Showing posts with label ulama. Show all posts
Showing posts with label ulama. Show all posts

Friday, August 2, 2024

Catatan sejarah pendirian NU

Beberapa Catatan Penting Sejarah pendirian NU dalam Kesaksian Kiai As'ad Syamsul Arifin.

Tulisan panjang di bawah ini, saya resume dari pidato Kiai As'ad Syamsul Arifin yang berbahasa Madura tentang proses pendirian Nahdlatul Ulama.

--Audiensi para Kiai kepada Kiai Muntaha, Menantu Kiai Khalil Bangkalan tentang adanya gerakan anti ulama salaf.

Kira-kira pada tahun 1920, Kiai Muntaha Bangkalan, menantu Kiai Khalil, kedatangan tamu terdiri dari 66 ulama seluruh Indonesia. Tujuan mereka adalah agar Kiai Muntaha berkenan untuk menjadi “penyambung lidah” antara mereka dengan Kiai Khalil, mahaguru ulama Nusantara itu.  

Kepada Kiai Muntaha, para kiai itu bercerita bahwa saat ini ada pihak yang sangat anti pada ulama salaf, tidak senang dengan karya ulama salaf dan menurut mereka yang bisa diikuti hanya al-Quran dan Hadis saja. Isu inilah yang hendak dikonsultasikan ke Kiai Khalil.

--Pertemuan Para Kiai di kediaman Kiai Alwi Abd. Aziz, Kawatan, Surabaya.

Pada tahun 1921 atau 1922, ulama se-Jawa terdiri dari 46 orang berkumpul di Kawatan Surabaya, kediaman Kiai Alwi Abd. Aziz membahas terkait pendirian Jam’iyah. Beberapa nama yang disebut Kiai As’ad di antaranya; Kiai Syamsul Arifin, Sukorejo, Kiai Hasan, Genggong, Kiai Sidogiri (entah siapa yg dimaksud), Kiai Saleh Lateng, Kiai Asnawi Kudus, Kiai Tahir Bungkuk, kiai-kiai dari Jombang.

Pertemuan ini tidak menghasilkan apa-apa kecuali hanya beberapa ide-ide misalnya seperti, tidak perlu membuat organisasi baru, cukup organisasi yang ada saja direvitalisasi. Ada juga usulan untuk segera melahirkan organisasi baru.

Kebuntuan berfikir ini terus berlangsung sampai awal-awal tahun 1923. Di sisi lain, gerakan wahabisme sudah mulai merajalela di mana-mana. Dan mereka gencar menolak amaliyah-amaliyah orang pesantren, seperti tabarruk, tawassul dan lain.

Catatan Manuskrip Sunan Ampel

Setelah menceritakan kisah di atas, Kiai As’ad mengisahkan bahwa ada seorang kiai menyampaikan sebuah sejarah pada Kiai Khalil yang didasarkan pada tulisan Sunan Ampel. Isinya adalah; ketika Sunan Ampel ngaji dan berada di Madinah, Sunan Ampel pernah bermimpi nabi dan nabi berpesan agar Islam Ahlussunnah Waljamaah dibawa hijrah ke Indonesia, sebab di tanah asalnya ia sudah tidak berdaya. Dan perlu diketahui bahwa di zaman itu belum ada wahabi.

--Istikharah di Maqbarah Walisongo dan Nabi Muhammad Saw.

Temuan manuskrip tersebut justru membuat para kiai merasa berat, belum menemukan solusi.

Ketika kondisi seperti ini, ada 4 kiai ditugaskan untuk istikharah di maqbarah para sunan selama 40 hari. Ada juga yang ditugaskan untuk istikharah di Madinah, maqbarah Nabi Muhammad Saw.

Di akhir, tahun 1923, semua petugas istikharah melakukan pertemuan untuk melaporkan hasil istikharah mereka. Dan menurut Kiai As’ad, laporan ini tertulis dan naskahnya ada. Kiai As’ad tidak memastikan, siapa yang menyimpan hasil pertemuan ini. “Insyaallah, badha (ada)...”, ujar Kiai As’ad.

--1924 Kiai As’ad dipanggil Kiai Khalil Bangkalan

Karena belum menemukan jalan keluar, pada tahun 1924 Kiai As’ad yang saat itu sedang belajar di Bangkalan dipanggil oleh Kiai Khalil. Kiai Khalil berkata pada Kiai As’ad:

“Lagguna be’en entar ka Hasyim Asy’ari, Jombang”, “Besok pergi ke Hasyim Asy’ari, Jombang..”. Dalam perjalanan ke Jombang ini, Kiai Khalil menitipkan tongkat dan sebuah ayat yang berbunyi:

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَامُوسَى (17) قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى (18) قَالَ أَلْقِهَا يَامُوسَى (19) فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى (20) قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى (21)

"Dan apakah yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?", (17) Dia (Musa) berkata, "Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain." (18), Dia (Allah) berfirman, "Lemparkanlah ia, wahai Musa!" (19), Lalu (Musa) melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. (20) Dia (Allah) berfirman, "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, (21)”. (Qs. Thaha: 17-21)

Singkat cerita, sesampainya di Jombang Kiai As’ad ditemui langsung oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Pada momen ini, Kiai Hasyim bertanya latar belakang Kiai As’ad dan ternyata, Kiai As’ad memiliki hubungan keluarga dengan Kiai Hasyim lewat jalur ibu beliau yang bernama Nyai Maimunah (maqbarah ibunda Kiai As’ad ada di Talangsiring Pamekasan).

Setelah itu, Kiai As’ad menyampaikan titipan Kiai Khalil berupa tongkat. Bagaimana respons Kia Hasyim? Kata Kiai As’ad, ketika pertama kali mendengar ada titipan tongkat, Kiai Hasyim kaget penuh heran bertanya-tanya.

Dan beliau tidak segera menerima tongkat tersebut. Lalu Kiai As’ad meneruskan obrolan dengan membacakan surat Thaha di atas yang dibacakan oleh Kiai Khalil.

Setelah selesai membacakan surat tersebut, dengan penuh haru Kiai Hasyim Asy’ari merespons:

“Alhamdulillah, cong, engkok tolos mabadha jam’iyah Ulama, tolos mabadha jam’iyah ulama, tolos engkok, kalabhan tongket reya, areya tongket nabi Musa ebaghi ka engkok bhik Kiai Khalil”... artinya, “Alhamdulillah, nak, saya jadi mendirikan Jam’iyah Ulama, jadi mendirikan Jam’iyah Ulama, saya jadi mendirikan dengan (isyarah) tongkat ini. Ini tongkat nabi Musa diberikan ke saya oleh Kiai Khalil”...

Pada waktu itu, menurut Kiai As’ad belum ada nama Nahdlatul Ulama. Kiai Hasyim menggunakan term “Jam’iyah Ulama...”. Kemudian Kiai As’ad pamit dan sebelum pamit beliau minta didoakan pada Kiai Hasyim. Dan sebelum benar-benar pergi, Kiai Hasyim sekali lagi menitipkan salam untuk Syaikhana Khalil, berupa kabar bahwa sebentar lagi akan didirikan Jam’iyah ulama.

--Kiai As’ad kembali Dipanggil Kiai Khalil

Pada akhir tahun 1924, Kiai As’ad dipanggil kembali oleh Kiai Khalil. Pada waktu, Kiai As’ad masih sebagai santri di Bangkalan. Panggilan yang kedua ini Kiai As’ad ditugas untuk kembali ke Tebuireng.

