Showing posts with label khilafah. Show all posts
Showing posts with label khilafah. Show all posts

Saturday, November 3, 2018

JANGAN SURIAHKAN INDONESIA

== JANGAN SURIAHKAN INDONESIA ==

Apa yang pertama kali terlintas di benak saat mendengar kata “Suriah”?

Kalau aku, tergambar di benakku mendengar kata Suriah, identik dengan perang dan ISIS. ISIS adalah singkatan dari Islamic State of Iraq and Syria. Negara Islam Irak dan Suriah. Jadi di Negara Suriah ada Negara Islam.

Namun setelah menghadiri diskusi kebangsaan kemarin malam, semuanya menjadi terang benderang bagiku. Diskusi itu bagaikan “pamungkas” dari rangkaian seminar dan diskusi kebangsaan tentang radikalisme yang selama ini aku ikuti.

Diskusi ini diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Syam Indonesia (ALSYAMI). Diadakan di Magzi Ballroom, Hotel Grand Kemang dari jam 19.30 – 21.30. Narasumber yang dihadirkan cukup kompeten, yaitu orang-orang yang tahu betul mengenai keadaan Suriah.

Mereka adalah Syeikh Dr. Adnan al-Afyoni (Mufti Damaskus dan Ketua Dewan Rekonsiliasi Nasional Suriah), Drs. Djoko Harjanto (Duta Besar RI untuk Suriah), Dr. Ziyad Zahruddin (Duta Besar Suriah untuk Indonesia), Ahsin Mahrus (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Damaskus), dan Dr. Ainur Rofiq (mantan HTI). Sebagai moderator adalah Rahma Sarita Al Jufri, presenter berita televisi.

Bersyukur dapat hadir di acara itu tepat waktu, padahal diselingi dengan insiden ban kempes. Sampai disana ternyata disuguhi makan malam. Wah, menyesal juga tadi sudah makan sebelum berangkat.

Hidangan utamanya tentu saja hidangan khas Timur Tengah. Aku tak tahu namanya. Tapi ada mi yang dimasak seperti Mi Aceh, daging yang dimasak seperti gulai tapi warnanya kelabu dan rasanya pedas, lalu ada ayam yang dimasak dengan balutan tepung. Tak lupa dilengkapi dengan nasi putih, kerupuk kampung dan kerupuk udang, serta sambal.

Berhubung sudah cukup kenyang, aku ambil sedikit-sedikit saja makanan yang menurutku “aneh” karena bukan makanan Indonesia. Ingin tahu rasanya. Di sisi sebelah kanan meja utama terdapat hidangan khas Indonesia seperti bakso, soto, rujak buah dan gado-gado. Makanan sehari-hari, jadi aku tak tertarik.

Seperti biasa, aku selalu melongo kalau lihat orang makannya dicampur-campur yang menurutku tidak lazim. Selain itu ambilnya banyak-banyak seakan-akan besok tidak makan. Toh akhirnya tidak habis, dan aku melihat petugas membuang 3 potong ayam dari sebuah piring…..

Makanya, ukurlah dirimu sebelum makan. Walaupun makanan gratis, tapi bukan berarti bisa diambil sebanyak kita mau, lalu tidak dihabiskan dan akhirnya terbuang. Tetap saja kita yang berdosa karena sudah buang-buang makanan.

Sambil makan, aku mengamati orang-orang di sekitarku. “Radar” ku langsung bergerak cepat mengidentifikasi orang-orang ini. Walau tidak kenal dengan siapapun, tapi aku bisa merasakan siapa mereka. Sebagian besar tentu saja orang-orang yang pernah belajar di Suriah. Aku sempat merasa khawatir dengan penampilan orang-orang yang memakai rompi, pakai jas, dan pakai peci kupluk warna putih. Walau tak adil rasanya jika menilai seseorang dari penampilannya. Habis mau bagaimana…? Penampilannya seperti yang biasa demo-demo berjilid-jilid itu….

Belum lagi sapaan “Assalamualaikum” dengan lafal yang kental sekali, serta penggunaan kata “Antum”, “Ana”, serta percakapan dalam bahasa Arab yang berseliweran di sekitarku… Membuatku tiba-tiba dapat kunci surga….

Namun kehadirang orang-orang berpenampilan “Islam Nusantara” cukup membuatku merasa tenang. Selain itu ada pula orang-orang dari organ relawan Jokowi.

Yang cukup menarik perhatianku adalah orang yang membawa tas ransel besar di punggungnya. Pakai celana panjang model banyak kantong dan sepatu keds tebal. Asumsiku, dia seperti “survivor” dari daerah konflik.

Kemudian datang orang-orang asing dengan tipikal bangsa Timur Tengah. Dikawal oleh beberapa orang Indonesia, mereka memasuki sebuah ruangan tertutup. Tak lama kemudin disusul oleh seorang perempuan berkerudung. Badannya tinggi, hidungnya mancung dan wajahnya cantik, khas keturunan Arab. Belakangan baru kuketahui mereka adalah para nara sumber dan moderator.

Tak lama kemudian panitia meminta para tamu memasuki ruangan karena acara akan segera dimulai. Kusudahi pula makanku. Kuletakkan piring yang sudah bersih. Terakhir, aku menyantap dessert berupa pudding roti dan aneka kue tart mungil. Semoga, setelah kenyang, aku tak mengantuk….

Acara kemudian dibuka dengan pembacaan Surat Al Fatihah. Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu wajib Indonesia Raya oleh para hadirin. Berikutnya pembukaan secara singkat oleh Ketua ALSYAMI yang menyampaikan sabda Rosululloh bahwa,

“Siapapun yang sholatnya sama, menghadap kiblat yang sama, maka dia adalah muslim dan berada dalam lindungan Allah. Agar setiap muslim menjaga persatuan, saling mencintai pada sesama muslim pada khususnya dan pada sesama manusia pada umumnya. Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena belum tentu yang mengolok-olok itu lebih baik.”

Berikutnya pemaparan dari Drs. Djoko Haryanto, Duta Besar RI untuk Suriah. Beliau menceritakan kedatangannya ke Indonesia saat ini membawa 60 pengusaha dari Suriah yang rencananya akan melakukan hubungan perdagangan dengan Indonesia. Beliau juga menyampaikan bahwa pada Asian Games kemarin, Suriah mengirimkan 100 orang atletnya.

Konflik yang terjadi di Suriah, sebenarnya cukup membingunkan bagi masyarakat Indonesia, karena letaknya yang jauh, namun bisa berdampak ke Indonesia. Apa yang terjadi di Suriah merupakan gelombang Arab Spring yang diawali di Tunisia, Mesir, Libya, dan Yaman saat ini. Tak seperti pergantian pucuk kekuasaan di Indonesia yang berlangsung damai, pergantian kekuasaan di Arab disertai pertumpahan darah, perang saudara dan berakhir tragis. Seperti pada pemimpin Libya, Moamar Khadafi yang tewas dibunuh rakyatnya sendiri.

Suatu konspirasi sebenarnya memprediksi kekuasaan Bashar Al Assad akan tumbang dalam waktu 3 bulan, namun prediksi itu meleset, dan menenggelamkan Suriah dalam perang panjang selama 7 tahun.

Konflik yang bermula di bulan Maret 2011 itu diawali oleh Syrian Free Army, kelompok oposisi yang merupakan tentara desersi yang menolak rezim Assad.

Amerika, Israel, Eropa dan Yordania, ramai-ramai memusuhi Suriah hingga akhirnya Bashar Al Assad meminta bantuan pada Rusia dan Iran pada tahun 2015. Kejadian ini diumumkan di PBB. Sehingga perang tidak hanya terjadi di lapangan, namun juga di meja diplomasi. Hal-hal yang berkaitan dengan Suriah, di-veto oleh Amerika dan sekutunya. Suriah diganjar embargo ekonomi. Hal ini menyebabkan Cina juga masuk ke dalam perekonomian Suriah.

Begitu buruknya keadaan di Suriah, sampai-sampai wilayah yang dikuasai oleh pemerintah tinggal 20%. Namun pada tahun 2017 Aleppo berhasil direbut kembali. ISIS berhasil dipinggirkan sampai ke wilayah Raqqa.

Konflik yang terjadi di Suriah, murni merupakan konspirasi politik dan tak ada kaitannya dengan agama. Muslim Sunni dan Syiah disana tidak berperang. Bahkan tak ada bedanya dalam keseharian. Baru terlihat dari tata cara ibadahnya.  “Penggorengan” isu Syiah muncul karena Suriah dibantu oleh Iran yang Syiah.

Djoko Harjanto, sebagai dubes, berupaya memasuki kota-kota yang terisolasi di Suriah dalam upayanya menyelamatkan dan melindungi TKI dan para pelajar Indonesia. Sikap Indonesia yang tidak memihak, menyebabkan beliau banyak mendapatkan bantuan berupa pengamanan yang maksimal kemanapun ia berkehendak untuk bepergian dalam rangka mencari WNI disana.

Sebagai penutup, beliau menyampaikan bahwa kepentingan Negara itu nomor satu. Belajar dari pengalamannya saat menjadi staf kedutaan di Malaysia yang pernah juga terjadi insiden pembakaran bendera, namun tidak berlanjut dan berkembang semakin jauh. Dengan saling meminta maaf urusan selesai.

Belajar Islam, mestinya tak perlu jauh-jauh ke Arab. Tapi cukup di Indonesia. Karena di Indonesia sudah ada semua. Berhati-hatilah selalu ada upaya memecah belah. Persatuan dan kesatuan harus selalu digaungkan.

Pemaparan berikutnya disampaikan oleh Ziyad Zahrudin, Duta Besar Suriah untuk Indonesia. Tak banyak yang disampaikan oleh beliau karena kondisi secara umum sudah disampaikan oleh dubes RI. Untuk mengatasi masalah di Suriah itu semua hal sudah dilakukan. Apa yang tadinya mengancam dan berhasil menghancurkan Suriah, kini mengancam Indonesia, oleh karenanya jangan sampai Indonesia menjadi hancur.

Di Suriah bukan perang suku, bukan perang agama, tapi murni politik. Suriah belajar dari Indonesia cara merawat kebhinekaan. Indonesia memiliki kesan yang baik dimata dunia.

Pembicara selanjutnya merupakan pembicara kunci. Beliau adalah Syeikh Dr. Adnan Al Afyouni. Beliau menjabat sebagai Mufti Damaskus dan Ketua Dewan Rekonsiliasi Nasional Suriah. Mufti itu seperti tokoh ulama. Kedatangannya adalah dalam rangka untuk meningkatkan hubungan dengan Kementrian Agama, Alumni Syam dan lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia.

Tahun ini pemerintah Suriah bekerja sama dengan Alumni Syam memberi beasiswa untuk 30 orang. Satu-satunya beasiswa luar negeri dari Suriah untuk Indonesia. Tanggal 30 November nanti akan berangkat ke Suriah.

Di Suriah terdapat mahasiswa dari 60 negara, namun yang mengesankan adalah mahasiswa dari Indonesia. Di awal-awal terjadinya konflik, semua mahasiswa kembali ke negaranya masing-masing, kecuali mahasiswa dari Indonesia. Mereka menghadap Mufti dan bertanya apa yang harus mereka lakukan. Dijawab oleh Mufti bahwa jika ingin pulang dipersilakan. Namun jika ingin tinggal pun silakan. Hingga saat ini mereka masih berada di Suriah.

Para mahasiswa Indonesia dikenal memiliki akhlak yang baik.

Diceritakan pula olehnya bahwa bangsa Suriah adalah bangsa yang heterogen. Tidak bisa dibedakan berdasarkan agama. Hidup bersama sebagai bangsa yang satu.

Agama seharusnya menyatukan manusia bukan memecah belah manusia. Agama mengajarkan norma-norma yang baik, bersatu dalam sebuah Negara. Krisis Suriah adalah krisis politik, cerminan konflik global. Dimana melibatkan banyak pihak, banyak Negara untuk kepentingan suatu golongan.

Suriah tadinya adalah Negara teraman di dunia. Tidak ada perang suku. Biaya hidup murah dan tidak ada orang miskin di Suriah.

Lalu mengapa orang-orang ini melawan pemerintah? Karena misikin, atau agama, atau politik?

Apa yang terjadi di Suriah adalah imbas dari Arab Spring yang melanda Tunisia, Mesir, Libya dan Yaman yang juga jadi porak poranda karena konflik.

Mereka yang menyerang Suriah, untuk menghancurkan Suriah, namun tak berhasil. Diantaranya ada Qatar yang ingin agar jalur pipa gasnya melewati Suriah. Ada Amerika yang ingin mengamankan Israel dari serangan Suriah.

Amerika menemukan adanya cadangan gas dan minyak di Suriah pada tahun 2008, maka mereka ingin menguasai Suriah seperti apa yang telah mereka lakukan pada Irak.

Mereka menggunakan agama dan melakukan propaganda di masjid-masjid.

Di Suriah pendidikan dan kesehatan gratis. Kebutuhan pokok dijamin oleh pemerintah. Maka tidak ada yang bisa dimainkan selain melalui agama. Mereka menebar ketakutan, akan membunuh orang Kristen, Syiah. Namun hal ini tidak berhasil karena mayoritas rakyat Suriah tidak rela jika gama digunakan sebagai alat merebut kekuasaan.

Bangsa Suriah pun ingin hidup lebih baik. Presiden Assad telah membuka diri untuk memaafkan pihak-pihak yang memusuhinya, demi masa depan Suriah. Yang tidak mau rekonsiliasi dipersilakan pergi, disediakan tempat di bagian selatan.

