Khalifah dengan cukup mencurigakan. Malamnya sehabis minum-minum dan makan banyak, Khalifah tidur dan meninggal. Nasib al-Mufawwad, mantan putra mahkota, juga tidak jelas setelah itu. Spekulasi beredar di kalangan sejarawan lain bahwa al-Mufawwad telah dibunuh, dan wafatnya Khalifah al-Mu’tamid karena diracun. Wa Allahu a’lam.

Saya pernah menceritakan pada tulisan saya yang lain�(http://nadirhosen.net/tsaqofah/tarikh/politisasi-ayat-dan-hadits-dalam-sejarah-islam) bagaimana Khalifah al-Mu’tadhid memainkan isu agama dengan sangat politis, utamanya dalam mengecam sahabat Nabi, yaitu Khalifah Mu’awiyah, dan para pendiri Khalifah Umayyah. Khalifah al-Mu’tadhid juga langsung mengangkat sejumlah kawan dekatnya, yaitu Ubaid Allah bin Sulaiman sebagai Perdana Menteri (Wazir).

Sewaktu Ubaid meninggal pada tahun 901 (sekitar 10 tahun menjabat), yang menggantikannya sebagai Wazir adalah anaknya sendiri, yaitu al-Qasim. Jadi, bukan saja ada tradisi mengangkat keturunan sendiri sebagai khalifah, namun juga mengangkat anak perdana menteri menggantikan ayahnya. Dalam bahasa modern ini jelas nepotisme yang bahkan tidak pernah dicontohkan oleh Nabi dan keempat Khulafa al-Rasyidin.

Berbeda dengan ayahnya yang dianggap sebagai Wazir yang jujur, Qasim ini lumayan brutal. Ketika Khalifah al-Mu’tadhid meninggal di usia 48 tahun, pada 5 April 902, al-Qasim memenjarakan semua pangeran untuk mencegah perebutan kekuasaan, sampai putra mahkota al-Muktafi tiba dari wilayah Raqqa ke Baghdad.

Khalifah yang baru, al-Muktafi, masih berusia 25 tahun saat itu, dan Qasim dengan cepat mempengaruhi khalifah baru. Al-Muktafi di Raqqa mengangkat sekretaris yang bernama al-Husayn bin Amr. Imam Thabari melaporkan bahwa sekretaris ini beragama Kristen. Sampai di sini kita paham bahwa sejarah islam menunjukkan non-Muslim pun pernah diangkat menjadi pejabat penting.

Namun, Qasim mencopotnya dan menggantikan al-Husayn bin Amr dengan anak Qasim sendiri sebagai sekretaris Khalifah. Qasim juga mengatur penangkapan dan pembunuhan terhadap orang dekat Khalifah sebelumnya yang dikhawatirkan mengganggu posisi Qasim dan Khalifah al-Muktafi. Nama-nama mereka yang dibunuh di antaranya Emir wilayah Safarid yaitu Amr Laits Shafari, Jenderal Abu Najm Badr, yang telah menjabat sejak masa Khalifah al-Mu’tadhid, bahkan penyair Ibn Rumi. Semua dilakukan atas nama politik kekuasaan dengan imbuhan ayat suci.

Sejarah khilafah bukan saja memberi kita kisah gilang gemilang masa kejayaan Islam, tapi juga sejarah kelam politisasi ayat suci demi kekuasaan. Imam al-Thabari telah mencatatnya dengan rapi dan dijadikan rujukan para ahli. Sayangnya, para pendukung khilafah tidak mau mengungkapkan cerita kelam ini karena mereka beranggapan “khilafah berdiri, semua persoalan selesai.”

Apa pelajaran penting yang bisa kita ambil? Pengangkatan khilafah setelah masa Khulafa al-Rasyidin itu ditentukan oleh dinasti: kekuasaan berlanjut turun temurun berdasarkan keturunan. Bukan berdasarkan pemilihan atas dasar kemampuan personal dan pilihan rakyat.

Dalam sejarah khilafah Umayyah dan Abbasiyah, tidak ada yang namanya pemilihan umum secara langsung yang melibatkan rakyat. Tentu ini menjadi aneh ketika kemudian pada masa negara demokrasi modern ada yang teriak-teriak hendak kembali menegakkan khilafah, tapi pada saat yang sama melarang Muslim memilih non-Muslim menjadi gubernur lewat pemilihan umum secara langsung.

Zaman khilafah saja tidak ada pemilihan umum, kok mereka memakai ayat suci untuk Pilkada Jakarta seperti saat ini? Mereka seolah bukan hidup di tahun 2017; boleh jadi mereka harus kembali ke masa silam seribu tahun yang lampau untuk memahami intrik politik Khalifah al-Mu’tamid, al-Mu’tadhid, dan al-Muktafi berikut para putra mahkota dan Wazirnya.

Intrik politik pengangkatan khalifah yang berujung pada pembunuhan, peracunan, dan penangkapan itu terjadi karena suksesi dilangsungkan tanpa melalui pemilihan umum. Beruntunglah praktik nepotisme ala khilafah Umayyah dan Abbasiyah tidak berlaku lagi di negara demokrasi.

Bayangkan kalau khilafah berdiri kembali, maka pemilihan presiden dan pemilihan kepala daerah akan dihapuskan dan pengangkatan pemimpin semata berdasarkan darah keturunan; rakyat hanya menonton saja. Masak, sih, Anda mau kembali ke sistem pemeritahan model khilafah ini? Mikirrrr!

Wednesday, April 12, 2017

MANAQIB Syeikh Utsman El Ishaqi.


Dalam kitab al-Lu’lu’ wa al-Marjan karya KH. Abdul Goffar menuliskan: “Manaqib ini (Manaqib Kyai Utsman) dikumpulkan dari pengakuan dan pernyataan para habaib serta para ulama yang mengenal Hadratus Syaikh baik secara lahir maupun secara batin. Diantaranya pengakuan dan pernyataan tersebut berasal dari al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang Jakarta, al-Habib Ali bin Husain bin Muhammad al-Atthas Bungur Besar Jakarta, al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih Malang, al-Habib Abdullah al-Haddad, al-Habib Zain al-Jufri, Kyai Hamid Karang Binangun Lamongan, Kyai Abdul Hamid Pasuruan, Nyai Khadijah dan lain lain.

Juga dari Hadhratus Syaikh Muhammad Utsman sendiri sebagai Tahadduts bi an-Ni’mah berdasar firman Allah Swt.: واما بنعمة ربك فحدث . Juga untuk menjaga jangan sampai ada orang yang mengingkari atau menentangnya atau mencelanya.

Juga terhadap masyayikh yang lain, menyebut manaqib sendiri semacam ini pernah dilakukan oleh ulama terdahulu untuk memperkenalkan hal ihwal mereka kepada orang lain agar ditiru, seperti Syaikh Abdul Ghafir al-Farisi, Syaikh al-Asfahaniy, Syaikh Yaqut al-Hamawy, Syaikh Abu ar-Rabi’ al-Maliki, Syaikh Shafiyuddin al-Manshur serta Syaikh Jalaluddin as-Suyuthiy.

Imam as-Suyuthiy umpamanya telah menyebutkan manaqibnya sendiri dalam kitab-kitab thabaqat yaitu Thabaqat al-Fuqaha’, Thabaqat al-Muhadditsin, Thabaqat al-Mufassirin, Thabaqat an-Nuhat, Thabaqat ash-Shufiyah dan Thabaqat al-Muqrin.

Imam as-Suyuthiy mengatakan: “Saya menyebutkan manaqibku sendiri hanyalah mengikuti perbuatan orang-orang salaf yang shaleh, dan untuk memperkenalkan hal ihwal saya dalam bidang ilmu agar orang lain menirunya, juga untuk Tahadduts bi an-Ni’mah.”

Adapun manaqib Hadhratus Syaikh yang terperinci dan mendetail ada di dalam kitab “Syifa’ al-Qulub li Qaul al-Mahbub” yang disusun oleh KH. Abdullah Faqih Suci Gresik. Dan kemudian disusun kembali ke dalam bahasa Arab secara sistematis dan praktis dalam kitab “Al-Lu’lu’ wa al-Marjan fi Maniqib asy-Syaikh Muhammad Utsman Ra.”

