Showing posts with label kyai. Show all posts
Showing posts with label kyai. Show all posts

Friday, August 2, 2024

Catatan sejarah pendirian NU

Beberapa Catatan Penting Sejarah pendirian NU dalam Kesaksian Kiai As'ad Syamsul Arifin.

Tulisan panjang di bawah ini, saya resume dari pidato Kiai As'ad Syamsul Arifin yang berbahasa Madura tentang proses pendirian Nahdlatul Ulama.

--Audiensi para Kiai kepada Kiai Muntaha, Menantu Kiai Khalil Bangkalan tentang adanya gerakan anti ulama salaf.

Kira-kira pada tahun 1920, Kiai Muntaha Bangkalan, menantu Kiai Khalil, kedatangan tamu terdiri dari 66 ulama seluruh Indonesia. Tujuan mereka adalah agar Kiai Muntaha berkenan untuk menjadi “penyambung lidah” antara mereka dengan Kiai Khalil, mahaguru ulama Nusantara itu.  

Kepada Kiai Muntaha, para kiai itu bercerita bahwa saat ini ada pihak yang sangat anti pada ulama salaf, tidak senang dengan karya ulama salaf dan menurut mereka yang bisa diikuti hanya al-Quran dan Hadis saja. Isu inilah yang hendak dikonsultasikan ke Kiai Khalil.

--Pertemuan Para Kiai di kediaman Kiai Alwi Abd. Aziz, Kawatan, Surabaya.

Pada tahun 1921 atau 1922, ulama se-Jawa terdiri dari 46 orang berkumpul di Kawatan Surabaya, kediaman Kiai Alwi Abd. Aziz membahas terkait pendirian Jam’iyah. Beberapa nama yang disebut Kiai As’ad di antaranya; Kiai Syamsul Arifin, Sukorejo, Kiai Hasan, Genggong, Kiai Sidogiri (entah siapa yg dimaksud), Kiai Saleh Lateng, Kiai Asnawi Kudus, Kiai Tahir Bungkuk, kiai-kiai dari Jombang.

Pertemuan ini tidak menghasilkan apa-apa kecuali hanya beberapa ide-ide misalnya seperti, tidak perlu membuat organisasi baru, cukup organisasi yang ada saja direvitalisasi. Ada juga usulan untuk segera melahirkan organisasi baru.

Kebuntuan berfikir ini terus berlangsung sampai awal-awal tahun 1923. Di sisi lain, gerakan wahabisme sudah mulai merajalela di mana-mana. Dan mereka gencar menolak amaliyah-amaliyah orang pesantren, seperti tabarruk, tawassul dan lain.

Catatan Manuskrip Sunan Ampel

Setelah menceritakan kisah di atas, Kiai As’ad mengisahkan bahwa ada seorang kiai menyampaikan sebuah sejarah pada Kiai Khalil yang didasarkan pada tulisan Sunan Ampel. Isinya adalah; ketika Sunan Ampel ngaji dan berada di Madinah, Sunan Ampel pernah bermimpi nabi dan nabi berpesan agar Islam Ahlussunnah Waljamaah dibawa hijrah ke Indonesia, sebab di tanah asalnya ia sudah tidak berdaya. Dan perlu diketahui bahwa di zaman itu belum ada wahabi.

--Istikharah di Maqbarah Walisongo dan Nabi Muhammad Saw.

Temuan manuskrip tersebut justru membuat para kiai merasa berat, belum menemukan solusi.

Ketika kondisi seperti ini, ada 4 kiai ditugaskan untuk istikharah di maqbarah para sunan selama 40 hari. Ada juga yang ditugaskan untuk istikharah di Madinah, maqbarah Nabi Muhammad Saw.

Di akhir, tahun 1923, semua petugas istikharah melakukan pertemuan untuk melaporkan hasil istikharah mereka. Dan menurut Kiai As’ad, laporan ini tertulis dan naskahnya ada. Kiai As’ad tidak memastikan, siapa yang menyimpan hasil pertemuan ini. “Insyaallah, badha (ada)...”, ujar Kiai As’ad.

--1924 Kiai As’ad dipanggil Kiai Khalil Bangkalan

Karena belum menemukan jalan keluar, pada tahun 1924 Kiai As’ad yang saat itu sedang belajar di Bangkalan dipanggil oleh Kiai Khalil. Kiai Khalil berkata pada Kiai As’ad:

“Lagguna be’en entar ka Hasyim Asy’ari, Jombang”, “Besok pergi ke Hasyim Asy’ari, Jombang..”. Dalam perjalanan ke Jombang ini, Kiai Khalil menitipkan tongkat dan sebuah ayat yang berbunyi:

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَامُوسَى (17) قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى (18) قَالَ أَلْقِهَا يَامُوسَى (19) فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى (20) قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى (21)

"Dan apakah yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?", (17) Dia (Musa) berkata, "Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain." (18), Dia (Allah) berfirman, "Lemparkanlah ia, wahai Musa!" (19), Lalu (Musa) melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. (20) Dia (Allah) berfirman, "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, (21)”. (Qs. Thaha: 17-21)

Singkat cerita, sesampainya di Jombang Kiai As’ad ditemui langsung oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Pada momen ini, Kiai Hasyim bertanya latar belakang Kiai As’ad dan ternyata, Kiai As’ad memiliki hubungan keluarga dengan Kiai Hasyim lewat jalur ibu beliau yang bernama Nyai Maimunah (maqbarah ibunda Kiai As’ad ada di Talangsiring Pamekasan).

Setelah itu, Kiai As’ad menyampaikan titipan Kiai Khalil berupa tongkat. Bagaimana respons Kia Hasyim? Kata Kiai As’ad, ketika pertama kali mendengar ada titipan tongkat, Kiai Hasyim kaget penuh heran bertanya-tanya.

Dan beliau tidak segera menerima tongkat tersebut. Lalu Kiai As’ad meneruskan obrolan dengan membacakan surat Thaha di atas yang dibacakan oleh Kiai Khalil.

Setelah selesai membacakan surat tersebut, dengan penuh haru Kiai Hasyim Asy’ari merespons:

“Alhamdulillah, cong, engkok tolos mabadha jam’iyah Ulama, tolos mabadha jam’iyah ulama, tolos engkok, kalabhan tongket reya, areya tongket nabi Musa ebaghi ka engkok bhik Kiai Khalil”... artinya, “Alhamdulillah, nak, saya jadi mendirikan Jam’iyah Ulama, jadi mendirikan Jam’iyah Ulama, saya jadi mendirikan dengan (isyarah) tongkat ini. Ini tongkat nabi Musa diberikan ke saya oleh Kiai Khalil”...

Pada waktu itu, menurut Kiai As’ad belum ada nama Nahdlatul Ulama. Kiai Hasyim menggunakan term “Jam’iyah Ulama...”. Kemudian Kiai As’ad pamit dan sebelum pamit beliau minta didoakan pada Kiai Hasyim. Dan sebelum benar-benar pergi, Kiai Hasyim sekali lagi menitipkan salam untuk Syaikhana Khalil, berupa kabar bahwa sebentar lagi akan didirikan Jam’iyah ulama.

--Kiai As’ad kembali Dipanggil Kiai Khalil

Pada akhir tahun 1924, Kiai As’ad dipanggil kembali oleh Kiai Khalil. Pada waktu, Kiai As’ad masih sebagai santri di Bangkalan. Panggilan yang kedua ini Kiai As’ad ditugas untuk kembali ke Tebuireng.

Jika sebelumnya membawa tongkat misi kali ini diperintah membawa tasbih. Bukan hanya tasbih, Kiai Khalil juga menitipkan dua asmaul husna; Ya Jabbar, Ya Qahhar. Satu bacaan satu putaran, begitupula bacaan satunya. Lalu Kiai As’ad menjulurkan kepalanya agar tasbih yang dimaksud dikalungkan saja.

Sebagaimana kisah pertama, bahwa selama perjalanan beliau menjadi sorotan banyak mata; ada yang meledek sebagai orang gila sebab ia masih muda tetapi sudah pakai tongkat dan kedua kalinya berkalung tasbih, ada juga yang menganggap beliau wali karena penampilannya aneh.

Yang menarik disampaikan juga bahwa; selama menjalankan tugas-tugas berat ini, Kiai As’ad berpuasa sepanjang Bangkalan-Tebuireng; ia tidak makan, tidak minum, tidak merokok bahkan selama perjalan beliau tidak berbicara pada siapapun. Jadi beliau “puasa” bicara. Karena sedang membawa amanat kiai. Kata Kiai As’ad, “Sebelum bertemu dengan Kiai Hasyim saya tidak akan berbicara dengan siapapun”.

Sesampainya di Tebuireng, Kiai As’ad melaporkan amanatnya berupa titipan tasbih. Kiai Hasyim dawuh:

“Masyaallah, masyaallah, engkok ekemani ongghu bhik ghuru...”, artinya, “Masyallah, masyaallah, saya disayang betul sama guru saya...”.

Dan betapa kagetnya, saat Kiai Hasyim tahu bahwa tasbih yang dimaksud ada di leher Kiai As’ad. Jadi, Kiai As’ad tidak menyentuh tasbih tersebut. Di Bangkalan dipasang langsung oleh Kiai Khalil dan di Jombang diambil langsung oleh Kiai Hasyim. Lalu Kiai As’ad membacakan dua lafadz Asmaul Husna yang juga dititipkan mengiringi tasbih tersebut. Kiai Hasyim merespons:

“Sapa se bengal ka NU ancor, karena jam’iyah ulama, ancor...” artinya, “Siapa yang berani (kurang ajar) kepada NU akan hancur, sebab (ini) adalah jam’iyah ulama”.

--1925 Kiai Khalil Bangkalan Wafat

Tahun 1925 bertepatan dengan tanggal 29 Ramadan, mahaguru ulama Nusantara, Syaikhana Khalil Bangkalan wafat. Kata Kiai As’ad, info kewafatan Kiai Khalil terjadi kehebohan luar biasa di publik luas. Umat seperti kehilangan pelita yang selama ini menyinari bumi Nusantara.

--1926 NU resmi berdiri

Bertepatan pada bulan Rajab tahun 1926 Nahdlatul Ulama resmi berdiri. Tahun ini semua kebutuhan NU sebagai organisasi disusun satu persatu. Kiai As’ad menyebut nama Kiai Dahlan, Nganjuk, sebagai sosok yang menyusun anggaran dasar rumah tangga organisasi. Lalu ada beberapa pertemuan ulama untuk mendelegasikan utusan ke Gubernur termasuk Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Tulisan lebih lengkap silahkan baca di kanal: https://arina.id/khazanah/ar-nIOFK/memahami-sejarah-berdirinya-nu-dari-kiai-as-ad-syamsul-arifin.

Penutup

Kisah di atas, adalah beberapa poin yang bisa saya tangkap dari rekaman sejarah pendirian Nahdlatul Ulama oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin, pelaku langsung pendirian NU yang bukti kesaksiannya terekam dengan baik dan tersimpan di Youtube atau di pondok Sukorejo. 

Tabik
Ahmad Husain Fahasbu

Saturday, July 22, 2023

Kyai Ibnu Taimiyyah dan Cerita Irrasional

**[[ Kyai Ibnu Taimiyyah dan Cerita Irrasional ]]**

Sesuatu yang bersifat irrasional, memang selalu tak masuk akal. Ya, namanya saja diluar koridor akal biasa. Terkait cerita irrasional, ada sebagian kalangan yang menelannya bulat-bulat, jika itu berkaitan dengan tokoh idolanya. Tak jarang ada yang menolak mentah-mentah semua cerita irrasional itu.

Kita akan membaca beberapa kisah yang sepertinya irrasional. Cerita ini berkaitan dengan Ibnu Taimiyyah al-Harrani (w. 728 H).

Kenapa dipilih cerita Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) disini?. Biasanya jika sesuatu yang tak masuk akal itu terjadi kepada beliau, hampir-hampir tak ada yang membantah cerita tersebut. Bahkan oleh orang yang biasanya suka mengkhurafat-tahayulkan kelompok lain.

Lain halnya jika cerita tak masuk akal ini terjadi pada diri orang yang disebut “kyai”. Memang tak bisa dipungkiri, ada orang awam yang mengiyakan saja cerita-cerita irrasional itu, bahkan menambah-nambahi cerita biar seru dan wah. Tapi disisi lain ada pula yang malah dengan mudah menuduh sang kyai bekerjasama dengan jin, sampai menuduh syirik.

Disitu kadang saya merasa sedih.

Memanggil Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dengan sebutan Kyai Ibnu Taimiyyah tentu sah-sah saja. Karena memang kata kyai sebenarnya untuk makna "yang dituakan ataupun dihormati".

Kita akan baca beberapa kejadian irrasional yang pernah terjadi pada Ibnu Taimiyyah (w. 728 H). Kejadian-kejadian ini sangat bisa dipertanggungjawabkan validitas datanya. Karena datanya primer, langsung dari kitab karangan murid-murid Ibnu Taimiyyah (w. 728 H).

*[[ Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) Bisa Meramal Masa Depan ]]*

Pernah suatu ketika Mbah Mad Dalhar atau KH. Ahmad Abdul Haq (w. 2010 M); pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Watucongol Magelang kedatangan tamu yang belum beliau kenal sebelumnya. Setelah bersalaman, serta merta Mbah Mad bilang ke tamu tersebut:

“Kamu ini kerjaannya menghalalkan sesuatu yang haram ya?”

Sontak saja tamu tersebut kaget sekaligus takut, kenapa Mbah Mad bilang seperti itu. Padahal sepertinya tak pernah si tamu menghalalkan sesuatu yang memang haram menurut agama.

Selang beberapa saat, Mbah Mad berkata sebelum tamu itu bertanya kenapa. “Pegawai KUA itu kan kerjanya menikahkan orang. Nah, laki-laki dan perempuan yang awalnya haram untuk berbuat sesuatu, gara-gara kamu nikahkan sekarang jadi halal”. Oh, begitu! Ternyata si tamu itu memang kerjanya jadi pegawai KUA.