Rekonsiliasi ini dilakukan atas dasar cinta Islam, cinta Allah, dan cinta Rosululloh. Seluruh rakyat Suriah hari ini berbondong-bondong melakukan rekonsiliasi. Tapi Negara-negara luar masih tetap mengirim pasukan. Mereka tak ingin Suriah damai.

“Kami ingin mempertahankan Suriah. Kami telah melewati masa-masa sulit. Yang bikin sulit adalah orang-orang diluar Suriah,” ujar Syeikh Adnan. Sebagai Ketua Dewan Rekonsiliasi ia telah berkeliling menjumpai para oposan. Mengajak berdamai untuk Suriah yang lebih baik.

“Kami tak ingin menyia-nyiakan 1 nyawapun. Mendahulukan kepentingan Negara, tidak lagi saling menyalahkan. Sepakat membangun Suriah kembali bersama. Yang kemarin menentang, sudah kembali bersatu dalam 1 barisan.”

“Kami berkumpul dengan berbagai komponen yang tadinya saling bertempur. Tidak ada artinya dan tidak ada harganya jika kita tidak punya Negara dan Suriah hancur. Jika Suriah masih ada, itu untuk anak cucu. Jika sudah hancur, apa yang mau diwariskan.”

“Wahai bangsa Indonesia. Tempatkan kepentingan Negara diatas segalanya. Diatas perasaan kita, emosi kita. Masyarakat Suriah punya tanggung jawab kepada Allah. Tidak ada satu rumahpun yang tidak berduka karena krisis ini. Api jika sudah membakar akan sulit dipadamkan. Bagi orang yang berakal, mukmin sejati, cinta Allah, cinta Rosululloh, tidak akan menciptakan konflik bagi negaranya. Mukmin sejati bisa mengorbankan dirinya untuk kepentingan negaranya.”

Syeikh Adnan kemudian mengambil teladan dari kisah Rosululloh yang banyak mengalah pada saat Perjanjian Hudaibiyah agar tidak terjadi pertumpahan darah. Jika ingin bersama Rosululloh maka berperilakulah seperti Rosululloh. Semoga komponen di Indonesia bisa bekerja sama untuk kepentingan Negara.

Sebagai penutup, Syeikh Adnan menyampaikan :

Keimanan adalah hal yang utama. Ketika keimanan hilang maka tak ada keamanan. Barang siapa hidup tanpa agama, maka ia hidup dalam kerusakan. Iman menciptakan keamanan. Bayangkan Negara tanpa iman, tanpa akhlak, maka tak ada keamanan. Dengan syarat, keimanan yang benar. Bukan iman yang palsu.

Kelompok Khawarij mengaku beriman tapi iman yang salah. Mereka mengatasnamakan iman tapi membunuh dan melarang haji ke Baitullah.

Rosululloh bersabda, “Akan datang pada kalian suatu kaum yang sholatnya sama, baca Qurannya sama tapi tidak sampai ke sanubari.”

Keimanan tercermin pada kepribadian Rosululloh yang rahmatan lil alamain. Keimanan menurut Rosululloh, sesama muslim harus saling menjaga darah. Saling menjaga saudara muslim yang lain. Sebaik-baik orang iman adalah orang yang member manfaat bagi orang lain.

Jadi jika keimanan itu palsu, akan terjebak pada kepalsuan-kepalsuan berikutnya.

Pemaparan berikutnya disampaikan oleh Ahsin Mahrus sebagai perwakilan mahasiswa Indonesia di Suriah. Ia menceritakan bagaimana pada saat Aleppo dalam keadaan genting namun Dubes Djoko Harjanto berani memasuki wilayah tersebut untuk mengevakuasi WNI.

Ia menceritakan bahwa masyarakat Suriah adalah masyarakat yang baik hati. Senang pada pelajar yang bicara dalam bahasa Arab terpatah-patah, kemudian memberi sedekah. Biaya pendidikan diSuriah sebesar 60 – 100 dolar setahun, namun diberi uang saku sehingga bisa punya uang melebihi yang dibayarkan untuk biaya pendidikan tersebut. Sekolah, makan, minum, buku, semua gratis. Tapi itu sebelum perang.

Setelah perang, semua orang jadi saling mencurigai. Apakah golongan pro rezim atau anti rezim. Selama kurun waktu 2012-2018 tidak ada pelajar asing yang masuk karena banyaknya orang asing yang ikut konflik. Selain itu fasilitas pendidikan pun telah hancur. Yang dirugikan tentu saja pelajarnya. Para pendidiknya mengungsi ke luar negeri. Barang-barang jadi mahal, ekonomi hancur.
Kenapa tidak belajar dari Suriah?
Tidak bisa mempermasalahkan perbedaan suku, diangkatlah masalah agama. Hal yang kecil jadi besar. Baru sadar setelah hancur. Ternyata kita ini di adu domba. Gunakan akal sehat untuk mencerna agama.

Berikutnya pemaparan dari Dr. Ainur Rofiq. Beliau dulunya pernah tergabung dalam HTI. Cukup aktif sampai-sampai ikut mendekati para kyai di Jawa Timur untuk menyampaikan gagasan mengenai khilafah. Namun akhirnya keluar dari HTI karena merasa tertipu. Gagasan mengenai berdirinya Negara khilafah tak kunjung terwujud. Beliau juga merupakan saksi ahli dalam persidangan HTI.

Secara singkat beliau menyampaikan bahwa, “Siapa yang bisa membuktikan bahwa bendera yang dipegang HTI itu adalah bendera yang sama dengan bendera Rosululloh? Jangan terpengaruh bahwa itu adalah bendera yang disepakati oleh umat Islam.”
**
Catatan penulis :
Tulisan ini dibuat sebagai bentuk laporan pandangan mata setelah mengikuti acara diskusi secara langsung. Sama sekali tidak ada niatan untuk menjadi propaganda atau kepanjangan tangan dari pihak manapun.

Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan konflik Timur Tengah pada umumnya, dan Suriah khususnya. Sama seperti jika tetangga kita bertengkar dalam rumah tangganya. Tak elok rasanya jika kita ikut campur urusan rumah tangga orang.

Kecuali jika pertikaian itu bisa berdampak pada diri kita dan sudah pada taraf membahayakan, kemudian kita dimintai pertolongan, barulah kita mengkaji akar masalahnya dan memberi pertolongan sebisanya.

Yang bisa kita lakukan sebagai orang yang mencintai negeri kita adalah menolak masuknya paham-paham asing yang tidak sesuai dengan budaya kita.

Bangsa dan Negara ini bisa bertahan sampai  saat ini justru karena kita sudah terbiasa rukun dengan orang-orang yang  budaya dan agamanya berbeda dengan kita. Kita sudah terbiasa bertoleransi. Toleransi dan menghargai perbedaan ini sudah diajarkan sejak kita kecil.

Apa yang terjadi di Suriah setelah perang, dimana masyarakatnya jadi saling mencurigai, sudah terjadi pada diri kita sekarang ini.

Lu Jokower apa Prabowo?
Lu Ahoker apa Anieser?
Lu Jawa? Jawanya mana?
Lu Islam? Sunni atau Syiah? Wahabi atau Salafi? NU atau Muhammadiyah?

Astaghfirullohalazim….

Mari mulai sekarang kita biasakan tidak mempermasalahkan perbedaan suku dan aliran. Kalaupun orang Jawa, ya sudahlah Jawa saja. Kalupun Islam, ya sudahlah Islam saja.

Kita adalah satu. IndONEsia….

#JanganSuriahkanIndonesia

Saturday, October 27, 2018

HIZTUR TAHRIR, IKHWANUL MUSLIMIN DAN NU

HIZBUT TAHRIR

Oleh Jarot Doso

Dua tahun saya bergabung dengan Hizbut Tahrir (HT) Indonesia  untuk penelitian partisipatif secara tersamar. Saya katakan tersamar, sebab hingga saya mundur, saya tidak mengaku sedang meneliti.

Saya ikut dibaiat, ikut liqo rutin, ikut kajian-kajiannya, dan disuruh ikut aksi demo. Tapi untuk demo HT, saya selalu menolak ikut dengan pelbagai alasan, karena hal itu akan membuka penyamaran saya di luar.

Kebetulan pada saat yang sama, saya juga bergabung dan melakukan penelitian partisipatif di KAMMI, yang secara aspiratif dekat dengan PKS atau Ikhwanul Muslimin (IM) dan acap terlibat persaingan sengit dengan HT di kampus-kampus. Biasanya haram bagi seorang ikhwan (aktivis) HT sekaligus juga seorang ikhwan IM.

Saya akhirnya terpaksa mengundurkan diri dari HT karena oleh HT saya ditugasi untuk mendakwahi ihwal sesatnya demokrasi kepada dosen pembimbing saya, Prof. Dr. Afan Gaffar, juga kepada Prof. Dr. Amien Rais, mantan ketua PP Muhammadiyah. Dua hal yang mustahil saya lakukan.

Saya juga ditugasi untuk menyampaikan ceramah dengan tema yang sama di Masjid Kampus UGM, yang tentu saja juga mustahil saya laksanakan karena di dunia nyata saya adalah aktivis pro demokrasi dan meyakini demokrasi sebagai solusi terbaik untuk memperjuangkan kepentingan rakyat Indonesia yang pluralistik.

Dan selama melakukan penelitian itu hingga hari ini, yang saya ketahui, bendera HT itu ya tak ada tulisan Hizbut Tahrir-nya. Yang ada dalam bendera HT adalah tulisan kalimat tauhid atau kalimat syahadat dalam bahasa Arab di atas secarik kain hitam atau putih. Jika kainnya hitam, tulisannya putih, sebaliknya jika kainnya putih tulisannya hitam, begitu saja. Seperti yang berusaha dikibarkan di Hari Santri di Garut dan kemudian dibakar oleh anggota Banser NU.

Itulah bendera HT yang juga mereka klaim sama persis dengan bendera Nabi Muhammad SAW. Klaim yang ditolak oleh banyak ulama karena dalil yang dirujuk HT konon hadis dhoif, atau sabda Nabi yang dari segi periwayatannya dianggap tidak valid (lemah).

Bendera HT hitam putih berkalimat tauhid itu pula yang gambarnya ada di dalam naskah tesis saya, "Ide dan Aksi Politik Hizbut Tahrir, Studi Ihwal Kebangkitan Gerakan Khilafah Islamiyah di Indonesia". Bagi yang berminat dapat membaca tesis saya di Perpustakaan Pusat UGM Yogyakarta.

Saya kira peneliti HT yang lain pun, semisal Ketua PP Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir, yang disertasinya tentang kebangkitan gerakan Islam syariah di Indonesia juga meneliti tentang HT, jika mau jujur juga akan mengakui bahwa bendera yang dibakar di Garut adalah bendera HT.

Saya tidak tahu apa motif Plt Ketum MUI, Prof. Dr. Yunahar Ilyas, yang menyatakan bahwa yang dibakar di Garut adalah bendera tauhid dan bukan bendera HT hanya karena tak ada tulisan Hizbut Tahrirnya. Yang jelas, yang saya ketahui, Prof. Yunahar Ilyas meski kini secara resmi menjabat salah satu petinggi PP Muhammadiyah, akan tetapi beliau juga salah satu tokoh penting di Jamaah Tarbiyah yang tak lain adalah jamaah Ikhwanul Muslimin/PKS.

Antara HT dan PKS memang memiliki irisan historis dan ideologis.  Hizbut Tahrir merupakan  pecahan sayap ekstrem IM yang menolak demokrasi, meski menurut versi HT, mereka bukan pecahan, tapi pendiri IM Hasan al-Banna bersahabat dengan pendiri HT, Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani. Karena tak setuju dengan langkah IM yang menempuh langkah kompromis itu, Taqiyyuddin an-Nabhani mendirikan HT di Al Quds (Yerusalem), yang saat itu masuk wilayah Yordania, pada 1953.

IM, juga PKS, masih tetap menjadikan khilafah sebagai cita-cita utamanya. Namun mereka berusaha memperjuangkannya melalui demokrasi dan menyesuaikan diri dengan situasi politik setempat.

Boleh jadi dalam situasi tertentu, antara jaringan IM dan HT yang sama-sama fenomena Islam kota dan Islam transnasional dan acap bersaing di kampus-kampus ini, akan akur atau saling membantu dalam isu tertentu. Saat IM melalui PKS menjadi bagian dari pemerintahan SBY, HT bersikap selalu kritis dan karena itu sulit akur. Namun ketika PKS tergusur menjadi kelompok oposisi, antara HT dan PKS lebih bisa akur, barangkali karena rasa senasib dan memiliki common enemy yang sama: aliansi Nasionalis Sekuler (PDIP, Nasdem, Golkar, Hanura) dan Islam Tradisional (NU, PKB, PPP).

Dalam konteks ini bisa dipahami jika PKS salah satu yang menolak pembubaran HT dan mendukung HT melakukan gugatan hukum. Dilanjut HT yang lazimnya mengharamkan pemilu, mau melibatkan diri dalam agenda Pilkada Jakarta dan ikut memobilisasi dukungan untuk memenangkan calon yang diusung PKS, yaitu Anies-Sandi. Kemudian yang fenomenal adalah kolaborasi Mardani Ali Sera (PKS) dan Ismail Yusanto (Jubir HT) dalam gerakan #2019GantiPresiden. Maka, bagi yang paham peta gerakan Islam, sebenarnya tak terlalu mengagetkan jika muncul pendapat Prof. Yunahar Ilyas yang menguntungkan HT dan memojokkan Banser. Itu konteksnya bukan rivalitas antara Muhammadiyah dan NU, tapi lebih IM versus NU.

