Showing posts with label al quran. Show all posts
Showing posts with label al quran. Show all posts

Sunday, July 23, 2023

Surat Yang Hilang?

Surat Yang Hilang?

Sebab SS Pak Prof ini terlanjur viral, saya jadi ingin membahas ini tipis-tipis dengan harapan para pembaca umum bisa menambah wawasan tentang ilmu al-Qur'an.

Begini, dalam ilmu al-Qur'an dan ushul fiqh ada satu bab yang berjudul Nasakh. Nasakh ini artinya menghapus suatu ayat. Nasakh terbagi menjadi tiga jenis, yakni:

1. Menghapus tulisan dan pemberlakuannya
2. Menghapus tulisan tapi tetap diberlakukan
3. Menghapus pemberlakuan tapi tulisannya masih ada

Dari segi ada tidaknya ganti, nasakh ada yang dihapus lalu diganti dengan ayat lain. Ada pula yang dihapus tapi tidak ada gantinya, semisal dua ayat yang akan kita bahas ini.

Nah, salah satu contoh ayat (surat) yang dihapus tulisannya dari mushaf adalah dua surat pendek berisi satu ayat doa, yakni surat al-Hafd (الحفد) yang isinya sebagai berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم إياك نعبد ولك نصلي ونسجد وإليك نسعى ونحفد نرجو رحمتك ونخشى عذابك إن عذابك بالكفار ملحق

dan surat al-Khul' (الخلع) yang isinya sebagai berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم إنا نستعينك ونستغفرك ونثني عليك الخير كله ونشكرك ولا نكفرك ونخلع ونترك من يفجرك

Kedua surat pendek itu memang sudah dihapus tulisannya sehingga kita tak dapat menjumpainya dalam mushaf standar yang ada saat ini. Imam Suyuthi dalam tafsirnya menyampaikan beberapa riwayat yang berbeda yang memuat sedikit perbedaan redaksi kedua surat tersebut. Namun demikian bukan berarti keduanya hilang tidak terpakai sebab seperti diterangkan dalam riwayat dari Umar, as-Sufyan, al-Hasan dan lain-lain, kedua surat yang dihapus tersebut justru tetap dibaca sebagai doa qunut. (as-Suyuthi, ad-Durr al-Mantsur, VIII/297-298). Jadi, anda boleh membaca keduanya sebagai qunut.

Meski sudah dihapus dari mushaf, Ubay bin Ka'ab dan Ibnu Mas'ud tetap menuliskannya di mushaf pribadi mereka. Keduanya diletakkan secara berurutan sebagai berikut: surat al-Ashr lalu al-Khul' lalu al-Hafd lalu al-Humazah dan seterusnya (as-Suyuthi, al-Itqan, I/223). Langkah ini wajar sebab koleksi pribadi para sahabat kadang memuat hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dimasukkan di sana. Ada juga ayat yang tidak ditulis dalam koleksi pribadi sahabat tapi mereka hafal sebagai bagian dari al-Qur'an pada masa lalu sebelum dihapus, yakni ayat rajam sehingga anda tidak akan menemukannya di al-Qur'an sekarang. Hal seperti ini bukan temuan baru sebab catatan keberadannya diabadikan oleh para ulama dalam karya mereka.

Jadi, apakah kedua surat ini hilang? Jawabannya adalah tidak hilang, hanya memang tidak ditulis sebab dinasakh. Kalau memang hilang, tentu tidak akan dijumpai di mana pun dan tidak akan dibaca saat qunut.

Pernyataan dalam SS pak prof di potongan quote ceramah maupun di bukunya bahwa surat ini hilang dan mencoba direkonstruksi oleh kawannya adalah pernyataan aneh. Ini sama seperti orang yang masuk ke garasi mobil anda dan menemukan stiker di sana lalu bilang bahwa dia menemukan stiker yang hilang dari mobil anda dan mencoba merekonstruksinya kembali. Anda mungkin akan senyum-senyum berkata: "Mas, stiker itu gak hilang, memang sudah tidak saya pasang".

Ohya, tulisan yang tepat adalah al-Hafd pakai huruf dal (د) dan dalam bentuk mashdar sehingga tidak tepat bila ditulis al-Hafidz atau al-Hafiz. Juga yang tepat adalah al-Khul' sehingga tidak tepat ditulis al-Khal' apalagi al-Halaq.

Semoga bermanfaat.

Thursday, October 1, 2020

Biografi Gus Baha'

Biografi Gus Baha'

Gus Baha atau KH. Ahmad Bahauddin Nursalim adalah putra Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Alquran di Kragan, Narukan, Rembang. Kiai Nur Salim adalah murid dari Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdullah Salam, Kajen, Pati. Nasabnya bersambung kepada para ulama besar. Bersama Kiai Nur Salim inilah, Gus Miek (KH Hamim Jazuli) memulai gerakan Jantiko (Jamaah Anti Koler) yang menyelenggarakan semaan Al-Qur’an secara keliling.
Jantiko kemudian berganti Mantab (Majelis Nawaitu Topo Broto), lalu berubah jadi Dzikrul Ghafilin. Kadang ketiganya disebut bersamaan: Jantiko-Mantab dan Dzikrul Ghafilin.

Kiai kelahiran bantul 29 September-1970 ini memilih Yogyakarta sebagai tempatnya memulai pengembaraan ilmiahnya. Pada tahun 2003 ia menyewa rumah di Yogya. Kepindahan ini diikuti oleh sejumlah santri yang ingin terus mengaji bersamanya.

PENDIDIKAN

Gus Baha' kecil memulai menempuh gemblengan keilmuan dan hafalan Al-Qur'an di bawah asuhan ayahnya sendiri.

Hingga pada usia yang masih sangat belia, beliau telah mengkhatamkan Al-Qur'an beserta Qiro'ahnya dengan lisensi yang ketat dari ayah beliau. Memang, karakteristik bacaan dari murid-murid Mbah Arwani menerapkan keketatan dalam tajwid dan makhorijul huruf.

Menginjak usia remaja, Kiai Nursalim menitipkan Gus Baha' untuk mondok dan berkhidmat kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang, sekitar 10 km arah timur Narukan.

Di Al Anwar inilah beliau terlihat sangat menonjol dalam fan-fan ilmu Syari'at seperti Fiqih, Hadits dan Tafsir.

Hal ini terbukti dari beberapa amanat prestisius keilmiahan yang diemban oleh beliau selama mondok di Al Anwar, seperti Rois Fathul Mu'in dan Ketua Ma'arif di jajaran kepengurusan Pesantren Al Anwar.

Saat mondok di Al Anwar ini pula beliau mengkhatamkan hafalan Shohih Muslim lengkap dengan matan, rowi dan sanadnya. Selain Shohih Muslim beliau juga mengkhatamkan hafalan kitab Fathul Mu'in dan kitab-kitab gramatika arab seperti 'Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik.

Menurut sebuah riwayat, dari sekian banyak hafalan beliau tersebut menjadikan beliau sebagai santri pertama Al Anwar yang memegang rekor hafalan terbanyak di era beliau.

Bahkan tiap-tiap musyawarah yang akan beliau ikuti akan serta merta ditolak oleh kawan-kawannya, sebab beliau dianggap tidak berada pada level santri pada umumnya karena kedalaman ilmu, keluasan wawasan dan banyaknya hafalan beliau.

Selain menonjol dengan keilmuannya, beliau juga sosok santri yang dekat dengan kiainya. Dalam berbagai kesempatan, beliau sering mendampingi guru beliau Syaikhina Maimoen Zubair untuk berbagai keperluan. Mulai dari sekedar berbincang santai, hingga urusan mencari ta'bir dan menerima tamu-tamu ulama'-ulama' besar yang berkunjung ke Al Anwar. Hingga beliau dijuluki sebagai santri kesayangan Syaikhina Maimoen Zubair.

Pernah pada suatu ketika beliau dipanggil untuk mencarikan ta'bir tentang suatu persoalan oleh Syaikhina. Karena saking cepatnya ta'bir itu ditemukan tanpa membuka dahulu referensi kitab yang dimaksud, hingga Syaikhina pun terharu dan ngendikan "Iyo ha'... Koe pancen cerdas tenan" (Iya ha'... Kamu memang benar-benar cerdas).

Selain itu Gus Baha' juga kerap dijadikan contoh teladan oleh Syaikhina saat memberikan mawa'izh di berbagai kesempatan tentang profil santri ideal. "Santri tenan iku yo koyo baha' iku...." (Santri yang sebenarnya itu ya seperti baha' itu....) begitu kurang lebih ngendikan Syaikhina.

Dalam riwayat pendidikan beliau, semenjak kecil hingga beliau mengasuh pesantren warisan ayahnya sekarang, beliau hanya mengenyam pendidikan dari 2 pesantren, yakni pesantren ayahnya sendiri di desa Narukan dan PP. Al Anwar Karangmangu, Rembang.

Pernah suatu ketika ayahnya menawarkan kepada beliau untuk mondok di Rushoifah atau Yaman. Namun beliau lebih memilih untuk tetap di Indonesia, berkhidmat kepada almamaternya Madrasah Ghozaliyah Syafi'iyyah PP. Al Anwar dan pesantrennya sendiri LP3IA.

Pernikahan

Setelah menyelesaikan pengembaraan ilmiahnya di Sarang,beliau menikah dengan seorang Neng pilihan pamannya dari keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Ada cerita menarik sehubungan dengan pernikahan beliau. Diriwayatkan, setelah acara lamaran selesai, beliau menemui calon mertuanya dan mengutarakan sesuatu yang menjadi kenangan beliau hingga kini. Beliau mengutarakan bahwa kehidupan beliau bukanlah model kehidupan yang glamor, bahkan sangat sederhana.

Beliau berusaha meyakinkan calon mertuanya untuk berfikir ulang atas rencana pernikahan tersebut.
Tentu maksud beliau agar mertuanya tidak kecewa di kemudian hari. Mertuanya hanya tersenyum dan menyatakan "klop" alias sami mawon kalih kulo.

Kesederhanaan beliau ini dibuktikan saat beliau berangkat keSidogiri untuk melangsungkan upacara akad nikah yang telah ditentukan waktunya. Beliau berangkat sendiri ke Pasuruan dengan menumpang bus regular alias bus biasa kelas ekonomi. Berangkat dari Pandangan menuju Surabaya, selanjutnya disambung bus kedua menuju Pasuruan. Kesederhanaan beliau bukanlah sebuah kebetulan, namun merupakan hasil didikan ayahnya semenjak kecil.

Keakhlakannya

Beliau hidup sederhana bukan karena keluarga beliau miskin. Dari silslah keluarga beliau dari pihak ibu, atau lebih tepatnya lingkungan keluarga di mana beliau diasuh semenjak kecil, tiada satu keluargapun yang miskin.

Bahkan kakek beliau dari jalur ibu merupakan juragan tanah di desanya. Saat dikonfirmasi oleh penulis perihal kesederhanaan beliau, beliau menyatakan bahwa hal tersebut merupakan karakter keluarga Qur'an yang dipegang erat sejak zaman leluhurnya.

Bahkan salah satu wasiat dari ayahnya adalah agar beliau menghindari keinginan untuk menjadi 'manusia mulia' dari pandangan keumuman makhluk atau lingkungannya. Hal inilah yang hingga kini mewarnai kepribadian dan kehidupan beliau sehari-hari.

Setelah menikah beliau mencoba hidup mandiri dengan keluarga barunya. Beliau menetap di Yogyakarta sejak 2003. Selama di Yogya, beliau menyewa rumah untuk ditempati keluarga kecil beliau, berpindah dari satu lokasi kelokasi lain. Semenjak beliau hijrah ke Yogyakarta, banyak santri-santri beliau di Karangmangu yang merasa kehilangan induknya.