Tentu bagi sebagian orang bertanya-tanya, darimana Mbah Kyai bisa tahu bahwa tamunya adalah pegawai KUA. Karena pada saat itu, si tamu juga tak lagi memakai seragam KUA. Si Tamu juga tak mengisi buku tamu dengan menuliskan pekerjaannya. Darimana kyai tahu perkata ghaib? Khurafatkah beliau? Atau mungkin bekerjasama dengan jin?

Tentu jika awalnya sudah tak suka kyia, akan bilang; “Iya, tuh! Kyai khurafat, tak masuk akal, itu doktrin keramat wali yang sesat, mengesampingkan akal sehat!”

Biarlah dia berkata seperti itu. Mari kita baca cerita dari Ibnu Qayyim al-Jauziyyah al-Hanbali (w. 751 H) tentang sang guru; Ibnu Taimiyyah al-Harrani (w. 728 H). Suatu ketika Ibnu Qayyim pernah bilang:

ولقد شاهدت من فراسة شيخ الإسلام ابن تيمية - رحمه الله - أمورا عجيبة. وما لم أشاهده منها أعظم وأعظم

Saya telah menyaksikan firasat Ibnu Taimiyyah pada banyak kejadian yang menghebohkan. Dan apa yang belum saya saksikan, lebih banyak dan lebih heboh lagi. (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah w. 751 H, Madarij as-Salikin, h. 2/ 459)

Ibnu Qayyim (w. 751 H) ini bisa dibilang murid terdekat Ibnu Taimiyyah (w. 728 H). Diantara kejadian aneh yang dialami oleh Ibnu Qayyim adalah Ibnu Taimiyyah bisa tahu sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi.

وأخبرني غير مرة بأمور باطنة تختص بي مما عزمت عليه، ولم ينطق به لساني. وأخبرني ببعض حوادث كبار تجري في المستقبل. ولم يعين أوقاتها. وقد رأيت بعضها وأنا أنتظر بقيتها. وما شاهده كبار أصحابه من ذلك أضعاف أضعاف ما شاهدته. والله أعلم.

(Ibnu Taimiyyah) mengabarkan kepadaku hal yang sebenarnya masih dalam pikiran saya, dan saya belum mengucapkannya kepada beliau. Beliau Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) juga mengabarkan kepadaku kejadian-kajadian besar yang akan terjadi di masa yang akan datang. Hanya beliau tidak memberikan kepastian waktu akan terjadi hal tadi. Sebagian saya lihat dan saksikan sendiri, sebagiannya masih saya tunggu. Kejadian yang disaksikan oleh para murid beliau yang lain, malah lebih banyak lagi daripada yang saya lihat. (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah w. 751 H, Madarij as-Salikin, h. 2/ 459).

Nah, sepantasnya kita juga menanyakan hal sama; darimana Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) tahu perkata ghaib? Khurafatkah beliau? Atau mungkin bekerjasama dengan jin?

Ah, kalo itu terjadi pada Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) rasanya kok tak mungkin. Beliau kan ulama salaf?

Hal serupa pernah terjadi kepada murid beliau yang lain, yaitu Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali (w. 749 H). Beliau bahkan menuliskan biografi lengkap dengan karamah dan firasat-firasat Ibnu Taimiyyah (w. 728 H). Nama kitabnya adalah al-A’lam al-Aliyyah fi Manaqib Ibnu Taimiyyah.

*[[ Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dan Kasyaf ]]*

Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali (w. 749 H) pernah bercerita:

وحدثني أيضا قال أخبرني الشيخ ابن عماد الدين المقرئ المطرز قال قدمت على الشيخ ومعي حينئذ نفقة فسلمت عليه فرد علي ورحب بي وأدناني ولم يسألني هل معك نفقة ام لا
فلما كان بعد أيام ونفدت نفقتي أردت أن اخرج من مجلسه بعد ان صليت مع الناس وراءه فمنعني وأجلسني دونهم فلما خلا المجلس دفع الي جملة دراهم وقال انت الآن بغير نفقة فارتفق بهذه فعجبت من ذلك

Telah menceritakan kepadaku Syeikh Ibnu Imadiddin al-Muqri’; beliau berkata: Suatu ketika saya datang kepada Syeikh Ibnu Taimiyyah. Saat itu saya membawa bekal nafkah. Saya menyalami beliau, hanya setelah itu beliau tak menanyakan kepadaku apakah saya punya bekal nafkah atau tidak.

Selang beberapa hari, saat bekal nafkah saya habis, saya bertemu dengan beliau lagi. Selepas shalat bersama beliau dan saya akan pamit, beliau menahanku. Saya diminta duduk di belakangnya seraya beliau memberiku sejumlah dirham. Beliau berkata; “Kamu kan sekarang sudah tak ada bekal nafkah, ini buat kamu saja. Disitu saya takjub. (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah, h. 60)

Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) bisa tahu bahwa Ibnu Imadiddin al-Muqri’ tak punya bekal nafkah pada pertemuan kedua. Ibnu Imadiddin menyimpulkan:

وعلمت ان الله كشفه على حالي أولا لما كان معي نفقة وآخرا لما نفدت واحتجت الى نفقة

Saya yakin, Allah telah membukakan (kasyaf) keadaanku kepada Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) ketika bekal nafkah saya habis pada pertemuan kedua (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah, h. 60)

Ternyata Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) telah di-kasyaf-kan mata batinnya oleh Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana penuturan murid beliau.

*[[ Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) Mendoakan Orang Sakit Langsung Sembuh ]]*

Kadang menjadi seorang kyai memang harus serba bisa. Jika ada masalah, datangnya ke kyai, mau nikah datangnya ke kyai, bahkan sakitpun datangnya ke kyai. Memangnya kyai multi talent? Padahal kadang hanya dido’akan saja.

Tapi ya begitulah, alhamdulillah datangnya masih ke kyai, bukan ke dukun. Asal tidak salah saja, datang ke dukun yang berpenampilan kyai, atau ke kyai yang memasang tarif per kunjungan.

Suatu ketika Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) pernah mendo’akan orang sakit. Setelah didoakan langsung segera sembuh.

وحدثني ايضا قال مرضت بدمشق اذ كنت فيها مرضة شديدة منعتني حتى من الجلوس فلم اشعر إلا والشيخ عند رأسي وأنا مثقل مشتد بالحمى والمرض فدعا لي وقال جاءت العافية. فما هو إلا أن فارقني وجاءت العافية وشفيت من وقتي

Suatu ketika saya sakit di Damaskus. Saat itu sakitnya cukup parah, sampai duduk saja susah. Tak terasa Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) sudah berada diatas saya. Beliau mendoakan saya, dan berkata; kesembuhan telah datang. Setelah beberapa saat beliau pergi, benar saja saya segera sembuh saat itu juga. (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah, h. 58). Hebat juga Ibnu Taimiyyah (w. 728 H).

*[[ Jika Merasa Takut dan Khawatir, Datang Saja ke Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) ]]*

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) menuturkan:

وكنا إذا اشتد بنا الخوف وساءت منا الظنون وضاقت بنا الأرض أتيناه، فما هو إلا أن نراه ونسمع كلامه فيذهب ذلك كله وينقلب انشراحاً وقوة ويقيناً وطمأنينة.

Jika kami merasa takut, sering berburuk sangka dan bumi terasa sempit, maka kami datang kepada Ibnu Taimiyyah. Ketika kami melihat beliau dan mendengarkan perkataan beliau, maka rasa takut tadi seketika hilang, berganti keyakinan dan ketenangan. (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah w. 751 H, al-Wabil as-Shayyib, h. 48)

Memang begitulah kyai, kadang masyarakat datang kepadanya hanya untuk menentramkan batin mereka.

Maka, jika setelah bertemu kyai atau ustadz, atau setelah mengikuti kajiannya, kok tak merasa tentram tapi malah bertambah panas, ada baiknya untuk muhasabah lagi. Barangkali ada sesuatu yang salah, entah apa itu.

*[[ Keramat Kyai Ibnu Taimiyyah: Menentang Beliau Akan Mendapatkan Bala’ ]]*

Kadang murid-murid Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) juga agak berlebihan juga ketika menceritakan keramat beliau. Contohnya dibawah ini:

ومن اظهر كراماته أنه ما سمع بأحد عاداه او غض منه إلا وابتلي بعدة بلايا غالبها في دينه وهذا ظاهر مشهور لا يحتاج فيه الى شرح صفته

Keramat paling nampak dari beliau adalah jika ada yang menentang atau memusuhi beliau, biasanya akan mendapatkan bala’ atau cobaan, biasanya dalam keagamaannya. Ini adalah sesuatu yang masyhur dan tak perlu dijelaskan bagaimana sifatnya. (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah, h. 62)

*[[ Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) Memang Banyak Keramatnya ]]*

Maka Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H berkesimpulan:

قلت وكرامات الشيخ رضي الله عنه كثيرة جدا لا يليق بهذا المختصر اكثر من ذكر هذا القدر منها

Keramatnya Ibnu Taimiyyah itu sangat banyak (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah, h. 62)

Itulah beberapa contoh keramat dan cerita irrasional dari Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) yang diceritakan langsung oleh beberapa murid beliau. Dan itu hanya sebagiannya saja. Jika mau lebih banyak, silahkan baca-baca lagi biografi beliau langsung di kitab-kitab murid beliau.

*[[ Kyai Ibnu Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) Bercerita Tentang Keramat: Ada Orang Bisa Berjalan Diatas Air Dengan Doa Tertentu ]]*

Jika tadi yang bercerita adalah murid Ibnu Taimiyyah tentang gurunya. Ibnu Taimiyyah sendiri mempunyai kitab yang berjudul al-Furqan Baina Auliya ar-Rahman wa Auliya as-Syeithan; Beda antara wali Allah dan wali Syeitan.

Suatu kesempatan Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) menuliskan:

والعلاء بن الحضرمي كان عامل رسول الله صلى الله عليه وسلم على البحرين وكان يقول في دعائه: يا عليم يا حليم يا علي يا عظيم، فيستجاب له، ودعا الله بأن يسقوا ويتوضؤوا، لما عدموا الماء، والإسقاء لما بعدهم، فأجيب.
ودعا الله لما اعترضهم البحر ولم يقدروا على المرور بخيولهم، فمروا كلهم على الماء ما ابتلت سروج خيولهم

Al-Ala’ bin al-Hadhromi termasuk salah satu pekerja Nabi Muhammad di Bahrain. Suatu ketika dia berdoa: ya Alim, ya Halim, ya Aliy, ya Adzim! Maka doanya terkabul. Beliau juga berdoa ketika sedang tidak ada air, agar bisa wudhu dan minum. Dan beliau dikabulkan doanya.

Beliau berdoa ketika mau melewati laut, agar bisa berjalan diatas air bersama dengan kudanya. Maka beliau bersama rombongannya bisa berjalan diatas air tanpa basah sedikitpun. (Ibnu Taimiyyah al-Harrani w. 728 H, al-Furqan Baina Auliya ar-Rahman wa Auliya as-Syeithan, h. 162).

Itulah salah satu keramat shahabat Nabi yang diceritakan oleh Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dalam kitabnya. Hal yang menarik adalah shahabat Nabi al-Ala’ bin al-Hadhromiy dalam do’anya beliau mengucapkan: ya Alim, ya Halim, ya Aliy, ya Adzim!

Darimanakah doa itu didapatkan? Adakah haditsnya? Bukankah itu membuat-buat doa yang tak diajarkan oleh Nabi? Bid’ahkah?

Kadang ada orang yang nyinyir jika ada orang yang mengamalkan suatu kalimah thayyibah tertentu, misalnya: dengan membaca ya Hayyu ya Qayyum, insyaAllah bisa berjalan diatas air, dst. Dengan mengatakan, itu tak dalilnya.

*[[ Keramat Wali dan Sikap Kita ]]*

Tentu masih banyak lagi cerita tak masuk akal yang terjadi kepada para kekasih Allah. Tak sedikit memang yang hanya cerita fiktif belaka.

Agama Islam tak mengingkari adanya sesuatu yang irrasional. Maka jika ada kejadian tak masuk akal terjadi pada diri seseorang, kita akan gali lebih dalam lagi terkait siapa orang itu. Apakah wali Allah atau wali Syeitan?

Kita akan membaca beberapa episode menarik dari hidupnya Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) pada kesempatan yang lain, insyaAllah. Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa'fu anhu. Lahu al-Fatihah..

Thursday, February 9, 2023

KIAI MASDUQI (KAKAK RAIS AMM PBNU) BERKISAH TENTANG MBAH WAHAB MENANGKAP JIN DAN MBAH HAMID MENGAMINI DOANYA DARI ATAP

KIAI MASDUQI (KAKAK RAIS AMM PBNU) BERKISAH TENTANG MBAH WAHAB MENANGKAP JIN DAN MBAH HAMID MENGAMINI DOANYA DARI ATAP

Kemarin sore saya dan istri takziah tujuh harinya Nyai Muzayyanah (istri dari Kiai Adib bin Wahab Chasbullah) di Surabaya. Kami bertemu dengan Ning Diah (putri Kiai Masduqi Abdul Ghoni) dan Ning Hanna (putri Kiai Jazuli Bangkalan). Selanjutnya  Kami diantar ke Ndalem Kiai Masduqi di Rangkah.

Kiai Masduqi (78 tahun) adalah putra ketiga dari Kiai Abdul Ghoni. Beliau merupakan kakak kandung dari Rais Amm PBNU, Kiai Miftachul Akhyar.

Kami ditemui oleh Kiai Masduqi dengan ditemani Gus Haq (putra Kiai Masduqi), Ning Hanna dan Ning Diah beserta beberapa putri menantu beliau yang lain.

Kiai Masduqi yang sangat tawadlu sekali ini berkisah bahwa beliau Mondok di Tambakberas saat masih kecil dan masih ngompolan, yakni sekitar usia  8 tahun. Beliau  mondok di Tambakberas  selama 10 tahun mulai dari tahun 1953 dan hingga ketika gunung Agung meletus, tahun 1963.

