Showing posts with label kitab. Show all posts
Showing posts with label kitab. Show all posts

Sunday, September 3, 2023

Fakta-fakta tentang al-Imam al-Ghazali yang jarang diketahui orang

Fakta-fakta tentang al-Imam al-Ghazali yang jarang diketahui orang. Kalau Gus Ulil Abshar Abdalla pasti sudah tahu:

1. ia pakar perbandingan agama. Dalam bidang ini al-Ghazali menulis kitab: al-Radd al-Jamil Li Ilahiyati Isa Bi Sharih al-Injil (Counter wacana yang baik untuk Ketuhanan Isa Perspektif Kitab Injil)

2. Dia tidak memiliki anak laki-laki tetapi nama kunyahnya adalah Abu Hamid (bapaknya Hamid). Kata Ulama kenapa mendapat panggilan ini sebab banyak mengucap hamdalah atau karena alasan tafaulan.

3. Sosok ulama multilangual (menguasai beberapa bahasa). al-Ghazali bukan hanya menguasai bahasa arab tetapi juga persia. Bukunya yang berjudul: al-Tibr al-Masbuq fi Nashihah al-Muluk yang berisi pandangan al-Ghazali tentang Politik dan Pemerintahan berbahasa Persia. Sekarang yang kita baca sudah versi terjemah dalam bahasa Arab. Konon ia juga menguasai bahasa Ibrani alasannya dalam kitab al-Radd al-Jamil, ia banyak mengadaptasi bahasa Ibrani.

4. Pernah dipuji gurunya. saat al-Ghazali merilis kitab al-Mankhul min Ta'liqah al-Ilm al-Ushul ia dipuji guru besarnya, al-Haramain. Bahkan sang guru berkata: "Kitabmu ini menenggelamkan namaku. Tidakkah kau sabar sebentar. Kepopularan Kitabmu menenggelamkan kitabku"

5. al-Ghazali lahir dari keluarga orang biasa. Ayahnya hanya seorang pedagang di pasar tetapi ia mencintai para alim ulama dan sering hadir di majelis debat atau bahtsul masail ulama untuk menyaksikan para alim berdiskusi sembari dalam hati kecilnya terus menangis agar ia dikaruniai seorang anak seperti mereka. Benar saja, lahir al-Ghazali yang namanya terus dibicarakan hingga hari ini.

Kisah di atas diadaptasi dari buku: Suluk Teladan: Keulamaan, Kearifan dan Keteladanan Ulama Ushul FIqh. Pesan buku tersebut dengan bonus tanda tangan penulisnya di sini: https://shp.ee/qkch75k. Tabik.

Ahmad Husain Fahasbu

Sunday, August 20, 2023

Kitab ushul fiqh

Tangga mempelajari kitab ushul fiqh, versi guru ushul fiqh kami di Universitas Al-Azhar, Syekh Prof. Dr. Ahmad bin Ali al-Adawi (Guru Besar Ushul Fiqh di Fakultas Syariah dan Hukum Al-Azhar, Kairo) :

(1). Matan al-Waraqat karya Imam Al-Haramain, sekaligus syarah dari Imam Al-Mahalli.

(2). Matan al-Luma’ karya Al-Ustadz Abu Ishaq As-Syirazi.

(3). Ghoyatul Wushul karya Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari, atau Jam’ul Jawami’ karya Imam As-Subki, atau Minhajul Wushul karya Imam Al-Baidhawi.

Tanbih : Syarah Jam’ul Jawami’ yang digunakan beliau adalah : Al-Badru At-Thali’ karya Al-Mahally dan Tasynif al-Masami’ karya Az-Zarkasyi.

Faidah : Untuk syarah terhadap Minhajul Wushul, beliau merekomendasikan Syarh dari Al-Halwa’i, sebuah syarah yang meringkas penjelasan Al-Isnawi dalam Nihayah as-Suul, dan penjelasan Al-‘Ibri dalam syarah Minhaj-nya. Kelebihan syarah ini bisa dilihat dari sedikitnya munaqasyah yang di bawakan penulis.

(4). Mukhtasar Muntaha as-Suul, karya Imam Ibnul Hajib.

“Kalau sudah sampai pada Mukhtasar Ibnul Hajib, maka engkau layak disebut Syaikh fil Ushul” ungkap beliau.

Saya bertanya : “Bagaimana dengan al-Khulasoh karya Syekh Muhammad Hasan Hitto?” Jawaban beliau : “Al-Waraqat sudah mencukupi. Karena, biasanya saya menjelaskan Al-Waraqat, sudah mencakup kandungan dari Al-Khulasoh”

Syekh Dr. Ahmad bin Ali al-Adawi adalah seorang ushuli yang memiliki sikap tawadhu’ dan istiqamah yang luar biasa. Jiwa ke-istiqamah-an mengajar beliau sangat tidak terkalahkan, entah ketika mengajar di kampus, atau diluar kampus.

