Showing posts with label kisah. Show all posts
Showing posts with label kisah. Show all posts

Monday, October 28, 2024

Derita kelaparan yang dialami oleh Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari dan muridnya Ibnu Hajar Al-Haitami ketika sedang menuntut ilmu di Masjid Al-Azhar

Derita kelaparan yang dialami oleh Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari dan muridnya Ibnu Hajar Al-Haitami ketika sedang menuntut ilmu di Masjid Al-Azhar.
__

Disebutkan oleh Imam Abdul Wahab As-Sya'rani dalam at-Thabaqat al-Kubra, bahwasanya guru beliau (Syaikhul Islam) berkata:

وكنت أجوع في الجامع الأزهر كثيرا، فأخرج بالليل إلى قشر البطيخ الذي كان بجانب الميضاة وغيرها، فأغسله وأكله إلى أن قيض الله لي شخصا كان يشتغل في الطواحين فصار يتفقدني ويشتري لي ما احتاج إليه من الكتب والكسوة

"Kami sering mengalami kelaparan di Masjid Al-Azhar. Jika rasa lapar sudah tidak tertahankan lagi, kami keluar dimalam hari untuk mencari kulit semangka yang ada ditepi tempat wudhu masjid dan tempat lainnya. Hingga kulit itu kami bersihkan, dan kami makan."

Derita itu juga dialami murid-nya, Ibnu Hajar Al-Haitami. Disebutkan oleh Syekh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi dalam Al-Fawaid Al-Madaniyyah, Hal. 31 :

قَاسَيْتُ فِي الْجَامِعِ الْأَزْهَرِ مِنَ الْجُوْعِ مَا لَا تَحْتَمِلُهُ الْقُوَى الْبَشَرِيَّةُ لَوْلَا مَعُوْنَةُ اللَّهِ تَعَالَى وَتَوْفِيقُهُ، بِحَيْثُ إِنِّي جَلَسْتُ فِيْهِ نَحْوَ أَرْبَعَ سِنِينَ مَا ذُقْتُ اللَّحْمَ إِلَّا فِي لَيْلَةٍ دُعِيْنَا لِأَكْلٍ، فَإِذَا هُوَ لَحْمٌ يُوْقَدُ عَلَيْهِ، فَانْتَظَرْنَاهُ إِلَى أَنِ أَبْهَارَ اللَّيْلُ، ثُمَّ جِيْءَ بِهِ فَإِذَا هُوَ يَابِسٌ كَمَا هُوَ نَيْءٌ، فَلَمْ أَسْتَسِغْ مِنْهُ لُقْمَةٌ.

Beliau (Ibnu Hajar) berkata :

"Aku pernah mengalami derita lapar di Masjid Jami' Al-Azhar, rasa lapar yang mungkin tidak akan mampu dirasakan oleh manusia jika tidak ada pertolongan dari Allah dan taufiq-Nya.

Aku belajar di Masjid Al-Azhar, selama 4 tahun. Di masa itu, aku tidak pernah mencicipi rasa daging kecuali disatu malam undangan.

Dimalam undangan itu, hidangan daging sudah dimasak, tapi kami menunggunya sampai larut malam. Ketika daging itu datang kepada kami, ternyata tekstur dagingnya sudah kering, seperti belum dimasak. Hingga akhirnya satu suapan pun tidak ada yang masuk kedalam perut.”

Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari adalah guru yang banyak memberikan corak berfikir Ibnu Hajar didalam fiqh. Terbukti, banyak ditemukan pendapat Syaikhul Islam yang selalu diikuti oleh Ibnu Hajar.

Dalam “Al-Fatawa Al-Hadistiyyah” Ibnu Hajar menceritakan tentang sang gurunya:

ما اجتمعت به قط إلا قال : أسأل الله أن يفقهك في الدين

“Aku tidak pernah ikut berkumpul mengaji dengan Syaikhul Islam, kecuali beliau senantiasa berkata: aku berdoa kepada Allah, semoga engkau diberikan pemahaman ilmu agama.”

Sebagian ulama, seperti Sayyid Muhyiddin Abdul Qadir Al-Aydrus menyebutkan dalam “An-Nur As-Safir An Akhbar Al-Qarn Al-‘Asyir” tentang Syaikhul Islam :

ويقرب عندي أنه المجدد على رأس القرن التاسع؛ لشهرة الانتفاع به وبتصانيفه، واحتياج غالب الناس إليها فيما يتعلق بالفقه وتحرير المذهب

“Menurut perkiraan saya, beliau adalah mujaddid di abad ke-9, karena kemanfaatan dan karya-karyanya yang begitu masyhur. Juga tentang mayoritas ulama yang membutuhkan beliau tentang fiqh dan tahrir madzhab Syafi’i.”

Dukturah Su’ar Maher dalam “Masajidu Misra Wa Awliya’uha As-Shalihun” menceritakan tentang Kasyaf-nya Syaikhul Islam :

كنت معتكفا مرة في العشر الأخير من شهر رمضان فوق سطح الجامع الأزهر، فجاءنى رجل تاجر من الشام وقال لي : إن بصري قد كف، ودلني الناس عليك تدعو الله أن يرد على بصري، وكان لى علاوة في إجابة دعائي، فسألت الله أن يرد عليه بصره، فأجابني ولكن بعد عشرة أيام، فقلت له : الحاجة قضيت على شرط أن تسافر من هذا البلد إن أردت أن يرد الله عليك بصرك، وذلك خوفا أن يرد عليه بصره في مصر فيهتكني بين الناس، فسافر فرد عليه بصره في غزة وأرسل لى كتابا بخطه، فأرسلت أقول له: متى رجعت إلى مصر كف بصرك، فلم يزل بالقدس إلى أن مات بصيراً.

“Aku (Syaikhul Islam) pernah melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan di atap Masjid Al-Azhar, kemudian datanglah seorang pedagang dari Syam, dia berkata : “Pandanganku hilang, dan orang-orang banyak mengarahkan-ku kepadamu, agar engkau mendo’akan-ku.” Aku berdo’a kepada Allah, namun do’a itu akan dikabulkan setelah 10 hari.

Aku berkata kepadanya: “Do’amu akan dikabulkan, tapi syaratnya, engkau harus keluar dari Mesir.” Aku merasa khawatir jika Allah menyembuhkan kebutaannya di Mesir, Allah akan memperlihatkan kejelekan ini (kasyaf) ini di hadapan manusia.

Akhirnya laki-laki pedagang itu pulang, dan penglihatannya kembali ketika sampai Gaza. Dia mengirimkan surat tentang kesembuhannya. Kemudian surat itu kuberikan tanggapan: “Jika engkau kembali lagi ke Mesir, pandanganmu akan buta kembali.” Akhirnya laki-laki itu tetap berada di Quds, Palestina, dan tidak kembali lagi sampai wafat.”

Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari termasuk ulama yang diberikan umur panjang. Sampai 100 tahun. Atas keberkahan itulah mayoritas ulama di zaman itu berguru kepada beliau. Hingga diberikan julukan, “Guru dari kakek dan cucu-nya”.

Diantara guru-guru Syaikhul Islam adalah :

1. Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H)
2. Jalaluddin Al-Mahally (w. 864 H)
3. Kamaluddin bin Al-Humam (w. 861 H)
4. Shalih bin Umar Al-Bulqini (w. 848 H)
5. Syarafuddin Yahya Al-Munawi (w. 871 H)

Diantara murid-muridnya :

1. Syihabuddin Ahmad Ar-Ramli (w. 957)
2. Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H)
3. Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H)
4. Al-Khatib As-Syirbini (w. 977 H)
5. Kamaluddin bin Abi Syarif (w. 906 H)
6. Abdul Wahab As-Sya’rani (w. 973 H)
7. Nashiruddin At-Thablawi (w. 966 H)
8. Ahmad Al-Burullusi “Al-Amirah” (w. 957 H)

Syekh Sa’id ‘Idhah Al-Jabiri Al-Yamani pernah menyampaikan seklumit biografi tentang Syaikhul Islam:

دُقِقْتُ بين حجرين وجلالين وكمالين

"Aku (Syaikhul Islam Zakariya) diapit oleh 2 Hajar, 2 Jalal, dan 2 Kamal:

~ Ibnu Hajar al-Asqalani sebagai guruku, dan Ibnu Hajar al-Haitami sebagai muridku.
~ Jalaluddin al-Mahalli sebagai guruku, dan Jalaluddin as-Suyuthi sebagai muridku.
~ Kamaluddin bin al-Himam sebagai guruku, dan Kamaluddin bin Abi Syarif sebagai muridku.”

Syaikhul Islam lahir pada tahun 824 H, dan wafat pada tahun 926 H. Beliau dimakamkan disebelah makam Imam Syafi’i, di sebelah kanan pintu gerbang. Ketika ziarah ke Imam Syafi’i, jangan lupa untuk ziarah juga ke Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari.

Karena beliau adalah maha guru dari ulama mutaakhirin yang memperjuangkan dan mempertahankan eksistensi madzhab Syafi’i. Beliau dan murid-muridnya, seperti: Ibnu Hajar, Syihab Ar-Ramli, Al-Khatib As-Syirbini, Syams Ar-Ramli disebut sebagai “النُّظَّار في الترجيح" yang mana semua pendapat mereka dianggap mu’tamad dalam madzhab Syafi’i.

رحمه الله تعالى ونفعنا بعلومه وبعلوم سائر مشايخه وتلامذته ومن انتسب إليهم أجمعين، آمين.

Allahu a,lam

Monday, August 19, 2024

3 DEBAT IBN TAIMIYAH

3 DEBAT IBN TAIMIYAH

Syaikh Ibn Taimiyah beberapa kali melakukan debat dengan ulama' Asy'ariyah. Tapi menurut saya, ada tiga kisah debat beliau yang paling berkesan dalam catatan sejarah dan boleh dikatakan menampakkan pemikiran beliau yang sebenarnya.

I. DEBAT DENGAN IMAM IBN ATHAILLAH:

Saat itu, tersebar dakwaan bahwa Ibn Taimiyah mengkafirkan pelaku istighotsah dengan Nabi dan beberapa masalah lain. Tapi saat diadakan majlis debat dengan Ibn Athaillah as-Sakandari al-Maliki, Ibn Taimiyah berkata, istighotsah dengan Nabi yang sehingga jatuh kafir adalah ketika dengan niatan beribadah kepada Nabi. Ibn Taimiyah juga memperbolehkan tawassul dan berharap syafaat dari Nabi. Setelah pernyataan itu, debat tidak jadi dilanjutkan, sebab ternyata sebagian issu yang berkembang tidak sesuai dengan kenyataan. Kisah ini ditulis oleh murid Ibn Taimiyah sendiri, yaitu Ibn Abdil Hadi dalam al-Uqud ad-Durriyah (I/267) dan beberapa ulama' lain.

Dari pernyataan diatas, dipastikan bahwa pemahaman beliau tentang Istighotsah, tawassul dan berharap syafaat Nabi sangat kontras dengan yang diyakini Salafi Wahabi, pengikutnya, dimana yang sudah masyhur, mayoritas dari mereka mengkafirkan pelaku istighotsah, tawassul dan berharap syafaat Nabi secara mutlak setelah kewafatan beliau.