Beliau saat ini adalah penerus pesantren abahnya yang bernama Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Bahrul Ulum yang beralamat di Rangkah Surabaya. Rumah abah beliau (saat ini ditempati beliau) dahulu menjadi tempat persinggahan  para kiai seperti Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Hamid Chasbullah dan Kiai Romli, Mbah Ud dan lain lain. Beliau yang saat itu masih kecil masih teringat ucapan Kiai Abdul Ghoni (ayahanda beliau) bahwa Mbah Hamid Chasbullah waktu berkunjung setelah selesai acara haul Syaikh Abdul Qodir Al Jailani membawa buah tangan berupa roti kalengan.

Ketika saya tanya tentang amalan ijazah doa dari Masyayikh Tambakberas, beliau
berkata mendapatkan doa dari Mbah Wahab berupa "Huwal Habib" yang  dibaca 100 kali. Katanya,  banyak masalah yang para santri disuruh oleh Mbah Wahab agar mewiridkan "Huwal Habib". Kiai Masduqi juga sering mendengar Mbah Wahab mengajari santri dengan membaca doa "Ya Arhamarrohimin...".

Hal lain yang beliau ingat dari Mbah Wahab adalah saat Mbah Wahab mengambil jin di beberapa tempat sekitar pondok seperti di menara masjid dan lainnya. Saat itu Kiai Sholeh Hamid disuruh mengangkat jin, tapi Kiai Sholeh berkata "Tidak kuat Wak Aji (panggilan untuk Mbah Wahab dari para keponakannya)." Lalu Kiai Sholeh diajari agar menggendongnya. Setelah itu baru kuat membawa jin untuk dipindah.

Kiai Masduqi masih menangi (bertemu) Mbah Hamid yang wafat tahun 1956. Beliau sempat ngaji Alquran ke Mbah Hamid sampai ayat yang beliau sebut "Sayaqulus.. ." (awal juz 2).  Lalu oleh orang tuanya diminta pulang dulu. Saat beliau pulang pada bulan Ramadhan hari kedelapan itulah  Mbah Hamid wafat. Pada bulan Syawal Kiai Masduqi kembali mondok lagi.

Beliau berulangkali bilang Kiai Hamid Chasbullah itu wali, tamunya juga para wali seperti Kiai Sahlan, Sidoarjo, Kiai Toha Wonokromo dan lain lain.

Kiai Masduqi termasuk santri yang ikut ndalem dengan membantu menjualkan makanan blendung buatan Mbah Den (istri Mbah Hamid) untuk  para santri. Blendung adalah jagung tua yang biasanya direndam dengan air gamping, lalu digodok, dan setelah masak ditaburi parutan kelapa. Orang Nganjuk dan sekitarnya menyebutnya grontol.

Beliau juga berkisah tentang "ngawang" (terbangnya) Mbah Hamid Chasbullah. Setelah lama di pondok, pada suatu malam, Kiai Masduqi 'telek-telek" atau merenungi bahwa nanti kalau pulang dan beliau merasa belum bisa apa-apa, maka pasti akan ditanya tentang ngajinya oleh abahnya (Kiai Abdul Ghoni). Abahnya begitu tegas dan bisa menyabet manakala putranya tidak bisa ngaji.

Maka saat itu di tengah malam, Kiai Masduqi "nyawang" (melihat) atap atau "wuwung" di pondok induk. Tanpa disangka, beliau melihat Mbah Hamid (yang saat itu sudah wafat) "ngawang" atau terbang di atas wuwung pondok sambil berkata, "Aminono aku tak ndongo (ucapkan amin, saya mau berdoa)". Benar, secara secepat kilat beliau mengaminkan doa Mbah Hamid.

Terakhir, sekali lagi beliau sangat tawadlu'. Semisal saat saya minta barokah doa, bolak balik beliau mengelak menolak  tidak berkenan. Saya tidak putus harapan, maka akhirnya beliau dawuh akan membaca Fatihah tapi saya nanti diminta berdoa. Benar, selesai membaca Fatihah, saya diminta berdoa. Dengan mengharapkan berkah  "amin"nya Kiai Masduqi, maka saya berdoa pendek dengan membaca sholawat Nurudzati dan doa sapujagat.

Tidak hanya itu, saat saya pamitan dan mau ziarah ke makam Kiai Abdul Ghoni, beliau malah mau mengantar. Tentu kami cegah karena sehabis hujan. Sebelumnya saya mau "menyalami" beliau, tapi justru saya yang "disalami". Awalnya sama sama menolak, tapi karena sama-sama kekeuh, akhirnya sama sama menerima.

Semoga kiai sepuh yang andap ashor terus sehat dan panjang usia sehingga bisa jadi panutan.

Tuesday, February 22, 2022

Keistimewaan KH. Adlan Aly, Murid Kinasih KH. Hasyim Asy’ari

"Keistimewaan KH. Adlan Aly, Murid Kinasih KH. Hasyim Asy’ari"

KH. Adlan Aly, pendiri Pondok Pesantren Putri Walisongo Jombang.
Tebuireng.online— KH. Hasyim Asy’ari memiliki santri yang hebat-hebat, salah satunya yaitu KH. Adlan Aly, pendiri Pondok Pesantren Putri Walisongo Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Kiai Adlan dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1900 di Pesantren Maskumambang, Kabupaten Gresik, dari pasangan Hj. Muchsinah dan KH. Ali. Kiai Adlan Aly wafat pada tanggal 6 Oktober 1990 di Jombang.

Kiai Adlan merupakan santri kinasihnya Kiai Hasyim Asyari. Hal ini dikarenakan Kiai Adlan sosok yang alim dan hafal Al Quran. Sering sekali Kiai Hasyim meminta santrinya ini menggantikan menjadi imam salat dan kegiatan lainnya. Bahkan karena rasa cinta yang begitu besar terhadap gurunya, Kiai Adlan bermukim selamanya di selatan Pondok Tebuireng.

Setelah Nahdlatul Ulama (NU) berdiri, KH. Hasyim Asy’ari memanggil Kiai Adlan, untuk membentuk kepengurusan NU di Kecamatan Diwek. Dari sini Kiai Adlan Aly berkiprah di NU hingga ke level nasional. Dalam Muktamar NU yang ke-8 di Cirebon pada Agustus 1931, Kiai Adlan Aly dipercaya sebagai pemimpin sidang.

Menurut Mahasiswa Pasca Sarjana dan Santri Pesantren Tebuireng Abdul Aziz, Kiai Adlan setiap bulan Ramadan membacakan kitab Fathul Qarib. Tepat di posisi yang dulu digunakan Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari mengajar. Kiai Adlan duduk di sana, sedangkan para santri mengitarinya sebagai halaqah ilmiah.

Dalam pengajian ini ada karomah Kiai  Adlan yang tampak di setiap tahunnya. Ketika pembahasan tepat pada bab  Istisqa’ (ritual memohon hujan), anehnya langit Tebuireng menjadi gelap.

Ketika beliau membaca bab tersebut lalu mempraktekan shalat istisqa’ dan mengalungkan sorban ke pundaknya dalam seketika itu hujan turun dan mengguyur halaman pondok.

“Kiai Adlan itu tidak pernah melihat langit. Istilah ini menunjukkan saking tawadhu’nya Kiai Adlan. Ketika berjalan tidak pernah mengangkat kepala ke atas. Beliau senantiasa menunduk sopan,”  katanya, Sabtu (27/4).

Ada lagi kesan para santri tentang Kiai Adlan yang masih abadi hingga saat ini. Bagi santri Tebuireng dan Walisongo, Kiai Adlan adalah ayah yang sabar dan istikamah. Ketika para santri ditanya tentang “Bagaimana sosok Kiai Adlan?” maka berbagai komentar yang hampir tak serupa senantiasa didengar.

“Ada yang menuturkan, kiai yang tidak hanya hafal isi Al Quran tetapi juga menjalankannya”, ujarnya.

Aziz menambahkan, Kiai Adlan adalah kuncinya jika ingin bertemu Kiai Hamid Pasuruan. Sehingga ada keyakinan sebagian jamaah saat itu kalau ingin mudah bertemu dengan Kiai Hamid harus sowan dulu ke Kiai Adlan.

“Bahkan suatu hari KH. Thalhah Hasan pernah berkata di Tebuireng itu ada dua penghuni surga. Pertama Kiai Idris Kamali dan Kiai Adlan Aly. Keduanya sama-sama alim, wara, zuhud,” tandas Aziz.

"Noto Ati;  Pelajaran Yang Mulai Dilupakan"

"Belajar dari Kisah Kiai Muhaimin Duraid dan Kiai Adlan Aly"

Suatu hari, guru kami Kiai Muhaimin Duraid rahimahullah oleh banyak orang dianggap sebagai Waliyullah atau kekasih Allah. Mendengar desas-desus itu, suatu ketika Kiai Muhaimin dengan memakai kaos oblong dan celana pendeknya turun langsung ikut girigan atau kerja bakti di kali bersama masyarakat.

Di tengah kerja bakti, telapak kaki Kiai Muhaimin menginjak pecahan beling dan mengeluarkan banyak darah. Sejak kejadian itu, orang-orang mulai mengubah anggapan mereka, "Kiai Muhaimin bukan Wali, dia orang biasa. Wali macam apa kok kena beling keluar darah?"

Syaikh Mutawalli Sya'rawi rahimahullah dalam perjalanan pulang dari mengisi kuliah umum di sebuah Universitas, memilih berhenti di area toilet umum. Supir yang mengantar beliau merasa heran, Syaikh Mutawalli ternyata sedang membersihkan dan menyikat lantai toilet, "Apa yang anda lakukan, Syaikh?"

"Saya sedang menebus dosa yang baru saja saya lakukan. Saya merasa bangga ketika pulang dari kuliah umum dan mendapatkan penghormatan luar biasa dari Universitas. Dengan begini, saya sedang menenangkan hati saya sendiri bahwa saya bukan siapa-siapa." Syaikh Mutawalli menjawab sambil menahan isak.

Dari kisah tersebut, kita dapat mengambil pelajaran penting bahwa sekian panjang perjalanan hidup, sesungguhnya tugas besar manusia adalah noto ati (menata hati).

Kata Nabi, hati adalah pusat segala energi yang mampu menarik manusia pada dua keadaan : tenang dan gemrungsung atau panik.

Hati tenang adalah hati yang lepas dari kecenderungan duniawi : pujian, sanjungan, kehormatan dan bangga diri.

Hati gemrungsung adalah hati yang mengikat pada semua kecenderungan dan keinginan. Apa saja yang tampak menyenangkan, mengenyangkan, memuaskan, ia jejalkan ke dalam hati sehingga menjadi ramai. Hati yang terlalu ramai dengan kecenderungan duniawi, sesungguhnya sedang pelan-pelan menutup diri dari cahaya Allah.

Itulah sebabnya, menata hati adalah ibadah yang paling berat. Manusia bisa mendirikan shalat sehari semalam tanpa henti, manusia bisa menuntaskan puasa berhari-hari, manusia bisa membiasakan diri berangkat ke tanah suci. Tetapi, seluruh energi ibadah itu akan sia-sia jika hati sebagai pusat dari energi sesungguhnya, justru ramai, keruh bahkan gelap karena banyaknya tumpukan keinginan-keinginan duniawi.

Termasuk keinginan dimuliakan, diistimewakan dan dielu-elukan adalah kecenderungan manusia yang bisa menghambat petunjuk Allah. Petunjuk Allah meliputi ilmu, hikmah dan berkah.

Hati adalah tempat dimana Allah berhak hadir di dalamnya. Manusialah yang justru menghadirkan selain Allah di dalam hatinya.

Menempatkan diri sebagai manusia biasa adalah satu dari sekian panjang usaha lahir batin menata hati.

Itulah yang dicontohkan oleh orang-orang saleh dahulu : tidak menuntut keistimewaan atas nama keren dan wibawa.

Kiai Adlan Aly rahimahullah, seorang Kiai besar yang mempunyai ribuan santri justru setiap pagi dan sore hari menyapu sendiri lingkungan pesantrennya. Sampai-sampai suatu ketika pernah disuruh-suruh angkat koper dan karung oleh santri baru yang melihat Kiai Adlan tampak seperti orang biasa.

Apa yang sesungguhnya orang-orang saleh upayakan itu adalah untuk menetralisir atau menenangkan energi hati yang sewaktu-waktu bisa menyeret manusia pada kesombongan.

Imam Ghazali pernah berkata, "Tidak ada kemampuan yang lebih berat, lebih besar daripada kemampuan mengendalikan hatiku sendiri."

Sebab, mustahil hati mampu menampung dua kecenderungan atau lebih, kecuali manusia yang sedang mempersiapkan kehancuran dirinya sendiri.

Oleh KH.  Abdul Mun'im Muzani

TIGA MOBIL SAKSI KAROMAH KH. ADLAN ALY CUKIR

Usai Rejoso, pusat terekat Qodiriyah dan Naqsabandiah di Jombang, berpindah ke Cukir. Perkembangan itu berpusat di Pesantren Putri Walisongo yang didirikan oleh seorang kiai kharismatik dan alim, yaitu KH. Adlan Aly. Santri sekaligus menantu keponakan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari itu juga dikenal sebagai kiai ahli Al Quran, banyak kiai dan ulama yang pernah belajar kepada kiai asal Maskumambang Gresik itu.

Sebagai mana ahli terekat dan mursyid, KH. Adlan Aly memiliki banyak karomah yg khariqul ‘adah (tidak biasa). Salah satunya, beberapa kali ditunjukkan ketika beliau sedang melakukan perjanan.

Dalam buku “Karomah Sang Wali, Biografi KH. Adlan Aly”, Anang Firdaus, penulis buku tersebut, menjelaskan setidaknya tiga peristiwa yg menunjukkan karomah Mbah Delan (panggilan akrab beliau) yg berhubungan dgn kendaraan, dalam hal ini mobil. Menariknya dari ketiga mobil tersebut bukan milik Kiai Adlan, melainkan milik orang lain.

