Showing posts with label shohabat. Show all posts
Showing posts with label shohabat. Show all posts

Monday, June 26, 2023

Nama2 sayyidah fatimah dan maknanya

Nama2 sayyidah fatimah dan maknanya

1. Fâtimah, 
2. As-Siddîqah,
3. Al-Mubârakah,
4.. Ath-Thâhirah,
5. Az-Zâkiyah,
6. Ar-Râdhiyah,
7. Al-Mardhiyah,
8. Al-Muhaddatsah dan
9. Az-Zahrâ’.
10.Al-BATUL

1. ​Fâthimah  (yang melindungi)

لِأَنَّ اللهَ فَطَمَهَا وَ فَطَمَ مَنْ أَحَبَّهَا مِنَ النَّارِ

“Karena Allah menjauhkannya dan menjauhkan orang yang mencintainya dari Api Neraka.”

2. ​As-Siddîqah

As-Siddîqah berarti yang
kebenarannya sempurna.

Fathimah disebut As-Siddîqah
karena ia membenarkan ayat-ayat Tuhannya,

kenabian ayahnya,
keutamaan suaminya dan
pengangkatan suaminya
sebagai penerus Nabi,
demikian pula anak-anaknya.

Fathimah benar perbuatannya,
selalu berbuat baik, dan memiliki ibadah
yang istimewa serta keyakinan yg dalam
dan tidak lagi disentuh oleh keraguan,

melainkan telah diperkuat,
berdasarkan firman Allah:
Quran 57:19
------------------
وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ أُولَٰئِكَ هُمُ الصِّدِّيقُونَ ۖ
وَالشُّهَدَاءُ عِندَ رَبِّهِمْ لَهُمْ أَجْرُهُمْ وَنُورُهُمْ ۖ
وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Dan orang-orang yg beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang Shiddiqien dan orang-orang yang menjadi
saksi di sisi Tuhan mereka. Bagi mereka pahala dan cahaya mereka. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka. (Q.S. Al-Hadid: 19).

Ada juga pendapat yang mengatakan
bahwa As-Siddîqah berarti orang yg dijaga.

3. ​Al-Mubârakah

لِظُهُوْرِ بَرَكَاتِهَا

“Karena pancaran berkah darinya.”

Allamah Majlisi, pengarang
kitab Al-Bihar, berkata; ‘

Al-Mubârakah adalah wanita yg diberkati
dalam hal keilmuan, keutamaan dan berbagai
kesempurnaan, serta berbagai mukjizat,
demikian pula dgn keturunannya yg mulia.

Kitab Tâj al-’Arus mengartikan
al-barakah dengan pertumbuhan,
kebahagiaan dan kelebihan.

Al-Raghib berkata,
“Karena berita-berita dari Tuhan
muncul melalui cara yg tak dapat ditahan,
dan dalam bentuk yang tak terhitung,

maka dikatakanlah segala sesuatu yang
dapat dilihat sebagai suatu kelebihan indrawi adalah diberkati, dan ada berkat di dalamnya.

Allah swt telah memberkati Sayyidah Fathimah dan keturunannya. Allah menciptakan keturunan Rasul Allah dan menciptakan
banyak kebaikan pada keturunannya.

4. ​Ath-Thâhirah

Nama ini diberikan sesuai ayat:

Quran 33:33
------------------

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ
أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Sesungguhnya Allah hanya ingin menghilangkan kotoran dari kalian
hai Ahlul Bait dan menyucikan kalian sesuci-sucinya. (Q.S. Al-Ahzab: 33)

5.​Az-Zakiyah

Sayyidah Fathimah Az-Zahra
dinamai Az-Zakiyah karena beliau
telah menyucikan dirinya melalui akhlak mulia

dan menjauhkan semua
bentuk kejahatan keburukan,
baik itu emosi, dengki, ego, malas,
dan perangai-perangai hina lainnya. 

Beliau adalah penghulu
yang suci dan disucikan.

Rasulullah menamainya juga
dengan Ummu Abîha (ibu bagi ayahnya).

Beliau telah menyempurnakan hidupnya di dalam rumah Imamah dan penjagaan.

6. ​Ar-Râdhiyah

Sayyidah Fathimah dinamai Ar-Rhâdiyah
krn beliau rela pd takdir dan ketentuan Allah.

Itulah derajat keimanan yang paling tinggi.

Fathimah menanggung berbagai petaka
dan derita, ketakutan, kefakiran, boikot,
dan berbagai kesusahan serta kesedihan
sejak awal sampai akhir kehidupannya,
padahal ia masih sangat belia.

Allah SWT. berfirman:

Quran 89:27
------------------
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

Hai jiwa yang tenang.

Quran 89:28
------------------
ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

Kembalilah kepada Tuhanmu
dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

Fathimah rela atas apa yg diberikan Allah
di dunia, baik berupa qadha dan takdir.

Karena kerelaan Fathimah,
Tuhan juga rela padanya.

7. ​Al-Mardhiyyah

Fathimah Az-Zahra a.s. dinamai
Al-Mardhiyyah krn telah diridhai Allah atas keteguhan dan ketaatannya yg sangat tinggi.

8. ​Al-Muhaddatsah

Al-Muhaddatsah berarti orang
yang berbicara dengan para malaikat.

Syekh Shaduq di dpm kitab
‘Ilal Al-Syara’i, dari Zaid bin Ali berkata;

‘Saya mendengar
Abu Abdillah As-Shadiq berkata:

“Fathimah diberi nama Muhaddatsah
karena malaikat dari langit turun dan memanggilnya seperti Maryam putri Imran:

Wahai Fathimah,
sungguh Allah telah memilihmu dan menyucikanmu serta memilihmu
di atas seluruh wanita di sekalian alam”.

9. Az-Zahra

لِأَنَّهَا كَانَتْ إِذَا قَامَ فِي مِحْرَابِهَا زَهَرَ نُوْرُهَا
لِأَهْلِ السَّمَاءِ كَمَا يَزْهَرُ نُوْرُ الْكَوَاكِب لِأَهْلِ الْأَرْضِ

“Karena ketika fatimah berdiri (solat)
di mihrabnya, cahayanya memancar
bagi penghuni langit seperti memancarnya cahaya bintang pada penduduk bumi.”

dalam Kitab Al-Bihar, jilid 10 dari
Amali Assaduq dari Ibnu Abbas bahwa

Rasulullah saw bersabda:
“Adapun putriku Fathimah,
maka ia penghulu wanita di seluruh alam
sejak pertama sampai akhir.

Dialah segumpal daging dariku,
dialah cahaya mataku,

dialah buah hatiku,

dialah ruhku yang ada di kedua sampingku,

dialah bidadari wanita

di saat berdiri di dalam
mihrabnya di depan Tuhannya,

cahayanya gemerlap menyinari (zahara)
para malaikat langit seperti cahaya
bintang menyinari penghuni bumi”.

Hadits ini menjelaskan makna dan sebab digelarinya Fathimah dengan Az-Zahra.

Fathimah juga dianugerahi
wajah yang bersinar berkilau.

Dan masih banyak lagi hadits
yang menjelaskan hal ini.

10.Al-Batul

Nabi saw ditanya:
Apa makna Al-Batul ?

Beliau menjawab:
“Al-Batul adalah yang
tak pernah merah sedikitpun”

Sungguh Allah tidak suka jika Fathimah dicemari oleh darah haid atau darah nifas,

karena itulah Fathimah, 
penghulu wanita yg tercipta dr buah surga,
dan telah disucikan sesuci-sucinya.

Wednesday, June 7, 2023

Sayyidah Zainab dengan Abul Ash

Berikut adalah kisah cinta Putri Sulung Rosululloh Sayyidah Zainab dengan Abul Ash putra Sayyidah Halah adik Sayyidah Khodijah istri Rosululloh.

Kanthongumur terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Mungkin ada yang kurang pas. Nanti bisa dikoreksi. Saya membaca kisah ini, dan menitikkan air mata saat membaca kisah Rosululloh melihat kalung Khodijah yang dijadikan sebagai tebusan.

Dari sini linknya:

https://youtu.be/TBxoLqqq9wE

Abul Ash bin Al-Robi datang kepada Nabi Muhammad sebelum masa kenabian. Abul Ash berkata: "Aku ingin melamar Zainab putri-mu yang paling dewasa".

(Ini adalah bentuk adab)

Nabi Muhammad bersabda: "Aku tidak akan menerima lamaranmu, sebelum aku meminta kesediaannya".

(Ini adalah tanggung jawab wali)

Nabi Muhammad kemudian menemui Zainab dan bersabda: "Putra bibimu (sepupumu) datang kepadaku, ia menyebut namamu. Apakah kamu bersedia untuk dijadikan sebagai istrinya?".

Zainab pun memerah wajahnya dan tersenyum, tanda bahwa ia menerima.

(Inilah bentuk rasa malu)

Nabi Muhammad pun kemudian menikahkan Zainab dengan Abul Ash. Dan dimulailah kisah cinta keduanya, sehingga keduanya diberikan putra bernama Ali dan putri bernama Umamah.

Setelah beberapa waktu, terjadilah suatu permasalahan keluarga. Nabi Muhammad diangkat sebagai Nabi. Sedangkan saat itu, Abul Ash sedang dalam bepergian. Dan ketika pulang, ia mendapatkan istrinya telah beriman.

(Permasalahan tentang aqidah)

Zainab berkata kepada Abul Ash: "Saya memiliki kabar besar untukmu".

Abul Ash kemudian berdiri meninggalkan Zainab. Zainab terkejut dan mengikuti Abul Ash.

Zainab berkata: "Ayahku telah diutus menjadi Rosul dan aku beriman kepadanya".

Abul Ash berkata: "Mengapa engkau tidak mengabariku terlebih dahulu?".

Zainab berkata: "Tidak mungkin aku mendustakan ayahku, dan ayahku bukanlah pendusta. Ayahku orang jujur dan dipercaya".

"Bukan hanya aku sendiri yang beriman. Ibuku (Khodijah), saudara-saudaraku, putra pamanmu Ali bin Abi Tholib, putra bibimu Utsman bin Affan dan temanmu Abu Bakar pun telah beriman". Lanjut Zainab.

Abul Ash berkata: "Sungguh aku tidak mau bila orang-orang berkata bahwa aku mengkhianati kaumku, mengkufuri nenek moyangku karena mencari kerelaan istriku. Sungguh ayahmu bukanlah orang yang patut dicurigai. Apakah kamu tidak mau menerima alasanku?".

Zainab berkata: "Bila aku tidak menerima alasanmu, siapa lagi orang yang mau menerima alasanmu?. Aku adalah istrimu. Aku akan berusaha menolongmu untuk jalan yang benar dengan semua kemampuanku".

(Saling memahami antara suami dan istri)

Dan ucapan Zainab ini dibuktikan dengan kesabaran selama dua puluh tahun.