II. DEBAT DENGAN PARA ULAMA' DAN QADHI:

Dalam kisah debat dengan beberapa ulama' dan qadhi, Ibn Taimiyah menyatakan taubat dan kembali ke akidah imam al-Asy'ari sebagaimana kisah al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqallani dalam ad-Durar al-Kaminah (I/148), Imam al-Maqrizi dalam as-Suluk Li Ma'rifah Duwal al-Muluk (II/391) dan ulama' yang menyaksikan kejadian, yakni Imam Syihabuddin an-Nuwairi dalam Nihayatul Arab (XXXII/115).

Musykilnya, setelah kisah taubat tersebut, Ibn Taimiyah masih meyakini akidah lama. Hal itu dibuktikan dengan Ibn Qayyim yang berguru kepada beliau setelah peristiwa taubat tersebut. Dan siapapun tahu, akidah beliau adalah "copy paste" dari akidah sang guru. Karena itu, banyak yang beranggapan bahwa taubat beliau adalah taqiyah. Tapi bagi Salafi Wahabi, kisah taubat tersebut adalah dusta atau hoax sebab kisah tersebut tidak dikisahkan oleh az-Zahabi, Ibn Abdil Hadi, dan Imam Ibn Katsir yang merupakan murid Ibn Taimiyah. Wallahu A'lam.

III. DEBAT DENGAN IMAM AL-BAJI:

Saat hendak berdebat dengan singa Ahlussunnah wal Jama'ah, Imam Alauddin al-Baji, Syaikh Ibn Taimiyah tiba-tiba merendah, menghormat, atau tidak berani. Saat diminta Imam al-Baji untuk memulai debatnya, Ibn Taimiyah berkata: "Orang sepertiku tidak layak berbicara didepan Anda. Bahkan selayaknya aku mengambil faidah dari Anda".

Bahkan saat kali berjumpa, Ibn Taimiyah memuji habis al-Baji. Al-Baji pun berkata: "Jangan memujiku berlebihan! Yang ada di sini hanyalah kebenaran". Dan setelah itu, Ibn Taimiyah dengan suka rela mau merubah 14 masalah dalam kitab yang pernah beliau tulis.

Kisah ini diceritakan oleh Tajuddin as-Subki dalam Thabaqot Syafi'iyah (X/342), Ibn Hajar dalam ad-Durar al-Kaminah (IV/120) dan Ibn Qadhi Syuhbah dalam Thabaqat Syafi'iyah (II/225). Sementara dalam kisah Imam Ibn Katsir, Ibn Taimiyah enggan berjumpa untuk debat dengan Imam Alauddin al-Baji (al-Bidayah wan Nihayah XIV/47).

Kisah mindernya Ibn Taimiyah diatas menampar muka pengikut beliau yang dalam banyak tulisan digambarkan beliau adalah seseorang yang gagah berani melawan Asy'ariyah dan bahkan tidak pernah mundur dalam medan debat.

[Posting ulang]

Friday, August 2, 2024

Catatan sejarah pendirian NU

Beberapa Catatan Penting Sejarah pendirian NU dalam Kesaksian Kiai As'ad Syamsul Arifin.

Tulisan panjang di bawah ini, saya resume dari pidato Kiai As'ad Syamsul Arifin yang berbahasa Madura tentang proses pendirian Nahdlatul Ulama.

--Audiensi para Kiai kepada Kiai Muntaha, Menantu Kiai Khalil Bangkalan tentang adanya gerakan anti ulama salaf.

Kira-kira pada tahun 1920, Kiai Muntaha Bangkalan, menantu Kiai Khalil, kedatangan tamu terdiri dari 66 ulama seluruh Indonesia. Tujuan mereka adalah agar Kiai Muntaha berkenan untuk menjadi “penyambung lidah” antara mereka dengan Kiai Khalil, mahaguru ulama Nusantara itu.  

Kepada Kiai Muntaha, para kiai itu bercerita bahwa saat ini ada pihak yang sangat anti pada ulama salaf, tidak senang dengan karya ulama salaf dan menurut mereka yang bisa diikuti hanya al-Quran dan Hadis saja. Isu inilah yang hendak dikonsultasikan ke Kiai Khalil.

--Pertemuan Para Kiai di kediaman Kiai Alwi Abd. Aziz, Kawatan, Surabaya.

Pada tahun 1921 atau 1922, ulama se-Jawa terdiri dari 46 orang berkumpul di Kawatan Surabaya, kediaman Kiai Alwi Abd. Aziz membahas terkait pendirian Jam’iyah. Beberapa nama yang disebut Kiai As’ad di antaranya; Kiai Syamsul Arifin, Sukorejo, Kiai Hasan, Genggong, Kiai Sidogiri (entah siapa yg dimaksud), Kiai Saleh Lateng, Kiai Asnawi Kudus, Kiai Tahir Bungkuk, kiai-kiai dari Jombang.

Pertemuan ini tidak menghasilkan apa-apa kecuali hanya beberapa ide-ide misalnya seperti, tidak perlu membuat organisasi baru, cukup organisasi yang ada saja direvitalisasi. Ada juga usulan untuk segera melahirkan organisasi baru.

Kebuntuan berfikir ini terus berlangsung sampai awal-awal tahun 1923. Di sisi lain, gerakan wahabisme sudah mulai merajalela di mana-mana. Dan mereka gencar menolak amaliyah-amaliyah orang pesantren, seperti tabarruk, tawassul dan lain.

Catatan Manuskrip Sunan Ampel

Setelah menceritakan kisah di atas, Kiai As’ad mengisahkan bahwa ada seorang kiai menyampaikan sebuah sejarah pada Kiai Khalil yang didasarkan pada tulisan Sunan Ampel. Isinya adalah; ketika Sunan Ampel ngaji dan berada di Madinah, Sunan Ampel pernah bermimpi nabi dan nabi berpesan agar Islam Ahlussunnah Waljamaah dibawa hijrah ke Indonesia, sebab di tanah asalnya ia sudah tidak berdaya. Dan perlu diketahui bahwa di zaman itu belum ada wahabi.

--Istikharah di Maqbarah Walisongo dan Nabi Muhammad Saw.

Temuan manuskrip tersebut justru membuat para kiai merasa berat, belum menemukan solusi.

Ketika kondisi seperti ini, ada 4 kiai ditugaskan untuk istikharah di maqbarah para sunan selama 40 hari. Ada juga yang ditugaskan untuk istikharah di Madinah, maqbarah Nabi Muhammad Saw.

Di akhir, tahun 1923, semua petugas istikharah melakukan pertemuan untuk melaporkan hasil istikharah mereka. Dan menurut Kiai As’ad, laporan ini tertulis dan naskahnya ada. Kiai As’ad tidak memastikan, siapa yang menyimpan hasil pertemuan ini. “Insyaallah, badha (ada)...”, ujar Kiai As’ad.

--1924 Kiai As’ad dipanggil Kiai Khalil Bangkalan

Karena belum menemukan jalan keluar, pada tahun 1924 Kiai As’ad yang saat itu sedang belajar di Bangkalan dipanggil oleh Kiai Khalil. Kiai Khalil berkata pada Kiai As’ad:

“Lagguna be’en entar ka Hasyim Asy’ari, Jombang”, “Besok pergi ke Hasyim Asy’ari, Jombang..”. Dalam perjalanan ke Jombang ini, Kiai Khalil menitipkan tongkat dan sebuah ayat yang berbunyi:

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَامُوسَى (17) قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى (18) قَالَ أَلْقِهَا يَامُوسَى (19) فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى (20) قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى (21)

"Dan apakah yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?", (17) Dia (Musa) berkata, "Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain." (18), Dia (Allah) berfirman, "Lemparkanlah ia, wahai Musa!" (19), Lalu (Musa) melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. (20) Dia (Allah) berfirman, "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, (21)”. (Qs. Thaha: 17-21)

Singkat cerita, sesampainya di Jombang Kiai As’ad ditemui langsung oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Pada momen ini, Kiai Hasyim bertanya latar belakang Kiai As’ad dan ternyata, Kiai As’ad memiliki hubungan keluarga dengan Kiai Hasyim lewat jalur ibu beliau yang bernama Nyai Maimunah (maqbarah ibunda Kiai As’ad ada di Talangsiring Pamekasan).

Setelah itu, Kiai As’ad menyampaikan titipan Kiai Khalil berupa tongkat. Bagaimana respons Kia Hasyim? Kata Kiai As’ad, ketika pertama kali mendengar ada titipan tongkat, Kiai Hasyim kaget penuh heran bertanya-tanya.

Dan beliau tidak segera menerima tongkat tersebut. Lalu Kiai As’ad meneruskan obrolan dengan membacakan surat Thaha di atas yang dibacakan oleh Kiai Khalil.

Setelah selesai membacakan surat tersebut, dengan penuh haru Kiai Hasyim Asy’ari merespons:

“Alhamdulillah, cong, engkok tolos mabadha jam’iyah Ulama, tolos mabadha jam’iyah ulama, tolos engkok, kalabhan tongket reya, areya tongket nabi Musa ebaghi ka engkok bhik Kiai Khalil”... artinya, “Alhamdulillah, nak, saya jadi mendirikan Jam’iyah Ulama, jadi mendirikan Jam’iyah Ulama, saya jadi mendirikan dengan (isyarah) tongkat ini. Ini tongkat nabi Musa diberikan ke saya oleh Kiai Khalil”...

Pada waktu itu, menurut Kiai As’ad belum ada nama Nahdlatul Ulama. Kiai Hasyim menggunakan term “Jam’iyah Ulama...”. Kemudian Kiai As’ad pamit dan sebelum pamit beliau minta didoakan pada Kiai Hasyim. Dan sebelum benar-benar pergi, Kiai Hasyim sekali lagi menitipkan salam untuk Syaikhana Khalil, berupa kabar bahwa sebentar lagi akan didirikan Jam’iyah ulama.

--Kiai As’ad kembali Dipanggil Kiai Khalil

Pada akhir tahun 1924, Kiai As’ad dipanggil kembali oleh Kiai Khalil. Pada waktu, Kiai As’ad masih sebagai santri di Bangkalan. Panggilan yang kedua ini Kiai As’ad ditugas untuk kembali ke Tebuireng.

Jika sebelumnya membawa tongkat misi kali ini diperintah membawa tasbih. Bukan hanya tasbih, Kiai Khalil juga menitipkan dua asmaul husna; Ya Jabbar, Ya Qahhar. Satu bacaan satu putaran, begitupula bacaan satunya. Lalu Kiai As’ad menjulurkan kepalanya agar tasbih yang dimaksud dikalungkan saja.

Sebagaimana kisah pertama, bahwa selama perjalanan beliau menjadi sorotan banyak mata; ada yang meledek sebagai orang gila sebab ia masih muda tetapi sudah pakai tongkat dan kedua kalinya berkalung tasbih, ada juga yang menganggap beliau wali karena penampilannya aneh.

