Showing posts with label ghoib. Show all posts
Showing posts with label ghoib. Show all posts

Friday, April 19, 2019

Mendoakan ORANG TUA DI ALAM KUBUR KETIKA DI ZIARAHI ATAU DI DOAKAN ANAKNYA

Mendoakan ORANG TUA DI ALAM KUBUR KETIKA DI ZIARAHI ATAU DI DOAKAN ANAKNYA

Dalam penjelasan kitab al-Ruh, karya As Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah RA,  Apa yang terjadi kepada orang tua ketika Anda berziarah ke makam mereka atau ketika Anda mendoakan mereka?

As Syaikh Muhammad al-Syanqithi RA, berkata:

Semoga Alloh SWT mengampuni keluarga kita yang telah meninggal dunia dan kaum Muslimin yang telah meninggal dunia.
Aku tidak mampu menahan tangis melihat betapa perlunya ahli kubur kepada kita.
Aku terkesan dan aku ingin semuanya mengetahui hal ini...

As Syaikh Utsman bin Sawad RA, ulama salaf, bercerita tentang ibunya, seorang wanita yang ahli ibadah.

Ketika ibunya akan meninggal dunia, ia mengangkat pandangannya ke langit dan berkata : “Wahai tabunganku, wahai simpananku, wahai Tuhan yang selalu menjadi sandaranku alam hidupku dan setelah kematiaku, jangan Engkau abaikan diriku ketika mati, jangan biarkan aku kesepian dalam kuburku.” Kemudian ia meninggal dunia.

Aku selalu berziarah ke makamnya setiap hari Jum’at.
Aku berdoa untuknya, dan memohonkan ampun baginya dan semua ahli kubur di situ.

Pada suatu malam aku bermimpi berjumpa dengan ibuku.
Aku berkata: “Wahai ibuku, bagaimana keadanmu?”
Ia menjawab: “Wahai anakku, sesungguhnya kematian itu adalah kesusahan yang dahsyat.
Aku alhamdulillah ada di alam barzakh yang terpuji.
Ranjangnya harum, dan bantalnya terdiri tenunan kain sutera.”
Aku berkata: “Apakah Ibu ada keperluan kepadaku?”
Ia menjawab: “Iya. Jangan kamu tinggalkan ziarah yang kamu lakukan kepada kami. Sungguh aku sangat senang dengan kedatanganmu pada hari Jum’at ketika berangkat dari keluargamu. Orang-orang akan berkata kepadaku: “Ini anakmu sudah datang.”

Lalu aku merasa senang, dan orang-orang mati yang ada di sekitarku juga senang.”

As Syaikh Basysyar bin Ghalib RA, ulama salaf pula, berkata: “ Aku bermimpi As Sufiyyah Robiah al-Adawiyah RA dalam tidurku. Aku memang selalu mendoakannya.

Dalam mimpi itu ia berkata kepadaku: “Wahai Basysyar, hadiah-hadiahmu selalu sampai kepada kami di atas piring dari cahaya, ditutupi dengan sapu tangan sutera.”

Aku berkata: “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”
Ia menjawab: “Begitulah doa orang-orang yang masih hidup.

Apabila mereka mendoakan orang-orang yang sudah mati dan doa itu dikabulkan, maka doa itu diletakkan di atas piring dari cahaya dan ditutupi dengan sapu tangan sutera.

Lalu hadiah itu diberikan kepada orang mati yang didoakan itu.
Lalu dikatakan kepadanya : “Terimalah, ini hadiah si anu kepadamu.”

Seberapa sering kita berziarah ke makam orang tua, keluarga dan guru kita yang telah meninggal dunia?
Seberapa banyak kita mendoakan mereka dalam waktu-waktu kita beribadah???

Ziarah kita dan doa kita sangat penting bagi mereka...

Yang Mau Ziarah ke Makam Kakek, Nenek, atau Orang  Tua, Silahkan...

Karena DOA Kita, Selalu Dinanti oleh mereka.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيّدنامُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سيّدنا مُحَمَّدٍ

Jangan lupa kirimkan  Al Fatihah kepada mereka, kepada ibu ayah, kakek nenek, guru atau anggota keluarga kita yang sudah meninggal dunia, khususnya dimalam
Jum'at nanti.

