Showing posts with label sufi. Show all posts
Showing posts with label sufi. Show all posts

Sunday, September 3, 2023

Fakta-fakta tentang al-Imam al-Ghazali yang jarang diketahui orang

Fakta-fakta tentang al-Imam al-Ghazali yang jarang diketahui orang. Kalau Gus Ulil Abshar Abdalla pasti sudah tahu:

1. ia pakar perbandingan agama. Dalam bidang ini al-Ghazali menulis kitab: al-Radd al-Jamil Li Ilahiyati Isa Bi Sharih al-Injil (Counter wacana yang baik untuk Ketuhanan Isa Perspektif Kitab Injil)

2. Dia tidak memiliki anak laki-laki tetapi nama kunyahnya adalah Abu Hamid (bapaknya Hamid). Kata Ulama kenapa mendapat panggilan ini sebab banyak mengucap hamdalah atau karena alasan tafaulan.

3. Sosok ulama multilangual (menguasai beberapa bahasa). al-Ghazali bukan hanya menguasai bahasa arab tetapi juga persia. Bukunya yang berjudul: al-Tibr al-Masbuq fi Nashihah al-Muluk yang berisi pandangan al-Ghazali tentang Politik dan Pemerintahan berbahasa Persia. Sekarang yang kita baca sudah versi terjemah dalam bahasa Arab. Konon ia juga menguasai bahasa Ibrani alasannya dalam kitab al-Radd al-Jamil, ia banyak mengadaptasi bahasa Ibrani.

4. Pernah dipuji gurunya. saat al-Ghazali merilis kitab al-Mankhul min Ta'liqah al-Ilm al-Ushul ia dipuji guru besarnya, al-Haramain. Bahkan sang guru berkata: "Kitabmu ini menenggelamkan namaku. Tidakkah kau sabar sebentar. Kepopularan Kitabmu menenggelamkan kitabku"

5. al-Ghazali lahir dari keluarga orang biasa. Ayahnya hanya seorang pedagang di pasar tetapi ia mencintai para alim ulama dan sering hadir di majelis debat atau bahtsul masail ulama untuk menyaksikan para alim berdiskusi sembari dalam hati kecilnya terus menangis agar ia dikaruniai seorang anak seperti mereka. Benar saja, lahir al-Ghazali yang namanya terus dibicarakan hingga hari ini.

Kisah di atas diadaptasi dari buku: Suluk Teladan: Keulamaan, Kearifan dan Keteladanan Ulama Ushul FIqh. Pesan buku tersebut dengan bonus tanda tangan penulisnya di sini: https://shp.ee/qkch75k. Tabik.

Ahmad Husain Fahasbu

Thursday, June 2, 2022

Petunjuk umum berguru dan bertareqat dalam ilmu tasawuf

Petunjuk umum berguru dan bertareqat dalam ilmu tasawuf

Dalam ilmu tasawuf. Guru itu ada 3 macam:

Pertama guru berkah, kita mengambil berkah pada semua ulama baik yang mengajarkan kita atau tidak, kadang alim, kadang juga ga alim, semua yang baik bisa kita ambil berkah. Sebagian mengatakan bahwa benda-benda pun bisa menjadi guru, selama bisa membuat kita belajar.

Kedua guru ilmiyah, kita memgambil ilmu dan berkah ilmu dari mereka. Mereka terbatas pada guru yang mengajarkan kita, dan tentu boleh lebih dari satu

Ketiga guru tareqah, merekalah guru yang membimbing sair kita menuju tuhan, mereka tempat kita menceritakan isi hati kita, menceritakan perubahan hati, spritual, dan segalanya. Mereka disebut juga mursyid. Dan kita tidak boleh mempunyai lebih dari satu mursyid. Karena dalam ilmu tasawuf siapa yang punya lebih dari satu mursyid maka ga akan wushul. Kalau kata imam syarany, ibarat istri yang memiliki 2 suami.

Saya pribadi sampai sekarang hanya menjalani satu tareqat saja, dari awal hanya satu, tidak berubah. Ga perlu saya menceritakan siapa guru saya, itu urusan saya sama tuhan. Yang pasti mu'tabar, ijazahnya jelas(baik am atau khas), gurunya jelas dan masyhur dikalangan mutakhasisin

Tentu sering saya ditawarkan untuk berbaiat irsyad, mulai dari yang mastur sampai pada wali masyhur dunia yang kayaknya ga ada yang ga kenal, bahkan jika ada yang mengatakan beliau ghaust, para ulama zahir akan menerimanya. Saya menghormati semuanya, saya akan menerima untuk ditalqin, saya akan menerima untuk baiat berkah, saya akan menerima wiridnya, saya menghormati dan tentu ingin ambil berkah dari semua orang baik itu.

Tapi garis merahnya adalah baiat irsyad, itu hanya satu, karena dalam ilmu tasawuf mursyid hanya satu, dan saya sudah punya mursyid, jadi saya akan menolak dengan baik dan memberi tahu bahwa saya punya guru. Dan semua mursyid yang beneran mursyid pasti paham ini, dan ga marah, karena mereka ga mengajak kita untuk berbaiat pada mereka, tapi pada allah dan rasulnya, jadi mau melalui jalur siapa saja tidak masalah. Jadi kita ambil berkahnya, tapi irsyad tetap dari mursyid kira, ibarat kata "mursyid kita itu ayah kita, sedangkan yang lain adalah paman kita"

Jika ada mursyid yang marah dengan itu, berarti kemungkinan besar dia bukan mursyid hakiki, karena ga paham kaidah dasar dalam ilmu tasawuf, kalau irsyad itu hanya sekedar wadhifah. Jadi kalau mau baiat ya baiat aja baiat berkah. Kalau irsyad, itu harus istikharah lama, biasanya mursyid kamil juga mengarahkan pada istikharah, ga langsung setuju, karena tugas irsyad itu tanggung jawab, bukan nambah-nambah pengikut.

Jadi tareqat itu bukan nambah-nambah pengikut, bukan mengajak agar orang-orang ikut tareqat kita, bukan bangga-banggaan guru saya ghaust atau qutub, tapi murni memperbaiki diri agar makin dekat dengan allah, bahkan jika guru kita bukan ghaust, hanya mursyid biasa, dikampung, jika seorang murid shadiq dalam thalab, bisa jadi membuatnya lebih dekat dengan allah bahkan dibanding dengan murid qutubuzzaman.

Jadi berhentilah bertariqat seperti itu adalah persaingan antar kelompok atau gagahan, tareqat itu bukan UCL, dimana saling mengalahkan dan membanggakan, tapi tareqat jalan menuju allah, dimana seharusnya saling menolong dan mendukung. Wallahualam

Thursday, December 13, 2018

Antara mengingat dan melupakan dosa

Imam Junaid, salah seorang ulama Sufi kenamaan, pernah bercerita:

Pada suatau hari, aku menemui Sari As-Saqiti yang sedang tertunduk sedih. Aku bertanya, “Apa yang terjadi padamu?

Ada seorang pemuda mendatangiku dan bertanya perihal taubat. Kemudian aku menjawab bahwa taubat itu tidak melupakan dosa yang pernah diperbuat. Tetapi pemuda tersebut tidak setuju. Ia berkata bahwa taubat itu adalah melupakan dosa yang pernah diperbuat.” jawab Sari As-Saqiti.

Kalau aku lebih setuju dengan perkataan pemuda itu.” kataku.

Bagaimana bisa demikian?” tanya Sari As-Saqiti mulai penasaran.

Sesungguhnya ketika aku dalam keadaan yang tidak menyenangkan kemudian Allah merubahku pada keadaan yang menyenangkan, maka mengingat-ingat hal yang tidak menyenangkan di dalam kondisi yang menyenangkan tersebut merupakan perbuatan yang tidak menyenangkan.” jelasku.

Akhirnya, Sari As-Saqiti terdiam seribu bahasa setelah mendengar penjelasanku tersebut.

_______________________

Disarikan dari kitab Kunuzis Sa’adatil ‘Abadiyyah Fil Anfasil ‘Aliyyatil Habasyiyyah karya Abu Bakar Al-‘Atthos bin AbdullahAl-Habsyi, hal. 194

Sunday, October 7, 2018

Perempuan suci dari sevilla

Kawan, pernah kuceritakan padamu mengenai seorang perempuan suci dari Mesir, Sayyidah Nafisah, guru dari Imam Syafi’i. Kali ini, perkenankan aku, masih dalam keadaan berwudhu, untuk bercerita tentang seorang perempuan suci dari Sevilla (sebuah kota di Spanyol), yang merupakan guru dari al-Syekh al-Akbar Ibn Arabi (1165-1240). Ini kisah lebih dari 750 tahun yang lalu.

Namanya Nunah. Atau lengkapnya Syaikhah Nunah Fatimah binti Ibn al-Mutsanna. Lahir di Cordoba Spanyol, namun kemudian beliau pindah ke Sevilla, dan bertemu dengan Ibn Arabi yang masih remaja saat itu. Syaikhah Nunah sudah berusia 90-an tahun, namun saat Ibn Arabi menatap wajahnya, Ibn Arabi melihat pancaran sinarnya yang begitu menakjubkan. Begitulah dunia spiritual itu, yang tua sinarnya bisa menyilaukan seperti terlihat masih muda, dan yang muda aura-nya bisa terlihat seperti orang tua penuh wibawa.

Syaikhah Nunah selalu ceria meskipun ia hidup dalam kondisi serba papa. Dan ketika muridnya bertanya, gurunya menjelaskan, “Aku merasa sangat senang karena Allah swt selalu memperhatikanku. Terlebih karena Dia telah menjadikanku sebagai salah satu kekasihNya. Siapalah aku ini sampai Allah memilihku. Aku heran dengan mereka yang mengaku mencintai Allah tapi tak bisa merasa gembira dengan apapun yang Allah berikan padaNya [baik suka maupun duka].” Rasa bahagia berdekatan dengan Allah telah mengalahkan segala duka dan nestapanya.

Pada titik ini, saya teringat ungkapan sufi yang lain: “bahkan jika Allah menyodorkan racun pahit untuk aku minum, akan aku terima dengan bahagia bagaikan meminum anggur termahal”. Ah….jauhhh…masih jauhhh diri ini mengikuti para kekasihNya.

Syaikhah Nunah mengingatkan muridnya bahwa Sang Kekasih itu sangat pencemburu. “Sesaat saja aku berpaling dariNya dan tak menyadari kehadiranNya maka aku akan mendapat cobaan yang sebanding dengan kelengahanku.” Inilah makna dzikir yang sesungguhnya: selalu mengingat Allah dalam setiap langkah kita, dan sebagai ganjarannya Allah akan selalu menemani langkah kita. Jangan coba-coba berpaling apalagi berkhianat pada Sang Kekasih. Inilah “kontrak” mereka dengan Sang Kekasih.

Ibn Arabi menuturkan bahwa dalam munajatnya, Syaikhah Nunah mendapat penawaran dari Allah berupa kerajaanNya namun ia menjawab, “Aku hanya inginkan Engkau oh Gustiku. Hanya Engkau. Segala sesuatu selainMu hanyalah kehampaan.”