Hingga pada akhirnya mereka menyusul beliau ke Yogya dan urunan atau patungan untuk menyewa rumah di dekat rumah beliau. Tiada tujuan lain selain untuk tetap bisa mengaji kepada beliau.

Ada sekitar 5 atau 7 santri mutakhorijin Al Anwar maupun MGS yang ikut beliau ke Yogya saat itu. Saat di Yogya inilah kemudian banyak masyarakat sekitar beliau yang akhirnya minta ikut ngaji kepada beliau.

Pada tahun 2005 ayah beliau KH. Nursalim jatuh sakit. Beliau pulang sementara waktu untuk ikut merawat ayah beliau bersama keempat saudaranya.

Namun siapa sangka, beberapa bulan kemudian Kiai Nursalim wafat. Gus Baha' tidak dapat lagi meneruskan perjuangannya di Yogya sebab beliau diamanahi oleh ayah beliau untuk melanjutkan tongkat estafet kepengasuhan di LP3IA Narukan.

Banyak yang merasa kehilangan atas kepulangan beliau ke Narukan. Akhirnya para santri beliaupun, sowan dan meminta beliau kerso kembali ke Yogya.

Hingga pada gilirannya beliau bersedia namun hanya satu bulan sekali, dan itu berjalan hingga kini. Selain mengasuh pengajian, beliau juga mengabdikan dirinya di Lembaga Tafsir Al-Qur'an Universitas Islam Indonesa (UII) Yogyakarta.

Keilmuannya

Selain Yogyakarta beliau juga diminta untuk mengasuh PengajianTafsir Al-Qur'an di Bojonegoro, Jawa Timur. Di Yogya minggu terakhir, sedangkan di Bojonegoro minggu kedua setiap bulannya.

Hal ini beliau jalani secara rutin sejak 2006 hingga kini. Di UII beliau adalah Ketua Tim Lajnah Mushaf UII.

Timnya terdiri dari para Profesor, Doktor dan ahli-ahli Al-Qur'an dari seantero Indonesia seperti Prof. Dr. Quraisy Syihab, Prof. Zaini Dahlan, Prof. Shohib dan para anggota Dewan Tafsir Nasional yang lain.

Suatu kali beliau ditawari gelar Doctor Honoris Causa dari UII, namun beliau tidak berkenan. Dalam jagat Tafsir Al-Qur'an di Indonesia beliau termasuk pendatang baru dan satu-satunya dari jajaran Dewan Tafsir Nasional yang berlatar belakang pendidikan non formal dan non gelar.

Meski demikian, kealiman dan penguasaan keilmuan beliau sangat diakui oleh para ahli tafsir nasional.

Hingga pada suatu kesempatan pernah diungkapkan oleh Prof. Quraisy bahwa kedudukan beliau di Dewan Tafsir Nasional selain sebagai Mufassir, juga sebagai Mufassir Faqih karena penguasaan beliau pada ayat-ayat ahkam yang terkandung dalam Al-Qur'an. Setiap kali lajnah 'menggarap' tafsir dan Mushaf Al-Qur'an,

Posisi beliau selalu di dua keahlian, yakni sebagai Mufassir seperti anggota lajnah yang lain, juga sebagai Faqihul Qur'an yang mempunyai tugas khusus mengurai kandungan fiqh dalam ayat-ayat ahkam Al-Qur'an.

Gus Baha muda waliyullah hebat di indonesia (krn menguasai al'Qur'an banyak hafal hadist dan kitab dan yg terhebat ke piawaan nya dlm menyampaikan dan menerangkan agama bisa dimengerti oleh semua lapisan masyarakat islam dan tidak terbantahkan

Selamat Ulang Tahun, K.H. Bahaudin Nursalim (Gus Baha).

Sehat selalu dalam menebar Islam yang ramah, indah, mudah sekaligus menyenangkan.

Walahualam...

Al-fatihah.........

Friday, August 7, 2020

KEHEBATAN ILMU TAFSIR IBNU ABBAS


Posted By: Adminon: August 05, 2020In: TafsirNo Comments

Oleh : Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

Ilmu tafsir Ibnu ‘Abbās itu menakjubkan. Jika beliau menafsirkan Al-Qur’an, seakan-akan beliau menyibak tirai gaib lalu menggambarkan alam gaib itu dengan cara yang indah seaakan-akan kita melihatnya sendiri dengan mata kepala. Kemampuan menjelaskan isi Al-Qur’an layaknya seorang nabi seperti ini memang anugerah besar untuk beliau. Rasa-rasanya keilmuan terhadap Al-Qur’an sedalam Ibnu ‘Abbās tidak akan pernah berulang muncul di tengah-tengah umat Islam setelah masa Nabi  dan masa Sahabat sampai hari kiamat. Hal itu dikarenakan Ibnu ‘Abbās mendapatkan kesempatan anugerah ilahiyyah istimewa yang tidak mungkin ditiru oleh siapapun kecuali memang semata-mata dikehendaki oleh Allah.

Keistimewaan Ibnu ‘Abbās yang membedakannya dengan semua ahli tafsir di masa Sahabat maupun masa sesudahnya adalah doa Rasulullah . Secara khusus Rasulullah  memang mendoakan Ibnu ‘Abbās sejak kecil agar menjadi hamba Allah yang fakih, ahli dalam ilmu agama, dan menguasai ilmu tafsir. Doa seperti ini, siapakah yang bisa meniru untuk mendapatkannya? Ahmad meriwayatkan doa Rasulullah  untuk Ibnu ‘Abbās sebagai berikut,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَضَعَ يَدَهُ عَلَى كَتِفِي – أَوْ عَلَى مَنْكِبِي، شَكَّ سَعِيدٌ – ثُمَّ قَالَ: ” اللهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ (مسند أحمد ط الرسالة (4/ 225)

Artinya,
“Dari Ibnu Abbas: bahwa Rasulullah ﷺ meletakkan tangannya di atas bahuku atau di atas pundaku, -Sa’id merasa ragu, – kemudian beliau berdoa: “ALLAHUMMA FAQQIHHU FI AD DIN WA ‘ALLIMHU AT TA`WIL (Ya Allah fahamkanlah ia terhadap agama dan ajarilah ia ta`wil (H.R.Ahmad)

Tentu saja doa Rasulullah  tidak seperti doa-doa kita. 100 kali kita berdoa bersungguh-sungguh dan menghiba-hiba belum tentu Allah berkenan mendengar apalagi mengabulkan. Adapun Rasulullah , berdoa satu kali saja sudah cukup mustajab dan akan langsung dikabulkan oleh Allah. Wajar jika Ibnu ‘Abbas kemudian tumbuh menjadi pemuda yang sangat mencintai ilmu, memiliki daya tahan tinggi untuk memburu ilmu dari berbagai sumber, dan menyerap sangat baik semua ilmu yang beliau dapatkan dari Rasulullah , Sahabat, maupun ahli kitab yang tidak bertentangan dengan Islam. Akhirnya Ibnu ‘Abbas dikenal para Sahabat sebagai seorang penafsir Al-Qur’an terbaik yang pernah dimiliki umat Islam. Ibnu Mas‘ūd bersaksi ketinggian kualitas ilmu tafsir Ibnu ‘Abbās sebagai berikut,

نَعَمْ تُرْجُمَانُ الْقُرْآنِ ابْنُ عَبَّاسٍ» تفسير الطبري = جامع البيان ط هجر (1/ 84)

Artinya,
“Sebaik-baik penafsir Al-Qur’an adalah Ibnu Abbas” (Tafsīr Al-Ṭabarī, juz 1 hlm 84)

Pada saat Umar bin Al-Khaṭṭāb menjadi Khalifah, Ibnu ‘Abbās pernah diundang untuk hadir dalam semacam pertemuan yang dihadiri para sesepuh veteran perang Badar. Lalu Umar bertanya kepada hadirin tentang tafsir Surah Al-Naṣr. Sebagian dari mereka menjawab bahwa dalam Surah Al-Naṣr, Allah memerintahkan kita agar beristighfar dan bertasbih mensucikanNya. Ketika Umar bertanya kepada Ibnu ‘Abbās, ternyata jawabannya lain. Kata Ibnu ‘Abbās, ayat itu adalah isyarat ajal Rasulullah . Maksudnya, jika sudah datang pertolongan Allah dan terjadi Fathu Makkah, maka itu pertanda bahwa ajal Rasulullah  sudah dekat. Oleh karena itu perbanyaklah istighfar dan tasbih dalam rangka persiapan menyambut hari pertemuan dengan Allah itu. Umar setuju dengan tafsir itu.

Riwayat ini menunjukkan bahwa Ibnu ‘Abbās mampu melihat yang tidak bisa dilihat umumnya Sahabat dan mampu menafsirkan dengan tafsir yang tidak bisa diphami oleh umumnya Sahabat.

Lebih menakjubkan lagi adalah kejadian pidato Ibnu ‘Abbās di depan jamaah haji di zaman kekhilafahan Ali bin Abū Ṭālib.

Syaqīq bersaksi, waktu itu Ibnu ‘Abbās berpidato dengan sebuah pidato yang luar biasa dengan menafsirkan Al-Qur’an yang seandainya didengar oleh bangsa Turki, Romawi dan Al-Dailam niscaya mereka semua akan masuk Islam! Al-Ṭabarī meriwayatkan,

عن شقيق، قال: استعمل عليٌّ ابنَ عباسٍ على الحج، قال: فخطب الناسَ خطبة لو سمعها الترك والرُّوم لأسلموا، ثم قرأ عليهم سُورة النور، فجعل يفسرها. تفسير الطبري = جامع البيان ت شاكر (1/ 81)

Artinya,
“Dari Syaqīq, ia berkata, ‘Ali menugasi Ibnu ‘Abbās untuk mengurusi haji. Syaqīq berkata, ‘Ibnu Abbaspun berpidato di tengah orang-orang dengan sebuah pidato yang seandainya didengar oleh bangsa Turki dan Romawi pasti mereka akan masuk Islam. Kemudian Ibnu ‘Abbās membacakan kepada mereka Surah An-Nur dan mulai menafsirkannya (Tafsīr Al-Ṭabarī, juz 1 hlm 81)

Riwayat lain Al-Ṭabarī berbunyi,

عن أبي وائل شقيق بن سلمة، قال: قرأ ابنُ عباسٍ سورة البقرة، فجعل يُفسِّرها، فقال رجل: لو سمعتْ هذا الديلمُ لأسلمتْ (تفسير الطبري = جامع البيان ت شاكر (1/ 81)

Artinya,

“Dari Abū Wā’il Syaqīq bin Salamah, beliau berkata, ‘Ibnu ‘Abbās membacakan Surah Albaqarah dan mulai menafsirkannya. Seorang lelaki berkata, ‘Seandainya suku Al-Dailam mendengar ini mereka pasti akan masuk Islam” (Tafsīr Al-Ṭabarī, juz 1 hlm 81)

Hanya saja, tafsir Ibnu ‘Abbās banyak dipalsukan. Ada dua Sahabat yang banyak dipalsukan tafsirnya yakni Ali bin Abū Ṭālib dan Ibnu ‘Abbās. Mungkin karena keduanya sangat rapat dengan Nabi ﷺ dan termasuk ahlul bait, maka pemalsuan atas nama mereka lebih banyak daripada Sahabat yang lain karena peluang dipercaya banyak orang lebih besar daripada yang lain. Oleh karena itu kita harus berhati-hati saat menerima tafsir yang dinisbahkan kepada Ibnu ‘Abbās. Ada sanad yang kuat, ada yang masih perlu diteliti dan ada sanad yang lemah. Ibnu Ḥajar Al- ‘Asqalānī menjelaskan kualitas jalur-jalur tersebut secara panjang lebar dalam mukadimah kitab Al-‘Ujāb fī Bayāni Al-Asbāb.