Ya Allah,ampunilah dosaku,dosa ibu bapaku keluargaku,saudraku dan semua orang berkomentar,"Aamiin"dan jangn engaku cabut nyawa kami saat tubuh kami tidak pantas di surgamu.

Aamiin Ya Robbal Alamiin

Wallahu A'lam Bishawab

#alfatihah

Sunday, January 28, 2018

WARNA API NERAKA

WARNA API NERAKA

Neraka dinyalakan selama seribu tahun hingga warnanya menjadi MERAH.
Setelah itu dinyalakan lagi selama seribu tahun hingga warnanya menjadi PUTIH.
Setelah itu dinyalakan lagi selama seribu tahun hingga warnanya menjadi HITAM legam bagaikan malam yang gelap gulita.

Jadi warna api neraka itu bukan merah atau kuning atau jingga atau biru atau kombinasi dari warna-warna ini sebagaimana yang kita lihat pada api dunia, tetapi api neraka itu berwarna HITAM!

Warna hitam adalah gambaran bahwa api neraka itu mencapai puncak suhu yang tertinggi yang tidak bisa dibayangkan oleh manusia.

Demikianlah gambaran warna api neraka sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam sunannya. At-Tirmidzi meriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُوقِدَ عَلَى النَّارِ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى احْمَرَّتْ ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى ابْيَضَّتْ ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى اسْوَدَّتْ فَهِيَ سَوْدَاءُ مُظْلِمَةٌ

Artinya :

“Dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ beliau bersabda, ‘Api neraka dibakar selama seribu tahun hingga warnanya merah. Lalu dinyalakan (lagi) seribu tahun hingga warnanya putih. Lalu dinyalakan (lagi) seribu tahun hingga warnanya hitam. Jadi, neraka itu hitam gelap gulita” (At-Tirmidzi, juz 9 hlm 165)

Hadis ini dihasankan oleh At-Tirmidzi.

Riwayat ini dikuatkan oleh hadis mauquf dari Abu Hurairah yang disebutkan Imam Malik dalam Al-Muwattho’ dengan sanad sahih sebagai berikut,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ أَتُرَوْنَهَا حَمْرَاءَ كَنَارِكُمْ هَذِهِ لَهِيَ أَسْوَدُ مِنْ الْقَارِ

Artinya : “Dari Abu Hurairah, bahwasanya ia berkata, ‘Apakah kalian menyangka bahwa api neraka itu berwarna merah seperti api kalian (di dunia) ini? Sungguh! Api neraka itu lebih hitam daripada aspal!” (Muwattho’, juz 6 hlm 147)

Adapun pendapat yang melemahkan riwayat At-Tirmidzi di atas dengan alasan perawi yang bernama Yahya bin Abi Bukair, maka alasan tersebut ditolak dengan alasan bahwa Yahya adalah perawi yang dipakai oleh Bukhari dan Muslim.

Adapun pendapat yang melemahkan riwayat At-Tirmidzi di atas dengan alasan perawi yang bernama Syarik bin Abdullah An-Nakho’i, maka harus dicatat bahwa Syarik adalah perawi yang jujur. Hanya saja level kedhobitannya kurang kuat. Perawi semacam ini aman dari kemungkinan berdusta, hanya saja dikhawatirkan beliau silap dalam periwayatan yang terkait dengan hafalan seperti memauqufkan yang marfu’, memarfu’kan yang mauquf, membalik urutan, menukar urutan dan semisalnya.

Riwayat At-Tirmidzi di atas telah memiliki “syawahid” dari riwayat Anas dan Umar bin Al-Khotthob sebagaimana diisyaratkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya dan juga Al-Baihaqi dalam “Syu’abu Al-Iman”.

Lagipula, informasi yang disebutkan oleh riwayat At-Tirmidzi di atas menurut keterangan Ath-Thiby maknanya dekat dan senafas dengan isyarat yang disebutkan Allah dalam ayat ini,

{ يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ} [التوبة: 35]

Artinya : “(ingatlah) hari dimana api neraka itu dipanaskan (secara dahsyat) pada api Jahannam (At-Taubah; 35)

Lagipula, isi riwayat At-Tirmidzi di atas sejalan dengan penafsiran para mufassirin ketika menjelaskan ayat yang menerangkan bahwa “syaror” (bunga-bunga api) neraka itu seperti “jimalatun shufr” (unta-unta berwarna hitam). Telah diketahui dalam bahasa Arab bahwa warna “shufr” itu jika dikaitkan dengan unta maka secara majasi bisa bermakna hitam. Jadi berdasarkan ayat “jimalatun shufr” itu bisa dipahami bahwa warna api neraka memang berwarna hitam.