Nasab dan Kelahiran Hadhratus Syaikh KH. Muhammad Utsman al-Ishaqi

Menurut nasab yang sudah tersusun rapi di dalam keluarga, Hadhratus Syaikh KH. Utsman al-Ishaqi adalah seorang sayyid dan seorang habib. Sebab beliau dari jalur ibu adalah keturunan Maulana Muhammad Ainul Yaqin atau yang biasa disebut sebagai Sunan Giri bin Maulana Ishaq al-Husaini. Sedangkan ayah beliau adalah keturunan Sunan Gunung Jati yang juga bermarga al-Husaini. Dengan demikian Hadhratus Syaikh KH. M. Utsman al-Ishaqi adalah anak cucu Rasulullah Saw. dengan urutan yang ke-37.

Nasab beliau adalah Muhammad Utsman – Surati – Abdullah – Mbah Deso – Mbah Jarangan – Ki Ageng Mas – Ki Panembahan Bagus – Ki Ageng Pangeran Sedeng Rana – Panembahan Agung Sido Mergi – Pangeran Kawis Guo – Fadhlullah Sido Sunan Prapen – Ali Sumodiro – Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri – Maulana Ishaq – Ibrahim al-Akbar – Ali Nurul Alam – Barokat Zainul Alam – Jamaluddin al-Akbar al-Husain – Ahmad Syah Jalalul Amri – Abdullah Khan – Abdul Malik – Alawi – Muhammad Shohib Mirbath – Ali Kholi’ Qasam – Alawi – Muhammad – Alawi – Ubaidillah – Ahmad al-Muhajir – Isa an-Naqib ar-Rumi – Muhammad an-Naqib – Ali al-Uraidli – Ja’far ash-Shadiq – Muhammad al-Baqir – Ali Zainal Abidin – Husain – Ali bin Abi Thalib/Fathimah binti Rasulullah Saw.

Hadhratus Syaikh KH. M. Utsman al-Ishaqi dilahirkan di Jatipurwo Surabaya pada hari Rabu bulan Jumadil Akhir tahun 1334 H. setelah beliau bertapa dalam rahim sang ibunda selama 16 bulan. Dan selama di dalam rahim ibunya beliau sering bersin, dalam bahasa Arab disebut al-Atthas.

Keistimewaannya Nampak Sejak Kecil

Semenjak kecil keistimewaan dan kekeramatan beliau sudah nampak tatkala Utsman kecil sudah bisa berjalan. Beliau selalu tidak ada di rumah setelah Maghrib, dan baru pulang setelah jam 11 malam dengan badan yang penuh berlumuran lumpur. Kejadian itu menjadi pertanyaan sendiri oleh keluarga. Setelah diselidiki, ternyata beliau berada di sungai didekap oleh seekor Buaya Putih.

Setiap malamnya Utsman kecil selalu tidur di surau (langgar) bersama sang kakek, Kyai Abdullah. Selain kakeknya, tak ada seorangpun yang berani mendampingi Utsman kecil tidur. Karena dari kedua mata Utsman memancarkan sinar yang terang seakan menembus Iangit bagaikan lampu sorot.

Sejak beliau berumur 4 tahun setiap pagi pada jam 3.00 waktu Istiwa’, beliau keluar rumah menuju Masjid Jami’ Ampel Surabaya dengan diantar oleh kakak perempuan beliau yang bernama Nyai Khadijah untuk membaca Tarhim (panggilan shalat Fajar) sampai datang waktu Shubuh di menara Masjid.

“Setiap kali beliau sampai di pintu gerbang Ampel, beliau selalu disambut banyak anak-anak kecil yang memakai kopyah berwarna putih-putih. Sesampainya di masjid anak-anak kecil tersebut hilang entah ke mana dan baru muncul kembali sewaktu beliau hendak pulang dari masjid pada jam 7.00 pagi untuk mengantarkan beliau ke pintu gerbang. Dan setelah itu mereka menghilang kembali.” Ungkap Nyai Khadijah dan Kyai Anwar.

Ketika beliau berumur 6 atau 7 tahun, pada suatu malam nampak sang rembulan atau bintang-gemintang turun dari langit seraya memancarkan sinarnya menuju Utsman kecil, dan mengitari beliau dari segala arah.

Di umur 7 tahun, beliau sudah mengkhatamkan al-Quran sebanyak 3 kali di bawah asuhan sang kakek, Kyai Abdullah. Kemudian di suia itu beliau dikhitan (sunat). Setelah itu barulah beliau berpindah mengaji kepada Kyai Adro’i Nyamplungan.

Semenjak mengaji kepada Kyai Adro’i, setiap beliau pulang dari Ampel, diteruskan menuju ke Nyamplungan untuk mengaji al-Quran. Setelah itu beliau menuju ke Madrasah Tashwirul Afkar di Gubbah untuk mengaji ilmu agama. Dan baru pulang setelah jam 10.00 pagi. Seharinya beliau hanya mendapatkan sangu (uang saku) sebesar 5 Sen yang berlobang tengahnya yang beliau tempelkan di kancing baju.

Pernah selama 4 tahun, Utsman kecil tidak memakan makanan kecuali hanya daun-daunan dan buah-buahan. Pada waktu itu beliau menentukan untuk kebutuhan belanjanya hanya 1/2 Sen perhari. Beliau mengatakan: “Pada waktu saya masih kecil, suatu hari saya bernafsu sekali ingin makan. Maka sayapun makan sekenyang-kenyangnya. Tetapi sebagai dendanya saya harus mengkhatamkan al-Quran sekali duduk.”

Dan beliau juga menceritakan: “Pada suatu hari saya menangisi diri saya sendiri, karena ketika saya shalat teringat layang-layang, padahal saya sudah berumur 12 tahun. Berarti 3 tahun lagi saya sudah baligh dan mukallaf, bagaimana kalau saya masih ingat pada layang-layang pada waktu sholat?!”

Menginjak Usia Dewasa Dilaluinya dengan Mengembara Mendalami Ilmu Agama

Ahmad Asrori, putra sekaligus pengganti KH. Utsman sepeninggalnya, mengatakan bahwa ayah beliau pernah mengatakan: “Ketika saya menginjak umur 13 tahun, mata saya melihat Ka’bah di Makkah secara sadar dan nyata. Maka mata sayapun saya usap berkali-kali, tetapi tetap saja yang nampak hanyalah Ka’bah di Makkah. Kemudian saya berpikir, mungkin mata saya sudah rusak. Saya pun akhirnya minta dibelikan kaca mata khusus untuk melihat. Akan tetapi hasilnya tetap sama, Ka’bah di Makkah tetap nampak di pelupuk mata saya.”

“Itulah awal kasyaf yang dialami oleh Hadhratus Syaikh, dan sejak itu kata Hadhratus Syaikh: “Saya melihat orang dengan segala kepribadiannya, ada yang menyerupai srigala, ada yang seperti truwelu, ada yang seperti babi, seperti ayam, kucing dan lain sebagainya menurut pembawaan nafsunya masing-masing. Tetapi saya tidak berani berkata terus terang, sebab itu adalah rahasia seseorang.” Ujar KH. Ahmad Asrori bin Utsman al-Ishaqi.

Pada suatu hari Hadhratus Syaikh sampai larut malam tidak pulang dari madrasah seperti biasanya pada jam 10.00 pagi, sehingga orang-orang tua mengkhawatirkan keadaannya. Maka imam Raudhah Kyai Nur, atas izin orang tua beliau, berangkat mencari Kyai Utsman, dan oleh karena diberitakan bahwa Hadhratus Syaikh berada di pondok Kyai Khozin Panji, maka Kyai Nur pun berangkat ke sana. Tetapi sesampai Kyai Nur di Siwalan Panji, Hadhratus Syaikh sudah pindah ke pondok Kyai Munir Jambu Madura. Setelah orang tua beliau mendengar kabar yang demikian itu, beliau mengatakan: “Tidak usah mencari Utsman, yang penting dia sehat.”

