Showing posts with label politik. Show all posts
Showing posts with label politik. Show all posts

Saturday, January 12, 2019

Politik kepentingan

Prabowo, thn 2009, adl cawapres-nya Megawati.

Fadli Zon, Pilkada DKI 2012, adl jurkam-nya Jokowi-Ahok.

SBY, mantan menterinya Megawati. Maju nyapres bareng JK, didukung Surya Paloh, nantang Megawati.

Pilpres berikutnya, JK nyapres bareng Wiranto melawan SBY-Boediono, didukung Aburizal Bakrie yg skrg lebih akrab dg Prabowo.

Ratna Sarumpaet, jaman orba adl musuh Suharto. Sekarang gandeng dng Prabowo yg disokong penuh keluarga Cendana.

Anies Baswedan, 2013, adl peserta kandidat capres di konvensi Partai Demokrat.
Di Pilpres 2014, jadi timses Jokowi-JK, dan sempat masuk kabinet sbg menteri pendidikan. Pengritik keras kelompok radikal macam FPI melalui gerakan merajut kebangsaan. Sekarang mendekat ke Prabowo, PKS, dan FPI.

Amien Rais, menentang Megawati jadi presiden, lalu bikin manuver poros tengah naikkan Gus Dur jadi presiden. Eh di tengah jalan, Gus Dur digulingkan, dan menaikkan Megawati jadi presiden.
Periode berikutnya, 2004, Amien Rais nyapres melawan SBY dan Prabowo. Lho sekarang kok gandeng mesra dng Prabowo yg pd jaman reformasi menjadikan Amien Rais sbg target yg hrs di"aman"kan oleh Prabowo.

Ali Muchtar Ngabalin, pilpres 2014 adl "Die-hard" nya Prabowo yg paling sengit menyerang Jokowi. Hari ini, bergelayut manja di pelukan Jokowi.

PKS, gila-gilaan menyerang Prabowo di pilpres 2009 dan pilkada DKI 2012. Sekarang, asoy geboy dng Gerindra.

PDIP & Gerindra pernah mesra sbg oposisi terhadap rezim SBY yg disokong Golkar, PKS dan PAN. Sekarang? Tau sendirilah..😁

Si gundul culun, Ahmad Dhani, dulu musuh bebuyutan FPI, sampe bikin lagu "laskar cinta" buat ngejek FPI. Sekarang? 😋

Dan masih banyak lagiii...

Pesannya : dlm politik tak ada kawan dan lawan abadi. Yg abadi adl Kepentingan. Everything is just a game. Karena itu enjoy aja. Tak perlu memusuhi kawan dan kerabatmu yg berbeda pilihan capresnya.

Para elit politik itu bisa gonta-ganti pasangan politik seenak udelnya sendiri, mereka yg tadinya musuh bisa jd kawan atau sebaliknya. Sementara kalian sdh terlanjur memutus persahabatan bahkan persaudaraan demi junjungan politisi kalian yg besok sehabis pilpres sdh kongkow bareng di balik panggung.

Mereka mendapat kekuasaan, kalian kehilangan persahabatan. Ingatlah, kalo hidupmu susah, yg menolongmu itu bukan para elit politik di atas sana, tapi kawanmu, tetanggamu, saudaramu.
Selamat malam semua saudara-saudariku.

Saturday, October 27, 2018

HIZTUR TAHRIR, IKHWANUL MUSLIMIN DAN NU

HIZBUT TAHRIR

Oleh Jarot Doso

Dua tahun saya bergabung dengan Hizbut Tahrir (HT) Indonesia  untuk penelitian partisipatif secara tersamar. Saya katakan tersamar, sebab hingga saya mundur, saya tidak mengaku sedang meneliti.

Saya ikut dibaiat, ikut liqo rutin, ikut kajian-kajiannya, dan disuruh ikut aksi demo. Tapi untuk demo HT, saya selalu menolak ikut dengan pelbagai alasan, karena hal itu akan membuka penyamaran saya di luar.

Kebetulan pada saat yang sama, saya juga bergabung dan melakukan penelitian partisipatif di KAMMI, yang secara aspiratif dekat dengan PKS atau Ikhwanul Muslimin (IM) dan acap terlibat persaingan sengit dengan HT di kampus-kampus. Biasanya haram bagi seorang ikhwan (aktivis) HT sekaligus juga seorang ikhwan IM.

Saya akhirnya terpaksa mengundurkan diri dari HT karena oleh HT saya ditugasi untuk mendakwahi ihwal sesatnya demokrasi kepada dosen pembimbing saya, Prof. Dr. Afan Gaffar, juga kepada Prof. Dr. Amien Rais, mantan ketua PP Muhammadiyah. Dua hal yang mustahil saya lakukan.

Saya juga ditugasi untuk menyampaikan ceramah dengan tema yang sama di Masjid Kampus UGM, yang tentu saja juga mustahil saya laksanakan karena di dunia nyata saya adalah aktivis pro demokrasi dan meyakini demokrasi sebagai solusi terbaik untuk memperjuangkan kepentingan rakyat Indonesia yang pluralistik.

Dan selama melakukan penelitian itu hingga hari ini, yang saya ketahui, bendera HT itu ya tak ada tulisan Hizbut Tahrir-nya. Yang ada dalam bendera HT adalah tulisan kalimat tauhid atau kalimat syahadat dalam bahasa Arab di atas secarik kain hitam atau putih. Jika kainnya hitam, tulisannya putih, sebaliknya jika kainnya putih tulisannya hitam, begitu saja. Seperti yang berusaha dikibarkan di Hari Santri di Garut dan kemudian dibakar oleh anggota Banser NU.

Itulah bendera HT yang juga mereka klaim sama persis dengan bendera Nabi Muhammad SAW. Klaim yang ditolak oleh banyak ulama karena dalil yang dirujuk HT konon hadis dhoif, atau sabda Nabi yang dari segi periwayatannya dianggap tidak valid (lemah).

Bendera HT hitam putih berkalimat tauhid itu pula yang gambarnya ada di dalam naskah tesis saya, "Ide dan Aksi Politik Hizbut Tahrir, Studi Ihwal Kebangkitan Gerakan Khilafah Islamiyah di Indonesia". Bagi yang berminat dapat membaca tesis saya di Perpustakaan Pusat UGM Yogyakarta.

Saya kira peneliti HT yang lain pun, semisal Ketua PP Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir, yang disertasinya tentang kebangkitan gerakan Islam syariah di Indonesia juga meneliti tentang HT, jika mau jujur juga akan mengakui bahwa bendera yang dibakar di Garut adalah bendera HT.

Saya tidak tahu apa motif Plt Ketum MUI, Prof. Dr. Yunahar Ilyas, yang menyatakan bahwa yang dibakar di Garut adalah bendera tauhid dan bukan bendera HT hanya karena tak ada tulisan Hizbut Tahrirnya. Yang jelas, yang saya ketahui, Prof. Yunahar Ilyas meski kini secara resmi menjabat salah satu petinggi PP Muhammadiyah, akan tetapi beliau juga salah satu tokoh penting di Jamaah Tarbiyah yang tak lain adalah jamaah Ikhwanul Muslimin/PKS.

Antara HT dan PKS memang memiliki irisan historis dan ideologis.  Hizbut Tahrir merupakan  pecahan sayap ekstrem IM yang menolak demokrasi, meski menurut versi HT, mereka bukan pecahan, tapi pendiri IM Hasan al-Banna bersahabat dengan pendiri HT, Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani. Karena tak setuju dengan langkah IM yang menempuh langkah kompromis itu, Taqiyyuddin an-Nabhani mendirikan HT di Al Quds (Yerusalem), yang saat itu masuk wilayah Yordania, pada 1953.

IM, juga PKS, masih tetap menjadikan khilafah sebagai cita-cita utamanya. Namun mereka berusaha memperjuangkannya melalui demokrasi dan menyesuaikan diri dengan situasi politik setempat.

Boleh jadi dalam situasi tertentu, antara jaringan IM dan HT yang sama-sama fenomena Islam kota dan Islam transnasional dan acap bersaing di kampus-kampus ini, akan akur atau saling membantu dalam isu tertentu. Saat IM melalui PKS menjadi bagian dari pemerintahan SBY, HT bersikap selalu kritis dan karena itu sulit akur. Namun ketika PKS tergusur menjadi kelompok oposisi, antara HT dan PKS lebih bisa akur, barangkali karena rasa senasib dan memiliki common enemy yang sama: aliansi Nasionalis Sekuler (PDIP, Nasdem, Golkar, Hanura) dan Islam Tradisional (NU, PKB, PPP).

Dalam konteks ini bisa dipahami jika PKS salah satu yang menolak pembubaran HT dan mendukung HT melakukan gugatan hukum. Dilanjut HT yang lazimnya mengharamkan pemilu, mau melibatkan diri dalam agenda Pilkada Jakarta dan ikut memobilisasi dukungan untuk memenangkan calon yang diusung PKS, yaitu Anies-Sandi. Kemudian yang fenomenal adalah kolaborasi Mardani Ali Sera (PKS) dan Ismail Yusanto (Jubir HT) dalam gerakan #2019GantiPresiden. Maka, bagi yang paham peta gerakan Islam, sebenarnya tak terlalu mengagetkan jika muncul pendapat Prof. Yunahar Ilyas yang menguntungkan HT dan memojokkan Banser. Itu konteksnya bukan rivalitas antara Muhammadiyah dan NU, tapi lebih IM versus NU.

Muhammadiyah sendiri melalui statemen Ketum PP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir cenderung adem, dengan mempercayakan penyelesaian kepada aparat penegak hukum. Muhammadiyah bahkan melarang warganya ikut serta dalam aksi Bela Bendera Tauhid karena rawan dimanipulasi untuk memecah belah bangsa.  (*Ilustrasi foto dari Fanpage Parodi Hizbut Traktir Indomie).

Friday, June 29, 2018

PELAJARAN DARI KASUS ABDULLAH BIN UBAY

PELAJARAN DARI KASUS ABDULLAH BIN UBAY 

***
Renungan Tentang Ijtihad Politik Islam
***
Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

***

Suatu saat, salah satu gembong munafik di zaman Nabi ﷺ yang bernama Abdullah bin Ubay mengucapkan kata-kata keji yang menghina Nabi. Dia berkata,

“Perhatikan, demi Allah, nanti kalau kita sudah pulang ke Madinah maka orang yang paling mulia pasti akan mengusir orang yang paling hina”

Dia memaksudkan orang yang paling mulia adalah dirinya sendiri sementara orang yang paling hina adalah Rasulullah ﷺ. Sejarah mencatat bahwa Abdullah bin Ubay ini adalah tokoh politik berpengaruh di Yatsrib yang nyaris menjadi “raja pemersatu” antara Aus dan Khozroj. Tapi begitu Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, ketokohan politiknya langsung lenyap, pengaruhnya seperti habis tak berbekas dan semua manusia mengalihkan pandangan kepada Rasulullah ﷺ sebagai pemimpin baru. Hal ini membuat Abdullah bin Ubay menjadi dendam dan memutuskan untuk bersikap hipokrit, pura-pura masuk Islam sambil menunggu sewaktu-waktu Rasulullah ﷺ bisa disingkirkan.

Saat terjadi perang Bani Mushtholiq, datanglah momen yang diharapkannya. Sebagian kaum Muhajirin ada yang bertengkar dengan kaum Anshor masalah air. Dari situ Abdullah bin Ubay mengompor-ngompori dan mengingatkan bahwa perumpamaan orang Anshor dengan Muhajirin itu seperti orang yang memelihara anjing. Begitu anjingnya gemuk maka dia menyerang dan menyantap tuannya. Maksudnya; Kaum Anshor itu menolong kaum Muhajirin dengan diberi harta dan tumpangan, tapi setelah kaum Muhajirin nyaman dan enak hidupnya, mereka jadi tidak tahu diri dan malah menyerang orang yang berbuat baik kepadanya. Lalu Abdullah bin Ubay mengeluarkan kata-kata tadi,

“Perhatikan, demi Allah, nanti kalau kita sudah pulang ke Madinah maka orang yang paling mulia pasti akan mengusir orang yang paling hina”

Ucapan si Munafik ini kemudian dilaporkan kepada Rasulullah ﷺ. Umar bin Khotthob yang berada di dekat Rasulullah ﷺ sudah tidak bisa menahan kesabarannya dan menganjurkan Rasulullah ﷺ agar memerintahkan Abbad bin Bisyr supaya memenggal leher munafik bermulut kotor itu.

Apa komentar Rasulullah ﷺ?

Ibnu Hisyam menuliskan jawaban Nabi ﷺ sebagai berikut,

فَكَيْفَ يَا عُمَرُ إذَا تَحَدَّثَ النَّاسُ أَنَّ مُحَمَّدًا يَقْتُلُ أَصْحَابَهُ! لَا وَلَكِنْ أَذَّنَ بِالرَّحِيلِ

“Bagaimana Umar, jika nanti orang-orang malah membincangkan bahwa Muhammad telah membunuhi shahabat-shahabatnya?! Tidak (saya tidak akan menuruti saranmu), tapi umumkan agar orang-orang segera memulai perjalanan” (Siroh Ibnu Hisyam, juz 2 hlm 291)

Apa maknanya?

Coba perhatikan.

Jika sudut pandangnya hukum, sesungguhnya hukuman bunuh untuk Abdullah bin Ubay sudah benar, karena siapapun yang menghina Rasulullah ﷺ hukumannya adalah mati. Apalagi posisi Abdullah bin Ubay berada di bawah kekuasaan Rasulullah ﷺ. Situasi Rasulullah ﷺ saat itu juga sedang kuat, tidak ada satupun yang menghalangi hukuman tersebut. Dengan melihat realitas bahwa orang munafik di Madinah tidak hanya satu dan itu bisa membahayakan soliditas masyarakat bentukan Nabi, kiranya hukuman bunuh itu bisa menimbulkan efek jera juga. Dari satu sisi hukuman mati untuk Abdullah bin Ubay adalah keputusan yang sangat masuk akal.