Yang menarik disampaikan juga bahwa; selama menjalankan tugas-tugas berat ini, Kiai As’ad berpuasa sepanjang Bangkalan-Tebuireng; ia tidak makan, tidak minum, tidak merokok bahkan selama perjalan beliau tidak berbicara pada siapapun. Jadi beliau “puasa” bicara. Karena sedang membawa amanat kiai. Kata Kiai As’ad, “Sebelum bertemu dengan Kiai Hasyim saya tidak akan berbicara dengan siapapun”.

Sesampainya di Tebuireng, Kiai As’ad melaporkan amanatnya berupa titipan tasbih. Kiai Hasyim dawuh:

“Masyaallah, masyaallah, engkok ekemani ongghu bhik ghuru...”, artinya, “Masyallah, masyaallah, saya disayang betul sama guru saya...”.

Dan betapa kagetnya, saat Kiai Hasyim tahu bahwa tasbih yang dimaksud ada di leher Kiai As’ad. Jadi, Kiai As’ad tidak menyentuh tasbih tersebut. Di Bangkalan dipasang langsung oleh Kiai Khalil dan di Jombang diambil langsung oleh Kiai Hasyim. Lalu Kiai As’ad membacakan dua lafadz Asmaul Husna yang juga dititipkan mengiringi tasbih tersebut. Kiai Hasyim merespons:

“Sapa se bengal ka NU ancor, karena jam’iyah ulama, ancor...” artinya, “Siapa yang berani (kurang ajar) kepada NU akan hancur, sebab (ini) adalah jam’iyah ulama”.

--1925 Kiai Khalil Bangkalan Wafat

Tahun 1925 bertepatan dengan tanggal 29 Ramadan, mahaguru ulama Nusantara, Syaikhana Khalil Bangkalan wafat. Kata Kiai As’ad, info kewafatan Kiai Khalil terjadi kehebohan luar biasa di publik luas. Umat seperti kehilangan pelita yang selama ini menyinari bumi Nusantara.

--1926 NU resmi berdiri

Bertepatan pada bulan Rajab tahun 1926 Nahdlatul Ulama resmi berdiri. Tahun ini semua kebutuhan NU sebagai organisasi disusun satu persatu. Kiai As’ad menyebut nama Kiai Dahlan, Nganjuk, sebagai sosok yang menyusun anggaran dasar rumah tangga organisasi. Lalu ada beberapa pertemuan ulama untuk mendelegasikan utusan ke Gubernur termasuk Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Tulisan lebih lengkap silahkan baca di kanal: https://arina.id/khazanah/ar-nIOFK/memahami-sejarah-berdirinya-nu-dari-kiai-as-ad-syamsul-arifin.

Penutup

Kisah di atas, adalah beberapa poin yang bisa saya tangkap dari rekaman sejarah pendirian Nahdlatul Ulama oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin, pelaku langsung pendirian NU yang bukti kesaksiannya terekam dengan baik dan tersimpan di Youtube atau di pondok Sukorejo. 

Tabik
Ahmad Husain Fahasbu

Thursday, September 28, 2023

Siapa Yang Pertama Melakukan Maulid Nabi?

Siapa Yang Pertama Melakukan Maulid Nabi?

Kabarnya dari Dinasti Fatimiyah dan sudah jelas bukan Sunni? Beda. Kalau yang dari Dinasti Fatimiyah itu semua Maulid dirayakan, ada Maulid Sayidah Fatimah, Maulid Sayidina Hasan dan Sayidina Husein, Maulid Sayidina Ali dan lainnya. Sementara kita cuma Maulid Nabi saja.

Oleh karena itu para ulama ahli hadis menyebut penggagasnya adalah:

ﻭﺃﻭﻝ ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻌﻞ ﺫﻟﻚ ﺻﺎﺣﺐ ﺇﺭﺑﻞ اﻟﻤﻠﻚ اﻟﻤﻈﻔﺮ

"Orang yang pertama kali melakukan maulid Nabi adalah penguasa Irbil, Raja Al-Mudzaffar." (Husnul Maqshid fi Amalil Maulid).

Apakah beliau Sunni? Ya jelas. Berikut penjelasan Al-Hafidz adz-Dzahabi:

ﻭﻛﺎﻥ ﻣﺘﻮاﺿﻌﺎ، ﺧﻴﺮا، ﺳﻨﻴﺎ، ﻳﺤﺐ اﻟﻔﻘﻬﺎء ﻭاﻟﻤﺤﺪﺛﻴﻦ

"Ia rendah hati, orang baik, SUNNI, mencintai ulama fikih dan hadis".

Beliau menggambarkan perayaan maulid di masa itu:

ﻭﺃﻣﺎ اﺣﺘﻔﺎﻟﻪ ﺑﺎﻟﻤﻮﻟﺪ ﻓﻴﻘﺼﺮ اﻟﺘﻌﺒﻴﺮ ﻋﻨﻪ؛ ﻛﺎﻥ اﻟﺨﻠﻖ ﻳﻘﺼﺪﻭﻧﻪ ﻣﻦ اﻟﻌﺮاﻕ ﻭاﻟﺠﺰﻳﺮﺓ ﻭﺗﻨﺼﺐ ﻗﺒﺎﺏ ﺧﺸﺐ ﻟﻪ ﻭﻷﻣﺮاﺋﻪ ﻭﺗﺰﻳﻦ

Perayaan maulid yang dilakukan oleh Raja Irbil maka tak sanggup diungkap dengan kata. Semua orang datang ke sana, dari Iraq dan Jazeera. Juga dibuatkan kubah dari kayu dan dihias, untuk beliau dan para pemimpin (Siyar Alam An-Nubala, 22/336)

Demikian pula yang disampaikan oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir:

ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻌﻤﻞ اﻟﻤﻮﻟﺪ اﻟﺸﺮﻳﻒ ﻓﻲ ﺭﺑﻴﻊ اﻷﻭﻝ ﻭﻳﺤﺘﻔﻞ ﺑﻪ اﺣﺘﻔﺎﻻ ﻫﺎﺋﻼ، ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﺷﻬﻤﺎ ﺷﺠﺎﻋﺎ ﻓﺎﺗﻜﺎ ﺑﻄﻼ ﻋﺎﻗﻼ ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻋﺎﺩﻻ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ ﻭﺃﻛﺮﻡ ﻣﺜﻮاﻩ

Ia melaksanakan Maulid di bulan Rabiul Awal dengan perayaan yang besar. Ia seorang yang mulia jiwanya, pemberani, penakluk, pahlawan, cerdas, berilmu dan adil. Semoga Allah memberi Rahmat untuknya dan memuliakan tempatnya (Al-Bidayah, 13/160)

Setelah itu amalan ini diterima luas oleh umat Islam seperti yang disampaikan oleh Al-Hafidz As-Sakhawi:

قَالَ الْحَافِظُ أَبُوْ الْخَيْرِ السَّخَاوِي - رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى - فِي فَتَاوِيْهِ: عَمَلُ الْمَوْلِدِ الشَّرِيْفِ لَمْ يُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ فِي الْقُرُوْنِ الثَّلَاثَةِ الْفَاضِلَةِ، وَإِنَّمَاَ حَدَثَ بَعْدُ، ثُمَّ لَا زَالَ أَهْلُ اْلإِسْلَامِ فِي سَائِرِ اْلأَقْطَارِ وَالْمُدُنِ الْكِبَارِ يَحْتَفِلُوْنَ فِي شَهْرِ مَوْلِدِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَمَلِ الْوَلَائِمِ الْبَدِيْعَةِ الْمُشْتَمِلَةِ عَلَى اْلأُمُوْرِ الْبَهْجَةِ الرَّفِيْعَةِ وَيَتَصَدَّقُوْنَ فِي لَيَالِيْهِ بِأَنْوَاعِ الصَّدَقَاتِ وَيُظْهِرُوْنَ السُّرُوْرَ وَيَزِيْدُوْنَ فِي الْمَبَرَّاتِ وَيَعْتَنُوْنَ بِقِرَاءَةِ مَوْلِدِهِ الْكَرِيْمِ وَيَظْهَرُ عَلَيْهِمْ مِنْ رَكَاتِهِ كُلَّ فَضْلٍ عَمِيْمٍ.

Al-Hafidz as-Sakhawi berkata dalam Fatwanya: Amaliyah Maulid tidak diriwayatkan dari seorang ulama Salaf dalam 3 kurun yang utama. Amaliyah ini dilakukan sesudahnya, kemudian umat Islam di seluruh penjuru dan kota besar selalu merayakannya di bulan kelahiran Nabi Saw, dengan perayaan yang indah dan agung, mereka bersedekah di malam harinya, menampakkan rasa suka cita, menambah belanjanya, dan membaca kelahiran Nabi Saw. Dan tampak kepada mereka berkahnya-Nabi dengan merata (Subul al-Huda wa ar-Rasyad 1/362).

Bagaimana dengan penolakan Maulid saat ini? Saya ikut pedoman dari Nabi agar ikut mayoritas:

« إِنَّ أُمَّتِى لَنْ تَجْتَمِعَ عَلَى ضَلاَلَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمُ اخْتِلاَفًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الأَعْظَمِ ». (رواه ابن ماجه عن أنس)

Hadis: “Umatku tidak akan berkumpul di atas kesesatan. Jika kalian melihat perbedaan, maka ikutilah mayoritas umat Islam” (HR Ibnu Majah dari Anas)

Sunday, September 3, 2023

Fakta-fakta tentang al-Imam al-Ghazali yang jarang diketahui orang

Fakta-fakta tentang al-Imam al-Ghazali yang jarang diketahui orang. Kalau Gus Ulil Abshar Abdalla pasti sudah tahu:

1. ia pakar perbandingan agama. Dalam bidang ini al-Ghazali menulis kitab: al-Radd al-Jamil Li Ilahiyati Isa Bi Sharih al-Injil (Counter wacana yang baik untuk Ketuhanan Isa Perspektif Kitab Injil)

2. Dia tidak memiliki anak laki-laki tetapi nama kunyahnya adalah Abu Hamid (bapaknya Hamid). Kata Ulama kenapa mendapat panggilan ini sebab banyak mengucap hamdalah atau karena alasan tafaulan.

3. Sosok ulama multilangual (menguasai beberapa bahasa). al-Ghazali bukan hanya menguasai bahasa arab tetapi juga persia. Bukunya yang berjudul: al-Tibr al-Masbuq fi Nashihah al-Muluk yang berisi pandangan al-Ghazali tentang Politik dan Pemerintahan berbahasa Persia. Sekarang yang kita baca sudah versi terjemah dalam bahasa Arab. Konon ia juga menguasai bahasa Ibrani alasannya dalam kitab al-Radd al-Jamil, ia banyak mengadaptasi bahasa Ibrani.

4. Pernah dipuji gurunya. saat al-Ghazali merilis kitab al-Mankhul min Ta'liqah al-Ilm al-Ushul ia dipuji guru besarnya, al-Haramain. Bahkan sang guru berkata: "Kitabmu ini menenggelamkan namaku. Tidakkah kau sabar sebentar. Kepopularan Kitabmu menenggelamkan kitabku"

5. al-Ghazali lahir dari keluarga orang biasa. Ayahnya hanya seorang pedagang di pasar tetapi ia mencintai para alim ulama dan sering hadir di majelis debat atau bahtsul masail ulama untuk menyaksikan para alim berdiskusi sembari dalam hati kecilnya terus menangis agar ia dikaruniai seorang anak seperti mereka. Benar saja, lahir al-Ghazali yang namanya terus dibicarakan hingga hari ini.

