Showing posts with label zuhud. Show all posts
Showing posts with label zuhud. Show all posts

Wednesday, October 17, 2018

Kisah Nyata Keindahan Akhlak Putri Al-Habib Umar bin Hafidz - Yaman

Kisah Nyata Keindahan Akhlak Putri Al-Habib Umar bin Hafidz - Yaman

Selagi aku masih duduk di Daruzzahro, Guru Mulia Al-Habib Umar bin Hafidz pernah berkata kepada salah satu putri beliau :
“Darul Mustofa dan Daruzzahro ini bukanlah kepunyaan kita, sekalipun ayah yang mendirikannya tetapi sejatinya adalah kepunyaan Kakek kita Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam beserta putri kecintaan beliau ibu kita Sayyidah Fatimah Azzahro Radhiyallohu ‘Anha, maka sekali-sekali kamu jangan berbuat seenaknya di dalamnya, harus tunduk dengan segala macam peraturannya, jangan memakan hak-hak tamu Azzahro sebelum mereka semua telah habis makan kecuali sisa-sisa puing makanan dari mereka. Ingat !! peran kita di sini hanya sebagai pembantu, khaddam, dan pelayan yang melayani rumah ini beserta tamu-tamunya”.

Al Habib Umar bin Hafidz

Pada suatu hari, saat jam istirahat, aku hendak pergi ke kamar kecil, tetapi aku melihat putri kecil putri bungsu Habib Umar bin Hafidz duduk seorang diri di salah satu tangga Daruzzahro sambil memegang perut, maka aku pun menghampirinya dan bertanya:

“Ada apa denganmu wahai putri mulia?“

Maka dengan polosnya ia menjawab bahwa ia dalam keadaan lapar dari tadi, sebab sebelum pergi ke sekolah tidak sempat bersarapan terlebih dahulu, khawatir terlambat ucapnya. Spontan aku membalas ucapannya dan berujar:

“Mengapa yang mulia tidak mengambil sepotong roti di ruang makan Darruzzahro saja?”.

Ia hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Atau pulang sebentar ke rumah mengambil sarapan?”, tawarku kembali.

Ia pun tetap membalasnya dengan gelengan.

Aku semakin keheranan: “Bukankah engkau putri guru mulia kami (Habib Umar bin Hafidz)? Pemilik Daruzzahro ini wahai yang mulia?”.

Maka ia pun menceritakan pesan sang ayah untuk putra putri dan seluruh keluarga. Mendengarnya, aku tercengang dan terkejut, ku rasakan sudut mataku mulai berembun, hatiku bergetar mendengar penuturannya. Tidak hanya sampai di situ, putri kecil guru mulia mengejutkanku dengan perkara lain. Merasa kasihan dan tak tega, aku pun merogoh saku baju dan mengambil selembar uang di dalamnya:

“Jika begitu ku mohon ambilah ini sebagai hadiah dariku, dan belilah sedikit makanan untuk mengganjal perut yang mulia”, ucapku penuh harap sambil menyodorkan selembar uang itu ke hadapannya. Ia tersenyum ramah, mata beningnya menatapku lembut dan ia menolak halus pemberianku dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, namun aku terus merayu dan memohon agar dia bersedia menerimanya, tetapi putri kecil guru mulia tetap bersikeras untuk tidak menerimanya dan terus mengindahkan tangannya dari tanganku, melihat usahaku tiada henti, dengan polosnya ia berkata:

“Maafkan aku saudaraku, bukannya menolak pemberianmu, dan ingin melukai perasaanmu, akan tetapi ayah mengajarkan kami untuk tidak memberatkan orang lain dan tidak berharap belas kasih manusia selain belas kasih Allah Subhanahu wa Ta’ala, simpanlah uang itu, karena engkau lebih memerlukannya ketimbang aku, lagi pula kalau ayahanda mengetahui pasti beliau tidak akan menyetujuinya”.

