Showing posts with label haji. Show all posts
Showing posts with label haji. Show all posts

Sunday, February 26, 2023

KEUTAMAAN UMRAH

KEUTAMAAN UMRAH

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R. Rozikin, Dosen di Universitas Brawijaya)

Umrah memiliki sejumlah keutamaan. Di antaranya,

PERTAMA, berumrah berarti melaksanakan perintah Allah.

Allah memerintahkan untuk menyempurnakan haji dan umrah. Jika orang berumrah, berarti dia melaksanakan perintah ini. Sebuah kebahagiaan yang tidak terkira jika seorang hamba berhasil memasukkan dirinya ke dalam barisan hamba-hamba Allah yang menaatiNya saat diperintah olehNya. Sebab dengan begitu dia menegaskan dirinya sebagai hamba yang perilakunya seperti malaikat-malaikatNya di langit sana yang taat bersujud kepada Adam saat Allah memerintahkannya. Juga membedakan dirinya dengan Iblis yang menolak perintah Allah tersebut. Dengan kata lain, berumrah bermakna berupaya memasukkan diri ke level ubudiyyah sejati, yakni berusaha menjadi hamba Allah yang sesungguhnya dengan menaati salah satu perintahNya di antara perintah-perintah lainnya. Allah berfirman,

﴿‌وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ﴾ [البقرة: 196]

Artinya,
“Sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah” (Q.S. al-Baqarah: 196)

KEDUA: berumrah adalah tanda mendapatkan taufiq

Makna taufiq adalah bantuan dari Allah untuk melakukan ketaatan. Tidak semua orang yang tahu sebuah amal saleh lalu punya kekuatan untuk melakukannya. Alangkah banyaknya orang yang tahu salat lima waktu itu amal saleh, tapi masih malas untuk melakukannya. Alangkah banyaknya orang yang tahu bersedekah itu amal baik, tapi dia masih dikuasai rasa pelit untuk mengeluarkan hartanya. Alangkah banyaknya orang yang tahu bahwa jujur itu sifat yang dicintai Allah, tapi dia sering kalah oleh hawa nafsunya sehingga memilih berbohong demi meraih kepentingan-kepentingan duniawinya. Dan seterusnya .

Demikian pula dalam hal umrah.

Barangkali banyak orang tahu umrah adalah kewajiban atau hal makruf, tapi tidak semua orang sanggup menyegerakan untuk melakukannya. Padahal sebenarnya badannya sehat dan punya harta. Tetapi dia mungkin lebih memprioritaskan membeli mobil yang bagus, membeli properti untuk investasi, berpelesir ke destinasi wisata luar negeri atau prioritas-prioritas duniawi yang lain. Jadi, jika seorang hamba berhasil mengalahkan hawa nafsunya, lalu memprioritaskan umrah berarti dia telah mendapatkan taufiq dari Allah dan tidak terhalangi untuk mendapatkan kebaikan yang banyak. Abū Ya’lā meriwayatkan,

«عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَفَعَهُ: " إِنَّ اللَّهُ يَقُولُ: وَإِنَّ عَبْدًا أَصْحَحْتُ لَهُ جِسْمَهُ وَأَوْسَعْتُ عَلَيْهِ فِي الْمَعِيشَةِ تَمْضِي عَلَيْهِ خَمْسَةُ أَعْوَامٍ لا يَفِدُ إِلَيَّ إِلا مَحْرُومًا "». «المقصد العلي في زوائد أبي يعلى الموصلي» (2/ 246)
Artinya,

“Dari Abū Sa‘īd dan beliau merafa’kannya, “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Sungguh, seorang hamba yang Aku buat sehat badannya, Aku buat lapang rezekinya, lalu berlalu 5 tahun tidak datang kepadaKU (untuk berhaji atau berumrah) melainkan dia terhalangi-mendapatkan kebaikan- (al-Maqṣad al-‘Alī, juz 2 hlm 246)

KETIGA: Berumrah itu menghilangkan kemiskinan.

