Showing posts with label doa. Show all posts
Showing posts with label doa. Show all posts

Thursday, June 20, 2019

APA ITU SUJUD SYAJAROH?

APA ITU SUJUD SYAJAROH?

Oleh; Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)
***

Makna bahasa sujud syajaroh (سُجُوْدُ الشَّجَرَة) adalah “sujudnya sebuah pohon”. Istilah sujud syajaroh disebut An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’. An-Nawawi berkata,

قَالَ أَصْحَابُنَا وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَقُولَ فِي سُجُودِهِ مَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ وَهُوَ قَوْلُهُ سَجَدَ وَجْهِي إلَى آخِرِهِ وَسُجُودُ الشَّجَرَةِ أَيْضًا (المجموع شرح المهذب (4/ 65)

Artinya,

“Ashabuna (ulama-ulama Syafi’iyah mutaqaddimin) berkata, ‘Dianjurkan untuk berdoa dalam sujud (tilawah)-nya sebagaimana disebutkan oleh pengarang yakni ucapan ‘sajada wajhi…’ dan seterusnya dan (dianjurkan juga membaca doa) sujud syajaroh juga” (Al-Majmu’ juz 4 hlm 65)

Kalau begitu, apa sebenarnya makna sujud syajaroh itu?

Istilah sujud syajaroh sebenarnya menunjuk sebuah kisah mimpi yang pernah terjadi di zaman Nabi ﷺ . Syahdan, seorang lelaki di zaman Nabi ﷺ pernah bermimpi sedang salat di belakang sebuah pohon. Ketika laki-laki itu sujud, ia mendengar pohon tersebut ikut sujud dan bahkan berdoa dengan suara yang jelas didengar. Doanya sungguh ajaib! Karena takjub, maka lelaki itupun pergi kepada Rasulullah ﷺ dan menceritakan mimpinya dengan lengkap. Tak dinyana, ternyata Rasulullah ﷺ memakai doa yang dibaca pohon itu dalam sujud tilawah beliau. At-Tirmidzi meriwayatkan,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى رَأَيْتُنِى اللَّيْلَةَ وَأَنَا نَائِمٌ كَأَنِّى أُصَلِّى خَلْفَ شَجَرَةٍ فَسَجَدْتُ فَسَجَدَتِ الشَّجَرَةُ لِسُجُودِى فَسَمِعْتُهَا وَهِىَ تَقُولُ اللَّهُمَّ اكْتُبْ لِى بِهَا عِنْدَكَ أَجْرًا وَضَعْ عَنِّى بِهَا وِزْرًا وَاجْعَلْهَا لِى عِنْدَكَ ذُخْرًا وَتَقَبَّلْهَا مِنِّى كَمَا تَقَبَّلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدَ. قَالَ الْحَسَنُ قَالَ لِى ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ لِى جَدُّكَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَقَرَأَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- سَجْدَةً ثُمَّ سَجَدَ. قَالَ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَسَمِعْتُهُ وَهُوَ يَقُولُ مِثْلَ مَا أَخْبَرَهُ الرَّجُلُ عَنْ قَوْلِ الشَّجَرَةِ (سنن الترمذى – مكنز (2/ 491)

Artinya,

“Dari Ibnu Abbas dia berkata, ‘Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, semalam saya bermimpi seakan-akan saya shalat di belakang sebatang pohon, lalu saya sujud maka pohon itupun ikut sujud dan saya mendengar dia mengucapkan, ‘Allahummaktubli biha ‘indaka ajron, wadho’ ‘anni biha wizron waj’alha li ‘indaka dzukhron wataqobbalha minni kama taqobbaltaha min ‘abdika dawud’ (Ya Allah, tuliskanlah untukku pahala karena sujud ini, hapuskanlah dosaku karena sujudku ini, jadikanlah sujudku ini sebagai tabungan amal shaleh di sisi-Mu serta terimalah ia sebagai amal shaleh sebagaimana Engkau menerimanya dari hamba-Mu Dawud). Hasan berkata, Ibnu Juraij telah berkata kepadaku, kakekmu telah berkata kepadaku, Ibnu Abbas berkata, Lalu Nabi ﷺ membaca ayat sajdah, maka beliau sujud. Dia (Ibnu Juraij) berkata, Ibnu Abbas berkata, saya mendengar beliau mengucapkan seperti apa yang diucapkan pohon tersebut, sebagaimana dikabarkan laki-laki tadi” (H.R. At-Tirmidzi).

Hadis ini dihasankan oleh Al-Albani. An-Nawawi mengatakan dalam kitab Al-Khulashoh bahwa sanadnya hasan. Al-Hakim mensahihkannya.