Mobil Cerola milik H. Faqih, juragan sate

Pertama, mobil milik H. Faqih, salah satu tetangga dekat beliau di Cukir yang hingga sekarang memiliki warung sate yang cukup terkenal di Jombang. Mobil Cerola merah itu pernah dipakai Kiai Adlan untuk bepergian ke Jawa Tengah dalam rangka menghadiri suatu acara. Yg bertindak sebagai sopir saat itu seorang bernama Ma’mun, putra Pak Tohir.

Selesai acara, Kiai Adlan langsung pulang, padahal saat itu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Tiba2 di tengah jalan, mobil itu kehabisan bensin. Praktis, sang sopir khawatir, karena pada jam selarut itu, tidak ada yg berjualan bensin eceran, sedangkan kondisinya jauh dari SPBU. Sang sopir lapor kepada Kiai Adlan, “Mbah Yai, bensinnya habis. Lalu beli di mana? Kalau sudah jam sekian, tidak ada penjual bensin yg buka, Yai”.

Mendengar itu, Kiai Adlan pun keluar dari mobil dan berjalan kaki. Di jalan beliau menemukan pedagang degan (kelapa muda). Lalu beliau membeli dua plastik, yg satu diberikan sopir untuk diminum, sedangkan satunya ditaruh di dekat mesin mobil. Setelah itu, Kiai Adlan berkata, “Ya sudah, ayo naik”. Tak disangka, ternyata bensin mobil itu menjadi full. Perjalanan dapat dilanjutkan dan sampai di rumah dgn selamat.

Mobil sedan milik KH. Yusuf Hasyim

Kedua, mobil sedan , milik KH. M. Yusuf Hasyim atau Pak Ud yg saat itu menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng. Kiai Adlan meminjam mobil itu untuk menghadiri acara di Jawa Tengah. Saat perjalanan pulang di daerah Mantingan, oli mesinnya habis. Sang sopir yg bernama Pak Bari melaporkan kepada Kiai Adlan terkait hal itu.

Lalu, Kiai Adlan menjawab, “Teruskan saja tidak apa2”. Sontak membuat Pak Bari bingung, oli habis malah diminta meneruskan perjalanan. Ternyata, walau tanpa oli, mobil tetap bisa berjalan sampai rumah.

Mobil milik Pesantren Tebuireng

Mobil ketiga yg menjadi saksi karomah Sang Wali Cukir, yaitu mobil milik Pesantren Tebuireng pada zaman itu.  Saat itu Nyai Halimah, istri kedua Kiai Adlan, masih sugeng (hidup). Seorang bernama Aji pernah diminta mengantar Kiai Adlan Aly menghadiri undangan ke Bojonegoro menggunakan mobil milik Pesantren Tebuireng. Saat musim hujan, di tengah perjalanan mobil yg dikendarai Kiai Adlan dan Aji terperosok ke lubang jalan dan mogok alias tidak bisa nyala. Kiai Adlan bertanya, “Ada apa?”. “Mobilnya tidak bisa jalan, Yai,” jawab Aji. Kiai Adlan malah menjawab, “Ya sudah kamu di atas saja, saya turun”.

Sang Sopir mengira Kiai Adlan akan mendorong mobilnya. Ternyata bukan. Kiai Adlan Aly tidak mendorong mobil itu, tetapi justru mengangkat mobil tersebut, sehingga bagian yang masuk ke lubang bisa keluar. Perjalanan bisa dilanjutkan dan menyisakan keheranan di hati Aji.

Begitulah sedikit ulasan tentang karomah Sang Wali Cukir, Mursyid Terekat Qodiriyah wa Naqsabadiyah itu. Masih banyak karomah dan cerita unik tentang kiai yg juga semasa hidupnya memiliki sejumlah usaha di bidang perdagangan dan pertanian itu.

Semoga bermanfaat.
Wallahu a’lam.

*Disarikan dari buku “Karomah Sang Wali, Biografi KH. Adlan Aly” karya Anang Firdaus, diterbitkan Pustaka Tebuireng

"Karomah Mbah Yai Adlan Aly Tak Tersentuh Air Hujan"

“Hanya Ngaji Taqrib Saja!”
Itulah jawaban singkat Kikai Adlan Aly saat diwawancarai oleh peneliti dari Leknas dan UGM. Sewaktu diajukan pertanyaan, “ngaji apa kepada hadlratusy syekh ?” Padahal, siapapun tahu, selain hafal al-qur’an alim berbagai khazanah disiplin keilmuan.Tentunya, sang peneliti dibuat bingung bukan alang kepalang, lantaran tak sebagaimana lainnya yang cenderung justru memamerkan kepintarannya saat diminta pendapatnya.

Itulah, sesisi potret Yai Adlan. Selalu menyembunyikan kelebihan dirinya di hadapan orang lain. Senantiasa menganggap dirinya “biasa biasa” saja, tak ubahnya yang lainnya. Menyebut dirinya al- haqir dan al-dhaif tak jemu jemunya ditunjukkan kepada publik. Pernah mendengar Yai Adlan bertaushiyah ? Acapkali sekedar berdoa, narasi dan tutur katanya lebih panjang hanya saat menjadi qari’ Taqrib setiap ramadhan di serambi masjid pesantren Tebuireng.

Dan, hujan-pun turun begitu derasnya di langit Tebuireng. Entah alasan apa yang mendorongnya mesti bergegas kembali ke dalemnya di Tjoekir selepas membaca Taqrib pada khataman kitab ramadha-an di serambi masjid pesantren Tebuireng.Tak menunggu hujan reda. Sebagaimana kebiasaannya, Yai Adlan selalu berjalan kaki Tjoekir-Tebuireng. Masya Allah, saya di antara saksinya, sekujur tubuh Yai Adlan tak tersentuh oleh air hujan. Seolah hujan itu menghindarinya.

Lazimnya, memanglah setiap bacaan Taqrib sampai kepada bagian shalat istisqa’, kendati bukan musim hujan, tiba tiba langit berselimut mendung dan tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Dan, kejadian itu berulang di setiap tahunnya. Bisa dimengerti, bila lahir biografi Yai Adlan dalam kemasan “Karomah dan Waliyullah”.

"Bensin Ajaib Mbah adlan"

Usai Rejoso, pusat terekat Qodiriyah dan Naqsabandiah di Jombang, berpindah ke Cukir. Perkembangan itu berpusat di Pesantren Putri Walisongo yang didirikan oleh seorang kiai kharismatik dan alim, yaitu KH. Adlan Aly.

Santri sekaligus menantu keponakan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari itu juga dikenal sebagai kiai ahli Al Quran, banyak kiai dan ulama yang pernah belajar kepada kiai asal Maskumambang Gresik itu.

Sebagai mana ahli terekat dan mursyid, KH. Adlan Aly memiliki banyak karomah yang khariqul ‘adah (tidak biasa). Salah satunya, beberapa kali ditunjukkan ketika beliau sedang melakukan perjanan.

Suatu ketika selesai acara di daerah Jawa Tengah, Kiai Adlan langsung pulang, padahal saat itu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Tiba-tiba di tengah jalan, mobil (mobil H Faqih penjual sate jombang) itu kehabisan bensin. Praktis, sang sopir (ma'mun putra pak tohir) khawatir, karena pada jam selarut itu, tidak ada yang berjualan bensin eceran, sedangkan kondisinya jauh dari SPBU. Sang sopir lapor kepada Kiai Adlan,

“Mbah Yai, bensinnya habis. Lalu beli di mana? Kalau sudah jam sekian, tidak ada penjual bensin yang buka, Yai”.

Mendengar itu, Kiai Adlan pun keluar dari mobil dan berjalan kaki. Di jalan beliau menemukan pedagang degan (kelapa muda). Lalu beliau membeli dua plastik, yang satu diberikan sopir untuk diminum, sedangkan satunya ditaruh di dekat mesin mobil. Setelah itu, Kiai Adlan berkata,

“Ya sudah, ayo naik”.

Tak disangka, ternyata bensin mobil itu menjadi full. Perjalanan dapat dilanjutkan dan sampai di rumah dengan selamat.

Sumber:
buku “Karomah Sang Wali, Biografi KH. Adlan Aly” karya Anang Firdaus, diterbitkan Pustaka Tebuireng,

"Kyai Adlan Aly Tak Pernah Melihat Langit"

Sosok kiai yang sabar dan istiqamah ini sangat terkenang betul di benak para santri. Ketika mereka ditanya tentang “Bagaimana sosok Kiai Adlan menurut Panjenengan?” maka berbagai komentar yang hampir tak serupa senantiasa kami dengar. Ada yang menuturkan, "Beliau itu kiai yang tidak hanya hafal isi al-Quran tetapi juga menjalankannya”, “Kiai Adlan adalah kuncinya Kiai Hamid Pasuruan. Jadi kalau ingin mudah bertemu dengan Kiai Hamid harus sowan dulu ke Kiai Adlan.”
.
Bahkan Prof. Dr. KH. Thalhah Hasan menambahkan; “Di Tebuireng itu ada dua penghuni surga: Kiai Idris Kamali dan Kiai Adlan Aly. Beliau berdua sama-sama alim, wara', zuhud…"
.
Ada lagi kesan para santri yang membuat kami terkesan unik, “Kiai Adlan Aly itu kiai yang tidak pernah melihat langit.” Istilah ini menunjukkan saking tawadhu’nya Kiai Adlan. Ketika berjalan tidak pernah mengangkat kepala ke atas. Beliau senantiasa menunduk sopan.
.
Di Tebuireng, setiap bulan Ramadhan, Kiai Adlan membacakan kitab matan at-Taqrib. Tepat di posisi yang dulu digunakan Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari mengajar, Kiai Adlam duduk di sana, sedangkan para santri mengitarinya sebagai halaqah ilmiah. Dalam pengajian ini ada karomah Kiai Adlan yang tampak di setiap tahunnya. Ketika pembahasan tepat pada bab Istisqa’ (ritual memohon hujan), anehnya langit Tebuireng menjadi gelap. Dan tiba-tiba saja, bulan Ramadhan yang biasanya kemarau turun hujan deras mengguyur lahan pondok.
.
Langit pun malu oleh Kiai Adlan. Ia tidak pernah dipandang oleh Kiai Adlan. Ketika ia disindir lewat pembacaan bab istisqa’ maka, ia langung menangis menurunkan air mata hujannya.
.
K.H. Adlan Aly wafat pada tanggal 17 Rabiul Awal 1411 H/6 Oktober 1990 M dalam usia 90 tahun. Ulama kharismatik ini kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Tebuireng, Jombang.

"Rahasia Kiai Adlan Aly yang Tidak Mau Pamer Keilmuan"

Tidak salah orang yang pamer kepandaian, pamer kecerdasan, demi kepentingan agama dan kebutuhan masyarakat. Ada kemanfaatan yang lebih besar bahwa jika tidak seperti itu khawatir masyarakat akan salah jalan dan mengikuti orang-orang yang salah petunjuk, lebih-lebih soal agama. Ini soal pertimbangan masing-masing, yang tentu tujuannya harus baik dan mulia.

Di kesempatan lain, ada juga yang tidak suka pamer kepandaian. Ini juga tidak salah. Karena itu pilihan hidup dan bagian dari kehidupan. Berikut saya ceritakan kiai yang tidak suka pamer kepandaian. Saya kutip dari sumber buku kiai nyentrik membela pemerintah yang saya baca ketika di bus perjalanan malang Madura kemarin dan juga media lain.

Sebut saja namanya kiai Adlan Aly Jombang, beliau adalah murid Kiai Hasyim Asy’ari yang sejak dulu memang terkenal dengan kealimannya, ketawaduannya, dari raut wajahnya terpancar penuh ketulusan. Beliau juga senang bergurau yang cerdas, substantif dan halus, humornya tidak menyakiti orang lain.

Beliau juga sosok yang sangat disiplin, tepat waktu, memilki kemampuan yang bisa dikeluarkan kapan saja ketika terdesak. Beliau juga termasuk sosok yang tidak suka pamer kepandaian buktinya:

Pernah suatu ketika ada seorang peneliti dari leknas UGM Yogyakarta datang ke rumah beliau, tentu peneliti itu akan melakukan tugasnya sebagai peneliti, tidak sedang mau bercanda atau apa-apa, iseng-iseng. Tidak.

Memulai pertanyaan, peneliti bertanya, “ngapunten (mohon maaf) kiai, dulu ketika belajar ke Mbah Hasyim Asy’ari apa saja yang panjenengan pelajari ? Tanya seorang peneliti dengan wajah yang serius dan penuh keyakinan

“Cuma kitab taqrib saja” jawab kiai Adlan dengan senyumnya yang menunjukkan kerendahan hatinya.

Nah, tentu saja peneliti itu kaget’, “kok cuma taqrib saja, kan kitab taqrib itu kitab dasar pesantren, kecil lagi” batinnya. Karena tidak yakin dengan kemasyhuran, kealiman, dan kemampuan-kemampuan yang sering diceritakan banyak orang , sang peneliti tanya lagi:

” Masak iya kiai njenengan cuma belajar kitab taqrib saja, apa tidak ada kitab yang lain ?” Tambahnya sambil menunggu jawaban yang pasti dan meyakinkan.

“Ada, banyak juga yang lain yang saya pelajari, cuma yang saya ingat kitab taqrib saja, yang lain sudah lupa,” jawab Kiai Aly dengan sedikit mengelak dan menghindar dari rasa pamer.

Itulah kenapa saya katakan di atas kadang tidak pamer kepandaian itu bagian pilihan hidup. Mereka punya pertimbangan sendiri untuk bisa bermanfaat untuk agama dan bangsa. Tidak terkecuali pilihan yang diambil oleh kiai Adlan Aly ini.

Di beberapa literatur lain, kenapa kiai Adlan Aly cuma ingat kitab taqrib saja. Tidak heran dari beberapa kesaksian santri-santrinya tiap kali ngaji kitab Fathul Qorib-Taqrib dan masuk bab istisqo’ (shalat meminta hujan) ketika sudah dipraktikkan pasti langsung turun hujan, padahal sebelumnya cuaca panas. Dan kejadian terjadi berulang-ulang kali dan langsung disaksikan santri-santrinya.