Sebagai gantinya, Allah memberinya hadiah berupa surat al-Fatihah yang senantiasa melayani kebutuhannya. Kata Ibn Arabi, guruku itu “orang yang sangat penyayang terhadap semesta”. Mereka yang sudah mampu mengikuti langkah Nabi Muhammad sebagai rahmat semesta alam tentu sangat layak mendapat ‘hadiah’ langsung dari Allah.

Ibn Arabi menyaksikan sendiri manakala seorang perempuan mengadu kepada Syaikhah Nunah bahwa ia telah ditinggalkan suaminya yang pergi ke kota lain, maka untuk menolong perempuan yang menderita itu, Syaikhah Nunah membaca surat al-Fatihah. Lalu datanglah surat al-Fatihah menjelma dan berjasad dalam bentuk seperti awan. Maka Sang Syaikhah meminta Surat al-Fatihah untuk membawa suami perempuan itu kembali ke Sevilla. Setelah peristiwa itu terdengar kabar bahwa suami perempuan itu sudah berkumpul kembali bersama keluarganya dalam waktu tiga hari. Sewaktu ditanya, suami itu kebingungan dan tidak mengerti bagaimana hatinya berubah dan kemudian memutuskan kembali ke rumahnya. Inilah salah satu karamah Syaikhah Nunah.

Pernah pula Sang Guru kehabisan minyak untuk pelita tendanya. Lalu Syaikhah Nunah menyuruh Ibn Arabi mengambil bejana berisi air. Dicelupkanlah tangan Syaikhah Nunah ke dalamnya, dan dengan ijin Allah, air pun berubah menjadi minyak.

Kawan, dari kisah ini kita bisa belajar bahwa baik lelaki maupun perempuan punya hak yang sama untuk mendekati Allah swt.

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridaan Allah adalah lebih besar: itu adalah keberuntungan yang besar. (QS al- Taubah:72)

Para perempuan pun ada yang derajatnya begitu dekat dengan Allah. Dan para lelaki yang paham tidak akan segan-segan belajar dari para perempuan. Ibn Arabi mendapat ilmu, pelajaran dan barakah dengan berguru dan berkhidmat pada Syaikah Nunah, seperti yang diceritakan sendiri oleh Ibn Arabi dalam kitabnya al-Futuhat al-Makkiyyah dan Ruh al-Quds.

Untuk para perempuan suci yang menjadi kekasih Allah di Timur dan di Barat…al-fatihah….

Tabik,

 

Nadirsyah Hosen

Thursday, September 6, 2018

Ketika Syekh Abu Ishaq bertemu Sufi

Ketika Syekh Abu Ishaq bertemu Sufi

Ini sejumput cerita tentang seorang ulama besar bernama Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi (393–476 H/1003–1083 M). Nama lengkap ulama besar mazhab Syafi’i ini adalah Abu Ishaq Ibrahim bin Ali bin Yusuf bin Abdillah Asy-Syirazi Al-Fayruzabadi.

Kitab Al-Muhazzab karya Imam Abu Ishaq Asy-Syirazi adalah salah satu kitab rujukan utama dalam mazhab Syafi’i sampai abad ke 6 hijriah.

Al-Muhazzab banyak menjadi bahan kajian ilmiah bagi para ulama, sehingga muncul banyak karya ilmiah yang didasarkan darinya baik berupa Syarah dan Hasyiah. Yang paling termasyhur tentu saja kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab karangan Imam Nawawi.

Suatu ketika Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi menjadi utusan Khalifah ke Bastam dalam menyelesaikan ketegangan yang terjadi antara Sultan Malik Syah dengan ‘Amid Abu al-Fath bin Laits, seorang pejabat di Iraq. Demikian dikisahkan dalam al-Kamil fit Tarikh (juz 8, halaman 283). Ini artinya Khalifah al-Muqtadi sangat mempercayai Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi.

Nama besar Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi, sebagai utusan Khalifah, menjadi magnet tersendiri. Para ulama keluar menemui beliau, termasuk Syekh Juwaini yang dikenal sebagai Imam al-Haramain, guru dari Imam al-Ghazali. Rakyat juga berbondong-bondong menyambut sambil membawa roti dan buah-buahan.

Dikisahkan seorang Syekh Sufi bernama as-Sahlaki mendatangi Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi. Ibn al-Atsir menyebut Sahlaki ini sebagai “Syaikhun Kabirun”. Abu Ishaq yang diberitahu kedatangan Syekh as-Sahlaki ini langsung keluar menemuinya dengan berjalan kaki.

Syekh as-Sahlaki segera turun dari kendaraannya dan mencium tangan Syekh Abu Ishaq. Syekh Abu Ishaq membalas penghormatan ini dengan mencium kaki Syekh as-Sahlaki, lantas menempatkan Syekh as-Sahlaki di kursinya, sementara Syekh Abu Ishaq memilih duduk di bawah di antara kedua tangan Syekh as-Sahlaki.

Jelas tampak kedua orang ulama besar berbeda disiplin ilmu ini saling menghargai. Yang satu ahli fiqh; satunya lagi seorang sufi. Syekh as-Sahlaki memberi hadiah, yang disebut-sebut merupakan perbendaharaan dari masa Syekh Abu Yazid al-Busthami, seorang sufi agung generasi sebelumnya. Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi menerimanya dengan gembira.

Syekh as-Sahlaki ini, hasil pelacakan saya, nama lengkapnya adalah Abu al-Fadl Muhammad bin Ali bin Ahmad as-Sahlaki. Beliau mengumpulkan berbagai pernyataan dan ujaran Syekh Abu Yazid al-Busthami.

Itulah contoh pertemuan antara seorang faqih dengan seorang sufi. Contoh ini menjadi penting karena seringkali terjadi pertentangan antara ahli Hadits dengan ahli Fiqh, dan juga antara ahli Fiqh dengan ahli Tasawuf. Maka jauh-jauh hari Imam Malik sudah mengingatkan:

“Barang siapa bertasawuf tanpa berfikih maka dia zindiq. Barang siapa berfikih tanpa bertasawuf maka dia fasik. Barang siapa menggabung keduanya maka dia akan sampai pada hakikat.”

Para ulama, apapun disiplin keilmuannya, bila bertemu akan saling menghormati. Bahkan kalaupun mereka saling berbeda pandangan. Tidak ada caci-maki yang keluar dari lisan mereka. Itulah akhlak yang diwariskan kepada kita semua. Maukah kita meneladaninya? Insya Allah.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Rujukan: Ibn al-Atsir, al-Kamil fit Tarikh (8/283)

‎ذِكْرُ مَسِيرِ الشَّيْخِ أَبِي إِسْحَاقَ إِلَى السُّلْطَانِ فِي رِسَالَةٍ.
‎فِي هَذِهِ السَّنَةِ، فِي ذِي الْحِجَّةِ، أَوْصَلَ الْخَلِيفَةُ الْمُقْتَدِي بِأَمْرِ اللَّهِ الشَّيْخَ أَبَا إِسْحَاقَ الشِّيرَازِيَّ إِلَى حَضْرَتِهِ، وَحَمَّلَهُ رِسَالَةً إِلَى السُّلْطَانِ مَلِكْشَاهْ، وَنِظَامِ الْمُلْكِ، تَتَضَمَّنُ الشَّكْوَى مِنَ الْعَمِيدِ أَبِي الْفَتْحِ بْنِ أَبِي اللَّيْثِ، عَمِيدِ الْعِرَاقِ، وَأَمَرَهُ أَنْ يُنْهِيَ مَا يَجْرِي عَلَى الْبِلَادِ مِنَ النُّظَّارِ. فَسَارَ فَكَانَ كُلَّمَا وَصَلَ إِلَى مَدِينَةٍ مِنْ بِلَادِ الْعَجَمِ يَخْرُجُ أَهْلُهَا بِنِسَائِهِمْ وَأَوْلَادِهِمْ يَتَمَسَّحُونَ بِرِكَابِهِ، وَيَأْخُذُونَ تُرَابَ بِغْلَتِهِ لِلْبَرَكَةِ.
‎وَكَانَ فِي صُحْبَتِهِ جَمَاعَةٌ مِنْ أَعْيَانِ بَغْدَاذَ، مِنْهُمُ الْإِمَامُ أَبُو بَكْرٍ الشَّاشِيُّ وَغَيْرُهُ.
‎وَلَمَّا وَصَلَ إِلَى سَاوَةَ خَرَجَ جَمِيعُ أَهْلِهَا، وَسَأَلَهُ فُقَهَاؤُهَا كُلٌّ مِنْهُمْ أَنْ يَدْخُلَ بَيْتَهُ، فَلَمْ يَفْعَلْ، وَلَقِيَهُ أَصْحَابُ الصِّنَاعَاتِ، وَمَعَهُمْ مَا يَنْثُرُونَهُ عَلَى مِحَفَّتِهِ، فَخَرَجَ الْخَبَّازُونَ يَنْثُرُونَ الْخُبْزَ، وَهُوَ يَنْهَاهُمْ، فَلَمْ يَنْتَهُوا، وَكَذَلِكَ أَصْحَابُ الْفَاكِهَةِ، وَالْحَلْوَاءِ، وَغَيْرُهُمْ، وَخَرَجَ إِلَيْهِ الْأَسَاكِفَةُ، وَقَدْ عَمِلُوا مُدَاسَاتٍ لِطَافًا تَصْلُحُ لِأَرْجُلِ الْأَطْفَالِ، وَنَثَرُوهَا، فَكَانَتْ تَسْقُطُ عَلَى رُءُوسِ النَّاسِ، فَكَانَ الشَّيْخُ يَتَعَجَّبُ، وَيَذْكُرُ ذَلِكَ لِأَصْحَابِهِ بَعْدَ رُجُوعِهِ، وَيَقُولُ: مَا كَانَ حَظُّكُمْ مِنْ ذَلِكَ النِّثَارِ؟ فَقَالَ لَهُ بَعْضُهُمْ: مَا كَانَ حَظُّ سَيِّدِنَا مِنْهُ، فَقَالَ: [أَمَّا] أَنَا فَغُطِّيتُ بِالْمِحَفَّةِ، وَهُوَ يَضْحَكُ، فَأَكْرَمَهُ السُّلْطَانُ وَنِظَامُ الْمُلْكِ، وَجَرَى بَيْنَهُ وَبَيْنَ إِمَامِ الْحَرَمَيْنِ أَبِي الْمَعَالِي الْجُوَيْنِيِّ مُنَاظَرَةٌ بِحَضْرَةِ نِظَامِ الْمُلْكِ، وَأُجِيبَ إِلَى جَمِيعِ مَا الْتَمَسَهُ، وَلَمَّا عَادَ أُهِينَ الْعَمِيدُ (وَكُسِرَ عَمَّا كَانَ يَعْتَمِدُهُ) ، وَرُفِعَتْ يَدُهُ عَنْ جَمِيعِ مَا يَتَعَلَّقُ بِحَوَاشِي الْخَلِيفَةِ.
‎وَلَمَّا وَصَلَ الشَّيْخُ إِلَى بِسِطَامٍ خَرَجَ إِلَيْهِ السَّهْلَكِيُّ، شَيْخُ الصُّوفِيَّةِ بِهَا، وَهُوَ شَيْخٌ كَبِيرٌ، فَلَمَّا سَمِعَ الشَّيْخُ أَبُو إِسْحَاقَ بِوُصُولِهِ خَرَجَ إِلَيْهِ مَاشِيًا، فَلَمَّا رَآهُ السَّهْلَكِيُّ أَلْقَى
نَفْسَهُ مِنْ دَابَّةٍ كَانَ عَلَيْهَا، وَقَبَّلَ يَدَ الشَّيْخِ أَبِي إِسْحَاقَ، فَقَبَّلَ أَبُو إِسْحَاقَ رِجْلَهُ، وَأَقْعَدَهُ مَوْضِعَهُ، وَجَلَسَ أَبُو إِسْحَاقَ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَأَظْهَرَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِنْ تَعْظِيمِ صَاحَبِهِ كَثِيرًا، وَأَعْطَاهُ شَيْئًا مِنْ حِنْطَةٍ ذُكِرَ أَنَّهَا مِنْ عَهْدِ أَبِي يَزِيدَ الْبِسْطَامِيِّ، فَفَرِحَ بِهَا أَبُو إِسْحَاقَ.