Jadi, dinamakan sujud syajaroh adalah karena sujud ini dilakukan sebuah pohon dalam mimpi seorang lelaki di zaman Nabi ﷺ . Oleh karena doa yang dibaca pohon itu dibaca oleh Rasulullah ﷺ, maka lafaz doa itu telah ditaqrir oleh Rasulullah ﷺ dan menjadi dalil syar’i dalam perkara hukum. Mengingat konteks doa yang dibaca pohon itu adalah dalam sujud tilawah, maka doa yang dibaca pohon itu akhirnya menjadi salah satu variasi dari doa syar’i yang bisa dipakai pada saat melakukan sujud tilawah. Oleh karena itulah, An-Nawawi berkata dalam Al-Majmu’ sebagai berikut,

وَإِنْ قَالَ اللَّهُمَّ اُكْتُبْ لِي بِهَا عِنْدَكَ أَجْرًا وَاجْعَلْهَا لِي عِنْدَك ذُخْرًا وَضَعْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا وَاقْبَلْهَا مِنِّي كَمَا قَبِلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُد عَلَيْهِ السَّلَامُ فَهُوَ حَسَنٌ (المجموع شرح المهذب (4/ 64)

Artinya,

“Jika dia (orang yang melakukan sujud tilawah itu) berdoa ‘Allahummaktubli biha ‘indaka ajron, wadho’ ‘anni biha wizron waj’alha li ‘indaka dzukron waqbalha minni kama qobiltaha min ‘abdika dawud alahihissalam’ (Ya Allah, tuliskanlah untukku pahala karena sujud ini, hapuskanlah dosaku karena sujudku ini, jadikanlah sujudku ini sebagai tabungan amal shaleh di sisi-Mu serta terimalah ia sebagai amal shaleh sebagaimana Engkau menerimanya dari hamba-Mu Dawud alaihis salam) maka itu baik” (Al-Majmu’ juz 4 hlm 64)

  Versi Situs: http://irtaqi.net/2019/06/20/apa-itu-sujud-syajaroh/

***
16 Syawwal 1440 H

Friday, September 7, 2018

Beginilah Ulama Berfatwa, Kisah Syekh Bin Bayyah dan Seorang Istri yang Minta Cerai karena Suaminya Pemabuk

Pada suatu saat Syekh Abdullah Bin Bayyah ada di acara live sebuah stasiun televisi. Kemudian ada seorang perempuan dari Jazair bertanya kepada beliau, “Wahai Guru, bagaimana pendapat Anda tentang seorang perempuan dimana suaminya selalu meminum minuman keras dan datang di malam hari. Pada suatu saat ketika saya membaca Alquran, suami saya datang dan memukuliku, mengambil Alquran dan menyobeknya. Saya bingung, apakah saya boleh minta cerai atau tidak. Bagaimana pendapatmu?”

Lalu Syekh Abdullah Bin Bayyah balik bertanya, “Apakah kamu mempunyai anak?”

Perempuan tersebut berkata, “Iya, saya mempunyai lima anak masih kecil-kecil.”

Syekh Bin Bayyah bertanya lagi, “Apakah keluargamu ada?”

“Ada, tapi saya di ibukota sedangkan keluarga saya jauh ada di pelosok desa,” jawab si perempuan.

Lalu Syekh Bin Bayyah bertanya lagi, “Apakah ada yang mengayomimu?”

Jawab si perempuan, “Tidak, karena anakku semuanya masih kecil.”

Lalu Syekh Bin Bayyah berkata, “Wahai perempuan, janganlah engkau pergi dari rumahmu dan jangan kau minta cerai terhadap suamimu. Sabarlah bersamanya, jangan sampai engkau memarahinya.”

Tanya si perempuan, “Apakah saya harus sabar terhadap suami yang tiap malam datang dengan bau khamer, wahai Syekh?”

Syaikh Abdullah Bin Bayyah menjawab, “Kalau engkau berada di rumah tersebut maka yang akan meminum khamer cuman satu, sedangkan tugasmu membentengi anak-anakmu. Tapi ketika engkau keluar, maka yang akan meminum khamer 6 orang. Anak kecilmu akan terdidik dengan meminum khamer. Nanti kalau sudah tua mereka akan suka meminum khamer. Bersabarlah dan selalu meminta kepada Allah di tengah malam.”

Setelah beberapa tahun Syekh Abdullah Bin Bayyah kembali live di TV tersebut. Kemudian ada telepon masuk, “Saya adalah perempuan dulu yang bertanya tentang masalah apakah istri boleh minta cerai terhadap suaminya yang selalu meminum khamer.”

Jawab Syekh Bin Bayyah, “Oh iya, saya ingat kepadamu, ceritakan kepadaku bagaimana keadaan suamimu sekarang.”

Lalu si perempuan itu bercerita, “Kalau suamiku sekarang sudah memegang kunci Masjid Jami’. Setiap akhir malam dia yang membuka pintu masjid. Allah memberikan ijabah terhadap doaku yang di tengah malam. Allah selalu membersihkan hatiku menjadikan aku sabar. Dan alhamdulillah anakku terdidik dengan baik.” (Hb. Hamid Ja’far Al Qadri/Ala-NU)

Sunday, February 4, 2018

DOA BAHASA JAWA

*Azizihasbulloh*

DOA BAHASA JAWA
Dari para ulama kita

Berikut ini adalah contoh doa berbahasa Jawa yg diijazahkan oleh para Kyai dari berbagai daerah di Jawa.