Hadis sahih menegaskan bahwa umrah dan haji itu bisa menyingkirkan kemiskinan. Jadi orang yang menggunakan hartanya untuk berumrah tidak usah khawatir miskin atau bangkrut. Sebab ada jaminan dari Nabi ﷺ bahwa umrah termasuk ibadah yang malah menghilangkan kemiskinan. Mirip sedekah yang tidak akan mengurangi harta, tetapi justru malah akan memperbanyak dan membuatnya berkah. Al-Tirmiżī meriwayatkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تَابِعُوا ‌بَيْنَ ‌الحَجِّ ‌وَالعُمْرَةِ، فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ ‌الفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الكِيرُ خَبَثَ الحَدِيدِ، وَالذَّهَبِ، وَالفِضَّةِ، وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ المَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلَّا الجَنَّةُ». «سنن الترمذي» (3/ 166 ت شاكر)

Artinya,

“Dari Abdullah bin Mas'ud berkata: Rasulullah ﷺ  bersabda: "Lakukanlah haji dan umrah dalam waktu yang berdekatan, karena keduanya dapat menghilangkan kemiskinan dan menghapus dosa sebagaimana ububan menghilangkan karat besi, emas dan perak. Tidak ada balasan haji mabrur kecuali surga." (H.R. al-Tirmiżī)

Riwayat senada juga tercantum dalam al-Mu‘jam al-Ausaṭ, kompilasi al-Ṭabarānī,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «‌أَدِيمُوا ‌الْحَجَّ ‌وَالْعُمْرَةَ، فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذَّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ». «المعجم الأوسط للطبراني» (4/ 139)

Artinya,

“Dari Ibnu ‘Abbās beliau berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Lakukan terus menerus haji dan umrah karena keduanya menyingkirkan kemiskinan dan dosa sebagaimana ububan menyingkirkan kotoran besi” (al-Mu‘jam al-Kabīr, juz 4 hlm 139)

KEEMPAT, berumrah bermakna menjadi tamu Allah yang penting

Seorang  tamu sudah semestinya akan dimuliakan. Apalagi tamu penting. Akomodasinya dijamin, kebutuhannya dipenuhi, dihindarkan dari segala yang tidak nyaman  dan semua hal bentuk memuliakan yang lain. Orang yang berumrah atau berhaji disebut Rasulullah ﷺ sebagai wadfullāh. Ini menunjukkan mereka adalah tamu istimewa Allah, bukan sekedar ḍuyūf yang bermakna tamu biasa.  Jadi, berumrah itu bermakna akan dimuliakan Allah. Al-Nasā‘ī meriwayatkan,

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَفْدُ اللهِ ثَلَاثَةٌ: الْغَازِي، ‌وَالْحَاجُّ، ‌وَالْمُعْتَمِرُ». «سنن النسائي» (5/ 113)
Artinya,

“Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Tamu penting Allah itu ada 3, ‘orang yang berperang, orang yang haji dan orang yang berumrah” (H.R. al-Nasā’ī)

Riwayat senada ada juga dalam Sunan Ibnu Mājah sebagai berikut,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الْغَازِي فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَالْحَاجُّ ‌وَالْمُعْتَمِرُ، ‌وَفْدُ ‌اللَّهِ، ». «سنن ابن ماجه» (2/ 966 ت عبد الباقي)
Artinya,

“Dari Ibnu 'Umar radliallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ , beliau bersabda: "Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang mengerjakan ibadah haji dan umrah adalah para delegasi Allah. Allah memanggil mereka dan mereka menjawab panggilan-Nya. Mereka meminta kepada Allah, maka Dia memberikan permintaan mereka." (H.R. Ibnu Mājah)

Riwayat lain dalam Sunan Ibnu Mājah redaksinya sebagai berikut,

«عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَنَّهُ قَالَ: "‌الْحُجَّاجُ ‌وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللَّهِ، ». «سنن ابن ماجه» (4/ 139 ت الأرنؤوط)
Artinya,

“Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ , sesungguhnya beliau bersabda: "Orang-orang yang haji dan orang-orang yang pergi 'umrah adalah tamu penting Allah." (H.R. Ibnu Mājah)

KELIMA, orang yang berumrah itu doanya mustajab

Sebagai konsekuensi bahwa orang berumrah atau berhaji itu tamu penting Allah, maka jika mereka berdoa, sudah pasti Allah akan mengabulkan. Seperti saat kita memuliakan seorang tamu penting, lalu beliau butuh sesuatu seperti sabun, cermin, air minum, selimut hangat dan semisalnya maka kita akan bersegera memenuhinya. Ibnu Mājah meriwayatkan,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الْغَازِي فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَالْحَاجُّ ‌وَالْمُعْتَمِرُ، ‌وَفْدُ ‌اللَّهِ، دَعَاهُمْ، فَأَجَابُوهُ، وَسَأَلُوهُ، فَأَعْطَاهُمْ». «سنن ابن ماجه» (2/ 966 ت عبد الباقي)
Artinya,