Sudah berapa banyak beliau mengkhatamkan kitab-kitab ushul fiqh bersama para thullab Al-Azhar. Beberapa kitab ushul yang sudah beliau khatam kan, dan diunggah di youtube :

(-) Syarh Waraqat karya Imam Al-Mahalli.

(-) Al-Khulasoh Fi Ushul al-Fiqh, karya Syekh Muhammad Hasan Hittou.

(-) Al-Luma’ karya Al-Ustadz Abu Ishaq As-Syirazi.

(-) Al-Lubab fi Ushul al-Fiqh, karya Syekh Shafwan Adnan Dawudi.

(-) Al-Badru At-Thali’ Syarh Jam’u al-Jawami’, karya Imam Al-Mahalli.

(-) Tasynif al-Masami’ Syarh Jam’u al-Jawami’, karya Imam Az-Zarkasyi.

Sekarang ini, beliau sedang menemani kami dalam menjelaskan kandungan Minhajul Wushul karya Imam Al-Baidhawi setiap 2 minggu sekali. Dan sedang mengajarkan Al-Mustashfa karya Imam Ghazali dan Syarh Badakhsyi ala Minhaj kepada para pelajar-pelajar wafidin lainnya. Dalam waktu dekat ini, beliau akan mengkhatamkan Syarh Al-‘Adhud ala Mukthasar Muntaha as-Suul.

Ini adalah channel youtube yang memuat rekaman penjelasan beliau terhadap kitab-kitab ushul fiqh diatas :

https://youtube.com/@user-ex3fp4rk5n

Dichannel itu, tersimpan juga kajian beliau terhadap kitab Ihkam al-Ahkam Syarh Umdah al-Ahkam, karya Ibnu Daqiq Al’-Ied, dan sudah di khatamkan.

Semoga beliau dijaga oleh Allah SWT dalam keadaan sehat wal’afiat, dan semoga kita diberikan himmah wal istiqamah, sehingga kita mampu untuk bermulazamah dan beristifadah kepada-nya.

Tuesday, January 29, 2019

APA BEDANYA “SYARAH” DENGAN “HASYIYAH”?

APA BEDANYA “SYARAH” DENGAN “HASYIYAH”?

Oleh; Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

***

Secara umum bisa dikatakan bahwa “syarah” (الشرح) dan “hasyiyah” (الحاشية) itu bisa saja dibedakan, akan tetapi tetap akan sangat susah dipisah tegas karena memang ada banyak sisi yang beririsan. Karenanya, banyak orientalis Barat yang menganggap dua macam gaya karangan ini sama saja karena begitu tidak mudahnya menemukan titik-titik perbedaan di antaranya keduanya.

Dalam bahasa singkat bisa dikatakan bahwa “syarah” adalah penjelasan dari sebuah kitab “matan”. Adapun “hasyiyah”, ia merupakan penjelasan dari “syarah” itu. Dengan kata lain “hasyiyah” adalah “syarah”nya “syarah”.

Kita ambil contoh umpamanya kitab “matan” Abu Syuja’ (penjelasan definisi “matan” silakan dibaca catatan saya yang berjudul “Mengenal Berbagai Macam Gaya Penulisan Kitab Fikih”). Kitab ini dijelaskan dan diuraikan isinya oleh Ibnu Qosim Al-Ghozzi dalam kitab yang bernama “Fathu Al-Qorib”. Oleh karena kitab “Fathu Al-Qorib” adalah penjelas “matan” Abu Syuja’ maka bisa kita katakan bahwa kitab “Fathu Al-Qorib” adalah kitab “syarah”. Kemudian kitab “Fathu Al-Qorib” ini di”syarah” lagi oleh Al-Bajuri dalam karya yang terkenal dengan nama “Hasyiyah Al-Bajuri”. Oleh karena karya Al-Bajuri itu adalah penjelasan dari sebuah “syarah”, maka karyanya kita golongkan dalam kitab “hasyiyah”. Demikianlah gambaran umum perbedaan antara “syarah” dengan “hasyiyah”.

Adapun perbedaan lebih detail, berikut ini akan dipaparkan karakteristik utama “syarah” dan “hasyiyah” sehingga dengan demikian akan lebih terlihat titik-titik perbedaan dan persamaan di antara keduanya.

“SYARAH”

“Syarah” adalah komentar penjelas (explanation commentary) untuk sebuah kitab “matan”. Lafaz “syarah” dijamakkan menjadi syuruh (الشروح). Ulama yang mengarang kitab “syarah” disebut dengan syarih (الشَّارِح).