Abul Ash masih terus dalam kekufurannya.

Dan saat menjelang hijrah ke Madinah, Zainab berkata kepada Nabi: "Wahai Rosululloh, apakah engkau mengizinkan diriku untuk tetap bersama suamiku di Makkah?".

(Bentuk cinta yang dalam seorang isteri kepada suami, tanpa menyakiti perasaan orang tua)

Rosululloh memberikan izin kepada Zainab untuk tinggal bersama sang suami di Makkah. Sampai pada saat kejadian perang badar, Abul Ash pun berperang di barisan orang-orang kafir Quraisy. Suaminya berperang melawan ayahnya.

Zainab berkata: "Ya ALLOH, saya khawatir kalau anakku menjadi yatim. Aku pun khawatir kehilangan ayahku".

(Kebimbangan dan kebingungan)

Setelah perang usai, Abul Ash menjadi tawanan perang. Dan kabar ini pun sampai ke rumah Zainab.

Zainab bertanya: "Apa yang terjadi terhadap ayahku?".

"Kemenangan diperoleh kaum muslimin".

Zainab lantas bersujud syukur kepada ALLOH atas kemenangan yang diperoleh ayahnya. Zainab lantas menanyakan kabar suaminya.

Dan setelah mengetahui kabar bahwa suaminya ditawan, Zainab berkata: "Aku akan mengirimkan tebusan untuk suamiku".

Zainab tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk dijadikan sebagai tebusan kecuali kalung yang dulu diberikan oleh Khodijah sang bunda kepada Zainab.

Akhirnya, Zainab mencopot kalungnya dan menitipkan kalung itu kepada saudara kandung Abul Ash untuk diberikan kepada Rosululloh sebagai tebusan suaminya.

Saat itu Rosululloh sedang duduk-duduk. Beliau sedang memeriksa tawanan dan tebusan perang. Dan saat melihat kalung Khodijah, beliau bertanya: "Ini tebusan untuk siapa?".

Para sahabat menjawab: "Tebusan untuk Abul Ash".

Rosululloh pun lantas menangis, kemudian bersabda: "Ini adalah kalung Khodijah".

Rosululloh bersabda: "Wahai sahabatku, orang ini (Abul Ash) tidaklah kami mencelanya selama ia sebagai menantuku. Apakah boleh saya melepaskan dirinya dari tawanan?".

(Inilah bentuk keadilan)

Rosululloh bersabda: Apakah kalian menerima jika kalung Khodijah ini dikembalikan kepada Zainab?".

(Tawadhu seorang pemimpin)

Para sahabat menjawab: "Ya boleh, wahai Rosululloh".

(Adab dari prajurit)

Rosululloh memberikan kalung itu kepada Abul Ash dan bersabda: "Katakanlah kepada Zainab: Janganlah kamu hilangkan kalung Khodijah ini".

(Kepercayaan mertua kepada menantunya walaupun sang menantu masih dalam keadaan kafir)

"Wahai Abul Ash, aku akan berkata rahasia kepadamu!". Rosululloh bersama Abul Ash kemudian berjalan menjauh dari sahabat.

"Wahai Abul Ash, sesungguhnya ALLOH memerintahkan kepadaku untuk memisahkan wanita muslimah dari lelaki kafir. Maukah dirimu mengembalikan Zainab kepadaku?".

Abul Ash berkata: "Baik".

(Benar-benar sebagai lelaki)

Setelah itu Abul Ash kembali ke Makkah. Di Makkah Zainab telah menunggunya di pintu kota Makkah.

Setelah melihat istrinya, Abul Ash berkata: "Aku akan pergi".

Zainab bertanya: "Pergi kemana?".

Abul Ash berkata: "Bukan aku yang akan pergi. Tetapi engkaulah yang akan pergi dan kembali kepada ayahmu".

(Bentuk penepatan janji)

Zainab bertanya: "Karena apa?".

Abul Ash menjawab: "Ayahmu memisahkan aku dengan dirimu. Pulanglah kepada ayahmu!".

Zainab bertanya: "Apakah engkau mau menemaniku dan masuk islam?"

Abul Ash menjawab: "Tidak".

Zainab kemudian pergi ke Madinah dengan membawa putra dan putrinya.

(Taat)

Setelah beberapa tahun berlalu, Abul Ash pergi berdagang ke Syam bersama kafilah. Saat melewati sekitar Madinah, rombongan dagang itu dihadang oleh para sahabat. Ia kemudian dibawa oleh para sahabat ke Madinah.

Sesampainya di Madinah, Abul Ash meminta izin kepada sahabat untuk menemui Zainab. Ia datang ke rumah Zainab saat menjelang fajar dan mengetuk pintu rumah Zainab.

(Keberanian dan kemantapan seorang laki-laki)

Setelah Zainab melihat Abul Ash, Zainab berkata: "Apakah engkau datang sebagai orang Islam?".

(Harapan seorang istri)

Abul Ash berkata: "Aku datang sebagai orang yang melarikan diri".

Zainab berkata: "Maukah engkau masuk islam?".

(Usaha sungguh-sungguh seorang wanita untuk kebaikan lelaki)

Abul Ash masih berkata: "Tidak".

Zainab berkata: "Janganlah takut, selamat datang sepupuku. Selamat datang ayah anak-anakku".

Sesaat setelah Rosululloh selesai sholat subuh, tiba-tiba dari pojok masjid terdengar suara berkata: "Aku melindungi Abul Ash".

Rosululloh bersabda kepada para sahabat: "Apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?".

Para sahabat menjawab: "Iya, wahai Rosululloh".

Zainab berkata kepada Rosululloh: "Wahai Rosululloh, Abul Ash walaupun jauh, ia adalah sepupuku, walaupun dekat, ia adalah ayah dari anak-anakku, dan ia berada dalam lindunganku".

Rosululloh diam sejenak, kemudian bersabda: "Abul Ash, tidaklah kami mencelanya saat ia sebagai menantuku. Ia telah berkata dan membuktikan kejujuran perkataannya. Ia telah berjanji kepadaku, dan menepati janjinya kepadaku".

"Bila kalian menerima permintaanku untuk mengembalikan hartanya kepadanya, dan membiarkannya pulang ke negaranya. Dan ini aku harapkan. Tetapi bila kalian tidak mau menerima permintaanku, aku tidak akan mencela kalian. Karena ini hak kalian". Dawuh Rosululloh.

Para sahabat menjawab: "Kami kembalikan hartanya kepadanya wahai Rosululloh".

(Ini gambaran musyawarah)

Rosululloh kemudian berjalan ke rumah Zainab bersabda: "Aku lindungi orang yang engkau lindungi wahai Zainab".

"Muliakan Abul Ash. Karena ia adalah sepupumu dan ayah dari anak-anakmu. Tetapi ia tidak boleh mendekatimu, karena ia tidak halal untukmu". Lanjut Rosululloh.

(Bentuk belas kasih tanpa melanggar syariat)

Zainab menjawab: "Baik Wahai Rosululloh".

(Taat)

Zainab berkata kepada Abul Ash: "Apakah perpisahan kita terasa berat untukmu?". "Apakah engkau mau masuk islam dan tinggal bersama di sini?".

(Cinta dan harapan)

Abul Ash menjawab: "Tidak".

Abul Ash kemudian mengambil harta dagangannya dan kembali ke Makkah.

Sesampainya di Makkah, Abul Ash berkata: "Wahai penduduk Makkah, ini adalah uang milik kalian. Masihkah ada sisa tanggungan yang dibebankan kepadaku?".

(Amanah)

"Semoga engkau dibalas dengan baik, dan engkau sudah memenuhi tanggunganmu dengan baik". Jawab penduduk Makkah.

Abul Ash kemudian berkata: Asyhadu An Laa Ilaaha Illallohu Wa-Asyhadu Anna Muhammadar Rosululloh".

Setelah itu, Abul Ash datang ke Madinah. Abul Ash sampai di Madinah menjelang pagi hari, kemudian menghadap kepada Rosululloh dan berkata: "Wahai Rosululloh, kemarin engkau melindungi diriku, dan sekarang aku datang dengan mengucapkan: "Asyhadu An Laa Ilaaha Illallohu Wa-Asyhadu Anna Muhammadar Rosululloh".

Abul Ash berkata: "Wahai Rosululloh, bolehkah saya kembali lagi kepada Zainab?".

(Cinta yang dalam)

Rosululloh kemudian membawa Abul Ash ke rumah Zainab. Setelah mengetuk pintu, Rosululloh bersabda: "Wahai Zainab, sepupumu datang kepadaku dan meminta izin kepadaku untuk kembali kepadamu, apakah engkau menerimanya?".

Zainab tersipu malu dan tersenyum menerima kembali Abul Ash sebagai suaminya.

Setelah kejadian ini, setahun kemudian Zainab meninggal dunia. Abul Ash menangis sedih karena ditinggal wafat Zainab. Rosululloh pun membelai Abul Ash dan menenangkannya.

Abul Ash berkata: "Wahai Rosululloh, sekarang aku tidak mampu bertahan hidup tanpa didampingi oleh Zainab".

Dan Abul Ash pun wafat menyusul istrinya setahun kemudian.

Mbah Maimoen sering menyebutkan:

نعم الرجل أبو العاص تزوج بنتي ولم يحب غيرها

Ya ALLOH....

Friday, August 7, 2020

KEHEBATAN ILMU TAFSIR IBNU ABBAS


Posted By: Adminon: August 05, 2020In: TafsirNo Comments

Oleh : Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

Ilmu tafsir Ibnu ‘Abbās itu menakjubkan. Jika beliau menafsirkan Al-Qur’an, seakan-akan beliau menyibak tirai gaib lalu menggambarkan alam gaib itu dengan cara yang indah seaakan-akan kita melihatnya sendiri dengan mata kepala. Kemampuan menjelaskan isi Al-Qur’an layaknya seorang nabi seperti ini memang anugerah besar untuk beliau. Rasa-rasanya keilmuan terhadap Al-Qur’an sedalam Ibnu ‘Abbās tidak akan pernah berulang muncul di tengah-tengah umat Islam setelah masa Nabi  dan masa Sahabat sampai hari kiamat. Hal itu dikarenakan Ibnu ‘Abbās mendapatkan kesempatan anugerah ilahiyyah istimewa yang tidak mungkin ditiru oleh siapapun kecuali memang semata-mata dikehendaki oleh Allah.