Karenanya imam Nawawi menyebutkan dalam kitab Maraqil Ubudiyah bahwa dua hal penting yang harus diperhatikan seseorang dalam menunjukkan/memamerkan kepandaian atau apa saja. Satu, Mazdmumun (pamer yang dicela). Hal ini tentu memerkan prestasi bermaksud untuk menyombongkan diri, seolah-olah hanya dirinya lah yang punya prestasi seperti itu. Dan hal ini cenderung meremehkan orang lain dan mendiskreditkan orang lain

Dua, Mahbubun (pamer yang disenangi dan dianjurkan). Memamerkan prestasi, kepandaian atau sebuah kebaikan dan keberhasilan itu justru sangat dianjurkan oleh agama dengan syarat ada kemaslahatan terhadap agama.

Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa yang dimaksud kemaslahatan agama adalah di dalamnya mengandung unsur amar ma’ruf nahi munkar, mengandung nasehat atau petunujuk untuk sebuah kemaslahatan.

"IJAZAH DOA KH. ADLAN ALY UNTUK PARA PENUNTUT ILMU"

Setiap pondok pesantren memiliki sesuatu yg menjadi ciri khas dari pondok pesantrennya masing-masing. Ciri khas ini akan melekat pada diri para santrinya. Berawal dari pendiri sebuah pondok pesantren, pengasuh, dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Begitu pula dalam hal amalan atau wiridan yg diberikan seorang kiai atau ibu nyai pengasuh pondok pesantren secara turun temurun kepada santrinya. Terkadang amalan yg diwariskan oleh Kyai atau Nyai pesantren tersebut merupakan amalan yg diberikan gurunya saat beliau masih menjadi santri di pondok pesantren terdahulu.

Seperti halnya amalan doa yg diberikan oleh muassis Pondok Pesantren Puteri Walisongo pertama, KH. Adlan Aly. Beliau mewariskan amalan berupa doa untuk mencerdaskan akal dan doa untuk menghafal al-Quran.

Doa Mencerdaskan Akal

Doa ini diambil dari QS. al-Anbiyaa ayat 79, dengan mengamalkan doa ini diharapkan dapat mencerdaskan akal orang yg membaca dan mengamalkannya, sebagai berikut:

فَفَهّمْنَهاَ سُلَيْمنُ وَ كُلاًّ اتَيْناَ حُكْماً وَّعِلْماً وَّ سَخَّرْ ناَ مَعَ دَاوُدَ الْجِباَلَ يُسَبِّحْنَ وَألطَّيْر وَ كُنَّأ فَعِلِيْنَ

“Maka Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yg lebih tepat), dan kepada masing2, Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung2 dan burung2, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yg melakukannya.”

Doa ini di lafadzkan sebelum belajar dan setelahnya, bisa juga dibaca setelah sholat Magrib. Diharapkan dengan membaca ayat ini Allah Swt. memberikan pemahaman seperti apa yang Allah Swt. berikan kepada Nabi Sulaiman serta dapat memecahkan problematika kehidupan.

Doa untuk Penghafal Al Quran

Berikutnya adalah doa untuk Penghafal al-Quran. Doa ini dilafadzkan sebelum menghafal ayat al-Quran, diharapkan setelah membaca doa bisa diterangkan hatinya dan dilancarkan lisannya serta dapat mengamalkan kandungan ayat yg dihafalkan.

اَللَّهُمَّ نَوِّرْبِكِتاَبِكَ بَصَرى وَاَطْلِقْ بِهِ لِسَانِى وَاشْرَحْ بِهِ صَدْرِى واسْتَعْمِلْ بِهِ بَدَ نِى بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ فَاِ نَّهُ لاَ حَوْلَ وَ لاَقٌوَّةَ اِلاَّ بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

“Yaa Allah terangilah dgn Kitab Suci-Mu terhadap mataku, lancarkanlah lisanku dgnnya, lapangkanlah dadaku (hatiku) dengannya, jadikan badanku (diriku) mengamalkan isinya dengan pertolongan daya dan kekuatan-Mu. Sesungguhnya tidak ada daya dan  kekuatan kecuali atas pertolongan Allah Swt. Yang Maha Luhur dan Agung”.

Wallahu’alam.....

Tuesday, March 2, 2021

KH. Arwani Amin Kudus yang Jago Kitab

KH. Arwani Amin Kudus yang Jago Kitab

Selama ini jika mendengar nama KH. Arwani Amin Kudus, yang terlintas adalah ulama ahli Qiraat. Atau jika pendengarnya orang-orang sepuh, maka yg terfikir beliau mursyid thariqoh. Jarang sekali yang menilik sisi kealiman KH. Arwani Kudus dalam bidang kitab kuning.

Nah, catatan KH. Abu Chaer bin Abdul Mannan Kaliwungu Kendal ini memberikan sedikit gambaran ttg itu.

KH. Abu Chaer adalah ulama besar asal Kaliwungu Kendal. Masa mudanya beliau habiskan untuk nyantri ke berbagai daerah di Jawa. Mulai dari Kaliwungu daerah asal beliau sendiri, Tebuireng Jombang, hingga Tremas Pacitan. Guru-guru dan kitab-kitab yang beliau pelajari beliau rekam dalam sebuah kitab Minhah Al-Hannan fi Tarjamah Ibn Abdil Mannan (kitab ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Gus Syafiq Cokrow Zastrow Prawirow mohon fotokan cover kitabnya).

Dalam kitab ini, KH. Abu Chaer menjelaskan bahwa pertama kali mondok di Tebuireng Jombang adalah pada bulan Syawal 1345 H. Beliau diterima di kelas V Madrasah Salafiyyah Tebuireng. Saat itu salah satu guru yang mengajar beliau adalah KH. Arwani Amin Kudus.

KH. Abu Chaer mencatat:
الشيخ القارئ أرواني القدسي، يدرسنا متن ألفية ابن مالك، وزبد ابن رسلان، ومتن الكافي في العروض والقوافي لأحمد بن شعيب القنائي، وشيئا من عدة الفارض للشيخ سعيد بن سعد بن نبهان، وشيئا من الجغرافية الحديثة لأحمد محافظ

"(Di antara guru yang mengajar kala itu adalah) KH. Arwani Amin Kudus Al-Qari'. Beliau mengajari saya:
1. Matan Alfiyyah karya Imam Ibni Malik (fan Nahwu dan Shorof).
2. Nadham Zubad karya Imam Ibnu Rulsan (fan Fiqh madzhab Syafi'i).
3. Matan Al Kafi karya Syaikh Ahmad bin Syu'aib Al-Qanna'i (fan Arudl dan Qawafi).
4. Sebagian kitab 'Iddatul Faridl karya Syaikh Said bin Sa'd bin Nabhan (fan Ilmu Waris Islam).
5. Sebagian kitab Al-Jughrafiyyah Al-Haditsah karya Ahmad Muhfidh (fan Geografi Modern)."

Jika lihat kitab-kitab yang KH. Arwani Amin ajarkan saat masih di Tebuireng, kita dapat menyimpulkan bahwa beliau adalah Allamah yang Mutafannin. Tidak hanya pakar dalam ilmu qiraat dan thariqah saja, melainkan juga Nahwu & Shorof, Fiqh, Arudl, Faraidl, dan bahkan mengajarkan Ilmu Geografi Modern juga.

Tambahan informasi dari Yai Aslim Akmal , bahwa KH. Arwani Amin meneruskan wadhifah mengajar kitab Shohih Al-Bukhari dan Tafsir Al-Jalalain di Masjid Menara Kudus pasca kewafatan KHR. Asnawi Kudus pada tahun 1959 M. Wadhifah itu beliau jalankan hingga sebelum sakit berat yg beliau alami.

Semoga Allah menciptakan Mbah Arwani - Mbah Arwani baru dari anak cucu kita. Aamiin.

Monday, November 23, 2020

MANAQIB HADROTUS SYECK ABDULLAH FAQIH LANGITAN"

MANAQIB HADROTUS SYECK ABDULLAH FAQIH LANGITAN"
Copas via WAG
Disampaikan oleh : KH MASBUHIN FAQIH.
Pada saat acara haul KH. ABDULLAH FAQIH yang ke-5 di pondok pesantren Langitan.

Ditulis oleh : Al faqir ila ridhollah wa ridloh masyayikhihi Taufiqurroziqin Tammama.

Alhamdulilĺah kita semua diberi kesempatan bisa datang dalam acara Haul ini semoga dengan menghadiri haul ini kita bisa mendapatkan barokah dan menambah kekuatan rohaniyah antara kita dan guru-guru kita sebab mengalirnya barokah sedikit banyaknya barokah yang kita dapat itu tergantung kuat lemahnya hubungan antara kita dan guru-guru kita walaupun guru-guru kita sudah tiada.
.
Saya di sini diutus menceritakan kepribadian syaikhina wa murobbi ruhina syech abdullah faqih.
.
Saya ini santri bukan kiai selalu berusaha tetap menjaga bagaimana hubungan antara santri dan kiai walaupun kiai sudah tiada.
.
Beliau dalam mentarbiyah santri itu luar biasa khususnya kepada saya pribadi telaten sabar istiqomah.
Pada suatu saat pada tuhun 1976 saya pamit kepada hadrotus syech, sebab pada saat itu ayah mendatarkan saya guru agama lalu saya pamit beliau bertanya "nandi kon mole?" (Kenapa kamu pulang?"
Kemudian Saya mator "duko tiyang sepah kulo kok dafataraken kulo guru agama" (gak tau yai, ini abah saya kok mendatarkan saya ujian guru agama)
.
Beliau dawuh kepada saya "aku gak ridloh nek kapan kon melok ujian guru agama, warahen wong tuamu aku nglarang, seng tekun olehmu ngaji nek wes hasel, nasrul ilmu seng ihlas nek kapan kon gak mangan keto'en drijiku" (aku gak ridloh kalau kamu ikut ujian guru agama, beri tahu orang tuamu aku melarang, yang temun ngaji kalau kamu sudah hasil, nashrul ilmi yang ihlas, kalau besok kamu tak bisa makan potong saja jariku).
.
Itulah dawuh kepada saya, begitu perhatianya dan kasafnya beliau.

"اذا اختلف ابو الروح و ابو الجسد لا بد ان نقدم اباالروح"
"Jika ada perselisihan antara guru dan orang tua maka kita wajib mendahulukan guru"

Oleh karnaya sam'an wa tho'atan saya kepada hadrotus syech, kashaf beliau, jika pada saat itu saya menuruti keinginan ayah saya maka tidak akan ada pondok pesantren "MAMBU'US SHOLIHIN".
.
Lah memang kenyataanya ya seperti itu saya pulang dari pondok sudah punya anak 4 tidak punya pekerjaan  apa-apa ya saya ikut dawuh hadrotus syech yaitu nashrul ilmi, alhadulillah apa yang telah di dawuhkan beliau kepada saya terjadi.
.
Cara mentarbiyah beliau kelada kami luar biasa sabarnya.
.
Pada suatu saat saya dimintai tolong oleh adek saya "Asyfihani" yang mondok di pasuruan, supaya menghantarkan sowan kepada beliau, saya tanya "perlune opo kon sowan ng hadrotus syech?" (Apa perlumu kok mau sowan kapeda hadrotussyech?)
Dia menjawab "iki cak, aku kate jalok jubah.e mbah yai abdul hadi seng nok hadrotussyech" (ini kak, saya mau minta jubahnya mbah yai abdul hadi yang dibawah oleh hadrotussyech).
.
Saat itu saya hantarkan, begitu baru saja duduk dan adek saya belum mator keperluanya beliau sudah dawuh "aku nduwe jubahe bapak 2 tak kekno koen 1, tapi lironono sarunge mbah hamid (pasuruan)" (saya punya jubah ayah 2 saya berikan kepada kamu, tapi kamu ganti dengan sarungnya mbah hamid (pasuruan)).
.
Demikian juga termasuk bagian dari kashafnya beliau, apa yang menjadi keinginan hati adek saya langsung ditebak saya beliau.
.
Beliau dalam mentarbiyah kami bukan hanya saat beliau hidup, bahkan ketika beliau wafatpun beliau juga mentarbiyah kami.
.
Pada suatu saat kami membuat rouha kitab "Shohih bukhori" dan setiap tanggal 1 rojab dan akhir bulan rojab hatam, karena saya terlalu capek usai perjalanan saya tidak ikut.

Ketika malam hari saya langsung ditemui oleh beliau.

