Showing posts with label pesantren. Show all posts
Showing posts with label pesantren. Show all posts

Monday, June 12, 2023

MEMBANGUN RUMAH

MEMBANGUN RUMAH

Saya pernah menulis tentang mimpi rumah beberapa bukan yang lalu. Namun ternyata, masih banyak yang menginginkan tulisan lebih panjang lagi tentang mimpi rumah ini. Maka saya akan menuliskan beberapa amalan dan ilmu titen lain yang sudah lebih dahulu saya ketahui dari para guru dan para kiai yang saya kenal.

Yang pertama kali, sebelum membangun rumah, bila belum punya tanah atau sudah ada tapi kurang cocok, dan membidik tanah lain yang masih belum dimiliki, maka disarankan oleh bapak untuk rutin membacakan fatihah buat yang punya tanah. Setiap lewat tanah tersebut, minimal mengirim hadiah fatihah sekali. Dan lebih baik, setiap sholat fardlu dibacakan fatihah khususon buat yang punya tanah, 7 kali.

Bila memang belum ada gambaran sama sekali mau bangun dimana, atau sudah ada namun belum punya dana membangun rumah, maka bapak menyarankan untuk membaca doa rabbi anzilni.

Untuk hitungannya sendiri, bapak punya beberapa jawaban. Kadang disuruh membaca sebanyak mungkin, sesuai kemampuan. Namun kadang disuruh baca 1000 kali dengan cara khusus. Bilangan dan cara yang kedua inilah yang dulu dipilih amalkan oleh bapak sendiri sebelum punya rumah. “kulo nyuwon gene gusti Allah ndamel dungo: rabbi anzilni ten latar e pondok kang mboten enten atape. Sekitar setahun. Setiap malam kapeng 1000(saya meminta kepada Gusti Allah menggunakan doa: rabbi anzilni ini dihalaman pondok yang tidak beratap_dibaca langsung dibawah langit_sebanyak 1000 kali, tiap malam selama setahun)”.

Untuk lama waktu mengamalkannya, mungkin tiap orang bisa berbeda-beda. Bapak cuman setahun, karena Alhamdulillah setahun kemudian sudah bisa membuat rumah sendiri. Bila anda punya tekad yang kuat, maka bisa membaca amalan ini sampai berhasil. Jangan berhenti sebelum dikabulkan oleh Allah.

Bila sudah siap membangun rumah, maka bapak saya sering mengikuti ilmu titen jawa.  Bapak mengikuti pendapat para orang tua yang berpendapat bahwa bulan yang baik untuk memulai membangun rumah adalah bulan besar dan bulan sya’ban. Silahkan pilih diantara dua bulan ini. Tidak harus, tapi bapak saya ketika membangun rumah pasti disalah satu dari dua bulan tersebut.

Adapun harinya, bapak paling suka hari ahad kliwon. Bila tidak, maka tiga hari sebelum, dan satu hari setelah ahad kliwon juga baik(kamis pahing, jumat pon, dan sabtu wage, juga senin legi). Atau hari apapun yang isinya 9, 13, atau 17.

Bila sudah mendapatkan waktu, maka bapak juga punya rumusan kemana rumah menghadap. Menurut bapak berdasarkan ilmu titen dari  para sesepuh, rumah yang baik adalah rumah yang menghadap pada aliran air. Dalam artian, kemana air ditempat tersebut mengalir, maka lebih baik rumah kita menghadap sebaliknya(seperti di Kwagean arah aliran air adalah ke utara, maka semua rumah yang dibangun oleh bapak pasti menghadap ke selatan)”.

Filsofinya adalah:”nampani banyu iku nampani berkah(menampung air adalah menampung keberkahan)”.

Ilmu selanjutnya, ketika akan mulai membangun dibacakan ayat kursi 7 kali dan ayat aukal ladzi 7 kali(biasanya dibaca saat nyemplong atau peletakan batu pertama).

Ayat kursi sebagai ‘pagar’, dan aukalladzi sebagai doa agar rumah atau tempat yang akan dibangun bisa menjadi berkah, ramai murid, dan ramai rezeki.

Bila sudah jadi, maka disarankan untuk mengisi rumahnya dengan kegiatan yang mampu mengkondisikan anak atau muridnya agar cinta pada agama. Bila ingin keturunannya jadi orang alim, maka harus ada minimal satu pengajian kitab dirumah tersebut. Kalau ingin anak atau muridnya ahli quran, maka minimal ada satu pengajian Al-quran yang berlangsung dirumah tersebut.

Kalaupun tidak ngaji bersama, minimal sang orang tua punya waktu khusus untuk ngaji saat dirumah.

Dan ada salah satu kiai yang berpesan:”jauh lebih baik kalau sebelum membangun rumah, diniatkan untuk hurmat tamu. Dan untuk ngaji”.

Dan ada satu ilmu titen lagi yang pernah disampaikan kepada saya oleh kakak saya. Dawuh ini dari abah mertua beliau, salah satu kiai sepuh: “ lek saget ampun ndamel kolam ten ngajeng griyo. Biasane lek enten kolame, penghunine mboten kiat. Pun katah buktine niki(kalau bisa jangan membuat kolam didepan rumah. Biasanya, kalau rumah ada kolam didepannya, penghuninya tidak kuat. Sudah banyak buktinya ini)”.

Sementara ini, masih sedikit sekali ilmu titen tentang rumah yang mampu saya tulis. Karena memang ilmu ini saya dapatkan sedikit demi sedikit dari pengalaman pribadi. Hampir sama dengan pengakuan bapak saya, yang ngendikan sendiri bahwa pengetahuan beliau tentang ilmu titen seperti ini, bertambah sedikit demi sedikit seiring waktu.

Semua amalan dan ilmu titen ini bukanlah pedowan wajib yang harus dipatuhi, tapi sebuah kebijaksanaan yang didapatkan oleh para ulama dan sesepuh berdasarkan petunjuk Allah, kebiasaan alam, dan pastinya ilmu pengetahuan. Silahkan bila ingin mengikuti, pun silahkan bila anda punya pandangan atau ilmu yang berbeda. Atau mungkin tidak menganggapnya sama sekali pun itu terserah anda.

Karena memang ilmu pada hakikatnya hanyalah teori dan pertanda, hingga kita menerima dan mengamalkannya.

#salamKWAGEAN

Sunday, June 4, 2023

Dari Rumah Beralih Jadi Pesantren

"Dari Rumah Beralih Jadi Pesantren"

Pasca lulus (baca: resign) dari Yanbu'ul Qur'an Boarding School 1 Pati, setelah sekitar lima tahun-an berkhidmah merintis dari awal, saya mulai berencana membangun rumah, dengan niatan utama menjalankan kewajiban menafkahi keluarga, hurmat tamu dan untuk ngaji. Bulan Dzul Hijjah 1443 H saya mulai. Pertengahan Sya'ban 1444, selesai ngatepi. Istilahnya, di kampung saya, selametan tongcit atau munggah molo atau munggah kenteng. Selang semingguan, pasca selametan munggah kenteng, saya sowan Abah Zaky Fuad Abdillah Salam, bersama dengan Panitia Haul KH Abdullah Salam dan Reuni Lintas Angkatan KABILAH (Keluarga Alumni Pesantren Bani Abdillah). Pisowanan inilah yang mengubah niat awal saya, dari yang awalnya gedung ini mau dibuat rumah, beralih jadi Pesantren.

Saya sowan bersama teman-teman Panitia Haul dan Pengurus Alumni, dengan niatan mau memohon restu atas pelaksanaan acara Haul KH Abdullah Salam dan Reuni KABILAH kepada Abah Zaky. Di ndalem sudah ada tamu yang sowan Abah Zaky. Topik pembicaraan tamu tersebut dengan Abah Zaky adalah seputar bangun rumah.

"Bapak (KH Abdullah Salam) niku, riyen nalikane kula bangun griya, wanti-wanti sak estu, ampun ngantos griya sing kula bangun niku pancer pengimaman Musholla."
"Bapak mewanti-wanti dengan sungguh-sungguh, supaya ketika saya bangun rumah, jangan sampai pas ngepasi pengimaman Mushola."
Abah Zaky Dhawuh kepada tamu tadi.

Beliau melanjutkan,
"Dulu saya tidak tahu, mengapa Bapak mewanti-wanti saya seperti itu. Ya saya manut saja. Setelah saya renungi, saya menemukan jawabannya. Dulu, saat saya masih tinggal satu rumah dengan Bapak, kamar saya itu letaknya di sebelah barat kamar Bapak. Jadi, ketika Mbah Dullah shalat, itu menghadap ke kamar yang saya tempati. Kemudian saya beberapa kali bertemu dengan Kiai Fayumi Munji (Mbah Fayumi, selain terkenal sebagai Ahli Fiqih, beliau juga masyhur sebagai Ahli Falak, baik yang sifatnya Ilmu Falak Dhahir juga Ilmu Falak Batin). Setiap kali bertemu, Mbah Fayumi selalu ngguyoni dan nggasaki: Gus, sampean kalau masih tinggal di situ terus, sampean tidak akan punya keturunan Gus. Sebab, sampean itu dishalati Mbah Dullah terus. Apalagi Mbah Dullah itu wali, kalau beliau shalat menghadap kamar sampean, panas Gus."

Mendengar dhawuh Abah Zaky kepada tamu tadi, pikiran saya langsung tertuju ke rumah yang baru saja selesai selametan munggah tongcit/molo/kenteng. Rumah saya tepat pas di depan Musholla, meskipun ada jeda jalan gang menuju TPQ Al Mubarok yang berada di belakang rumah. Hati saya pun meletup-letup ingin menanyakan tentang hal ini kepada Abah Zaky, tetapi saya tahan. Saya masih menyimak dhawuh dan nasehat Abah Zaky.

Abah Zaky melanjutkan, sambil sesekali menghisap batang Dji Sam Soe,
"Dan memang, yang saya rasakan selama tinggal 5 tahun di rumah Mbah Dullah, itu tidak tahu kenapa, rasanya sumpek, padahal saya waktu itu ya tidak pernah mikir yang berat-berat. Ternyata, setelah saya renungi, alasan Mbah Dullah mewanti-wanti saya membangun rumah tepat di depan Musholla Thoriqoh itu jawabannya justru saya temukan dari dhawuh-nya Mbah Fayumi tadi. Ya, diibaratkan itu kita seperti dishalati, rasanya panas, sebab orang shalat menghadap kamar atau rumah kita. Selama 5 tahun itu juga, saya belum kunjung punya keturunan. Setelah pindah rumah, Alhamdulillah mulai diberikan keturunan Gusti Allah. Setelah tahu hikmahnya dari Mbah Fayumi itu, saya sering mengamati. Banyak sekali, walaupun tidak semuanya, rumah-rumah yang letaknya tepat di depan Musholla/Masjid, permasalahan dan ujian yang menimpa penguni rumah itu rata-rata berat."

Mendengar dhawuh Abah Zaky itu, pikiran saya menerawang ke beberapa rumah yang saya tahu letaknya di belakang Masjid/Musholla pas, dimana orang-orang yang jamaah shalatnya menghadap ke rumah itu. Yang saya temukan memang demikian. Ada kasus, satu rumah yang masalah keluarganya carut marut, antara lain seperti: gangguan jiwa pada beberapa anggota keluarga, persoalan ekonomi dlsb. Tentu ilmu ini sifatnya adalah Ilmu Titen, yang diambil kaidah/teorinya dari hasil observasi beberapa kali. Dan setiap kaidah tentu ada pengecualian-pengecualian, لكل قاعدة مستثنيات. Apalagi yang ndhawuhi Abah Zaky tadi merupakan Pakar Ilmu Falak lahir batin, yang pernah saya dengar riwayat, Mbah Kiai Sahal saat masih hidup, ketika ada hal-hal dan persoalan yang berkaitan dengan Ilmu Falak baik yang sifatnya ilmu Dhahir maupun ilmu Bathin, selalu merujuk kepada Mbah Kiai Fayumi Munji. Marasepah saya adalah santri Mbah Fayumi, dan beliau membenarkan hal tersebut.

Setelah obrolan dengan tamu tadi selesai, kami atas nama Panitia Haul Mbah KH Abdullah Salam & Pengurus Alumni menghaturkan hajat kami kepada Abah Zaky. Kemudian, setelah pembahasan tentang acara Haul selesai, saya secara pribadi matur kepada Abah Zaky.

"Abah, nuwun sewu, kaleresan semingguan niki dalem nembe selesai ngatepi rumah, dilalah rumah yang saya bangun itu pas tepat di depan Musholla, nyuwun dhawuh saenipun pripun Abah?"
Abah Zaky menjawab,
"Nggih, saenipun memang ampun dipun damel rumah hunian, Kang. Mangkeh amprat. Dipun damel kagem ngaos mawon. Dipun damel Pondok Pesantren nggih boten napa-napa."

Mendengar nasehat dari Abah Zaky tersebut, saya hanya bisa sam'an wa tha'atan. Bagaimana pun, beliau adalah sosok Guru, Murabbi dan Mursyid bagi saya, yang harus saya patuhi dhawuhnya dan tiru lakunya.

Pulang dari Kajen, saya pun menata hati, belajar mengikhlaskan, bahwa bangunan yang rencananya akan saya jadikan rumah hunian, tidak jadi saya tempati. Di satu sisi merasa berat, tapi disisi lain, saya bersyukur, sebab mendapatkan ilmu dan nasehat di saat yang tepat. Latihan lileh, ben bisa lillah. Kemudian saya menjelaskan kepada Istri tentang hal tersebut. Alhamdulillah, istri pun bisa memahami, mengikhlaskan dan merelakan. Padahal, dana yang dikeluarkan sudah cukup banyak, menguras seluruh tabungan yang sudah ditabung bertahun-tahun oleh Bundaharanya anak-anak yang menjadi Menteri Keuangan di keluarga kami. Mendengar istri bisa mengikhlaskan, hati saya jadi lega. Semoga keikhlasan untuk melepaskan ini jadi kunci pembuka kemudaahan supaya ke depan bisa buat rumah sendiri untuk keluarga.

Selang beberapa hari kemudian, ada dua anak dari Jepara, yang masih kerabat dekat, datang ke rumah, pengen ikut ngaji. Kemarin ada anak dari Papua mendaftar ngaji. Padahal, saya belum membuka pesantren, meskipun banyak Guru-guru yang sudah ngutus bahkan mewajibkan untuk membuka pesantren, tetapi saya belum bisa, karena merasa masih belum pantas. Akhirnya, saya pun bilang, kalau ngaji di sini, ya manggoné sak nggon nggon.