Setelah beberapa lama tinggal di pondok, beliau sakit keras, maka terpaksa beliau pulang ke rumah. Setelah berobat beliau akhirnya sembuh kembali. Kemudian Hadhratus Syaikh dipondokkan ke Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng.

Selanjutnya beliau dipondokkan ke Kyai Romli Peterongan Jombang. Pada waktu itu Hadhratus Syaikh benar-benar terikat, beliau mengatakan: “Sewaktu saya dikirim oleh orang tua saya ke pondok, sarung saya hanya satu lembar. Apabila najis maka saya memakai tikar sebagai gantinya untuk shalat. Dan selama saya di pondok, saya tidak pernah pulang ke rumah kecuali badan saya sudah kurus benar. Sebab apabila saya pulang dan badan saya gemuk, saya dimarahi oleh orang tua dan nenek. Pernah pada suatu hari saya pulang badan saya gemuk, spontan nenek saya mengatakan: “Kalau kamu tinggal di pondok hanya untuk makan dan minum, lebih baik tinggal di rumah saja!”

Suatu hari saat kepulangan Hadhratus Syaikh dari pondok, beliau menyaksikan adanya hubungan-hubungan khusus yang diselenggarakan oleh tujuh orang pemuda dan tujuh orang pemudi setiap hari di samping musholla depan rumah beliau.

Melihat hal yang tidak senonoh itu, akhirnya beliau adukan kepada Kyai Romli dengan mengatakan: “Kyai, saya melihat ada mutiara di dalam air yang keruh dan najis, apakah saya harus mengentasnya (menyelamatkanya)?”

Kyai Romli menjawab: “Entaslah wahai Utsman! Dengan syarat hatimu tidak berpaling kepadanya. Kalau hatimu berpaling kepadanya, maka kamu tidak akan berjumpa denganku besok di Mahsyar.”

Maka beliaupun mengumpulkan pemuda dan pemudi yang berjumlah 14 orang itu di rumah beliau setiap malam. Beliau ikuti pembicaraan-pembicaraan mereka yang intim itu sambil beliau masuki urusan keagamaan mereka. Dan beliau peringatkan kepada mereka akan siksa Allah Swt. Sampai akhirnya mereka pun bertaubat dengan taubat nasuha..

Kyai Utsman pernah diadukan oleh seorang ulama kepada Kyai Romli karena beliau diketahui telah mengadu ayam. Mendengar pengaduan itu Kyai Romli menjawab: “Saya tidak berani melarangnya dan Kyai tidak usah menirunya mengadu ayam.”

Awal Mula Diangkat Sebagai Mursyid Thariqat

Kawan dekat Hadhratus Syaikh yang bernama KH. Hasyim Bawean pernah bercerita: “Hadhratus Syaikh dibaiat oleh Kyai Romli pada hari Rabu tanggal 16 Sya’ban tahun 1361 H/1941 M. Setelah beliau dibaiat selama satu minggu beliau menyusun silsilah Thariqat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah atas perintah Kyai Romli yang diberi nama Tsamrat al-Fikriyyah.”

Hadhratus Syaikh mengatakan: “Saya dibaiat oleh Kyai Romli atas permintaan Kyai Romli sendiri. Pada waktu itu saya dimasukkan ke kamar Kyai dan didudukkan di atas Burdah yang putih bersih di atas tempat tidur Kyai dan dipinjami Tasbih. Padahal waktu itu kaki saya berlumpur karena hujan. Karena sudah menjadi tradisi, setiap kali saya masuk ke rumah Kyai, kaki saya pasti telanjang tanpa alas kaki. Dengan demikian sebelum saya jadi Murid saya adalah Murad dan sebelum saya menjadi Thalib saya adalah Mathlub.”

Dalam kesempatan lain Hadhratus Syaikh mengatakan akan menghadiri majelis khusus atau wirid khataman selama 4 tahun. “Saya terus menerus berjalan kaki memakai klompen dari Surabaya ke Paterongan. Barulah kadang-kadang saya naik kendaraan setelah ketahuan Kyai Hasyim Asy’ari di Mojoagung dan beliau mengatakan: “Jangan jalan kaki terus-menerus Utsman!”

Selanjutnya Kyai Hasyim Bawean mengatakan: “Sewaktu terjadi Perang Dunia II tahun 1942 M Hadhratus Syaikh sekeluarga pindah sementara ke Peterongan. Kalau siang hari berada di dalam pondok. Pada suatu hari, yakni hari Selasa, beliau disuruh menghadap Kyai Romli pada jam 2.00 malam untuk diangkat menjadi mursyid Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Hadhratus Syaikh waktu itu mengatakan: “Tidak kuat Kyai.” Tetapi Kyai Romli tetap melaksanakan perintah Allah, kemudian mengusapkan tangannya di atas kepala Kyai Utsman. Seketika itu pula Hadhratus Syaikh jatuh pingsan tak sadarkan diri dan langsung jadzab.”

Selama satu minggu Hadhratus Syaikh mengalami jadzab, beliau tidak makan, tidak minum, tidak tidur, tidak buang air besar maupun kecil dan tidak shalat. Wajah beliau cantik sekali bagaikan bulan purnama. Tak seorang pun yang berani melihat wajah beliau yang cantik itu.

Setelah Hadhratus Syaikh mengalami jadzab satu minggu, beliau berkata kepada Kyai Hasyim Bawean: “Nanti malam akan datang tamu-tamu banyak sekali tidak perlu suguhan makanan atau minuman.” Maka pada jam 8.00 kurang sepuluh menit malam Hadhratus Syaikh sudah siap menerima para tamu di kamar, dan menghadap ke pintu. Tidak lama kemudian beliau mengucapkan: “Wa’alaikumussalam, Wa’alaikumussalam”, selama kurang lebih lima menit dan nampak seakan-akan Hadhratus Syaikh menjabat tangan orang-orang sambil menundukkan kepala.

Kemudian beliau mengatakan: “Mulai hari ini saya ditetapkan sebagai mursyid langsung oleh Syaikh Abdul Qodir al-Jailani Ra. dan Nabiyullah Khidhir As. serta oleh sejumlah masyayikh Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Dan sejak sekarang saya diizinkan untuk membaiat”, sambil menyerahkan sepucuk kertas kepada Kyai Hasyim Bawean.

Kemudian Hadhratus Syaikh menghadap ke barat sekali lagi dan mengucapkan: “Na’am, na’am.” Tepat pada jam 8.00 lebih 5 menit malam itu, Hadhratus Syaikh berdiri menuju ke pintu. Setelah diam sejenak, beliau mengucapkan: “Wa’alaikumussalam, wa’alaikumussalam.”

Kemudian oleh Kyai Hasyim, Hadhratus Syaikh disuruh mandi setelah satu minggu tidak mandi. Dan ketika itulah Kyai Hasyim cepat-cepat pergi ke Kyai Romli untuk mengantarkan sepucuk kertas tadi. Setelah menerima kertas itu, Kyai Romli spontan menemuinya di luar rumah seraya mengatakan: “Ada apa? Ada apa? Ada apa?”

Ketika Kyai Romli membaca sepucuk kertas itu spontan Kyai mengatakan dengan bahasa Madura yang maksudnya: “Alhamdulillah sekarang saya punya anak yang bisa menggantikan saya (sampai 3 kali).”

Orang tua Kyai Utsman juga pernah menyatakan kepada salah seorang habib bahwa Hadhratus Syaikh telah mendapatkan ijazah dari Syaikh Abdul Qodir al-Jailani Ra., untuk berdakwah dan diangkat sebagai khalifahnya tanpa perantara. Pernyataan ini disampaikan pada tahun 1947 M.

Takluknya Sang Pengadu Ayam Kawa’an di Hadapan Kyai Utsman

Pada waktu Kyai Utsman tinggal di Rejoso, ada seorang tukang adu ayam kawa’an yang sangat populer di Jombang bernama Wak Sud. Dia memiliki jago-jago yang khusus untuk diadu. Hadhratus Syaikh tertarik untuk menundukkan orang ini melalui adu ayam. Maka beliau membawa ayam ke Wak Sud dengan maksud untuk mengajak bertanding adu ayam.