1. KH. Ahmad Abdul Haq meriwayatkan bahwa KH. Dalhar Watucongol Magelang mempunyai doa agar tekun bekerja dan diberi kelapangan rizki.

“Allahumma ubat-ubet, biso nyandang biso ngliwet. Allahumma ubat-ubet, mugo-mugo pinaringan slamet. Allahumma kitra-kitri, sugih bebek sugih meri. Allahumma kitra-kitri, sugih sapi sugih pari.”

(Allahumma ubat-ubet, punya baju punya nasi. Allahumma ubat-ubet, semoga diberi selamat. Allahumma kitra-kitri, kaya bebek dan anaknya. Allahumma kitra-kitri, kaya sapi kaya padi)

2. KH. Achmad Chalwani Nawawi mempunyai doa yg terkait dgn keamanan.

“Bismillahirrahmānirrahim. Kun Fayakun, rinekso dhening Allah, jinogo dhening moloekat papat, pinayungan dhening poro nabi, Laa ilaha illallah Muhammadur Rasulullah.”

(Bismillahirrahmanirrahim. Kun Fayakun, dikehendaki oleh Allah, dijaga oleh 4 malaikat, dipayungi oleh para Nabi, Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah)

3. KH. Ma’ruf Kedunglo mempunyai doa suwuk untuk bekal pasukan Hizbullah dan ditiupkan ke air.

“Allahumma sallimnaa minal bom wal bedil wal bunduq wal martil wa uddada hayatina”

(Ya Allah selamatkan kami dari bom dan senapan dan meriam dan jagalah hidup kami)

4. KH. Bisri Musthofa meriwayatkan doa dari KH. Kholil Kasingan Rembang sebuah doa agar berhasil menyapih bayi.

“Bismillahirrahmanirrahim. Cerma ratu, si bayi laliyo duduh susu, ilingo sego lan banyu, adem asrep, saking Allah Ta’ala, Laa ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah”

(Bismillahirrahmaanirrahiim, Cerma ratu, si bayi lupakan air susu, ingatlah nasi dan air, adem asrep, dengan kehendak Allah Ta’ala, Laa ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah)

5. KH. Bisri Musthofa juga meriwayatkan doa dari KH. Ma’ruf Kedunglo, doa agar orator dan orang berpidato diberi kelancaran.

“Bismillahirrahmanirrahim, sang manik cemar uripmu wus kacekel. Diluk dingkul katungkul dingkul (diwoco ping 3 tanpo ambekan)

Laa ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah”
(Bismillahirrahmaanirrahim, sang manik cemar hidupmu sudah kupegang.
Diluk dingkul katungkul dingkul (dibaca 3 kali tanpa bernafas) Laa ilaaha illallaah, Muhammadur Rasulullah”.

Dari sini, kita tidak perlu takut atau ragu berdoa. Gunakan bahasa apapun yg kita bisa, yakin kepada Allah SWT akan menerimanya.

Semoga bermanfaat.
Penulis : Tim Sarkub

Monday, November 13, 2017

SYUBHAT RABU PUNGKASAN

SYUBHAT RABU PUNGKASAN

(Penjelasan Ustadzuna Alhabib Taufiq bin Abdul Qodir Asseggaf, Pasuruan)

Hari Rabu ini, adalah Rabu terakhir Bulan Shofar . Berikut ini adalah penjelasan Ustadzuna Habib Taufiq bin Abdulqodir Assegaf terkait dengan Rabu Pungkasan, yang diyakini sebagian orang sebagai hari sial:

Dahulu orang-orang Jahiliyah Arab meyakini bahwa Akhir Rabu ini (Bulan Shofar) sebagai Hari  Naas dan Hari Bala. Sehingga mereka menghentikan semua aktifitasnya. Toko ditutuo, pekerjaan mereka tinggalkan, bahkan mereka menutup rumahnya rapat-rapat. Mereka tidak mau keluar rumah karena takut mendapatkan bala.

Mereka serba ketakutan. Maka Rasulullah SAW datang membawa agama rahmat ini, meniadakan hal yang seperti itu. Beliau SAW bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيرَةَ وَلَا صَفَر

Tidak ada itu gara-gara si A akhirnya datang penyakit menular kepada yang lainnya. Tidak ada itu gara-gara burung ini atau itu akhirnya datang bala`, tidak ada pula gara-gara bulan Shofar.”

Karena itu, tidak boleh kita menyakini di hari itu akhirnya kita apes semuanya, tidak!

Disinilah para ulama' salaf merubah image Hari Rabu itu. Dirubah imagenya yang asalnya ketakutan, dirubah menjadi penuh harapan.

Mereka dulu ketakutan tapi diganti ayo baca-baca Al-Quran, baca-baca dzikir.