Keistimewaan Ibnu ‘Abbās yang membedakannya dengan semua ahli tafsir di masa Sahabat maupun masa sesudahnya adalah doa Rasulullah . Secara khusus Rasulullah  memang mendoakan Ibnu ‘Abbās sejak kecil agar menjadi hamba Allah yang fakih, ahli dalam ilmu agama, dan menguasai ilmu tafsir. Doa seperti ini, siapakah yang bisa meniru untuk mendapatkannya? Ahmad meriwayatkan doa Rasulullah  untuk Ibnu ‘Abbās sebagai berikut,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَضَعَ يَدَهُ عَلَى كَتِفِي – أَوْ عَلَى مَنْكِبِي، شَكَّ سَعِيدٌ – ثُمَّ قَالَ: ” اللهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ (مسند أحمد ط الرسالة (4/ 225)

Artinya,
“Dari Ibnu Abbas: bahwa Rasulullah ﷺ meletakkan tangannya di atas bahuku atau di atas pundaku, -Sa’id merasa ragu, – kemudian beliau berdoa: “ALLAHUMMA FAQQIHHU FI AD DIN WA ‘ALLIMHU AT TA`WIL (Ya Allah fahamkanlah ia terhadap agama dan ajarilah ia ta`wil (H.R.Ahmad)

Tentu saja doa Rasulullah  tidak seperti doa-doa kita. 100 kali kita berdoa bersungguh-sungguh dan menghiba-hiba belum tentu Allah berkenan mendengar apalagi mengabulkan. Adapun Rasulullah , berdoa satu kali saja sudah cukup mustajab dan akan langsung dikabulkan oleh Allah. Wajar jika Ibnu ‘Abbas kemudian tumbuh menjadi pemuda yang sangat mencintai ilmu, memiliki daya tahan tinggi untuk memburu ilmu dari berbagai sumber, dan menyerap sangat baik semua ilmu yang beliau dapatkan dari Rasulullah , Sahabat, maupun ahli kitab yang tidak bertentangan dengan Islam. Akhirnya Ibnu ‘Abbas dikenal para Sahabat sebagai seorang penafsir Al-Qur’an terbaik yang pernah dimiliki umat Islam. Ibnu Mas‘ūd bersaksi ketinggian kualitas ilmu tafsir Ibnu ‘Abbās sebagai berikut,

نَعَمْ تُرْجُمَانُ الْقُرْآنِ ابْنُ عَبَّاسٍ» تفسير الطبري = جامع البيان ط هجر (1/ 84)

Artinya,
“Sebaik-baik penafsir Al-Qur’an adalah Ibnu Abbas” (Tafsīr Al-Ṭabarī, juz 1 hlm 84)

Pada saat Umar bin Al-Khaṭṭāb menjadi Khalifah, Ibnu ‘Abbās pernah diundang untuk hadir dalam semacam pertemuan yang dihadiri para sesepuh veteran perang Badar. Lalu Umar bertanya kepada hadirin tentang tafsir Surah Al-Naṣr. Sebagian dari mereka menjawab bahwa dalam Surah Al-Naṣr, Allah memerintahkan kita agar beristighfar dan bertasbih mensucikanNya. Ketika Umar bertanya kepada Ibnu ‘Abbās, ternyata jawabannya lain. Kata Ibnu ‘Abbās, ayat itu adalah isyarat ajal Rasulullah . Maksudnya, jika sudah datang pertolongan Allah dan terjadi Fathu Makkah, maka itu pertanda bahwa ajal Rasulullah  sudah dekat. Oleh karena itu perbanyaklah istighfar dan tasbih dalam rangka persiapan menyambut hari pertemuan dengan Allah itu. Umar setuju dengan tafsir itu.

Riwayat ini menunjukkan bahwa Ibnu ‘Abbās mampu melihat yang tidak bisa dilihat umumnya Sahabat dan mampu menafsirkan dengan tafsir yang tidak bisa diphami oleh umumnya Sahabat.

Lebih menakjubkan lagi adalah kejadian pidato Ibnu ‘Abbās di depan jamaah haji di zaman kekhilafahan Ali bin Abū Ṭālib.

Syaqīq bersaksi, waktu itu Ibnu ‘Abbās berpidato dengan sebuah pidato yang luar biasa dengan menafsirkan Al-Qur’an yang seandainya didengar oleh bangsa Turki, Romawi dan Al-Dailam niscaya mereka semua akan masuk Islam! Al-Ṭabarī meriwayatkan,

عن شقيق، قال: استعمل عليٌّ ابنَ عباسٍ على الحج، قال: فخطب الناسَ خطبة لو سمعها الترك والرُّوم لأسلموا، ثم قرأ عليهم سُورة النور، فجعل يفسرها. تفسير الطبري = جامع البيان ت شاكر (1/ 81)

Artinya,
“Dari Syaqīq, ia berkata, ‘Ali menugasi Ibnu ‘Abbās untuk mengurusi haji. Syaqīq berkata, ‘Ibnu Abbaspun berpidato di tengah orang-orang dengan sebuah pidato yang seandainya didengar oleh bangsa Turki dan Romawi pasti mereka akan masuk Islam. Kemudian Ibnu ‘Abbās membacakan kepada mereka Surah An-Nur dan mulai menafsirkannya (Tafsīr Al-Ṭabarī, juz 1 hlm 81)

Riwayat lain Al-Ṭabarī berbunyi,

عن أبي وائل شقيق بن سلمة، قال: قرأ ابنُ عباسٍ سورة البقرة، فجعل يُفسِّرها، فقال رجل: لو سمعتْ هذا الديلمُ لأسلمتْ (تفسير الطبري = جامع البيان ت شاكر (1/ 81)

Artinya,

“Dari Abū Wā’il Syaqīq bin Salamah, beliau berkata, ‘Ibnu ‘Abbās membacakan Surah Albaqarah dan mulai menafsirkannya. Seorang lelaki berkata, ‘Seandainya suku Al-Dailam mendengar ini mereka pasti akan masuk Islam” (Tafsīr Al-Ṭabarī, juz 1 hlm 81)

Hanya saja, tafsir Ibnu ‘Abbās banyak dipalsukan. Ada dua Sahabat yang banyak dipalsukan tafsirnya yakni Ali bin Abū Ṭālib dan Ibnu ‘Abbās. Mungkin karena keduanya sangat rapat dengan Nabi ﷺ dan termasuk ahlul bait, maka pemalsuan atas nama mereka lebih banyak daripada Sahabat yang lain karena peluang dipercaya banyak orang lebih besar daripada yang lain. Oleh karena itu kita harus berhati-hati saat menerima tafsir yang dinisbahkan kepada Ibnu ‘Abbās. Ada sanad yang kuat, ada yang masih perlu diteliti dan ada sanad yang lemah. Ibnu Ḥajar Al- ‘Asqalānī menjelaskan kualitas jalur-jalur tersebut secara panjang lebar dalam mukadimah kitab Al-‘Ujāb fī Bayāni Al-Asbāb.

Jalur-jalur riwayat dari Ibnu ‘Abbās yang bisa dipercaya adalah,

• Dari Mu‘āwiyah bin Ṣāliḥ dari ‘Alī bin Abū Ṭalḥah dari Ibnu ‘Abbās (ini jalur terbaik)
• Dari Ibnu Abī Najīḥ dari Mujāhid bin Jabr dari Ibnu ‘Abbās
• Dari Qais bin Muslim Al-Kūfī dari ‘Aṭā’ bin Al-Sā’ib dari Sa‘īd bin Jubair dari Ibnu ‘Abbās
• Dari Muhammad bin Isḥāq ṣāḥibussiyar dari Muhammad bin Abu Muhammad Maulā āli Zaid bin Ṡābit dari ‘Ikrimah atau Sa‘īd bin Jubair dari Ibnu ‘Abbās
• Dari Ibnu Juraij dari ‘Aṭā’ bin Abū Rabāḥ dari Ibnu ‘Abbās (tapi hanya terkait Surah Al-Baqarah dan Ālu ‘Imrān)
• Dari Ismā‘īl bin Abdurrahman Al-Suddī Al-Kabīr dari Abu Mālik atau Abū Ṣāliḥ dari Ibnu ‘Abbās (Al-Suddī adalah Tābi‘īn Syi‘ah. Hanya saja Muslim memakainya. Ibnu Abū Ḥatim sama sekali tidak mau memakainya, tapi Ibnu Jarīr Al-Ṭabarī mau memakainya)

Jalur riwayat dari Ibnu ‘Abbās yang masih harus diteliti adalah,

• Dari Abdul Malik bin Juraij dari Ibnu ‘Abbās. Riwayat Al-Ḥajjāj bin Muhammad bisa dipegang. Riwayat Bakr bin Sahl Al-Dimyāṭī tidak bisa dipegang

Jalur-jalur riwayat lemah dari Ibnu ‘Abbās adalah,
• Dari Al-Ḍaḥḥāk bin Muzāḥim Al-Hilālī dari Ibnu ‘Abbās. Al-Ḍaḥḥāk sendiri ṡiqah. Hanya saja riwayatnya dari Ibnu ‘Abbās munqaṭi‘.
• Dari ‘Aṭiyyah Al-‘Aufī dari Ibnu ‘Abbās
• Dari Muqātil bin Sulaimān dari Ibnu ‘Abbās
• Dari Muhammad bin Al-Sā’ib Al-Kalbī dari Abū Ṣālih dari Ibnu ‘Abbās. Ini adalah jalur yang paling lemah

Dengan kondisi seperti ini wajar jika riwayat sahih dari tafsir Ibnu ‘Abbas itu jumlahnya tidak banyak, Murid Al-Syāfi‘ī yang bernama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Ḥakam meriwayatkan bahwa Al-Syāfi‘ī pernah mengatakan kalau tafsir sahih dari Ibnu ‘Abbās itu hanya sekitar 100 saja. Al-Syāfi‘ī berkata,

لم يثبت عن ابن عباس في التفسير إلا شبيه بمائة حديث. (مناقب الشافعي للبيهقي (2/ 23)

Artinya,
“Tidak valid tafsir dari Ibnu ‘Abbās kecuali sekitar 100-an” (Manāqib Al-Syāfi‘ī, juz 2 hlm 23)

Demikianlah kondisi riwayat tafsir dari Ibnu ‘Abbās. Informasi ini sangat berguna untuk menyaring riwayat-riwayat tafsir dari Ibnu ‘Abbās yang tercantum dalam kitab-kitab tafsir bil ma’ṡūr seperti tafsir Ibnu Kaṡīr, tafsir Al-Ṭabarī, Al-Durru Al-Manṡūr dan semisalnya.

Ada satu kitab khusus yang dikarang untuk mengumpulkan semua riwayat tafsir dari Ibnu ‘Abbās. Nama kitab tersebut adalah Tanwīru Al-Miqbās min Tafsīri Ibni ‘Abbās yang dihimpun oleh Abū Ṭahir Muhammad bin Ya‘qūb Al-Fairuza Ābādī, pengarang kamus terkenal bernama Al-Qāmūs Al-Muḥīṭ.