Jika sebelumnya membawa tongkat misi kali ini diperintah membawa tasbih. Bukan hanya tasbih, Kiai Khalil juga menitipkan dua asmaul husna; Ya Jabbar, Ya Qahhar. Satu bacaan satu putaran, begitupula bacaan satunya. Lalu Kiai As’ad menjulurkan kepalanya agar tasbih yang dimaksud dikalungkan saja.

Sebagaimana kisah pertama, bahwa selama perjalanan beliau menjadi sorotan banyak mata; ada yang meledek sebagai orang gila sebab ia masih muda tetapi sudah pakai tongkat dan kedua kalinya berkalung tasbih, ada juga yang menganggap beliau wali karena penampilannya aneh.

Yang menarik disampaikan juga bahwa; selama menjalankan tugas-tugas berat ini, Kiai As’ad berpuasa sepanjang Bangkalan-Tebuireng; ia tidak makan, tidak minum, tidak merokok bahkan selama perjalan beliau tidak berbicara pada siapapun. Jadi beliau “puasa” bicara. Karena sedang membawa amanat kiai. Kata Kiai As’ad, “Sebelum bertemu dengan Kiai Hasyim saya tidak akan berbicara dengan siapapun”.

Sesampainya di Tebuireng, Kiai As’ad melaporkan amanatnya berupa titipan tasbih. Kiai Hasyim dawuh:

“Masyaallah, masyaallah, engkok ekemani ongghu bhik ghuru...”, artinya, “Masyallah, masyaallah, saya disayang betul sama guru saya...”.

Dan betapa kagetnya, saat Kiai Hasyim tahu bahwa tasbih yang dimaksud ada di leher Kiai As’ad. Jadi, Kiai As’ad tidak menyentuh tasbih tersebut. Di Bangkalan dipasang langsung oleh Kiai Khalil dan di Jombang diambil langsung oleh Kiai Hasyim. Lalu Kiai As’ad membacakan dua lafadz Asmaul Husna yang juga dititipkan mengiringi tasbih tersebut. Kiai Hasyim merespons:

“Sapa se bengal ka NU ancor, karena jam’iyah ulama, ancor...” artinya, “Siapa yang berani (kurang ajar) kepada NU akan hancur, sebab (ini) adalah jam’iyah ulama”.

--1925 Kiai Khalil Bangkalan Wafat

Tahun 1925 bertepatan dengan tanggal 29 Ramadan, mahaguru ulama Nusantara, Syaikhana Khalil Bangkalan wafat. Kata Kiai As’ad, info kewafatan Kiai Khalil terjadi kehebohan luar biasa di publik luas. Umat seperti kehilangan pelita yang selama ini menyinari bumi Nusantara.

--1926 NU resmi berdiri

Bertepatan pada bulan Rajab tahun 1926 Nahdlatul Ulama resmi berdiri. Tahun ini semua kebutuhan NU sebagai organisasi disusun satu persatu. Kiai As’ad menyebut nama Kiai Dahlan, Nganjuk, sebagai sosok yang menyusun anggaran dasar rumah tangga organisasi. Lalu ada beberapa pertemuan ulama untuk mendelegasikan utusan ke Gubernur termasuk Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Tulisan lebih lengkap silahkan baca di kanal: https://arina.id/khazanah/ar-nIOFK/memahami-sejarah-berdirinya-nu-dari-kiai-as-ad-syamsul-arifin.

Penutup

Kisah di atas, adalah beberapa poin yang bisa saya tangkap dari rekaman sejarah pendirian Nahdlatul Ulama oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin, pelaku langsung pendirian NU yang bukti kesaksiannya terekam dengan baik dan tersimpan di Youtube atau di pondok Sukorejo. 

Tabik
Ahmad Husain Fahasbu

Sunday, September 3, 2023

Fakta-fakta tentang al-Imam al-Ghazali yang jarang diketahui orang

Fakta-fakta tentang al-Imam al-Ghazali yang jarang diketahui orang. Kalau Gus Ulil Abshar Abdalla pasti sudah tahu:

1. ia pakar perbandingan agama. Dalam bidang ini al-Ghazali menulis kitab: al-Radd al-Jamil Li Ilahiyati Isa Bi Sharih al-Injil (Counter wacana yang baik untuk Ketuhanan Isa Perspektif Kitab Injil)

2. Dia tidak memiliki anak laki-laki tetapi nama kunyahnya adalah Abu Hamid (bapaknya Hamid). Kata Ulama kenapa mendapat panggilan ini sebab banyak mengucap hamdalah atau karena alasan tafaulan.

3. Sosok ulama multilangual (menguasai beberapa bahasa). al-Ghazali bukan hanya menguasai bahasa arab tetapi juga persia. Bukunya yang berjudul: al-Tibr al-Masbuq fi Nashihah al-Muluk yang berisi pandangan al-Ghazali tentang Politik dan Pemerintahan berbahasa Persia. Sekarang yang kita baca sudah versi terjemah dalam bahasa Arab. Konon ia juga menguasai bahasa Ibrani alasannya dalam kitab al-Radd al-Jamil, ia banyak mengadaptasi bahasa Ibrani.

4. Pernah dipuji gurunya. saat al-Ghazali merilis kitab al-Mankhul min Ta'liqah al-Ilm al-Ushul ia dipuji guru besarnya, al-Haramain. Bahkan sang guru berkata: "Kitabmu ini menenggelamkan namaku. Tidakkah kau sabar sebentar. Kepopularan Kitabmu menenggelamkan kitabku"

5. al-Ghazali lahir dari keluarga orang biasa. Ayahnya hanya seorang pedagang di pasar tetapi ia mencintai para alim ulama dan sering hadir di majelis debat atau bahtsul masail ulama untuk menyaksikan para alim berdiskusi sembari dalam hati kecilnya terus menangis agar ia dikaruniai seorang anak seperti mereka. Benar saja, lahir al-Ghazali yang namanya terus dibicarakan hingga hari ini.

Kisah di atas diadaptasi dari buku: Suluk Teladan: Keulamaan, Kearifan dan Keteladanan Ulama Ushul FIqh. Pesan buku tersebut dengan bonus tanda tangan penulisnya di sini: https://shp.ee/qkch75k. Tabik.

Ahmad Husain Fahasbu

Sunday, January 15, 2023

MENGENAL KITAB AL-MANHAL AL-NAḌḌĀKH KARYA IBNU AL-QARAHDAGI

MENGENAL KITAB AL-MANHAL AL-NAḌḌĀKH KARYA IBNU AL-QARAHDAGI

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin) – Dosen Universitas Brawijaya

Jika Anda ingin mengetahui ikhtilaf antara Ibnu Ḥajar al-Haitamī, al-Ramlī dan al-Syirbīnī saat mentarjih pendapat  mu’tamad mazhab al-Syāfi‘ī, maka di antara rujukan terbaik dalam topik ini adalah kitab al-Manhal al-Naḍḍākh karya Ibnu al-Qarahdagī.

Nama lengkap kitab ini sebagaimana disebutkan pengarang dalam mukadimah adalah  al-Manhal al-Naḍḍākh fī Ikhtilāf al-Asy-yākh (الْمَنْهَلُ النَّضَّاخُ فِيْ اخْتِلَافِ الأَشْيَاخِ). Makna manhal adalah tempat mereguk air minum. Makna al-naḍdākh adalah deras mengalir. Seakan-akan dengan judul ini,  pengarangnya ingin mengenalkan kitabnya yang memiliki karakteristik kaya isi dan padat ilmu bagaikan sumber yang airnya melimpah-limbah sehingga bisa diminum dengan puas oleh siapapun yang kehausan. Ilmu yang siap direguk oleh santri yang haus pengetahuan adalah informasi tentang  ikhtilaf ulama-ulama besar mazhab al-Syāfi‘ī di fase kedua tahrir mazhab.