Dianjurkan beberapa dzikir diantaranya membaca Surat Yasin (ketika sampai ayat) ''Salamun qoulam mir rob birrohim '' dibaca 313x , dengan tafaul/berharap dengan jumlah sahabat perang badar yang sebanyak 313 insya Alloh kita ''Salam..'' dijadikan orang yang selamat.

Yang asalnya ketakutan menjadi harapan.

Kemudian yang asalnya di dalam rumah karena takut (jika keluar) kena bala' malah diadakan satu demostratif begitu, oleh salafus soleh, keluar/pergi keluar kota. Itu sebenarnya bukan dianjurkan/disunahkan pergi keluar kota, tidak.

Itu sebagai penentangan terhadap pengaruh jahiliyyah, yang asalnya mereka susah, ketakutan malah dianjurkan untuk berbahagia.

Sampai-sampai diantara mereka (salafussoleh) membuat mayoran (berkumpul makan bersama) potong kambing. Masih inget kita dulu ada di Umbulan (salah satu tempat rekreasi di Pasuruan) bersama Habaib dulu itu.

Itu sebagai ''protes'' jangan kita seperti orang jahiliyyah yang ketakutan di hari ini...maka kita berbahagia bersama-sama tapi sambil berdo'a, bukan melupakan diri kepada Alloh SWT.

Jadi ajaran itu sebenarnya bukan ajaran bi'dah justru itu adalah menentang dari pada keyakinan jahiliyyah.

Alhamdulillah, kita diatur semuanya oleh salafus soleh, ente baca ini, baca ini, baca Al Qur'anul Karim, ''salamun qoulam...” dan seterusnya' dengan harapan selamat. Kenapa Tidak? setiap ada ayat rahmat kita dianjurkan memohon kepada Alloh, setiap ada ayat adzab kita dianjurkan juga meminta perlindungan kepada Alloh.

Tidak ada masalah...ajaran-ajaran ini. Semuanya adalah islami, justru ini adalah mengeluarkan kita dari pada keyakinan-keyakinan jahiliyyah.

Salah sekali kalau ada yang mengatakan itu adalah karena pengaruh jahiliyyah, justru itu adalah omongan-omongan orang yang jahil (bodoh), karena ini adalah sebagai bentuk ''protes'' , sebagai bentuk penentangan terhadap keyakinan jahiliyyah, yang diajarkan salafus soleh. Alhamdulillah 'ala dzalik.

Jadi akhir Rabu jangan ada yang meyakini hari itu adalah hari na'as, tapi anda juga jangan jadi orang lupa/lalai kepada Allah, ibadah juga pada Allah biar selamat, jangan seakan-akan menantang turunnya adzab Allah...kenektemenan (kena sungguhan) nanti, itu sombong namanya.

Tetap mengharap selamat kepada Alloh, dengan membaca Al Qur'an, dengan berdzikir kepada Allah swt. Kemudian aktifitas seperti biasa, malah orang-orang dahulu lebih menggunakan ''liburlah tidak ada masalah, tapi libur untuk rekreasi, kemudian mayoran''.

Itu dahulu...tapi tidak harus... Mudah-mudahan kita semua jadi pengikut salafus soleh...aaamiiin ...''

(Di sampaikan dalam pengajian "Madros" Rabu pagi 17-12-2014 di kediaman Al Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf)

Monday, August 14, 2017

ABAH ANOM : TERUSKAN DZIKIRMU

ABAH ANOM : TERUSKAN DZIKIRMU..

Menurut Pangersa Abah Anom walaupun seseorang memiliki kemampuan luar biasa bisa terbang, tubuh menjadi seribu dalam satu waktu, berjalan di atas air dan lain sebagainya, belum dianggap mencapai kesempurnaan kalau belum berma’rifat kepada Allah.

Banyak orang yang telah menjadi murid Abah Anom, sering sowan ke Suryalaya untuk mengadu berbagai masalah yang telah menimpanya kepada Abah Anom tetapi Abah Anom hanya menjawab:
'Teruskan dzikirmu!’.

Bahkan meskipun dalam berdzikir sampai bisa terbang dan melayang-layang ke udara, lalu mengadu ke Abah, tapi Abah menjawab: ’Teruskan dzikirmu, itu belum sempurna !!’.

Sampai ada juga yg pernah ketika berdzikir, lalu ketika menengok ke kanan, beliau melihat Rasulullah Saw dan ketika menengok ke kiri, melihat Syeikh Abdul Qodir Al-Jailaniy Qs.
Lalu sowan lagi ke tempat Pangersa Abah Anom, tapi lagi-lagi Abah menjawab:
’Teruskan dzikirmu, karena itu belum sempurna !!’.

Abah Anom juga selalu mengetahui apabila ada diantara muridnya yang menyukai ilmu-ilmu kanuragan maupun kadigdayaan, maka beliau berpesan :
" Letakkan dulu keilmuan yang telah engkau pelajari kemarin dan amalkanlah dzikir " Laa ilaaha illaalloh " karena dzikir ini ibarat nasi, kalau sudah matang tinggal mencari lauk pauknya.