Muhammadiyah sendiri melalui statemen Ketum PP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir cenderung adem, dengan mempercayakan penyelesaian kepada aparat penegak hukum. Muhammadiyah bahkan melarang warganya ikut serta dalam aksi Bela Bendera Tauhid karena rawan dimanipulasi untuk memecah belah bangsa.  (*Ilustrasi foto dari Fanpage Parodi Hizbut Traktir Indomie).

Thursday, October 25, 2018

Bendera hitam adalah bendera perang, bukan bendera "ummat"

* Bendera hitam adalah bendera perang, bukan bendera "ummat".

Sejak kejadian pembakaran bendera tauhid di Garut beberapa hari lalu, saya tertarik untuk menelusuri lebih dalam tentang bendera hitam dalam kitab-kitab Hadits dan Syamail. Prof.Nadirsyah Hosen sebenarnya sudah punya tulisan mengenai masalah ini, tapi kurang mantap rasanya jika tidak ber-ijtihad sendiri dan cuma mengandalkan tulisan orang. Lagi pula kesimpulan Prof Nadir bahwa semua hadits yang berkaitan dengan panji hitam adalah hadits-hadits lemah saya rasa kurang tepat.

Saya juga menelusuri apakah pembakaran bendera tauhid di dunia ini baru dilakukan di Indonesia oleh Banser beberapa hari yang lalu? Bagaimana dengan Yaman Utara tempat dimana bendera-bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid itu juga banyak tersebar sebagai atribut Al-Qaeda ?

Berikut point-point yang bisa saya simpulkan :

1. Warna Bendera Rasulullah Saw

Semasa hidupnya, Rasulullah Saw memiliki banyak bendera, yang terdiri dari beberapa bendera besar (Ar-Rayah) dan bendera kecil (Al-Liwa'). Syaikh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani dalam kitab Syamail-nya menyebutkan

كانت راية رسول الله صلى الله عليه و سلم سوداء و لواءه ابيض

" bendera besar (Rayah) Rasulullah Saw berwarna hitam, sedangkan bendera kecilnya (liwa') berwarna putih "

Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam Tarikhul Hawadits berkata :

و كانت له راية سوداء يقال لها العقاب و أخرى صفراء كما في سنن أبي داود و أخرى بيضاء يقال لها الزينة

" Rasulullah Saw memiliki bendera hitam yang dinamakan "Al-Uqob", beliau juga memiliki bendera berwarna kuning seperti keterangan dalam Sunan Abu Dawud, satu lagi bendera beliau yaitu panji berwarna putih yang dinamakan "Az-Zinah" . "

Dari sini bisa kita ketahui bahwa Rasulullah Saw memiliki beberapa bendera dengan warna yang berbeda-beda, bukan melulu hitam saja. Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar bendera-bendera itu digunakan dalam waktu yang berlainan.

(entah kenapa gerombolan radikal seperti ISIS, Al-Qaeda dll lebih memilih warna hitam dari pada warna Royah Rasulullah lainnya ? kuning misalnya- ? Mungkin karena warna hitam terlihat lebih galak, seram dan sangar.. )

Hadits-Hadits tentang warna Royah dan Liwa' memiliki derajat yang tak sama, ada pula satu hadits yang diriwayatkan dengan sanad yang berlainan. Hadits Riwayat Al-Hakim yang disebut An-Nabhani diatas memang lemah, bahkan ada yang menyebutnya sebagai hadits Munkar, hanya saja itu tidak menafikan adanya hadits-hadits lain yang berderajat hasan seperti riwayat Imam Tirmidzi :

كانت راية رسول الله سوداء مربعة من نمرة  قال
سألت محمدا يعني البخاري فقال حديث حسن

2. Tulisan dalam bendera Rasulullah Saw

Hanya ada satu hadits yang menyatakan panji hitam Rasulullah Saw bertuliskan kalimat tauhid, yaitu hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan Al-Thabrani dalam kitab Al-Kabir, Abu Assyaikh dalam kitab Al-Akhlaq (153), dan Al-Haitsami dalam Majma' Az-Zawaid (5/321). yang berbunyi :

كانت راية رسول الله صلى الله عليه و سلم سوداء مكتوب عليها لا إله إلا الله محمد رسول الله 

" Royah Rasulullah Saw berwarna hitam bertuliskan La Ilaha Ilallah Muhammadun Rasulullah "

Hadits yang diriwayatkan Abu Assyaikh dinyatakan lemah sanadnya oleh Ibnu Hajar, sedangkan Al-Haitsami mengomentari hadits yang diriwayatkannya : " semua perawi-nya shahih kecuali Hayyan Bin Abdillah "

Jadi dapat disimpulkan tidak semua panji Rasulullah Saw bertuliskan kalimat tauhid, hanya satu bendera berwarna hitam saja, itupun ulama sekelas Ibnu Hajar masih meragukan adanya kalimat tauhid dalam bendera Rasulullah Saw tersebut.

3. Fungsi Bendera (Ar-Rayah dan Al-Liwa') di zaman Rasulullah Saw.

Anggap saja warna dan bentuk bendera Rasulullah Saw memang seperti itu, kita juga harus mengetahui fungsi dan kegunaan bendera Royah dan Liwa' di masa Rasulullah Saw. Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari-nya :

الراية و اللواء : العلم الذي يحمل في الحرب يعرف به موضع صاحب الجيش و قد يحمله أمير الجيش و قد يدفع لمقدم العسكر و كان الاصل ان يمسكها رئيش الجيش ثم صارت تحمل على رأسه

"Royah dan Liwa' adalah bendera yang digunakan dalam peperangan dan menjadi tanda dimana posisi pemimpin perang. Bendera ini hanya dibawa oleh komandan perang dan terkadang juga diserahkan pada pasukan yang berada di barisan paling depan.. "

Syaikh Abdullah Said Al-Lahji dalam Muntaha As-Suul berkata :

فالراية هي التي يتولاها صاحب الحرب و يقاتل عليه و إليها تميل المقاتلة

" Royah adalah bendera yang dikuasai pemimpin perang dan ia bertugas untuk mempertahankannya. Peperangan berpusat ke mana arah bendera tersebut. "

Jadi fungsi asli dari Royah dan Liwa' adalah sebagai bendera perang, oleh karena itu bendera Royah juga dijuluki sebagai "Ummul Harb" atau induk perang.  jangan heran jika Imam Bukhori memasukkan pembahasan Liwa' dan Royah ini dalam kitabul Jihad. Ibnu Qoyyim Al-Jauzi dalam Zad Al-Ma'ad, Syaikh Yusuf An-Nabhani dalam Wasail Al-Wushul, dan Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam Tarikh Al-Hawadits, mereka semua sepakat meletakkan pembahasan bendera ini dalam Babu Silahi Rasulillah Saw : Bab Senjata perang yang dimiliki Rasulullah Saw.

Kesimpulannya : Bendera Royah dan Liwa' adalah atirbut perang. jadi sangat gak nyambung dan gak relevan jika di zaman now ini bendera-bendera itu malah dikibarkan dalam keadaan tenang, aman dan damai. Bendera-bendera itu tidak layak dibawa dalam majlis-majlis, demo-demo atau acara-acara keagamaan, Apalagi dikibarkan dalam acara hari santri nasional ? Jelas-jelas itu adalah sebuah kedhaliman, wadh'u Assyai fi ghoir mahallihi, menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.

pada zaman Rasul Saw Bendera-bendera ini merupakan atribut khusus yang hanya boleh dipegang oleh pemimpin perang, bahkan para pasukan pun dilarang asal membawa bendera jenis ini.

( tapi Sekarang bendera hitam ini malah seenaknya saja dibawa oleh bocah- bocah dan ibu-ibu dalam demo-demo , majlis-majlis dan acara-acara lainnya )

oleh karena itu Ibnu Hajar menyatakan bahwa bendera Royah dan Liwa' hanya dianjurkan untuk dikibarkan dalam waktu perang, itupun yang boleh membawanya cuma komandan perang atau prajurit yang dipercayainya. Dawuh beliau dalam Fathul Bari :

و في الأحاديث استحباب اتخاذ الأولية في الحروب و أن اللواء يكون مع الأمير او من يقيمه لذلك عند الحرب

Ini jelas menolak anggapan mereka yang berfikir bahwa dulu pada zaman Rasulullah Saw, bendera-bendera hitam ini adalah panji-panji Islam yang dengan indahnya berkibar di jalanan kota makkah-madinah, di depan Masjidil Haram atau Masjid Nabawi,  dan dibawa para Sabahat dalam setiap perkumpulan atau acara keagamaan.

Sekali lagi bendera ini adalah bendera perang, bukan bendera "ummat". Jangan kaget jika panji-panji hitam ini sekarang menjadi simbol resmi golongan yang bawaannya pengen perang dan berantem mulu seperti ISIS, Al-Qaeda, Jabhat Nushra dan jama'ah-jama'ah radikal lainnya.

Pada Intinya Bendera-bendera ini sama sekali tidak disunnahkan dikibarkan pada selain waktu perang. Bahkan untuk sekarang ini, tatkala panji-panji hitam ini (Royah Suud) menjadi simbol yang indentik dengan golongan radikal dan bisa memicu fitnah, kekhawatiran dan kekacauan. Hukum membawa bendera ini bisa mencapai taraf "haram" : Saddan Lid Dzariah..

4. Masalah pembakaran bendera

Terlepas dari hukum membakar bendera hitam yang sudah banyak dikaji dimana-mana, sejatinya dari awal saya sangat menyayangkan insiden pembakaran bendera hitam di Garut itu. Karena selain bisa menimbulkan fitnah dan polemik berkepanjangan seperti saat ini, ada cara lain yang tentunya lebih halus dan kalem daripada membakar.  menyitanya saja saya rasa sudah sangat cukup. Kita semua pasti tau, dari dulu kalimat "bakar !" - selain bakar ayam, ikan atau jagung- selalu identik dengan ke-bringasan dan kebrutalan, sedangkan NU dari dulu dikenal sebagai penyebar Islam teduh dan damai. jika memang hal ini bisa memicu api fitnah dan nantinya kita harus membuat pembelaan disana-sini, kenapa tidak dihindari dari awal ? Al-Daf'u awla min Ar-Raf'i, menangkal lebih baik daripada mengobati, Bukankah begitu dalam Qoidah fiqihnya ?

Jelas tidak benar jika Banser dituduh sebagai ormas anti kalimat Tauhid gara-gara kejadian ini, sebagaimana sangat naif jika kita serampangan menuduh setiap orang yang tidak setuju dengan pembakaran ini sebagai simpatisan HTI atau orang-orang yang terpengaruh dengan ideologi mereka..

Menutup "pintu" fitnah itu penting, sama seperti ketika Rasulullah Saw menahan diri untuk memerangi kaum munafikin agar tidak menimbulkan fitnah dan asumsi-asumsi sesat ditengah masyarakat. toh padahal mereka sudah berkali-kali merencanakan makar-makar jahat terhadap Rasulullah Saw.

" aku tidak ingin orang-orang berkata bahwa Muhammad memerangi sahabat-nya sendiri " begitu sabda Rasulullah Saw waktu itu..

Bukan hal yang mengherankan jika pembakaran bendera tauhid itu meledakkan kegaduhan dan kehebohan di tengah masyarakat, karena memang insiden ini -mungkin- adalah yang pertama dan baru kali ini terjadi di bumi Indonesia.

Kemarin saya mendiskusikan masalah ini dengan seorang sahabat asal Hudaidah, salah satu kota di Yaman Utara yang sampai sekarang dilanda konflik tiada henti. di daerah-daerah konflik disana bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid juga banyak tersebar, hanya saja disana panji hitam bukan menjadi bendera HTI, melainkan bendera Al-Qaeda.

" Al-Qaeda di Syimal-Yaman Utara- bukankah juga mempunyai bendera ? "

" Iya punya.. Bendera Hitam bertuliskan La ilaha Illallah "

Saya lalu menceritakan kepadanya kehebohan di Indonesia akibat pembakaran bendera tauhid tempo hari lalu, tanggapanya benar-benar diluar dugaan..

" Aadii.. (Biasa saja)" ucapnya santai. " di Aden atau di Hudaidah pembakaran bendera-bendera hitam seperti itu sudah biasa terjadi. mereka menyita dan mengumpulkan bendera-bendera itu dalam suatu tempat, menyiramnya dengan bensin lalu membakarnya.. "

" siapa yang melakukannya..? "

" pemerintah.. Masyarakat juga turut andil, bahkan di daerahku sebagian masyaikh juga melakukan itu.. "

" mereka yang membakar juga ahlussunnah.. ? "

" iya.. "

" Maa had takallam ? ( tidak ada yang berkomentar atas pembakaran itu..) ?"

" gak ada.. Biasa aja, bendera-bendera itu adalah penyebab fitnah, jadi sudah seharusnya dilenyapkan, kami mengqiyaskannya dengan Masjid Dhiror " begitu pendapatnya..

Saya juga menceritakan masalah ini kepada murid-murid saya yang berasal dari Yaman Utara. salah satu dari mereka bernama Ahmad, berasal dari kota Mahwith. iya tampak terkejut ketika mendengar cerita saya, tapi bukan karena Insiden pembakaran bendera (karena menurutnya, pembakaran bendera hitam di daerahnya sudah lumrah dan biasa). Ia malah terkejut karena satu hal : Kok bisa bendera seperti itu ada di Indonesia ?