“Syarah” melaksanakan tugas “tafshil mujmal” (memerinci yang global), “tabyin mubham” (menjelaskan yang belum jelas), “taqyidul muthlaq” (membatasi yang masih mutlak), “tash-hihul khotho’ (mengoreksi kesalahan), “fakkul ‘ibaroh” (menyibak makna ungkapan), dan “ta’lilat” (memberikan reasoning-reasoning). “Syarah” juga menyajikan “i’tirodhot” (sanggahan-sanggahan/keberatan-keberatan/objections). Kadang “syarah” juga memperkuat penjelasan “matan” dengan cara menyajikan dalil-dalil, istinbath dan wajhul istidlal. Kadang “syarah” juga memperluas bahasan dengan cara membahas “ushul” (dasar-dasar) yang dipakai oleh pengarang matan dalam menurunkan hukum-hukum cabang. Kadang pengarang “syarah” juga mengkritik beberapa cara penyajian yang ditulis oleh pengarang “matan”. Kadang “syarah” juga menonjol dalam memberikan contoh-contoh penjelas (“amtsilah”) dan “syawahid”.

Mengkaji “syarah” adalah tingkatan/level kedua setelah pelajar mengkaji “matan”. Orang yang sudah bisa membuat “syarah” dan sanggup menyajikan “i’tirodhot”, artinya dia sudah mencapai level ulama, karena dia sudah mampu membaca kritis yang sifatnya bertanggungjawab dan berargumentasi. Bahkan bisa dikatakan, orang yang sudah mencapai level men”syarah” sesungguhnya dia sudah merasakan dirinya selevel dengan pengarang kitab yang di”syarah”i sehingga sanggup menyajikan keberatan-keberatan. Karena itulah, orang yang membaca kitab “syarah”, levelnya bukan lagi orang yang sedang menimba ilmu untuk pertama kali, tapi level yang sudah masuk ke alam pikir seorang ulama yang sedang mendebat ulama yang lain dan cara ulama tersebut membaca pikiran ulama lain.

Adapun teknik penulisan “syarah”, maka para ulama menempuh jalan yang berbeda-beda. Ada ulama yang menulis “syarah” dengan cara langsung dicampur dengan “matan”. Untuk kepentingan pembedaan, “matan” hanya ditandai dengan cara diletakkan di dalam kurung. Cara ini dipakai oleh Ibnu Qosim Al-Ghozzi saat mengarang “Fathu Al-Qorib” (“syarah” “matan” Abu Syuja’). Kadang cara yang ditempuh adalah dengan mengutip terlebih dahulu satu kalimat dalam kitab “matan” atau satu paragraf, kemudian baru di”syarah”. Cara ini dilakukan oleh Ibnu Qudamah saat menulis kitab “Al-Mughni” (“syarah” “Mukhtashor Al-Khiroqi”). Terkadang, pengarang sengaja tidak mengutip “matan” secara lafaz, tetapi hanya mementingkan maknanya sehingga yang ditulis juga hanya makna “matan”. Ini adalah cara Al-Mawardi saat mengarang “Al-Hawi Al-Kabir” (“syarah” “Mukhtashor Al-Muzani”) termasuk juga cara Al-Juwaini saat mengarang “Nihayatu Al-Mathlab” (“syarah” “Mukhtashor Al-Muzani”).

Dari sisi tingkat keluasan penjelasan, “syarah” ada yang ringkas (wajiz), pertengahan (mutawassith) dan ada yang panjang lebar (muthowwal/mabsuth).

“HASYIYAH”

“Hasyiyah” (الحاشية)/”note” adalah penjelas “syarah”. Dengan kata lain bisa dikatakan “hasyiyah” adalah “syarah” untuk “syarah”. “Hasyiyah” dijamakkan menjadi “hawasyi” (الحواشي). Ulama yang mengarang kitab “hasyiyah” disebut “muhasysyi” (الْمُحَشِّيْ) dan aktifitasnya disebut “tahsyiyah” (التحشية). Istilah yang sinonom dengan “hasyiyah” atau mendekatinya adalah “ta’liq”/”ta’liqoh”, “qoul ‘ala”, “kalam ‘ala”, “nukat/tankit”, “thorroh/thuror”, dan “taqrir” . “Hasyiyah” biasanya diletakkan pada pinggir kitab. Peletakan dipinggir ini sesuai dengan makna bahasa “hasyiyah” yang memang secara bahasa bisa dimaknai “catatan pinggir”. Kadang hasyiyah juga diletakkan di bawah kitab.