Tetapi pandangan Rasulullah ﷺ ternyata sangat jauh ke depan dan lebih jitu. Beliau malah melihat efek yang tidak bisa dilihat Umar, yakni munculnya opini buruk tentang Nabi Muhammad yang akan berakibat rusaknya citra dakwah Islam. Rasulullah ﷺ memperkirakan, jika Abdullah bin Ubay dibunuh maka opini yang akan berkembang adalah bahwa Sang Nabi membunuhi shahabat-shahabatnya. Tentu saja opini ini bisa berakibat orang-orang menjadi takut dengan Islam sebelum mengenalnya. Akibatnya, orang lebih nyaman dengan kekufurannya daripada harus berkenalan dengan Islam. Rasulullah ﷺ tidak menjatuhkan hukuman mati, tetap mempergauli Abdullah bin Ubay dengan baik, dan hanya “menghukumnya” dengan opini luas bahwa dia adalah orang munafik. Rasulullah ﷺ hanya memberinya hukuman sosial, hukuman mental. Adapun terkait hawa perselisihan antara Muhajirin dan Anshor, cara bijaksana Rasulullah ﷺ dalam menyelesaikan adalah dengan memerintahkan melakukan perjalanan di luar jadual. Tujuannya agar kaum muslimin sibuk dengan safar dan segera melupakan pertengkaran.

Perhatikan, betapa tidak mudahnya membuat keputusan hukum yang terkait dengan strategi dakwah yang bernilai dan berkonsekuensi siyasah (politik) .

Mirip dengan kasus ini adalah fitnah yang terjadi di masa kekhilafahan Ali bin Abi Thalib. Setelah Ali diangkat menjadi Khalifah, Aisyah segera menuntut Ali mengejar dan menghukum para pembunuh Utsman dengan hukuman qishosh. Secara normatif, tuntutan Aisyah ini memang benar. Ali-pun tidak mengingkari hal tersebut. Hanya saja keputusan politik Ali adalah memprioritaskan stabilitas negara sebelum menegakkan hukum. Keputusan ini menimbulkan opini bahwa Ali melalaikan hukum Allah sehingga pantas diperangi. Akhirnya terjadilah fitnah perang Jamal, perang Shiffin, majelis Tahkim, pembunuhan Ali, munculnya Khawarij sampai munculnya Syiah. Entah ada berapa ribu darah tertumpah dan ada berapa kelompok yang akhirnya memecah umat.

Sungguh luar biasa konsekuensi politik Islam itu.

Keputusan menghukum, mengampuni, berunding, bekerjasama, melakukan kunjungan, berkoalisi, memerangi, melakukan gencatan senjata, mengangkat pemimpin, memecat pemimpin, menentukan siapa yang disebut ulil amri dan siapa yang bukan, menentukan siapa yang bughot dan siapa yang bukan dan semisalnya adalah keputusan politik yang sangat rawan dalam Islam. Bukan hanya perlu kefaqihan dien yang mendalam tetapi juga perlu penguasaan sempurna terhadap realitas dan fakta agar tidak salah menilai medan yang berakibat kerusakan besar. Kerusakan besar itu bisa saja buruknya citra Islam, dakwah Islam dan kaum muslimin, bisa juga semakin menghitamnya citra politik Islam, perpecahan umat, bahkan sampai pertumpahan darah!

Kalau begitu, apakah umat Islam tidak perlu bicara politik?

Blunder besar jika sampai disimpulkan begitu.

Secara alami, ajaran Islam mengharuskan pemeluknya bersentuhan dengan politik karena pelaksanaan Islam secara sempurna pastilah melibatkan kekuasaan. Pembahasan jihad, hudud, jinayat, qodho’ (peradilan) dan syahadah (persaksian) dalam fikih Islam adalah sejelas-jelas bukti bahwa ajaran Islam hanya mungkin dilaksanakan secara sempurna dengan kekuasaan.

Pesan tulisan ini bukan untuk membungkam umat Islam agar tidak berbicara politik, menjauh dari politik dan tidak mengurusnya. Tetapi mencegah orang-orang yang tidak kompeten berbicara politik yang hanya akan memecah umat, memperkeruh keadaan dan merusak citra Islam. Namun yang tampak hari ini, banyak sekali para ruwaibidhoh yang berbicara politik sementara dia tidak memahami kadar dirinya. Para ruwaibidhoh ini jahil fikih politik Islam dengan segala pelik-peliknya, juga tak cakap memahami fakta dan situasi politik. Tokoh-tokoh gerakan yang memutuskan untuk mengusung tema Islam politik semestinya serius mencegah kadernya berbicara di luar kadarnya. Harus ada batas yang jelas, tema apa yang bisa dibicarakan awam dan mana yang harus dibahas oleh pakarnya. Jadi, tidak boleh muncul para juhala’ yang memerankan diri sebagai mufti dadakan yang begitu serampangan dan mudah memberikan fatwa-fatwa politik, ini halal-ini haram, ini syirik-ini bukan, ini kufur-ini islami dan seterusnya, hanya bermodalkan baca berita dan pengetahuan satu-dua dalil.

Lantas, siapa tokoh di zaman sekarang, khususnya di Indonesia yang bisa didengarkan fatwa-fatwa politiknya, atau analisis-analisis politiknya yang bersifat membela kepentingan Islam dan kaum muslimin?

Terus terang ini pertanyaan berat, dan saya sampai hari ini masih terus mencari. Negeri kita insya Allah kaya ulama. Hanya saja ulama yang fokus betul dalam bidang politik dan memiliki pemahaman luas nan dalam terhadap tema itu sepertinya sampai hari ini masih belum muncul atau belum dimunculkan. Apalagi negarawan yang sekaligus ulama. Sejarah menunjukkan, jika kaum muslimin dipimpin oleh ulama yang sekaligus negarawan yang piawai, maka urusan umat Islam insya Allah akan menjadi baik, seruwet dan sebesar apapun masalah umat Islam itu. Lihatlah kepemimpinan Abu Bakar, Umar bin Al-Khotthob, Umar bin Abdul Aziz dan yang semisal dengan mereka. Kalaupun muncul negarawan yang kuat, tetapi kefaqihannya dalam dien tidak terlalu menonjol, maka selama mereka menjadikan ulama-ulama fakih nan ikhlash sebagai penasihatnya, insya Allah urusan umat Islam akan tertangani dengan baik meski mereka memiliki sejumlah kekurangan. Saya melihat pemimpin seperti Abdul Malik bin Marwan, Sholahuddin Al-Ayyubi dan Muhammad Al-Fatih adalah contoh pemimpin-pemimpin jenis terakhir.

Untuk kasus Indonesia, andai saja pada zaman sekarang ada negarawan semisal pak Natsir yang konsisten dengan prinsipnya dan memberikan teladan baik dalam cara hidup yang sederhana, barangkali saya akan menganjurkan mengikuti beliau. Andai saja pada zaman sekarang ada ulama yang ditaati semua kalangan yang memiliki keteguhan prinsip dan ketegasan fatwa seperti HAMKA yang rela melepaskan jabatan ketua MUI demi mempertahankan fatwa beliau, maka barangkali saya akan menyarankan mengikuti ulama seperti itu. Mungkin sudah ada, hanya saya belum tahu saja.

Kalaupun mencari ulama dan negarawan yang menjadi sosok panutan dalam politik sangat susah, saya membayangkan barangkali persoalan ini bisa sedikit diuraikan dengan mengembangkan musyawarah ulama dan negarawan lintas kelompok. Masing-masing tokoh melepaskan baju kelompoknya dan berbicara bersama-sama untuk kemaslahatan umat Islam. Tapi ini sangat sulit dan pasti sangat sulit. Lihatlah bagaimana ormas dan parpol Islam di Indonesia yang sampai hari ini tidak pernah bisa bersatu menyatukan visinya. Ada persoalan yang lebih mengakar yang sepertinya harus diselesaikan terlebih dahulu.

Proyek besar umat Islam dalam bidang politik adalah mengkader calon negarawan-negarawan level nasional-internasional yang kuat pembelaannya terhadap Allah dan Rasul-Nya. Syukur-syukur mencapai level mujtahid.

Kurikulumnya jelas, pembinanya kredibel, targetnya terukur, medan penggemblengannya berkualitas.

Saya belum tahu apakah ada elemen umat Islam hari ini yang serius ke arah sana. Menciptakan negarawan-negarawan yang kharismatik nan berkualitas yang bisa mempersatukan elemen-elemen umat Islam.

اللهم ارحم أمة محمد
اللهم أصلح أمة محمد
اللهم ألف بين قلوب المؤمنين

Versi Situs: http://irtaqi.net/2018/06/29/pelajaran-dari-kasus-abdullah-bin-ubay/

***
17 Syawwal 1439 H

Thursday, March 22, 2018

HTI, Indonesia, Libya, dan Suriah

HTI, Indonesia, Libya, dan Suriah

HTI selalu mengklaim diri sebagai semata-mata organisasi dakwah Islam dan atas alasan itu, UU Ormas (kini UU) secara salah kaprah disebut anti Islam. Padahal yang disasar UU Ormas adalah ormas yang ideologinya membahayakan NKRI (anti Pancasila, pro kekerasan, dll). Tokoh ex-HTI Mereka pun mengajukan gugatan ke PTUN minta pencabutan pembubaran ormas mereka.

Untuk argumen teologis, para pakar sudah dihadirkan pihak pemerintah dalam persidangan. Tentu saja, para pakar ini dibully di medsos oleh para pembela HTI, bahkan dengan cara&tuduhan yang sangat kasar.

Untuk argumen politik, saya bisa menjelaskan, dimana bahayanya HTI, dengan cara menyimak rekam jejak mereka dalam isu Timteng.

HTI selalu mengklaim sebagai organisasi dakwah. Ini bertentangan dengan pernyataan yang dimuat di situs-situs HT di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang secara jelas menyatakan bahwa Hizbut Tahrir adalah partai politik yang memiliki tujuan untuk mendirikan kekhalifahan Islam.

Saat diwawancarai oleh Aiman dari Kompas TV (12/6), Ismail Yusanto mengelak menjawab, bagaimana proses terbentuknya kekhilafahan serta siapa dan dari negara mana asal sang khalifah.

Pertanyaan bagaimana proses terbentuknya khilafah adalah poin yang amat krusial dalam mengetes kesahihan klaim-klaim antikekerasan yang disampaikan oleh HTI. Bila kita melacak jejak digital pernyataan-pernyataan HTI terkait upaya pendirian khilafah di Libya dan Suriah, kita justru mendapati bahwa organisasi ini menyebarkan narasi yang menyerukan kekerasan. Menurut HTI, rezim Qaddafi dan Assad adalah rezim taghut, karenanya perlu jihad untuk mendirikan khilafah di kedua negara itu.

HTI dan Libya

Pada 23 Februari 2011, Ismail Yusanto merilis siaran pers berjudul “Seruan HTI untuk Kaum Muslimin di Libya Tumbangkan Rezim Diktator, Tegakkan Khilafah”. Dalam siaran pers itu Ismail menyatakan, “penguasa Libya memimpin dengan penuh kezaliman, menggunakan tekanan, paksaan dan kekangan… rakyatnya hidup dalam kemiskinan yang sangat dan kelaparan yang tiada terkira.”

Lalu pada Agustus 2011, situs HTI merilis siaran pers ucapan selamat atas tumbangnya “rezim tiran Qaddafi”.

HTI mengabaikan data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa sebelum 2011, Libya adalah negara dengan Human Development Index (HDI) tertinggi di Afrika. Pada tahun 2010, HDI Libya berada di peringkat 57 dunia. Ini adalah posisi yang jauh lebih baik darpada Indonesia yang baru sampai di peringkat 112.

Dalam situs UNDP dicantumkan bahwa pengukuran HDI dimaksudkan untuk mengetahui kondisi kehidupan manusia, dengan berbasis tiga hal berikut ini: kehidupan yang sehat, panjang umur, dan kreatif; memiliki pengetahuan, serta memiliki akses terhadap sumber daya yang diperlukan untuk memiliki kehidupan yang layak.

Pada 2010, pendapatan penduduk per kapita Libya adalah US$ 14.582. Bandingkan dengan Indonesia pada saat itu yang hanya US$ 2.149. Warga Libya menikmati pendidikan dan layanan kesehatan gratis, serta subsidi berlimpah di sektor energi dan pangan.

Dan ironisnya, di balik seruan-seruan jihad serta gegap-gempita HTI pasca tergulingnya Qaddafi, yang terjadi di Libya sesungguhnya adalah agenda penggulingan kekuasaan yang dilakukan oleh NATO. Prosesnya diawali dengan demo-demo antipemerintah oleh para “mujahidin” Libya yang berafiliasi dengan Al-Qaidah. Lalu, setelah terjadi bentrokan senjata dengan tentara pemerintah, mereka meminta kepada PBB untuk turun tangan, mengklaim telah terjadi “kejahatan kemanusiaan”.

Hanya dalam waktu sebulan, di luar kewajaran, Dewan Keamanan PBB merilis Resolusi 1973/Maret 2011, yang memberikan mandat kepada NATO untuk memberlakukan no fly zone. Praktis resolusi ini memberi kesempatan kepada NATO untuk membombardir Libya. Negara yang pernah dijuluki “Swiss-nya Afrika” itu pun luluh lantak. Qaddafi terguling dan korporasi multinasional pun berpesta-pora karena mendapatkan proyek-proyek rekonstruksi dan eksplorasi minyak di negara yang amat kaya sumber daya alam itu.

HTI dan Suriah

Peran “mujahidin” sebagai proksi NATO di Libya kembali terulang di Suriah. Bahkan tokoh-tokoh Al-Qaidah Libya-lah yang merintis pembentukan milisi-milisi jihad Suriah. Laporan jurnalis Mary Fizgerald dari Foreign Policy menyebutkan bahwa salah satu komandan pemberontak Libya yang paling terkenal, Al-Mahdi Al-Harati, bersama lebih dari 30 milisi Al-Qaidah Libya datang ke Suriah untuk mendukung Free Syrian Army (FSA) serta membentuk milisi Liwaa Al-Ummah.

Lalu, di mana peran HTI? Sama seperti Libya, HTI menjadi cheerleader yang sangat aktif dalam menyerukan jihad Suriah. Pada Januari 2013, HTI bahkan sangat optimistis menyatakan bahwa “khilafah di Suriah sudah dekat”. Hafidz Abdurrahman, Ketua Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI, menyatakan, “Hizbut Tahrir terus bekerja keras untuk mengawal Revolusi Islam ini hingga mencapai tujuannya, yaitu tumbangnya rezim kufur Bashar, kemudian menggantikannya dengan khilafah.”

Menurut Hafidz, proses berdirinya khilafah di Suriah bisa dipercepat dengan “…melumpuhkan kekuasaan Bashar. Bisa dengan membunuh Bashar, seperti yang dilakukan terhadap Qaddafi, atau pasukan yang menopang kekuasaan Bashar.”
Dari kalimat ini terlihat bahwa metode yang diusung HTI dalam mendirikan kekhalifahan adalah metode destruktif.

