Showing posts with label dakwah. Show all posts
Showing posts with label dakwah. Show all posts

Sunday, October 29, 2017

METODE DAN PERJUANGAN DAKWAH BIL HIKMAH HABIB UMAR BIN HAFIDZ

" METODE DAN PERJUANGAN DAKWAH BIL HIKMAH HABIB UMAR BIN HAFIDZ "

Oleh : Habib Ali Al Jufri

Ketika aku berumur 9 tahun dan saat itu Habib Umar bin Hafidz berumur sekitar 14 tahun, aku mula belajar di Tarim, Hadhramaut. Bertepatan waktu itu kedzaliman merajalela. Orang-orang yang hendak berdakwah selalu dihalangi. Para juru dakwah harus izin terlebih dahulu dan mendapat pengesahan dari pihak kerajaan. Kaum perempuan ditindas, dan bentuk kedzaliman lainnya.

Kejadian naas pun dialami oleh Habib Umar, yang menjadi awal perpisahannya dengan sang ayahanda. Seusai shalat, ayah Habib Umar keluar dari masjid untuk membuat perizinan kepada pemerintah guna keluar berdakwah. Ditunggu lama ayahnya tak balik lagi ke masjid. Habib Umar sampai mencari-cari di mana ayahandanya, tetap dengan hasil nihil.

Bayangkan seorang lelaki kecil kehilangan seorang ayah secara tiba-tiba. Habib Umar bertanya kesana-kemari, semua juga tidak tahu. Habib Umar hanya ditinggali rida' (sorban/selendang) oleh ayahandanya seusai shalat. Hanya kakandanyalah, Habib Ali Masyhur, dari keluarga beliau saat itu yang berada di Tarim. Sedangkan ibundanya berada di Mekah, dan saudara-saudara Habib Umar yang lain pun sedang berada di tempat berbeda. Hal yang demikian tidak menjadikan Habib Umar kerdil, putus asa dan sedih yang berlarut. Tapi justeru membuat semangatnya meluap dan dorongan yang kuat meneruskan perjuangan sang ayahanda.

Ketika itu aku, Habib Kadzim Assegaf, Syaikh Umar Khathib dan beberapa sahabat lainnya memutuskan mengaji kepada Habib Ali Masyhur. Kami melakukan hal itu (mengaji) pun secara sembunyi-sembunyi. Ada yang menyimpan kitabnya dalam baju, dalam bekas sayuran, atau tempat aman lainnya karena takut diketahui dan didzalimi. Betapa susah dan sukarnya hendak belajar ilmu agama kala itu.

Pada usia 16 tahun, Habib Umar sudah mulai keluar berdakwah di sekitar Tarim. Dari masjid ke masjid, mengajak manusia ke arah kebaikan. Di usianya ke 20 tahun, beliau pindah ke Baidha' dengan harapan bisa pergi ke Mekah untuk mengaji di sana.

Dengan hanya berbekal 100 Riyal Yaman, tanpa meminta-meminta kepada siapapun Habib Umar akhirnya sampai di Baidha'. Sesampainya di sana beliau berjumpa dengan Habib Muhammad, yang merupakan sahabat dekat ayahandanya, guna meminta izin mengaji di Mekah. Namun Habib Muhammad tidak mengizinkannya. Habib Umar dimintanya mengaji dulu di Baidha'. Akhirnya, sekitar selama 10 tahun Habib Umar belajar di sana.

Semasa belajar di Baidha', kehidupan Habib Umar terbilang sangat kekurangan. Setiap hari beliau hanya makan biskut yang harganya tidak lebih dari 5 Riyal. Tetapi justeru berkat pengorbanan dan perjuangan yang tidak ringan itu akhirnya Habib Umar dikarunia ilmu yang sangat banyak.

Suatu hari, tatkala Habib Umar memulai dakwahnya di Baidha', yang didatanginya justeru ke tempat orang-orang bermain bola. Beliau menonton mereka bermain bola sampai selesai. Tentu para pemain sepak bola itu berpakaian seperti pada umumnya, bercelana pendek. Sedangkan Habib Umar berpakaian seperti laiknya para ulama juru dakwah, berjubah lengkap dengan 'imamah dan sorbannya.