Atas ajakan Kyai Utsman itu Wak Sud menjawab: “Apabila jagomu menang melawan jagoku maka semua kekayaanku adalah milikmu. Sebaliknya apabila jagomu kalah saya tidak menuntut apa-apa darimu.”

Maka Hadhratus Syaikh menjawab: “Apabila jagomu menang kemudian kau ambil kekayaanku, memang saya tidak mempunyai sesuatu yang patut disebut. Dan apabila sebaliknya jagoku yang menang maka saya sama sekali tidak butuh kepada kekayaanmu. Pokoknya begini, apabila jagoku menang kamu harus tunduk dan patuh di bawah perintahku.” Akhirnya Wak Sud menyetujui tawaran itu.

Dengan kuasaan Allah Swt., menanglah Hadhratus Syaikh dalam pertandingan itu sekalipun jago miliknya kurus kecil dan lemah sekali. Berbeda jauh dengan jago kepunyaan Wak Sud yang kekar dan gagah itu. Alhasil Wak Sud pun harus menerima kesepakatan bersama setelah kekalahannya. Kini ia tunduk dan patuh pada Hadhratus Syaikh KH. Utsman.

Maka saat Kyai Romli melihat Wak Sud melakukan shalat, Kyai Romli memegang pundak Kyai Utsman dari belakang seraya mengatakan dengan nada heran: “Apa yang kamu lakukan terhadap Wak Sud wahai Utsman, sehingga dia mendatangi shalat Jum’at. Padahal saya tidak mampu menundukkannya?”

Pindahnya dari Jombang ke Ngawi dan Berpulang ke Surabaya

Di Peterongan, Hadhratus Syaikh tinggal di Desa Ngelunggih tidak jauh dari Rejoso atas saran Kyai Romli dengan maksud agar beliau menjadi imam di Ngelunggih. Akibatnya murid-murid Kyai Romli banyak yang pindah ke Ngelunggih untuk mendapatkan barokah dari Kyai Utsman serta ilmu dari beliau. Akhirnya Hadhratus Syaikh disuruh pindah oleh Kyai Romli ke salah satu desa dekat Gunung Lawu di Ngawi.

Ketika Hadhratus Syaikh sampai di lereng Gunung Lawu, sangu (bekal) beliau tinggal Rp. 1.70 (satu rupiah tujuh puluh sen) tidak cukup untuk membeli beras 1 liter sekalipun. Maka untuk mendapatkan rizki, beliau setiap harinya mengunjungi pesarean (ziarah kubur) yang paling dikenal oleh orang di desa itu. Karena beliau cinta dan hobi melakukan ziarah kubur, akhirnya atas kemurahan Allah Swt. beliau sekeluarga mendapatkan rizki yang tidak diduga-duga sebelumnya.

Diantara orang kampung ada yang mengundang beliau untuk mengikuti tahlilan, adapula yang minta barokah doa, ada yang meminta fatwa, sampai akhirnya Hadhratus Syaikh menjadi populer di desa itu dan kemudian menjadi imam di desa itu.

Di desa barunya itu, suatu hari beliau bermimpi berjumpa dengan gurunya, Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari Tebu Ireng, berpamitan kepada beliau dengan mengatakan: “Saya duluan Utsman.” Mimpinya tersebut ternyata sebuah isyarat akan berpulangnya sang guru ke rahmatullah. Karena esok harinya beliau mendengar berita bahwa Kyai Hasyim Asy’ari meninggal dunia.

Menjelang meletusnya Madiun Effer (peristiwa Madiun pada tahun 1948 M) Kyai Utsman berkali-kali menerima surat serta saran agar beliau pulang saja ke Surabaya karena situasi yang tidak aman lagi di daerah itu.

Mendengar kabar pulangnya Hadhratus Syaikh KH. Utsman ini, sebagian besar penduduk di lereng Gunung Lawu itu keberatan ditinggalkan oleh beliau. Karena mereka masih amat memerlukan doa, ilmu serta barokah dari beliau. Bahkan ada warga yang berjanji memberikan 20 hektar kebun kepada Hadhratus Syaikh agar beliau sudi tetap tinggal di desa itu. Tetapi setelah beliau melakukan istikharah akhirnya beliau menetapkan kembali ke Surabaya.

Hubungan Erat Guru dan Murid

Ketika Hadhratus Syaikh menjadi santri di pondok Rejoso, beliau masih muda belia. Masa itu beliau sering dijumpai oleh Nabi Khidhir As. sehingga beliau laporkan kepada Kyai Romly dan dijawab oleh Kyai: “Mengapa tidak kau minta datang kemari wahai Utsman.”

Hadhratus Syaikh sejak kecil sampai akan pulang ke rahmatullah selalu istiqamah dalam segala perilaku, perbuatan serta ucapan yang beliau tiru dari Rasulullah Saw. Tak pernah terlihat beliau hadats dan semua menyaksikan bahwa keseluruhan waktunya hanyalah untuk mnemgabdi kepada Allah Swt. Maka pantaslah kalau beliau dipilih oleh Kyai Romly sebagai Khalifahnya. Dalam hubungan ini Kyai Romly pernah bermimpi bahwa di Surabaya terdapat sebuah pabrik besar yang terus menerus berproduksi di bawah pimpinan Hadhratus Syaikh KH. Muhammad Utsman. Itulah Thariqat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang beliau asuh.

Sebelumnya Kyai Romly sering menampakkan dan melahirkan ridhanya kepada Kyai Utsman, sampai beliau mengatakan: “Alangkah besar ridha saya kepadamu wahai Utsman.” Dan Hadhratus Syaikh meminta pendapat tentang Khalifah Syaikh Abdul Qodir al-Jailani Ra. Kyai Romly tersenyum-senyum sambil melihat dan menunjuk pada Kyai Utsmn. Sebaliknya Kyai Utsman kepada Kyai Romly juga fanatik dan sering merindukannya apabila berpisah agak lama.

Pada suatu hari putra beliau yang bernama Abu Luqmanul Hakim sewaktu masih kecil jatuh dan terbentur pada tepi meja di rumahnya sehingga dari kepalanya mengalir darah yang banyak sekali yang cukup mengkhawatirkan keluarga beliau. Maka oleh keluarga beliau supaya beliau mengantarkan putranya ke rumah sakit Karang Tembok dan kalau tidak berhasil terus ke Simpang. Padahal Hadhratus Syaikh ketika itu akan pergi ke Rejoso karena sangat rindu kepada Kyai Romly, maka beliau berkata dalam hatinya: “Saya harus pergi ke Rejoso. Tentang nasib anak saya, saya pasrahkan kepada Allah.”

Ketika beliau berjumpa dengan Kyai Romly di Rejoso, sang guru mengatakan: “Anakmu tidak apa-apa.” Dan benar kata Kyai Romly bahwa anaknya, Abu Luqmanul Hakim, dalam keadaan sehat wal afiyat, bahkan sedang memakan nasi goreng sekembalinya Kyai Utsman dari Rejoso berkat ketaatan serta kecintaan beliau kepada gurunya, Kyai Romly Tamim.

Juga pada suatu hari ketika akan menyelenggarakan walimah di rumah setelah Maghrib, beliau terlebih dahulu meminta izin kepada Kyai Romly. Sesampainya di Rejoso tepat pada waktu shalat Dzuhur, sesudah shalat berjamaah di masjid, Kyai Romly mengatakan kepadanya: “Sekiranya kamu tinggal di pondok seperti yang lalu, maka malam ini saya ajak memenuhi undangan Manaqiban di Jombang.”

Maka Kyai Utsman menjadi bimbang, antara mendampingi gurunya memenuhi undangan Manaqiban di Jombang dan pulang ke rumah untuk mengharapkan tamu-tamu yang beliau undang ke rumah beliau pada malam itu juga. Akhirnya beliau memantapkan pendiriannya memilih mendampingi sang guru seraya berkata dalam hati: “Saya pasrah kepada Allah. Toh nasi-nasi yang telah masak di rumah ada orang-orang yang memakannya, sedangkan menyertai guru adalah lebih utama.”