Teringat dhawuh guru kami, Mbah Kiai Nafi', supaya kalau ada anak-anak ngaji datang ke rumah, harus dilayani dan dihormati, soal rezeki mereka akan datang dengan sendiri.
Teringat dhawuh Mbah Kiai Abdullah Salam, yang disampaikan oleh Alumni PMH Pusat, bahwa Mbah Dullah pernah ngendika kepada salah satu santrinya yang mau diambil menantu orang kaya dan akan dibangunkan pesantren, lalu beliau dhawuh: Wong Ngalim aja gelem dituku Wong Sugih.
Teringat juga dhawuh Mbah Kiai Abdullah Salam, kepada salah satu santrinya yang matur ingin menghafalkan Al Qur'an, malah ditanya beliau: Kowe Wani Apa? Sebagai peringatan bahwa niat untuk menghafal Al Qur'an bukan untuk bangga-banggaan, pamer-pameran, dan prosesnya membutuhkan perjuangan baik harta, waktu, tenaga yang betul-betul harus dicurahkan.
Teringat juga dhawuh Mbah Kiai Jamal Tambakberas Jombang, jika ada orang datang ke rumah, minta diajar ngaji, jangan ditolak, sebab itu tandanya Gusti Allah mau menaikkan derajat sampean menjadi Maqam Mu'allim/Pengajar, seperti Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk menjadi Mu'allim.
Teringat juga dhawuh Mbah Kiai Mustofa Bisri kepada salah satu Kiai Muda Kajen, yang ditinggal wafat Abahnya, aja kesusu kepengen dadi al Mukarrom.
Teringat juga dhawuh Gus Baha' di acara Tahlilan Bunyai Nafisah Sahal, bahwa Ulama dulu menganggap santri-santri itu adalah kanca ngaji yang membantu mereka untuk selalu Muthala'ah, Mudzakarah dan Belajar.
Teringat juga dhawuh Kiai Ubab Maimoen Zubair dalam salah satu ceramah beliau yang terekam di YouTube, supaya Pesantren-pesantren yang ada jangan menjadikan santri sebagai komoditi, lahan bisnis, yang selalu dihitung angka dari tiap kepalanya.
Teringat juga Qaidah Fiqhiyyah, الفضيلة المتعلقة بذات العبادة أولى من الفضيلة المتعلقة بمكانها, Keutamaan yang berkaitan dengan Dzatnya suatu Ibadah itu lebih utama daripada keutamaan yang berkaitan dengan tempatnya. Penting Ngajiné yang istiqamah, soal Sarpras Gedungé dipikir sambil jalan.

Bismillah, nyuwun tambahing do'a saha pangestu para Kiai, Guru dan teman-teman, mulai tahun ini, secara resmi insya Allah saya akan membuka Pesantren. Bukan untuk menjadi Kiai-nya, tetapi berusaha menjadi Abdi Ndalem, yang melayani kanca-kanca santri yang datang untuk mengaji. Rencananya, Pesantren Al Qur'an ini punya dua program inti: Hifdzul Qur'an dan Hifdzul Matan. Hifdzul Qur'an bagi teman-teman yang punya potensi untuk menghafal Al-Qur'an dan menjaganya sepanjang hayat. Hifdzul Matan (menghafal kitab-kitab matan) bagi teman-teman yang tidak mampu menghafal Al-Qur'an dan menjaganya sepanjang hayat. Sebab, Al Qur'an itu selain شافع مشفع juga ماحل مصدق, selain حاجة لك juga bisa jadi حجة عليك, selain bisa berpotensi menjadi Syafaat bagi orang-orang yang mampu menjaga, juga berpotensi menjadi La'nat bagi orang-orang yang melupakan dan melalaikannya. Artinya: 1 Tidak semua orang wajib menghafalkan Al Qur'an, tetapi jika berpotensi untuk menghafal dan mampu menjaganya sepanjang hayat, maka dianjurkan untuk menghafalkan. 2. Menjadi Shahibul Qur'an yang berhak atas Syafaatnya Al Qur'an tidak melulu harus dari jalan menghafal Al Qur'an. 3. Menghafal Al-Qur'an kalau melupakan dan melalaikan bisa dosa. Tetapi menghafal Matan, jika lupa, tidak apa-apa. 4. Menghafal Al-Qur'an hukumnya Fardhu Kifayah, kalau sudah ada yang melakukan sudah gugur kewajiban. Tetapi jika sudah kadung menceburkan diri dalam Hifdzul Qur'an, maka menjaga Al Qur'an sepanjang hayat merupakan Fardhu 'Ain yang tidak bisa diwakili oleh orang lain.

Pesantren ini namanya: Ma'had Al Qur'an Al Mubarok/ Pesantren Al Qur'an Al Mubarok. Khusus laki-laki dan untuk anak-anak tingkatan SD. Insya Allah besok Rabu, saya akan mulai membuka pendaftaran. Pada prinsipnya, Pesantren merupakan pendidikan bagi masyarakat akar rumput. Maka biaya Pesantren harus terjangkau oleh masyarakat akar rumput. Maka saya pun punya cita-cita, bangun Pesantren yang biayanya murah dan terjangkau masyarakat akar rumput, tetapi berkualitas, bisa menggratiskan santri-santri yang tidak mampu dengan tanpa harus mempekerjakan mereka, tidak menjadikan santri sebagai komoditi dan Pesantren sebagai lahan bisnis. Bismillah, semoga Gusti Allah tansah paring bimbingan, tuntunan, berkah, manfaat, istiqamah, dipernahke dan digenahke sedayanipun.

Thursday, February 9, 2023

KIAI MASDUQI (KAKAK RAIS AMM PBNU) BERKISAH TENTANG MBAH WAHAB MENANGKAP JIN DAN MBAH HAMID MENGAMINI DOANYA DARI ATAP

KIAI MASDUQI (KAKAK RAIS AMM PBNU) BERKISAH TENTANG MBAH WAHAB MENANGKAP JIN DAN MBAH HAMID MENGAMINI DOANYA DARI ATAP

Kemarin sore saya dan istri takziah tujuh harinya Nyai Muzayyanah (istri dari Kiai Adib bin Wahab Chasbullah) di Surabaya. Kami bertemu dengan Ning Diah (putri Kiai Masduqi Abdul Ghoni) dan Ning Hanna (putri Kiai Jazuli Bangkalan). Selanjutnya  Kami diantar ke Ndalem Kiai Masduqi di Rangkah.

Kiai Masduqi (78 tahun) adalah putra ketiga dari Kiai Abdul Ghoni. Beliau merupakan kakak kandung dari Rais Amm PBNU, Kiai Miftachul Akhyar.

Kami ditemui oleh Kiai Masduqi dengan ditemani Gus Haq (putra Kiai Masduqi), Ning Hanna dan Ning Diah beserta beberapa putri menantu beliau yang lain.

Kiai Masduqi yang sangat tawadlu sekali ini berkisah bahwa beliau Mondok di Tambakberas saat masih kecil dan masih ngompolan, yakni sekitar usia  8 tahun. Beliau  mondok di Tambakberas  selama 10 tahun mulai dari tahun 1953 dan hingga ketika gunung Agung meletus, tahun 1963.

Beliau saat ini adalah penerus pesantren abahnya yang bernama Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Bahrul Ulum yang beralamat di Rangkah Surabaya. Rumah abah beliau (saat ini ditempati beliau) dahulu menjadi tempat persinggahan  para kiai seperti Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Hamid Chasbullah dan Kiai Romli, Mbah Ud dan lain lain. Beliau yang saat itu masih kecil masih teringat ucapan Kiai Abdul Ghoni (ayahanda beliau) bahwa Mbah Hamid Chasbullah waktu berkunjung setelah selesai acara haul Syaikh Abdul Qodir Al Jailani membawa buah tangan berupa roti kalengan.

Ketika saya tanya tentang amalan ijazah doa dari Masyayikh Tambakberas, beliau
berkata mendapatkan doa dari Mbah Wahab berupa "Huwal Habib" yang  dibaca 100 kali. Katanya,  banyak masalah yang para santri disuruh oleh Mbah Wahab agar mewiridkan "Huwal Habib". Kiai Masduqi juga sering mendengar Mbah Wahab mengajari santri dengan membaca doa "Ya Arhamarrohimin...".

Hal lain yang beliau ingat dari Mbah Wahab adalah saat Mbah Wahab mengambil jin di beberapa tempat sekitar pondok seperti di menara masjid dan lainnya. Saat itu Kiai Sholeh Hamid disuruh mengangkat jin, tapi Kiai Sholeh berkata "Tidak kuat Wak Aji (panggilan untuk Mbah Wahab dari para keponakannya)." Lalu Kiai Sholeh diajari agar menggendongnya. Setelah itu baru kuat membawa jin untuk dipindah.

Kiai Masduqi masih menangi (bertemu) Mbah Hamid yang wafat tahun 1956. Beliau sempat ngaji Alquran ke Mbah Hamid sampai ayat yang beliau sebut "Sayaqulus.. ." (awal juz 2).  Lalu oleh orang tuanya diminta pulang dulu. Saat beliau pulang pada bulan Ramadhan hari kedelapan itulah  Mbah Hamid wafat. Pada bulan Syawal Kiai Masduqi kembali mondok lagi.

Beliau berulangkali bilang Kiai Hamid Chasbullah itu wali, tamunya juga para wali seperti Kiai Sahlan, Sidoarjo, Kiai Toha Wonokromo dan lain lain.

Kiai Masduqi termasuk santri yang ikut ndalem dengan membantu menjualkan makanan blendung buatan Mbah Den (istri Mbah Hamid) untuk  para santri. Blendung adalah jagung tua yang biasanya direndam dengan air gamping, lalu digodok, dan setelah masak ditaburi parutan kelapa. Orang Nganjuk dan sekitarnya menyebutnya grontol.

Beliau juga berkisah tentang "ngawang" (terbangnya) Mbah Hamid Chasbullah. Setelah lama di pondok, pada suatu malam, Kiai Masduqi 'telek-telek" atau merenungi bahwa nanti kalau pulang dan beliau merasa belum bisa apa-apa, maka pasti akan ditanya tentang ngajinya oleh abahnya (Kiai Abdul Ghoni). Abahnya begitu tegas dan bisa menyabet manakala putranya tidak bisa ngaji.

Maka saat itu di tengah malam, Kiai Masduqi "nyawang" (melihat) atap atau "wuwung" di pondok induk. Tanpa disangka, beliau melihat Mbah Hamid (yang saat itu sudah wafat) "ngawang" atau terbang di atas wuwung pondok sambil berkata, "Aminono aku tak ndongo (ucapkan amin, saya mau berdoa)". Benar, secara secepat kilat beliau mengaminkan doa Mbah Hamid.

Terakhir, sekali lagi beliau sangat tawadlu'. Semisal saat saya minta barokah doa, bolak balik beliau mengelak menolak  tidak berkenan. Saya tidak putus harapan, maka akhirnya beliau dawuh akan membaca Fatihah tapi saya nanti diminta berdoa. Benar, selesai membaca Fatihah, saya diminta berdoa. Dengan mengharapkan berkah  "amin"nya Kiai Masduqi, maka saya berdoa pendek dengan membaca sholawat Nurudzati dan doa sapujagat.

Tidak hanya itu, saat saya pamitan dan mau ziarah ke makam Kiai Abdul Ghoni, beliau malah mau mengantar. Tentu kami cegah karena sehabis hujan. Sebelumnya saya mau "menyalami" beliau, tapi justru saya yang "disalami". Awalnya sama sama menolak, tapi karena sama-sama kekeuh, akhirnya sama sama menerima.

Semoga kiai sepuh yang andap ashor terus sehat dan panjang usia sehingga bisa jadi panutan.

Tuesday, February 22, 2022

Keistimewaan KH. Adlan Aly, Murid Kinasih KH. Hasyim Asy’ari

"Keistimewaan KH. Adlan Aly, Murid Kinasih KH. Hasyim Asy’ari"

KH. Adlan Aly, pendiri Pondok Pesantren Putri Walisongo Jombang.
Tebuireng.online— KH. Hasyim Asy’ari memiliki santri yang hebat-hebat, salah satunya yaitu KH. Adlan Aly, pendiri Pondok Pesantren Putri Walisongo Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Kiai Adlan dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1900 di Pesantren Maskumambang, Kabupaten Gresik, dari pasangan Hj. Muchsinah dan KH. Ali. Kiai Adlan Aly wafat pada tanggal 6 Oktober 1990 di Jombang.

Kiai Adlan merupakan santri kinasihnya Kiai Hasyim Asyari. Hal ini dikarenakan Kiai Adlan sosok yang alim dan hafal Al Quran. Sering sekali Kiai Hasyim meminta santrinya ini menggantikan menjadi imam salat dan kegiatan lainnya. Bahkan karena rasa cinta yang begitu besar terhadap gurunya, Kiai Adlan bermukim selamanya di selatan Pondok Tebuireng.

Setelah Nahdlatul Ulama (NU) berdiri, KH. Hasyim Asy’ari memanggil Kiai Adlan, untuk membentuk kepengurusan NU di Kecamatan Diwek. Dari sini Kiai Adlan Aly berkiprah di NU hingga ke level nasional. Dalam Muktamar NU yang ke-8 di Cirebon pada Agustus 1931, Kiai Adlan Aly dipercaya sebagai pemimpin sidang.

Menurut Mahasiswa Pasca Sarjana dan Santri Pesantren Tebuireng Abdul Aziz, Kiai Adlan setiap bulan Ramadan membacakan kitab Fathul Qarib. Tepat di posisi yang dulu digunakan Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari mengajar. Kiai Adlan duduk di sana, sedangkan para santri mengitarinya sebagai halaqah ilmiah.

Dalam pengajian ini ada karomah Kiai  Adlan yang tampak di setiap tahunnya. Ketika pembahasan tepat pada bab  Istisqa’ (ritual memohon hujan), anehnya langit Tebuireng menjadi gelap.

Ketika beliau membaca bab tersebut lalu mempraktekan shalat istisqa’ dan mengalungkan sorban ke pundaknya dalam seketika itu hujan turun dan mengguyur halaman pondok.

“Kiai Adlan itu tidak pernah melihat langit. Istilah ini menunjukkan saking tawadhu’nya Kiai Adlan. Ketika berjalan tidak pernah mengangkat kepala ke atas. Beliau senantiasa menunduk sopan,”  katanya, Sabtu (27/4).

Ada lagi kesan para santri tentang Kiai Adlan yang masih abadi hingga saat ini. Bagi santri Tebuireng dan Walisongo, Kiai Adlan adalah ayah yang sabar dan istikamah. Ketika para santri ditanya tentang “Bagaimana sosok Kiai Adlan?” maka berbagai komentar yang hampir tak serupa senantiasa didengar.

“Ada yang menuturkan, kiai yang tidak hanya hafal isi Al Quran tetapi juga menjalankannya”, ujarnya.

Aziz menambahkan, Kiai Adlan adalah kuncinya jika ingin bertemu Kiai Hamid Pasuruan. Sehingga ada keyakinan sebagian jamaah saat itu kalau ingin mudah bertemu dengan Kiai Hamid harus sowan dulu ke Kiai Adlan.

“Bahkan suatu hari KH. Thalhah Hasan pernah berkata di Tebuireng itu ada dua penghuni surga. Pertama Kiai Idris Kamali dan Kiai Adlan Aly. Keduanya sama-sama alim, wara, zuhud,” tandas Aziz.