Karena keilmuan keparanormalan, kedigdayaan/kanuragan tersebut hanya tingkat kekanak-kanakan menurut Wali Mursyid yang Agung Pangersa Abah Anom (yang hakikatnya juga menurut Alloh).
Ilmu semacam itu hanya mampu menembus alam jin, tapi tak mampu menembus alam Jabarut dan alam Lahut.

Yaa Allah.. Yaa Robbi... Semarakanlah keharuman ridho-Mu kpd beliau pangersah Syeikh Ahmad Shohibul wafa tajul Arifin Ra.. Aamiin..

Sunday, July 16, 2017

Doa ketika dalam keadaan sulit

Faedah hasanah :
Termasuk dari doa mustajab ketika seseorang sedang mengalami urusan yg sangat sulit adalah genggam jari-jemari tangan kanan kemudian di buka sambil membaca kalimat :
" Laa haula wala quwwata illa billaahil 'aliyyil 'adziim, Allahumma lakal hamdu waminkal faroj, wa ilaikal musytakaa, wabikal musta'aan walaa haula walaa quwwata illa billahil 'aliyyil 'adziim "

artinya : Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha tinggi lagi Maha agung, Ya Allah, hanya untuk-Mu lah segala pujian, hanya dari-Mu lah jalan keluar, hanya kepada-Mu lah tempat mengadu dan hanya Engkau-lah DZat yang dimintai pertolongan. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha tinggi lagi Maha agung

خاتمة المجلس
من الادعية المستجابة اذا حل للشخص امر ضيق يطبق اصابع يده اليمني ثم يفتحها بكلمة
لَا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، وَمِنْكَ الفَرَجُ, وَإِلَيْكَ الْمُشْتَكَى، وَبِكَ الْمُسْتَعَانُ، وَلَا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
وهي فائدة حسنة

Wallohu a'lam

~Al Majaalisus Saniyyah~

Tuesday, May 23, 2017

APA YANG SALAH DENGAN DOA ALLAHUMMA LAKA SHUMTU ?

Sebarkan !!!

APA YANG SALAH DENGAN DOA ALLAHUMMA LAKA SHUMTU ?

Menjelang datangnya bukan Romadhon, mulai banyak beredar BC (Broadcast) terkait dengan lafadz doa berbuka puasa.

Ada kalangan menganggap doa tersebut riwayatnya dhoif, bahkan mereka pun berani berkata bahwa lafadz doa berbuka tersebut tidak ada asalnya.

Apakh benar demikian ?Berikut adalah penjelasan tentang hadits tersebut :

Ada hadits yang meriwayatkan bahwa Rasulullah juga berdo’a dengan do’a yang sebagian lafadznya seperti di atas:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، عَنْ حُصَيْنٍ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ، أَنَّهُ بَلَغَهُ ” أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: «اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ»
Sesungguhnya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
ketika berbuka membaca doa: *Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu* (HR. Abu Dawud, diriwayatkan juga oleh Al Baihaqi, Ath Thabarany, Ibnu Abi Syaibah)

Namun dalam catatan kaki Kitab Jâmi’ul Ushul, karya Ibnul Atsir (w. 606 H), dengan tahqiq Abdul Qadir Arna’uth dan disempurnakan Basyir ‘Uyûn, Maktabah Dârul Bayân, juz 6 hal.378 dinyatakan:

رقم (2358) في الصوم، باب القول عند الإفطار، مرسلاً، ولكن للحديث شواهد يقوى بها.
Nomor (2358) dalam (kitab) Puasa, bab perkataan saat berbuka, mursal, akan tetapi hadits ini memiliki syawâhid yang memperkuatnya.

Berikut beberapa redaksi do’a terkait:

1) Ath Thabarany dalam Mu’jam as Shaghir (2/133):

بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ , وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

2) Ath Thabarany dalam Ad Du’â, hal 286

بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، تَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

3) Dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (2/344), Ar Rabi’ bin Khutsaim ketika mau berbuka berdo’a:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ

Kaum Muslimin di seluruh dunia termasuk di Indonesia apabila berbuka puasa biasa membaca do’a berikut:

اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَبِك آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ ، ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إنْ شَاءَ اللَّهُ .

Artinya: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman dan dengan rizki-Mu aku berbuka. Telah hilang rasa penatku dan basahlah tenggorokanku dan tetaplah pahala dicurahkan atasku, Insya Allah”.

Pembacaan do’a seperti ini – dengan variasi tambahan dan pengurangan – merupakan warisan turun-temurun dari para Ulama Waratsatul Anbiya.

Mereka yang menganjurkan membaca do’a ini adalah para Ahli Hadis dan Fuqaha dari berbagai Madzhab.