Hanya saja, kumpulan riwayat tafsir Ibnu ‘Abbas dalam Tanwīru Al-Miqbās itu mayoritas berasal dari jalur Al-Suddī dan Al-Kalbī. Telah kita ketahui, jalur Al-Kalbī adalah jalur yang paling lemah semnetara jalur Al-Suddī adalah jalur yang masih harus diteliti kembali karena kadang bisa kuat dan kadang bisa lemah. Oleh karena itu, mengambil riwayat dari kitab Tanwīru Al-Miqbās itu harus ekstra hati-hati, meskipun dari sisi nilai ilmiah kadang konten tafsirnya sungguh menarik.

رضي الله عن ابن عباس والصحابة أحمعين
اللهم اجعلنا من محبي أصحاب رسول الله واجمعنا معهم في الفردوس الأعلى

Thursday, March 21, 2019

ULAR DI DALAM GUA TSUR RINDU KEPADA NABI MUHAMMAD ï·º

ULAR DI DALAM GUA TSUR RINDU KEPADA NABI MUHAMMAD ﷺ

Sewaktu nabi Muhammad saw. dan abu bakar hendak hijrah ke Madinah, mereka berdua singgah di gua Tsur. Sebelum Nabi Muhammad SAW memasuki gua, Abu Bakar dengan sigapnya mengecek dan menutup lubang-lubang yang ada di gua agar terhindar dari binatang buas.

Di dalam gua, mereka sepakat untuk bergantian berjaga. Dalam tidurnya, Nabi Muhammad SAW melabuhkan kepalanya di pangkuan sang sahabat. Di dalam gua yang dingin dan remang-remang,tiba-tiba seekor ular mendesis keluar dari salah satu lubang yang belum ditutup oleh Abu Bakar.Abu Bakar r.a menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu dienyahkannya dari benak, tak ingin ia mengganggu tidur Rasulullah SAW. Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih Allah SWT itu.

Abu Bakar r.a menutup lubang itu dengan salah satu kakinya.lalu ular itu menggigit pergelangan kakinya, tapi kakinya tetap saja tak berg-erak sedikitpun Dalam hening, sekujur tubuh Abu Bakar r.a terasa panas, ketika bisa ular menjalar cepat di dalam darahnya. Abu Bakar r.a tak kuasa menahan isak tangis ketika rasa sakit itu tak tertahankan lagi. Tanpa sengaja, air matanya menetes mengenai pipi Rasulullah saw yang tengah berbaring.

Rasulullah saw terbangun dan berkata, “Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini?” “Tentu saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana pun,” jawab Abu Bakar r.a. “Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?” bertanya Rasulullah SAW dengan bersahaja. “Seekor ular, baru saja menggigit saya, wahai Rasulullah SAW, dan bisanya menjalar begitu cepat ke dalam tubuhku.

Lalu Nabi Muhammad SAW berbicara kepada sang ular itu ” Wahai ular Tahu nggak Kamu? Jangankan daging, atau kulit Abu Bakar, rambut Abu Bakar pun haram Kamu makan?”
Dialog Rasulullah dengan sang Ular itu didengar pula oleh Abu
Bakar as-Shidiq, berkat mukjizat Beliau.

“Ya hamba mengerti Ya Rasulullah, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah SWT mengatakan ‘Barang siapa memandang kekasih- Ku, Muhammad, fi ainil mahabbah atau dengan mata kecintaan. Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga firdaus,” kata sang ular.

“Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. “Aku (ular) ingin memandang wajah kekasih-Mu fi ainal mahabbah,” lan jut sang ular.

Apa kata Allah SWT Tuhan Semesta Alam?

“Silakan pergi ke gua Tsur, tunggu disana, kekasihKu akan datang pada waktunya,’ jawab Allah SWT

“Ribuan tahun aku menunggu disini. Aku digodok oleh kerinduan untuk jumpa Engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin ketemu Engkau, Wahai Nabi Muhammad SAW. “Jawab sang Ular dari gua Tsur.

“Lihatlah ini. Lihatlah wajahku,” kata Rasulullah SAW. Dan sang ular dari gua Tsurpun memandang wajah Nabi Muhammad SAW penuh dengan rasa cinta dan rindu.

Selanjutnya tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, Rasulullah meraih pergelangan kaki Abu Bakar r.a. Dengan menga- gungkan nama Allah SWT Sang pencipta semesta, Nabi Muhammad SAW mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha suci Allah SWT, seketika rasa sakit itu hilang tak berbekas.

(Sumber : Kisah Rasulullah)

#ular yang dianggap makhluk yang tidak berakal saja mampu menghadirkan rindu lantas bagaimana dengan kita yang berakal.? pastinya lebih dari pada itu

Sunday, July 1, 2018

MAKAN ENAK DIHISAB DI AKHIRAT?

MAKAN ENAK DIHISAB DI AKHIRAT?

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

***

Suatu malam -demikian tersebut dalam Shahih Muslim- Rasulullah ﷺ keluar rumah karena kelaparan. Di jalan, secara tidak sengaja beliau bertemu dengan Abu Bakar dan Umar. Ketika Rasulullah ﷺ bertanya alasan mereka keluar, ternyata rasa laparlah yang menyebabkannya.

Akhirnya Rasulullah ﷺ dan kedua Shahabatnya berjalan bersama-sama menuju rumah salah satu shahabat Anshor. Sesampai di sana, yang menemui adalah istri shahabat Anshor tersebut karena suaminya masih mencari air.

Tak lama kemudian, datanglah shahabat Anshor itu. Gembira sekali ia dengan kedatangan ketiga tamu agung itu. Segera saja ia mengambilkan setandan kurma untuk dihidangkan kepada Rasulullah ﷺ dan kedua shahabatnya. Upayanya dalam memuliakan Rasulullah ﷺ dan kedua shahabatnya tidak berhenti di sini. Setelah menghidangkan tandan kurma, segera saja ia mengambil pisau, menyembelih kambing, memasaknya dan menyajikannya untuk disantap tamu-tamunya.

Ketiga hamba Allah mulia tersebut pun menikmati hidangan istimewa itu dengan penuh nikmat sampai kenyang. Setelah selesai maka Rasulullah ﷺ bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ الْجُوعُ ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Kalian pasti akan ditanya oleh Allah tentang nikmat ini pada hari kiamat! Rasa lapar telah membuat kalian keluar rumah, kemudian sebelum pulang kalian telah mendapatkan nikmat ini” (H.R. Muslim)

Sabda Rasulullah ﷺ ini sesungguhnya adalah menegaskan ayat dalam Al-Qur’an yang berbunyi,

{ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ} [التكاثر: 8]

“Kemudian, sungguh kalian pasti akan ditanyai tentang nikmat (yang diberikan Allah) pada hari itu -hari kiamat- (Q.S. At-Takatsur: 8 )

Mari kita renungkan.

Jika nikmat makan sampai kenyang saja nanti akan ditanyakan oleh Allah, bagaimana dengan nikmat makan yang lebih dari itu?

Bagaimana dengan para hamba yang dalam makan tujuannya bukan sekedar memadamkan rasa lapar tetapi juga pilih-pilih makanan enak, bahkan sengaja hanya mau makan di tempat-tempat tertentu demi mengejar prestise?

Sungguh. Semua nikmat pasti akan dihisab oleh Allah kecuali tiga saja,

Pertama: Sepotong makanan untuk sekedar memadamkan rasa lapar

Kedua: Secarik pakaian untuk sekedar menutup aurot

Ketiga: Kediaman untuk sekedar berlindung dari panas dan dingin.

Ahmad meriwayatkan,

فَأَخَذَ عُمَرُ الْعِذْقَ فَضَرَبَ بِهِ الْأَرْضَ حَتَّى تَنَاثَرَ الْبُسْرُ قِبَلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَئِنَّا لَمَسْئُولُونَ عَنْ هَذَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ نَعَمْ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ خِرْقَةٍ كَفَّ بِهَا الرَّجُلُ عَوْرَتَهُ أَوْ كِسْرَةٍ سَدَّ بِهَا جَوْعَتَهُ أَوْ حَجَرٍ يَتَدَخَّلُ فِيهِ مِنْ الْحَرِّ وَالْقُرِّ

“…Umar mengambil setangkai kurma kemudian memukulkannya di atas tanah hingga kurma-kurma mudanya berguguran di dekat Rasulullah ﷺ. Lalu dia bertanya, ‘Wahai Rasulullah ﷺ, apakah kita nanti akan ditanya tentang ini pada hari kiamat?’ Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Ya, kecuali tiga hal. Kain perca yang digunakan seseorang untuk menutup auratnya, sepotong makanan untuk menghilangkan rasa laparnya, dan kediaman yang ia masuki untuk berlindung dari panas dan dingin…” (H.R. Ahmad)

Dengan adanya ajaran seperti ini, tidak heran jika shahabat seperti Salman Al-Farisi menolak jika diajak makan yang membuatnya sampai kenyang terus-terusan karena beliau pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengatakan bahwa orang yang paling lama kenyangnya di dunia adalah orang yang paling lama laparnya di akhirat!

Kalau begitu, apakah dilarang makan enak, punya pakaian bagus, punya rumah bagus, punya kendaraan nyaman, gadget canggih dan semua kenikmatan duniawi lain selain tiga hal tadi?

Tidak juga.

Hanya saja harus diakui, orang yang mendapatkan nikmat berlebih, pasti hisabnya lebih berat daripada orang yang nikmatnya minimalis.

Yang dituntut Allah kepada seorang hamba saat mendaptkan nikmat adalah bersyukur kepada-Nya. Minimal, jika dia makan sampai kenyang atau makan enak dia mengawali dengan menyebut nama Allah dan mengakhiri dengan memuji-Nya, maka itu sudah cukup dikatakan bersyukur.

Syukur yang paling ideal adalah memaksimalkan penggunaan nikmat itu untuk menyenangkan Allah dan membuatnya menjadi ridha. Setelah makan, energi yang tercipta kemudian diniatkan untuk melakukan ketaatan habis-habisan. Entah itu salat, haji, jihad, membaca Al-Qur’an, berdakwah, membantu meringankan pekerjaan orang dan semua amal salih yang disenangi Allah. Dengan cara itulah kita bisa berharap selamat dari hisab atas nikmat-nikmat yang diberikan Allah.

اللهم اجعلنا من الزاهدين
فإنه لا عيش إلا عيش الآخرة

Versi Situs: http://irtaqi.net/2018/07/01/makan-enak-dihisab-di-akhirat/

***
19 Syawwal 1439 H

Saturday, June 2, 2018

ISBAL atau Celana melebihi mata kaki.

ISBAL atau Celana melebihi mata kaki.

Intinya isbal itu haram ☞ Disebabkan beriringan dgn sifat *Khuyala', tanpa khuyala' itu tidak lah haram.
Apabila bersih dari hadast (khusus dalam pakaian penggunaan beribadah).