Makna asal “hasyiyah” adalah seperti ini, lalu dikalangan mutaakhirin ada yang memperluas makna istilah “hasyiyah” sehingga sebagian dari mereka ada yang menggunakan istilah “hasyiyah” dengan makna “syarah”. Jadi tidak usah heran jika ada kitab yang dinamai “hasyiyah”, tapi isinya sama dengan “syarah” atau mirip dengan “syarah”. Kadang “hasyiyah” juga langsung disebut “syarah” jika isinya memang seperti “syarah”. “Hasyiyah” kadang juga ditulis hanya untuk mentakhrij ayat, hadis dan “syarah” kata-kata sulit.

Di zaman sekarang, “hasyiyah” kadang juga dimaknai “footnote”. Tapi istilah yang lebih populer untuk “footnote” adalah “hamisy” (الهامش) -yang dijamakkan menjadi “hawamisy”-, bukan “hasyiyah”.

“Hasyiyah” pasti muncul sesudah “syarah”. Tidak mungkin ada “hasyiyah” yang dikarang sebelum “syarah”, karena hakikat “hasyiyah” adalah “syarah” untuk sebuah “syarah”.

Ciri utama “hasyiyah” adalah tidak mengomentari semua ungkapan dalam kitab yang di”hasyiyah”i. Penulis “hasyiyah” hanya mengomentari hal-hal yang dianggap perlu saja. Titik ini menjadi perbedaan terpenting dengan “syarah”, karena “syarah” itu menyajikan seluruh “matan” kemudian dijelaskan, sementara “hasyiyah” hanya menyajikan sebagian saja, tidak semuanya. Sebagai konsekuensinya, “syarah” akan selalu memperhatikan “munasabah” (kesesuaian konteks) antara satu bagian dengan bagian yang lain, sementara “hasyiyah” tidak. Sangat biasa jika dalam “hasyiyah” itu antara penjelas satu hal dengan yang lain terputus sama sekali. Dengan deskripsi demikian, berarti bisa disimpulkan bahwa umumnya “hasyiyah” seharusnya pasti lebih kecil/tipis daripada “syarah” jika yang di”syarah” dan di”hasyiyah”i adalah kitab yang sama.

“Hasyiyah” tidak selalu berupa komentar terhadap “syarah”. “Hasyiyah” bisa juga komentar terhadap “matan”. Hanya saja ciri utama “hasyiyah” tetap terwujud, yakni hanya mengomentari yang dianggap perlu. Tidak mengomentari semua isi kitab.

Umumnya “hasyiyah” ditulis ulama bukan untuk dipublikasikan secara khusus, tetapi untuk koleksi pribadi agar lebih memudahkan mengkaji atau mengajarkan kitab. Memang, kemunculan “hasyiyah” biasanya diawali dari seorang ulama yang mengkaji sebuah kitab, atau mengajarkannya, atau memuroja’ahinya, lalu timbul “khowathir” (lintasan-lintasan ilmu), “thoro-if” (ilmu-ilmu unik), “nukat” (ilmu-ilmu halus), dan “lafatat jamilah” (catatan-catatan yang menarik perhatian nan indah).

Kemudian generasi berikutnya, setelah tahu nilai ilmu “hasyiyah” seperti ini, mereka memandang penjelasannya yang sangat berharga itu terasa sayang jika dibiarkan hanya menjadi catatan pribadi. Dari situ itu, “hasyiyah” tersebut kemudian dipisah-sendirikan dan disebarkan sebagai karya mustaqill. Oleh karena itu, sering kita temui dalam penjelasan karya-karya ulama ungkapan seperti, “lahu hasyiyah ‘ala kadza jurridat fi mujallad” (beliau mengarang “hasyiyah” untuk kitab “X” yang dipisahkan menjadi kitab tersendiri dalam satu jilid).

Berdasarkan paparan di atas, bisa dipahami bahwa dalam konteks tingkat kedalaman ilmu, “hasyiyah” itu umumnya lebih tinggi daripada “syarah”. Karena orang yang menulis “hasyiyah”, sudah pasti telah mengkaji “matan” dan mengkaji “syarah”. Tidak mungkin orang bisa menulis “hasyiyah” jika tidak paham betul apa isi “matan” dan apa isi “syarah”nya. Jadi pengarang “hasyiyah” adalah ulama yang sanggup mengkaji kritis ilmu penulis “matan” dan ilmu penulis “syarah” sehingga kadang-kadang setuju dengan penulis “matan + syarah” dan menguatkannya, kadang-kadang juga bisa tidak setuju dengan penulis “matan +syarah” dan membantahnya. Pengarang “hasyiyah” juga bisa berpendapat untuk menambahkan sejumlah hal yang belum dijelaskan oleh penulis “syarah”. Dengan demikian, pekerjaan penulis “hasyiyah” kalau di zaman sekarang adalah bagaikan seorang editor isi. Hanya saja, kualitas seorang pengarang “hasyiyah” bukan sekedar seperti editor isi formalitas, tapi editor isi yang sangat serius mengkaji paragraf demi paragraf, kalimat demi kalimat, bahkan kata demi kata sehingga sanggup menemukan hal-hal yang bahkan tidak sanggup ditemukan oleh penulis “syarah”.