Lagipula, perubahan warna mengikuti tingkat panas adalah fakta yang bisa disaksikan dalam kehidupan. Orang yang bergelut dalam ilmu logam/metalurgi akan mengetahui bahwa jika sebuah besi dipanaskan, maka mula-mula pada suhu tertentu warnanya akan berubah menjadi merah. Jika panas itu ditambah lagi maka warnanya akan berubah menjadi putih. Jika panas itu terus ditambah lagi maka warna itu akan berubah menjadi biru dan semakin gelap semakin gelap. Dengan demikian bisa kita katakan, warna hitam adalah warna yang menunjukkan api telah mencapai puncak panas yang tak terbayangkan.

Dengan alasan-alasan ini maka penilaian At-Tirmidzi bahwa riwayat di atas adalah riwayat hasan lebih dekat dengan kebenaran daripada pendapat yang mendhoifkannya.

Sekarang mari kita bayangkan kira-kira seperti apa panasnya neraka itu.

Jika diukur dengan skala celsius, panas yang mencapai warna merah itu baru terwujud pada suhu kira-kira 1500 celcius.

Warna putih dicapai, jika suhu telah mencapai kira-kira 5500 celsius.

Warna biru dicapai, jika suhu telah mencapai kira-kira 9500 celsius.

Lalu kira-kira warna hitam tercapai dengan suhu berapa? Belum ada manusia yang tahu, karena suhu yang bisa diusahakan manusia baru sanggup mencapai warna biru yang dianggap panas paling final di dunia ini.

Bayangkan, untuk melelehkan sebuah besi, suhu yang diperlukan cukup sekitar 1500o celcius saja. Untuk mendidihkan besi, cukup diperlukan suhu 3000o celcius saja. Padahal ini adalah suhu yang membuat warna panas baru di level warna merah menjelang putih.

Lalu bayangkan bagaimana jika yang dibakar itu bukan besi tapi daging, kulit dan tulang manusia, pada api yang warnanya telah menjadi hitam legam. Seperti apa kira-kira jadinya?!

Dengan tingkat panas seperti ini, menjadi bisa dipahami jika ada informasi hadis Nabi ﷺ yang memberitahukan bahwa siksaan paling ringan di Neraka adalah seseorang yang diberi sandal yang terbuat dari api neraka, lalu sandal itu sudah cukup untuk membuat otaknya menjadi mendidih!

أعاذنا الله من نار جهنم
اللهم قنا عذاب النار

Versi Situs: irtaqi.net/2018/01/28/warna-api-neraka/
***
Muafa 12 Jumada Al-Ula 1439 H

Saturday, January 27, 2018

Setelah Wahyu Tak Turun Lagi, Apakah Tugas Jibril?

Hafiz, NU Online | Sabtu, 27 Januari 2018 15:01

Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, sebagaimana kita ketahui, Jibril adalah satu dari sepuluh malaikat (yang wajib diketahui) yang bertugas menyampaikan wahyu kepada para rasul. Di zaman sekarang, sudah tidak ada lagi nabi dan rasul (secara zhahir; alias meninggal) yang berhak menerima wahyu Allah. Lantas, bagaimana dengan nasib Malaikat Jibril dengan tugasnya tersebut? Apa iya malaikat Jibril sudah nganggur lantaran sudah tidak ada lagi nabi dan rasul penerima wahyu? Mohon jawabannya kiai, karena hamba benar-benar makhluk yang berstatus al-faqir. Wassalamu ‘alaikum wr.wb. (Rasyid)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Sebagaimana yang sudah maklum bersama bahwa Jibril merupakan malaikat yang diberi tugas untuk menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Seiring dengan berakhirnya wahyu, maka tugasnya pun berakhir.