↓↓
Pada suatu ketika Ibnu Umar bertemu dengan seorang pemuda di masjid,  pemuda tersebut menyeret pakaiannya (isbal) sampai di lantai masjid. Lalu Ibnu Umar menggerutu, lihat apa yang dilakukan pemuda itu, andai saja aku kenal lebih dekat pasti aku akan menasehatinya.

Mendengar ini orang-orang berkata kepada Ibnu Umar: Ya, Abu Abdurrahman (panggilan Ibnu Umar) apakah engkau tidak mengenalnya, bukankah ia itu Muhammad bin Usamah bin Zaid bin Harits.

Perawi (Abdullah bin Dinar) mengatakan: Kemudian Ibnu Umar menggeleng-gelengkan kepalanya seraya memukul-mukul tangannya pada tanah. Lalu ia berkata; aduhai, andaikata Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasalam melihatnya pasti beliau mencintainya. [HR. Imam Bukhari]

Qultu: Imam Bukhari meletakkan atsar ini pada manakib Usamah bin Zaid. Disini perlu dibicarakan bahwa yang dimaksud poin pembahasan bukan permasalah isbal (yang dianggap mutlak haramnya oleh kaum Wahabiyah). Meskipun, dibenarkan jika maksud Imam Bukhari memberikan kelonggaran pada masalah isbal.

Selain itu Imam Bukhari juga sengaja meletakkan kata Ibnu Umar sebagai ukuran alim-alimnya ilmu fikih di zamannya. Ini penting karena disini Ibnu Umar mengisaratkan apa yang disaksikan jika disaksikan Rasulullah "andai kata Rasulullah melihatnya pasti mencintainya".

Jika kalimat akhir "la ahabbahu" hibb ar-rasulillah disini asalnya cinta, sebagaimana sebutan Zaid bin Harits dan putranya Usamah bin Zaid. Maka kenapa dengan Zaid bin Harits? Perlu anda ketahui bahwa Zaid bin Harits namanya diabadikan didalam QS: 33 (al-Ahzab): 37. Beliau adalah putra angkat Rasulullah Shalallahu'alaihi wasalam. Yaitu, ketika Zaid putra angkat Rasulullah telah mentalak istrinya (Zaenab bintu Jakhsyin) kemudian Rasulullah mendapatkan wahyu supaya mempersunting Umm al-Mukminin Zaenab bintu Jakhsyin.

Kita kembali pada Muhammad bin Usamah/cucu Zaed bin Harits dan Ibnu Umar diatas. Disini para Ulama mengomentari perlunya dzuqiyah (kedalaman hati) dalam menyampaikan ilmu. Karena tanpa dzuqiyah ilmu tidak akan berkesesuaian pada maksud ilmu itu sendiri, bukan yang penting disampaikan. Jika tidak demikian, tentunya Ibnu Umar sudah menasehati Muhammad bin Usamah bin Zaid bin Harits.

Perlu anda ketahui juga bahwa Usamah putra Zaid atas pernikahan dengan Ummu Ayman/ ibu susuan Rasulullah. Selain kedekatan secara emosional Usamah dan begitu juga Zaid bin Harits adalah panglima perang yang tersohor membela kaum muslimin dibarisan Rasulullah dalam memerangi kebatilan kaum musyrikin Quraisy, demi menegakkan kalimat-kalimat Allah.

By: MyBrother Ulinuha Asnawi

Thursday, January 18, 2018

BAHAYA BERCEKCOK DENGAN ORANG SALIH

BAHAYA BERCEKCOK DENGAN ORANG SALIH

Suatu saat, ada seorang shahabat Nabi yang salih bernama Sa’id bin Zaid (سعيد بن زيد) yang ditengkari seorang wanita bernama Arwa binti Aus (أروى بنت أوس). Arwa menuduh Sa’id mengambil sebagian tanahnya secara curang. Arwa melaporkan Sa’id kepada penguasa waktu itu yang bernama Marwan bin Al-Hakam.

Tentu saja Sa’id membantah keras. Bagaimana mungkin Sa’id, seorang shahabat Nabi yang salih berani menzalimi orang lain dalam hal batas tanah sementara beliau pernah mendengar Rasulullah bersabda bahwa orang yang mencurangi batas tanah orang lain maka nanti tanah yang dicurinya itu akan dipikulkan padanya pada hari kiamat dengan dilipatkan sebanyak tujuh kali.

Mendengar fitnah dan tuduhan keji itu, maka Sa’id pun berdoa dengan suara yang bisa didengarkan Arwa dan Marwan, “Ya Allah jika wanita ini berdusta, butakanlah matanya, dan buatlah ia mati di tanahnya itu!”

Akhirnya betul kejadiannya demikian. Wanita itu di akhir hayatnya menjadi buta meraba-raba dinding. Dia mengakui bahwa itu adalah akibat doa Sa’id. Sampai suatu saat, ketika ia berjalan-jalan di tengah tanahnya, secara tidak sengaja dia terjatuh pada sumur yang ada di sana dan akhirnya menjadi kuburannya. Kisah ini disebutkan dalam sahih Al-Bukhari dan Muslim.

Kisah yang mirip juga pernah terjadi pada shahabat mulia yang dijamin masuk surga, yaitu Sa’ad bin Abi Waqqosh.

Sa’ad bin Abi Waqqosh pernah difitnah oleh orang Kufah yang bernama Abu Sa’dah Usamah bin Qotadah bahwa Sa’ad adalah pemimpin zalim dan tidak adil dalam membagi.

Demikian keji fitnah ini sampai Sa’ad berdoa, “Ya Allah jika hambamu ini (Abu Sa’dah) berdusta, tampil karena riya’ (ingin dipuji orang) dan karena sum’ah (ingin terkenal), maka panjangkan umurnya, buatlah lama kemiskinannya, dan timpakanlah berbagai fitnah kepadanya”. Akhirnya betul kejadian demikian. Abu Sa’dah berumur panjang, tua renta, miskin, dan berperilaku seperti orang sinting dengan menggoda gadis-gadis di jalan.

Berselisih dengan siapapun itu berbahaya, tetapi yang paling berbahaya justru berselisih dengan orang salih. Alasannya, berselisih dengan orang yang tidak salih urusannya hanya dengan manusia. Paling jauh efeknya hanya rugi dunia. Tetapi berselisih dengan orang salih, urusannya adalah langsung dengan Allah, karena Allah tidak akan terima kekasih-Nya disakiti. Berselisih dengan orang salih bisa jadi rugi dunia-akhirat. Jika orang salih sampai mendoakan keburukan akhirat kita karena saking keterlaluannya kita, bisa jadi benar-benar binasalah kita. Hancur dunia dan hancur pula akhirat.

Lihatlah Rasulullah. Kurang sabar apa beliau. Tetapi ketika gangguan Abu Jahal, ‘Utbah bin Robi’ah, Syaibah bin Robi’ah, Al-Walid bin ‘Utbah, Umayyah bin Kholaf dan Uqbah bin Abi Mu’aith sudah keterlaluan, maka beliau berdoa dengan doa keras secara khusus untuk mereka dengan menyebut nama mereka secara spesifik agar dibinasakan. Dan betul, orang-orang inipun disaksikan shahabat Nabi semuanya tewas dalam keadaan kafir di perang Badar.

Doa orang-orang salih yang pasti dikabulkan oleh Allah adalah bentuk karomah yang diberikan Allah kepada wali-wali-Nya, karena mereka adalah para kekasih Allah.

Hanya saja, yang harus hati-hati dalam menerima berita karomah yang terjadi sesudah masa kenabian adalah dalam hal pengaitan. Jangan mudah mengaitkan suatu kejadian dengan kejadian yang lain lalu distempel bahwa itu karomah. Harus ada bukti yang kuat untuk mengaitkannya. Tetapi juga jangan terlalu paranoid dalam menolak sehingga menafikan hal-hal yang sebenarnya sudah layak menjadi hujjah.

Harus hati-hati juga mengaitkan musibah yang menimpa seseorang yang ditafsirkan sebagai akibat berseteru dengan orang salih tertentu. Ketidakhati-hatian terhadap masalah ini bisa membahayakan orang yang diopinikan “wali”/”orang salih”, menyesatkan orang awam, dan menciptakan penokohan yang salah serta tidak pada tempatnya.

Termasuk hal yang harus ekstra hati-hati karena berbahaya bagi akhirat seorang hamba adalah ketika merasa memiliki karomah dan merasa menjadi wali. Ini adalah di antara seburuk-buruk ujub. Tidak ada orang salih yang merasa dirinya salih. Para wali itu justru merasa menjadi hamba yang sangat buruk di hadapan Rabbnya, tetapi Allah tahu bahwa dia adalah hamba yang salih sehingga dimuliakan oleh-Nya dengan karomah agar dikenal oleh hamba-Nya yang lain dan menjadi hujjah dalam sejumlah perkara dien. Hamba Allah yang benar-benar wali sekalipun, malah heran dan tidak merasa memiliki karomah, sebagaimana herannya Abu Bakar terhadap makanannya yang terus bertambah padahal terus diambili.

اللهم إنا نسألك حبك وحب من يحبك والعمل الذي يبلغنا حبك

Versi Situs: http://irtaqi.net/2018/01/18/bahaya-bercekcok-dengan-orang-salih/

****
Muafa
2 Jumada Al-Ula 1439 H

Monday, January 15, 2018

UMAR BIN ABDUL AZIZ DARI GARIS IBU

UMAR BIN ABDUL AZIZ DARI GARIS IBU

Umar bin Abdul Aziz yang disebut-sebut oleh ulama sebagai Khulafaurrosyidin kelima itu punya ibu, ibunya punya ibu, nah ibu ini punya kisah menarik dengan Amirul Mukminin Umar bin Khottob RA.

Suatu malam aku (Sayyidina Aslam) berpatroli menemani Umar bin Khottob di Madinah, ketika lelah beliau istirahat menyandar ke sebuah pagar di satu desa, kemudian terdengar suara seorang ibu yang tak berpunya berkata pada anaknya: “anakku, ayo buatlah susu dan campuri dengan air agar lebih menguntungkan”

“Wahai ibu, apa ibu tidak tau peraturan yang dibuat Amirul Mukminin hari ini?”

“Memangnya apa ketetapannya, anakku?” Tanya ibunya

Lalu anaknya menjawab: “Dia memberi pengumuman bahwa tidak diperbolehkan menjual susu yang sudah tercampur dengan air, sebab tak murni dan ada unsur merugikan yang lain”

“Anakku, sudahlah bikin saja susu campurkan air, toh Amirul Mukminin tidak melihatnya” kata sang ibu.