Sesudah itu Habib Umar pun mendekati kedua kelompok pemain sepak bola itu, lalu berkata: "Aku telah menyempatkan diri menyaksikan permainan bola kalian tadi. Sekarang, sudilah kiranya kalian berkenan memperhatikanku. Besok aku akan menyediakan sebuah hadiah kepada grup mana yang menang dalam pertandingan nanti. Tapi dengan syarat besok kalian berpakaian celana lebih panjang lagi (yang menutupi aurat)." Mereka pun menyetujui syarat yang diminta oleh Habib Umar.

Keesokan harinya Habib Umar pun menepati janjinya dengan mendatangi dan menyaksikan permainan sepak bola itu serta membawakan sebuah hadiah bagi yang memenangkan pertandingan. Ketika hendak pulang, Habib Umar sembari senyum berkata kepada mereka: "Sekarang, telah kupenuhi janjiku kepada kalian. Sudilah kiranya nanti kalian semua berkenan hadir ke madrasahku, ikut serta mengaji. Meski sedikit, yang penting cobalah dulu."

"Sebenarnya kami mau saja menghadirinya. Hanya saja kami malu di situ banyak orang-orang yang hebat dan alim-alim." Jawab mereka.

Lalu Habib Umar berkata: "Kalau demikian, datanglah mengaji di waktu malam."

Mereka pun setuju. Mereka sangat segan dengan adab dan akhlak yang ditunjukkan Habib Umar. Dan kini, setelah sekian lama belajar kepada Habib Umar, para pemain sepak bola itu banyak yang menjadi ulama-ulama hebat dan para juru dakwah. Habib Umar telah memberikan contoh 'dakwah dari hati ke hati'.

Dan aku sekarang bukanlah hendak mengagungkan beliau. Tetapi untuk memberitahukan tentang uslub (metode) dakwah, bagaimana cara Habib Umar menyampaikan dakwahnya. Bukan syarat dakwah harus pandai bertutur kata, tetapi kuatnya mahabbah (cinta) kepada Allah lah syarat yang utama. Karena Allah lah Yang Mahamenguasai hati. Dan banyak sudah dakwah yang tidak sampai pada hasilnya. Sebab dalam dakwahnya hanya menginginkan hasil yang cepat dan instan serta memberikan kesan. Padahal semuanya adalah Allah yang mengerakkan.

( Kisah ini dituturkan oleh Habib Ali al-Jufri dalam acara Multaqa Da'i di Rubath Darul Musthafa Yaman. Habib Ali al-Jufri termasuk salah satu murid Habib Umar, dan tatkala beliau menceritkan kisah ini mengalirlah air mata Habib Umar bin Hafidz ).

Sumber : Fanspage @Suara Al-Azhar

https://web.facebook.com/suara.alazhar/posts/868050830027794

#HabibUmarbinHafidz
#HabibAliAlJufri
#DakwahBilHikmah

Tuesday, September 5, 2017

Kyai tambeng

“Kanjeng Nabi niku, mulai ajenge wafat ngantos tangi songko alam kubur sampek teng akhirat oro makhsyar niku, seng didisikno cumak siji tok: “ummatiy yaa Rabb..”. Seng ditakokno umate; seng dadi pikirane (lan) tangisane atine (Kanjeng Nabi niku) umate. Sakniki kulo kepingin takon: seng katah, mboten gebyah uyah, kiro–kiro poro kyai ulama’ sak mangken niku, semangat pundi olehe nangis ndungakno umate karo ngowehi ilmu umate?. Kiro–kiro semangat pundi?
.
(Poro) Kyai..., sampean tangisi.., sampean dungakno wau wong seng sampean wuruki ngaji... “Pegel aku, gak kuat wes..”, nggeh ta?. “Seng penting wes tak tuturi, wes tak wehi ilmu, dilakoni gak dilakoni, gak urusan. Iku hidayahe Gusti Allah”. Niku Kyai tambeng (ngoten) niku”.

