Wednesday, September 2, 2020
NDRESMO Makkah nya tanah jawatempat mukim nya Habaib yg berwajah njowo
Thursday, February 27, 2020
SEJARAH SINGKAT ANAK CUCU RASULULLAH ﷺ DI NUSANTARA.
SEJARAH SINGKAT ANAK CUCU RASULULLAH ﷺ DI NUSANTARA.
Keturunan Nabi Muhammad SAW.
Beliau Rasulullah ﷺ dikaruniai 7 anak 3 laki-laki dan 4 prempuan, yaitu Qasim, Abdullah, Ibrahim, Zaenab, Ruqoiyah, ummu kultsum, dan Fathimah Azzahra. Setiap keturunan berasal dari ayahnya, namun khusus untuk Keturunan Sayyidatuna Fathimah bersambung kepada Rasulullah merekalah keturunan Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: "setiap anak yg dilahirkan ibunya bernasab kepada ayahnya, kecuali anak-anak dari fathimah, akulah wali mereka, akulah nasab mereka dan akulah ayah mereka" (HR.Imam Ahmad)
Sayyidatuna Fathimah dikarunia 2 orang putra yaitu Sayyidina Hasan dan Saayidina Husein, dari kedua cucu Nabi ini lahir para anak cucuk Rasulullah yang hingga kini kita kenali dengan sebutan syarif, syarifah, Sayyid, dan Habib.
Keturunan dari Sayyidina Hasan, yaitu sering disebut dengan al-hasani hanya ada sedikit saja di indonesia.
Keturunan dari Sayyidina Husein, Sayyidina Husein wafat di Karbala, beliau mempunyai enam orang anak laki-laki dan 3 wanita, yaitu Ali Akbar, Ali Awsat, Ali Ashghar, Abdullah, Muhammad, Jakfar, Zainab, Sakinah dan Fathimah. Putra Sayyidina Husein keseluruhannya wafat terkecuali Al Awsat atau yang biasa dikenal dengan Nama Imam Ali Zainal 'Abidin, mempunyai putra bernama Muhammad Al-baqir, yang mempunyai Putra bernama Ja'far Ash-Shadiq yang menjadi Guru daripada Imam Hanafi, yang kemudian Imam Hanafi ini memiliki murid Imam Maliki, lalu Imam Maliki memiliki murid Imam Syafi'i dan Imam Syafi'i bermuridkan Imam Ahmad bin Hanbal.
Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq dilahirkan pada tahun 80 H riwayat lain menyebutkan 83 H, Meninggal di kota Madinah pada tahun 148 H dan dimakamkan di pekuburan Baqi. Keturunannya yaitu Ali Uraidi yang memiliki putra bernama Muhammad An-nagieb memiliki putra isa arumi dan memiliki putra ahmad al muhajir.
Ahmad bin Isa al-muhajir punya dua orang putra yaitu Ubaidillah dan Muhammad. Ubaidillah hijrah bersama ayahnya ke Hadramaut, Yaman dan mendapat tiga putra yaitu Alwi, Jadid dan Ismail (Bashriy). Keturunan mereka punah dalam sejarah, sedangkan keturunan Alwi tetap lestari. Mereka menamakan diri dengan nama sesepuhnya Alwi, yang kemudian dikenal masyarakat dengan sebutan kaum Sayyid Alawiyin.
Kepindahannya ke Hadramaut disebabkan karena kekuasaan diktator khalifah Bani Abbas yang secara turun-menurun terus memimpin umat Islam, mengakibatkan rasa ketidakpuasan di kalangan rakyat. Akibat dari kepemimpinan yang diktator, banyak kaum muslim berhijrah, menjauhkan diri dari pusat pemerintahan lalu hijrah dan menetap di Hadramaut, Yaman.
Penduduk Yaman khususnya Hadramaut yang mengaku penduduk asli dari qabilah Qahthan, yang awalnya bodoh dan sesat berubah menjadi mengenal ilmu dan berjalan di atas syariat Islam yang sebenarnya. Al-Imam al-Muhajir dan keturunannya berhasil menundukkan masyarakat Hadramaut yang memiliki faham khawarijme dengan akhlak dan pemahaman yang baik.
Para sayyid Alawiyin menyebarkan dakwah Islamnya di Asia Tenggara melalui dua jalan, pertama hijrah ke India kemudian pada tahap kedua dari India ke Asia Tenggara, atau langsung dari Hadramaut ke wilayah Asia Tenggara melalui pesisir India.
Diantara yang hijrah ke India adalah syarif Abdullah bin Husein Bafaqih ke kota Kanur dan menikahi anak menteri Abdul Wahab dan menjadi pembantunya sampai wafat. Lalu syarif Muhammad bin Abdullah Alaydrus yang terkenal di kota Surat dan Ahmadabad. Dia hijrah atas permintaan kakeknya syarif Syech bin Abdullah Al-Aydrus. Begitu pula keluarga ABDUL MALIK yang diberi dengan gelar ‘ADZAMATKHAN’. Dari keluarga inilah asal-muasal keturunan penyebar Islam di Indonesia khususnya di Jawa yang dikenal dengan sebutan Wali Songo. Kemudian dari India, mereka melanjutkan dakwahnya ke Indonesia, yaitu melalui daerah pesisir utara Sumatera yang sekarang dikenal dengan propinsi Aceh.
Menurut Profesor Dr. Hamka, sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke Indonesia, tanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu lalu kepulauan Indonesia dan Filipina. Memang harus diakui banyak jasa-jasa dari mereka dalam penyebaran Islam di seluruh Nusantara ini. Penyebar Islam dan pembangun kerajaan islam di Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam di Mindanau dan Sulu. Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar Muda Mahkota Alam, pernah bangsa Sayyid dari keluarga Jamalullail menjadi raja di Aceh. Negeri Pontianak pernah diperintah oleh bangsa Sayyid al-Gadri. Siak oleh keluarga dari bangsa Sayyid Bin Shahab. Perlis (Malaysia) didominasi dan dirajai oleh bangsa dari Sayyid Jamalullail. Yang Dipertuan Agung III Malaysia, Sayyid Putera adalah raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tuanku Haji Bujang ialah berasal dari keluarga Al-Aydrus.
Kedudukan para sayyid di negeri ini yang turun-temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri di mana mereka berdiam. Kebanyakan dari mereka menjadi ulama dan ada juga yang berdagang. Mereka datang dari Hadramaut dari keturunan Imam Isa al-Muhajir dan al-Faqih al-Muqaddam. Mereka datang kemari dari berbagai keluarga. Yang kita banyak kenal dari mereka ialah dari keluarga As-Segaf, Al-Kaff, Al-Athas, Bin Syekh Abubakar, Al-Habsyi, Bafaqih, Al-Aydrus, Al-Haddad, Bin Smith, Jamalullail, Assiry, Al-Aidid, Al-Jufri, Bin Syahab, Al-Qadri, Albar, Al-Mussawa, Gathmir, Bin Aqil, Al-Hadi, Al-Zahir, Basyaiban, Ba’abud, Bin Yahya dan lain-lain.
Orang-orang dari Arab khususnya Hadramaut mulai datang secara masal ke Nusantara pada tahun-tahun terakhir diabad 18, sedangkan kedatangan mereka di pantai Malabar jauh lebih awal. Pemberhentian mereka yang pertama adalah di Aceh. Dari sana mereka lebih memilih pergi ke Palembang dan Pontianak. Orang-orang Arab mulai banyak menetap di Jawa setelah tahun 1820 Masehi, dan qabilah-qabilah mereka baru tiba di bagian Timur Nusantara pada kisaran tahun 1870 Masehi. Pendudukan Singapura oleh Inggris pada tahun 1819 Masehi dan kemajuan besar dalam bidang perdagangan membuat kota itu menggantikan kedudukan Aceh sebagai perhentian pertama dan titik pusat imigrasi bangsa-bangsa Arab. Semenjak pembangunan pelayaran kapal uap di antara Singapura dan Arab, Aceh sudah menjadi tidak penting lagi..
Di pulau Jawa terdapat enam qabilah besar Arab, yaitu di Batavia yang sekarang dikenal dengan nama Jakarta, Cirebon, Pekalongan, Semarang, Tegal, dan Surabaya. Di Madura hanya ada satu yaitu di Sumenep. Qabilah Arab di Surabaya dianggap sebagai pusat qabilah di pulau Jawa bagian Timur. qabilah Arab lainnya yang cukup besar berada di Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, Bangil, Besuki dan Banyuwangi. Qabilah Arab di Besuki mencakup pula orang Arab yang menetap di kota Panarukan dan Bondowoso.
Qabilah-qabilah Arab Hadramaut khususnya Alawiyin yang berada lokasi pesisir tetap menggunakan nama-nama qabilah mereka, sedangkan Alawiyin yang tidak dapat pindah ke pesisir karena berbagai sebab, Mereka berganti nama dengan nama-nama Jawa, mereka banyak yang berasal dari keluarga Ba’bud, Basyaiban, Bin Yahya dan lainnya.
Sumber : Kitab Syamsud Dhahiroh dan berbagai sumber lainnya.
Monday, January 13, 2020
Mbah Priok; Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad
Mbah Priok; Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad
Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddadlahir di di Ulu, Palembang, Sumatera selatan, pada tahun 1291 H / 1870 M. Semasa kecil beliau mengaji kepada kakek dan ayahnya di Palembang. Saat remaja, beliau mengembara selama babarapa tahun ke Hadramaut, Yaman, untuk belajar agama, sekaligus menelusuri jejak leluhurnya, Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Shohib Ratib Haddad, yang hingga kini masih dibaca sebagian besar kaum muslimin Indonesia. Beliau menetap beberapa tahun lamanya, setelah itu kembali ke tempat kelahirannya, di Ulu, Palembang
Ketika petani Banten, dibantu para Ulama, memberontak kepada kompeni Belanda (tahun 1880), banyak ulama melarikan diri ke Palembang; dan disana mereka mendapat perlindungan dari Habib Hasan. Tentu saja pemerintah kolonial tidak senang. Dan sejak itu, beliau selalu diincar oleh mata-mata Belanda.
Pada tahun 1899, ketika usianya 29 tahun, beliau berkunjung ke Jawa, ditemani saudaranya, Habib Ali Al-Haddad, dan tiga orang pembantunya, untuk berziarah ke makam Habib Husein Al Aydrus di Luar Batang, Jakarta Utara,Sunan Gunung Jati di Cirebon dan Sunan Ampel di Surabaya. Dalam perjalanan menggunakan perahu layar itu, beliau banyak menghadapi gangguan dan rintangan. Mata-mata kompeni Belanda selalu saja mengincarnya. Sebelum sampai di Batavia, perahunya di bombardier oleh Belanda. Tapi Alhamdulillah, seluruh rombongan hingga dapat melanjutkan perjalanan sampai di Batavia.
Dalam perjalanan yang memakan waktu kurang lebih dua bulan itu, mereka sempat singgah di beberapa tempat. Hingga pada sebuah perjalanan, perahu mereka dihantam badai. Perahu terguncang, semua perbekalan tumpah ke laut. Untunglah masih tersisa sebagian peralatan dapur, antara lain periuk, dan beberapa liter beras. Untuk menanak nasi, mereka menggunakan beberapa potong kayu kapal sebagai bahan bakar. Beberapa hari kemudian, mereka kembali dihantam badai. Kali ini lebih besar. Perahu pecah, bahkan tenggelam, hingga tiga orang pengikutnya meninggal dunia. Dengan susah payah kedua Habib itu menyelamatkan diri dengan mengapung menggunakan beberapa batang kayu sisa perahu. Karena tidak makan selama 10 hari, akhirnya Habib Hasan jatuh sakit, dan selang beberapa lama kemudian beliaupun wafat.