Dari Ulama Madzhab Hanafi misalnya kita menemukan penjelasan dari Al Imam Fakhruddin Utsman bin Ali az Zaila’i:

وَمِنْ السُّنَّةِ أَنْ يَقُولَ عِنْدَ الْإِفْطَارِ اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَبِك آمَنْت وَعَلَيْك تَوَكَّلْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت .
Artinya: Di antara Sunnat adalah ketika berbuka puasa dianjurkan mengucapkan: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakkal dan dengan rizki-Mu aku berbuka. (Lihat kitab Tabyinul Haqa’iq Syarah Kanzud Daqa’iq karya Al Imam Az Zaila’i juz 4 halaman 178).

- Dari Ulama Madzhab Maliki antara lain disebutkan dalam Kitab Al Fawakih Ad Dawani Ala Risalah Ibni Abi Zaid Al Qirwani karya Syekh Ahmad bin Ghunaim bin Salim bin Mihna An Nafrawi :

وَيَقُولُ نَدْبًا عِنْدَ الْفِطْرِ : اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْت وَمَا أَخَّرْت ، أَوْ يَقُولُ : اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت ، ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إنْ شَاءَ اللَّهُ .

Artinya: Dan Sunnat ketika berbuka puasa mengucapkan: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka. Maka ampunilah dosaku yang lalu dan yang akan datang”. Atau mengucapkan: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka. Telah hilang rasa penatku dan basahlah tenggorokanku dan tetaplah pahala dicurahkan atasku, Insya Allah”. (Lihat pada Juz 3 halaman 386).

- Dari Madzhab Syafi’i antara lain dikemukakan Al Hafizh Al Imam An Nawawi dalam Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab:
والمستحب أن يقول عند إفطاره اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت لما روى أبو هريرة قال " كان رسول الله صلي الله عليه وسلم إذا صام ثم أفطر قال اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت .
Artinya: Dan yang disunnahkan ketika berbuka puasa itu adalah mengucapkan: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka”. Berdasarkan Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW itu apabila berpuasa kemudian berbuka membaca “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka”. (Lihat Al Majmu’ Juz 6 halaman 363).

Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa membaca do’a “Allahumma laka Shumtu….” Sebagaimana yang biasa dilakukan Ummat Islam adalah Sunnah. Adapun adanya keterangan sebagian orang yang menilai Hadisnya lemah dapat dijelaskan sebagai berikut:

⭐ *Pertama*, lemahnya sebuah Hadis tidak serta merta terlarang mengamalkannya sebab kelemahan itu hanyalah pada penisbatannya kepada Rasulullah SAW, tidak ada kaitannya dengan boleh-tidaknya dibaca.

☀ *Kedua*, Hadis “Allahumma Laka Shumtu…” sungguhpun dha’if namun ia melengkapi Hadis “Dzahabazh Zhama’u…”. yang yang Hasan itu.

Bentuk kedua ini belum merupakan do’a sebab hanya bentuk berita atau ucapan biasa yang disampaikan Rasulullah SAW saat minum air. Bacaan ini baru menjadi do’a manakala disambungkan dengan kalimat “Allahumma…” yang berarti “Ya Allah”.

💧 *Ketiga*, bacaan do’a tersebut telah diamalkan dan dianjurkan oleh semua Ulama Madzhab Empat Itu artinya membaca “Allahumma laka Shumtu” merupakan kesepakatan Ummat Islam.

Apabila ada orang awam yang melarang membaca “Allahumma Laka Shumtu…” maka orang tersebut dapat dikatakan menyalahi kesepakatan Ummat Islam – tidak ada dalil yang menjadi dasarnya.

Bahkan, sabda Rasulullah SAW di atas menganjurkan kita memilih do’a sesuka kita. Lalu dengan alasan apa orang tersebut melarang membaca do’a “Allahumma Laka Shumtu..” ? Bukankah dengan larangannya itu berarti ia telah membuat Syari’at baru?

Kalau saja membaca do’a yang terdapat dalam Hadis Shahih itu diharamkan, tanyakan kepada orang itu : “Pernahkan anda berdo’a dengan Bahasa Indonesia agar anak anda sukses sekolahnya ? Jika pernah, lalu apakah ada dalilnya bentuk do’a yang anda baca itu?. Lalu bagaimana anda melarang orang membaca do’a yang disepakati Ummat Islam dari dulu hingga sekarang hanya gara-gara “katanya” Hadisnya dha’if ?

Dan afdholnya dalam berdoa adalah dengan dimulai ucapan *Allahumma* atau *Robbana*, tidak ujug-ujug langsung ke *Dzahabadh dhomaa'u.. dst* sebagaimana yang kita pahami dari BC tersebut.

Kita berdoa dengan bahasa yang kita susun sendiri saja boleh kok, apalagi bila mengutip dari hadits dhoif, ya tentu lebih baik.

