Showing posts with label sholawat. Show all posts
Showing posts with label sholawat. Show all posts

Tuesday, February 5, 2019

RIWAYAT SHOLAWAT ASYGHIL

RIWAYAT SHOLAWAT ASYGHIL

Bacaan sholawat, atau doa dan pujian yang kita panjatkan kepada Allah untuk Nabi kita, Rasulullah SAW. ada banyak macamnya. Dari yang diajarkan Nabi sendiri hingga yang digubah oleh para ulama. Salah satunya adalah “Shalawat Asyghil“. Sholawat ini dahulu amat akrab di telinga kaum muslimin karena sering terdengar dari masjid-masjid dan mushola-mushola menjelang Maghrib. Selain itu, langgam pengucapan sholawat ini juga sangat enak didengar di telinga kita.

Sholawat ini menemukan momentum di kala kaum muslimin sedang dalam suasana genting. Isi dan sejarah Sholawat Asyghil (sibuk) akan kita cermati di bawah ini.

Konon Sholawat tersebut dipanjatkan oleh Imam Ja’far ash-Shadiq (wafat 138 H), salah seorang tonggak keilmuan dan spiritualitas Islam di awal masa keemasan umat Islam. Beliau hidup di akhir masa Dinasti Umawiyyah dan awal era Abbasiyyah yang penuh intrik dan konflik politik.

Bagi beliau, kekacauan politik tak boleh sampai mengganggu proses pelestarian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Saat itu, ilmu pengobatan, geografi, astronomi, kimia, sastra, mulai berkembang dan diminati. Maka di setiap Qunut, beliau berdo'a sebagaimana do'a yang ada dalam redaksi Sholawat tersebut .

Sholawat ‘Asyghil’ ini juga dikenal dengan sebutan Sholawat ‘Habib Ahmad bin Umar al-Hinduan Baalawy’ (wafat 1122 H). Dikarenakan sholawat ini tercantum di dalam kitab kumpulan sholawat beliau, ‘al-Kawakib al-Mudhi’ah Fi Dzikr al-Shalah Ala Khair al-Bariyyah’. Namun beliau hanya mencantumkan, bukan mengarang redaksinya.

Dan silsilah hingga kepada Beliau sebagai berikut:

Sulthān al-'Ulamā' al-Habīb Sālim ibn 'Abdullāh ibn 'Umar al-Syāthirī al-Tarīmī,
Dari al-'Allāmah al-Sayyid Musthafā ibn Ahmad al-Muhdhār,
Dari al-Imām al-Akbar al-'Ārif al-Asyhar al-Sayyid 'Aidrūs ibn 'Umar ibn 'Aidrūs al-Habsyī,
Dari al-'Allāmah al-Musnid al-Syaikh 'Abdullāh ibn Ahmad Bāsūdān al-Hadhramī,
Dari al-Sayyid al-Imām Hāmid ibn 'Umar Hāmid Bā'alawī al-Tarīmī,
Dari al-Imām Ahmad ibn 'Umar al-Hindwān

Sholawat ini pertama kalinya dipopulerkan di Indonesia melalui pemancar radio milik Yayasan Pesantren As-Syafi’iyyah yang diasuh ulama besar Betawi, almarhum KH Abdullah Syafi’i (wafat 1406 H). Sholawat ini dibawakan dengan nadzam (nada) yang sangat menyentuh hati, indah didengar dan terasa sejuk di hati pembaca dan pendengarnya.

Hikmahnya, seolah umat Islam tengah difilter dan diuji keimanannya. Rasa iman yang masih ada mendorong untuk melakukan “perlawanan” dalam setiap kedzaliman.

Salah satu senjata yang diandalkan oleh kaum muslimin adalah doa. Jangan remehkan doa kaum muslimin yang terdzalimi ditambah lagi dengan sholawat Nabi, menuntut Sang Pencipta untuk segera mengabulkannya.

Kuperhatikan, tak lama beredarnya anjuran untuk sholawat Asyghil, tokoh-tokoh yang selama ini getol ingin menyerang Islam (Islamophobia), selalu sibuk dengan aib-aibnya yang terbuka. Makar (konspirasi) untuk merusak dan memecah kekuatan kaum muslimin, langsung dibalas dengan tunai oleh Allah, dalam sebuah kegagalan konspirasi mereka.

Metode belah bambu, dengan meninggikan satu kelompok muslim dan menginjak kelompok muslim yang lain, selalu berakibat dengan terbongkarnya aib sang tokoh yang ditinggikan. Bahkan tak sedikit, followernya mulai cerdas dan meninggalkan pemimpin yang mulai asyik dengan godaan dunia. Bagi tokoh-tokoh yang “diinjak” selalu mendapat pembelaan umat dan semakin harum dengan keikhlasannya dalam dakwah Islam. Umat semakin tahu mana yang dakwah kepada Islam dan sebaliknya.

Ini lafadz Sholawat Agung tersebut

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَشْغِلِ الظَّالِمِيْنَ بِالظَّالِمِيْنَ وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِيْنَ وَعَلَي الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

"Ya Allah, limpahkanlah Rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad,
dan sibukkanlah orang-orang zhalim (agar mendapat kejahatan) dari orang zhalim lainnya,keluarkanlah kami dari kejahatan mereka dalam keselamatan dan berikanlah sholawat kepada seluruh keluarga Nabi serta para sahabat beliau."

Marilah kita bantu kaum muslim yang tengah terdzalimi. Kita amalkan sholawat ini, dan ketika membaca doa yang di tengahnya, maka bayangkanlah wajah-wajah pelaku kedzaliman tersebut. Insya Allah, perhatikan tak lama maka kita bisa saksikan ornag-orang tersebut saling bertikai dengan masalah-masalahnya sendiri saling menuding terlibat korupsi. Saling menuding menjadi pembohong dan ada saja masalah-masalah di antara mereka.

Ada juga yang menyebutnya dengan nama Sholawat Zhalimin, Sholawat Salimin, Sholawat Sibuk, Shalawat Mlipir, dan lain-lain.

Pada satu kesempatan Prof. K.H. Ali Yafie pernah ditanya, apa yang beliau ketahui tentang Sholawat ini. Menurut beliau, sholawat itulah yang digelorakan oleh Ulama-ulama Shūfī dunia Arab khususnya Iraq tatkala Iraq diluluh lantahkan oleh pasukan Mongol Hulagu Khan.

Sejarah mencatat, pada tahun 1258M, lebih dari 200 ribu tentara Mongol menyerbu Iraq serta menumbangkan kekuasaan Bani Abbasiyyah, bahkan khalifahnya yaitu Al-Mus’tasim dipenggal kepalanya.

Mengerikan sekali. Bukan hanya istana yang dihancurkan, tapi seluruh bangunan di Baghdad diratakan dengan tanah, seluruh warga kota dibunuh, kecuali segelintir yang berhasil meloloskan diri, semua buku-buku perpustakaan terbesar di dunia, dimusnahkan dan dibuang ke Sungai Tigris, sampai-sampai air sungai berwarna hitam oleh tintanya.

Praktis pada masa itu Asia Tengah dikuasai Mongol  dan tentara Islam hancur. Di saat seperti itulah bangkit para pahlawan Tasawuf. Mereka mengorganisir kelompok-kelompok gerilyawan dan bersama Pasukan Mameluk dari Mesir, hingga berhasil membendung ekspansi Pasukan Mongol, bahkan untuk pertama kalinya mengalahkan mereka dalam pertempuran dahsyat yang dikenal sebagai Pertempuran Ain Jalut di Palestina pada 3 September 1260.

Sungguh Allah Maha Adil, Hulagu Khan yang menghancurkan kekhalifahan Islam dan kemudian mendirikan Dinasti Ilkhan, sang cucu Ahmad Teguder, yang menjadi raja ke-3 dinasti tersebut, justru memeluk Islam, sayang sekali ia hanya berkuasa selama dua tahun (1282-1284) karena dibunuh oleh saudaranya.

Alhamdulillah, Raja ke-7 yaitu Ghazan (1295-1304), memeluk Islam menjadi Mahmud Ghazan. Mulai periode kekuasaannyalah, posisi umat Islam kembali memperoleh keleluasaan, dan peradaban Islam dibangun kembali meski harus mulai dari nol lagi.

Dalam masa-masa kritis seperti itu, tatkala kekuatan militer secara formal tidak berfungsi, para pahlawan sufi tidak berpangku tangan, tapi terjun langsung ke masyarakat mengorganisir serta menggelorakan semangat juang sambil mengumandangkan shalawat ini.

Spirit dari redaksi Sholawat dan latar belakang kisahnya "klop" dengan kondisi Indonesia dewasa ini, orang-orang zhalim biarlah mereka bertarung dengan sesamanya, jangan sampai umat dan para Ulama menjadi korban mereka, seperti kata pepatah "Gajah Bertarung Sama Gajah Pelanduk Mati di Tengah-Tengah".

Sumber:
*KH Yusuf S*

Thursday, January 3, 2019

Dari Habib Munzir Almusawa :

Dari Habib Munzir Almusawa :

Mengenai pertanyaan di alam kubur ini ada riwayat yg mengatakan yg pertama ditanya adalah siapa Tuhan kita, lalu dst dst., itu adalah riwayat yg masyhur.

Namun sebenarnya riwayat yg lebih shahih, sebagaimana berkali kali diulang pada shahih Bukhari, bahwa yang pertama di tanyakan adalah :

"Apa pengetahuanmu tentang Muhammad", demikian dalam riwayat yg berulang ulang pada Shahih Bukhari, dan ia lebih shahih dari riwayat yg masyhur yg kita kenal.
Sebagaimana sabda Rasul saw yang menceritakan hal itu; ketika seorang ditanya
dikuburnya dengan pertanyaan :

"Apa pengetahuanmu pada pria ini (Rasul saw), maka jika ia Mukmin maka ia menjawab :

"Dia Muhammad Rasulullah, diutus pada kami membawa penjelasan dan hidayah, maka kami menerimanya dan mengikutinya. Dia Muhammad, Dia Muhammad, Dia Muhammad."

Maka berkata malaikat : "tidur istirahatlah wahai shalih, kami telah mengetahui bahwa kau orang yg mantap dalam iman."