Jalur-jalur riwayat dari Ibnu ‘Abbās yang bisa dipercaya adalah,

• Dari Mu‘āwiyah bin Ṣāliḥ dari ‘Alī bin Abū Ṭalḥah dari Ibnu ‘Abbās (ini jalur terbaik)
• Dari Ibnu Abī Najīḥ dari Mujāhid bin Jabr dari Ibnu ‘Abbās
• Dari Qais bin Muslim Al-Kūfī dari ‘Aṭā’ bin Al-Sā’ib dari Sa‘īd bin Jubair dari Ibnu ‘Abbās
• Dari Muhammad bin Isḥāq ṣāḥibussiyar dari Muhammad bin Abu Muhammad Maulā āli Zaid bin Ṡābit dari ‘Ikrimah atau Sa‘īd bin Jubair dari Ibnu ‘Abbās
• Dari Ibnu Juraij dari ‘Aṭā’ bin Abū Rabāḥ dari Ibnu ‘Abbās (tapi hanya terkait Surah Al-Baqarah dan Ālu ‘Imrān)
• Dari Ismā‘īl bin Abdurrahman Al-Suddī Al-Kabīr dari Abu Mālik atau Abū Ṣāliḥ dari Ibnu ‘Abbās (Al-Suddī adalah Tābi‘īn Syi‘ah. Hanya saja Muslim memakainya. Ibnu Abū Ḥatim sama sekali tidak mau memakainya, tapi Ibnu Jarīr Al-Ṭabarī mau memakainya)

Jalur riwayat dari Ibnu ‘Abbās yang masih harus diteliti adalah,

• Dari Abdul Malik bin Juraij dari Ibnu ‘Abbās. Riwayat Al-Ḥajjāj bin Muhammad bisa dipegang. Riwayat Bakr bin Sahl Al-Dimyāṭī tidak bisa dipegang

Jalur-jalur riwayat lemah dari Ibnu ‘Abbās adalah,
• Dari Al-Ḍaḥḥāk bin Muzāḥim Al-Hilālī dari Ibnu ‘Abbās. Al-Ḍaḥḥāk sendiri ṡiqah. Hanya saja riwayatnya dari Ibnu ‘Abbās munqaṭi‘.
• Dari ‘Aṭiyyah Al-‘Aufī dari Ibnu ‘Abbās
• Dari Muqātil bin Sulaimān dari Ibnu ‘Abbās
• Dari Muhammad bin Al-Sā’ib Al-Kalbī dari Abū Ṣālih dari Ibnu ‘Abbās. Ini adalah jalur yang paling lemah

Dengan kondisi seperti ini wajar jika riwayat sahih dari tafsir Ibnu ‘Abbas itu jumlahnya tidak banyak, Murid Al-Syāfi‘ī yang bernama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Ḥakam meriwayatkan bahwa Al-Syāfi‘ī pernah mengatakan kalau tafsir sahih dari Ibnu ‘Abbās itu hanya sekitar 100 saja. Al-Syāfi‘ī berkata,

لم يثبت عن ابن عباس في التفسير إلا شبيه بمائة حديث. (مناقب الشافعي للبيهقي (2/ 23)

Artinya,
“Tidak valid tafsir dari Ibnu ‘Abbās kecuali sekitar 100-an” (Manāqib Al-Syāfi‘ī, juz 2 hlm 23)

Demikianlah kondisi riwayat tafsir dari Ibnu ‘Abbās. Informasi ini sangat berguna untuk menyaring riwayat-riwayat tafsir dari Ibnu ‘Abbās yang tercantum dalam kitab-kitab tafsir bil ma’ṡūr seperti tafsir Ibnu Kaṡīr, tafsir Al-Ṭabarī, Al-Durru Al-Manṡūr dan semisalnya.

Ada satu kitab khusus yang dikarang untuk mengumpulkan semua riwayat tafsir dari Ibnu ‘Abbās. Nama kitab tersebut adalah Tanwīru Al-Miqbās min Tafsīri Ibni ‘Abbās yang dihimpun oleh Abū Ṭahir Muhammad bin Ya‘qūb Al-Fairuza Ābādī, pengarang kamus terkenal bernama Al-Qāmūs Al-Muḥīṭ.

Hanya saja, kumpulan riwayat tafsir Ibnu ‘Abbas dalam Tanwīru Al-Miqbās itu mayoritas berasal dari jalur Al-Suddī dan Al-Kalbī. Telah kita ketahui, jalur Al-Kalbī adalah jalur yang paling lemah semnetara jalur Al-Suddī adalah jalur yang masih harus diteliti kembali karena kadang bisa kuat dan kadang bisa lemah. Oleh karena itu, mengambil riwayat dari kitab Tanwīru Al-Miqbās itu harus ekstra hati-hati, meskipun dari sisi nilai ilmiah kadang konten tafsirnya sungguh menarik.

رضي الله عن ابن عباس والصحابة أحمعين
اللهم اجعلنا من محبي أصحاب رسول الله واجمعنا معهم في الفردوس الأعلى

Sunday, January 26, 2020

CAHAYA KEBERKAHAN MBAH ARWANI DI PULAU DEWATA

oleh:Nuruddin Udien Hidayat

CAHAYA KEBERKAHAN MBAH ARWANI DI PULAU DEWATA
Di tengah hingar-bingar Bali dengan berbagai pesonanya. Terdapat pondok pesantren tahfidz yang sudah lama berdiri. Bahkan perkembangannya semakin pesat, bermula dari langgar, sepetak kamar asrama dan sekarang memiliki lembaga pendidikan berbasis pondok mulai Paud hingga Perguruan Tinggi.
Kami Bersama rombongan ziarah Bali MA TBS berkesempatan sowan ke pondok tersebut.
Pendiri sekaligus pengasuhnya adalah KH. Noor Hadi. Beliau lama nyantri sekaligus menjadi abdi ndalem Mbah Arwani Kudus.
"saya mondok di kudus mulai 1966, sangking lamanya sampai yai lupa,kalau saya itu santri", ungkap beliau.
Suatu hari beliau didawuhi sama Mbah Arwani:, "Nur, Aku duwe omah Apik, Yo pondok iku. Njalukko sanad neng pengurus terus pamit. Saiki Gawehho omah dewe yo, tapi neng Bali. Iki kanggo sangu, engko bakal dicukupi pengeran. Pondokmu tak jenengno Roudlotul Huffadz, lirkadiyo wangine koyok Roudlotul Jannah",
Sambil matanya berkaca-kaca beliau melanjutnya ceritanya.
Akhirnya KH Nur Hadi memutuskan merantau ke daerah Tabanan Bali.
Alangkahnya kagetnya beliau, ternyata di Bali untuk membuat mushola 3x3 meter saja, harus meminta ijin gubernur dan harus disertai 100 tanda tanga warga sekitar, itupun kalau tidak menyalahi aturan adat.
Belum lagi harga tanahnya yang selangit. Yakni 10 meter saja mencapai 2 Milyar. Apalagi untuk membangun Masjid dan Pondok.
"kulo namung saget nangis lan wadul kalih mbah Arwani, nanging boten wantun matur langsung, jadi namung lewat do'a bakdo qiyam lail", tangkasnya.
Tapi anehnya, keesokkan harinya ada orang datang, mengaku utusan dari Kudus dan menawarkan sejumlah uang yang sama persis jumlahnya untuk beli tanah itu.
"Masyallah dibayar lunas kalih Mbah Arwani, padahal saya tidak berani matur langsung". Imbuh beliau.
Sampai sekarang, jika beliau mendapati kesulitan apapun selalu mengadu pada Mbah Arwani.
"Kulo yakin mbh arwani teseh gesang, teseh saget rawuh. Kulo boten nate melanggar perintah guru, selami hidup, nopo malih nku mbh arwani". Tambahnya.
Suatu ketika KH Nur Hadi mencoba mencari tambahan penghasilan dengan berjualan di pasar bersama isteri. Padahal semasa hidup Mbah Arwani berpesan, "Le...mbesuk ojo dodolan neng pasar".
Akhirnya sepulang dari pasar, semua orang yang dilihat beliau sepanjang jalan ternyata sangat mirip dengan wajah Mbh Arwani.
"Menawi kulo diemotke", katanya.
"Kulo nate boten pecinan, tindakan ke suatu acara. Seketika Mbah Arwani Rawuh, Le,,, nek sirahe rak dipecini ngalamat qur'ane ilang".
Akhirnya kemanapun beliau pergi pasti pecinan, sampai bertemu presiden sekalipun.
"Kulo sampun ketemu kalih sedanten presiden mulai pak Harto sampai pak Jokowi. Cuma satu presiden yang menolak saya temui, yaitu gus dur".
Saat saya kesana malah gus dur marah, "lapo kuwe rene Nur, ngurusi pondokmu ae... Negoro tak urusane aku.. "
Spontan KH Nur pun berbalik tanya, "lho kok jenengan perso nek kulo gus, padahal kulo dereng matur Nopo2.,,, "yo ambune wes ketoro nek kuwe Nur, wes muliho wiridan neng pondokmu dewe".... Kata beliau mencerikan gus dur.
Salain itu, beliau juga sempat dikucilkan oleh pemerintah setempat. Gara-gara melarang santri untuk mengikuti MTQ.
"kulo kedah nderek wasiat dawuhnya guru kulo Mbh Arwani, daripda boten didaku satrine dunia akhirat", imbuh Rois Syuriah PWNU provinsi Bali itu.
Tantangan di Bali juga dalam hal sihir ataupun santet.
"Dalam mimpi kulo, mbh Arwani nyapu teng ngajeng Pondok, tapi yang dibersihkan ada paku, beling dan batu yang tajam. Tak resik ane Le..... Ojo lali ambi dongane.... " tambah beliau.
"Kulo ngestoaken dawuh yai. Sampek sakniki Kulo nek bten nderes langsung dipun dangu mbh arwani.. Le, nderes. ...."
Sekarang masjid di Tabanan merupakan salah satu masjid yang diperbolehkan adzan dengan mikrofon. Pondok yang mempunyai madrasah sampai univertas. Semula hanya 10 anggota keluarga, namung sekarang kawasannya ramai dan mayoritas muslim."sedanten niku barokahnya mbh Arwani, kulo sambatnya ke beliau walau pun sedo, Kulo ngrasa jahil, tp yai ingkang dawuhi kulo lampahi".
Selain itu, ternyata yang mengawali adanya ziarah wali 7 di Bali adalah KH Nur Hadi.
"Daripda datang ke Bali hanya untuk berlibur, kulo berusaha mengimbangi dg hal positif. Kulo mengumpulkan 7 makam orang sholih, kersane di ziarohi. Tapi kulo boten ngarani niku wali. Soale ingkang ngertos wali kan wali pyambak, lha kulo boten wali ngeh boten ngertos... Tapi sakniki saget syiar" tambah pengasuh pondok tersebut.
"Estu le, nderekke gurumu. Boten usah mamang, pengeran bakal nyukupi, nulung..." tutup beliau.
Foto: KH Nur Hadi ketika menyampaikan mauidhoh, didampingi KH Hasan Fauzi.

Wednesday, July 10, 2019

Gus Baha' Ditegur Abdullah bin Mas'ud

Gus Baha' Ditegur Abdullah bin Mas'ud

Suatu ketika saat penyusunan Mushaf Universitas Islam Indonesia, saat itu KH. Ahmad Baha'uddin Nur Salim atau yang masyhur dikenal sebagai Gus Baha' ini masuk dalam tim penyusun sebagai Anggota Tim Lajnah Mushaf UII. Tim tersebut terdiri dari pakar tafsir dari Profesor, Doktor, dan ahli-ahli Al-Qur'an dari penjuru tanah air seperti Prof. Quraish Shihab, Prof. Zaini Dahlan, Prof Shohib, dan lain-lain.

