Showing posts with label tafsir. Show all posts
Showing posts with label tafsir. Show all posts

Friday, December 11, 2020

PERBEDAAN ANTARA RĀSYID, MUHTADI, ḌĀLL DAN GĀWĪ

PERBEDAAN ANTARA RĀSYID, MUHTADI, ḌĀLL DAN GĀWĪ

Oleh : Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)
***

Orang yang benar-benar buta petunjuk secara total, tidak tahu pedoman, tidak mengerti tuntunan dan tidak paham bimbingan, maka ia dinamakan ḍāll (الضَّالُّ). Bentuk jamaknya ḍāllūn (الضَّالُّوْنَ) atau ḍāllīn (الضَّالِّيْنَ). Lafal ini biasanya diterjemahkan “orang yang tersesat”. Jadi, jika dalam Al-Qur’an atau hadis digunakan lafal ini, maka itu memaksudkan kondisi orang yang buta pengetahuan sama sekali sehingga tidak mengerti arah dan berjalan ke arah yang salah. Orang-orang Arab jahiliyyah disebut ḍāllīn karena mereka tidak kenal Allah, tidak mengetahui jalan menyucikan diri dan tidak tahu bagaimana cara menuju Allah. Dalam Surah Al-Fātiḥah, ayat terakhir juga menyebut orang-orang yang memiliki sifat ḍāllīn. Para mufassir menjelaskan contoh utama kaum yang demikian adalah Nasrani, karena mereka ingin mencintai Allah, tapi salah jalan karena tidak mengikuti Nabi Muhammad.

Adapun jika orang tahu petunjuk, tetapi sengaja tidak mengikutinya, entah karena kesombongan, kedengkian, kegengsian, semangat asabiyah dan semua kecenderungan hawa nafsu lainnya, maka sebutan makhluk seperti ini bukan ḍāll, tetapi gāwī (الغاوي). Bentuk jamaknya gāwūn (الغاوون) atau gāwīn (الغاوين). Lafal ini biasanya juga diterjemahkan “orang yang tersesat”. Iblis disebut gāwī karena dia tahu kebenaran, tapi tidak mau mengikutinya. Dia tahu petunjuk tapi tidak melaksanakannya. Dia tahu perintah tapi sengaja melanggarnya. Fir’aun juga termasuk golongan ini, sebab hati Fir’aun sebenarnya meyakini kebenaran Nabi Musa, tapi hawa nafsunya yang tidak mau kehilangan kemegahan duniawi membuatnya menolak mengikuti nabi Musa. Orang Yahudi juga masuk dalam golongan ini. Mereka tahu kebenaran Nabi Muhammad, tapi enggan mengikutinya karena dengki. Mayoritas orientalis Barat yang mengkaji Islam juga banyak yang terkena sifat ini.

Jadi, bisa disimpulkan dāll adalah ciri orang yang tidak tahu kebenaran secara total, sementara gāwī adalah orang yang sebenarnya mengakui kebenran sesuatu tapi enggan mengikutinya.

Adapun muhtadī (المهتدي), maka pengertiannya adalah orang yang mendapatkan petunjuk. Bentuk jamaknya muhtadūn (المهتدون) atau muhtadīn (المهتدين). Penekanannya semata-mata dari aspek perolehan ilmu yang menjadi tuntunan, petunjuk dan pedoman untuk melangkah. Jadi, jika dalam Al-Qur’an disebut orang-orang yang mendapatkan petunjuk, kondisi-kondisi yang membuat Allah berkenan memberi petunjuk, dan hal-hal yang membuat Allah tidak berkenan memberi petunjuk, maka maksudnya adalah kondisi seseorang mendapatkan ilmu yang bisa mengarahkannya ke jalan yang benar.

Begitu petunjuk tersebut diikuti dan dilaksanakan, maka orang tersebut disebut dengan istilah rāsyid (الراشد). Bentuk jamaknya rāsyidūn (الراشدون) atau rāsyidīn (الراشدين) Dengan kata lain, rāsyid adalah muhtadī (orang yang mendapatkan petunjuk) yang mengamalkan petunjuk tersebut.