"Noto Ati;  Pelajaran Yang Mulai Dilupakan"

"Belajar dari Kisah Kiai Muhaimin Duraid dan Kiai Adlan Aly"

Suatu hari, guru kami Kiai Muhaimin Duraid rahimahullah oleh banyak orang dianggap sebagai Waliyullah atau kekasih Allah. Mendengar desas-desus itu, suatu ketika Kiai Muhaimin dengan memakai kaos oblong dan celana pendeknya turun langsung ikut girigan atau kerja bakti di kali bersama masyarakat.

Di tengah kerja bakti, telapak kaki Kiai Muhaimin menginjak pecahan beling dan mengeluarkan banyak darah. Sejak kejadian itu, orang-orang mulai mengubah anggapan mereka, "Kiai Muhaimin bukan Wali, dia orang biasa. Wali macam apa kok kena beling keluar darah?"

Syaikh Mutawalli Sya'rawi rahimahullah dalam perjalanan pulang dari mengisi kuliah umum di sebuah Universitas, memilih berhenti di area toilet umum. Supir yang mengantar beliau merasa heran, Syaikh Mutawalli ternyata sedang membersihkan dan menyikat lantai toilet, "Apa yang anda lakukan, Syaikh?"

"Saya sedang menebus dosa yang baru saja saya lakukan. Saya merasa bangga ketika pulang dari kuliah umum dan mendapatkan penghormatan luar biasa dari Universitas. Dengan begini, saya sedang menenangkan hati saya sendiri bahwa saya bukan siapa-siapa." Syaikh Mutawalli menjawab sambil menahan isak.

Dari kisah tersebut, kita dapat mengambil pelajaran penting bahwa sekian panjang perjalanan hidup, sesungguhnya tugas besar manusia adalah noto ati (menata hati).

Kata Nabi, hati adalah pusat segala energi yang mampu menarik manusia pada dua keadaan : tenang dan gemrungsung atau panik.

Hati tenang adalah hati yang lepas dari kecenderungan duniawi : pujian, sanjungan, kehormatan dan bangga diri.

Hati gemrungsung adalah hati yang mengikat pada semua kecenderungan dan keinginan. Apa saja yang tampak menyenangkan, mengenyangkan, memuaskan, ia jejalkan ke dalam hati sehingga menjadi ramai. Hati yang terlalu ramai dengan kecenderungan duniawi, sesungguhnya sedang pelan-pelan menutup diri dari cahaya Allah.

Itulah sebabnya, menata hati adalah ibadah yang paling berat. Manusia bisa mendirikan shalat sehari semalam tanpa henti, manusia bisa menuntaskan puasa berhari-hari, manusia bisa membiasakan diri berangkat ke tanah suci. Tetapi, seluruh energi ibadah itu akan sia-sia jika hati sebagai pusat dari energi sesungguhnya, justru ramai, keruh bahkan gelap karena banyaknya tumpukan keinginan-keinginan duniawi.

Termasuk keinginan dimuliakan, diistimewakan dan dielu-elukan adalah kecenderungan manusia yang bisa menghambat petunjuk Allah. Petunjuk Allah meliputi ilmu, hikmah dan berkah.

Hati adalah tempat dimana Allah berhak hadir di dalamnya. Manusialah yang justru menghadirkan selain Allah di dalam hatinya.

Menempatkan diri sebagai manusia biasa adalah satu dari sekian panjang usaha lahir batin menata hati.

Itulah yang dicontohkan oleh orang-orang saleh dahulu : tidak menuntut keistimewaan atas nama keren dan wibawa.

Kiai Adlan Aly rahimahullah, seorang Kiai besar yang mempunyai ribuan santri justru setiap pagi dan sore hari menyapu sendiri lingkungan pesantrennya. Sampai-sampai suatu ketika pernah disuruh-suruh angkat koper dan karung oleh santri baru yang melihat Kiai Adlan tampak seperti orang biasa.

Apa yang sesungguhnya orang-orang saleh upayakan itu adalah untuk menetralisir atau menenangkan energi hati yang sewaktu-waktu bisa menyeret manusia pada kesombongan.

Imam Ghazali pernah berkata, "Tidak ada kemampuan yang lebih berat, lebih besar daripada kemampuan mengendalikan hatiku sendiri."

Sebab, mustahil hati mampu menampung dua kecenderungan atau lebih, kecuali manusia yang sedang mempersiapkan kehancuran dirinya sendiri.

Oleh KH.  Abdul Mun'im Muzani

TIGA MOBIL SAKSI KAROMAH KH. ADLAN ALY CUKIR

Usai Rejoso, pusat terekat Qodiriyah dan Naqsabandiah di Jombang, berpindah ke Cukir. Perkembangan itu berpusat di Pesantren Putri Walisongo yang didirikan oleh seorang kiai kharismatik dan alim, yaitu KH. Adlan Aly. Santri sekaligus menantu keponakan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari itu juga dikenal sebagai kiai ahli Al Quran, banyak kiai dan ulama yang pernah belajar kepada kiai asal Maskumambang Gresik itu.

Sebagai mana ahli terekat dan mursyid, KH. Adlan Aly memiliki banyak karomah yg khariqul ‘adah (tidak biasa). Salah satunya, beberapa kali ditunjukkan ketika beliau sedang melakukan perjanan.

Dalam buku “Karomah Sang Wali, Biografi KH. Adlan Aly”, Anang Firdaus, penulis buku tersebut, menjelaskan setidaknya tiga peristiwa yg menunjukkan karomah Mbah Delan (panggilan akrab beliau) yg berhubungan dgn kendaraan, dalam hal ini mobil. Menariknya dari ketiga mobil tersebut bukan milik Kiai Adlan, melainkan milik orang lain.

Mobil Cerola milik H. Faqih, juragan sate

Pertama, mobil milik H. Faqih, salah satu tetangga dekat beliau di Cukir yang hingga sekarang memiliki warung sate yang cukup terkenal di Jombang. Mobil Cerola merah itu pernah dipakai Kiai Adlan untuk bepergian ke Jawa Tengah dalam rangka menghadiri suatu acara. Yg bertindak sebagai sopir saat itu seorang bernama Ma’mun, putra Pak Tohir.

Selesai acara, Kiai Adlan langsung pulang, padahal saat itu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Tiba2 di tengah jalan, mobil itu kehabisan bensin. Praktis, sang sopir khawatir, karena pada jam selarut itu, tidak ada yg berjualan bensin eceran, sedangkan kondisinya jauh dari SPBU. Sang sopir lapor kepada Kiai Adlan, “Mbah Yai, bensinnya habis. Lalu beli di mana? Kalau sudah jam sekian, tidak ada penjual bensin yg buka, Yai”.

Mendengar itu, Kiai Adlan pun keluar dari mobil dan berjalan kaki. Di jalan beliau menemukan pedagang degan (kelapa muda). Lalu beliau membeli dua plastik, yg satu diberikan sopir untuk diminum, sedangkan satunya ditaruh di dekat mesin mobil. Setelah itu, Kiai Adlan berkata, “Ya sudah, ayo naik”. Tak disangka, ternyata bensin mobil itu menjadi full. Perjalanan dapat dilanjutkan dan sampai di rumah dgn selamat.

Mobil sedan milik KH. Yusuf Hasyim

Kedua, mobil sedan , milik KH. M. Yusuf Hasyim atau Pak Ud yg saat itu menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng. Kiai Adlan meminjam mobil itu untuk menghadiri acara di Jawa Tengah. Saat perjalanan pulang di daerah Mantingan, oli mesinnya habis. Sang sopir yg bernama Pak Bari melaporkan kepada Kiai Adlan terkait hal itu.

Lalu, Kiai Adlan menjawab, “Teruskan saja tidak apa2”. Sontak membuat Pak Bari bingung, oli habis malah diminta meneruskan perjalanan. Ternyata, walau tanpa oli, mobil tetap bisa berjalan sampai rumah.

Mobil milik Pesantren Tebuireng

Mobil ketiga yg menjadi saksi karomah Sang Wali Cukir, yaitu mobil milik Pesantren Tebuireng pada zaman itu.  Saat itu Nyai Halimah, istri kedua Kiai Adlan, masih sugeng (hidup). Seorang bernama Aji pernah diminta mengantar Kiai Adlan Aly menghadiri undangan ke Bojonegoro menggunakan mobil milik Pesantren Tebuireng. Saat musim hujan, di tengah perjalanan mobil yg dikendarai Kiai Adlan dan Aji terperosok ke lubang jalan dan mogok alias tidak bisa nyala. Kiai Adlan bertanya, “Ada apa?”. “Mobilnya tidak bisa jalan, Yai,” jawab Aji. Kiai Adlan malah menjawab, “Ya sudah kamu di atas saja, saya turun”.

Sang Sopir mengira Kiai Adlan akan mendorong mobilnya. Ternyata bukan. Kiai Adlan Aly tidak mendorong mobil itu, tetapi justru mengangkat mobil tersebut, sehingga bagian yang masuk ke lubang bisa keluar. Perjalanan bisa dilanjutkan dan menyisakan keheranan di hati Aji.

Begitulah sedikit ulasan tentang karomah Sang Wali Cukir, Mursyid Terekat Qodiriyah wa Naqsabadiyah itu. Masih banyak karomah dan cerita unik tentang kiai yg juga semasa hidupnya memiliki sejumlah usaha di bidang perdagangan dan pertanian itu.

Semoga bermanfaat.
Wallahu a’lam.

*Disarikan dari buku “Karomah Sang Wali, Biografi KH. Adlan Aly” karya Anang Firdaus, diterbitkan Pustaka Tebuireng

"Karomah Mbah Yai Adlan Aly Tak Tersentuh Air Hujan"

“Hanya Ngaji Taqrib Saja!”
Itulah jawaban singkat Kikai Adlan Aly saat diwawancarai oleh peneliti dari Leknas dan UGM. Sewaktu diajukan pertanyaan, “ngaji apa kepada hadlratusy syekh ?” Padahal, siapapun tahu, selain hafal al-qur’an alim berbagai khazanah disiplin keilmuan.Tentunya, sang peneliti dibuat bingung bukan alang kepalang, lantaran tak sebagaimana lainnya yang cenderung justru memamerkan kepintarannya saat diminta pendapatnya.

Itulah, sesisi potret Yai Adlan. Selalu menyembunyikan kelebihan dirinya di hadapan orang lain. Senantiasa menganggap dirinya “biasa biasa” saja, tak ubahnya yang lainnya. Menyebut dirinya al- haqir dan al-dhaif tak jemu jemunya ditunjukkan kepada publik. Pernah mendengar Yai Adlan bertaushiyah ? Acapkali sekedar berdoa, narasi dan tutur katanya lebih panjang hanya saat menjadi qari’ Taqrib setiap ramadhan di serambi masjid pesantren Tebuireng.

Dan, hujan-pun turun begitu derasnya di langit Tebuireng. Entah alasan apa yang mendorongnya mesti bergegas kembali ke dalemnya di Tjoekir selepas membaca Taqrib pada khataman kitab ramadha-an di serambi masjid pesantren Tebuireng.Tak menunggu hujan reda. Sebagaimana kebiasaannya, Yai Adlan selalu berjalan kaki Tjoekir-Tebuireng. Masya Allah, saya di antara saksinya, sekujur tubuh Yai Adlan tak tersentuh oleh air hujan. Seolah hujan itu menghindarinya.

Lazimnya, memanglah setiap bacaan Taqrib sampai kepada bagian shalat istisqa’, kendati bukan musim hujan, tiba tiba langit berselimut mendung dan tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Dan, kejadian itu berulang di setiap tahunnya. Bisa dimengerti, bila lahir biografi Yai Adlan dalam kemasan “Karomah dan Waliyullah”.

"Bensin Ajaib Mbah adlan"

Usai Rejoso, pusat terekat Qodiriyah dan Naqsabandiah di Jombang, berpindah ke Cukir. Perkembangan itu berpusat di Pesantren Putri Walisongo yang didirikan oleh seorang kiai kharismatik dan alim, yaitu KH. Adlan Aly.

Santri sekaligus menantu keponakan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari itu juga dikenal sebagai kiai ahli Al Quran, banyak kiai dan ulama yang pernah belajar kepada kiai asal Maskumambang Gresik itu.

Sebagai mana ahli terekat dan mursyid, KH. Adlan Aly memiliki banyak karomah yang khariqul ‘adah (tidak biasa). Salah satunya, beberapa kali ditunjukkan ketika beliau sedang melakukan perjanan.

Suatu ketika selesai acara di daerah Jawa Tengah, Kiai Adlan langsung pulang, padahal saat itu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Tiba-tiba di tengah jalan, mobil (mobil H Faqih penjual sate jombang) itu kehabisan bensin. Praktis, sang sopir (ma'mun putra pak tohir) khawatir, karena pada jam selarut itu, tidak ada yang berjualan bensin eceran, sedangkan kondisinya jauh dari SPBU. Sang sopir lapor kepada Kiai Adlan,

“Mbah Yai, bensinnya habis. Lalu beli di mana? Kalau sudah jam sekian, tidak ada penjual bensin yang buka, Yai”.

Mendengar itu, Kiai Adlan pun keluar dari mobil dan berjalan kaki. Di jalan beliau menemukan pedagang degan (kelapa muda). Lalu beliau membeli dua plastik, yang satu diberikan sopir untuk diminum, sedangkan satunya ditaruh di dekat mesin mobil. Setelah itu, Kiai Adlan berkata,

“Ya sudah, ayo naik”.

Tak disangka, ternyata bensin mobil itu menjadi full. Perjalanan dapat dilanjutkan dan sampai di rumah dengan selamat.

Sumber:
buku “Karomah Sang Wali, Biografi KH. Adlan Aly” karya Anang Firdaus, diterbitkan Pustaka Tebuireng,

"Kyai Adlan Aly Tak Pernah Melihat Langit"

Sosok kiai yang sabar dan istiqamah ini sangat terkenang betul di benak para santri. Ketika mereka ditanya tentang “Bagaimana sosok Kiai Adlan menurut Panjenengan?” maka berbagai komentar yang hampir tak serupa senantiasa kami dengar. Ada yang menuturkan, "Beliau itu kiai yang tidak hanya hafal isi al-Quran tetapi juga menjalankannya”, “Kiai Adlan adalah kuncinya Kiai Hamid Pasuruan. Jadi kalau ingin mudah bertemu dengan Kiai Hamid harus sowan dulu ke Kiai Adlan.”
.
Bahkan Prof. Dr. KH. Thalhah Hasan menambahkan; “Di Tebuireng itu ada dua penghuni surga: Kiai Idris Kamali dan Kiai Adlan Aly. Beliau berdua sama-sama alim, wara', zuhud…"
.
Ada lagi kesan para santri yang membuat kami terkesan unik, “Kiai Adlan Aly itu kiai yang tidak pernah melihat langit.” Istilah ini menunjukkan saking tawadhu’nya Kiai Adlan. Ketika berjalan tidak pernah mengangkat kepala ke atas. Beliau senantiasa menunduk sopan.
.
Di Tebuireng, setiap bulan Ramadhan, Kiai Adlan membacakan kitab matan at-Taqrib. Tepat di posisi yang dulu digunakan Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari mengajar, Kiai Adlam duduk di sana, sedangkan para santri mengitarinya sebagai halaqah ilmiah. Dalam pengajian ini ada karomah Kiai Adlan yang tampak di setiap tahunnya. Ketika pembahasan tepat pada bab Istisqa’ (ritual memohon hujan), anehnya langit Tebuireng menjadi gelap. Dan tiba-tiba saja, bulan Ramadhan yang biasanya kemarau turun hujan deras mengguyur lahan pondok.
.
Langit pun malu oleh Kiai Adlan. Ia tidak pernah dipandang oleh Kiai Adlan. Ketika ia disindir lewat pembacaan bab istisqa’ maka, ia langung menangis menurunkan air mata hujannya.
.
K.H. Adlan Aly wafat pada tanggal 17 Rabiul Awal 1411 H/6 Oktober 1990 M dalam usia 90 tahun. Ulama kharismatik ini kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Tebuireng, Jombang.

