Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

Monday, August 19, 2024

Majelis Bukhoren

Majelis Bukhoren

Amaliyah atau laku ini adalah ngaji Kitab Shohih Bukhori. Diadakan oleh Kraton Yogyakarta Hadiningrat. Telah digelar sejak masa Sri Sultan Hamengkubuwono I (1755).

Setiap pehadir akan dibagikan kurasan atau jilidan berisi 4 lembar atau 8 halaman. Kurasan itu diambilkan dari petikan lembaran Shohih Bukhori yang akan dingajikan. Setiap orang mendapatkan kurasan yang berbeda-beda.

Setelah bertawassul mengirim doa untuk para leluhur Mataram Islam, barulah setiap orang dipersilahkan nderes kurasan yang dijatahkan untuknya.

Pada bagian nderes hadis inilah yang paling unik di majelis ini. Jadi setiap orang merapalkan hadis. Seperti merapalkan ayat quran dalam majelis  muqoddaman yang dikerjakan dengan menderes setiap juz dari quran yang dijatahkan.

Selepas itu Pengulu Kraton mempersilakan hadirin untuk mengulas beberapa hadis yang paling menarik atau paling berkaitan dengan keadaan kekinian. Bisa juga tidak berkaitan. Jika tidak, setiap orang diperkenankan untuk bertanya atau mempertanyakan maksud dari hadis tertentu. Hingga mendapatkan jawaban dari seseorang sepuh yang dianggap paling alim dan otoritatif menjawab.

Salamun ngalaikum thibtum ya Ahla Mataram..

Sunday, September 12, 2021

Siroh Singkat Wali Sanga.~~ "Al Habib Luthfi bin Yahya "

~~Siroh Singkat Wali Sanga.~~
          "Al Habib Luthfi bin Yahya "

Sebenarnya Wali Sanga di Indonesia itu tidak hanya yang biasa dikatakan oleh ahli sejarah, Saya akan bercerita tentang Wali Sanga yang ini menyimpang dari para ahli sejarah. Ahli sejarah itu membuatnya berdasarkan kepentingan politik. Wali sanga itu ada lima generasi.

Generasi pertama dipimpin oleh Syaikh Jamaludin Husein atau Syeikh Jumadil Kubro yang membawahi delapan wali lainnya. Sebagian terpencar di Sumatera.

Generasi kedua dipimpin oleh Syaikh Maulana Al-Malik Ibrahim yang membawahi delapan wali lainnya diantaranya Sayyidina Imam Quthub Syarif bin Abdullah Wonobodro, Syaikh Muhammad Sunan Geseng, Sayyid Ibrahim, Sunan Gribig, Amir Rahmatillah Sunan Tembayen, Imam Ali Ahmad Hisamuddin (Cinangka, Banten lama), al-Imam Ahmad Zainul Alam.

Generasi ketiga dipimpin oleh Imam Maulana Ibrahim Asmoroqondi/ Pandito Ratu (Tuban, Gresik) yang membawahi delapan sunan, diantaranya: Sunan Ali Al-Murtadlo (Genjang), Wali Lanang (Maulana Ishaq), Imam Ahmad Rahmatillah, Sayyid Jalal Tuban, Syaikh Datuk Kahfi/ Dzatul Kahfi/ Sayyid Mahdi Cirebon, Syaikh Muhammad Yusuf Parang Tritis Jogja, Syaikh Maulana Babullah (Belabenung).

Generasi keempat dipimpin oleh Imam Ahmad Rahmatillah (Sunan Ampel) yang membawahi delapan sunan diantaranya: Sultan Abdul Fatah, Sunan Drajat, Syaikh Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syaikh Maulana Utsman Haji, Syaikh Muhammad bin Abdurrahman (Sunan Mejagung), Syaikh Maulana Ja’far Shadiq (Sunan Kudus), Sayyid Abdul Jalil (Sunan Bagus Jeporo, Bukan Syaikh Siti Jenar).

Generasi kelima dipimpin oleh Sunan Bonang yang membawahi delapan wali, diantaranya Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijogo, Sultan Trenggono, Sunan Zainal Abidin/ Qadli Demak, Sunan Muria.

Pada masa Syaikh Jamaluddin Husein perjuangan dititikberatkan pada keorganisasian, dedikasi, ekonomi. Kemudian dilanjutkan dalam dunia pendidikan dan pengkaderan pada masa Sayyid Malik Ibrahim, sehingga dapat memasuki wilayah kerajaan tanpa campur tangan politik dan (imbalan) ekonomi. Selanjutnya pada masa Syaikh Asmoroqondi, mulai dilakukan pengaturan struktur organisasi sebagai media dakwah serta memperkuat perekonomian dan spiritual. Selanjutnya pada masa Sunan Ampel dilanjutkan dengan pemetaan geografi dan antropologi, pembangunan ekonomi dan pertanian, pengelolaan tanah hadiah dari Hayam Wuruk dan Gajah Mada, sehingga bisa menghidupi dakwah dan pendidikan. Selain itu, kerapian organisasi lebih disempurnakan sehingga melahirkan ketatanegaraan/negarawan, ekonom, pertanian, yang diantaranya dipegang oleh putra beliau, Maulana Hasyim, seorang ulama, fuqoha, tasawwuf, ekonom, mampu memberdayakan ekonomi umat, sehingga fuqara, masaakin, aytam, dan para siswa terjamin hidupnya.

Sunan Bonang; merupakan seorang yang ‘allaamah, membidangi segala ilmu, guru besar dari para sultan/ratu, senopati, adipati, tumenggung, dan guru para wali dan ulama. Kedudukan beliau shulthaan al-auliyaa’ fii zamaanihi.

Imam Ja’far Shadiq; merupakan seorang muhaddits dan faqiih, mahir ilmu kelautan, ekonomi, dan pola pendidikan sehingga mampu mensejahterakan kerajaan dan lingkungan, serta seorang budayawan.

Sunan Kalijogo; merupakan seorang ‘alim yang sangat memahami budaya, sekalipun aliran-aliran dan agama lain, sehingga mampu mengendalikan segala aliran, dari situ beliau mendapat gelar Kalijogo (kalinya aliran-aliran). Disamping itu, beliau merupakan budayawan, seniman, pengarang gending dan lagu yang berbentuk puisi ataupun syair. Beliau juga seorang dalang yang mampu memadukan dari mahabharata menjadi carangan, dari carangan menjadi karangan dan karangan itu menjadi pakem para dalang. Media tersebut juga menjadi media dakwah.

Sunan Giri (Muhammad ‘Ainul Yaqin); merupakan seorang yang mahir hukum, mufti di zamannya dan fatwanya sangat ditaati, pengaruh beliau sampai pada anak cucunya, diantara keabsahan para sultan di jawa, beliaulah yang melantiknya.

Sultan Abdul Fatah; merupakan seorang ‘alim bijaksana, luas wawasannya dalam kebangsaan, seorang negarawan, seorang politisi yang sangat rapi dalam mengatur struktur pemerintahan di zamannya, pengaruh beliau sampai malaka bahkan Turki di zaman itu.

Syaikh Ali Zainal Abidin / Qadli Demak; merupakan orang yang ‘allamah, kebijakan-kebijakan beliau dalam syariat sangat dihargai pada waktu itu, beliau sangat sukses dalam menjaga pemerintahan, keamanan, dan pertahanan nasional.

Sunan Gunung Jati; merupakan orang yang sangat ‘allamah, negarawan, budayawan, ahli strategi, pengaruhnya sangat luar biasa di kalangan muslim maupun non-muslim, disegani dan dicintai umat, serta menjadi pelindung umat dan bangsa.

Sunan Muria; merupakan shulthaan al-Auliyaa’ fii zamanihi, pembesar ahli thariqah, budayawan, seniman, ekonom. Pengaruh beliau sangat luar biasa dari semua kalangan menengah, atas, dan bawah. Pertumbuhan thariqoh di zamannya mekar. Beliau pendamai dan sangat disegani dan dicintai umat.

Sunan Bagus Jeporo (Syaikh Abdul Jalil); merupakan seorang sufi yang faqih, pengendali dari bentuk gejolak yang akan membawa perpecahan, sehingga tumbuh kedamaian dan ketentraman. Syaikh Abdul Jalil ini bukan Syaikh Abdul Jalil yang Syaikh Siti Jenar.

Demikianlah Siroh singkat Wali Songo yang disampaikan Habib Muhammad Luthfi Yahya di ndalem beliau pada hari jumat tanggal 13 April 2012,

Semoga kita bisa mengambil pelajaran, hikmah, dan menjadikan kisah di atas sebagai teladan untuk gerak dan perjuangan kita. Amien. Al-Fatihah.

#SLKTinfo

Wednesday, September 30, 2020

Menyegarkan Kembali Ingatan Gestapu, Sebuah Kegagalan Operasi Militer PKI

Adalah salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Republik Indonesia pasca kemerdekaan; Gerakan September Tiga Puluh atau biasa disebut Gestapu dan G30S/PKI. Peristiwa yang kita peringati dengan pengibaran bendera setengah tiang ini begitu dahsyat, hingga mengubah haluan bernegara kita, melahirkan Pahlawan Revolusi, dan menjadi saksi kesaktian Pancasila. G30S/PKI (baca; pengkhianatan PKI ini) telah menjadi trauma bangsa yang akan terus diingat dalam memori kolektif berlintas-lintas generasi selama Republik ini masih berdiri.
Oleh karena amat penting, Gestapu akan selalu menarik untuk dibahas walau berulang-ulang sekalipun, di samping memang tragedi ini meninggalkan banyak pertanyaan yang menggugah rasa ingin tahu, dan bahkan sebagian diantaranya masih terselimuti kabut misteri hingga kini. Mengapa tujuh Jenderal itu dibunuh? Bagaimana kronologinya? Siapa dalang dibaliknya? benarkah hanya PKI?. Layaknya sebuah kisah detektif misteri, saat membacanya kita akan dibuat tegang dan penasaran sampai ke alam mimpi.
Sumbangsih terbesar dalam menguak tabir misteri tersebut berasal dari Magnum Opusnya Prof. Salim Haji Said, sebuah buku berjudul Dari Gestapu ke Reformasi. Tulisan ini sekedar ikhtiar membuat ikhtisar dari buku tersebut, namun karena tidak memungkinkan untuk merekonstruksi secara utuh dalam berlembar halaman saja, penulis hanya akan mengambil sudut pembahasan dari latar belakang dan hubungan-hubungan para tokoh atau pihak sentral peristiwa tersebut dengan Bung Karno sebagai pusaran intrik, dan mencoba menjawab pertanyaan mengapa peristiwa Gestapu ini dapat terjadi dan siapa sutradara dibaliknya.
Gestapu adalah sebuah penghujung dari rangkaian konflik politik dan gesekan antara Angkatan Darat melawan PKI di kanan-kiri Bung Karno, konflik ini adalah awal mula sejarah ini mesti diceritakan, karenanya penulis akan mulai dari situ sambil berharap pembaca untuk sedikit bersabar.

Angkatan Darat yang Anti Komunis PKI

Perlu dipahami sebelumnya, tidak seperti sekarang, ketika supremasi sipil dapat ditegakkan, pada November 1958, setahun sebelum Dekret Presiden yang menandai perubahan Ideologi Politik Negara dari Demokrasi Liberal menjadi Demokrasi Terpimpin, Angkatan Bersenjata (ABRI) telah dimasukkan ke dalam Golongan Karya yang artinya mereka punya hak di kabinet dan parlemen, atau kita kenal kemudian sebagai dwifungsi ABRI (fungsi pertahanan Negara dan fungsi politik/partai). Dwifungsi ABRI ini kemudian ditinggalkan sejak Reformasi sampai sekarang ini.
Dengan kewenangan berpolitiknya ini, Angkatan Darat yang merupakan bagian utama ABRI memosisikan diri sebagai  partai tandingan dan satu-satunya bagi PKI, dikarenakan Partai besar lainnya, Masyumi dan PSI, dibubarkan oleh Bung Karno pada 1960 dengan tuduhan keterlibatan atas pemberontakan PRRI/Permesta, dan sedangkan Angkatan Udara dan Angkatan Laut hanya sendiko dawuh saja pada Presiden Sukarno yang menganakemaskan PKI.
Selanjutnya, berdasarkan cara Angkatan Darat berkonfrontasi dengan PKI, dalam tubuh organisasi militer tersebut terdapat tiga kubu yang berbeda, Yaitu kubu KSAB (Kepala Staf Angkatan Bersenjata) Jenderal TNI Abdul Haris Nasution, KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat) Jenderal TNI A. Yani, dan Pangkostrad Mayor Jenderal TNI Soeharto.
Sebagai Perwira yang amat senior dan pernah menjadi Wakil Panglima Besar Soedirman, Jenderal AH. Nasution sangat lantang menyerang PKI sekaligus mengkritik Sukarno yang semakin mesra dengan PKI, hal ini merupakan alasan mengapa Bung Karno Pada tahun 1962 “menyingkirkannya” dengan mengangkatnya dari KSAD menjadi KSAB agar tidak memiliki garis komando ke tubuh Angkatan Darat, menggantinya dengan Jenderal Yani yang Sukarno kira “mudah dikendalikan” namun ternyata juga tidak.
Jenderal Yani merupakan perwira yang anti komunis namun setia kepada Bung Karno, kesetiaan ini bahkan pernah akan ditunjukkan olehnya dengan mendaulat (menculik dan mencopot jabatan) Jenderal Nasution, namun atas bujukan perwira-perwira senior lainnya, rencana itu urung dilaksanakan. Ketidaksukaannya terhadap komunis pernah ia ungkapkan dalam pidato berbahasa Belanda dihadapan para perwiranya yang artinya “Bung Besar boleh memiliki banyak kekasih lain siapapun itu, namun kalau Bung Besar bermain mata dengan Komunis, maka dia harus berhadapan dengan Angkatan Darat”.
Adapun Mayjen Soeharto adalah Panglima Kostrad (Komando Setrategis Angkatan Darat), waktu itu tidak banyak yang mengenalnya. Sebelum Gestapu, sikap kelompok Soeharto terhadap PKI sulit untuk dicium, kendati demikian, tidak diragukan tentang sikap anti komunisnya sebab Pangdam Diponegoro Brigjen Soeharto (pangkatnya waktu itu) pernah dimarahi oleh Sukarno karena berani mengingatkan Sang Presiden mengenai bahaya komunis. Ini terjadi setelah kemenangan PKI pada pemilu daerah Jateng dan Jatim pada 1957. Dia juga yang meredam pemberontakan PKI pimpinan Muso di Madiun tahun 1948 atas perintah Panglima Besar Jenderal Soedirman. Soeharto sebetulnya lebih senior dari A. Yani ketika keduanya masih di Kodim Diponegoro, namun ia tidak disenangi oleh Sukarno sehingga karirnya terhambat.