Namun jika ia munafik maka ia menjawab : "aku tidak tahu". (Shahih Bukhari)

Tentunya semua orang beriman akan bisa
menjawab seperti ini walau tak menghafalnya,
Sebaliknya para pendosa besar tak akan mampu mengucapkan nya walau ia telah menghafalnya di dunia.

Habibana MUNZIR pun menambahkan Bahwa :
Saat seseorang yg sering merindukan Rasul SAW ketika di dunia, barangkali saat ia di temukan dengan Rasul maka Rasul sendiri yang mengatakan bahwa : "dia ummat ku dia umat ku". Sebab Rasul sangat cinta kepada mereka yg mencintai beliau. Terlebih lagi ummat yg cinta itu adalah ummat yg hidup setelah beliau wafat.Tak pernah jumpa dan tak pernah bertemu.

Wahai saudaraku, semoga kelak Allah kumpulkan kita dengan baginda Rasul dan tak pernah terpisahkan. Aamiin Allahumma aamiin :'(

Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa'ala aalihi washohbihi wasalim

Sunday, December 30, 2018

Mengenang Habib Mundzir al Musawa: Sang Pemilik Tanah Jawa dimata gusdur

Mengenang Habib Mundzir al Musawa: Sang Pemilik Tanah Jawa dimata gusdur

Kejadian nyata, saat Gus Dur dicium tangannya oleh Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa. Waktu itu Gus Dur bersama KH. Maman Imanul Haq sedang berada di bandara. Tiba-tiba Habib Mundzir al-Musawa yang hendak dakwah ke Papua menghampiri dan menciumi tangan Gus Dur seraya bersimpuh di hadapan Gus Dur.

Lalu Kyai Maman bertanya, “Ada apa Bib?”

“Kalau wali ya Gus Dur, Kang Maman.” Jawab Habib Mundzir al-Musawa.

Lalu Gus Dur bertanya kepada Kyai Maman, “Itu siapa?”

“Habib Mundzir, Pak,” jawab Kyai Maman.

“Kalau ingin tahu wali yang muda ya Habib Mundzir. Tapi usianya tidak panjang,” kata Gus Dur kemudian.

Dan ternyata betul apa yang dikatakan Gus Dur waktu itu, Pimpinan Majelis Rasulullah Saw. Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa itu kemudian meninggal dalam usia yang masih muda. Lahuma al-Fatihah...

Mengenang Habib Mundzir al Musawa: Sang Pemilik Tanah Jawa

mengenal sosok beliau dengan seksama, selain saya mendapati beliau adalah termasuk kalangan Habaib yang banyak dicintai oleh banyak pemuda-pemudi negeri ini. Itu bagi saya cukup menarik jika melihat fakta, bahwa betapa banyak Habaib yang lebih alim dari beliau, betapa banyak Habaib yang trah keluarganya lebih terkenal dari keluarga beliau, namun para pemuda-pemudi itu hati mereka lebih condong kepada diri beliau dibanding yang lainnya.

Saya kira hal itu terjadi karena setidaknya ada beberapa alasan pokok.

Pertama
karena hakekat kemaqbulan yang beliau miliki selama hidupnya adalah Tauriyyah dari keagungan Guru Fath beliau, Sayyidinal Habib Umar bin Hafidz.

Kemaqbulan dan kemasyhuran yang beliau miliki adalah keagungan Gurunya yang di letakkan “dengan sengaja“ oleh Sang Guru keatas pundaknya karena sesungguhnya keagungan semacam itu tidak pas /tidak tepat jika di letakkan di tanah Hadramaut yang mulia.

Tanah Hadramaut adalah tanah yang di ciptakan Tuhan untuk rumah-rumah kekhumulan, ketasatturan, dan tidak akan kuat menerima hal-hal yang berlawanan dengan itu semua. Sebagaimana pernah terjadi saat kemasyhuran Al Quthub Al Habib Ali Bin Muhammad Al Habsyi begitu memmpesona mata, para Auliya “berbisik“ bahwa keagungan semacam ini tidak akan pernah Hadramaut mampu kuat menahannya lama-lama.

Maka kemudian terjadi sebuah peristiwa-peristiwa di kota Seiwun yang membuat Al Habib Ali memutuskan untuk mengekspor Majlis-Majlis agungnya yang selalu di datangi puluhan ribu orang itu ke Tanah Jawa melalui salah satu murid beliau, Al Arifbillah Al Habib Alwi bin Muhammad al Habsyi. Kepada muridnya ini , beliau mengirim sebuah surat perintah untuk:

“Buatlah Majlis Maulid Tahunan di Jawa, dimana engkau kumpulkan banyak orang dari penjuru daerah untuk membaca untaian kisah Maulid ( Simthud Dhuror ) ku ini dan engkau jamu mereka semua …“.

Jadilah kemudian Majlis Maulid Al Habib Ali Al Habsyi tersebar kepenjuru negeri ini dengan pesatnya, karena kemasyhuran dan kemegahan-kemegahan semacam ini Tanah Jawa adalah tempatnya.

Senada dengan itu, keagungan Guru Mulia Al Habib Umar bin Hafidz serta kemasyhurannya Tanah Hadramaut tidak pas untuk mengayominya. Maka beliau “titipkan” keagungannya itu kepada para murid beliau di luar Hadramaut, dan salah satunya melalui Al Habib Mundzir al Musawa dengan Majlis Rasulullahnya.

Atau yang kedua, mungkin alasannya memang muncul dari pancaran rahasia spiritual Habib Mundzir sendiri. Dimana selama berdakwah, beliau selalu menyampaikannya dengan hati sanubari, bukan sekedar kemahiran mengumbar narasi di atas mimbar atau kelihaian dalam mengalahkan hujjah musuh-musih dakwahnya.

Sesungguhnya dakwah (kalimat-kalimat) yang meluncur dari ruang-ruang hati, akan menumbuhkan buah-buah kemaqbulannya.

Al Habib Mundzir tampaknya memang sudah terpilih untuk mengambil peran itu. Dirinya “ terpilih “bahkan dimulai saat sepertinya keadaan tidak memungkinkannya.

Saat Al Habib Umar berkeliling Indonesia di awal tahun 90-an, untuk mencari calon murid yang akan beliau bawa ke Hadromut dan akan dididik disana, saat itu Habib Mundzir yang masih belajar di Madrasah Al Khairat sangat kepincut untuk dapat turut terpilih. Sayang sekali kuota calon santri itu sudah terpenuhi. Tidak ada lagi jatah tambahan.

Namun saat Guru Mulia Al Habib Umar berkunjung ke Al Khairat, dan itu kunjungan beliau yang terahir di saat itu, Allah Ta’ala “memilih“ untuk turut menyertakan Habib Mundzir dalam rombongan calon-calon santri yang akan mendapat bea siswa ke Hadramaut sana.

A Habib Ali Zainal Abidin Al Jufry berkata :
“Kami mengunjungi ma’had Al Khairat yang dipimpin oleh Al Habib Muhammad Naqib bin Syech Abi Bakar, dan jumlah pelajar yang akan dibawa oleh Sayyidi Al Habib Umar ke Tarim sudah terpenuhi.

Disaat aku duduk bersama para pelajar ma’had, seketika pandanganku tertuju kepada seorang pemuda yang sangat menarik perhatianku, sebab pancaran wajah dan ketawadhuannya. Maka aku berkata di dalam hati:

“Akan aku sampaikan kepada Sayyidi Umar tentang pemuda ini“

Ketika kami berdiri, pemuda itu datang menghampiri untuk menyalamiku. Aku bertanya kepadanya:

“Siapa namamu?“

Ia menjawab dengan sangat sopan dan penuh ketawadhuan:
“ Khadim (pelayan)mu, Mundzir “
.
Kemudian Sayyidi Umar datang dan akupun mengabarinya tentang pemuda itu, lalu beliau bertanya:
“Mana pemuda yang engkau ceritakan itu ? “
Aku menjawab : “ Itu dia, pemuda yang memakai peci warna hijau … “

Maka Al Habib Umar berkata:

“Anak ini harus ada diantara mereka ( para calon santri ) dan dia tidak boleh di undur sampai angkatan kedua.“

Mendengar perintah itu , al Habib Umar bin Muhammad Maulakhela berinisiatif untuk menjadi penanggung biaya perjalanan Pemuda Mundzir itu ke kota Tarim , dan ini dihitung sebagai sebuah jasa besar habib Umar mulakhella yang selalu diceritakan dan di ingat Habib Mundzir di dalam majlis-majlisnya .

Al Habib Mundzir selama beberapa tahun memikul tanggung jawab besar amanah kemuliaan dakwah Gurunya. Sampai kemudian betul-betul secara fisik dan rukhani beliau sudah tidak kuat lagi menanggungnya, jika saj tidak ada perhatian ruhaniyyah dari para aslaf dan guru-gurunya.

Saat genap usianya 40 tahun , di suatu pagi beliau berkata kepada istrinya:

“Alhamdulillah, aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW dan aku mengadukan keadaanku kepada beliau, betapa beratnya beban dakwah dan telah lemah kekuatanku sehingga aku tidak mampu memikul beban ini.

Maka beliau memberiku kabar gembira, Rasulullah SAW berkata:

“MUROKH KHOSUN, WAL AMRU INDA UMAR … Aku beri ijin kemurahan kepadamu, dan dalam hal ini terserah Umar (Habib Umar bin Hafidz ).“

Maksud baginda Nabi SAW dengan Umar adalah Habib Umar bin Hafidz guru beliau. Dan benar juga akhirnya, di sore hari itu juga, beliau wafat meninggalkan dunia yang penuh kepayahan ini, menuju belaian kasih aslaf-aslafnya, wabil khusus baginda nabi Muhammad SAW Al Musthofa.

Habib salim , putra Al Habib Umar bin Hafidz berkata:

“Dari perkataan Habib Mundzir yang pernah aku dengar, dia berkata:
“Wahai Salim, sungguh aku berharap ketika aku diletakkan kedalam kuburku, aku berharap Sayyidiy Umar mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Allah ta’ala, YA ROBB …SUNGGUH AKU TELAH MERIDHOINYA ..

Ketika Habib Mundzir wafat, perkataanku itu aku sampaikan kepada ayahku, dan beliau mengangkat kedua tangannya seraya berkata:
“YA ROBB …ANNI ANHU RODHIN …wahai Tuhan kami, sungguh aku telah meridhoinya“.

Sungguh mulia keadaan seorang murid yang meninggalkan dunia, sementara Gurunya yang Paripurna itu telah jatuh hati untuk meridhoinya.