"Rahasia Kiai Adlan Aly yang Tidak Mau Pamer Keilmuan"

Tidak salah orang yang pamer kepandaian, pamer kecerdasan, demi kepentingan agama dan kebutuhan masyarakat. Ada kemanfaatan yang lebih besar bahwa jika tidak seperti itu khawatir masyarakat akan salah jalan dan mengikuti orang-orang yang salah petunjuk, lebih-lebih soal agama. Ini soal pertimbangan masing-masing, yang tentu tujuannya harus baik dan mulia.

Di kesempatan lain, ada juga yang tidak suka pamer kepandaian. Ini juga tidak salah. Karena itu pilihan hidup dan bagian dari kehidupan. Berikut saya ceritakan kiai yang tidak suka pamer kepandaian. Saya kutip dari sumber buku kiai nyentrik membela pemerintah yang saya baca ketika di bus perjalanan malang Madura kemarin dan juga media lain.

Sebut saja namanya kiai Adlan Aly Jombang, beliau adalah murid Kiai Hasyim Asy’ari yang sejak dulu memang terkenal dengan kealimannya, ketawaduannya, dari raut wajahnya terpancar penuh ketulusan. Beliau juga senang bergurau yang cerdas, substantif dan halus, humornya tidak menyakiti orang lain.

Beliau juga sosok yang sangat disiplin, tepat waktu, memilki kemampuan yang bisa dikeluarkan kapan saja ketika terdesak. Beliau juga termasuk sosok yang tidak suka pamer kepandaian buktinya:

Pernah suatu ketika ada seorang peneliti dari leknas UGM Yogyakarta datang ke rumah beliau, tentu peneliti itu akan melakukan tugasnya sebagai peneliti, tidak sedang mau bercanda atau apa-apa, iseng-iseng. Tidak.

Memulai pertanyaan, peneliti bertanya, “ngapunten (mohon maaf) kiai, dulu ketika belajar ke Mbah Hasyim Asy’ari apa saja yang panjenengan pelajari ? Tanya seorang peneliti dengan wajah yang serius dan penuh keyakinan

“Cuma kitab taqrib saja” jawab kiai Adlan dengan senyumnya yang menunjukkan kerendahan hatinya.

Nah, tentu saja peneliti itu kaget’, “kok cuma taqrib saja, kan kitab taqrib itu kitab dasar pesantren, kecil lagi” batinnya. Karena tidak yakin dengan kemasyhuran, kealiman, dan kemampuan-kemampuan yang sering diceritakan banyak orang , sang peneliti tanya lagi:

” Masak iya kiai njenengan cuma belajar kitab taqrib saja, apa tidak ada kitab yang lain ?” Tambahnya sambil menunggu jawaban yang pasti dan meyakinkan.

“Ada, banyak juga yang lain yang saya pelajari, cuma yang saya ingat kitab taqrib saja, yang lain sudah lupa,” jawab Kiai Aly dengan sedikit mengelak dan menghindar dari rasa pamer.

Itulah kenapa saya katakan di atas kadang tidak pamer kepandaian itu bagian pilihan hidup. Mereka punya pertimbangan sendiri untuk bisa bermanfaat untuk agama dan bangsa. Tidak terkecuali pilihan yang diambil oleh kiai Adlan Aly ini.

Di beberapa literatur lain, kenapa kiai Adlan Aly cuma ingat kitab taqrib saja. Tidak heran dari beberapa kesaksian santri-santrinya tiap kali ngaji kitab Fathul Qorib-Taqrib dan masuk bab istisqo’ (shalat meminta hujan) ketika sudah dipraktikkan pasti langsung turun hujan, padahal sebelumnya cuaca panas. Dan kejadian terjadi berulang-ulang kali dan langsung disaksikan santri-santrinya.

Karenanya imam Nawawi menyebutkan dalam kitab Maraqil Ubudiyah bahwa dua hal penting yang harus diperhatikan seseorang dalam menunjukkan/memamerkan kepandaian atau apa saja. Satu, Mazdmumun (pamer yang dicela). Hal ini tentu memerkan prestasi bermaksud untuk menyombongkan diri, seolah-olah hanya dirinya lah yang punya prestasi seperti itu. Dan hal ini cenderung meremehkan orang lain dan mendiskreditkan orang lain

Dua, Mahbubun (pamer yang disenangi dan dianjurkan). Memamerkan prestasi, kepandaian atau sebuah kebaikan dan keberhasilan itu justru sangat dianjurkan oleh agama dengan syarat ada kemaslahatan terhadap agama.

Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa yang dimaksud kemaslahatan agama adalah di dalamnya mengandung unsur amar ma’ruf nahi munkar, mengandung nasehat atau petunujuk untuk sebuah kemaslahatan.

"IJAZAH DOA KH. ADLAN ALY UNTUK PARA PENUNTUT ILMU"

Setiap pondok pesantren memiliki sesuatu yg menjadi ciri khas dari pondok pesantrennya masing-masing. Ciri khas ini akan melekat pada diri para santrinya. Berawal dari pendiri sebuah pondok pesantren, pengasuh, dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Begitu pula dalam hal amalan atau wiridan yg diberikan seorang kiai atau ibu nyai pengasuh pondok pesantren secara turun temurun kepada santrinya. Terkadang amalan yg diwariskan oleh Kyai atau Nyai pesantren tersebut merupakan amalan yg diberikan gurunya saat beliau masih menjadi santri di pondok pesantren terdahulu.

Seperti halnya amalan doa yg diberikan oleh muassis Pondok Pesantren Puteri Walisongo pertama, KH. Adlan Aly. Beliau mewariskan amalan berupa doa untuk mencerdaskan akal dan doa untuk menghafal al-Quran.

Doa Mencerdaskan Akal

Doa ini diambil dari QS. al-Anbiyaa ayat 79, dengan mengamalkan doa ini diharapkan dapat mencerdaskan akal orang yg membaca dan mengamalkannya, sebagai berikut:

فَفَهّمْنَهاَ سُلَيْمنُ وَ كُلاًّ اتَيْناَ حُكْماً وَّعِلْماً وَّ سَخَّرْ ناَ مَعَ دَاوُدَ الْجِباَلَ يُسَبِّحْنَ وَألطَّيْر وَ كُنَّأ فَعِلِيْنَ

“Maka Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yg lebih tepat), dan kepada masing2, Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung2 dan burung2, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yg melakukannya.”

Doa ini di lafadzkan sebelum belajar dan setelahnya, bisa juga dibaca setelah sholat Magrib. Diharapkan dengan membaca ayat ini Allah Swt. memberikan pemahaman seperti apa yang Allah Swt. berikan kepada Nabi Sulaiman serta dapat memecahkan problematika kehidupan.

Doa untuk Penghafal Al Quran

Berikutnya adalah doa untuk Penghafal al-Quran. Doa ini dilafadzkan sebelum menghafal ayat al-Quran, diharapkan setelah membaca doa bisa diterangkan hatinya dan dilancarkan lisannya serta dapat mengamalkan kandungan ayat yg dihafalkan.

اَللَّهُمَّ نَوِّرْبِكِتاَبِكَ بَصَرى وَاَطْلِقْ بِهِ لِسَانِى وَاشْرَحْ بِهِ صَدْرِى واسْتَعْمِلْ بِهِ بَدَ نِى بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ فَاِ نَّهُ لاَ حَوْلَ وَ لاَقٌوَّةَ اِلاَّ بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

“Yaa Allah terangilah dgn Kitab Suci-Mu terhadap mataku, lancarkanlah lisanku dgnnya, lapangkanlah dadaku (hatiku) dengannya, jadikan badanku (diriku) mengamalkan isinya dengan pertolongan daya dan kekuatan-Mu. Sesungguhnya tidak ada daya dan  kekuatan kecuali atas pertolongan Allah Swt. Yang Maha Luhur dan Agung”.

Wallahu’alam.....

Tuesday, March 2, 2021

KH. Arwani Amin Kudus yang Jago Kitab

KH. Arwani Amin Kudus yang Jago Kitab

Selama ini jika mendengar nama KH. Arwani Amin Kudus, yang terlintas adalah ulama ahli Qiraat. Atau jika pendengarnya orang-orang sepuh, maka yg terfikir beliau mursyid thariqoh. Jarang sekali yang menilik sisi kealiman KH. Arwani Kudus dalam bidang kitab kuning.

Nah, catatan KH. Abu Chaer bin Abdul Mannan Kaliwungu Kendal ini memberikan sedikit gambaran ttg itu.

KH. Abu Chaer adalah ulama besar asal Kaliwungu Kendal. Masa mudanya beliau habiskan untuk nyantri ke berbagai daerah di Jawa. Mulai dari Kaliwungu daerah asal beliau sendiri, Tebuireng Jombang, hingga Tremas Pacitan. Guru-guru dan kitab-kitab yang beliau pelajari beliau rekam dalam sebuah kitab Minhah Al-Hannan fi Tarjamah Ibn Abdil Mannan (kitab ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Gus Syafiq Cokrow Zastrow Prawirow mohon fotokan cover kitabnya).

Dalam kitab ini, KH. Abu Chaer menjelaskan bahwa pertama kali mondok di Tebuireng Jombang adalah pada bulan Syawal 1345 H. Beliau diterima di kelas V Madrasah Salafiyyah Tebuireng. Saat itu salah satu guru yang mengajar beliau adalah KH. Arwani Amin Kudus.

KH. Abu Chaer mencatat:
الشيخ القارئ أرواني القدسي، يدرسنا متن ألفية ابن مالك، وزبد ابن رسلان، ومتن الكافي في العروض والقوافي لأحمد بن شعيب القنائي، وشيئا من عدة الفارض للشيخ سعيد بن سعد بن نبهان، وشيئا من الجغرافية الحديثة لأحمد محافظ

"(Di antara guru yang mengajar kala itu adalah) KH. Arwani Amin Kudus Al-Qari'. Beliau mengajari saya:
1. Matan Alfiyyah karya Imam Ibni Malik (fan Nahwu dan Shorof).
2. Nadham Zubad karya Imam Ibnu Rulsan (fan Fiqh madzhab Syafi'i).
3. Matan Al Kafi karya Syaikh Ahmad bin Syu'aib Al-Qanna'i (fan Arudl dan Qawafi).
4. Sebagian kitab 'Iddatul Faridl karya Syaikh Said bin Sa'd bin Nabhan (fan Ilmu Waris Islam).
5. Sebagian kitab Al-Jughrafiyyah Al-Haditsah karya Ahmad Muhfidh (fan Geografi Modern)."

Jika lihat kitab-kitab yang KH. Arwani Amin ajarkan saat masih di Tebuireng, kita dapat menyimpulkan bahwa beliau adalah Allamah yang Mutafannin. Tidak hanya pakar dalam ilmu qiraat dan thariqah saja, melainkan juga Nahwu & Shorof, Fiqh, Arudl, Faraidl, dan bahkan mengajarkan Ilmu Geografi Modern juga.

Tambahan informasi dari Yai Aslim Akmal , bahwa KH. Arwani Amin meneruskan wadhifah mengajar kitab Shohih Al-Bukhari dan Tafsir Al-Jalalain di Masjid Menara Kudus pasca kewafatan KHR. Asnawi Kudus pada tahun 1959 M. Wadhifah itu beliau jalankan hingga sebelum sakit berat yg beliau alami.

Semoga Allah menciptakan Mbah Arwani - Mbah Arwani baru dari anak cucu kita. Aamiin.

Monday, November 23, 2020

MANAQIB HADROTUS SYECK ABDULLAH FAQIH LANGITAN"

MANAQIB HADROTUS SYECK ABDULLAH FAQIH LANGITAN"
Copas via WAG
Disampaikan oleh : KH MASBUHIN FAQIH.
Pada saat acara haul KH. ABDULLAH FAQIH yang ke-5 di pondok pesantren Langitan.

Ditulis oleh : Al faqir ila ridhollah wa ridloh masyayikhihi Taufiqurroziqin Tammama.

Alhamdulilĺah kita semua diberi kesempatan bisa datang dalam acara Haul ini semoga dengan menghadiri haul ini kita bisa mendapatkan barokah dan menambah kekuatan rohaniyah antara kita dan guru-guru kita sebab mengalirnya barokah sedikit banyaknya barokah yang kita dapat itu tergantung kuat lemahnya hubungan antara kita dan guru-guru kita walaupun guru-guru kita sudah tiada.
.
Saya di sini diutus menceritakan kepribadian syaikhina wa murobbi ruhina syech abdullah faqih.
.
Saya ini santri bukan kiai selalu berusaha tetap menjaga bagaimana hubungan antara santri dan kiai walaupun kiai sudah tiada.
.
Beliau dalam mentarbiyah santri itu luar biasa khususnya kepada saya pribadi telaten sabar istiqomah.
Pada suatu saat pada tuhun 1976 saya pamit kepada hadrotus syech, sebab pada saat itu ayah mendatarkan saya guru agama lalu saya pamit beliau bertanya "nandi kon mole?" (Kenapa kamu pulang?"
Kemudian Saya mator "duko tiyang sepah kulo kok dafataraken kulo guru agama" (gak tau yai, ini abah saya kok mendatarkan saya ujian guru agama)
.
Beliau dawuh kepada saya "aku gak ridloh nek kapan kon melok ujian guru agama, warahen wong tuamu aku nglarang, seng tekun olehmu ngaji nek wes hasel, nasrul ilmu seng ihlas nek kapan kon gak mangan keto'en drijiku" (aku gak ridloh kalau kamu ikut ujian guru agama, beri tahu orang tuamu aku melarang, yang temun ngaji kalau kamu sudah hasil, nashrul ilmi yang ihlas, kalau besok kamu tak bisa makan potong saja jariku).
.
Itulah dawuh kepada saya, begitu perhatianya dan kasafnya beliau.