Pengarangnya bernama  Umar al-Qarahdagī atau lebih dikenal dengan nama Ibnu al-Qarahdagī (ابن القره داغي). Nama lengkap beliau Umar bin  al-Syaikh Muhammad Amīn bin al-Syaikh Ma‘rūf al-Qarahdāgī al-Gaffārī al-Mardūkhī. Nama terkenalnya Ibnu al-Qarahdagī, yakni dinisbahkan kepada laqab kakeknya yang asli lahir di Qaradagh.

Sampai di sini bedakan dengan Prof Ali al-Qarahdagī yang banyak mengarang buku terkait ekonomi Islam karena keduanya beda generasi. Ibnu al-Qarahdagī itu hidupnya antara tahun 1886-1936 sementara Prof Ali al-Qarahdagī yang tinggal di Qatar termasuk ulama kontemporer yang sezaman, bahkan banyak beraktifitas bersama syaikh Yusuf al-Qaraḍāwī. Malahan harus diketahui bahwa di sana ada banyak nama ulama yang diakhiri laqab al-Qarahdagī. Jika tidak teliti maka bisa salah identifikasi.

Ibnu al-Qarahdagī lahir tahun 1303 H/1886 M di kota al-Sulaimāniyyah di Irak. Di sanalah beliau tumbuh berkembang di bawah asuhan ayahnya yang juga  berilmu.  Belajarnya dikenal serius dan sangat teliti sehingga gurunya sendiripun sampai percaya kepadanya jika ada persoalan yang perlu ditahkik. Awalnya beliau belum terkenal, tetapi begitu mulai menulis dan tersebar karangannya, terlihatlah kualitas keilmuannya  sehingga menjadi populer dan banyak yang ingin belajar kepada beliau. Penguasaannya terhadap mazhab al-Syāfi‘ī mengagumkan. Ada satu kisah menarik terkait hal ini. Begini kisahnya.

Sudah menjadi kebiasaan sejumlah murid beliau, bahwa sebelum ngaji kitab Tuḥfatu al-Muḥtāj, para murid ini akan belajar dulu malam sebelum kajian. Tujuannya nya agar saat ngaji, mereka tidak sampai terluput fawāid tambahan yang tak tertulis dalam kitab.

Suatu hari ada bagian pembahasan dalam kitab Tuḥfatu al-Muḥtāj  tersebut yang susah dipahami. Jadi mereka menunda pertemuan kajian dengan sang guru. Lalu mereka semua bekerja keras berusaha memecahkannya.

Malam pertama mereka gagal memecahkan maknanya. Lalu mereka menunda pertemuan dengan Ibnu al-Qarahdagī lagi. Kemudian di malam kedua mereka mencoba memecahkannya lagi, tapi masih gagal. Begitu masuk malam ketiga barulah ada salah seorang yang berhasil memecahkannya kemudian mendiskusikannya dengan kawannya dan semua setuju dengan pemecahan tersebut.

Begitu merasa sudah paham, mereka minta kajian kepada Ibnu al-Qarahdagi. Mereka berharap sang guru bingung juga dan bertawaqquf untuk pertama kalinya. Tapi saat tiba hari kajian, dengan entengnya sang guru menjelaskan dengan sangat bagus apa yang didiskusikan sejumlah muridnya sampai 3 hari itu. Peristiwa ini semakin membuat mereka semakin percaya dengan  kedalaman ilmu sang guru.

Jadwal mengajarnya sangat padat. Beliau biasa mengajar semenjak terbit matahari sampai zuhur, lalu salat, kemudian makan siang, lalu beristirahat, dan setelah itu mengajar lagi!  Karyanya cukup banyak di berbagai bidang ilmu syar’i maupun sains. Tapi di antara yang terpenting adalah al-Manhal al-Naḍḍākh ini.

Sebagaimana diterangkan singkat di awal tulisan, fokus kitab ini adalah menjelaskan ikhtilaf antara Ibnu Ḥajar al-Haitamī, al-Ramlī dan al-Syirbīnī saat mentarjih pendapat  mu’tamad mazhab al-Syāfi‘ī. Dengan demikian, ia mirip dengan kitab Bidāyatu al-Mujtahid karya Ibnu Rusyd, hanya saja karya Ibnu al-Qarahdagī fokus pada ikhtilaf internal  mazhab al-Syāfi‘ī di fase kedua tahrir mazhab.

Kitab ini termasuk karya yang ditulis pengarang di akhir hayatnya, walaupun bisa dikatakan konsepnya sudah disiapkan sejak masa mudanya. Penulisannya tidak ditulis  sekali jadi tetapi dituntaskan dalam waktu yang terpisah-pisah.

Adapun syaikh-syaikh al-Syāfi‘ī yyah yang ikhtilafnya  dibahas dalam kitab ini, maka terutama sekali adalah tiga orang yaitu Ibnu Ḥajar al-Haitamī (w. 974 H), Syamsuddin al-Ramlī (w. 1004 H)), dan al-Khaṭīb al-Syirbīnī (w. 977 H). Setelah itu di beberapa tempat dilengkapi juga dengan pendapat Syihābuddīn al-Ramlī (w.957 H), Ibnu Qāsim al-‘Abbādī (w. 944 H), al-Syabrāmallisī (w. 1087 H), dan  Zakariyyā al-Anṣārī (w. 926 H).

Referensi yang dipakai saat menyusun kitab ini yang paling utama ada 3 yaitu, Tuḥfatu al-Muḥtāj karya al-Haitamī, Nihāyatu al-Muḥtāj karya al-Ramlī, dan Mugnī al-Muḥtāj karya al-Khaṭīb al-Syirbīnī. Jadi perbandingan utama memang berputar pada ketiga karya ini. Pada sebagian kasus, pengarang merujuk pada Ḥāsyiyah  Ibnu Qāsim al-‘Abbādī ‘alā Tuḥfat al-Muḥtāj, Ḥāsyiyah  al-Syabrāmallisī ‘Alā Tuḥfat al-Muḥtāj , Syarḥu al-Minhāj Zakariyyā al-Anṣārī.

Simbol saat merujuk ulama-ulama tersebut adalah sebagai berikut


• (حج)=untuk Ibnu Ḥajar al-Haitamī dalam Tūhfatu al-Muḥtāj

• (رم)= untuk Syamduddin al-Ramlī dalam Nihāyatu al-Muḥjāj

• (خط)= untuk al-Khaṭīb al-Syirbīnī dalam Mugnī al-Muḥtāj

Terkadang Ibnu al-Qarahdāgī menyebut salah satu dari 3 orang ini, lalu sisanya diungkapkan dengan ungkapan taṡniyah semisal  qālā (قالا)

• (سم)= untuk Ibnu Qāsim al-‘Abbādī

• (ع ش) = untuk al-Syabrāmallisī

• (الشيخ) = untuk Zakariyyā al-Anṣārī

Kelebihan kitab ini adalah detail diksinya, mendalam pembahasannya, ringkas bahasanya,padat isinya. Pentahkiknya bersaksi pengarangnya sangat amanah dan teliti dalam menukil.