Sementara Habib Ali Al-Haddad masih lemah, duduk di perahu bersama jenazah Habib Hasan, perahu terdorong oleh ombak-ombak kecil dan ikan lumba-lumba, sehingga terdampar di pantai utara Batavia. Para nelayan yang menemukannya segera menolong dan memakamkan jenazah Habib Hasan. Kayu dayung yang sudah patah digunakan sebagai nisan dibagian kepala; sementara di bagian kaki ditancapkan nisan dari sebatang kayu sebesar kaki anak-anak. Sementara periuk nasinya ditaruh disisi makam. Sebagai pertanda, di atas makamnya ditanam bunga tanjung. Masyarakat disekitar daerah itu melihat kuburan yang ada periuknya itu di malam hari selalu bercahaya. Lama-kelamaan masyarakat menamakan daerah tersebut Tanjung periuk. Sesuai yang mereka lihat di makam Habib Hasan, yairtu bunga tanjung dan periuk.
Konon, periuk tersebut lama-lama bergeser dan akhirnya sampai ke laut.
Banyak orang yang bercerita bahwa, tiga atau empat tahun sekali, periuk tersebut di laut dengan ukuran kurang lebih sebesar rumah. Diantara orang yang menyaksikan kejadian itu adalah anggota TNI Angkatan Laut, sersan mayor Ismail. Tatkala bertugas di tengah malam, ia melihat langsung periuk tersebut.
Karena kejadian itulah, banyak orang menyebut daerah itu : Tanjung Periuk.
Sebenarnya tempat makam yang sekarang adalah makam pindahan dari makam asli. Awalnya ketika Belanda akan menggusur makam Habib Hasan, mereka tidak mampu, karena kuli-kuli yang diperintahkan untuk menggali menghilang secara misterius. Setiap malam mereka melihat orang berjubah putih yang sedang berdzikir dengan kemilau cahaya nan gemilang selalu duduk dekat nisan periuk itu. Akhirnya adik Habib Hasan, yaitu Habib Zein bin Muhammad Al-Haddad, dipanggil dari Palembang khusus untuk memimpin doa agar jasad Habib Hasan mudah dipindahkan. Berkat izin Allah swt, jenazah Habib Hasan yang masih utuh, kain kafannya juga utuh tanpa ada kerusakan sedikitpun, dipindahkan ke makam sekarang di kawasan Dobo, tidak jauh dari seksi satu sekarang.
Salah satu karomah Habib Hasan adalah suatu saat pernah orang mengancam Habib Hasan dengan singa, beliau lalu membalasnya dengan mengirim katak. Katak ini dengan cerdik lalu menaiki kepala singa dan mengencingi matanya. Singa kelabakan dan akhirnya lari terbirit-birit.
Ada kisah lain beliau dari
Sumber MT Ashalatu ‘Alan Nabi
Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A kurang lebih 23 tahun dimaqamkan, pemerintah belanda pada saat itu bermaksud membangun pelabuhan di daerah itu. Pada saat pembangunan berlangsung banyak sekali kejadian yang menimpa ratusan pekerja (kuli) dan opsir belanda sampai meninggal dunia. Pemerintah belanda menjadi bingung dan heran atas kejadian tersebut dan akhirnya menghentikan pembangunan yang sedang dilaksanakan.
Rupanya pemerintah belanda masih ingin melanjutkan pembangunan pelabuhan tersebut dengan cara pengekeran dari seberang (sekarang dok namanya), alangkah terkejutnya mereka saat itu ketika melihat ada orang berjubah putih sedang duduk dan memegang tasbih di atas maqam. Maka dipanggil beberapa orang mandor untuk membicarakan peristiwa tersebut. Setelah berembuk diputuskan mencari orang yang berilmu yang dapat berkomunikasi dengan orang yang berjubah putih yang bukan lain adalah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A. setelah berhasil bertemu orang berilmu yang dimaksud (seorang kyai) untuk melakukan khatwal, alhasil diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.Apabila daerah (tanah) ini dijadikan pelabuhan oleh pemerintah belanda tolong sebelumnya pindahkanlah saya terlebih dulu dari tempat ini.
2.Untuk memindahkan saya, tolong hendaknya hubungi terlebih dulu adik saya yang bernama Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yang bertempat tinggal di Ulu Palembang, Sumatera Selatan.
Akhirnya pemerintah belanda menyetujui permintaan Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A (dalam khatwalnya) kemudian dengan menggunakan kapal laut mengirim utusannya termasuk orang yang berilmu tadi untuk mencari Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yang bertempat tinggal di Ulu, Palembang.
Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A sangat mudah ditemukan di Palembang, sehingga dibawalah langsung ke Pulau Jawa untuk membuktikan kebenarannya. Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A dalam khatwalnya membenarkan “Ini adalah maqam saudaraku Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A yang sudah lama tidak ada kabarnya.”
Selama kurang lebih 15 hari lamanya Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A menetap untuk melihat suasana dan akhirnya Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A dipindahkan di jalan Dobo yang masih terbuka dan luas. Dalam proses pemindahan jasad Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A masih dalam keadaan utuh disertai aroma yang sangat wangi, sifatnya masih melekat dan kelopak matanya bergetar seperti orang hidup.
Setelah itu Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A meminta kepada pemerintah belanda agar maqam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A itu dipagar dengan kawat yang rapih dan baik serta diurus oleh beberapa orang pekerja. Pemerintah belanda pun memenuhi permintaan Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A.
Setelah permintaan dipenuhi Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A meminta waktu 2 sampai 3 bulan lamanya untuk menjemput keluarga beliau yang berada di Ulu, Palembang. Untuk kelancaran penjemputan itu, pemerintah belanda memberikan fasilitas. Dalam kurun waktu yang dijanjikan Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A kembali ke Pulau Jawa dengan membawa serta keluarga beliau.
Dalam pemindahan jenazah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A tersebut banyak orang yang menyaksikan diantaranya :
1.Al Habib Muhammad Bin Abdulloh Al Habsy R.A
2.Al Habib Ahmad Dinag Al Qodri R.A, dari gang 28
3.K.H Ibrahim dari gang 11
4.Bapak Hasan yang masih muda sekali saat itu
5.Dan banyak lagi yang menyaksikan termasuk pemerintah belanda
Kemudian Bapak Hasan menjadi penguru maqam Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A. Saat ini semua saksi pemindahan tersebut sudah meninggal. Merekalah yang menyaksikan dan mengatakan jasad Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A masih utuh dan kain kafannya masih mulus dan baik, selain itu wangi sekali harumnya.
Dipemakaman itulah dikebumikan kembali jasad Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadad R.A yang sekarang ini pelabuhan PTK (terminal peti kemas) Koja Utara, Kecamatan Koja, Tanjung Priuk – Jakarta Utara.
Setelah pemindahan maqam banyak orang yang berziarah ke maqam Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A sebagaimana yang diceritakan oleh putera Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yaitu Al Arif Billah Al Habib Ahmad Bin Zein Al Haddad R.A.
Pada Tahun 1841 Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A di gang 12 kelurahan Koja Utara kedatangan tamu yaitu Al Arif Billah Al Habib Ali Al Haddad R.A (orang yang selamat dalam perjalanan dari Ulu, Palembang ke Pulau Jawa) dan beliau menceritakan kejadian yang dialaminya bersama Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadad R.A beserta 3 orang azami. Cerita tersebut disaksikan Al Arif Billah Al Habib Ahmad Bin Zein Al Haddad R.A. Dari cerita itulah maka dijadikannya Maqib Maqom Kramat Situs Sejarah Tanjung Priuk (dalam pelabuhan peti kemas (TPK) Koja, Tanjung Priuk, Jakarta Utara). Alfatihah
Sumber :
( Al – Kisah No. 07 / Tahun III / 28 Maret – 10 April 2005 & No. 08 / Tahun IV / 10-23 April 2006 )
Thursday, August 29, 2019
Gitar dan wali
Suatu hari, al-Habib Saggaf bin Abu Bakar Assegaf bermain gitar gambus dengan sya'ir-sya'ir arabnya. Tiba-tiba al-Quthub al-Fard al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf (Gresik) Sang Abah menegur beliau sang anak.
"Yek, kapan kau bermunajat kepada Allah kalau kau main gitar terus?"
Seketika itu juga Sang Abah menyimpan gitar gambus Waladnya tersebut dilemarinya. Semenjak itu al-Habib Saggaf tidak pernah bermain gitar lagi. Namun kemudian selang satu bulan, ketika al-Quthb al-Fard al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf sedang Qiyamullail (sholat malam), beliau mendengar suara tangisan yg sangat memilukan hati, kemudian dicarinya suara tersebut. Ternyata suara itu dari dalam almari dimana gitar sang Putra yaitu al-Habib Saggaf disimpan, menangis tersedu-sedu.
Al Quthb Habib Abu Bakar Assegaf bertanya (tentunya hal ini bisa saja terjadi kalau Allah SWT menghendaki untuk membuktikan derajat kewalian beliau) :
"Wahai gitar, kenapa engkau menangis?"
Si Gitar menjawab:
"Wahai Habib, kenapa aku tidak boleh di ajak bersenandung memuji Allah dan Nabi-Nya bersama anakmu?"
Semenjak itu dan setelah peristiwa menangisnya gitar gambus milik al-Habib Saggaf sang Putra tercintanya, al-Habib Saggaf di persilahkan oleh sang Abah utuk bermain gitar gambus lagi. Dan dari beliaulah Musik Gambus dan Jalsah yg sangat Populer hingga sekarang ini yg sering kita dengarkan, dan para Yek (para habib muda) berdendang dalam Balutan Mahabbah ilAlloh wa Rasulihi.
Kuteringat juga kisah tentang rebana Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani saat didendangkan sambil thawaf di Ka'bah. Ketika diketahui pihak Askar kerajaan Saudi, Askar itupun menangkap beliau. Tapi anehnya rebana yg jatuh itu terbang sendiri mengitari Ka'bah.
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Gitar dan wali
Suatu hari, al-Habib Saggaf bin Abu Bakar Assegaf bermain gitar gambus dengan sya'ir-sya'ir arabnya. Tiba-tiba al-Quthub al-Fard al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf (Gresik) Sang Abah menegur beliau sang anak.
"Yek, kapan kau bermunajat kepada Allah kalau kau main gitar terus?"
Seketika itu juga Sang Abah menyimpan gitar gambus Waladnya tersebut dilemarinya. Semenjak itu al-Habib Saggaf tidak pernah bermain gitar lagi. Namun kemudian selang satu bulan, ketika al-Quthb al-Fard al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf sedang Qiyamullail (sholat malam), beliau mendengar suara tangisan yg sangat memilukan hati, kemudian dicarinya suara tersebut. Ternyata suara itu dari dalam almari dimana gitar sang Putra yaitu al-Habib Saggaf disimpan, menangis tersedu-sedu.
Al Quthb Habib Abu Bakar Assegaf bertanya (tentunya hal ini bisa saja terjadi kalau Allah SWT menghendaki untuk membuktikan derajat kewalian beliau) :
"Wahai gitar, kenapa engkau menangis?"
Si Gitar menjawab:
"Wahai Habib, kenapa aku tidak boleh di ajak bersenandung memuji Allah dan Nabi-Nya bersama anakmu?"
Semenjak itu dan setelah peristiwa menangisnya gitar gambus milik al-Habib Saggaf sang Putra tercintanya, al-Habib Saggaf di persilahkan oleh sang Abah utuk bermain gitar gambus lagi. Dan dari beliaulah Musik Gambus dan Jalsah yg sangat Populer hingga sekarang ini yg sering kita dengarkan, dan para Yek (para habib muda) berdendang dalam Balutan Mahabbah ilAlloh wa Rasulihi.
Kuteringat juga kisah tentang rebana Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani saat didendangkan sambil thawaf di Ka'bah. Ketika diketahui pihak Askar kerajaan Saudi, Askar itupun menangkap beliau. Tapi anehnya rebana yg jatuh itu terbang sendiri mengitari Ka'bah.