Dari sini kemudian muncul pertanyaan yang agak provokatif, apakah setelah tugas menyampaikan wahyu Jibril menjadi malaikat pengangguran? Tentu jawabanya adalah tidak, sebab tugas malaikat Jibril bukan hanya sebatas menyampaikan wahyu, tetapi ada tugas-tugas lain yang diembannya.

Dalam Kitab Al-Haba`ik fi Akhbaril Mala`ik yang ditulis oleh Jalaluddin As-Suyuthi terdapat pembahasan mengenai empat panglima malaikat yang mengelola urusan dunia. Dalam hal ini ia menghadirkan pelbagai macam riwayat, salah satunya adalah riwayat Ibnu Abi Hatim, Abus Syekh, dan Al-Baihaqi dari Ibnu Sabith.

Dalam riwayat tersebut dikatakan bahwa ada empat malaikat diberi tugas untuk mengelola dunia. Dari empat malaikat tersebut adalah Jibril yang salah satu tugasnya adalah mengurusi angin, Mikail mengurusi urusan hujan dan tumbuh-tumbuhan, dan Izrail diberi tugas mencabut nyawa. Sedang Israfil diberi tugas untuk menyampaikan perintah kepada mereka.

رُؤُوسُ الْمَلَائِكَةِ الْأَرْبَعةِ اَلَّذِينَ يُدَبِّرُونَ أَمْرَ الدُّنْيَا. (أَخْرَجَ) ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ وَأَبُو الشَّيْخِ فِى الْعُظْمَةِ وَالبَيْهَقِيُّ فِى الشُّعَبِ عَنِ ابْنِ سَابِطٍ قَالَ: يُدَبِّرُ أَمْرَ الدُّنْيَا أَرْبَعَةٌ : جِبْريلُ وَ مِيكَائِيلُ وَ مَلَكُ الْمَوْتِ وَ إِسْرَافِيلُ فَأَمَّا جِبْرِيلُ فَوُكِّلَ بِالرِّيَاحِ وَ الْجُنُودِ وَ أَمَّا مِيكَائِيلُ فَوُكِّلَ بِالْقَطْرِ وَ النَّبَاتِ وَ أَمَّا مَلَكُ الْمَوْتِ فَوُكِّلَ بِقَبْضِ الْأَرْوَاحِ وَ أَمَّا إِسْرَافِيلُ فَهُوَ يَنْزِلُ بِالْأَمْرِ عَلَيْهِمْ

Artinya, “Empat panglima malaikat yang mengurusi urusan dunia. Ibnu Abi Hatin dan Abus Syekh meriwayatkan dalam kitab Al-‘Uzhmah dan Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman dari Ibnu Sabith ia berkata, ‘Empat Malaikat yang mengurusi urusan dunia yaitu Jibril, Mikail, Malaikat Maut, dan Israfil. Jibril diserahi untuk mengatur angin dan para tentara, Mikail diserahi untuk mengurus hujan dan tumbuh-tumbuhan, Malaikat Maut diserahi untuk mencabut nyawa, sedangkan Israfil diserahi tugas menyampaikan perintah kepada mereka,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Haba`ik fi Akhbaril Mala`ik, Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, cetakan pertama, 1985 M/1405 H, halaman 16).

Tugas lain yang diemban Jibril adalah memenuhi hajat atau kebutuhan manusia. Dalam sebuah riwayat Al-Baihaqi dari Tsabit dikatakan bahwa Allah mendelegasikan Jibril untuk mengurusi hajat manusia.

Apabila orang mukmin berdoa, Allah menahan Jibril sejenak untuk mengabulkan doanya. Hal ini terjadi karenak Allah senang mendengarkan lantunan doa orang Mukmin. Lainnya halnya apabila yang berdoa adalah orang kafir, maka Allah langsung mengintruksikan kepada Jibril untuk segara memenuhinya. Hal ini karena Allah tidak menyukai mendengar lantunan doanya.