Tuesday, November 21, 2017

Syekh Ubaidillah Al-Ahror, Sufi Konglomerat dan Negarawan

Abdullah, NU Online | Sabtu, 10 Juni 2017 03:02

Oleh Fuad Al-Athor

Suatu ketika dalam mukasyafahnya Khwajah Ubaidillah Al-Ahror qs (1404–1490) mendapatkan penglihatan (vision) untuk menguatkan agama Allah. Tugas berat ini memerlukan dukungan kekuasaan politik yang mengatur kehidupan bermasyarakat. Beliau qs mendatangi Samarkand untuk menemui Mirza Abdullah bin Mirza Ibrahim bin Shahrukh penguasa kota tersebut. 

Sesampainya di kota itu, seorang bangsawan menemuinya dan kepadanya beliau qs, menceritakan tujuannya ke Samarkand. Bangsawan tersebut menanggapi dengan kasar dan mengatakan, “Raja kami masih muda dan abai. Adalah sulit untuk beraudiensi dengannya. Dan apa hubungannya para sufi dengan tugas tersebut?”

Mendengar itu Syekh Ubaidillah Al-Ahror qs marah dan berkata, “Kami datang kemari bukan atas kemauan kami, tapi atas perintah Allah dan Rasul-Nya SAW, untuk menjalin hubungan dengan raja. Jika rajamu tidak memiliki perhatian atas persoalan ini, maka kami akan membawa raja lain.” 

Ketika bangsawan itu pergi, Beliau qs, menuliskan nama raja Abdullah di dinding dan kemudian menghapusnya dengan air ludahnya dan berkata, “Misi kita tidak akan bisa diemban oleh raja ini dan bangsawan-bangsawannya.” 

Hazrat Syekh qs meninggalkan Samarkand pada hari itu juga. Bangsawan tersebut meninggal seminggu setelah itu dan sebulan kemudian Sultan Abu Sa’id Mirza berderap muncul dari timur Turkistan dan mengalahkan Sultan Mirza Adullah.

Itulah sepenggal kisah seorang Sufi Agung pada abad kelima belas di Asia Tengah dalam percobaannya pertama kalinya melakukan pendekatan politik pada penguasa lokal saat itu. Kebesaran namanya menembus wilayah kekuasaan dinasti Timurid yang menandai bahwa ketinggian spiritualnya telah menjadi payung dan pengarah dari kekuatan politik duniawi.

Sufi yang “King Maker”

Ia lahir di desa Shash pada bulan Ramadhan tahun 806 H/1404 M di sekitar Tashkent (Ibu kota Uzbekistan sekarang). Pada usia 22 tahun beliau dikirim ke sekolah keagamaan di Samarkand, namun beliau keluar yang menandakan keengganannya pada dunia akademik dan memilih untuk mencari dan menjalani “laku” kebatinan. Beliau menghadiri forum-forum pembelajaran sufistik hingga akhirnya berlabuh pada bimbingan Syeikh Ya’qub Charqi qs, seorang khalifah Maulana Bahauddin Naqsyaband, imam dari Tarekat Naqsyabandiyah.

Keterlibatannya dalam dunia politik dimulai dalam konteks ancaman kehancuran dinasti Timurid akibat perebutan kekuasaan antara pangeran pasca meninggalnya Raja Syahrukh pada tahun 1447. Ulugh Begh, putranya segera menggantikan posisinya. Ia seoarang raja yang intelektual. Dua tahun berkuasa, ia dibunuh oleh putranya yang haus kekuasaan Abdul al-Latif. 

Sejak itu dinasti Timurid berubah menjadi arena perebutan kekuasaan para penguasa lokal. Peperangan sering terjadi antara penguasa yang merupakan keturunan dari Timur Lenk. Tiadanya kontrol politik terpusat pada gilirannya melahirkan warlord-warlord (emir) yang melakukan tindakan sewenang-wenang dengan penindasan dan penghisapan ekonomi terhadap rakyat dengan menarik pajak yang mencekik.

Menghadapi fakta ini, beliau mengonsolidasi masyarakat sipil yang saat itu merupakan jejaring bisnis yang berafiliasi pada perusahaannya. Kemudian membangun semacam upaya proteksi yang dikenal dengan sistem himayat. Sistem ini kurang lebih bekerja dalam bentuk patronase dan perlindungan di sekitar area pertanian dan aktivitas perdagangannya yang terorganisir rapi. Jaringan ini berisi kelompok petani, tukang (pengrajin) dan para pedagang yang bekerja padanya dan mendapat perlindungan dari tindasan para warlord yang sering kali memungut pajak di luar batas kemampuan.

Bersamaan dengan itu, beliau melakukan proses screening demi menyeleksi kepemimpinan politik yang paling layak untuk dijadikan penguasa Asia Tengah saat itu dengan dukungan kekuatan spiritualnya yang sangat luar biasa. Tidak hanya menjalin hubungan baik dengan penguasa yang sudah established sebagaimana tokoh agama kebanyakan, beliau menciptakannya, ikut terlibat dalam pembangunan sebuah rezim. Tim sukses jika hari ini. Dan pilihan beliau jatuh pada Sultan Abu Said Mirza yang merupakan salah satu pembesar di dinasti Timurid yang saat itu menguasai wilayah Turkistan. Sultan Abu Said kemudian menjadi murid beliau. Dengan dukungan spiritualnya Sultan Abu Said menguasai Samarkand pada tahun 1451. Sang Sultan kemudian memintanya untuk menjadi penasihat kerajaannya.

Menurut dosen dan peneliti senior di Universitas Haifa, Israel, Itzchak Weismann dalam bukunya The Naqshbandiyya (dipublikasi oleh Routledge, 2007), misi politik Syekh Ubaidillah Al-Ahror, qs, adalah untuk melindungi apa yang bisa diterjemahkan sebagai civil society di jamannya. Sasaran utamanya terdiri dari dua hal; pertama, untuk mencegah peperangan antara para pangeran di dinasti Timurid. Kedua, untuk menghapus sistem pajak “turko-mongol” yang disebut dengan tamgha dan sangat mencekik rakyat kecil yang dipraktekkan oleh para komandan perangnya.

Kedua sasaran di atas meniscayakan kepiawaian beliau dalam memediasi dan menjadi negosiator antara penguasa yang saling bermusuhan dan antara masyarakat dengan kelas elit penguasanya pada saat bersamaan. Upaya untuk hal pertama di atas dibuktikan dengan keberhasilan beliau untuk menyudahi pengepungan kota Samarkand oleh putra Mirza Adullah pada tahun 1454 dan menuntaskan pemberontakan-pemberontakan terhadap Sultan Abu Said sepanjang tahun 1461-1463. Juga memberikan restu dalam inisiatif perluasan kampanye militer Abu Said ke wilayah Persia hingga akhir kekuasaannya pada tahun 1469. Tapi pada masa putra-putra Abu Said beliau mendesak disepakatinya perjanjian perdamaian di antara mereka. Dan pada sasaran kedua, beliau berhasil membatalkan kebijakan pajak pasar (tamgha) yang sangat tidak populer dan memberatkan rakyat dengan caranya yang persuasif terhadap penguasa Timurid. Namun dalam kasus berbeda, beliau justru membayar pajak yang sangat besar pada kerajaan guna mengurangi beban masyarakat.

Mursyid Tarekat yang Konglomerat

Pada sosok beliau stigma bahwa kaum sufi adalah mereka yang papa dan menjauh dari aktivitas duniawi seratus persen terbantahkan. Beliau adalah seorang pengusaha yang sukses. Sangat sukses, sehingga menjadi pembayar pajak terbesar pada kerajaan Timurid saat itu. Barangkali dialah satu-satunya pemilik tanah terluas di Asia Tengah di masanya. Mengutip publikasi ilmiah Muzaffar Alam “The Mughals, the Sufi Shaikhs and the Formation of the Akbari Dispensation” di Cambridge Jurnals, vol 43, 1 (2009), Khwaja memiliki ribuan acre tanah dengan irigasi terbaik di Tashkent, Samarqand, Bukhara, Kashkadaria dan tempat-tempat lainnya. Dia juga sebagai pemilik atas 64 desa yang dikelilingi kanal irigasi, 30 perkebunan buah luar kota, 11 kawasan perkotaan, dan lusinan perusahaan perdagangan dan workshop kerajinan tangan, sejumlah pasar, kios, WC umum dan kincir air. Juga ratusan ribu sapi dalam peternakannya yang tersebar di seluruh negeri.

Semua properti di atas menjadi basis bagi sistem himayat yang dikembangkannya juga bagi jaringan ekonomi yang terbangun dari holding perusahaannya dan aktivitas ekonominya, baik dalam sekala regional maupun internasional. Terdapat banyak sekali pekerja yang dilibatkan dalam jaringan ekonomi ini, bekerja padanya di pusat khanqah maupun yang tersebar seantero negeri; Turkestan, Mawarannahr and Khurasan, untuk menjaga dan mengelola properti-properti ini. 

Upaya penyebaran tarekat dan pendidikan sufistik menyebar melalui organisasi sosial-ekonomi yang beliau rancang. Selain sebagai pekerja pada perusahaan-perusahaannya, kebanyakan di antaranya adalah juga sebagai murid dari tarekatnya. Sebagian ada juga yang bukan pengikut spiritualnya, hanya bekerja saja.

Dengan organisasi kesejahteraan ini beliau mampu membantu baik masyarakat ataupun bahkan raja di kala kesulitan finansial. Khwaja Ubaidillah qs pada masa kekuasaan Umar Syaikh Mirza pernah menyerahkan uang sejumlah 250,000 dinar dan pada kesempatan lainnya sejumlah 70,000 dinar, untuk meringankan beban pajak kaum Muslim di kota Tashkent.