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Tuesday, July 23, 2019
MESKI TERTUNDA, KEIKHLASAN IMAM HADDAD RA KINI TERBAYAR LUNAS.
MESKI TERTUNDA, KEIKHLASAN IMAM HADDAD RA KINI TERBAYAR LUNAS.
Di jalanan sepi Desa Hawi - + 400 tahun yang lalu sekelompok Musafir bertanya kepada para penduduk desa, "Dimanakah rumah Abdullah Al-Haddad?" Para penduduk desa menjawab, "Apakah yang kalian maksud Abdullah si Buta?". Sebagaimana kaum Quraisy yang hanya mengenal Nabi Muhammad sebagai si Yatim.
AL-Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad adalah seorang ulama besar dengan mata rantai keilmuan yang bersambung pada guru-guru beliau sampai Nabi Muhammad saw. Bahkan, bukan hanya sanad ilmu, sanad nasab beliau juga bersambung kepada Nabi Muhammad saw. Di usia 4 tahun, beliau mengalami sakit yang menyebabkan kehilangan penglihatannya. Namun, Allah menggantikan untuknya mata hati yang terang benderang.
Salah satu Guru beliau adalah Al-Imam Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas (Penyusun Ratib Al-Atthos). Ketika itu, banyak santri yang berebut untuk berguru kepada Habib Umar. Namun, yang disambut oleh Al-Habib Umar adalah Habib Abdullah Al-Haddad kecil. Beliau berbeda dengan yang lain di hadapan Sang Guru. Saat yang lain sibuk mencari, ia malah dicari. Saat yang lain sibuk mencintai, ia malah telah dicintai. Sungguh kedudukan yang luar biasa.
Hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Beliau mendapatkan kemuliaan ini tidak dengan cuma-cuma, melainkan dengan mujahadah yang sangat berat. Diceritakan, di awal mencari ilmu, setelah shalat subuh, beliau bertadarrus Alqur'an. Kemudian, berkelilinglah ia ke masjid-masjid kota Tarim untuk melakukan shalat sunnah sampai sekitar 200 roka'at. Tak lupa, beliau juga mengisi bak-bak air di kamar mandi masjid supaya orang yang akan berwudlu tidak perlu mengambil air lagi dari sumur. Beliau bukan melakukannya sekali, tetapi setiap hari.
Sampai nenek beliau yang bernama asy-Syarifah Salma binti al-Habib Umar bin Ahmad al-Manfar Ba’alawi berkata: ‘Wahai anakku, kasihanilah dirimu". Beliau selalu menyembunyikan berbagai cobaan yang dideritanya, sampai di akhir usianya. Dalam masalah ini beliau berkata kepada seorang kawan dekatnya,:“Sesungguhnya penyakit demam di tubuhku sudah ada sejak lima belas tahun yang lalu dan hingga kini masih belum meninggalkan aku, meskipun demikian tidak seorang pun yang mengetahui penyakitku ini, sampai pun keluargaku sendiri.”
Beliau selalu berdoa kepada Allah, "Ya Allah, berilah kepadaku kedudukan Al-Habib Abdullah bin Abi Bakar Alaydrus Al-Akbar, Sampai akhirnya, Allah berikan kepadanya futuhal 'arifin (keterbukaan para arif billah. Saat sudah menjadi seorang ulama, beliau tidak memiliki banyak murid seperti yang lainnya. Beliau juga tak begitu dikenal di masanya. Tetapi, berkat keikhlasan dan kesungguhannya kepada Allah, tersebarlah nama dan ilmu beliau melalui 2 orang murid terbaiknya, Al-Habib Ahmad bin Zein (Pengarang kitab Risalatul Jami'ah, Syarah 'Ainiyyah) dan Al-Habib Muhammad bin Abdurrahman Al-Jufri.
Tidak ada Wali Allah yang meninggalkan dunia tanpa mewariskan sesuatu yang bermanfaat bagi ummat. Begitu pula Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad yang telah meninggalkan sebuah senjata dan perisai ampuh untuk melawan gangguan jin dan manusia yang diberi nama *Ratibul Haddad, Wiridul Lathif, Hizib Nashr*.
Kini, siapa yang tak rindu bersimpuh menziarahi makamnya? Kini, siapa yang tak mengenal namanya? Kitab-kitab beliau menyebar seantero negeri menemani hari-hari para santri. Mutiara hikmah beliau menghapus kegersangan hati penduduk bumi. Silsilah kitabnya dijadikan manhaj taklim universitas seluruh negeri. Diwannya pun menjadi rujukan setiap orang yang entah tak tau kemana harus melangkah.
Thoriqah Haddadiyah dinisbatkan padanya, seorang pemimpin para wali yaitu Al-Hujjatul Islam Al-Imam Al-Mujaddid Quthbul Aqthab Wal-Irsyad, Al-Gautsil Ibad Wal-Bilad, Al-'Alim Al-'Allamah Ad-Da'i Ilallah Al-'Arifbillah Shohibud-Dark Habib Abdullah Bin Alwi Al-Haddad RA.
Imam Haddad RA menjadi pemimpin para wali (Al-Quthb Al-Aqthab Al-Gauts) lebih dari 60 Tahun. Beliau menerima libas atau pakaian kewalian dari al-’Arif Billah al-Habib Muhammad bin Alawi (Shahib Makkah). Beliau menerima libas tersebut tepat ketika al-Habib Muhammad bin Alawi wafat di kota Makkah pada tahun 1070 H. Pada waktu itu, usia Imam Haddad RA 26 Tahun. Kedudukan Wali Quthb itu beliau sandang hingga beliau wafat tahun 1132 H.
Imam Haddad berguru & memperoleh mandat (ijazah) Thariqah dari Sayyid Muhammad bin Alwi Makkah dari Imam Abdullah bin Ali dari Sayyid Abdullah al-Idrus dari Sayyid Umar bin Abdullah al-Idrus dari ayahnya Abdullah al-Idrus dari ayahnya Alwi & Alwi dari saudaranya Abu Bakar al-Idrus dari ayahnya al-Idrus al-Kabir dari Syaikh Ali dari putranya Syaikh Abi Bakar as-Sakran & juga dari pamannya yaitu Syaikh Umar al-Mukhdhar dari ayah mereka Imam Abdurrahman as-Segaf dari ayahnya Syaikh Maula ad-Dawilah dari ayahnya Syaikh Ali dan pamannya Syaikh Abdullah bin Syaikh Alawi dari ayahnya Syaikh al-Faqih al-Muqaddam dari ayahnya Syaikh Alawi bin al-Faqih dari kakeknya dan terus ke Sayyidina Ali bin Abi Thalib. (Ghayah al-Qashd wa al-Murad, juz 1, halaman: 219).
Suatu hari Imam Haddad RA berkata :
”Dahulu orang menuntut ilmu dari semua orang, kini semua orang menuntut ilmu dariku “.
Beliau adalah seorang Mujaddid (pembaharu) abad ke-11 dengan keilmuan setara dengan Imam Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hambal. Salah satu dari kalam beliau adalah:
من تبع السلف اسلم، ومن تبع الخلف والله أعلم _
"Barangsiapa mengikuti ulama terdahulu, maka ia akan selamat. Dan barangsiapa mengikuti ulama masa kini, wallahu a'lam."_
📚 Dikutip dari kajian kitab Risalah Muawanah bersama Habib Mustafa Khird dan berbagai sumber.
Wallahu'alam Bis-Showab
=====================
*اَلصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَ رَحْمَةُ لٰلهِّ وَ بَرَكَاتُهُ ٬ اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَ عَلٰى عِبَادِ لٰلهِّ الصَّالِحِيْنَ*
Sobahul Kheir...
Monday, July 15, 2019
"NASEHAT al-Habib Umar bin Hafidz Untuk Para Istri, Suami, Anak Laki-laki, Ibu, Anak...."
"NASEHAT al-Habib Umar bin Hafidz Untuk Para Istri, Suami, Anak Laki-laki, Ibu, Anak...."
Jadilah...
"ISTRI"
Yang tunduk patuh pada suami, yang senantiasa berseri seri saat dipandang, yang ridho terdiam saat suami marah, tidak merasa lebih apalagi meninggikan suara, tercantik di hadapan suami, terharum saat menemani suami beristirahat, tak menuntut keduniaan yang tidak mampu diberikan suaminya, yang sadar bahwa ridho-Nya ada pada ridho suaminya.
Berusaha menjadi...
"SUAMI"
Yang mengerti bahwa istrinya bukan pembantu, yang sadar tak melulu ingin dilayani, yang malu jika menyuruh ini itu karena tahu istrinya sudah repot seharian urusan anak dan rumah, yang tak berharap keadaan rumah lapang saat pulang karena sadar itulah resiko hadirnya amanah amanah yang masih kecil, yang sadar pekerjaan rumah tangga juga kewajibannya, yang rela mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena rasa sayangnya terhadap istrinya yang kelelahan.
Usahakan menjadi...
"ANAK LELAKI"
Yang sadar bahwa ibunya yang paling berhak atas dirinya, yang mengutamakan dan memperhatikan urusan ibunya, yang lebih mencintai ibunya dibanding mencintai istri dan anak anaknya, yang sadar bahwa surganya ada pada keridhoan ibunya.
Selalu berusaha menjadi...
"ORANG TUA"
Yang sadar bahwa anak perempuannya jika menikah sudah bukan lagi miliknya lagi, yang selalu menasehati untuk mentaati suaminya selama suaminya tidak menyuruhnya kepada perkara munkar, yang sadar bahwa keridhoan Allah SWT bagi anaknya telah berpindah pada ridho suaminya.
Istiqomah menjadi...
"IBU#
Yang meskipun tahu surga berada di bawah telapak kakinya, tapi tidak pernah sekalipun menyinggung hal tersebut saat anaknya ada kelalaian terhadapnya, yang selalu sadar bahwa mungkin segala kekurangan pada anak anaknya adalah hasil didikannya yang salah selama ini, yang sadar bahwa jika dirinya salah berucap maka malaikat akan mengijabah do'anya, karena itu dia akan berhati berhati dalam menjaga lisannya dari berkata yang mengutuk anaknya.
Usaha terus agar menjadi...
"ANAK"
Yang senantiasa mendoakan kebaikan bagi orangtuanya dalam keheningan sepertiga malam terakhir, meskipun sehari hari dalam kesibukan rumah tangganya, dalam kesibukan usahanya, dalam kesibukan pekerjaannnya.
Akhirnya menjadi...
"ORANG-ORANG"
Yang saling memberikan nasehat dalam kebenaran dan kesabaran, yang saling memaklumi jika hal hal di atas lupa atau lalai dilakukan, sehingga saling memaafkan diantara kita,
maka...
Rahmat Allah SWT berada diantara kita dan Allah SWT dengan kemurahanNya memaafkan kesalahan kesalahan kita...
Wallahu A'lam Bishawab
credit: FP Nibrosuz Zaman
Wednesday, February 13, 2019
Beberapa Poin Dawuh Mbah Moen dalam Resepsi Pernikahan Neng Miming (Sarang) dan Gus Aris (Lirboyo).
Beberapa Poin Dawuh Mbah Moen dalam Resepsi Pernikahan Neng Miming (Sarang) dan Gus Aris (Lirboyo).
1. Sarang dan Lirboyo dari dulu hingga sekarang tidak putus. Dimana Mbah Mad dulu memondokkan putranya di Lirboyo. Kemudian disusul Mbah Moen dipondokkan Mbah Mad di sana. Sekarang Sarang dan Lirboyo besanan. Terhitung sudah ada 4 yang menjalin besanan. Sebagaimana dawuh:
الأرواح جنود مجندة. فما تعارف ائتلف وما تناكر اختلف.