“Dari Ibnu 'Umar radliallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ , beliau bersabda: "Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang mengerjakan ibadah haji dan umrah adalah para delegasi Allah. Allah memanggil mereka dan mereka menjawab panggilan-Nya. Mereka meminta kepada Allah, maka Dia memberikan permintaan mereka." (H.R. Ibnu Mājah)

Redaksi lain dalam Sunan Ibnu Mājah berbunyi sebagai berikut,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَنَّهُ قَالَ: "‌الْحُجَّاجُ ‌وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللَّهِ، إِنْ دَعَوْهُ أَجَابَهُمْ، وَإِنْ اسْتَغْفَرُوهُ غَفَرَ لَهُمْ"». «سنن ابن ماجه» (4/ 139 ت الأرنؤوط)
Artinya,

“Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ , sesungguhnya beliau bersabda: "Orang-orang yang haji dan orang-orang yang pergi 'umrah adalah tamu penting Allah, jika mereka berdo'a kepada-Nya, niscaya Ia akan mengabulkan mereka, dan jika mereka meminta ampun, niscaya Ia akan mengampuni mereka." (H.R. Ibnu Mājah)

KEENAM, diberi pahala sesuai kadar capek dan kadar nafkah

Orang berumrah sudah tentu mengeluarkan uang untuk biaya akomodasi dll. Semakin jauh negeri asalnya maka semakin besar biayanya. Semakin letih dan capek pula memenuhi panggilan Allah ke tanah suci itu. Nah semua biaya yang dikeluarkan orang yang berumrah dan segala letih yang dirasakannya itu ternyata semua terbayarkan. Karena Allah akan memberi pahala sesuai kadar nafkah dan kadar letihnya. Muslim meriwayatkan,

عَنْ ‌أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ: « قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، يَصْدُرُ النَّاسُ بِنُسُكَيْنِ وَأَصْدُرُ بِنُسُكٍ وَاحِدٍ. قَالَ: انْتَظِرِي، فَإِذَا طَهُرْتِ، فَاخْرُجِي إِلَى التَّنْعِيمِ، فَأَهِلِّي مِنْهُ، ثُمَّ الْقَيْنَا عِنْدَ كَذَا وَكَذَا (قَالَ: أَظُنُّهُ قَالَ: غَدًا) وَلَكِنَّهَا عَلَى ‌قَدْرِ ‌نَصَبِكِ أَوْ (قَالَ:) نَفَقَتِكِ ». «صحيح مسلم» (4/ 32 ط التركية)
Artinya,

“Dari Ummul mukminin ia berkata: Saya berkata: "Wahai Rasulullah, orang-orang menunaikan dua ibadah sementara saya hanya satu ibadah." Beliau bersabda: "Jika kamu telah suci, maka keluarlah ke Tan'im dan berihramlah (untuk umrah), kemudian temuilah kami di tempat ini dan ini -saya menduga bahwa beliau mengatakan- esok hari, tetapi pahala umrahmu itu  sesuai dengan kadar keletihanmu -atau beliau berkata- (sesuai kadar) nafkahmu.” (H.R. Muslim)

Riwayat senada ada dalam al-Mustadrak dengan redaksi sebagai berikut,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا فِي عُمْرَتِهَا: «إِنَّمَا أَجْرُكِ ‌فِي ‌عُمْرَتِكِ ‌عَلَى ‌قَدْرِ نَفَقَتِكِ». «المستدرك على الصحيحين للحاكم - ط العلمية» (1/ 644)
Artinya,

“Dari Aisyah r.a. bahwasanya Nabi ﷺ bersabda kepadanya terkait umrahnya, ‘Pahalamu dalam umrahmu itu sesuai kadar nafkahmu” (H.R. al-Ḥākim)

KETUJUH, pahalanya setara jihad

Ini kabar gembira luar biasa bagi orang yang berumrah. Ternyata pahala umrah itu tidak main-main. Rasulullah ﷺ menyamakannya dengan jihad. Padahal sudah diketahui pahala jihad yang luar biasa seperti diampuni seluruh dosanya, masuk surga tanpa hisab, berhak memberi syafaat untuk keluarga dll.