Mungkin hanya Gus Baha' lah pakar tafsir yang tak menyandang titel akademik karena beliau tercatat hanya menyantri di Pesantren Al-Anwar, Karangmangu, Sarang, Rembang asuhan KH. Maimun Zubair, selain kepada mengaji kepada ayahandanya KH. Nur Salim al-Hafidz, murid KH. Arwani Amin Kudus dan KH. Abdullah Salam, Kajen, Pati.

Namun entah mengapa saat penyusunan Mushaf tersebut Gus Baha' lupa mencantumkan nama sahabat Abdullah bin Mas'ud dalam daftar nama sahabat yang meriwayatkan qiro'at. Dalam mushaf tersebut memang dijelaskan secara ringkas tentang sejarah penurunan, periwayatan, pembukuan dan Ulumul Qur'an lainnya.

Dalam Buku Guru Orang-Orang Pesantren Terbitan Pondok Pesantren Sidogiri disebutkan, bahwa Sahabat Ibnu Mas'ud ini tergolong salah satu sahabat yang pertama kali masuk islam (as-Sabiqunal Awwalun) bersama Abu Bakar bin Abi Quhafah, Khodijah binti Khuwailid, Ali bin Abi Thalib dan lain-lain. Beliau dikenal dengan julukan Sahibu Sawadi Rasulillah (yang mengetahui rahasia Rasulullah) karena kedekatannya dengan Rasulullah SAW.

Rasululah SAW sendiri juga pernah bersabda tentang sahabat yang berpostur tubuhnya pendek dan kurus dengan warna kulit sawo matang ini "Barangsiapa ingin membaca Al-Qur'an seperti ketika diturunkan, maka bacalah.sebagaimana bacaan Ibnu Ummi 'Abd (Ibnu Mas'ud). Rasulullah SAW kembali bersabda"Belajarlah baca Al-Qur'an dari empat orang: Ibnu Mas'ud, Muaz bin Jabal, Ubay bin Ka'ab dan Salim Maula Abi Huzaifah".

Sampai pada malam harinya, Gus Baha' pun bermimpi bertemu dengan Abdullah bin Mas'ud. Dalam mimpi tersebut Ibnu Mas'ud menegur Gus Baha' yang tak menuliskan namanya dalam daftar sahabat yang meriwayatkan Al-Qur'an.

Maka saat bangun, Gus Baha' pun segera menuliskan sahabat yang masyhur sebagai ahli qur'an ini dalam Mushaf kampus islam legendaris yang pertama diterbitkan pada tahun 1997 ini.

Begitulah sosok Gus Baha', pria kelahiran Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah yang selalu berpenampilan sederhana, namun memiliki keilmuan yang amat mendalam. Ulama yang nasabnya bersambung sampai Mbah Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu yang dimakamkan di area Masjid Lasem, Rembang ini juga telah mengkhatamkan hafalan Shohih Muslim lengkap dengan matan, rawi, dan sanadnya saat masih menyantri di Sarang.

Kitab Fikih seperti Fathul Mu'in, Nahwu seperti Imrithi, Alfiyah bin Malik pun juga telah dihafal luar kepala. Sampai-sampai Mbah Moen pun berkata "Santri tenan iku yo koyo baha' iku" (Santri yang sebenarnya itu ya seperti Baha').

Pengakuan kealimannya dalam bidang tafsir dan fiqh pun juga keluar dari pakar tafsir ternama penulis Tafsir Al-Misbah. Prof. Dr. Habib Quraish Shihab. Dimana pendiri Pusat Studi Al-Qur'an dan Mantan Menteri Agama ini mengatakan demikan "Sulit ditemukan orang yang sangat memahami dan hafal detail-detail Al-Qur'an hinga detail-detail fiqh yang tersirat dalam ayat-ayat Al-Qur'an seperti Pak Baha'"

Sungguh betapa luas samudera keilmuan ulama' nusantara. Meskipun banyak diantara mereka yang tak sempat mengeyam pendidikan di Arab  seperti KH. Ihsan Jampes (Penulis Sirojut Tholib syarh Minhajul Abidin karya Imam Ghozali), KH. Arwani Amin (Penulis Faidhul Barakat fi Qira'at Sab'ah) atau Gus Baha' di era milenial ini, namun keilmuannya diakui oleh dunia. Semoga kedepan akan muncul generasi ulama-ulama berkaliber Internasional yang lahir dari bumi Nusantara.

Sleman, 10 Juli 2019

Copas fb kang
Muhammad Abid Muaffan
Santri Backpacker Nusantara

Disarikan dari Gus Qowim, Dosen Institut Ilmu Al-Qur'an An-Nur, Jogjakarta saat silaturrahmi ke kediaman Gus Baha'.

Sunday, June 16, 2019

TATA CARA SUJUD TILAWAH

TATA CARA SUJUD TILAWAH

Oleh; Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)
***

Sujud tilawah adalah sujud satu kali yang dilakukan setelah membaca atau mendengar ayat sajdah. Yang dimaksud ayat sajdah adalah ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang mengandung perintah bersujud atau pujian terhadap orang yang bersujud karena mengagungkan Allah. Jumlah ayat-ayat seperti ini ada 14 ayat. Hukum melakukan sujud tilawah adalah sunnah.

Terkait syarat sahnya, semuanya sama dengan syarat sah salat nafilah yakni

1. Suci, baik dari hadas maupun najis
2. Menutup aurat
3. Menghadap kiblat

Adapun tatacaranya, maka harus dibedakan antara sujud tilawah yang dilakukan pada saat salat dan sujud tilawah yang dilakukan di luar salat. Berikut ini penjelasan masing-masing.

Tatacara Sujud Tilawah Di Dalam Salat

Oleh karena waktu membaca Al-Qur’an saat salat adalah pada posisi berdiri, maka situasi yang memicu untuk sujud tilawah hanyalah saat berdiri ini. Tidak mungkin “start” sujud tilawah dilakukan saat rukuk, atau sujud, atau duduk di antara dua sujud karena tidak ada bacaan Al-Qur’an pada gerakan-gerakan tersebut.

Selanjutnya berikut ini kaifiyyah sujud tilawah yang dilakukan di tengah-tengah salat tanpa membedakan apakah dalam situasi salat munfarid maupun saat menjadi imam. Untuk makmum, cukup mengikuti gerakan imam.

1. Sujud tilawah baru boleh dilakukan jika ayat sajdah sudah dibaca tuntas. Jika ayat belum selesai dibaca, meski tinggal 1 huruf, maka tidak boleh sujud tilawah
2. Tepat setelah ayat selesai dibaca (tidak boleh ada jeda panjang) bertakbirlah tanpa mengangkat tangan untuk sujud. Bacaan takbir dipanjangkan hingga dahi menyentuh tempat sujud
3. Setelah itu sujudlah dengan thuma’ninah persis seperti sujud dalam salat
4. Bacaan saat sujud adalah lafaz yang dibaca oleh Rasulullah ﷺ, yaitu

سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ

Atau,

اللَّهُمَّ اُكْتُبْ لِي بِهَا عِنْدَكَ أَجْرًا وَاجْعَلْهَا لِي عِنْدَك ذُخْرًا وَضَعْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا وَاقْبَلْهَا مِنِّي كَمَا قَبِلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُد عَلَيْهِ السَّلَامُ

Atau,

سُبْحَانَ رَبِّنَا إنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا

Atau bacaan-bacaan sujud dalam salat biasa. Atau menggabung semua bacaan tadi.

5. Setelah selesai sujud, kemudian berdiri tanpa duduk istirahat sambil bertakbir sampai tegak berdiri
6. Jika sudah tegak berdiri, maka pilihannya dua; langsung rukuk atau membaca Al-Qur’an lagi. Jika langsung rukuk maka itu boleh asalkan sebelumnya sudah membaca Al-Fatihah. Jika membaca Al-Qur’an lagi maka itu lebih afdal karena hukumnya mustahabb. Al-Qur’an yang dibaca bisa melanjutkan ayat setelah ayat sajdah dan bisa juga membaca surah baru jika kebetulan ayat sajdah itu berada di akhir surah

Tatacara Sujud Tilawah Di Luar Salat

Syariat ini berlaku tanpa membedakan apakah membaca sendiri ayat sajdah atau mendengar dari orang lain. Juga tidak membedakan apakah membacanya dengan hafalan ataukah dengan membaca mushaf.

Untuk sujud tilawah di luar salat, maka ikuti kondisi yang ada. Jika pas duduk maka gerakan sujud dimulai dari posisi duduk itu. Jika pas berdiri, maka gerakan sujud dimulai saat berdiri itu. Jika sedang duduk, tidak disunnahkan berdiri dulu sebelum sujud tilawah karena tidak ada dasarnya. Semua riwayat yang mensunnahkan berdiri dulu adalah riwayat dhoif.

Berikut ini tatacara detailnya,

1. Pastikan dulu ayat sajdah sudah dibaca tuntas. Jika ayat belum selesai dibaca, meski tinggal 1 huruf, maka tidak boleh sujud tilawah
2. Tepat setelah ayat selesai dibaca (tidak boleh ada jeda panjang) berniatlah dengan dibarengkan mengucapkan takbiratul ihram seraya mengangkat tangan setinggi pundak disusul bersedekap seperti saat salat biasa. Takbiratul ihram ini adalah syarat sah. Tidak sah sujud tilawah di luar salat tanpa takbiratul ihram.
3. Selesai bertakbiratul ihram, bertakbirlah lagi untuk sujud tanpa mengangkat tangan. Bacaan takbir dipanjangkan hingga dahi menyentuh tempat sujud
4. Setelah itu sujudlah dengan thuma’ninah persis seperti sujud dalam salat
5. Dalam sujud itu bacalah dzikir khusus untuk sujud tilawah sebagaimana yang diterangkan sebelumnya
6. Setelah selesai sujud angkatlah kepala seraya bertakbir (tanpa mengangkat tangan). Bacaan takbir dipanjangkan sampai duduk tegak.
7. Setelah duduk tegak, tidak usah bertasyahhud, tetapi langsung melakukan salam seperti dalam salat biasa. Salam ini adalah syarat sah juga. Tidak sah sujud tilawah di luar salat yang tidak ditutup dengan salam

Sampai di sini bisa disimpulkan bahwa sujud tilawah itu hanya dilakukan satu kali saja dan bisa dilakukan di dalam maupun di luar salat. Jika dilakukan di dalam salat maka tidak perlu takbiratul ihram, karena sudah “ikut” takbiratul ihram salat itu termasuk “ikut” salam salat itu. Jika dilakukan di luar salat, maka harus didahului takbiratul ihram dan diakhiri salam.

Demikian ringkasan tatacara sujud tilawah. Ringkasan ini kami sarikan dari kitab Al-Majmu’ karya An-Nawawi, kitab Roudhotu Ath-Tholibin karya An-Nawawi ditambah sejumlah referensi penunjang lainnya.

اللهم اجعلنا من الساجدين

Versi Situs: http://irtaqi.net/2019/05/18/tata-cara-sujud-tilawah/

***
12 Syawwal 1440 H

Friday, February 1, 2019

GUS BAHA' (AHLI TAFSIR ASLI DIDIKAN ULAMA' NUSANTARA)

GUS BAHA' (AHLI TAFSIR ASLI DIDIKAN ULAMA' NUSANTARA)

Salah satu santri mbah maimoen zubair Sarang yang ahli tafsir. Salah satu dewan ahli tafsir Nasional yang berlatar belakang Non formal. Salah satu ahli tafsir yang mondoknya cuman di nusantara. Dengan membaca profil beliau ini mari kita bangga jadi santri ?

Pernah pada sebuah kesempatan, Prof. Quraisy Syihab berkata : "Sulit ditemukan orang yang sangat memahami dan hafal detail-detail Al-Qur'an hingga detail-detail fiqh yang tersirat dalam ayat-ayat Al-Qur'an seperti Pak Baha'.

"KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang lebih akrab dipanggil Gus Baha' adalah putra seorang ulama' ahli Qur'an KH. Nursalim Al-Hafizh dari Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah, sebuah desa di pesisir utara pulau jawa.