Susunan kitab ini diatur dengan pembagian bab seperti pembagian topik fikih. Dimulai pembahasan ikhtilaf topik taharah, salat, zakat, puasa,...dst  sampai akhir topik yakni pembebasan budak. Hasil penelitiannya menunjukkan ada hampir 2000 ikhtilaf di antara 3 muharrir besar mazhab al-Syāfi‘ī itu. Tepatnya ada 1814 ikhtilaf.

Terkait dengan tarjih terhadap ikhtilaf itu, sudah umum diketahui di kalangan pemerhati tahrir mazhab al-Syāfi‘ī bahwa Ibnu Ḥajar al-Haitamī  dan Syamduddin al-Ramlī itu secara umum level keilmuannya setara. Oleh karena itu ada perbedaan pendapat hasil penelitian siapa yang dikuatkan jika mereka berbeda pendapat. Ulama-ulama Mesir lebih memilih hasil penelitian al-Ramlī sementara ulama-ulama Hijaz memilih pendapat Ibnu Ḥajar al-Haitamī .

Karena kesetaraan inilah maka ikhtilaf keduanya juga dipandang setara secara umum. Jika orang belum mampu mentarjih, maka boleh memilih secara bebas di antara pendapat keduanya. Tetapi jika sudah bisa mentarjih maka ia mentarjih berdasarkan ilmunya.

Hanya saja, dalam pendapat Ibnu al-Qarahdagī, Ibnu Ḥajar al-Haitamī itu lebih luas ilmunya daripada al-Ramlī . Karenanya, jadi jika ada ikhtilaf di antara al-Haitamī dan al-Ramlī, dan orang belum bisa melakukan tarjih  maka disarankan memenangkan perndapat al-Haitamī  untuk difatwakan. Penelitian al-Haitamī tetap dimenangkan baik keduanya (al-Haitami dan al-Ramlī) punya pendukung, atau tidak punya pendukung, bahkan walaupun pendukung al-Ramlī lebih banyak.

Tapi jika pendapat al-Ramlī didukung oleh al-Syirbīnī, atau didukung ulama sesudah mereka, maka penelitian al-Ramlī dimenangkan. Sebab, menurut al-Sayyid Umar al-Baṣrī dalam fatwanya, Mugni al-Muḥtaj itu selevel dengan Nihāyatu al-Muḥtāj padahal al-Sayyid Umar al-Baṣrī sendiri adalah di antara murid cemerlang al-Ramlī. Al-Kurdī dalam fatwanya juga berpendapat 3 karya tersebut levelnya berdekatan, jadi boleh saja bertaklid salah satu dari 3 penelitian mereka.

Satu fakta penting juga, al-Haitamī dalam penelitian tarjihnya banyak mengikuti hasil penelitian Zakariyyā al-Anṣārī. Al-Ramlī banyak mengikuti hasil penelitian ayahnya (Syihābuddīn al-Ramlī).  Al-Syirbīnī kadang mengikuti penelitian Syihābuddīn al-Ramlī dan terkadang mengikuti Zakariyyā al-Anṣārī.

Jika mengikuti kaidah yang sudah umum terkait cara mengtarjih ikhtilaf para muharrir tersebut, maka kaidahnya adalah sebagai berikut,

1. Ikuti kesepakatan Ibnu Ḥajar al-Haitamī dan al-Ramlī
2. Jika keduanya berbeda pendapat, bebas memilih selama belum mampu mentarjih
3. Jika keduanya berbeda pendapat, dan sudah mampu mentarjih maka pilihlah berdasarkan argumentasi tarjih tersebut
4. Jika ada yang luput belum dibahas dua orang tersebut, maka bertumpu pada hasil penelitian Zakariyyā al-Anṣārī
5. Jika tidak ada maka bertumpu pada hasil penelitian al-Khaṭīb al-Syirbīnī

Penerbit Dār  al-Basyā’ir al-Islāmiyyah mencetak kitab ini atas jasa tahqiq prof. ‘Alī Muḥyiddīn al-Qarahdagī  tahun 1428 H/2007 M  dalam 382 halaman

Ibnu al-Qarahdagī wafat pada  hari Rabu, 21 Shofar tahun 1355 H/ 13 Mei 1936 M diusia sekitar 52 tahun karena kanker.

رحم الله ابن القره داغي رحمة واسعة
اللهم اجعلنا من محبي العلماء الصالحين

#ikhtilafhaitamiromli
#tahrirmazhab

Monday, March 28, 2022

Kisah wali ghaust yang masyhur dan salah kasyaf

Kisah wali ghaust yang masyhur dan salah kasyaf
Oleh Sidi Fauzan Inzagi

Salah seorang ulama yang hampir disepakati oleh ulama zahir dan batin sebagai seorang ghaust pada zamannya adalah Maulana Khalid An-Naqsyabandy QS. Beliau hampir disepakati sebagai ghaust zaman baik oleh ulama sezamannya atau setelahnya. Didalam tareqat beliau dikenal sebagai salah satu mujadid besar tareqat naqsyabandiyah yang terkenal diseluruh dunia, bahkan menjadi salah satu furu tareqat terbesar yang terbesar diindonesia.

Di ilmu zahir beliau juga mutafanin yang menguasai hampir semua bidang ilmu agama, hampir setiap fan ilmu agama beliau mempunyai karangan, dalam ilmu kalam beliau menulis syarah aqidah adhudiyah, dalam ilmu tasawuf beliau menulis risalah khalidiyah, dalam hadis beliau menulis hasyiah ala jam'il fawaid, dalam fikih beliau menulis hasyiah atas nihayah muhtaj, dalam bahasa arab beliau menisyarag maqamat hariry, dst, beliau mutafanin dalam ilmu zahir, ulama besar yanh jadi rujukan pada masanya

Ditambah kisah kewalian beliau, dan kisah dakwah beliau yang membuat orang tidak meragukan kewalian beliau, dan beliau termasuk wali masyhur atas pengakuan para ulama zahir dan batin, sehingga tak perlu diragukan lagi maqam beliau. Dan atsar atau hasil dari dakwah beliau terlihat diseluruh dunia. Itu bukti keikhlasan beliau. Dan pada masa hidupnya pun beliau sudah masyhur.

Dengan maqam keulamaan dan kewalian yang seperti itu, ada kisah menarik tentang beliau, suatu hari beliau mendapat kasyaf(saya lupa melalui mimpi atau tersadar, perlu murajaah lagi kitabnya), dalam kasyafnya beliau melihat bahwa imam mahdi akan turun dijami umawi 3 hari lagi. Berdasarkan kasyaf beliau yang selama ini yang nyaris tidak pernah salah, beliau pun mengajak muridinnya turun gunung ke jami umawi untuk itikaf disana untuk menyiapkan penyambutan kedatangan imam mahdi

Berita ini membuat damaskus gempar, karena berita ini dari syeikh khalid langsung, seorang yang masyhur kewaliannya dan keulamaannya, bukan dari seorang mastur yang belum tentu mendapat pengakuan wali lain dan alim ulama atau wali awam yang rawan tidak mundhabit secara ilmiyah. Tapi ini beda, yang mengatakannya adalah syeikh khalid wali madhinnatul wilayah, sanadnya jelas, diakui wali masyhur bahkan hampir disepakati sebagai qutub zamannya, mundhabit secara syariah dalam amal, zauq dan aqidahnya bahkan beliau ulama besar dibanyak bidang ilmu dan ahli fatwa. Dan sanadnya jelas bahkan terang benderang