Kisah di atas diadaptasi dari buku: Suluk Teladan: Keulamaan, Kearifan dan Keteladanan Ulama Ushul FIqh. Pesan buku tersebut dengan bonus tanda tangan penulisnya di sini: https://shp.ee/qkch75k. Tabik.

Ahmad Husain Fahasbu

Saturday, July 22, 2023

Kyai Ibnu Taimiyyah dan Cerita Irrasional

**[[ Kyai Ibnu Taimiyyah dan Cerita Irrasional ]]**

Sesuatu yang bersifat irrasional, memang selalu tak masuk akal. Ya, namanya saja diluar koridor akal biasa. Terkait cerita irrasional, ada sebagian kalangan yang menelannya bulat-bulat, jika itu berkaitan dengan tokoh idolanya. Tak jarang ada yang menolak mentah-mentah semua cerita irrasional itu.

Kita akan membaca beberapa kisah yang sepertinya irrasional. Cerita ini berkaitan dengan Ibnu Taimiyyah al-Harrani (w. 728 H).

Kenapa dipilih cerita Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) disini?. Biasanya jika sesuatu yang tak masuk akal itu terjadi kepada beliau, hampir-hampir tak ada yang membantah cerita tersebut. Bahkan oleh orang yang biasanya suka mengkhurafat-tahayulkan kelompok lain.

Lain halnya jika cerita tak masuk akal ini terjadi pada diri orang yang disebut “kyai”. Memang tak bisa dipungkiri, ada orang awam yang mengiyakan saja cerita-cerita irrasional itu, bahkan menambah-nambahi cerita biar seru dan wah. Tapi disisi lain ada pula yang malah dengan mudah menuduh sang kyai bekerjasama dengan jin, sampai menuduh syirik.

Disitu kadang saya merasa sedih.

Memanggil Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dengan sebutan Kyai Ibnu Taimiyyah tentu sah-sah saja. Karena memang kata kyai sebenarnya untuk makna "yang dituakan ataupun dihormati".

Kita akan baca beberapa kejadian irrasional yang pernah terjadi pada Ibnu Taimiyyah (w. 728 H). Kejadian-kejadian ini sangat bisa dipertanggungjawabkan validitas datanya. Karena datanya primer, langsung dari kitab karangan murid-murid Ibnu Taimiyyah (w. 728 H).

*[[ Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) Bisa Meramal Masa Depan ]]*

Pernah suatu ketika Mbah Mad Dalhar atau KH. Ahmad Abdul Haq (w. 2010 M); pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Watucongol Magelang kedatangan tamu yang belum beliau kenal sebelumnya. Setelah bersalaman, serta merta Mbah Mad bilang ke tamu tersebut:

“Kamu ini kerjaannya menghalalkan sesuatu yang haram ya?”

Sontak saja tamu tersebut kaget sekaligus takut, kenapa Mbah Mad bilang seperti itu. Padahal sepertinya tak pernah si tamu menghalalkan sesuatu yang memang haram menurut agama.

Selang beberapa saat, Mbah Mad berkata sebelum tamu itu bertanya kenapa. “Pegawai KUA itu kan kerjanya menikahkan orang. Nah, laki-laki dan perempuan yang awalnya haram untuk berbuat sesuatu, gara-gara kamu nikahkan sekarang jadi halal”. Oh, begitu! Ternyata si tamu itu memang kerjanya jadi pegawai KUA.

Tentu bagi sebagian orang bertanya-tanya, darimana Mbah Kyai bisa tahu bahwa tamunya adalah pegawai KUA. Karena pada saat itu, si tamu juga tak lagi memakai seragam KUA. Si Tamu juga tak mengisi buku tamu dengan menuliskan pekerjaannya. Darimana kyai tahu perkata ghaib? Khurafatkah beliau? Atau mungkin bekerjasama dengan jin?

Tentu jika awalnya sudah tak suka kyia, akan bilang; “Iya, tuh! Kyai khurafat, tak masuk akal, itu doktrin keramat wali yang sesat, mengesampingkan akal sehat!”

Biarlah dia berkata seperti itu. Mari kita baca cerita dari Ibnu Qayyim al-Jauziyyah al-Hanbali (w. 751 H) tentang sang guru; Ibnu Taimiyyah al-Harrani (w. 728 H). Suatu ketika Ibnu Qayyim pernah bilang:

ولقد شاهدت من فراسة شيخ الإسلام ابن تيمية - رحمه الله - أمورا عجيبة. وما لم أشاهده منها أعظم وأعظم

Saya telah menyaksikan firasat Ibnu Taimiyyah pada banyak kejadian yang menghebohkan. Dan apa yang belum saya saksikan, lebih banyak dan lebih heboh lagi. (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah w. 751 H, Madarij as-Salikin, h. 2/ 459)

Ibnu Qayyim (w. 751 H) ini bisa dibilang murid terdekat Ibnu Taimiyyah (w. 728 H). Diantara kejadian aneh yang dialami oleh Ibnu Qayyim adalah Ibnu Taimiyyah bisa tahu sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi.

وأخبرني غير مرة بأمور باطنة تختص بي مما عزمت عليه، ولم ينطق به لساني. وأخبرني ببعض حوادث كبار تجري في المستقبل. ولم يعين أوقاتها. وقد رأيت بعضها وأنا أنتظر بقيتها. وما شاهده كبار أصحابه من ذلك أضعاف أضعاف ما شاهدته. والله أعلم.

(Ibnu Taimiyyah) mengabarkan kepadaku hal yang sebenarnya masih dalam pikiran saya, dan saya belum mengucapkannya kepada beliau. Beliau Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) juga mengabarkan kepadaku kejadian-kajadian besar yang akan terjadi di masa yang akan datang. Hanya beliau tidak memberikan kepastian waktu akan terjadi hal tadi. Sebagian saya lihat dan saksikan sendiri, sebagiannya masih saya tunggu. Kejadian yang disaksikan oleh para murid beliau yang lain, malah lebih banyak lagi daripada yang saya lihat. (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah w. 751 H, Madarij as-Salikin, h. 2/ 459).

Nah, sepantasnya kita juga menanyakan hal sama; darimana Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) tahu perkata ghaib? Khurafatkah beliau? Atau mungkin bekerjasama dengan jin?

Ah, kalo itu terjadi pada Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) rasanya kok tak mungkin. Beliau kan ulama salaf?

Hal serupa pernah terjadi kepada murid beliau yang lain, yaitu Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali (w. 749 H). Beliau bahkan menuliskan biografi lengkap dengan karamah dan firasat-firasat Ibnu Taimiyyah (w. 728 H). Nama kitabnya adalah al-A’lam al-Aliyyah fi Manaqib Ibnu Taimiyyah.

*[[ Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dan Kasyaf ]]*

Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali (w. 749 H) pernah bercerita:

وحدثني أيضا قال أخبرني الشيخ ابن عماد الدين المقرئ المطرز قال قدمت على الشيخ ومعي حينئذ نفقة فسلمت عليه فرد علي ورحب بي وأدناني ولم يسألني هل معك نفقة ام لا
فلما كان بعد أيام ونفدت نفقتي أردت أن اخرج من مجلسه بعد ان صليت مع الناس وراءه فمنعني وأجلسني دونهم فلما خلا المجلس دفع الي جملة دراهم وقال انت الآن بغير نفقة فارتفق بهذه فعجبت من ذلك

Telah menceritakan kepadaku Syeikh Ibnu Imadiddin al-Muqri’; beliau berkata: Suatu ketika saya datang kepada Syeikh Ibnu Taimiyyah. Saat itu saya membawa bekal nafkah. Saya menyalami beliau, hanya setelah itu beliau tak menanyakan kepadaku apakah saya punya bekal nafkah atau tidak.

Selang beberapa hari, saat bekal nafkah saya habis, saya bertemu dengan beliau lagi. Selepas shalat bersama beliau dan saya akan pamit, beliau menahanku. Saya diminta duduk di belakangnya seraya beliau memberiku sejumlah dirham. Beliau berkata; “Kamu kan sekarang sudah tak ada bekal nafkah, ini buat kamu saja. Disitu saya takjub. (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah, h. 60)

Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) bisa tahu bahwa Ibnu Imadiddin al-Muqri’ tak punya bekal nafkah pada pertemuan kedua. Ibnu Imadiddin menyimpulkan:

وعلمت ان الله كشفه على حالي أولا لما كان معي نفقة وآخرا لما نفدت واحتجت الى نفقة

Saya yakin, Allah telah membukakan (kasyaf) keadaanku kepada Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) ketika bekal nafkah saya habis pada pertemuan kedua (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah, h. 60)

Ternyata Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) telah di-kasyaf-kan mata batinnya oleh Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana penuturan murid beliau.

*[[ Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) Mendoakan Orang Sakit Langsung Sembuh ]]*

Kadang menjadi seorang kyai memang harus serba bisa. Jika ada masalah, datangnya ke kyai, mau nikah datangnya ke kyai, bahkan sakitpun datangnya ke kyai. Memangnya kyai multi talent? Padahal kadang hanya dido’akan saja.

Tapi ya begitulah, alhamdulillah datangnya masih ke kyai, bukan ke dukun. Asal tidak salah saja, datang ke dukun yang berpenampilan kyai, atau ke kyai yang memasang tarif per kunjungan.

Suatu ketika Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) pernah mendo’akan orang sakit. Setelah didoakan langsung segera sembuh.

وحدثني ايضا قال مرضت بدمشق اذ كنت فيها مرضة شديدة منعتني حتى من الجلوس فلم اشعر إلا والشيخ عند رأسي وأنا مثقل مشتد بالحمى والمرض فدعا لي وقال جاءت العافية. فما هو إلا أن فارقني وجاءت العافية وشفيت من وقتي

Suatu ketika saya sakit di Damaskus. Saat itu sakitnya cukup parah, sampai duduk saja susah. Tak terasa Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) sudah berada diatas saya. Beliau mendoakan saya, dan berkata; kesembuhan telah datang. Setelah beberapa saat beliau pergi, benar saja saya segera sembuh saat itu juga. (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah, h. 58). Hebat juga Ibnu Taimiyyah (w. 728 H).

*[[ Jika Merasa Takut dan Khawatir, Datang Saja ke Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) ]]*

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) menuturkan:

وكنا إذا اشتد بنا الخوف وساءت منا الظنون وضاقت بنا الأرض أتيناه، فما هو إلا أن نراه ونسمع كلامه فيذهب ذلك كله وينقلب انشراحاً وقوة ويقيناً وطمأنينة.

Jika kami merasa takut, sering berburuk sangka dan bumi terasa sempit, maka kami datang kepada Ibnu Taimiyyah. Ketika kami melihat beliau dan mendengarkan perkataan beliau, maka rasa takut tadi seketika hilang, berganti keyakinan dan ketenangan. (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah w. 751 H, al-Wabil as-Shayyib, h. 48)

Memang begitulah kyai, kadang masyarakat datang kepadanya hanya untuk menentramkan batin mereka.