Tes tes… ku rasakan air mataku mulai berjatuhan di pipiku, aku memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ku lihat kerudungnya nampak kumal, pakaiannya pun terlihat lusuh, ia hanya menggunakan keresek putih untuk alat-alat sekolahnya, kakinya penuh debu tanpa mengenakan sandal, aku terdiam terpaku tak mampu berkata sekalimat pun sampai putri guru mulia berlalu dari hadapanku sambil berlari-lari kecil dengan wajah yang tetap riang.

Aku menelan ludah susah payah, gemetar jiwaku menatap bayangnya yang perlahan menghilang dari pandanganku, hatiku bergetar hebat, pendidikan macam apa ini yang membuat anak sebelia dia memiliki hati sedemikian mulia. Sambil berderai air mata ku segerakan langkahku menuju kamar. Sesampainya di kamar ku membenamkan kepalaku di bantal dan pecah tangisku seketika, bagaimana tidak?

Jiwaku hancur lembur dihantam akhlak mulia sebegitu luhur, benar benar kami ini murid yang tak tau diri, jauh kami merantau dari negara kami hanya demi menimba ilmu serta mengambil keberkahan dari Guru Mulia beserta Sang Istri, malam-malam kami tidur dengan nyenyak, tidak pernah sedikitpun kekurangan air dan makanan, bahkan kami menganggap tempat ini seperti rumah kami sendiri, terkadang kami berbuat semaunya, makan dengan kenyang dan menggunakan kipas angin dan AC sepuasnya, tetapi guru mulia yang mendirikan tempat ini pun merasa tidak memilikinya dan tidak berlaku seenaknya.

Hatiku benar-benar serasa dicambuk rasa malu yang begitu dalam, teramat malu atas ketidaktahuan kami, atas sedikitnya perhatian dan kepedulian kami. Guru mulia beserta keluarga begitu memuliakan para pelajarnya melebihi penghormatan kami kepada beliau. Huhuhu… aku terus saja menangis.

Sampai akhirnya terdengar suara peringatan waktu istirahat segera berakhir. Aku pun menghentikan tangisanku dan menyeka air mata. Masih dengan mata yang sembab aku bangkit berdiri dan berniat mengambil air wudhu.

Saat ku lewati ruang makan Daruzzahro, sungguh ku menyaksikan pemandangan yang kembali sangat membuat hatiku miris. Ku lihat tangan mungil putri mulia memunguti beberapa pecahan roti yang tersisa dari bekas sarapan sebagian pelajar tadi pagi. Melihatnya aku membuang pandangan karena tak sanggup menyaksikannya.

Kejadian tersebut sangat membekas di hatiku sehingga aku merenungkannya selama berhari-hari. Semenjak itu aku jadi jarang ikut makan bersama dengan teman-teman lainnya, kecuali menunggu mereka telah usai semua, dan aku mulai bermujahadah melunturkan kesombongan yang ada di diriku.

Terkadang aku sengaja memakan roti yang sudah kering dan keras yang sudah ku hancurkan sebelumnya, atau memakan bekas-bekas nasi yang akan dibuang, atau makan bersama kawan tetapi dengan suapan yang terbatas, ketika kenyang hanya 3 suap, jika memang dalam keadaan lapar hanya 9 suap, semua itu sengaja ku lakukan agar diriku yang sangat payah ini dapat merasakan kerasnya menuntut ilmu tanpa memanjakan diri sedikitpun, terlebih-lebih setiap mengingat kejadian di atas hatiku sangat malu terhadap Sang Guru.

Kami hanya seorang murid dan hanya menumpang di tempat ini, harusnya kami yang menjadi pelayan bukannya memanjakan diri terus menerus.

Wallohu ‘Alam.

(Diceritakann oleh seorang Alumni Darul Musthofa, Tarim, Hadhromaut, Yaman, yang bersumber Mii AL Bein Yahya‎).