وَأَخْرَجَ الْبَيْهَقِيُّ عَنْ ثَابِتٍ قَالَ بَلَغَنَا أَنَّ اللهَ تَعَالَى وَكَّلَ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِحَوائِجِ النَّاسِ، فَإِذَا سَأَلَ الْمُؤْمِنُ ، قَالَ يَا جِبْرِيلُ: احْبِسَ حَاجَتَهُ فَإِنِّي اُحِبُّ لِدُعَائِهِ، وَإِذَا دَعَا الْكَافِر، قَالَ يَا جِبْرِيلُ أَقْضِ حَاجَتَهُ فَإِنِّي أُبْغِضُ دُعَائَهُ

Artinya, “Al-Baihaqi meriwayatkan dari Tsabit, dia berkata, ‘Telah sampai kepadaku riwayat yang menyatakan bahwa Allah SWT mendelegasikan Malaikat Jibril AS dalam urusan memenuhi hajat hidup manusia. Apabila seorang Mukmin berdoa, maka Allah pun berkata kepada Jibril AS, ‘Wahai Jibril! Tahan dulu untuk memenuhi hajatnya karena Aku sungguh sangat senang mendengar lantunan doanya.’ Apabila orang kafir berdoa, Allah pun berkata kepadanya, ‘Wahai Jibril! Penuhi apa yang menjadi hajatnya karena sesungguhnya Aku tidak suka mendengar lantunan doanya,’’” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Haba`ik fi Akhbaril Mala`ik, Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, cetakan pertama, 1985 M/1405 H, halaman 24).

Dua riwayat di atas dalam pandangan kami sudah cukup untuk menjawab pertanyan penanya. Simpulannya adalah bahwa setelah selesai menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rasul, bukan berarti kemudian malaikat Jibril tidak melakukan apa-apa. Sebab, tugas yang diembannya bukan hanya sebatas itu tetapi masih ada tugas-tugas lainnya. Contohnya adalah seperti dikemukakan dalam dua riwayat di atas.

Demikian jawaban dari kami semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu alaikum wr. wb.

(Mahbub Ma’afi Ramdlan

Wednesday, October 18, 2017

Siksa neraka

Syeh Muhammad bin Salim Babashol dalam kitab Is'adur Rofiq berkata :
"Penduduk neraka di siksa dengan bermacam2 siksaan sebagaimana keterangan dalam hadits yg telah datang.
diantaranya ketika seseorang dilemparkan ke dalam neraka maka ia tidak akan sampai ke bawah kecuali sampai ke dasarnya, kemudian kobaran api neraka melemparkannya ke atas lagi. di tulangnya sudah tdk ada daging lagi hingga ketika ia sampai ke atas maaka para malaikat memukulnya dengan palu dari besi hingga ia kembali jatuh lagi sampai ke dasar neraka, seperti itu terus menerus .

Di dalam neraka Jahannam terdapat binatang buas dari api, anjing2 dari api, rantai2 dari api, dan pedang2 dari api. Allah mengutus para malaikat utk menggantung para penduduk neraka dengan rantai2 dari api di lehernya, kemudian mereka di potong2 menggunakan pedang dari api .
kemudian potongan2 tubuh tsb di lemparkan kepada binatang buas dan anjing2 neraka.
ketika anggota tubuh mereka di potong maka akan muncul anggota tubuh yg baru lagi, begitu seterusnya.

di riwayatkan bahwa siksaan neraka yg paling ringan adalah orang yg mempunyai dua sandal dari api yg menyebabkan otaknya mendidih karena memakai sendal tsb.

Faedatun :
Telah datang dalam hadits bahwa orang yg memberi makan saudaranya hingga kenyang, dan memberinya minum sampai hilang dahaganya maka Allah akan menjauhkannya dari neraka sejauh 7 parit, jarak setiap paritnya adalah perjalanan 100 tahun.
Dan barang siapa mengunjungi saudaranya yg muslim maka di jauhkan dari neraka Jahannam sejauh perjalanan 70 tahun. "

Allahumma Ajirna Minan Nar Wa Min Ghodobil Jabbaar ....
Aamiin ....

Friday, August 4, 2017

Para penghuni kubur

Imamuna fit tashowwuf Al Ghazali -semoga Allah merahmatinya- dalam kitab Ad Durrotul Fakhiroh Fii Kasyfi Ulumil Akhiroh berkata :

" Penghuni kubur itu berada pada empat keadaan, yaitu:
1. Ada yg duduk di atas tumitnya hingga berair matanya, bengkak badannya, dan kembali tubuhnya menjadi tanah. setelah itu dia terus menerus berkeliling di kerajaan malakut di bawah langit dunia.