2. Dalam Islam tidak ada perintah untuk "tashrihun bi ihsan". Tradisi tersebut hanya ada di kalangan sayyid. Karena antara nikah dan talaknya seorang sayyid itu sama-sama membawa berkah. Islam di Indonesia ini wa qila sudah ada sejak tahun 200 H. Tetapi Islam berkembang pesat setelah para wali songo berdakwah di sini. Dimana semua walisongo merupakan sayyid kecuali sunan Kalijogo, sunan Muria dan Raden Fattah. Tapi jangan lupa Raden Fattah adalah menantu dari Raden Rahmad Sunan Ampel. Sehingga keturunan Raden Fattah bisa dikatakan Durriyah Rasulullah SAW. Sampai sekarang mayoritas pondok yang besar di Indonesia ini masih ada jalur keturunan dengan Nabi Muhammad SAW.
3. Keturunan Rasulullah SAW ada 4 kategori: Alurrosul, Ahlul Bait, Dzurriyah dan Itroh.
a. Alurrosul mencakup semua keturunan Bani Hasyim dan Bani Muttholib.
b. Ahlul Bait mencakup Sayyidah Fathimah, Sayyidina Hasan dan Husain Radliyallahu 'anhum.
c. Dzurriyah: Keturunan Sayyidina Hasan dan Husain dari jalur laki-laki.
d. Itroh mencakup semua keturunan Nabi SAW yang alim. Seperti Sayyidina Ali, Sayyidina Husain, Sayyidina Ali Zainal Abidin, Sayyidina Ja'far Asshodiq Radliyallahu 'anhum dst.
4. Mbah Manaf kalau ngaji tidak ada maknanya, kamusnya, juga tidak ada marji' dlomirnya. Karena beliau memegang prinsip:
من تعلم ولم يعرف مرجع الضمير فليس له الضمير.
5. Di dunia ini tidak ada kata otomatis, karena semua adalah ciptaan Allah ta'ala. Allah ta'ala menciptakan semuanya ini berhubungan dengan perkara yang mungkin terjadi dan tidaknya. Dalam akidah Islam api tidak serta merta membakar sebagaimana api tidak bisa membakar jasadnya nabi Ibrohim AS. Hal ini berbeda dengan pemahaman mayoritas orang modern.
6. Walaupun kita sekarang hidup di jaman modern tetapi jangan sampai meninggalkan salafussholih, yaitu dengan mengaji kitab salaf. Karena kitab-kitab yang ada merupakan warisan ulama' sedangkan ulama adalah warosatul anbiya'. Begitu juga prosesi pembuatan Kiswah Ka'bah itu selama 1 tahun walaupun bisa dibuat dengan mesin selama 1 hari. Karena untuk menghindari produksi Kiswah dari mesin yang dibuat oleh orang kafir.
7. Santri jangan sampai meninggalkan NU. NU itu didirikan oleh Mbah Hasyim. Setelah zamannya Mbah Hasyim tidak ada pondok salaf yang besar kecuali para pendirinya merupakan santri dari mbah Hasyim. Seperti Sarang, Buntet, Lirboyo dst. Tetapi juga jangan hanya grudak gruduk di NU meninggalkan ngaji. Karena itu bisa menjadi musibah.
Demikian yang bisa saya simpulkan. Untuk selanjutnya monggo dikoreksi
Friday, January 18, 2019
Kemanusiaan mendahului sikap religius
Kemanusiaan mendahului sikap religius
Seorang netijen yang sedang kuliah di al-Azhar, Mesir memberitahu saya akan buku karya Habib Ali al-Jifri. Saya berterima kasih atas informasi tersebut dan segera melacak dan kemudian membacanya. Buku ini semacam kompilasi makalah dan ceramah beliau. Topik yang di bahas singkat dan aktual. Beberapa tulisan dalam buku itu juga berasal dari respon Habib Ali akan pertanyaan atau komentar di Facebook.
Secara umum, saya memiliki kesesuaian pandangan dengan Habib Ali. Bukan saja beliau luas pandangannya tapi juga luwes sikapnya. Santun dalam berdakwah, tajam dalam berargumen, dan konon kabarnya — menurut guru beliau Habib Umar bin Hafizh — wajah Habib Ali mirip datuknya, Rasulullah Saw. Wa Allahu a’lam bis shawab.
Judul yang dipilih Habib Ali mengundang kontroversi: al-Insaniyyah qabla at-tadayyun. Kemanusiaan mendahului sikap religius. Beliau mengklarifikasi dalam berbagai kesempatan bahwa beliau tidak mengatakan al-Insaniyyah qabla ad-din (kemanusian mendahului agama). Karena bagi beliau tetap agama itu nomor satu. Namun beliau hendak memisahkan antara agama dengan pandangan dan sikap keberagamaan. Religion dan religiosity itu dua hal yang terkait tapi tetap harus dibedakan.
Teks agama dalam al-Qur’an dan al-Hadis itu benar dan suci, tapi pandangan dan sikap kita belum tentu benar, apalagi suci. Kegagalan memisahkan ini akan membuat apa yang kita pahami akan kitab suci seolah dianggap sama mutlaknya dengan kebenaran kitab suci. Contoh praktis saja: banyak yang merasa membela Islam, padahal boleh jadi yang dia bela adalah sikap dan pandangannya tentang Islam.
Jadi, jelas yah jangan digoreng dan dipelintir: Habib Ali al-Jifri tetap mengutamakan agama (ad-din).
Nah, apa dalil dari pandangan Habib Ali tentang kemanusiaan didahulukan atas religiositas? Dalam bukunya beliau mengutip penjelasan dari Hadis Nabi Saw. Beliau sampaikan versi ringkasnya. Di bawah ini saya kutip versi lengkapnya.
Musnad Ahmad, Hadis Nomor 16402
١٦٤٠٢ - حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي عَمْرٍو السَّيْبَانِيِّ عَنْ أَبِي سَلَّامٍ الدِّمَشْقِيِّ وَعَمْرِو بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُمَا سَمِعَا أَبَا أُمَامَةَ الْبَاهِلِيَّ يُحَدِّثُ عَنْ حَدِيثِ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ السُّلَمِيِّ قَالَ رَغِبْتُ عَنْ آلِهَةِ قَوْمِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ فَسَأَلْتُ عَنْهُ فَوَجَدْتُهُ مُسْتَخْفِيًا بِشَأْنِهِ فَتَلَطَّفْتُ لَهُ حَتَّى دَخَلْتُ عَلَيْهِ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَقُلْتُ لَهُ مَا أَنْتَ فَقَالَ نَبِيٌّ فَقُلْتُ وَمَا النَّبِيُّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ فَقُلْتُ وَمَنْ أَرْسَلَكَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قُلْتُ بِمَاذَا أَرْسَلَكَ فَقَالَ بِأَنْ تُوصَلَ الْأَرْحَامُ وَتُحْقَنَ الدِّمَاءُ وَتُؤَمَّنَ السُّبُلُ وَتُكَسَّرَ الْأَوْثَانُ وَيُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرَكُ بِهِ شَيْءٌ قُلْتُ نِعْمَ مَا أَرْسَلَكَ بِهِ وَأُشْهِدُكَ أَنِّي قَدْ آمَنْتُ بِكَ وَصَدَّقْتُكَ أَفَأَمْكُثُ مَعَكَ أَمْ مَا تَرَى فَقَالَ قَدْ تَرَى كَرَاهَةَ النَّاسِ لِمَا جِئْتُ بِهِ فَامْكُثْ فِي أَهْلِكَ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِي قَدْ خَرَجْتُ مَخْرَجِي فَأْتِنِي فَذَكَرَ الْحَدِيثَ
16402. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata; Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin 'Ayyasy dari Yahya bin Abu 'Amr As-Syaibani dari Abu Sallam Ad-Dimasyqi dan 'Amr bin Abdullah sesungguhnya keduanya telah mendengar Abu Umamah Al Bahili menceritakan dari hadis 'Amr bin 'Abasah As-Sulami berkata; "Saya sangat membenci tuhan-tuhan kaumku pada Masa Jahiliyyah, " lalu dia menyebutkan haditsnya. ('Amr bin 'Abasah As-Sulami) berkata; lalu saya bertanya tentang keberadaan nabi, dan saya pun mendapatkan Nabi dalam keadaan menyembunyikan diri dari keramaian orang. Saya berusaha menemuinya dengan cara menyamar hingga saya bisa menemuinya, saya ucapkan salam kepadanya, lalu saya bertanya,
"Apa (status/kedudukan) anda?”
Beliau menjawab, "Nabi."
Saya ('Amr bin 'Abasah) berkata; "Apakah Nabi itu?"
Beliau menjawab, "Rasulullah."
Saya bertanya, "Siapakah yang mengutus kamu?."
Beliau menjawab, "Allah Azzawajalla."
Saya bertanya, "Dengan apa?"
beliau menjawab, "Agar kamu menyambung silaturrahim, melindungi darah, mengamankan jalan, berhala dihancurkan, Allah semata yang disembah dan tidak ada sekutu bagi-Nya sesuatupun."
Saya berkata; "Sangat bagus risalah yang karenanya kau diutus. Saya bersaksi sesungguhnya saya beriman kepadamu, dan saya mempercayaimu, apakah saya harus tinggal bersamamu atau bagaimana pendapatmu?" Maka beliau bersabda: "Kamu telah melihat kebencian orang-orang atas apa yang saya bawa, maka tinggallah di keluargamu. Jika suatu hari nanti kamu mendengarku dan saya telah keluar dari tempat persembunyianku, datangilah saya, " lalu dia menyebutkan hadis secara lengkap.”
Habib Ali menjelaskan bahwa cara Rasulullah menjelaskan risalahnya itu dengan menyebut ketiga hal mendasar dulu.
1. Menyambung Silaturrahim. Ini dimaknai Habib Ali jaminan keamanan masyarakat.
2. Melindungi darah. Ini dimaknai Habib Ali sebagai perlindungan terhadap kehidupan
3. Mengamankan jalan. Ini berarti, menurut Habib Ali, keamanan publik.
Setelah itu barulah Rasul menjawab mengenai religiositas, yaitu menghancurkan berhala (ini bagian amar ma’ruf nahi munkar), dan sikap kukuh bertauhid hanya menyembah Allah (ini masuk wilayah dakwah).
Berdasarkan riwayat, yang menurut Syekh Arnaut statusnya Sahih ini, Habib Ali al-Jifri menyampaikan pesan-pesan kemanusiaannya. Kita pun memahami bahwa semua manusia dijamin keamanan dan kehormatannya, baik di level keluarga-kolega, maupun masyarakat. Setiap orang harus dihormati darahnya, hartanya, keluarganya, status sosialnya. Islam menghendaki setiap orang aman dan nyaman berjalan-jalan di pasar, jalan raya, dan area publik lainnya tanpa khawatir akan dibully, dinistakan, atau diserang kehormatannya maupun terkena tindak kriminal seperti pencopetan, serangan teroris, atau bahkan sekadar sandal hilang di Masjid.
Dengan jaminan sosial, kehidupan dan keamanan publik itu barulah kemudian orang bisa beragama dengan khusyu’ dan aman serta nyaman. Hati yang adem akan membuat sikap keberagamaan kita juga adem.
Dengan kata lain, problem yang kita hadapi dewasa ini bukan soal teks keagamaan, tapi soal kemanusiaan kita yang merasa terancam, tidak aman dan tidak nyaman. Ini menggerus kemanusiaan kita sehingga kita tidak lagi jernih, adil dan beradab dalam memahami teks keagamaan. Pada gilirannya, sikap keberagamaan kita dipengaruhi oleh sehat atau sakitnya kemanusiaan kita. Itu sebabnya Rasulullah menyentuh sisi kemanusiaan kita terlebih dahulu dengan ajaran menyambung silaturrahmi, melindungi darah sesama manusia, dan mengamankan jalan raya.