Monday, October 1, 2018

TAKOK SANTRENA GILE DUNNYA

" TAKOK SANTRENA GILE DUNNYA" (takut santrinya gila dunia)

Suatu saat KHR. SYAMSUL ARIFIN  pulang ke Madura, saat di Madura Putra Mahkotanya KHR. AS'AD SYAMSUL ARIFIN (Kyai As'ad) mengganti atap rumah ayahandanya yg terbuat dari rumput ilalang dengan genteng, tentu maksudnya agar ayahandanya merasa lebih nyaman dan tenang, selain itu perwujudan amal bakti yg baik kepada orang tua.
Lalu apa yang terjadi....?
Begitu Kyai Syamsul arifin pulang ke Madura beliau tidak mau masuk ke rumahnya, sehingga harus singgah ke rumah KH. ABD.FATTAH Nyamplong, Beliau bilang tidak mau masuk rumahnya selama genteng rumahnya tidak diganti dengan atap dari rumput ilalang seperti semula, kemudian beliau ditanya mengapa? Jawab beliau : " Takok tang santre gile dunnya (takut santrinya gila dunia)"
Inilah sosok ulama pewarisnya para nabi, maka teringat pada sejarah Rosulullah yg pipinya selalu ada bekas ketika habis istirahat, lalu sayyidina Umar memeriksanya, ternyata bantal yg beliau pakai adalah potongan pelepah kurma.
Lalu siapakah diantara santri Kyai Syamsul Arifin saat ini yg mampu mengikuti jejak beliau, untuk ikut jejak rosul terlalu jauh, sedangkan mengikuti kezuhudan Kyai Syamsul Arifin sangat sulit dan langka menemukan di jaman akhir ini....
Subhaanallah.....

Saturday, September 1, 2018

MENTARI DARI MURIA

[terbit september 2018]

MENTARI DARI MURIA
Oleh Sujewo Tejo

Akhirnya ada juga buku penjelasan-bercerita tentang Sugih Tanpo Bodo, lagu yang saya kompos atas dasar lirik dari RMP Sosrokartono, kakak kandung RA Kartini:

Sugih tanpo bondo
Digdoyo tanpo aji
Trimah mawi pasrah
Sepi pamrih tebih ajrih

Langgeng
Tanpo susah
Tanpo seneng
Anteng mantheng
Sugeng jeneng

Selama ini penjelasan tentang lagu yang memasyarakat tersebut --- ada banyak versi YouTube, Instagram dan lain-lain kalangan milenial yang meng-cover lagu tersebut dan versi saya sendiri yang tak sampai enam bulan telah mendapatkan 1 juta lebih views --- bisanya cuma berupa serpih-serpih informasi.

Itu pun berupa informasi kognitif, bukan afektif maupun impresif melalui kehidupan konkret Sosrokartono yang melahirkan larik-larik tersebut. Kini bolehlah secara gede rasa saya sebut bahwa telah terbit buku yang memang diterbitkan semata-mata untuk menjelaskan makna lirik lagu Sugih Tanpo Bondo.

Sugih Tanpo Bondo, kaya tanpa harta, sebelum ada buku ini  biasanya saya jelaskan ke penonton sebagai rasa memiliki kesemestaan. Bahwa tiada yang ada selain Tuhan. Segala yang tampak bukan Tuhan hanya seolah-olah saja bukan Tuhan. Termasuk kita. Karena semua milik Tuhan, maka sebenarnya tanah di mana pun kita berpijak adalah milik kita bersama. Begitu juga jabatan siapa pun. Semuanya jabatan kita bersama. Hanya perkara administrasi, secara sertifikat tanah maupun SK jabatan, yang membuat masing-masing itu milik si A, si B, dan lain-lain.

Dengan rasa itulah maka kita tidak akan pernah iri dan dengki. Dengan rasa itulah maka kita turut menjaga harta yang secara administratif milik si Anu. Kita tak akan membuang sambah sembarangan di tanah yang secara sertifikat milik si Anu. Kita tidak akan mengumpat pejabat yang secara SK ditujukan kepada si Anu. Karena semua tak lain adalah tanah kita juga. Semua tak lain adalah jabatan kita juga.

Penjelasan itu biasanya saya sampaikan dalam pentas-pentas saya yang memanggungkan Sugih Tanpo Bondo, pentas yang biasanya menampilkan nara sumber lain pula termasuk dari kalangan Islam.