Maka, jika setelah bertemu kyai atau ustadz, atau setelah mengikuti kajiannya, kok tak merasa tentram tapi malah bertambah panas, ada baiknya untuk muhasabah lagi. Barangkali ada sesuatu yang salah, entah apa itu.

*[[ Keramat Kyai Ibnu Taimiyyah: Menentang Beliau Akan Mendapatkan Bala’ ]]*

Kadang murid-murid Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) juga agak berlebihan juga ketika menceritakan keramat beliau. Contohnya dibawah ini:

ومن اظهر كراماته أنه ما سمع بأحد عاداه او غض منه إلا وابتلي بعدة بلايا غالبها في دينه وهذا ظاهر مشهور لا يحتاج فيه الى شرح صفته

Keramat paling nampak dari beliau adalah jika ada yang menentang atau memusuhi beliau, biasanya akan mendapatkan bala’ atau cobaan, biasanya dalam keagamaannya. Ini adalah sesuatu yang masyhur dan tak perlu dijelaskan bagaimana sifatnya. (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah, h. 62)

*[[ Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) Memang Banyak Keramatnya ]]*

Maka Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H berkesimpulan:

قلت وكرامات الشيخ رضي الله عنه كثيرة جدا لا يليق بهذا المختصر اكثر من ذكر هذا القدر منها

Keramatnya Ibnu Taimiyyah itu sangat banyak (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah, h. 62)

Itulah beberapa contoh keramat dan cerita irrasional dari Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) yang diceritakan langsung oleh beberapa murid beliau. Dan itu hanya sebagiannya saja. Jika mau lebih banyak, silahkan baca-baca lagi biografi beliau langsung di kitab-kitab murid beliau.

*[[ Kyai Ibnu Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) Bercerita Tentang Keramat: Ada Orang Bisa Berjalan Diatas Air Dengan Doa Tertentu ]]*

Jika tadi yang bercerita adalah murid Ibnu Taimiyyah tentang gurunya. Ibnu Taimiyyah sendiri mempunyai kitab yang berjudul al-Furqan Baina Auliya ar-Rahman wa Auliya as-Syeithan; Beda antara wali Allah dan wali Syeitan.

Suatu kesempatan Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) menuliskan:

والعلاء بن الحضرمي كان عامل رسول الله صلى الله عليه وسلم على البحرين وكان يقول في دعائه: يا عليم يا حليم يا علي يا عظيم، فيستجاب له، ودعا الله بأن يسقوا ويتوضؤوا، لما عدموا الماء، والإسقاء لما بعدهم، فأجيب.
ودعا الله لما اعترضهم البحر ولم يقدروا على المرور بخيولهم، فمروا كلهم على الماء ما ابتلت سروج خيولهم

Al-Ala’ bin al-Hadhromi termasuk salah satu pekerja Nabi Muhammad di Bahrain. Suatu ketika dia berdoa: ya Alim, ya Halim, ya Aliy, ya Adzim! Maka doanya terkabul. Beliau juga berdoa ketika sedang tidak ada air, agar bisa wudhu dan minum. Dan beliau dikabulkan doanya.

Beliau berdoa ketika mau melewati laut, agar bisa berjalan diatas air bersama dengan kudanya. Maka beliau bersama rombongannya bisa berjalan diatas air tanpa basah sedikitpun. (Ibnu Taimiyyah al-Harrani w. 728 H, al-Furqan Baina Auliya ar-Rahman wa Auliya as-Syeithan, h. 162).

Itulah salah satu keramat shahabat Nabi yang diceritakan oleh Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dalam kitabnya. Hal yang menarik adalah shahabat Nabi al-Ala’ bin al-Hadhromiy dalam do’anya beliau mengucapkan: ya Alim, ya Halim, ya Aliy, ya Adzim!

Darimanakah doa itu didapatkan? Adakah haditsnya? Bukankah itu membuat-buat doa yang tak diajarkan oleh Nabi? Bid’ahkah?

Kadang ada orang yang nyinyir jika ada orang yang mengamalkan suatu kalimah thayyibah tertentu, misalnya: dengan membaca ya Hayyu ya Qayyum, insyaAllah bisa berjalan diatas air, dst. Dengan mengatakan, itu tak dalilnya.

*[[ Keramat Wali dan Sikap Kita ]]*

Tentu masih banyak lagi cerita tak masuk akal yang terjadi kepada para kekasih Allah. Tak sedikit memang yang hanya cerita fiktif belaka.

Agama Islam tak mengingkari adanya sesuatu yang irrasional. Maka jika ada kejadian tak masuk akal terjadi pada diri seseorang, kita akan gali lebih dalam lagi terkait siapa orang itu. Apakah wali Allah atau wali Syeitan?

Kita akan membaca beberapa episode menarik dari hidupnya Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) pada kesempatan yang lain, insyaAllah. Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa'fu anhu. Lahu al-Fatihah..

Friday, June 23, 2023

SUMBER PENGHASILAN IMAM AHMAD

SUMBER PENGHASILAN IMAM AHMAD

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R. Rozikin, Dosen di Universitas Brawijaya)

Imam Ahmad termasuk imam besar, mujtahid mutlak dan ulama saleh yang sangat berilmu tetapi diuji dengan kemiskinan. Walaupun demikian beliau tetap rida dengan harta yang sempit.

Saya ceritakan  kondisi ekonomi beliau dalam catatan ini untuk membuktikan bahwa sempit lapangnya rezeki tidak terkait dengan kesalehan-kefasikan, banyak-sedikitnya sedekah, tinggi-rendahnya ilmu atau persangkaan-persangkaan batil lainnya. Yang benar adalah luas sempitnya harta itu keputusan Allah, ketentuanNya dan kebijaksanaanNya  atas pertimbangan dan hikmah yang dikehendakiNya.

Juga agar menjadi pelajaran dan teladan praktis terkait sumber rezeki seorang  dai dan ulama besar di masa lalu. Melengkapi catatan-catatan sebelumnya.

***

Pekerjaan, profesi dan sumber rezeki imam Ahmad itu jika mau disebut dengan satu kata maka diksi yang paling mewakili adalah SERABUTAN.

Jadi kerja beliau itu memang tidak tetap.

Kerja beliau serabutan.

Apapun yang penting halal dan bisa dilakukan untuk mengais rezeki, maka akan beliau lakukan.

Beliau lebih memilih bekerja menggunakan kedua tangannya atau berakad yang tidak terkait dengan aktivitas dakwahnya daripada menggantungkan pemasukan dari pemberian orang. Sikap hidup menonjol Imam Ahmad di antaranya memang benar-benar anti dengan pemberian. Jangankan pemberian yang haram atau syubhat. Yang jelas-jelas halal sekalipun beliau tetap tegas menolaknya!

Jika ada ulama atau ustaz atau dai di zaman sekarang yang pekerjaannya serabutan, maka beliau mendapatkan teladan mulia di masa lalu, yakni imam Ahmad ini.

***

Kajian terhadap biografi beliau yang terkait dengan sumber penghasilan akan memberi kita beberapa data sebagai berikut.

Di antara sumber penghasilan beliau adalah hasil kebun. Tidak diterangkan dalam kitab biografi apa isi hasil kebunnya. Yang jelas jumlahnya sedikit. Kebun itu adalah warisan dari ayahnya.

Ada juga hasil menyewakan toko tenun yang kecil sekali. Toko tenun itu juga warisan dari sang ayah. Harga sewanya juga tidak besar. Ada riwayat yang menunjukkan beliau hanya dapat 1,5 dirham saja dari hasil sewa!

Terkadang  beliau juga bekerja sebagai penyalin naskah. Pernah terjadi saat baju beliau dicuri orang di masa menuntut ilmu, maka beliau membeli baju baru dengan cara menyalin naskah.

Pernah juga beliau menjadi kuli panggul. Ini terjadi di masa menuntut ilmu juga. Dalam safar, saat beliau kehabisan bekal, maka beliau mengontrakkan dirinya untuk menjadi kuli panggul barang-barang dengan upah tertentu.

Pernah juga beliau menenun baju lalu menjualnya.Itupun hanya mau dengan harga wajar. Tidak mau diberi harga berlebihan.

Terkadang juga beliau mencari nafkah dengan NGREMPES! Istilah ngrempes dalam bahasa Jawa jika di Batu (kota kelahiran saya)  bermakna memunguti sisa-sisa sayuran dari kebun/sawah setelah panen atas izin pemilik kebun/sawah. Bisa juga ngrempes ini dilakukan di pasar pada sisa sayuran pedagang.

***

Ibnu Kaṡīr melaporkan  bahwa nafkah utama Imam Ahmad adalah dari hasil  kebun dan menyewakan itu. Sebulan hanya menghasilkan 17 dirham dan itulah yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan beliau dan keluarganya. Ibnu Kaṡīr menulis,

«وَكَانَتْ ‌غَلَّتُهُ ‌مِنْ ‌مِلْكٍ ‌لَهُ ; ‌فِي ‌كُلِّ ‌شَهْرٍ ‌سَبْعَةَ ‌عَشَرَ ‌دِرْهَمًا يُنْفِقُهَا عَلَى عِيَالِهِ، وَيَتَقَنَّعُ بِذَلِكَ، رَحِمَهُ اللَّهُ، صَابِرًا مُحْتَسِبًا». «البداية والنهاية» (14/ 412 ت التركي)

Artinya,

“Penghasilan beliau dari properti yang beliau miliki setiap bulannya 17 dirham. Itulah yang beliau nafkahkan untuk keluarganya. Beliau qanaah/nrimo dengan rezeki tersebut rahimahullah. Beliau juga bersikap tabah seraya mengharap pahala dari Allah” (al-Bidāyah wa al-Nihāyah, juz 14 hlm 412)

***
Sekarang kita akan mencoba menghitung penghasilan Imam Ahmad jika dikonversikan ke rupiah.

1 dirham setara dengan 2,979 gram perak.

Harga perak per ram pada Sabtu, 24 Juni 2023 menurut situs harga-emas.org adalah Rp 10.826. Dengan demikian 1 dirham setara dengan Rp. 32.250,654. Jika ini yang kita jadikan ukuran, berarti penghasilan Imam Ahmad sebulan adalah 17 x 32.207,35  = Rp 548.261,118,- !

Andai 1 dirham nilainya kita naikkan menjadi 100 rb sekalipun, maka penghasilan imam Ahmad perbulan hanyalah Rp 1.700.000,-!

Andai nilai 1 dirham nilainya  kita naikkan menjadi 250 rb sekalipun, maka penghasilan imam Ahmad perbulan adalah Rp 4.250.000!

Dalam riwayat al-Bukhārī ada kesan bahwa harga seekor kambing adalah 10 dirham. Harga kambing tahun 2023 menurut berita  antara 2.650.000- 3.850.000. Artinya rata-rata Rp 3.250.000,-. Dengan kata lain, jika memakai standar harga kambing di zaman Nabi ﷺ diperkirakan 10 dirham setara dengan Rp 3.250.000,-. Dengan demikian penghasilan 17 dirham kondisi terbaiknya diperkirakan setara dengan Rp.5.525.000,-!

Uang segitu dipakai untuk menafkahi dirinya dan anak istrinya!