Kedekatan Bung Karno dengan PKI dan Kerancuan Doktrin Nasakom

Kedekatan Sukarno pada PKI nampak dari banyaknya anggota partai palu arit itu yang masuk ke dalam jajaran pemerintahan, kebijakannya juga semakin meminggirkan organisasi atau komunitas yang secara terang mengaku anti komunis, Misalnya membredel banyak media cetak anti komunis - di tengah maraknya surat kabar milik PKI seperti Harian Rakyat - dan melarang Manifes Kebudayaan yaitu perkumpulan seniman-seniman senior untuk menandatangi pernyataan anti komunis, Pelarangan ini menyebabkan seniman-seniman tersebut mengalami persekusi dan diskriminasi di berbagai tempat.
Dalam setiap pidato, khususnya pasca Dekret Presiden 59, Bung Karno selalu mengidentifikasikan dirinya sebagai Pemimpin Besar Revolusi dan penyambung lidah rakyat, dan senantiasa mengampanyekan semangat kerukunan baru yaitu Nasakom, Nasionalis Agamis dan Komunis. Nasakom ini juga merupakan jargon kampanye Presiden di kancah politik internasional, menjadi bagian implementasi gerakan Non-Blok atau politik bebas aktif. Sukarno berharap diterima oleh negara-negara dunia ketiga (yang sebagian besar bermazhab Komunis) dan kemudian muncul sebagai pemimpin kekuatan tandingan baru bagi dua Negara Adi Daya di masa Perang Dingin, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Di kemudian hari setelah peristiwa Gestapu, ambisi Sukarno inilah yang menjadi sebab keengganannya membubarkan PKI.
Namun persatuan berdasarkan Nasakom ini menuai polemik, sebuah keliru besar meyakini gagasan ini dapat merukunkan bangsa, sudah maklum diketahui bahwa Komunisme tidak mengakui adanya Tuhan (Atheis) dan menganggap Agama adalah candu, lantas bagaimana mungkin Agamis dan Komunis dapat dirukunkan kalau seseorang menjadi Agamis sama dengan menjadi anti komunis sebab komunis tidak mengakui adanya Tuhan, Sedangkan menjadi Komunis sama artinya menjadi anti Agama karena Agama adalah candu menurut mereka?.
Ironisnya kemudian, Orang-orang Komunis PKI yang terang-terangan menyerang kelompok Agamis di biarkan begitu saja oleh Sukarno, sedang orang-orang Nasionalis apalagi Agamis yang vokal menentang pemikiran Komunis justru dianggap anti Nasakom, dan tidak paham semangat Revolusi oleh Sukarno, Sang Pemimpin Besar Revolusi.
Apa yang terjadi di atas tak lepas karena bagi Sukarno sendiri, PKI bukan hanya salah satu pilar Nasakom, melainkan juga sebuah kekuatan politik yang dimanfaatkannya mengimbangi Angkatan Darat, Sukarno yang tidak lagi memiliki partai sadar betul akan mudah menjadi “sandera” para Jenderal jika tidak memiliki kekuatan pengimbang yang berdiri dibelakangnya.

Ketidakpercayaan Presiden Sukarno terhadap Angkatan Darat

Oleh karena kecenderungan Presiden kepada PKI, dan semangat Nasakom-nya yang rancu, Angkatan Darat yang Anti komunis dianggap Presiden Sukarno sebagai anak revolusi yang membangkang terhadap Pemimpin Besar Revolusi, bukan hanya terhadap Kubu KSAB Jenderal Nasution, namun juga kapada KSAD Jenderal A. Yani.
Selain itu, sikap Jenderal Yani yang terkesan “setengah-setengah” dengan tidak mengirimkan kekuatan penuh militernya ke perbatasan serawak, ketika Sukarno menggaungkan Ganyang Malaysia sebagai program anti-Nekolimnya (Neo Kolonialisme Imperialisme), membuat Sukarno semakin tidak mempercayainya, padahal dalam sebuah kesempatan dihadapan para perwira senior, Jenderal Yani mengaku cemas andai kekuatan penuh TNI AD dikirim ke serawak, tidak ada cukup pasukan di Pulau Jawa untuk menghadapi PKI jika terjadi perebutan kekuasaan, “Saya tidak ingin RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, sekarang disebut Kopassus) terlibat dalam konfrontasi - dengan Malaysia -” kata Yani. “Saya tidak punya pasukan lain”, tambahnya.
Hal ini semakin diperparah oleh beredarnya Dokumen Gilchrist, sebuah Dokumen rahasia yang dicetak dalam lembaran kertas bertanda kedutaan Besar Inggris di Jakarta, yang isinya menyebutkan adanya Dewan Jenderal di Republik Indonesia yang berencana melakukan kudeta. Oleh PKI Dokumen ini dijadikan isu utama untuk menyerang para Jenderal dan menuduh mereka bekerjasama dengan CIA, sembari terus membisiki Sukarno untuk melakukan tindakan tegas pada para Jenderal tersebut. Di kemudian hari terungkap bahwa Dokumen tersebut palsu, dibuat oleh Ladislav Bittman, seorang intel Cekoslowakia yang bekerja untuk dinas rahasia Uni Soviet, KGB.

Gestapu, Skenario Awal dan Kegagalannya

Presiden yang makin kewalahan menghadapi Angkatan Darat - dicurigai akan melakukan tindakan subversif, terus menolak Nasakom dan tidak secara serius melakukan konfrontasi dengan Malaysia malahan sibuk mengatur barisan kaum anti komunis - mendorong sang Presiden tiba pada kesimpulan untuk tidak punya pilihan lain, kecuali mencopot Jenderal Yani. Namun karena Presiden tidak cukup percaya diri dapat melakukan pencopotan dengan cara biasa - karena sistem pergantian komandan belum tercipta dan mengingat solidnya loyalitas tentara dengan komandannya, Jenderal Yani – opsi pencopotan dengan cara daulat dalam bentuk penculikan menjadi keputusan Presiden.
Sebuah tradisi pada zaman revolusi, adalah daulat, mendaulat dan pendaulatan yang sering muncul dalam bentuk penculikan seorang tokoh politik untuk tujuan tertentu. Yang paling mencolok tentu penculikan Sukarno Hatta oleh pemuda secara “sedikit memaksa” menuju Rengas Dengklok agar didaulat mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan. Dari sini dapat dipahami, rencana penculikan Para Jenderal yang menjadi skenario Presiden adalah mencopot jabatannya dan menggantinya dengan perwira yang loyal terhadap visi Nasakom dan Anti Nekolim-nya, bukan untuk sebuah pembantaian.
Tugas ini dibebankan pada Komandan Cakrabirawa (saat ini dinamai Paspampres), pengawal presiden sendiri yaitu Letkol Untung, dan dibantu oleh Kononel Latif, dan Brigjen TNI Supardji. Namun kemudian rencana gubahan Presiden tersebut menjadi seperti ember Muhafadzoh kalian (bocor maksude, rek), terdengar oleh Kepala Biro Khusus PKI, Syam Kamaruzaman. Ini dapat mudah dimaklumi sebab Letkol Untung merupakan perwira beraliran kiri yang sudah lama menjadi tentara binaan Syam, yang PKI biasa sebut sebagai “perwira berpikiran maju”.
Ketua Umum PKI, DN. Aidit yang sudah lama berambisi menyingkirkan saingan politiknya, ketika mendengar info rencana Presiden tersebut dari Syam, segera menyusun rencana untuk menumpang ke dalam operasi tersebut, dengan menargetkan bukan hanya KSAD Jenderal A. Yani, namun ketujuh Jenderal yang memobilisasi kekuatan anti komunis. Sebab itu, dapat mudah kita ketahui kenapa Mayjen Soeharto tidak dijadikan target operasi oleh PKI, mengingat sikapnya yang seolah tidak nampak menjadi ancaman bagi PKI.
Tentunya rencana Aidit itu bukan pula berupa pembantaian, sebab membunuh para Jenderal hanya akan menjadi alasan bagi tentara dan kekuatan anti komunis lainnya untuk beramai-ramai mengeroyok dan menghancurkan PKI, seperti terbukti kemudian. Oleh karenanya, ketika skenario awal Gestapu baik dari Sukarno maupun Aidit adalah penculikan saja, maka Gestapu yang menjadi ajang pembantaian para Jenderal tersebut “hanya” dapat dipahami sebagai sebuah operasi militer yang gagal (atau disengaja untuk digagalkan) dan berakhir pada pembunuhan.
Penyebab kegagalan ini tidak lain karena Aidit menugaskan Syam, seorang sipil yang tidak memilik pengalaman militer - meski mengaku pernah mengenyam pelatihan militer di Tiongkok namun kemudian tidak ditemukan buktinya - untuk menjadi kepala operasi strategis militer yang tentunya membutuhkan kecakapan di bidangnya. Bukti kacaunya operasi Gestapu diantaranya adalah para perwira yang terjun untuk menculik Jenderal Nasution, tidak mampu mengenali wajahnya sehingga kemudian Kapten Pierre Tendean yang merupakan ajudan Jenderal Nasution harus meregang nyawa karena salah sasaran.

Analisa Mengenai Keterlibatan Presiden

Siapakah sutradara Gestapu sebenarnya? Diantara pilihan jawabannya (yakni PKI Aidit, Sukarno, Suharto, atau CIA/agen asing?) tentu sampai di sini pembaca dapat menjawab; Sukarno, yang didompleng PKI. Ini mungkin berbeda dengan pengetahuan umum di masyarakat, namun apa yang tertulis adalah berdasarkan penelusuran berpuluh-puluh tahun dari seorang wartawan lapangan yang meliput secara langsung dan seorang pakar politik militer, Prof. Salim Said. Mengenai keterlibatan Sukarno ini, tentunya beliau memiliki landasan fakta dan analisa yang kuat.
Beberapa jam sebelum operasi Gestapu dilaksanakan, Presiden menerima kunjungan dari India, seorang pilot yang juga pernah menjadi utusan pribadi Perdana Menteri Jawahral Nehru, Shri Biju Patnaik. Maksud kunjungan itu adalah lobi politik India berkaitan dengan konflik India-Pakistan, menjelang akhir pertemuan, setelah Sukarno berjanji untuk tidak membantu Pakistan menyerang India, Patnaik diminta Sukarno agar meninggalkan Jakarta sebelum subuh, “sesudah itu saya akan menutup lapangan terbang”, kata sukarno. Pertanyaannya, mengapa dan buat apa lapangan Kemayoran akan ditutup oleh Sukarno setelah subuh esok harinya?
Terdapat pula satu sumber yang mengungkapkan kecurigaan terhadap Presiden di masa-masa awal pasca Gestapu, yaitu desakan dari Letkol Untung saat ditangkap untuk diperhadapkan langsung kepada Sukarno, ia percaya dan berharap Presiden akan mengerti dan memaafkan dirinya.
Lalu apakah sebenarnya Sukarno itu seorang Komunis?, sama sekali bukan. Dr. Ruslan Abdulgani, mantan Jubir Manipol Usdek dan orang dekat Bung Karno sejak zaman Revolusi menjelaskan;
“Bung Karno adalah seorang Nasionalis sejati, namun ia terlalu over confidence (percaya diri) mampu mengontrol PKI, lagi pula pengetahuan Bung Karno tentang Komunisme dasarnya adalah Komunisme masa mudanya, yakni yang mendorongnya merumuskan ideologi Nasakom, Komunisme waktu itu adalah alat melawan kolonialisme, bukan Komunisme pada zaman Perang Dingin seperti sekarang. Pada zaman perjuangan Nasional dulu, semua kekuatan dan golongan bisa diajak bersatu melawan kolonialisme, Sekarang ceritanya beda lagi, tapi Bung Karno masih tetap gandrung pada persatuan berdasarkan Nasakom”
Presiden pertama Indonesia ini memang semakin tua dan sakit-sakitan, telah kehilangan intuisi politiknya, tidak mampu membedakan mana yang menjadi ancaman bangsa dan mana yang bukan, yang mana kawan dan mana lawan, dan mudah diperdaya dan diperalat PKI yang menggerogoti bangsa dari dalam.