Kutub bagi Lingkaran para Ahli Makrifat

Ia adalah seorang Raja (spiritual) yang memiliki cahaya murni dari Esensi yang Unik dan dilepaskan dari penangkarannya dari Yang Tersembunyi untuk disebarkan kepada semua orang yang Arif. Ia menyingkap sisi gelap bulan dari Sifat-Sifat Ilahi mulai dari buaian sampai ia mencapai keadaannya yang sempurna. Ketika masih muda, ia telah diberi otoritas dan mulai bekerja untuk menerima Rahasia dari Rahasia dan untuk menyingkap Hijab. Ia tidak pernah melirik pada keinginan duniawi.

Syekh Ubaidillah qs berusaha melakukan yang terbaik untuk membersihkan kotoran dan kegelapan yang telah menutupi kalbu manusia. Ia menjadi matahari untuk menyinari jalan untuk para salik menuju Maqam Keyakinan dan Perbendaharaan Ilmu Spiritual yang tersembunyi.

Sebelum Ubaidillah dilahirkan, peristiwa berikut ini terjadi di mana maqam besarnya telah diramalkan. Syekh Muhammad as-Sirbili berkata, “Ketika Syekh Nizamuddin al-Khamush as-Samarqandi sedang duduk di rumah ayah saya, bertafakur, tiba-tiba ia berteriak dengan suara yang sangat keras; membuat semua orang ketakutan.” Ia berkata, “Aku melihat sebuah visi di mana banyak orang yang datang kepadaku dari timur, dan aku tidak bisa melihat apa-apa di dunia kecuali dirinya. Orang itu bernama Ubaidillah dan ia akan menjadi Syekh terbesar di zamannya. Allah akan membuat seluruh dunia tunduk padanya, dan aku berharap bahwa aku dapat menjadi bagian dari pengikutnya.”

Dalam hagiografi (manaqib)nya, Ia berkata, “Aku masih ingat apa yang kudengar ketika aku berusia satu tahun. Sejak umur tiga tahun, aku sudah berada di Hadratillah. Ketika aku mempelajari Qur’an dengan guruku, kalbuku berada di Hadratillah. Aku dulu berpikir bahwa semua orang memang seperti itu.”

Dan salah satunya adalah perkataan ini, “Suatu hari di musim dingin, aku pergi keluar dan saat itu hujan turun sehingga sepatuku masuk ke dalam genangan lumpur. Cuaca sangat dingin. Aku berusaha menarik kakiku dari genangan lumpur itu. Tiba-tiba aku menyadari bahwa kalbuku berada dalam bahaya besar, karena pada saat itu aku telah lalai dalam mengingat Allah. Aku pun segera beristighfar.”

Salah satu tanda ketinggian ilmu ma’rifatnya tampak pada catatan dalam manaqib beliau di bawah ini:

“Apakah makna dari ayat, f’a`rid `an man tawalla `an dzikrina (‘Dan tinggalkanlah orang yang berpaling dari Mengingat Kami‘) [53:29]? Itu menunjukkan bahwa bagi orang yang melakukan kontemplasi mendalam (moroqobah) terhadap Hadirat Ilahiah Kami, dan telah mencapai maqam tidak melihat apa-apa kecuali Kami, maka tidak perlu lagi tindakan mengingat itu. Jika ia berada dalam maqam penglihatan sepenuhnya, jangan memerintahkannya untuk melafalkan zikir karena itu mungkin akan menyebabkan kedinginan di dalam kalbunya. Ketika ia sepenuhnya sibuk dengan maqam musyahadah, segala sesuatu yang lain merupakan gangguan dan dapat mengganggu maqam tersebut.”

“Muhyiddin Ibn `Arabi qs berkata, mengenai hal ini, ‘Dengan zikrullah, Mengingat Allah,  dosa-dosa meningkat, dan penglihatan dan kalbu akan terhijab. Meninggalkan zikir adalah keadaan yang lebih baik karena matahari tidak pernah terbenam.’ Apa yang beliau maksudkan di sini adalah bahwa ketika seorang Arif berada di Hadiratillah dan dalam keadaan Penglihatan Mutlak terhadap Keesaan Allah, pada saat itu segala sesuatu fana fillah. Baginya zikir menjadi sesuatu yang dapat mengganggu. Seorang Arif hadir dalam Eksistensi-Nya. Ia berada dalam keadaan Fana dalam Hadratillah, sedangkan dalam zikrullah ia berada dalam keadaan absen, yaitu perlu mengingatkan dirinya sendiri bahwa ada Allah di sana.”

Keberhasilannya yang gilang gemilang baik dalam aktivitas ekonomi maupun keterlibatan politiknya telah menjadikannya sebagai model bagi praktek Kholwat Dar Anjuman, menyepi dalam keramaian, (solitude in the crowd) yang merupakan salah satu prinsip dari delapan prinsip dasar yang dicanangkan oleh Syekh Kholiq al-Ghujdawani qs, salah seorang pembesar dari silsilah tarekat ini.

Di bawah khidmatnya, tarekat Naqsyabandiyah terkonsolidasi di Asia Tengah dan memiliki kesiapan yang kuat untuk penyebaran yang luar biasa. Kemudian hari, ajarannya diteruskan dan berkembang di India, seiring perkembangan dinasti Moghul yang merupakan penerus dinasti Timurid. Pada fase inilah muncul sosok Agung Syekh Ahmad Faruk Sirhindi qs, al mujaddid fi alfi tsani, yang darinya mengalirkan ilmu-ilmu esoteris hingga ke Nusantara. Di Indonesia sendiri kini dibawa oleh dua cabang besar yakni Mazhariyah dan Kholidiyah.

Monday, November 20, 2017

TERBUKANYA HATI IMAM JUNAID AL-BAGHDADI KARENA CINTA AHLUL BAIT

TERBUKANYA HATI IMAM JUNAID AL-BAGHDADI KARENA CINTA AHLUL BAIT

Di waktu mudanya Imam Junaid al-Baghdadi adalah seorang yang memiliki badan kekar dan menunjang hidupnya dengan cara bermata pencaharian sebagai pegulat profesional. Dan seperti biasa, setiap tahunnya diadakan kontes gulat oleh Penguasa Baghdad dan mereka mengumumkan :

"Hari ini, Junaid Baghdadi (juara bertahan) akan menunjukkan keahliannya sebagai pegulat, apakah ada orang yang berani menantangnya?" Lalu seorang pria tua, berdiri dengan leher gemetar dan berkata :

"Aku akan ikut masuk kontes ini dan menantang dia."

Siapapun yang menyaksikan adegan ini tidak bisa menahan diri, mereka meledak tertawa dan bertepuk tangan. Raja pun sudah terikat oleh aturan hukum. Dia tidak bisa menghentikan seseorang yang dari kehendak bebasnya sendiri ingin memasuki pertarungan.

Orang tua itu diberi izin untuk memasuki ring. Ia berusia sekitar 65 tahun. Ketika sang juara bertahan Junaid al-Baghdadi memasuki ring, ia tercengang sebagaimana Raja dan semua penonton yang hadir. Semua memiliki pikiran yang sama, "Bagaimana mungkin orang tua ini akan mampu melawan dan menang?" Orang tua itu berjabat tangan dengan Imam Junaid dan dengan suara lirih berkata :

"Dekatkanlah aku kepada telingamu,Dengarkan kata-kataku," Ia kemudian berbisik : *"Aku tahu bahwa tidak mungkin bagiku untuk memenangkan pertarungan ini. Aku adalah seorang Sayyid, keturunan Nabi Muhammad ﷺ. Anak-anakku sedang kelaparan di rumah. Apakah engkau siap untuk mengorbankan namamu, kehormatan dan posisimu untuk cinta pada Nabi Allah dan kehilangan pertarungan ini karenaku.?

Jika engkau melakukan hal ini, aku akan dapat mengumpulkan uang hadiahnya dan dengan demikian memiliki sarana untuk memberi makan anak-anakku dan aku sendiri dapat memenuhi kebutuhan selama satu tahun penuh. Aku akan dapat menyelesaikan pembayaran semua hutangku dan di atas semuanya, Rasulullah ﷺ akan senang/ridha dengan engkau. Apakah engkau, wahai Junaid, tidak bersedia mengorbankan kehormatanmu demi anak-anak cucu Rasulullah?"

Junaid al-Baghdadi berpikir sejenak dan berkata : "Toyyib, hari ini aku memiliki kesempatan yang sangat baik." Akhirnya dengan tampilan yang bersemangat Junaid al-Baghdadi menunjukkan beberapa manuver, menunjukkan kemahiran bergulatnya sehingga Raja tidak menduga ada konspirasi apapun. Junaid dengan kemahiran yang luar biasa, tak mempergunakan kekuatan penuhnya mampu membuat dirinya sendiri terjatuh, ditindihi orang tua itu.

MasyaAllah Tabarakallah!!

Dan dengan kerendahan hatinya, Junaid pun memproklamirkan akan kekalahannya. Sehingga ia memberikan hak kepada orang tua itu sebagai pemenang dan meraih hadiahnya. Kemudian tiba-tiba saja di malam harinya, Junaid al Baghdadi bermimpi bertemu Nabi Muhammad ﷺ yang mengatakan :

*"Duhai Junaid, engkau telah mengorbankan kehormatanmu, ketenaranmu yang telah diakui di seantero negeri. Nama dan posisi yang digembar-gemborkan di seluruh penjuru Baghdad bertukar demi ekspresi cintamu untuk anak-anakku yang kelaparan. Pada hari ini dan abadi untuk seterusnya, namamu akan tercatat dalam daftar Auliya' (wali Allah)."

Setelah itu, pegulat besar ini berhasil belajar untuk mengalahkan nafsunya dan menjadi salah satu Waliyullah paling terkemuka pada masanya.

Laa haula walaa quwwata illa billah.

kitab "Tajalliyat al-Jadzb" karya asy-Syaikh Muhammad Hakim Akhtar.

اللهم ارزقنا محبة اهل البيت
Ya Allah jadikanlah semua ummat islam sebagai pecinta2 keluarga Nabi Muhammad SAW

Wednesday, September 20, 2017

Tariqoh tijaniyah

leh: Kusnadi El Ghezwa (Katib Syuriyah PCI NU Maroko)   

Sangatlah pantas jika gelar “Negeri para ulama” disandang negeri Maroko. Terutama karena ulama-ulamanya yang menonjol dalam dunia tasawuf. Lihat saja, berapa banyak aliran tarekat yang berkembang di negeri yang mayoritas penduduknya bermadzhab Maliki tulen. Ada tarekat Tijaniyah, Syadziliyah, Masyisyiyah, Siddiqiyah, Kattaniyah, Darqawiyah dan lain sebagainya.

Alhamdulillah untuk kesekian kalinya saya, Kusnandi El Ghezawa, berkesempatan menziarahi salah satu makam ulama kharismatik pendiri Tarekat Tijaniyah di kota Fez, Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Hassani atau lebih dikenal dengan Syaikh Ahmad at Tijani.

Biografi Singkat Syaikh Ahmad at Tijani

Beliau lahir pada Kamis, 13 Shafar 1150 H di ‘Ain Madhi yang juga akrab disebut Madhawi, di Sahara Timur Maroko (kini bernama Aljazair).  Penyebutan at Tijani merupakan nisbat pada suatu daerah terkenal bernama Tijanah. Kabilah Tijanah adalah keluarga Syaikh Ahmad at Tijani dari pihak ibu dan pada kabilah inilah lebih dikenal sebutan marganya sehingga lazim disebut dengan “Tijani “. Dari keluarga besar atau kabilah Tijanah ini banyak lahir ulama dan wali-wali agung.