Ingat, Imam Ahmad hidup di kota besar, yakni Bagdad. Bahkan, di zaman beliau Bagdad adalah ibukata Khilafah Abbasiyyah. Anda yang hidup di kota-kota besar semisal Jakarta, Surabaya, Bogor dan semisalnya bisa memperkirakan bagaimana perjuangan sebuah keluarga  bertahan hidup jika penghasilannya sekitar 3-5 jutaan.

Wajar jika imam Ahmad juga dikenal punya utang! Pernah sampai berutang dan menggadaikan sandalnya pada tukang roti!

Sudah begitu beliau anti sekali dengan pemberian siapapun, dari khalifah sekalipun!

Pernah menolak juga jabatan hakim yang sekarang mungkin setara dengan jabatan menteri!

رحم الله الإمام أحمد رحمة واسعة
اللهم اجعلنا من محبي العلماء الصالحين

Wednesday, June 7, 2023

Sayyidah Zainab dengan Abul Ash

Berikut adalah kisah cinta Putri Sulung Rosululloh Sayyidah Zainab dengan Abul Ash putra Sayyidah Halah adik Sayyidah Khodijah istri Rosululloh.

Kanthongumur terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Mungkin ada yang kurang pas. Nanti bisa dikoreksi. Saya membaca kisah ini, dan menitikkan air mata saat membaca kisah Rosululloh melihat kalung Khodijah yang dijadikan sebagai tebusan.

Dari sini linknya:

https://youtu.be/TBxoLqqq9wE

Abul Ash bin Al-Robi datang kepada Nabi Muhammad sebelum masa kenabian. Abul Ash berkata: "Aku ingin melamar Zainab putri-mu yang paling dewasa".

(Ini adalah bentuk adab)

Nabi Muhammad bersabda: "Aku tidak akan menerima lamaranmu, sebelum aku meminta kesediaannya".

(Ini adalah tanggung jawab wali)

Nabi Muhammad kemudian menemui Zainab dan bersabda: "Putra bibimu (sepupumu) datang kepadaku, ia menyebut namamu. Apakah kamu bersedia untuk dijadikan sebagai istrinya?".

Zainab pun memerah wajahnya dan tersenyum, tanda bahwa ia menerima.

(Inilah bentuk rasa malu)

Nabi Muhammad pun kemudian menikahkan Zainab dengan Abul Ash. Dan dimulailah kisah cinta keduanya, sehingga keduanya diberikan putra bernama Ali dan putri bernama Umamah.

Setelah beberapa waktu, terjadilah suatu permasalahan keluarga. Nabi Muhammad diangkat sebagai Nabi. Sedangkan saat itu, Abul Ash sedang dalam bepergian. Dan ketika pulang, ia mendapatkan istrinya telah beriman.

(Permasalahan tentang aqidah)

Zainab berkata kepada Abul Ash: "Saya memiliki kabar besar untukmu".

Abul Ash kemudian berdiri meninggalkan Zainab. Zainab terkejut dan mengikuti Abul Ash.

Zainab berkata: "Ayahku telah diutus menjadi Rosul dan aku beriman kepadanya".

Abul Ash berkata: "Mengapa engkau tidak mengabariku terlebih dahulu?".

Zainab berkata: "Tidak mungkin aku mendustakan ayahku, dan ayahku bukanlah pendusta. Ayahku orang jujur dan dipercaya".

"Bukan hanya aku sendiri yang beriman. Ibuku (Khodijah), saudara-saudaraku, putra pamanmu Ali bin Abi Tholib, putra bibimu Utsman bin Affan dan temanmu Abu Bakar pun telah beriman". Lanjut Zainab.

Abul Ash berkata: "Sungguh aku tidak mau bila orang-orang berkata bahwa aku mengkhianati kaumku, mengkufuri nenek moyangku karena mencari kerelaan istriku. Sungguh ayahmu bukanlah orang yang patut dicurigai. Apakah kamu tidak mau menerima alasanku?".

Zainab berkata: "Bila aku tidak menerima alasanmu, siapa lagi orang yang mau menerima alasanmu?. Aku adalah istrimu. Aku akan berusaha menolongmu untuk jalan yang benar dengan semua kemampuanku".

(Saling memahami antara suami dan istri)

Dan ucapan Zainab ini dibuktikan dengan kesabaran selama dua puluh tahun.

Abul Ash masih terus dalam kekufurannya.

Dan saat menjelang hijrah ke Madinah, Zainab berkata kepada Nabi: "Wahai Rosululloh, apakah engkau mengizinkan diriku untuk tetap bersama suamiku di Makkah?".

(Bentuk cinta yang dalam seorang isteri kepada suami, tanpa menyakiti perasaan orang tua)

Rosululloh memberikan izin kepada Zainab untuk tinggal bersama sang suami di Makkah. Sampai pada saat kejadian perang badar, Abul Ash pun berperang di barisan orang-orang kafir Quraisy. Suaminya berperang melawan ayahnya.

Zainab berkata: "Ya ALLOH, saya khawatir kalau anakku menjadi yatim. Aku pun khawatir kehilangan ayahku".

(Kebimbangan dan kebingungan)

Setelah perang usai, Abul Ash menjadi tawanan perang. Dan kabar ini pun sampai ke rumah Zainab.

Zainab bertanya: "Apa yang terjadi terhadap ayahku?".

"Kemenangan diperoleh kaum muslimin".

Zainab lantas bersujud syukur kepada ALLOH atas kemenangan yang diperoleh ayahnya. Zainab lantas menanyakan kabar suaminya.

Dan setelah mengetahui kabar bahwa suaminya ditawan, Zainab berkata: "Aku akan mengirimkan tebusan untuk suamiku".

Zainab tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk dijadikan sebagai tebusan kecuali kalung yang dulu diberikan oleh Khodijah sang bunda kepada Zainab.

Akhirnya, Zainab mencopot kalungnya dan menitipkan kalung itu kepada saudara kandung Abul Ash untuk diberikan kepada Rosululloh sebagai tebusan suaminya.

Saat itu Rosululloh sedang duduk-duduk. Beliau sedang memeriksa tawanan dan tebusan perang. Dan saat melihat kalung Khodijah, beliau bertanya: "Ini tebusan untuk siapa?".

Para sahabat menjawab: "Tebusan untuk Abul Ash".

Rosululloh pun lantas menangis, kemudian bersabda: "Ini adalah kalung Khodijah".

Rosululloh bersabda: "Wahai sahabatku, orang ini (Abul Ash) tidaklah kami mencelanya selama ia sebagai menantuku. Apakah boleh saya melepaskan dirinya dari tawanan?".

(Inilah bentuk keadilan)

Rosululloh bersabda: Apakah kalian menerima jika kalung Khodijah ini dikembalikan kepada Zainab?".

(Tawadhu seorang pemimpin)

Para sahabat menjawab: "Ya boleh, wahai Rosululloh".

(Adab dari prajurit)

Rosululloh memberikan kalung itu kepada Abul Ash dan bersabda: "Katakanlah kepada Zainab: Janganlah kamu hilangkan kalung Khodijah ini".

(Kepercayaan mertua kepada menantunya walaupun sang menantu masih dalam keadaan kafir)

"Wahai Abul Ash, aku akan berkata rahasia kepadamu!". Rosululloh bersama Abul Ash kemudian berjalan menjauh dari sahabat.

"Wahai Abul Ash, sesungguhnya ALLOH memerintahkan kepadaku untuk memisahkan wanita muslimah dari lelaki kafir. Maukah dirimu mengembalikan Zainab kepadaku?".

Abul Ash berkata: "Baik".

(Benar-benar sebagai lelaki)

Setelah itu Abul Ash kembali ke Makkah. Di Makkah Zainab telah menunggunya di pintu kota Makkah.

Setelah melihat istrinya, Abul Ash berkata: "Aku akan pergi".

Zainab bertanya: "Pergi kemana?".

Abul Ash berkata: "Bukan aku yang akan pergi. Tetapi engkaulah yang akan pergi dan kembali kepada ayahmu".

(Bentuk penepatan janji)

Zainab bertanya: "Karena apa?".

Abul Ash menjawab: "Ayahmu memisahkan aku dengan dirimu. Pulanglah kepada ayahmu!".

Zainab bertanya: "Apakah engkau mau menemaniku dan masuk islam?"

Abul Ash menjawab: "Tidak".

Zainab kemudian pergi ke Madinah dengan membawa putra dan putrinya.

(Taat)

Setelah beberapa tahun berlalu, Abul Ash pergi berdagang ke Syam bersama kafilah. Saat melewati sekitar Madinah, rombongan dagang itu dihadang oleh para sahabat. Ia kemudian dibawa oleh para sahabat ke Madinah.

Sesampainya di Madinah, Abul Ash meminta izin kepada sahabat untuk menemui Zainab. Ia datang ke rumah Zainab saat menjelang fajar dan mengetuk pintu rumah Zainab.

(Keberanian dan kemantapan seorang laki-laki)

Setelah Zainab melihat Abul Ash, Zainab berkata: "Apakah engkau datang sebagai orang Islam?".

(Harapan seorang istri)

Abul Ash berkata: "Aku datang sebagai orang yang melarikan diri".

Zainab berkata: "Maukah engkau masuk islam?".

(Usaha sungguh-sungguh seorang wanita untuk kebaikan lelaki)

Abul Ash masih berkata: "Tidak".

Zainab berkata: "Janganlah takut, selamat datang sepupuku. Selamat datang ayah anak-anakku".

Sesaat setelah Rosululloh selesai sholat subuh, tiba-tiba dari pojok masjid terdengar suara berkata: "Aku melindungi Abul Ash".

Rosululloh bersabda kepada para sahabat: "Apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?".

Para sahabat menjawab: "Iya, wahai Rosululloh".

Zainab berkata kepada Rosululloh: "Wahai Rosululloh, Abul Ash walaupun jauh, ia adalah sepupuku, walaupun dekat, ia adalah ayah dari anak-anakku, dan ia berada dalam lindunganku".

Rosululloh diam sejenak, kemudian bersabda: "Abul Ash, tidaklah kami mencelanya saat ia sebagai menantuku. Ia telah berkata dan membuktikan kejujuran perkataannya. Ia telah berjanji kepadaku, dan menepati janjinya kepadaku".

"Bila kalian menerima permintaanku untuk mengembalikan hartanya kepadanya, dan membiarkannya pulang ke negaranya. Dan ini aku harapkan. Tetapi bila kalian tidak mau menerima permintaanku, aku tidak akan mencela kalian. Karena ini hak kalian". Dawuh Rosululloh.

Para sahabat menjawab: "Kami kembalikan hartanya kepadanya wahai Rosululloh".

(Ini gambaran musyawarah)

Rosululloh kemudian berjalan ke rumah Zainab bersabda: "Aku lindungi orang yang engkau lindungi wahai Zainab".

"Muliakan Abul Ash. Karena ia adalah sepupumu dan ayah dari anak-anakmu. Tetapi ia tidak boleh mendekatimu, karena ia tidak halal untukmu". Lanjut Rosululloh.

(Bentuk belas kasih tanpa melanggar syariat)

Zainab menjawab: "Baik Wahai Rosululloh".