“Ya bahtak, Ya Mundzir“
Beruntung sekali dirimu, wahai Habib Mundhir. Maha Guru tuan pun memuji:
“Anta Mundzir , wa anta mubasyir …Enkau ini Mundzir, di dalam dirimu ada kabar gembira“.

Pesona dan cahaya dalam diri Habib Mundzir begitu memppesona anak-anak negeri ini, Sebagaiman persaksian ba’dhus Shalihin dari Kota Tarim:

“Wajhuka Nawwir ,,, anta Musy Mundzir, anta Muhammad Maula Jawa, war Royah Batakunu fi yadika …. Wajahmu bersinar bercahaya, ( laksana ) engkau ini bukan Mundzir, tetapi engkau adalah Seorang yang akan dipuji-puji ( Muhammad ) sang pemilik Tanah Jawa. Dan bendera dakwah aka nada ditanganmu …”

Sesudah Habib Mundzir tiada, anak-anak negeri ini hanya tinggal mendapatkan kemudahannya saja. Bendera dakwah Majlis rasulullah semakin hari berkibar dimana-mana. Semakin hari semakin banyak anak-anak negeri yang ikut bersama mengibarkannya.

Alhamdulillah, menjadi mudah karena bagihan tersulitnya, beban-beban itu sudah terlebih dahulu Habib Mundzir al Musawwa yang memikulnya.

Jazallah anna Habiban Mundzir khoira. Jazalloh anna Habibana Mundzir ma huwa ahluh.
Semoga Allah membalas jasa Habib Mundzir kepada kita dengan sebaik-baik balasan. Semoga Allah membalas sesuai dengan apa yang beliau berhak mendapatkannya. Amin.

#alfatihah

Wednesday, June 20, 2018

SUFYAN ATS-TSAURI DAN KISAH ANAK SI TUKANG RIBA

SUFYAN ATS-TSAURI DAN KISAH ANAK SI TUKANG RIBA
Sufyan ats-Tsauri menuturkan, “ Aku pergi haji. Manakala Tawaf di Ka’bah, aku melihat seoerang pemuda yang tak berdoa apapun selain hanya bershalawat kepada Nabi SAW. Baik ketika di Ka’bah, di Padang Arafah, di mudzdalifah dan Mina, atau ketika tawaf di Baytullah, doanya hanyalah shalawat kepada Baginda Nabi SAW.”
Saat kesempatan yang tepat datang, aku berkata kepadanya dengan hati-hati, “Sahabatku, ada doa khusus untuk setiap tempat. Jikalau engkau tidak mengetahuinya, perkenankanlah aku mengajarimu.”
Namun, dia berkata, “Aku tahu semuanya. Izinkan aku menceritakan apa yang terjadi padaku agar engkau mengerti tindakanku yang aneh ini.”
“Aku berasal dari Khurasan. Ketika para jamaah haji mulai berangkat meninggalkan daerah kami, ayahku dan aku mengikuti mereka untuk menunaikan kewajiban agama kami. Naik turun gunung, lembah, dan gurun. Kami akhirnya memasuki kota Kufah. Disana ayahku jatuh sakit, dan pada tengah malam dia meninggal dunia.
Dan aku mengkafani jenazahnya. Agar tidak mengganggu jemaah lain, aku duduk menangis dalam batin dan memasrahkan segala urusan pada Allah SWT. Sejenak kemudian, aku merasa ingin sekali menatap wajah ayahku, yang meninggalkanku seorang diri di daerah asing itu. Akan tetapi, kala aku membuka kafan penutup wajahnya, aku melihat kepala ayahku berubah jadi kepala keledai.
Terhenyak oleh pemandangan ini, aku tak tahu apa yang mesti kulakukan. Aku tidak dapat menceritakan hal ini pada orang lain.
Sewaktu duduk merenung, aku seperti tertidur. Lalu, pintu tenda kami terbuka, dan tampaklah sesosok orang bercadar. Seraya membuka penutup wajahnya, dia berkata, “Alangkah tampak sedih engkau! Ada apakah gerangan?” Aku pun berkata, “Tuan, yang menimpaku memang bukan sukacita. Tapi, aku tak boleh meratap supaya orang lain tak bersedih.”
Lalu orang asing itu mendekati jenazah ayahku, membuka kain kafannya, dan mengusap wajahnya. Aku berdiri dan melihat wajah ayahku lebih berseri-seri ketimbang wajah tuanya.
Wajahnya bersinar seperti bulan purnama. Melihat keajaiban ini, aku mendekati orang itu dan bertanya, “Siapakah Anda, wahai kekasih kebaikan?”
Dia menjawab, “Aku Muhammad al Musthafa” (semoga Allah melimpahkan kemuliaan dan kedamaian kepada Rasul pilihanNya).
Mendengar perkataan ini, aku pun langsung berlutut di kakinya, menangis dan berkata, “Masya Allah, ada apa ini? Demi Allah, mohon engkau menjelaskannya ya Rasulullah.”
Kemudian dengan lembut beliau berkata, “ayahmu dulunya tukang riba. Baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Wajah mereka berubah menjadi wajah keledai, tetapi disini Allah Yang Mahaagung mengubah lagi wajah ayahmu. Ayahmu dulu mempunyai sifat dan kebiasaan yang baik.
Setiap malam sebelum tidur, dia melafalkan shalawat seratus kali untukku. Saat diberitahu perihal nasib ayahmu, aku segera memohon izin Allah untuk memberinya syafaat karena shalawatnya kepadaku. Setelah diizinkan, aku datang dan menyelamatkan ayahmu dengan syafaatku.”
Sufyan menuturkan, “Anak muda itu berkata, “Sejak saat itulah aku bersumpah untuk tidak berdoa selain shalawat kepada Rasulullah, sebab aku tahu hanya shalawatlah yang dibutuhkan manusia di dunia dan di akhirat.”
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW telah bersabda bahwa, “Malaikat Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail Alaihumus Salam telah berkata kepadaku.
Jibril As. berkata, “Wahai Rasulullah, siapa yang membaca shalawat atasmu tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan kubimbing tangannya dan akan ku bawa dia melintasi titian seperti kilat menyambar.”
Berkata pula Mikail As., “Mereka yang bershalawat atasmu akan aku beri mereka itu minum dari telagamu.”
Dan Israfil As. berkata pula, “Mereka yang bershalawat kepadamu, maka aku akan bersujud kepada Allah SWT dan aku tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Allah SWT mengampuni orang itu.”
Kemudian Malaikat Izrail As. pun berkata, ”Bagi mereka yang bershalawat atasmu, akan aku cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh para nabi.”
Bagaimana kita tidak cinta kepada Rasulullah SAW? Sementara para malaikat memberikan jaminan masing-masing untuk orang-orang yang bershalawat atas Rasulullah SAW.
Dengan kisah yang dikemukakan ini, semoga kita tidak akan melepaskan peluang untuk selalu bershalawat kepada pemimpin kita, cahaya dan pemberi syafaat kita, Nabi Muhammad SAW.
Mudah-mudahan kita menjadi orang-orang kesayangan Allah SWT, Rasul, dan para MalaikatNya.
Semoga shalawat, salam, serta berkah senantiasa tercurah ke hadirat Nabi kita, Rasul kita, cahaya kita, dan imam kita, Muhammad al Musthafa SAW beserta seluruh keluarga, keturunan, dan sahabat-sahabat beliau, dan seluruh kaum mukmin yang senantiasa untuk melazimkan bershalawat kepada beliau. Aamiin.
Allaahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad. Allahumma shalli 'alaihi wa sallim wa adzhib hazana qalbiy fin-dunya wal-aakhirah
Wallahu’alam bishshawab, .

Friday, February 23, 2018

Mahalul qiyam anteng karo ora

Seorang penderek, suatu ketika, pernah memberanikan diri matur untuk bertanya kepada Beliau RA (Hadlrotusy Syeikh Romo Yai Achmad Asrori Al Ishaqi R.A) . Lebih kurangnya seperti ini :

“Yai, saya perhatikan, di saat mahallul qiyaam, Yai itu berdiri dengan amat khusyuk. Dengan tangan yang terlipat di depan, Yai berdiam tanpa kaki atau tubuh bergerak atau bergoyang sedikitpun. Hampir seperti khusyuknya orang ketika di dalam sholat. Sementara, saya perhatikan para jamaah yang lain, termasuk para kyai maupun habaib, yaa khusyuk, tapi tidak sediam seperti Yai itu. Masih ada yang kadang tangannya bergerak santai. Ada pula yang tolah toleh lihat sana lihat sini. Bahkan, tidak sedikit yang kaki dan tubuhnya ikut bergoyang karena mengikuti irama tabuhan terbang dan lagu bacaan sholawatnya itu.”

Sembari tersenyum, Beliau menyahut :

“Lalu kenapa? Kan gak apa apa juga, mereka baca sholawat sambil bergerak gerak?. Bisa jadi, itu menunjukkan bahwa hatinya senang, gembira menyambut kedatangan Rasulullah SAW. Orang kalau hatinya senang kan lalu suka bergerak dan melantunkan lagu. Tidak ada masalah, sebenarnya. Terkembali ke hati dan kebiasaan masing masing pribadi. Jadi tidak bisa disalahkan.”

Lantas Beliau RA meneruskan Dawuhnya :

“Tapi, kalau yang kamu tanyakan itu tentang saya, kenapa Yai koq diam atau tidak bergerak, tidak bergoyang, nahh … itu lain lagi, jawaban saya.”
“Begini yaa …. Coba kamu bayangkan sendiri lah. Bagaimana sih sikapmu ketika kamu berdiri persis di depan Gurumu? Apa kamu masih sempat tolah toleh? Apa kamu berani bergoyang atau menari mengikuti irama yang kamu dengar? Enggak, kan? Kamu diam dan dingkluk (kepala menunduk), kan? Yaa seperti itu.”

“Itu, kamu masih di depan Gurumu. Lha bagaimana kalau di depanmu itu Para Guru yang lain, lalu juga hadir Kanjeng Syeikh RA? Bahkan lalu kemudian hadir Rasulullah SAW? Apa masih sempat kamu melihat sana sini? Apa masih sempat kamu bergoyang? Yaa sudah …. Sudah gak bisa ngomong gak bisa apa apa kalau sudah begitu … ! Iyaa kan?”