Ini adalah bentuk rahmat luar biasa bagi orang yang tidak ikut jihad karena ada uzur semisal sakit, cacat, melaksanakan fardu kifayah yang lebih penting, terkena taklif lain pengganti jihad, masih anak-anak, atau karena dia wanita yang tidak wajib jihad. Hanya dengan berumrah, maka ibadahnya tersebut sudah dihitung seperti jihad. Al-Nasā’ī meriwayatkan,

عَنْ ‌أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «جِهَادُ الْكَبِيرِ وَالصَّغِيرِ وَالضَّعِيفِ ‌وَالْمَرْأَةِ: ‌الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ». «سنن النسائي» (5/ 113)
Artinya,

“Dari Abu Hurairah dari Rasulullah ﷺ , beliau bersabda: "Jihad orang yang sudah tua, anak kecil, orang yang lemah dan seorang wanita adalah melakukan haji dan umrah." (H.R. al-N’sā'ī)

Lebih-lebih wanita. Jihadnya wanita memang umrah dan haji. Ahmad meriwayatkan,

«عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ عَلَى النِّسَاءِ مِنْ جِهَادٍ؟ قَالَ: " نَعَمْ، ‌عَلَيْهِنَّ ‌جِهَادٌ لَا قِتَالَ فِيهِ: الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ». «مسند أحمد» (42/ 198 ط الرسالة)

Artinya,

Dari Aisyah beliau bertanya: "wahai Rasulullah, apakah wanita mempunyai kewajiban jihad? Beliau bersabda: "Ya. Bagi mereka wajib berjihad, tetapi bukan berperang melainkan haji dan umroh." (H.R. Ahmad)

KEDELAPAN, umrah menghapus dosa

Hadis sahih menegaskan bahwa berumrah itu menghapus dosa. Lebih-lebih jika bisa berumrah minimal dua kali saat di tanah suci. Sebab Rasulullah ﷺ mengajarkan antara satu umrah dengan umrah lainnya itu menghapus dosa di antara keduanya. Al-Bukhārī meriwayatkan,

عَنْ ‌أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «‌الْعُمْرَةُ ‌إِلَى ‌الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةَ.». «صحيح البخاري» (3/ 2 ط السلطانية)
Artinya,

“Dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ  bersabda: "Umrah ke 'umrah berikutnya menjadi penghapus dosa antara keduanya dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga." (H.R. al-Bukhārī)

Riwayat Muslim juga menegaskan bahwa orang yang mengunjungi Kakbah baik untuk haji maupun umrah, maka dia akan kembali seperti bayi yang dilahirkan tanpa dosa. Muslim meriwayatkan,

عَنْ ‌أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « ‌مَنْ ‌أَتَى ‌هَذَا ‌الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ ». «صحيح مسلم» (4/ 107 ط التركية)
Artinya,

“Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah ﷺ  bersabda: "Siapa yang mendatangi Baitullah ini (untuk haji atau umrah) tanpa merusaknya dengan perbuatan dan perkataan kotor, serta tidak berbuat maksiat, maka dia kembali pada keadaannya seperti baru lahir (bersih dari dosa)."H.R. Muslim)

KESEMBILAN, mati dalam keadaan  berumrah maka  pahalanya mengalir terus hingga kiamat

Kabar gembira dahsyat lainnya adalah jika orang wafat dalam keadaan berumrah atau berhaji, maka dia akan mendapatkan pahala amal jariyah, yakni mengalir terus pahala umrah atau hajinya sampai hari kiamat. Abū Ya’lā meriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ خَرَجَ حَاجًّا فَمَاتَ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَجْرَ الْحَاجِّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ ‌خَرَجَ ‌مُعْتَمِرًا ‌فَمَاتَ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَجْرَ الْمُعْتَمِرِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ خَرَجَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمَاتَ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَجْرَ الْغَازِي إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ». «مسند أبي يعلى» (11/ 238 ت حسين أسد)
Artinya,