Tetapi setelah tiga hari menunggu, tak ada yang spesial, imam mahdi tidak datang, didepan umum beliau berkata, lihatlah kasyafku salah, memang tidak ada manusia yang tidak pernah salah kecuali nabi, termasuk aku dan kasyafku yang selama ini benar, ga ada yang selalu kita percaya selain nabi, maka dari itu berpeganglah pada sunnah nabi/syariat yang tidak pernah salah. Beliau mengatakan ini didepan umum sebagai pelajaran bagi beliau dan umat. Begitulah ulama dan wali, tak perlu malu mengakui kesalahan, apalagi salah kasyaf, bahkan hikmahnya kesalahan kasyaf beliau menjadi pelajaran besar bagi umat sampai ratusan setelahnya, sekarang dengan mudah kita katakan "okey ente wali, tapi syeikh khalid yang jelas wali besar, sanadnya jelas, istiqamah, diakui, dan ulama besar saja bisa salah kok kasyafnya, apalagi yang lain, jangan aneh-aneh deh"

Kisah ini juga sering dijadikan syahid dan pelajaran sebagai bukti bahwa seorang selevel syeikh khalid, semasyhur beliau, semundhabut beliau, sealim beliau, dan diakui sebagai qutub zamannya secara mutawatir, ternyata bisa salah kasyafnya, makanya kita ga boleh berpegang pada kasyaf tanpa syariat dalam beragama, apalagi mimpi, karena itu bisa salah, beda dengan syariat nabi saw, itu adalah kasyaf dari nabi yang makshum, dan tidak mungkin salah. Itulah yang jadi pegangan seorang muslim dalam beragama. Ingat dulu awal-awal suluk, mimpi ketemu ini dan itu, guruku langsung mengingatkan, "nikmati saja ahwalnya, tapi ingat jangan jadikannya pegangan, karena agama kita tidak dijalankan dengan mimpi"

Jadi, seorang ghaust yang diakui banyak orang sekalipun bisa salah kasyafnya, apalagi yang belum banyak yang mengakui, apalagi yang nampak secara zahir melanggar syariat, yang berpegang aja bisa salah. Ini alhamdulillah kasyafnya ga melanggar syariat, karena kalau melanggar syariat itu sangat jelas tertolak oleh orang sekaliber beliau, bayangkan kasyaf yang bertentangan dengan syariat? Betapa bahayanya itu, sesuai dengan syariat ada potensi salah, apalagi melanggar syariat kan? Apalagi jika itu datang dari orang yang gak ada yang diakui? darimana kita tau kalau itu jibril,khaidir, dll? Siapa tau itu permainan setan memperdaya manusia.

Kasyaf memperkuat zauq syariah, tapi bukan pegangan dalam berqgama. Kasyaf memperdalam ilmu syariat yang ada, tapi bukan menentang ilmu syariat. Wali bisa salah, nabi enggak, dan ijma juga enggak, jika ada kasyafmu yang bertentangan dengan syariat dan ijma, maka bisa dipastikan itu salah. Yang sesuai aja bisa salah, apalagi yang bertentangan. Pelajaran hidup yang sangat mahal dari para wali. Alfatihah buat beliau sayidina maulana khalid naqsyabandy qaddasallahu sirrahu

Tuesday, March 22, 2022

HARAM MENYEBARKAN PEMIKIRAN AL-HALLĀJ DAN IBNU ‘ARABĪ (bagian 2)

HARAM MENYEBARKAN PEMIKIRAN AL-HALLĀJ DAN IBNU ‘ARABĪ (bagian 2)

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

Patut dicatat, sejak dulu para ulama berbeda pendapat menyikapi dua sosok sufi ini. Sebagian mengkritik habis-habisan, sebagian lagi membela habis-habisan. Ada pula yang memilih netral agar lebih selamat. Mereka yang mengkafirkan kedua tokoh ini bukan ulama kaleng-kaleng. Tapi mereka yang membela keduanya juga bukan ulama kecil-kecil. Termasuk yang memilih untuk netral juga dikenal sebagai ulama besar.

Tetapi, di manapun posisi kita, entah sepakat dengan ulama yang mengkafirkan al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī, membela mereka  maupun bertawaqquf terhadap mereka, maka menyebarkan pemikiran keduanya tetap haram.

Jika kita bertaklid kepada ulama yang mengkafirkan al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī, maka sudah jelas keharaman menyebarkan pemikiran keduanya adalah karena itu dakwah pada kekufuran sementara kekufuran pasti mengantarkan ke neraka. Patut dicatat, yang mengkritik tajam sampai menisbahkan kekufuran kepada keduanya bukanlah ulama sembarangan. Yang mengkritik Ibnu ‘Arabi misalnya adalah al-‘Irāqī, Taqiyyuddīn al-Subkī,   Ibnu Ḥajar al-‘Asqalānī dan lain-lain.

Jika pun kita bertaklid kepada ulama yang membela al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī, maka menyebarkan pemikiran keduanya tetap haram berdasarkan sejumlah argumentasi.

PERTAMA, haram hukumnya menyampaikan sesuatu yang tidak sanggup dijangkau akal pendengar yang bisa membuat Allah dan Rasul-Nya didustakan. Al-Bukhārī meriwayatkan,

وَقَالَ عَلِيٌّ: «حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ، أَتُحِبُّونَ أَنْ ‌يُكَذَّبَ ‌اللهُ ‌وَرَسُولُهُ؟». [«صحيح البخاري» (1/ 37 ط السلطانية)]

Artinya,

“Ali berkata, ‘Berbicaralah dengan orang dengan tema yang dijangkau/difahami oleh mereka. Apa kalian senang Allah dan RasulNya didustakan?”

Pihak yang membela al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī sepakat bahwa pemikiran keduanya jika disampaikan kepada awam akan membuat fitnah, karena dianggap tidak bisa difahami oleh akal orang-orang biasa. Jika benar demikian, maka jelas haram menyampaikan hal tersebut ke publik karena menjadi wasilah nyata  fitnah dalam din. Ini juga realisasi qā‘idah syar‘iyyah, “Al-Wasīlatu ilāl ḥarām muḥarramah”. Al-Gazzālī berkata,

«فإن ‌كان ‌يفهمه ‌القائل دون المستمع فلا يحل ذكره». [«إحياء علوم الدين» (1/ 36)]

Artinya,

“Jika orang yang memiliki gagasan memahaminya, tapi pendengar tidak paham, maka tidak halal mempublikasikannya”

KEDUA, menyampaikan sesuatu yang tidak difahami terkait din adalah haram.

Jika menyampaikan sesuatu yang dipahami saja bisa haram, yakni dalam kondisi penutur lemah memilih diksi sehingga pendengarnya bisa terfitnah, maka tentu lebih haram lagi menyampaikan sesuatu yang tidak difahami dengan baik berdasarkan kaidah min bābi aulā. Orang yang husnuzan kepada al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī, lalu mempelajari pemikiran keduanya, tapi sebenarnya juga tidak mengerti betul hakikat paham mereka, dan dia juga tidak tahu apakah paham mereka melanggar syariat ataukah tidak, maka haram baginya menyampaikan pemikiran tersebut ke publik. Bagaimana mungkin orang yang tidak paham betul sebuah pemikiran lalu berani menyampaikannya ke publik? Perumpamaan orang-orang seperti ini laksana orang yang masak tapi belum matang, lalu dihidangkan ke masyarakat. Apa jadinya? Orang jadi sakit perut! Al-Gazzālī berkata,

«وهذا فيما يفهمه صاحبه ولا يبلغه عقل المستمع فكيف فيما لا يفهمه قائله». [«إحياء علوم الدين» (1/ 36)]

Artinya,

“Ini adalah hukum bagi orang yang memahami pikirannya sendiri tapi pendengarnya tidak sanggup mencernanya. Lalu, bagaimana dengan orang yang dia sendiri tidak memahami pikirannya?”