Dalam kitab-kitab tarekat Tijaniyah diterangkan, Syaikh Ahmad at Tijani beberapa kali bertemu dengan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam keadaan terjaga, bukan dalam mimpi. Dalam pertemuan itu, Syaikh Ahmad at Tijani  mendapatkan bimbingan dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—termasuk bacaan wirid yang dibaca oleh para pengikut Tijaniyah, yaitu wirid Lazimah, Wadhifah dan Hailalah.

Ketika berusia 50 tahun, tepatnya Muharam 1214 H, Syaikh Ahmad at Tijani mencapai martabat al-Quthb al-Kamil, al-Quthb al-Jami’ dan al-Quthb al-‘Udzhma, yang pengukuhannya dilakukan di Padang Arafah, Makkah Al-Mukaramah.

Baca Juga: “al Ghazali Kecil” di Nusantara

Pada tahun yang sama, hari ke-18 bulan Shafar, beliau dianugerahi sebagai al-Khatm al-Auliya al-Maktum (Penutup para wali yang tersembunyi). Hari inilah yang kemudian diperingati oleh jamaah, ikhwan, dan para muhibbin Tarekat Tijaniyah sebagai Idul Khatmi. Syaikh Ahmad at Tijani meninggal di Fez Maroko 1230 H.

Destinasi Ziarah Internasional

Umat Islam dari seluruh wilayah Afrika Barat dan penganut Tarekat Tijaniyah sering mengunjungi komplek makam Syaikh Ahmad at Tijani di sudut Kota Fez, Maroko. Kota yang berusia 12 abad ini lebih dikenal sebagai ibukota spiritual Maroko. Tak heran bila jutaan orang dari Senegal, Mali, Niger dan Nigeria datang ke sana untuk berziarah ke makam Syaikh at Tijani. Termasuk dari Indonesia pun banyak yang berziarah ke makamnya terutama dari para pengikut Tarekat Tijaniyah.

Hubungan Tarekat Tijaniyah dengan Kerajaan Maroko

Jika ditelisik lebih dalam, tarekat Tijaniyah dan Negara Maroko memiliki hubungan yang sangat erat. Kerekatan ini sudah terbentuk sejak masa pemerintahan Sultan Moulay Sulaiman (W. 1238 H) dengan Sang Pendiri Tarekat Tijaniyah. Sosok pemimpin Negeri 1.000 benteng memang sejak dahulu cinta kepada ulama. Di samping nasab keduanya sama-sama berujung pada Maulana Muhammad (Nafs az-Zakiyah) bin Sidi Abdullah al Kamil bin Sidi Hasan as Sibth bin Sidi Hasan al-Mutsanna bin Sidi Ali dan Sayyidah Fatima az-Zahra binti Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, Sultan Moulay Sulaiman juga mengakui kewalian Syaikh Ahmad at-Tijani lebih tinggi dari semua ulama sezamannya.

Terbukti, rasa syukur yang tiada tara saat Moulay Sulaiman meminta kepada Syaikh Ahmad at-Tijani agar dapat bertemu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam— dalam keadaan terjaga (bukan mimpi), dengan izin Allah—subhanahu wa ta’ala—permintaan itu terkabulkan.

Sejak peristiwa inilah perhatian dan rasa kasih sayang Moulay Sulaiman kepada Syaikh Ahmad at-Tijani begitu kuat. Diangkatlah Syaikh Ahmad at-Tijani menjadi salah satu penasehat kerajaan dan diberi tempat tinggal (Dar al-Miraya) di kota Fes untuk majelis pengajiannya. Hal ini pun masih berlaku sampai sekarang dalam sistem birokrasi Negara Matahari Terbenam, yang menempatkan posisi khalifah tarekat Tijaniyah, Syaikh Muhammad al-Kabir sebagai salah satu penasehat Raja Muhammad VI.

Pertemuan Nasab

Nasab Raja Muhammad VI: Muhammad VI bin Hasan II bin Muhammad V bin Yusuf bin Hasan I bin Muhammad bin Abdur Rahman bin Hisyam bin Muhammad III bin Yusuf bin Hasan bin Muhammad bin Abdur Rahman bin Hisyam bin Muhammad bin Abdullah bin Ismail bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Yusuf bin Ali bin Hasan bin Muhammad bin Hasan bin Qasim bin Muhammad bin Abu Qasim bin Muhammad bin Hasan bin Abdullah bin Abu Muhammad bin Arafah bin Hasan bin Abu Bakar bin Ali bin Hasan bin Ahmad bin Ismail bin Qasim bin Muhammad (Nafs az-Zakiyah).

Baca Juga: 10 Orang yang Jasadnya Utuh di Alam Kubur

Sedangkan nasab Syaikh Ahmad at-Tijani: Syaikh Ahmad at-Tijani bin Muhammad bin Mukhtar bin Ahmad bin Muhammad bin Salim bin Abi al-Ied bin Salim bin Ahmad (al-Ulwani) bin Ahmad bin Ali bin Abdellah bin Abbas bin Abdul Jabbar bin Idris bin Idris bin Ishak bin Ali Zaenal Abidin bin Ahmad bin Muhammad (Nafs-az Zakiyah).

Demikianlah, hubungan Tarekat Tijaniyah dengan Negara Maroko sangat erat dalam lintasan sejarah. Hubungan harmonis ini sangat berperan penting bagi penyebaran tarekat Tijaniyah, karena antara Ulama dan Umara seirama dalam satu tujuan mulia, menegakkan pilar-pilar agama melalui bahtera spiritual tasawuf.

_______________________

Sumber:

Min A’qab al Bidl’ah al Muhammadiyah at Thohiroh.Al Fathu ar Rabbani.Jawahirul Ma’ani, Sayyid Ali Harazim bin Arabi.Bughyatul Mustafid, Sayid Muhammad Al-Arobi.Maroko Negeri Eksotis di Ujung Barat Dunia Islam.Tarekat Tijaniyah Perspektif Amaliah dan Ilmiah.

Diedit oleh: Ahmad Muntaha AM

Saturday, September 9, 2017

Tulisan

Malaikat Munkar Nakir : "Kenapa ente hari saptu tanggal 11 September tahun 2017 jam 08:31 nulis status di Facebook yang isi statusmu penuh kebohongan? Tahu gak foto yang ente upload itu Hoax ?"
Afwan Akhi Malaikat, jawab Aa Jali. Ana dapat info A1 demikian. Adafun hoax tidaknya ana tidak tanggung jawab, akhi Malaikat tanya ajah ke Jalma nu ngasih info ke ana." Lanjut Aa Jali.
______________

Itu sedikit cuplikan dialog antara mayit yang baru selesai di kubur dengan Malaikat Munkar Nakir, yang tentunya gambaran dialognya jutaan kali lebih menegangkan daripada ketegangan yang paling tegang yang pernah ada di dunia ini.

Kenapa Nahdlatul Ulama dari tingat Ranting sampai PB tak henti-hentinya melakukan penyuluhan kepada masyarakat akan bahayanya menyebar berita bohong atau berita yang tidak benar, adalah karna bahaya yang di timbulkan bisa jauh lebih besar daripada isi berita bohong itu sendiri. Apalagi yang disebarkan bersinggungan dengan masalah Agama.

Sudah banyak contoh yang sudah terjadi, seharusnya bisa membuat kita lebih berfikir dan menimbang sebelum apa yang kita sampaikan membikin kegaduhan luar biasa.

Ulama-ulama besar zaman dahulu sudah mengingatkan betapa bahayanya sebuah ucapan dan tulisan. Bukan hanya di dunia saja, tapi sampai Negri Akhiratpun masih berlaku.

Sufi besar Syeikh Dzun Nun al-Mishri sampai menangis tersedu-sedu "hanya" karna membaca oret-oretan di atas tanah. Padahal yang beliau baca mungkin sudah ribuan kali kita lihat dan juga kita baca.
Lebih dari itu, Seorang Sufi lainnya Bahkan sampai Mati saking takutnya membaca oret-oretan Dzun Nun al-Mishri yang mengingatkan bahaya dari Tulisan fitnah atau yang tidak bermanfaat.
___________________

Silahkan simak dialog dibawah ini, yang tidak kami terjemahkan semua karna poinnya sudah kami sampaikan di bagian atas.

حكي عن ذي النون المصر رحمه الله، قال : مررت بروضة خضراء فرأيت شابا يصلي تحت شجرة تفاح ولم اعرف انه يصلي فسلمت عليه فلم يرد علي السلام. فكررت السلام عليه فلم يرد، ثم أوجز في صلاته. فلما فرغ منها كتب بأصبعه على الارض :

منع اللسان من الكلام فإنه ※ سبب الردى بل جالب الآفات

Hindarkanlah dari banyak bicara karna banyak bicara itu ※ dapat menyebabkan binasa, bahkan menimbulkan marabahaya

فاذا نطقت فكن لربك ذاكرا ※ لا تنسه واحمده في الحالات

Apabila engkau berbicara, tetaplah berdzikir kepada Gusti Allah ※ janganlah melupakan-Nya, dan memujilah kepada-Nya dalam segala keadaan

فلما قرأت ذلك بكيت طويلا ثم كتبت في الارض بأصبعي :

وما من كاتب الا سيبلي ※ ويبقى الدهر ما كتبت يداه

Siapapun penulis itu, pasti akan mati ※ Dan apa-apa yang ditulisnya akan bertahan lama (tetap ada)

فلا تكتب بكفك غير شيئ ※ يسرك في القيامة أن تراه

Oleh karena itu, janganlah menulis apapun kecuali tulisan itu ※ yang jika engkau melihatnya akan membuat senang di hari pembalasan

فلما قرأ ذلك صاح صيحة فمات، فأردت أن أجهزه فنوديت : لا يتولى أمره الا الملائكة ، فملت إلى شجننرة وركعت تحتها بعض ركعات ثم نظرت إلى موضعه فلم أر له أثرا ولا خبرا. فسبحان المنان على عباده بمراده

النوادر للقليوبي، ص ٩٩

Selamat pagi, selamat menikmati hari minggu.
Semoga tetep sehat dan semangat, jangan lupa Shalawatnya.
Allaahumma Shalli 'alaa Sayyidinaa Muhammad.

Sunday, September 3, 2017

Sang wali meninggal setelah terbuka hijab kewaliannya

KERAMAT bag #1
Sang wali meninggal setelah terbuka hijab kewaliannya

Diceritakan bahwa Abdulloh bin al-Mubarak berkata:

"ketika saya di Makkah, terjadi kemarau panjang dan kelaparan hebat dan orang-orang melakukan shalat Istisqo di arafah, tapi belum juga hujan turun malah bertambah panas. Lalu mereka tetap dalam keadaan demikian ini selama sejum'at (seminggu), dan setelah sejum'at mereka keluar ke Arafah. Lalu saya melihat seorang laki-laki berkulit hitam dan berbadan lemah sedang shalat dua rakaat . Setelah itu ia berdoa , lalu bersujud sambil berdoa :
"Demi kemuliaan-Mu saya tidak akan mengangkat kepalaku dari sujud sehingga engkau menurunkan hujan kepada hamba-Mu." Kemudian saya melihat segumpal awan muncul dan awan lainnya ikut bergabung lalu terjadilah hujan deras bagaikan air dalam qirbah(bejana dari kulit) yang ditumpahkan. Lalu dia membaca tahmid dan meninggalkan tempat itu. Lalu saya mengikutinya, dan akhirnya saya melihat dia memasuki sebuah tempat penjual budak. Lalu saya pulang.