~Hadlratusy Syaikh KH. Achmad Asrori Alishaqy RA

Thursday, July 27, 2017

GUS MUS: MUSLIM MODERAT HARUS TAMPIL KE PANGGUNG

GUS MUS: MUSLIM MODERAT HARUS TAMPIL KE PANGGUNG

Oleh Edi AH Iyubenu Edi Mulyono

Baru menjelang Subuh saya tiba di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang. Melihat tembok pondok itu sudah cukup membuat hati saya berdesir. Dengan perasaan gemetar, pikiran saya memusat pada satu sosok yang hendak saya sowani: Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri, akrab disapa Gus Mus; pengasuh pesantren ini, seorang budayawan, penyair, pelukis, dan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 2014—2015.

Sebelum menemui kiai itu, saya ikut salat Subuh bersama para santri. Di hadapan keran-keran, tampak para santri cilik yang masih imut-imut terkantuk-kantuk membasuh muka. Kepada seorang santri yang agak besar, saya melayangkan tanya, “Apa Gus Mus ada di rumah?”

Ia mengangguk. Katanya, Gus Mus baru pulang pukul 3 pagi tadi.

“Sudah janjian?’

“Sudah.”

“Kalau sudah janjian, pasti ketemu. Beliau selalu menepati janjinya.”

Salat Subuh itu tidak diimami Gus Mus. Selepas salat, saya diantar ke lantai dua pondok, ke sebuah ruangan kecil berkarpet hijau. Si pengantar kemudian menyilakan saya menunggu di situ sampai panggilan dari Gus Mus datang.

Panggilan itu datang nyaris pukul 9 pagi, menyentakkan saya dari tidur yang tidak sengaja. Santri yang membawakan pesan mengatakan, Gus Mus akan siap setengah jam lagi. Buru-buru saya mencari tumpangan untuk mandi.

Pukul 10 saya dipanggil dan dibawa ke sebuah ruang tamu luas berwarna hijau. Lantainya beralas karpet tebal. Camilan untuk tamu berjejer-jejer. Selain sejumlah foto dan kaligrafi di dinding, ada rak panjang di ruangan itu yang memajang deretan buku dan kitab-kitab. Gus Mus belum berada di ruangan itu.

Tak berapa lama kemudian sosok bertubuh tinggi besar keluar dari pintu yang berada di tengah rak-rak panjang itu. Ia bersarung dan berpeci putih, senyum terkembang di wajahnya yang tenang. Sontak saya berdiri dan mencium tangan, lalu kembali duduk di hadapannya dalam jarak sekitar tiga meter.

“Saya semalam pulang pagi lalu nonton bola, jadi habis Subuh ya mengganti utang tidur itu. Tidak baik utang tak dibayar,” Gus Mus langsung membuka obrolan dengan candaan.

Saya tertawa. “Iya, Mbah Yai.”

“Ayo diminum kopinya, merokok saja ya ndak papa. Cuma saya sudah berhenti merokok.”

Suasana makin cair. Saya pun membakar rokok.

Tanpa perlu diminta, beliau mulai mengisahkan banyak hal yang memang sangat ingin saya dengar langsung darinya selama ini. Salah satunya tentang cerita masa remajanya ketika disuruh berhenti mondok di Pondok Pesantren Lirboyo oleh ayahnya, Kiai Haji Bisri Mutofa.

Bagaimana anak seorang kiai pemilik pondok disuruh berhenti mondok, beginilah duduk perkaranya.

Sewaktu saya nyantri di Lirboyo, kebetulan temanan dekat sama Gus Miek, Gus Miek itu ya gusnya sana, kisah Gus Mus membuka cerita.

Gus Miek itu memang unik kelakuannya dari dulu. Pas pelajaran, dia datang ke kelas lewat jendela, ngajak saya jalan-jalan. Naik ontel. Pernah saya naik ontel sama Gus Miek dari Lirboyo ke Kertosono, tanpa pakai baju.

Ia terbahak saat menceritakan bagian ini. Untuk ukuran perjalanan dengan sepeda sejauh 30 kilometer tanpa pakai baju, itu termasuk unik yang lumayan kebangetan.