“Kenapa bisa begitu? Karena kita ini sudah kadung dididik sebagai orang thoriqoh. Orang thoriqoh itu lebih focus kepada sentuhan sentuhan hubungan ruhaniyah. Hubungan bathiniyyah. Diamnya saja, kalau sudah berhadap hadapan secara bathin, berhadapan secara ruhani seperti itu, sudah sangat banyak roso yang mengalir. Itu orang thoriqoh. Iyaa kan?”.

“Tapi, sekali lagi, kita tidak bisa menyalahkan orang lain yang tidak seperti itu. Malah salah kalau kita menyalahkan. Sebab ini urusan didikan roso, bukan soal hukum. Kalau soal hukum, mau baca sholawat sambil menaiki bojo pun, hehehe …, gak ada masalah. Kan begitu?”

Bisakah kita mempertahankan didikan Beliau RA itu? Barangkali, kunci jawabannya terkembali kepada pertanyaan : Sejauh mana kita yakin dan merasa, bahwa di saat majlis berlangsung itu, sedang ada Romo YAI RA di depan kita (?).

Robbi Fanfa’naa Bi BarkatiHhii
WaHhdinaal-Husnaa Bi HurmatiHhii
Wa Amitnaa Fii ThoriiqotiHhii
Wa Mu’aafaatin Minal-Fitani
Aamiiin. Al Faatihah … !!

_____________________________

Tulisan Pak Imam Subakti

Tuesday, February 6, 2018

Amalan untuk rizki dan hajat

"Jika kamu punya beban berat, dan tanggunganmu yang banyak. Dan jika kamu ingin punya rizkiy yang nggak pernah habis, maka amalkanlah Sholawat SYAJAROTUN NUQUD".
Bacaannya :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Dibaca 400 kali setelah isya'.
Kamu akan seperti punya "Pohon Uang" didepan rumah"

Ucapkan Qobiltu ( قبلت ) dan sebarluaskan dengan harapan membawa manfaat dan keberkahan bagi kaum muslimin yang mengamalkan.

AMALAN AGAR DIKABULKAN HAJAT DAN DISEMPURNAKAN URUSANNYA.

"Jika seseorang memiliki hajat atau urusan penting, maka setelah shalat Isya' disaat sendirian, hendaknya ia membaca :

الذين قال لهم الناس إن الناس قدجمعوا لكم فخشوهم فزادهم إيماناوقالوا "حسبناالله ونعم الوكيل"، فانقلبوا بنعمةمن الله وفضل لم يمسسهم سوء واتبعوا رضوان الله،  والله ذوفضل عظيم.

Alladziina qoola lahumun-naasu innan-naasa qod jama'uulakum fakh-syawhum fazaadahum iimaanan, wa qooluu hasbunallah wa ni'mal wakil, fan-qolabuu bi ni'matim-minallaahi wa fadh-lil-lam yam-sas-hum suu-uw wataba'uu ridh-waanallaahi wallaahu dzuu fadh-lin 'adzhiim. (QS. Ali-Imran [3] :173-174)

Kemudian membaca :

"Hasbunallahu wa ni'mal wakil" sebanyak 450 kali, maka Insya Allah hajatnya akan dipenuhi dan urusannya akan sempurna."

مـاشــاءاللـــــه لاقـــــوةالابااللــــــــه
صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيْمُ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الكَرِيْمُ وَنَحْنُ عَلىَ ذَالكَ مِنَ الشّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرِيْنَ

Manaqib Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Mu'allif Simtuddurror.

Untuk mencapai segala hajat

Membaca tiap pagi & sore hari :
يَارَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَافْتَحْ مِنَ الْخَيْرِ كُلَّ مُغْلَقٍ      ١٠ x
Lalu membaca
الفاتحة بنية القبول وتمام كل سول ومأمول والى حضرة الرسول ثم الى روح الحبيب علي بن محمد الحبشي

بسم الله الرحمن الرحيم   ١٩x   الحمد لله رب العالمين الرحمن الرحيم مالك يوم الدين اياك نعبد واياك نستعين اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين انعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين ..

Monday, January 22, 2018

Pertemuan Al Habib Umar bin Hafidz dengan Rosululloh SAW | Al Habib Alwi bin Abdullah Alaydrus

Pertemuan Al Habib Umar bin Hafidz dengan Rosululloh SAW | Al Habib Alwi bin Abdullah Alaydrus

SHOLAWAT NUR YANG LANGSUNG DARI ROSULULLOH SAW KE HABIB UMAR BIN HAFIZH BIN SYEIKH ABU BAKAR BIN SALIM

SHOLAWAT NUUR MUHAMMAD
ﺃَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻧُﻮْﺭِﻙَ ﺍﻟﺴَّﺎﺭِﻱْ ﻭَﻣَﺪَﺩِﻙَ ﺍﻟْﺠَﺎﺭِﻱْ ﻭﺍﺟْﻤَﻌْﻨِﻲْ ﺑِﻪٖ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺃَﻃْﻮَﺍﺭِﻱْ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺁﻟِﻪٖ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪٖ ﻳَﺎﻧُﻮْﺭُ

ALLOHUMMA SHOLLI WA SALLIM ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMAD NUURIKAS SAARI WA MADADIKAL JAARI WAJMA’NII BIHI FI KULLI ATHWAARI WA ‘ALA ALIHI WA SHOHBIHI YANNUUR.

Artinya :
“Ya Alloh, limpahkanlah sholawat dan salam kepada junjungan nabi besar Muhammad, sang cahaya-Mu yang selalu bersinar dan pemberian-Mu yang tak pernah putus dan kumpulkanlah aku dengan Rosululloh di setiap zaman serta sholawat untuk keluarganya dan sahabatnya, wahai sang cahaya.”

Sholawat tersebut di baca 10 x tiap selesai sholat fardhu dan ketika malam menjelang tidur.

Adapun faidahnya antara lain :

Untuk ketenangan batin, terang fikiran, cahaya hati dan fadhilah yg teragung adalah selalu mempunyai hubungan ikatan dan hubungan erat dengan Rosululloh SAW

Tuesday, January 9, 2018

Habib Luthfi Bin Yahya: Perbedaan Antara Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dan Imam Asy-Syadzili

Pustakamuhibbin.club ~ Di dalam kitab Sa’adat ad-Darain, bab keutamaan membaca shalawat, dikisahkan bahwa nanti di Mahsyar Rasulullah Saw. akan dilalaikan untuk memberi syafa’at kepada sebagian umatnya. Waktu itu pun beliau Saw. menyangka semua umatnya telah beliau syafa’ati.

Selang beberapa waktu, ada malaikat yang lapor kepada Nabi Saw. bahwa masih ada sebagian umatnya yang teriak-teriak meminta tolong di neraka. Lalu beliau Saw. pun berdoa memohon kepada Allah agar diberi ijin memberikan syafa’atnya.

Lalu, beliau Saw. juga bertanya, “Ya Allah, mengapa Engkau menjadikanku lalai dari sebagian umatku itu ?”

Allah menjawab, “Benar wahai Muhammad. Engkau Aku jadikan lalai akan mereka sebab mereka dulu di dunia juga sering melalaikanmu dengan tidak membaca shalawat.”

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani pernah dawuh, “Telapak kakiku di atas tengkuk setiap wali, dan tengkukku ada di bawah telapak kaki Rasulullah Saw.”

Sedangkan Syaikh Abul Hasan asy-Syadzili dawuhnya berbeda, yakni, “Telapak kakiku di atas kening setiap wali, dan keningku ada di bawah telapak kaki Rasulullah Saw.”

Demikian itu karena saat Rasulullah Saw. Isra’ dan Mi’raj dan akan naik ke Sidratul Muntaha, beliau Saw. berpijak (bancik; Jawa) pada arwah para wali Quthub. Yang dipijak dari Syaikh Abdul Qadir al-Jailani adalah tengkuknya, sedangkan dari Syaikh Abul Hasan asy-Syadzili adalah keningnya. Sehingga, dawuh beliau berdua berbeda.

(Pengajian Ramadhan Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan, malam Rabu 5 Ramadhan 1438 H/30 Mei 2017 M. Sumber: FP TintaSantri

Monday, November 27, 2017

Sholawat fi hubbi

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّـدْ # يَا رَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan rahmat(Mu) kepada Muhammad # Yaa Rabb, limpahkanlah (pula) shalawat dan salam ke hadirat Beliau.

فِيْ حُبِّ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدْ # نُـوْرٌ لِّبَدْرِ هُدًى مُّتَمَّمْ

Dengan mencintai junjungan kita (Nabi) Muhammad # menjadi sempurnalah nur cahaya hidayah yang (terangnya) laksana bulan purnama.

قَلْبِيْ يَـحِنُّ إِلَى مُحَمَّـدْ # مَا زَالَ فِـيْ وَلَـهٍ مُّتَـيَّمْ

Hatiku (selalu) merindukan Muhammad # (dan hatiku) selalu bersedih menahan kerinduan yang sangat kuat.

مَا لِيْ حَـبِـيْبٌ سِـوَى مُـحَمَّدْ   #  خَـيْرٌ الرُّسُلِ طَـهَ الْمُكَرَّمْ

Aku tak mempunyai kekasih selain Muhammad # (Beliau) adalah sebaik-baik Rasul, yaitu Thaaha yang terhormat.

شَوْقُ الْمُـحِبِّ إِلَى مُحَمَّدْ # أَضْـــنَاهُ ثُـمَّ بِـهِ تَـأَلَّـمْ

Kerinduan seorang pecinta (Muhammad) kepada Muhammad # membuat (beban di) hatinya terasa berat, sehingga ia merasakan kepedihan.

فِى الْحَشْرِ شَافِعُـنَا مُحَمَّدْ  # مُنْجِى الْخَلاَئِقِ مِنْ جَهَنَّمْ

Di padang Mahsyar (nanti), Penolong kami yaitu Muhammad # akan menyelamatkan seluruh makhluk dari neraka jahannam.

مِيْـلاَدُ سَيِّـدِنَا مُحَـمَّـدْ  # أُمُّ الْقُــرَى بَلَـدٌ مُّعَظَّـمْ

Tanah kelahiran junjungan kita Muhammad # terletak di ibukota sebuah negara yang agung (Makkah).