Keesokan harinya, saya berangkat ke rumah penjual budak itu dengan membawa beberapa dirham dan Dinar dan saya berkata kepadanya , "saya memerlukan seorang budak untuk saya beli.
" Lalu dia menunjukkan tiga puluh budak kepada saya. Lalu saya bertanya,
"apakah masih ada yang lain?" "Masih ada satu. Dia lemah dan tidak suka berbicara dengan seseorang." Jawabnya. Saya berkata,
"tunjukkan kepadaku." Lalu dia mengeluarkan budak yang pernah saya lihat dengan mata saya sendiri sebelumnya. Lalu saya bertanya , "berapa yang harus saya bayar?" "Dua puluh Dinar, tapi engkau cukup membayar sepuluh Dinar saja." Jawabnya. Lalu saya berkata , "tidak, malah saya tambahin jadi dua puluh tujuh Dinar." Lalu saya ambil budak itu dan pulang.

Setiba di rumah, ia berkata kepadaku, "hai tuanku! Mengapa engkau membeliku, padahal aku tidak mampu melayanimu?"  Aku jawab,
"saya mmbelimu agar engkau menjadi tuanku dan saya menjadi pelayanmu." Lalu dia bertanya, "mengapa engkau melakukan hal yang demikian?"
Saya menjawab,
"kemaren saya melihat engkau sungguh berdoa kepada Allah SWT dan Allah memenuhi doamu. Dengan ini saya tahu bahwa Allah SWT telah memberimu karomah kepadamu. Lalu dia bertanya,
"apa betul engkau melihat itu?" "Ya," jawab saya. Dia bertanya, "apakah engkau akan memerdekakan saya?"
"Ya, sekarang engkau merdeka karena Allah," jawab saya.
Setelah itu, saya mendengar suara yang tidak bisa saya ketahui orangnya,
"Hai Ibnul Mubarok! Bergembiralah, karna Allah SWT sungguh telah mengampunimu." Lalu saya berwudlu dan shalat dua rakaat. Lalu budak tadi berkata, "segala puji bagi Allah. Ini kemerdekaan bagi tuanku yang terkecil, bagaimana kemerdekaan dari tuanku yang Maha Besar?" Lalu dia berwudlu juga dan shalat dua rakaat lalu mengangkat kedua tangannya menghadap ke langit sambil berdoa,
"wahai Tuhanku! Engkau tahu bahwa saya telah mengabdi kepadamu selama tiga puluh tahun, dan janji antara saya dan Engkau agar Engkau tidak membuka tabirku/rahasiaku. Tapi kenyataannya, Engkau telah membukanya. Oleh karena itu, sebaiknya Engkau ambil saja saya." Seketika dia tersungkur dan meninggal dunia saat itu juga. Lalu saya kafani dengan kafan yang tidak bagus, lalu saya shalati dan saya kubur.
Ketika saya tidur pada malam harinya, saya bermimpi melihat seorang laki-laki tampan dan berpakaian bagus bersama seorang laki-laki bertubuh besar juga tampan dan berpakaian bagus. Masing-masing menaruh tangannya di atas pundak lainnya. Lalu laki-laki itu berkata kepada saya, "apakah engkau tidak malu dengan Allah?" Kemudian ia berjalan, kemudian saya bertanya,
"siapa egkau?"
"Saya Muhammad Rasulullah dan ini bapakku Ibrahim, jawabnya. Lalu saya bertanya,
"mengapa saya dikatakan tidak malu, padahal saya memperbanyak shalat?" Dia menjawab:
"telah meninggal seorang wali di antara wali-wali Allah, tetapi engkau mengkafani dengan kafan yang tidak bagus."
Ketika pagi harinya, saya mengeluarkannya dari kubur lalu kain kafannya saya ganti dengan kafan yang bagus dan bersih, saya shalati dan saya kubur kembali.

Abul Qasim al-Hakim di tanya, "manakah yang lebih baik apakah orang yang bermaksiat lalu bertobat ataukah orang kafir yang kemudian beriman?" Dia menjawab, "orang yang bermaksiat lalu bertobat adalah yang lebih baik. Karena orang kafir ketika kufur, dia asing dengan Tuhannya; sedangkan orang yang bermaksiat ketika nelakukan maksiat , dia masih kenal dengan Tuhannya. Dan jika orang kafir masuk Islam, berarti dia pindah dari tingkatan asing ke tingkatan kenal. Sedang jika orang yang betmaksiat mau bertobat, berarti dia berpindah dari tingkatan kenal ke tingkatan kekasih, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 222 :

ان الله يحب التوابين

Wallahu a'lam bishshowab.

Selamat pagi, selamat beraktifitas.
Tetap semangat, tetap shalawat
Allaahumma Shalli 'alaa Sayyidinaa Muhammad

Saturday, September 2, 2017

Putri Dzunun Al-Mishri dan Ikan yang Bertasbih

Mahbib, NU Online | Selasa, 06 Juni 2017 10:31

Cirebon, NU Online
Dzunun Al-Mishri adalah tokoh tasawuf yang cukup terkenal, melalui 'tangannya' seorang biduanita bernama Rabi'atul Adawiyah bertaubat kepada Allah dan kemudian oleh Allah mengampuninya bahkan mengangkatnya menjadi salah seorang kekasih-Nya.

Ada pula cerita unik tentang Dzunnun al-Misri yang menyibak hikmah di dalamnya. Alkisah Dzunnun Al-Mishri adalah orang yang gemar memancing ikan. Saat bulan puasa, sambil ngabuburit, ia biasa berburu ikan di sungai, ikan yang didapat dari memancing itu lalu dimasak dan dimakan sebagai menu buka puasa.

Suatu hari, Dzunun Al-Mishri mengajak anak perempuannya ikut memancing. Saat itulah  tiba-tiba putrinya mengingatkan kepada ayahnya yang sufi, 'alim, dan muhadits itu bahwa ikan yang ada di sungai tersebut sedang dan selalu bertasbih kepada Allah. 

Kalau sampai ikan tersebut diambil, disembelih lalu dimakan maka mereka akan berhenti berdzikir kepada Allah. Akhirnya, Dzunun Al-Mishri mengiyakan perkataan anaknya, lalu pulang tanpa membawa ikan.

Sejak saat itu Dzunnun Al-Mishri 'pensiun' menjadi pemancing dan selalu bertawakal kepada Allah, tentu saja setelah melakukan ikhtiar tanpa mengganggu makhluk Allah yang ada di muka bumi.

Akhirnya Allah Swt membalas Dzunun Al-Mishri dan putrinya itu dengan makanan surga, setiap Maghrib selalu datang pasukan elite yang membawa makanan super lezat. "Ini makanan dari Sang Raja untuk kalian berdua," kata pasukan itu.Begitu setiap hari selama 30 tahun.

Setelah 30 tahun berlalu putri Dzunun Al-Misri wafat dan sejak saat itu pasukan elite utusan Sang Raja tidak lagi datang membawa makanan ke rumahnya dan menyadari bahwa anugerah itu merupakan karomah dari putrinya.

Kisah ini disampaikan oleh KH Tb Ahmad Rifqi Chowas dalam pengajian pasaran di Pasantren Daarussalam Buntet, Cirebon, Sabtu (3/6). Menurutnya, kisah ini sangat terkenal, dan banyak ditemui di beberapa kitab seperti kitab Jami' Karamatil Auliya, Thabaqatul Kubra karya Imam Sya'roni, dan lain-lain. (Aiz Luthfi)

Friday, July 7, 2017

MUTIARA NASEHAT IMAM ALHADDAD

MUTIARA NASEHAT IMAM ALHADDAD.

”Orang beriman yang bergaul dengan masyarakat dan sabar menanggung gangguannya, lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan masyarakat dan tidak pula sabar menghadapi gangguannya.” ( HR Ibnu Majah dan Ahmad )

Dalam kesempatan lain beliau berkata :

“Sesungguhnya aku tidak ingin bercakap-cakap dengan masyarakat, aku juga tidak menyukai pembicaraan mereka, dan tidak peduli kepada siapapun dari mereka. Sudah menjadi tabiat dan watakku bahwa aku tidak menyukai kemegahan dan kemasyhuran. Aku lebih suka berkelana di gurun sahara. Itulah keinginanku; itulah yang kudambakan. Namun, aku menahan diri tidak melaksanakan keinginanku agar masyarakat dapat mengambil manfaat dariku.”

Beliau menulis dalam sya’irnya :

Bila Allah SWT mengujimu, bersabarlah
karena itu haknya atas dirimu.
Dan bila ia memberimu nikmat, bersyukurlah.
Siapapun mengenal dunia, pasti akan yakin
bahwa dunia tak syak lagi
adalah tempat kesengsaraan dan kesulitan.

Beliau tidak pernah bergantung pada mahluk dan selalu mencukupkan diri hanya kepada Allah SWT. Beliau berkata :

“Dalam segala hal aku selalu mencukupkan diri dengan kemurahan dan karunia Allah SWT. Aku selalu menerima nafkah dari khazanah kedermawanannya.”