Ketika Kyai Romly mengetahui beliau masih ada di masjid setelah shalat Ashar, berkatalah beliau kepadanya: “Murid yang terdekat kepada gurunya adalah murid yang tahu akan rahasia-rahasia gurunya.”

Penggagas Majelis Manaqib

Kegemaran Hadhratus Syaikh adalah berziarah kepada wali-wali Allah baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, dan beliau mengenal mereka secara dekat. Bukan hanya nama-nama mereka bahkan nasab mereka dan hubungan mereka satu sama lain. Sampai-sampai beliau hidup-hidupkan dan beliau semarakkan peringatan hari wafat mereka, terutama wafatnya Syaikh Abdul Qodir al-Jailani Ra. Sehingga hampir tiada hari yang lewat di kota maupun desa terutama di Jawa Timur, kecuali di situ terdapat majelis manaqib.

Dalam hal ini Hadhratus Syaikh mentafsirkan qalbun salim dalam ayat: يوم لاينفع مال ولابنون الا من اتى الله بقلب سليم, sebagai hati yang selamat dari penyakit batin dan penuh rasa cinta kepada Allah, RasulNya, dan para wali-waliNya. Sebab, kata beliau, tanpa wali-wali kita tidak mungkin dapat mengabdi kepada Allah Swt. dengan benar. Maka banyak-banyaklah tawassul kepada Auliya’, insya Allah hati kita akan menjadi khusu’.

Yang mula pertama kali menyelenggarakan manaqiban adalah Hadhratus Syaikh dan kemudian direstui oleh Kyai Romly dengan menyatakan: “Baik Man, teruskan Man!”

Mula-mula yang hadir pada majelis manaqiban di Jatipurwo selama 4 tahun hanyalah 7 orang, 3 orang diantaranya pada musim panas udzur (tidak mampu hadir) karena mengidap penyakit paru-paru.

Pada suatu hari di tengah-tengah Hadhratus Syaikh memimpin istighatsah, datanglah orang yang tidak dikenal secara tiba-tiba dan langsung menelantangkan beliau dan melingkarkan pedangnya pada leher beliau yang terlentang di bawah itu. Peristiwa yang tragis ini diceritakan kepada Kyai Romly, dan beliau hanya menjawab: “Teruskan apa yang telah kamu amalkan, orang tersebut tidak berani menancapkan pedangnya pada lehermu, bahkan dalam waktu dekat ini tidak akan berpisah denganmu sejengkalpun.” Dan kenyataannya seperti apa yang dinyatakan oleh Kyai Romly.

Tentang keutamaan menaqiban ini, Hadhratus Syaikh mengatakan: “Tidak ada ibadah kepada Allah di muka bumi ini yang lebih utama daripada mencintai wali-wali Allah.”

Beliau juga mengatakan: “Mencintai para wali termasuk ketaatan yang terbesar. Dan mereka yang menghadiri majelis manaqib adalah orang-orang yang cinta kepada mereka dan mencintai mereka adalah bukti akan adanya rasa cinta kepada Allah Swt.”

Hidupnya Dilimpahi Kecintaan kepada Auliya’ (Wali-wali Allah)

Berkah cintanya kepada para Auliya’ maka beliau pun sangat dicintai oleh para habaib dan para ulama, diantaranya adalah al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang, al-Habib Ali bin Husain bin Muhammad al-Atthas Bungur, al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik. Hadhratus Syaikh sering berziarah kepada mereka dan menghadiri haul mereka.

Pada suatu hari Hadhratus Syaikh bermaksud untuk sowan kepada al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf di Gresik. Beliau berjalan kaki dari Surabaya ke Gresik di tengah-tengah hujan lebat ditambah suara petir dan guruh yang saling sambar menyambar di tengah malam yang gelap gulita ditambah angin kencang yang dapat menerbangkan atap rumah. Sehingga sesampainya di Gresik waktu sudah larut malam dan dalam keadaan basah kuyup. Dengan mata batin al-Habib Abu Bakar yang tajam sehingga tahu akan ada kunjungan dari Kyai Utsman, nampak pintu rumahnya masih terbuka lebar-lebar dan penjaga pintu masih berdiri.

Ketika Hadhratus Syaikh melewati pintu pagar, penjaga pintu mengatakan bahwa sejak tadi sore Habib menunggu kedatangan Kyai Utsman dengan penuh kegelisahan dan kekhawatiran. Ketika beliau menghadap al-Habib Abu Bakar Assegaf, semua jamaahnya yang mengelilingi habib semua ta’dzim kepada beliau dan mengelu-elukan kehadiran beliau.

Akhirnya al-Habib Abu Bakar bertanya tentang apa yang beliau minta kepada Allah dengan perantara Habib, yang kemudian dijawab oleh Hadhratus Syaikh KH. Muhammad Utsman Nadil al-Ishaqi: “Minta husnul khatimah.” Al-Habib Abu Bakar termenung lama memikirkan betapa luhurnya permohonan Kyai Utsman.

Sebelumnya, Hadhratus Syaikh sudah mempunyai hubungan khusus dengan al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang Jakarta, seperti pernyataan Habib Hasyim bin Sholeh bin Abdurrahman al-Habsyi bahwa: “Hadhratus Syaikh Muhammad Utsman telah mendapatkan futuh melalui al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi pada suatu hari Kamis tahun 1964.”

Dan pernyataan Kyai Hasyim Bawean bahwa dia pernah mengantarkan Hadhratus Syaikh KH. Utsman ke al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi di Jakarta. Al-Habib Ali menjabat tangan Hadhratus Syaikh seraya mengatakan: “Kunci Quthb saya serahkan kepadamu wahai Syaikh Utsman.”

Dan pernyataan putra al-Habib Ali sendiri yaitu al-Habib Muhammad bin Ali bin Abdurrahman al-Habsyi pada waktu memberikan sambutan atas wafatnya Hadhratus Syaikh yang ke-40 hari: “Setiap kali Hadhratus Syaikh menemui kesulitan apa saja beliau selalu pergi ke Jakarta untuk menjumpai al-Habib Ali al-Habsyi untuk kemudian dapat herhubungan dengan Rasulullah Saw. Akan tetapi karena jarak Jakarta-Surabaya begitu jauh maka akhirnya al-Hahib Ali al-Habsyi menyuruh menjumpai al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf di Gresik saja, yang sama-sama Wali Quthb.”

Selanjutnya al-Habib Muhammad bin Ali al-Habsyi menyatakan dalam sambutannya bahwa Hadhratus Syaikh akhirnya berhubungan langsung sendiri dengan Rasulullah Saw. tanpa perantara sewaktu mengalami kesulitan.

Ketinggian Derajatnya Dinyatakan oleh Para Wali

Hadhratus Syaikh juga sangat dekat dengan al-Habib Ali bin Husain bin Muhammad al-Atthas Bungur Besar Jakarta. Sehingga sewaktu al-Habib Ali al-Atthas membaca Khushushiyyah Wakalimatul Akha’ Syaikh Utsman yang disusun oleh al-Habib Hasan al-Jufri Bangil, beliau menangis terisak-isak, kemudian beliau gantungkan di atas pintu rumah seraya mengatan: “Saya letakkan nadzaman ini di sini agar saya dapat melihat Syaikh Utsman setiap saat.”

Kemudian beliau mendoakan Hadhratus Syaikh semoga panjang umur, “kalau tidak (kata habib Ali al-Atthas) siapakah yang menggantikan kedudukannya?” Demikian pernyataan menantu Hadhratus Syaikh, Abu Lu’lu’, sekembalinya dari Jakarta.

Dan al-Habib Ali bin Husain bin Muhammad al-Atthas pernah menyatakan: “Sesungguhnya Syaikh Utsman tiada duanya pada masa sekarang.”

Dan pada waktu Hadhratus Syaikh berziarah ke sana, di hadapan para hadirin al-habib Ali al-Atthas menyatakan: “Wahai Syaikh Utsman engkau dari keluarga Nabi. Kekhalifahan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani di tanganmu wahai Utsman.”