Bila diamati rekam jejak narasi HTI terkait Suriah di situs-situs mereka: sangat jelas mereka memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok teror. Ini pun sudah diakui juga secara terbuka oleh Ismail Yusanto bahwa Hizbut Tahrir pernah mengikuti sumpah setia dengan banyak kelompok “mujahidin” Suriah, termasuk dengan Al-Nusra. Pada 9 September 2014, situs HTI memuat ucapan duka cita atas tewasnya pimpinan pasukan “jihad” Ahrar Al-Sham.

Jabhah Al-Nusrah dan Ahrar Al-Sham adalah organisasi teror yang sangat brutal, yang lahir dari rahim Al-Qaidah. Situs counterextrimism.com menyebutkan bahwa Al-Nusra didirikan oleh Abu Mus’ab Al-Zarqawi yang merupakan mantan anggota HT. Kelompok Al-Muhajirun, yang dituduh bertanggung jawab atas 50% aksi-aksi teror di Inggris sejak 1995, didirikan oleh Omar Bakri Muhammad, yang juga mantan pimpinan HT.

Di Indonesia, kita mengenal nama Muhammad Al-Khaththath yang ditangkap polisi dengan tuduhan makar, serta Bahrun Naim, yang disebut-sebut sebagai dalang bom Sarinah. Keduanya adalah mantan anggota HTI.

Suriah dan Indonesia

Sejak perang Suriah dikobarkan para "mujahidin", di Indonesia pun muncul gerakan masif mengusung narasi kebencian kepada Syiah (dan parahnya, setiap orang/pihak yang sepakat dengan mereka langsung distempel Syiah). Aksi-aksi penggalangan donasi untuk Suriah dilakukan sangat gencar, dengan membawa narasi kebencian, perang Sunni lawan Syiah, mencaci ulama-ulama Suriah yang menentang "jihad", menyebarkan foto dan video palsu, dll.

Ini jelas membawa masalah besar buat Indonesia. Apa masalahnya? Karena kebencian itu bagai api, akan membakar ke segala penjuru. Dampaknya sudah sangat terasa di atmosfir Indonesia: kebencian meruyak ke segala arah; melebar ke semua isu. Fasisme atas nama agama dengan cara mengusung kebencian semakin merajalela. Isu yang dimanfaatkan bukan cuma Syiah, tapi PKI, China, dll. Dan siapa yang membawa narasi kebencian ini? Tak lain mereka yang berafiliasi dengan ormas-ormas radikal yang angkat senjata di Suriah.

Kalau mau diperdalam lagi, silahkan cek, kelompok-kelompok yang sering membawa hoax soal Suriah adalah kelompok-kelompok yang sama yang juga aktif menyebarkan hoax soal pemerintah.

Karena itu, sepatutnya melawan hoax soal Suriah gencar dilakukan, terutama oleh mereka yang mengaku aktivis anti Hoax.


Catatan Penting:

Sebenarnya yang paling awal berperan mengobrak-abrik Suriah adalah kelompok Ikhwanul Muslimin (mengaku berjihad, padahal dapat suplai dana dan senjata dari Barat). Saat inipun pasukan "jihad" terkuat di Suriah selain ISIS dan Al Qaida adalah yg berhaluan IM. IM ini ada cabangnya di Indonesia dan mendirikan partai.

#HTISudahlah

Sumber: facebook dina sulaenan

Sunday, February 25, 2018

Mbah maemoen dan partai politik

Yang paling dahsyat dari keunikan Mbah Moen Zubair itu terjunnya Beliau di kancah perpolitikan tidak menjatuhkan kewibawaan, kehormatan dan kharisma beliau sebagai seorang Kiai, bahkan lawan politiknyapun tetap menghormatinya.

Umumnya, seorang Kiai yang telah nyata nyata ikut terjun dalam Partai minimal akan mengurangi marwahnya sebagai Kiai, bahkan ada yang pesantrennya bubar begitu Kiai tersebut ikut ikutan masuk dalam partai politik. Adapun Kiai yang segera turun derajatnya setelah acara dukung mendukung dalam perebutan kekuasaan tidak terhitung jumlahnya.

Saya teliti semenjak saya kenal partai hingga sekarang, kenapa Simbah Yai Maimoen Zubair punya keistimewaan sedemikian hebatnya?

Saya menduga jawabannya adalah karena beliau tidak pernah memasang gambar partai dan apalagi calon calon yang didukungnya di depan Pesantrennya dan tidak pernah menggunakan pengajian umum sebagai tempat menitipkan partai dan calon yang beliau restui atau beliau dukung.

Satu hal lagi, bahwa beliau tidak pernah menunjukkan ketidaksenangannya kepada satu tokoh politik dengan cara sekedar menyindir nyindir di depan publik, yang saya tahu cuma sekali saja yaitu ketidaksukaan beliau kepada Gusdur, itupun beliau sampaikan dalam acara resmi kepartaian, bukan ketika pengajian umum.

Jadi, saya sangat berani menyimpulkan, Simbah Yai Maimoen adalah Kiai sekaligus politikus ulung yang sangat profesional dan wajib ditiru oleh semua kalangan, terutama para santrinya.

Satu kali saja pernah saya dengar dalam pengajian Umum beliau mengemukakan soal kepartaian, namun bukan fanatisme yang beliau tanamkan, namun justru malah menerina segala perbedaan, top dan sangat top tenan.

Andai ada sepuluh saja di Indonesia Kia yang sekaligus Tokoh partai yang mirip Mbah Moen, Indonesia akan bebas saling hujat.

Hanya pada era digital seperti ini ada orang yang tega menuliskan kata kata kotor kepada Beliau.

Salam Nggregel ToniBoster

Monday, February 5, 2018

Pengakuan seorang Kader PKS

Pengakuan seorang Kader PKS

Testimoni ini ditulis oleh seorang mantan kader PKS dari UI bernama Arbania Fitriani, sebagai "note" pribadi di facebook

Pertama-tama, saya menuliskan pengalaman saya ini tidak untuk menjatuhkan atau menjelek-jelekkan salah satu partai besar di Indonesia. Saya hanya ingin berbagi pengalaman untuk menjadi bahan renungan para pembaca agar dapat lebih mengenal PKS dari dalam.

Tulisan ini dimaksudkan agar masyarakat dapat mengenal PKS secara objektif, agar rakyat Indonesia mengetahui apakah PKS benar-benar mengusung kepentingan rakyat Indonesia atau justru sedang mengkhianati masyarakat dan para kadernya sendiri dengan sentimen keagamaan serta jargon sebagai partai bersih. Sayangnya, banyak masyarakat dan orang-orang di dalam tubuh PKS ini pun tidak menyadarinya.

Bagian tersebut akan saya jelaskan secara singkat di akhir cerita saya, dan sekarang saya ingin berbagi dulu kepada para pembaca mengenai sistem pengkaderan PKS yang sangat canggih dan sistematis sehingga dalam waktu singkat membuatnya menjadi partai besar.

Saya waktu mahasiswa adalah kader PKS mulai dari 'amsirriyah sampai ke 'am jahriyah. Mulai dari saya masih sembunyi-sembunyi dalam berdakwah, sampai ke fase dakwah secara terang-terangan, sejak PKS masih bernama PK sampai kemudian menjadi PKS.

Dalam struktur pengkaderan PKS di kampus, ada beberapa lingkaran, yakni lingkaran inti yang disebut majelis syuro'ah (MS), lingkaran ke dua yakni majelis besar (MB), dan lingkaran tiga yang menjadi corong dakwah seperti senat (BEM), BPM (MPM), dan lembaga kerohanian islam.

Jenjangnya adalah mulai dari lembaga dakwah tingkat jurusan, fakultas, sampai ke universitas. Jika di universitas tersebut terdapat asrama dan punya kegiatan kemahasiswaan, maka di sana pun pasti ada struktur seperti yang telah saya terangkan.

Universitas biasanya akan berhubungan dengan PKS terkait perkembangan politik kampus maupun perkembangan politik nasional. Dari sanalah basis PKS dalam melakukan pergerakan-pergerakan politik dalam negeri atas nama mahasiswa baik itu yang berwujud demonstrasi ataupun pergerakan lainnya. Sistem pergerakan, pengkaderan, dan struktur lingkaran yang terjadi di dunia kampus sama persis dengan yang terjadi di tingkat nasional.

Kembali ke dalam struktur lingkaran PKS di kampus, orang-orang yang duduk di MS jumlahnya biasanya tidak banyak dan orang-orangnya adalah orang-orang yang terpilih. Kebanyakan yang menjadi anggota MS adalah mahasiswa yang memang sudah di kader sejak SMU. Tapi tidak banyak juga yang berhasil masuk ke dalam MS dari orang-orang yang telah dikader pada saat kuliah. Saya termasuk orang yang masuk ke dalam lingkaran MS yang baru di kader pada saat kuliah dan menduduki posisi sebagai mas’ulah di asrama UI sehingga saya punya akses langsung untuk berdiskusi dengan mas’ulah tingkat universitas. Dari sini juga saya akhirnya banyak tahu sistem dalam PKS meskipun saya pada tingkat fakultas hanya masuk sampai tingkat MB.

Dalam MS dan MB memiliki mas’ul (pemimpin untuk anggota ikhwan) dan mas’ulah (pemimpin untuk anggota akhwat). Masing-masing mas’ul(ah) ini membawahi MS secara keseluruhan dan ada juga mas’ul(ah) yang membawahi sayap-sayap dakwah yakni sayap tarbiyah (mengurusi pengkaderan khusus untuk ikhwah seperti pemetaan liqoat, materi liqoat, dll), sayap syiar (mengurusi syiar islam khususnya dalam lembaga kerohanian formal dan menjaring kaderbaru), dan sayap sosial & politik (mengurusi dakwah dalam bidang lembaga formal kampus yakni BEM dan MPM).

Di lingkaran ke dua adalah majelis besar, anggotanya adalah ikhwah yang sudah di kader juga dan tinggal menerima keputusan dari MS untuk dilaksanakan. Jadi, MS ini adalah think-tank dari seluruh kegiatan yang terjadi di kampus. Apabila kader PKS duduk sebagai ketua BEM/Senat atau MPM/BPM, maka semua kegiatannya harus mendapat ijin dari MS dan memang biasanya berbagai agenda di BEM/Senat dan MPM/BPM ini dibuat oleh MS.

Bagaimana sistem pengkaderan PKS itu sendiri? Bagaimana PKS mengubah seorang menjadi kader yang militant? Jalan pertama adalah menguasai Senat, BEM, BPM, dan MPM. Apabila lembaga formal ini sudah dikuasai maka akan mudah untuk membuat kebijakan terutama pada masa penerimaan mahasiswa baru.

Saat orientasi Mahasiswa baru biasanya mereka akan dibentuk kelompok kecil (halaqah)dan ikhwah PKS akan berperan sebagai mentor. Kegiatan ini akan berlanjut rutin selama masa perkuliahan di mana halaqah ini akan berkumpul 1 minggu sekali. Dari sinilah biasanya akan terjaring orang-orang yang kemudian akan menjadi ikhwan  militan, bahkan orang yang sebelumnya tidak pakai jilbab dan sangat gaul bisa menjadi seorang akhwat yang sangat pemalu namun juga sangat militan.

Agenda utama kami adalah membentuk Manhaj Islamiyah di Indonesia menuju Daulah Islamiyah (mirip dengan sistem Khilafah Islamiyah dari HTI). Doktrin utama dalam sistem jamaah PKS yang juga menamakan dirinya sebagai jamaah Ikhwanul Muslimin ini adalah “nahnu du’at qobla kulli sya’I” dan “sami’na wa ata’na”. Dua doktrin inilah yang membuat kami semua menjadi orang yang sangat loyal dan militan. Setiap instruksi yang diberikan dari mas’ul(ah) ataupun murabbi(ah) kami, akan kami pasti patuhi meskipun kami tidak benar-benar paham tujuannya. Seperti menyumbang, mengikuti demonstrasi, meskipun harus bolos kuliah, dll.

Selama saya aktif di pergerakan ini, saya melihat banyak sekali teman-teman saya yang berhenti menjadi Aktivis Dakwah Kampus (ADK). Dulu saya merasa kasihan dengan mereka, karena yang saya tahu – diberitahu oleh murabbi kami dan juga seringkali dibahas dalam taujih atau tausiyah (semacam kultum) – bahwa dalam jalan dakwah ini selalu akan ada orang-orang yang terjatuh di jalan dakwah, mereka adalah orang-orang futur (berbalik ke belakang).

Orang-orang ini biasanya kami label sebagai anggota “basah” (barisan sakit hati). Saya mempercayai semuanya sampai akhirnya saya pun merasa tidak cocok lagi untuk berada di sana dan memutuskan untuk keluar dari ADK padahal saya dulu sudah diproyeksikan sebagai ADK abadi (orang yang akan menjadi aktivis dakwah kampus selamanya dengan cara menjadi dosen atau karyawan tetap di kampus).

Ada beberapa alasan yang membuat saya mengambil keputusan untuk keluar, antara lain: Adanya ekslusivisme antara kami para ADK dengan orang-orang diluar ADK. Kami para ADK adalah orang-orang khos (orang khusus) dan mereka adalah adalah orang ’amah (orang umum). Orang khos adalah orang yang sudah mengikuti tarbiyah dan mengikuti liqo’at (semacam halaqah tapi lebih khusus lagi) dan orang ’amah adalah orang yang belum mengenal tarbiyah. Para ikhwah, terutama para ADK, tidak akan mau menikah dengan ’amah karena mereka dapat membuat orang khos seperti kami menjadi futur, bahkan bisa membuat kami terlempar dari jalan dakwah. Istilah khos dan a’amah ini membuat saya merasa tidak natural dan tidak manusiawi dalam menghadapi teman saya yang ’amah. Saya diajarkan bahwa mereka adalah mad’u (objek dakwah) saya. Jika saya bisa menarik mereka ke dalam sistem kami apalagi bisa menjadi ADK, maka kami akan mendapat pahala yang sangat besar. Saya merasa menjadi berdagang dengan teman saya yang dulunya sebelum menjadi ADK adalah sahabat saya. Saya merasa tidak memanusiakan teman saya dan lebih memandang mereka sebagai objek dakwah.