"اذا اختلف ابو الروح و ابو الجسد لا بد ان نقدم اباالروح"
"Jika ada perselisihan antara guru dan orang tua maka kita wajib mendahulukan guru"

Oleh karnaya sam'an wa tho'atan saya kepada hadrotus syech, kashaf beliau, jika pada saat itu saya menuruti keinginan ayah saya maka tidak akan ada pondok pesantren "MAMBU'US SHOLIHIN".
.
Lah memang kenyataanya ya seperti itu saya pulang dari pondok sudah punya anak 4 tidak punya pekerjaan  apa-apa ya saya ikut dawuh hadrotus syech yaitu nashrul ilmi, alhadulillah apa yang telah di dawuhkan beliau kepada saya terjadi.
.
Cara mentarbiyah beliau kelada kami luar biasa sabarnya.
.
Pada suatu saat saya dimintai tolong oleh adek saya "Asyfihani" yang mondok di pasuruan, supaya menghantarkan sowan kepada beliau, saya tanya "perlune opo kon sowan ng hadrotus syech?" (Apa perlumu kok mau sowan kapeda hadrotussyech?)
Dia menjawab "iki cak, aku kate jalok jubah.e mbah yai abdul hadi seng nok hadrotussyech" (ini kak, saya mau minta jubahnya mbah yai abdul hadi yang dibawah oleh hadrotussyech).
.
Saat itu saya hantarkan, begitu baru saja duduk dan adek saya belum mator keperluanya beliau sudah dawuh "aku nduwe jubahe bapak 2 tak kekno koen 1, tapi lironono sarunge mbah hamid (pasuruan)" (saya punya jubah ayah 2 saya berikan kepada kamu, tapi kamu ganti dengan sarungnya mbah hamid (pasuruan)).
.
Demikian juga termasuk bagian dari kashafnya beliau, apa yang menjadi keinginan hati adek saya langsung ditebak saya beliau.
.
Beliau dalam mentarbiyah kami bukan hanya saat beliau hidup, bahkan ketika beliau wafatpun beliau juga mentarbiyah kami.
.
Pada suatu saat kami membuat rouha kitab "Shohih bukhori" dan setiap tanggal 1 rojab dan akhir bulan rojab hatam, karena saya terlalu capek usai perjalanan saya tidak ikut.

Ketika malam hari saya langsung ditemui oleh beliau.

Pada saat itu beliau ngaji, dan saya datang terlambat dan sudah selesai lalu beliau marah dan dawuh kepada saya "teko ndi ae hin, awakmu kok kari ngaji karo aku?" (Dari mana saja hin, kamu kok terlambat ngaji bersamaku?"
.
Susahnya luar biasa, saya pikir-pikir apa ya yang saya lakukan sehingga beliau marah kepadaku seperti ini.
.
Kemudian saya berkeyakinan bahwa mungkin karna saya tidak mengikuti rouha bukhori yang saya dirikan.
.
Sudah saya kapok secapek apaupun saya tidak akan meninggalkan rouha itu.
Saat itu saya begitu susah,
.
Dan pada saat itu juga saya di temui lagi, mungkin sebagai pelipur hati, saya di ajak makan-makan bersama keluarga alhamdulillah.
.
Demikian tarbiyah beliau walaupun sudah meninggalkan kita.
.
Beliau sangat luar biasa dalam berpegang teguh pada syariat, tidak bisa ditawar.
.
Pada suatu saat ketika saya menjabat sebagai kepala sekolah di langitan mengadakan acara akhirussnah, kalau tidak salah insya'allah yang menjadi ketua panitia yaitu KH. MAGHFUR BISYRI insya'allah. di acara tersebut setiap tingkatan menampilkan suatu karya seni.
Di acara tersebut tidak terkontrol karna salah satu kelas ada yang menampilkan "Genggongan/Genggong" (semacam alat musik)
.
Langsung pada saat itu beliau marah dan melemparkan bakyak kearah cendela kaca yang ada di madrasah, semua santri dan guru-guru lari tinggal saya berdiri didepan madrasah dan saya hanya bisa menangis, dan pasrah kepada beliau, lalu beliau dawuh "hin nang omah hin" (hin ikut saya kerumah)
.
Lalu beliau dawuh "kiro-kiro bapak kok sek urep ngono awakmu wani nggawe kegiatan ngono?" ( kira-kira kalau abah (mbah yai abdul hadi) masih hidup kamu berani buat acara seperti itu?) Saya tidak menjawab apa-apa, hanya hanya bisa menangis.
.
Lalu beliau dawuh "wes guru-guru kumpulno konkonen mrene kabeh" ( sudah, guru-guru kumpulkan semua, suruh dan kesini)
Jam 12 malam guru-guru sudah bersembunyi kemana, sampai saya kerepotan mencarinya sampai waktu satu jam sudah terkumpul dan sowan beliau lalu beliau dawuh sperti apa yang telah didawuhkan kepada saya, semua guru-guru menangis lalu beliau dawuh "wes saiki moroo kabeh ng pesarean jalu'o sepuro bapak" (sudah, sekarang kamu datang kepemakaman masyayih dan mintalah maaf kepedah abah).
.
Begitulah tarbiyah dari beliau dan masalah hukum tidak bisa ditawar lagi, barang haram ya haram, tidak ada rukhsoh lagi
Ini yang harus kita contoh.
.
Kita ngaji disini bukan sekedar mengabil ilmunya saja, tapi haliyahnya, maqomnya, harus kita tiru.
Sebagaimana sudah nyata beliau insya'allah adalah minaz zahidin (sebagian dari ulama yang zuhud).
Sejak saya mondok sampai sekarang rumahnya ya seperti itu.
لا يلتفت الى الدنيا بالمرة، و قلبه يتوجه الى الله سبحنه و تعلى.
"Tidak menoleh kepada dunia walau hanya sekali, dan hatinya slalu menghadap allah"
.
Di dalam memperjuangakan agama allah
لا يسمع لومة لائم
"Tidak pernah mendengar cacian orang"

Sebab disaat pemilihan bupati di daerah gresik ,lamongan, tuban, dan bojonegoro beliau selalu ikut campur.
Karna beliau slalu menginginkan yang jadi bupati di daerah tersebut adalah orang NU.
.
Pada suatu saat saya manghantarkan pak khuluq sowan minta restu kepada beliau untuk mencalonkan bupati yang pertama kali, sampai beliau memberi kami uang sebesar 50 juta di hadpan kami, subhanallah luar biasa perhatiannya, beliau dawuh "iki luk duwek teko aku, iki nek kapan dadi mok lironi yo alhamdulillah, nek gak yo tak ihlasno awkmu" ( ini luk uang dari saya, kalau kamu jadi kamu ganti ya alhamdulillah, kalau tidak ya saya ihlaskan kepadamu).
Jadi pada umumnya orang yang mendukung calon bupati dia akan mendapatkan uang, tapi beliau malah mengeluarkan uang, walaupun di su'udhoni orang macam-macam, tapi beliau tetap
لا يلتفت الى قول الغير ويستمر في الجهات لاجل وجه الله سبحنه وتعالى.
"Tidak menghiraukan ucapan orang lain, dan meneruskan perjuangan untuk mencari ridloh allah semata"
.
Ini yang benar-benar harus ditiru oleh santri-santri.
.
Dan kita mengambil kesimpulan bahwasanya beliau mempunyai pandangan yang sangat luas sekali, memperjuangkan agama bukan dalam satu bidang saja, tapi beliau berjuang diberbagai bidang yang berbeda-beda.
Beliau aktif istiqomah mentarbiyah para santri dan beliau juga ikut andil dalam memperbesar Nahdlotul Ulama, PKB, PKNU ratusan juta sudah dikeluarkan untuk memperjuangakan kepentingan PKNU.

Saya juga sering terlibat dalam PKB dan PKNU.
Yang terahir beliau dawuh " iki hin terahir, kapan ora biso teros PKNU, iki terahir aku berjuang melalui partai" (ini terahir hin, ini kalau tidak bisa terus, ini adalah yang tarahir perjuanganku melalui partai).
Begitulah hadrotussyech.
.
Pada waktu bulan sya'ban kami mator kepada beliau "romo yai tanah enkang wonten balung panggang meniko, sakderenge dipon bangun pondok, nyuwun dumateng panjengan supados jenengan incak" (romo yai tanah yang ada di balongpanggang itu sebelum dibangun pondok, harap kepada jenengan supaya jenengan injak terlebih dahulu).
Jawaban beliau "iyo, tapi peletakan batu pertama, bah  watu sitok tok gak opo-opo" (iya, tapi saat peletakan batu pertama, walau hanya satu batu saja).
.
Di beri jangka waktu 10 hari, pada hari itu, beliau akan datang ke balungpanggang.
.
Alhamdulillah, beliau bisa datang, dan yang meletakan batu pertama juga beliau.
Kemudian anak-anak saya dikumpulkan, lalu diberi tausia dan yang pokok adalah "tak jalok awakmu-awkmu kabeh seng rukun karo dulur" (saya minta kamu semua, yang rukun antar saudara-saudaramu).

Ternyata terahir beliau bulan syawal beliau sakit kemudian meninggalkan kita semua.

Begutilah perhatian beliau pada para santri.

Sekarang apa balasan kita kepada guru kita?

Jika kita benar-benar ingin berkumpul dengan beliau, apa saja yang beliau lakukan harus kita tiru dan meneruskan perjuangan beliau.
.
Insya'allah kita bisa kumpul dengan beliau.
Amin.

Semoga kita bisa meniru langka-langkanya dan menjadi suri tauladan bagi anak-anak kita nanti dan apa yang kita kerjakan selalu membahagiakan hati beliau.
.
Semoga dengan sedikit cerita ini dapat mengobati rasa rindu kita dan menambah rasa cinta kita kepada beliau.
.
Dan semoga beliau tetap dalam naungan rahmatnya.
.
Amin ya robbal alamin.

Saksikan dan Ikutilah Haul Virtual KH. Abdullah Faqih ke-9
Di Youtube Langitan TV

📅 : Senin, 23 November 2020
⌚ : Pukul 19:30 WIB
🔴 : Live Youtube Langitan TV

➖➖➖➖
#menaralangitan #haulvirtual #haulkhabdullahfaqih #haulmbahyai #pondoklangitan #langitan

Thursday, October 1, 2020

Biografi Gus Baha'

Biografi Gus Baha'

Gus Baha atau KH. Ahmad Bahauddin Nursalim adalah putra Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Alquran di Kragan, Narukan, Rembang. Kiai Nur Salim adalah murid dari Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdullah Salam, Kajen, Pati. Nasabnya bersambung kepada para ulama besar. Bersama Kiai Nur Salim inilah, Gus Miek (KH Hamim Jazuli) memulai gerakan Jantiko (Jamaah Anti Koler) yang menyelenggarakan semaan Al-Qur’an secara keliling.
Jantiko kemudian berganti Mantab (Majelis Nawaitu Topo Broto), lalu berubah jadi Dzikrul Ghafilin. Kadang ketiganya disebut bersamaan: Jantiko-Mantab dan Dzikrul Ghafilin.

Kiai kelahiran bantul 29 September-1970 ini memilih Yogyakarta sebagai tempatnya memulai pengembaraan ilmiahnya. Pada tahun 2003 ia menyewa rumah di Yogya. Kepindahan ini diikuti oleh sejumlah santri yang ingin terus mengaji bersamanya.

PENDIDIKAN

Gus Baha' kecil memulai menempuh gemblengan keilmuan dan hafalan Al-Qur'an di bawah asuhan ayahnya sendiri.

Hingga pada usia yang masih sangat belia, beliau telah mengkhatamkan Al-Qur'an beserta Qiro'ahnya dengan lisensi yang ketat dari ayah beliau. Memang, karakteristik bacaan dari murid-murid Mbah Arwani menerapkan keketatan dalam tajwid dan makhorijul huruf.

Menginjak usia remaja, Kiai Nursalim menitipkan Gus Baha' untuk mondok dan berkhidmat kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang, sekitar 10 km arah timur Narukan.

Di Al Anwar inilah beliau terlihat sangat menonjol dalam fan-fan ilmu Syari'at seperti Fiqih, Hadits dan Tafsir.

Hal ini terbukti dari beberapa amanat prestisius keilmiahan yang diemban oleh beliau selama mondok di Al Anwar, seperti Rois Fathul Mu'in dan Ketua Ma'arif di jajaran kepengurusan Pesantren Al Anwar.

Saat mondok di Al Anwar ini pula beliau mengkhatamkan hafalan Shohih Muslim lengkap dengan matan, rowi dan sanadnya. Selain Shohih Muslim beliau juga mengkhatamkan hafalan kitab Fathul Mu'in dan kitab-kitab gramatika arab seperti 'Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik.

Menurut sebuah riwayat, dari sekian banyak hafalan beliau tersebut menjadikan beliau sebagai santri pertama Al Anwar yang memegang rekor hafalan terbanyak di era beliau.

Bahkan tiap-tiap musyawarah yang akan beliau ikuti akan serta merta ditolak oleh kawan-kawannya, sebab beliau dianggap tidak berada pada level santri pada umumnya karena kedalaman ilmu, keluasan wawasan dan banyaknya hafalan beliau.

Selain menonjol dengan keilmuannya, beliau juga sosok santri yang dekat dengan kiainya. Dalam berbagai kesempatan, beliau sering mendampingi guru beliau Syaikhina Maimoen Zubair untuk berbagai keperluan. Mulai dari sekedar berbincang santai, hingga urusan mencari ta'bir dan menerima tamu-tamu ulama'-ulama' besar yang berkunjung ke Al Anwar. Hingga beliau dijuluki sebagai santri kesayangan Syaikhina Maimoen Zubair.

Pernah pada suatu ketika beliau dipanggil untuk mencarikan ta'bir tentang suatu persoalan oleh Syaikhina. Karena saking cepatnya ta'bir itu ditemukan tanpa membuka dahulu referensi kitab yang dimaksud, hingga Syaikhina pun terharu dan ngendikan "Iyo ha'... Koe pancen cerdas tenan" (Iya ha'... Kamu memang benar-benar cerdas).

Selain itu Gus Baha' juga kerap dijadikan contoh teladan oleh Syaikhina saat memberikan mawa'izh di berbagai kesempatan tentang profil santri ideal. "Santri tenan iku yo koyo baha' iku...." (Santri yang sebenarnya itu ya seperti baha' itu....) begitu kurang lebih ngendikan Syaikhina.

Dalam riwayat pendidikan beliau, semenjak kecil hingga beliau mengasuh pesantren warisan ayahnya sekarang, beliau hanya mengenyam pendidikan dari 2 pesantren, yakni pesantren ayahnya sendiri di desa Narukan dan PP. Al Anwar Karangmangu, Rembang.

Pernah suatu ketika ayahnya menawarkan kepada beliau untuk mondok di Rushoifah atau Yaman. Namun beliau lebih memilih untuk tetap di Indonesia, berkhidmat kepada almamaternya Madrasah Ghozaliyah Syafi'iyyah PP. Al Anwar dan pesantrennya sendiri LP3IA.

Pernikahan

Setelah menyelesaikan pengembaraan ilmiahnya di Sarang,beliau menikah dengan seorang Neng pilihan pamannya dari keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Ada cerita menarik sehubungan dengan pernikahan beliau. Diriwayatkan, setelah acara lamaran selesai, beliau menemui calon mertuanya dan mengutarakan sesuatu yang menjadi kenangan beliau hingga kini. Beliau mengutarakan bahwa kehidupan beliau bukanlah model kehidupan yang glamor, bahkan sangat sederhana.