KETIGA, konsep syaṭāḥāt sudah terbukti mengantarkan para awam meninggalkan kewajibannya.

Pihak yang membela al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī telah sepakat bahwa ada ucapan-ucapan keduanya yang lahirnya melanggar syariat dan tergolong kekufuran. Tetapi dengan husnuzan, ucapan-ucapan kufur tersebut ditakwil sebagai bentuk syaṭahāt (semacam kalimat mabuk cinta karena Allah) atau istilah khusus sufi. Kalaupun benar husnuzan ini, maka bahayanya jelas nyata bagi orang awam. Kata al-Gazzālī, di zamannya saja sudah ada orang awam yang mencoba-coba masuk di dunia seperti itu, lalu meniru-niru ucapan yang dianggap syaṭaḥāt itu, sampai akhirnya meninggalkan kerjanya tidak mau bertani lagi!

Jadi, jangan heran jika ada orang awam yang masuk dalam paham seperti ini lalu melupakan anak istri dan meninggalkan semua tanggungjawabnya dengan alasan sudah asyik “berduaan” dengan Allah!

Berdasarkan kaidah fikih al-wasīlah ilā al-ḥarām muḥarramah (wasilah yang  mengantarkan pada keharaman hukumnya haram), maka menyebarkan pemikiran al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī  juga menjadi haram karena mengantarkan pada keharaman. al-Gazzālī berkata,

«وهذا فن من الكلام عظيم ضرره في العوام حتى ترك جماعة من أهل الفلاحة فلاحتهم». [«إحياء علوم الدين» (1/ 36)]
Artinya,
“Ini adalah  jenis ucapan yang dampak buruknya sungguh besar di kalangan awam, sampai-sampai ada sejumlah petani yang meninggalkan profesi taninya”

KEEMPAT, dampak fitnah ucapan-ucapan yang ditakwil sebagai syaṭaḥāt di kalangan awam sangat besar sehingga pengucap syaṭāhāt kufur tersebut layak dihukum bunuh.

Kata al-Gazzālī, orang yang mengucapkan kata-kata kufur meskipun mungkin dihusnuzani sebagai syaṭaḥāt, maka layak dihukum bunuh untuk menjaga agama Allah. Tentu saja tidak boleh ada toleransi sama sekali dalam kata-kata kufur terkait Allah. Jika simbol-simbol negara saja bisa diancam penjara jika dihina, maka mengucapkan kata-kata kufur terkait Allah lebih layak untuk ditertibkan, karena dinullah lebih agung daripada negara. Al-Gazzālī berkata,

«فهذا ومثله مما قد استطار في البلاد شرره وعظم في العوام ضرره حتى من نطق بشيء منه فقتله أفضل في دين الله من إحياء عشرة». [«إحياء علوم الدين» (1/ 36)]

Artinya,
“Yang seperti ini dan semisalnya termasuk perkara yang bunga apinya telah menyebar di berbagai negeri dan dampak buruknya telah membesar di kalangan para awam.  Orang yang mengucapkan  kalimat seperti itu, membunuhnya lebih afdal untuk menjaga dinullah daripada menghidupi 10 nyawa”

Secara implisit dengan pernyataan ini, al-Gazzālī menyetujui hukuman bunuh untuk al-Ḥallāj, walaupun bisa jadi  secara substantif beliau berhusnuzan terhadap al-Ḥallāj.

Jika sebuah pemikiran telah terbukti pernah membuat fitnah besar di dunia Islam sampai pengucapnya layak dihukum bunuh tanpa peduli lagi substansinya benar atau salah, maka menyebarkan pemikiran jenis ini jelas haram.

KELIMA, Ibnu ‘Arabī sendiri konon melarang orang membaca buku-bukunya. Di antara kalimat yang dinisbahkan kepada Ibnu ‘Arabī berbunyi,

نحن قوم يحرم النظر في كتبنا

Artinya,

“Kami adalah kaum yang (hukumnya) haram mengkaji buku-buku kami”

Jika benar Ibnu ‘Arabī mengatakan kalimat ini, berarti pahamnya itu din pribadi. Bukan din yang untuk disebarkan kepada khalayak. Tanggung jawabnnya dihadapan Allah hanya untuk beliau pribadi, bukan untuk disebar-sebar dan dipropagandakan untuk masyarakat umum. Artinya perlakukan paham Ibnu ‘Arabī itu sebagai din, bukan millah. Ilmu yang diajarkan Allah kepada nabi Khidir adalah din, tapi ajaran nabi Musa adalah millah.

Al-Suyūṭī meskipun membela Ibnu ‘Arabī bahkan meyakininya sebagai wali, beliau tegas mengharamkan untuk membaca kitab-kitabnya. Al-Suyūṭī berkata,

والقول الفصل عندي في ابن عربي طريقة لا يرضاها فرقة أهل العصر ممن يعتقده ولا ممن ينكر عليه، وهي اعتقاد ولايته، ويحرم النظر في كتبه

Artinya,

“Pendapat final saya terkait Ibnu ‘Arabī adalah mengambil jalan yang tidak disenangi kelompok yang mempercayai beliau di zaman sekarang dan tidak juga disenangi mereka yang mengkritik beliau, yakni: Meyakini kewaliannya, tapi HARAM mengkaji kitab-kitabnya”  (Tanbīhu al-Gabī bi Tabri’ati Ibni ‘Arabī, hlm 4)

Senada dengan itu, Ibnu ‘Ḥajar al-Haitamī, walaupun beliau termasuk pecinta Ibnu ‘Arabī dan meyakini kewaliannya, tapi beliau mewanti-wanti agar orang  benar-benar berpaling dari kitab-kitab Ibnu ‘Arabī semampunya. Karena beliau melihat sendiri orang jatuh kepada kemusyrikan setelah mengkaji kitab-kitab Ibnu ‘Arabī itu.

Syarat yang disebut al-Haitamī agar orang tidak tersesat saat menelaah karya-karya Ibnu ‘Arabī juga menunjukkan itu hampir mustahil terwujud di zaman ini, karena beliau mensyaratkan harus sudah menguasai Al-Qur’an, Sunah, mengkaji hakikat semua pengetahuan dan mengkaji semua pengetahuan hakikat. Ini level mujtahid mutlak atau yang mendekatinya dan masih harus ditambah lagi dengan menguasai semua khazanah ilmu aqli seperti ilmu kalam dan filsafat. Profesornya profesor syariah di zaman sekarang dengan paper 1000 terindeks scopus sekalipun saya pribadi tidak percaya bisa memenuhi syarat itu. Jika faktanya mustahil mewujudkan  syarat-syarat yang ditetapkan al-Haitamī atau minimal super sulit, lalu diduga ada manfaat mengkajinya, maka mengkaji apalagi menyebarkan pemikiran Ibnu ‘Arabi (termasuk al-Ḥallāj) tetap haram berdasarkan kaidah fikih “Dar-ul mafāsid muqaddamun ‘alā jalbil maṣaliḥ”

Dengan demikian, haram hukumnya mempropagandakan pemikiran al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī apalagi menyebarkannya kepada masyarakat umum.  Termasuk tasawuf yang merupakan pengembangan dan anak turun dari pemikiran keduanya seperti tasawuf Ibnu al-Fāriḍ (ابن الفارض), Ibnu Sab‘īn (ابن سبعين), Jalāluddin al-Rūmī (جلال الدين الرومي), Hamzah Fanṣurī, Syamsuddīn al-Sumatranī, Siti Jenar dan semisalnya. Termasuk semua paham sinkretis lokal di negeri kita yang terpengaruh paham Ibnu Arabī seperti gagasan dalam Serat Wirid  Hidayat Jati karangan Ranggawarsita, paham perkumpulan WARGO UTOMO, paham perkumpulan PANGESTU, paham perkumpulan SUMARAH dan semisalnya.