Akhiran

Sempitnya ruang menyebabkan tulisan ini sedikit banyak tampak menyudutkan Sukarno, dan seolah menutup mata akan keterlibatan Soeharto atau pihak asing, padahal tidaklah demikian dalam buku aslinya, oleh sebab itu, dapat menimbulkan persepsi dan kesimpulan yang berbeda antara pembaca budiman yang belum dan yang sudah mengkhatamkan buku aslinya. Banyak pula fakta-fakta menarik yang tidak sempat penulis cantumkan, termasuk yang menjadi landasan kecurigaan akan keterlibatan Soeharto, atau pihak asing, meskipun sayangnya belum memiliki cukup bukti, juga misteri dan keganjilan demi keganjilan lain yang belum dapat ditemukan jawabannya oleh Prof. Salim Said.
Pada akhirnya, merekomendasikan buku aslinya adalah sebuah keharusan.
wallahu a’lam bis showab… .

Sunday, September 27, 2020

Menjelang tgl 30 September G30S PKI

Menjelang tgl 30 September

G30S PKI

*INILAH SEJARAH YANG TIDAK BOLEH DILUPAKAN OLEH KITA SEMUA*

*Tgl 31 Oktober 1948 :*
Muso dieksekusi di Desa Niten Kecamatan Sumorejo Kabupaten Ponorogo. Sedang MH. Lukman dan Nyoto pergi ke Pengasingan di Republik Rakyat China (RRC).

*Akhir November 1948 :*
Seluruh Pimpinan PKI Muso berhasil dibunuh atau ditangkap, dan Seluruh Daerah yang semula dikuasai PKI berhasil direbut, antara lain :
1. Ponorogo,
2. Magetan,
3. Pacitan,
4. Purwodadi,
5. Cepu,
6. Blora,
7. Pati,
8. Kudus, dan lainnya.

*Tgl 19 Desember 1948*
Agresi Militer Belanda kedua ke Yogyakarta.

*Tahun 1949 :*
PKI tetap Tidak Dilarang, sehingga tahun 1949 dilakukan Rekontruksi PKI dan tetap tumbuh berkembang hingga tahun 1965.

*Awal Januari 1950 :*
Pemerintah RI dengan disaksikan puluhan ribu masyarakat yang datang dari berbagai daerah seperti Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo dan Trenggalek, melakukan Pembongkaran 7 (Tujuh) Sumur Neraka PKI dan mengidentifikasi Para Korban. Di Sumur Neraka Soco I ditemukan 108 Kerangka Mayat yg 68 dikenali dan 40 tidak dikenali, sedang di Sumur Neraka Soco II ditemukan 21 Kerangka Mayat yang semuanya berhasil diidentifikasi. Para Korban berasal dari berbagai Kalangan Ulama dan Umara serta Tokoh Masyarakat.

*Tahun 1950 :*
PKI memulai kembali kegiatan penerbitan Harian Rakyat dan Bintang Merah.

*Tgl 6 Agustus 1951 :*
Gerombolan Eteh dari PKI menyerbu Asrama Brimob di Tanjung Priok dan merampas semua Senjata Api yang ada.

*Tahun 1951 :*
Dipa Nusantara Aidit memimpin PKI sebagai Partai Nasionalis yang sepenuhnya mendukung Presiden Soekarno sehingga disukai Soekarno, lalu Lukman dan Nyoto pun kembali dari pengasingan untuk membantu DN Aidit membangun kembali PKI.

*Tahun 1955 :*
PKI ikut Pemilu Pertama di Indonesia dan berhasil masuk empat Besar setelah MASYUMI, PNI dan NU.

*Tgl 8-11 September 1957 :*
Kongres Alim Ulama Seluruh Indonesia di Palembang–Sumatera Selatan Mengharamkan Ideologi Komunis dan mendesak Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Pelarangan PKI dan semua Mantel organisasinya, tapi ditolak oleh Soekarno.

*Tahun 1958 :*
Kedekatan Soekarno dengan PKI mendorong Kelompok Anti PKI di Sumatera dan Sulawesi melakukan koreksi hingga melakukan Pemberontakan terhadap Soekarno. Saat itu MASYUMI dituduh terlibat, karena Masyumi merupakan MUSUH BESAR PKI.

*Tgl 15 Februari 1958 :*
Para pemberontak di Sumatera dan Sulawesi Mendeklarasikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), namun Pemberontakan ini berhasil dikalahkan dan dipadamkan.

*Tanggal 11 Juli 1958 :*
DN Aidit dan Rewang mewakili PKI ikut Kongres Partai Persatuan Sosialis Jerman di Berlin.

*Bulan Agustus 1959 :*
TNI berusaha menggagalkan Kongres PKI, namun Kongres tersebut tetap berjalan karena ditangani sendiri oleh Presiden Soekarno.

*Tahun 1960 :*
Soekarno meluncurkan Slogan NASAKOM (Nasional, Agama dan Komunis) yang didukung penuh oleh PNI, NU dan PKI. Dengan demikian PKI kembali terlembagakan sebagai bagian dari Pemerintahan RI.

*Tgl 17 Agustus 1960 :*
Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.200 Th.1960 tertanggal 17 Agustus 1960 tentang "PEMBUBARAN MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia)" dengan dalih tuduhan keterlibatan Masyumi dalam Pemberotakan PRRI, padahal hanya karena ANTI NASAKOM.

*Medio Tahun 1960 :* Departemen Luar Negeri AS melaporkan bahwa PKI semakin kuat dengan keanggotaan mencapai 2 Juta orang.

*Bulan Maret 1962 :*
PKI resmi masuk dalam Pemerintahan Soekarno, DN Aidit dan Nyoto diangkat oleh Soekarno sebagai Menteri Penasehat.

*Bulan April 1962 :*
Kongres PKI.

*Tahun 1963 :*
PKI Memprovokasi Presiden Soekarno untuk Konfrontasi dengan Malaysia, dan mengusulkan dibentuknya Angkatan Kelima yang terdiri dari BURUH dan TANI untuk dipersenjatai dengan dalih ”Mempersenjatai Rakyat untuk Bela Negara” melawan Malaysia.

*Tgl 10 Juli 1963 :*
Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.139 th.1963 tertanggal 10 Juli 1963 tentang PEMBUBARAN GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), lagi-lagi hanya karena ANTI NASAKOM.

*Tahun 1963 :*
Atas desakan dan tekanan PKI terjadi penangkapan Tokoh-Tokoh Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain :
1. KH. Buya Hamka,
2. KH. Yunan Helmi Nasution,
3. KH. Isa Anshari,
4. KH. Mukhtar Ghazali,
5. KH. EZ. Muttaqien,
6. KH. Soleh Iskandar,
7. KH. Ghazali Sahlan dan
8. KH. Dalari Umar.

*Bulan Desember 1964 :*
Chaerul Saleh Pimpinan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak) yang didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa PKI sedang menyiapkan KUDETA.

*Tgl 6 Januari 1965 :*
Atas Desakan dan Tekanan PKI terbit Surat Keputusan Presiden RI No.1/KOTI/1965 tertanggal 6 Januari 1965 tentang PEMBEKUAN PARTAI MURBA, dengan dalih telah Memfitnah PKI.

*Tgl 13 Januari 1965 :*
Dua Sayap PKI yaitu PR (Pemuda Rakyat) dan BTI (Barisan Tani Indonesia) Menyerang dan Menyiksa Peserta Training PII (Pelajar Islam Indonesia) di Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, sekaligus melecehkan Pelajar Wanitanya, dan juga merampas sejumlah Mushaf Al-Qur’an dan merobek serta menginjak-injaknya.

*Awal Tahun 1965 :*
PKI dengan 3 Juta Anggota menjadi Partai Komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. PKI memiliki banyak Ormas, antara lain : SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) BTI (Barisan Tani Indonesia), LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat) dan HSI (Himpunan Sardjana Indonesia).

*Tgl 14 Mei 1965 :*
Tiga Sayap Organisasi PKI yaitu PR, BTI dan GERWANI merebut Perkebunan Negara di Bandar Betsi, Pematang Siantar, Sumatera Utara, dgn Menangkap dan Menyiksa serta Membunuh Pelda Soedjono penjaga PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) Karet IX Bandar Betsi.

*Bulan Juli 1965 :*
PKI menggelar Pelatihan Militer untuk 2000 anggota'y di Pangkalan Udara Halim dengan dalih ”Mempersenjatai Rakyat untuk Bela Negara”.

*Tgl 21 September 1965*:
Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.291 th.1965 tertanggal 21 September 1965 tentang PEMBUBARAN PARTAI MURBA, karena sangat memusuhi PKI.

*Tgl 30 September 1965 Pagi :*
Ormas PKI Pemuda Rakyat dan Gerwani menggelar Demo Besar di Jakarta.

*Tgl 30 September 1965 Malam :*
Terjadi Gerakan G30S/PKI atau disebut  GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh) : PKI Menculik dan Membunuh 6 (enam) Jenderal Senior TNI AD di Jakarta dan membuang mayatnya ke dalam sumur di LUBANG BUAYA Halim, mereka adalah :
1. Jenderal Ahmad Yani,
2. Letjen R.Suprapto,
3. Letjen MT.Haryono,
4. Letjen S.Parman,
5. Mayjen Panjaitan dan
6. Mayjen Sutoyo Siswomiharjo.
PKI juga menculik dan membunuh Kapten Pierre Tendean karena dikira Jenderal Abdul Haris Nasution. PKI pun membunuh Aiptu Karel Satsuitubun seorang Ajun Inspektur Polisi yang sedang bertugas menjaga Rumah Kediaman Wakil PM Dr. J. Leimena yang bersebelahan dengan Rumah Jenderal AH. Nasution.
PKI juga menembak Putri Bungsu Jenderal AH. Nasution yang baru berusia 5 (lima) tahun, *Ade Irma Suryani Nasution*, yang berusaha menjadi Perisai Ayahandanya dari tembakan PKI, kemudian ia terluka tembak dan akhirnya wafat pada tanggal 6 Oktober 1965.
G30S/PKI dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung yang membentuk tiga kelompok gugus tugas penculikan, yaitu :
1. Pasukan Pasopati dipimpin Lettu Dul Arief, dan
2. Pasukan Pringgondani dipimpin Mayor Udara Sujono, serta
3. Pasukan Bima Sakti dipimpin Kapten Suradi.
Selain Letkol Untung dan kawan-kawan, PKI didukung oleh sejumlah Perwira ABRI (TNI/Polri) dari berbagai Angkatan, antara lain :
*Angkatan Darat :*
1. Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro,
2. Brigjen TNI Soepardjo dan
3. Kolonel Infantri A. Latief.
*Angkatan Laut :*
1. Mayor KKO Pramuko Sudarno,
2. Letkol Laut Ranu Sunardi dan
3. Komodor Laut Soenardi.
*Angkatan Udara :*
1. Men/Pangau Laksda Udara Omar Dhani,
2. Letkol Udara Heru Atmodjo dan
3. Mayor Udara Sujono.
*Kepolisian :*
1. Brigjen Pol. Soetarto,
2. Kolonel Pol. Imam Supoyo dan
3. Letkol Pol Anwas Tanuamidjaja.

*Tgl 1 Oktober 1965 :*
PKI di Yogyakarta juga Membunuh :
1. Brigjen Katamso Darmokusumo dan
2. Kolonel Sugiono.
Lalu di Jakarta PKI mengumumkan terbentuknya DEWAN REVOLUSI baru yang telah mengambil Alih Kekuasaan.

*Tgl 2 Oktober 1965 :*
Letjen TNI Soeharto mengambil alih Kepemimpinan TNI dan menyatakan Kudeta PKI gagal dan mengirim TNI AD menyerbu dan merebut Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dari PKI.

*Tgl 6 Oktober 1965 :*
Soekarno menggelar Pertemuan Kabinet dan Menteri PKI ikut hadir serta berusaha Melegalkan G30S, tapi ditolak, bahkan Terbit Resolusi Kecaman terhadap G30S, lalu usai rapat Nyoto pun langsung ditangkap.

*Tgl 13 Oktober 1965 :*
Ormas Anshor NU gelar Aksi unjuk rasa Anti PKI di Seluruh Jawa.