Beliau berusaha meyakinkan calon mertuanya untuk berfikir ulang atas rencana pernikahan tersebut.
Tentu maksud beliau agar mertuanya tidak kecewa di kemudian hari. Mertuanya hanya tersenyum dan menyatakan "klop" alias sami mawon kalih kulo.

Kesederhanaan beliau ini dibuktikan saat beliau berangkat keSidogiri untuk melangsungkan upacara akad nikah yang telah ditentukan waktunya. Beliau berangkat sendiri ke Pasuruan dengan menumpang bus regular alias bus biasa kelas ekonomi. Berangkat dari Pandangan menuju Surabaya, selanjutnya disambung bus kedua menuju Pasuruan. Kesederhanaan beliau bukanlah sebuah kebetulan, namun merupakan hasil didikan ayahnya semenjak kecil.

Keakhlakannya

Beliau hidup sederhana bukan karena keluarga beliau miskin. Dari silslah keluarga beliau dari pihak ibu, atau lebih tepatnya lingkungan keluarga di mana beliau diasuh semenjak kecil, tiada satu keluargapun yang miskin.

Bahkan kakek beliau dari jalur ibu merupakan juragan tanah di desanya. Saat dikonfirmasi oleh penulis perihal kesederhanaan beliau, beliau menyatakan bahwa hal tersebut merupakan karakter keluarga Qur'an yang dipegang erat sejak zaman leluhurnya.

Bahkan salah satu wasiat dari ayahnya adalah agar beliau menghindari keinginan untuk menjadi 'manusia mulia' dari pandangan keumuman makhluk atau lingkungannya. Hal inilah yang hingga kini mewarnai kepribadian dan kehidupan beliau sehari-hari.

Setelah menikah beliau mencoba hidup mandiri dengan keluarga barunya. Beliau menetap di Yogyakarta sejak 2003. Selama di Yogya, beliau menyewa rumah untuk ditempati keluarga kecil beliau, berpindah dari satu lokasi kelokasi lain. Semenjak beliau hijrah ke Yogyakarta, banyak santri-santri beliau di Karangmangu yang merasa kehilangan induknya.

Hingga pada akhirnya mereka menyusul beliau ke Yogya dan urunan atau patungan untuk menyewa rumah di dekat rumah beliau. Tiada tujuan lain selain untuk tetap bisa mengaji kepada beliau.

Ada sekitar 5 atau 7 santri mutakhorijin Al Anwar maupun MGS yang ikut beliau ke Yogya saat itu. Saat di Yogya inilah kemudian banyak masyarakat sekitar beliau yang akhirnya minta ikut ngaji kepada beliau.

Pada tahun 2005 ayah beliau KH. Nursalim jatuh sakit. Beliau pulang sementara waktu untuk ikut merawat ayah beliau bersama keempat saudaranya.

Namun siapa sangka, beberapa bulan kemudian Kiai Nursalim wafat. Gus Baha' tidak dapat lagi meneruskan perjuangannya di Yogya sebab beliau diamanahi oleh ayah beliau untuk melanjutkan tongkat estafet kepengasuhan di LP3IA Narukan.

Banyak yang merasa kehilangan atas kepulangan beliau ke Narukan. Akhirnya para santri beliaupun, sowan dan meminta beliau kerso kembali ke Yogya.

Hingga pada gilirannya beliau bersedia namun hanya satu bulan sekali, dan itu berjalan hingga kini. Selain mengasuh pengajian, beliau juga mengabdikan dirinya di Lembaga Tafsir Al-Qur'an Universitas Islam Indonesa (UII) Yogyakarta.

Keilmuannya

Selain Yogyakarta beliau juga diminta untuk mengasuh PengajianTafsir Al-Qur'an di Bojonegoro, Jawa Timur. Di Yogya minggu terakhir, sedangkan di Bojonegoro minggu kedua setiap bulannya.

Hal ini beliau jalani secara rutin sejak 2006 hingga kini. Di UII beliau adalah Ketua Tim Lajnah Mushaf UII.

Timnya terdiri dari para Profesor, Doktor dan ahli-ahli Al-Qur'an dari seantero Indonesia seperti Prof. Dr. Quraisy Syihab, Prof. Zaini Dahlan, Prof. Shohib dan para anggota Dewan Tafsir Nasional yang lain.

Suatu kali beliau ditawari gelar Doctor Honoris Causa dari UII, namun beliau tidak berkenan. Dalam jagat Tafsir Al-Qur'an di Indonesia beliau termasuk pendatang baru dan satu-satunya dari jajaran Dewan Tafsir Nasional yang berlatar belakang pendidikan non formal dan non gelar.

Meski demikian, kealiman dan penguasaan keilmuan beliau sangat diakui oleh para ahli tafsir nasional.

Hingga pada suatu kesempatan pernah diungkapkan oleh Prof. Quraisy bahwa kedudukan beliau di Dewan Tafsir Nasional selain sebagai Mufassir, juga sebagai Mufassir Faqih karena penguasaan beliau pada ayat-ayat ahkam yang terkandung dalam Al-Qur'an. Setiap kali lajnah 'menggarap' tafsir dan Mushaf Al-Qur'an,

Posisi beliau selalu di dua keahlian, yakni sebagai Mufassir seperti anggota lajnah yang lain, juga sebagai Faqihul Qur'an yang mempunyai tugas khusus mengurai kandungan fiqh dalam ayat-ayat ahkam Al-Qur'an.

Gus Baha muda waliyullah hebat di indonesia (krn menguasai al'Qur'an banyak hafal hadist dan kitab dan yg terhebat ke piawaan nya dlm menyampaikan dan menerangkan agama bisa dimengerti oleh semua lapisan masyarakat islam dan tidak terbantahkan

Selamat Ulang Tahun, K.H. Bahaudin Nursalim (Gus Baha).

Sehat selalu dalam menebar Islam yang ramah, indah, mudah sekaligus menyenangkan.

Walahualam...

Al-fatihah.........

Wednesday, September 30, 2020

RISET KIAI WAHAB DAN FENOMENA PONDOK DAN SANTRI HILANG

RISET KIAI WAHAB DAN FENOMENA PONDOK DAN SANTRI HILANG

Kiai Wahab Chasbullah melakukan riset tentang santri dalam kurun 40 tahun terakhir dari tahun dilakukannya riset (1887-1927). Riset  lapangan ini dilakukan sekitar tahun 1926-1927. Area riset adalah kota Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto dan Jombang. Hasil risetnya menunjukkan grafik menurun jumlah santri yang totalnya turun menjadi 3.993.

Tentu riset ini menarik, zaman segitu jaringan NU baru dibentuk tapi sudah melakukan riset relatif  detail di area yang luas serta dengan data ditampilkan apa adanya. Paparan data riset Kiai Wahab juga bisa diambil beberapa poin-poin  menarik:

1. Pada tahun 1926 (lihat  data riset di  bagian  akhir tulisan ini) pesantren Tebuireng jumlah santrinya sudah ratusan (300 murid). Dalam waktu tidak lama yakni semenjak KH. Hasyim Asy'ari memimpin NU ada kenaikan signifikan jumlah santri Tebuireng. Data dari riset penjajah Jepang pada tahun 1942 menunjukkan bahwa alumni santri pondok Tebuireng yang berdiri tahun 1899 ini telah menyebar di Nusantara sebanyak 20 ribuan santri (pendataan oleh Jepang ini saya nukil dari buku karya Akarhanaf alias KH. Abdul Karim bin KH Hasyim Asy'ari dalam karyanya  "Kiai Hasjim Asj'ari, Bapak Ummat Islam Indonesia"). Lonjakan kenaikan santrinya begitu luar biasa dahsyat.

2. Pondok  Gedang atau ngGedang (tempat kelahiran Hadlaratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari) masih dalam nukilan buku karya Akarhanaf dijelaskan bahwa ngGedang seabad lalu disebut pondok terkenal dan  saat itu hanya pondok itu satu satunya yang boleh dibanggakan.

Penjelasan Akarhanaf di buku yang beliau tulis pada tahun 1959 ini bersesuaian dengan riset Mbah Kiai Wahab bahwa sebelum tahun 1926-1927,  pondok Gedang (lebih tepatnya namanya ngGedang nJobo seperti yang juga ditulis di buku sejarah Tambakberas) santrinya berjumlah 500. Tapi saat riset  dilakukan, jumlahnya tinggal 5 santri setelah wafatnya KH. Usman (menantu pendiri pondok Tambakberas dan mertua KH. Asy'ari).

3. Alkisah sisa santri yang  ada di Gedang diboyong  ke Pondok Tambakeras (jarak lokasi pondok Gedang dengan Pondok Tambakberas sekitar 200 meter, hanya dipisah sungai Tambakberas yang pas di timur rumah saya. Sungai Tambakberas ini  mempunyai nilai historis karena terdapat kisah perang Ranggalawe yang  menurut beberapa masyarakat Tambakberas terjadi di sungai itu, bahkan di makam Mbah Kiai Usman juga ada makam yang menurut kisah adalah makam istri Ranggalawe).

4. Ternyata di Tambakberas pada tahun 1926/1927 sudah banyak  pondok kecil. Ada pondok Tambakberas Kiai Chasbullah, pondok Tambakberas Kiai Syafii, pondok Tambakberas Kiai Baidhowi,  pondok Tambakberas Kiai  Abdur Rauf, dan Tambakberas Kiai Imam. Sayang sampai sekarang jejak pondok atau musholla  banyak tidak diketahui.

Demikian pula di Denanyar ada pondok Denanyar Kiai Bisri dan  pondok Denanyar Kiai Thoyyib. Adapun Rejoso yang tercatat pondok Rejoso Kiai Syafawi.

5. Berangkat dari riset KH. Wahab, proyek madrasah Mubdil Fan yang didirikan Mbah Wahab pada tahun 1912 di Tambakberas nampaknya vakum lama (kisah bagaimana Mbah Wahab mendirikan madrasah lalu dilempari batu bata oleh Mbah Kiai Chasbullah bisa dibaca di Buku Tambakberas). Apalagi beliau lebih banyak di Surabaya  pada  dan pada tahun 1914/1916 mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan di Surabaya. Sekalipun pernah vakum, hingga tahun riset dilakukan namanya kadang disebut madrasah mubdil fan kadang disebut madrasah Tambakberas.

6. Dalam buku karya Ali Yahya "Sama Tapi Berbeda" dijelaskan bahwa  di  Tebuireng dikenal ada Madrasah Nizamiyyah yang didirikan pada tahun 1935 oleh  KH. Wahid Hasyim atas restu KH. Hasyim Asy'ari. Nampaknya madrasah ini adalah pengembangan dan inovasi  lanjut dari madrasah di Tebuireng yang telah ada. Di situs Tebuireng online dijelaskan pada tahun 1916, KH. Ma’shum Ali, menantu pertama KH. Hasyim Asyari mengenalkan sistem klasikal (madrasah).

Dalam riset Mbah Wahab,  jumlah murid di madrasah Tebuireng adalah 350, sedang jumlah santri di pondok Tebuireng adalah 300. Perbedaan jumlah ini menunjukkan saat itu sudah ada kesadaran masyarakat sekitar untuk menyekolahkan anaknya ke madrasah, sekaligus menunjukkan yang namanya santri kalong sudah ada sejak dahulu.
****

Di bawah ini adalah data riset Mbah Kiai Wahab atas pondok, kiai, madrasah dengan fluktuasi  jumlah santri di area Jombang. Dalam rentang waktu 1887-1927, jumlah santri di Jombang dari total  2.450 menurun menjadi 1.607.

1. Brangkal (Bandar Kedungmulyo, pen.) dulu muridnya 150 sekarang kosong dan rusak.
2. Balungrejo (Sumobito, pen.) dulu tidak ada murid, sekarang muridnya 60.
3. Rejoso Kiai Syafawi dulu  muridnya sejumlah 120, sekarang 10.
4. Wonokoyo (Mayangan Jogoroto, pen.) dulu muridnya 50, sekarang tinggal 7.
5. Ploso Peterongan Pondok Kaleh (mungkin yang dimaksud Ploso Kerep Sumobito karena berbatasan dengan Rejoso Peterongan, pen.) dulu muridnya sebanyak 60, sekarang 15.
6. Gayam (Mojowarno, pen.) dulu muridnya 50, sekarang 15.
7. Ngasem (Jombok, Ngoro, pen.) Kiai Ahmadi dulu muridnya kosong, sekarang 50.
8. Sukotirto (Badang Ngoro, pen.) dulu muridnya 20, sekarang 10.
9. Keras Kiai Asy'ari dulu muridnya  berjumlah 70, sekarang 15.
10. Seblak (Kwaron Diwek, pen.) dulu muridnya kosong, sekarang 30.
11. Tebuireng Kiai Hasyim Asy'ari dulu muridnya  kosong sekarang 300.
12. Paculgowang dulu 25, sekarang 15.
13. Kwaringan (Ngoro, pen.) dulu  kosong, sekarang 15.
14. Watugaluh (Diwek, pen.) Kiai Qasim dulu 50, sekarang kosong.
15. Bandung Wetan dan Kulon (Diwek, pen.) dulu 50, sekarang 20.
16. Kencong Kyai Nur Daim dulu berjumlah 100, sekarang 40.
17. Mojo Songo Kiai Muridan dulu muridnya 200, sekarang rusak bangunannya.
18. Sambong dulu 150, sekarang 3.
19. Denanyar Kiai Thoyyib dulu 40, sekarang rusak.
20. Denanyar Kiai Bisri, dulu tidak ada muridnya, sekarang 40.
21. Semelo dulu 80 sekarang 90.
22. Jambu kiai Subki dulu 50, sekarang kosong.
23. Ploso Gerang Kiai Moh Arif,  dulu 50, sekarang 20.
24. Dempok Kiai Syamsuddin dulu muridnya 100, sekarang kosong rusak.
25. Melik dulu 50, sekarang kosong rusak.
26. Kapas, dulu muridnya  60, sekarang kosong.
27. Banggle dulu muridnya 50, sekarang rusak.
28. Padar (Ngoro) dulu muridnya sebanyak 50, sekarang rusak.
29. Nglungu kiai Abdur Rauf dulu muridnya  100, sekarang rusak.
30. Gedang nJero Kiai Nushah dulu muridnya  70, sekarang pondok dan masjidnya rusak.
31. Gedang nJobo kiai Guru Usman dulu muridnya 500, sekarang tinggal 5.
32. Karang Asem Lor dulu 50, sekarang kosong tinggal langgar.
33. Tambakberas Kiai Chasbullah dulu muridnya 50, sekarang 90.
34. Tambakberas Kiai Syafii dulu muridnya 40, sekarang 2.
35. Tambakberas Kiai Baidhowi dulu 40, sekarang rusak.
36. Tambakberas Kiai  Abdur Rauf dulu tidak ada murid, sekarang 10.
37. Tambakberas Kiai Imam dulu tidak ada, sekarang 20.
38. Madrasah Mojo Agung dulu tidak ada, sekarang 150.
39. Madrasah Kalak dulu tidak ada, sekarang 80.
40. Madrasah Ploso Peterongan dulu tidak ada, sekarang 40.
41. Madrasah Belimbing, dulu kosong sekarang 50.
42. Madrasah Tebuireng dulu tidak ada, sekarang 350.
43. Madrasah Tambakberas dulu tidak ada, sekarang 75.
44. Madrasah Denanyar dulu tidak ada, sekarang 125.
45. Madrasah Kapas dulu tidak ada, sekarang 50.
46. Madrasah Melik dulu tidak ada, sekarang 30.
47. Madrasah Kauman Ler, dulu kosong sekarang sudah bubar.
48. Madrasah Pengulun, dulu kosong sekarang bubar.
*****

Terima kasih kepada Mas Arif yang telah memberikan data majalah NU berhuruf Pegon  tentang riset Mbah Wahab. Terima kasih pula kepada Gok Din, pendekar Ya Latif  sebagai orang lapangan di Jombang yang ikut membantu "ngiro-ngiro" nama desa  yang ada di Jombang pada tulisan pegon yang kabur. Tentu  kepada istri saya yang juga ikut memperkirakan tulisan yang kabur.