Oleh karena itu, sekarang kita bisa mamhami lebih baik mengapa para Sahabat disebut Allah sebagai kaum rāsyidun dalam ayat ini,

﴿ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللّٰهِ ۗ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنَ الْاَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيْكُمُ الْاِيْمَانَ وَزَيَّنَهٗ فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ اِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الرّٰشِدُوْنَۙ ٧ ﴾ ( الحجرٰت/49:7)
Artinya

“Ketahuilah olehmu bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah. Kalau dia menuruti (kemauan) kamu dalam banyak hal pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang rāsyidūn” (Al-Hujurat/49:7)

Para Sahabat yang memiliki sifat menonjol cinta terhadap iman, benci kekufuran dan benci kemaksiatan disebut Allah sebagai kaum rāsyidūn karena mereka mendapatkan petunjuk, lalu melaksanakan petunjuk tersebut.

Dari sini bisa difahami juga istilah khulafā’ rāsyidīn. Khalifah Abu Bakar, Umar, Uṡmān dan ‘Alī disebut para khalifah rāsyidīn karena mereka mendapatkan petunjuk dan melaksanakan petunjuk tersebut, sehingga layak ijtihadnya diikuti pada perkara-perkara yang tidak dijelaskan dalam Al-Qur’an maupun hadis.

Sampai sini bisa disimpulkan juga bahwa dāll adalah lawan muhtadī, sementara gāwī adalah lawan rāsyid. Ibnu Rajab berkata,

فالراشد عرف الحقَّ واتَّبعه، والغاوي: عرفه ولم يتَّبعه، والضالُّ: لم يعرفه بالكليَّة، فكلُّ راشدٍ، فهو مهتد، وكل مهتدٍ هدايةً تامَّةً، فهو راشد؛ لأنَّ الهدايةَ إنَّما تتمُّ بمعرفة الحقِّ والعمل به أيضاً. جامع العلوم والحكم ت ماهر الفحل (2/ 781)
Artinya,

“Rāsyid adalah orang yang mengetahui kebenaran dan mengikutinya. Gāwī adalah orang yang mengetahui kebenaran tapi tidak mengikutinya. Ḍāll adalah orang yang tidak mengetahui kebenaran secara total. Jadi, setiap rāsyid adalah muhtadī dan setiap muhtadī yang mendapatkan hidayah sempurna maka dia rāsyid karena hidayah itu hanya sempurna dengan cara mengetahui kebenaran kemudian mengamalkannya juga” (Jāmi‘ Al-‘Ulūm wa Al-Ḥikam, juz 2 hlm 781)

Versi Situs: irtaqi.net/2020/12/10/perbedaan-antara-rasyid-muhtadi-ḍall-dan-gawi/

***
24 Rabi’ul Akhir 1442 H

Friday, August 7, 2020

KEHEBATAN ILMU TAFSIR IBNU ABBAS


Posted By: Adminon: August 05, 2020In: TafsirNo Comments

Oleh : Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

Ilmu tafsir Ibnu ‘Abbās itu menakjubkan. Jika beliau menafsirkan Al-Qur’an, seakan-akan beliau menyibak tirai gaib lalu menggambarkan alam gaib itu dengan cara yang indah seaakan-akan kita melihatnya sendiri dengan mata kepala. Kemampuan menjelaskan isi Al-Qur’an layaknya seorang nabi seperti ini memang anugerah besar untuk beliau. Rasa-rasanya keilmuan terhadap Al-Qur’an sedalam Ibnu ‘Abbās tidak akan pernah berulang muncul di tengah-tengah umat Islam setelah masa Nabi  dan masa Sahabat sampai hari kiamat. Hal itu dikarenakan Ibnu ‘Abbās mendapatkan kesempatan anugerah ilahiyyah istimewa yang tidak mungkin ditiru oleh siapapun kecuali memang semata-mata dikehendaki oleh Allah.