Dan dalam kesempatan lain beliau menyatakan: “Saya mendengar dengan kedua telinga saya, paman saya Ali bin Abdurrahman al-Habsyi mengatakan: “Sungguh Utsman di Mahsyar nanti sangat dekat dengan Nabi Muhammad Saw.”

Al-Habib Ali al-Habsyi, al-Habib Ahmad bin Khalid al-Hamid, al-Habib Umar al-Aydrus dan lain-lainnya, menyatakan bahwa Hadhratus Syaikh KH. Utsman al-Ishaqi adalah tergolong Ahlul Bait Rasulullah Saw.

Habib Ahmad bin Hamid al-Habsyi pernah bertanya pada al-Habib Salim bin Jindan: “Apa yang menyebabkan para habaib senang pada Kyai Utsman?”

Al-Habib Salim bin Jindan menjawab: “Syaikh Utsman termasuk keluarga Rasulullah Saw. Darahnya adalah darah saya ini, maka ciumlah tangannya apabila kau bertemu dengannya. Walaupun banyak orang mendengkinya, toh dia tidak pernah susah akibat didengki orang. Mereka yang mendengkinya hanyalah rumput-rumput, sedangkan Syaikh Utsman adalah pohon besar yang rindang.”

Ketika KH. Ahmad Asrori, salah satu putra Syaikh Utsman, masih kecil, pernah diajak oleh pengasuhnya yang bernama Abdul Hakim Bawean untuk berkunjung ke al-Habib Ali bin Muhummad bin Alwi ash-Shadiq al-Habsyi cucunya al-Habib Syaikh Bafaqih Boto Putih Surabaya bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Dalam kesempatan itu al-Habib Ali mengatakan kepadanya: “Jangan kau risaukan haliyah (keadaan) orang tuamu. Beliau bagaikan matahari, apabila sangat dekat dengan kita manusia banyak yang tidak tahan karena saking panasnya. Tetapi ketika jauh dari kita sinarnya akan membahagiakan kita semua. Demikianlah keadaan orang tuammu Syaikh Utsman Ra. Seorang Kyai belum dinamakan Kyai sempurna sebelum ia diingkari oleh orang-orang yang dekat kepadanya dan sebaliknya dia dicintai oleh orang-orang yang jauh dari padanya.”

Tentang hubungan Kyai Utsman dengan Kyai Hamid Pasuruan, Hadhratus Syaikh pernah bercerita setelah walimatul haul al-Habib Syaikh Bafagih Boto Putih Surabaya: “Saya keluar ke teras cungkup didampingi oleh Kyai Abdul Hamid Pasuruan duduk di tangga cungkup. Pada waktu itu Kyai Abdul Hamid bercerita: “Tadi sebelum ke sini saya tidur di rumah salah seorang teman di Surabaya. Ketika saya bangun, di hadapan saya terlihat foto Hadhratus Syaikh Muhammad Utsman. Oleh karena saya tahu bahwa yang meletakkan adalah Agus Mas’ud Kedung Cangkring Sidoarjo, maka saya bertanya kepadanya tentang maksudnya. Jawabannya hanya Wallahu A’lam.”

Lanjut Kyai Utsman berkata: “Saya pun diam mendengar cerita itu karera menyangkut masalah maqam (martabat).” Tiba-tiba Kyai Hamid menjawab sendiri: “Untuk kepentingan hubungan di Mahsyar nanti.”

Itulah sebabnya, maka dalam suatu walimah Kyai Abdul Hamid Pasuruan mengharap kepada Hadhratus Syaikh agar ada hubungan yang dekat antara keduanya di Mahsyar nanti. Dan Hadhratus Syaikh menjawab: “Kyai nanti bersama kami di sisi Allah Yang Maha Kuasa.”

Dan pada walimah yang lalu ada orang meminta barokah doa kepada Kyai Hamid, sedangkan di sisi beliau adalah Hadhratus Syaikh KH.Utsman. Akhirnya Kyai Hamid memegang lutut Hadhratus Syaikh Utsman dengan tangan kiri dan berdoa untuk orang yang meminta doa tadi dengan tangan kanan.

Kyai Asfahani putra Kyai Abdullah Faqih yang mengaji di pondok Kyai Hamid Pasuruan mengatakan pada suatu ketika: “Kami duduk bersama-sama Kyai Hamid di ruang tamu, tiba-tiba Kyai Hamid mengatakan kepada kami: “Di Pasuruan ini hanya ada kayu gaharu, alangkah nikmatnya kalau ada pohonnya Asfahani!” Tiba-tiba Hadhratus Syaikh Muhammad Utsman datang bertamu ke ruang tamu dan spontan Kyai Hamid merangkulnya dan mergatakan: “Apa ini pohon gaharunya!”

Inilah sebagian kecil yang nampak tentang kedudukan Hadhratus Syaikh Utsman Nadil Ishaqi Ra.

Ketika Haul Akbar Syaikh Abdul Qodir al-Jailani Ra. tahun 1389 H, dalam sambutannya al-Habib Muhammad bin Ali bin Abdurrahman al-Habsyi menceritakan tentang perjalanan orang tuanya ke tanah suci dan bertemu dengan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani Ra. yang menyatakan pada al-Habib Ali: “Khalifah saya adalah Utsman Surabaya.”

Beberapa Karamah Hadhratus Syaikh KH. Muhammad Utsman al-Ishaqi

Diantara kekeramatan Hadhratus Syaikh Utsman yang lain adalah kisah yang diceritakan oleh Kyai Muhammad Faqih Langitan yang berkata bahwa Kyai Maimoen Sarang diceritakan oleh ayahnya, Kyai Zubair, Bahwa al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih bermimpi jumpa dengan Rasulullah Saw. yang sedang menemui 2 orang lelaki. Dan Rasulullah menyatakan kepadanya: “Keluargaku banyak tersebar di tanah Jawa. Diantaranya adalah dua orang ini yaitu Romly dan Utsman.”

Kyai Faqih Amin Praban Surabaya, seorang ulama yang pernah menjadi guru sekaligus kawan Kyai Utsman, beliau mengatakan: “Pada suatu hari saya berkunjung kepada Kyai Utsman, dan dia meminta saya untuk menjadi muridnya di bawah naungan Thariqat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah setelah bertukar pikiran tentang thariqat sampai jam 2 malam. Saya kalah dan mau menyerah kepada ajakannya dengan syarat tiga burung perkutut yang di dalam sangkar masing-masing berkicau secara berturut-turut dengan komandonya. Setelah dikomandoinya, tiba-tiba tiga ekor burung itu berkicau berturut-turut dengan izin Allah. Maka terasalah dalam diri saya akan kebesaran Hadhratus Syaikh, dan sejak itu saya memakai bahasa Jawa halus (kromo) sebagai ganti bahasa Jawa kasar (ngoko). Tiga bulan kemudian saya minta dibaiat.”

Diantara kekeramatan beliau yang lain adalah tatkala salah satu muridnya hendak menghadap Hadhratus Syaikh, muridnya itu berkata dalam hati: “Mengapa jauh-jauh kulangkahkan kakiku ke pondok anu. Kemudian ke perguruan tinggi anu, sampai akhirnya ke luar negeri untuk mencari kebenaran dan keyakinan. Padahal di Surabaya sini terdapat seorang mursyid yang membimbing saya menempuh jalan akhirat dengan selamat.”

Maka ketika santri itu duduk di ruang tamu, keluarlah Hadhratus Syaikh dari dalam sambil meletakkan tangan kanannya di atas dada muridnya tersebut seraya mengatakan: “Diantara guru saya juga ada yang bukan dari jam’iyyah kita. Tetapi Alhamdulillah saya belum pernah mengingkarinya sama sekali.” Maka sang murid itu pun merasa malu seraya menundukkan kepalanya.

Pada tanggal 11 Syawal tahun 1392 H, Hadhratus Syaikh menjamu para tamu yang menghadiri majelis manaqib di pondok Jatipurwo. Beliau mengatakan kepada salah satu santrinya: “Wahai Abdul Ghoffar, ketika kau tinggal di Mesir apakah kau pernah ketemu dengan Syaikh Hasan Ridhwan seorang wali di Mesir yang dimintai barokah oleh orang Islam Mesir?”