Gus Mus melanjutkan: benar-benar kayak orang gilalah kami ini. Suatu hari, saat liburan pondok, saya pulang ke sini, Rembang. Rambut panjang, pakai baju dan celana kombor ala pendekar Jawa begitu, dan bakiak yang dibuat sendiri dari kayu dengan dipasangi ban dalam.

Sampai di halaman rumah, abah saya melihat saya datang dengan gaya begituan, langsung memanggil Ibu. “Bu, Bu, sini to, anakmu muleh, sawangen (anakmu pulang, coba lihat).” Ibu saya muncul dari dalam dan kaget melihat penampilan saya. Kata abah saya, “Ini anakmu, wes dadi wali (sudah jadi wali).”

Saat liburan sudah habis, saya tak dibolehkan kembali ke Lirboyo sama Abah. Beberapa waktu kemudian, datanglah utusan dari Lirboyo menanyakan kenapa saya tak kembali ke pondok. Abah menjawab, “Iya, saya memang tak membolehkannya kembali ke Lirboyo.”

“La kenapa, Pak Yai?”

“Saya penginnya dia jadi kiai saja, meneruskan saya nantinya. ini malah jadi wali lo. Kan bisa kalah pamor saya, kalau anak sendiri jadi wali ….”

Gus Mus terkekeh lepas lama sekali di bagian ini.

Gus Miek yang dimaksud adalah Hamim Tohari Djazuli, lebih tua empat tahun dari Gus Mus. Putra Kiai Haji Ahmad Djazuli Utsman, pemimpin Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, ini dititipkan ayahnya kepada Kiai Haji Mahrus Aly untuk belajar di Lirboyo. Dasarnya memang nyeleneh, ia hanya bertahan selama 16 hari di Lirboyo, lalu pulang lagi ke Ploso.

Setelah kejadian “menjadi wali” itu, Gus Mus dikirim ayahnya ke Yogya untuk mondok di Pondok Pesantren Ali Maksum, Krapyak, yang diasuh oleh Kiai Haji Ali Maksum.

Menurut Gus Mus, Kiai Ali dikenal santrinya sebagai kiai yang berada. Ia memiliki banyak sawah dan kebun yang luas.

Suatu malam, saya sama teman-teman santri kasak-kusuk membicarakan tentang tanaman tebu Mbah Ali yang sudah siap panen, Gus Mus bercerita lagi. Kami lalu bersepakat hendak mencuri beberapa batang untuk dijadikan cemilan. Disesepi-lah, pasti enak itu, begitu pikir kami malam itu.

Pelan-pelan kami beranjak dari pondok. Pintu keluar memang harus melewati rumah Mbah Ali. Tiba-tiba suara Mbah Ali terdengar memanggil saya dari dalam rumahnya. Spontan kami gemetar. Saya yang dipanggil ya sendika dawuh dengan menunduk-nunduk. Selain soal sungkan, terutama deg-degan luar biasa merasa bersalah hendak mencuri tebunya.

Saya dipersilakan duduk di ruang tamu rumahnya. Mbah Ali lalu bilang, “Mus, itu di belakang ada beberapa batang tebu yang baru diambil dari ladang. Sengaja saya pilih yang bagus-bagus ….”

Ucapan Mbah Ali ini semakin membuat saya gemetar tak keruan. Untung saja tidak sampai kencing di sarung.

“Sana kamu ambil, ya.”

“Injih, Mbah Yai ….”

Saya pun ke belakang mengambil tebu-tebu yang sudah diikat rapi. Pas di halaman rumah, terdengar suara Mbah Ali lagi. “Mus, itu teman-temannya dibagiin ya tebu-tebunya. Kasihan, mereka pada pengin tebu ….”

Gus Mus tertawa lagi dengan sangat keras.

Selain mengisahkan cerita-cerita konyol masa mudanya, Gus Muh juga mengomentari persoalan terkini umat Islam. Terutama perkara pengajaran Islam yang menjadi semakin dangkal.