“Ibu, demi Allah aku tidak ingin mentaati Amir dalam keramaian lalu aku membangkangnya dalam sepi”

Umarpun terkejut mendengarnya, beliau langsung berkata “Aslam, ingat ingat tempat ini”. Dan keesokan harinya beliau menyuruh “Aslam, cari tau siapa yang berbicara tadi malam, bersama siapa, dan apakah dia punya suami.” Lalu akupun mendatangi tempat tersebut dan kutemui bahwa perempuan itu belum bersuami, ada ibunya dan tak ada seorang lelakipun disitu. Maka kukabari hal tersebut pada Amirul Mukminin, lalu beliau mengumpulkan putra-putranya: “adakah dari kalian yang menginginkan perempuan untuk kunikahkan?”

Sayyis Ashim, salah satu putranya berkata: “wahai ayahku, aku belum menikah maka nikahkanlah aku”

Kemudian beliau mengirimnya pada perempuan tersebut dan menikahkan mereka berdua, lahirlah seorang anak perempuan, dari anak ini kelak lahirlah Umar bin Abdul Aziz sang mujaddid pertama di dunia Islam, pemimpin terbaik sepanjang sejarah.

Memang bibit yang baik sangat ditentukan dari ibunya karena نساءكم حرث لكم, maka generasi mendatang adalah sangat bergantung pada calon-calon ibu yang benar tingkahnya. Kalau calon ibunya saja sudah keleleran masa mudanya, akan sulit nanti untuk mencetak generasi yang bermutu.

Monday, January 1, 2018

Malaikat Munkar dan Nakir bingung menghadapi Sayyidina Umar bin Khottob

Malaikat Munkar dan Nakir bingung menghadapi Sayyidina Umar bin Khottob

Dari Atho' bin Yasar, dari Nabi shollallohu alaihi wasallam beliau bersabda :
" ketika seseorang telah di letakkan di dalam kuburnya, maka malaikat munkar dan nakir mendatanginya.
keduanya adalah malaikat yg keras, kasar, hitam kebiruan warnanya seperti malam yg gelap gulita, suaranya seperti petir yg menggelegar, matanya seperti api yg menyala-nyala, gigi-giginya seperti tombak, rambutnya terseret di atas tanah dan di kedua tangannya terdapat alat pemukul/palu jikalau jin dan manusia semua berkumpul utk mengangkatnya maka tidak akan mampu.
kedua malaikat bertanya kepada ahli kubur tentang Rabbnya, tentang Nabinya, dan tentang agamanya.

Umar bin Khotob berkata :
"apakah keduanya mendatangiku sedangan aku orang yg teguh ?"
Nabi berkata : "benar."
Umar berkata : " maka aku akan mencukupkan kepadamu untuk keduanya wahai Rasululloh."
Nabi shollallohu alaihi wasallam berkata :
"demi dzat yg telah mengutusku dengan kebenaran sebagai Nabi, telah mengkhabarkan kepadaku Malaikat Jibril bahwa kedua malaikat mendatangimu kemudian engkau berkata :
' Allah adalah Rabbku, siapakah Rabb kalian berdua ?
Muhammad adalah Nabiku, siapakah Nabi kalian berdua ?
dan islam adalah agamaku, apa agama kalian berdua ?'

Malaikat Munkar dan Nakir berkata :
"sangat mengherankan sekali ! kami tidak tahu apakah kami yg di utus kepadamu ataukah engkau yg di utus kepada kami ?"

Wallohu a'lam.

~Al Matholibul 'Aliyah~

Saturday, December 23, 2017

DAKWAH LEMAH LEMBUT ABU BAKR AL-SHIDDIQ

DAKWAH LEMAH LEMBUT ABU BAKR AL-SHIDDIQ
Oleh: Ahmad Ishomuddin

Nama lengkapnya adalah 'Abdullah  bin Abi Quhafah ('Utsman) bin 'Amir bin 'Amr bin Ka'b bin Said bin Taim Ibn Murrah bin Ka'b. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah shalla Allahu 'alaihi wa sallama pada Murrah bin Ka'b, kakek beliau yang keenam.

Nama Abu Bakr pada masa jahiliyah adalah 'Abd al-Ka'bah, lalu namanya diganti oleh Rasulullah saw. dengan nama 'Abdullah. Adapun nama gelarnya  yang populer adalah al-'Athiq dan al-Shiddiq.

Abu Bakr ra.lahir pada tahun kedua atau ketiga dari Tahun Gajah, dua tahun enam bulan setelah kelahiran Nabi Muhammad saw. Hidup berkembang di Makkah dan berprofesi sebagai pedagang pakaian dan menjadi kaya karenanya. Ia juga seorang yang sangat ahli dibidang nasab yang tiada duanya pada masa itu, lebih-lebih nasab suku Quraisy.

Abu Bakr sejak muda berakhlak mulia, tidak pernah berdusta dan tidak terpengaruh oleh berita bohong, dermawan, mulia, banyak memberi, jauh dari berhala, tidak pernah mendekatinya, apalagi menyembahnya. Ia dikenal sangat anti terhadap minuman keras (khamr) sejak sebelum Islam. Saat ia ditanya, "apakah engkau pernah minum khamr?" Ia menjawab, "A'udzu Billy hidup  (aku berlindung diri kepada Allah)!" Lalu ia ditanya, "Mengapa?" Ia menjawab, "Aku selalu menjaga kehormatanku dan memelihara muruah-ku, maka sungguh orang yang meminum khamr  telah menyia-nyiakan kehormatannya dan muruah-nya".

Abu Bakr memiliki enam orang anak, yakni tiga laki-laki dan tiga perempuan, dari empat isteri:
1- Qatilah binti 'Abd al-Uzza melahirkan 'Abdullah dan Asma'.
2- Ummu Rumah Da'd binti 'Amir melahirkan 'Abd al-Rahman dan  'Aisyah.
3- Asma' binti 'Umais melahirkan Muhammad.
4- Habibah binti Kharijah bin Zaid al-Anshariyyah melahirkan Ummu Kultsum setelah beliau wafat.

Sejak sebelum Islam Abu Bakr telah bersahabat sangat dekat dengan Nabi Muhammad saw. dan masuk Islam sangat segera tanpa keraguan sedikitnya. Abu Bakr adalah orang laki-laki dewasa pertama yang masuk Islam dan beriman kepada Nabi Muhammad saw. Keislamannya sangat berarti bagi perkembangan Islam selanjutnya, karena ia adalah pemimpin suku Quraisy yang disegani, orang kaya, juru  dakwah kepada Islam, dicintai, lemah lembut  dan banyak memberikan sumbangan berupa harta demi menaati Allah dan Rasul-Nya.

Melalui Abu Bakr yang lemah lembut banyak kerabat dan sahabatnya yang menerima dakwahnya itu dan mereka pun masuk Islam. Tercatat 'Utsman bin 'Affan, al-Zubair bin 'Awwam, Thalhah bin 'Ubaidillah, Sa'd bin Abi Waqqash, 'Abdurrahman bin 'Auf, 'Utsman bin Madh'un, Abu 'Ubaidah Ibn al-Jarrah, Abu Salmah bin 'Abd al-Asad dan al-Arqam bin Abi al-Arqam, mereka semua masuk Islam karena dakwah (ajakan) dari Abu Bakr. Dan dengan sebab Islamnya mereka maka Bilal, Shuhaib, 'Ammar dan anaknya, Yasir, serta ibunya, Sumayyah juga memeluk Islam.

Sunday, December 17, 2017

Kisah Diberikanya Gelar al Faruq Kepada Umar

Kisah Diberikanya Gelar al Faruq Kepada Umar
=======================
Sebagian ahli tafsir berkata :
Seorang lai-laki yang bernama Bisyr dari golongan orang munafiq bertengkar dengan seorang laki-laki kaum yahudi.
Yahudi berkata : "Diantara aku dan dirimu terdapat Abul Qasim (Rasulullah)".

Munafiq menyahut : " Diantara aku dan dirimu terdapat Ka'b bin Asyrof".

Hal tersebut disebabkan karena Rasulullah selalu memutuskan terhadap keadilan dan tidak pernah menerima suap dan orang yahudi ini ingin mencari kebenaran. Sedangkan Ka'b adalah sangat suka dengan suap dan orang munafiq ini ingin mencari kebathilan. Namun yahudi tetap bersikeras akan haknya.

Keduanya pergi menghadap kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan beliau menghukumi hak diberikan kepada yahudi tidak kepada munafiq. ketika keduanya keluar dari hadapan Nabi munafiq berkata : "Aku tidak ridho, maka pergilah engkau denganku menemui Abu Bakar".

Kemudian keduanya menemui Abu Bakar dan Abu Bakar juga munghukumi hak kepada Yahudi bukan kepada munafiq, mendengar hal itu munafiq tidak rela, munafiq berkata : "Diantara kita terdapat Umar".

Dan keduanya pun menemui Umar, orang yahudi tersebut menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Abu Bakar telah memberikan keputuan bahwa hak menjadi milik orang yahudi, tetapi orang munafiq ini tidak rela dengan keputusanya.
Umar berkata kepada munafiq : "Apakah seperti itu?".

Ia menjawab : "iya".

Umar berkata : " Sabarlah, aku mempunyai keperluan, aku akan masuk rumahku dulu dan mnyelesaikanya kemudian aku akan keluar kepada kalian".

Umar masuk dan mengambil sebilah pedang, setelah itu ia keluar dan memukulkan pedang tersebut terhadap lehernya orang munafiq hingga ia mati.

Umar berkata : "Seperti inilah aku memutuskan kepada orang yang tidak ridho dengan keputusan Allah dan keputusan RasulNya".

Orang yahudi itu berlari dan mendatangi keluarga orang munafiq, dan mereka mengadukan perkara Umar kepada Rasulullah, Rasulullah bertanya kepada Umar tentang kisahnya.

Umar menjawab : "Sesunggunya ia menolak keputusanmu wahai utusan Allah".

Maka datanglah malaikat Jibril ketika itu juga dengan ayat ini (an Nisa' 60), dan berkata : "Sesungguhnya Umar adalah al Faruq yang memisahkan kebenaran dan kebatilan".

Kemudian Rasulullah meneruskan kepada Umar : "Kamu adalah al Faruq...!"

Monday, October 9, 2017

Kata kotor, tempat dan keadannnya

قال أبو بكر الصديق : اِمْصَصْ بَظْرَ اللَّاتَ. رواه البخاري
(Artinya :.......*sensor*..........)
=============
Etika yang luhur adalah prioritas utama yang menjadi landasan setiap muslim dalam berinteraksi sosial.

Kata kotor dan bullyan adalah hal yang kontras dengan makna kode etik di dalam kamus sosial.

Bahkan keduanya saling dikotomi jika dihadapkan dengan kemajemukan dan pluralnya tsaqafah (kebudayaan) yang berada di seluruh dunia ini.

Secara umum kata kotor (seperti judul diatas) mempunyai asumsi buruk jika sampai dilontarkan oleh orang yang berakal dan berperangai.