KH. Nursalim adalah murid dari KH. Arwani Al-Hafizh Kudus dan KH. Abdullah Salam Al-Hafizh Pati. Dari silsilah keluarga ayah beliau inilah terhitung dari buyut beliau hingga generasi ke-empat kini merupakan ulama'-ulama' ahli Qur'an yang handal.

Silsilah keluarga dari garis ibu beliau merupakan silsilah keluarga besar ulama' Lasem, Bani Mbah Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu yang pesareannya ada di area Masjid Jami' Lasem, sekitar setengah jam perjalanan dari pusat Kota Rembang.

PENDIDIKAN

Gus Baha' kecil memulai menempuh gemblengan keilmuan dan hafalan Al-Qur'an di bawah asuhan ayahnya sendiri. Hingga pada usia yang masih sangat belia, beliau telah mengkhatamkan Al-Qur'an beserta Qiro'ahnya dengan lisensi yang ketat dari ayah beliau. Memang, karakteristik bacaan dari murid-murid Mbah Arwani menerapkan keketatan dalam tajwid dan makhorijul huruf.

Menginjak usia remaja, Kiai Nursalim menitipkan Gus Baha' untuk mondok dan berkhidmat kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang, sekitar 10 km arah timur Narukan. Di Al Anwar inilah beliau terlihat sangat menonjol dalam fan-fan ilmu Syari'at seperti Fiqih, Hadits dan Tafsir.

Hal ini terbukti dari beberapa amanat prestisius keilmiahan yang diemban oleh beliau selama mondok di Al Anwar, seperti Rois Fathul Mu'in dan Ketua Ma'arif di jajaran kepengurusan PP. Al Anwar.

Saat mondok di Al Anwar ini pula beliau mengkhatamkan hafalan Shohih Muslim lengkap dengan matan, rowi dan sanadnya. Selain Shohih Muslim beliau juga mengkhatamkan hafalan kitab Fathul Mu'in dan kitab-kitab gramatika arab seperti 'Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik.

Menurut sebuah riwayat, dari sekian banyak hafalan beliau tersebut menjadikan beliau sebagai santri pertama Al Anwar yang memegang rekor hafalan terbanyak di era beliau. Bahkan tiap-tiap musyawarah yang akan beliau ikuti akan serta merta ditolak oleh kawan-kawannya, sebab beliau dianggap tidak berada pada level santri pada umumnya karena kedalaman ilmu, keluasan wawasan dan banyaknya hafalan beliau.

Selain menonjol dengan keilmuannya, beliau juga sosok santri yang dekat dengan kiainya. Dalam berbagai kesempatan, beliau sering mendampingi guru beliau Syaikhina Maimoen Zubair untuk berbagai keperluan. Mulai dari sekedar berbincang santai, hingga urusan mencari ta'bir dan menerima tamu-tamu ulama'-ulama' besar yang berkunjung ke Al Anwar. Hingga beliau dijuluki sebagai santri kesayangan Syaikhina Maimoen Zubair.

Pernah pada suatu ketika beliau dipanggil untuk mencarikan ta'bir tentang suatu persoalan oleh Syaikhina. Karena saking cepatnya ta'bir itu ditemukan tanpa membuka dahulu referensi kitab yang dimaksud, hingga Syaikhina pun terharu dan ngendikan "Iyo ha'... Koe pancen cerdas tenan" (Iya ha'... Kamu memang benar-benar cerdas).

Selain itu Gus Baha' juga kerap dijadikan contoh teladan oleh Syaikhina saat memberikan mawa'izh di berbagai kesempatan tentang profil santri ideal. "Santri tenan iku yo koyo baha' iku...." (Santri yang sebenarnya itu ya seperti baha' itu....) begitu kurang lebih ngendikan Syaikhina yang riwayatnya sampai ke penulis.

Dalam riwayat pendidikan beliau, semenjak kecil hingga beliau mengasuh pesantren warisan ayahnya sekarang, beliau hanya mengenyam pendidikan dari 2 pesantren, yakni pesantren ayahnya sendiri di desa Narukan dan PP. Al Anwar Karangmangu.

Pernah suatu ketika ayahnya menawarkan kepada beliau untuk mondok di Rushoifah atau Yaman. Namun beliau lebih memilih untuk tetap di Indonesia, berkhidmat kepada almamaternya Madrasah Ghozaliyah Syafi'iyyah PP. Al Anwar dan pesantrennya sendiri LP3IA.

KEPRIBADIAN

Setelah menyelesaikan pengembaraan ilmiahnya di Sarang,beliau menikah dengan seorang Neng pilihan pamannya dari keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Ada cerita menarik sehubungan dengan pernikahan beliau. Diriwayatkan, setelah acara lamaran selesai, beliau menemui calon mertuanya dan mengutarakan sesuatu yang menjadi kenangan beliau hingga kini. Beliau mengutarakan bahwa kehidupan beliau bukanlah model kehidupan yang glamor, bahkan sangat sederhana..

Beliau berusaha meyakinkan calon mertuanya untuk berfikir ulang atas rencana pernikahan tersebut. Tentu maksud beliau agar mertuanya tidak kecewadi kemudian hari. Mertuanya hanya tersenyum dan menyatakan "klop" alias sami mawon kalih kulo.

Kesederhanaan beliau ini dibuktikan saat beliau berangkat ke Sidogiri untuk melangsungkan upacara akad nikah yang telah ditentukan waktunya. Beliau berangkat sendiri ke Pasuruan dengan menumpang bus regular alias bus biasa kelas ekonomi. Berangkat dari Pandangan menuju Surabaya, selanjutnya disambung bus kedua menuju Pasuruan. Kesederhanaan beliau bukanlah sebuah kebetulan, namun merupakan hasil didikan ayahnya semenjak kecil.

Beliau hidup sederhana bukan karena keluarga beliau miskin. Dari silslah keluarga beliau dari pihak ibu, atau lebih tepatnya lingkungan keluarga di mana beliau diasuh semenjak kecil,tiada satu keluargapun yang miskin.

Bahkan kakek beliau dari jalur ibu merupakan juragan tanah di desanya. Saat dikonfirmasi oleh penulis perihal kesederhanaan beliau, beliau menyatakan bahwa hal tersebut merupakan karakter keluarga Qur'an yang dipegang erat sejak zaman leluhurnya. Bahkan salah satu wasiat dari ayahnya adalah agar beliau menghindari keinginan untuk menjadi 'manusia mulia' dari pandangan keumuman makhluk atau lingkungannya. Hal inilah yang hingga kini mewarnai kepribadian dan kehidupan beliau sehari-hari.

Setelah menikah beliau mencoba hidup mandiri dengan keluarga barunya. Beliau menetap di Yogyakarta sejak 2003. Selama di Yogya, beliau menyewa rumah untuk ditempati keluarga kecil beliau, berpindah dari satu lokasi kelokasi lain. Semenjak beliau hijrah ke Yogyakarta, banyak santri-santri beliau di Karangmangu yang merasa kehilangan induknya.

Hingga pada akhirnya mereka menyusul beliau ke Yogya danurunanatau patungan untuk menyewa rumah di dekat rumah beliau. Tiada tujuan lain selain untuk tetap bisa mengaji kepada beliau.

Ada sekitar 5 atau 7 santri mutakhorijin Al Anwar maupun MGS yang ikut beliau ke Yogya saat itu. Saat di Yogya inilah kemudian banyak masyarakat sekitar beliau yang akhirnya minta ikut ngaji kepada beliau. Pada tahun 2005 ayah beliau KH. Nursalim jatuh sakit. Beliau pulang sementara waktu untuk ikut merawat ayah beliau bersama keempat saudaranya.

Namun siapa sangka, beberapa bulan kemudian Kiai Nursalim wafat. Gus Baha' tidakdapat lagi meneruskan perjuangannya di Yogya sebab beliau diamanahi oleh ayah beliau untuk melanjutkan tongkat estafet kepengasuhan di LP3IA Narukan. Banyak yang merasa kehilangan atas kepulangan beliau ke Narukan. Akhirnya para santri beliaupun.sowan dan meminta beliau kerso kembali ke Yogya.

Hingga pada gilirannya beliau bersedia namun hanya satu bulan sekali, dan itu berjalan hingga kini. Selain mengasuh pengajian, beliau juga mengabdikan dirinya di Lembaga Tafsir Al-Qur'an Universitas Islam Indonesa (UII) Yogyakarta.

REPUTASI KEILMUAN

Selain Yogyakarta beliau juga diminta untuk mengasuh PengajianTafsir Al-Qur'an di Bojonegoro, Jawa Timur.
Di Yogya minggu terakhir, sedangkan di Bojonegoro minggu kedua setiap bulannya. Hal ini beliau jalani secara rutin sejak 2006 hingga kini. Di UII beliau adalah Ketua Tim Lajnah Mushaf UII.

Timnya terdiri dari para Profesor, Doktor dan ahli-ahli Al-Qur'an dari seantero Indonesia seperti Prof. Dr. Quraisy Syihab, Prof. Zaini Dahlan, Prof. Shohib dan para anggota Dewan Tafsir Nasional yang lain.

Suatu kali beliau ditawari gelar Doctor Honoris Causa dari UII, namun beliau tidak berkenan. Dalam jagat Tafsir Al-Qur'an di Indonesia beliau termasuk pendatang baru dan satu-satunya dari jajaran Dewan Tafsir Nasional yang berlatar belakang pendidikan non formal dan non gelar. Meski demikian, kealiman dan penguasaan keilmuan beliau sangat diakui oleh para ahli tafsir nasional.

Hingga pada suatu kesempatan pernah diungkapkan oleh Prof. Quraisy bahwa kedudukan beliau di Dewan Tafsir Nasional selain sebagai Mufassir, juga sebagai Mufassir Faqih karena penguasaan beliau pada ayat-ayat ahkam yang terkandung dalam Al-Qur'an. Setiap kali lajnah 'menggarap' tafsir dan Mushaf Al-Qur'an.

Posisi beliau selalu di 2 keahlian, yakni sebagai Mufassir seperti anggota lajnah yang lain, juga sebagai Faqihul Qur'an yang mempunyai tugas khusus mengurai kandungan fiqh dalam ayat-ayat ahkam Al-Qur'an.

Saturday, January 26, 2019

Membangun Literasi Al Quran di Tanah Air

Sejarah mencatat, metode belajar baca huruf Al-Qur’an di tanah air selama beberapa dekade atau bahkan lebih satu abad sebelum tahun 1970-an “didominasi” oleh metode turutan (al-Qa’idah al-Baghdadiyah). Materi dalam metode ini dimulai dari pengenalan nama-nama huruf hijaiyah, harakat, hingga bacaan surat Juz Amma (juz 30 Al-Qur’an).

Pengalaman belajar penulis sewaktu kecil juga menggunakan metode belajar itu. Hampir bisa dipastikan, metode ini digunakan oleh sebagian besar umat Islam di tanah air sebelum tahun 1970 atau 1980-an. Di banyak daerah terutama di luar Jawa Tengah, dominasi metode al-Baghaddi itu bahkan berlangsung lebih panjang, menembus tahun 1990-an.

Ciri metode ini adalah penekanan yang kuat terhadap ilmu atau pengetahuan, bukan pada keterampilan (maharah/skill) membaca. Oleh karena itu, pelajaran paling awal dari metode ini adalah pengenalan nama-nama huruf Arab (hijaiyah), bukan dengan cara praktik membaca huruf itu. Materi selanjutnya juga demikian, nama-nama harakat juga dikenalkan secara rinci bergandengan dengan huruf itu (mengeja).