مَـدْفـَانُ سَيِّـدِنَا مُحَـمَّـدْ  #  طَيْبُ الْقُرَى بَلَدٌ مُّفَخَّمْ

Tempat disemayamkannya junjungan kita Muhammad # terletak di kota yang harum  semerbak dari sebuah negara yang mulia (Madinah).

أَحْيَا الدُّجَى زَمَنًا مُّحَمَّدْ  # حَتَّى اشْتَكَتْ قَدَمٌ مُّوَرَّمْ

Muhammad selalu menghidupkan waktu-waktu malamnya (dengan beribadah kepada Allah) # sehingga kaki Beliau merasa kesakitan dan (kemudian) membengkak[1].

لمَـَّا عَــلاَ وَدَنَا مُحَـمَّدْ  #  مَـوْلاَهُ سَـلَّـمَهُ وَكَــلَّـمْ

Ketika Muhammad melakukan mi’raj/naik ke atas (sidratul muntaha) dan mendekat # Tuhannya ‘mengucapkan’ salam serta ‘berbicara’ (kepadanya)[2].

نَدْعُـوْكَ أَحْمَدُ يَامُحَمَّدْ  #  يَا سَـيِّدَ الرُّسُـلِ الْـمُقَدَّمْ

Kami memohon kepadamu wahai Ahmad, wahai Muhammad, # wahai Penghulu para Rasul terdahulu.

إِشْفَعْ اِلَى اللهِ يَـا مُحَـمَّدْ   #  يَـوْمَ الْقِـيَامَـةِ لَنَا نُـنَعَّمْ

Syafa’atilah kami karena Allah, wahai Muhammad # di hari kiamat nanti, sehingga kami bisa memperoleh kenikmatan (surga)[3].

نَرْجُو الشَّـفَاعَةَ مِنْ مُحَمَّدْ  #    لَوْكُنَّا نَرْتَكِبُ  الْـمُحَرَّمْ

Kami mengharap syafa’at dari Muhammad # apabila kami (pernah) melakukan perbuatan yang diharamkan.

مَنْـجَا وَمَلْجَـأُنَا مُـحَمَّدْ  # يَـوْمَ الْهَوَانِ بِهِ تَـحَشَّمْ

Tempat kami mencari keselamatan dan tempat kami berlindung (di hari kiamat nanti) hanyalah pada Muhammad # yaitu, hari yang semua makhluk merasakan malu kepadanya.

وَالنُّـوْرُ جَاءَ بِـهِ مُـحَمَّدْ  # وَالْـحَقُّ بُـيِّنَ إِنْ تَكَلَّمْ

Muhammad datang dengan membawa nur (agama Islam) # Dan ketika Beliau berbicara, menjadi jelaslah perkara yang haq.

“أَعْلَى السَّمَاءِ سَمَا مُحَمَّدْ #  جِبْرِيْلُ قَـالَ لَـهُ: “تَقَـدَّمْ

Langit tertinggi/Sidratul Muntaha (pernah) dinaiki oleh Muhammad (ketika Isra’ Mi’raj) # (pada kesempatan itu) Jibril pun berkata kepada Beliau: “silahkan Anda berangkat (menghadap Allah) sendirian”[4].

وُالْجُـنْدُ حِيْنَ غَزَا مُحَمَّدْ # مِنْهُمْ مَـلاَئِـكَةٌ تُسَـوَّمْ

Bala tentara Muhammad ketika Beliau berperang # di antaranya adalah Malaikat yang dikirim (oleh Allah)[5].

وَالـدِّيْنُ أَظْـهَـرَهُ مُحَمَّدْ  # وَالْكُـفْرُ أَبْـطَلَهُ فَهَـدَّمْ

Agama Islam ditampakkan (secara jelas) oleh Muhammad # sedangkan kekufuran disia-siakan oleh Beliau, untuk kemudian dihancurkan.

أَعْـــمَارُ سَـيِّدِنَا مُـحَمَّدْ  #  سِتُّوْنَ جِيْمٍ مِّنْ مُعَـوَّمْ

Umur dari junjungan kita Muhammad # adalah 63 tahun[6].

صَلَّى اْلإِلَهُ عَلَى مُحَمَّدْ  #   وَاْلأَلِ كُلِّـهِمِ وَسَـلَّــمْ

Semoga Tuhan selalu melimpahkan shalawat dan salam kepada Muhammad # juga kepada seluruh Sahabat-Sahabat Beliau.

صَلَّى اْلإِلَهُ عَلَى مُحَمَّدْ #    وَالصَّحْبِ كُلِّهِمِ وَسَلَّمْ

Semoga Tuhan selalu melimpahkan shalawat dan salam kepada Muhammad # juga kepada seluruh keluarga Beliau.

Sumber: Shalawat Fii Hubbi (complete version) | Buletin Al Fithrah http://buletinalfithrah.com/shalawat-fii-hubbi/#ixzz4zgB9Gdrt

Saturday, November 18, 2017

Hikayah, Bebas Siksa Berkat Sholawat

Hikayah, Bebas Siksa Berkat Sholawat
==============================

حكي ﺃﻥ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﺟﺎئت ﺇﻟﻰ ﺣﺴﻦ ﺍﻟﺒﺼﺮﻯ
Di ceritakan, bahwasannya ada seorang wanita datang mengadu kepada Hasan Basri (tentang putrinya yang sudah tiada).

ﻓﻘﺎﻟﺖ : ﻳﺎ ﺃﺳﺘﺎﺫ ﺇﻥ ﻟﻰ ﺑﻨﺘﺎ ﻣﺎﺗﺖ ﺃﺭﻳﺪ ﺃﻥ ﺃﺭﺍﻫﺎ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ، ﻓﻌﻠﻤﻨﻰ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻮﺍﺹ ﺣﺘﻰ ﺃﺭﺍﻫﺎ
Ia berkata : "Ya Ustadz, aku ingin menjumpai anak putriku yang sudah meninggal dunia lewat mimpi, untuk itu sudilah kiranya Ustadz memberitahuku / mengajariku cara khusus, hingga aku dapat bertemu dengannya dalam mimpiku".

ﻓﻌﻠﻤﻬﺎ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﺮﺃﺕ ﺑﻨﺘﻬﺎ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻭﻋﻠﻴﻬﺎ ﻟﺒﺎﺱ ﻣﻦ ﻗﻄﺮﺍﻥ، ﻭﻓﻰ ﻋﻨﻘﻬﺎ ﻏﻞ، ﻭﻓﻰ ﺭﺟﻠﻴﻬﺎ ﻗﻴﺪ ﻣﻦ ﻧﺎﺭ، ﻓﺎﺳﺘﻴﻘﻈﺖ ﻭﺟﺎﺀﺕ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺒﺼﺮﻯ ﺑﺎﻛﻴﺎ، ﻭﻭﺻﻔﺖ ﻣﺎ ﺭﺃﺗﻪ، ﻓﺒﻜﻰ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻪ
Lalu iapun disuruh bersholawat sekian oleh Hasan Basri, hingga ia dapat bertemu dengan putri kesayangannya di dalam mimpi. Ternyata anak putrinya berpakaian dari leburan timah panas, leher dibelenggu, dan kedua kakinya di ikat dengan tampar api. Lalu wanita/ ibu itu terbangun dari tidurnya dan segera menghadap Hasan Basri, ia ceritakan perihal anak putrinya dalam mimpi sambil menangis. Mendengar demikian Hasan Basri ikut prihatin dan menangis, yang di ikuti oleh kawan-kawannya.

ﺛﻢ ﻣﻀﻰ ﻣﺪﺓ، ﻓﺮﺃﻯ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺒﺼﺮﻯ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﺃﻧﻬﺎ ﻓﻰ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻋﻠﻰ ﺳﺮﻳﺮ، ﻭﻋﻠﻰ ﺭﺃﺳﻬﺎ ﺗﺎﺝ ﻳﻀﺊ ﻣﺎ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﺸﺮﻕ ﻭﺍﻟﻤﻐﺮﺏ
Alkisah, setelah lewat beberapa saat/hari/
minggu, Hasan Basri mimpi bertemu dengan anak putri wanita tersebut, ia sudah berada di surga di atas sebuah tempat tidur, kepalanya bermahkota yang memancarkan sinar kebelahan timur dan barat.

ﻓﻘﺎﻟﺖ : ﻳﺎ ﺃﺳﺘﺎﺫ ﺃﺗﻌﺮﻓﻨﻰ
Lalu iapun menegur Hasan Basri, sahutnya : "Hai Ustadz, kenalkah dengan aku ?".

ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ﻻ
Jawab Hasan Basri : "Tidak".

ﻓﻘﺎﻟﺖ : ﺃﻧﺎ ﺑﻨﺖ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺍﻟﺘﻰ ﻋﻠﻤﺘﻬﺎ ﺍﻟﺼﻼﺓ
Lalu sahutnya : "Akulah anak putri seorang wanita yang minta diajari bersholawat Nabi SAW".

ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ﺑﺄﻯ ﺳﺒﺐ ﻧﻠﺖ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﻨﺰﻝ
Tanya Hasan Basri : "Berkat amal baik apakah sehingga kamu dapati tempat seindah ini".

ﻓﻘﺎﻟﺖ : ﻳﺎ ﺷﻴﺦ ﻣﺮ ﺑﻤﻘﺒﺮﺗﻨﺎ ﺭﺟﻞ، ﻓﺼﻠﻰ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻣﺮﺓ، ﻭﺟﻌﻞ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﻟﻨﺎ، ﻭﻛﺎﻥ ﻓﻰ ﻣﻘﺒﺮﺗﻨﺎ ﺧﻤﺴﻤﺎﺋﺔ ﻭﺧﻤﺴﻮﻥ ﺇﻧﺴﺎﻧﺎ ﻣﻌﺬﺑﻴﻦ، ﻓﻨﻮﺩﻯ ﺍﺭﻓﻌﻮﺍ ﻋﻨﻬﻢ ﺍﻟﻌﺬﺍﺏ ﺑﺒﺮﻛﺔ ﺻﻼﺓ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ
Maka Ia menjawab : "Ya Syeikh, ada seorang pria melintasi kubur kami, kemudian ia bersholawat Nabi 1×, yang pahalanya dikirimkan kepada kami, dan jumlah penghuni kubur kami ini sebanyak 550 orang yang telah di siksa, kemudian terdengar seruan : lepaskanlah siksa mereka itu, berkat sholawat Nabi SAW yang di baca oleh seorang pria".