(Taat)

Zainab berkata kepada Abul Ash: "Apakah perpisahan kita terasa berat untukmu?". "Apakah engkau mau masuk islam dan tinggal bersama di sini?".

(Cinta dan harapan)

Abul Ash menjawab: "Tidak".

Abul Ash kemudian mengambil harta dagangannya dan kembali ke Makkah.

Sesampainya di Makkah, Abul Ash berkata: "Wahai penduduk Makkah, ini adalah uang milik kalian. Masihkah ada sisa tanggungan yang dibebankan kepadaku?".

(Amanah)

"Semoga engkau dibalas dengan baik, dan engkau sudah memenuhi tanggunganmu dengan baik". Jawab penduduk Makkah.

Abul Ash kemudian berkata: Asyhadu An Laa Ilaaha Illallohu Wa-Asyhadu Anna Muhammadar Rosululloh".

Setelah itu, Abul Ash datang ke Madinah. Abul Ash sampai di Madinah menjelang pagi hari, kemudian menghadap kepada Rosululloh dan berkata: "Wahai Rosululloh, kemarin engkau melindungi diriku, dan sekarang aku datang dengan mengucapkan: "Asyhadu An Laa Ilaaha Illallohu Wa-Asyhadu Anna Muhammadar Rosululloh".

Abul Ash berkata: "Wahai Rosululloh, bolehkah saya kembali lagi kepada Zainab?".

(Cinta yang dalam)

Rosululloh kemudian membawa Abul Ash ke rumah Zainab. Setelah mengetuk pintu, Rosululloh bersabda: "Wahai Zainab, sepupumu datang kepadaku dan meminta izin kepadaku untuk kembali kepadamu, apakah engkau menerimanya?".

Zainab tersipu malu dan tersenyum menerima kembali Abul Ash sebagai suaminya.

Setelah kejadian ini, setahun kemudian Zainab meninggal dunia. Abul Ash menangis sedih karena ditinggal wafat Zainab. Rosululloh pun membelai Abul Ash dan menenangkannya.

Abul Ash berkata: "Wahai Rosululloh, sekarang aku tidak mampu bertahan hidup tanpa didampingi oleh Zainab".

Dan Abul Ash pun wafat menyusul istrinya setahun kemudian.

Mbah Maimoen sering menyebutkan:

نعم الرجل أبو العاص تزوج بنتي ولم يحب غيرها

Ya ALLOH....

Sunday, June 4, 2023

Dari Rumah Beralih Jadi Pesantren

"Dari Rumah Beralih Jadi Pesantren"

Pasca lulus (baca: resign) dari Yanbu'ul Qur'an Boarding School 1 Pati, setelah sekitar lima tahun-an berkhidmah merintis dari awal, saya mulai berencana membangun rumah, dengan niatan utama menjalankan kewajiban menafkahi keluarga, hurmat tamu dan untuk ngaji. Bulan Dzul Hijjah 1443 H saya mulai. Pertengahan Sya'ban 1444, selesai ngatepi. Istilahnya, di kampung saya, selametan tongcit atau munggah molo atau munggah kenteng. Selang semingguan, pasca selametan munggah kenteng, saya sowan Abah Zaky Fuad Abdillah Salam, bersama dengan Panitia Haul KH Abdullah Salam dan Reuni Lintas Angkatan KABILAH (Keluarga Alumni Pesantren Bani Abdillah). Pisowanan inilah yang mengubah niat awal saya, dari yang awalnya gedung ini mau dibuat rumah, beralih jadi Pesantren.

Saya sowan bersama teman-teman Panitia Haul dan Pengurus Alumni, dengan niatan mau memohon restu atas pelaksanaan acara Haul KH Abdullah Salam dan Reuni KABILAH kepada Abah Zaky. Di ndalem sudah ada tamu yang sowan Abah Zaky. Topik pembicaraan tamu tersebut dengan Abah Zaky adalah seputar bangun rumah.

"Bapak (KH Abdullah Salam) niku, riyen nalikane kula bangun griya, wanti-wanti sak estu, ampun ngantos griya sing kula bangun niku pancer pengimaman Musholla."
"Bapak mewanti-wanti dengan sungguh-sungguh, supaya ketika saya bangun rumah, jangan sampai pas ngepasi pengimaman Mushola."
Abah Zaky Dhawuh kepada tamu tadi.

Beliau melanjutkan,
"Dulu saya tidak tahu, mengapa Bapak mewanti-wanti saya seperti itu. Ya saya manut saja. Setelah saya renungi, saya menemukan jawabannya. Dulu, saat saya masih tinggal satu rumah dengan Bapak, kamar saya itu letaknya di sebelah barat kamar Bapak. Jadi, ketika Mbah Dullah shalat, itu menghadap ke kamar yang saya tempati. Kemudian saya beberapa kali bertemu dengan Kiai Fayumi Munji (Mbah Fayumi, selain terkenal sebagai Ahli Fiqih, beliau juga masyhur sebagai Ahli Falak, baik yang sifatnya Ilmu Falak Dhahir juga Ilmu Falak Batin). Setiap kali bertemu, Mbah Fayumi selalu ngguyoni dan nggasaki: Gus, sampean kalau masih tinggal di situ terus, sampean tidak akan punya keturunan Gus. Sebab, sampean itu dishalati Mbah Dullah terus. Apalagi Mbah Dullah itu wali, kalau beliau shalat menghadap kamar sampean, panas Gus."

Mendengar dhawuh Abah Zaky kepada tamu tadi, pikiran saya langsung tertuju ke rumah yang baru saja selesai selametan munggah tongcit/molo/kenteng. Rumah saya tepat pas di depan Musholla, meskipun ada jeda jalan gang menuju TPQ Al Mubarok yang berada di belakang rumah. Hati saya pun meletup-letup ingin menanyakan tentang hal ini kepada Abah Zaky, tetapi saya tahan. Saya masih menyimak dhawuh dan nasehat Abah Zaky.

Abah Zaky melanjutkan, sambil sesekali menghisap batang Dji Sam Soe,
"Dan memang, yang saya rasakan selama tinggal 5 tahun di rumah Mbah Dullah, itu tidak tahu kenapa, rasanya sumpek, padahal saya waktu itu ya tidak pernah mikir yang berat-berat. Ternyata, setelah saya renungi, alasan Mbah Dullah mewanti-wanti saya membangun rumah tepat di depan Musholla Thoriqoh itu jawabannya justru saya temukan dari dhawuh-nya Mbah Fayumi tadi. Ya, diibaratkan itu kita seperti dishalati, rasanya panas, sebab orang shalat menghadap kamar atau rumah kita. Selama 5 tahun itu juga, saya belum kunjung punya keturunan. Setelah pindah rumah, Alhamdulillah mulai diberikan keturunan Gusti Allah. Setelah tahu hikmahnya dari Mbah Fayumi itu, saya sering mengamati. Banyak sekali, walaupun tidak semuanya, rumah-rumah yang letaknya tepat di depan Musholla/Masjid, permasalahan dan ujian yang menimpa penguni rumah itu rata-rata berat."

Mendengar dhawuh Abah Zaky itu, pikiran saya menerawang ke beberapa rumah yang saya tahu letaknya di belakang Masjid/Musholla pas, dimana orang-orang yang jamaah shalatnya menghadap ke rumah itu. Yang saya temukan memang demikian. Ada kasus, satu rumah yang masalah keluarganya carut marut, antara lain seperti: gangguan jiwa pada beberapa anggota keluarga, persoalan ekonomi dlsb. Tentu ilmu ini sifatnya adalah Ilmu Titen, yang diambil kaidah/teorinya dari hasil observasi beberapa kali. Dan setiap kaidah tentu ada pengecualian-pengecualian, لكل قاعدة مستثنيات. Apalagi yang ndhawuhi Abah Zaky tadi merupakan Pakar Ilmu Falak lahir batin, yang pernah saya dengar riwayat, Mbah Kiai Sahal saat masih hidup, ketika ada hal-hal dan persoalan yang berkaitan dengan Ilmu Falak baik yang sifatnya ilmu Dhahir maupun ilmu Bathin, selalu merujuk kepada Mbah Kiai Fayumi Munji. Marasepah saya adalah santri Mbah Fayumi, dan beliau membenarkan hal tersebut.

Setelah obrolan dengan tamu tadi selesai, kami atas nama Panitia Haul Mbah KH Abdullah Salam & Pengurus Alumni menghaturkan hajat kami kepada Abah Zaky. Kemudian, setelah pembahasan tentang acara Haul selesai, saya secara pribadi matur kepada Abah Zaky.

"Abah, nuwun sewu, kaleresan semingguan niki dalem nembe selesai ngatepi rumah, dilalah rumah yang saya bangun itu pas tepat di depan Musholla, nyuwun dhawuh saenipun pripun Abah?"
Abah Zaky menjawab,
"Nggih, saenipun memang ampun dipun damel rumah hunian, Kang. Mangkeh amprat. Dipun damel kagem ngaos mawon. Dipun damel Pondok Pesantren nggih boten napa-napa."

Mendengar nasehat dari Abah Zaky tersebut, saya hanya bisa sam'an wa tha'atan. Bagaimana pun, beliau adalah sosok Guru, Murabbi dan Mursyid bagi saya, yang harus saya patuhi dhawuhnya dan tiru lakunya.

Pulang dari Kajen, saya pun menata hati, belajar mengikhlaskan, bahwa bangunan yang rencananya akan saya jadikan rumah hunian, tidak jadi saya tempati. Di satu sisi merasa berat, tapi disisi lain, saya bersyukur, sebab mendapatkan ilmu dan nasehat di saat yang tepat. Latihan lileh, ben bisa lillah. Kemudian saya menjelaskan kepada Istri tentang hal tersebut. Alhamdulillah, istri pun bisa memahami, mengikhlaskan dan merelakan. Padahal, dana yang dikeluarkan sudah cukup banyak, menguras seluruh tabungan yang sudah ditabung bertahun-tahun oleh Bundaharanya anak-anak yang menjadi Menteri Keuangan di keluarga kami. Mendengar istri bisa mengikhlaskan, hati saya jadi lega. Semoga keikhlasan untuk melepaskan ini jadi kunci pembuka kemudaahan supaya ke depan bisa buat rumah sendiri untuk keluarga.

Selang beberapa hari kemudian, ada dua anak dari Jepara, yang masih kerabat dekat, datang ke rumah, pengen ikut ngaji. Kemarin ada anak dari Papua mendaftar ngaji. Padahal, saya belum membuka pesantren, meskipun banyak Guru-guru yang sudah ngutus bahkan mewajibkan untuk membuka pesantren, tetapi saya belum bisa, karena merasa masih belum pantas. Akhirnya, saya pun bilang, kalau ngaji di sini, ya manggoné sak nggon nggon.