“Ya, kami pernah menjumpainya pada suatu hari dalam rangka kuliah umum tasawuf oleh Ir. Abdul Halim Mahmud yang dihadiri oleh para sufi di balai pertemuan al-Azhar.” Jawab muridnya tersebut.

Kemudian Hadhratus Syaikh berkata kepada para hadirin: “Ketika salah seorang Habib Ampel berkunjung ke Mesir, dia menjumpai Syaikh Hasan Ridhwan. Dia ditanya tentang negerinya. Ketika ia menjawab dari Ampel Indonesia, maka Syaikh Hasan Ridhwan mengatakan: “Jadi rumahmu dekat dengan Syaikh Utsman al-Ishaqi?” Habib menjawab: “Ya.” Lalu Syaikh Hasan Ridhwan mengatakan kepadanya: “Apabila kamu sampai di rumah, berkunjunglah ke Syaikh Utsman, dan sampaikanlah salamku kepadanya. Ketahuilah bahwa saya sering berkunjung ke rumahnya.”

Diantara kekeramatan beliau yang lain, pada suatu hari di bulan Maulud, Hadhratus Syaikh pergi ke Jakarta naik kereta api untuk menghadiri acara Maulid Nabi Muhammad Saw. dan haulnya al-Habib Ali al-Habsyi di Kwitang Jakarta. Ketika kereta api berada di antara Cirebon-Jakarta, karcis Kyai Utsman diperiksa oleh Polisi KA dengan ketat sekali, termasuk kartu tanda pengenal beliau yang akhirnya polisi memaksanya untuk menemuinya di restorasi. Haln itu sampai menimbulkan kemarahan beliau, maka seketika itu pula datanglah hal beliau dan mengatakan: “Perbuatan ini menunda sampainya kereta api di Jakarta!”

Spontan kereta api itu berhenti tanpa sebab yang nyata. Anehnya semua hubungan interlokal maupun bukan interlokal terputus sama sekali dengan stasiun. Saat itu di belakang gerbong Kyai Utsman terdapat al-Habib Abdul Hadi bin Abdullah al-Haddar dari Banyuwangi. Maka setelah kereta api macet selama 1 jam, dia mengirim utusan ke Hadhratus Syaikh seraya mengatakan: “Jam berapa sekarang! Pergilah ke Kyai Utsman, dan mintalah barokah Fatihah kepadanya agar kita tidak terlambat.”

Akhirnya setelah beliau membaca al-Fatihah barulah beliau sadar akan diri beliau, dan spontan kereta api berjalan kembali seusai pembacaan al-Fatihah, demikian pula hubungan yang menyangkut perkerataapian sambung kembali.

Kyai Masduri Ngroto pernah menceritakan tentang sejarah masuknya Thariqat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Ngroto dan sekitarnya sebagai berikut:

“Sejak tahun 1936/1937 M banyak guru-guru thariqat yang berusaha memasukkan thariqat ke Ngroto. Bahkan ada kyai yang sampai kawin di Ngroto kemudian terpaksa firaq (pisah) karena tidak berhasil memasukkan Thariqat. Pada bulan Muharram tahun 1964 M Hadhratus Syaikh Utsman datang ke Ngroto bersama Kyai Muslih bertepatan dengan Haulnya Kyai Sirojuddin. Itulah mula pertama beliau datang ke Ngroto. Kemudian untuk kedua kalinya beliau datang pada tahun 1966 M. Saya dipanggil ke rumah paman, dan Hadhratus Syaikh menangis dan saya dirangkul seraya mengatakan: “Sabarlah!” Sejak sekarang Masduri menjadi Kyai di desa sini maka doakanlah semoga panjang umur.

Sepulangnya Hadhratus Syaikh Utsman, selang 15 hari kemudian paman saya meninggal, dan atas saran beliau saya kirim surat kepada beliau tentang wafatnya sang paman. Dan saya mendapatkan balasan agar saya datang ke Surabaya. Di Surabaya saya dibaiat dan diberi ijazah manaqib secara muthlaq. Setelah itu banyak para ikhwan yang menjadi murid Hadhratus Syaikh, maka smenjak itu tersebarlah thariqat di Ngroto.

Pada suatu hari di bulan Muharram Hadhratus Syaikh pergi ke Ngroto menghadiri acara haul, tetapi kendaraan beliau terhalang lumpur di Kemiri 4 km dari Ngroto. Kalau mobil beliau diarahkan ke Ngroto mogok, tapi kalau diarahkan ke Surabaya mobil beliau bisa berjalan. Maka Hadhratus Syaikh menetapkan untuk kembali ke Surabaya. Yang menolong mengentas mobil beliau dari lumpur adalah masyarakat Kemiri, maka Hadhratus Syaikh mengatakan: “Saya tidak dapat membalas sama sekali. Hanya saya doakan mudah-mudahan masyarakat di sini selamat semua.”

Maka barokah doa beliau setiap kampung dari Kemiri sampai Ngroto pasti ada manaqiban dan ada murid-murid beliau, diantaranya desa Tembelingan yang asalnya tidak ada yang shalat bahkan tidak ada masjid dan mushalla. Tetapi berkat dilewati oleh Hadhratus Syaikh, Islam tersebar di Tembelingan dan sekitarnya. Masjid, mushalla serta pemuka-pemuka agama mulai bermunculan serta sebagian kaum musimin di situ sudah menjadi murid beliau, sehingga Kyai Muslih Mranggen mengatakan: “Masuknya Hadhratus Syaikh ke Ngroto sudah pas karena masyarakat Ngroto adalah masyarakat Madura, cocok dengan kata-kata Syaikh Utsman: “Ngroto adalah bau Madura.” Dan Hadhratus Syaikh pernah mengatakan: “Saya bermimpi di sebelah timur Semarang ada cahaya. Apakah ada waliyyullah di sana?” Ternyata benar itulah Kyai Sirojuddin.”

Selanjutnya Kyai Masduri mengatakan: “Sekembalinya saya dari Surabaya, pada suatu hari saya sakit mata. Walaupun sudah berobat tetap tidak sembuh kecuali di hari Kamis dan Jum’at saja. Maka pada suatu malam Jum’at saya membaca al-Fatihah kemudian membaca silsilah, maka malam itu juga saya bermimpi berjumpa dengan Hadhratus Syaikh, beliau menanyakan kepada saya: “Apakah matamu sakit? Apakah yang sakit sebelah kanan?” Maka mataku diobati oleh Hadhratus Syaikh dengan jari-jemarinya dan ternyata Alhamdulillah sembuh betul-betul. Maka esok harinya hari Sabtu saya pergi ke Surabaya untuk menjumpai beliau. Beliau bertanya: “Apakah matamu sudah sembuh?” Saya menjawab: “Ya.” Kemudian beliau menyatakan: “Ya saya obati dari sini.”

Selanjutnya Kyai Masduri menceritakan lagi: “Pada suatu hari sewaktu saya berkunjung ke Hadhratus Syaikh saya disuruh ke Ampel seraya mengatakan: “Pergilah ke Ampel, saya rindu Agus Mas’ud.” Sesampai saya di Lawang Agung saya bertemu dengan Agus Mas’ud, cepat-cepat turun dan minta gendong saya.

Pernah Hadhratus Syaikh bercerita kepada Kyai Masduri: “Pada suatu hari Jum’at ada orang hendak menunaikan shalat Jum’at di masjid Ampel. Kemudian saya panggil, saya ajak shalat Jum’at di Baitul Ma’mur. Setelah kita melangkah tiga langkah kita sudah sampai di Baitul Ma’mur. Ini boleh kau ceritakan setelah saya meninggal.”