“Itu ya, perhatikan,” tuturnya, “Ustadz-ustadz tivi itu ya dulu ngajinya di mana? Nyantrinya sama siapa? Sanad ilmunya bagaimana, kan ndak jelas. Tahu-tahu mereka tampil di TV-TV, berceramah, didengarkan ribuan orang awam lainnya, masyarakat umum. Mereka tampan, kelimis, pakaiannya memikat, cara bicaranya memukau, wajar kalau didengarkan.

“Tapi ya itu, isi ceramahnya cenderung dangkal-dangkal gitu,” sambungnya. “Semudahnya saja mereka mengartikan ayat, hadis, lalu menyimpulkan hukumnya begini dan begitu. Seolah cukup bermodal Quran terjemahan Kemenag, selesailah semua urusan tafsir Al-Quran. Hahaha.”

Kali ini saya angkat suara. “Apa bukannya makin bagus, Mbah Yai, bila makin banyak orang yang tampil jadi penceramah begitu?”

“Bagus, tapi ruwet. Bagus kalau materi ceramahnya memang bermutu. Buat saya, ukuran mutunya ya sederhana: mengajak umat kepada cinta, kasih sayang, persaudaraan, karena Islam ya intinya akhlak karimah, tujuannya rahmatan lil ‘alamin. Ayat dakwah kan jelas menyeru kita pada hasanah, kebaikan. Baik dalam isinya, baik dalam penyampaiannya.

“Kenyataanya kan terbalik. Makin banyak ustadz-ustadz seleb itu, kan ya makin ruwet malah kehidupan Islam kita. Salah-menyalahkan, sesat-menyesatkan, kafir-mengafirkan. Manusia kok mengafirkan orang yang berbeda, itu kan ya kacau to. Manusia ya manusia saja, jangan mengambil alih hak mutlak Gusti Allah to.”

Beliau menyilakan saya mengambil cemilan di kaleng Khong Guan yang isinya tumben bukan rengginang, tapi keripik singkong.

“Lalu bagaimana solusinya, Mbah Yai?”

“Orang-orang muslim moderat ini ya harus tampil ke panggung. Melalui tulisan atau ceramah. Jangan diam lagi. Diam tak lagi membantu apa-apa pada keadaan yang makin mencemaskan ini. Kamu sendiri, apa yang telah kamu lakukan?”

Mak tratap saya mendengar pertanyaan itu.

“Ini, Mbah Yai, saya nulis buku ini.” Saya serahkan kepada beliau sebuah buku.

“Nah, tanda tangani dululah.”

Byuh, saya keder. Tapi, saya lakukan juga titahnya.

“Baguslah. Sekecil apa pun, ya harus melakukan sesuatu. Kalau kamu penulis ya teruslah menulis, sebarkan itu Islam yang ramah, sejuk, dan berakhlak karimah.”

Saya mengangguk. Speechless. Habis tulisan saya masih gitu-gitu aja.

“Kata kuncinya menurut saya sederhana. Ini bisa kamu pegang atau siapa pun. Kalau ada seorang ustadz, kiai, guru, atau siapa pun yang mengumbar wajah Islam yang keras, pemarah, ngamukan, mengafirkan, itu tak usah diikuti. Islam itu sendiri kan artinya keselamatan, kedamaian, lha kok ngamuk, ngafirkan, itu tak masuk akal.”

Lepas itu, Gus Muh masih bercerita banyak, unik-unik dan menggelikan. Termasuk ceritanya soal kuliah ke Mesir tanpa ijazah dan masa kumpulnya bersama Gus Dur di sana.

Menjelang Zuhur saya pamit undur diri. Bukan tak ingin lebih lama bersama Gus Mus, tapi karena harus tahu diri. Lagian, saya sudah lapar banget. Dari pagi belum sarapan. Kalau terus berbincang, kapan saya makannya? Begitu gumam batin saya.

Tiba-tiba Gus Mus berkata, “Itu makan dulu, kamu kan sudah lapar banget. Itu di belakang, sudah disiapkan.”

Duh iyung! Jantung saya seketika berdentum. Mak tratap. Saya hanya kuasa menunduk-nunduk ketika melintasinya menuju meja panjang di balik rak buku yang telah dipenuhi jejeran nasi dan lauk pauk.