Teringat dhawuh guru kami, Mbah Kiai Nafi', supaya kalau ada anak-anak ngaji datang ke rumah, harus dilayani dan dihormati, soal rezeki mereka akan datang dengan sendiri.
Teringat dhawuh Mbah Kiai Abdullah Salam, yang disampaikan oleh Alumni PMH Pusat, bahwa Mbah Dullah pernah ngendika kepada salah satu santrinya yang mau diambil menantu orang kaya dan akan dibangunkan pesantren, lalu beliau dhawuh: Wong Ngalim aja gelem dituku Wong Sugih.
Teringat juga dhawuh Mbah Kiai Abdullah Salam, kepada salah satu santrinya yang matur ingin menghafalkan Al Qur'an, malah ditanya beliau: Kowe Wani Apa? Sebagai peringatan bahwa niat untuk menghafal Al Qur'an bukan untuk bangga-banggaan, pamer-pameran, dan prosesnya membutuhkan perjuangan baik harta, waktu, tenaga yang betul-betul harus dicurahkan.
Teringat juga dhawuh Mbah Kiai Jamal Tambakberas Jombang, jika ada orang datang ke rumah, minta diajar ngaji, jangan ditolak, sebab itu tandanya Gusti Allah mau menaikkan derajat sampean menjadi Maqam Mu'allim/Pengajar, seperti Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk menjadi Mu'allim.
Teringat juga dhawuh Mbah Kiai Mustofa Bisri kepada salah satu Kiai Muda Kajen, yang ditinggal wafat Abahnya, aja kesusu kepengen dadi al Mukarrom.
Teringat juga dhawuh Gus Baha' di acara Tahlilan Bunyai Nafisah Sahal, bahwa Ulama dulu menganggap santri-santri itu adalah kanca ngaji yang membantu mereka untuk selalu Muthala'ah, Mudzakarah dan Belajar.
Teringat juga dhawuh Kiai Ubab Maimoen Zubair dalam salah satu ceramah beliau yang terekam di YouTube, supaya Pesantren-pesantren yang ada jangan menjadikan santri sebagai komoditi, lahan bisnis, yang selalu dihitung angka dari tiap kepalanya.
Teringat juga Qaidah Fiqhiyyah, الفضيلة المتعلقة بذات العبادة أولى من الفضيلة المتعلقة بمكانها, Keutamaan yang berkaitan dengan Dzatnya suatu Ibadah itu lebih utama daripada keutamaan yang berkaitan dengan tempatnya. Penting Ngajiné yang istiqamah, soal Sarpras Gedungé dipikir sambil jalan.

Bismillah, nyuwun tambahing do'a saha pangestu para Kiai, Guru dan teman-teman, mulai tahun ini, secara resmi insya Allah saya akan membuka Pesantren. Bukan untuk menjadi Kiai-nya, tetapi berusaha menjadi Abdi Ndalem, yang melayani kanca-kanca santri yang datang untuk mengaji. Rencananya, Pesantren Al Qur'an ini punya dua program inti: Hifdzul Qur'an dan Hifdzul Matan. Hifdzul Qur'an bagi teman-teman yang punya potensi untuk menghafal Al-Qur'an dan menjaganya sepanjang hayat. Hifdzul Matan (menghafal kitab-kitab matan) bagi teman-teman yang tidak mampu menghafal Al-Qur'an dan menjaganya sepanjang hayat. Sebab, Al Qur'an itu selain شافع مشفع juga ماحل مصدق, selain حاجة لك juga bisa jadi حجة عليك, selain bisa berpotensi menjadi Syafaat bagi orang-orang yang mampu menjaga, juga berpotensi menjadi La'nat bagi orang-orang yang melupakan dan melalaikannya. Artinya: 1 Tidak semua orang wajib menghafalkan Al Qur'an, tetapi jika berpotensi untuk menghafal dan mampu menjaganya sepanjang hayat, maka dianjurkan untuk menghafalkan. 2. Menjadi Shahibul Qur'an yang berhak atas Syafaatnya Al Qur'an tidak melulu harus dari jalan menghafal Al Qur'an. 3. Menghafal Al-Qur'an kalau melupakan dan melalaikan bisa dosa. Tetapi menghafal Matan, jika lupa, tidak apa-apa. 4. Menghafal Al-Qur'an hukumnya Fardhu Kifayah, kalau sudah ada yang melakukan sudah gugur kewajiban. Tetapi jika sudah kadung menceburkan diri dalam Hifdzul Qur'an, maka menjaga Al Qur'an sepanjang hayat merupakan Fardhu 'Ain yang tidak bisa diwakili oleh orang lain.

Pesantren ini namanya: Ma'had Al Qur'an Al Mubarok/ Pesantren Al Qur'an Al Mubarok. Khusus laki-laki dan untuk anak-anak tingkatan SD. Insya Allah besok Rabu, saya akan mulai membuka pendaftaran. Pada prinsipnya, Pesantren merupakan pendidikan bagi masyarakat akar rumput. Maka biaya Pesantren harus terjangkau oleh masyarakat akar rumput. Maka saya pun punya cita-cita, bangun Pesantren yang biayanya murah dan terjangkau masyarakat akar rumput, tetapi berkualitas, bisa menggratiskan santri-santri yang tidak mampu dengan tanpa harus mempekerjakan mereka, tidak menjadikan santri sebagai komoditi dan Pesantren sebagai lahan bisnis. Bismillah, semoga Gusti Allah tansah paring bimbingan, tuntunan, berkah, manfaat, istiqamah, dipernahke dan digenahke sedayanipun.

Saturday, June 3, 2023

KELUARGA NABI MUSA

KELUARGA NABI MUSA

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R. Rozikin, Dosen di Universitas Brawijaya)

Ayah nabi Musa bernama ‘Imrān (عِمْرَان). Ibu beliau bernama Yāwikh (يَاوِخ). Ibnu Kaṡīr berkata,

«قَالَ السُّهَيْلِيُّ: وَاسْمُ أُمِّ مُوسَى يَاوِخُ». «البداية والنهاية» (2/ 36 ت التركي)

Artinya,

‘Al-Suhailī berkata, ‘Nama ibu Musa adalah Yāwikh” (al-Bidāyah wa al-Nihāyah, juz 2 hlm 36)

Jika dilihat nasab nabi Musa, ternyata jarak beliau dengan nabi Yusuf yang pernah menjadi pejabat penting di Mesir ternyata tidak jauh. Nabi Musa terhitung generasi ke-lima dihitung dari masa nabi Yusuf. Dengan kata lain, jika memakai istilah kerabat dalam budaya Jawa, nabi Yusuf masuk dalam generasi Canggah.

Jadi cerita singkatnya kira-kira begini.

Setelah Nabi Yusuf dibuang ke sumur, ditemukan kafilah dagang, dijual ke Mesir, mengalami berbagai ujian, sampai menjadi pejabat penting Mesir, maka Nabi Yusuf mengundang seluruh keluarganya untuk berpindah dan bermukim ke Mesir. Di antara keluarga tersebut, tentu saja termasuk saudara-saudara Nabi Yusuf yang berjumlah 11 itu.

Lalu mereka beranak pinak sehingga berjumlah sangat banyak.

Entah bagaimana perubahan politik dan situasi keagamaan setelah Nabi Yusuf wafat, yang jelas setelah itu Fir’aun menindas keturunan Nabi Ya’qub tersebut.

Di antara saudara Nabi Yusuf yang berjumlah 11 itu, ada yang bernama Lāwī (لَاوِي).

Nah, Lāwi ini punya putra bernama ‘Āzir (عَازِر).

‘Āzir punya putra  bernama Qāhiṡ (قَاهِث).

Qāhiṡ punya putra bernama ‘Imrān (عِمْرَان).

‘Imrān adalah ayah Nabi Musa.

Dengan demikian nasab nabi Musa adalah Mūsā bin ‘Imrān bin Qāhiṡ bin ‘Āzir bin Lawī. Ibnu Kaṡīr berkata,

«وَهُوَ مُوسَى بْنُ عِمْرَانَ بْنِ قَاهِثَ بْنِ عَازِرَ بْنِ لَاوِي بْنِ يَعْقُوبَ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، عَلَيْهِمُ السَّلَامُ». «البداية والنهاية» (2/ 31 ت التركي)

Artinya,

“Beliau adalah Mūsa bin ‘Imrān bin Qāhiṡ bin ‘Āzir bin Lāwī bin Ya‘qūb bin Isḥāq bin Ibrāhīm alaihimussalam” (al-Bidāyah wa al-Nihāyah, juz 2 hlm 31)

Tampak dalam nasab di atas bahwa Nabi Yusuf itu status kekerabatannya dengan nabi Musa adalah terhitung Canggah. Tepatnya, nabi Yusuf adalah  adik dari canggah Nabi Musa yang bernama Lāwī. Keturunan Lāwī inilah yang nampaknya dalam Bibel disebut dengan Tribe of Levi.

***

Adapun saudara dan saudari Nabi Musa yang diceritakan dalam Al-Qur’an, maka mereka ada dua.

Pertama, kakak perempuan Nabi Musa.

Kedua, kakak laki-laki nabi Musa.

Kakak perempuan Nabi Musa adalah wanita yang diceritakan dalam Al-Qur’an diperintahkan oleh ibu Nabi Musa supaya mengawasi arah keranjang nabi Musa saat dihanyutkan di sungai Nil. Kakak perempuan nabi Musa pulalah yang menawarkan kepada orang-orang istana agar Nabi Musa disusui ibunya setelah semua wanita yang mau menyusui ditolak nabi Musa. Nama saudari perempuan nabi Musa tersebut adalah Maryam. Ibnu ‘Āsyūr berkata,

«وَأُخْتُ مُوسَى اسْمُهَا مَرْيَمُ، وَقَدْ مَضَى ذِكْرُ الْقِصَّةِ فِي سُورَةِ طه». «التحرير والتنوير» (20/ 83)

Artinya,
“Saudari Mūsa namanya Maryam. Kisahnya sudah dijelaskan sebelumnya di Surah Ṭāhā” (al-Taḥrīr wa al-Tanwīr juz 20 hlm 83)

Adapun kakak laki-laki nabi Musa, maka beliau adalah Nabi Harun. Yakni nabi yang dikabarkan dalam Al-Qur’an lebih fasih daripada Nabi Musa dan membantu Nabi Musa berdakwah kepada Firaun.

Terkait penjelasan mengapa Nabi Harun tidak termasuk bayi laki-laki yang disembelih oleh Fir’aun, padahal nabi Musa terancam disembelih, maka penjelasannya begini.

Saat Fir’aun menetapkan kebijakan penyembelihan bayi laki-laki di kalangan Bani Israel, maka jumlah laki-laki mereka semakin menyusut. Ini malah mengkhawatirkan penduduk pribumi Mesir Koptik. Karena bisa membuat tenaga kerja murah menjadi langka dan justru nanti malah orang Mesir sendiri yang harus menjadi buruh untuk proyek-proyek berat Fir’aun.

Masalah ini diadukan kepada Fir’aun, lalu akhirnya Fir’aun membuat kebijakan satu tahun penuh program peyembelihan bayi laki-laki, lalu satu tahun “istirahat”. Demikian terus berganti-ganti. Nah Nabi Harun lahirnya saat tahun “istirahat” itu. Sementara Nabi Musa lahirnya pas dengan tahun penyembelihan.

*** 
Ini penjelasan nasab dan keluarga nabi Musa menurut keterangan ulama Islam. Entah jika versi Bibel bagaimana.