Kyai Ulil Abshar-Abdalla dan ustad Habib Anis Sholeh Ba’asyin pernah menambahkan di panggung yang berbeda bahwa Sugih Tanpo Bondo di sini tidak harus berarti tak berharta atau miskin. Menurut mereka, sugih tanpo bondo di sini berarti zuhud. Bisa saja kita kaya, tetapi zuhud alias tidak punya kemelekatan terhadap harta-benda. Siap sewaktu-waktu “kehilangan”-an semuanya karena sesungguhnya kita tak pernah memiliki semua itu. Semua hanyalah titipan.

Lain halnya novel biografi Sosrokartono ini. Novel 337 halaman karya Aguk Irawan MN ini menjelaskan dengan perbuatan, dengan laku yang dilakoni sendiri oleh penulis syairnya. Misalnya, bagaimana lelaki kelahiran Mayong ini tidak melekat dengan jabatan dan gaji menggiurkannya di PBB di Jenewa, Swiss.

“Liga Bangsa-Bangsa yang seharusnya menjadi organisasi yang akan menguntungkan bagi semua negara-negara anggotanya, ternyata justru cuma dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menang peran untuk semakin menunjukkan taring-taring kekuasaannya kepada negara lain melalui jalur politik,” alasan kemundurannya dari jabatan bergengsi sebagai juru bahasa di lembaga dunia itu.

***

Digdoyo tanpo aji, sakti tanpa mantra, tanpa jimat, tanpa … Ah, susah saya menjelaskannya di publik. Seingat saya di panggung-panggung pementasan Sugih Tanpo Bondo termasuk di depan ribuan jamaah di halaman IAIN Tulungangung bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Kadang di tempat lain saya katakan saja bahwa digdoyo tanpo aji itu kekuasaan tanpa alat kekuasaan.

Sudah pasti penjelasan itu membingungkan bahkan bagi saya sendiri. Bahkan pun bila digdoyo tanpo aji itu saya rangkai dengan larik berikutnya trimah mawi pasrah, sepi pamrih, tebih ajrih .. Bahwa kita akan bisa menguasai apa pun tanpa senjata hanya bila menerima apa pun dengan rasa pasrah, tanpa pamrih. Bukan saja menguasai, kita akan tebih ajrih, akan terjauhkan dari rasa takut.

Tapi, ketahuilah, seluruh penjelasan kognitif yang membingungkan itu patah sudah hanya dengan secuplik cerita di buku ini tentang bagaimana Sosrokartono menghadapi gerombolan penyamun di Eropa. Mereka meminta isi tas yang dibawa Sosro. Sosro tidak melawan bahkan ketika mereka mengancam benar-benar akan membunuhnya dengan todongan pisau.

Sosro hanya pasrah memberikan alamat ibunya di Hindia Belanda, seraya meminta satu hal, “Tolong beritakan kepada ibu saya yang sangat saya cintai dan saya junjung tinggi. Bahwa saya, putranya, telah mati terbunuh. Sekarang silakan bunuh saya.”

Bagi mereka yang telah mencapai maqom tertentu cerita tersebut masih bisa ternalar. Termasuk ketika Sosrokartono merambah ke Hungaria. Seorang pangeran bangkrut di sana ingin membalas-budi dengan memberikan jabatan khusus kepada Sosrokarto yang nasihat-nasihatnya telah berhasil mengentaskannya dari kebangkrutan.

Harta benda dan jabatan pangeran itu yang bakal dipasrahkan ke Sosrokartono pun ditolaknya. Ini masih ternalar. Tapi bagaimana dengan Sosrokartono yang juga menolak halus ketika pangeran tersebut ingin menyerahkan kepada Sosro orang yang dicintainya: Istrinya sendiri?

***

Itulah sekelumit kisah dari banyak kisah di buku ini yang bisa menjelaskan via cerita tentang digdoyo tanpo aji, trimah mawi pasrah, sepi pamrih tebih ajrih.