“Dari Abu Hurairah beliau berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Barangsiapa keluar untuk berhaji lalu mati maka Allah akan mencatat pahala orang berhaji sampai hari kiamat. Barangsiapa keluar untuk berumrah lalu mati maka Allah akan mencatat pahala orang berumrah sampai hari kiamat. Barangsiapa keluar untuk berjihad di jalan Allah lalu mati maka Allah akan mencatat pahala orang berjihad sampai hari kiamat” (Musnad Abū Ya’lā juz 11 hlm 238)

اللهم اجعلنا ممن حج البيت واعتمره

#fikihumrah
#fikihumroh

Wednesday, January 25, 2023

KISAH PELECEHAN SEKSUAL SAAT TAWAF DI ZAMAN DULU

KISAH PELECEHAN SEKSUAL SAAT TAWAF  DI ZAMAN DULU

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R. Rozikin, Dosen di Universitas Brawijaya)

Berbuat dosa di tanah suci, apalagi di lingkungan Kakbah itu berbeda dengan tempat lain.

Sama-sama melakukan dosa, jika dilakukan di tempat yang suci, maka dosanya lebih berat.

Demikian beratnya dosa yang dilakukan di sana, sampai-sampai terkadang Allah mempercepat hukuman dosa itu di dunia  agar menjadi ibrah dan pelajaran bagi yang lain.

Ada seorang lelaki di masa lalu yang sedang tawaf.
Tidak sengaja tersingkaplah  lengan seorang wanita yang sedang tawaf juga.

Lengan  itu begitu halus, putih dan  indah hingga seakan-akan berkilauan.

Kemudian secara sengaja dia menempelkan lengannya pada lengan wanita itu untuk berlezat-lezat dengannya. Tiba-tiba Allah membuat lengan mereka melekat terus dan tidak bisa dilepaskan!

Dia menjadi sangat menyesal dan sedih dengan apa yang dilakukannya.

Akhirnya dia mendatangi salah seorang ulama dan meminta fatwa terkait masalah tersebut. Sang ulama memberi saran,

“Kembalikah ke tempat engkau melakukan perbuatan tersebut dan berjanjilah kepada Allah untuk tidak mengulanginya”

Kemudian saran itu dilakukan dan akhirnya terlepaslah dua lengan yang melekat tersebut.

Ibnu Abū al-Dunyā meriwayatkan,

«بَيْنَا رَجُلٌ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ، إِذْ ‌بَرِقَ ‌لَهُ ‌سَاعِدُ امْرَأَةٍ، فَوَضَعَ سَاعِدَهُ عَلَى سَاعِدِهَا يَتَلَذَّذُ، فَلَصَقَتْ بِسَاعِدِهَا، فَأُسْقِطَ فِي يَدَيْهِ، فَأَتَى بَعْضَ أُولَئِكَ الشُّيُوخِ، فَقَالَ: ارْجِعْ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي فَعَلْتَ فِيهِ، فَعَاهِدْ رَبَّ الْبَيْتِ أَلَّا تَعُودَ. فَفَعَلَ، فَخُلِّيَ عَنْهُ "». «العقوبات لابن أبي الدنيا» (ص196)

Artinya,

“Suatu saat ada seorang lelaki yang bertawaf di Kakbah. Tiba-tiba tersingkaplah lengan seorang wanita. Maka lelaki itu meletakkan lengannya pada lengan wanita itu untuk berlezat-lezat dengannya. Maka lengannya langsung melekat pada lengannya. Diapun menyesal sekali. Kemudian dia mendatangi sebagian ulama, maka sang ulama berkata, ‘Kembalikah ke tempat engkau melakukan dosa tersebut  dan berjanjilah kepada pemilik baitullah untuk tidak mengulanginya’. Diapun melakukannya dan akhirnya bebaslah dia” (al-‘Uqūbāt li Ibn Abū al-Dunyā hlm 196)

***
Kisah Isāf (إساف) dan Nā’ilah (نائلة) di zaman jahiliah juga sangat populer terkait prinsip hukuman yang dipercepat jika dosa dilakukan di lingkungan Kakbah. Dua pasangan kekasih berzina di dalam Kakbah! Maka Allah mengubah mereka menjadi batu seketika!

Karena itulah, dalam kitab-kitab fikih dinasihatkan supaya benar-benar sensitif menjaga diri saat di lingkungan Kakbah. Jangan sampai bermaksiat apapun. Sekedar maksiat pandangan sekalipun. Sekali-kali jangan memandang lawan jenis yang sifatnya menikmati. Jangan pula memandang orang lain dengan pandangan mata meremehkan, entah karena fisiknya yang kurang atau karena kejahilannya dalam manasik.