Dalam liqo’at ataupun dauroh saya juga ada beberapa hal yang membuat saya tidak sreg, seperti bahwa saya harus lebih mengutamakan liqo’at daripada kepentingan orang tua dan keluarga saya. Bahkan saya pernah diberitahu bahwa bila sudah ada panggilan liqo’at, meski orang tua saya sakit dan harus menjaganya, maka saya harus tetap datang liqo (entah mengapa selama beberapa tahun saya bisa menerima konsep yang kurang manusiawi ini). Hal lain adalah saya tidak boleh mengikuti kajian di luar liqo saya, padahal setahu saya bahwa kebenaran itu tidak hanya milik liqo saya, masih banyak sekali kebenaran di luar sana.

Bahkan buku bacaan pun diatur dimana ada banyak buku yang saya sangat berguna untuk menambah wawasan keislaman saya seperti buku yang mengajarkan tentang hakikat islam namun oleh murabbi saya dilarang. Untuk hal ini saya membangkang karena seandainya islam itu memang benar rahmatan lil alamin maka ilmunya pun pasti sangat luas dan tidak hanya monopoli orang-orang di PKS semata. Dan hal yang paling mengusik saya adalah selama saya mengaji di liqo ataupun mengikuti taujih dan taushiyah dalam syuro ataupun dauroh-dauroh (training) saya merasa lebih banyak diajarkan tentang kebencian terhadap agama atau aliran lain seperti bagaimana kejamnya kaum nashoro (nasrani) yang membantai saudara kami di Poso, Yahudi yang membantai saudara kami di Palestina, JIL yang memusuhi kami, NII yang sesat, teman-teman Salafi yang mengganggu kami, dst.

Sampai-sampai, akibat begitu terinternalisasinya hal tersebut, ketika saya mengikuti tarbiyah universitas dan sedang makan siang, saya dan teman-teman menganggap yang sedang kami makan dan telan itu adalah orang-orang Yahudi dan Nashoro. Doa-doa kami pun selalu secara khusus ketika qunut adalah untuk mujahid-mujahid di Palestina dan Afganistan (kadang saya berpikir kapan kita berdoa untuk pahlawan perjuangan di Indonesia yang telah menghadiahkan kemerdekaan terhadap kita). Sejujurnya saya lebih tersentuh dan bisa menangis tersedu-sedu ketika dibacakan ayat-ayat seperti dalam surat Ar-Rahman yang menceritakan Cinta-Ilahi ketimbang surah seperti Al-Qiyamah yang menceritakan azabNya.

Kebencian sangat bertentangan dengan hati nurani saya karena saya sangat percaya dengan ayat yang mengatakan bahwa rahmat AllahSWT lebih cepat dari murkaNya, yang artinya cinta Allah SWT seharusnya dapat menghapus kemarahanNya terhadap umat manusia. Inilah sebabnya mengapa di sini hati saya merasa sangat kering saat mengikuti tausiyah dan taujih yang senantiasa bercerita tentang peperangan dan kebencian.
Semua ganjalan-ganjalan yang saya rasakan akhirnya meledak ketika saya kemudian tahu dari sumber yang terpercaya dalam pemerintahan, juga dari petinggi PKS sendiri, tentang agenda yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya dan pastinya juga tidak diketahui oleh orang-orang se-level saya atau bahkan pun pengurus inti PKS.

AGENDA UTAMA PKS

Agenda utama PKS adalah menghancurkan budaya Indonesia melalui invasi budaya Arab Saudi.

Banyak sekali indikasi yang saya rasakan langsung pada saat menjadi ADK seperti upaya kami untuk menghalang-halangi acara seni, budaya, musik, dll. Hingga berbagai upaya kami agar bisa memboikot mata kuliah ilmu budaya dasar (IBD).

Saya ingat dulu, karena saya begitu termakan doktrin bahwa mata kuliah IBD tidak berguna dan bisa melemahkan iman, saya seringkali membolos kalau ada latihan menari sampai saya sempat dibenci teman-teman saya.

Kembali kepada agenda PKS ini sebagai perpanjangan tangan dari Kerajaan Saudi, tujuan utamanya adalah agar kekuasaan Arab bisa mencapai Indonesia mengingat satu-satunya sumber devisa Arab adalah minyak yang diperkirakan akan habis pada tahun 2050 dan melalui jamaah haji.

Indonesia adalah negara yang sangat kaya sumber daya alam dan merupakan umat muslim terbesar di dunia. Bahkan jika seluruh umat muslim di timur tengah disatukan, umat muslim Indonesia masih jauh lebih banyak. Untuk itu, agar dapat bertahan secara ekonomi, maka Arab Saudi harus bisa merebut Indonesia dan cara yang paling jitu adalah melalui invasi kebudayaan.

Islam dibuat menjadi satu dengan kebudayaan Arab, sehingga budaya Arab akan dianggap Islam oleh masyarakat Indonesia yang relatif masih kurang terdidik dan secara emosional masih sangat fanatik terhadap agama.

Ketika kebudayaan lokal sudah bisa dihilangkan dan kebudayaan Arab yang disamarkan sebagai Islam dapat berkuasa, maka orang-orang akan menjadi begitu fanatik buta bahkan fundamentalis dan tidak bisa lagi mengapresiasi agama lain dan budaya lokal. Lalu, bila kebudayaan Nusantara sudah sampai dianggap musyrik atau bid’ah, maka saat itulah NKRI akan bubar.

Orang-orang yang pulaunya dihuni oleh mayoritas non muslim atau yang masih memegang budaya lokal di Indonesia akan meminta merdeka. Pulau-pulau di Indonesia akan terpecah belah dan pada saat itulah orang-orang ini akan bagi-bagi “kue”.

Peta rencananya adalah bagian pulau di Indonesia yang mayoritas Islam akan dikuasai oleh Arab. Sedangkan daerah yang penduduknya mayoritas kristen akan dikuasai oleh Amerika. Lalu, daerah-daerah yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, Buddha, Animisme, dll., akan dikuasai oleh Cina.

Tidak banyak orang PKS yang tahu soal ini, hanya segelintir saja yang memahaminya. Mereka menduduki posisi-posisi strategis dalam pemerintahan agar dapat lebih memudahkan agendanya. Sentimen keagamaan terus dipakai untuk meraih simpati masyarakat. Sehingga berbagai produk kebijakan seperti Perda Syariat, UU APP, dll. yang rata-rata hanya sekedar mengurus masalah cara berpakaian semata akan dengan bangganya diterima oleh masyarakat muslim yang naif sebagai keberhasilan Islam.

Masyarakatkita lupa bahwa sampai saat ini PKS belum menghasilkan produk yang dapat memajukan ekonomi, menyelesaikan permasalahan kesehatan, pendidikan, pencegahan bencana alam, korupsi, trafficking, tayangan TV yang semakin memperbodoh masyarakat, dan permasalahan lain yang lebih riil dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita ketimbang sekedar mengatur cara orang dewasa berpakaian dan berperilaku.

Jangan terburu-buru apriori dan menganggap tulisan mengenai pengalaman saya ini adalah black campaign. Renungkan dengan hati nurani yang dalam. Tidak ada kepentingan saya selain hanya menyampaikan kebenaran.

Saya tahu resiko apa yang ada di hadapan saya dan siapa yang saya hadapi. Tapi saya lebih takut menjadi bagian dari orang yang zalim, karena tahu kebenaran, namun tidak bersuara. Rasa cinta saya bagi negeri yang sudah memberi saya kehidupan ini menutupi rasa takut saya. Saya yakin siapa yang berjalan dalam kebenaran maka kebenaran akan melindunginya.

Buat rekan saya, murabbi saya, sahabat-sahabat saya dulu sesama ikhwah, saya mencintai kalian semua dan akan terus mencintai kalian. Saya berharap, persaudaraan kita tetap terjalin karena bukanlah partai atau agama yang mempersaudarakan kita, tapi karena kita satu umat manusia, anak cucu Adam. Kalau bahasa teman saya, kita menjadi saudara karena kita menghirup udara yang sama, makanya kita disebut “sa-udara”. Semoga pengalaman saya ini dapat menjadi bahan renungan para jamaah “fesbukiyah” dalam menentukan pilihan pemimpin yang akan membawa kapal Indonesia menuju masyarakat yang bahagia, makmur dan sentosa, yang memiliki jati diri dan menghargai kebudayaan nusantara.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10156002695745690&id=533735689

Wednesday, November 29, 2017

Reformasi Keagamaan Arab Saudi dan Wahabisme di Indonesia

Kendi, NU Online | Rabu, 29 November 2017 20:00

Oleh M. Imdadun Rahmat

Reformasi politik yang bergulir di Arab Saudi memunculkan tanda-tanda orientasi baru Negara itu termasuk reformasi paham keagamaan.  Negara kaya minyak yang telah lama mengembangkan Wahabisme global dan menyokong berkembangnya Wahabisme di Indonesia itu ingin perubahan. Arah baru dimaksud adalah menghentikan radikalisme, ekstrimisme dan konservatisme. Raja Salman, penguasa Nejed dan Hijaz itu menginginkan kembali kepada Islam moderat. 

Wacana baru yang dilontarkan Pangeran Muhammad bin Salman ini menimbulkan harapan yang tampaknya berlebihan dari publik Nahdliyyin. Tampak ada harapan bahwa kelompok Salafi yang selama ini membid’ah-bid’ahkan kaum Nahdliyyin akan berhenti beroperasi karena bantuannya dihentikan oleh Arab Saudi. Ada harapan kehidupan akan damai dan tenang karena tv, radio, terbitan, medsos dan panggung-panggung para ustadz Salafi/Wahabi akan berhenti menfitnah, mencerca dan mendelegitimasi NU. Bahkan, ada harapan dana dari Arab Saudi yang selama ini tidak pernah seriyal pun diterima oleh kaum Nahdiyyin akan menghampiri mereka. 

Apakah harapan Nahdliyyin itu akan menjadi kenyataan?

Ini terkait dengan pertanyaan tentang hakikat perubahan itu. Apa sesungguhnya yang dimaksud rejim Saudi sebagai radikalisme, ekstrimisme dan konservatisme? Kelompok mana yang dimaksud dengan itu? Kemudian, apa yang dimaksud dengan Islam moderat? Artikel pendek ini hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Koalisi Permanen Bani Saud dan Alu Syaikh

Arab Saudi menjadikan Islam sebagai agama resmi Negara. Meskipun tidak ada dokumen tertulis, Wahabi/Salafi merupakan aliran resmi yang penyebarannya dibiayai Negara. Jabatan-jabatan tinggi keulamaan dipegang oleh Alu Syaikh, sejumlah ulama yang merupakan keturunan Muhammad Bin Abdul Wahhab. Ulama Wahabi/Salafi seperti Abdullah Bin Baz menduduki status yang sangat tinggi dan didukung penuh oleh pemerintah untuk menyebarkan dan mengembangkan Salafiyah garis Ibnu Taymiyyah, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dan Muhammad Bin Abdul Wahhab di dalam negeri dan ke seluruh dunia Islam.

Di waktu yang sama pemerintah menerapkan berbagaipolicy yang cenderung mempersempit ruang gerak madzhab lain. Sebagai imbalannya, Wahabi/Salafi menjadi pendukung paling loyal terhadap kekuasaan Raja Saudi. 

Koalisi ini terbentuk sejak awal lahirnya kerajaan Arab Saudi. Semenjak fase merebut kekuasaan di wilayah Nejed (Jazirah Arabia bagian Timur), tepatnya di Dir’iyyah, Raja Saud dibantu oleh Muhammad Bin Abdul Wahhab. Abdul Wahhab memiliki pasukan Paderi yang berjumlah besar yang menjadi pasukan inti Raja Saud. Pasukan Paderi ini adalah para pengikut Abdul Wahhab yang puritanis yang mencita-citakan pembersihan dan pemurnian ajaran Islam dari bid’ah, khurafat, dan takhayul.

Pasukan ini dikenal militan, ganas dan tanpa kompromi. Kontribusi tetara Wahabi sangat besar dalam berbagai kemenangan Raja Saud. Koalisi itu juga bahu-membahu merebut wilayah Hijaz (Jazirah Arab bagian barat) termasuk Mekah dan Medinah yang menandai lahirnya kerajaan besar Saudi Arabia. 

Itulah sebabnya, sejak awal merebut Mekah dan Madinah, Raja Saud menerapkan kebijakan sapu bersih  apa yang dianggap bid’ah, khurafat, dan takhayyul. Madzhab yang empat dibatasi (kecuali Madzhab Hambali versi Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qoyim). Para ulama dan imam masjid Haramain diganti dengan para tokoh Wahabi. Wahabiyah didukung penuh oleh kerajaan untuk menjadi satu-satunya aliran di Arab Saudi. Situs-situs peninggalan Nabi, keluarga Nabi, dan para Sahabat dihancurkan termasuk makam keluarga Nabi serta para sahabat dan tabiin.

Jika saja tidak mendapatkan protes keras dari seluruh penjuru dunia Islam makam Nabi juga akan dihancurkan. Bahkan, tarekat sufiyyah dilarang sama sekali. 

Koalisi ini makin menjadi-jadi setelah Arab Saudi panen minyak sejak 1930-an dan mulai tahun 1975 menjadi Negara super kaya. Arab Saudi ingin menjadi yang terdepan di dunia Islam. Ia bersaing dengan Mesir, Irak, Turki,  Syiria dan Iran. Saudi ingin pengaruhnya meluber ke penjuru negeri-negeri OKI. Salah satu wasilah yang dipakai adalah penyebaran Wahabi ke seluruh dunia. Dengan semakin kuatnya Wahabi di sebuah Negara, maka publiknya  akan menggeser dukungan kepada Negara-negara kuat saingan Saudi. 

Internasionalisasi Wahhabi ini setidaknya dilakukan dengan beberapa strategi. Pertama, memberikan dukungan finansial kepada organisasi-organisasi penting. Cara ini dilakukan secara lebih canggih dan menyeluruh terutama pada tahun 1980-an dengan menciptakan organisasi perwakilan seperti Liga Muslim Dunia (Rabithah al-Alam al Islami), yang secara luas mendistribusikan literatur Wahhabi dalam semua bahasa utama dunia, memberikan hadiah dan sumbangan, serta menyediakan dana untuk jaringan penerbit, sekolah, mesjid, organisasi, dan perseorangan.