2. Ada yg di beri rasa kantuk oleh Allah. dia tidak mengetahui apa yg di lakukannya hingga tersadar ketika tiupan sangkakala pertama, kemudian dia meninggal.

3. Ada yg tidak dapat bangun dari kuburnya kecuali selama dua atau tiga bulan saja. kemdian jiwanya dinaikkan oleh se ekor burung yg menerbangkanya ke syurga. ada hadits shohih yg meriwayatkan bahwa Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : " jiwa orang mukmin yg terbang, bergantung pada pohon syurga "
demikian pula Nabi shollallohu alaihi wasallam ditanya tentang ruh para syuhada' beliau menjawab :
" para syuhada' itu berada dalam pelukan burung2 khodhr yg menggantungkan mereka pada pohon syurga"

4. Keadaan yg di khususkan bagi para Nabi dan para wali. Mereka mempunyai pilihan , diantara mereka ada yg mengelilingi bumi sampai hari kiamat, sebagian besar terlihat di malam hari. saya mengira bahwa Abu Bakar ash shiddiq dan Umar al faruq ada diantara mereka.
Rasululloh shollallohu alaihi wasallam memiliki pilihan di dalam mengelilingi tiga alam, karena ini pada suatu hari, beliau bersabda sebagai peringatan dan isyarat :
" sesungguhnya aku memuliakan Allah agar Dia tidak membiarkanku di bumi lebih dari tiga " yakni, tiga kelipatan sepuluh, sebab al Husain gugur pada awal tiga puluh tahun. Beliau marah kepada penghuni bumi dan naik ke langit . Seorang sholih melihat beliau di dalam mimpi, dia bertanya :
" Wahai Rasululloh, demi bapakku, anda dan ibuku, apa yg anda lihat di dalam fitnah-fitnahpada umat anda ?"
beliau menjawab : "Allah menambahkan kpd mereka fitnah, mereka membunuh Al Husain, di dalam hal itu mereka tidak menjaga sunnahku "
ada lagi ungkapan2 lain yg menyerupai ungkapan perawi ini.

Diantara mereka, ada yg memilih langit ke tujuh seperti Nabi Ibrahim alaihis salaam, Nabi Isa di langit ke lima. Disetiap lapisan langin ada para Rasul dan Nabi yg tidak keluar dari sana dan terus menerus thawaf sampai pingsan.
diantara mereka tidak ada yg mempunyai pilihan selain itu kecuali Nabi Ibrahim,Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad, mereka berhenti dimana saja yg mereka inginkan di alam ini.
Adapun para wali, diantara mereka ada yg bergantung pada kebangkitan duniawi sebagaimana di riwayatkan dari Abu Yazid bahwa di bawah Arsy dia menyantap hidangan.

Didalam empat keadaan para penghuni kubur ini, ada yg di adzab, ada yg di beri rahmat, ada yg dihinakan, dan ada yg di muliakan. Diantara mereka ada yg memandang mayyit itu ketika hadir hingga menjadi sempit bagi mereka luasnya tempat penantian itu. kadang2 tersingkap baginya, hingga dia melihat mereka dan mengenalnya. saya telah melihat orang yg mengalami hal ini, saya melihat sebagian sahabat yg tersingkap pandangan bathinnya. dia memandang pada anaknya yg meninggal, telah masuk kedalam rumah. mayit itu bangun dan terbang.
inilah faedah2 malakut yg hanya terjadi bagi orang mulia atau keluarganya.

Bersamaan dengan keadaan2 yg telah di sebutkan itu, tidak di ketahui adanya pergantian siang dan malam, kecuali oleh orang yg dirinya tetap tinggal, tidak di naikkan ketempat yg tinggi.
Diantara mereka, ada yg mengenal hari jum'at dan hari raya. Apabila seseorang keluar dunia, mereka mengerumuni dan mengenalinya. yang satu menanyakan tentang istrinya, yg lain menanyakan tentang orang tuanya. masing2 menanyakan tentang keinginannya. kadang2 seseorang meninggal tanpa menjumpai seorangpun kenalannya, karena kebimbangan yg dialaminya ketika menjelang kematian. "

wallohu a'lam.