Sumber : Durrotu Nasihin165
Wallahu A'lam Bish-Showab.

Friday, October 27, 2017

ERUNGKAP TEKA TEKI SIAPA PENYUSUN SHALAWAT NARIYAH

TERUNGKAP TEKA TEKI SIAPA PENYUSUN SHALAWAT NARIYAH
Post: Alvian Iqbal Zahasfan

Alhamdulillah senengnya dapat buku ini "An-Najm Ats-Tsaqib" karya Ibnu Sha'd yg sudah ditahqiq dan dicetak oleh Dr. Addibaji.

Dalam buku inilah tersingkap siapa pengarang Shalawat Nariyah/Taziyah/Tafrijiyah-Qurthubiyah/Kamilah.

Dialah Syekh Ibrahim bin Muhammad bin Ali At-Tazi w. 866 H. Seorang wali besar berasal dari kota Tazah-Maroko. Yang dimakamkan di Zawiyahnya di Wahran/Oran Aljazair (lalu dipindah ke Benteng Bani Rasyid)

Pengarang buku ini adalah murid tidak langsung pengarang Shalawat Nariyah. Bapaknyalah yg muridnya langsung, Muhammad at-Tazi.

Ketika Bapaknya bertemu dg Syekh Ibrahim, beliau menuliskan sebuah shalawat dan titip salam dan mendoakan anaknya.

Nah, shalawat itu ternyata shalawat yg dikenal kemudian dg Shalawat Nariyah. Meskipun harus saya (wallahu a'lam) katakan bahwa redaksi yg beredar sekarang sudah ada tambahan2nya. Dan itu menurutku tdk masalah karena menyempurnakan.

Informasi ini saya dapatkan dari bukunya Syekh Abdullah Al-Ghumari "Al-Hujaj Al-Bayyinat" beliau mengutip dari "Nail Al-Ibtihaj" karya Ahmad Baba At-Timbukti.

Semua ini berkat guru saya Dr. Ayman Al-Akiti alias Raden Mooks hafidzahullah. Jazakumullah Khaira.

Berikut ini saya salinkan tulisan Syekh Ibnu Sha'd:

ولنقتصر على هذه الجملة من أخبار سيدي إبراهيم رحمه الله وفوائده، وإن فاتتني بركة لقائه فلم يفتني صالح دعائه، كان يكتب لوالدي، ويسلم علي، ويدعو لي بما أرجو قبوله بفضل الله تعالى ورحمته. وكان في صدر مكتوبه المبارك لوالدي:

"الحمد لله، اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على نبي تنحل به العقد، وتنفرج به الكرب، وتقضى به الحوائج، وتنال به الرغائب، ويستسقى الغمام بوجهه، وعلى آله وصحبه".

AIZ Rabat, 6 Shafar 1439 H/26 Okt 2017

Wednesday, October 25, 2017

FADHILLAH & KEUTAMAAN RATIB AL HADDAD

FADHILLAH & KEUTAMAAN RATIB AL HADDAD
Fadhilah dan Keutamaan Ratib Al-Haddad

Cerita-cerita yang dikumpulkan mengenai kelebihan RatibAl-Haddad banyak tercatat dalam buku Syarah Ratib Al-Haddad, antaranya:
Telah berkata Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Jufri yang bertempat tinggal di Seiwun (Hadhramaut): “Pada suatu masa kami serombongan sedang menuju ke Makkah untuk menunaikan Haji, bahtera kami terkandas tidak dapat meneruskan perjalanannya kerana tidak ada angin yang menolaknya. Maka kami berlabuh di sebuah pantai, lalu kami isikan gerbah-gerbah (tempat isi air terbuat dari kulit) kami dengan air, dan kami pun berangkat berjalan kaki siang dan malam, kerana kami bimbang akan ketinggalan Haji. Di suatu perhentian, kami cuba meminum air dalam gerbah itu dan kami dapati airnya payau dan masin, lalu kami buangkan air itu. Kami duduk tidak tahu apa yang mesti hendak dibuat.
Maka saya anjurkan rombongan kami itu untuk membaca Ratib Haddad ini, mudah-mudahan Allah akan memberikan kelapangan dari perkara yang kami hadapi itu. Belum sempat kami habis membacanya, tiba-tiba kami lihat dari kejauhan sekumpulan orang yang sedang menunggang unta menuju ke tempat kami, kami bergembira sekali. Tetapi bila mereka mendekati kami, kami dapati mereka itu perompak-perompak yang kerap merampas harta-benda orang yang lalu-lalang di situ. Namun rupanya Allah Ta’ala telah melembutkan hati mereka bila mereka dapati kami terkandas di situ, lalu mereka memberi kami minum dan mengajak kami menunggang unta mereka untuk disampaikan kami ke tempat sekumpulan kaum Syarif* tanpa diganggu kami sama sekali, dan dari situ kami pun berangkat lagi menuju ke Haji, syukurlah atas bantuan Alloh SWT karena berkat membaca Ratib ini.

Cerita ini pula diberitakan oleh seorang yang mencintai keturunan Sayyid, katanya: “Sekali peristiwa saya berangkat dari negeri Ahsa’i menuju ke Hufuf. Di perjalanan itu saya terlihat kaum Badwi yang biasanya merampas hak orang yang melintasi perjalanan itu. Saya pun berhenti dan duduk, di mana tempat itu pula saya gariskan tanahnya mengelilingiku dan saya duduk di tengah-tengahnya membaca Ratib ini. Dengan kuasa Alloh mereka telah berlalu di hadapanku seperti orang yang tidak menampakku, sedang aku memandang mereka.”
Begitu juga pernah berlaku semacam itu kepada seorang alim yang mulia, namanya Hasan bin Harun ketika dia keluar bersama-sama teman-temannya dari negerinya di sudut Oman menuju ke Hadhramaut. Di perjalanan mereka dibajak oleh gerombolan perompak, maka dia menyuruh orang-orang yang bersama-samanya membaca Ratib ini. Alhamdulillah, gerombolan perompak itu tidak mengapa-apakan siapapun, malah mereka berlalu dengan tidak mengganggu.

Apa yang diberitakan oleh seorang Arif Billah Abdul Wahid bin Subait Az-Zarafi, katanya: Ada seorang penguasa yang ganas yang dikenal dengan nama Tahmas yang juga dikenal dengan nama Nadir Syah. Tahmas ini adalah seorang penguasa ajam yang telah menguasai banyak dari negeri-negeri di sekitarannya. Dia telah menyediakan tentaranya untuk memerangi negeri Aughan.
Sultan Aughan yang bernama Sulaiman mengutus orang kepada Imam Habib Abdullah Haddad memberitahunya, bahwa Tahmas sedang menyiapkan tentera untuk menyerangnya. Maka Habib Abdullah Haddad mengirim Ratib ini dan menyuruh Sultan Sulaiman dan rakyatnya membacanya. Sultan Sulaiman pun mengamalkan bacaan Ratib ini dan memerintahkan tenteranya dan sekalian rakyatnya untuk membaca Ratib i ini dengan bertitah: “Kita tidak akan dapat dikuasai Tahmas kerana kita ada benteng yang kuat, iaitu Ratib Haddad ini.” Benarlah apa yang dikatakan Sultan Sulaiman itu, bahwa negerinya terlepas dari penyerangan Tahmas dan terselamat dari angkara penguasa yang ganas itu dengan sebab berkat Ratib Haddad ini.

Saudara penulis Syarah Ratib Al-Haddad ini yang bernama Abdullah bin Ahmad juga pernah mengalami peristiwa yang sama, yaitu ketika dia berangkat dari negeri Syiher menuju ke bandar Syugrah dengan kapal, tiba-tiba angin macet tiada bertiup lagi, lalu kapal itu pun terkandas tidak bergerak lagi. Agak lama kami menunggu namun tidak berhasil juga. Maka saya mengajak rekan-rekan membaca Ratib ini , maka tidak berapa lama datang angin membawa kapal kami ke tujuannya dengan selamat dengan berkah membaca Ratib ini.

Suatu pengalaman lagi dari Sayyid Awadh Barakat Asy-Syathiri Ba’alawi ketika dia belayar dengan kapal, lalu kapal itu telah tersesat jalan sehingga membawanya terkandas di pinggir sebuah batu karang. Ketika itu angin juga macet tidak dapat menggerakkan kapal itu keluar dari bahayanya. Kami sekalian merasa bimbang, lalu kami membaca Ratib ini dengan niat Alloh akan menyelamatkan kami. Maka dengan kuasa Alloh SWT datanglah angin dan menarik kami keluar dari tempat itu menuju ke tempat tujuan kami.
Maka kerana itu saya amalkan membaca Ratib ini. Pada suatu malam saya tertidur sebelum membacanya, lalu saya bermimpi Habib Abdullah Haddad datang mengingatkanku supaya membaca Ratib ini, dan saya pun tersadar dari tidur dan terus membaca Ratib Haddad itu.

Di antaranya lagi apa yang diceritakan oleh Syeikh Allamah Sufi murid Ahmad Asy-Syajjar, iaitu Muhammad bin Rumi Al-Hijazi, dia berkata: “Saya bermimpi seolah-olah saya berada di hadapan Habib Abdullah Haddad, penyusun Ratib ini. Tiba-tiba datang seorang lelaki memohon sesuatu daripada Habib Abdullah Haddad, maka dia telah memberiku semacam rantai dan sayapun memberikannya kepada orang itu.
Pada hari besoknya, datang kepadaku seorang lelaki dan meminta daripadaku ijazah (kebenaran guru) untuk membaca Ratib Haddad ini, sebagaimana yang diijazahkan kepadaku oleh guruku Ahmad Asy-Syajjar. Aku pun memberitahu orang itu tentang mimpiku semalam, yakni ketika saya berada di majlis Habib Abdullah Haddad, lalu ada seorang yang datang kepadanya. Kalau begitu, kataku, engkaulah orang itu.”
Dari kebiasaan Syeikh Al-Hijazi ini, dia selalu membaca Ratib Haddad ketika saat ketakutan baik di siang hari mahupun malamnya, dan memang jika dapat dibaca pada kedua-dua masa itulah yang paling utama, sebagaimana yang dipesan oleh penyusun Ratib ini sendiri.
Ada seorang dari kota Quds (Syam) sesudah dihayatinya sendiri tentang banyak kelebihan membaca Ratib ini, dia lalu membuat suatu ruang di sudut rumahnya yang dinamakan Tempat Baca Ratib, di mana dikumpulkan orang untuk mengamalkan bacaan Ratib ini di situ pada waktu siang dan malam.