Monday, March 9, 2020

Kisah KH. Abdul Karim Ditempatkan Di Desa Lirboyo

Cerita ini dituturkan oleh KH. M. Abd. Aziz Manshur dalam peringatan satu abad Ponpes Lirboyo.

Satu abad yang lalu, tanah Lirboyo masih merupakan tanah rimbun, bersemak dan belum berpenghuni. Disitulah hadhratal mukarrom KH. Abdul karim ditempatkan oleh mertuanya, KH. Sholeh Banjarmelati sebagai orang yang kelak akan mendidik dan mengajar sebuah pesantren besar dengan nama Pondok Pesantren Lirboyo.

Berawal dari Tebuireng, ketika itu Kyai Manab (Nama KH. Abdul Karim sebelum beliau berangkat haji) masih berada di pondoknya Hadratussyaikh KH. Hasyim As’yari. Beliau ditawari oleh KH. Hasyim As’yari ketika KH. Sholeh Banjarmelati datang berkunjung ke Tebuireng untuk mencarikan jodoh putrinya, Kyai Manab dipanggil oleh Kyai Hasyim, “Celukno kyai Manab” (Panggilkan Kyai Manab). Beliau ditawari oleh Kyai Hasyim, “Kyai Manab niki onten tiang golek mantu. Sampeyan ajenge kulo jodoake,” (Kyai Manab, ini ada orang cari menantu. Anda akan saya jodohkan) “Nggih”. Beliau hanya menjawab dengan sepatah kata saja yang membuktikan amat patuhnya beliau.

Singkat cerita, setelah beliau Kyai Manab diambil menantu oleh KH. Sholeh selama satu tahun dan telah memiliki seorang putri, Nyai Hannah (Ibunda dari KH. Ibrahim A. Hafidz), Ketika itu pula, beliau sudah memiliki dua orang santri yang ikut mengaji di Banjarmelati, KH. Sholeh berencana menempatkan Kyai Manab di tempat lain. Persisnya di Lirboyo.

Pada mulanya, KH. Abdul Karim hanya dibuatkan sebuah “gubuk” di Lirboyo. Empat pilarnya hanya diambilkan dari batang pohon lamtoro. Dinding dan atapnyapun amat sederhana, hanya terbuat dari daun kelapa. Itupun hanya sampai setengah badan. Kemudian setelah “gubuk” tersebut berdiri sekitar satu minggu, tiba-tiba pada suatu pagi KH. Sholeh dawuh kepada Kyai Manab, “Kyai Manab, monggo nderek kulo” (Kyai Manab, ayo ikut saya.)

Kyai Manab hanya menjawab dengan sepatah kata, “Nggeh” (Ya)

KH. Sholeh mengajak serta dua santri Kyai Manab untuk turut serta menemani Kyai Manab untuk bermukim di Lirboyo. Kedua santri tersebut disuruh membawakan perbekalan Kyai Manab yang hanya berupa seekor ayam jago, tikar, dan beras satu ceting. Hanya itu kira-kira yang turut dibawa.

Menaiki sebuah dokar, perjalanan dari Banjarmelati menuju Lirboyo ditempuh. Sesampainya di Lirboyo, rombongan diajak masuk ke sebuah kebun. Kira-kira sekarang tempat itu adalah ndalem Ibu Nyai Hj. Qomariyyah.

Kyai Manab kemudian diajak masuk “gubuk” tadi oleh KH. Sholeh. KH. Sholeh menyuruh santri yang ikut untuk menata perbekalan Kyai Manab yang dibawakan.

Kene santri, klosone beberen. Pitike cencangen neng cagak kono. Berase dekek kene.” (Sini! Gelar tikarnya, ikat ayamnya di pilar sebelah sana, berasnya diletakkan disebelah sini.)

Setelah beberapa saat berbincang-bincang, KH. Sholeh dawuh  “Kyai Manab, ting mriki panggenan sampeyan.” (Kyai Manab, disinilah tempatmu.) Kyai Manab lagi-lagi hanya menjawab, “Nggeh

KH. Sholehpun kemudian pergi. Sebelum pergi, beliau berpesan kepada kedua santri Kyai Manab, “Wes ngko kyaimu nek butuh dhahar, iki berase masakne. Dene nek butuh bumbu-bumbu kono nggoleko ning kebon. Ngko nek kapan butuh, yo tukuo ‘nyo’ tak tak tinggali duit.” (Sudah. Nanti kalau kyaimu butuh makan, beras ini masaklah. Kalau memang membutuhkan, belilah. Ini saya tinggali uang.)

Kira-kira satu minggu kemudian, KH. Sholeh datang menengok dan mengunjungi Kyai Manab. Beliau amat terkejut, ternyata setelah satu minggu beras satu ceting yang beliau tinggalkan untuk Kyai Manab masih utuh tak berkurang sedikitpun. Santri yang menemani Kyai Manab tadipun dimarahi oleh KH. Sholeh,

Lho, pie to gak mbok liwetno, gak mbok masakno!” (Lho! Bagaimana ini? Kok tidak kamu nanakkan nasi? Tidak kamu masakkan?)

Santri tersebutpun tidak dapat menjawab apapun. “Kyai mboten ngantos dawuh kapurih masak aken.” (Kyai Manab tidak pernah memrintahkan kami untuk memasakkan beliau.) katanya.

Lha opo sing mbok pangan?” (Lantas apa yang dimakan Kyai Manab?) Tanya KH. Sholeh kemudian.

Namung dhahar godhong-godhongan meniko.” (Hanya makan dedaunan yang tumbuh) jawab santri tersebut.

 

Dari situlah awal mula Pondok Pesantren Lirboyo berdiri. Dengan muassisnya yang benar-benar tawakkal kepada Allah SWT.

KH. M. Abdul Aziz Manshur pernah menuturkan, “Jadi, berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo bukan didukung dengan harta yang banyak. Bukan! Bukan didukung dengan tahta yang tinggi. Bukan! Tapi hanya didukung dengan tawakkal ‘alallâh. Yakin. Mbah Kyai Abdul Karim ditempatkan digubuk yang hanya begitu saja, beliau selalu sumendhe. Pasrah kepada Allah SWT.” []

Thursday, February 27, 2020

Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, Kiai Romly Tamim, dan Kiai Mustain Romly

Kiai Romly Tamim (wafat 1958) adalah ulama ahli ilmu tauhid dan fikih. Guru beliau, yakni Kiai Kholil Bangkalan (wafat 1925),  memintanya untuk meneruskan belajar di Pesantren Tebuireng dalam asuhan Hadratussyekh Hasyim Asy'ari (wafat 1947). Di Pesantren Tebuireng, Kiai Romly menjadi lurah pondok, dan kemudian diambil menantu.  Pada sekitar tahun 1930-an, Kiai Romly Tamim kembali pulang  ke Pesantren Rejoso yang didirikan ayahandanya, Kiai Tamim Irsyad (wafat 1930), pada 1885, untuk membina pesantren yang kemudian pada 1933 oleh masukan KH Dahlan Kholil (wafat 1958) dinamakan Pesantren Darul Ulum.  Di pesantren yang berhaluan Ahlussunah wal Jamaah dengan mengikuti mazhab empat ini, Kiai Romly Tamim diikuti oleh para muridnya dari Tebuireng, empat puluh santri senior. Beragam, ada yang dari Jawa Tengah hingga Jawa Barat.  Keikutsertaan para santri senior itu karena sangat sayangnya Kiai Hasyim Asy'ari kepada Kiai Romly Tamim, sehingga saat akan  boyongan ke Rejoso, Kiai Hasyim memerintahkan 40  orang alumni senior supaya ikut ke Rejoso untuk meramaikan pondok Darul Ulum. Di antara alumni senior itu ada Gus Kholik, Gus Khozin Sidoarjo, Gus Manshur Tanggulangin, dan lainnya. Setelah kedatangan Kiai Romly Tamim itu di Pesantren Rejoso kemudian dikenal dua kiai beda spesialisasi. Kiai Romly dikenal sebagai Kiai Rejoso, yang alim bidang akidah dan fikih. Sementara itu Kiai Kholil (wafat 1937), yang merupakan menantu Kiai Tamim Irsyad, dikenal dengan kiai thariqah.  Kiai Tamim Irsyad mengambil menantu Kiai Kholil, dengan dinikahkan dengan Nyai Fatimah, kakak dari Kiai Romly Tamim.  Sejak kiprah Kiai Kholil inilah Pesantren Rejoso memiliki babak baru, yaitu pengajian thariqah Qodiriyah wan Naqsyabandiyah.  Satu tahun sebelum kewafatannya, Kiai Kholil berharap dan mengajak agar Kiai Romly bersedia masuk thariqah. Ketika itu Kiai Romly belum berkenan. Beliau menunggu perkenan gurunya, yakni Hadratus Syekh, berupa izin dan istikharahnya. Hasilnya, Hadratussyekh menyetujui agar Kiai Romly menerima ajakan Kiai Kholil untuk memimpin thariqah di Pesantren Rejoso. Perkenan dan kepedulian Kiai Hasyim Asy'ari atas TQN di bawah pimpinan Kiai Romly Tamim diiringi dengan pesan Hadratussyekh agar murid-murid TQN ditingkatkan pendidikan keagamaan, terutama ilmu fikih serta agar mengamalkan Ya Allah Ya Qodim. Kiai Romly Tamim terkenal sebagai penyusun Istighosah, sebagaimana maklum kita baca dari istighasah yang dikenal masyarakat Nahdliyin bahkan Muslim Nusantara.  Jika kita gambarkan bahwa masa rintisan Thariqah Qodiriyah wan Naqsyabandiyah (TQN), di Rejoso dimulai oleh Kiai Kholil, maka pada periode Kiai Romly Tamim, adalah masa kegemilangan TQN hingga menjadi pusat thariqah di Jawa, atau setidaknya di Jawa Timur.  Kurang lebih tiga bulan menjelang kewafatan Kiai Romly Tamim, dalam pertemuan-pertemuan beliau mengemukakan bahwa thariqah akan menjadi besar dan memasyarakat apabila dipimpin oleh putranya.  Ketika Kiai Romly Tamim sakit, beliau memerintahkan dua muridnya yaitu Kiai Muhammad dan Kiai Makshum Jakfar, Porong untuk mencari Kiai Mustain Romly. Setelah datang, dengan mantap Kiai Romly Tamim mengijazah baiat Kiai Mustain Romly, berikut ini:   أجزتك وألبستك خرقة الصوفية أجازة مبايعة مطلقة   Aku berikan ijazah kepadamu dan aku berikan pakaian sufi dengan ijazah mutlak kepadamu. Kemudian dijawab oleh Kiai Mustain Romly:   قبلت اجازتكم  Aku terima ijazah Panjenengan Setelah Kiai Romly Tamim wafat, Kiai Mustain Romly menjadi muryid thariqah dengan meneruskan baiat ke khalifah-khalifahnya Kiai Romly Tamim.  Setelah Kiai Mustain mendapatkan ijazah irsyad dari ayahandanya, yaitu Kiai Romly Tamim, Kiai Utsman Al-Ishaqi kemudian mentarbiyah Kiai Mustain Romly dalam  thariqah, sebagai capaian kesempurnaan kemursyidan. Jika pada masa Kiai Romly Tamim, TQN dikenal luas oleh masyarakat pesantren, maka pada masa Kiai Mustain Romly, thariqah dikenal luas di berbagai kalangan. Kiai Mustain wafat pada 1985 dengan meninggalkan kepemimpinan kharismatik di Pesantren Darul Ulum, kampus Universitas Darul Ulum, dan jamaah thariqah Qodiriyah wan Naqsyabandiyah. Penulis: Yusuf Suharto  Editor: Abdullah Alawi

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/115930/hadratussyekh-hasyim-asy-ari--kiai-romly-tamim--dan-kiai-mustain-romly

Monday, January 13, 2020

KH ABDUL KARIM TEBUWUNG DUKUN GRESIK

KH ABDUL KARIM TEBUWUNG DUKUN GRESIK

KH. Abdul Karim Tebuwung (lahir di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Senin Wage 11 Syawal 1245 H (5 April 1830), meninggal di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Selasa Legi, 28 Dzulhijah 1313 H (9 Juni 1896) pada umur 66 tahun, dimakamkan di Tebuwung, Dukun, Gresik) adalah salah seorang ulama kharismatik keturunan Sunan Drajat yg merupakan pendiri Pondok Pesantren Tebuwung Dukun Gresik yg sekarang dikenal Pondok Pesantren Al-Karimi. Masa kecilnya bernama Raden Karmadin.

Keluarga

Ayahnya bernama Kyai Abdul Qohar (Raden Kair) merupakan anggota Laskar Pangeran Diponegoro yg ditugaskan di Sumenep pada masa pemerintahan Sultan Abdur Rahman Pakunatadiningrat I .  KH. Abdul Karim adalah putra kedua dari 2 bersaudara. Ibunya bernama Sawilah. Kakaknya bernama : Raden Ayu Muqiroh.

Berdasarkan silsilah KH. Abdul Karim adalah keturunan Sunan Drajat dgn Ratnayu Condrosekar, puteri kediri. Sunan Drajat dgn Ratnayu Condrosekar memilki tiga anak, yaitu : Raden Arif, Raden Ishaq, dan Raden Sidiq. Dari Raden Sidiq menunkan KH. Abdul Karim.