Monggo manteb saja berbuka puasa dengan doa :

*اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَبِك آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ ، ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إنْ شَاءَ اللَّهُ*

SELAMAT MENYAMBUT BULAN MULIA ROMADHON

*) Disarikan dari Dokumen PISS-KTB

Wednesday, May 3, 2017

Untuk yang sedang menunggu jodoh :)

Bagi ia yg masih menanti jodohnya dan ingin dipermudah urusannya,hendaklah memperbanyak berdoa dengan ayat Al-Quran yg terdapat di Surat Al-Qashas Ayat 24

رب اني لما أنزلت إلي من خير فقير

Ayat ini adalah doa Nabi Musa Alaihissalam ketika pertama kali sampai di kota Madyan,setelah ia membaca doa itu,datanglah putri Nabi Syu'aib Alaihissalam mengabarkan bahwa sang ayah ingin ia mengunjungi rumah mereka.
Nabi Musa sampai dirumah Nabi Syu'aib,berbincang-bincang,dan akhirnya Nabi Syu'ab mengutarakan niatnya untuk menikahkan Nabi Musa dgn salah satu putrinya.

Dari situ Ulama Tafsir mengambil kesimpulan bahwa doa ini mujarrab untuk mempermudah urusan jodoh bagi laki-laki atau perempuan.
Doa ini bisa dibaca kapan saja,dan alangkah baiknya jika dibaca diwaktu ijabah seperti di akhir malam atau setelah sholat 5 waktu.
Hendaknya di baca dgn hati yg khusuk dan ikhlas,jika dibaca sebanyak 100-200 kali(atau bahkan lebih)maka itu lebih baik.

* Al Habib Salim Bin Abdillah As-Syathiry,3/9/1424 H

* Pasrah dan tawakkal dalam urusan jodoh bukan berarti harus meninggalkan doa kan ?meskipun sampai kapapun jodoh akan selalu menjadi Rahasia,setuju dgn apa yg dikatan "Syaikh" Darwish :

"Jodoh itu rahasia Allah,Yang namanya rahasia, kita mampu merobohkan gunung sekalipun, mengeringkan lautan, kalau tidak berjodoh, tidak akan pernah terjadi. Sebaliknya, mau benci setinggi bulan, mau menghindar ke ujung dunia, kalau memang berjodoh, tetap akan terjadi, ada saja jalannya.

Banyak sekali yg paham dan setuju saat membaca kalimat ini. Sayangnya, lebih banyak yg cuma setuju di dunia maya saja,di dunia nyata tetap saja galau, memaksakan cerita, tidak sabaran, bahkan pacaran dan sekian banyak kelakuan lainnya. Kenapa nggak ditunggu saja sih? Sambil terus belajar banyak hal.

* Tarim,9 Robi'ul Awal :)

Tuesday, April 25, 2017

DOA AGAR DUNIA MENGEJARMU TANPA KAU MENGEJARNYA


بسم الله الرحمن الرحيم

Diriwayatkan bahwa seorang Shohaabat mengeluh kepada Rosuulullooh shollalloohu ‘alayhi wasallam dan berkata :
.
“Yaa Rosulallooh, kenapa DUNIA seolah-olah tidak menginginkanku, semua usahaku bangkrut, peternakan dan pertaniankupun selalu gagal panen?
.
Sambil tersenyum Nabiy Muhammad shollalloohu ‘alayhi wasallam mengajarkan tentang tasbiihnya para Malaaikat serta tasbiihnya penghuni 'alam semesta yaitu kalimat :

*ﺳﺒﺤﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﺤﻤﺪﻩ ﺳﺒﺤﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ ﺍﺳﺘﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ*

SUBHAANALLOOHI WA BIHAMDIHII SUBHAANALLOOHIL ‘ADZHIIM ASTAGHFIRULLOOH
.
Lalu Nabiy shollalloohu ‘alaiyhi wasallam bersabda :
“Bacalah 100 kali sebelum terbit Fajar."
.
Maka DUNIA akan memohon kepada Allooh agar engkau miliki (mengejarmu tanpa kau mengejarnya)”
.
Selang beberapa bulan kemudian, shohaabat tadi kembali lagi dan bercerita :
.
“Yaa Rosuulallooh sekarang aku bingung dengan hartaku kemana harus aku letakkan hasil usaha dan peternakanku karena banyaknya.”
.
( Kitaab ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﻔﺮﺝ oleh Sayyid Muhammad bin 'Alwiy Al Maliki Al Hasany ra.)
.
Allhuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim
.
Silahkan Tag & share ~

Wednesday, April 12, 2017

Dungo anti malas bebas hutang dll

اللهم اني اعوذ بك من الهم والحزن واعوذ بك من العجز والكسل واعوذ بك من الجبن والبخل واعوذ بك من غلبة الدين وقهر الرجال

Sunday, March 26, 2017

Doa Ibn Mas'ud yang Menggetarkan

Saat menyiapkan materi pengajian tafsir QS Maryam: ayat 78-87 untuk majelis khataman al-Qur'an di Melbourne, saya menemukan doa dari sahabat Nabi yang terkenal alim dan cerdas, yaitu Abdullah bin Mas'ud.