#fikihumrah
#fikihumroh

Friday, July 26, 2019

Bacaan Shalawat Hajjiyyat Agar Dimudahkan Naik Haji

Penulis

 Annisa Nurul Hasanah

 -

26 Juli 2019

0

6892

BincangSyariah.Com – Semua orang Islam pastinya ingin menyempurnakan rukun Islam yang kelima, yakni menunaikan ibadah haji ke baitullah. Oleh sebab itu, banyak cara pun mereka lakukan, baik usaha lahir dengan menabung sebagian rezekinya maupun usaha batin dengan cara berdoa.

Syekh Ahmad Qusyairi di dalam kitab Al-Wasiilah Al-Hariyyah fi Al-Shalawat Ala Khairil Bariyyah telah menuliskan sebuah doa agar dapat menunaikan ibadah haji dalam bentuk shalawat yang disebut dengan shalawat hajjiyyah sebagaimana berikut.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُبَلِّغُنَا بِهَا حَجَّ بَيْتِكَ الْحَرَامِ وَزِيَارَةَ قَبْرِ نَبِيِّكَ عَلَيْهِ أَفْضْلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ فِيْ لُطْفٍ وَعَافِيَةٍ وَسَلَامَةٍ وَبُلُوْغِ الْمَرَامِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهٖ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ.

Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin tuballighunaa bihaa hajja baitikal haraam wa ziyaarata qabri nabiyyika alaihi afdhalus shalaatu was salaamu fi luthfin wa ‘aafiyatin wa salaamatin wa bulughil maraam wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa barik wa sallim.

Ya Allah, limpahkanlah rahmat atas junjungan kami Muhammad dengan berkah shalawat yang dapat menyampaikan kami dengannya untuk berkunjung ke rumah Mu yang mulia dan mengunjungi makam nabi-Mu, atasnya shalawat dan salam yang paling utama dalam kelembutan, sehat, selamat, dan tercapai cita-citanya, serta berkahilah dan salam untuk keluarganya dan sahabat-sahabatnya.

Demikianlah shalawat hajjiyat yang diajarkan oleh imam Ahmad Qusyairi di dalam kitabnya. Shalawat tersebut dapat kita amalkan sebagai bentuk doa atau harapan kita kepada Allah swt. agar dengan izinNya melalui shalawat hajjiyat ini kita dapat menunaikan ibadah haji. Aamiin. Wa Allahu a’lam bis Shawab.

Saturday, December 22, 2018

JANGAN PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH

JANGAN PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH

Ada seorang sholeh yang telah naik haji sebanyak 11 kali. Lalu pada tahun berikutnya beliau mengajak murid beliau untuk berhaji bersama ke Makkah.

Pada saat berhaji, manakala sang guru mengucapkan "Labbaikallahumma Labbaik", sang murid selalu mendengar suara yg menjawab "La Labbaik" (tak ada panggilan untukmu).
Demikian jawaban La labbaik tsb berulang ulang ia dengar setiap sang guru mengucapkan Labbaikallaumma labbaik (aku penuh panggilan ya Allah). Ia mencoba mencari sumber suara, namun tak kunjung berhasil.

Sampai pada suatu hari sang murid tak bisa lagi menahan kesedihannya. Guru yg dia cintai, panutannya, malah mendapat penolakan sendiri dari Allah. Demikian pemahamannya. Maka sang murid pun demam, tak bisa muncul selama beberapa hari di hadapan gurunya.

Menyadari muridnya tak kelihatan selama beberapa hari, maka sang guru pun mencari keberadaan sang murid. Guru bertanya, "wahai muridku, ada apa denganmu? Mengapa aku tak melihat dirimu beberapa lama untuk ikut beribadah?"

Sang murid pun pecah tangisnya. Tak mampu lagi menahan kesedihan yg luar biasa. Maka ia menjawab :" duhai guruku, sesungguhnya hamba selalu mendengar jawaban yg mengatakan "La Labbaik" setiap kali hamba mendengar engkau mengucapkan Labbaikallah humma labbaik.. " Hamba tak kuasa mendengarnya duhai guru. Inilah yg menyebabkan hamba demam".