Oleh karena ketinggian tingkat informasi dalam “hasyiyah” seperti ini, maka hanya pengkaji level “expert” yang bisa “menelan” “hasyiyah”. Untuk pemula jelas akan kesulitan.

Sudah dikenal sejak zaman dulu bahwa pelajar pemula akan dianggap menyia-nyiakan waktu jika langsung mencoba menelaah “hasyiyah”. Hal itu karena ungkapan-ungkapan yang dipakai dalam “hasyiyah” memang diperuntukkan untuk pengkaji fikih level tinggi. Bagi pemula, seharusnya mereka mempelajari “matan”/muktashor dan menghafalnya, lalu naik ke “syarah”, bukan langsung mengkaji “hasyiyah”. Ahmad bin Hasan Al-‘Atthos (w.1334 H) berkata,

مَنْ قَرَأَ الْحَوَاشِي مَا حَوَى شَيْ

“Barangsiapa (di kalangan pemula) mengkaji “hasyiyah”, maka dia tidak akan mendapatkan apa-apa”

“Hasyiyah” hanya akan bermanfaat bagi orang yang level keilmuannya sudah tingkat lanjut/advanced, karena hal-hal yang umumnya sudah diketahui oleh pelajar tingkat lanjut tidak akan diterangkan oleh pengarang “hasyiyah”. Pengarang “hasyiyah” hanya akan menerangkan hal-hal yang paling sulit sehingga tetap bermanfaat bagi pelajar tingkat lanjut itu.

Adapun dari sisi fungsinya, -mirip “syarah”-, “hasyiyah” juga melakukan aktifitas “tafshil mujmal” (memerinci yang global), “tabyin mubham” (menjelaskan yang belum jelas), “taqyidul muthlaq” (membatasi yang masih mutlak), “tash-hihul khotho’ (mengoreksi kesalahan), “fakkul ‘ibaroh” (menyibak makna ungkapan), dan “ta’lilat” (memberikan reasoning-reasoning). Dalam “hasyiyah” terkadang juga disajika “ziyadat” (tambahan-tambahan) yang tidak dibahas oleh “syarah”. Jadi bisa juga dikatakan bahwa “hasyiyah” itu sifatmya melengkapi kekurangan “syarah”, mengoreksi penjelasan kelirunya, atau memperjelas ungkapan yang masih ambigu atau sulit dipahami/terpecahkan (mughlaq). Penjelasan lafaz yang dianggap susah ini biasanya menjadi ciri yang menonjol dari “hasyiyah”.

رحم الله علماءنا رحمة واسعة
اللهم اجعلنا من محبي العلماء الصالحين

Versi Situs: http://irtaqi.net/2019/01/29/apa-bedanya-syarah-dengan-hasyiyah/

***
23 Jumada Al-Ula 1440 H

Sunday, December 30, 2018

KENAPA LAHIR KARYA-KARYA BESAR? SEPERTI INILAH ULAMA MENGATUR WAKTUNYA

KENAPA LAHIR KARYA-KARYA BESAR? SEPERTI INILAH ULAMA MENGATUR WAKTUNYA

Al-Imam Abu Yusuf Al-Qadhi mengatakan, “Salah seorang anakku meninggal dunia, tapi aku tidak bisa menghadiri pengurusan dan pemakamannya. Aku serahkan semua itu kepada kerabat dan tetanggaku. Karena aku khawatir ketinggalan pelajaran bersama Al-Imam Abu Hanifah. Kalau sampai ketinggalan, kesedihanku tidak akan pernah berakhir.”

Ubaid bin Ya’isy mengatakan, “Selama 30 tahun aku tidak pernah makan malam sendiri dengan tanganku. Selalu saja saudara perempuanku yang menyuapiku, sedangkan aku tetap menulis hadits-hadits Rasulullah saw.”

Ibnu Sahnun mempunyai seorang pembantu hamba sahaya. Setelah menyiapkan makan malam, pembantu mempersilahkan beliau makan. Karena tuannya tak kunjung makan, pembantu pun menyuapinya. Ibnu Sahnun terus saja membaca dan menulis hingga datang waktu subuh. Dia pun berkata, “Ayo mana makan malamnya?” Pembantu menjawab, “Loh, bukannya sudah aku suapi tadi?” Ibnu Sahnun menjawab, “Benarkah? Aku tidak merasa.”