Ketika anak atau pembelajar membaca kata-kata yang ada dalam buku itu maka mereka akan mengeja nama-nama setiap huruf beserta nama harakatnya. Baru kemudian dipelajari bagaimana hasil bacaannya. Sekali lagi, ciri paling khas dari metode ini adalah pendekatan yang kuat terhadap obyek sebagai pengetahuan, bukan sebagai kemampuan.

Implikasinya tentu mudah ditebak. Anak-anak hasil “didikan” metode ini mengetahui dan bisa menyebutkan nama-nama huruf berikut nama-nama harakat yang sedang dibaca dengan baik.Tetapi mereka memerlukan waktu yang lama untuk mencapai kemampuan membaca. Singkatnya, mereka banyak mengetahui tentang huruf-huruf Al-Qur’an tetapi sedikit kemampuan untuk bisa membaca, itu pun setelah belajar cukup lama. Tak sedikit, mereka akhirnya berhenti belajar dan tak mampu membaca Al-Qur’an selama hidupnya.

Kendati demikian harus diakui, jasa metode ini bagi perjuangan melek baca Al-Qur’an di tanah air begitu besar. Betapapun berbagai kelemahan itu, metode ini dicatat dalam sejarah telah melahirkan ulama-ulama besar, para kiai dan tokoh agama, para muallif kitab, para ahli tafsir dan penghafal Al-Qur’an dalam jumlah besar dan dalam waktu yang lama.

Popularitas Qaidah Baghdadiyyah tak terbatas di Indonesia. Di sebagian dunia Islam di luar Indonesia, Qa’idah Baghdadiyyah juga sangat dominan, dan di sebagian dunia Islam yang lain Qa’idah Makkiyah yang banyak digunakan.

Revolusi Qira’ati

Di sisi lain, “dominasi” panjang metode ini mencerminkan suatu keprihatinan yang dalam. Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia tak kunjung melahirkan metode-metode “besar” yang bisa menjadi alternatif atau bahkan pengganti dari metode itu. Tiga puluh tahun paska kemerdekaan RI, muslim Indonesia belum mampu melahirkan metode baca baru yang revolusioner hingga kemudian lahir metode Qiraati.

Lahirnya metode Qiraati pada tahun 1960-70-an di Jawa Tengah menandai sejarah baru dalam perjalanan metode belajar baca Al-Qur’an di tanah air. Metode ini menawarkan paradigma baru yang begitu tegas bahwa membaca Al-Qur’an itu adalah maharahskill atau keterampilan, bukan wawasan, ilmu atau pengetahuan semata. Kedua hal ini harus dibedakan.

Oleh karena itu, metode ini pada praktiknya tidak memperkenalkan di awal nama-nama huruf hijaiyah berikut harakatnya sebagaimana metode lama, al-Baghdadi. Dalam metode ini, anak-anak langsung diajari cara membaca huruf berikut harakat itu tanpa mengejanya. Implikasinya memang benar anak kadang kurang tahu pada waktu awal nama-nama huruf hijaiyah dan nama harakat. Akan tetapi mereka sangat cepat dan tangkas membaca deretan kata-kata itu.

Ini tentu sangat menggembirakan sebab tujuan pembelajaran membaca Al-Qur’an adalah membuat anak mampu membaca Al-Qur’an, bukan membuat anak mampu menghafal nama-nama huruf, harakat, dan mengejanya.

Pencetus metode itu yaitu K.H. Dachlan Salim Zarkasyi dari Semarang memiliki komitmen begitu kuat untuk menjaga ketepatan dan kefasihan bacaan Al-Qur’an di tanah air. Oleh karena itu, di tangan dingin beliau, metode ini melahirkan tradisi dan sistem pembelajaran yang begitu ketat baik dari sisi guru, institusi, maupun disiplin dan tatakrama (adab) santri dalam belajar.

Pada titik itulah, metode yang semula menyebar sangat lambat akibat ketatnya “disilplin” pengajaran Al-Quran itu kemudian lambat laun tersebar. Cabang-cabang Qiraati menjalar di berbagai wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya, bahkan kemudian di kenal luas di tanah air dan beberapa negara manca. Namun, pada titik itu pula persoalan krusial muncul dan sempat memengaruhi penyebaran metode itu. Banyak dari para wakil di berbagai daerah itu kemudian mengaku telah melahirkan metode baru. Mereka menulis ulang metode Qiraarti tersebut, mencetak sendiri buku-buku itu, lalu  disebarkan di kalangan mereka dan masyarakat umum dengan nama selain Qiraati.

Ketatnya sistem pengajaran dan organisasi dan mungkin aspek-aspek lain di luar itu (misalnya ekonomi) seringkali menjadi alasan mereka “memutus” ikatan organisatoris dengan Qiraati pusat dan membangun sistem tersendiri. Faktanya, metode-metode lokal yang jumlahnya sangat banyak itu kecenderungannya merupakan susunan ulang dari Qiraati dengan nama yang berbeda.

Pada umumnya, metode-metode “lokal” ini lebih ringkas daripada Qiraati. Menurut penulis, itu justru kekeliruan paling fatal dari para “penerjemah” ulang metode Qiraati, sebab ruh dasar metode ini adalah latihan dan latihan secara berulang (tikrar).

Kita mencacat, jasa dan pengaruh metode ini bagi pembelajaran baca Al-Quran di tanah air dalam tiga atau empat dekade ini begitu kuatnya. Metode ini adalah pelopor, dan sebagian besar metode-metode lain yang lahir sesudahnya memiliki kesamaan prinsip bahkan kemiripan dalam hal detil dengan metode ini, baik itu diakui ataupun tidak. Oleh karena itu, penulis harus memberikan tribute yang besar kepada gagasan besar dari penulis metode ini dan para pemimpin organisasi pembelajaran ini dalam kepeloporannya dalam metode baru baca Al-Qur’an dengan pendekatan skill.

Penghargaan yang tinggi juga patut kita berikan sebab upaya keras mereka untuk menjaga kualitas bacaan Al-Qur’an di Tanah Air.  Penulis tak ragu-ragu untuk menyebut tiga dekade terakhir dari sejarah pembelajaran baca Al-Quran di tanah air sebagai era Qiraati, menggantikan era al-Baghdadi yang telah berjalan begitu lama.Wallahu a’lam. Bersambung ke Booming Iqra’.

Booming Iqra’

Setelah Qira’ati, metode Iqra’ datang kemudian. Metode ini disusun oleh KH. Asad Humam yarhamuhullah dari Kota Gede Yogyakarta. Dari sisi materi dan pendekatan, kedua metode ini, Iqra’ dan Qiraati, bisa dikatakan sama. Namun, metode Iqra’ lebih sederhana dan tak mensyaratkan hal-hal yang detil dan dipandang tidak mudah bagi kalangan awam dalam sistem pembelajaran.

Di tengah ketatnya aturan dari Qiraati, metode Iqra’ yang ditulis sekitar 10 tahun kemudian mencuri perhatian khalayak di tanah air. Popularitas metode ini terutama di luar Provinsi Jawa Tengah menjalar sangat cepat. Iqra jelas menyalip qiraati dalam hal popularitasnya. Inilah jasa sangat besar dari penulis dan penyebar metode ini yaitu gerakan masif pemberantasan buta huruf Al-Qur’an di tanah air.

Hasil anak-anak didik baca Al-Qur’an di era al-Baghdadi dan di masa popularernya Iqra’ sangat berbeda. Kita menyaksikan gejala baru terkait baca Al-Qur’an di tanah air. Anak-anak perkotaan yang mampu membaca Al-Qur’an jumlahnya menjadi sangat besar, berlipat dari masa sebelumnya. Gairah terhadap Al-Qur’an dan kegiatan keislaman juga menguat dengan menjamurnya Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ, pada awalnya TPA) di berbagai pelosok negeri.

Penulis merasa tak perlu membahas hal-hal sensitif mengenai ada atau tidaknya hubungan material dan metodis antara Iqra’ dan Qiraati, termasuk hubungan personal kedua pengarangnya. Yang pasti, penulis menegaskan keduanya memiliki jasa yang sama-sama besar dalam pembelajaran baca Al-Qur’an di tanah air. Penulis begitu terkesan saat menghadiri pemakanan KH. As’ad Humam. Beliau mengalami gerah fisik yang lama, tetapi justru beliau mengukir jasa besar buat umat yang bermanfaat hingga saat ini.

“Kematangan” Metode Yanbu’a

Metode Yanbu’a dikenal sebagai metode baca sekaligus tulis Al-Qur’an. Gagasan menyatukan baca sekaligus tulis itu dalam skala besar merupakan gagasan baru.  Metode ini kendati datang belakangan, sekitar tahun 2004-an begitu dihormati oleh siapapun. Hal ini disebabkan oleh kualitas dan juga “kelas” penulis dari metode ini. Metode ini ditulis (sesuai yang tercantum dalam buku itu) oleh KH. Mumammad Ulinnuha Arwani, KH. Ulil Albab Arwani, KH. M. Manshur Maskan, dkk kendati bisa saja nama besar itu sebenarnya hanya “dipinjam”. Kedua nama pertama adalah putra K. Arwani, “otoritas” dan mentor para huffadz al-Quran di tanah air. Keduanya adalah pengasuh pesantren Yanbu’a yang telah melahirkan puluhan ribu santri huffadz yang tersebar di berbagai wilayah di negeri ini. Banyak sekali pengasuh pesantren Al-Qur’an di Tanah Air merupakan murid dari pesantren ini, atau muridnya murid pesantren ini, bahkan muridnya murid dari murid pesantren ini.

Dari sisi isi, metode Yanbu’a jelas tak berbeda jauh dari Qiraati terutama dari aspek baca Al-Qur’annya. Kekuatan metode ini terletak pada detil pengetahuan dan informasi yang disampaikan terkait praktik tajwid termasuk materi “gharib” yaitu materi-materi terkait kasus “langka” dalam bacaan. Buku itu sepertinya sesuai dengan disiplin tinggi yang ditanamkan terhadap para santri Yanbu’a. Dari sisi materi atau isi, buku ini begitu matang.

Namun, harus pula diakui, materi yang diberikan dalam buku tersebut sangat padat jika di bandingkan metode lain. Implikasinya, porsi latihannya menjadi sangat berkurang sehingga tak mudah bagi kalangan awam, apalagi untuk anak-anak. Menurut hemat penulis, bagi anak didik pada umumnya, latihan itulah yang seharusnya perlu diperbanyak, bukan materi yang dipadatkan.

Statis

Namun, dari sisi paradigma besar, sejarah metode baca al-Qur’an sekitar tiga atau empat dekade terakhir tak mengalami perkembangan berarti. Semua sudah searah dengan Qiraati kecuali “Mutqin” yang mengembalikan prinsip ulum (ilmu) dulu baru maharah (skill) sebagaimana metode al-Baghdadi kendati dengan basis yang berbeda. Mutqin berbasis kuat pada uraian dan pembahasan Ilmu Tajwid.

Oleh karena itulah, penyusun berupaya mendorong metode baru yang bertujuan ke arah isi al-Qur’an yakni mendorong keterampilan baca sekaligus langsung belajar bahasa Arab.

Ini- kendati sangat sederhana- adalah kebaruan penting dalam tujuan. Penyusun berharap karya itu memberikan alternatif dan jangkauan baru dari metode baca Al-Qur’an. Di samping itu, penulis hendak mengembalikan semangat metode skill yang sesungguhnya yakni dengan memperbanyak latihan. Metode ini menjadi sangat ramah dan mudah bagi anak sebab latihan diperbanyak dan penambahan materi berjalan sangat gradual.

Kendati ada tujuan besar yang “menumpang” yaitu sekaligus belajar bahasa Arab, tetapi itu tidak memberatkan anak sebab dilakukan secara sangat gradual dan include dalam materi baca al-Qur’an. (tulisan ini pernah dimuat Majalah Bangkit edisi Maret dan April 2016).