Ketika kita dihadapkan dengan perkataan Abu Bakar kepada Urwah bin Mas'ud (kafir) yang diriwayatkan oleh Bukhari dan perkataan tersebut tidak mendapatkan respon penolakan dan pencegahan dari Rasulullah, maka berarti perkataan tersebut dilegalkan oleh syari'at. Sebagaimana telah dikonsepkan dalam ushulul fiqh bahwa kejadian yang terjadi di zaman Rasulullah dan beliau tahu akan kejadian tersebut, tetapi tidak melarangnya berarti hal tersebut dilegalkan oleh syari'at. Dan hal tersebut disebut dengan "taqrirur rasul". Sebagaimana telah dipaparkan oleh as Syaukani di dalam kitab Irsyadul Fuhul hal 117 juz 1 :

اﻟﺘﻘﺮﻳﺮ
ﺻﻮﺭﺗﻪ ﺃﻥ ﻳﺴﻜﺖ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻦ ﺇﻧﻜﺎﺭ ﻗﻮﻝ ﻗﻴﻞ ﺑﻴﻦ ﻳﺪﻳﻪ ﺃﻭ ﻓﻲ ﻋﺼﺮﻩ ﻭﻋﻠﻢ ﺑﻪ ﺃﻭ ﻳﺴﻜﺖ ﻋﻦ ﺇﻧﻜﺎﺭ ﻓﻌﻞ ﻓﻌﻞ ﺑﻴﻦ ﻳﺪﻳﻪ ﺃﻭ ﻓﻲ ﻋﺼﺮﻩ ﻭﻋﻠﻢ ﺑﻪ، ﻓﺈﻥ ﺫﻟﻚ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ اﻟﺠﻮاﺯ

Tetapi yang menjadi persoalan, apakah kata-kata yang serupa dan masuk di dalam kategori badzaatul kalam (perkataan kotor), dilegalkan secara umum ataukah terdapat batasan khusus dalam sebuah keadaan..???

Mengacu terhadap keterangan dari Ibnu Hajar al Asqalani beliau berpendapat bahwa perkataan tersebut boleh diucapkan ketika berhadapan dengan orang yang memang berhak untuk dilontarkan dengan kata kotor. Beliau juga menambahkan bahwa kata itu adalah merupakan kata yang sudah biasa diucapkan oleh orang arab ketika mencaci maki. Hanya saja menggunakan kata :

اِمْصَصْ بَظْرَ أُمِكَ
"Hisaplah clitoris ibumu"

Ketika orang arab menyembah dan mengagungkan patung "latta" (perempuan), bahkan sampai mengkultuskan atas latta adalah putri Allah, maka Abu Bakar membalas perlakuan mereka dengan ucapan tersebut, sebagaimana telah dikemukakan oleh Ibnul Munir. Selain itu keadaan waktu itu di dalam kesempitan karena desakan orang Quraisy untuk melakukan perjanjian (Baiatur Ridwan) dan mengusir Rasulullah dari Makah.

Ibnu Qayyim al Jauzi juga memberikan kejelasan tentang perkataan ini, beliau melegalkan penyebutan aurat secara shorih, dengan syarat terdapat maslahah yang menuntut untuk melontarkan perkataan tersebut. perkataan tersebut hanya bisa digunakan dalam keadaan tertentu, berikut keterangan beliau berdua :

🌴 فتح الباري ابن حجر العسقلاني (5 / 340) :
[ و" البَظْر " : بفتح الموحدة ، وسكون المعجمة : قطعة تبقى بعد الختان في فرج المرأة .
و" اللات " : اسم أحد الأصنام التي كانت قريش وثقيف يعبدونها ، وكانت عادة العرب الشتم بذلك ، لكن بلفظ الأم ، فأراد أبو بكر المبالغة في سب عروة بإقامة من كان يعبد مقام أمه ، وحمَله على ذلك ما أغضبه به من نسبة المسلمين إلى الفرار .
وفيه : جواز النطق بما يستبشع من الألفاظ لإرادة زجر من بدا منه ما يستحق به ذلك ، وقال ابن المنيِّر : في قول أبي بكر تخسيس للعدو ، وتكذيبهم ، وتعريض بإلزامهم من قولهم " إن اللات بنت الله " تعالى الله عن ذلك علوّاً كبيراً ، بأنها لو كانت بنتاً : لكان لها ما يكون للإناث. ] اهـ.

🌴 زاد المعاد ابن القيم الجوزي (3 / 305) :
[ وفى قول الصِّدِّيق لعروة : " امصُصْ بَظْرَ اللاَّتِ " : دليلٌ على جواز التصريح باسم العَوْرة ، إذا كان فيه مصلحة تقتضيها تلك الحال ، كما أذن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أن يُصرَّح لمن ادَّعى دعوى الجاهلية بِهَنِ أبيه ، ويقال له : " اعضُضْ أيْرَ أبيك " ، ولا يُكْنَى له ، فلكل مقام مقال.] اهـ.

Friday, September 29, 2017

Keramat Abu Bakar

Keramat Abu Bakar

Ketika menjelang wafatnya abu bakar, beliau berwasiat kepada seluruh hadirin yang datang menjenguknya:

"Apabila aku mati dan kalian sudah selesai mempersiapkan janazahku untuk di kubur, bawalah aku ke sebuah rumah yang di dalamnya Nabi Muhammad dikuburkan, sehingga kalian berdiri di depan pintu rumah itu.

Kemudian ucapkanlah: Assalamu'alaika Ya Rosulallah.... ini Abu Bakar mohon izin.

Apabila beliau memberi izin kepada kalian dengan terbukanya pintu yang sedang terkunci dengan gembok, maka masukkanlah aku dan kuburkanlah diriku di dalamnya. Tetapi apabila pintu itu tidak terbuka, bawalah aku ke kuburan Al Baqi' dan kuburkan diriku di sana.

Ketika mereka berdiri di depan pintu dan membacakan pesan abu bakar, maka jatuhlah gemboknya dan pintu pun terbuka.

Dan ketika itu pula ada suara lantang yang menyerukan dari dalam kubur:

ادخلوا الحبيب إلى الحبيب فإن الحبيب إلى الحبيب مشتاق

"Masukkan dan pertemukanlah kekasih itu kepada kekasihnya, sesungguhnya kekasih itu sudah rindu terhadap kekasihnya".

رواه ابن عساكر في تاريخه، وذكره الرازي في تفسيره، والصفوري فى نزهة المجالس ، والحلبي في السيرة النبوية.

Wednesday, September 27, 2017

Menepati janji, percaya dan memaafkan

Suatu hari Sayyidina Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.

Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata: "Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!"

"Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !".

Umar segera bangkit dan berkata:
"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?"

Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata:
"Benar, wahai Amirul Mukminin."

"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.

Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :

"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, kuikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."

"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.

"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat", ujarnya.

"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu", lanjut Umar.

"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,

"Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".

Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah", ujarnya dengan tegas.

"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".

"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?", tanya Umar.

"Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin".
"Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?", pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.

"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.

"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang:
"Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin".

Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.

"Salman?" hardik Umar marah.
"Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".

"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.

Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.

”Itu dia!” teriak Umar.
“Dia datang menepati janjinya!”.

Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
“Tak kukira... urusan kaumku... menyita... banyak... waktu...”.

”Kupacu... tungganganku... tanpa henti, hingga... ia sekarat di gurun... Terpaksa... kutinggalkan... lalu aku berlari dari sana..”

”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,

“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.

”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan... di kalangan Muslimin... tak ada lagi ksatria... menepati janji...”*_ jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"

Kemudian Salman menjawab : Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.

”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.

“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.

Semua orang tersentak kaget.

“Kalian...” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.

Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.*_

”Allahu Akbar!” teriak hadirin.

Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.

Monday, September 25, 2017

YANG JARANG DIKETAHUI TENTANG TAHUN HIJRIYYAH

YANG JARANG DIKETAHUI TENTANG TAHUN HIJRIYYAH

JUMLAH BULAN DALAM SETAHUN
12 Bulan

JUMLAH BULAN HARAM
4 Bulan

SIAPA YANG MENETAPKANNYA?
Yang menetapkannya adalah Allah sejak menciptakan langit dan bumi. Dan merupakan ketetapan Agama yang kokoh yang terlarang untuk diubah. (QS al-Taubah ayat 36)

PERHITUNGANNYA
Perjalanan bulan, atau disebut kalender lunar (QS al-Baqarah: 185 dan 189)

NAMA-NAMANYA
1. Muharram
2. Shafar
3. Rabi'ul Awwal
4. Rabi'ts Tsani
5. Jumadal Ula
6. Jamada Tsaniyah
7. Rajab
8. Sya'ban
9. Ramadhan
10. Syawwal
11. Dzhul Qa'dah
12. Dzul Hijjah

YANG MANAKAH BULAN HARAM?
1. Muharram
2. Rajab
3. Dzul Qa'dah
4. Dzul Hijjah

SIAPA YANG MEMBUAT NAMA-NAMA ITU?
Kakek Rasulullah Saw yang kelima, yaitu Kilab bin Murroh setelah bermusyawarah dengan suku-suku Arab.

SIAPA YANG MENGURUTKANNYA DARI MUHARRAM?
Juga Kilab bin Murroh

PADA TAHUN BERAPA?
Tahun 412 M, atau sekitar 150 tahun sebelum Rasulullah Saw diutus.

DARI MANA PENGAMBILAN NAMA-NAMA ITU?
Ada yang diambil dari musim yang terjadi pada saat penamaan. Yaitu:
1. Rab'ul Awwal (Musim Semi Pertama)
2. Rabi'uts Tsani (Musim Semi Kedua)
3. Jumada Ula (Musim Dingin Pertama)
4. Jumada Tsaniah (Musim Dingin Kedua)
5. Ramadhan (Musim Panas)
6. Syawwal (Musim Panas Naik)

Ada yang diambil dari aturan seputar bulan haram dan kegiatan ibadah di dalamnya. Yaitu nama empat bulan haram:
1. Rajab (Agung, karena dilarang berperang)
2. Dzul Qa'dah (Diam, karena dilarang berperang)
3. Dzul Hijjah (Haji)
4. Muharram (Dimuliakan atau diharamkan berperang.

Ada yang diambil dari tradisi Arab setelah bulan Haram. Yaitu:
1. Shafar. Artinya kosong karena mereka mengosongkan rumah-rumah mereka untuk berperang setelah berakhir bulan haram (Muharram)
2. Sya'ban. Artinya bercabang, karena berpencar setelah berakhir untuk kembali berperang setelah berakhir bulan Haram (Rajab)

NAMA BULAN YANG DISEBUTKAN DALAM AL-QURAN
Hanya 1. Yaitu Ramadhan.

APAKAH KALENDER BULAN SESUAI DENGAN MUSIM?
Tidak. Melainkan akan terus bergulir melintasi musim-musim. Ramadhan misalnya, meskipun artinya musim panas, tapi adakalanya terjadi pada musim semi, musim dingin, atau musim panas.