Mungkin juga karena trimah mawi pasrah dan sepi pamrih itulah Sosrokartono tak takut kepada “raksasa” intelektual yang memegang hegemoni akademis kala itu, Snouck Hurgronje. Dialah guru besar di Belanda yang keahliannya tentang bangsa-bangsa di Asia dan Islam digunakan oleh Belanda untuk menguasai Asia. Demi martabat Nusantara, bayi yang lahir di Mayong ketika mentari muncul di Gunung Muria menyinari Mayong itu secara terbuka berani melakukan pembangkangan akademis terhadap Snouck.

Tuan Abendanon sampai miris menyaksikannya. Sahabat-pena RA Kartini itu memihak Sosrokartono atas jiwa kebangsaannya yang besar. Ia bisa mengerti kenapa di Belanda Sosro menentang habis-habisan Snouck. Tetapi menurutnya, Sosro yang menguasai banyak bahasa asing ini terlalu berani.

Atau jangan-jangan keberanian lelaki kelahiran Rabu Pahing ---weton yang baik --- itu didorong juga oleh kecintaannya yang luar biasa terhadap adik kandungnya, RA Kartini. Dari “Pendekar kaumnya yang harum namanya” itu Sosro mendapat info tentang rencana-rencana penguasaan Nusantara oleh Snouck dan kelompoknya melalui ilmu pengetahuan. Halaman-halaman buku ini juga mengabarkan kepada kita betapa cintanya Sosro ke Kartini. Betapa banyak hari-harinya di Eropa, baik semasa kuliah maupun semasa menjadi wartawan perang, dipakainya untuk merenungi dan mencemasi Kartini nun jauh di Nusantara.

***

Langgeng, tanpo susah, tanpo seneng, anteng mantheng, sugeng jeneng …

Langgeng .. Tanpa susah yang berlebih, tanpa senang yang berlebih, damai …

Kyai Budi Harjono ketika sepanggung dengan saya saat pentas Sugih Tanpo Bondo menjelaskan ke khalayak bahwa leluhur kita sering membuat pilihan antara jenang (harta) dan jeneng (nama, martabat). Dalam pilihan antara jenang dan jeneng, leluhur kita sudah tegas dan tandas kepada kita untuk pilihlah jeneng. Dan, di antara topik-topik yang dibahas di buku ini, soal jeneng yang diperjuangkan oleh Sosrokartono adalah topik yang halaman-halamannya paling banyak.

Jangan-jangan jeneng itu pula yang sejatinya menempati halaman-halaman terbanyak di setiap manusia sebagai buku berjalan. Sayangnya selama ini halaman-halaman itu masih diplastiki. Hanya cover-nya yang tertera dalam kolom nama di KTP. Walau cuma jadi nama KTP, belum menjadi nama di martabat, potensi nama sebagai martabat itu sudah memenuhi halaman-halaman di dalam buku berjalan tersebut. Tak heran kalau frekuensinya ketemu dengan frekuensi dalam lirik Sugih Tanpo Bondo.

Lihat, video klip Sugih Tanpo Bondo – Sujiwo Tejo feat Lian Panggabean (Official Music Video) https://youtu.be/RIGn_hxHSWE belum genap enam bulan saya release di halaman Candi Simping Blitar, candi perabuan Raden Wijaya Pendiri Majapahit, sudah mencapai di atas sejuta views pada saat kata pengantar ini saya tulis di penghujung Agustus 2018. Jangan dibandingkan dengan musik pop yang dalam tiga hari bisa mencapai jutaan views. Tapi bila dibandingkan dengan musik-musik non pop, lebih dari sejuta views dalam rentang tak sampai enam bulan itu luar biasa.

Bahkan sebelum klip tersebut saya release, saya pun kaget saat menemani maiyahan Cak Nun di Tuban. Entah berapa puluh ribu orang ketika itu. Alun-alun Tuban dekat makam Sunan Bonang kayak lautan manusia. Ketika didaulat nyanyi oleh Cak Nun, saya spontan membawakan Sugih Tanpo Bondo dengan spontanitas musik Kyai Kanjeng pula. Saya pikir paling hanya puluhan atau ratusan #Jancukers di depan panggung yang akan turut nyanyi. Ternyata hampir separo alun-alun sudah tahu lagu tersebut, sudah hafal dan turut menyanyikannya.