Ketika menjelaskan ayat 87:  "Mereka tidak berhak mendapat syafa'at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah", Tafsir Ibn Katsir mengutip riwayat di bawah ini:

‎وَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ خَالِدٍ الْوَاسِطِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ الْوَاسِطِيُّ، عَنِ الْمَسْعُودِيِّ، عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِي فاخِتَةَ، عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ: قَرَأَ عَبْدُ اللَّهِ -يَعْنِي ابْنَ مَسْعُودٍ-هَذِهِ الْآيَةَ: {إِلا مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَنِ عَهْدًا} ثُمَّ قَالَ: اتَّخِذُوا عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا، فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: "مَنْ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ فَلْيَقُمْ" قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، فَعلمنا. قَالَ: قُولُوا: اللَّهُمَّ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، فَإِنِّي أَعْهَدُ إِلَيْكَ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا أَنَّكَ إِنْ تَكِلْنِي إِلَى عَمَلٍ تُقَرِّبُنِي مِنَ الشَّرِّ وَتُبَاعِدُنِى مِنَ الْخَيْرِ، وَإِنِّي لَا أَثِقُ إِلَّا بِرَحْمَتِكَ، فَاجْعَلْ لِي عِنْدَكَ عَهْدًا تُؤَدِّيهِ إِلَيَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ.

Ibnu Abi Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Usman bin Khalid Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Hasan Al-Wasiti, dari Al-Mas'udi, dari Aun bin Abdullah, dari Abi Fakhitah, dari Al-Aswad bin Yazid yang mengatakan bahwa Abdullah bin Mas'ud membaca ayat ini: kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah. (Maryam: 87)

Kemudian Ibnu Mas'ud mengatakan bahwa mereka yang telah mengambil janji di sisi Tuhannya, maka kelak di hari kiamat Allah Swt. akan memanggil mereka, "Barang siapa yang telah mengambil janji di sisi Allah, hendaklah ia berdiri."

Mereka (para tabi'in) berkata, "Wahai Aba Abdir Rahman (julukan panggilan Ibnu Mas'ud), kalau begitu ajarkanlah doanya kepada kami." Ibnu Mas'ud menjawab, "Kalau demikian, ucapkanlah oleh kalian doa berikut:

"Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui semua yang gaib dan yang lahir, sesungguhnya saya berjanji kepada Engkau dalam kehidupan dunia ini, bahwa jikalau Engkau membiarkan diriku kepada amal perbuatan yang mendekatkan diriku kepada keburukan dan menjauhkan diriku dari kebaikan, sedangkan aku tidak percaya kepada siapa pun kecuali hanya kepada rahmat-Mu, maka jadikanlah bagiku di sisi Engkau suatu perjanjian yang Engkau akan tunaikan kepadaku kelak di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak akan menyalahi janji'."

Dikisahkan sahabat Nabi Ibnu Mas'ud selalu mengiringi doanya ini yang diucapkan dengan penuh rasa takut, memohon perlindungan dan memohon ampunan dengan penuh harap dan cemas kepada Allah SWT. Ibn Syaibah dalam al-Mushannaf mengatakan sanad riwayat di atas shahih.

Apa maksud Ibn Mas'ud dalam doanya di atas?

Mereka yang terikat perjanjian dengan Allah akan diberi syafaat kelak di hari akhir. Para ulama tafsir mengatakan perjanjian yang dimaksud ini adalah ungkapan syahadat. Para ulama sufi menafsirkan perjanjian dalam kalimat syahadat itu adalah perjanjian umum, di luar itu juga ada perjanjian semacam ikatan khusus antara hamba dengan Allah SWT --disesuaikan dengan tugas dan amanah yang diterima masing-masing hambaNya.

Dalam konteks ini Ibnu Mas'ud berbaik hati mengajarkan kita perjanjian antara dia dengan Allah SWT: jikalau ternyata hidupnya lebih banyak bergelimang keburukan dan jauh dari kebaikan, Ibn Mas'ud berjanji untuk tetap kukuh percaya kepada kasih sayang Allah. Inilah ikatan kontrak seorang Ibn Mas'ud. Dia berjanji akan memegang teguh hal ini dan memohon agar kelak dimasukkan ke dalam golongan mereka yang berdiri di saat Allah memanggil mereka yang memiliki perjanjian dengan Allah. Ibn Mas'ud juga tersirat dalam doanya memohon syafaat sesuai perjanjian ini.

Kita mungkin bukan orang-orang khusus yang memiliki perjanjian dengan Allah SWT. Yang kita miliki adalah perjanjian umum saat Allah dulu bertanya "Alastu birabbikum? Bukankah Aku ini Tuhan kalian?" (QS al-A'raf:172). Namun tidak salah kita turut mengucapkan do'a di atas yang telah diajarkan Ibn Mas'ud karena ada kata kunci di sana: kita tidak mengandalkan amal ibadah kita, yang tidak seberapa dan belum tentu pula diterima Allah. Yang kita harapkan adalah rahmat Allah.  Maka sejatinya doa Ibn Mas'ud adalah harapan kita semua: kita berharap kasih sayang Allah meliputi kita semua baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Sudah ku sampaikan, Ya Arhamar Rahimin....

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School