Keistimewaan Ibnu ‘Abbās yang membedakannya dengan semua ahli tafsir di masa Sahabat maupun masa sesudahnya adalah doa Rasulullah . Secara khusus Rasulullah  memang mendoakan Ibnu ‘Abbās sejak kecil agar menjadi hamba Allah yang fakih, ahli dalam ilmu agama, dan menguasai ilmu tafsir. Doa seperti ini, siapakah yang bisa meniru untuk mendapatkannya? Ahmad meriwayatkan doa Rasulullah  untuk Ibnu ‘Abbās sebagai berikut,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَضَعَ يَدَهُ عَلَى كَتِفِي – أَوْ عَلَى مَنْكِبِي، شَكَّ سَعِيدٌ – ثُمَّ قَالَ: ” اللهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ (مسند أحمد ط الرسالة (4/ 225)

Artinya,
“Dari Ibnu Abbas: bahwa Rasulullah ﷺ meletakkan tangannya di atas bahuku atau di atas pundaku, -Sa’id merasa ragu, – kemudian beliau berdoa: “ALLAHUMMA FAQQIHHU FI AD DIN WA ‘ALLIMHU AT TA`WIL (Ya Allah fahamkanlah ia terhadap agama dan ajarilah ia ta`wil (H.R.Ahmad)

Tentu saja doa Rasulullah  tidak seperti doa-doa kita. 100 kali kita berdoa bersungguh-sungguh dan menghiba-hiba belum tentu Allah berkenan mendengar apalagi mengabulkan. Adapun Rasulullah , berdoa satu kali saja sudah cukup mustajab dan akan langsung dikabulkan oleh Allah. Wajar jika Ibnu ‘Abbas kemudian tumbuh menjadi pemuda yang sangat mencintai ilmu, memiliki daya tahan tinggi untuk memburu ilmu dari berbagai sumber, dan menyerap sangat baik semua ilmu yang beliau dapatkan dari Rasulullah , Sahabat, maupun ahli kitab yang tidak bertentangan dengan Islam. Akhirnya Ibnu ‘Abbas dikenal para Sahabat sebagai seorang penafsir Al-Qur’an terbaik yang pernah dimiliki umat Islam. Ibnu Mas‘ūd bersaksi ketinggian kualitas ilmu tafsir Ibnu ‘Abbās sebagai berikut,

نَعَمْ تُرْجُمَانُ الْقُرْآنِ ابْنُ عَبَّاسٍ» تفسير الطبري = جامع البيان ط هجر (1/ 84)

Artinya,
“Sebaik-baik penafsir Al-Qur’an adalah Ibnu Abbas” (Tafsīr Al-Ṭabarī, juz 1 hlm 84)

Pada saat Umar bin Al-Khaṭṭāb menjadi Khalifah, Ibnu ‘Abbās pernah diundang untuk hadir dalam semacam pertemuan yang dihadiri para sesepuh veteran perang Badar. Lalu Umar bertanya kepada hadirin tentang tafsir Surah Al-Naṣr. Sebagian dari mereka menjawab bahwa dalam Surah Al-Naṣr, Allah memerintahkan kita agar beristighfar dan bertasbih mensucikanNya. Ketika Umar bertanya kepada Ibnu ‘Abbās, ternyata jawabannya lain. Kata Ibnu ‘Abbās, ayat itu adalah isyarat ajal Rasulullah . Maksudnya, jika sudah datang pertolongan Allah dan terjadi Fathu Makkah, maka itu pertanda bahwa ajal Rasulullah  sudah dekat. Oleh karena itu perbanyaklah istighfar dan tasbih dalam rangka persiapan menyambut hari pertemuan dengan Allah itu. Umar setuju dengan tafsir itu.

Riwayat ini menunjukkan bahwa Ibnu ‘Abbās mampu melihat yang tidak bisa dilihat umumnya Sahabat dan mampu menafsirkan dengan tafsir yang tidak bisa diphami oleh umumnya Sahabat.

Lebih menakjubkan lagi adalah kejadian pidato Ibnu ‘Abbās di depan jamaah haji di zaman kekhilafahan Ali bin Abū Ṭālib.