Al-Imam Ath-Tabari pernah berkata kepada para pencatat buku, “Maukah kalian aku diktekan buku tafsir?” Mereka balik bertanya, “Memang berapa besar tafsirnya?” Ath-Thabari menjawab, “30 ribu lembar.” Mereka pun menolak, “Oh tidak. Ini adalah pekerjaan yang tidak akan pernah selesai walaupun sampai kami meninggal dunia.” Maka Ath-Thabari pun meringkasnya hingga bertebal 3 ribu lembar. Tafsir itu lalu didiktekan selama 7 tahun.

Seluruh tulisan Al-Imam Ath-Thabari berjumlah 358 ribu lembar. Beliau meninggal dunia dalam umur 86 tahun. Jika saja beliau sudah mulai menulis sejak umur 14 tahun, maka setiap harinya beliau menulis 14 lembar.

Al-Hafizh Al-Muhaddits Ibnu Syahin telah menulis 330 judul buku. Di antara yang besar adalah buku tafsir yang ditulisnya dalam seribu juz, buku hadits dalam seribu juz, buku sejarah dalam 150 juz, dan buku zuhud dalam seratus juz. Ibnu Syahin telah menulis ilmu yang belum pernah dicapai oleh siapapun manusia di atas bumi.

Imamul Haramain Al-Huwaini mengatakan, “Aku tidak membiasakan kapan tidur dan makan. Aku tidur hanya ketika ketiduran. Aku makan hanya ketika sedang ingin makan.” Kesenangan beliau adalah membaca dan berguru kepada siapa saja. Bahkan pada umur 50 tahun beliau masih mau belajar ilmu nahwu, sebuah ilmu yang sangat dasar dalam kaidah bahasa Arab.

Ibnu Aqil Al-Hanbali adalah ulama yang sangat membaca dan menulis. Waktu sangat beliau jaga. Sampai-sampai makanan pun beliau pilih yang lembut-lembut agar cepat menelannya. Kalau hanya ada roti yang didapatinya, maka beliau akan siram roti itu dengan air agar lembut dan langsung ditelan. Hal itu demi menghemat waktu untuk mempelajari ilmu agama.

Perjuangan para ulama dan santri demikian besar. Tak heran jika umat Islam adalah umat yang paling kaya dengan khazanah keilmuannya. Bagaimana dengan ulama dan santri saat ini, apakah bisa mengulangi kejayaan keilmuan masa lalu? (sof1/mukjizat.co)

Wednesday, October 17, 2018

KITAB-KITAB AN-NAWAWI YANG TIDAK TUNTAS DITULIS

KITAB-KITAB AN-NAWAWI YANG TIDAK TUNTAS DITULIS

Oleh; Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)
***

Manusia bisa saja memiliki rencana, tetapi Allah-lah yang menakdirkan. Tidak semua keinginan manusia (yang baik sekalipun) bisa terwujudkan karena kematian lebih cepat menyambarnya. Hal seperti ini terjadi juga pada An-Nawawi. Ada sejumlah kitab yang mana An-Nawawi bertekat menuliskannya sampai tuntas, tetapi datangnya ajal menghalangi beliau untuk menuntaskannya sehingga sampai hari ini peninggalan An-Nawawi itu tersimpan di rak-rak perpustakaan kaum muslimin dalam bentuk kitab yang tidak tuntas. Kisah An-Nawawi ini seharusnya sekaligus menjadi pelajaran penting bagi kita, bahwa jika kita punya niat kebaikan, bersegeralah melakukannya tanpa menunda (mubadaroh), karena kita tidak tahu kapan Allah memutuskan untuk mencabut nyawa kita.

Dari sisi ketuntasan, kitab-kitab An-Nawawi sebenarnya ada tiga macam.

Pertama, kitab-kitab yang ditulis secara tuntas seperti kitab “Al-Arba’in An-Nawawiyyah”, “Riyadhu Ash-Sholihin”, “Al-Adzkar”, “Roudhotu Ath-Tholibin”, dan semisalnya

Kedua, kitab-kitab yang tidak tuntas tertulis karena Allah keburu mewafatkan An-Nawawi, seperti kitab Al-Majmu’ yang merupakan syarah kitab Al-Muhadzdzab karya Asy-Syirozi.