Apa yg terjadi?
Sang guru dengan lembut tersenyum pada sang murid..dengan penuh kasih sayang beliau menjawab : "oh ..jadi itu rupanya yg membuatmu demam..karena kesedihanmu yang mendengar jawaban untukku..
Ketahuilah nak, aku sudah 11 kali menunaikan ibadah haji, dan setiap tahun aku selalu mendengar jawaban (La labbaik) yang sama..

"Namun aku mencintai Allah Tuhanku..aku tak mau berputus asa dari rahmatNYA...Tugasku hanyalah beribadah, meninggikanNYA, memujiNYA. Maka aku hanya akan melakukan apa yang diperintahkanNYA untukku. Aku tak mau mengatur keputusan Rabb-ku tentang diriku. Bahkan jika aku ditempatkan oleh Nya di neraka, maka aku akan redha dengan keputusan Tuhanku untukku."

MasyaAllah
Siapa yang redha kepada Allah..maka Allah pun redha kepadanya

Dipahami dari Alhabib Muhammad Bagir bin Yahya

Wallahualam
Allahumma sholli'ala sayyidina Muhammad nabiyil umiyi wa aalihi washohbihi wasalim

Friday, December 22, 2017

IBUKU KEPINGIN NAIK H A J I

🕋  Artikel K.H.HENRY SUTOPO.....  
---------------------------------------
IBUKU KEPINGIN NAIK H A J I   🕋

Setiap orang pasti pingin hidup BAHAGIA Dunia akhirat... Bahasa santrinya Fiiddunya khasanah wafil aakhiroti khasanah... Kalau sempurna tambah waqinaa 'adzaabannaar... Terjaga dari siksa  neraka.

Kebahagiaan hidup di dunia ini bersifat relatif... Tidak bisa diukur dengan Materi harta kekayaan, pangkat jabatan, gelar Akademik dsb... Demikian pula ukuran kesuksesan orang, tentu ukurannya tidak seperti itu.

Orang kaya yang tidur di Hotel Mewah dengan tarif lebih 900 $ per malam... Bisa kalah bahagia dengan Sopir Becak yang tidur di atas becaknya di pinggir jalan sambil memeluk Radio Baterai mendengarkan siaran Wayang.

Sering kalau ngobrol tentang resep hidup bahagia...saya biasanya ngomong : Hormati dan Bahagiakan orang tua semampumu... Dan jika keduanya sudah tiada... Rajinlah mendoakannya.

Saya ngomong seperti itu tentu ada dasarnya... Di samping dalil-dalil  Agama... juga fakta dan realita kehidupan yang saya temui...Orang yang menurutku bahagia dan yang tidak atau belum... Ternyata tergantung kepada Birrul Waalidain (baca... Aku Dianggap Orang Pintar (3)...).

Kenapa Allah "menggandengkan" kewajiban menghamba kepada Nya dengan kewajiban berbakti kepada kedua orangtua... Seperti dalam Al Israa 23 "Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada Nya, dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orangtua".

Dalam Ayat yang lain untuk perintah berbuat baik kepada kedua orangtua Allah memakai lafadz "washsho" wasiat, kok tidak "Amaro, kataba, farodho" atau yang lain...(Al Ahqoof 15)
ini menunjukkan urgensinya Birrul Waalidain.

Sangat banyak Hadis Nabi SAW berkaitan dengan Tarhib dan Targhib... Ancaman dan Anjuran untuk berbakti kepada Bapak Ibu... Dan sayapun berusaha semaksimal mungkin untuk mengamalkannya.

Sekitar Tahun 2003... Saat mau keluar kota saya menawari Ibuku yang sudah sepuh (hampir 70 Th) mau minta oleh-oleh apa? ... Ibu menjawab tidak pingin apa-apa ... Aku desak terus :"Lha Ibu sebenarnya apa yang dipingini?"... Sambil menatapku iba Beliau menjawab punya keinginan tapi nggak mungkin terlaksana yaitu pingin melihat Ka'bah langsung, alias pingin Naik Haji... Memang saat itu kondisi ekonomi keluarga belum memungkinkan.

Jujur semenjak Ibu ngendiko seperti itu saya jadi sulit tidur... Namun ada celah kemungkinan yaitu saya harus menjual satu satunya Mobil yang baru saja kubeli... baru satu bulan.