Syaqīq bersaksi, waktu itu Ibnu ‘Abbās berpidato dengan sebuah pidato yang luar biasa dengan menafsirkan Al-Qur’an yang seandainya didengar oleh bangsa Turki, Romawi dan Al-Dailam niscaya mereka semua akan masuk Islam! Al-Ṭabarī meriwayatkan,

عن شقيق، قال: استعمل عليٌّ ابنَ عباسٍ على الحج، قال: فخطب الناسَ خطبة لو سمعها الترك والرُّوم لأسلموا، ثم قرأ عليهم سُورة النور، فجعل يفسرها. تفسير الطبري = جامع البيان ت شاكر (1/ 81)

Artinya,
“Dari Syaqīq, ia berkata, ‘Ali menugasi Ibnu ‘Abbās untuk mengurusi haji. Syaqīq berkata, ‘Ibnu Abbaspun berpidato di tengah orang-orang dengan sebuah pidato yang seandainya didengar oleh bangsa Turki dan Romawi pasti mereka akan masuk Islam. Kemudian Ibnu ‘Abbās membacakan kepada mereka Surah An-Nur dan mulai menafsirkannya (Tafsīr Al-Ṭabarī, juz 1 hlm 81)

Riwayat lain Al-Ṭabarī berbunyi,

عن أبي وائل شقيق بن سلمة، قال: قرأ ابنُ عباسٍ سورة البقرة، فجعل يُفسِّرها، فقال رجل: لو سمعتْ هذا الديلمُ لأسلمتْ (تفسير الطبري = جامع البيان ت شاكر (1/ 81)

Artinya,

“Dari Abū Wā’il Syaqīq bin Salamah, beliau berkata, ‘Ibnu ‘Abbās membacakan Surah Albaqarah dan mulai menafsirkannya. Seorang lelaki berkata, ‘Seandainya suku Al-Dailam mendengar ini mereka pasti akan masuk Islam” (Tafsīr Al-Ṭabarī, juz 1 hlm 81)

Hanya saja, tafsir Ibnu ‘Abbās banyak dipalsukan. Ada dua Sahabat yang banyak dipalsukan tafsirnya yakni Ali bin Abū Ṭālib dan Ibnu ‘Abbās. Mungkin karena keduanya sangat rapat dengan Nabi ﷺ dan termasuk ahlul bait, maka pemalsuan atas nama mereka lebih banyak daripada Sahabat yang lain karena peluang dipercaya banyak orang lebih besar daripada yang lain. Oleh karena itu kita harus berhati-hati saat menerima tafsir yang dinisbahkan kepada Ibnu ‘Abbās. Ada sanad yang kuat, ada yang masih perlu diteliti dan ada sanad yang lemah. Ibnu Ḥajar Al- ‘Asqalānī menjelaskan kualitas jalur-jalur tersebut secara panjang lebar dalam mukadimah kitab Al-‘Ujāb fī Bayāni Al-Asbāb.

Jalur-jalur riwayat dari Ibnu ‘Abbās yang bisa dipercaya adalah,

• Dari Mu‘āwiyah bin Ṣāliḥ dari ‘Alī bin Abū Ṭalḥah dari Ibnu ‘Abbās (ini jalur terbaik)
• Dari Ibnu Abī Najīḥ dari Mujāhid bin Jabr dari Ibnu ‘Abbās
• Dari Qais bin Muslim Al-Kūfī dari ‘Aṭā’ bin Al-Sā’ib dari Sa‘īd bin Jubair dari Ibnu ‘Abbās
• Dari Muhammad bin Isḥāq ṣāḥibussiyar dari Muhammad bin Abu Muhammad Maulā āli Zaid bin Ṡābit dari ‘Ikrimah atau Sa‘īd bin Jubair dari Ibnu ‘Abbās
• Dari Ibnu Juraij dari ‘Aṭā’ bin Abū Rabāḥ dari Ibnu ‘Abbās (tapi hanya terkait Surah Al-Baqarah dan Ālu ‘Imrān)
• Dari Ismā‘īl bin Abdurrahman Al-Suddī Al-Kabīr dari Abu Mālik atau Abū Ṣāliḥ dari Ibnu ‘Abbās (Al-Suddī adalah Tābi‘īn Syi‘ah. Hanya saja Muslim memakainya. Ibnu Abū Ḥatim sama sekali tidak mau memakainya, tapi Ibnu Jarīr Al-Ṭabarī mau memakainya)