Silsilah beliau adalah Abdul Karim bin Abdul Qoh-har bin Darus bin Qinan bin Ali Mas’udi bin Ahmad Rifa’i bin Bisyri bin Ahmad Dahlan bin Muhammad Ali bin Abdul Hamid bin Shiddiq bin Sunan Drajat (R.Qosim) bin Sunan Ampel (R. Rahmatullah) bin Ibrahim Asmaraqondi bin Jamaludin al-Akbar bin Ahmad Syâh Jalâlul Amir bin S. Abdullâh Khân bin S. Abdul Malik Azmat

Beliau menikah dgn istri pertama Mas Amirah keturunan dari Jaka Tingkir dan dhn istri kedua Nyai Khodijah

KH. Abdul Karim dikaruniai anak sebelas, yaitu :

Dari istri pertama :

Fathimah, meninggal diusia balita
KH Muhammad (Ahmad Zahid) Tebuwung
KH. Ishaq Surabaya
Nyai Maimunah Ujung Pangkah
Nyai Shofiyah Sidayu
Nyai Atiqoh Mentaras

Dari istri yang kedua

KH. Musthofa
Nyai Alimah
Nyai Muthiah
Nyai Zainab
KH. Murtadlo

Pendidikan

Dalam usia 2 tahun ayahanda beliau tercinta wafat. Nyai Syawilah kemudian dinikahi Kiai Asnawi, adik dari Kiai Abdul Qahar dan hijrah ke Kauman Sidayu Gresik. Kiai Asnawi mendidik anak tirinya dan sekaligus keponakan ini penuh dengan kesabaran dan penuh cinta kasih. Apalagi beliau tidak dianugerahi anak. Dilihat dari nur yg ada di dahi Karmadin ada tanda2 untuk menjadi waliyullah seperti datuk beliau, Sunan Drajat dan Sunan Ampel.

Kiai Asnawi mengajari mulai dari kecil untuk salat berjemaah dan memperbanyak puasa. Kiai Asnawi memegang ilmu kesunandrajatan dari ayah beliau, Kiai Qinan. Karmadin pun disiapkan mulai sejak dini untuk menjadi waliyullah dan ulama. Dikenalkan bagaimana riyadhah nyirih, mutih, ngebeleng, pati geni, polopendem dan lain2. Agar Karmadin tidak terlalu manja dan bisa bergaul, Kiai Asnawi menyuruh mengaji ke Kiai Mustahal Sidayu, yg masih keturunan Jaka Tingkir.

Di sini beliau konon bertemu dgn Abdul Jabar Maskumambang. Setelah dikira cukup, kiai Asnawi menganjurkan belajar ilmu kewalian kepada Mbah Suto (kiai Maulani) di Sendang Duwur Paciran. Mulai dari pesantren inilah Karmadin riyadhah puasa makan Karak (nasih basi yang dikeringkan). Karak dimasukkan ketupat lalu digantung, dibuka sedikit, ditarik ketika buka puasa sehingga hanya makan sesuai dengan keluarnya. Keluar 3 dimakan 3, keluar 4 dimakan 4 dan seterusnya

Mbah Suto yg makrifatullah, melihat potensi batin yg ada dalam diri Karmadin. Beliaupun mengetes kehebatan Karmadin. Semua santri dikumpulkan. “ Wahai para santriku semua berendamlah di dalam sendang (sungai) ini. Barangsiapa yg kuat berendam paling lama, akan saya doakan agar dia dan keturunannya menjadi ulama yg agung dan memiliki keturunan yg banyak, “ kata Mbah Suto di malam hari.

Para santri berendam semua. Ada yg bertahan 5 menit. Ada yg bertahan 10. Sambil berdzikir, berdoa dan memandang ke sungai, Mbah Suto melihat satu persatu santrinya. Setelah sekian lama dan dicek, Karmadin belum keluar dari air. Mbah Suto dgn keilmuan mengangkat Karmadin dari dalam air dan dalam keadaan sehat wal afiat. Beliau kemudian mendoakannya dan menurunkan ilmu kewalian kepada Karmadin. Setelah dirasakan cukup khidmah di pesantren Mbah Suto, Karmadin berkelana belajar ilmu makrifat ke  Tayu Pati.

Kendati ilmu syariat dan makrifatullah yg sudah dipelajari dan diamalkan sudah banyak,  rasa haus dan hirah akan ilmu syariat dan makrifat mendorongnya untuk memuntut ilmu ke tanah Hijaz. Perjalanan dari Nusantara menuju Jedah berlangsung selama berbulan2. Setelah menjalankan ibadah haji, Karmadin berganti nama Abdul Karim dan tidak langsung pulang ke tanah air. Abdul Karim tinggal di komunitas orang2 Jawi (Jâwiyyîn) atau perkampungan yg dikenal dgn sebutan  “Pemukim Jawah” (Bilâd al-Jâwah). Sebutan jawah atau jawi ini tidak selalu merujuk pada orang2 dari pulau Jawa, namun juga pada orangw dari Nusantara bahkan Asia Tenggara.

Dalam hal lain kita juga mengenal huruf jawi atau arab pegon, suatu modifikasi aksara Arab untuk menuliskan bahasa lokal yg dikembangkan komunitas ini. Koloni Jawi ini termasuk yg terbesar dari semua bangsa yg berada di Makkah. Setiap jemaah haji yg sudah sampai di sana berubah setelah berhaji, ingin menimba ilmu kepada syekh2 di Makkah.

Guru-guru

Guru-guru KH. Abdul Karim Tebuwung antara lain:

Syekh Ahmad Khatib asy-Syambasi
Syekh Ahmad Zaini Dahlan
Syekh Abdul Ghani al-Bimawi
Syekh Yusuf Sumbulaweni
Syekh Abdul Hamid Daghestani
Syekh Sayyid Ahmad Nahrawi
Syekh Ahmad Dimyati
Syekh Muhammad Khatib Duma al-Hambali
Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki
Dan lain sebagainya

Sedangkan teman2 beliau semasa menimba ilmu di Makkah, antara lain:

Syekh Nawawi al-Bantani
Syekh muhammad bin Abdullah as-Sukahimi
Syekh Muhammad Shaleh Darat
Syekh Ahmad Khothib bin Abdul Lathif al-Minangkabau
Sayyid Utsaman bin Yahya Betawi
Syekh Kholil bin Abdul Lathif, Bangkalan
Syekh Abu Bakar Syatho
dan lain2.

Perjuangan

Setelah beberapa tahun lamanya di kota makkah beliau pulang ke kota Sidayu. Tidak lama kemudian menikah dgn Nyai Mas Amirah binti Raden Cokromenggolo. Di Sidayu bersama istri tercinta, berdakwah sambil berdagang hingga dikenal sbg pedagang sukses.

Kedua pasangan ini dikarunia Allah SWT, putri cantik yg bernama Fathimah. Saking cintanya kepada putrinya, Fathimah diberi perhiasan emas yg banyak untuk dijadikan gelang, kalung dan cincin hingga kemudian musibah terjadi, Fathimah dimutilasi oleh pembantunya sendiri, dgn cara disembelih dan semua perhiasan diambil.

Dari peristiwa ini Nyai Mas Amirah berwasiat agar keturunannya  tidak memakai perhiasan yg berlebihan. Semakin lama KH. Abdul Karim dan Nyai Mas Amirah semakin dikenal orang. Kemasyurahannya bukan hanya lantaran guru agama dan pedagang yg berhasil, melainkan dikenal juga sebagai tokoh muda ahli agama yg arif dan bijaksana serta disegani, baik oleh penduduk maupun pemerintah belanda. Pemerintah Belanda bermaksud mengangkat beliau menjadi qodhi di kadipaten Sidayu, namum beliau menolak dgn halus . Pada saat itu, Sidayu di Pimpin Kanjeng Sepuh Sedayu (Raden Adipati Aria Soeryo adiningrat (Bupati Sidayu 1817-1855).

Pada tahun 1862 Pak Utsman (Warjo) Kepala desa Tebuwung, Dukun Gresik  tengah mencari seorang ulama’ yg sanggup membina masyarakatnya serta mau tinggal di desanya.  Pak Utsman masih sepupu Nyai Mas Amirah. Ibu Nyai Mas Amirah berasal dari Tebuwung. Pak Utsman kemudian bermusyawarah dgn Nyai Mas Amirah  dan KH. Abdul Karim. Mereka semua kemudian menghadap ke Kanjeng Sepuh Sidayu.

KH Abdul Karim diperintahkan untuk membina masyarakat Tebuwung dan sekitarnya yg pada saat itu mengikuti agama kapitayan, Hindu dan Budha. Dalam rangka melakukan puja bakti kepada sanghyang Tunggal, penganut kapitayan menyediakan sesaji berupa Tum-peng, Tu-mpi (kue dari tepung), Tu-mbu (keranjang persegi dari anyaman bambu untuk tempat bunga), Tu-ak (arak), Tu-kung (sejenis ayam) untuk dipersembahkan kepada sanghyang Tu-nggal yg daya gaib-Nya tersembunyi pada segala sesuatu yg diyakini memiliki kekuatan gaib, Tu-ngkup, Tu-nda, wa-tu, Tu-gu, Tu-nggak, Tu-k, Tu-ban, Tu-rumbukan.

KH Abdul Karim meninggalkan kota Sidayu menuju Desa Tebuwung. Anak2nya perempuannya semua diajak, selain kedua putra beliau, Muhammad Zahid dan Ishaq masih menuntut ilmu di Makkah. Mengingat beratnya tantangan di desa Tebuwung, kedua putra beliau dianjurkan untuk pulang untuk membantu perjuangan. KH. Abdul Karim, Nyai Mas Amirah, putra-putri beliau semua riyadhoh puasa mutih, patigeni, ngebeleng dan lain2.

Dalam suatu malam KH. Abdul Karim melihat ada sinar di Pemakaman di Suban Tebuwung. Beliau kemudian bermunajat dan berdoa. Beliau diberi petunjuk Allah bahwa yg ada sinarnya itu adalah makam Nyai Syarifah (Nyai Ayu), adik Sunan Kalijaga, Istri Sunan Ngudung, ibunda Sunan Kudus.

Saat itu orang meninggal di Tebuwung tidak dikubur, tapi dibuang ke dalam gua. Di dekat Gua itu tempat penyembahan masyarakat Tebuwung, Sedangkan di Tengah2 desa menjadi tempat lokalisasi. KH. Abdul Karim sekeluarga dan dibantu Pak Utsam sekeluarga kemudian mendirikan masjid di dekat Maqom Nyai Syarifah, + 1 km dari pesantren. Di masjid yg baru ini masyarakat Tebuwung yg sudah masuk Islam diajak oleh KH. Abdul Karim untuk membaca Maulid Nabi (asroqolan), mendzikir Jailaniyyah ( Dulkadiran), baca wirdul lathif dan lain2.

Pak Utsaman dan sekeluarga kemudian menyerahkan lahan untuk pendirian Pesantren Tebuwung. KH. Abdul Karim kemudian menikahkan Muhammad Zahid dgn Fathimah yg masih keturunan Sulthan Abdurrahman Pakunatadingrat dan Bindarasaod Sumenep Madura Dakwah beliau kemudian diterima masyarakat sekeling Tebuwung, dan kemudian berdatanganlah para santri dari Gresik, Surabaya, Madura, Banten, dan lain2.
Diantaranya KH. Munawwar, Sidayu. Setiap malam jumat wage, masyarakat Tebuwung diajak membikin apem dan sesudah maghrib diajak istighotsah yg berpindah2, dari rumah ke rumah. Setiap tahun diadakan Haul Nyai Syarifah.

Pernah di Tebuwung di landa Pacekelik yg memprihatinkan sehigga terjadi kelaparan, baik para santri atau masyarakat. Kondisi ini membuat prihatin Nyai Mas Amirah. Putri saudagar kain ini, memintak ridho suami untuk kembali berdagang garmen. Untuk itu, Nyai Mas Amirah menyuruh suaminya untuk menikahi temannya, Khodijah. Permintaannya pun dikabulkan. Bisnis garmen Nyai Mas Amirah membawa keuntungan yg luar biasa sehingga beliau dikenal sebagai orang terkaya di kadipaten Sidayu. Hasil keuntungan digunakan untuk menopang Pesantren dan Perjuangan melawan kolonial Belanda.

KH. Abdul Karim dikenal sebagai ahli Hikmah yg kramat, kitab Syamsul Ma’arif dan kitab hikmah lain dikuasasi dengan baik. Sehingga Pesantren Tebuwung dikenal sebagai Pusat ilmu Hikmah. Pada hari Selasa legi 27 Dzul Hijjah 1313/ 9 Juni 1896, KH. Abdul Karim Wafat dan digantikan putra beliau KH. Muhammad Zahid (1896-1913 M)

Amaliyah

Diantara amaliyah yang dijalankan KH. Abdul Karim dalam membangun Pesantren dan Masyarakat, antara lain :

1. Shalat Berjemaah
2. Baca Jailaniyyah (Yasin, Waqih, al_mulk, dll) setiap ba’da maghrib dan waktu hajat
3. Baca wirdhul lathif, bakda subuh dan wirid lain hingga terbit matahari
4. Baca ayat lima dan ayat tujuh setiap hari
5. Wirid Nurun Nubuwat
6. Baca Maulid Nabi setiap Malam Jum’at
7. Baca Burdah Malam selasa
8. Mengajarkan keluarganya dan Masyarakat untuk puasa nyirih 41 hari dan ditutup malam hari raya idul adha
9. Mencintai ahlul bait dan ahlul ilmu
10. Mengasuh Anak Yatim
11. Mengelilingi kampung-kampung untuk mendoakan mereka agar diberi hidayah
12. Menziarah makam para wali dan ulama
13. Menanggalkan segala gelar keradenan dan tidak sombong karena keturunan Sunan Drajat
14. Menanggalkan segala gelar keradenan
15. Dan lain-lain

Kiprah Keturunan

Keturunan KH. Abdul Karim banyak berdakwah melalui pesantren, antara lain:

Pesantren al-Karimi, Tebuwung Dukun Gresik, diasuh oleh KH. Abdul Muhsi keturunan KH. Murtadho
Pesantren Al-Muniroh, Ujung Pangakah diasuh oleh keturunan Nyai Maimunan binti Abdul Karim
Pesantren Tarbiyatut Tholabah Kranji diasuh oleh keturunan KH. Musthofa
Pesantren Qomarudin Bungah,  di asuh oleh KH. Iklil dari jalur KH. Musthofa
Pesantren al-Amin, Tunggul diasuh oleh KH. Abdul Fattah, dari jalur KH. Musthofa
Pesantren Al-Hidayah, Tarik Krian Sidoarjo, di asuh oleh KH. Muhammad Taufiq, keturunan  KH. Muhammad Zahid
Pesantren al-Islah, Rengel Tuban, diasuh oleh KH. Muhammad Ishomuddin, keturunan  KH. Muhammad Zahid
Pesantren Sunan Drajat al-Qosimiyyah, Parung, Bogor, diasuh oleh KH. Muhamad Munawwir al-Qosimi, keturunan  KH. Muhammad Zahid
Dan lain2.

Referensi
1. "KH. Abdul Karim Tebuwung". Diakses tanggal 28 Agustus 2019.
2. Sejarah Sunan Drajat. Surabaya: Tim Peneliti dan Penyusunan Buku Sejarah Sunan Drajat. 1998. hlm. 143.
3. A. Steenbrink, Karel (1984). Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19. Jakarta: Bulan Bintang. hlm. 246.
4. Zaini Dahlan, Ahmad (2017). Catatan Pemikiran Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan Tentang Wahabisme. Jakarta: Wali Pustaka. hlm. 10.
5. "MASJID KANJENG SEPUH". Diakses tanggal 28 Agustus 2019.
6. Sunyoto, Agus (2011). Wali Songo Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan. Tangerang: Transpustaka. hlm. 12.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Abdul_Karim_Tebuwung