Pesan Habib Ali dalam bukunya ini cocok dengan penjelasan para Kiai NU seperti Gus Mus, misalnya, yang menekankan dakwah kita itu bertujuan untuk memanusiakan kembali kemanusiaan kita. Sayang, saat ini kita mengalami krisis kemanusiaan dan malah asyik memaki: kampret dan cebong.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
dan Dosen Senior Monash Law School
Thursday, January 3, 2019
Dari Habib Munzir Almusawa :
Dari Habib Munzir Almusawa :
Mengenai pertanyaan di alam kubur ini ada riwayat yg mengatakan yg pertama ditanya adalah siapa Tuhan kita, lalu dst dst., itu adalah riwayat yg masyhur.
Namun sebenarnya riwayat yg lebih shahih, sebagaimana berkali kali diulang pada shahih Bukhari, bahwa yang pertama di tanyakan adalah :
"Apa pengetahuanmu tentang Muhammad", demikian dalam riwayat yg berulang ulang pada Shahih Bukhari, dan ia lebih shahih dari riwayat yg masyhur yg kita kenal.
Sebagaimana sabda Rasul saw yang menceritakan hal itu; ketika seorang ditanya
dikuburnya dengan pertanyaan :
"Apa pengetahuanmu pada pria ini (Rasul saw), maka jika ia Mukmin maka ia menjawab :
"Dia Muhammad Rasulullah, diutus pada kami membawa penjelasan dan hidayah, maka kami menerimanya dan mengikutinya. Dia Muhammad, Dia Muhammad, Dia Muhammad."
Maka berkata malaikat : "tidur istirahatlah wahai shalih, kami telah mengetahui bahwa kau orang yg mantap dalam iman."
Namun jika ia munafik maka ia menjawab : "aku tidak tahu". (Shahih Bukhari)
Tentunya semua orang beriman akan bisa
menjawab seperti ini walau tak menghafalnya,
Sebaliknya para pendosa besar tak akan mampu mengucapkan nya walau ia telah menghafalnya di dunia.
Habibana MUNZIR pun menambahkan Bahwa :
Saat seseorang yg sering merindukan Rasul SAW ketika di dunia, barangkali saat ia di temukan dengan Rasul maka Rasul sendiri yang mengatakan bahwa : "dia ummat ku dia umat ku". Sebab Rasul sangat cinta kepada mereka yg mencintai beliau. Terlebih lagi ummat yg cinta itu adalah ummat yg hidup setelah beliau wafat.Tak pernah jumpa dan tak pernah bertemu.
Wahai saudaraku, semoga kelak Allah kumpulkan kita dengan baginda Rasul dan tak pernah terpisahkan. Aamiin Allahumma aamiin :'(
Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa'ala aalihi washohbihi wasalim
Sunday, December 30, 2018
Mengenang Habib Mundzir al Musawa: Sang Pemilik Tanah Jawa dimata gusdur
Mengenang Habib Mundzir al Musawa: Sang Pemilik Tanah Jawa dimata gusdur
Kejadian nyata, saat Gus Dur dicium tangannya oleh Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa. Waktu itu Gus Dur bersama KH. Maman Imanul Haq sedang berada di bandara. Tiba-tiba Habib Mundzir al-Musawa yang hendak dakwah ke Papua menghampiri dan menciumi tangan Gus Dur seraya bersimpuh di hadapan Gus Dur.
Lalu Kyai Maman bertanya, “Ada apa Bib?”
“Kalau wali ya Gus Dur, Kang Maman.” Jawab Habib Mundzir al-Musawa.
Lalu Gus Dur bertanya kepada Kyai Maman, “Itu siapa?”
“Habib Mundzir, Pak,” jawab Kyai Maman.
“Kalau ingin tahu wali yang muda ya Habib Mundzir. Tapi usianya tidak panjang,” kata Gus Dur kemudian.
Dan ternyata betul apa yang dikatakan Gus Dur waktu itu, Pimpinan Majelis Rasulullah Saw. Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa itu kemudian meninggal dalam usia yang masih muda. Lahuma al-Fatihah...
Mengenang Habib Mundzir al Musawa: Sang Pemilik Tanah Jawa
mengenal sosok beliau dengan seksama, selain saya mendapati beliau adalah termasuk kalangan Habaib yang banyak dicintai oleh banyak pemuda-pemudi negeri ini. Itu bagi saya cukup menarik jika melihat fakta, bahwa betapa banyak Habaib yang lebih alim dari beliau, betapa banyak Habaib yang trah keluarganya lebih terkenal dari keluarga beliau, namun para pemuda-pemudi itu hati mereka lebih condong kepada diri beliau dibanding yang lainnya.
Saya kira hal itu terjadi karena setidaknya ada beberapa alasan pokok.
Pertama
karena hakekat kemaqbulan yang beliau miliki selama hidupnya adalah Tauriyyah dari keagungan Guru Fath beliau, Sayyidinal Habib Umar bin Hafidz.
Kemaqbulan dan kemasyhuran yang beliau miliki adalah keagungan Gurunya yang di letakkan “dengan sengaja“ oleh Sang Guru keatas pundaknya karena sesungguhnya keagungan semacam itu tidak pas /tidak tepat jika di letakkan di tanah Hadramaut yang mulia.
Tanah Hadramaut adalah tanah yang di ciptakan Tuhan untuk rumah-rumah kekhumulan, ketasatturan, dan tidak akan kuat menerima hal-hal yang berlawanan dengan itu semua. Sebagaimana pernah terjadi saat kemasyhuran Al Quthub Al Habib Ali Bin Muhammad Al Habsyi begitu memmpesona mata, para Auliya “berbisik“ bahwa keagungan semacam ini tidak akan pernah Hadramaut mampu kuat menahannya lama-lama.
Maka kemudian terjadi sebuah peristiwa-peristiwa di kota Seiwun yang membuat Al Habib Ali memutuskan untuk mengekspor Majlis-Majlis agungnya yang selalu di datangi puluhan ribu orang itu ke Tanah Jawa melalui salah satu murid beliau, Al Arifbillah Al Habib Alwi bin Muhammad al Habsyi. Kepada muridnya ini , beliau mengirim sebuah surat perintah untuk:
“Buatlah Majlis Maulid Tahunan di Jawa, dimana engkau kumpulkan banyak orang dari penjuru daerah untuk membaca untaian kisah Maulid ( Simthud Dhuror ) ku ini dan engkau jamu mereka semua …“.
Jadilah kemudian Majlis Maulid Al Habib Ali Al Habsyi tersebar kepenjuru negeri ini dengan pesatnya, karena kemasyhuran dan kemegahan-kemegahan semacam ini Tanah Jawa adalah tempatnya.
Senada dengan itu, keagungan Guru Mulia Al Habib Umar bin Hafidz serta kemasyhurannya Tanah Hadramaut tidak pas untuk mengayominya. Maka beliau “titipkan” keagungannya itu kepada para murid beliau di luar Hadramaut, dan salah satunya melalui Al Habib Mundzir al Musawa dengan Majlis Rasulullahnya.
Atau yang kedua, mungkin alasannya memang muncul dari pancaran rahasia spiritual Habib Mundzir sendiri. Dimana selama berdakwah, beliau selalu menyampaikannya dengan hati sanubari, bukan sekedar kemahiran mengumbar narasi di atas mimbar atau kelihaian dalam mengalahkan hujjah musuh-musih dakwahnya.
Sesungguhnya dakwah (kalimat-kalimat) yang meluncur dari ruang-ruang hati, akan menumbuhkan buah-buah kemaqbulannya.
Al Habib Mundzir tampaknya memang sudah terpilih untuk mengambil peran itu. Dirinya “ terpilih “bahkan dimulai saat sepertinya keadaan tidak memungkinkannya.
Saat Al Habib Umar berkeliling Indonesia di awal tahun 90-an, untuk mencari calon murid yang akan beliau bawa ke Hadromut dan akan dididik disana, saat itu Habib Mundzir yang masih belajar di Madrasah Al Khairat sangat kepincut untuk dapat turut terpilih. Sayang sekali kuota calon santri itu sudah terpenuhi. Tidak ada lagi jatah tambahan.
Namun saat Guru Mulia Al Habib Umar berkunjung ke Al Khairat, dan itu kunjungan beliau yang terahir di saat itu, Allah Ta’ala “memilih“ untuk turut menyertakan Habib Mundzir dalam rombongan calon-calon santri yang akan mendapat bea siswa ke Hadramaut sana.
A Habib Ali Zainal Abidin Al Jufry berkata :
“Kami mengunjungi ma’had Al Khairat yang dipimpin oleh Al Habib Muhammad Naqib bin Syech Abi Bakar, dan jumlah pelajar yang akan dibawa oleh Sayyidi Al Habib Umar ke Tarim sudah terpenuhi.
Disaat aku duduk bersama para pelajar ma’had, seketika pandanganku tertuju kepada seorang pemuda yang sangat menarik perhatianku, sebab pancaran wajah dan ketawadhuannya. Maka aku berkata di dalam hati:
“Akan aku sampaikan kepada Sayyidi Umar tentang pemuda ini“
Ketika kami berdiri, pemuda itu datang menghampiri untuk menyalamiku. Aku bertanya kepadanya:
“Siapa namamu?“
Ia menjawab dengan sangat sopan dan penuh ketawadhuan:
“ Khadim (pelayan)mu, Mundzir “
.
Kemudian Sayyidi Umar datang dan akupun mengabarinya tentang pemuda itu, lalu beliau bertanya:
“Mana pemuda yang engkau ceritakan itu ? “
Aku menjawab : “ Itu dia, pemuda yang memakai peci warna hijau … “
Maka Al Habib Umar berkata:
“Anak ini harus ada diantara mereka ( para calon santri ) dan dia tidak boleh di undur sampai angkatan kedua.“
Mendengar perintah itu , al Habib Umar bin Muhammad Maulakhela berinisiatif untuk menjadi penanggung biaya perjalanan Pemuda Mundzir itu ke kota Tarim , dan ini dihitung sebagai sebuah jasa besar habib Umar mulakhella yang selalu diceritakan dan di ingat Habib Mundzir di dalam majlis-majlisnya .
Al Habib Mundzir selama beberapa tahun memikul tanggung jawab besar amanah kemuliaan dakwah Gurunya. Sampai kemudian betul-betul secara fisik dan rukhani beliau sudah tidak kuat lagi menanggungnya, jika saj tidak ada perhatian ruhaniyyah dari para aslaf dan guru-gurunya.
Saat genap usianya 40 tahun , di suatu pagi beliau berkata kepada istrinya:
“Alhamdulillah, aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW dan aku mengadukan keadaanku kepada beliau, betapa beratnya beban dakwah dan telah lemah kekuatanku sehingga aku tidak mampu memikul beban ini.
Maka beliau memberiku kabar gembira, Rasulullah SAW berkata:
“MUROKH KHOSUN, WAL AMRU INDA UMAR … Aku beri ijin kemurahan kepadamu, dan dalam hal ini terserah Umar (Habib Umar bin Hafidz ).“
Maksud baginda Nabi SAW dengan Umar adalah Habib Umar bin Hafidz guru beliau. Dan benar juga akhirnya, di sore hari itu juga, beliau wafat meninggalkan dunia yang penuh kepayahan ini, menuju belaian kasih aslaf-aslafnya, wabil khusus baginda nabi Muhammad SAW Al Musthofa.
Habib salim , putra Al Habib Umar bin Hafidz berkata:
“Dari perkataan Habib Mundzir yang pernah aku dengar, dia berkata:
“Wahai Salim, sungguh aku berharap ketika aku diletakkan kedalam kuburku, aku berharap Sayyidiy Umar mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Allah ta’ala, YA ROBB …SUNGGUH AKU TELAH MERIDHOINYA ..
Ketika Habib Mundzir wafat, perkataanku itu aku sampaikan kepada ayahku, dan beliau mengangkat kedua tangannya seraya berkata:
“YA ROBB …ANNI ANHU RODHIN …wahai Tuhan kami, sungguh aku telah meridhoinya“.