Tentu saja efek kampanye ini adalah munculnya banyak gerakan Islam di seluruh dunia yang menjadi pendukung ideologi Wahhabi. Kedua, persebaran Wahhabi juga didukung oleh berbagai institusi baik institusi sosial-keagamaan, pendidikan, institusi bisnis dan media massa seperti penerbitan buku, koran, radio, TV dan majalah maupun institusi politik dan pemerintah, dan juga perseorangan seperti imam, guru, ustadz, dan penulis  yang “secara oportunis” ingin mengambil untung dari donasi Saudi. 

Koalisi Rezim Saudi dengan Wahabi/Salafi makin kuat saat ini karena Iran semakin menonjol sebagai saingan Saudi di regional Timur Tengah maupun di dunia Islam. Saudi juga terlibat perang dengan pihak-pihak yang didukung  Iran; Rejim Basyar Asad dan Pemberontakan Houti di Yaman. Wahabi/Salafi menjadi alat yang efektif untuk melawan pengaruh Iran di dunia Islam dengan gerakan anti Syi’ah. Intinya, Syi’ah bukan Islam oleh karena itu ia harus diisolasi dari pergaulan dunia Islam. Iran harus keluar dari OKI, atau minimal tidak menduduki posisi penting di OKI. 

Melihat besarnya kepentingan Kerajaan Saudi terhadap Wahabi/Salafi sebagai pendukung kekuasaan dan kepentingan politik regional dan internasional ini, berat rasanya Arab Saudi meninggalkan Wahabi/Salafi. Di lain pihak, jaringan Ahlussunnah Waljamaah (non-Wahabi) di Arab Saudi telah terlanjur berantakan dihajar oleh pemerintah Saudi, tinggal sisa-sisanya, antara lain jaringan Syaikh Alwi Al-Maliki.

Oleh karenanya Pangeran Muhammad Bin Salman tidak pernah mengatakan akan memberantas Wahabi. Yang ia katakan adalah memberantas ekstrimisme, radikalisme dan kaum konservatif. Siapakah mereka?

Salafi Surury, Salafi Jihadis dan Salafi Takfiry

Wahabisme/Salafisme telah berkembang jauh dengan percabangan yang makin rumit. Di antara berbagai fraksi dalam Wahabi/Salafi sendiri terdapat tiga kelompok yang oposisional terhadap pemerintah Saudi. Yakni Salafi Surury, Salafi Jihadis dan Salafy Takfiry. Salafy Surury atau "Salafiyah Politik" yang lebih menaruh perhatian pada persoalan-persoalan politik ketimbang agenda pemurnian (purifikasi).  Mereka terpengaruh oleh pemikiran lkhwan Al-Muslimin (IM).

Sebutan mereka merujuk pada dai Syiria Muhammad Syurur Zein Al-Abidin, seorang tokoh IM. Kelompok inilah yang menentang keberadaan Amerika Serikat dan intervensi militernya dalam perang Teluk II.  Mereka juga menentang politik Saudi Arabia yang tidak tegas terhadap Israel.Tokoh-tokoh kelompok ini antara lain Salman Al-Audah, Safar Al-Hawali, 'Aidh Al-Qarni, dan lain-lain.  

Sedangkan Salafi Jihadis dan Salafi Takfiris sama-sama menggunakan kekerasan dan terror. Dua-duanya adalah produk Saudi sendiri. Keterlibatan Arab Saudi dan Intelijen Pakistandukungan Amerika Serikat dalam membentuk “legiun Arab” dalam perang Afghanistan serta keterlibatannya dalam mensupport kelompok perlawanan Sunni terhadap rezim Syiah Basyar Asad di Syiria telah melahirkan jenis Salafi baru yang tidak dikehendakinya.

Para sukarelawan jihad di Afghanistan melahirkan Tanzim Al-Qaidah pimpinan Usamah Bin Ladin, sebuah kelompok teroris yang berideologi Salafi Jihadi. Sedangkan sukarelawan Sunni di Syiria berkembang menjadi Daisy (Al-Daulah Al-Islamiyyah fi Al-Iraq wa Al-Syuriyah) masyhur disebut ISIS.Kelompok bersenjata yang didukung sukarelawan dari berbagai Negara ini merupakan kiblat bagi kelompok pro kekerasan yang menganut ideology Salafi Takfiri. Ketiga kelompok Salafi inilah yang disebut oleh Pangeran Muhammad Bin Salman sebagai ekstrimisme, radikalisme dan kaum konservatif.

Islam Moderat ala Saudi: Neo Fundamentalis 

Lalu, siapakah Islam moderat itu? Yaitu Salafi yang loyal kepada Kerajaan. Salafi yang a-politis yang loyal dan memberikan legitimasi agama bagi keabsahan kekuasaan Raja Saud. Salafi resmi di bawah Abdullah Bin Baz dan Syaikh Utsaimin yang menfatwakan bahwa berorganisasi dan berpolitik adalah bid’ah dlolalah.

Agenda konkretnya adalah membendung dan menyaingi pengaruh IM yang sangat politis, cenderung kritis dan oposisional terhadap semua penguasa di dunia Arab. Yang dimaui oleh Keluarga Raja Saud adalah melemahkan arus deras Islamisme (Islam sebagai ideology perlawanan) yang dimunculkan oleh IM.

Oleh karenanya, seruan yang didukung oleh Salafisme internasional ala Saudi adalah kesalehan individu, purifikasi agama dan penerapan Syariat Islam sebagai hokum formal. Inilah yang oleh Olivier Roy disebut sebagai neo-fundamentalisme yang telah berhasil sekian waktu membendung bahkan menggagalkan agenda Islamisme di dunia Islam.

Salafi-Wahabi yang berkembang di Indonesia adalah Salafi resmi ini. Reformasi di Arab Saudi tak akan berpengaruh apa-apa terhadap kelompok-kelompok Salafi di sini. Real Saudi akan tetap mengucur ke kelompok-kelompok Salafi di negeri kita. Sebab, yang diperangi hanyalah Salafi Surury, Salafi Jihadi dan Salafi Takfiry. Kaum Nahdliyyin harus tetap bersabar dibid’ah-bid’ahkan oleh kelompok Salafi. Innallaha m’ashshabiriin.

Penulis adalah Direktur SAS Institute dan pengajar Program Kajian Terorisme SKSG Universitas Indonesia

Thursday, November 23, 2017

Khalifah Al-Amin Bin Harun Ar-Rasyid: Penyuka Sesama Jenis Dan Pemicu Perang Saudara by NADIRSYAH HOSEN

Dua puluh tiga tahun kekuasaan Khalifah kelima Abbasiyah yang melegenda, Harun ar-Rasyid, telah membawa kemajuan peradaban Islam dan stabilitas politik. Namun, sayang, semua kegemilangan berubah menjadi huru-hara sepeninggalnya. Ini semua gara-gara ketidakcakapan putra Harun yang bernama al-Amin, yang naik menjadi Khalifah keenam. Bagaimana kisahnya? Tegarkan hati Anda membaca lanjutan kolom sejarah politik Islam ini.

Nama aslinya Muhammad, lantas diberi gelar al-Amin. Sungguh nama dan gelar yang mulia–mengingatkan kita pada Rasulullah SAW. Ini karena lewat jalur ibunya, al-Amin masih keturunan Bani Hasyim. Namun, sayang, al-Amin ini jauh sekali dari sifat kemuliaan Rasulullah SAW. Imam Suyuthi blak-blakkan menulis: “dia tidak cakap dalam masalah pemerintahan, boros, dan lemah pandangan hidupnya, sehingga tidak layak menjadi khalifah.”

Sayangnya, kita tahu bagaimana khalifah Dinasti Umayyah dan Abbasiyah dipilih, yaitu bukan berdasarkan kemampuan dan pilihan rakyat, tapi karena wasiat keluarga dan pertalian darah. Akhirnya umat Islam beruntung kalau kebetulan mendapati khalifah yang baik dan adil. Namun akan celaka nasib umat kalau putra mahkota ternyata jauh dari kelayakan, dan umat hanya menunggu kapan wafatnya khalifah yang tidak layak ini dan berharap penggantinya kelak bisa lebih baik. Mekanisme pengangkatan dan pemakzulan pemimpin ini yang diperbaiki dengan hadirnya sistem demokrasi.

Sejak semula Khalifah Harun sudah berpesan agar penerus takhta kekhilafahannya, yaitu al-Amin dan kemudian al-Ma’mun, menjaga kekompakan mereka. Bahkan kesepakatan ini ditulis dan disimpan di dalam Ka’bah. Namun al-Amin begitu naik menjadi khalifah malah berusaha menggeser al-Ma’mun dari jalur suksesi. Inilah yang menjadi penyebab perang saudara kedua putra Harun ar-Rasyid ini. Sejarawan menyebutnya sebagai “fitnah keempat” dalam tubuh umat Islam.

Seperti pernah dijelaskan di tulisan saya (baca: Fitnah Ketiga dalam Sejarah islam), fitnah di sini maksudnya adalah ujian berupa perang saudara. Fitnah pertama tercatat pada saat pemberontakan yang mengakibatkan terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, berlanjut dengan perang saudara antara Sayyidina Ali dengan Siti Aisyah (Perang Jamal) dan dengan Mu’awiyah (Perang shiffin). Periode fitnah pertama berakhir dengan perdamaian antara Sayyidina Hasan dan Mu’awiyah. Kisah periode ini sudah saya ceritakan dalam berbagai tulisan saya.

Fitnah kedua berlangsung pada periode pembantaian Sayyidina Husain di Karbala dan berlanjut dengan perlawanan Abdullah bun Zubair. Kisah pergolakan pada periode fitnah kedua juga sudah pernah saya bahas dalam sejumlah tulisan saya. Periode peperangan antara al-Walid II dan Yazid III dikenal dalam sejarah islam sebagai fitnah ketiga, yang berakhir dengan naiknya Marwan sebagai Khalifah terakhir Umayyah.

Nah, periode pertempuran antara kedua putra Harun ar-Rasyid di masa Dinasti Abbasiyah, antara al-Amin dan al-Ma’mun, disebut-sebut sebagai fitnah keempat. Peperangan ini berlangsung pada tahun 811-813 Masehi.

Imam Suyuthi menulis:

وقيل: إن الفضل بن الربيع علم أن الخلافة إذا أفضت إلى المأمون لم يبق عليه، فأغرى الأمين به، وحثه على خلعه، وأن يولي العهد لابنه موسى

Dikatakan bahwa salah satu sebab peperangan ini adalah pengaruh al-Fadhl bin ar-Rabi’, seorang Perdana Menteri yang khawatir kehilangan posisinya kalau al-Ma’mun kelak naik menggantikan al-Amin. Maka al-Fadhl bin ar-Rabi’ memprovokasi Khalifah al-Amin untuk menggeser al-Ma’mun dari jalur suksesi, dan mengangkat Musa, anaknya sendiri (Tarikh al-Khulafa 1/219).

Imam Thabari mengabarkan hal yang sama akan pengaruh provokatif al-Fadhl bin ar-Rabi’ ini (Tarikh al-Thabari 8/374). Ini mengingatkan kita pada kiprah Sengkuni yang menyebabkan terjadinya perang Bharata Yudha antara sesama saudara Kurawa dan Pandawa. Begitulah, selalu ada dalam tiap lintasan sejarah orang model al-Fadhl bin ar-Rabi’, sang sengkuni Dinasti Abbasiyah.

Sejumlah penasihatnya mencoba mengingatkan Khalifah al-Amin akan wasiat ayahanda Harun ar-Rasyid yang tersimpan di dinding Ka’bah. Naskah ini secara lengkap bisa dibaca di Tarikh al-Thabari (8/278). Khalifah al-Amin bukannya menuruti nasihat ini malah meminta naskah itu diambil dari dalam Ka’bah dan dibawa ke Baghdad.

Begitu Khalifah al-Amin menerima naskah tersebut, lantas dia merobeknya. Maka, segala wasiat, sumpah, dan kesepakatan antara sang ayahanda Harun ar-Rasyid dan kedua putranya di depan Ka’bah menjadi berantakan.

Begitulah nafsu kekuasaan yang bergema dalam sistem ketatanegaraan yang rapuh. Naskah wasiat dan kesepakatan Harun ar-Rasyid bukanlah sebuah Undang-Undang yang dikeluarkan oleh Parlemen. Itu semata-mata berasal dari tangan Khalifah, maka tidak ada yang bisa mencegah Khalifah berikutnya merobek naskah tersebut dengan tangannya sendiri, meski sebelumnya tersimpan di dinding Ka’bah.

Imam Suyuthi dengan getir menulis:

وبايع العهد لابنه موسى، ولقبه الناطق بالحق، وهو إذ ذاك طفل رضيع

Al-Amin meminta orang-orang berbai’at kepada Musa, anaknya yang dia beri gelar an-Nathiq bi al-Haq (suara kebenaran), padahal Musa saat itu masih menetek sama ibunya (Tarikh al-Khulafa 1/219).

Absurd! Begitulah nafsu kekuasaan itu, meski dalam khilafah Islam.

Imam Thabari juga mendeskripsikan bagaimana Khalifah al-Amin ini punya hubungan “spesial” dengan Kasim, pelayan istana. Kasim favoritnya bernama Kaustar. Kita tahu bahwa dalam berbagai monarki terdapat lelaki yang dikebiri dan kemudian bebas masuk keluar istana, termasuk ke kamar raja dan permaisuri untuk melayani kebutuhan keluarga kerajaan. Di masa Abbasiyah, kasim ini juga menjadi bagian dari pelayan istana.

Hubungan “spesial” antara Khalifah al-Amin terekam dalam catatan sejarah Imam Thabari dan Imam Suyuthi. Kecenderungan menyukai sesama jenis ini membuat Zubaydah, ibu al-Amin, murka. Istri Harun ar-Rasyid ini kemudian mengirimkan pelayan perempuan yang kurus dan cantik tapi didandani dan dipakaikan baju seperti lelaki. Mereka dikirim ke istana al-Amin agar sang khalifah berpaling dari para Kasim kesayangannya.

Kecenderungan Khalifah keenam Abbasiyah ini terhadap sesama jenis mengingatkan kita pada Khalifah Dinasti Umayyah, yaitu al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik (709-744), yang dikenal dengan julukan al-Walid II, yang juga diberitakan melakukan liwath. Sejarah kadang begitu menohok. Namun catatan sejarah ini terekam dalam kitab-kitab klasik Islam yang diakui otoritasnya; bukan cerita karangan.