Pada saat itu beliau ngaji, dan saya datang terlambat dan sudah selesai lalu beliau marah dan dawuh kepada saya "teko ndi ae hin, awakmu kok kari ngaji karo aku?" (Dari mana saja hin, kamu kok terlambat ngaji bersamaku?"
.
Susahnya luar biasa, saya pikir-pikir apa ya yang saya lakukan sehingga beliau marah kepadaku seperti ini.
.
Kemudian saya berkeyakinan bahwa mungkin karna saya tidak mengikuti rouha bukhori yang saya dirikan.
.
Sudah saya kapok secapek apaupun saya tidak akan meninggalkan rouha itu.
Saat itu saya begitu susah,
.
Dan pada saat itu juga saya di temui lagi, mungkin sebagai pelipur hati, saya di ajak makan-makan bersama keluarga alhamdulillah.
.
Demikian tarbiyah beliau walaupun sudah meninggalkan kita.
.
Beliau sangat luar biasa dalam berpegang teguh pada syariat, tidak bisa ditawar.
.
Pada suatu saat ketika saya menjabat sebagai kepala sekolah di langitan mengadakan acara akhirussnah, kalau tidak salah insya'allah yang menjadi ketua panitia yaitu KH. MAGHFUR BISYRI insya'allah. di acara tersebut setiap tingkatan menampilkan suatu karya seni.
Di acara tersebut tidak terkontrol karna salah satu kelas ada yang menampilkan "Genggongan/Genggong" (semacam alat musik)
.
Langsung pada saat itu beliau marah dan melemparkan bakyak kearah cendela kaca yang ada di madrasah, semua santri dan guru-guru lari tinggal saya berdiri didepan madrasah dan saya hanya bisa menangis, dan pasrah kepada beliau, lalu beliau dawuh "hin nang omah hin" (hin ikut saya kerumah)
.
Lalu beliau dawuh "kiro-kiro bapak kok sek urep ngono awakmu wani nggawe kegiatan ngono?" ( kira-kira kalau abah (mbah yai abdul hadi) masih hidup kamu berani buat acara seperti itu?) Saya tidak menjawab apa-apa, hanya hanya bisa menangis.
.
Lalu beliau dawuh "wes guru-guru kumpulno konkonen mrene kabeh" ( sudah, guru-guru kumpulkan semua, suruh dan kesini)
Jam 12 malam guru-guru sudah bersembunyi kemana, sampai saya kerepotan mencarinya sampai waktu satu jam sudah terkumpul dan sowan beliau lalu beliau dawuh sperti apa yang telah didawuhkan kepada saya, semua guru-guru menangis lalu beliau dawuh "wes saiki moroo kabeh ng pesarean jalu'o sepuro bapak" (sudah, sekarang kamu datang kepemakaman masyayih dan mintalah maaf kepedah abah).
.
Begitulah tarbiyah dari beliau dan masalah hukum tidak bisa ditawar lagi, barang haram ya haram, tidak ada rukhsoh lagi
Ini yang harus kita contoh.
.
Kita ngaji disini bukan sekedar mengabil ilmunya saja, tapi haliyahnya, maqomnya, harus kita tiru.
Sebagaimana sudah nyata beliau insya'allah adalah minaz zahidin (sebagian dari ulama yang zuhud).
Sejak saya mondok sampai sekarang rumahnya ya seperti itu.
لا يلتفت الى الدنيا بالمرة، و قلبه يتوجه الى الله سبحنه و تعلى.
"Tidak menoleh kepada dunia walau hanya sekali, dan hatinya slalu menghadap allah"
.
Di dalam memperjuangakan agama allah
لا يسمع لومة لائم
"Tidak pernah mendengar cacian orang"

Sebab disaat pemilihan bupati di daerah gresik ,lamongan, tuban, dan bojonegoro beliau selalu ikut campur.
Karna beliau slalu menginginkan yang jadi bupati di daerah tersebut adalah orang NU.
.
Pada suatu saat saya manghantarkan pak khuluq sowan minta restu kepada beliau untuk mencalonkan bupati yang pertama kali, sampai beliau memberi kami uang sebesar 50 juta di hadpan kami, subhanallah luar biasa perhatiannya, beliau dawuh "iki luk duwek teko aku, iki nek kapan dadi mok lironi yo alhamdulillah, nek gak yo tak ihlasno awkmu" ( ini luk uang dari saya, kalau kamu jadi kamu ganti ya alhamdulillah, kalau tidak ya saya ihlaskan kepadamu).
Jadi pada umumnya orang yang mendukung calon bupati dia akan mendapatkan uang, tapi beliau malah mengeluarkan uang, walaupun di su'udhoni orang macam-macam, tapi beliau tetap
لا يلتفت الى قول الغير ويستمر في الجهات لاجل وجه الله سبحنه وتعالى.
"Tidak menghiraukan ucapan orang lain, dan meneruskan perjuangan untuk mencari ridloh allah semata"
.
Ini yang benar-benar harus ditiru oleh santri-santri.
.
Dan kita mengambil kesimpulan bahwasanya beliau mempunyai pandangan yang sangat luas sekali, memperjuangkan agama bukan dalam satu bidang saja, tapi beliau berjuang diberbagai bidang yang berbeda-beda.
Beliau aktif istiqomah mentarbiyah para santri dan beliau juga ikut andil dalam memperbesar Nahdlotul Ulama, PKB, PKNU ratusan juta sudah dikeluarkan untuk memperjuangakan kepentingan PKNU.

Saya juga sering terlibat dalam PKB dan PKNU.
Yang terahir beliau dawuh " iki hin terahir, kapan ora biso teros PKNU, iki terahir aku berjuang melalui partai" (ini terahir hin, ini kalau tidak bisa terus, ini adalah yang tarahir perjuanganku melalui partai).
Begitulah hadrotussyech.
.
Pada waktu bulan sya'ban kami mator kepada beliau "romo yai tanah enkang wonten balung panggang meniko, sakderenge dipon bangun pondok, nyuwun dumateng panjengan supados jenengan incak" (romo yai tanah yang ada di balongpanggang itu sebelum dibangun pondok, harap kepada jenengan supaya jenengan injak terlebih dahulu).
Jawaban beliau "iyo, tapi peletakan batu pertama, bah  watu sitok tok gak opo-opo" (iya, tapi saat peletakan batu pertama, walau hanya satu batu saja).
.
Di beri jangka waktu 10 hari, pada hari itu, beliau akan datang ke balungpanggang.
.
Alhamdulillah, beliau bisa datang, dan yang meletakan batu pertama juga beliau.
Kemudian anak-anak saya dikumpulkan, lalu diberi tausia dan yang pokok adalah "tak jalok awakmu-awkmu kabeh seng rukun karo dulur" (saya minta kamu semua, yang rukun antar saudara-saudaramu).

Ternyata terahir beliau bulan syawal beliau sakit kemudian meninggalkan kita semua.

Begutilah perhatian beliau pada para santri.

Sekarang apa balasan kita kepada guru kita?

Jika kita benar-benar ingin berkumpul dengan beliau, apa saja yang beliau lakukan harus kita tiru dan meneruskan perjuangan beliau.
.
Insya'allah kita bisa kumpul dengan beliau.
Amin.

Semoga kita bisa meniru langka-langkanya dan menjadi suri tauladan bagi anak-anak kita nanti dan apa yang kita kerjakan selalu membahagiakan hati beliau.
.
Semoga dengan sedikit cerita ini dapat mengobati rasa rindu kita dan menambah rasa cinta kita kepada beliau.
.
Dan semoga beliau tetap dalam naungan rahmatnya.
.
Amin ya robbal alamin.

Saksikan dan Ikutilah Haul Virtual KH. Abdullah Faqih ke-9
Di Youtube Langitan TV

📅 : Senin, 23 November 2020
⌚ : Pukul 19:30 WIB
🔴 : Live Youtube Langitan TV

➖➖➖➖
#menaralangitan #haulvirtual #haulkhabdullahfaqih #haulmbahyai #pondoklangitan #langitan

Thursday, October 1, 2020

Biografi Gus Baha'

Biografi Gus Baha'

Gus Baha atau KH. Ahmad Bahauddin Nursalim adalah putra Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Alquran di Kragan, Narukan, Rembang. Kiai Nur Salim adalah murid dari Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdullah Salam, Kajen, Pati. Nasabnya bersambung kepada para ulama besar. Bersama Kiai Nur Salim inilah, Gus Miek (KH Hamim Jazuli) memulai gerakan Jantiko (Jamaah Anti Koler) yang menyelenggarakan semaan Al-Qur’an secara keliling.
Jantiko kemudian berganti Mantab (Majelis Nawaitu Topo Broto), lalu berubah jadi Dzikrul Ghafilin. Kadang ketiganya disebut bersamaan: Jantiko-Mantab dan Dzikrul Ghafilin.

Kiai kelahiran bantul 29 September-1970 ini memilih Yogyakarta sebagai tempatnya memulai pengembaraan ilmiahnya. Pada tahun 2003 ia menyewa rumah di Yogya. Kepindahan ini diikuti oleh sejumlah santri yang ingin terus mengaji bersamanya.

PENDIDIKAN

Gus Baha' kecil memulai menempuh gemblengan keilmuan dan hafalan Al-Qur'an di bawah asuhan ayahnya sendiri.

Hingga pada usia yang masih sangat belia, beliau telah mengkhatamkan Al-Qur'an beserta Qiro'ahnya dengan lisensi yang ketat dari ayah beliau. Memang, karakteristik bacaan dari murid-murid Mbah Arwani menerapkan keketatan dalam tajwid dan makhorijul huruf.

Menginjak usia remaja, Kiai Nursalim menitipkan Gus Baha' untuk mondok dan berkhidmat kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang, sekitar 10 km arah timur Narukan.

Di Al Anwar inilah beliau terlihat sangat menonjol dalam fan-fan ilmu Syari'at seperti Fiqih, Hadits dan Tafsir.

Hal ini terbukti dari beberapa amanat prestisius keilmiahan yang diemban oleh beliau selama mondok di Al Anwar, seperti Rois Fathul Mu'in dan Ketua Ma'arif di jajaran kepengurusan Pesantren Al Anwar.

Saat mondok di Al Anwar ini pula beliau mengkhatamkan hafalan Shohih Muslim lengkap dengan matan, rowi dan sanadnya. Selain Shohih Muslim beliau juga mengkhatamkan hafalan kitab Fathul Mu'in dan kitab-kitab gramatika arab seperti 'Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik.

Menurut sebuah riwayat, dari sekian banyak hafalan beliau tersebut menjadikan beliau sebagai santri pertama Al Anwar yang memegang rekor hafalan terbanyak di era beliau.

Bahkan tiap-tiap musyawarah yang akan beliau ikuti akan serta merta ditolak oleh kawan-kawannya, sebab beliau dianggap tidak berada pada level santri pada umumnya karena kedalaman ilmu, keluasan wawasan dan banyaknya hafalan beliau.

Selain menonjol dengan keilmuannya, beliau juga sosok santri yang dekat dengan kiainya. Dalam berbagai kesempatan, beliau sering mendampingi guru beliau Syaikhina Maimoen Zubair untuk berbagai keperluan. Mulai dari sekedar berbincang santai, hingga urusan mencari ta'bir dan menerima tamu-tamu ulama'-ulama' besar yang berkunjung ke Al Anwar. Hingga beliau dijuluki sebagai santri kesayangan Syaikhina Maimoen Zubair.

Pernah pada suatu ketika beliau dipanggil untuk mencarikan ta'bir tentang suatu persoalan oleh Syaikhina. Karena saking cepatnya ta'bir itu ditemukan tanpa membuka dahulu referensi kitab yang dimaksud, hingga Syaikhina pun terharu dan ngendikan "Iyo ha'... Koe pancen cerdas tenan" (Iya ha'... Kamu memang benar-benar cerdas).

Selain itu Gus Baha' juga kerap dijadikan contoh teladan oleh Syaikhina saat memberikan mawa'izh di berbagai kesempatan tentang profil santri ideal. "Santri tenan iku yo koyo baha' iku...." (Santri yang sebenarnya itu ya seperti baha' itu....) begitu kurang lebih ngendikan Syaikhina.

Dalam riwayat pendidikan beliau, semenjak kecil hingga beliau mengasuh pesantren warisan ayahnya sekarang, beliau hanya mengenyam pendidikan dari 2 pesantren, yakni pesantren ayahnya sendiri di desa Narukan dan PP. Al Anwar Karangmangu, Rembang.

Pernah suatu ketika ayahnya menawarkan kepada beliau untuk mondok di Rushoifah atau Yaman. Namun beliau lebih memilih untuk tetap di Indonesia, berkhidmat kepada almamaternya Madrasah Ghozaliyah Syafi'iyyah PP. Al Anwar dan pesantrennya sendiri LP3IA.

Pernikahan

Setelah menyelesaikan pengembaraan ilmiahnya di Sarang,beliau menikah dengan seorang Neng pilihan pamannya dari keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Ada cerita menarik sehubungan dengan pernikahan beliau. Diriwayatkan, setelah acara lamaran selesai, beliau menemui calon mertuanya dan mengutarakan sesuatu yang menjadi kenangan beliau hingga kini. Beliau mengutarakan bahwa kehidupan beliau bukanlah model kehidupan yang glamor, bahkan sangat sederhana.

Beliau berusaha meyakinkan calon mertuanya untuk berfikir ulang atas rencana pernikahan tersebut.
Tentu maksud beliau agar mertuanya tidak kecewa di kemudian hari. Mertuanya hanya tersenyum dan menyatakan "klop" alias sami mawon kalih kulo.

Kesederhanaan beliau ini dibuktikan saat beliau berangkat keSidogiri untuk melangsungkan upacara akad nikah yang telah ditentukan waktunya. Beliau berangkat sendiri ke Pasuruan dengan menumpang bus regular alias bus biasa kelas ekonomi. Berangkat dari Pandangan menuju Surabaya, selanjutnya disambung bus kedua menuju Pasuruan. Kesederhanaan beliau bukanlah sebuah kebetulan, namun merupakan hasil didikan ayahnya semenjak kecil.

Keakhlakannya

Beliau hidup sederhana bukan karena keluarga beliau miskin. Dari silslah keluarga beliau dari pihak ibu, atau lebih tepatnya lingkungan keluarga di mana beliau diasuh semenjak kecil, tiada satu keluargapun yang miskin.

Bahkan kakek beliau dari jalur ibu merupakan juragan tanah di desanya. Saat dikonfirmasi oleh penulis perihal kesederhanaan beliau, beliau menyatakan bahwa hal tersebut merupakan karakter keluarga Qur'an yang dipegang erat sejak zaman leluhurnya.

Bahkan salah satu wasiat dari ayahnya adalah agar beliau menghindari keinginan untuk menjadi 'manusia mulia' dari pandangan keumuman makhluk atau lingkungannya. Hal inilah yang hingga kini mewarnai kepribadian dan kehidupan beliau sehari-hari.

Setelah menikah beliau mencoba hidup mandiri dengan keluarga barunya. Beliau menetap di Yogyakarta sejak 2003. Selama di Yogya, beliau menyewa rumah untuk ditempati keluarga kecil beliau, berpindah dari satu lokasi kelokasi lain. Semenjak beliau hijrah ke Yogyakarta, banyak santri-santri beliau di Karangmangu yang merasa kehilangan induknya.