Sungguh mulia keadaan seorang murid yang meninggalkan dunia, sementara Gurunya yang Paripurna itu telah jatuh hati untuk meridhoinya.
“Ya bahtak, Ya Mundzir“
Beruntung sekali dirimu, wahai Habib Mundhir. Maha Guru tuan pun memuji:
“Anta Mundzir , wa anta mubasyir …Enkau ini Mundzir, di dalam dirimu ada kabar gembira“.
Pesona dan cahaya dalam diri Habib Mundzir begitu memppesona anak-anak negeri ini, Sebagaiman persaksian ba’dhus Shalihin dari Kota Tarim:
“Wajhuka Nawwir ,,, anta Musy Mundzir, anta Muhammad Maula Jawa, war Royah Batakunu fi yadika …. Wajahmu bersinar bercahaya, ( laksana ) engkau ini bukan Mundzir, tetapi engkau adalah Seorang yang akan dipuji-puji ( Muhammad ) sang pemilik Tanah Jawa. Dan bendera dakwah aka nada ditanganmu …”
Sesudah Habib Mundzir tiada, anak-anak negeri ini hanya tinggal mendapatkan kemudahannya saja. Bendera dakwah Majlis rasulullah semakin hari berkibar dimana-mana. Semakin hari semakin banyak anak-anak negeri yang ikut bersama mengibarkannya.
Alhamdulillah, menjadi mudah karena bagihan tersulitnya, beban-beban itu sudah terlebih dahulu Habib Mundzir al Musawwa yang memikulnya.
Jazallah anna Habiban Mundzir khoira. Jazalloh anna Habibana Mundzir ma huwa ahluh.
Semoga Allah membalas jasa Habib Mundzir kepada kita dengan sebaik-baik balasan. Semoga Allah membalas sesuai dengan apa yang beliau berhak mendapatkannya. Amin.
#alfatihah
Friday, November 16, 2018
Mengenal Pengarang Maulid Al-Barzanji
#Copas...
Mengenal Pengarang Maulid Al-Barzanji.
Sayyid Ja‘far bin Hasan bin ‘Abdul Karim bin Muhammad bin Rasul Al-Barzanji, pengarang Maulid Barzanji, adalah seorang ulama besar keturunan Nabi SAW dari keluarga Sadah Al-Barzanji yang termasyhur, berasal dari Barzanj di Irak. Beliau lahir di Madinah Al-Munawwarah pada tahun 1126 H (1714 M).
Datuk-datuk Sayyid Ja‘far semuanya ulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu dan amalnya, keutamaan dan keshalihannya. Sayyid Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Abbas Al-Maliki dalam Hawl al-Ihtifal bi Dzikra al-Mawlid an-Nabawi asy-Syarif pada halaman 99 menulis sebagai berikut: “Al-Allamah Al-Muhaddits Al-Musnid As- Sayyid Ja`far bin Hasan bin `Abdul Karim Al-Barzanji adalah mufti Syafi`iyyah di Madinah Al-Munawwarah. Terdapat perselisihan tentang tahun wafatnya. Sebagian menyebutkan, beliau meninggal pada tahun 1177 H (1763 M). Imam Az-Zubaid dalam al-Mu`jam al-Mukhtash menulis, beliau wafat tahun 1184 H (1770 M). Imam Az-Zubaid pernah berjumpa beliau dan menghadiri majelis pengajiannya di Masjid Nabawi yang mulia. Beliau adalah pengarang kitab Maulid yang termasyhur dan terkenal dengan nama Mawlid al-Barzanji.
Sebagian ulama menyatakan nama karangannya tersebut sebagai ‘Iqd al-Jawhar fi Mawlid an-Nabiyyil Azhar. Kitab Maulid karangan beliau ini termasuk salah satu kitab Maulid yang paling populer dan paling luas tersebar ke pelosok negeri Arab dan Islam, baik di Timur maupun Barat. Bahkan banyak kalangan Arab dan non-Arab yang menghafalnya dan mereka membacanya dalam acara-acara (pertemuan-pertemuan) keagamaan yang sesuai. Kandungannya merupakan khulashah (ringkasan) sirah nabawiyyah yang meliputi kisah kelahiran beliau, pengutusannya sebagai rasul, hijrah, akhlaq, peperangan, hingga wafatnya.” Kitab Mawlid al-Barzanji ini telah disyarahkan oleh Al-Allamah Al-Faqih Asy-Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Maliki Al-Asy‘ari Asy-Syadzili Al-Azhari yang terkenal dengan panggilan Ba‘ilisy dengan pensyarahan yang memadai, bagus, dan bermanfaat, yang dinamakan al-Qawl al-Munji ‘ala Mawlid al-Barzanji dan telah berulang kali dicetak di Mesir. Beliau seorang ulama besar keluaran Al-Azhar Asy-Syarif, bermadzhab Maliki, mengikuti paham Asy‘ari, dan menganut Thariqah Syadziliyyah. Beliau lahir pada tahun 1217 H (1802 M) dan wafat tahun 1299 H (1882 M). Selain itu, ulama terkemuka kita yang juga terkenal sebagai penulis yang produktif, Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi, pun menulis syarahnya yang dinamakannya Madarijush Shu‘ud ila Iktisa-il Burud. Kemudian, Sayyid Ja‘far bin Isma‘il bin Zainal ‘Abidin bin Muhammad Al- Hadi bin Zain, suami anak satu-satunya Sayyid Ja‘far Al-Barzanji, juga menulis syarah kitab Mawlid al-Barzanji tersebut yang dinamakannya al-Kawkabul-Anwar ‘ala ‘Iqd al-Jawhar fi Mawlidin-Nabiyyil-Azhar.
Sebagaimana mertuanya, Sayyid Ja‘far ini juga seorang ulama besar lulusan Al-Azhar Asy-Syarif dan juga seorang mufti Syafi‘iyyah. Karangankarangan beliau banyak, di antaranya Syawahid al-Ghufran ‘ala Jaliy al-Ahzan fi Fadha-il Ramadhan, Mashabihul Ghurar ‘ala Jaliyyil Qadr, dan Taj al-Ibtihaj ‘ala Dhau’ al-Wahhaj fi al-Isra’ wa al-Mi‘raj. Beliau pun menulis manaqib yang menceritakan perjalanan hidup Sayyid Ja‘far Al-Barzanji dalam kitabnya ar-Raudh al-‘Athar fi Manaqib as-Sayyid Ja‘far. Kembali kepada Sayyidi Ja‘far Al-Barzanji. Selain dipandang sebagai mufti, beliau juga menjadi khatib di Masjid Nabawi dan mengajar di dalam masjid yang mulia tersebut. Beliau terkenal bukan saja karena ilmu, akhlaq, dan taqwanya, tetapi juga karena karamah dan kemakbulan doanya. Penduduk Madinah sering meminta beliau berdoa untuk mendatangkan hujan pada musim-musim kemarau. Diceritakan, suatu ketika di musim kemarau, saat beliau sedang menyampaikan khutbah Juma’tnya, seseorang meminta beliau beristisqa’ memohon hujan. Maka dalam khutbahnya itu beliau pun berdoa memohon hujan. Doanya terkabul dan hujan terus turun dengan lebatnya hingga seminggu, persis sebagaimana yang pernah terjadi pada zaman Rasulullah SAW dahulu. Sayyidi Ja‘far Al-Barzanji wafat di Madinah dan dimakamkan di Jannatul Baqi‘. Sungguh besar jasa beliau. Karangannya membawa umat ingat kepada Nabi SAW, membawa umat mengasihi beliau, membawa umat merindukannya. Sayyid Ja’far Al-Barzanji adalah seorang ulama’ besar keturunan Nabi Muhammad saw dari keluarga Sa’adah Al Barzanji yang termasyur, berasal dari Barzanj di Irak. Datuk-datuk Sayyid Ja’far semuanya ulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu dan amalnya, keutamaan dan keshalihannya. Beliau mempunyai sifat dan akhlak yang terpuji, jiwa yang bersih, sangat pemaaf dan pengampun, zuhud, amat berpegang dengan Al-Quran dan Sunnah, wara’, banyak berzikir, sentiasa bertafakkur, mendahului dalam membuat kebajikan bersedekah,dan pemurah. Nama nasabnya adalah Sayid Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad ibn Sayid Rasul ibn Abdul Sayid ibn Abdul Rasul ibn Qalandar ibn Abdul Sayid ibn Isa ibn Husain ibn Bayazid ibn Abdul Karim ibn Isa ibn Ali ibn Yusuf ibn Mansur ibn Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Ismail ibn Al-Imam Musa Al-Kazim ibn Al-Imam Ja’far As-Sodiq ibn Al-Imam Muhammad Al-Baqir ibn Al-Imam Zainal Abidin ibn Al-Imam Husain ibn Sayidina Ali r.a. Semasa kecilnya beliau telah belajar Al-Quran dari Syaikh Ismail Al-Yamani, dan belajar tajwid serta membaiki bacaan dengan Syaikh Yusuf As-So’idi dan Syaikh Syamsuddin Al-Misri.Antara guru-guru beliau dalam ilmu agama dan syariat adalah : Sayid Abdul Karim Haidar Al-Barzanji, Syeikh Yusuf Al-Kurdi, Sayid Athiyatullah Al-Hindi. Sayid Ja’far Al-Barzanji telah menguasai banyak cabang ilmu, antaranya: Shoraf, Nahwu, Manthiq, Ma’ani, Bayan, Adab, Fiqh, Usulul Fiqh, Faraidh, Hisab, Usuluddin, Hadits, Usul Hadits, Tafsir, Hikmah, Handasah, A’rudh, Kalam, Lughah, Sirah, Qiraat, Suluk, Tasawuf, Kutub Ahkam, Rijal, Mustholah. Syaikh Ja’far Al-Barzanji juga seorang Qodhi (hakim) dari madzhab Maliki yang bermukim di Madinah, merupakan salah seorang keturunan (buyut) dari cendekiawan besar Muhammad bin Abdul Rasul bin Abdul Sayyid Al-Alwi Al-Husain Al-Musawi Al-Saharzuri Al-Barzanji (1040-1103 H / 1630-1691 M), Mufti Agung dari madzhab Syafi’i di Madinah. Sang mufti (pemberi fatwa) berasal dari Shaharzur, kota kaum Kurdi di Irak, lalu mengembara ke berbagai negeri sebelum bermukim di Kota Sang Nabi. Di sana beliau telah belajar dari ulama’-ulama’ terkenal, diantaranya Syaikh Athaallah ibn Ahmad Al-Azhari, Syaikh Abdul Wahab At-Thanthowi Al-Ahmadi, Syaikh Ahmad Al-Asybuli. Beliau juga telah diijazahkan oleh sebahagian ulama’, antaranya : Syaikh Muhammad At-Thoyib Al-Fasi, Sayid Muhammad At-Thobari, Syaikh Muhammad ibn Hasan Al A’jimi, Sayid Musthofa Al-Bakri, Syaikh Abdullah As-Syubrawi Al-Misri. Syaikh Ja’far Al-Barzanji, selain dipandang sebagai mufti, beliau juga menjadi khatib di Masjid Nabawi dan mengajar di dalam masjid yang mulia tersebut.
Beliau terkenal bukan saja karena ilmu, akhlak dan taqwanya, tapi juga dengan kekeramatan dan kemakbulan doanya. Penduduk Madinah sering meminta beliau berdo’a untuk hujan pada musim-musim kemarau. Setiap kali karangannya dibaca, shalawat dan salam dilatunkan buat junjungan kita Nabi Muhammad SAW, selain itu juga tidak lupa mendoakan Sayyid Ja‘far, yang telah berjasa menyebarkan keharuman pribadi dan sirah kehidupan makhluk termulia di alam raya. Semoga Allah meridhainya dan membuatnya ridha....