*Tgl 18 Oktober 1965 :*
PKI menyamar sebagai Anshor Desa Karangasem (kini Desa Yosomulyo) Kecamatan Gambiran, lalu mengundang Anshor Kecamatan Muncar untuk Pengajian. Saat Pemuda Anshor Muncar datang, mereka disambut oleh Gerwani yang menyamar sebagai Fatayat NU, lalu mereka diracuni, setelah Keracunan mereka di Bantai oleh PKI dan Jenazahnya dibuang ke Lubang Buaya di Dusun Cemetuk Desa/Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak 62 (enam puluh dua) orang Pemuda Anshor yang dibantai, dan ada beberapa pemuda yang selamat dan melarikan diri, sehingga menjadi Saksi Mata peristiwa. Peristiwa Tragis itu disebut Tragedi Cemetuk, dan kini oleh masyarakat secara swadaya dibangun Monumen Pancasila Jaya.

*Tgl 19 Oktober 1965 :* Anshor NU dan PKI mulai bentrok di berbagai daerah di Jawa.

*Tgl 11 November 1965 :*
PNI dan PKI bentrok di Bali.
Tgl 22 November 1965 : DN Aidit ditangkap dan diadili serta di Hukum Mati.

*Bulan Desember 1965 :*
Aceh dinyatakan telah bersih dari PKI.

*Tgl 11 Maret 1966 :*
Terbit Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang memberi wewenang penuh kepada Letjen TNI Soeharto untuk mengambil langkah Pengamanan Negara RI.

*Tgl 12 Maret 1966 :*
Soeharto melarang secara resmi PKI.

*Bulan April 1966 :*
Soeharto melarang Serikat Buruh Pro PKI yaitu SOBSI.

*Tgl 13 Februari 1966 :*
Bung Karno masih tetap membela PKI, bahkan secara terbuka di dalam pidatonya di muka Front Nasional di Senayan mengatakan :
*”Di Indonesia ini tidak ada partai yang Pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar Partai Komunis Indonesia…”*

*Tgl 5 Juli 1966 :*
Terbit TAP MPRS No.XXV Tahun 1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS–RI Jenderal TNI AH. Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran Paham Komunisme, Marxisme dan Leninisme.

*Bulan Desember 1966 :*
Sudisman mencoba menggantikan Aidit dan Nyoto untuk membangun kembali PKI, tapi ditangkap dan dijatuhi Hukuman Mati pada tahun 1967.

*Tahun 1967 :*
Sejumlah Kader PKI seperti Rewang, Oloan Hutapea dan Ruslan Widjajasastra, bersembunyi di wilayah terpencil di Blitar Selatan bersama Kaum Tani PKI.

*Bulan Maret 1968 :*
Kaum Tani PKI di Blitar Selatan menyerang para Pemimpin dan Kader NU, sehingga 60 (enam puluh) Orang NU tewas dibunuh.

*Pertengahan 1968 :*
TNI menyerang Blitar Selatan dan menghancurkan persembunyian terakhir PKI.

*Dari tahun 1968 s/d 1998*
Sepanjang Orde Baru secara resmi PKI dan seluruh mantel organisasiya dilarang di Seluruh Indonesia dgn dasar TAP MPRS No.XXV Tahun 1966. Dari tahun 1998 s/d 2015

*Pasca Reformasi 1998*
Pimpinan dan Anggota PKI yang dibebaskan dari Penjara, beserta keluarga dan simpatisanya yang masih mengusung IDEOLOGI KOMUNIS, justru menjadi pihak paling diuntungkan, sehingga kini mereka meraja-lela melakukan aneka gerakan pemutar balikkan Fakta Sejarah dan memposisikan PKI sebagai PAHLAWAN Pejuang Kemerdekaan RI. Sejarah Kekejaman PKI yang sangat panjang, dan jangan biarkan mereka menambah lagi daftar kekejamanya di negeri tercinta ini.

Semoga Tuhan YME senantiasa melindungi kita semua

*BAGIKAN SEJARAH INI.*
*JADIKAN PELAJARAN*
*BUAT GENERASI YANG AKAN DATANG*

🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇮🇩

Tuesday, August 18, 2020

Jejak Tasawuf dalam Kepemimpinan Bung Karno

Jejak Tasawuf dalam Kepemimpinan Bung Karno
Kamis 18 Agustus 2016 08:51 WIB
Oleh Ren Muhammad

Kiai Muhammad Muchtar Mu’thi bin KH Abdul Mu'thi, dari Pondok Pesantren Majma'al Bahrain Shiddiqiyyah, Losari, Ploso, Jombang, Jawa Timur, mengungkapkan bahwa kurang lebih lima bulan jelang kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamirkan oleh Dwi Tunggal: Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, keduanya telah menemui empat orang ulama tasawuf yang mukasyafah (terbuka mata batinnya). Empat ulama tasawuf itu adalah Syeikh Musa dari Sukanegara, Cianjur; KH Abdul Mu'thi dari Madiun; Sang Alif atau Raden Mas Panji Sosrokartono yang sudah mukim di Bandung; dan Hadratusysyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari, Jombang (pendiri Nahdlatul Ulama). Kesimpulan dari pertemuan Sukarno dengan empat ulama tasawuf tersebut adalah: Akan ada berkat Rahmat Allah yang besar turun di Indonesia, pada Jumat legi, 9 Ramadhan 1364 Hijriah. Bila meleset, harus menunggu tiga abad lagi. Titimangsa itu sama persis dengan Proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dikumandangkan Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Nama Hatta kerap diabaikan sebagai bagian penting sejarah Proklamasi. Padahal dialah yang menyusun teks Proklamasi itu dan Sukarno yang membacanya. Hal ini bisa kita temukan dalam tulisan Hatta di otobiografinya, Untuk Negeriku, yang ia rampungkan penulisannya sebelum wafat pada 1980. Atas sumbangsih Hatta itulah, maka menjadi sah julukan yang diembannya sebagai dwitunggal RI. Ungkapan Kiai Muchtar di atas, sejajar dengan yang dikatakan Prof. Mansur Suryanegara saat diwawancarai situs Eramuslim pada 11 Syawal 1434 H/17 Agustus 2013, yang menguraikan siapa saja ulama penyokong pembacaan Proklamasi. “Pertama. Syeikh Musa, ulama dari Sukanegara, Cianjur Selatan. Kedua. Drs. Sosrokartono, kakaknya RA Kartini. Ketiga. KH Abdul Mukti, dan keempat, KH Hasyim Asy’ari. Mereka inilah yang memberi tahu bahwa Jepang tidak akan mengganggu Indonesia lagi. Kiai Hasyim pada waktuitu juga mengatakan bahwa presiden pertama Indonesia adalah Bung Karno, dan hal itu telah disetujui angkatan laut Jepang.” Dari deretan nama tersebut, hanya Syeikh Musa saja yang belum terjelaskan dengan baik dalam catatan sejarah. Perlu dilakukan penelitian lanjutan terkait hal ini. Prof. Mansur Suryanegara masih memberi tambahan data lagi selain peran empat orang pembesar di atas. “Jadi ketika 10 Ramadhan atau 18 Agustus 1945, Pancasila sebagai dasar negara dikukuhkan oleh tiga orang, KH Wahid Hasyim (NU), Ki Bagus Hadi Kusumo, dan Kasman Singodimejo (keduanya dari Muhammadiyah). Mereka itulah yang membuat kesimpulan Pancasila sebagai adicita negara, dan UUD ‘45 sebagai konstitusi. Kalau tidak ada mereka, BPUPKI takkan mencapai kata sepakat, walaupun diketuai oleh Bung Karno sendiri. Dari situ pula, Bung Karno diangkat jadi presiden, dan Bung Hatta sebagai wakilnya. Jadi negara ini yang memberi kesempatan Proklamasi seperti itu adalah ulama.” Terkait hubungan Sukarno dengan RMP Sosrokartono, memang sangat sedikit buku sejarah yang mencatatnya. Bagi Sukarno, Sosrokartonoyang poliglot itu, tak hanya sekadar guru bahasanya, melainkan juga guru spiritual yang memang ia akui. Posisi penting Sosrokartono itu bisa kita amini ketika Sukarno dan tiga pembelanya di Landraad (Pengadilan) Bandung pada 18 Agustus 1930, ketika membacakan “Indonesia Klaagt Aan” (Indonesia Menggugat), yang ia susun di Penjara Banceuy, mendatangi rumah sekaligus balai pengobatan Sosrokartono—semalamsebelum putusan pengadilan dijatuhkan. Kedatangan mereka secara diamdiam itu, ternyata telah diketahui lebih dulu oleh Sosrokartono melalui mukasyafah-nya. Di dalam rumah, telah disediakan empat bangku kosong. Sedang Sosrokartono telah duduk mendahului tamunya. Sebelum para tamu yang gelisah itu angkat bicara, tuan rumah seketika berujar. “Sukarno adalah seorang satria. Pejuang seperti satria boleh saja jatuh, tetapi ia akan bangkit kembali. Waktunya tidak lama lagi.” Apa yang terjadi keesokan harinya? Sukarno dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Paling berat di antara tiga kawan seperjuangannya, Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata, yang hanya diganjar hukuman separuh dari waktu yang harus dilalui Sukarno. Meski mereka berupaya mengajukan banding ke Raud van Justitie (Pengadilan Tinggi), namun hasilnya nihil. Hukuman Sukarno telah mantap dikukuhkan. Di sebuah rumah panggung di Jalan Pungkur No. 7, Bandung (sekarang tepat di seberang terminal Kebon Kalapa), pernah berdiri rumah pengobatan bernama Pondok Darussalam. Rumah inilah yang menjadi pelabuhan terakhir Sosrokartono setelah pengembaraannya di Eropa selama 27 tahun. Rumah panggung itu terbuat dari kayu berdinding bambu. Dibangun memanjang membentuk huruf L. Sosrokartono diminta menempati gedung itu oleh RM Suryodiputro, adik Ki Hajar Dewantara. Gedung inilah yang menjadi saksi kesaktian Sosrokartono mengobati pasiennya hanya dengan mencelupkan telunjuk ke dalam air di gelas. Jari telunjuk itu adalah simbolisasi dari huruf alif (١) yang jadi ciri khasnya saat mengobati orang sakit. Kenapa huruf alif? Ja’far Ash-Shadiq ra (dalam Schimmel, 1996: 230) mengungkapkan: ”Tuhan membuat huruf Hijaiyyah sebagai induk segala benda; indeks dari segala sesuatu yang bisa dilihat... Segala sesuatu bisa diketahui melalui huruf.” Kemampuan ajaib Sosrokartono inilah yang membuat ia digelari persoonlijke magnetisme oleh seorang dokter yang anak kerabatnya disembuhkan Sosrokartono ketika masih melanglang buana di Eropa. Menurut Budya Pradipta, Ketua Paguyuban Sosrokartanan Jakarta dan dosen tetap bahasa, sastra, dan budaya Jawa, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, “Darussalam adalah bekas gedung Taman Siswa, Bandung. Eyang Sosro di sana karena diminta menjadi pimpinan Nationale Middelbare School (Sekolah Menengah Nasional) milik Taman Siswa.”Para guru di sekolah Taman Siswa itu antara lain, Ir. Sukarno, Dr. Samsi, Mr. Sunario SH, dan Mr. Usman Sastroamijoyo. RMP Sosrokartono juga ikut aktif dalam kegiatan politik saat zaman pergerakan nasional Indonesia. Kegiatan Sosrokartono dapat dilihat dari laporan para pejabat kolonial Belanda.Dalam laporan rahasia yang dibuat Van Der Plas pejabat Adviseur Voor Inlandse Zaken tertulis, kalau (Doctorandus) Drs. Sosrokartono termasuk pelopor gerakan nasional Indonesia dan tidak dapat dipercaya oleh pemerintah kolonial Belanda. Ada lagi laporan dari Komisi Istimewa yang terdiri Herwerden dan Toxopeus langsung kepada Ratu Wilhelmina, yang berisi kalau Sosrokartono penganjur swadesi dan sangat berbahaya bagi berlangsungnya ketenteraman dan kedamaian di Hindia Belanda. Kelak, gedung ini juga pernah dipakai oleh Partai Nasional Indonesia pimpinan Sukarno, dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisastie pimpinan Abdul Rachim, mertua Bung Hatta.Kayanto Soepardi, 63 tahun, putra seorang asisten Sosrokartono, menuturkan ingatannya, “Darussalam tak pernah sepi. Tamunya beragam. Sedari orang Belanda, pribumi, hingga Cina peranakan. Ia juga pernah melihat Sukarno datang menemui Sosrokartono. Saat itu Sosrokartono sedang menggoreskan huruf alif di atas kertas putih seukuran prangko dan menyelipkannya ke dalam peci Sukarno muda, entah untuk apa. Saat itu, Sukarno dan kawan seperjuangannya sudah kerap datang ke Darussalam guna belajar bahasa pada Sosrokartono. Hubungan mesra Sukarno dengan para ulama tasawuf sebelum kemerdekaan, juga bisa kita lacak dari laporan Jose Hendra untuk Majalah Historia pada Rabu, 1 Juni 2016, yang berjudul Sila Ketuhanan dari Ulama Padang Japang. Syeikh Abbas Abdullah adalah tokoh yang memberi wejangan kepada Sukarno terkait sila pertama Pancasila. Kala itu, ia berkunjung ke Perguruan Darul Funun el Abbasiyah (DFA) di Puncakbakuang, Padang Japang, yang didirikan Syeikh Abbas. “Bung Karno berkunjung ke madrasah Darul Funun, dengan tujuan meminta saran kepada Syeikh Abbas Abdullah tentang apa sebaiknya landasan bagi negara Indonesia yang akan didirikan kelak, bila kemerdekaan sungguh benar tercapai. Syeikh Abbas menyarankan negara yang akan didirikan kelak haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa,” tulis Muslim Syam dalam Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat, terbitan Islamic Centre Sumatera Barat (1981). Syeikh Abbas, yang juga dikenal dengan sebutan Buya (Syeikh) Abbas Padang Japang, menambahkan kalau hal demikian diabaikan, revolusi takkan membawa hasil yang diharapkan. Fachrul Rasyid HF, yang turut menulis dalam buku tersebut, mengatakan, tidak banyak orang tahu pembicaraan mereka berdua sebelum Syeikh Abbas mengungkapkannya tiga hari kemudian, “Di hadapan guru dan siswa DFA—usaishalat Jumat di Masjid al-Abbasyiah. Syeikh Abbas mengatakan kedatangan Sukarno ke DFA untuk membicarakan konsep dasar dan penyelenggaraan negara. Persisnya, Syeikh Abbas menyarankan bahwa negara harus berdasar ketuhanan,”ujar Fachrul menirukan kembali cerita yang ia dapat dari keluarga Syeikh Abbas dan masyarakat setempat. Kedatangan Sukarno ke Padang Japang masih menjadi ingatan kolektif masyarakat Padang Japang saat ini. Yulfian Azrial, anggota Masyarakat Sejarahwan Indonesia Sumatera Barat, mengatakan, Darul Funun merupakan madrasah yang cukup berpengaruh berkat kebesaran dua syeikhnya, yakni Syeikh Abbas Padang Japang dan Syeikh Mustafa Abdullah.Kebesaran kedua syeikh yang bersaudara ini membuat Sukarno merasa perlu ke Padang Japang, setelah bebas dari pembuangan di Bengkulu. Syeikh Abbas dan Syeikh Mustafa adalah murid ulama Minangkabau terkemuka di Makkah, Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Syeikh Abbas juga berkawan dekat dengan Syeikh Abdul Karim Amarullah atau Inyiak Rasul. Bersama Abdullah Ahmad dan beberapa ulama lain, Syeikh Abbas mendirikan Madrasah Sumatera Thawalib. Pada 1930, Syeikh Abbas mengubah Sumatera Thawalib di Padang Japang menjadi DFA karena menolak bergabung dengan Persatuan Muslimin Indonesia (Permi). Syeikh Abbas sendiri kala itu bukan sekadar ulama melainkan juga panglima jihad Sumatera Tengah. Pasukan jihad ini didirikan DFA sebagai basis perjuangan menghadapi Belanda. Anggotanya adalah Hizbul Wathan dan Laskar Hizbullah.Sementara sekolah tetap menjadi basis untuk menggapai dan mengisi kemerdekaan. “Wajar Sukarno menemui Syeikh Abbas, karena ia bukan saja ulama tapi panglima perang,” tukas Fachrul, wartawan senior di Sumatera Barat. Menurut Fachrul, perjumpaan Sukarno dengan Syeikh Abbas hanya berlangsung sebentar. Ia datang sekitar pukul satu siang, lalu balik sore hari. Sukarnoberada di Padang ketika era transisi Belanda ke Jepang. Ia berada di Sumatera Barat selama lima bulan, sedari Februari 1942 hingga Juli 1942. Ketika sudah menjabat sebagai presiden Indonesia, Sukarno masih terus melakukan kontak dengan para ulama kawakan, terutama dari barisan Nahdliyin. Dua di antaranya yang paling terkenal rapat dengan Sukarno adalah KH.Abdul Wahab Chasbullah dan KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Kemerdekaan Indonesia yang masih terus dirongrong Belanda dengan membonceng tentara Sekutu, membuat Sukarno dan para tetua bangsa kita, resah dan cemas. Maka Sukarno, Mohammad Hatta, dan Jenderal Sudirman pun meminta wejangan pada KH Wahab terkait hukummempertahankan kemerdekaan pada awal Oktober 1945. KH Wahab yang mumpuni di bidangushul fiqih menyatakan, bahwa kemerdekaan yang telah diraih bangsa ini wajib dipertahankan. Guru Bangsa, HOS Cokroaminoto, juga merupakan satu dari sekian banyak tokoh yang pernah urun rembuk dengan Kiai Wahab terkait persoalan kebangsaan yang tengah dihadapi bersama. Kiai Wahab dan Kiai Hasyim memang memiliki hubungan darah yang cukup erat. Secara silsilah, dua kiai sepuh ini merupakan keturunan dari Kiai Sikhah. Anak buah Pangeran Diponegoro yang kemudian masuk ke Kabupaten Jombang saat Perang Jawa meletus. Mereka berdua pernah satu pesantren namun beda angkatan, yakni ketika nyantri di pesantren Syaikhona Kholil, Bangkalan, Madura. Sejauh yang bisa kita telusuri, mungkin hanya Sukarno satusatunya presiden dunia yang berhubungan baik dengan para ulama. Bahkan kecenderungan itu sudah ia lakukan tanpa sadar sejak masih usia belia, saat keluarganya menetap di Pojokkrapak, Jombang. KH Abdul Mu’thi yang pernah ia temui sebelum kemerdekaan, misal, adalah sahabat kental sekaligus guru ayahnya, Raden Sukeni. Wajar bila sosok kharismatik itu didatangi lagi oleh Sukarno ketika ia harus mengambil keputusan besar bagi bangsa ini: mendirikan satusatunya negara tauhid di dunia. HOS Cokroaminoto yang juga induk semang sekaligus cermin utama bagi Sukarno, juga pegiat tasawuf. Sebelum tampil sebagai Raja Jawa Tak Bermahkota, ia sudah lebih dulu belajar pada Kiai Ageng Muhammad Besari (Hasan Besari I) yang adalah buyutnya sendiri. Kiai Hasan Besari, adalah panglima perang Pangeran Diponegoro yang sangat ditakuti Belanda. Jadi antara Kiai Hasan Besari, Kiai Wahab Chasbullah, dan Kiai Hasyim, terjadi hubungan unik. Ketiganya, punya keterkaitan dengan Pangeran Diponegoro. Mereka bertiga adalah kiai pejuang yang tangguh pada zamannya. Atas dasar itulah, menjadi sah jika sebelum dan semasa menjabat sebagai presiden Indonesia, Sukarno cenderung menampung semua aspirasi yang berdatangan ke kursi kekuasaannya. Peran sebagai Manusia Indonesia (bukan Nusantara) Pertama, ia jalankan sesuai fungsi. Anak-anak republik yang baru lahir, punya hak yang sama untuk tumbuh. Barisan agamis, nasionalis, sosialis, komunis, ia gandeng erat. Corak tasawuf dalam kepemimpinannya bahkan masih terasa ketika Suharto berusaha mengudeta pemerintahan. Demi alasan menghindari perang saudara, Sukarno angkat kaki secara sukarela dari Istana Negara, dan kembali pada fitrah kebangsaannya menjadi rakyat jelata. Penulis adalah pecinta Indonesia dengan melakukan studi atasnya