Setelah kami bertukar cerita panjang lebar, dengan raut wajah sedih ia berkata :

" Allah Yarhamkum ya ustadz.. Semoga Allah mengasihani kalian para penduduk Indonesia ustadz..
Wallah..Jika bendera-bendera hitam itu mulai tersebar di negara kalian, itu pertanda awal dari semua kekacauan.."

Saya mengamini doa tulusnya itu.. Ia benar.. Ditengah badai fitnah, kegaduhan, dan perpecahan yang berkecamuk diantara kita saat ini.. betapa butuhnya kita akan pertolongan, kasih sayang dan belas kasih Allah untuk kita..

Irhamna Ya Rabb Ya Rahiim Ya Rahmaan..

** hanya tulisan pribadi, tidak ada sangkut pautnya dengan ormas, keluarga besar, atau lembaga dimana saya bernaung..

* Ismael Amin Kholil, 24 Oktober, 2018.

Sunday, September 16, 2018

Penjelasan Soal Hadits Nabi dan Bendera Khilafah HTI - ISIS l

Penjelasan Soal Hadits Nabi dan Bendera Khilafah HTI - ISIS

ISIS dan HTI sama-sama mengklaim bendera dan panji yg mereka miliki adalah sesuai dg Liwa dan rayah-nya Rasulullah. Benarkah? enggak! Kalau klaim mereka benar, kenapa bendera ISIS dan HTI berbeda design dan khat tulisan arabnya? Ayoooo 🙂

Secara umum hadits-hadits yg menjelaskan warna bendera Rasul dan isi tulisannya itu tidak berkualitas shahih. Riwayatnya pun berbeda-beda: ada yg bilang hitam saja, ada yg bilang putih saja, ada riwayat yg bilang hitam dan putih, malah ada yang bilang merah dan juga kuning.  Riwayat lain bendera itu gak ada tulisan apa-apa. Jadi gak ada tulisan tauhidnya, cuma kosong saja. Riwayat lain bilang ada tulisan tauhidnya. Riwayat seputar ini banyak sekali, dan para ulama sudah memberikan penilaian. Secara umum tidak berkualitas sahih.

Dalam sejarah Islam juga kita temukan fakta yang berbeda lagi. Ada yg bilang Dinasti Umayyah pakai bendera hijau, Dinasti Abbasiyah pakai hitam, dan pernah juga berwarna putih. Apa mau bilang para Khalifah ini tidak mengikuti bendera Rasul? Ribet kan!

Jadi yang mana bendera khilafah? Yah tergantung anda mau merujuk ke Khilafah Umayyah atau Abbasiyah? Gak ada hal yang baku soal bendera ini. Coba saja buka kitab Ahkamus Sulthaniyah karya Imam Mawardi: apa ada pembahasan soal bendera negara Khilafah? Enggak ada!  Kenapa yang gak ada terus mau diada-adakan seolah menjadi urusan syariat? Mau bilang Imam al-Mawardi gak paham soal ini? Nah, tambah ribet kan!

Konteks bendera dan panji dipakai Rasul itu sewaktu perang untuk membedakan pasukan Rasul dengan musuh. Bukan dipakai sebagai bendera negara. Jadi kalau ISIS dan HTI tiap saat mengibarkan liwa dan rayah, emangnya kalian mau perang terus? Kok kemana-mana mengibarkan bendera perang?

Kalau dianggap sebagai bendera negara khilafah, kita ini NKRI, sudah punya bendera merah putih. Masak ada negara dalam negara?! Ini namanya makar! Bahkan ada tokoh HTI yang mempertanyakan apa ada haditsnya bendera RI yang berwarna merah-putih? Nah kan, kelihatan makarnya, sudah mereka tidak mau menerima Pancasila dan UID 1945, sekarang mereka juga menolak bendera merah-putih. Jadi, yang syar’i itu bendera HTI, begitu maunya mereka, padahal urusan bendera ini bukan urusan syari’at.

Sekarang bagaimana status hadits soal bendera ini? Kita bahas singkat saja biar gak makin ribet membacanya.

Hadits riwayat Thabrani dan Abu Syeikh yg bilang bendera Rasul hitam dan panjinya putih itu dhaif.  Mengapa demikian? Riwayat Thabrani ini dhaif karena ada rawi yg dianggap pembohong yaitu Ahmad bin Risydin. Bahkan kata Imam Dzahabi, dia pemalsu hadits.

Riwayat Abu Syeikh dari Abu Hurairah itu dhaif karena kata Imam Bukhari rawi yg namanya Muhammad bin Abi Humaid itu munkar.

Riwayat Abu Syeikh dari Ibn Abbas menurut Ibn Hajar dalam kitabnya Fathul Bari, sanadnya lemah sekali.

‎وجنح الترمذي  إلى التفرقة فترجم بالألوية وأورد حديث جابر  " أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل مكة  ولواؤه أبيض " ثم ترجم للرايات وأورد حديث البراء  " أن راية رسول الله صلى الله عليه وسلم كانت سوداء مربعة من نمرة " وحديث ابن عباس  " كانت رايته سوداء ولواؤه أبيض " أخرجه الترمذي  وابن ماجه  ، وأخرج الحديث أبو داود ،  والنسائي  أيضا ، ومثله لابن عدي  من حديث أبي هريرة  ، ولأبي يعلى  من حديث بريدة  ، وروى أبو داود  من طريق سماك  عن رجل من قومه عن آخر منهم " رأيت راية رسول الله صلى الله عليه وسلم صفراء " ويجمع بينها باختلاف الأوقات ، وروى أبو يعلى  عن أنس  رفعه " أن الله أكرم أمتي بالألوية " إسناده ضعيف ، ولأبي الشيخ  من حديث ابن عباس  " كان مكتوبا على رايته : لا إله إلا الله محمد  رسول الله " وسنده واه

Kalau sudah Ibn Hajar yang komentar soal hadits, HTI dan ISIS mau ngeles apa lagi? Jangan marah sama saya, saya hanya mengutip pendapat Ibn Hajar yang otoritasnya dalam ilmu Hadits sangat diakui dalam dunia Islam. Kalau ada ulama yg menyatakan hadits Abu Syeikh ini sahih, ya silakan saja. Saya lebih percaya dengan Ibn Hajar daripada dengan ulama HTI.

Komentar Ibn Hajar di atas itu telak sekali. Semoga ini membuka mata para kader HTI, yang sudah dibubarkan pemerintah itu. Bendera HTI dan juga ISIS tidak memliki landasan yang kuat. Tidak ada perintah Rasulullah untuk kita mengangkat bendera semacam itu; tidak ada kesepakatan mengenai warnanya, dan apa ada tulisan atau kosong saja, dan tidak ada kesepakatan dalam praktek khilafah jaman dulu, serta para ahli Hadits seperti Ibn Hajar menganggap riwayatnya tidak sahih.

Katakanlah ada tulisannya, maka tulisan khat jaman Rasul dulu berbeda dengan di bendera ISIS dan HTI. Jaman Rasul, tulisan al-Qur'an belum ada titik, dan khatnya masih pra Islam yaitu khat kufi. Makanya meski mirip, bendera ISIS dan HTI itu beda khatnya. Kenapa ayo? Kan sama2 mengklaim bendera Islam? Itu karena tulisan khat-nya rekaan mereka saja. Gak ada contoh yg otentik dan sahih bendera Rasul itu seperti apa. Itu rekaan alias imajinasi orang-orang ISIS dan HTI berdasarkan hadits-hadits yg tidak sahih

Jadi jangan mau dibohongin yah sama bendera Islam-nya HTI dan ISIS.

Perkara ini bukan masuk kategori syari'ah yg harus ditaati. Gak usah ragu menurunkan bendera HTI dan ISIS. Itu bukan bendera Islam, bukan bendera Tauhid.

Tapi ada tulisan tauhidnya? Masak kita alergi dengan kalimat tauhid? Itu hanya akal-akalan mereka saja. Untuk mengujinya gampang saja, kenapa HTI gak mau mengangkat bendera ISIS dan kenapa orang ISIS tidak mau mengibarkan bendera HTI padahal sama-sama ada kalimat Tauhid-nya? Itu karena sifat sebuah bendera di masa modern ini sudah merupakan ciri khas perangkat dan simbol negara. Misalnya warga Indonesia tidak mau mengangkat bendera Belanda atau lainnya. Bukan karena benci dengan pilihan warna bendera mereka, tapi karena itu bukan bendera negara kita.

Bendera itu merupakan ciri khas sebuah negara. Apa HTI dan ISIS mau mengangkat bendera berisikan kalimat Tauhid yang khat dan layout-nya berbeda dengan ciri khas milik mereka? Atau angkat saja deh bendera Arab Saudi yang juga ada kalimat Tauhidnya. Gimana? Gak bakalan mau kan. Karena bendera sudah menjadi bagian dari gerakan mereka. Maka jelas bendera ISIS dan HTI bukan bendera Islam, bukan bendera Rasul, tapi bendera ISIS dan HTI.

Itu sebabnya Habib Luthfi bin Yahya dengan tegas meminta bendera HTI diturunkan dalam sebuah acara. Mursyid yang juga keturunan Rasulullah ini paham benar dengan sejarah dan status hadits soal bendera ini.

Saya ikut pendapatnya Imam Ibn Hajar dan ikut sikap Habib Luthfi.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Thursday, March 22, 2018

HTI, Indonesia, Libya, dan Suriah

HTI, Indonesia, Libya, dan Suriah

HTI selalu mengklaim diri sebagai semata-mata organisasi dakwah Islam dan atas alasan itu, UU Ormas (kini UU) secara salah kaprah disebut anti Islam. Padahal yang disasar UU Ormas adalah ormas yang ideologinya membahayakan NKRI (anti Pancasila, pro kekerasan, dll). Tokoh ex-HTI Mereka pun mengajukan gugatan ke PTUN minta pencabutan pembubaran ormas mereka.

Untuk argumen teologis, para pakar sudah dihadirkan pihak pemerintah dalam persidangan. Tentu saja, para pakar ini dibully di medsos oleh para pembela HTI, bahkan dengan cara&tuduhan yang sangat kasar.

Untuk argumen politik, saya bisa menjelaskan, dimana bahayanya HTI, dengan cara menyimak rekam jejak mereka dalam isu Timteng.

HTI selalu mengklaim sebagai organisasi dakwah. Ini bertentangan dengan pernyataan yang dimuat di situs-situs HT di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang secara jelas menyatakan bahwa Hizbut Tahrir adalah partai politik yang memiliki tujuan untuk mendirikan kekhalifahan Islam.

Saat diwawancarai oleh Aiman dari Kompas TV (12/6), Ismail Yusanto mengelak menjawab, bagaimana proses terbentuknya kekhilafahan serta siapa dan dari negara mana asal sang khalifah.

Pertanyaan bagaimana proses terbentuknya khilafah adalah poin yang amat krusial dalam mengetes kesahihan klaim-klaim antikekerasan yang disampaikan oleh HTI. Bila kita melacak jejak digital pernyataan-pernyataan HTI terkait upaya pendirian khilafah di Libya dan Suriah, kita justru mendapati bahwa organisasi ini menyebarkan narasi yang menyerukan kekerasan. Menurut HTI, rezim Qaddafi dan Assad adalah rezim taghut, karenanya perlu jihad untuk mendirikan khilafah di kedua negara itu.

HTI dan Libya

Pada 23 Februari 2011, Ismail Yusanto merilis siaran pers berjudul “Seruan HTI untuk Kaum Muslimin di Libya Tumbangkan Rezim Diktator, Tegakkan Khilafah”. Dalam siaran pers itu Ismail menyatakan, “penguasa Libya memimpin dengan penuh kezaliman, menggunakan tekanan, paksaan dan kekangan… rakyatnya hidup dalam kemiskinan yang sangat dan kelaparan yang tiada terkira.”

Lalu pada Agustus 2011, situs HTI merilis siaran pers ucapan selamat atas tumbangnya “rezim tiran Qaddafi”.

HTI mengabaikan data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa sebelum 2011, Libya adalah negara dengan Human Development Index (HDI) tertinggi di Afrika. Pada tahun 2010, HDI Libya berada di peringkat 57 dunia. Ini adalah posisi yang jauh lebih baik darpada Indonesia yang baru sampai di peringkat 112.

Dalam situs UNDP dicantumkan bahwa pengukuran HDI dimaksudkan untuk mengetahui kondisi kehidupan manusia, dengan berbasis tiga hal berikut ini: kehidupan yang sehat, panjang umur, dan kreatif; memiliki pengetahuan, serta memiliki akses terhadap sumber daya yang diperlukan untuk memiliki kehidupan yang layak.

Pada 2010, pendapatan penduduk per kapita Libya adalah US$ 14.582. Bandingkan dengan Indonesia pada saat itu yang hanya US$ 2.149. Warga Libya menikmati pendidikan dan layanan kesehatan gratis, serta subsidi berlimpah di sektor energi dan pangan.

Dan ironisnya, di balik seruan-seruan jihad serta gegap-gempita HTI pasca tergulingnya Qaddafi, yang terjadi di Libya sesungguhnya adalah agenda penggulingan kekuasaan yang dilakukan oleh NATO. Prosesnya diawali dengan demo-demo antipemerintah oleh para “mujahidin” Libya yang berafiliasi dengan Al-Qaidah. Lalu, setelah terjadi bentrokan senjata dengan tentara pemerintah, mereka meminta kepada PBB untuk turun tangan, mengklaim telah terjadi “kejahatan kemanusiaan”.