Singkat cerita, Khalifah al-Amin berkuasa sekitar 4 tahun (809-813 Masehi). Dua tahun terakhir dari kekuasaannya diisi dengan perang suadara melawan saudaranya sendiri, yaitu al-Ma’mun. Negara yang kaya raya di masa Harun ar-Rasyid menjadi defisit keuangan. Tatanan sosial menjadi rusak. Karut marut terjadi hanya karena hendak menggeser saudaranya sendiri dengan anak al-Amin yang masih kecil.

Pasukan setia al-Ma’mun dari Khurasan di bawah kepemimpinan Jenderal Tahir bin Husain mengalahkan pasukan Khalifah al-Amin, dan kepala sang khalifah dipenggal dan ditancapkan di gerbang kota al-Anbar. Lantas tubuhnya diseret dengan tali, dan akhirnya kepalanya dikirimkan ke al-Ma’mun. Maka, berakhirlah perang saudara kedua putra Harun ar-Rasyid.

Kekuasaan beralih dari al-Amin kepada al-Ma’mun persis seperti yang tertera dalam sumpah dan kesepakatan mereka berdua dulu di depan Ka’bah. Namun, caranya bukan seperti yang dikehendaki ayahanda mereka, Harun ar-Rasyid. Kekuasaan beralih lewat pertempuran ribuan pasukan sesama Muslim dan dipenggalnya kepala khalifah keenam Abbasiyah. Tragis!

Bagaimana kemudian kepemimpinan Khalifah ketujuh, al-Ma’mun, yang telah memenangkan pertempuran? Insya Allah kita teruskan mengaji sejarah politik Islam pada kolom Jum’at berikutnya, bi idznillah

Khalifah Al-Ma’mun: Disenangi Ilmuwan, Dijauhi Ulama By NADIRSYAH HOSEN

Pada 1 September tahun 813 Masehi berakhirlah perang saudara antara kedua anak Harun ar-Rasyid, yaitu al-Amin dan al-Ma’mun. Khalifah al-Amin kalah dan kepalanya dipenggal, lalu al-Ma’mun menduduki takhta kekhilafahan Dinasti Abbasiyah sebagai khalifah ketujuh. Pada perioden al-Ma’mun berkuasa, ilmu pengetahuan berkembang pesat lewat penguatan institusi Bait al-Hikmah. Namun nama al-Ma’mun menjadi cacat di mata para ulama tradisional akibat peristiwa mihnah. Yuk, kita ikuti catatan hasil mengaji sejarah politik Islam.

Al-Ma’mun lahir di malam Khalifah Musa al-Hadi wafat, atau saat ayahnya, Harun ar-Rasyid, dibaiat menjadi Khalifah. Maka, pada malam 14 September tahun 786 Masehi itu terdapat tiga peristiwa: wafatnya seorang khalifah, diangkatnya khalifah baru, dan lahirnya calon khalifah. Al-Ma’mun berusia sekitar 27 tahun saat menjadi khalifah.

Imam Suyuthi mendeskripsikan al-Ma’mun sebagai orang yang belajar hadits, fiqh, sejarah dan filsafat kepada banyak ulama dan ilmuwan. Dia seorang yang istimewa dalam hal kemauan yang kuat, kecerdasan, kewibawaan, dan kecerdikan. Dia bicara dengan fasih, dan seorang orator yang ulung.

Sulit mencari tandingannya di antara para khalifah Dinasti Abbasiyah lainnya dalam hal kepintaran. Diriwayatkan dalam al-Bidayah wan Nihayah (10/302) bahwa saat bulan Ramadhan dia sanggup mengkhatamkan al-Qur’an 33 kali.

Bekal kepintaran dan kecintaan pada ilmu itulah yang membuat periode kekhilafahan di masanya tercatat sebagai masa keemasan Abbasiyah, melanjutkan kisah gemilang ayahnya, Harun ar-Rasyid, khalifah kelima. Kalau pada masa ayahnya, Bait al-Hikmah didirikan sebagai perpustakaan pribadi, pada masa al-Makmun Bait al-Hikmah dikembangkan menjadi semacam perpustakaan negara dan pusat kajian.

Khalifah al-Ma’mun mengundang para fisikawan, matematikawan, astronom, penyair, ahli hukum, ahli hadis dan mufasir dari berbagai penjuru untuk menyemarakkan panggung intelektual dunia Islam. Mereka diberi fasilitas dan perlindungan negara agar dapat mencurahkan seluruh perhatian pada pengembangan ilmu pengetahuan. Bahkan ilmuwan Kristen dan Yahudi pun diajak turut serta.

Sejarah mencatat bahwa Hunain Ibn Ashaq, seorang Kristiani, telah menerjemahkan karya-karya Aristoteles dan Plato dari karya-karya Hippocrates dan Galen di bidang fisika. Karya itu beberapa tahun kemudian menyebar sampai ke Eropa Barat melalui Sisilia dan Spanyol. Setelah menjamurnya karya-karya terjemahan itu, semakin lengkaplah koleksi buku di perpustakaan akademi Bait al-Hikmah.

Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (775-835), matematikawan terkemuka dan penemu al-Jabar (Algebra), pernah bekerja di perpustakaan ini. Selama masa tugasnya di perpustakaan itu, ia menulis karya monumental, Kitab al-Jabr wa al-Muqabil
Sekadar ilustrasi saja, dana riset yang diberikan Khalifah al-Ma’mun kepada Bait al-Hikmah itu setara dengan dua kali dana Medical Research Centre di Inggris saat ini. Begitu juga gaji para ilmuwan seperti Hunain dan Khawarizmi di atas setara dengan gaji atlet profesional saat ini seperti Lionel Messi dan Ronaldo. Tidak aneh kalau Bait al-Hikmah menjadi pilar kemajuan peradaban Islam saat itu. Inilah institusionalisasi perintah iqra’ dalam al-Qur’an.

Bagaimana dengan kondisi sekarang? Majalah Newsweek, misalnya, melaporkan bahwa pada 2005, jumlah publikasi internasional yang dihasilkan Harvard University jauh lebih banyak dibanding akumulasi semua publikasi ilmiah dari universitas-universitas di 17 negeri Muslim. Dari 1,6 miliar umat Islam, kita hanya bisa menghasilkan dua Muslim sebagai pemenang nobel di bidang kimia dan fisika.

Kedua saintis Muslim tersebut—dan ini penting diingat—justru tinggal dan bekerja di dunia Barat. Itu artinya, kalau mereka melakukan penelitiannya di kampung halaman mereka, sulit atau kecil kemungkinan mereka akan mendapatkan hadiah nobel. Secara kontras, umat Yahudi yang jumlahnya hanya sepersepuluh umat Islam telah melahirkan 79 pemenang nobel dalam dunia sains.

Dana riset di 57 negara Muslim hanya sebesar 0,81% dari GDP mereka. Sebagai contoh yang memilukan hati, sebuah universitas di Islamabad, Pakistan, sudah memiliki 3 masjid di dalam kampus dan sekarang tengah membangun masjid keempat. Tapi, tidak satu pun ditemukan toko buku di dalam kampus. Mungkin kalau kita menengok koleksi dan fasilitas perpustakaan di dunia Muslim, kita akan lebih terkejut lagi.

Kembali ke kisah al-Ma’mun, sebagai pecinta ilmu, tentu saja dia dipuji para ilmuwan. Namun al-Ma’mun pada saat yang sama hendak menegakkan otoritas keagamaan yang dimiliki khalifah. Sebagai seorang rasionalis, dia cenderung pada pemikiran Mu’tazilah. Dan al-Ma’mun tidak bisa menahan godaan untuk memaksa para ulama tradisional agar memiliki paham yang sama dengannya. Maka, muncullah peristiwa mihnah, yaitu semacam tes keagamaan di mana mereka yang memiliki paham berbeda akan dipersekusi oleh negara.

Pangkal persoalan ada pada perdebatan ilmu kalam: apakah kalamullah yang berbentuk mushaf al-Qur’an itu qadim atau hadits (baru diciptakan dan karenanya dianggap sebagai makhluk). Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat al-Qur’an itu qadim, sedangkan Mu’tazilah berpendapat al-Qur’an itu makhluk.

Kalau ditarik ke belakang, perdebatan ini muncul akibat perbedaan kedua kelompok ini dalam memahami apakah Allah memiliki sifat atau tidak. Bukan pada tempatnya di sini kalau saya jelaskan panjang lebar soal ini. Kita kembali fokus pada masalah mihnah.

Imam Thabari menuliskan ulang surat Khalifah al-Ma’mun yang memerintahkan dikumpulkannya para ulama dan diinterogasi apakah mereka berpendapat al-Qur’an itu qadim atau makhluk. Sesiapa yang menjawab makhluk, maka amanlah dia. Sementara sesiapa yang menjawab qadim, habislah dia disiksa. Surat lengkap Khalifah al-Ma’mun kepada Ishaq bin Ibrahim yang memulai mihnah ini bisa dibaca di Tarikh Thabari, juz 8/361-345.

Maka, bisa kita simpulkan, Khalifah al-Ma’mun bukan hanya hendak menegakkan otoritas keilmuan tapi juga otoritas keagamaan sebagai khalifah. Dia memaksakan pahamnya dan ulama harus mengikutinya. Inilah sebabnya para ulama tradisional banyak yang tidak suka dengan al-Ma’mun. Salah satu yang ngotot bertahan dengan pendapat al-Qur’an itu qadim adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Peristiwa mihnah ini bisa dibaca lebih jauh di Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibn Katsir, juz 10/298.

Ada sebab lain kenapa ulama tradisional tidak menyukai al-Ma’mun. Secara pemikiran, dia cenderung mengikuti Mu’tazilah, dan para ulama menyalahkan kecintaan al-Ma’mun pada filsafat dan gerakan penerjemahan karya para filosof Yunani. Mereka menuduh al-Ma’mun menjadi sesat karena pengaruh filsafat.

Tentu menjadi ironis: di satu sisi, masa al-Ma’mun dianggap sebagai periode keemasan khilafah dan para penyokong berdirinya kembali khilafah di abad ke-21 ini sering mengambil contoh masa keemasan ini. Tapi, di sisi lain, masa keemasan Abbasiyah ini justru berdiri di atas pondasi rasionalitas dan filsafat—sesuatu yang sering diharamkan pada masa sekarang. Pada masa al-Ma’mun aliran Mu’tazilah yang mendominasi, bukan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Aspek ini yang sering luput dari perhatian kita.

Secara politik, para ulama tradisional juga tidak senang dengan al-Ma’mun karena dia juga condong kepada Syiah. Al-Ma’mun memilih tinggal di kota Merw, di daerah Iran yang banyak orang Syiah dan Persia. Al-Ma’mun dituduh anti-Arab. Dia mengatakan berlepas diri terhadap mereka yang memganggap Mu’awiyah itu orang baik. Bahkan al-Ma’mun, seperti dituliskan oleh Imam Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa halaman 227, mengatakan orang yang paling utama setelah Rasulullah itu adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Tidak berhenti sampai di sana, al-Ma’mun bahkan menjadikan Imam Ali ar-Ridha, Imam kedelepan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah, sebagai putra mahkota pengganti al-Ma’mun. Tentu tak terbayangkan bahwa Dinasti Abbasiyah memberi kekuasaan kepada orang lain di luar jalur keluarga Abbas.

Al-Ma’mun beralasan, dulu saat Sayyidina Ali menjadi Khalifah keempat, beliau banyak memberikan posisi penting kepada keturunan Abbas. Dan kenapa sekarang saat Dinasti Abbasiyah berkuasa, tidak ada keturunan Sayyidina Ali yang mendapat jatah kekuasaan.

Al-Ma’mun semakin menegaskan posisi politiknya dengan memerintahkan pejabat untuk mengenakan pakaian hijau, dan mencopot pakaian hitam. Pakaian hitam adalah ciri Dinasti Abbasiyah, sedangkan pakaian hijau biasa dikenakan pemeluk Syiah.

Kemarahan sebagian pihak di Baghdad terhadap al-Ma’mun membuat mereka membaiat Ibrahim bin Mahdi, anak Khalifah ketiga Abbasiyah, sebagai khalifah pengganti al-Ma’mun. Al-Fadhl bin Sahal, perdana menteri al-Ma’mun, juga berkhianat kepada al-Ma’mun dengan memberikan informasi yang keliru. Posisi al-Ma’mun menjadi terjepit.

Kelompok Syiah tidak sepenuhnya menerima penunjukkan Imam Ali ar-Ridha sebagai putra mahkota pengganti al-Ma’mun. Mereka menuduh ini taktik politik al-Ma’mun agar mendapat dukungan kaum Syiah, dan juga fakta bahwa Imam Ali ar-Ridha berusia 20 tahun lebih tua dari al-Ma’mun. Artinya, kemungkinan Imam Ali ar-Ridho kelak tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai khalifah amat besar.

Dan ternyata benar, Imam Ali ar-Ridho wafat lebih dulu dari al-Ma’mun. Imam Thabari mengabarkan bahwa Ali ar-Ridha wafat setelah memakan buang anggur. Banyak kalangan Syiah yang percaya buah anggur itu sudah diracun atas perintah al-Ma’mun. Wa Allahu A’lam.

Wafatnya Ali ar-Ridha meredakan ketegangan politik. Al-Ma’mun membujuk keluarganya dan pejabat Abbasiyah untuk kembali loyal kepadanya karena Ali ar-Ridha bukan lagi putra mahkota.

Ibrahim bin al-Mahdi, yang diberi gelar al-Mubarak, bertahan hampir dua tahun menguasai Baghdad sebelum pasukan al-Ma’mun mengambil alih kekuasaan. Al-Ma’mun kemudian kembali mengenakan pakaian hitam.

Al-Ma’mun wafat karena sakit saat berusia 47 tahun. Dia berkuasa sekitar 20 tahun. Dia tidak menunjuk anaknya, al-Abbas, sebagai penggantinya. Dia menunjuk saudaranya, Abu Ishaq Mihammad bin ar-Rasyid, sebagai khalifah selanjutnya. Pada periode al-Ma’mun ini sejarah mencatat Imam Syafi’i wafat (820 M) dan juga guru Imam Syafi’i, yaitu Sayyidah Nafisah (824 M), seorang perempuan suci di Mesir.

Kita akan lanjutkan mengaji sejarah politik Islam pada kolom Jum’at berikutnya, insya Allah

Monday, November 13, 2017

Intrik Politik di Kerajaan Arab Saudi

Intrik Politik di Kerajaan Arab Saudi

Buat kawan-kawan yang tekun membaca serial tulisan sejarah politik Islam yang saya posting secara rutin, tentu sudah bisa melihat bagaimana pattern pertarungan antar keluarga dalam merebut kekuasaan baik di masa Dinasti Umayyah dan juga Abbasiyah.