Di antaranya lagi, apa yang diberitakan oleh Sayyid Ali bin Hassan, penduduk Mirbath, katanya: “Sekali peristiwa aku tertidur sebelum aku membaca Ratib, aku lalu bermimpi datang kepadaku seorang Malaikat mengatakan kepadaku: “Setiap malam kami para Malaikat berkhidmat buatmu begini dan begitu dari bermacam-macam kebaikan, tetapi pada malam ini kami tidak membuat apa-apa pun karena engkau tidak membaca Ratib. Aku terus terjaga dari tidur lalu membaca Ratib Haddad itu dengan serta-merta.

Setengah kaum Sayyid bercerita tentang pengalamannya: “Jika aku tertidur ketika aku membaca Ratib sebelum aku menghabiskan bacaannya, aku bermimpi melihat berbagai-bagai hal yang mengherankan, tetapi jika sudah menghabiskan bacaannya, tidak bermimpi apa-apa pun.”

Di antara yang diberitakan lagi, bahawa seorang pecinta kaum Sayyid, Muhammad bin Ibrahim bin Muhammad Mughairiban yang tinggal di negeri Shai’ar, dia bercerita: “Dari adat kebiasaan Sidi Habib Zainul Abidin bin Ali bin Sidi Abdullah Haddad yang selalu aku berkhidmat kepadanya tidak pernah sekalipun meninggalkan bacaan Ratib ini. Tiba-tiba suatu malam kami tertidur pada awal waktu Isya’, kami tidak membaca Ratib dan tidak bersembahyang Isya’, semua orang termasuk Sidi Habib Zainul Abidin. Kami tidak sedarkan diri melainkan di waktu pagi, di mana kami dapati sebagian rumah kami terbakar.

Kini tahulah kami bahwa semua itu berlaku karena tidak membaca Ratib ini. Sebab itu kemudian kami tidak pernah meninggalkan bacaannya lagi, dan apabila sudah membacanya kami merasa tenteram, tiada sesuatupun yang akan membahayakan kami, dan kami tidak bimbang lagi terhadap rumah kami, meskipun ia terbuat dari dedaunan korma, dan bila kami tidak membacanya, hati kami tidak tenteram dan selalu kebimbangan.”

Saya rasa cukup dengan beberapa cerita yang saya sampaikan di sini mengenai kelebihan Ratib ini dan anda sendiri dapat meneliti , sehingga Sidi Habib Muhammad bin Zain bin Semait sendiri pernah mengatakan dalam bukunya Ghayatul Qasd Wal Murad, bahawa roh Saiyidina penyusun Ratib ini akan hadir apabila dibaca Ratib ini, dan di sana ada lagi rahasia-rahasia kebatinan yang lain yang dapat dicapai ketika membacanya dan ini adalah mujarab dan benar-benar mujarab, tidak perlu diragukan lagi.
Berkata Habib Alwi bin Ahmad, penulis Syarah Ratib Al-Haddad: “Siapa yang melarang orang membaca Ratib ini dan juga wirid-wirid para salihin, niscaya dia akan ditimpa bencana yang berat daripada Allah Ta’ala, dan hal ini pernah berlaku dan bukan omong-omong kosong.”
Berkata Sidi Habib Muhammad bin Zain bin Semait Ba’alawi di dalam kitabnya Ghayatul Qasd Wal Murad: Telah berkata Saiyidina Habib Abdullah Haddad: “Siapa yang menentang atau membangkang orang yang membaca Ratib kami ini dengan secara terang-terangan atau disembunyikan pembangkangannya itu akan mendapat bencana seperti yang ditimpa ke atas orang-orang yang membelakangi zikir dan wirid atau yang lalai hati mereka dari berzikir kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingatiKu, maka baginya akan ditakdirkan hidup yang sempit.” ( Thaha: 124 )
Allah berfirman lagi: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingati Tuhan Pemurah, Kami balakan baginya syaitan yang diambilnya menjadi teman.”
( Az-Zukhruf: 36 )
Allah berfirman lagi: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingai Tuhannya, Kami akan menurukannya kepada siksa yang menyesakkan nafas.” ( Al-Jin: 17)
Apa lagi yang hendak diterangkan mengenai Ratib ini untuk mendorong anda supaya melazimkan diri mengamalkan bacaannya setiap hari, sekurang-kurangnya sehari setiap malam, mudah-mudahan anda akan terbuka hati untuk melakukannya dan mendapat faedah daripada amalan ini.
Ya Allah, curahkan dan limpahkanlah keridhoan atasnya dan anugerahilah kami dengan rahasia-rahasia yang Engkau simpan padanya, Amin
Dipetik dari: Syarah Ratib Haddad: Analisa Dan Komentar – karangan Syed Ahmad Semait, terbitan Pustaka Nasional Pte. Ltd.

Friday, October 6, 2017

SHOLAWAT ORANG SHOLIH

SHOLAWAT ORANG SHOLIH

Dahulu ada seorang lelaki sholih bercerita:

Saya pernah keluar pada musim semi lalu saya membaca sholawat:

"Ya Allah, sholawatkan untuk Nabi Muhammad sejumlah dedaunan di pohon-pohon. Sholawatkan untuk Nabi Muhammad sejumlah bebungaan dan bebuahan. Sholawatkan untuk Nabi Muhammad sejumlah tetesan air laut. Sholawatkan untuk Nabi Muhammad sejumlah pasir di bumi. Sholawatkan untuk Nabi Muhammad sejumlah apa saja yang ada di daratan dan di lautan."

Tiba-tiba saya mendengar sebuah suara berbunyi, "Kamu telah membuat para malaikat lelah dalam menulis pahala bacaan yang kamu baca tadi sampai akhir zaman dan usia. Kamu telah berhak mendapatkan karunia dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengampun berupa taman-taman Eden. Itulah tempat tinggal terbaik."

Sumber: "Nuzhatul Majalis" karangan Ash Shofuri.

قال بعض الصالحين خرجت أيام الربيع فقلت اللهم صل على محمد عدد أوراق الأشجار وصل على محمد عدد الأزهار والثمار وصل على محمد عدد قطر البحار وصل على محمد عدد رمل القفار وصل على محمد عدد ما في البر والبحار فهتف بي هاتف أتعبت الحفظة في كتابة ثواب ما قلت إلى آخر الدهر والأعمار واستوجبت من الكريم الغفار جنات عدن فنعم عقبى الدار

Tuesday, October 3, 2017

KAROMAH SHALAWAT BADAR MENGALAHKAN LAGU SIHIR GENJER-GENJER PKI

"KAROMAH SHALAWAT BADAR MENGALAHKAN LAGU SIHIR GENJER-GENJER PKI"

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Shalawat Badar adalah “Lagu Wajib” Nahdlatul Ulama.
Berisi puji-pujian kepada Rasulullah ﷺ dan Ahli Badar (Para Sahabat yang syahid dalam Perang Badar). Berbentuk Syair, dinyanyikan dengan lagu yang khas.

Shalawat Badar digubah oleh Kiai Ali Mansur Banyuwangi,
salah seorang cucu dari KH. Muhammad Shiddiq Jember tahun 1960.
Kiai Ali Mansur saat itu menjabat Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi,
sekaligus menjadi Ketua PCNU di tempat yang sama.
Proses terciptanya Shalawat Badar penuh dengan misteri dan teka-teki.
Konon, pada suatu malam, Kiai Ali Mansur tidak bisa tidur.
Hatinya merasa gelisah karena terus menerus memikirkan situasi politik yang
semakin tidak menguntungkan NU.
Orang-orang PKI semakin leluasa mendominasi kekuasaan dan berani membunuh kiai-kiai di pedesaan. Karena memang kiai-lah pesaing utama PKI saat itu.
Sambil merenung, Kiai Ali Mansur terus memainkan penanya diatas kertas,
menulis syair-syair dalam bahasa arab.
Dia memang dikenal mahir membuat syair sajak ketika masih belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri.

Kegelisahan Kiai Ali Mansur berbaur dengan rasa heran,
karena malam sebelumnya bermimpi didatangi para habib berjubah putih-hijau.
Semakin mengherankan lagi, karena pada saat yang sama istrinya bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ.

Keesokan harinya mimpi itu ditanyakan pada Habib Hadi Al-Haddar Banyuwangi.
Habib Hadi menjawab:
“ Itu Ahli Badar, ya Akhy.”
Kedua mimpi aneh dan terjadi secara bersamaan itulah yang mendorong dirinya menulis syair,
yang kemudian dikenal dengan Shalawat Badar.

Keheranan muncul lagi karena keesokan harinya banyak tetangga yang datang kerumahnya
sambil mebawa beras, daging, dan lain sebagainya,
layaknya akan mendatangi orang yang akan punya hajat mantu.
Mereka bercerita, bahwa pagi-pagi buta pintu rumah mereka didatangi orang berjubah putih yang memberitahukan bahwa dirumah Kiai Ali Mansur akan ada kegiatan besar.
Mereka diminta membantu.
Maka mereka pun membantu sesuai dengan kemampuannya.

“Siapa orang yang berjubah putih itu?”
Pertanyaan itu terus mengiang-ngiang dalam benak Kiai Ali Mansur tanpa jawaban.
Namun malam itu banyak orang bekerja di dapur untuk menyambut kedatangan tamu,
yang mereka sendiri tidak tahu siapa, dari mana dan untuk apa.?
Menjelang matahari terbit, serombongan habib berjubah putih-hijau dipimpin oleh
Habib Ali bin Abdurrahman al- Habsyi dari Kwitang Jakarta, datang kerumah Kia Ali Mansur.

“Alhamdulillah………,” ucap kiai Ali Mansur ketika melihat rombongan yang datang adalah
para habaib yang sangat dihormati keluaganya.

Setelah berbincang basa-basi sebagai pengantar, membahas perkembangan PKI dan kondisi politik nasional yang semakin tidak menguntungkan,
Habib Ali menanyakan topik lain yang tidak diduga oleh Kiai Ali Mansur:
“Ya Akhy!
Mana Syair yang ente buat kemarin?
Tolong ente bacakan dan lagukan di hadapan kami-kami ini!”