Hanya dalam waktu sebulan, di luar kewajaran, Dewan Keamanan PBB merilis Resolusi 1973/Maret 2011, yang memberikan mandat kepada NATO untuk memberlakukan no fly zone. Praktis resolusi ini memberi kesempatan kepada NATO untuk membombardir Libya. Negara yang pernah dijuluki “Swiss-nya Afrika” itu pun luluh lantak. Qaddafi terguling dan korporasi multinasional pun berpesta-pora karena mendapatkan proyek-proyek rekonstruksi dan eksplorasi minyak di negara yang amat kaya sumber daya alam itu.

HTI dan Suriah

Peran “mujahidin” sebagai proksi NATO di Libya kembali terulang di Suriah. Bahkan tokoh-tokoh Al-Qaidah Libya-lah yang merintis pembentukan milisi-milisi jihad Suriah. Laporan jurnalis Mary Fizgerald dari Foreign Policy menyebutkan bahwa salah satu komandan pemberontak Libya yang paling terkenal, Al-Mahdi Al-Harati, bersama lebih dari 30 milisi Al-Qaidah Libya datang ke Suriah untuk mendukung Free Syrian Army (FSA) serta membentuk milisi Liwaa Al-Ummah.

Lalu, di mana peran HTI? Sama seperti Libya, HTI menjadi cheerleader yang sangat aktif dalam menyerukan jihad Suriah. Pada Januari 2013, HTI bahkan sangat optimistis menyatakan bahwa “khilafah di Suriah sudah dekat”. Hafidz Abdurrahman, Ketua Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI, menyatakan, “Hizbut Tahrir terus bekerja keras untuk mengawal Revolusi Islam ini hingga mencapai tujuannya, yaitu tumbangnya rezim kufur Bashar, kemudian menggantikannya dengan khilafah.”

Menurut Hafidz, proses berdirinya khilafah di Suriah bisa dipercepat dengan “…melumpuhkan kekuasaan Bashar. Bisa dengan membunuh Bashar, seperti yang dilakukan terhadap Qaddafi, atau pasukan yang menopang kekuasaan Bashar.”
Dari kalimat ini terlihat bahwa metode yang diusung HTI dalam mendirikan kekhalifahan adalah metode destruktif.

Bila diamati rekam jejak narasi HTI terkait Suriah di situs-situs mereka: sangat jelas mereka memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok teror. Ini pun sudah diakui juga secara terbuka oleh Ismail Yusanto bahwa Hizbut Tahrir pernah mengikuti sumpah setia dengan banyak kelompok “mujahidin” Suriah, termasuk dengan Al-Nusra. Pada 9 September 2014, situs HTI memuat ucapan duka cita atas tewasnya pimpinan pasukan “jihad” Ahrar Al-Sham.

Jabhah Al-Nusrah dan Ahrar Al-Sham adalah organisasi teror yang sangat brutal, yang lahir dari rahim Al-Qaidah. Situs counterextrimism.com menyebutkan bahwa Al-Nusra didirikan oleh Abu Mus’ab Al-Zarqawi yang merupakan mantan anggota HT. Kelompok Al-Muhajirun, yang dituduh bertanggung jawab atas 50% aksi-aksi teror di Inggris sejak 1995, didirikan oleh Omar Bakri Muhammad, yang juga mantan pimpinan HT.

Di Indonesia, kita mengenal nama Muhammad Al-Khaththath yang ditangkap polisi dengan tuduhan makar, serta Bahrun Naim, yang disebut-sebut sebagai dalang bom Sarinah. Keduanya adalah mantan anggota HTI.

Suriah dan Indonesia

Sejak perang Suriah dikobarkan para "mujahidin", di Indonesia pun muncul gerakan masif mengusung narasi kebencian kepada Syiah (dan parahnya, setiap orang/pihak yang sepakat dengan mereka langsung distempel Syiah). Aksi-aksi penggalangan donasi untuk Suriah dilakukan sangat gencar, dengan membawa narasi kebencian, perang Sunni lawan Syiah, mencaci ulama-ulama Suriah yang menentang "jihad", menyebarkan foto dan video palsu, dll.

Ini jelas membawa masalah besar buat Indonesia. Apa masalahnya? Karena kebencian itu bagai api, akan membakar ke segala penjuru. Dampaknya sudah sangat terasa di atmosfir Indonesia: kebencian meruyak ke segala arah; melebar ke semua isu. Fasisme atas nama agama dengan cara mengusung kebencian semakin merajalela. Isu yang dimanfaatkan bukan cuma Syiah, tapi PKI, China, dll. Dan siapa yang membawa narasi kebencian ini? Tak lain mereka yang berafiliasi dengan ormas-ormas radikal yang angkat senjata di Suriah.

Kalau mau diperdalam lagi, silahkan cek, kelompok-kelompok yang sering membawa hoax soal Suriah adalah kelompok-kelompok yang sama yang juga aktif menyebarkan hoax soal pemerintah.

Karena itu, sepatutnya melawan hoax soal Suriah gencar dilakukan, terutama oleh mereka yang mengaku aktivis anti Hoax.


Catatan Penting:

Sebenarnya yang paling awal berperan mengobrak-abrik Suriah adalah kelompok Ikhwanul Muslimin (mengaku berjihad, padahal dapat suplai dana dan senjata dari Barat). Saat inipun pasukan "jihad" terkuat di Suriah selain ISIS dan Al Qaida adalah yg berhaluan IM. IM ini ada cabangnya di Indonesia dan mendirikan partai.

#HTISudahlah

Sumber: facebook dina sulaenan

Sunday, January 28, 2018

Kriminalisasi Ulama di Masa Khilafah

Kriminalisasi Ulama di Masa Khilafah

Nadirsyah Hosen
(penulis buku Tafsir al-Qur’an di Medsos)

Belakangan ini para pendukung khilafah jaman now banyak menebar isu telah terjadi kriminalisasi ulama di masa Presiden Jokowi. Bahkan seorang mantan Presiden juga ikut-ikutan menganggap telah terjadi kriminalisasi ulama. Kriminalisasi itu artinya orang yang tidak bersalah namun dianggap melakukan perbuatan kriminal. Atau ada orang yang sejatinya bukan ulama namun seolah dia naik kelas menjadi ulama hanya gara-gara menjadi tersangka tindak pidana. Benar atau tidaknya, kita serahkan pada proses hukum dan peradilan yang berlaku.

Saya hanya hendak mengisahkan bahwa di masa Khilafah jaman old telah terjadi penyiksaan dan pembunuhan terhadap para ulama. Sehingga kalau pendukung eks HTI teriak-teriak hanya khilafah yang bisa menghentikan terjadinya kriminalisasi ulama, maka jelas mereka buta dengan apa yang terjadi pada khilafah masa lalu.

Ini sedikit cuplikannya yang diambil dari kitab Tarikh karya Imam Thabari dan juga Imam Suyuthi:

1. Khalifah al-Manshur memerintahkan untuk mencambuk Imam Abu Hanifah rahimahullah ketika menolak diangkat menjadi hakim, memenjarakannya hingga wafat di penjara. Dikatakan bahwa Imam Abu Hanifah wafat karena diracun akibat telah berfatwa membolehkan memberontak melawan Khalifah Abu Ja’far al-Manshur. 

2. Menurut Imam Suyuthi, Imam Malik mengeluarkan fatwa bahwa boleh keluar memberontak terhadap al-Manshur mengingat kekejaman yang dilakukannya. Gubernur Madinah kemudian menangkap dan mencambuk Imam Malik akibat fatwa itu. Sudah sebelumnya disebut di atas tindakan Khalifah al-Manshur kepada Imam Abu Hanifah.

3. Kekejaman terhadap ulama tidak berhenti pada dua nama besar Imam Mazhab ini tapi juga menimpa ulama lainnya yaitu Sufyan ats-Tsauri dan Abbad bin Katsir —yang pertama seorang ahli fiqh ternama, dan yang kedua seorang perawi Hadits. Hampir saja keduanya menemui ajal saat Abu Ja’far al-Manshur menunaikan ibadah haji. Namun Sufyan dan Abbad selamat meski sudah dimasukkan dalam penjara dan menunggu waktu eksekusi. Kata Imam Suyuthi, “namun Allah tidak memberi kesempatan khalifah sampai di Mekkah dengan selamat. Dalam perjalanan dia sakit dan wafat. Allah telah mencegah kekejamannya terhadap kedua ulama itu.”

4. Fitnah menerpa Imam Syafi’i, hingga ia diseret dengan tangan terantai menuju tempat Khalifah Harun ar-Rasyid di Baghdad dan terancam hukuman mati. Namun beliau berhasil menyampaikan peleidoi yang luar biasa, yang membuat Khalifah melepasnya. Pada saat itulah Imam Syafi’i bertemu dengan Syekh Muhammad bin Hasan al-Syaibani, seorang murid dari Imam Abu Hanifah. Maka mulailah Syafi’i belajar pada ulama hebat ini.

5. Khalifah al-Makmun  memerintahkan dikumpulkannya para ulama dan diinterogasi apakah mereka berpendapat al-Qur’an itu qadim atau makhluk. Sesiapa yang menjawab makhluk, maka amanlah dia. Sementara sesiapa yang menjawab qadim, habislah dia disiksa. Surat lengkap Khalifah al-Makmun kepada Ishaq bin Ibrahim yang memulai mihnah ini bisa dibaca di Tarikh Thabari, juz 8/361-345.

6. Kebijakan Khalifah al-Makmun diteruskan oleh khalifah selanjutnya. Imam Ahmad bin Hanbal ditangkap dan perintahkan untuk dicambuk oleh Khalifah al-Mu’tashim karena bertahan bahwa al-Qur’an itu qadim.

7. Ibn Sikkit seorang ahli sastra Arab yang menjadi guru kedua putra Khalifah al-Mutawakkil, diinjak perutnya hingga wafat. Imam Suyuthi mencatat bahwa ada riwayat lain yang mengatakan al-Mutawakkil memerintahkan pengawalnya mencabut lidah Ibn Sikkit hingga wafat. Ibn Sikkit dituduh sebagai Rafidhah.

8. Imam Buwaythi (salah seorang murid terkemuka Imam Syafi’i) wafat di penjara dengan tangan terikat akibat tidak lolos ujian keyakinan (mihnah), di masa Khalifah al-Watsiq. Beliau bertahan bahwa al-Qur’an itu qadim.

9. Imam Suyuthi melaporkan dalam kitabnya Tarikh Al-Khulafa bagaimana kepala  Ahmad bin Bashr al-Khuza’i dipenggal oleh Khalifah al-Watsiq dan kemudian dikirim ke Baghdad sementara tubuhnya diperintahkan untuk digantung di gerbang kota Samarra. Lantas, masih menurut catatan Imam Suyuthi, Khalifah tinggalkan tulisan yang tergantung di telinga Khuza’i: “Inilah Ahmad ibn Nashr al-Khuza’i yang membangkang mengenai kemakhlukan al-Qur’an dan menganggap Allah bisa dilihat kelak dengan mata kita. Dia dieksekusi oleh Khalifah Harun al-Watsiq. Inilah siksaan Allah yang lebih awal dari nerakaNya.”

10. Imam Thabari melaporkan bahwa sekitar 29 orang pengikut dan keluarga Ahmad ibn Nashr al-Khuza’i juga diburu dan dimasukkan ke penjara oleh Khalifah al-Watsiq, tidak boleh dikunjungi siapapun, dirantai dengan besi dan tidak diberi makanan. Tubuh Khuza’i yang tanpa kepala itu digantung selama 6 tahun dan baru diturunkan setelah Khalifah al-Watsiq wafat. Kekejaman yang tak terhingga.

Demikian catatan ringkas akan kriminalisasi terhadap para ulama yang dilakukan oleh para Khalifah masa lalu. Ini fakta sejarah yang tak terbantahkan dan dicatat dalam kitab klasik yg mu’tabar. Mayoritas dieksekusi tanpa melalui proses peradilan.

Ini tentu berbeda dengan kondisi sekarang di NKRI dimana setiap yang diduga melakukan tindak pidana akan menghadapi proses hukum dengan didampingi pengacara dan berlaku asas praduga tak bersalah. Saat pengadilan nanti didatangkan para saksi. Dan kalau tidak puas dengan keputusan hakim, masih bisa melakukan upaya banding dan kemudian kasasi.

Kalau sekarang kita kembali ke masa Khilafah, ngapain capek-capek pakai proses peradilan, tinggal penggal saja kepala mereka. Nah, yakin anda masih mau kembali ke jaman khilafah? Mikirrrrr!

Wednesday, December 6, 2017

MERAH PUTIH VERSUS BENDERA RASULULLAH Membaca Kembali Hadits Nabi dan Sejarah Islam

MERAH PUTIH VERSUS BENDERA RASULULLAH
Membaca Kembali Hadits Nabi dan Sejarah Islam
Oleh: Irwan Masduqi

Sebagai warga Indonesia yang menghormati merah putih barangkali kita agak terusik dengan keberadaan bendera ISIS dan HTI yang diklaim oleh para kader militan sebagai bendera Rasulullah saw. Bendera Rasulullah saw kini semakin marak digunakan oleh kelompok radikal dalam sejumlah aksi demonstrasi, seakan-akan bendera itulah yang Islami sedangkan merah putih tidak sesuai dengan hadits Nabi. Para ideolog HTI juga sering mengutip hadits-hadits tentang bendera Rasulullah dengan pemahaman yang tekstual. Pemahaman seperti ini perlu dikaji ulang dan diluruskan.