Friday, January 11, 2019

SURAT DALAM AL-QURAN

Oleh; Syukri Rifai, S.Pd.I

A. Definisi Surat

1.  Secara Bahasa/Lughowiy

Surat dari segi bahasa merupakan jamak dari kata suwar (سُوَرٌ) yang berarti kedudukan atau tempat yang tinggi[1], sesuai dengan kedudukan Al-Quran karena dia diturunkan dari tempat yang tinggi yaitu Lauh al-Mahfûzh dari sisi Tuhan yang Maha Tinggi pula yaitu Allah Swt.

2.  Secara Istilah

Adapun secara istilah surat adalah:

وَالسُّوْرَةُ هِيَ الْجُمْلَةُ مِنْ آيَاتِ اْلقُرْآنِ ذَاتُ الْمَطْلَعِ وَالْمَقْطَعِ

Surat adalah sejumlah beberapa ayat Al-Quran yang memiliki permulaan dan penghabisan.[2]

Dari definisi ini dapat dipahami bahwa surat adalah kumpulan beberapa ayat, maka tidak ada satu surat yang terdiri hanya satu ayat. Surat harus memiliki sejumlah ayat minimal 3 ayat seperti dalam Surat Al-Kautsar. Kumpulan beberapa ayat ini syaratnya mempunyai permulaan dan akhiran. Jika terkumpul sejumlah ayat sekalipun banyak tetapi tidak ada permulaan atau belum mencapai akhiran dan atau tidak ada keduanya, maka belum dinamakan surat dalam Al-Quran.

B. Macam-macam Surat

Dilihat dari segi panjang pendeknya, surat dapat dibagi menjadi 4 macam, yaitu sebagai berikut:

Surat Ath-Thiwâl (الطِّوَالٌ = panjang)

Yaitu surat yang jumlah ayatnya lebih dari 100 sampai 200-an atau memang lebih panjang dari yang lain. Surat panjang ini ada tujuh, oleh karena itu disebut As-Sab’u Ath-Thiwâl (السَّبْعُ الطِّوَالُ = surat tujuh), yaitu sebagai berikut:

Surat Al-Baqarah (2): 286 ayatSurat Ȃli ‘Imrân (3): 200 ayatSurat An-Nisâ’ (4): 176 ayatSurat Al-Mâ’idah (5): 120 ayatSurat Al-An’âm (6): 165 ayatSurat Al-A’râf (7): 206 ayatSebagian ulama berpendapat Surat Al-Anfâl (8) 75 ayat bersama Surat Al-Barâ’ah atau At-Taubah (9): 129 ayat karena tidak ada pemisah dengan basmalah dan sebagian pendapat mengatakan Surat Yûnus (10): 108 ayat.Surat Al-Mi’ûn (اْلِمؤُن = seratusan)

Yaitu surat yang banyak ayatnya sekitar seratus atau lebih.

Surat Al-Matsânî (المثانى)

Yaitu surat yang panjang ayatnya di bawah Al-Mi’ûn (seratusan ayat) di atas. Al-Farra’ berkata: yaitu surat yang jumlah ayatnya kurang sedikit dari 100 ayat. Kata Al-Matsânî artinya ‘terulang-ulang’, karena surat-surat itu terulang-ulang dibaca dalam shalat dari pada surat Al-Mi’ûn dan Ath-Thiwâl.

Surat Al-Mufashshâl(اْلمفَصَّل)

Yaitu surat yang panjang ayat-ayatnya mendekati Al-Matsânîyang disebut juga sebagai surat pendek. Menurut An-Nawawi surat Al-Mufashshâlini adalah dari surat Al-Hujurât (49) sebanyak 18 ayat sampai akhir surat dalam Al-Quran. Al-Mufashshâlberasal dari kata fashala yang artinya memisah atau terpisah. Surah dinamakan Al-Mufashshâlkarena banyak dipisah dengan Basmalah pada setiap awal surat. Karena jumlah ayat-ayatnya tidak terlalu banyak, maka sering dipisah dengan Basmalah tersebut. Kemudian surat Al-Mufashshâlini dibagi lagi menjadi tiga bagian, yaitu:

a)    Ath-Thiwâl(panjang), yaitu Al-Mufashshâltetapi yang panjang dari surat Qâf (50) atau dari surat Al-Hujurât (49) sampai dengan surat An-Naba’ (78) atau surat Al-Burȗj (85).

b)    Al-Awsath (pertengahan), yaitu surat Al-Mufashshâlyang pertengahan dari surat Ath-Thâriq (86) sampai dengan surat Adh-Dhuhâ (93) atau Al-Bayyinah (98).

c)    Al-Qishâr (pendek), yakni Al-Mufashshâlyang pendek dari surat Adh-Dhuhâ (93) atau surat Al-Bayyinah (98) sampai dengan akhir surat dalam Al-Quran yakni An-Nâs (114).

Di samping penggolongan kelompok surat-surat di atas didasarkan pada jumlah banyak dan sedikitnya, juga didasarkan pada panjang dan pendeknya ayat. Karena ada sebagian surat yang jumlah ayatnya tidak banyak tetapi ayat-ayatnya panjang-panjang atau jumlah ayatnya banyak tetapi mayoritas ayatnya pendek-pendek seperti surat Asy-Syu’arâ’ (26): 227 ayat padahal surat ini tidak termasuk ke dalam surat Ath-Thiwâl.[3]

Dilihat dari segi masa atau tempat turunnya Al-Quran terbagi menjadi 2 macam, yaitu surat Makiyah dan surat Madaniyah. Namun, untuk  pembahasan secara lebih mendalam tentang surat Makiyah dan surat Madaniyah ini akan dibahas di tulisan berikutnya, insya Allah.

[1] Majma’ Al-Lughah Al-‘Arabiyah, Al-Mu’jam Al-Wajiz, hlm. 328. Bandingkan dengan Hasbi Ash-Shiddieqi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, hlm. 58

[2] Al-Qaththan, Mabahits fi Ulum Al-Qur’an, hlm. 139

[3] Abdul Majid Khon, Praktikum Qira’at; Keanehan Bacaan Alquran Qira’at Ashim dari Hafash, Jakarta: Amzah, 2008, h. 7-8

Wednesday, January 2, 2019

Kosa kata dari Nusantara di dalam al-Qur’an

Bahasa dan budaya itu dinamis. Telah terjadi pertemuan antar bangsa, baik lewat jalur perdagangan ataupun lainnya, yang membuat terjadinya penyerapan bahasa maupun percampuran budaya. Termasuk juga bahasa Arab. Dan karena al-Qur’an turun dalam bahasa Arab, maka penyerapan berbagai istilah dan nama non-Arab pun ikut terserap ke dalam kosa kata al-Qur’an.

Apakah dengan demikian ada bahasa non-Arab di dalam al-Qur’an? Saya kutip penjelasan Tafsir al-Qurthubi:

‎لَا خِلَافَ بَيْنَ الْأَئِمَّةِ أَنَّهُ لَيْسَ فِي الْقُرْآنِ كَلَامٌ مُرَكَّبٌ عَلَى أَسَالِيبَ غَيْرِ الْعَرَبِ، وَأَنَّ فِيهِ أَسْمَاءٌ أَعْلَامًا لِمَنْ لِسَانُهُ غَيْرُ الْعَرَبِ، كَإِسْرَائِيلَ وَجِبْرِيلَ وَعِمْرَانَ وَنُوحٍ وَلُوطٍ. وَاخْتَلَفُوا هَلْ وَقَعَ فِيهِ أَلْفَاظٌ غَيْرُ أَعْلَامٍ مُفْرَدَةٍ من كلام غير الْعَرَبِ، فَذَهَبَ الْقَاضِي أَبُو بَكْرِ بْنُ الطَّيِّبِ وَالطَّبَرَيُّ وَغَيْرُهُمَا إِلَى أَنَّ ذَلِكَ لَا يُوجَدُ فِيهِ، وَأَنَّ الْقُرْآنَ عَرَبِيٌّ صَرِيحٌ، وَمَا وُجِدَ فِيهِ مِنَ الْأَلْفَاظِ الَّتِي تُنْسَبُ إِلَى سَائِرِ اللُّغَاتِ إِنَّمَا اتُّفِقَ فِيهَا أَنْ تَوَارَدَتِ اللُّغَاتُ عَلَيْهَا فَتَكَلَّمَتْ بِهَا الْعَرَبُ وَالْفُرْسُ وَالْحَبَشَةُ وَغَيْرُهُمْ، وَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى وُجُودِهَا فِيهِ، وَأَنَّ تِلْكَ الْأَلْفَاظَ لِقِلَّتِهَا لَا تُخْرِجُ الْقُرْآنُ عَنْ كَوْنِهِ عَرَبِيًّا مُبَيِنًا، وَلَا رَسُولَ اللَّهِ عَنْ كَوْنِهِ متكلما بلسان قومه، فالمشكاة: الكوة وو نشأ: قَامَ مِنَ اللَّيْلِ، وَمِنْهُ” إِنَّ ناشِئَةَ اللَّيْلِ” و” يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ” أي ضعفين. و” فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ” أَيِ الْأَسَدِ، كُلُّهُ بِلِسَانِ الْحَبَشَةِ. وَالْغَسَّاقُ: الْبَارِدُ الْمُنْتِنُ بِلِسَانِ التُّرْكِ. وَالْقِسْطَاسُ: الْمِيزَانُ، بِلُغَةِ الرُّومِ. وَالسِّجِّيلُ: الْحِجَارَةُ وَالطِّينُ بِلِسَانِ الْفُرْسِ. وَالطُّورُ الْجَبَلُ. وَالْيَمُّ الْبَحْرُ بِالسُّرْيَانِيَّةِ. وَالتَّنُّورُ: وَجْهُ الْأَرْضِ بِالْعَجَمِيَّةِ. 
‎قَالَ ابْنُ عَطِيَّةَ:” فَحَقِيقَةُ الْعِبَارَةِ عَنْ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ أَنَّهَا فِي 
‎الْأَصْلِ أَعْجَمِيَّةٌ لَكِنِ اسْتَعْمَلَتْهَا الْعَرَبُ وَعَرَّبَتْهَا فَهِيَ عَرَبِيَّةٌ بِهَذَا الْوَجْهِ.

Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan pendapat bahwa al-Qur’an berisikan kata yang disusun dari term dan nama yang berasal dari non Arab. Misalnya: Israil, Jibril, Imran, Nuh dan Lut.

Namun demikian mereka berbeda pandangan apakah ada kata lain yg non-Arab? Imam Qurtubi menyebut nama Qadhi Ibn at-Thayyibat-Thabari dan ulama lainnya yang percaya bahwa al-Qur’an itu murni berbahasa Arab dan tidak ada kata lain yg non Arab dalam al-Qur’an.

Kalaupun ada kata yg tersusun dari bahasa non Arab, menurut mereka, itu hanya kesamaan saja antara bahasa Arab dan non Arab seperti Habasyah, Persia dan lainnya.

Imam Qurtubi juga menyebutkan bahwa ada pula yang berpendapat kalaupun ada kosa kata non Arab jumlahnya hanya sedikit dan tidak menghapus kenyataan bahwa al-Qur’an murni berbahasa Arab.

Imam Qurthubi kemudian menyebutkan beberapa contoh kosa kata tersebut seperti Misykat (QS 24:35), Nasya-a (QS 73:6), Qaswarah (QS 74:51). Ini contoh kosa kata yang berasal dari Habasyah (Ethiopia).

Imam Qurthubi juga menyebut al-Ghassaq (QS 38:57) dari Turki, Qisthas (QS 17:35) dari Romawi. Sijjil (QS 21:104) dari Persia. Dan contoh-contoh lainnya.

Imam Qurthubi kemudian mengutip Ibn ‘Athiyyah yang mengatakan: “hakikatnya adalah kosa kata tersebut asing namun orang Arab telah menggunakannya dan mengarabkannya. Jadi kosa kata itu juga dianggap bahasa Arab.”