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/70499/jejak-tasawuf-dalam-kepemimpinan-bung-karno

Monday, January 13, 2020

Mbah Priok; Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad

Mbah Priok; Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad

Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddadlahir di di Ulu, Palembang, Sumatera selatan, pada tahun 1291 H / 1870 M. Semasa kecil beliau mengaji kepada kakek dan ayahnya di Palembang. Saat remaja, beliau mengembara selama babarapa tahun ke Hadramaut, Yaman, untuk belajar agama, sekaligus menelusuri jejak leluhurnya, Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Shohib Ratib Haddad, yang hingga kini masih dibaca sebagian besar kaum muslimin Indonesia. Beliau menetap beberapa tahun lamanya, setelah itu kembali ke tempat kelahirannya, di Ulu, Palembang

Ketika petani Banten, dibantu para Ulama, memberontak kepada kompeni Belanda (tahun 1880), banyak ulama melarikan diri ke Palembang; dan disana mereka mendapat perlindungan dari Habib Hasan. Tentu saja pemerintah kolonial tidak senang. Dan sejak itu, beliau selalu diincar oleh mata-mata Belanda.

Pada tahun 1899, ketika usianya 29 tahun, beliau berkunjung ke Jawa, ditemani saudaranya, Habib Ali Al-Haddad, dan tiga orang pembantunya, untuk berziarah ke makam Habib Husein Al Aydrus di Luar Batang, Jakarta Utara,Sunan Gunung Jati di Cirebon dan Sunan Ampel di Surabaya. Dalam perjalanan menggunakan perahu layar itu, beliau banyak menghadapi gangguan dan rintangan. Mata-mata kompeni Belanda selalu saja mengincarnya. Sebelum sampai di Batavia, perahunya di bombardier oleh Belanda. Tapi Alhamdulillah, seluruh rombongan hingga dapat melanjutkan perjalanan sampai di Batavia.

Dalam perjalanan yang memakan waktu kurang lebih dua bulan itu, mereka sempat singgah di beberapa tempat. Hingga pada sebuah perjalanan, perahu mereka dihantam badai. Perahu terguncang, semua perbekalan tumpah ke laut. Untunglah masih tersisa sebagian peralatan dapur, antara lain periuk, dan beberapa liter beras. Untuk menanak nasi, mereka menggunakan beberapa potong kayu kapal sebagai bahan bakar. Beberapa hari kemudian, mereka kembali dihantam badai. Kali ini lebih besar. Perahu pecah, bahkan tenggelam, hingga tiga orang pengikutnya meninggal dunia. Dengan susah payah kedua Habib itu menyelamatkan diri dengan mengapung menggunakan beberapa batang kayu sisa perahu. Karena tidak makan selama 10 hari, akhirnya Habib Hasan jatuh sakit, dan selang beberapa lama kemudian beliaupun wafat.

Sementara Habib Ali Al-Haddad masih lemah, duduk di perahu bersama jenazah Habib Hasan, perahu terdorong oleh ombak-ombak kecil dan ikan lumba-lumba, sehingga terdampar di pantai utara Batavia. Para nelayan yang menemukannya segera menolong dan memakamkan jenazah Habib Hasan. Kayu dayung yang sudah patah digunakan sebagai nisan dibagian kepala; sementara di bagian kaki ditancapkan nisan dari sebatang kayu sebesar kaki anak-anak. Sementara periuk nasinya ditaruh disisi makam. Sebagai pertanda, di atas makamnya ditanam bunga tanjung. Masyarakat disekitar daerah itu melihat kuburan yang ada periuknya itu di malam hari selalu bercahaya. Lama-kelamaan masyarakat menamakan daerah tersebut Tanjung periuk. Sesuai yang mereka lihat di makam Habib Hasan, yairtu bunga tanjung dan periuk.

Konon, periuk tersebut lama-lama bergeser dan akhirnya sampai ke laut.
Banyak orang yang bercerita bahwa, tiga atau empat tahun sekali, periuk tersebut di laut dengan ukuran kurang lebih sebesar rumah. Diantara orang yang menyaksikan kejadian itu adalah anggota TNI Angkatan Laut, sersan mayor Ismail. Tatkala bertugas di tengah malam, ia melihat langsung periuk tersebut.

Karena kejadian itulah, banyak orang menyebut daerah itu : Tanjung Periuk.
Sebenarnya tempat makam yang sekarang adalah makam pindahan dari makam asli. Awalnya ketika Belanda akan menggusur makam Habib Hasan, mereka tidak mampu, karena kuli-kuli yang diperintahkan untuk menggali menghilang secara misterius. Setiap malam mereka melihat orang berjubah putih yang sedang berdzikir dengan kemilau cahaya nan gemilang selalu duduk dekat nisan periuk itu. Akhirnya adik Habib Hasan, yaitu Habib Zein bin Muhammad Al-Haddad, dipanggil dari Palembang khusus untuk memimpin doa agar jasad Habib Hasan mudah dipindahkan. Berkat izin Allah swt, jenazah Habib Hasan yang masih utuh, kain kafannya juga utuh tanpa ada kerusakan sedikitpun, dipindahkan ke makam sekarang di kawasan Dobo, tidak jauh dari seksi satu sekarang.

Salah satu karomah Habib Hasan adalah suatu saat pernah orang mengancam Habib Hasan dengan singa, beliau lalu membalasnya dengan mengirim katak. Katak ini dengan cerdik lalu menaiki kepala singa dan mengencingi matanya. Singa kelabakan dan akhirnya lari terbirit-birit.