Dalam kitab Fath al-Bari Syarh Shahih Bukhari diterangkan bahwa warna bendera Rasulullah saw masih diperdebatkan disebabkan perbedaan redaksi hadits dan riwayat yang beragam. Dalam haditsnya Jabir diterangkan bahwa bendera Rasul saat masuk Makkah berwarna putih (anna Rasulallah dakhala Makkata wa liwa`uhu abyadh). Dalam haditsnya al-Bara’ diterangkan warnanya hitam (anna rayata Rasulillah kanat sauda`). Abu Dawud meriwayatkan bendera Rasulullah berwarna kuning (raaytu rayata Rasulillah shallallahu ‘alayhi wasallama shafra`). Untuk menyikapi hadits yang saling bertentangan ini, para ulama menggunakan metode ushul fiqh “al-jam’u baynal adilah”, mensinkronkan dalil-dalil yang bertentangan. Kesimpulannya, bendera Rasulullah saw berganti-ganti sesuai kondisi dan situasi (takhtalifu bikhtilafil awqat) dan para perawi meriwayatkan secara berbeda-beda sesuai yang mereka lihat atau dengarkan.

Bendera ISIS dan HTI terdapat tulisan La ilaha illallah Muhammad Rasulullah dan mereka mengklaim bahwa bendera Rasulullah saw juga terdapat tulisan seperti itu. Pemahaman seperti ini didasarkan pada hadits Ibnu Abbas “Kana maktuban ‘ala rayatihi la ilaha illallah Muhammad Rasulullah”. Namun dalam kitab Fath al-Bari Syarh Shahih Bukhari diterangkan bahwa sanad hadis tersebut adalah “wahin/dha’if jiddan” atau lemah sekali atau diduga hoax (muttaham bil kidzbi).

Ajaran Islam tidak menentukan warna bendera. Bendera Rasulullah saw bukanlah syiar agama, akan tetapi hanya kode untuk mengisyaratkan strategi perang (alwanu rayat fi tilkal fatrah lam takun tumatstsilu syiaran walakin rumuz). Bendera Rasulullah saw dikibarkan oleh tentara pilihan yang paling pemberani, yakni Hamzah, Ali bin Abi Thalib, dan Mush’ab bin ‘Umayr. Menurut Ibnu Khaldun, sejarawan Muslim terkemuka, tujuan dari bendera yang dikibarkan oleh pejuang adalah untuk mengintimidasi dan menakut-nakuti tentara musuh (li tahwil wa takhwif). Jadi hal ini murni strategi perang yang bersifat kondisional dan profan, bukan doktrin agama yang sakral. Bendera bisa dirubah warna apa saja karena tujuannya hanya kode dan isyarat untuk membedakan mana kawan dan lawan saat kondisi perang.

Bendera warna hitam dan putih kemudian juga digunakan sebagai penanda bagi pasukan kaum Muslimin di era Khulafa al-Rasyidin. Namun seiring perkembangan zaman, bendera kaum Muslimin terus mengalami perubahan. Di era Dinasti Umawi, menurut salah satu riwayat, benderanya diganti dengan warna hijau menyesuaikan selera Bani Umayah yang lebih menyukai warna hijau. Namun menurut riwayat lainnya, warnanya adalah putih dengan tulisan La ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Dalam kesempatan lain, ada pula bendera yang diberi tulisan nashrun minallah wa fathun qarib yang artinya pertolongan dari Allah dan penaklukan akan segera datang. Bendera ini di era belakangan dipakai juga oleh Dinasti Muwahidin di Andalusia Spanyol.

Berganti Khilafah berganti pula kebijakan terkait warna bendera. Pada era Khilafah Abasiyah, warna bendera diganti hitam. Menurut Ibnu Khaldun, alasannya adalah untuk mengekspresikan kesedihan atas gugurnya para syuhada’ dari Bani Hasyim. Pada era al-Ma’mun, benderanya diganti lagi warnanya menjadi hijau sebagai syiar negara keadilan. Namun al-Ma’mun pada era belakangan menggantinya lagi menjadi hitam karena warna hijau juga digunakan oleh kelompok Alawiyin. Bendera Alawiyin yang hijau ini kemudian diganti oleh kelompok Syiah menjadi putih sebagai bendera Khilafah Fathimiyyah Syiah di kawasan Maghrib pada tahun 297 H/909 M. Di sini kita melihat bahwa perbedaan kepentingan politik Sunni dan Syiah juga menjadi faktor perubahan warna bendera.

Perubahan warna bendera terus terjadi dalam sejarah umat Islam sesuai dengan pertimbangan filosofis, politis, ideologis, sektarianis, dan selera warna sang pemimpin negara. Putih menyimbolkan kesucian, hitam menyimbolkan keberanian dan ekspresi kesedihan atas gugurnya para syuhada, hijau menyimbolkan keadilan dan kemakmuran, dan seterusnya. Dari kajian hadits dan sejarah di atas, maka kita sebagai warga negara Indonesia selayaknya menghormati merah putih dan tidak sepatutnya mempertentangkan merah putih dengan bendera Rasulullah saw, sebab warna bendera hanyalah bersifat fleksibel sesuai dengan kondisi dan situasi, filosofi pendiri bangsa-bangsa, sejarah kebudayaan masing-masing kawasan, dan cita-cita masa depan bangsa.

Lebih dari itu, menurut Bung Karno, dalam pidatonya pada 24 September 1955, merah putih bukanlah buatan Republik Indonesia. Bukan pula buatan tokoh-tokoh di zaman pergerakan nasional. Bukan buatannya Bung Karno, bukan buatannya Bung Hatta. Enam ribu tahun sebelum Indonesia merdeka manusia yang hidup di tanah air Nusantara sudah memberi makna pada Merah Putih. Bangsa Indonesia sudah mengagungkan merah putih jauh sebelum agama-agama masuk, seperti Hindu, Budha, Kristen, dan Islam. Kerajaan-kerajaan di Nusantara dari mulai Kediri, Singosari, Majapahit sampai Mataram menggunakan merah putih sebagai panji-panji. Bung Karno kemudian berwasiat, “Aku minta kepadamu sekalian, janganlah memperdebatkan Merah Putih ini. Jangan ada satu kelompok yang mengusulkan warna lain sebagai bendera Republik Indonesia”.

Akhir kalam, merah putih yang memiliki filosofi berani dan suci pun tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang mengajarkan keberanian dan kesucian (al-syaja’ah wa nadhafah). Maka penulis mengajak umat Islam di Indonesia agar melihat persoalan ini secara historis dan jangan terjebak pada sikap beragama yang simbolik dan tekstual (al-tadayyun al-syakli wal harfi) ala ISIS dan HTI. Beragama yang simbolik seperti ISIS dan HTI akan mengakibatkan kita terkungkung pada kulit sembari mengabaikan isi. Terjebak pada bentuk dan melupakan nilai filosofi. Memberhalakan teks dan menafikan konteks.
Kepada Sang Saka Merah Putih, hormaaaaat grak!

Yogya, 6 Desember 2017

http://as-salafiyyah.blogspot.co.id/2017/12/merah-putih-versus-bendera-rasulullah.html

Thursday, November 23, 2017

Khalifah Al-Amin Bin Harun Ar-Rasyid: Penyuka Sesama Jenis Dan Pemicu Perang Saudara by NADIRSYAH HOSEN

Dua puluh tiga tahun kekuasaan Khalifah kelima Abbasiyah yang melegenda, Harun ar-Rasyid, telah membawa kemajuan peradaban Islam dan stabilitas politik. Namun, sayang, semua kegemilangan berubah menjadi huru-hara sepeninggalnya. Ini semua gara-gara ketidakcakapan putra Harun yang bernama al-Amin, yang naik menjadi Khalifah keenam. Bagaimana kisahnya? Tegarkan hati Anda membaca lanjutan kolom sejarah politik Islam ini.

Nama aslinya Muhammad, lantas diberi gelar al-Amin. Sungguh nama dan gelar yang mulia–mengingatkan kita pada Rasulullah SAW. Ini karena lewat jalur ibunya, al-Amin masih keturunan Bani Hasyim. Namun, sayang, al-Amin ini jauh sekali dari sifat kemuliaan Rasulullah SAW. Imam Suyuthi blak-blakkan menulis: “dia tidak cakap dalam masalah pemerintahan, boros, dan lemah pandangan hidupnya, sehingga tidak layak menjadi khalifah.”

Sayangnya, kita tahu bagaimana khalifah Dinasti Umayyah dan Abbasiyah dipilih, yaitu bukan berdasarkan kemampuan dan pilihan rakyat, tapi karena wasiat keluarga dan pertalian darah. Akhirnya umat Islam beruntung kalau kebetulan mendapati khalifah yang baik dan adil. Namun akan celaka nasib umat kalau putra mahkota ternyata jauh dari kelayakan, dan umat hanya menunggu kapan wafatnya khalifah yang tidak layak ini dan berharap penggantinya kelak bisa lebih baik. Mekanisme pengangkatan dan pemakzulan pemimpin ini yang diperbaiki dengan hadirnya sistem demokrasi.

Sejak semula Khalifah Harun sudah berpesan agar penerus takhta kekhilafahannya, yaitu al-Amin dan kemudian al-Ma’mun, menjaga kekompakan mereka. Bahkan kesepakatan ini ditulis dan disimpan di dalam Ka’bah. Namun al-Amin begitu naik menjadi khalifah malah berusaha menggeser al-Ma’mun dari jalur suksesi. Inilah yang menjadi penyebab perang saudara kedua putra Harun ar-Rasyid ini. Sejarawan menyebutnya sebagai “fitnah keempat” dalam tubuh umat Islam.

Seperti pernah dijelaskan di tulisan saya (baca: Fitnah Ketiga dalam Sejarah islam), fitnah di sini maksudnya adalah ujian berupa perang saudara. Fitnah pertama tercatat pada saat pemberontakan yang mengakibatkan terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, berlanjut dengan perang saudara antara Sayyidina Ali dengan Siti Aisyah (Perang Jamal) dan dengan Mu’awiyah (Perang shiffin). Periode fitnah pertama berakhir dengan perdamaian antara Sayyidina Hasan dan Mu’awiyah. Kisah periode ini sudah saya ceritakan dalam berbagai tulisan saya.

Fitnah kedua berlangsung pada periode pembantaian Sayyidina Husain di Karbala dan berlanjut dengan perlawanan Abdullah bun Zubair. Kisah pergolakan pada periode fitnah kedua juga sudah pernah saya bahas dalam sejumlah tulisan saya. Periode peperangan antara al-Walid II dan Yazid III dikenal dalam sejarah islam sebagai fitnah ketiga, yang berakhir dengan naiknya Marwan sebagai Khalifah terakhir Umayyah.

Nah, periode pertempuran antara kedua putra Harun ar-Rasyid di masa Dinasti Abbasiyah, antara al-Amin dan al-Ma’mun, disebut-sebut sebagai fitnah keempat. Peperangan ini berlangsung pada tahun 811-813 Masehi.

Imam Suyuthi menulis:

وقيل: إن الفضل بن الربيع علم أن الخلافة إذا أفضت إلى المأمون لم يبق عليه، فأغرى الأمين به، وحثه على خلعه، وأن يولي العهد لابنه موسى

Dikatakan bahwa salah satu sebab peperangan ini adalah pengaruh al-Fadhl bin ar-Rabi’, seorang Perdana Menteri yang khawatir kehilangan posisinya kalau al-Ma’mun kelak naik menggantikan al-Amin. Maka al-Fadhl bin ar-Rabi’ memprovokasi Khalifah al-Amin untuk menggeser al-Ma’mun dari jalur suksesi, dan mengangkat Musa, anaknya sendiri (Tarikh al-Khulafa 1/219).

Imam Thabari mengabarkan hal yang sama akan pengaruh provokatif al-Fadhl bin ar-Rabi’ ini (Tarikh al-Thabari 8/374). Ini mengingatkan kita pada kiprah Sengkuni yang menyebabkan terjadinya perang Bharata Yudha antara sesama saudara Kurawa dan Pandawa. Begitulah, selalu ada dalam tiap lintasan sejarah orang model al-Fadhl bin ar-Rabi’, sang sengkuni Dinasti Abbasiyah.

Sejumlah penasihatnya mencoba mengingatkan Khalifah al-Amin akan wasiat ayahanda Harun ar-Rasyid yang tersimpan di dinding Ka’bah. Naskah ini secara lengkap bisa dibaca di Tarikh al-Thabari (8/278). Khalifah al-Amin bukannya menuruti nasihat ini malah meminta naskah itu diambil dari dalam Ka’bah dan dibawa ke Baghdad.

Begitu Khalifah al-Amin menerima naskah tersebut, lantas dia merobeknya. Maka, segala wasiat, sumpah, dan kesepakatan antara sang ayahanda Harun ar-Rasyid dan kedua putranya di depan Ka’bah menjadi berantakan.

Begitulah nafsu kekuasaan yang bergema dalam sistem ketatanegaraan yang rapuh. Naskah wasiat dan kesepakatan Harun ar-Rasyid bukanlah sebuah Undang-Undang yang dikeluarkan oleh Parlemen. Itu semata-mata berasal dari tangan Khalifah, maka tidak ada yang bisa mencegah Khalifah berikutnya merobek naskah tersebut dengan tangannya sendiri, meski sebelumnya tersimpan di dinding Ka’bah.