“Aku tidak pernah melihat ada yang benar-benar memberi, selain Allah SWT. Jika ada seseorang memberiku sesuatu, kebaikannya itu tidak meninggikan kedudukannya di sisiku, karena aku mrnganggap orang itu hanyalah perantara saja,”

Wednesday, June 21, 2017

Imam syafi'i dan sufi

Inilah Kemuliaan Seorang Sufi (Ahli Tasawuf) Menurut Pandangan Al-Imam Asy-Syafi'i (Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah) .
قال الإمام الشافعي رحمه الله تعالى : صحبت الصوفية فاستفدت منهم ثلاث كلمات :

قولهم : الوقت سيف إذا لم تقطعه قطعك
قولهم : نفسك إن لم تشغلها بالحق شغلتك بالباطل
قولهم : العدم عصمة
وقال أيضا : حبب الي من دنياكم ثلاث : ترك التكلف ،وعشرة الخلق بالتلطف ،والإقتداء بطريق أهل التصوف .(كشف الخفاء ومزيل الإلباس عمااشتهر من الأحاديث على السنة الناس)

Berkata Al-Imam As-Syafi’i : Aku hidup bersama dengan orang-orang Sufi, maka Aku bisa mengambil manfaat dari mereka dalam tiga Kalimat :

1. Waktu adalah pedang, jika engkau tidak bisa memotongnya (menggunakanya), maka dia yang akan memotongmu (menjadikan engkau celaka dan rugi)
2. Dirimu dan keinginan nafsumu, jika engkau tidak menyibukkanya dengan sesuatu yang benar, maka dia akan menyibukkanmu dengan urusan yang bathil
3. Ketidak beradaan (kefaqiran) merupakan penjagaan dari Allah.
Dan Beliau berkata juga: Aku diberikan kesenangan terhadap permasalahan dunia kalian dalam tiga hal; meninggalkan usaha yang keras untuk mencari dunia, bergaul denga manusia menggunakan sifat lemah lembut, dan mengikuti jalan dan cara orang-orang ahli tasawuf
.
#ulama#kyai#aswaja#ramadankareem#niat#niatpuasa#lailatulqadar#sunnah#kajiansunnah#manhajsalaf#shalawat#wahabi#khalidbasalamah#firandaandirja#ustadzbadrussalam#allahuakbar#kajianislam#bidah#laabidah

Sunday, June 18, 2017

Nasehat Abu Hazim bin Dinar al-Mahzumi Kepada Pemimpin Bani Umayyah

[Nasehat Abu Hazim bin Dinar al-Mahzumi Kepada Pemimpin Bani Umayyah]

Adalah Abu Hazim Salamah bin Dinar al-Mahzumi, salah seorang ahli zuhud ternama dalam sejarah awal sufisme Islam. Ia berasal dari Persi dan sempat menjadi Qadhi di Madinah. Ia belajar langsung kepada para pembesar sahabat. Para ulama berbeda pendapat mengenai tahun wafatnya Abu Hazim. At-Tirmidzi mengatakan bahwa Abu Hazim wafat pada tahun 133 H. Sementara menurut Yahya bin Ma’in ia wafat tahun 144 H. Sedangkan menurut Fuat Sezgin ia wafat pada tahun 140 H atau bertepatan dengan tahun 757 M.

Sebagai seorang sufi generasi tabiin, Abu Hazim belajar banyak kepada sejumlah sahabat Nabi. Guru-Gurunya di antaranya adalah Sahl bin Sa’d, Abu Umamah bin Sahl, Sa’id bin al-Musayyab, Abdullah bin Abu Qatadah, Nu’man bin Abu ‘Ayyasy, Abu Salamah bin Abdurrahman, Ummu Darda’, dan pembesar tabiin yang lainnya. Sedangkan murid-muridnya yang sempat belajar kepadanya antara lain; Ibnu Syihab az-Zuhri (pencetus ilmu musthalah hadis), Imam Malik (pendiri Madzhab Maliki), Sufyan al-Tsauri (pembesar tabiin), dan ulama-ulama besar lainnya.

Fuat Sezgin dalam geschichte des arabischen schrifttums menginformasikan kepada kita bahwa mengenai biografi Abu Hazim ini dapat ditelusuri di sejumlah kitab seperti at-Tarikh al-Kabir karya Imam al-Bukhari, al-Ma’arif karya Ibnu Qutaibah, al-Jarh wa at-Ta’dil karya Ibnu Hatim ar-Razi, Hilyah al-Awliyah karya Ibnu Nu’aim al-Isfihani, at-Tahdzib Ibnu ‘Asakir, at-Tahdzib Ibnu Hajar al-Asqalani, dan al-A’lam karya Az-Zirkili.

Nasehat Abu Hazim Kepada Pemimpin Bani Umayyah

Dikisahkan suatu hari Abu Hazim melakukan perjalanan bersama kelompok umat Islam menuju Romawi untuk melakukan Jihad fi Sabilillah. Ketika perjalanan telah sampai di tempat yang dituju, mereka beristirahat. Dalam rombongan tersebut terdapat seorang pimpinan Bani Umayyah. Ia mengirim utusan untuk menemui Abu Hazim sekaligus menyuruhnya untuk menghadap kepadanya. Sang utusan pun bertemu dengan Abu Hazim dan berkata, “Pemimpin kami memanggilmu untuk menemuinya. Ia ingin bicara dan juga belajar kepadamu.” Lalu Abu Hazmi menulis surat:

Wahai Pemimpin, dulu aku menemui ahli ilmu (ulama), Mereka tidak membawa ilmunya kepada ahli dunia. Aku tidak menyangka jika engkau justru orang pertama yang akan melakukan itu (membawakan ilmu kepada ahli dunia). Jika engkau butuh terhadap kami, maka datanglah kemari. Semoga keselamatan atasmu dan atas orang-orang yang bersamamu.”

Maka ketika sang pemimpin membaca surat dari Abu Hazim, ia merasa malu dan akhirnya membalas surat tersebut yang isinya menyepakati apa yang ditulis oleh Abu Hazim. Dalam suratnya ia memuji Abu Hazim dan memintanya untuk mengingatkan dan menasehatinya. Lalu Abu Hazim pun menyanggupinya.

Abu Hazim berkata:

Lihatlah! apa yang kalian sukai untuk kalian bawa saat di akhirat nanti. Jagalah itu saat di dunia. Apa yang kalian sukai saat kalian kelak berada di kubur? Amal saleh dan istiqamah. jagalah keduanya saat kalian masih di dunia ini. Lihatlah! apa yang kalian benci saat kalian berada di akhirat? Hindarilah ia di dunia ini. Ketahuilah wahai sang pemimpin. Jika kau sebagai pemimpin berbuat kebatilan dan kau biarkan maka kelak engkau akan bersama orang-orang munafik. Sebaliknya, bila engkau mentasharufkan dengan benar maka kau akan bersama orang-orang baik yang akan membantumu kelak. Pilihlah apa yang hatimu inginkan!

Saat menjelang wafatnya Abu Hazim para sahabatnya bertanya kepadanya, “Wahai Abu Hazim, apa yang engkau rasakan?” Abu Hazim menjawab, “Andaikan aku selamat dari keburukan yang menimpa kepadaku di dunia ini, niscaya tidak ada sesuatu apapun yang membahayakanku kelak” Lalu ia membacakan ayat al-Quran:

[إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدّاً  [سورة مريم الآية: 96

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.

Inilah sepenggal kisah Abu Hazim. Seorang sufi dari kalangan tabiin yang bukan hanya menjadi guru dari tabiin-tabiin lain, melainkan bijak bestari yang dihormati dan nasehat-nasehatnya didengar oleh pemimpin.

Ditulis oleh: Idris Mas'udi

Sunday, April 30, 2017

Pelaku tragedi karbala dan cicit kanjeng nabi

BETAPA MULIANYA AKHLAK (ADAB AHLUL BAIT RASULULLAH SAW...

Dikisahkan, beberapa waktu setelah tragedi Karbala, Yazid bin Muawiyah memerintahkan eksekusi terhadap beberapa orang jendral karena adanya masalah. Salah satunya adalah lelaki yang dulu terlibat dalam pembantaian di Karbala.

Karena merasa terancam, akhirnya lelaki itu melarikan diri ke Madinah. Disana ia menyembunyikan identitasnya dan tinggal dikediaman Sayyidina Ali Zainal Abidin, cicit Rasulullah Saw yang selamat dari pembantaian di Karbala.

Dirumah itulah, lelaki itu betul-betul disambut dengan baik dan disuguhi jamuan yang layak dalam waktu tiga hari. Setelah tiga hari, lelaki pembantai di Karbala itupun berpamitan akan pergi.

Mengetahui tamunya akan pergi, Sayyidina Ali Zainal Abidin segera memenuhi kantong kuda lelaki itu dengan berbagai macam bekal, air dan makanan.

Lelaki itupun duduk diatas pelana kudanya...Namun ia tak kuasa beranjak, karena ia terharu atas kebaikan sikap Sayyidina Ali Zainal Abidin, ia merasa bersalah karena tuan rumah tak mengenali siapa dia sebenarnya.

"Kenapa engkau tak beranjak...?", tegur Sayyidina Ali Zainal Abidin.

Lelaki itu diam sejenak, lalu ia menyahut, "Apakah engkau tidak mengenaliku, tuan?".

Cicit Rasulullah Saw itupun menjawab, "Aku mengenalimu sejak kejadian di Karbala".

Lelaki itupun terdiam dan tertegun...Akhirnya ia memberanikan diri bertanya, "Kalau memang engkau sudah mengenaliku, mengapa kau masih mau menerima dan menjamuku sedemikian rupa, tuan??".

Sayyidina Ali Zainal Abidin yang dikenal sebagai "As-Sajjad" (orang yang banyak bersujud), menjawab "DULU PEMBANTAIAN DIKARBALA ADALAH AKHLAKMU, SEDANGKAN INI (MEMULIAKAN TAMU) ADALAH AKHLAK KAMI...ITULAH KALIAN, DAN INILAH KAMI".

ALLAHUMMA SHALLI 'ALAA SAYYIDINA MUHAMMAD WA 'ALAA AALI SAYYIDINA MUHAMMAD.

Ket.foto = Waktu Habib Munzir Al Musawwa Dan Rombongan Berkunjung ke Papua .

Thursday, April 13, 2017

Rumi, gurunya dan khomer

Suatu malam, Syaikh Jalaluddin Rumi mengundang Syaikh Syamsudin at-Tabrizi ke rumahnya. Sang Mursyid Syaikh Syamsuddin pun menerima undangan itu dan datang ke kediaman Rumi.

Setelah semua hidangan makan malam siap, Syaikh Syamsudin berkata pada Rumi: “Apakah kau bisa menyediakan minuman untukku?” (yang dimaksud: arak/khamr).

Rumi kaget mendengarnya, “memangnya anda juga minum?’

“Iya”, jawab Syams.

Rumi masih terkejut, ”maaf, saya tidak mengetahui hal ini.”

“Sekarang kau sudah tahu. Maka sediakanlah.”

“Di waktu malam seperti ini, dari mana aku bisa mendapatkan arak?”

“Perintahkan salah satu pembantumu untuk membelinya.”

“Kehormatanku di hadapan para pembantuku akan hilang.”

“Kalau begitu, kau sendiri pergilah keluar untuk membeli minuman.”

“Seluruh kota mengenalku. Bagaimana bisa aku keluar membeli minuman?”

“Kalau kau memang muridku, kau harus menyediakan apa yang aku inginkan. Tanpa minum, malam ini aku tidak akan makan, tidak akan berbincang, dan tidak bisa tidur.”

Karena kecintaan pada Syams, akhirnya Rumi memakai jubahnya, menyembunyikan botol di balik jubah itu dan berjalan ke arah pemukiman kaum Nasrani.

Sampai sebelum ia masuk ke pemukiman tersebut, tidak ada yang berpikir macam-macam terhadapnya, namun begitu ia masuk ke pemukiman kaum Nasrani, beberapa orang terkejut dan akhirnya menguntitnya dari belakang.

Mereka melihat Rumi masuk ke sebuah kedai arak. Ia terlihat mengisikan botol minuman kemudian ia sembunyikan lagi di balik jubah lalu keluar.

Setelah itu ia diikuti terus oleh orang-orang yang jumlahnya bertambah banyak.

Hingga sampailah Rumi di depan masjid tempat ia menjadi imam bagi masyarakat kota.

Tiba-tiba salah seorang yang mengikutinya tadi berteriak; “Ya ayyuhan naas, Syeikh Jalaluddin yang setiap hari jadi imam shalat kalian baru saja pergi ke perkampungan Nasrani dan membeli minuman !!!”