Ada kisah lain beliau dari
Sumber MT Ashalatu ‘Alan Nabi

Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A kurang lebih 23 tahun dimaqamkan, pemerintah belanda pada saat itu bermaksud membangun pelabuhan di daerah itu. Pada saat pembangunan berlangsung banyak sekali kejadian yang menimpa ratusan pekerja (kuli) dan opsir belanda sampai meninggal dunia. Pemerintah belanda menjadi bingung dan heran atas kejadian tersebut dan akhirnya menghentikan pembangunan yang sedang dilaksanakan.

Rupanya pemerintah belanda masih ingin melanjutkan pembangunan pelabuhan tersebut dengan cara pengekeran dari seberang (sekarang dok namanya), alangkah terkejutnya mereka saat itu ketika melihat ada orang berjubah putih sedang duduk dan memegang tasbih di atas maqam. Maka dipanggil beberapa orang mandor untuk membicarakan peristiwa tersebut. Setelah berembuk diputuskan mencari orang yang berilmu yang dapat berkomunikasi dengan orang yang berjubah putih yang bukan lain adalah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A. setelah berhasil bertemu orang berilmu yang dimaksud (seorang kyai) untuk melakukan khatwal, alhasil diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1.Apabila daerah (tanah) ini dijadikan pelabuhan oleh pemerintah  belanda tolong sebelumnya pindahkanlah saya terlebih dulu dari tempat ini.
2.Untuk memindahkan saya, tolong hendaknya hubungi terlebih dulu adik saya yang bernama Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yang bertempat tinggal di Ulu Palembang, Sumatera Selatan.

Akhirnya pemerintah belanda menyetujui permintaan Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A (dalam khatwalnya) kemudian dengan menggunakan kapal laut mengirim utusannya termasuk orang yang berilmu tadi untuk mencari Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yang bertempat tinggal di Ulu, Palembang.

Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A sangat mudah ditemukan di Palembang, sehingga dibawalah langsung ke Pulau Jawa untuk membuktikan kebenarannya. Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A dalam khatwalnya membenarkan “Ini adalah maqam saudaraku Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A yang sudah lama tidak ada kabarnya.”

Selama kurang lebih 15 hari lamanya Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A menetap untuk melihat suasana dan akhirnya Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A dipindahkan di jalan Dobo yang masih terbuka dan luas. Dalam proses pemindahan jasad Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A masih dalam keadaan utuh disertai aroma yang sangat wangi, sifatnya masih melekat dan kelopak matanya bergetar seperti orang hidup.

Setelah itu Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A meminta kepada pemerintah belanda agar maqam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A itu dipagar dengan kawat yang rapih dan baik serta diurus oleh beberapa orang pekerja. Pemerintah belanda pun memenuhi permintaan Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A.

Setelah permintaan dipenuhi Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A meminta waktu 2 sampai 3 bulan lamanya untuk menjemput keluarga beliau yang berada di Ulu, Palembang. Untuk kelancaran penjemputan itu, pemerintah belanda memberikan fasilitas. Dalam kurun waktu yang dijanjikan Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A kembali ke Pulau Jawa dengan membawa serta keluarga beliau.

Dalam pemindahan jenazah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A tersebut banyak orang yang menyaksikan diantaranya :
1.Al Habib Muhammad Bin Abdulloh Al Habsy R.A
2.Al Habib Ahmad Dinag Al Qodri R.A, dari gang 28
3.K.H Ibrahim dari gang 11
4.Bapak Hasan yang masih muda sekali saat itu
5.Dan banyak lagi yang menyaksikan termasuk pemerintah belanda

Kemudian Bapak Hasan menjadi penguru maqam Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A. Saat ini semua saksi pemindahan tersebut sudah meninggal. Merekalah yang menyaksikan dan mengatakan jasad Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A masih utuh dan kain kafannya masih mulus dan baik, selain itu wangi sekali harumnya.

Dipemakaman itulah dikebumikan kembali jasad Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadad R.A yang sekarang ini pelabuhan PTK (terminal peti kemas) Koja Utara, Kecamatan Koja, Tanjung Priuk – Jakarta Utara.

Setelah pemindahan maqam banyak orang yang berziarah ke maqam Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A sebagaimana yang diceritakan oleh putera Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yaitu Al Arif Billah Al Habib Ahmad Bin Zein Al Haddad R.A.

Pada Tahun 1841 Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A di gang 12 kelurahan Koja Utara kedatangan tamu yaitu Al Arif Billah Al Habib Ali Al Haddad R.A (orang yang selamat dalam perjalanan dari Ulu, Palembang ke Pulau Jawa) dan beliau menceritakan kejadian yang dialaminya bersama Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadad R.A beserta 3 orang azami. Cerita tersebut disaksikan Al Arif Billah Al Habib Ahmad Bin Zein Al Haddad R.A. Dari cerita itulah maka dijadikannya Maqib Maqom Kramat Situs Sejarah Tanjung Priuk (dalam pelabuhan peti kemas (TPK) Koja, Tanjung Priuk, Jakarta Utara). Alfatihah

Sumber :

( Al – Kisah No. 07 / Tahun III / 28 Maret – 10 April 2005 & No. 08 / Tahun IV / 10-23 April 2006 )

Saturday, January 26, 2019

Membangun Literasi Al Quran di Tanah Air

Sejarah mencatat, metode belajar baca huruf Al-Qur’an di tanah air selama beberapa dekade atau bahkan lebih satu abad sebelum tahun 1970-an “didominasi” oleh metode turutan (al-Qa’idah al-Baghdadiyah). Materi dalam metode ini dimulai dari pengenalan nama-nama huruf hijaiyah, harakat, hingga bacaan surat Juz Amma (juz 30 Al-Qur’an).

Pengalaman belajar penulis sewaktu kecil juga menggunakan metode belajar itu. Hampir bisa dipastikan, metode ini digunakan oleh sebagian besar umat Islam di tanah air sebelum tahun 1970 atau 1980-an. Di banyak daerah terutama di luar Jawa Tengah, dominasi metode al-Baghaddi itu bahkan berlangsung lebih panjang, menembus tahun 1990-an.

Ciri metode ini adalah penekanan yang kuat terhadap ilmu atau pengetahuan, bukan pada keterampilan (maharah/skill) membaca. Oleh karena itu, pelajaran paling awal dari metode ini adalah pengenalan nama-nama huruf Arab (hijaiyah), bukan dengan cara praktik membaca huruf itu. Materi selanjutnya juga demikian, nama-nama harakat juga dikenalkan secara rinci bergandengan dengan huruf itu (mengeja).

Ketika anak atau pembelajar membaca kata-kata yang ada dalam buku itu maka mereka akan mengeja nama-nama setiap huruf beserta nama harakatnya. Baru kemudian dipelajari bagaimana hasil bacaannya. Sekali lagi, ciri paling khas dari metode ini adalah pendekatan yang kuat terhadap obyek sebagai pengetahuan, bukan sebagai kemampuan.

Implikasinya tentu mudah ditebak. Anak-anak hasil “didikan” metode ini mengetahui dan bisa menyebutkan nama-nama huruf berikut nama-nama harakat yang sedang dibaca dengan baik.Tetapi mereka memerlukan waktu yang lama untuk mencapai kemampuan membaca. Singkatnya, mereka banyak mengetahui tentang huruf-huruf Al-Qur’an tetapi sedikit kemampuan untuk bisa membaca, itu pun setelah belajar cukup lama. Tak sedikit, mereka akhirnya berhenti belajar dan tak mampu membaca Al-Qur’an selama hidupnya.

Kendati demikian harus diakui, jasa metode ini bagi perjuangan melek baca Al-Qur’an di tanah air begitu besar. Betapapun berbagai kelemahan itu, metode ini dicatat dalam sejarah telah melahirkan ulama-ulama besar, para kiai dan tokoh agama, para muallif kitab, para ahli tafsir dan penghafal Al-Qur’an dalam jumlah besar dan dalam waktu yang lama.

Popularitas Qaidah Baghdadiyyah tak terbatas di Indonesia. Di sebagian dunia Islam di luar Indonesia, Qa’idah Baghdadiyyah juga sangat dominan, dan di sebagian dunia Islam yang lain Qa’idah Makkiyah yang banyak digunakan.

Revolusi Qira’ati

Di sisi lain, “dominasi” panjang metode ini mencerminkan suatu keprihatinan yang dalam. Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia tak kunjung melahirkan metode-metode “besar” yang bisa menjadi alternatif atau bahkan pengganti dari metode itu. Tiga puluh tahun paska kemerdekaan RI, muslim Indonesia belum mampu melahirkan metode baca baru yang revolusioner hingga kemudian lahir metode Qiraati.

Lahirnya metode Qiraati pada tahun 1960-70-an di Jawa Tengah menandai sejarah baru dalam perjalanan metode belajar baca Al-Qur’an di tanah air. Metode ini menawarkan paradigma baru yang begitu tegas bahwa membaca Al-Qur’an itu adalah maharahskill atau keterampilan, bukan wawasan, ilmu atau pengetahuan semata. Kedua hal ini harus dibedakan.

Oleh karena itu, metode ini pada praktiknya tidak memperkenalkan di awal nama-nama huruf hijaiyah berikut harakatnya sebagaimana metode lama, al-Baghdadi. Dalam metode ini, anak-anak langsung diajari cara membaca huruf berikut harakat itu tanpa mengejanya. Implikasinya memang benar anak kadang kurang tahu pada waktu awal nama-nama huruf hijaiyah dan nama harakat. Akan tetapi mereka sangat cepat dan tangkas membaca deretan kata-kata itu.

Ini tentu sangat menggembirakan sebab tujuan pembelajaran membaca Al-Qur’an adalah membuat anak mampu membaca Al-Qur’an, bukan membuat anak mampu menghafal nama-nama huruf, harakat, dan mengejanya.

Pencetus metode itu yaitu K.H. Dachlan Salim Zarkasyi dari Semarang memiliki komitmen begitu kuat untuk menjaga ketepatan dan kefasihan bacaan Al-Qur’an di tanah air. Oleh karena itu, di tangan dingin beliau, metode ini melahirkan tradisi dan sistem pembelajaran yang begitu ketat baik dari sisi guru, institusi, maupun disiplin dan tatakrama (adab) santri dalam belajar.

Pada titik itulah, metode yang semula menyebar sangat lambat akibat ketatnya “disilplin” pengajaran Al-Quran itu kemudian lambat laun tersebar. Cabang-cabang Qiraati menjalar di berbagai wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya, bahkan kemudian di kenal luas di tanah air dan beberapa negara manca. Namun, pada titik itu pula persoalan krusial muncul dan sempat memengaruhi penyebaran metode itu. Banyak dari para wakil di berbagai daerah itu kemudian mengaku telah melahirkan metode baru. Mereka menulis ulang metode Qiraarti tersebut, mencetak sendiri buku-buku itu, lalu  disebarkan di kalangan mereka dan masyarakat umum dengan nama selain Qiraati.

Ketatnya sistem pengajaran dan organisasi dan mungkin aspek-aspek lain di luar itu (misalnya ekonomi) seringkali menjadi alasan mereka “memutus” ikatan organisatoris dengan Qiraati pusat dan membangun sistem tersendiri. Faktanya, metode-metode lokal yang jumlahnya sangat banyak itu kecenderungannya merupakan susunan ulang dari Qiraati dengan nama yang berbeda.

Pada umumnya, metode-metode “lokal” ini lebih ringkas daripada Qiraati. Menurut penulis, itu justru kekeliruan paling fatal dari para “penerjemah” ulang metode Qiraati, sebab ruh dasar metode ini adalah latihan dan latihan secara berulang (tikrar).

Kita mencacat, jasa dan pengaruh metode ini bagi pembelajaran baca Al-Quran di tanah air dalam tiga atau empat dekade ini begitu kuatnya. Metode ini adalah pelopor, dan sebagian besar metode-metode lain yang lahir sesudahnya memiliki kesamaan prinsip bahkan kemiripan dalam hal detil dengan metode ini, baik itu diakui ataupun tidak. Oleh karena itu, penulis harus memberikan tribute yang besar kepada gagasan besar dari penulis metode ini dan para pemimpin organisasi pembelajaran ini dalam kepeloporannya dalam metode baru baca Al-Qur’an dengan pendekatan skill.

Penghargaan yang tinggi juga patut kita berikan sebab upaya keras mereka untuk menjaga kualitas bacaan Al-Qur’an di Tanah Air.  Penulis tak ragu-ragu untuk menyebut tiga dekade terakhir dari sejarah pembelajaran baca Al-Quran di tanah air sebagai era Qiraati, menggantikan era al-Baghdadi yang telah berjalan begitu lama.Wallahu a’lam. Bersambung ke Booming Iqra’.

Booming Iqra’

Setelah Qira’ati, metode Iqra’ datang kemudian. Metode ini disusun oleh KH. Asad Humam yarhamuhullah dari Kota Gede Yogyakarta. Dari sisi materi dan pendekatan, kedua metode ini, Iqra’ dan Qiraati, bisa dikatakan sama. Namun, metode Iqra’ lebih sederhana dan tak mensyaratkan hal-hal yang detil dan dipandang tidak mudah bagi kalangan awam dalam sistem pembelajaran.