Hingga pada akhirnya mereka menyusul beliau ke Yogya dan urunan atau patungan untuk menyewa rumah di dekat rumah beliau. Tiada tujuan lain selain untuk tetap bisa mengaji kepada beliau.

Ada sekitar 5 atau 7 santri mutakhorijin Al Anwar maupun MGS yang ikut beliau ke Yogya saat itu. Saat di Yogya inilah kemudian banyak masyarakat sekitar beliau yang akhirnya minta ikut ngaji kepada beliau.

Pada tahun 2005 ayah beliau KH. Nursalim jatuh sakit. Beliau pulang sementara waktu untuk ikut merawat ayah beliau bersama keempat saudaranya.

Namun siapa sangka, beberapa bulan kemudian Kiai Nursalim wafat. Gus Baha' tidak dapat lagi meneruskan perjuangannya di Yogya sebab beliau diamanahi oleh ayah beliau untuk melanjutkan tongkat estafet kepengasuhan di LP3IA Narukan.

Banyak yang merasa kehilangan atas kepulangan beliau ke Narukan. Akhirnya para santri beliaupun, sowan dan meminta beliau kerso kembali ke Yogya.

Hingga pada gilirannya beliau bersedia namun hanya satu bulan sekali, dan itu berjalan hingga kini. Selain mengasuh pengajian, beliau juga mengabdikan dirinya di Lembaga Tafsir Al-Qur'an Universitas Islam Indonesa (UII) Yogyakarta.

Keilmuannya

Selain Yogyakarta beliau juga diminta untuk mengasuh PengajianTafsir Al-Qur'an di Bojonegoro, Jawa Timur. Di Yogya minggu terakhir, sedangkan di Bojonegoro minggu kedua setiap bulannya.

Hal ini beliau jalani secara rutin sejak 2006 hingga kini. Di UII beliau adalah Ketua Tim Lajnah Mushaf UII.

Timnya terdiri dari para Profesor, Doktor dan ahli-ahli Al-Qur'an dari seantero Indonesia seperti Prof. Dr. Quraisy Syihab, Prof. Zaini Dahlan, Prof. Shohib dan para anggota Dewan Tafsir Nasional yang lain.

Suatu kali beliau ditawari gelar Doctor Honoris Causa dari UII, namun beliau tidak berkenan. Dalam jagat Tafsir Al-Qur'an di Indonesia beliau termasuk pendatang baru dan satu-satunya dari jajaran Dewan Tafsir Nasional yang berlatar belakang pendidikan non formal dan non gelar.

Meski demikian, kealiman dan penguasaan keilmuan beliau sangat diakui oleh para ahli tafsir nasional.

Hingga pada suatu kesempatan pernah diungkapkan oleh Prof. Quraisy bahwa kedudukan beliau di Dewan Tafsir Nasional selain sebagai Mufassir, juga sebagai Mufassir Faqih karena penguasaan beliau pada ayat-ayat ahkam yang terkandung dalam Al-Qur'an. Setiap kali lajnah 'menggarap' tafsir dan Mushaf Al-Qur'an,

Posisi beliau selalu di dua keahlian, yakni sebagai Mufassir seperti anggota lajnah yang lain, juga sebagai Faqihul Qur'an yang mempunyai tugas khusus mengurai kandungan fiqh dalam ayat-ayat ahkam Al-Qur'an.

Gus Baha muda waliyullah hebat di indonesia (krn menguasai al'Qur'an banyak hafal hadist dan kitab dan yg terhebat ke piawaan nya dlm menyampaikan dan menerangkan agama bisa dimengerti oleh semua lapisan masyarakat islam dan tidak terbantahkan

Selamat Ulang Tahun, K.H. Bahaudin Nursalim (Gus Baha).

Sehat selalu dalam menebar Islam yang ramah, indah, mudah sekaligus menyenangkan.

Walahualam...

Al-fatihah.........

Wednesday, September 30, 2020

RISET KIAI WAHAB DAN FENOMENA PONDOK DAN SANTRI HILANG

RISET KIAI WAHAB DAN FENOMENA PONDOK DAN SANTRI HILANG

Kiai Wahab Chasbullah melakukan riset tentang santri dalam kurun 40 tahun terakhir dari tahun dilakukannya riset (1887-1927). Riset  lapangan ini dilakukan sekitar tahun 1926-1927. Area riset adalah kota Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto dan Jombang. Hasil risetnya menunjukkan grafik menurun jumlah santri yang totalnya turun menjadi 3.993.

Tentu riset ini menarik, zaman segitu jaringan NU baru dibentuk tapi sudah melakukan riset relatif  detail di area yang luas serta dengan data ditampilkan apa adanya. Paparan data riset Kiai Wahab juga bisa diambil beberapa poin-poin  menarik:

1. Pada tahun 1926 (lihat  data riset di  bagian  akhir tulisan ini) pesantren Tebuireng jumlah santrinya sudah ratusan (300 murid). Dalam waktu tidak lama yakni semenjak KH. Hasyim Asy'ari memimpin NU ada kenaikan signifikan jumlah santri Tebuireng. Data dari riset penjajah Jepang pada tahun 1942 menunjukkan bahwa alumni santri pondok Tebuireng yang berdiri tahun 1899 ini telah menyebar di Nusantara sebanyak 20 ribuan santri (pendataan oleh Jepang ini saya nukil dari buku karya Akarhanaf alias KH. Abdul Karim bin KH Hasyim Asy'ari dalam karyanya  "Kiai Hasjim Asj'ari, Bapak Ummat Islam Indonesia"). Lonjakan kenaikan santrinya begitu luar biasa dahsyat.

2. Pondok  Gedang atau ngGedang (tempat kelahiran Hadlaratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari) masih dalam nukilan buku karya Akarhanaf dijelaskan bahwa ngGedang seabad lalu disebut pondok terkenal dan  saat itu hanya pondok itu satu satunya yang boleh dibanggakan.

Penjelasan Akarhanaf di buku yang beliau tulis pada tahun 1959 ini bersesuaian dengan riset Mbah Kiai Wahab bahwa sebelum tahun 1926-1927,  pondok Gedang (lebih tepatnya namanya ngGedang nJobo seperti yang juga ditulis di buku sejarah Tambakberas) santrinya berjumlah 500. Tapi saat riset  dilakukan, jumlahnya tinggal 5 santri setelah wafatnya KH. Usman (menantu pendiri pondok Tambakberas dan mertua KH. Asy'ari).

3. Alkisah sisa santri yang  ada di Gedang diboyong  ke Pondok Tambakeras (jarak lokasi pondok Gedang dengan Pondok Tambakberas sekitar 200 meter, hanya dipisah sungai Tambakberas yang pas di timur rumah saya. Sungai Tambakberas ini  mempunyai nilai historis karena terdapat kisah perang Ranggalawe yang  menurut beberapa masyarakat Tambakberas terjadi di sungai itu, bahkan di makam Mbah Kiai Usman juga ada makam yang menurut kisah adalah makam istri Ranggalawe).

4. Ternyata di Tambakberas pada tahun 1926/1927 sudah banyak  pondok kecil. Ada pondok Tambakberas Kiai Chasbullah, pondok Tambakberas Kiai Syafii, pondok Tambakberas Kiai Baidhowi,  pondok Tambakberas Kiai  Abdur Rauf, dan Tambakberas Kiai Imam. Sayang sampai sekarang jejak pondok atau musholla  banyak tidak diketahui.

Demikian pula di Denanyar ada pondok Denanyar Kiai Bisri dan  pondok Denanyar Kiai Thoyyib. Adapun Rejoso yang tercatat pondok Rejoso Kiai Syafawi.

5. Berangkat dari riset KH. Wahab, proyek madrasah Mubdil Fan yang didirikan Mbah Wahab pada tahun 1912 di Tambakberas nampaknya vakum lama (kisah bagaimana Mbah Wahab mendirikan madrasah lalu dilempari batu bata oleh Mbah Kiai Chasbullah bisa dibaca di Buku Tambakberas). Apalagi beliau lebih banyak di Surabaya  pada  dan pada tahun 1914/1916 mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan di Surabaya. Sekalipun pernah vakum, hingga tahun riset dilakukan namanya kadang disebut madrasah mubdil fan kadang disebut madrasah Tambakberas.

6. Dalam buku karya Ali Yahya "Sama Tapi Berbeda" dijelaskan bahwa  di  Tebuireng dikenal ada Madrasah Nizamiyyah yang didirikan pada tahun 1935 oleh  KH. Wahid Hasyim atas restu KH. Hasyim Asy'ari. Nampaknya madrasah ini adalah pengembangan dan inovasi  lanjut dari madrasah di Tebuireng yang telah ada. Di situs Tebuireng online dijelaskan pada tahun 1916, KH. Ma’shum Ali, menantu pertama KH. Hasyim Asyari mengenalkan sistem klasikal (madrasah).

Dalam riset Mbah Wahab,  jumlah murid di madrasah Tebuireng adalah 350, sedang jumlah santri di pondok Tebuireng adalah 300. Perbedaan jumlah ini menunjukkan saat itu sudah ada kesadaran masyarakat sekitar untuk menyekolahkan anaknya ke madrasah, sekaligus menunjukkan yang namanya santri kalong sudah ada sejak dahulu.
****

Di bawah ini adalah data riset Mbah Kiai Wahab atas pondok, kiai, madrasah dengan fluktuasi  jumlah santri di area Jombang. Dalam rentang waktu 1887-1927, jumlah santri di Jombang dari total  2.450 menurun menjadi 1.607.

1. Brangkal (Bandar Kedungmulyo, pen.) dulu muridnya 150 sekarang kosong dan rusak.
2. Balungrejo (Sumobito, pen.) dulu tidak ada murid, sekarang muridnya 60.
3. Rejoso Kiai Syafawi dulu  muridnya sejumlah 120, sekarang 10.
4. Wonokoyo (Mayangan Jogoroto, pen.) dulu muridnya 50, sekarang tinggal 7.
5. Ploso Peterongan Pondok Kaleh (mungkin yang dimaksud Ploso Kerep Sumobito karena berbatasan dengan Rejoso Peterongan, pen.) dulu muridnya sebanyak 60, sekarang 15.
6. Gayam (Mojowarno, pen.) dulu muridnya 50, sekarang 15.
7. Ngasem (Jombok, Ngoro, pen.) Kiai Ahmadi dulu muridnya kosong, sekarang 50.
8. Sukotirto (Badang Ngoro, pen.) dulu muridnya 20, sekarang 10.
9. Keras Kiai Asy'ari dulu muridnya  berjumlah 70, sekarang 15.
10. Seblak (Kwaron Diwek, pen.) dulu muridnya kosong, sekarang 30.
11. Tebuireng Kiai Hasyim Asy'ari dulu muridnya  kosong sekarang 300.
12. Paculgowang dulu 25, sekarang 15.
13. Kwaringan (Ngoro, pen.) dulu  kosong, sekarang 15.
14. Watugaluh (Diwek, pen.) Kiai Qasim dulu 50, sekarang kosong.
15. Bandung Wetan dan Kulon (Diwek, pen.) dulu 50, sekarang 20.
16. Kencong Kyai Nur Daim dulu berjumlah 100, sekarang 40.
17. Mojo Songo Kiai Muridan dulu muridnya 200, sekarang rusak bangunannya.
18. Sambong dulu 150, sekarang 3.
19. Denanyar Kiai Thoyyib dulu 40, sekarang rusak.
20. Denanyar Kiai Bisri, dulu tidak ada muridnya, sekarang 40.
21. Semelo dulu 80 sekarang 90.
22. Jambu kiai Subki dulu 50, sekarang kosong.
23. Ploso Gerang Kiai Moh Arif,  dulu 50, sekarang 20.
24. Dempok Kiai Syamsuddin dulu muridnya 100, sekarang kosong rusak.
25. Melik dulu 50, sekarang kosong rusak.
26. Kapas, dulu muridnya  60, sekarang kosong.
27. Banggle dulu muridnya 50, sekarang rusak.
28. Padar (Ngoro) dulu muridnya sebanyak 50, sekarang rusak.
29. Nglungu kiai Abdur Rauf dulu muridnya  100, sekarang rusak.
30. Gedang nJero Kiai Nushah dulu muridnya  70, sekarang pondok dan masjidnya rusak.
31. Gedang nJobo kiai Guru Usman dulu muridnya 500, sekarang tinggal 5.
32. Karang Asem Lor dulu 50, sekarang kosong tinggal langgar.
33. Tambakberas Kiai Chasbullah dulu muridnya 50, sekarang 90.
34. Tambakberas Kiai Syafii dulu muridnya 40, sekarang 2.
35. Tambakberas Kiai Baidhowi dulu 40, sekarang rusak.
36. Tambakberas Kiai  Abdur Rauf dulu tidak ada murid, sekarang 10.
37. Tambakberas Kiai Imam dulu tidak ada, sekarang 20.
38. Madrasah Mojo Agung dulu tidak ada, sekarang 150.
39. Madrasah Kalak dulu tidak ada, sekarang 80.
40. Madrasah Ploso Peterongan dulu tidak ada, sekarang 40.
41. Madrasah Belimbing, dulu kosong sekarang 50.
42. Madrasah Tebuireng dulu tidak ada, sekarang 350.
43. Madrasah Tambakberas dulu tidak ada, sekarang 75.
44. Madrasah Denanyar dulu tidak ada, sekarang 125.
45. Madrasah Kapas dulu tidak ada, sekarang 50.
46. Madrasah Melik dulu tidak ada, sekarang 30.
47. Madrasah Kauman Ler, dulu kosong sekarang sudah bubar.
48. Madrasah Pengulun, dulu kosong sekarang bubar.
*****

Terima kasih kepada Mas Arif yang telah memberikan data majalah NU berhuruf Pegon  tentang riset Mbah Wahab. Terima kasih pula kepada Gok Din, pendekar Ya Latif  sebagai orang lapangan di Jombang yang ikut membantu "ngiro-ngiro" nama desa  yang ada di Jombang pada tulisan pegon yang kabur. Tentu  kepada istri saya yang juga ikut memperkirakan tulisan yang kabur.