Kelihatannya sejarah akan berulang di saat perpindahan kekuasaan diperebutkan antar keluarga sendiri di kerajaan Arab Saudi saat ini. Kita akan melihat dengan berdebar-debar bagaimana Putra Mahkota sedang menyiapkan jalan yang mulus untuk menjadi Raja, sementara para pangeran lainnya tengah menunggu manuver berikutnya.

Arab Saudi dibangun bukan atas dasar sistem khulafa al-rasyidin. Arab Saudi mencontoh model kerajaan yang dilakukan oleh khalifah Mu’awiyah dan keturunannya. Maka pemimpin dipilih berdasarkan garis keturunan, bukan atas dasar pilihan rakyat.

Perbedaannya, Arab Saudi selalu dipimpin oleh keturunan Ibn al-Saud. Makanya dari namanya saja, Arab Saudi, itu merupakan kerajaannya Saud dan keluarganya.

Pengganti Saud diambil dari anaknya secara bergantian. Model semacam ini lumayan sukses mencegah pertumpahan darah antar pangeran sampai tiba kelak anak-anak Abdul Azis as-Saud yang jumlahnya banyak banget itu sudah habis atau sudah tua dan tidak mampu memimpin lagi.

Raja Salman adalah anak ke-25 dan berkuasa saat berusia 79 tahun sejak 2015. Seharusnya sepeninggalnya kelak yang naik adalah saudaranya, yaitu Pangeran Muqrin (saat ini 72 tahun). Tapi dia hanya menjadi putra mahkota 4 bulan dan digantikan oleh Pangeran Muhammad bin Nayef (58 tahun).

Diangkatnya Pangeran Muhammad bin Nayef semula dianggap merupakan penanda era baru dalam suksesi di Arab Saudi. Ini karena beliau bukan anak Ibn Saud, tapi cucu. Ayahnya Pangeran Nayef as-Saud sebelumnya merupakan putra mahkota di masa kepemimpinan Raja Abdullah. Tapi Pangeran Nayef wafat lebih dulu ketimbang Raja Abdullah. Maka Pangeran Salman yang menjadi putra mahkota dan kemudian menggantikan Raja Abdullah.

Diangkatnya Pangeran Muhammad bin Nayef seolah merupakan “kompensasi” terhadap wafatnya ayahandanya yang kemudian gagal menjadi Raja.

Perlu disampaikan pula di kalangan Bani Saud ini juga ada fraksi atau group khusus. Dikenal dengan sebutan 7 Sudairi. Ini adalah tujuh anak Ibn Saud dari istrinya yang bernama Hussa Sudairi. Raja Fahd (1921-2005) adalah pemuka kelompok ini. Raja Salman dan Pangeran Nayef juga dari kelompok ini. Namun bukan berarti fraksi ini tidak pecah. Pangeran Ahmad, putra ibn Saud yang ke-31, yang paling junior dari kelompok ini (74 tahun) dkeluarkan dari jalur suksesi. Peranannya diganti oleh Pangeran Muqrin, yang sudah saya singgung di atas.

Muqrin pun ternyata dicopot. Lantas Muhammad bin Nayef naik. Tapi hanya dua tahun menjadi Putra Mahkota, Nayef juga dicopot. Lantas siapa yang menggantikan? Nah ini yang membuat percaturan politik semakin seru: yang naik sebagai putra mahkota adalah Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) alias putra Raja Salman sendiri.

Belum pernah sebelumnya Raja Arab Saudi selain Ibn Saud menunjuk anaknya sendiri sebagai calon penggantinya. Salman mengubah ini. Sehingga kalau rencana ini berjalan mulus maka dinasti Saud akan diteruskan oleh Dinasti Salman.

Naiknya MBS ini telah menyingkirkan Pangeran Muqrin dan Pangeran Nayef. MBS maish sangat muda, baru berusia 32 tahun. MBS adalah wajah Arab Saudi masa depan.

Tantangan buat MBS juga besar. Maka dia segera mengonsolidasikan kekuasaannya. Baru-baru ini 49 tokoh berpengaruh, termasuk 11 pangeran, ditangkap atas tuduhan korupsi. Helikopter yang membawa Pangeran Mansour, putra dari Muqrin, yang berusia sekitar 42 tahun dan disebut-sebut saingat berat MBS, kecelakaan dan menewaskan Mansour bin Muqrin. Banyak yang menghubungkan kecelakaan ini dengan perebutan kekuasaan. Entahlah....

Raja Salman dan Pangeran MBS sendiri didukung Amerika dan Israel. Bagaimana suara para ulama di sana? Ternyata MBS juga menangkapi para ulama yang konservatif. MBS berperang dengan Yaman, dan juga bersitegang dengan Qatar.

Aset pangeran yang ditangkap termasuk Pangeran al-Waleed bin Talal, salah satu orang terkaya di dunia, disita oleh Kerajaan. Arab Saudi memang tengah dilanda kesulitan ekonomi belakangan ini akibat harga minyak yang turun dan perang dengan Yaman.

Segala cara kini dilakukan MBS untuk melapangkan jalannya menuju kursi kekuasaan. Bahkan dia menjanjikan mengembalikan Arab Saudi ke jalur Islam moderat.

Kelihatannya bukan Islam moderat yang akan MBS tuju. Ini bukan pertarungan antara konservatif dan moderat. Karena kalau serius mau mengembangkan Islam moderat maka Arab Saudi harus membuang ideologi Wahabi mereka, dan juga menetapkan demokrasi bukan lagi sistem kerajaan. Arab Saudi harus mau belajar dari Indonesia. Mungkinkah itu?

Yang saya lihat saat ini adalah pertarungan antara kubu konservatif dan kubu pragmatis di Arab Saudi. Mana yang akan menang?

Akankah sejarah politik Islam masa silam berulang di abad modern ini? Perebutan kekuasaan antar keluarga, politisasi ayat dan hadits, plus peperangan dan pertumpahan darah? Kita menunggu episode berikutnya dari kerajaan Arab Saudi.

Siapkan kopi anda —kali ini bergelas-gelas kopi, karena lakon ini masih panjang. Dan jangan lupa selipkan doa agar perdamaian selalu tercipta, dimanapun itu, termasuk di Arab Saudi.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Wednesday, October 18, 2017

Al-Manshur, Khalifah Kedua Abbasiyah: Pecinta Ilmu yang Memenjarakan Ulama By Nadirsyah hosen

Ada orang baik yang berubah menjadi jahat ketika memegang kekuasaan. Ada pula orang yang selama memegang kekuasaan berhimpun pada dirinya sisi baik dan buruk sekaligus. Bagaimana sejarah menilai sosok seorang Abu Ja’far al-Manshur, khalifah kedua Abbasiyah, dalam konteks baik-buruk ini?

Pada hakikatnya manusia cenderung mempertahankan kekuasaannya dengan cara apa pun. Itu pula sebabnya, belajar dari sejarah masa lalu kita sadar bahwa kekuasaan—atas nama agama sekalipun—harus tetap diawasi dengan efektif. Jika tidak, perselingkuhan agama dan politik akan menimbulkan paradoks mengenai mana yang baik dan buruk.

Mari kita simak kisah khalifah kedua Dinasti Abbasiyah, yang aslinya bernama Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib, dalam lanjutan mengaji sejarah politik Islam. Beliau lebih dikenal dengan nama Abu Ja’far al-Manshur. Imam Suyuthi mendeskripsikan karakternya:

وكان فحل بني العباس هيبة وشجاعة وحزمًا ورأيًا وجبروتًا، جماعًا للمال، تاركًا اللهو واللعب، كامل العقل، جيد المشاركة في العلم والأدب، فقيه النفس، قتل خلقًا كثيرًا حتى استقام ملكه، وهو الذي ضرب أبا حنيفة -رحمه الله- على القضاء، ثم سجنه، فمات بعد أيام، وقيل: إنه قتله بالسم لكونه أفتى بالخروج عليه، وكان فصيحًا بليغًا، مفوّهًا، خليقًا للإمارة، وكان غاية في الحرص والبخل، فلقب: أبا الدوانيق، لمحاسبته العمال والصناع على الدوانيق والحبات.

“Dia orang yang terpandang, kharismatik, pemberani dan punya tekad yang kuat, pengumpul harta, meninggalkan senda gurau dan permainan, sempurna akalnya, terlibat aktif dalam hal ilmu dan adab, memahami soal kejiwaan. Namun, dalam rangka menegakkan kekuasaanya, dia telah melakukan pembunuhan yang amat banyak. Dia pula yang mencambuk Imam Abu Hanifah rahimahullah ketika menolak diangkat menjadi hakim, memenjarakannya hingga wafat di penjara. Dikatakan bahwa Imam Abu Hanifah wafat karena diracun akibat telah berfatwa membolehkan memberontak melawan Abu Ja’far al-Manshur. Ucapan al-Manshur fasih, seorang orator yang mempesona dan inspiratif, dan sangat berhati-hati, dan juga terkenal kikir. Gelarnya Abu ad-Dawaniq karena menghitung harta sampai hal-hal yang paling kecil.”

Dari deskripsi di atas saja kita bisa merasakan Al-Manshur ini sosok yang kontroversial dan terlihat paradoks. Paradoks pertama, soal ilmu dan perlakuannya terhadap ulama. Misalnya, sejarah mengabarkan bahwa dia sangat mencintai ilmu. Gerakan penerjemahan kitab-kitab asing ke dalam bahasa Arab mulai dilakukan pada masanya. Kalau ulama pada masa Dinasti Umayyah lebih sering menyebarkan ilmu secara verbal, pada masa Al-Manshur ini para ulama didukung untuk menuliskan kitabnya agar penyebaran pengetahuan semakin luas.

Baca Juga :   Mari Gus, Rebut Kembali!

Abu Ja’far al-Manshur adalah pemimpin negara yang pertama kali meminta Imam Malik untuk menjadikan kitabnya, al-Muwattha’, sebagai panduan resmi negara. Ini indikasi kuat kepedulian sang Khalifah akan ilmu pengetahuan. Namun, Imam Malik menolak permintaan tersebut dengan alasan Islam telah berkembang sedemikian rupa ke wilayah di luar Arab dan masing-masing imam telah memiliki pendapat sendiri yang boleh jadi akan berbeda pandangan dengan isi kitab al-Muwattha’. Imam Malik menolak kitab dan pendapatnya menjadi standar kebenaran oleh negara.

Belakangan, menurut Imam Suyuthi, Imam Malik mengeluarkan fatwa bahwa boleh keluar memberontak terhadap al-Manshur mengingat kekejaman yang dilakukannya. Gubernur Madinah kemudian menangkap dan mencambuk Imam Malik akibat fatwa itu. Seperti sudah disebutkan di atas tindakan Khalifah al-Manshur kepada Imam Abu Hanifah. Kekejaman terhadap ulama tidak berhenti pada dua nama besar Imam Mazhab ini, tapi juga menimpa ulama lainnya, yaitu Sufyan ats-Tsauri dan Abbad bin Katsir—yang pertama seorang ahli fiqh ternama, dan yang kedua seorang perawi hadits.

Hampir saja keduanya menemui ajal saat Abu Ja’far al-Manshur menunaikan ibadah haji. Namun, Sufyan dan Abbad selamat, meski sudah dimasukkan dalam penjara dan menunggu waktu eksekusi. Kata Imam Suyuthi:

وتخوف الناس أن يقتلهما المنصور إذا ورد الحج، فلم يوصله الله مكة سالِمًا، بل قدم مريضًا ومات، وكفاهما الله شره،

“Orang-orang telah khawatir bahwa Abu Ja’far al-Manshur akan membunuh kedua ulama itu saat menunaikan haji, namun Allah tidak memberi kesempatan khalifah sampai di Mekkah dengan selamat. Dalam perjalanan dia sakit dan wafat. Allah telah mencegah kekejamannya terhadap kedua ulama itu.”

Paradoks kedua, soal kekuasaan. Ada dua jenderal yang sangat berjasa merebut kekuasaan dari Dinasti Umayyah dan pada kilauan pedang kedua jenderal inilah kekuasaan Dinasti Abbasiyah dapat tegak berdiri. Jenderal pertama bernama Abdullah bin Ali, paman sang Khalifah Abu Ja’far al-Manshur. Jasanya jelas: pasukan Abdullah bin Ali yang mengalahkan pasukan Marwan, khalifah terakhir Umayyah.

Baca Juga :   PSI dan Kebangkitan Politik Anak Muda

Jenderal kedua bernama Abu Muslim al-Khurasani. Dialah jenderal yang memulai pemberontakan terhadap Dinasti Umayyah hingga tegaknya Abbasiyah. Abu Muslim juga mengejar dan membantai keluarga Umayyah demi mengamankan kekuasaan as-Saffah, khalifah pertama Abbasiyah.

Abdullah bin Ali tidak bisa menerima kenyataan bahwa al-Manshur yang diangkat sebagai khalifah menggantikan as-Saffah. Abdullah menganggap as-Saffah pernah berjanji menjadikannya sebagai khalifah berikutnya. Abdullah lantas memberontak kepada Khalifah al-Manshur dan mulai menerima bai’at dari pasukannya di Syiria sebagai khalifah.

Al-Manshur dengan cerdik mengirim Jenderal Abu Muslim menghadapi pemberontakan Abdullah bin Ali. Kedua jenderal bertempur. Pemberontakan itu mampu dipadamkan oleh Abu Muslim. Abdullah lantas pergi berlindung di kota lain, dan belakangan wafat dibunuh pada usia 52 tahun. Bagaimana nasib Abu Muslim? Al-Manshur yang khawatir dengan popularitas sang jenderal mengundangnya datang menghadap. Lantas, Abu Muslim, 37 tahun, dibunuh di istana dan mayatnya dibuang ke sungai Tigris.

Revolusi memakan anaknya sendiri. Kedua jenderal yang berjasa besar malah dihabisi dengan keji oleh al-Manshur. Imam Thabari dalam kitab Tarikh-nya menjelaskan dengan detail kisah tragis kedua jenderal ini.

Di sisi lain, dalam dua puluh dua tahun kekuasaannya, al-Manshur telah melebarkan pengaruh Islam ke penjuru dunia. Al-Manshur pulalah yang mendirikan kota Baghdad, yang kemudian menjadi salah satu pusat peradaban Islam. Kota-kota besar tunduk di bawah kekuasaanya kecuali Andalusia, di mana salah satu keturunan Bani Umayyah yang berhasil melarikan diri yaitu Abdurrahman bin Mu’awiyah meneruskan kekhalifahan kecil Umayyah di Andalusia. Jadi, sebenarnya saat itu sudah ada dua khalifah dalam tubuh umat Islam.