(bersambung)

Wednesday, September 2, 2020

NDRESMO Makkah nya tanah jawatempat mukim nya Habaib yg berwajah njowo

NDRESMO Makkah nya tanah jawa
tempat mukim nya Habaib yg berwajah njowo 

   Ada yg bilang SIDOSERMO atau SIDORESMO . namun nama asal dari kampung itu bernama NDRESMO .Perkampungan yang terletak di perbatasan antara Kecamatan Wonokromo dan Kecamatan Wonocolo, tepatnya di Jalan Sidosermo Dalam Surabaya, Jawa Timur,  hampir seluruh daerah bahkan negara2 lain terlebih timur tengah banyak yg kenal desa itu . ya karena kebanyakan penduduk nya punya pesantren . ya ! jumlahnya sangat banyak . dan lagi para penduduk asli situ adalah dari keturunan baginda nabi MUHAMMAD SAW dari berbagai arah silsilah yg berbeda . ada dua jalur silsilah yg menghubungkan nasab penduduk ndresmo ke-baginda nabi muhammad . yaitu dari keturunan Sayyid Abu Bakar Basyaiban dan sayyid adhmat khon ( bisa jadi ada yang lain dari kedua keturunan itu ).

nama " NDRESMO" itu bukan sebuah kebetulan saja . namun terdapat sejarah awal penamaan itu . dahulu sekali , setelah Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban  dan kakaknya Sayyid ali ( keduanya adalah putra dari sayyid abdurrahman suami dari syarifah khodijah putri syarif hidayatullah , sunan gunung jati ) berkelana dalam penyi'aran islam , akhirnya beliau berdua menetap disuatu tempat . Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban berakhir di mojoagung hingga wafat beliau dan dikebumikan disana . namun sebelum ke-mojoagung beliau sudah mendirikan sebuah pesantren dipasuruan yg hingga kini masih berdiri kokoh dan besar . nama pesantren itu adalah SIDOGIRI . 
sedangkan kakaknya , Sayyid Ali Al-arif bin Abdurrahman Basyaiban menetap dan mengajar didaerah pasuruan yg terkenal dg sebutan SEGOROPURO . beliau-pun diwafat dan dikebumikan disana . Disaat Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban masih memangku pesantren dipasuruan itu-lah , beliau berkeinginan lebih meluaskan syi'ar islamnya ke-daerah2 lain . beliau menyuruh putra2-nya agar semakin giat dalam hal penyebaran islam diberbagai daerah . terdapat beberapa nama dari putra2 beliau yang tercatat diberbagai silsilah . diantaranya : 
abdul wahab , hazam , tsabit , ali akbar , abdulloh , abid , hasan , husein dan muhammad baqeer . ( mungkin ada yg lain ? allahu a'lam ) .

para putra2 Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban  itu banyak yg menyebar untuk melaksanakan keinginan ayah mereka utk memperluas penyebaran islam . tak terkecuali putra beliau yg bernama Sayyid Ali Akbar . dalam masa pengembaraan , beliau ( Sayyid Ali Akbar ) bermunajat pada Allah agar diberi petunjuk dimana tempat atau daerah yg layak buat dirinya menetap . dan ternyata AllahS.W.T memberikan petunjukNYA . terlihat oleh Sayyid Ali Akbar ditengah2 munajatnya , sebuah cahaya yg terang yang mengarah kesuatu tempat yg kala itu masih sebuah hutan yg angker . 
menurut riwayat tidak ada satupun orang yg sanggup memasuki hutan itu . orang banyak yg menyebutkan nama daerah itu dengan nama ' alas demungan ' . akhirnya Sayyid Ali Akbar  melaporkan hal itu pada ayahandanya  . mendengar penuturan putranya itu , Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban  menyuruh Sayyid Ali Akbar agar membabat dan menakhlukkan hutan itu dan membangun tempat tinggal disitu . beberapa santri ayahnya dipesantren sidogiri di-ikut sertakan untuk membantu putranya mengemban tugas itu . 

singkat cerita , Sayyid Ali Akbar berhasil membabat dan menakhlukkan hutan itu . berbagai kendala dan cobaan alhamdulillah berhasil beliau lalui . setelah selesai , beliau membangun satu rumah sederhana yang dihalaman depan-nya terdapat sebuah ' gutek'an ' atau istilah sekarang satu tempat yg disediakan untuk santri menetap . setelah selesai semuanya , tak lama ayahanda beliau datang untuk melihat hasil kerja putranya itu . cukup puas perasaan Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban melihat semua hasilnya . maka beliau berpesan pada putranya agar menetap disitu dan beliau menyuruh sebagian santrinya yg tadinya membantu Sayyid Ali Akbar akbar agar ikut menetap bersama putranya . Sayyid Sulaiman memilih beberapa santri yg berjumlah 5 orang . akhirnya Sayyid Sulaiman kembali kepasuruan dan meninggalkan 5 santri buat putranya , ali akbar . 

hari terus berganti . kehidupan Sayyid Ali Akbar penuh berisi dengan ibadah , ngaji dan pembenahan . setiap tak ada kegiatan ngaji bagi para 5 santri tersebut , mereka isi dengan muthola'ah ( belajar ) kitab2 yg telah diajarkan sayyid ali akbar . hingga suara mereka dalam hal membaca kitab terdengar oleh beliau . akhirnya beliau segera menghampiri para santri-nya itu . dihadapan para 5 santri itu beliau berkata : 

" kang , tiap malam aku selalu mendengar kalian belajar bersama saling nderes ( membaca ) kitab yg telah aku ajarkan . maka ingat baik-baik , sejak saat ini yang mulanya desa ini bernama ndemungan , maka aku ganti dengan nama NDRESMO . sing nderes kabehe limo ( yang belajar lima orang ) . 

" inggih kyai " ( iya kyai ) jawab para 5 santri itu kompak . 

maka sejak itulah , desa itu mulai dikenal orang dengan nama ndresmo . dan lama kelamaan ndresmo mulai berdatangan para murid Sayyid Ali Akbar yang ingin menimba ilmu dipesantren beliau ini . semakin ramai dan terkenal desa itu . dan hingga kini kampung ndresmo terkenal dengan sebutan ' mekkah-nya tanah jawa ' . 

perlu diketahui , salah satu dari 5 santri Sayyid Ali Akbar tersebut adalah ' ki ageng hasan besari ' yg terkenal dg ki kasan besari ponorogo . seorang ulama besar dan sangat terkenal hingga kini . 