Tentu saja Kiai Ali Mansur terkejut, sebab Habib Ali tahu apa yang dikerjakannya semalam.
Namun ia memaklumi, mungkin itulah karomah yang diberikan ALLAH kepadanya.
Sebab dalam dunia kewalian, pemandangan seperti itu bukanlah perkara aneh dan perlu dicurigai.

Segera saja Kiai Ali Mansur mengambil kertas yang berisi Shalawat Badar hasil gubahannya semalam, lalu melagukannya dihadapan mereka.
Secara kebetulan Kiai Ali Mansur juga memiliki suara bagus.
Ditengah alunan suara Shalawat Badar itu para Habaib mendengarkannyadengan khusyuk.
Tak lama kemudian mereka meneteskan air mata karena haru.
Selesai mendengarkan Shalawat Badar yang dikumandangkan oleh Kiai Ali Mansur,
Habib segera bangkit.
“Ya Akhy….!
Mari kita perangi genjer-genjer PKI itu dengan Shalawat Badar…!” serunya dengan nada mantap.

Setelah Habib Ali memimpin doa, lalu rombongan itu mohon diri.
Sejak saat itu terkenallah Shalawat Badar sebagai bacaan warga NU untuk
membangkitkan semangat melawan orang-orang PKI.
Untuk lebih mempopulerkannya, Habib Ali mengundang para habib dan ulama
(termasuk Kiai Ali Mansur dan KH. Ahmad Qusyairi, paman Kiai Ali Mansur) ke Jalan Kwitang, Jakarta.
Di forum istimewa itulah Shalawat Badar dikumandangkan.

والله أعلمُ بالـصـواب

TEKS SHOLAWAT BADAR

صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى طـهَ رَسُـوْلِ اللهِ
Shalaatullaah Salaamul laah ‘Alaa Thaaha Rasuulillaah

صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى يـس حَبِيْـبِ اللهِ
Shalaatullaah Salaamullah ‘Alaa Yaa Siin Habiibillaah

تَوَ سَـلْنَا بِـبِـسْـمِ اللّهِ وَبِالْـهَادِى رَسُـوْلِ اللهِ
Tawassalnaa Bibismi llaah Wabil Haadi Rasuulillaah

وَ كُــلِّ مُجَـا هِـدِ لِلّهِ بِاَهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
Wakulli Mujaahidin Lillaah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

اِلهِـى سَـلِّـمِ اْلاُمـَّة مِـنَ اْلافـَاتِ وَالنِّـقْـمَةَ
llaahi Sallimil Ummah Minal Aafaati Wanniqmah

وَمِنْ هَـمٍ وَمِنْ غُـمَّـةٍ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
Wamin Hammin Wamin Ghummah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

اِلهِى نَجِّـنَا وَاكْـشِـفْ جَـمِيْعَ اَذِ يـَّةٍ وَا صْرِفْ
Ilaahi Najjinaa Waksyif Jamii’a Adziyyatin Wahrif

مَـكَائـدَ الْعِـدَا وَالْطُـفْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
Makaa idal ‘idaa wal thuf Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

اِلهِـى نَـفِّـسِ الْـكُـرَبَا مِنَ الْعَـاصِيْـنَ وَالْعَطْـبَا
llaahi Naffisil Kurbaa Minal’Ashiina Wal’Athbaa

وَ كُـلِّ بـَلِـيَّـةٍ وَوَبـَا بِاَهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
Wakulli Baliyyatin Wawabaa Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

فَكَــمْ مِنْ رَحْمَةٍ حَصَلَتْ وَكَــمْ مِنْ ذِلَّـةٍ فَصَلَتْ
Wakam Min Rahmatin Washalat Wakam Min Dzillatin Fashalat

وَكَـمْ مِنْ نِعْمـَةٍ وَصَلَـتْ بِاَهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
Wakam Min Ni’matin Washalat Bi Ahlil Bailri Yaa Allaah

وَ كَـمْ اَغْـنَيْتَ ذَالْعُـمْرِ وَكَـمْ اَوْلَيْـتَ ذَاالْفَـقْـرِ
Wakam Aghnaita Dzal ‘Umri Wakam Autaita D’Zal Faqri

وَكَـمْ عَافَـيـْتَ ذِاالْـوِذْرِ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
Wakam’Aafaita Dzal Wizri Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

لَـقَدْ ضَاقَتْ عَلَى الْقَـلْـبِ جَمِـيْعُ اْلاَرْضِ مَعْ رَحْبِ
Laqad Dlaaqat’Alal Oalbi Jamii’ul Ardli Ma’ Rahbi

فَانْـجِ مِنَ الْبَلاَ الصَّعْـبِ بِاَهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
Fa Anji Minal Balaas Sha’bi Bi Ahlil Badri Yaa A,llaah

ا َتَيـْنَا طَـالِـبِى الرِّفْـد وَجُـلِّ الْخَـيْرِ وَالسَّـعْدِ
Atainaa Thaalibir Rifdi Wajullil Khairi Was Sa’di

فَوَ سِّـعْ مِنْحَـةَ اْلاَيـْدِىْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
Fawassi’ Minhatal Aidii Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

فَـلاَ تَرْدُدْ مَـعَ الْخَـيـْبَةْ بَلِ اجْعَلْـنَاعَلَى الطَّيْبـَةْ
Falaa Tardud Ma’al Khaibah Balij’Alnaa’Alath Thaibah

اَيـَا ذَاالْعِـزِّ وَالْهَـيـْبَةْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
Ayaa Dzal ‘lzzi Wal Haibah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

وَ اِنْ تَرْدُدْ فَـمَنْ نَأْتـِىْ بِـنَيـْلِ جَمِيـْعِ حَاجَا تِى
Wain Tardud Faman Ya-Tii Binaili Jamii’i Haajaati

اَيـَا جَـالِى الْمُـلِـمـَّاتِ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
Ayaa jalail mulimmaati Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

اِلهِـى اغْفِـرِ وَاَ كْرِ مْنَـا بِـنَيـْلِ مـَطَا لِبٍ مِنَّا
llaahighfir Wa Akrimnaa Binaili Mathaalibin Minnaa

وَ دَفْـعِ مَسَـاءَةٍ عَـنَّا بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
Wadaf i Masaa-Atin ‘Annaa Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

اِلهِـى اَنـْتَ ذُوْ لُطْـفٍ وَذُوْ فَـضْلٍ وَذُوْ عَطْـفٍ
llaahii Anta Dzuu Luthfin Wadzuu Fadl-Lin Wadzuu ‘Athfin

وَكَـمْ مِنْ كُـرْبـَةٍ تَنـْفِىْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
Wakam Min Kurbatin Tanfii Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

وَصَلِّ عَـلَى النـَّبِىِّ الْبَـرِّ بـِلاَ عَـدٍّ وَلاَ حَـصْـرِ
Washalli ‘Alan Nabil Barri Bilaa ‘Addin Walaa Hashri

وَالِ سَـادَةٍ غُــــرِّ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
Wa Aali Saadatin Ghurri Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

Silahkan share

Sumber :
Ariyana Wahidah (Pengurus Bidang organisasi PP Muslimat NU)

Saturday, August 19, 2017

SHOLAWAT MUSTAJAB Al-Imam Al Quthub Al Habib Ali Bin Muhammad Al Habsy (Mualif Simthud Duror)

SHOLAWAT MUSTAJAB Al-Imam Al Quthub Al Habib Ali Bin Muhammad Al Habsy (Mualif Simthud Duror)

"Ini salah satu sholawat yang sering saya baca terutama ketika dalam keadaan susah hati dan sempit. Belakangan ini saya punya rencana untuk bikin pagar rumah yang saya tempati. Tapi banyak sekali kendalanya. Kadang duit ada tapi lupa rencana. Duit ga ada .. eh malah ingat semua apa yang di hajatkan.
Lalu saya tekatkan .. pokoknya dalam bulan bulan ini pagar rumah harus sudah jadi ... !!!"

"Seperti biasa, riyadhoh adalah jalan keluar bagi saya. Pilihan saya jatuh kepada sholawat ini. Lalu saya pun mulai mendawamkan. Tetapi belum riyadhoh secara khususon. Masih di baca ba'da sholat fardhu dan di jadikan hiasan bibir."

"Kemaren saya mengalami kejadian unik. Pulang dari antar anak sekolah, saat mau sampe rumah saya di panggil si Anton. Tetangga saya. Dia bilang mau batu bata ga bang ? katanya dia mau pesan bata. Karena dengar saya mau bikin pagar dia inisiatif pesankan buat saya juga. Waaah .. saya bilang " ton, sekarang lagi ga pegang duit !"
Tetangga saya bilang " udah ga apa apa bang, saya dulu yang tomboki ga masalah"
kaget saya tapi mau bilang apa selain Alhamdulillah. Belum selesai itu, jam 11 siang saya di telpon lagi sama si Anton. Sekali ini nawari kayu. Dia beli kayu papan ( saya lupa namanya ) tebal 3 cm. Kayu papan nya berat sekali. Dia bilang " bang .. ini ada papan bagus. saya beli Rp 1.900.000. Kalo abang mau kasih aja saya Rp 500.000 untuk 1 kubiknya."
" wahahahah .. ya mau banget doang kata saya. Tapi ga ada uangnya kalo bayar sekarang" kata saya
" udah .. gampang itu belakangan aja"
Walhasil pukul satu siang itu, batu bata sebanyak 5.000 buah dan 1 kubik kayu bagus sudah nongkrong depan rumah saya .. Alhamdulillah .. semuanya dapat hutangan gratis.

Ini sholawat yang saya maksud. Silahkan kalo mau di amalkan. Di nukil dari Quthub masanya – Al-Habib Ali Bin Muhammad Al-Habsy –

Nafa’anallahu Bihi – Saya jelaskan ini Mujarab. Alhamdulillah

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَـسِّرْليِ أَمْرِي، بِحَقِّ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ.
Robbisy-syrohli shodri wa yassir lii amri, bi haqqi sayyidina muhammadin shalallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallama. 

Sumber dan pengalaman: Ustadz Abie Rahman Hasyim, silahkan bagi yang mau mengamalkan. Mangkusss...!!!

Copas dari wall Tuan Guru Tengku Mudo Al-Khalidi

Wallahualam
Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa'ala alihi washohbihi wasalim

Silahkan tag & share