Tuesday, October 23, 2018
Ketika Habib Abu Bakar Mimpi Disentil Sayyidina Ali
Khoiron, NU Online | Selasa, 23 Oktober 2018 15:00
Jalan Karya Bakti di Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Kota Depok, sesak orang berpakaian serbaputih saban Ahad sore. Pengajian memang digelar rutin di tempat ini. Pesertanya bisa mecapai ribuan. Ibu-ibu, bapak-bapak, remaja, hingga anak-anak dari ragam penjuru Jabodetabek tumpah ruah di jalanan sekitar kediaman al-Habib Abu Bakar bin Hasan al-Atthas az-Zabidi.
Tapi itu dulu. Pemandangan jamaah pengajian duduk lesehan saban Minggu bakda Ashar itu kini sudah tak ada. Habib Abu Bakar, sang pengasuh, pada 7 Oktober 2018 secara resmi mengumumkan penutupan majelis ta'limnya itu setelah sebelumnya menemui isyarat lewat mimpi yang tak biasa. Mimpi?
Ya. Habib Abu Bakar bercerita bahwa Amirul Mu'minin Sayyidina Ali bin Abi Thalib menemuinya di alam mimpi dan tiba-tiba menyentil bibirnya. Habib terkejut. Ia berkesimpulan, ini isyarat dari sahabat Nabi berjuluk "pintu ilmu" itu agar ia lebih banyak menutup mulut. Habib sudah mengonsultasikan ihwal ta'bir mimpinya ini kepada guru-gurunya, termasuk yang di Kota Zabid, Yaman. Salah satu perintahnya adalah menutup majelis ta'lim sebab ilmu yang disampaikan tak menyentuh kalbu murid.
Dengan penuh rendah hati Habib menangkap mimpi itu sebagai bentuk kasih sayang kakek buyutnya, Sayyidina Ali karramallahu wajhah. Ia bersyukur dengan teguran tersebut karena dirinya memang masih banyak kekurangan. Teman karib Gus Dur saat belajar di Mesir ini pun berjanji akan lebih banyak diam. Berbicara ke publik hanya bila ada hal yang sangat penting. Sampai tutup usia, Habib tidak akan membuka majelis ta'lim sebelum ada isyarat baru yang mengizinkannya.
Keputusan Habib Abu Bakar ini sungguh menohok hati. Nyaris tak ada alasan awam yang membenarkan ia mundur dari kegiatan majelis ta'lim. Habib Abu Bakar dikenal sebagai sosok kharismatik yang tidak punya musuh. Dakwahnya juga tak meledak-ledak, apalagi sampai mencaci dan menghujat. Sosok habib yang moderat, humoris, dan tak bosan-bosan mengimbau jamaahnya mencintai maulid Nabi. Satu-satunya "alasan rasional" untuk tak lagi berceramah ke khalayak adalah mimpi.
Sudah 38 tahun Habib Abu Bakar malang melintang di dunia dakwah, sepulang dari Mesir, Yaman, Maroko, dan Makkah. Ribuan muridnya tersebar di berbagai daerah yang pernah ia singgahi, mulai dari Ternane, Ambon, Makassar, Banjarmasin, Flores, Deli Serdang, hingga sejumlah kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Papua.
Sesuai pesan gurunya, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Habib mengaku tak mau neko-neko dalam berdakwah. Yang pokok dalam dakwah adalah kemanfaatan ilmu, bukan kuantitas jamaah. Meskipun, dengan prinsip ini, Habib Abu Bakar sendiri akhirnya juga mendapat banyak murid di berbagai wilayah di Indonesia.
Mundurnya Habib Abu Bakar dari aktivitas dakwah tentu tak bermakna ia menghindari, apalagi mengabaikan dakwah. Ini pemaknaan kelewat harfiah. Sang habib hanya tidak ingin tampil menonjol, banyak bersuara, untuk hal-hal yang tidak terlalu krusial. Tapi, menurut saya, pesan yang paling penting di balik keputusan "aneh" ini sedikitnya dua poin.
Pertama, betapa ketatnya syarat seseorang menjadi pendakwah. Sikap Habib tersebut di satu sisi adalah simbol kerendahan hati, tapi di sisi lain penetapan yang standar tinggi dalam berdakwah. Menjadi juru dakwah bukan semata urusan pandai bicara, tapi juga soal kedalaman ilmu agama, akhlak, teladan, dan sampainya pesan ruhani ke hati khalayak. Bila Habib Abu Bakar yang berilmu luas dan "tidak neko-neko" saja mendapat sentil dari Sayyidina Ali, lalu bagaimana dengan kebanyakan dai?
Pesan kedua, sasaran utama dakwah sesungguhnya adalah diri sendiri, baru kemudian orang lain. Di sinilah relevansi memprioritaskan muhasabatun nafs (introspeksi) ketimbang gemar menghakimi perilaku orang lain. Pesan ini menemukan momentumnya seiring santer bermunculan di zaman sekarang orang-orang lebih gemar menjadi juru dakwah ketimbang juru dengar, lebih giat berceramah daripada belajar, lebih sering mengkhutbahi orang lain ketimbang diri sendiri. Beramar-makruf nahi-munkar ke orang lain sebelum benar-benar mampu beramar-makruf nahi-munkar dengan diri sendiri.
Pada tahap ini, Habib Abu Bakar sebenarnya tidak sedang mengikhbarkan soal mimpi dan penutupan majelis ta'lim Ahad sore. Di tengah ketenaran yang makin meningkat, ia justru menjauh dari itu semua. Pilihan sikap semacam ini seolah hendak menampar keras para juru dakwah yang kerap tergiur dengan popularitas, banyaknya jamaah, serta pundi-pundi keuntungan dari "profesi" mengisi pengajian. Wallahu a'lam.
(Mahbib Khoiron
Wednesday, October 17, 2018
keluhuran budi pekerti Alhabib Umar ibn Hafidz
Berikut ini ada sekelumit kisah menarik tentang keluhuran budi pekerti Alhabib Umar ibn Hafidz yang dikisahkan langsung oleh Si Penulisnya. Berikut saya akan kutip kisahnya, semoga lantaran kisah ini semakin membuat kita akan rindu kehadiran beliau di bumi Indonesia pertiwi ditahun-tahun berikutnya.
Ini adalah pengalaman pribadi saya (Habib Ahmad ibn Muhammad Alkaff) yang tak akan pernah terlupa tentang kemuliaan akhlak Alhabib Umar ibn Hafidz. Waktu itu pertengahan april 1994 musim sejuk di kota Tarim-Hadramaut mulai menyapa kami yang memang kami belum terbiasa dengan dinginnya cuaca Tarim ketika musim dingin. Alhabib Umar pun telah menyiapkan untuk kami para pelajarnya dari Indonesia yang waktu itu sangatlah manja dengan sebuah selimut tebal yang mahal, masing-masing dari kami mendapatkan satu selimut.
Kisah pun bermula, seperti biasanya selepas Ashar kami dan Alhabib Umar menuju kota Tarim untuk menghadiri “rauhah” dan maulid di kota tersebut. Selepas acara kami pun kembali ke kediaman Alhabib Umar di kota Aidid. Biasanya kami pulang larut malam dan kerana pada waktu itu Alhabib Umar hanya memiliki 1 mobil maka kami pun selalu berebutan untuk menaiki kereta tersebut. Terkadang kereta Nissan patrol itu dimuat oleh 20 orang lebih sehingga penuh di dalam dan di atas kereta. Kami berebut kerana memang jika kami tidak dapat tempat di kereta tersebut terpaksa kami akan pulang dengan berjalan kaki yang berjarak kurang lebihnya 5 km. Saya dan dua teman saya pada waktu itu kurang beruntung. Walhasil, kami bertiga berjalan kaki untuk pulang ke rumah Alhabib Umar. Sesampainya di tempat Alhabib Umar, kami mendapati teman-teman kami yang lain telah mendapatkan selimut tebal yang baru saja dibagikan oleh Alhabib Umar. Kami pun bergegas menemui Alhabib Umar. Tetapi, lagi-lagi kami kurang beruntung karena selimutnya telah habis. Alhabib Umar mengatakan bahawa kedai penjual selimutnya kehabisan stok dan berjanji akan memenuhi kekurangannya besok pagi.
Kami pun minta izin pergi kepada beliau untuk tidur. Akan tetapi, sebelum kami pergi Alhabib Umar menyuruh kami untuk menunggu. Kami menunggu Alhabib Umar yang masuk ke dalam rumahnya. Beberapa saat kemudian Habib Umar pun keluar dengan membawa beberapa selimut tipis dan lusuh dan membagikannya kepada kami bertiga. Kami pun menerima selimut itu tanpa pikir panjang lalu kami pun pulang menuju asrama yang berada tepat di belakang rumah Alhabib Umar. Kami membagikan selimut tipis dan lusuh pemberian Alhabib Umar yang berjumlah 2 selimut besar dan 3 selimut kecil untuk kami bertiga.
Baru saja kami meluruskan badan untuk tidur terdengar tangisan bayi yang tak henti-hentinya yang kami yakin itu adalah tangisan anak Alhabib Umar yang masih bayi pada waktu itu. Kami pun sempat bertanya tanya dalam hati kenapa bayi itu menangis sepanjang malam. Sambil tetap berusaha untuk memejamkan mata. Menjelang Subuh suara tangisan bayi pun berhenti, mungkin karena kelelahan menangis sepanjang malam. Kami pun bergegas menuju ke masjid Aidid yang terletak persis di depan rumah Alhabib Umar sambil membawa kitab Nahwu yang akan kami pelajari setelah shoat Subuh di bawah bimbingan langsung Alhabib Umar.
Setelah selesai belajar Nahwu kami pun pulang ke asrama kami. Di pertengahan jalan kami bertemu dengan Habib Salim anak dari Alhabib Umar bin Hafidz yang waktu itu masih berusia 6 tahun. Kami cuba menyapa dan bertanya, “Wahai Salim mengapa adik bayimu menangis tak henti-hentinya tadi malam? Apakah dia sakit?
Habib Salim pun menjawab, “Tidak, adikku tidak sakit.” Jawab Habib Salim.
“Lalu apa yang membuatnya menangis?” Tanya lagi kami.
Dengan keluguannya Salim pun menjawab, “Mungkin kerana kedinginan, kerana semalam kami sekeluarga tidur tanpa selimut?!”
Bagai tersambar petir kami terkejut mendengar ucapan tersebut. Kami pun berlari menuju asrama untuk mengambil selimut lusuh yang ternyata milik keluarga Alhabib Umar yang beliau berikan kepada kami, dan beliau sekeluarga rela tidur tanpa selimut didinginnya malam kota Tarim demi anak-anak muridnya. Kami kembalikan selimut tersebut kepada Alhabib Umar sambil membendung air mata dan tanpa tahu harus berkata apa. Dengan senyum dan seolah-olah tak terjadi apa-apa, Alhabib Umar menerima selimut dari kami dan menggantikan selimut tersebut dengan yang baru, yang juga baru saja dikirim oleh pemilik toko. Kami pun kembali ke asrama tanpa dapat membendung lagi air mata kami yang melihat kemuliaan yang beliau berikan kepada kami.
Sambil berkata di dalam hati, “Ya Allah ternyata di abad ini masih ada orang yang berhati begitu mulia seperti beliau. Terimakasih Ya Allah yang telah mempertemukan aku dengan manusia mulia dikehidupanku ini.