Di tengah ketatnya aturan dari Qiraati, metode Iqra’ yang ditulis sekitar 10 tahun kemudian mencuri perhatian khalayak di tanah air. Popularitas metode ini terutama di luar Provinsi Jawa Tengah menjalar sangat cepat. Iqra jelas menyalip qiraati dalam hal popularitasnya. Inilah jasa sangat besar dari penulis dan penyebar metode ini yaitu gerakan masif pemberantasan buta huruf Al-Qur’an di tanah air.

Hasil anak-anak didik baca Al-Qur’an di era al-Baghdadi dan di masa popularernya Iqra’ sangat berbeda. Kita menyaksikan gejala baru terkait baca Al-Qur’an di tanah air. Anak-anak perkotaan yang mampu membaca Al-Qur’an jumlahnya menjadi sangat besar, berlipat dari masa sebelumnya. Gairah terhadap Al-Qur’an dan kegiatan keislaman juga menguat dengan menjamurnya Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ, pada awalnya TPA) di berbagai pelosok negeri.

Penulis merasa tak perlu membahas hal-hal sensitif mengenai ada atau tidaknya hubungan material dan metodis antara Iqra’ dan Qiraati, termasuk hubungan personal kedua pengarangnya. Yang pasti, penulis menegaskan keduanya memiliki jasa yang sama-sama besar dalam pembelajaran baca Al-Qur’an di tanah air. Penulis begitu terkesan saat menghadiri pemakanan KH. As’ad Humam. Beliau mengalami gerah fisik yang lama, tetapi justru beliau mengukir jasa besar buat umat yang bermanfaat hingga saat ini.

“Kematangan” Metode Yanbu’a

Metode Yanbu’a dikenal sebagai metode baca sekaligus tulis Al-Qur’an. Gagasan menyatukan baca sekaligus tulis itu dalam skala besar merupakan gagasan baru.  Metode ini kendati datang belakangan, sekitar tahun 2004-an begitu dihormati oleh siapapun. Hal ini disebabkan oleh kualitas dan juga “kelas” penulis dari metode ini. Metode ini ditulis (sesuai yang tercantum dalam buku itu) oleh KH. Mumammad Ulinnuha Arwani, KH. Ulil Albab Arwani, KH. M. Manshur Maskan, dkk kendati bisa saja nama besar itu sebenarnya hanya “dipinjam”. Kedua nama pertama adalah putra K. Arwani, “otoritas” dan mentor para huffadz al-Quran di tanah air. Keduanya adalah pengasuh pesantren Yanbu’a yang telah melahirkan puluhan ribu santri huffadz yang tersebar di berbagai wilayah di negeri ini. Banyak sekali pengasuh pesantren Al-Qur’an di Tanah Air merupakan murid dari pesantren ini, atau muridnya murid pesantren ini, bahkan muridnya murid dari murid pesantren ini.

Dari sisi isi, metode Yanbu’a jelas tak berbeda jauh dari Qiraati terutama dari aspek baca Al-Qur’annya. Kekuatan metode ini terletak pada detil pengetahuan dan informasi yang disampaikan terkait praktik tajwid termasuk materi “gharib” yaitu materi-materi terkait kasus “langka” dalam bacaan. Buku itu sepertinya sesuai dengan disiplin tinggi yang ditanamkan terhadap para santri Yanbu’a. Dari sisi materi atau isi, buku ini begitu matang.

Namun, harus pula diakui, materi yang diberikan dalam buku tersebut sangat padat jika di bandingkan metode lain. Implikasinya, porsi latihannya menjadi sangat berkurang sehingga tak mudah bagi kalangan awam, apalagi untuk anak-anak. Menurut hemat penulis, bagi anak didik pada umumnya, latihan itulah yang seharusnya perlu diperbanyak, bukan materi yang dipadatkan.

Statis

Namun, dari sisi paradigma besar, sejarah metode baca al-Qur’an sekitar tiga atau empat dekade terakhir tak mengalami perkembangan berarti. Semua sudah searah dengan Qiraati kecuali “Mutqin” yang mengembalikan prinsip ulum (ilmu) dulu baru maharah (skill) sebagaimana metode al-Baghdadi kendati dengan basis yang berbeda. Mutqin berbasis kuat pada uraian dan pembahasan Ilmu Tajwid.

Oleh karena itulah, penyusun berupaya mendorong metode baru yang bertujuan ke arah isi al-Qur’an yakni mendorong keterampilan baca sekaligus langsung belajar bahasa Arab.

Ini- kendati sangat sederhana- adalah kebaruan penting dalam tujuan. Penyusun berharap karya itu memberikan alternatif dan jangkauan baru dari metode baca Al-Qur’an. Di samping itu, penulis hendak mengembalikan semangat metode skill yang sesungguhnya yakni dengan memperbanyak latihan. Metode ini menjadi sangat ramah dan mudah bagi anak sebab latihan diperbanyak dan penambahan materi berjalan sangat gradual.

Kendati ada tujuan besar yang “menumpang” yaitu sekaligus belajar bahasa Arab, tetapi itu tidak memberatkan anak sebab dilakukan secara sangat gradual dan include dalam materi baca al-Qur’an. (tulisan ini pernah dimuat Majalah Bangkit edisi Maret dan April 2016).

Saturday, January 12, 2019

Politik kepentingan

Prabowo, thn 2009, adl cawapres-nya Megawati.

Fadli Zon, Pilkada DKI 2012, adl jurkam-nya Jokowi-Ahok.

SBY, mantan menterinya Megawati. Maju nyapres bareng JK, didukung Surya Paloh, nantang Megawati.

Pilpres berikutnya, JK nyapres bareng Wiranto melawan SBY-Boediono, didukung Aburizal Bakrie yg skrg lebih akrab dg Prabowo.

Ratna Sarumpaet, jaman orba adl musuh Suharto. Sekarang gandeng dng Prabowo yg disokong penuh keluarga Cendana.

Anies Baswedan, 2013, adl peserta kandidat capres di konvensi Partai Demokrat.
Di Pilpres 2014, jadi timses Jokowi-JK, dan sempat masuk kabinet sbg menteri pendidikan. Pengritik keras kelompok radikal macam FPI melalui gerakan merajut kebangsaan. Sekarang mendekat ke Prabowo, PKS, dan FPI.

Amien Rais, menentang Megawati jadi presiden, lalu bikin manuver poros tengah naikkan Gus Dur jadi presiden. Eh di tengah jalan, Gus Dur digulingkan, dan menaikkan Megawati jadi presiden.
Periode berikutnya, 2004, Amien Rais nyapres melawan SBY dan Prabowo. Lho sekarang kok gandeng mesra dng Prabowo yg pd jaman reformasi menjadikan Amien Rais sbg target yg hrs di"aman"kan oleh Prabowo.

Ali Muchtar Ngabalin, pilpres 2014 adl "Die-hard" nya Prabowo yg paling sengit menyerang Jokowi. Hari ini, bergelayut manja di pelukan Jokowi.

PKS, gila-gilaan menyerang Prabowo di pilpres 2009 dan pilkada DKI 2012. Sekarang, asoy geboy dng Gerindra.

PDIP & Gerindra pernah mesra sbg oposisi terhadap rezim SBY yg disokong Golkar, PKS dan PAN. Sekarang? Tau sendirilah..😁

Si gundul culun, Ahmad Dhani, dulu musuh bebuyutan FPI, sampe bikin lagu "laskar cinta" buat ngejek FPI. Sekarang? 😋

Dan masih banyak lagiii...

Pesannya : dlm politik tak ada kawan dan lawan abadi. Yg abadi adl Kepentingan. Everything is just a game. Karena itu enjoy aja. Tak perlu memusuhi kawan dan kerabatmu yg berbeda pilihan capresnya.

Para elit politik itu bisa gonta-ganti pasangan politik seenak udelnya sendiri, mereka yg tadinya musuh bisa jd kawan atau sebaliknya. Sementara kalian sdh terlanjur memutus persahabatan bahkan persaudaraan demi junjungan politisi kalian yg besok sehabis pilpres sdh kongkow bareng di balik panggung.

Mereka mendapat kekuasaan, kalian kehilangan persahabatan. Ingatlah, kalo hidupmu susah, yg menolongmu itu bukan para elit politik di atas sana, tapi kawanmu, tetanggamu, saudaramu.
Selamat malam semua saudara-saudariku.

Wednesday, January 2, 2019

Kosa kata dari Nusantara di dalam al-Qur’an

Bahasa dan budaya itu dinamis. Telah terjadi pertemuan antar bangsa, baik lewat jalur perdagangan ataupun lainnya, yang membuat terjadinya penyerapan bahasa maupun percampuran budaya. Termasuk juga bahasa Arab. Dan karena al-Qur’an turun dalam bahasa Arab, maka penyerapan berbagai istilah dan nama non-Arab pun ikut terserap ke dalam kosa kata al-Qur’an.

Apakah dengan demikian ada bahasa non-Arab di dalam al-Qur’an? Saya kutip penjelasan Tafsir al-Qurthubi:

‎لَا خِلَافَ بَيْنَ الْأَئِمَّةِ أَنَّهُ لَيْسَ فِي الْقُرْآنِ كَلَامٌ مُرَكَّبٌ عَلَى أَسَالِيبَ غَيْرِ الْعَرَبِ، وَأَنَّ فِيهِ أَسْمَاءٌ أَعْلَامًا لِمَنْ لِسَانُهُ غَيْرُ الْعَرَبِ، كَإِسْرَائِيلَ وَجِبْرِيلَ وَعِمْرَانَ وَنُوحٍ وَلُوطٍ. وَاخْتَلَفُوا هَلْ وَقَعَ فِيهِ أَلْفَاظٌ غَيْرُ أَعْلَامٍ مُفْرَدَةٍ من كلام غير الْعَرَبِ، فَذَهَبَ الْقَاضِي أَبُو بَكْرِ بْنُ الطَّيِّبِ وَالطَّبَرَيُّ وَغَيْرُهُمَا إِلَى أَنَّ ذَلِكَ لَا يُوجَدُ فِيهِ، وَأَنَّ الْقُرْآنَ عَرَبِيٌّ صَرِيحٌ، وَمَا وُجِدَ فِيهِ مِنَ الْأَلْفَاظِ الَّتِي تُنْسَبُ إِلَى سَائِرِ اللُّغَاتِ إِنَّمَا اتُّفِقَ فِيهَا أَنْ تَوَارَدَتِ اللُّغَاتُ عَلَيْهَا فَتَكَلَّمَتْ بِهَا الْعَرَبُ وَالْفُرْسُ وَالْحَبَشَةُ وَغَيْرُهُمْ، وَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى وُجُودِهَا فِيهِ، وَأَنَّ تِلْكَ الْأَلْفَاظَ لِقِلَّتِهَا لَا تُخْرِجُ الْقُرْآنُ عَنْ كَوْنِهِ عَرَبِيًّا مُبَيِنًا، وَلَا رَسُولَ اللَّهِ عَنْ كَوْنِهِ متكلما بلسان قومه، فالمشكاة: الكوة وو نشأ: قَامَ مِنَ اللَّيْلِ، وَمِنْهُ” إِنَّ ناشِئَةَ اللَّيْلِ” و” يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ” أي ضعفين. و” فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ” أَيِ الْأَسَدِ، كُلُّهُ بِلِسَانِ الْحَبَشَةِ. وَالْغَسَّاقُ: الْبَارِدُ الْمُنْتِنُ بِلِسَانِ التُّرْكِ. وَالْقِسْطَاسُ: الْمِيزَانُ، بِلُغَةِ الرُّومِ. وَالسِّجِّيلُ: الْحِجَارَةُ وَالطِّينُ بِلِسَانِ الْفُرْسِ. وَالطُّورُ الْجَبَلُ. وَالْيَمُّ الْبَحْرُ بِالسُّرْيَانِيَّةِ. وَالتَّنُّورُ: وَجْهُ الْأَرْضِ بِالْعَجَمِيَّةِ. 
‎قَالَ ابْنُ عَطِيَّةَ:” فَحَقِيقَةُ الْعِبَارَةِ عَنْ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ أَنَّهَا فِي 
‎الْأَصْلِ أَعْجَمِيَّةٌ لَكِنِ اسْتَعْمَلَتْهَا الْعَرَبُ وَعَرَّبَتْهَا فَهِيَ عَرَبِيَّةٌ بِهَذَا الْوَجْهِ.

Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan pendapat bahwa al-Qur’an berisikan kata yang disusun dari term dan nama yang berasal dari non Arab. Misalnya: Israil, Jibril, Imran, Nuh dan Lut.

Namun demikian mereka berbeda pandangan apakah ada kata lain yg non-Arab? Imam Qurtubi menyebut nama Qadhi Ibn at-Thayyibat-Thabari dan ulama lainnya yang percaya bahwa al-Qur’an itu murni berbahasa Arab dan tidak ada kata lain yg non Arab dalam al-Qur’an.