MENGAPA ADA NAMA YANG BERARTI MUSIM?
Karena pada saat pembuatan namanya bertepatan dengan musim-musim itu.

NAMA-NAMA BULAN SEBELUM PERIODE KILAB BIN MURRAH

1. Mu'tamar (Muharram). Artinya bulan muktamar suku-suku Arab.
2. Najir (Shafar). Artinya bulan yang sangat panas.
3. Khuwan (Rabi'ul Awwal). Artinya bulan pengkhianat
4. Bushan / Shuwan (Rabi'uts Tsani). Artinya bulam penjaga.
5. Hanin (Jumada Ula). Artinya bulan rindu. Atau Khatm. Artinya tmpayan hijau.
6. Warnah atau Ziya (Jumada Tsaniyyah). Artinya nama wanita pembunuh yang dijadikan nama bulan).
7. Al-Ashamm (Rajab). Artinya tuli.
8. Wa'l atau 'adil (Sya'ban). Artinya beralih atau adil.
9. Natiq (Ramadhan). Artinya mati atau mencabut.
10. 'Adzil atau Waghil (Syawwal). Artinya pencela atau sekutu.
11. Huwa' (Dzul Qa'dah). Artinya bunglon betina.
12. Burak (Dzul Hijjah). Artinya menderum.

KEKACAUAN PENANGGALAN
Pernah terjadi kekacauan pada penanggalan, tapi bukan pada tanggalnya, melainkan pada bulannya akibat penundaan (interkalasi) Bulan Haram selama berabad abad. Misalnya, bulan haram yang harusnya Muharram maka dijatuhkan pada bulan Shafar, dan seterusnya. Hal ini dilakukan agar aturan-aturan seputar Bulan Haram disesuaikan dengan keinginan mereka. Termasuk menyesuaikan dengan musim yang diinginkan. Pada akhirnya seringkali pelaksanaan ibadah haji jatuh pada bulan yang bukan bulan haji. Demikian pula peperangan yang terlarang di Bulan Haram malah terjadi pada Bulan Haram. Pada pasa berikutnya tak diketahui lagi siklus yang benar bulan-bulan haram.

TOKOH YANG PERTAMA KALI MELAKUKAN PENUNDAAN
Sarir bin Tsa'labah yang disetujuai semua kabilah Arab.

TOKOH TERAKHIRNYA
Junadah bin Auf.

KAPAN DILURUSKAN?
Ayat Al-Quran turun melarang interkalasi dan Rasulullah Saw menjelaskan mana bulan haram yang sesuai siklus yang benar sejak pertama kali Allah menciptakan langit dan bumi. Ini terjadi pada masa Junadah bin Auf, dan berakhirlah masa kekacauan Bulan Haram. (QS al-Taubah 37)

PENENTUAN TAHUN KE-1
Penentuan tahun ke 1 terjadi pada zaman Umar bin Khattab, 6 tahun setelah Rasulullah Saw wafat.

SIAPA YANG MENGUSULKAN?
Abu Musa al-Asy'ari. Saat itu, Abu Musa sebagai gubernur Bashrah menerima surat dari Umar bin Khaththab yang bertarikh bulan Sya'ban tapi Abu Musa bingung apakah bulan Sya'ban yang dimaksud Umar adalah bulan Sya'ban tahun sekarang atau Sya'ban tahun sebelumnya. Lalu Abu Musa mengusulkan dibuatkan penanggalan yang diberikan keterangan tahun.

MENGAPA DISEBUT HIJRIYAH?
Karena Umar bin Khaththab menetapkan tahun pertama dari Hijrah Rasulullah Saw ke Madinah setelah bermusyawarah dengan para sahabat besar. Sehingga disebut Hijriyyah, dan tahun-tahun sebelumnya disebut Sebelum Hijrah.

USULAN SIAPA?
Ali bin Abu Thalib yang mengusulkan agar tahun pertama dihitung dari Hijrah mengalahkan usulan yang lain yang mengusulkan agar tahun pertama dihitung dari kelahiran Rasulullah Saw atau tahun diutus beliau.

BULAN APA RASULULLAH SAW HIJRAH?
Bulan Rabi'ul Awwal tanggal 12

PENENTUAN BULAN PERTAMA DALAM SETAHUN

Umar bin Khaththab menetapkan bulan Muharram sebagai bulan pertama. Hal ini karena Umar bersandar kepada:
1. Rencana hijrah Rasulullah Saw dirancang pada bulan haji (dzul hijjah) di mana terjadi bai'at delegasi dari Madinah kepada Rasulullah Saw di Aqabah, Mina, sehingga sebenarnya rangkaian proses hijrah beliau sudah dimulai sejak berakhirnya bulan Dzul Hijjah, bukan hanya pada Rabi'ul Awwal.
2. Orang-orang Arab sudah lebih dahulu menetapkan bulan Muharram sebagai pertama dalam setahun sementara Rasulullah Saw tidak meluruskannya. Berarti tradisi Arab itu disetujui wahyu.
3. Bulan Muharram terjadi setelah bulan Dzul Hijjah, bulan terakhir dari bulan haji. Para jamaah haji sudah pulang kampung dan memulai hidup baru di bulan Muharram. Tepat kalau bulan Muharram jadi bulan pertama dalam setahun.

APAKAH BOLEH MEMODIFIKASI NAMA-NAMA BULAN?
Nama-nama bulan tidak disebutkan dalam Al-Quran kecuali Ramadhan. Rasulullah Saw pun tidak membuat nama baru untuknya melainkan menganggap cukup dengan nama-nama yang telah dibuat oleh kakek kelima beliau, Kilab bin Murrah. Diamnya beliau bisa difahami dengan dua kesimpulan:
1. Rasulullah Saw mengidzinkan memberi nama dengan nama-nama yang tidak mengurangi keagungannya selama tidak melanggar aturan-aturan Allah terkait siklus-nya. Yaitu 12 bulan dalam setahun dengan 29 atau 30 hari setiap bulannya. Juga tidak melanggar aturan Bulan Haram seperti penangguhan dan lainnya. Kalau tidak mengidzinkan, mana mungkin beliau setuju dengan nama-nama yang dibuat kakek kelimanya.
2. Rasulullah Saw sudah menetapkan dan mengukuhkan nama-nama itu. Berarti tidak boleh diganti lagi dengan yang lain.
Tapi para ulama di Nusantara, mengenal nama-nama bulan Hijriyah yang identik dengan tradisi keislaman lokal. Misalnya nama-nama bulan menurut orang Jawa:

1. Sura / Suro (Muharram)
2. Sapar (Shafar)
3. Mulud (Rabiul Awwal)
4. Bakda Mulud (Rabi'uts Tsani)
5. Jumadil Awwal (Jumadal Ula)
6. Jumadil Akhir (Jumadats Tsaniyah)
7. Rejeb (Raja)
8. Ruwah (Sya'ban)
9. Poso (Ramadhan)
10. Sawal (Syawwal)
11. Apit / Sela(Dzul Qa'dah)
12. Besar / Haji (Dzul Hijjah)

SUDAH BERAPA TAHUN SEKARANG
Di tahun 2017 ini sudah 1439 tahun. Berarti kalau perumusan tahun Hijriyyah dilukan enam tahun setelah Rasulullah wafat maka perumusan tersebut terjadi pada tahun 17 Hijriyyah. Atau 1422 tahun yang lalu.

REFERENSI
1. Al-Ayyam wa al-Layaali wa al-Syuhuur, al-Farra (w. 215 H.)
2. Al-Mufashshal fi Tarikh al-'Arab Qabla al-Islam, Dr. Jawad Ali
3. Al-Bidayah wa al-Nihayah, Ibnu Katsir (w. 774 H.)
4. Sirah Ibn Katsir (w. 774 H.)
5. Tafsir Ibn Katsir (w. 774 H.)

Deden Muhammad Makhyaruddin
Indonesia Murojaah Foundation

Sunday, September 17, 2017

Nafaqoh keluarga

Suatu hari, Sahabat Sa'ad bin Waqash RA --salah seorang Sahabat (dari 10 orang Sahabat) yang dijamin masuk surga oleh Nabi SAW-- sedang sakit parah. Nabi pun menjenguk Sahabat setianya ini. Saat dijenguk oleh panutannya tersebut, Sa'ad bin Waqash RA berkata:

"Wahai Nabi, saya adalah seorang yang kaya raya dan saya tidak punya ahli waris selain seorang putri tunggal. Apa perlu bagi saya untuk menyedekahkan saja 2/3 dari hartaku?."
"Jangan!," jawab Nabi singkat.
"Bagaimana kalau setengahnya saja yang disedekahkan?," kejarnya lagi.
Lagilagi Nabi menjawab "Jangan!."
"Kalau menyedekahkan 1/3 nya?," tanya Sa'ad menurunkan lagi nominal harta yang ingin ia sedekahkan.
"Nah, menyedekahkan 1/3 dari hartamu itu sudah cukup banyak. (Sebab) meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin. (Karena) ketika kau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan miskin, (akan ada peluang) mereka bakalan meminta atau minimal mengharapkan uluran tangan (berupa bantuan) dari orang lain. Dan ketahuilah bahwa setiap kali engkau menginfakkan hartamu agar memperoleh rida dari Allah, engkau akan diberi pahala. Bahkan sampai infak (belanja bulanan/harian) yang kau berikan untuk (anak) istri (serta keluarga) mu pun juga begitu....." Alhadis.. Muttafaq 'alayh..

Potongan hadis di atas, kita potong sampai di situ saja. Hadis yang oleh Imam An Nawawi dimasukkan dalam kitab Riyadlus Shalihin bab Niat & Ikhlas tersebut (salah satunya) menunjukkan bahwa (ternyata), nafkah yang diberikan oleh seorang suami kepada keluarganya akan bernilai ibadah; bernilai akhirat; berpahala, selama diniati dengan baik agar memperoleh RidaNya.

Mungkin ini yang idealnya perlu dijadikan motivasi dan penyemangat (utama) oleh para suami dan tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah yang halal untuk keluarganya. Sebab setiap rupiah nafkah yang ia berikan tersebut akan bernilai ibadah.

Selamat ISHOMA, untuk kemudian melanjutkan lagi serta menuntaskan sisa aktivitas hari ini dengan tetap penuh semangat.. ☺

Friday, September 15, 2017

Jika mereka tahu dosa-dosaku

"Jikalau kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak akan ada dua orang yang berjalan di belakangku dan sungguh kalian akan melemparkan tanah di atas kepalaku "

~Ibnu Mas'ud~

"Jikalau dosa itu mempunyai bau, niscaya tidak ada seorangpun yg sanggup mendekatiku karena banyaknya dosaku "

~Ibnu Sirrin~

“Jika seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan bau, maka tidak seorang pun yang akan duduk denganku.”

~Muhammad bin Wasi'~

رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأَبْرَارِ

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