Kisah Nyata Keindahan Akhlak Putri Al-Habib Umar bin Hafidz - Yaman
Kisah Nyata Keindahan Akhlak Putri Al-Habib Umar bin Hafidz - Yaman
Selagi aku masih duduk di Daruzzahro, Guru Mulia Al-Habib Umar bin Hafidz pernah berkata kepada salah satu putri beliau :
“Darul Mustofa dan Daruzzahro ini bukanlah kepunyaan kita, sekalipun ayah yang mendirikannya tetapi sejatinya adalah kepunyaan Kakek kita Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam beserta putri kecintaan beliau ibu kita Sayyidah Fatimah Azzahro Radhiyallohu ‘Anha, maka sekali-sekali kamu jangan berbuat seenaknya di dalamnya, harus tunduk dengan segala macam peraturannya, jangan memakan hak-hak tamu Azzahro sebelum mereka semua telah habis makan kecuali sisa-sisa puing makanan dari mereka. Ingat !! peran kita di sini hanya sebagai pembantu, khaddam, dan pelayan yang melayani rumah ini beserta tamu-tamunya”.
Al Habib Umar bin Hafidz
Pada suatu hari, saat jam istirahat, aku hendak pergi ke kamar kecil, tetapi aku melihat putri kecil putri bungsu Habib Umar bin Hafidz duduk seorang diri di salah satu tangga Daruzzahro sambil memegang perut, maka aku pun menghampirinya dan bertanya:
“Ada apa denganmu wahai putri mulia?“
Maka dengan polosnya ia menjawab bahwa ia dalam keadaan lapar dari tadi, sebab sebelum pergi ke sekolah tidak sempat bersarapan terlebih dahulu, khawatir terlambat ucapnya. Spontan aku membalas ucapannya dan berujar:
“Mengapa yang mulia tidak mengambil sepotong roti di ruang makan Darruzzahro saja?”.
Ia hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Atau pulang sebentar ke rumah mengambil sarapan?”, tawarku kembali.
Ia pun tetap membalasnya dengan gelengan.
Aku semakin keheranan: “Bukankah engkau putri guru mulia kami (Habib Umar bin Hafidz)? Pemilik Daruzzahro ini wahai yang mulia?”.
Maka ia pun menceritakan pesan sang ayah untuk putra putri dan seluruh keluarga. Mendengarnya, aku tercengang dan terkejut, ku rasakan sudut mataku mulai berembun, hatiku bergetar mendengar penuturannya. Tidak hanya sampai di situ, putri kecil guru mulia mengejutkanku dengan perkara lain. Merasa kasihan dan tak tega, aku pun merogoh saku baju dan mengambil selembar uang di dalamnya:
“Jika begitu ku mohon ambilah ini sebagai hadiah dariku, dan belilah sedikit makanan untuk mengganjal perut yang mulia”, ucapku penuh harap sambil menyodorkan selembar uang itu ke hadapannya. Ia tersenyum ramah, mata beningnya menatapku lembut dan ia menolak halus pemberianku dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, namun aku terus merayu dan memohon agar dia bersedia menerimanya, tetapi putri kecil guru mulia tetap bersikeras untuk tidak menerimanya dan terus mengindahkan tangannya dari tanganku, melihat usahaku tiada henti, dengan polosnya ia berkata:
“Maafkan aku saudaraku, bukannya menolak pemberianmu, dan ingin melukai perasaanmu, akan tetapi ayah mengajarkan kami untuk tidak memberatkan orang lain dan tidak berharap belas kasih manusia selain belas kasih Allah Subhanahu wa Ta’ala, simpanlah uang itu, karena engkau lebih memerlukannya ketimbang aku, lagi pula kalau ayahanda mengetahui pasti beliau tidak akan menyetujuinya”.
Tes tes… ku rasakan air mataku mulai berjatuhan di pipiku, aku memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ku lihat kerudungnya nampak kumal, pakaiannya pun terlihat lusuh, ia hanya menggunakan keresek putih untuk alat-alat sekolahnya, kakinya penuh debu tanpa mengenakan sandal, aku terdiam terpaku tak mampu berkata sekalimat pun sampai putri guru mulia berlalu dari hadapanku sambil berlari-lari kecil dengan wajah yang tetap riang.
Aku menelan ludah susah payah, gemetar jiwaku menatap bayangnya yang perlahan menghilang dari pandanganku, hatiku bergetar hebat, pendidikan macam apa ini yang membuat anak sebelia dia memiliki hati sedemikian mulia. Sambil berderai air mata ku segerakan langkahku menuju kamar. Sesampainya di kamar ku membenamkan kepalaku di bantal dan pecah tangisku seketika, bagaimana tidak?
Jiwaku hancur lembur dihantam akhlak mulia sebegitu luhur, benar benar kami ini murid yang tak tau diri, jauh kami merantau dari negara kami hanya demi menimba ilmu serta mengambil keberkahan dari Guru Mulia beserta Sang Istri, malam-malam kami tidur dengan nyenyak, tidak pernah sedikitpun kekurangan air dan makanan, bahkan kami menganggap tempat ini seperti rumah kami sendiri, terkadang kami berbuat semaunya, makan dengan kenyang dan menggunakan kipas angin dan AC sepuasnya, tetapi guru mulia yang mendirikan tempat ini pun merasa tidak memilikinya dan tidak berlaku seenaknya.
Hatiku benar-benar serasa dicambuk rasa malu yang begitu dalam, teramat malu atas ketidaktahuan kami, atas sedikitnya perhatian dan kepedulian kami. Guru mulia beserta keluarga begitu memuliakan para pelajarnya melebihi penghormatan kami kepada beliau. Huhuhu… aku terus saja menangis.
Sampai akhirnya terdengar suara peringatan waktu istirahat segera berakhir. Aku pun menghentikan tangisanku dan menyeka air mata. Masih dengan mata yang sembab aku bangkit berdiri dan berniat mengambil air wudhu.
Saat ku lewati ruang makan Daruzzahro, sungguh ku menyaksikan pemandangan yang kembali sangat membuat hatiku miris. Ku lihat tangan mungil putri mulia memunguti beberapa pecahan roti yang tersisa dari bekas sarapan sebagian pelajar tadi pagi. Melihatnya aku membuang pandangan karena tak sanggup menyaksikannya.
Kejadian tersebut sangat membekas di hatiku sehingga aku merenungkannya selama berhari-hari. Semenjak itu aku jadi jarang ikut makan bersama dengan teman-teman lainnya, kecuali menunggu mereka telah usai semua, dan aku mulai bermujahadah melunturkan kesombongan yang ada di diriku.
Terkadang aku sengaja memakan roti yang sudah kering dan keras yang sudah ku hancurkan sebelumnya, atau memakan bekas-bekas nasi yang akan dibuang, atau makan bersama kawan tetapi dengan suapan yang terbatas, ketika kenyang hanya 3 suap, jika memang dalam keadaan lapar hanya 9 suap, semua itu sengaja ku lakukan agar diriku yang sangat payah ini dapat merasakan kerasnya menuntut ilmu tanpa memanjakan diri sedikitpun, terlebih-lebih setiap mengingat kejadian di atas hatiku sangat malu terhadap Sang Guru.
Kami hanya seorang murid dan hanya menumpang di tempat ini, harusnya kami yang menjadi pelayan bukannya memanjakan diri terus menerus.
Wallohu ‘Alam.
(Diceritakann oleh seorang Alumni Darul Musthofa, Tarim, Hadhromaut, Yaman, yang bersumber Mii AL Bein Yahya).
Friday, September 14, 2018
Kisah Habib Umar bin Thoha bin yahya Indramayu Mengimami Sholat Jamaah Di Jabal Qof
Kisah Habib Umar bin Thoha bin yahya Indramayu Mengimami Sholat Jamaah Di Jabal Qof.
Setiap menjelang masuknya bulan sya'ban Habib Umar selalu mengenakan pakaian yang sangat rapi setelah itu beliau pergi ke tepi pantai,dalam waktu beberapa detik beliau sudah menghilang dan beliau akan muncul kembali di tempat yang sama satu bulan kemudian.lantas kemanakah perginya beliau selama satu bulan itu? Menurut Maulana Habib Luthfi bin yahya selama satu bulan Habib Umar bin yahya berada di Jabal Qof ( gunung qof ) dan mengimami sholat jamaah bersama para Awliya di sana.dan selama satu bulan itu pula Habib Umar menjalankan puasa ramadhan di sana.karena selisih waktu antara jabal Qof dengan waktu di dunia ini adalah satu bulan.jadi jika di dunia ini masih tanggal 1 Sya'ban maka di Jabal Qof sudah masuk tanggal 1 Ramadhan,dan awal Ramadhan di dunia ini adalah awal Syawal ( idul fitri ) di Jabal Qof. Jadi ketika beliau kembali ke Indramayu,beliau sudah menjalankan puasa ramadhan di jabal qof.
Maulana Habib Luthfi juga menceritakan tentang salah seorang murid Habib Umar bin yahya Indramayu yang di bawa ke kota madinah hanya dalam waktu satu detik.murid itu namanya adalah mbah darwo,saat itu ia sedang berada di pengimaman masjid Indramayu bersama Habib Umar. Ia di ajak pergi ke kota madinah oleh Habib Umar dengan perjalanan tempuh hanya satu detik dan menjalankan sholat jamaah di sana,setelah selesai sholat Habib Umar mengajak ia pulang kembali ke kampung halamannya di Indramayu namun mbah darwo lebih memilih menetap di madinah dan ia tinggal di sana selama 7 tahun.selama waktu itu pula ia menimba ilmu kepada para masyayih yang tinggal di Madinah sehingga sepulang dari sana dia menjadi orang yang alim.
Mbah darwo awalnya adalah seorang penjahat yang paling di takuti di desanya lantaran kesaktianya,ia di kenal menguasai berbagai macam ilmu hitam dan ilmu kekebalan.perjalanan taubatnya bermula ketika ia bertemu dengan salah seorang santri Habib Umar, singkat cerita ketika ia hendak menyatroni santri itu,si santri berteriak dengan menyebut nama Habib Umar seketika itu pula semua ilmu hitam yang di miliki mbah darwo lenyap dari dalam tubuhnya sehingga dia tidak bisa berbuat apa apa. Melihat keramat Habib Umar yang luar biasa itu akhirnya ia meminta kepada santri itu untuk di antarkan ke kediaman Habib Umar. Setibanya di sana ia menyatakan taubatan nasuha di hadapan Habib Umar dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatanya lagi.sejak saat itu ia menjadi pelayan Habib Umar yang setia.selain mbah darwo sebenarnya banyak murid murid Habib Umar yang menjadi Ulama besar di antaranya adalah sipitung ( pendekar legendaris dari betawi ) KH Muqoyyim ( Pendiri Pondok Pesantren Buntet ),KH Sholeh ( Pendiri Pondok Pesantren Benda Kerep ) selama 40 Tahun KH Sholeh Benda Kerep menjalankan sholat isya dan subuh berjamaah di belakang Habib Umar,dan masih banyak lagi murid murid beliau yang menjadi Ulama besar.
Melihat seorang wali jangan hanya memandang dari sisi keramatnya saja tapi lihatlah perjuangan dan pengorbananya serta peran sosialnya,keberadaan Beliau di dunia bukan hanya sebagai Himayah anil bala' ( penangkal turunnya bencana ) tetapi juga sebagi pengayom umat.sumbangsih beliau dalam mensejahterakan kaum fuqoro wal masakin sangatlah besar.beliau memiliki tanah yang luasnya mencapai ratusan hektar.dari hasil pertaniannya itu beliau gunakan untuk membantu fuqoro wal masakin.
Beliau juga menaruh perhatiaan yang sangat besar terhadap dunia pendidikan,beliau tidak senang apabila melihat para gus ( putra kyai ) yang tidak menyebarkan ilmunya,maka agar mereka tetap bisa menyebarkan ilmunya semua kebutuhan hariannya di tanggung oleh Habib Umar.
Habib Umar wafat pada tahun 1883 M
Di sampaikan oleh Maulana Habib Luthfi bin Yahya pada pengajian rutin bulan suci ramadhan di kediamanya tepatnya 27 Ramadhan 1434 H/Agustus 2013