Kyai Masduri melanjutkan ceritanya: “Saya bermimpi shalat di mushalla yang penuh dengan orang-orang yang sedang shalat. Karena mereka shalat semuanya, maka saya mengingkarinya dan Hadhratus Syaikh yang iktu menjadi makmum tidak tahu siapa yang menjadi imam. Beliau mengatakan kepada saya: “Mereka adalah wali-wali Allah.” Dan saya bermimpi berjumpa dengan Nabi Khidir As. Beliau mengajak saya ke tepi sungai. Di sana ada mushalla yang bersinar terang, tahu-tahu di situ ada Hadhratus Syaikh dan kita bertiga menjadi makmum tetapi saya tidak tahu siapa imamnya.”

Al-Habib Abdullah bin Umar al-Haddar pernah mengatakan kepada Kyai Abdul Ghoffar: “Pada suatu hari Kamis di bulan Syawal al-Habib Abdul Hadi bin Abdullah al-Haddar ingin berjumpa dengan Hadhratus Syaikh Utsman sesudah masuk waktu shalat Ashar. Tetapi sesampai di pondok Jatipurwo beliau tidak menjumpai Hadhratus Syaikh. Setelah lama menunggu di pondok dan waktu sudah menjelang Maghrib maka al-Habib Abdul Hadi pun cepat-cepat meninggalkan pondok untuk menuju ke Ketapang karena setelah shalat Maghrib ada acara pembacaan Burdah di Ketapang.

Ketika sampai di Karang Tembok becak beliau berpapasan dengan mobil Hadhratus Syaikh, maka beliau pun kembali lagi ke pondok Jatipurwo untuk menemui Hadhratus Syaikh. Sesampai di pondok, Hadhratus Syaikh sedang mengimami shalat Ashar dalam waktu Ashar yang paling akhir. Namun setelah Ashar sempat membaca semua wirid seperti biasanya sampai tuntas, kemudian Hadhratus Syaikh menjumpai al-Habib Abdul Hadi bersama saya di ruang tamu. Di ruang tamu al-Habib Abdul Hadi membaca “Allahu Hu Iiy. Allahu Hu liy Fani’mal Wali”.

Setelah dijamu secukupnya al-Habib Abdul Hadi mohon pamit kepada Hadhratus Syaikh untuk pergi ke Ketapang. Dalam hatinya berkata bahwa waktu telah berlalu untuk mengikuti pembacaan Burdah di Ketapang, tetapi kenyataannya tidak demikian. Kami sampai di Ketapang orang-orang masih melakukan shalat Maghrib.”

Sopir pribadi Hadhratus Syaikh pernah bercerita: “Pada suatu hari sepulangnya Hadhratus Syaikh dari Rejoso, mobil diistirahatkan di Jombang agar kami makan minum dulu. Sedangkan Hadhratus Syaikh menunggu di salah satu rumah dekat warung tersebut. Seusai makan minum kami menyatakan kepada Hadhratus Syaikh bahwa bensin telah habis. Beliaupun terkejut dan menanyakan mengapa tidak bilang dari tadi sebelum semua uang yang ada di tangan beliau diserahkan ke pondok Rejoso dan beliau menanyakan sisa uang kami. Kami menjawab hanya tinggal beberapa puluh rupiah saja. Secara spontan beliau menegaskan: “Kalau memang demikian baiklah isilah tangki mobil itu dengan air teh tanpa gula semampu uang yang ada padamu!”

Kami pun percaya sepenuhnya kepada beliau dan membeli teh tawar beberapa ceret dari warung dan langsung kami isikan ke tangki mobil. Setelah itu kami melapor untuk pulang ke Surabaya. Beliau bertanya: “Sudah kau isi bensin?” Kami menjawab bahwa mobil sudah diisi sesuai dengan perintah Hadhratus Syaikh. Selanjutnya beliau mengatakan: “Baiklah, mari pulang ke Surabaya. Teh-teh juga bisa menjadi bensin.” Akhirnya betul, mobil berjalan terus sampai ke Surabaya memakai bahan bakar teh.”

Sopir Hadhratus Syaikh yang terakhir yaitu Abdus Syakur juga mengalami peristiwa serupa yaitu dalam perjalanan antara Pasuruan-Probolinggo. Mobil Hadhratus Syaikh kehabisan bensin di tengah malam dan dia disuruh mencari warung untuk mendapatkan teh satu gelas. Setelah didapatkan, teh itu didoakan oleh Hadhratus Syaikh dan mengatakan: “Sudahlah isilah dengan teh, sama saja.” Akhirnya bensin teh tadi habis pas saat mobil sampai di Probolinggo persis di garasi mobil.

Cerita semacam ini terjadi pula pada waktu Hadhratus Syaikh pulang dari Ngroto Semarang, di tengah perjalanan yang jauh dari keramaian. Pir mobil putus, tinggal satu pir saja. Dan oli mobil juga habis kering sama sekali. Ini terjadi di sekitar Caruban menuju Surabaya. Dan Hadhratus Syaikh menyuruh supirnya mencari teh untuk menggantikan oli yang sudah habis. Setelah diisi dengan teh mobilpun dapat distater dengan hanya satu pir saja, dapat berjalan terus sampai di Surabaya dengan selamat biidznillah.

Hadhratus Syaikh pernah menceritakan pengalaman beliau sewaktu ke Singapura. Melihat banyaknya orang-orang yang menjemput beliau di Airport, ketua security yang seorang wanita berusaha ingin menyelamatkan beliau dari intervio para inteljen yang lain. Maka dia pura-pura mengaku sebagai orang tuanya yang ada di Pontianak. Dan langsung digandeng dari Airport menuju mobil dan diantar sekalian menuju ke tempat tujuan.

Besoknya dia kembali lagi membawa 2 handuk mandi Hadhratus Syaikh, tetapi setelah satu hari dipakai mandi dia minta kembali. Demikian pula handuk yang satu lagi dan menyatakan bahwa handuk itu untuk dia pakai mandi sehari-hari. Sedang yang satu lagi untuk dia pakai kain kafan sewaktu ia meninggal nanti. Dan seketika itu dia minta dibaiat oleh Hadhratus Syaikh sebagai murid Thariqat Qodriyah wa Naqsyabandiyah. Sejak itu Hadhratus Syaikh selalu dikawal oleh ketua security perempuan itu pulang pergi ke Singapura. Beliau mengatakan: “Inilah berkat saya tidak pernah menyakitkan hati ibu saya selama hidup beliau.”

Silsilah Thariqat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah

Berikut ini adalah silsilah Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Romo KH. Utsman al-Ishaqi:

Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Muhammad Utsman bin Nadiy al-Ishaqi bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Abi Ishamuddin Muhammad Romliy at-Tamimiy bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Kholil Rejoso bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Hasbullaah Madura bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Ahmad Khothib as-Sambasi bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Syamsuddin bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Murod bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Abdul Fattah bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Kamaluddin bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Utsman bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Abdurrahim bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Abu Bakar bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Yahya bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Chisamuddin bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Waliyuddin bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Nuruddin bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Zainuddin bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Syarofuddin bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Syamsuddin bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Muhammad al-Hataki bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Abdul Aziz bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Abdul Qodir al-Jailani bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Abu Sa’id al-Mubarrok bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Abu Hasan Ali al-Hakari bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Abul Faraj ath-Thurthusiy bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Abdul Wahid at-Tamimi bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Abu Bakar as-Sibliy bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Abul Qosim Junaid al-Baghdadi bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Sari as-Siqthi bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Hadhratus Syaikh Ma’ruf al-Karkhi bertalqin dan berbai’at dari :
Al-‘Arif Billaah Imam Abul Hasan Ali Ridha bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Imam Musa al-Kadzim bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Imam Ja’far ash-Shodiq bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Imam Muhammad al-Baqir bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Imam Ali Zainal Abidin bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Sayyidina Husain Ra. bertalqin dan berbai’at dari:
Al-‘Arif Billaah Sayyidina Ali Kw. bertalqin dan berbai’at dari:
Sayyidil Mursalin wa Habibi Robbil ‘Alamin, Rasul Alloh kepada sekalian makhluk, Sayyidina Muhammad Saw.bertalqin dan berbai’at dari:
Sayyidina Jibril As. bertalqin dan berbai’at dari:
Alloh Swt.

Wallohu A’lam