Orang itu berkata begitu sambil menyingkap jubah Rumi.

Khalayak melihat botol yang dipegang Rumi.

“Orang yang mengaku ahli zuhud dan kalian menjadi pengikutnya ini membeli arak dan akan dibawa pulang !!!” orang itu menambahi siarannya.

Orang-orang bergantian meludahi muka Rumi dan memukulinya hingga serban yang ada di kepalanya lengser ke leher.

Melihat Rumi yang hanya diam saja tanpa melakukan pembelaan, orang-orang semakin yakin bahwa selama ini mereka ditipu oleh kebohongan Rumi tentang zuhud dan takwa yang diajarkannya.

Mereka tidak kasihan lagi untuk terus menghajar Rumi hingga ada juga yang berniat membunuhnya.

Tiba-tiba terdengarlah suara Syaikh Syamsudin at-Tabrizi; “Wahai orang-orang tak tahu malu. Kalian telah menuduh seorang alim dan faqih dengan tuduhan minum khamr, ketahuilah bahwa yang ada di botol itu adalah cuka untuk bahan masakan."

Seseorang dari mereka masih mengelak. “Ini bukan cuka, ini arak.”

Syams mengambil botol dan membuka tutupnya.

Dia meneteskan isi botol di tangan orang-orang agar menciumnya. Mereka terkejut karena yang ada di botol itu memang cuka.

Tidak lama kemudian mereka memukuli kepala mereka sendiri dan bersimpuh di kaki Rumi.

Mereka berdesakan untuk meminta maaf dan menciumi tangan Rumi hingga pelan-pelan mereka pergi satu demi satu.

Rumi berkata pada Syamsudin, “Malam ini kau membuatku terjerumus dalam masalah besar sampai aku harus menodai kehormatan dan nama baikku sendiri. Apa maksud semua ini syekh ?”

“Agar kau mengerti bahwa wibawa yang kau banggakan ini hanya khayalan semata. Kau pikir penghormatan orang-orang awam seperti mereka ini sesuatu yang abadi?.

Padahal kau lihat sendiri, hanya karena dugaan satu botol minuman saja semua penghormatan itu sirna dan mereka jadi meludahimu, memukuli kepalamu, dan hampir saja membunuhmu. Inilah kebanggaan yang selama ini kau perjuangkan dan akhirnya lenyap dalam sesaat ???"

"Maka bersandarlah pada yang tidak tergoyahkan oleh waktu dan tidak terpatahkan oleh perubahan zaman. Bersandarlah hanya kepada ALLOH SWT."

Amanat guru

Seorang murid datang kepada guru pembimbing ruhaninya.

"Duhai syaikh, berilah aku sirr (rahasia ilmu) ALLOH yang dititipkan olehNya di dalam dadamu."

"Kau belum mampu memikul amanat ini wahai anakku."

"Insya ALLOH aku mampu wahai syaikh."

"Kalau begitu, bawalah dulu titipanku ini,  berikanlah kepada sahabatku yang tinggal di perbatasan kota ini."

"Baiklah syaikh, saya akan melaksanakannya."

Guru itu menitipkan sebuah cawan yang ditutup dengan piring dan berpesan agar menjaganya tetap tertutup, tak boleh dibuka sampai ke tangan sahabatnya.

Tapi ternyata di dalam cawan itu ada sesuatu yang bergerak-gerak dan hal itu menjadikan sang murid ingin mengetahui apakah benda yang bergerak itu.

Ketika murid itu telah menempuh hampir setengah perjalanan, ia tak tahan dan membuka cawan itu.

Dan ternyata isinya, hanyalah seekor tikus yang lalu lepas dan lari. Betapa marahnya murid itu,  yang diperintah melakukan perjalanan jauh hanya mengantarkan tikus. Maka ia kembali dan marah kepada gurunya.

"Apakah syaikh mempermainkan saya?".

"Apakah yang terjadi?".

"Bukankah syaikh hanya meletakkan tikus di cawan dan memerintahkan saya mengantarkannya ke luar kota?".

"Jadi kau telah membukanya dan tidak amanat?".

"Benar".

"Anakku, jika kau tak dapat menjaga tikus yang aku titipkan kepadamu, lalu bagaimana mungkin kau mampu menjaga sirr ALLOH?".

Wednesday, February 22, 2017

Tabib nasroni

#Ngaji_kisah

Suatu kali imam As syibli terserang suatu penyakit, kholifah mengutus seorang tabib yg beragama nashroni utk mengobatinya.
ternyata setelah diobati penyakitnya semakin parah.

Tabib nashroni berkata :
" wahai syaikhnya kaum muslimin, jika ku ketahui bahwa penyembuhanmu dengan memotong salah satu anggota tubuhku, maka akan ku kerjakan "

Imam Syibli berkata :
" penyembuhanku tdklah sesulit itu, hanya  dengan memotong ikat pinggangmu (ciri kaum nashroni saat itu) maka aku akan sembuh"

Maka saat itu juga sang tabib memotong ikat pinggangnya dan masuk islam, dan saat itu juga imam syibli sembuh seperti sedia kala tanpa ada penyakit sama sekali.

Sambil tersenyum sang Kholifah berkata :
" Ku sangka aku mengutus seorang tabib kepada orang yg sakit, namun ternyata aku mengutus orang yg sakit kepada tabib. "

wallohu a'lam.

~Nuzhatul Majaalis~

Wednesday, February 8, 2017

PESAN HIKMAH YAHYA IBN MU'ADZ AR-RAZI

Menurut Imam Ibnu As-Sam’ani, sebenarnya tokoh yang pertama kali mengenalkan ucapan 'man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu' (Barang siapa yang mengenal dirinya maka telah mengenal Tuhannya) Yahya ibn Mu’adz Ar-Razi (w. 257 H). Ucapan ini menjadi sangat populer di dunia tasawuf, bahkan banyak menyebut sebagai hadis. Penjelasan ini disebut Imam As-Sam’ani dalam kitab Ad-Durar Al-Mutanatsirah fil al-ahadits al-musytabirah.

Yahya ibn Mu’adz Ar-Razi adalah ulama genarasi tabi'in yang dikenal sangat zuhud dan wara. Beliau dalam jajaran ulama hadis, dikenal sebagai seorang yang adil.

Yahya ibn Mu’adz Ar-Razi memberi pesan hikmah tentang sedekah:
“Suatu hari aku sedang dalam perjalanan jauh. Hingga aku melewati Rei (sebuah kota dekat Teheran, Iran), terbetik dalam hatiku perang batin antara bekal dan sedekah, aku pun merenung sejenak.

Tiba-tiba kudengar suara gaib,
أَخْرِجْ مَا فِيْ الْجَيْبِ نُعْطِيْكَ مِنَ الْغَيْبِ
‘Keluarkan yang ada di saku, kami akan membalasmu dari arah (gaib) yang tak kau tahu.’” (Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Kasyfu Al-Khafa).

Monday, February 6, 2017

Habib Abdullah ibn Alwi Al-Haddad

Tatkala mendekati waktu 'Iedul Adha, seorang ayah berkata kepada anaknya: “Bawalah pisau kita ini ke tukang besi (Haddad) untuk diasah!".

Namun, anak ini rupanya salah memahami ucapan sang ayah, Sebab tatkala mendengar "Haddad" yang ada dipikirannya hanya teringat Imam Abdullah ibn Alwi Al-Haddad.

Kemudian di bawanya pisau tadi itu ke rumah Imam Al-Haddad.

Tatkala sampai di sana, si Anak ini bersalaman kepada Habib Abdullah ibn Alwi Al-Haddad dan berkata: “Ayahku bilang, pisau ini tolong diasahkan dan perbaikilah karena Hari 'Ied sudah dekat!”.

Kata Habib Abdullah ibn Alwi Al-Haddad: “Marhaba/Baiklah.”

Sebenarnya Habib Abdullah ibn Alwi Al-Haddad sudah faham maksud ayah si Anak ini yang menyuruh agar pergi ke Haddad, yaitu tukang besi di pasar yang memang sudah terbiasa bekerja mengasah besi. Namun demikian, beliau tidak mau mengecewakan anak tersebut.

Kata Habib Abdullah ibn Alwi Al-Haddad: “Taruhlah (pisaunya) di situ, besok engkau datanglah kemari lagi”.

Si Anak itu pun pergi meninggalkan kediaman Habib. Selang beberapa saat Habib Abdullah ibn Alwi Al-Haddad memanggil seorang khaddam beliau dan berkata : “Bawalah pisau ini ke tukang besi di pasar, tolong mintakan untuk diperbaiki dan pertajamlah, setelah itu engkau bawakan pisau ini kemari lagi”.

Akhirnya pisau itu pun diperbaiki dan diserahkan kembali kepada Habib Abdullah ibn Alwi Al-Haddad.

Kemudian, keesokan harinya datang Si Anak tersebut. Lalu Si Anak ini pun berkata: “Berapakah ongkosnya?”.

Kata Habib: “Katakanlah pada ayahmu tidak ada ongkosnya, kalau dengan kami tidak pakai ongkos. Ambillah, ini sudah siap”.

Maka Si Anak tersebut pun pulang ke rumahnya. Lalu Si Anak ini berkata kepada ayahnya: “Haddad/tukang besi itu tidak mau di bayar?”.

Ayahnya ini kaget : “Hhaa.. siapa Haddad yang tidak mau dibayar? Memangnya dimana dia?”.

Kata Si Anak : “Di Al Hawi.”

Si Ayah berkata : “Al Hawi mana? Apa daerah tempat tinggal Imam Haddad?. Kalau Haddad yang aku maksud itu ya di pasar sini dekat kita!.

Mendengar hal tersebut, sebenarnya Ayahnya ini agak marah: “Bagaimana bisa di Al Hawi???”.

Kata Si Anak : “Al Haddad !! Yaa, Abdullah ibn Alwi Al-Haddad.”

Serentak ayahnya berkata : “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojiuun??? Emangnya Engkau ini pergi ke mana?.

Jawab Si Anak : “Ke Haddad.”

Kata Si Ayah : “Lalu engkau serahkan ke siapa?”.

Jawab Si Anak : “Aku serahkan sendiri.”

Kata Si Ayah : “Siapa yang menerimanya?”.

Jawab Si Anak : “Dia sendiri yang menerimanya dan katanya kembali lagi besok hari.”

Lalu Si Ayah berkata : “Alangkah bodohnya kamu nak !! Kau pergi ke orang yang 'Alim, yang Sholeh, lalu kau minta untuk memperbaiki pisau kepadanya???".

Akhirnya, Si Ayah anak ini pergi ke Habib Abdullah ibn Alwi Al-Haddad untuk meminta maaf.

Kemudian Imam Haddad berkata kepada Si Ayah anak tersebut : “Tidak apa-apa, jangan engkau masukkan ke dalam hati. Jika tahun ini kalian benar-benar berkurban, kami pun akan ikut mendapatkan pahala lantaran sebab anak ini.”.

Masya Allah..!

Sungguh jawaban Al-Habib sangat menyentuh, sopan, santun dan bijaksana luar biasa. Al-Habib pun langsung menghilangkan rasa bersalah sang Ayah Anak tersebut kepada beliau di saat itu juga.