Ketiga, kitab-kitab yang telah ditulis oleh An-Nawawi tapi kemudian An-Nawawi berubah pikiran dan memutuskan untuk menghapusnya. Motivasi menghapus kitab yang sudah ditulis ini hanya Allah dan An-Nawawi yang tahu. Bisa jadi karena An-Nawawi kuatir dengan niatnya, bisa jadi ada konten ilmu yang kurang akurat, atau sebab-sebab yang lain. Yang jelas, jenis kitab kategori ketiga ini memang ada sebagaimana diceritakan oleh murid An-Nawawi yang bernama Ibnu Al-‘Atthor berikut ini,

ولقد أمرني مرة ببيع كراريس نحو ألف كرَّاس بخطه، وأمرني بأن أقف على غسلها في الورَّاقة، وخوَّفني إن خالفت أمره في ذلك، فما أمكنني إلا طاعته، وإلى الآن في قلبي منها حَسَراتٌ (تحفة الطالبين في ترجمة الإمام محيي الدين (ص: 94)

“Sungguh, suatu saat beliau memerintahkan kepadaku untuk menjual kurrosah-kurrosah (satu bendel lembaran yang berisi 10 waroqoh/lembaran kertas) sekitar 1000 kurrosah yang bertuliskan tangan beliau sendiri. Beliau memerintahkan aku agar menghapus tulisan pada kurrosah-kurrosah itu pada seorang tukang salin kitab. Beliau menakut-nakuti aku supaya aku tidak melanggar perintah beliau dalam hal itu. Jadi, aku tak kuasa kecuali menaatinya. Sampai sekarang di hatiku ada banyak penyesalan karena (hilangnya) tulisan-tulisan (berharga) itu” (Tuhfatu Ath-Tholibin, hlm. 94).

Berikut ini disajikan daftar enam belas kitab An-Nawawi yang disebut tidak selesai ditulis karena keburu wafat. Sekedar catatan tambahan, di antara manfaat mengetahui daftar ini adalah kita bisa lebih cepat dalam menentukan rujukan apa yang kita baca dari karya-karya An-Nawawi pada saat ingin mencari pembahasan tertentu. Jika kita ingin mencari pembahasan fikih yang ditulis An-Nawawi tentang hukum-hukum pernikahan misalnya, maka menjadi langkah yang keliru jika mencarinya di kitab Al-Majmu’ karena kitab ini pembahasannya hanya sampai bab riba (pendapat lain; bab Al-Mushorrot).

Kitab-kitab yang disebut tidak tuntas ditulis An-Nawawi adalah,

1. “Al-Majmu’” (المجموع). Kitab ini adalah syarah muthowwal untuk kitab Asy-Syirozi yang bernama “Al-Muhadzdzab”. Penulisannya hanya sampai bab riba (pendapat lain; sampai bab mushorrot). Lanjutannya diteruskan Taqiyyuddin As-Subki dan Al-Muthi’i. Resensi lebih detail kitab ini bisa dibaca pada artikel saya yang berjudul “Mengenal Kitab Al-Majmu’ Karya An-Nawawi”.

2. “At-Tahqiq” (التحقيق). Penulisannya hanya sampai bab solat musafir.

3. “At-Tanqih” (التنقيح). Kitab ini adalah syarah dari kitab “Al-Wasith” karya Al-Ghozzali. Penulisannya hanya sampai bab syarat-syarat salat.

4. “Daqo-iqu Al-Minhaj” (دقائق المنهاج). Penulisannya hanya sampai pada bab al-jiroh/luka-luka

5. “Daqo-iqu Ar-Roudhoh” (دقائق الروضة). Penulisannya hanya sampai pada bab salat.

6. “Khulashotu Al-Ahkam” (خلاصة الأحكام). Kitab ini ditulis hanya sampai bab zakat saja.

7. “At-Talkhish Syarhu Al-Jami’ Ash-Shohih li Al-Bukhori” (التلخيص شرح الجامع الصحيح للبخاري). Penulisannya hanya sampai bab “kitabul ilmi”.

8. “Al-Ijaz fi Syarhi Sunan Abi Dawud” (الإيجاز في شرح سنن أبي داود). Penulisannya hanya sampai bab wudhu.

9. “Tuhfatu Ath-Tholib An-Nabih” (تحفة الطالب النبيه). Penulisannya baru sampai bab haid. Masih berupa manuskrip.

10. “Jami’u As-Sunnah” (جامع السنة). Ditulis tidak sampai satu kurrosah. Masih berupa manuskrip.

11. “Muhimmatu Al-Ahkam” (مهمات الأحكام). Penulisannya baru sampai bab “thoharotu Ats-tsaub wa Al-badan”. Masih berupa manuskrip.

12. “Al-Ushul wa Adh-Dhowabith” (الأصول والضوابط). As-Suyuthi dalam “Al-Minhaj As-Sawiyy” menyebut kitab ini tidak selesai ditulis An-Nawawi. Saya belum mengerti alasan As-Suyuthi menyebut kitab ini belum tuntas. Edisi cetak yang ditahqiq Hitou mengesankan kitab ini sudah tuntas ditulis.