Jalur riwayat dari Ibnu ‘Abbās yang masih harus diteliti adalah,

• Dari Abdul Malik bin Juraij dari Ibnu ‘Abbās. Riwayat Al-Ḥajjāj bin Muhammad bisa dipegang. Riwayat Bakr bin Sahl Al-Dimyāṭī tidak bisa dipegang

Jalur-jalur riwayat lemah dari Ibnu ‘Abbās adalah,
• Dari Al-Ḍaḥḥāk bin Muzāḥim Al-Hilālī dari Ibnu ‘Abbās. Al-Ḍaḥḥāk sendiri ṡiqah. Hanya saja riwayatnya dari Ibnu ‘Abbās munqaṭi‘.
• Dari ‘Aṭiyyah Al-‘Aufī dari Ibnu ‘Abbās
• Dari Muqātil bin Sulaimān dari Ibnu ‘Abbās
• Dari Muhammad bin Al-Sā’ib Al-Kalbī dari Abū Ṣālih dari Ibnu ‘Abbās. Ini adalah jalur yang paling lemah

Dengan kondisi seperti ini wajar jika riwayat sahih dari tafsir Ibnu ‘Abbas itu jumlahnya tidak banyak, Murid Al-Syāfi‘ī yang bernama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Ḥakam meriwayatkan bahwa Al-Syāfi‘ī pernah mengatakan kalau tafsir sahih dari Ibnu ‘Abbās itu hanya sekitar 100 saja. Al-Syāfi‘ī berkata,

لم يثبت عن ابن عباس في التفسير إلا شبيه بمائة حديث. (مناقب الشافعي للبيهقي (2/ 23)

Artinya,
“Tidak valid tafsir dari Ibnu ‘Abbās kecuali sekitar 100-an” (Manāqib Al-Syāfi‘ī, juz 2 hlm 23)

Demikianlah kondisi riwayat tafsir dari Ibnu ‘Abbās. Informasi ini sangat berguna untuk menyaring riwayat-riwayat tafsir dari Ibnu ‘Abbās yang tercantum dalam kitab-kitab tafsir bil ma’ṡūr seperti tafsir Ibnu Kaṡīr, tafsir Al-Ṭabarī, Al-Durru Al-Manṡūr dan semisalnya.

Ada satu kitab khusus yang dikarang untuk mengumpulkan semua riwayat tafsir dari Ibnu ‘Abbās. Nama kitab tersebut adalah Tanwīru Al-Miqbās min Tafsīri Ibni ‘Abbās yang dihimpun oleh Abū Ṭahir Muhammad bin Ya‘qūb Al-Fairuza Ābādī, pengarang kamus terkenal bernama Al-Qāmūs Al-Muḥīṭ.

Hanya saja, kumpulan riwayat tafsir Ibnu ‘Abbas dalam Tanwīru Al-Miqbās itu mayoritas berasal dari jalur Al-Suddī dan Al-Kalbī. Telah kita ketahui, jalur Al-Kalbī adalah jalur yang paling lemah semnetara jalur Al-Suddī adalah jalur yang masih harus diteliti kembali karena kadang bisa kuat dan kadang bisa lemah. Oleh karena itu, mengambil riwayat dari kitab Tanwīru Al-Miqbās itu harus ekstra hati-hati, meskipun dari sisi nilai ilmiah kadang konten tafsirnya sungguh menarik.

رضي الله عن ابن عباس والصحابة أحمعين
اللهم اجعلنا من محبي أصحاب رسول الله واجمعنا معهم في الفردوس الأعلى