Mungkin untuk memahami penjelasan di atas kita bisa lihat sendiri dengan bahasa Indonesia yang seringkali telah bercampur dengan bahasa asing dan kemudian kita gunakan sehari-hari dan menjadi bahasa Indonesia. Misalnya kata rakyat, musyawarah, wakil, tunggal, mutakhir, adil, introspeksi, dan lain sebagainya. Ada yang diserap dari bahasa Arab, Inggris, sanskrit, melayu dan lainnya.

Sekali lagi itu menunjukkan betapa dinamisnya bahasa itu.

Nah, satu hal yang tidak disebut dalam penjelasan kitab Tafsir al-Qurthubi di atas, ternyata ada juga bahasa Nusantara yang diadopsi dalam al-Qur’an.

‎إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا

Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur (QS 76: 5).

Sejak abad 4 Masehi (atau lebih awal lagi), kapur barus yang berasal dari daerah Barus di Sumatera telah terkenal di dunia Arab dan Asia. Maka itulah sebabnya al-Qur’an mengdopsi kata “kafur” ini. Al-Qur’an menyebutkan bahwa penduduk surga kelak akan minum dari mata air di surga yang airnya seputih, sewangi, dan sedingin kapur barus, tapi tidak rasa dan bahayanya.

Penjelasan di atas diperoleh dari Tafsir ar-Razi:

‎أَنَّ الْكَافُورَ اسْمُ عَيْنٍ فِي الْجَنَّةِ مَاؤُهَا فِي بَيَاضِ الْكَافُورِ وَرَائِحَتِهِ وَبَرْدِهِ، وَلَكِنْ لَا يَكُونُ فِيهِ طَعْمُهُ وَلَا مَضَرَّتُهُ

Dahulu kafur ini komoditi yang sangat mahal (konon seharga emas) dan dicari oleh banyak pihak. Kafur digunakan sebagai wewangian, bumbu masak, bahkan untuk obat-obatan. Di surga kelak, minuman yang dicampur dengan kafur inilah yang dihidangkan untuk orang-orang beriman. Kafur ini menjadi simbol kemewahan. Interaksi awal perdagangan antara wilayah Nusantara dengan dunia Arab bisa dilacak dari diserapnya kosa kata ini ke dalam tradisi Arab, sehingga turut pula masuk dalam bahasa al-Qur’an.

Saat ini kapur barus di tanah air dikenal dengan camphor atau kamper. Masih dipakai untuk wewangian di dalam lemari pakaian. University of Texas dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa kamper bisa menyembuhkan batuk, gatal-gatal di kulit, dan bisa pula membantu untuk menumbuhkan rambut untuk pria gundul, serta manfaat lainnya. Bahkan ada yg mencampurnya ke dalam teh untuk meraih efeknya. Namun para peneliti mengingatkan bahayanya bila konsumsinya tidak terkontrol.

Sampai di sini kita menyadari bahwa bukan saja relasi antara Nusantara dengan Arab sudah terjadi sebelum masa turunnya wahyu al-Qur’an, tapi juga begitu dinamisnya bahasa (dan juga budaya) itu. Kosa kata Arab diserap dalam bahasa Indonesia, sementara kosa kata dari Nusantara malah diadopsi dan diabadikan dalam al-Qur’an.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
dan Dosen Senior Monash Law School

Friday, July 6, 2018

Gus Nadirsyah Meluruskan Twitt Tifatul Sembiring Tentang Surat Alfath

Gus Nadirsyah Meluruskan Twitt Tifatul Sembiring Tentang Surat Alfath

Politisi PKS Tiffatul Sembiring melalui akun twitternya @tifsembiring mengutip surat Al-Fath ayat 29, dimana menurutnya Rasulullah saw bersikap tegas/keras kepada orang-orang kafir, kasih sayang (rohmah) sesama orang beriman.

"Dalam surat Al Fath ayat 29, Rasulullah saw itu bersikap tegas/keras kpd orang2 kafir, kasih sayang (rohmah) sesama orang beriman. JANGAN dibolak balik yaa. Rohmah sama orang2 kafir, eh sesama mu'min malah bersikap kasar...," tulisnya, Ahad (01/07/2018).

Mengetahui hal itu, Prof Nadirsyah Hosen (Gus Nadir) mengomentari twit Tiffatul dengan catatan ngaji Gus Nadir.

"Ustaz @tifsembiring monggo dibaca catatan ngaji saya ttg tafsir ayat tsb," tulis Gus Nadir melalui akunnya @na_dirs, Senin (02/07/2018), dengan memberikan link websitenya: http://nadirhosen.net/tsaqofah/tafsir/206-benarkah-muslim-itu-harus-keras-terhadap-orang-kafir-tafsir-surat-al-fath-29

"Saya merujuk pada: 1. Tafsir Al-Alusi 2. Tafsir Ibn Abbas 3. Tafsir Bahrul Ulum," imbuh Gus Nadir.

Berikut isi catatan ngaji Gus Nadir:

Benarkah Muslim itu Harus Keras Terhadap Orang Kafir? Tafsir Surat al-Fath:29

Oleh Nadirsyah Hosen

Surat al-Fath berjumlah 29 ayat yang semuanya turun dalam konteks perjanjian Hudaibiyah. Oleh karena itu, memahami ayat terakhir dalam surat ini juga tidak bisa sepotong-sepotong, karena kita harus memahami keseluruhan konteks ayat-ayat sebelumnya, plus pemahaman utuh tentang perjanjian Hudaibiyah. Inilah yang dilakukan oleh Imam al-Alusi, pengarang Tafsir Ruhul Ma’ani yang harus berpanjang lebar menceritakan peristiwa Hudaibiyah sebelum menjelaskan potongan ayat 29 di bawah ini:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…”

Kesalahpahaman akibat kegagalan memahami pesan utuh ayat ini sering terjadi dan berpotensi menimbulkan gesekan sosial di masyarakat yang majemuk seperti di Indonesia. Kita saksikan sebagian saudara kita yang pasang wajah kusam dan angker kepada non-Muslim atau juga kepada sesama Muslim yang sudah mereka anggap kafir. Tak ada senyum dan tak ada ramah tamah. Mereka bahkan menyalahartikan ayat ini sebagai kewajiban bersikap kasar kepada orang kafir karena kata “keras” dipahami sebagai permusuhan.

Sebagian saudara-saudara kita juga bersikap mencurigai kebaikan orang kafir dan menoleransi keburukan orang Islam karena memahami ayat di atas secara harfiah tanpa memahami konteksnya. Pendek kata, semua tindakan orang kafir dicurigai dan ditolak, dan semua hal yang tidak benar dari sesama Muslim diterima begitu saja.

Konteks ayat di atas adalah suasana ketegangan, bukan ayat di masa tenang atau damai. Jadi, memberlakukan ayat itu dalam konteks keseharian kita berinteraksi sosial tentu kurang pas. Ketika Rasulullah SAW bermimpi memasuki kota Mekkah sebagai sebuah kemenangan yang dekat (fathan qariban), maka para sahabat dan Rasul bersama-sama hendak memasuki kota Mekkah berhaji pada tahun keenam hijriah. Singkat cerita, kaum kafir Mekkah menghadang dan memaksa Rasulullah dan sahabat kembali ke Madinah lewat sebuah perjanjian di daerah Hudaibiyah, dimana menurut para sahabat utama seperti Umar bin Khattab, perjanjian tersebut amat sangat merugikan umat Islam.

Sejumlah orang munafik mengambil kesempatan untuk menimbulkan kegaduhan, seperti terekam dalam ayat-ayat awal surat al-Fath. Allah pun menenangkan umat Islam yang seolah patah semangat bahkan ada pula yang mempertanyakan kebenaran mimpi Rasul sebelumnya. Surat al-Fath turun dalam suasana yang demikian. Di akhir surat, Allah menegaskan kembali kebenaran mimpi Rasul, kepastian kemenangan (yang terbukti saat Fathu Makkah) dan kebenaran bahwa Muhammad itu seorang utusan Allah. Di ayat 29 inilah Allah seolah hendak mengatakan: “jangan kalian ribut dan ragu sesama kalian, kalian harus saling berkasih sayang dan berlemah lembut diantara kalian, dan sifat keras dan tegas itu seharusnya ditujukan pada orang kafir bukan pada sesama kalian!”.

Ibn Abbas menafsirkan ayat 29 surat al-Fath yang sedang kita bahas ini khusus untuk para sahabat yang menyaksikan peristiwa Hudaibiyah. Sahabat Nabi yang terkenal cerdas luar biasa ini menafsirkan sebagai berikut:

Muhammad itu utusan Allah, tidak seperti kesaksian Suhail bin Amr (yang memaksa Rasul untuk menghapus kalimat Muhammad Rasulullah dalam naskah perjanjian Hudaibiyah dan diganti dengan Muhammad bin Abdullah saja); dan orang yang bersama Muhammad, yaitu Abu Bakar, ia termasuk orang yang pertama kali mengimani kerasulan Muhammad; keras terhadap orang kafir (maksudnya ini merujuk kepada Umar bin Khattab sebagai pembela Rasulullah), berkasih sayang sesama mereka (ini ditujukan kepada Utsman bin Affan). Lanjutan ayatnya: Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud (ini menyifatkan Ali bin Abi Thalib); mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya (ini menyifatkan Thalhah dan Zubair).

Al-Samarqandi dalam kitab tafsirnya Bahrul Ulum memberi penafsiran yang mirip dengan Tafsir Ibn Abbas di atas. Yang dimaksud bersama Nabi itu adalah Abu Bakar, yang keras itu Umar, yang berkasih sayang itu menyifatkan Utsman dan yang rajin ruku’ dan sujud itu Ali, sementara yang mencari karunia Allah dan keridhaannya itu adalah Zubair dan Abdurrahman bin Awf.

Penafsiran model Ibn Abbas di atas juga dikonfirmasi oleh Imam al-Alusi. Meski demikian beliau juga menyebutkan bahwa jumhur ulama menganggap penyifatan ini tidak hanya khusus untuk pihak tertentu yang menyaksikan peristiwa Hudaibiyah tapi merupakan sifat semua sahabat Nabi. Kalaupun kita terima pendapat jumhur ini, namun ini tidak berarti bahwa saat ini kita dibenarkan bersikap garang dan bermusuhan kepada orang kafir, karena semua ahli tafsir sepakat asbabun nuzul ayat di atas terikat erat dengan konteks ketegangan peristiwa Hudaibiyah.

Allah telah berfirman dalam Surat al-Mumtahanah ayat 8 mengatur relasi dengan pihak kafir:

“Allah tidaklah melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi kalian karena agama dan tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Itu artinya, Muslim tidak dilarang berbuat baik kepada tetangga maupun kawan sepermainan atau kolega di kantor yang merupakan non Muslim. Dua bukti lain bisa kita lihat dalam sejarah Rasulullah. Pertama, ketika ayat assyidda’u ‘alal kuffar (al-Fath: 29) di atas turun, justru Rasulullah sedang bersikap ‘lunak’ kepada orang kafir dalam perjanjian Hudaibiyah bukan sedang memerangi mereka.

Kedua, ketika peristiwa Fathu Makkah terjadi, Rasulullah juga bersikap lemah lembut kepada penduduk Makkah, bahkan Abu Sufyan pun mendapatkan perlindungan dari Rasulullah. Itulah sebabnya Rasulullah disebut sebagai al-Qur’an berjalan, karena beliau tidak mengikuti hawa nafsu, amarah maupun dendam permusuhannya, tetapi benar-benar merupakan perwujudan rahmat bagi semesta alam.

"Wa ma yanthiqu ‘anil hawa in huwa illa wahyu yuha (tidaklah Ia bicara berdasarkan hawa nafsunya melainkan apa-apa yang diwahyukan kepadanya)" QS 53:3-4.

Sumber : Dutaislam.com