Saya pun makan dengan lahap. Sambil menekan hati dalam-dalam, jangan membatin apa pun, jangan ....

Monday, June 19, 2017

Da'wah Al habib Said Albid

Alhabib Umar Bin Muhammad Bin Salim Bin Hafidz menceritakan:
"Saya mendapatkan cerita dari seseorang yang sudah lanjut usianya, telah meninggal 3 tahun yang lalu, ia tinggal di negeri Uganda.

Orang tua tersebut berkata : "Saya mendapatkan surat dari seorang sayyid Al habib Said Albid dia menulis surat kepada saya dan bertanya : "Di negeri kamu ada orang yang beragama islam kah?"

maka saya menjawab : "tidak ada di negeriku orang islam selain aku,hanya aku saja yang beragama islam, masyarakatnya semua non muslim".

Maka Alhabib Said Albid Berkata: "Tolong, carikan saya tanah di negerimu itu ,saya Mau berdagang di negerimu & ingin pindah di kota itu". kampung tersebut namanya "arwak", berada di perbatasan kongo & zaire. "

Maka aku pun memilihkan tempat untuk di jadikan toko, dan habib itu tinggal di tempat itu. Jika sholat 5 waktu, hanya berdua saja, karena memang tidak ada seorang muslim pun bersama kita".

Kalau ada orang datang ke tokonya untuk membeli beras, maka habib itu menghadiahkan minyak juga, maka si pembeli pun berkata : "mengapa ketika saya membeli beras,engkau memberikan ku minyak juga???"

Dijawab oleh habib itu : "ketika engkau memasak beras , engkau pun juga butuh minyak untuk memasak bumbunya, maka ku berikan juga minyak nya untuk mu".

Kalau ada orang membeli Teh, maka habib itu menambahkan gulanya gratis diberikan pada sang pembeli itu.

Ditanya habib itu : "saya cuma membeli Teh,kenapa engkau memberikan saya gula juga???" Menjawab Habib Itu : Engkau pun akan memerlukan gula saat membuat teh.

Maka masyarakat situ terheran heran dengan kebaikan Habib Ini. maka orang orang pun bertanya tanya pada sang Habib :
"Engkau Tinggal disini untuk berdagang, namun mengapa engkau selalu memberi kepada kami bukan mencari keuntungan???

Setiap kali di tanya maka habib itu selalu berkata:
"Agama ku Mengajarkan Dan memerintahkan seperti ini dan itu.......". "Masyarakat pun bertanya : "apa agamamu yang mengajarkan dan memerintahkan seperti ini???" Maka di jawab oleh Habib Itu : Agama Ku ISLAM & dijelaskan kepada masyarakat itu tentang ISLAM.

Maka di negeri itu mulai tersebar tentang ISLAM,
Dari situ datanglah para sesepuh di negeri tersebut menemui Sang HABIB dan berkata:
Agama mu ini menarik, kami tertarik dengan agamamu,namun kami ini kan orang tua, kami ini jadi contoh masyarakat disini, kalo kami mengikuti agama mu, kami akan malu.

Maka berkata Habib Itu : "Kalo begitu, berikan anak anak kalian kepada ku, akan aku ajarkan yang baik baik". Mereka pun memberikan anak anak nya kepada habib itu untuk di ajarkan kebaikan.

Maka habib itu memulai dakwah nya dengan mengenalkan islam, mengajarkan ngaji, sholat dan akhlak akhlak yang mulia. Dan ketika keluarga mereka melihat perubahan pada anak anak nya semakin baik dan santun serta mulia akhlaknya kepada orang tua mereka, dan dalam lingkungannya.

Maka para sesepuh pun, menemui habib itu dan ingin mengikuti agama islam.

Maka ketika semakin banyak masyarakat yang memasuki agama islam, mulailah didirikan MASJID dan sholat jumat berjamaah di masjid itu.