13. “Thobaqot Al-Fuqoha’” (طبقات الفقهاء). Barangkali lebih tepat kitab ini baru ditulis dalam bentuk “musawwadah”. Keterangan para penulis biografi An-Nawawi, Al-Mizzi-lah yang melalakukan “tabyidh” terhadap kitab ini. Penjelasan detail makna “tabyidh” dan “musawwadah” bisa dibaca pada artikel saya yang berjudul “Apa Makna ‘Tabyidh‘ Kitab?”

14. “Tahdzibu Al-Asma’ wa Al-Lughot” (تهذيب الأسماء واللغات). Kitab ini masih berbentuk “musawwadah”, lalu di”tabyidh” oleh Al-Mizzi.

15. “Al-Imla’ ‘ala Haditsi Al-A’mal bi An-Niyyat” (الإملاء على حديث الأعمال بالنيات). As-Suyuthi dalam Al-Minhaj As-Sawiyy menyebut bahwa An-Nawawi belum menuntaskan kitab ini. Bisa jadi nama lain dari kitab ini adalah “Al-Amali” yang disebut sebagai salah satu kitab An-Nawawi juga sebagaimana disebut para penulis biografi An-Nawawi. Masih berupa manuskrip.

16. “Bustanu Al-‘Arifin” (بستان العارفين). Kata Asy-Suyuthi dalam “ Al-Minhaj As-Sawiyy” An-Nawawi tidak menuntaskan kitab ini. Versi cetak yang ditahqiq oleh Al-Hajjar menampilkan bab terakhirnya adalah tentang “hikayat mustathrofah”

رحم الله النووي رحمة واسعة
اللهم اجعلنا من محبي العلماء الصالحين

Versi Situs: http://irtaqi.net/2018/10/17/kitab-kitab-nawawi-yang-tidak-tuntas-ditulis/

***
6 Shofar 1440 H

Tuesday, January 9, 2018

Download kitab NU

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام علی سيدنا رسول الله محمد بن عبدالله وعلی واله واصحابه ومن تبع هداه

BAGI YANG BERMINAT KITAB GRATIS, SILAHLAN.......JANGAN LUPA HADIAH FATEHAH-NYA UNTUK MU'ALIF

Bagi yang ingin menambah koleksi kitab, buku dan referensi Islam Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah. Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama mempersembahkan *KMNU E-Library* yang bebas diakses oleh siapapun:

Aswaja
https://drive.google.com/drive/u/2/mobile/folders/0B49krkb9SjaCNmZ4d08ybHgyd1U

E-Book NU
https://drive.google.com/drive/u/2/mobile/folders/0B49krkb9SjaCR08tNHNzZlA5Y0k

Kitab-Kitab Nusantara
https://drive.google.com/open?id=0B49krkb9SjaCeUVvYV9IX1RiOG8

Kitab-Kitab Fikih
https://drive.google.com/drive/folders/0B49krkb9SjaCUWhvQnByMVRPSzA

Kitab-Kitab Tafsir
https://drive.google.com/drive/folders/0B49krkb9SjaCUUM1RjhwdXl3MXM

Kitab-Kitab Hadits
https://drive.google.com/drive/folders/0B49krkb9SjaCOS1tRmNmclR5bE0

Kitab-Kitab Nahwu Shorof
https://drive.google.com/drive/u/2/mobile/folders/0B49krkb9SjaCZlRBN3VpeFg2YWc

Kitab-Kitab Tarikh
https://drive.google.com/drive/u/2/mobile/folders/0B49krkb9SjaCcjJ6ejdsQ3pYRXM

Kitab-Kitab Maulid ar-Rasul
https://drive.google.com/drive/u/2/mobile/folders/0B49krkb9SjaCTmpjZEpFYUxmWFE

Kitab-Kitab Tashowwuf
https://drive.google.com/drive/u/2/mobile/folders/0B49krkb9SjaCdzQyMm5iVWNRdVk

Kitab-Kitab Tauhid
https://drive.google.com/drive/u/2/mobile/folders/0B49krkb9SjaCdERKYW9nUk9HWlE

Nadzoman
https://drive.google.com/drive/u/2/mobile/folders/0B49krkb9SjaCSllfY1NNeGtfWlE

Kitab-Kitab Karya Imam Ghozali
https://drive.google.com/drive/u/2/mobile/folders/0B49krkb9SjaCQURIUzY3WDdlcEE

Kitab-Kitab Karya Abuya Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki
https://drive.google.com/drive/u/2/mobile/folders/0B49krkb9SjaCbUNqd3hJdHNRUjQ

*Mohon bantuannya membagikan pesan ini, semoga dapat memberikan manfaat bagi diri kita dan orang-orang yang membutuhkan nya  selamat mutalaah / membaca semoga jadi pahala ..

والسلام عليكم و رحمة الله وبركاته