Kalaupun ada kata yg tersusun dari bahasa non Arab, menurut mereka, itu hanya kesamaan saja antara bahasa Arab dan non Arab seperti Habasyah, Persia dan lainnya.

Imam Qurtubi juga menyebutkan bahwa ada pula yang berpendapat kalaupun ada kosa kata non Arab jumlahnya hanya sedikit dan tidak menghapus kenyataan bahwa al-Qur’an murni berbahasa Arab.

Imam Qurthubi kemudian menyebutkan beberapa contoh kosa kata tersebut seperti Misykat (QS 24:35), Nasya-a (QS 73:6), Qaswarah (QS 74:51). Ini contoh kosa kata yang berasal dari Habasyah (Ethiopia).

Imam Qurthubi juga menyebut al-Ghassaq (QS 38:57) dari Turki, Qisthas (QS 17:35) dari Romawi. Sijjil (QS 21:104) dari Persia. Dan contoh-contoh lainnya.

Imam Qurthubi kemudian mengutip Ibn ‘Athiyyah yang mengatakan: “hakikatnya adalah kosa kata tersebut asing namun orang Arab telah menggunakannya dan mengarabkannya. Jadi kosa kata itu juga dianggap bahasa Arab.”

Mungkin untuk memahami penjelasan di atas kita bisa lihat sendiri dengan bahasa Indonesia yang seringkali telah bercampur dengan bahasa asing dan kemudian kita gunakan sehari-hari dan menjadi bahasa Indonesia. Misalnya kata rakyat, musyawarah, wakil, tunggal, mutakhir, adil, introspeksi, dan lain sebagainya. Ada yang diserap dari bahasa Arab, Inggris, sanskrit, melayu dan lainnya.

Sekali lagi itu menunjukkan betapa dinamisnya bahasa itu.

Nah, satu hal yang tidak disebut dalam penjelasan kitab Tafsir al-Qurthubi di atas, ternyata ada juga bahasa Nusantara yang diadopsi dalam al-Qur’an.

‎إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا

Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur (QS 76: 5).

Sejak abad 4 Masehi (atau lebih awal lagi), kapur barus yang berasal dari daerah Barus di Sumatera telah terkenal di dunia Arab dan Asia. Maka itulah sebabnya al-Qur’an mengdopsi kata “kafur” ini. Al-Qur’an menyebutkan bahwa penduduk surga kelak akan minum dari mata air di surga yang airnya seputih, sewangi, dan sedingin kapur barus, tapi tidak rasa dan bahayanya.

Penjelasan di atas diperoleh dari Tafsir ar-Razi:

‎أَنَّ الْكَافُورَ اسْمُ عَيْنٍ فِي الْجَنَّةِ مَاؤُهَا فِي بَيَاضِ الْكَافُورِ وَرَائِحَتِهِ وَبَرْدِهِ، وَلَكِنْ لَا يَكُونُ فِيهِ طَعْمُهُ وَلَا مَضَرَّتُهُ

Dahulu kafur ini komoditi yang sangat mahal (konon seharga emas) dan dicari oleh banyak pihak. Kafur digunakan sebagai wewangian, bumbu masak, bahkan untuk obat-obatan. Di surga kelak, minuman yang dicampur dengan kafur inilah yang dihidangkan untuk orang-orang beriman. Kafur ini menjadi simbol kemewahan. Interaksi awal perdagangan antara wilayah Nusantara dengan dunia Arab bisa dilacak dari diserapnya kosa kata ini ke dalam tradisi Arab, sehingga turut pula masuk dalam bahasa al-Qur’an.

Saat ini kapur barus di tanah air dikenal dengan camphor atau kamper. Masih dipakai untuk wewangian di dalam lemari pakaian. University of Texas dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa kamper bisa menyembuhkan batuk, gatal-gatal di kulit, dan bisa pula membantu untuk menumbuhkan rambut untuk pria gundul, serta manfaat lainnya. Bahkan ada yg mencampurnya ke dalam teh untuk meraih efeknya. Namun para peneliti mengingatkan bahayanya bila konsumsinya tidak terkontrol.

Sampai di sini kita menyadari bahwa bukan saja relasi antara Nusantara dengan Arab sudah terjadi sebelum masa turunnya wahyu al-Qur’an, tapi juga begitu dinamisnya bahasa (dan juga budaya) itu. Kosa kata Arab diserap dalam bahasa Indonesia, sementara kosa kata dari Nusantara malah diadopsi dan diabadikan dalam al-Qur’an.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
dan Dosen Senior Monash Law School

Monday, November 5, 2018

TNI asalnya dari TNU, gini ceritanya...

TNI asalnya dari TNU, gini ceritanya...

Barisan Pemuda Kebangsaan sebenernya sudah dimulai sejak 1920-an paska runtuhnya Turki Utsmani dan ekspansi Negara2 Eropa untuk “menguasai dunia” dan juga pastinya karena banyak kaum cendikia lahir di Indonesia seperti Ki Hajar, KH Mas Mansyur, KH Wahab Hasbullah, Tan Malaka dll

Mungkin sekarang anak-anak milenial kilafah lagi demen jelek2in Banser bahkan sampe menyoal baju doreng, ya maklum kudu diluruskan. Tapi kalo yang tua pada ikutan ya itu namanya buta sejarah ataupun udah antipati. Gpp gue bakal cerita soal ini dengan Insyaallah runtut.

Istilah dan fakta tentara-tentaraan ini lahirnya pada saat penjajahan Jepang dimana pada September 1942 di Jakarta diadakan konferensi para pemimpin Islam yang intinya bikin Jepang kecewa karena ternyata Islam tidak bisa dipolitisasi untuk kasih dukungan Jepang di Perang Asia.

Jepang bermaksud mengumpulkan laskar Islam yang saat itu sangat anti Belanda, digabung menjadi Laskar yang tujuannya back up Jepang di Perang Asia yang musuhnya juga Belanda sama sekutu. Oktober 1942 Tokyo sampe menugaskan Kolonel Horie Choso keliling Jawa buat riset.

Saat itu ada organisasi Islam bernama MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) yang dikomandoi Ulama Nusantara untuk melawan Politik Belanda, gabungan 13 Organisasi termasuk didalamnya NU, Muhammadiyah dan SI. HadratusSyekh Hasyim Asy’ari adalah Ketua Badan Legislatifnya.

MIAI sangat efektif membuat Belanda kacau karena MIAI memiliki banyak laskar Santri didalamnya termasuk ANO (Anshoru Nahdlatul Oelama) yang dilahirkan oleh KH Wahab Hasbullah sejak 1924 dan pada 1934 menjadi Ansor.

Jepang ingin kuasai MIAI supaya bisa dipake perang lawan sekutu

Perjalanan Kolonel Horie Choso ini menghasilkan dan menyimpulkan bahwa jika Jepang mau mendapatkan tambahan laskar, maka dekatilah Kyai-Kyai Pengasuh Pondok Pesantren di Jawa.

Walhasil Jepang membentuk: Seinendan, Keibodan dan Heiho yang nantinya dibuat untuk bela bangsa.

Jepang sangat paham kalo Ruh di Pesantren adalah Ruh Kebangsaan, menjaga tanah air tempat kelahiran adalah panji martabat tertinggi dari para Santri.

Ide Jepang bentuk laskar kebangsaan ini jelas disambut pesantren dengan positif karena demi Nusantara.

Hingga pada saatnya, 3 Oktober 1943 Jepang meresmikan PETA (Tentara Pembela Tanah Air) di Bogor dengan keanggotaan terbanyak dari Santri dan Ulama.

HadratusSyekh Hasyim Asy’ari adalah Penasehat PETA, yang juga merupakan Rais Akbar Nahdlatul Oelama.

Kiprah PETA untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak perlu gue jelaskan, bisa gugling dan cari perpustakaan. Lengkap datanya..

Gue lanjut topik sampe berdirinya TNI aja yak?

Apakah Jepang tidak “fishy” dan tidak diketahui Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari?

Tentu tidak, beliau paham banget kalo Jepang cuma ingin memperalat PETA untuk kepentingan Tokyo bukan Indonesia. Kemudian pada 4 Desember 1944, KH Wahid Hasyim membentuk Laskar Hizbullah

Iya, Putra HadratusSyekh dan sekaligus Ayah dari Gus Dur adalah inisiator yang membentuk Laskar Hizbullah yang sangat masyur dalam pertempuran 10 November 1945.

Jepang kalah set dengan KH Wahid Hasyim, pusat pelatihan Heiho di Cibarusah dipakai untuk latihan Laskar Hizbullah.

Siapakah Laskar Hizbullah?
Laskar Hizbullah adalah Ulama, Santri dan Pemuda Syubbanul Wathon atau ANO yang kemudian jadi GP Ansor nantinya.

Laskar Hizbullah adalah Banser!

Mari kita simak fakta sejarah berikut ini ya, biar pada paham dan siapin meme bully Banser yang baru.

Bulan Januari 1945, Masyumi yang saat itu diketuai HadratusSyekh Hasyim mengumumkan anggota dewan Pengurus Pusat Pimpinan Laskar Hizbullah dengan Ketua KH Zainul Arifin seorang Kader Ansor dari Barus Sumatera Utara dan diberikan amanat menjadi Panglima Laskar Hizbullah.

Pusat Latihan Hizbullah berada di Cibarusah dengan lahan 20 hektar disekitar perkebunan karet, dikelola oleh Konsul NU Jakarta dan instrukturnya bernama Kapten Yanagawa dari Beppan (Badan Intelejen Jepang).

Santri dari Madura dan Jawa merupakan peserta pelatihan paling awal.

Karena sangat banyak Santri yang mendaftar, bahkan proses rekrutnya sangat rapih dan pendaftar sangat banyak ditampung di banyak Masjid se-Jawa.

Di Malang juga ada Laskar yang tidak lahir dari Masyumi, didirikan oleh KH Masjkur Singosari, Santri HadratusSyekh juga.
"Sabilillah".

Laskar Hizbullah yang ditempa di Cibarusah dan Laskar Sabilillah di Malang pada saatnya kelak bergabung bertempur di Surabaya pada 25 - 27 Oktober 1945 dan Perang besar 10 November 1945 yang sangat terkenal dengan “Rawe Rawe Rantas, Malang Malang Putung”

Lulusan pendidikan Laskar Hizbullah inilah cikal bakal Tentara Indonesia kedepannya.

Salah satu “Harimau Hizbullah” yang sangat disegani dan ditakuti musuh adalah KH Abdullah Abbas Buntet Cirebon.
Yang melahirkan Batalyon Elit Infanteri 315/Resimen 1 Siliwangi

Ketika paska kemerdekaan, Belanda membonceng Sekutu ke Indonesia (dalih melucuti Jepang) dengan pasukan yang siap perang dan bermaksud menjajah Indonesia kembali.
Hingga lahir Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 dimana awal dari pertempuran 10 November 1945.

Paska 10 November 1945, setelah kalah di Surabaya tuh Belanda belum kapok dan kembali ke Indonesia dengan Agresi Militer II.

Pada awal 1946, Surabaya jatuh ke tangan Sekutu kembali dan pasukan Hizbullah yang banyak jadi korban di pertempuran 10 November ditarik ke Gempol.

Perjuangan Laskar Hizbullah dan Sabilillah inilah tonggak kebangkitan Indonesia setelah Proklamasi.

Seluruh komponen kelaskaran seperti PETA, eks KNIL, Laskar Daerah, Jurnalis, Barisan Pemuda dll membuahkan simpati dunia dan “bayi” Tentara Keamanan Rakyat tumbuh besar.

Bulan Juli 1946 Hizbullah melaksanakan Kongres Umat Islam di Jogja yang menghasilkan konsolidasi peleburan Laskar Hizbullah kedalam Divisi Sunan Ampel.

Laskar Hizbullah Sunan Ampel dan kelaskaran lain inilah yang pada 5 Mei 1947 bersatu bergabung ke Tentara Republik Indonesia.

Dan TRI pada 3 Juni 1947 diubah menjadi TNI.

TNI memiliki kepemimpinan kolektif dari mantan pimpinan TRI dan badan kelaskaran lain, jangan heran banyak batalyon memberontak termasuk DI/TII, Permesta, Eks Knil APRA dll.

Satu hal, Hizbullah Sabilillah tidak pernah berontak.

Jadi, jika sekarang kalian menyoal seragam Banser ingatlah bahwa TNI lahir jauh setelah Banser berjuang bersama Hizbullah, Sabilillah, PETA dll sebelum Indonesia ini Merdeka.

Ayo kembali fokus jualan bendera HTI aja kalian dari pada sibuk ngurusi baju loreng. Bye....

Sumbernya dari mana ?

Dari buku Resolusi Jihad Paling Syar’i author  Gugun El Guyani, Perlawanan Rakyat Indonesia terhadap Fasisme Jepang auth Sagimun MD. Di UIN banyak, minta aja buku terkait dan jurnal2 yang diterbitkan terkait Resolusi Jihad 22 Oktober 1945

[Copas dari Kang Lautan Ilmu]