Imam Suyuthi dengan getir menulis:

وبايع العهد لابنه موسى، ولقبه الناطق بالحق، وهو إذ ذاك طفل رضيع

Al-Amin meminta orang-orang berbai’at kepada Musa, anaknya yang dia beri gelar an-Nathiq bi al-Haq (suara kebenaran), padahal Musa saat itu masih menetek sama ibunya (Tarikh al-Khulafa 1/219).

Absurd! Begitulah nafsu kekuasaan itu, meski dalam khilafah Islam.

Imam Thabari juga mendeskripsikan bagaimana Khalifah al-Amin ini punya hubungan “spesial” dengan Kasim, pelayan istana. Kasim favoritnya bernama Kaustar. Kita tahu bahwa dalam berbagai monarki terdapat lelaki yang dikebiri dan kemudian bebas masuk keluar istana, termasuk ke kamar raja dan permaisuri untuk melayani kebutuhan keluarga kerajaan. Di masa Abbasiyah, kasim ini juga menjadi bagian dari pelayan istana.

Hubungan “spesial” antara Khalifah al-Amin terekam dalam catatan sejarah Imam Thabari dan Imam Suyuthi. Kecenderungan menyukai sesama jenis ini membuat Zubaydah, ibu al-Amin, murka. Istri Harun ar-Rasyid ini kemudian mengirimkan pelayan perempuan yang kurus dan cantik tapi didandani dan dipakaikan baju seperti lelaki. Mereka dikirim ke istana al-Amin agar sang khalifah berpaling dari para Kasim kesayangannya.

Kecenderungan Khalifah keenam Abbasiyah ini terhadap sesama jenis mengingatkan kita pada Khalifah Dinasti Umayyah, yaitu al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik (709-744), yang dikenal dengan julukan al-Walid II, yang juga diberitakan melakukan liwath. Sejarah kadang begitu menohok. Namun catatan sejarah ini terekam dalam kitab-kitab klasik Islam yang diakui otoritasnya; bukan cerita karangan.

Singkat cerita, Khalifah al-Amin berkuasa sekitar 4 tahun (809-813 Masehi). Dua tahun terakhir dari kekuasaannya diisi dengan perang suadara melawan saudaranya sendiri, yaitu al-Ma’mun. Negara yang kaya raya di masa Harun ar-Rasyid menjadi defisit keuangan. Tatanan sosial menjadi rusak. Karut marut terjadi hanya karena hendak menggeser saudaranya sendiri dengan anak al-Amin yang masih kecil.

Pasukan setia al-Ma’mun dari Khurasan di bawah kepemimpinan Jenderal Tahir bin Husain mengalahkan pasukan Khalifah al-Amin, dan kepala sang khalifah dipenggal dan ditancapkan di gerbang kota al-Anbar. Lantas tubuhnya diseret dengan tali, dan akhirnya kepalanya dikirimkan ke al-Ma’mun. Maka, berakhirlah perang saudara kedua putra Harun ar-Rasyid.

Kekuasaan beralih dari al-Amin kepada al-Ma’mun persis seperti yang tertera dalam sumpah dan kesepakatan mereka berdua dulu di depan Ka’bah. Namun, caranya bukan seperti yang dikehendaki ayahanda mereka, Harun ar-Rasyid. Kekuasaan beralih lewat pertempuran ribuan pasukan sesama Muslim dan dipenggalnya kepala khalifah keenam Abbasiyah. Tragis!

Bagaimana kemudian kepemimpinan Khalifah ketujuh, al-Ma’mun, yang telah memenangkan pertempuran? Insya Allah kita teruskan mengaji sejarah politik Islam pada kolom Jum’at berikutnya, bi idznillah

Khalifah Al-Ma’mun: Disenangi Ilmuwan, Dijauhi Ulama By NADIRSYAH HOSEN

Pada 1 September tahun 813 Masehi berakhirlah perang saudara antara kedua anak Harun ar-Rasyid, yaitu al-Amin dan al-Ma’mun. Khalifah al-Amin kalah dan kepalanya dipenggal, lalu al-Ma’mun menduduki takhta kekhilafahan Dinasti Abbasiyah sebagai khalifah ketujuh. Pada perioden al-Ma’mun berkuasa, ilmu pengetahuan berkembang pesat lewat penguatan institusi Bait al-Hikmah. Namun nama al-Ma’mun menjadi cacat di mata para ulama tradisional akibat peristiwa mihnah. Yuk, kita ikuti catatan hasil mengaji sejarah politik Islam.

Al-Ma’mun lahir di malam Khalifah Musa al-Hadi wafat, atau saat ayahnya, Harun ar-Rasyid, dibaiat menjadi Khalifah. Maka, pada malam 14 September tahun 786 Masehi itu terdapat tiga peristiwa: wafatnya seorang khalifah, diangkatnya khalifah baru, dan lahirnya calon khalifah. Al-Ma’mun berusia sekitar 27 tahun saat menjadi khalifah.

Imam Suyuthi mendeskripsikan al-Ma’mun sebagai orang yang belajar hadits, fiqh, sejarah dan filsafat kepada banyak ulama dan ilmuwan. Dia seorang yang istimewa dalam hal kemauan yang kuat, kecerdasan, kewibawaan, dan kecerdikan. Dia bicara dengan fasih, dan seorang orator yang ulung.

Sulit mencari tandingannya di antara para khalifah Dinasti Abbasiyah lainnya dalam hal kepintaran. Diriwayatkan dalam al-Bidayah wan Nihayah (10/302) bahwa saat bulan Ramadhan dia sanggup mengkhatamkan al-Qur’an 33 kali.

Bekal kepintaran dan kecintaan pada ilmu itulah yang membuat periode kekhilafahan di masanya tercatat sebagai masa keemasan Abbasiyah, melanjutkan kisah gemilang ayahnya, Harun ar-Rasyid, khalifah kelima. Kalau pada masa ayahnya, Bait al-Hikmah didirikan sebagai perpustakaan pribadi, pada masa al-Makmun Bait al-Hikmah dikembangkan menjadi semacam perpustakaan negara dan pusat kajian.

Khalifah al-Ma’mun mengundang para fisikawan, matematikawan, astronom, penyair, ahli hukum, ahli hadis dan mufasir dari berbagai penjuru untuk menyemarakkan panggung intelektual dunia Islam. Mereka diberi fasilitas dan perlindungan negara agar dapat mencurahkan seluruh perhatian pada pengembangan ilmu pengetahuan. Bahkan ilmuwan Kristen dan Yahudi pun diajak turut serta.

Sejarah mencatat bahwa Hunain Ibn Ashaq, seorang Kristiani, telah menerjemahkan karya-karya Aristoteles dan Plato dari karya-karya Hippocrates dan Galen di bidang fisika. Karya itu beberapa tahun kemudian menyebar sampai ke Eropa Barat melalui Sisilia dan Spanyol. Setelah menjamurnya karya-karya terjemahan itu, semakin lengkaplah koleksi buku di perpustakaan akademi Bait al-Hikmah.

Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (775-835), matematikawan terkemuka dan penemu al-Jabar (Algebra), pernah bekerja di perpustakaan ini. Selama masa tugasnya di perpustakaan itu, ia menulis karya monumental, Kitab al-Jabr wa al-Muqabil
Sekadar ilustrasi saja, dana riset yang diberikan Khalifah al-Ma’mun kepada Bait al-Hikmah itu setara dengan dua kali dana Medical Research Centre di Inggris saat ini. Begitu juga gaji para ilmuwan seperti Hunain dan Khawarizmi di atas setara dengan gaji atlet profesional saat ini seperti Lionel Messi dan Ronaldo. Tidak aneh kalau Bait al-Hikmah menjadi pilar kemajuan peradaban Islam saat itu. Inilah institusionalisasi perintah iqra’ dalam al-Qur’an.

Bagaimana dengan kondisi sekarang? Majalah Newsweek, misalnya, melaporkan bahwa pada 2005, jumlah publikasi internasional yang dihasilkan Harvard University jauh lebih banyak dibanding akumulasi semua publikasi ilmiah dari universitas-universitas di 17 negeri Muslim. Dari 1,6 miliar umat Islam, kita hanya bisa menghasilkan dua Muslim sebagai pemenang nobel di bidang kimia dan fisika.

Kedua saintis Muslim tersebut—dan ini penting diingat—justru tinggal dan bekerja di dunia Barat. Itu artinya, kalau mereka melakukan penelitiannya di kampung halaman mereka, sulit atau kecil kemungkinan mereka akan mendapatkan hadiah nobel. Secara kontras, umat Yahudi yang jumlahnya hanya sepersepuluh umat Islam telah melahirkan 79 pemenang nobel dalam dunia sains.

Dana riset di 57 negara Muslim hanya sebesar 0,81% dari GDP mereka. Sebagai contoh yang memilukan hati, sebuah universitas di Islamabad, Pakistan, sudah memiliki 3 masjid di dalam kampus dan sekarang tengah membangun masjid keempat. Tapi, tidak satu pun ditemukan toko buku di dalam kampus. Mungkin kalau kita menengok koleksi dan fasilitas perpustakaan di dunia Muslim, kita akan lebih terkejut lagi.

Kembali ke kisah al-Ma’mun, sebagai pecinta ilmu, tentu saja dia dipuji para ilmuwan. Namun al-Ma’mun pada saat yang sama hendak menegakkan otoritas keagamaan yang dimiliki khalifah. Sebagai seorang rasionalis, dia cenderung pada pemikiran Mu’tazilah. Dan al-Ma’mun tidak bisa menahan godaan untuk memaksa para ulama tradisional agar memiliki paham yang sama dengannya. Maka, muncullah peristiwa mihnah, yaitu semacam tes keagamaan di mana mereka yang memiliki paham berbeda akan dipersekusi oleh negara.

Pangkal persoalan ada pada perdebatan ilmu kalam: apakah kalamullah yang berbentuk mushaf al-Qur’an itu qadim atau hadits (baru diciptakan dan karenanya dianggap sebagai makhluk). Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat al-Qur’an itu qadim, sedangkan Mu’tazilah berpendapat al-Qur’an itu makhluk.

Kalau ditarik ke belakang, perdebatan ini muncul akibat perbedaan kedua kelompok ini dalam memahami apakah Allah memiliki sifat atau tidak. Bukan pada tempatnya di sini kalau saya jelaskan panjang lebar soal ini. Kita kembali fokus pada masalah mihnah.

Imam Thabari menuliskan ulang surat Khalifah al-Ma’mun yang memerintahkan dikumpulkannya para ulama dan diinterogasi apakah mereka berpendapat al-Qur’an itu qadim atau makhluk. Sesiapa yang menjawab makhluk, maka amanlah dia. Sementara sesiapa yang menjawab qadim, habislah dia disiksa. Surat lengkap Khalifah al-Ma’mun kepada Ishaq bin Ibrahim yang memulai mihnah ini bisa dibaca di Tarikh Thabari, juz 8/361-345.

Maka, bisa kita simpulkan, Khalifah al-Ma’mun bukan hanya hendak menegakkan otoritas keilmuan tapi juga otoritas keagamaan sebagai khalifah. Dia memaksakan pahamnya dan ulama harus mengikutinya. Inilah sebabnya para ulama tradisional banyak yang tidak suka dengan al-Ma’mun. Salah satu yang ngotot bertahan dengan pendapat al-Qur’an itu qadim adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Peristiwa mihnah ini bisa dibaca lebih jauh di Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibn Katsir, juz 10/298.

Ada sebab lain kenapa ulama tradisional tidak menyukai al-Ma’mun. Secara pemikiran, dia cenderung mengikuti Mu’tazilah, dan para ulama menyalahkan kecintaan al-Ma’mun pada filsafat dan gerakan penerjemahan karya para filosof Yunani. Mereka menuduh al-Ma’mun menjadi sesat karena pengaruh filsafat.

Tentu menjadi ironis: di satu sisi, masa al-Ma’mun dianggap sebagai periode keemasan khilafah dan para penyokong berdirinya kembali khilafah di abad ke-21 ini sering mengambil contoh masa keemasan ini. Tapi, di sisi lain, masa keemasan Abbasiyah ini justru berdiri di atas pondasi rasionalitas dan filsafat—sesuatu yang sering diharamkan pada masa sekarang. Pada masa al-Ma’mun aliran Mu’tazilah yang mendominasi, bukan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Aspek ini yang sering luput dari perhatian kita.

Secara politik, para ulama tradisional juga tidak senang dengan al-Ma’mun karena dia juga condong kepada Syiah. Al-Ma’mun memilih tinggal di kota Merw, di daerah Iran yang banyak orang Syiah dan Persia. Al-Ma’mun dituduh anti-Arab. Dia mengatakan berlepas diri terhadap mereka yang memganggap Mu’awiyah itu orang baik. Bahkan al-Ma’mun, seperti dituliskan oleh Imam Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa halaman 227, mengatakan orang yang paling utama setelah Rasulullah itu adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Tidak berhenti sampai di sana, al-Ma’mun bahkan menjadikan Imam Ali ar-Ridha, Imam kedelepan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah, sebagai putra mahkota pengganti al-Ma’mun. Tentu tak terbayangkan bahwa Dinasti Abbasiyah memberi kekuasaan kepada orang lain di luar jalur keluarga Abbas.