Dan alhamdulillah saya(alhabib umar bin hafidz) sudah datang ke negeri tersebut, saya ditunjukkan ini toko nya dulu dan masjid yang didirikannya untuk sholat jumat.negeri tersebut karena terlalu jauh dari kota, maka tidak ada sumber listrik memasuki negeri itu, dan kalo malam tiba, mereka memakai obor untuk menunjukkan tempat tempat itu.

Ketika Muslimin telah tersebar dikota itu dan sholat jumat juga telah berjalan. Maka alhabib said albid berkata kepada temannya: "Di negeri ini muslimin telah tersebar luas dan sholat jumat telah berjalan. beritahukan saya suatu negeri lagi yang tak ada muslimin disana, saya ingin pindah ke sana".

Catatan :
"Hingga saat ini di negeri arwak 100% penduduknya semuanya beragama ISLAM". Inilah cara berda'wah yg di ajarkan oleh Rosululloh SAW. Jalannya para salafunashsholihin.
Jika ingin menyenangkan hati Nabi, teladanilah cara berda'wahnya para salaf, jgn hanya cari lahan basah.

Allahuma sholi 'ala sayidina

Tuesday, February 28, 2017

KAPASITAS AIR DUA KULLAH

Alhamdulillah, acaranya berjalan dengan lancar.

Tadi sore, di aula Al-muktamar, kami mengadakan pelatihan dakwah untuk para delegasi Safari Ramdhan yang ditutori oleh KH. Azizi Hasbullah, Blitar.

Dalam sesi tanya jawab, seorang santri bernama Abdur Rozaq asal Madura bertanya:

"Di daerah saya, masih banyak anak muda yang (mohon maaf) menggunakan narkotika, minuman keras, sabu-sabu dan lain sebagainya. Bahkan hal itu sudah menjadi sesuatu yang sangat lumrah di kalangan pemuda seumuran saya.

Nah, yang saya tanyakan, berangkat dari keterangan yang saya baca di makalah Bpk. KH. Azizi, bahwa: Dalam berdakwah kita harus bisa berbaur pada seluruh lapisan masyarakat. Ya, yang tua, ya, yang muda.

Apakah dalam kasus anak muda di daerah saya ini juga sama? Jadi saya harus berbaur. Maksud saya ... "

Audiens sejenak tertawa.

"Ya seperti itulah. Mohon penjelasannya."

Meski pertanyaan itu ditujukan pada Kiai Azizi, namun secara alamiah, kita yang ikut mendengarkan serasa ingin ikutan menjawab. Tentu ada banyak kemungkinan jawaban. Mereka yang hadir mulai menebak-nebak, bagaimanakah tutor yang kerap dijuluki macan Lirboyo itu akan menjawab. Dengan penggambaran yang mudah dicerna, beliau menjawab:

"Air yang berkapasitas kurang dari dua kullah, jika kemasukan najis, maka airnya menjadi najis. Tapi jika air tersebut lebih dari dua kullah, maka air tersebut akan tetap murni. Sekarang kira-kira kapasitas kita termasuk yang sudah lebih dari dua kullah, apa belum?"

Nun disana, saudara Abdur Rozaq, tersimpul-simpul senyumnya.

"Jika belum, lebih baik jangan berbaur. Bisa-bisa kita yang akan terjerumus." lanjut beliau. "Cara yang tepat menanganinya, cukup mendekati, lalu sebisa mungkin mengajak. Tentunya dengan akhlak yang baik dan sopan."

Perlahan, jika mereka sudah mau berangkat ke pengajian, mereka juga tahu hukum dari apa yang mereka perbuat.

***

Dalam kesempatan itu, beliau Kiai Azizi berulang kali menuturkan, sebagaimana yang dulu pernah didawuhkan salah satu masyayikh Lirboyo, bahwa:

"Kita tidak perlu memperkenalkan identitas kita sebagai warga nahdliyyin. Cukup mempraktekan amaliah kesehariannya saja. Memperkanalkan adab. Cara bergaul, melaksanakan ibadah-ibadah sunnah dan lain sebagainya. Karena dakwah 'bil hal' jauh lebih utama dari dakwah 'bil lisan'.."

Semoga bermanfaat.

*Salam santri Nusantara.