NDRESMO DIMASA PENJAJAHAN 

Sudah sejak dulu atau tepatnya sejak zaman penjajahan desa itu selalu dikunjungi banyak orang . bagaimanapun juga keamanan didesa itu terjamin sejak terikatnya perjanjian antara Sayyid Ali Akbar  dan pemererintah kolonial belanda . lalu diperkuat lagi perjanjian sayyid iskandar (putra beliau). 
jadi para tamu-tamu yang memasuki desa ndresmo dulunya itu bisa dipastikan ada 2 hal : yaitu niat belajar mengaji atau cari perlindungan dari kejaran para tentara belanda . perjanjian antar belanda dan kedua tokoh sentral ndresmo itu sudah tertulis . hingga sekarang konon tulisan perjanjian untuk menjadikan desa ndresmo sebagai tempat yg di-istimewakan masih tersimpan rapi dinegara belanda sana . desa itu memang membuat masalah dan mati kutu bagi para penjajah . tak bisa berbuat banyak jika berurusan dengan penduduk desa itu . dan itupun berlanjut hingga kepenjajahan jepang . sudah menjadi rahasia umum disaat penjajahan belanda dan jepang dulu , jika ada tentara yg berusaha melanggar perjanjian tersebut bisa dipastikan terkena musibah yg mengenaskan . bahkan jika ada tentara yg berusaha masuk kedesa itu , banyak yang matanya tertutupi dengan sesuatu hal, hingga keberadaan ndresmo se-akan hilang tak berbekas ( baca dipostingan sayyid iskandar bin sayyid sulaiman ). 

ada banyak beberapa peninggalan kuno yang masih ada didesa ndresmo . yaitu masih utuhnya rumah bekas kediaman Sayyid Ali Akbar  hingga keputranya Sayyid Ali Ashghor . yang kini rumah itu ditempati oleh K.H.Mas Mas'ud (almarhum ) . lalu celana panjang yg biasa dipakai dalaman jubah milik sayyid ali ashghor yg masih tetap utuh . kemudian sumur yang dulunya biasa dipakai Sayyid Ali Akbar untuk memberi minuman para pejuang, hingga sesiapapun yg habis meminumnya secara fakta tak mempan oleh segala macam senjata para penjajah . sekarang keberadaan sumur itu ditutup karena pernah terjadi hal yg sangat menakjubkan . ada seseorang yang mencuci buah pepaya yang masih utuh disitu . lalu setelah habis dicuci ternyata pepaya itu tak mempan dikuliti oleh pisau . dan masih banyak lagi kejadian yg berhubungan dengan sumur itu hingga membuat orang yg meminumnya kebal akan segala senjata tajam ( fakta tak terbantahkan dan banyak saksi yg masih hidup hingga saat ini ) . 

NDRESMO DIMASA tahun 1950 - 2009 . 

Dimasa itu desa ndresmo ibarat bunga yang segar dan indah . dimasa itu pula makin banyak berdatangan para santri disetiap rumah-rumah anak cucu keturunan baginda nabi Muhammad SAW didesa itu . banyak tokoh-tokoh kyai ndresmo kala itu yang berwibawa dan kharismatik . baik kyai ndremo yg menetap didesa itu, ataupun kyai ndresmo ( ahli ndresmo ) yang berada dikota-kota lain seperti pasuruan dll . atau baik kyai ndresmo dari fam ( Anak Cucu )  Basyaiban atau fam ( anak Cucu ) adhamat khan atau fam lainnya .
Para sesepuh dulu dengan tindakan nyata memberikan contoh terhadap keturunan mereka kelak , agar senantiasa mementingkan ilmu agama daripada duniawi . juga pentingnya berserah diri pada Allah SWT disaat kondisi apapun . membiasakan diri utuk selalu meng-khatamkan alqu'an minimal 3 hari sekali .membiasakan diri agar tak tidur malam untuk memuji Allah hingga pagi . semua itu masih terlaksana hingga saat ini . maka jangan heran jika kita melihat dirumah-rumah keturunan baginda nabi di-ndresmo jika malam jarang yang tidur . ada yang dimasjid 'ali akbar' dan ada yang dirumah membaca alqu'an , ada yang memimpin para santrinya untuk istighotsah , ada yang ngelalar pelajaran agama . namun jika siang hari jarang yg keluar rumah ( ingat , bukan rumah para pendatang lo ) . terdapat nama-nama para kyai yang bisa mempertahankan kewibawaan ndresmo dari dulu hingga saat ini . 
yaitu kyai mujahid , kyai mansur bin thoha , kyai muhibbin , kyai baqer , kyai abdul qadir , kyai yahya , kyai thoha , kyai ahmad dan kyai2 lainnya 
kini , ndresmo masih tetap sebuah desa yg sangat religius sekali . makin banyak kegiatan saadah ( para sayyid ) dimasa modern ini . tak seperti sesepuh ndresmo hadapi, yg berupa para penjajahan dan peristiwa keganasan PKI yang penuh dengan kekerasan , maka para saadah sekarang menghadapi sesuatu yg complicated . baik dalam kehidupan bermasyarakat yg lain dg yg dulu . karena para pendatang baru makin banyak . apalagi teknologi yg maju pesat dan zaman telah banyak berubah . tapi alhamdulillah tak bisa merubah ke-religiusan ndresmo itu . 

Meski "ndremo"  desa yg sangat kecil tapi terdapat puluhan pesantren disitu , meski rata-rata santrinya cuma sedikit . terhitung hanya 2 pesantren yg bisa dikatakan besar dindresmo itu . yaitu ponpes annajiyah dan ponpes at-tauhid . dan inilah nama pesantren didesa ndremo yg memang sudah punya nama : 

1 . Pondok Pesantren An-Najiyah ( pim. KH.Mas yusuf muhajir , diponpes barat ) 
2 . Pondok Pesantren An-Najiyah  ( pim. KH.Mas Abdullah muhajir , diponpes timur ) 
3 . Pondok Pesantren Islam At – Tauhid  ( pim. KH.Mansyur Tholhah ) 
5 . Yanaabi'ul-ulum ( pim. KH.Mas Khotib ) 
6 . Pondok Pesantren Islam Al-Haqiqi Al-Falahi Joyonegoro ". ( pim. KH.Mas Lukman abdul qadir ) 
7 . Al-wasilah ( pim. KH. Anshor Muhajir ) 
8 . Pondok Pesantren  pim. KH.Mas Khalim dan K.Mas Abdul Qadir
9 . Pondok Pesantren pim. K.Mas Faqor
10. Pondok Pesantren pim. Nyai Hj. Mas Farohah 
11. Al-irsyad ( pim. Nyai Hj. Mas Afifah binti KH.Mas Nur Rosul ) 
12. Pondok Pesantren pim. Nyai Mas Luthfa binti KH.Mas Abu Dzarrin 
13. Pondok Pesantren Al-hasan ( pim . . . . ) 
14. At-Taqowwiyah ( pim. saya sendiri, pemilik blog ini,bin KH.Mas Nur Rosul ) 
15. Pondok Pesantren pim. Kyai Mas Qadir 
16. Al-Ahih ( pim. KH.Mas Dawam ) 
17. Pondok Pesantren  pim. KH.Mas Busyairi 
18. Al-badar ( pim . KH.Mas Nur ) 
19. Pondok Pesantren pim. KH.Mas abdul qahar  
20. Al-badar putri ( pim. KH.Mas Muzammil ) 
21. Pondok Pesantren pim. KH.Mas Yazid.  dll
Foto KH Mas Muhajir Manshur 
Naqil : Alfaqir bingits Dhody Romeo 
Nuqilat min Diwani Buya Abi Alkhoir Basyaiban bi wasilati Ning Uswah 
Visit :ndresmo.blogspot.com ...