Hanya adanya frekuensi yang sama, yang bisa membuatnya demikian. Itulah frekuensi dalam lirik lagu Sugih Tanpo Bondo yang ditulis oleh Sosrokartono, dan frekuensi yang masih tersembunyi di balik halaman-halamana tertutup buku berjalan yang bernama manusia. Saya hanya menjembatani pertemuan kedua frekuensi itu melalui melodi dan musik. Dan buku karya Aguk Irawan MN ini akan membuat mereka ngeh, “Kenapa kami menyukai lirik lagu Sugih Tanpo Bondo.”

Maka saya ucapkan selamat atas terbitnya buku ini. Sambil saya ucapkan terima kasih kepada Kang Mbok Dr Sri Teddy Rusdy yang atas diskusi kami dengan beliau tentang Ki Ageng Suryomentaram-lah saya jadi pertama kali mendengar nama RMP Sosrokartono alias si Mandor Klungsu dan juga Si Joko Pring. Terima kasih juga kepada juru kunci pesarean RMP Sosrokartono di Kudus yang memperkaya penjelasan buku tentang apa itu makna Mandor Klungsu (biji asam) dan Joko Pring. “Pring itu bambu. Bahasa ngoko. Bahasa halusnya Deling. RMP Sosrokartono itu tokoh yang selalu nganDEL (percaya Tuhan) dan eLING (mengingatNYa),” katanya.

Selamat membaca Sosro, selamat membaca tokoh yang sedari bocah sudah aneh-aneh ini, misalnya sudah bisa meramalkan bahwa ayahnya akan pindah dari Mayong ke Jepara, yang ayah-ibu serta keluarga bilang bahwa itu mustahil tetapi beberapa tahun kemudian Ario Sosroningrat ayahnya memang harus pindah ke Jepara, menjadi bupati.

Padepokan StArt Bandung, Agustus 2018

Sunday, July 1, 2018

MAKAN ENAK DIHISAB DI AKHIRAT?

MAKAN ENAK DIHISAB DI AKHIRAT?

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

***

Suatu malam -demikian tersebut dalam Shahih Muslim- Rasulullah ﷺ keluar rumah karena kelaparan. Di jalan, secara tidak sengaja beliau bertemu dengan Abu Bakar dan Umar. Ketika Rasulullah ﷺ bertanya alasan mereka keluar, ternyata rasa laparlah yang menyebabkannya.

Akhirnya Rasulullah ﷺ dan kedua Shahabatnya berjalan bersama-sama menuju rumah salah satu shahabat Anshor. Sesampai di sana, yang menemui adalah istri shahabat Anshor tersebut karena suaminya masih mencari air.

Tak lama kemudian, datanglah shahabat Anshor itu. Gembira sekali ia dengan kedatangan ketiga tamu agung itu. Segera saja ia mengambilkan setandan kurma untuk dihidangkan kepada Rasulullah ﷺ dan kedua shahabatnya. Upayanya dalam memuliakan Rasulullah ﷺ dan kedua shahabatnya tidak berhenti di sini. Setelah menghidangkan tandan kurma, segera saja ia mengambil pisau, menyembelih kambing, memasaknya dan menyajikannya untuk disantap tamu-tamunya.

Ketiga hamba Allah mulia tersebut pun menikmati hidangan istimewa itu dengan penuh nikmat sampai kenyang. Setelah selesai maka Rasulullah ﷺ bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ الْجُوعُ ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Kalian pasti akan ditanya oleh Allah tentang nikmat ini pada hari kiamat! Rasa lapar telah membuat kalian keluar rumah, kemudian sebelum pulang kalian telah mendapatkan nikmat ini” (H.R. Muslim)

Sabda Rasulullah ﷺ ini sesungguhnya adalah menegaskan ayat dalam Al-Qur’an yang berbunyi,

{ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ} [التكاثر: 8]

“Kemudian, sungguh kalian pasti akan ditanyai tentang nikmat (yang diberikan Allah) pada hari itu -hari kiamat- (Q.S. At-Takatsur: 8 )

Mari kita renungkan.