Wednesday, September 2, 2020

NDRESMO Makkah nya tanah jawatempat mukim nya Habaib yg berwajah njowo

NDRESMO Makkah nya tanah jawa
tempat mukim nya Habaib yg berwajah njowo 

   Ada yg bilang SIDOSERMO atau SIDORESMO . namun nama asal dari kampung itu bernama NDRESMO .Perkampungan yang terletak di perbatasan antara Kecamatan Wonokromo dan Kecamatan Wonocolo, tepatnya di Jalan Sidosermo Dalam Surabaya, Jawa Timur,  hampir seluruh daerah bahkan negara2 lain terlebih timur tengah banyak yg kenal desa itu . ya karena kebanyakan penduduk nya punya pesantren . ya ! jumlahnya sangat banyak . dan lagi para penduduk asli situ adalah dari keturunan baginda nabi MUHAMMAD SAW dari berbagai arah silsilah yg berbeda . ada dua jalur silsilah yg menghubungkan nasab penduduk ndresmo ke-baginda nabi muhammad . yaitu dari keturunan Sayyid Abu Bakar Basyaiban dan sayyid adhmat khon ( bisa jadi ada yang lain dari kedua keturunan itu ).

nama " NDRESMO" itu bukan sebuah kebetulan saja . namun terdapat sejarah awal penamaan itu . dahulu sekali , setelah Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban  dan kakaknya Sayyid ali ( keduanya adalah putra dari sayyid abdurrahman suami dari syarifah khodijah putri syarif hidayatullah , sunan gunung jati ) berkelana dalam penyi'aran islam , akhirnya beliau berdua menetap disuatu tempat . Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban berakhir di mojoagung hingga wafat beliau dan dikebumikan disana . namun sebelum ke-mojoagung beliau sudah mendirikan sebuah pesantren dipasuruan yg hingga kini masih berdiri kokoh dan besar . nama pesantren itu adalah SIDOGIRI . 
sedangkan kakaknya , Sayyid Ali Al-arif bin Abdurrahman Basyaiban menetap dan mengajar didaerah pasuruan yg terkenal dg sebutan SEGOROPURO . beliau-pun diwafat dan dikebumikan disana . Disaat Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban masih memangku pesantren dipasuruan itu-lah , beliau berkeinginan lebih meluaskan syi'ar islamnya ke-daerah2 lain . beliau menyuruh putra2-nya agar semakin giat dalam hal penyebaran islam diberbagai daerah . terdapat beberapa nama dari putra2 beliau yang tercatat diberbagai silsilah . diantaranya : 
abdul wahab , hazam , tsabit , ali akbar , abdulloh , abid , hasan , husein dan muhammad baqeer . ( mungkin ada yg lain ? allahu a'lam ) .

para putra2 Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban  itu banyak yg menyebar untuk melaksanakan keinginan ayah mereka utk memperluas penyebaran islam . tak terkecuali putra beliau yg bernama Sayyid Ali Akbar . dalam masa pengembaraan , beliau ( Sayyid Ali Akbar ) bermunajat pada Allah agar diberi petunjuk dimana tempat atau daerah yg layak buat dirinya menetap . dan ternyata AllahS.W.T memberikan petunjukNYA . terlihat oleh Sayyid Ali Akbar ditengah2 munajatnya , sebuah cahaya yg terang yang mengarah kesuatu tempat yg kala itu masih sebuah hutan yg angker . 
menurut riwayat tidak ada satupun orang yg sanggup memasuki hutan itu . orang banyak yg menyebutkan nama daerah itu dengan nama ' alas demungan ' . akhirnya Sayyid Ali Akbar  melaporkan hal itu pada ayahandanya  . mendengar penuturan putranya itu , Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban  menyuruh Sayyid Ali Akbar agar membabat dan menakhlukkan hutan itu dan membangun tempat tinggal disitu . beberapa santri ayahnya dipesantren sidogiri di-ikut sertakan untuk membantu putranya mengemban tugas itu . 

singkat cerita , Sayyid Ali Akbar berhasil membabat dan menakhlukkan hutan itu . berbagai kendala dan cobaan alhamdulillah berhasil beliau lalui . setelah selesai , beliau membangun satu rumah sederhana yang dihalaman depan-nya terdapat sebuah ' gutek'an ' atau istilah sekarang satu tempat yg disediakan untuk santri menetap . setelah selesai semuanya , tak lama ayahanda beliau datang untuk melihat hasil kerja putranya itu . cukup puas perasaan Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban melihat semua hasilnya . maka beliau berpesan pada putranya agar menetap disitu dan beliau menyuruh sebagian santrinya yg tadinya membantu Sayyid Ali Akbar akbar agar ikut menetap bersama putranya . Sayyid Sulaiman memilih beberapa santri yg berjumlah 5 orang . akhirnya Sayyid Sulaiman kembali kepasuruan dan meninggalkan 5 santri buat putranya , ali akbar . 

hari terus berganti . kehidupan Sayyid Ali Akbar penuh berisi dengan ibadah , ngaji dan pembenahan . setiap tak ada kegiatan ngaji bagi para 5 santri tersebut , mereka isi dengan muthola'ah ( belajar ) kitab2 yg telah diajarkan sayyid ali akbar . hingga suara mereka dalam hal membaca kitab terdengar oleh beliau . akhirnya beliau segera menghampiri para santri-nya itu . dihadapan para 5 santri itu beliau berkata : 

" kang , tiap malam aku selalu mendengar kalian belajar bersama saling nderes ( membaca ) kitab yg telah aku ajarkan . maka ingat baik-baik , sejak saat ini yang mulanya desa ini bernama ndemungan , maka aku ganti dengan nama NDRESMO . sing nderes kabehe limo ( yang belajar lima orang ) . 

" inggih kyai " ( iya kyai ) jawab para 5 santri itu kompak . 

maka sejak itulah , desa itu mulai dikenal orang dengan nama ndresmo . dan lama kelamaan ndresmo mulai berdatangan para murid Sayyid Ali Akbar yang ingin menimba ilmu dipesantren beliau ini . semakin ramai dan terkenal desa itu . dan hingga kini kampung ndresmo terkenal dengan sebutan ' mekkah-nya tanah jawa ' . 

perlu diketahui , salah satu dari 5 santri Sayyid Ali Akbar tersebut adalah ' ki ageng hasan besari ' yg terkenal dg ki kasan besari ponorogo . seorang ulama besar dan sangat terkenal hingga kini . 

NDRESMO DIMASA PENJAJAHAN 

Sudah sejak dulu atau tepatnya sejak zaman penjajahan desa itu selalu dikunjungi banyak orang . bagaimanapun juga keamanan didesa itu terjamin sejak terikatnya perjanjian antara Sayyid Ali Akbar  dan pemererintah kolonial belanda . lalu diperkuat lagi perjanjian sayyid iskandar (putra beliau). 
jadi para tamu-tamu yang memasuki desa ndresmo dulunya itu bisa dipastikan ada 2 hal : yaitu niat belajar mengaji atau cari perlindungan dari kejaran para tentara belanda . perjanjian antar belanda dan kedua tokoh sentral ndresmo itu sudah tertulis . hingga sekarang konon tulisan perjanjian untuk menjadikan desa ndresmo sebagai tempat yg di-istimewakan masih tersimpan rapi dinegara belanda sana . desa itu memang membuat masalah dan mati kutu bagi para penjajah . tak bisa berbuat banyak jika berurusan dengan penduduk desa itu . dan itupun berlanjut hingga kepenjajahan jepang . sudah menjadi rahasia umum disaat penjajahan belanda dan jepang dulu , jika ada tentara yg berusaha melanggar perjanjian tersebut bisa dipastikan terkena musibah yg mengenaskan . bahkan jika ada tentara yg berusaha masuk kedesa itu , banyak yang matanya tertutupi dengan sesuatu hal, hingga keberadaan ndresmo se-akan hilang tak berbekas ( baca dipostingan sayyid iskandar bin sayyid sulaiman ). 

ada banyak beberapa peninggalan kuno yang masih ada didesa ndresmo . yaitu masih utuhnya rumah bekas kediaman Sayyid Ali Akbar  hingga keputranya Sayyid Ali Ashghor . yang kini rumah itu ditempati oleh K.H.Mas Mas'ud (almarhum ) . lalu celana panjang yg biasa dipakai dalaman jubah milik sayyid ali ashghor yg masih tetap utuh . kemudian sumur yang dulunya biasa dipakai Sayyid Ali Akbar untuk memberi minuman para pejuang, hingga sesiapapun yg habis meminumnya secara fakta tak mempan oleh segala macam senjata para penjajah . sekarang keberadaan sumur itu ditutup karena pernah terjadi hal yg sangat menakjubkan . ada seseorang yang mencuci buah pepaya yang masih utuh disitu . lalu setelah habis dicuci ternyata pepaya itu tak mempan dikuliti oleh pisau . dan masih banyak lagi kejadian yg berhubungan dengan sumur itu hingga membuat orang yg meminumnya kebal akan segala senjata tajam ( fakta tak terbantahkan dan banyak saksi yg masih hidup hingga saat ini ) . 

NDRESMO DIMASA tahun 1950 - 2009 . 

Dimasa itu desa ndresmo ibarat bunga yang segar dan indah . dimasa itu pula makin banyak berdatangan para santri disetiap rumah-rumah anak cucu keturunan baginda nabi Muhammad SAW didesa itu . banyak tokoh-tokoh kyai ndresmo kala itu yang berwibawa dan kharismatik . baik kyai ndremo yg menetap didesa itu, ataupun kyai ndresmo ( ahli ndresmo ) yang berada dikota-kota lain seperti pasuruan dll . atau baik kyai ndresmo dari fam ( Anak Cucu )  Basyaiban atau fam ( anak Cucu ) adhamat khan atau fam lainnya .
Para sesepuh dulu dengan tindakan nyata memberikan contoh terhadap keturunan mereka kelak , agar senantiasa mementingkan ilmu agama daripada duniawi . juga pentingnya berserah diri pada Allah SWT disaat kondisi apapun . membiasakan diri utuk selalu meng-khatamkan alqu'an minimal 3 hari sekali .membiasakan diri agar tak tidur malam untuk memuji Allah hingga pagi . semua itu masih terlaksana hingga saat ini . maka jangan heran jika kita melihat dirumah-rumah keturunan baginda nabi di-ndresmo jika malam jarang yang tidur . ada yang dimasjid 'ali akbar' dan ada yang dirumah membaca alqu'an , ada yang memimpin para santrinya untuk istighotsah , ada yang ngelalar pelajaran agama . namun jika siang hari jarang yg keluar rumah ( ingat , bukan rumah para pendatang lo ) . terdapat nama-nama para kyai yang bisa mempertahankan kewibawaan ndresmo dari dulu hingga saat ini . 
yaitu kyai mujahid , kyai mansur bin thoha , kyai muhibbin , kyai baqer , kyai abdul qadir , kyai yahya , kyai thoha , kyai ahmad dan kyai2 lainnya 
kini , ndresmo masih tetap sebuah desa yg sangat religius sekali . makin banyak kegiatan saadah ( para sayyid ) dimasa modern ini . tak seperti sesepuh ndresmo hadapi, yg berupa para penjajahan dan peristiwa keganasan PKI yang penuh dengan kekerasan , maka para saadah sekarang menghadapi sesuatu yg complicated . baik dalam kehidupan bermasyarakat yg lain dg yg dulu . karena para pendatang baru makin banyak . apalagi teknologi yg maju pesat dan zaman telah banyak berubah . tapi alhamdulillah tak bisa merubah ke-religiusan ndresmo itu . 

Meski "ndremo"  desa yg sangat kecil tapi terdapat puluhan pesantren disitu , meski rata-rata santrinya cuma sedikit . terhitung hanya 2 pesantren yg bisa dikatakan besar dindresmo itu . yaitu ponpes annajiyah dan ponpes at-tauhid . dan inilah nama pesantren didesa ndremo yg memang sudah punya nama : 

1 . Pondok Pesantren An-Najiyah ( pim. KH.Mas yusuf muhajir , diponpes barat ) 
2 . Pondok Pesantren An-Najiyah  ( pim. KH.Mas Abdullah muhajir , diponpes timur ) 
3 . Pondok Pesantren Islam At – Tauhid  ( pim. KH.Mansyur Tholhah ) 
5 . Yanaabi'ul-ulum ( pim. KH.Mas Khotib ) 
6 . Pondok Pesantren Islam Al-Haqiqi Al-Falahi Joyonegoro ". ( pim. KH.Mas Lukman abdul qadir ) 
7 . Al-wasilah ( pim. KH. Anshor Muhajir ) 
8 . Pondok Pesantren  pim. KH.Mas Khalim dan K.Mas Abdul Qadir
9 . Pondok Pesantren pim. K.Mas Faqor
10. Pondok Pesantren pim. Nyai Hj. Mas Farohah 
11. Al-irsyad ( pim. Nyai Hj. Mas Afifah binti KH.Mas Nur Rosul ) 
12. Pondok Pesantren pim. Nyai Mas Luthfa binti KH.Mas Abu Dzarrin 
13. Pondok Pesantren Al-hasan ( pim . . . . ) 
14. At-Taqowwiyah ( pim. saya sendiri, pemilik blog ini,bin KH.Mas Nur Rosul ) 
15. Pondok Pesantren pim. Kyai Mas Qadir 
16. Al-Ahih ( pim. KH.Mas Dawam ) 
17. Pondok Pesantren  pim. KH.Mas Busyairi 
18. Al-badar ( pim . KH.Mas Nur ) 
19. Pondok Pesantren pim. KH.Mas abdul qahar  
20. Al-badar putri ( pim. KH.Mas Muzammil ) 
21. Pondok Pesantren pim. KH.Mas Yazid.  dll
Foto KH Mas Muhajir Manshur 
Naqil : Alfaqir bingits Dhody Romeo 
Nuqilat min Diwani Buya Abi Alkhoir Basyaiban bi wasilati Ning Uswah 
Visit :ndresmo.blogspot.com ...