Namun, selain memikirkan umat, Al-Manshur juga memikirkan kekuasaannya sendiri. Dia mencopot keponakannya, Isa bin Musa, dalam jalur suksesi. Wasiat dari Khalifah As-Saffah sebelumnya telah mengangkat Al-Manshur dan Isa dalam satu paket. Namun Isa, yang berjasa memadamkan pemberontakan Syi’ah yang dipimpin Muhammad an-Nafs az-Zakiyyah, malah dicopot sebagai putra mahkota dan digantikan oleh Al-Mahdi, anak Khalifah al-Manshur. Garis kekuasaan khilafah berdasar turun temurun kembali.

Baca Juga :   Khalifah Ketujuh Umayyah: Sulaiman yang Narsis

Terakhir, kekuasaan Al-Manshur juga tidak lepas dari penggunaan riwayat hadits sebagai alat legitimasi kekuasaan yang paling efektif. Dakam tulisan sebelumnya, As-Saffah (Sang Penumpah Darah): Khalifah Pertama Abbasiyah, telah saya ceritakan bagaimana munculnya sejumlah riwayat hadits yang dijadilan alat legitimasi. Hal ini masih terus berlanjut pada masa Al-Manshur.

Misalnya Al-Khatib dalam kitab Tarikh-nya meriwayatkan dari Dhahhak, dari Ibn Abbas, dari Rasulullah:

أخرج الخطيب عن الضحاك عن ابن عباس عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: “منا السفاح، ومنا المنصور، ومنا المهدي

“Dari keluarga kami ada as-Saffah, al-Manshur dan al-Mahdi”

Tentu mengherankan bagaimana Rasulullah menyebut dengan persis ketiga nama Khalifah Abbasiyah secara berurutan, padahal ada jarak lebih seratus tahun. Imam Dzahabi mengatakan sanad riwayat ini munkar dan munqathi’ (terputus).

Namun, riwayat senada juga dicantumkan oleh al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak-nya (Hadits nomor 8615), dan beliau mengklaim sanadnya sahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, hanya saja tidak dikeluarkan oleh kedua kitab shahih tersebut. Imam Dzahabi membantahnya: “dimana shahihnya? Salah satu perawinya, Ismail bin Ibrahim, itu lemah” (Talkhis al-Mustadrak 4/514).

Penyebutan ketiga nama khalifah Abbasiyah sebagai “minna” (termasuk dari keluarga kami) merupakan alat legitimasi untuk menegaskan bahwa Dinasti Abbasiyah ini berasal dari keluarga Nabi, meski tepatnya mereka keturunan Abbas, paman Nabi, bukan keturunan langsung dari Nabi Muhammad. Tapi, ya itulah politik!

Abu Ja’far al-Manshur wafat dalam usia 61 tahun pada 7 Oktober tahun 775 Masehi dalam perjalanan menuju Mekkah dan dikuburkan secara rahasia dengan membuat 100 kuburan yang berbeda. Ini dikarenakan kekhawatiran akan terjadi balas dendam, ketika sebelumnya Dinasti Abbasiyah membongkar kuburan para khalifah Dinasti Umayyah dan menghancurkan apa yang tersisa. Ah, sampai di dalam kubur pun para khalifah itu tidak tenang dan aman rupanya!

Wednesday, October 11, 2017

As-Saffah (Sang Penumpah Darah): Khalifah Pertama Abbasiyah by Nadirsyah Hosen

Transisi kekuasaan dari Dinasti Umayyah ke Dinasti Abbasiyah terjadi lewat pertumpahan darah. Gonjang-ganjing kekuasaan mencapai puncaknya sehingga rezim lama digantikan oleh rezim yang baru. Apakah rezim baru akan membawa perubahan terhadap relasi rakyat dan penguasa? Mari kita Ikuti kisah Khalifah Abbasiyah pertama di bawah ini, dengan berdasarkan sejumlah kitab tarikh yang dijadikan rujukan utama dalam literatur Islam.

Imam Thabari mengisahkan Abul Abbas (721-754), yang dibai’at sebagai Khalifah pertama Dinasti Abbasiyah, naik mimbar Jum’at dan berpidato di depan penduduk Kufah. Berikut ini petikan pentingnya:

يا أهل الكوفة، أنتم محل محبتنا ومنزل مودتنا

أنتم الذين لم تتغيروا عن ذلك، ولم يثنكم عن ذلك تحامل أهل الجور عليكم، حتى أدركتم زماننا، وأتاكم الله بدولتنا، فأنتم أسعد الناس بنا، وأكرمهم علينا، وقد زدتكم في أعطياتكم مائة درهم، فاستعدوا، فأنا السفاح المبيح، والثائر المبير.

“Wahai penduduk Kufah, kalian adalah tempat berlabuh kecintaan kami, dan rumah idaman kasih sayang kami. Dan tidaklah kalian melakukan hal-hal yang bertentangan dengan itu, dan kalian tidak tergoda oleh tindakan para pembangkang sampai Allah mendatangkan kekuasaan kami. Kalian adalah orang yang paling berbahagia dengan adanya kekuasaan kami di tengah kalian. Kalian adalah orang yang paling mulia di mata kami. Dan kami telah menambah gaji kalian seratus dirham. Bersiaplah kalian, karena saya adalah penumpah darah yang halal (al-saffah al-mubih) dan pembalas dendam yang siap membinasakan siapa pun juga (al-tsa’ir al-mubir).”

Sejak itu, Abul Abbas dikenal dengan julukan al-Saffah. Padanya berkumpul dua hal: kedermawanan dan sang penjagal. Kepada penduduk Kufah, tak segan-segan dia meningkatkan pendapatan mereka untuk membeli loyalitas penduduk Kufah yang lebih dari 80 tahun di bawah kekuasaan Dinasti Umayyah. Pada saat yang sama, siapa saja yang berani melawan kekuasaan Abbasiyah, penguasa rezim baru, akan dibunuh dengan kejam.

Dalam awal pidatonya, Abul Abbas As-Saffah menyitir berbagai kezaliman dan kesewenang-wenangan Dinasti Umayyah, dan mengutip berbagai ayat Qur’an mengenai keluarga Nabi (QS 33:33 dan QS 42:23). Ini menggambarkan pijakan teologis yang jelas: pengambil-alihan kekuasaan terjadi untuk menegakkan keadilan dan sekaligus mengembalikan hak keluarga Nabi Muhammad SAW. Dengan kata lain, Abul Abbas berusaha memberi landasan teologis terhadap pengambil-alihan kekuasaan ini.

Baca Juga :   Ada Apa di Balik Pensiun Dini Jenderal Tito?

Abul Abbas memang memiliki nasab yang berasal dari Abbas, paman Nabi Muhammad. Ini berbeda dengan Syi’ah yang menjadikan keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah sebagai jalur nasab keluarga Nabi. Boleh saja secara umum dianggap kekuasaan Abbasiyah ini merupakan Ahlul Bait yang Sunni. Tapi problem teologis yang dialami Syi’ah mengenai legitimasi keimamahan mereka juga dihadapi oleh Abbasiyah: “Apa dasarnya keluarga Nabi mewarisi kekuasaan atas umat?”

Berbeda dengan Syi’ah yang mengambil argumen yang ketat soal imamah, Abbasiyah tetap menggunakan jalur khilafah melanjutkan tradisi Sunni, tapi dengan tambahan justifikasi bahwa kekuasaan khilafah berada di tangan keluarga Nabi dari jalur Abbas. Maka, beredarlah sejumlah riwayat yang meneguhkan posisi teologis Abbaisyah ini. Dengan kata lain, sekali lagi, agama telah dijadikan sebagai alat politisasi kekuasaan. 

Imam Thabari memulai pembahasan tentang kekhalifahan Abbasiyah dengan mengutip riwayat ini:

وكان بدء ذلك- فيما ذكر عن رسول الله ص- انه اعلم العباس ابن عبد المطلب انه تؤول الخلافة إلى ولده، فلم يزل ولده يتوقعون ذلك، ويتحدثون به بينهم

“Awal mula kekhilafahan Bani Abbas adalah bahwa Rasulullah memberitahukan kepada Abbas, pamannya, bahwa khilafah akan ada di tangan anak cucunya. Sejak itulah Bani Abbas membayangkan datangnya khilafah tersebut, dan mereka menyampaikan riwayat ini di kalangan mereka.”

Tapi Imam Thabari, yang dikenal sebagai ahli sejarah, ahli tafsir dan ahli fiqh, tidak menyebutkan sanad dan matan Hadits yang dimaksud. Imam Suyuthi menyebutkan sejumlah riwayat yang berkenaan dengan ini tapi, seperti bisa kita duga, menurut Imam Suyuthi sendiri riwayat-riwayat tersebut cukup lemah.

Misalnya, riwayat dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda kepada pamannya, Abbas: “Dari kalangan kamu ada kenabian dan kerajaan.” Namun dalam perawinya ada nama al-Amiri yang dianggap lemah oleh Imam Suyuthi.

Baca Juga :   Video HTI, Organisasi Islam, dan Produk Intelijen

Atau beredar riwayat lain, Nabi bersabda kepada Abbas: “Sesungguhnya Allah membuka agama ini denganku dan menutupnya dengan keturunanmu.” Lagi-lagi Imam Suyuthi memandang riwayat ini lemah.

Serangan juga ditujukan terhadap legitimasi keluarga Nabi dari jalur Abbas. Ini dikarenakan jalur ini bukan keturunan Nabi Muhammad, tapi lebih pada keturunan paman Nabi. Maka, kita dapati berbagai riwayat di Sunan al-Tirmidzi, misalnya, “Abbas adalah bagian dariku dan aku (Nabi Muhmamad) adalah bagian darinya”; “Siapa pun yang menyakiti pamanku (Abbas) berarti dia telah menyakitiku”; dan “Paman seseorang adalah saudara kandung ayahnya atau termasuk dari bagian ayahnya”.

Imam Tirmidzi meriwayatkan berbagai keutamaan Abbas, dan dalam satu riwayat Nabi mendoakan agar Allah mengampuni keturunan Abbas. Riwayat ini seolah hendak melegitimasi bahwa apa pun kekejaman dan pertumpahan darah yang dilakukan Dinasti Abbasiyah akan diampuni Allah.

Hadits hasan gharib ini hanya satu-satunya yang diriwayatkan oleh Sunan al-Tirmidzi dan tidak dijumpai riwayat senada dalam kitab hadits utama lainnya. Toh, meski begitu, ada ulama yang menambahi riwayat doa Nabi di atas dengan kalimat tendensius: “… dan jadikanlah kekhilafahan tetap di pundak keturunan Abbas.” Luar biasa, bukan?

Imam Ahmad dalam kitab Musnad-nya (Hadits Nomor 11333) juga meriwayatkan seolah kehadiran kekuasaan as-Saffah sudah dinubuwatkan oleh Nabi: “Di penghujung zaman dan tersebarnya fitnah akan keluar seorang lelaki yang disebut dengan as-Saffah. Dia akan memberikan harta dengan dermawannya.” Riwayat yang tercantum dalam Musnad Ahmad ini tidak terdapat dalam kitab hadits utama lainnya (kutubut tis’ah).

Ibn Katsir dalam al-Bidayah juga mencantumkan sejumlah riwayat lemah mengenai kekuasaan Dinasti Abbasiyah ini, utamanya berdasarkan riwayat dari Baihaqi. Sekali lagi kita melihat upaya luar biasa untuk melegitimasi kekuasan politik lewat penampakan berbagai riwayat hadits. Dan luar biasanya riwayat-riwayat berbau politik ini terus beredar dan ada saja, bahkan banyak, yang mudah percaya dengan hal-hal semacam ini.

Di atas telah saya kisahkan bagaimana Abul Abbas mendapatkan legitimasi sebagai keluarga Nabi. Lalu, bagaimana dengan kelompok Syi’ah? Semula Syi’ah mendukung Abbasiyah menyingkirkan Dinasti Umayyah. Tragedi kekalahan politik Syi’ah di masa Umayyah seolah menemukan harapan untuk kembali bangkit dengan datangnya pemerintahan Abbasiyah, sebagai sesama keluarga Nabi. Namun, ternyata Abul Abbas berpaling dari mereka. Nasib Syi’ah tidak berubah. Tetap marjinal.

Baca Juga :   Demokrasi Mengembalikan Politik Islam ke Jalur yang Benar

Salah satu bentuk kekejaman Abul Abbas adalah dengan mengundang jamuan makan kepada keluarga Bani Umayyah yang tersisa. Abul Abbas membunuh Sulaiman bin Hisyam bin Abdul Malik dengan tangannya sendiri, dengan cara menariknya keluar dari meja makan. Ini juga dilakukan terhadap 90 orang Bani Umayyah lainnya: dijamu makan, lantas dibantai habis. Bahkan tubuh mereka yang masih menggelepar ditutup dengan permadani, dan as-Saffah dan keluarganya melanjutkan makan malam di atas permadani. Begitu Ibn al-Atsir dalam al-Kamil fit Tarikh menceritakan kekejian ini.

Gubernur Madinah yang diangkat Khalifah Abul Abbas, yaitu Dawud bin Ali, juga membantai semua keluarga Umayyah yang masih tersisa di Mekkah dan Madinah. Politik balas dendam dan pertumpahan darah menjadi ciri dari pemerintahan Abul Abbas.

Abul Abbas as-Saffah hanya berkuasa 4 tahun. Pada 10 Juni tahun 954 Masehi, dia wafat saat masih berusia cukup muda, yaitu 33 tahun. Sebelum wafat, Abul Abbas telah menunjuk saudaranya, Abu Ja’far, dan keponakannya, Isa bin Musa, sebagai satu paket penerus kekhilafahan Abbasiyah.

Ini artinya kekuasaan boleh berganti rezim, namun metode pemilihan khalifah tetap tidak berubah: suara umat tetap tidak berarti. Kekhilafahan hanya berputar di keluarga elite tertentu saja, lewat wasiat penunjukan khalifah sebelumnya.

Insya Allah, kita akan lanjutkan mengaji sejarah politik Islam pada Jum’at berikutnya dengan membahas kisah Khalifah kedua Abbasiyah: Abu Ja’far al-Manshur