Jika nikmat makan sampai kenyang saja nanti akan ditanyakan oleh Allah, bagaimana dengan nikmat makan yang lebih dari itu?

Bagaimana dengan para hamba yang dalam makan tujuannya bukan sekedar memadamkan rasa lapar tetapi juga pilih-pilih makanan enak, bahkan sengaja hanya mau makan di tempat-tempat tertentu demi mengejar prestise?

Sungguh. Semua nikmat pasti akan dihisab oleh Allah kecuali tiga saja,

Pertama: Sepotong makanan untuk sekedar memadamkan rasa lapar

Kedua: Secarik pakaian untuk sekedar menutup aurot

Ketiga: Kediaman untuk sekedar berlindung dari panas dan dingin.

Ahmad meriwayatkan,

فَأَخَذَ عُمَرُ الْعِذْقَ فَضَرَبَ بِهِ الْأَرْضَ حَتَّى تَنَاثَرَ الْبُسْرُ قِبَلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَئِنَّا لَمَسْئُولُونَ عَنْ هَذَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ نَعَمْ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ خِرْقَةٍ كَفَّ بِهَا الرَّجُلُ عَوْرَتَهُ أَوْ كِسْرَةٍ سَدَّ بِهَا جَوْعَتَهُ أَوْ حَجَرٍ يَتَدَخَّلُ فِيهِ مِنْ الْحَرِّ وَالْقُرِّ

“…Umar mengambil setangkai kurma kemudian memukulkannya di atas tanah hingga kurma-kurma mudanya berguguran di dekat Rasulullah ﷺ. Lalu dia bertanya, ‘Wahai Rasulullah ﷺ, apakah kita nanti akan ditanya tentang ini pada hari kiamat?’ Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Ya, kecuali tiga hal. Kain perca yang digunakan seseorang untuk menutup auratnya, sepotong makanan untuk menghilangkan rasa laparnya, dan kediaman yang ia masuki untuk berlindung dari panas dan dingin…” (H.R. Ahmad)

Dengan adanya ajaran seperti ini, tidak heran jika shahabat seperti Salman Al-Farisi menolak jika diajak makan yang membuatnya sampai kenyang terus-terusan karena beliau pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengatakan bahwa orang yang paling lama kenyangnya di dunia adalah orang yang paling lama laparnya di akhirat!

Kalau begitu, apakah dilarang makan enak, punya pakaian bagus, punya rumah bagus, punya kendaraan nyaman, gadget canggih dan semua kenikmatan duniawi lain selain tiga hal tadi?

Tidak juga.

Hanya saja harus diakui, orang yang mendapatkan nikmat berlebih, pasti hisabnya lebih berat daripada orang yang nikmatnya minimalis.

Yang dituntut Allah kepada seorang hamba saat mendaptkan nikmat adalah bersyukur kepada-Nya. Minimal, jika dia makan sampai kenyang atau makan enak dia mengawali dengan menyebut nama Allah dan mengakhiri dengan memuji-Nya, maka itu sudah cukup dikatakan bersyukur.

Syukur yang paling ideal adalah memaksimalkan penggunaan nikmat itu untuk menyenangkan Allah dan membuatnya menjadi ridha. Setelah makan, energi yang tercipta kemudian diniatkan untuk melakukan ketaatan habis-habisan. Entah itu salat, haji, jihad, membaca Al-Qur’an, berdakwah, membantu meringankan pekerjaan orang dan semua amal salih yang disenangi Allah. Dengan cara itulah kita bisa berharap selamat dari hisab atas nikmat-nikmat yang diberikan Allah.

اللهم اجعلنا من الزاهدين
فإنه لا عيش إلا عيش الآخرة

Versi Situs: http://irtaqi.net/2018/07/01/makan-enak-dihisab-di-akhirat/

***
19 Syawwal 1439 H