Al-Ma’mun beralasan, dulu saat Sayyidina Ali menjadi Khalifah keempat, beliau banyak memberikan posisi penting kepada keturunan Abbas. Dan kenapa sekarang saat Dinasti Abbasiyah berkuasa, tidak ada keturunan Sayyidina Ali yang mendapat jatah kekuasaan.

Al-Ma’mun semakin menegaskan posisi politiknya dengan memerintahkan pejabat untuk mengenakan pakaian hijau, dan mencopot pakaian hitam. Pakaian hitam adalah ciri Dinasti Abbasiyah, sedangkan pakaian hijau biasa dikenakan pemeluk Syiah.

Kemarahan sebagian pihak di Baghdad terhadap al-Ma’mun membuat mereka membaiat Ibrahim bin Mahdi, anak Khalifah ketiga Abbasiyah, sebagai khalifah pengganti al-Ma’mun. Al-Fadhl bin Sahal, perdana menteri al-Ma’mun, juga berkhianat kepada al-Ma’mun dengan memberikan informasi yang keliru. Posisi al-Ma’mun menjadi terjepit.

Kelompok Syiah tidak sepenuhnya menerima penunjukkan Imam Ali ar-Ridha sebagai putra mahkota pengganti al-Ma’mun. Mereka menuduh ini taktik politik al-Ma’mun agar mendapat dukungan kaum Syiah, dan juga fakta bahwa Imam Ali ar-Ridha berusia 20 tahun lebih tua dari al-Ma’mun. Artinya, kemungkinan Imam Ali ar-Ridho kelak tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai khalifah amat besar.

Dan ternyata benar, Imam Ali ar-Ridho wafat lebih dulu dari al-Ma’mun. Imam Thabari mengabarkan bahwa Ali ar-Ridha wafat setelah memakan buang anggur. Banyak kalangan Syiah yang percaya buah anggur itu sudah diracun atas perintah al-Ma’mun. Wa Allahu A’lam.

Wafatnya Ali ar-Ridha meredakan ketegangan politik. Al-Ma’mun membujuk keluarganya dan pejabat Abbasiyah untuk kembali loyal kepadanya karena Ali ar-Ridha bukan lagi putra mahkota.

Ibrahim bin al-Mahdi, yang diberi gelar al-Mubarak, bertahan hampir dua tahun menguasai Baghdad sebelum pasukan al-Ma’mun mengambil alih kekuasaan. Al-Ma’mun kemudian kembali mengenakan pakaian hitam.

Al-Ma’mun wafat karena sakit saat berusia 47 tahun. Dia berkuasa sekitar 20 tahun. Dia tidak menunjuk anaknya, al-Abbas, sebagai penggantinya. Dia menunjuk saudaranya, Abu Ishaq Mihammad bin ar-Rasyid, sebagai khalifah selanjutnya. Pada periode al-Ma’mun ini sejarah mencatat Imam Syafi’i wafat (820 M) dan juga guru Imam Syafi’i, yaitu Sayyidah Nafisah (824 M), seorang perempuan suci di Mesir.

Kita akan lanjutkan mengaji sejarah politik Islam pada kolom Jum’at berikutnya, insya Allah

Sunday, November 12, 2017

Khalifah Harun Ar-Rasyid: Masa Keemasan Abbasiyah Oleh: Nadirsyah hosen

Sesaat setelah wafatnya Khalifah keempat Abbasiyah, Musa al-Hadi, maka adiknya yang bernama Harun, yang berusia 22 tahun, dibaiat sebagai khalifah. Inilah Khalifah Abbasiyah yang paling terkenal sepanjang masa. Pada periode kepemimpinannya, Dinasti Abbasiyah disebut-sebut meraih puncak kejayaannya. Simak yuk kisah Khalifah Harun ar-Rasyid di bawah ini.

Ada beberapa hal yang langsung dilakukan Harun, yang gelarnya “Ar-Rasyid” mengingatkan kita pada istilah Khulafa ar-Rasyidin, sesaat setelah menjadi Khalifah.

Pertama, dia meminta mentornya, Yahya bin Khalid, dibebaskan dari penjara. Yahya bin Khalid beberapa kali menghalangi khalifah sebelumnya, Musa al-Hadi, menggeser Harun dari jalur suksesi. Musa menginginkan anaknya sendiri, Ja’far, yang menggantikannya nanti. Yahya mengingtakan Khalifah Musa untuk memegang teguh wasiat ayah Musa dan Harun, yaitu Khalifah al-Mahdi. Musa murka dan memenjarakan Yahya.

Khalifah Harun bukan hanya membebaskan Yahya, tapi juga menjadikannya sebagai Perdana Menteri. Keluarga Yahya dari Barmakid, Persia, menjadi sangat berkuasa dalam pemerintahan Harun ar-Rasyid sampai kelak dicopot oleh Harun, seperti disinggung di bawah.

Kedua, Harun ar-Rasyid bergegas menduduki kursi singgasana Musa, dan sujud kepada Allah di atas karpet Armenia milik Musa. Ini bukan saja simbol pengambil-alihan kekuasaan, tapi juga simbol ketaatan kepada Sang Maha Kuasa.

Ketiga, Harun menitahkan untuk mencari Abu Ishmah dan dia tidak akan memasuki Bahgdad dan salat zuhur di masjid, kecuali di sampingnya ada kepala Abu Ishmah yang sudah dipenggal. Darah pun tumpah di awal kekhilafahannya. Ini adalah simbol kekuatan militer yang dimiliki sang khalifah baru.

Kenapa Abu Ishmah yang dijaidkan korban pertama?

Menurut Imam Thabari, dulu Harun, Abu Ishmah, dan Ja’far (putra Musa) pernah berkuda bersama. Saat hendak melewati sungai, kabarnya Abu Ishmah, sang jenderal, lebih mengutamakan Ja’far bin Musa melewati sungai dan memerintahkan Harun diam di tempat sampai “penerus takhta menyeberangi sungai”.

Harun kecewa karena saat itu dia masih sebagai waliyul ‘ahdi (penerus tahta), dan Abu Ishmah terang-terangan mendukung Khalifah Musa mengangkat Ja’far. Maka, Harun pun meminta kepala Abu Ishmah setelah dia menjadi Khalifah agar tidak ada yang berani menentang pengangkatannya.

Baca Juga :   Ide Khilafah, Ujian Kita Berdemokrasi

Bagaimana dengan Ja’far bin Musa? Di masa ayahnya, Musa, masih menjabat Khalifah, kepala kepolisian Abdullah bin Malik al-Khuza’i telanjur memberikan baiat-nya kepada Ja’far. Maka, di malam Harun menerima baiat, kamar Ja’far didatangi oleh Huzaymah bin Khazim at-Tamimi yang membawa lima ribu pasukan, berjaga-jaga kalau kepala kepolisian melindungi Ja’far.

Huzaymah mengancam kalau Ja’far tidak membaiat Harun, maka kepala Ja’far akan dipenggal saat itu juga. Ja’far tidak punya pilihan lain. Dia setuju membaiat pamannya, Harun. Begitulah urusan baiat-membaiat ini bisa membuat kepala terpisah dari tubuh.

Bagaimana dengan Kepala Kepolisian Abdullah bin Malik al-Khuza’i yang sudah telanjur mendukung Ja’far? Keluarlah fatwa bahwa dia bisa menghapus baiat yang sudah telanjur itu dengan cara berjalan kaki dari Baghdad ke Ka’bah memohon ampun. Abdullah bin Malik tidak punya pilihan, selain melaksanakan penebusan baiat yang telanjur keliru ini. Kepalanya selamat dari tajamnya pedang, meski kakinya dipastikan melepuh berjalan sejauh itu.

Perdana Mentari (wazir) Yahya Barmakid adalah seorang yang mencintai ilmu. Dia memberikan pengaruh positif kepada Khalifah Harun ar-Rasyid. Imam Suyuthi mengabarkan betapa Harun juga mencintai para ulama, gemar bersedekah, dan taat beribadah. Dikabarkan dia salat sunnah seratus rakaat setiap hari. Orangnya tinggi dan kulitnya putih. Rajin membaca shalawat setiap mendengar nama Rasulullah disebutkan.

Harun membangun perpustakaan yang kemudian dikenal dengan nama Baytul Hikmah, dan kelak dilanjutkan oleh anaknya, Al-Ma’mun. Baytul Hikmah menjadi cikal bakal kegemilangan dunia ilmu pengetahuan dalam sejarah Islam. Naskah dari Yunani, Cina, Sanskrit, Persia, dan Aramaik diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Pakar Islam, Yahudi, Nasrani bahkan Budha pun berdatangan dan mengkaji ilmu pengetahuan dan berdiskusi di Baytul Hikmah.

Baca Juga :   Khalifah Musa: Perselisihan Tragis Anak dan Ibu

Cukuplah kita katakan Baytul Hikmah inilah cikal bakal keemasan masa Dinasti Abbasiyah. Lewat Baytul Hikmah, terjadi institusionalisasi perintah pertama Allah: Iqra’! Kita akan jelaskan lebih lanjut saat membahas Khalifah al-Ma’mun.

Diceritakan sebelumnya, bagaimana Khayzuran, ibu khalifah, konflik dengan anaknya sendiri, yaitu Musa al-Hadi (baca: Khalifah Musa: Perselisihan Tragis Anak dan Ibu) Saat Harun menjadi Khalifah, sang ibu tetap mendominasi dan Harun membiarkannya. Jadi, dua tokoh yang sangat berkuasa di masa awal kekhilafahan Harun adalah ibunya sendiri, Khayzuran, dan Perdana Menteri Yahya Barmakid. Para pejabat juga banyak diangkat dari Persia, dan orang Arab banyak yang tersingkir. Khayzuran wafat pada tahun ketiga dari berkuasanya Harun (790 Masehi).

Yahya Barmakid dan anaknya, Ja’far, melayani Harun ar-Rasyid sekitar 17 tahun. Tapi kemudian Harun mulai tidak suka dengan semakin berkuasanya Yahya, sehingga dia mencopotnya dari jabatan Perdana Menteri. Bahkan Harun memerintahkan untuk membunuh Ja’far, anak Yahya, karena dugaan affair dengan saudari perempuan Harun, yaitu Abbasah. Sejak itu pamor keluarga Barmakid mulai meredup.

Pada masa Harun ini pulalah seni berkembang baik, termasuk pembacaan puisi dan nyanyian. Bahkan kisah “Seribu Satu Malam” diceritakan dalam setting masa Harun ar-Rasyid. Ini pula yang menyebabkan nama Khalifah Harun sangat terkenal dalam dunia sastra—bahkan di Barat sekalipun.

Harun ar-Rasyid juga bersahabat akrab dengan Abu Yusuf, ulama besar murid Imam Abu Hanifah. Kalau sebelumnya Abu Hanifah menolak diangkat sebagai Hakim oleh Khalifah al-Manshur, maka Harun berhasil membujuk Abu Yusuf menjadi Ketua Mahkamah Agung. Mazhab Hanafi berkembang luas lewat posisi resmi Abu Yusuf di pemerintahan ini.

Imam Suyuthi, yang berasal dari tradisi mazhab Syafi’i, banyak mengisahkan bagaimana Abu Yusuf seringkali mengeluarkan keputusan yang mendukung kebijakan Khalifah Harun ar-Rasyid yang keliru. Misalnya, dikisahkan bahwa Harun jauh cinta pada seorang budak perempuan. Namun budak tersebut mengatakan bahwa Harun tidak bisa menikmatinya karena budak tersebut pernah digauli oleh Khalifah al-Mahdi, ayah Harun. Jadi “bekas” milik ayah tidak boleh dimiliki anak.

Baca Juga :   Tentang Asyura dan Kita

Harun meminta fatwa kepada Abu Yusuf yang kemudian menjawab, “klaim budak tersebut bahwa dia pernah digauli ayahmu tidak dapat dipercaya.” Dalam fiqh memang masalah kesaksian satu orang budak perempuan apakah bisa diterima atau tidak telah menjadi perdebatan. Jadi, Abu Yusuf sebenarnya sah saja berfatwa demikian, tapi kedekatannya dengan Khalifah Harun membuat para ulama mazhab yang lain mempertanyakan validitas fatwanya.

Kitab Tarikh Thabari mencatat bahwa peperangan juga terjadi pada masa Harun. Salah satu yang terbesar adalah pertempuran Krasos, yaitu dengan pasukan Byzantium pada tahun 804 Masehi. Imam Thabari mengabarkan bahwa Byzantium kalah dari Harun ar-Rasyid dengan kehilangan lebih dari 40 ribu pasukan.

Harun berkuasa sekitar 23 tahun. Menjadi Khalifah saat berusia cukup muda, yaitu 22 tahun, dan wafat dalam usia yang juga masih muda, yaitu 45 tahun. Saat dia wafat negara dalam keadaan makmur dengan memiliki kekayaan 900 juta dirham. Sebelum wafat, Harun mengajak kedua anaknya, al-Amin dan al-Ma’mun, pergi haji. Dan kemudian menuliskan wasiatnya yang disimpan di dinding Ka’bah bahwa al-Amin akan menggantikan Harun, dan setelah al-Amin wafat, maka al-Ma’mun yang berkuasa.

Khalifah Harun ar-Rasyid juga berpesan agar kedua saudara yang berbeda ibu ini tetap menjaga kekompakan dan hubungan baik sepeninggalnya. Namun, sejarah berkata lain, meskipun wasiat dan kesepakatan itu diletakkan di Ka’bah sekalipun. Nafsu duniawi kekuasaan mengalahkan segalanya. Kita simak kisah berikutnya Jum’at depan insya Allah