Istriku kuajak musyawarah terbuka... Alhamdulillah ia full setuju... Bahkan mengingatkan dulu saat nikah ya ndak punya apa-apa... Sekalian mendoakan pasti Alloh akan siapkan gantinya... langsung kucium kening Isteri yang bau minyak angin.

Kalau Ibu tahu saya jual Mobil pasti beliau tidak berkenan... Karena di mata Ibu, saya anak yang paling prihatin sejak kecil dari sepuluh bersaudara... Sampai nikahpun saya beaya sendiri tanpa membebani orang tua.

Maka saya lobbi semua saudaraku tentang keinginan Haji Ibu itu... Hasil kesepakatan nanti saya yang matur Bapak Ibu bahwa beaya Haji itu dipikul sepuluh bersaudara... Walau formalitas ada yang iuran cuma ala kadarnya bahkan ada yang cukup doa.

Setelah mobil laku... diam-diam KTP dan Kartu Keluarga Bapak sama Ibuku saya "curi" untuk daftar calon Haji...maksudku untuk surprise... Kedua orangtuaku baru tahu setelah ada Panggilan Cek Kesehatan di Puskesmas... itupun tahunya setelah pulang dari Puskesmas saya ditanya kok tadi disuruh Tanda Tangan di Buku Hijau itu buku apa?... Barulah saya berterus terang Bahwa Bapak Ibu sudah harus persiapan untuk berangkat Haji...

Kulihat mata Ibuku berkaca kaca... Sempat saya ditanya... Uangnya dari mana?...saya jawab dari semua putra putri Bapak dan Ibu sepuluh orang ... (Alkhamdulillah sampai Bapak Ibuku meninggal Beliau berdua tidak tahu kalau beaya Haji itu dari uang jual Mobil kesayanganku).

Sehari menjelang berangkat Haji...saya pulang Ngaji sekitar jam satu malam pinjem mobil kakakku... Capek ngantuk jadi satu.. Begitu mau berbaring... Bapakku minta diantar Ziarah ke makam Kakek yang jaraknya cukup jauh... saya tidak protes... Padahal banyak saudaraku yang mestinya lebih layak disuruh... Tetapi mungkin Bapakku menganggapku yang "iurannya" paling sedikit.. Maka sayalah yang disuruh...

Sampai di Makam hampir jam dua malam... Begitu Bapak saya antar masuk makam... saya masuk ke mobil mau istirahat... Tapi Bapak nyamperin lagi supaya ikut masuk Makam...sayapun nurut tanpa protes... padahal tengah malam, dingin gerimis campur capek dan ngantuk...lagian nyamuk kuburannya segedhe jangkrik ... Demi orang tua kujalani dengan ikhlas... Mumpung masih mampu.

Kisah ini sudah saya ceritakan kepada anak-anakku... Entah direspon atau tidak saya nggak mikir... Yang penting saya sudah mengajari anak-anak dengan contoh nyata... Urusan difahami kemudian ditiru... Semua saya serahkan kepada Allah SWT.

Sempat pula saya bercerita... Kira-kira tiga bulan sebelum Ibu meninggal...saya tergesa gesa mau berangkat mengajar... Ibu menyuruhku membeli singkong rebus yang tidak pakai santan... Langsung kukerjakan, tanpa protes walau sudah ditunggu jamaah... Bagiku nuruti Ibu harus didahulukan... Keluar masuk beberapa pasar dan bikin heboh pasar karena lebih 50 tahun tidak pernah masuk pasar hanya mencari singkong rebus seharga dua ribu rupiah.. Itupun habis dapet sempat menyuapin Ibu singkong yang diinginkan walau cuma dua suapan.. Air mataku hampir netes nulis ini... Karena itu suapan yang terakhir sebelum Beliau wafat... Tidak sebanding dengan suapan Ibu kepadaku yang tidak terhitung jumlahnya....

Allohummaghfir lahuma... Ya Allah... Ampunilah dosa Ibu Bapakku... Kasihanilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka berdua mengasihi aku sedari kecil...

Alkhamdulillah yang jelas... Dalam sisa hidup ini... Ada rasa lega dalam hati bahwa Ibuku sudah sempat melihat Ka'bah secara langsung sesuai yang Beliau inginkan...sebelum meninggalkanku selama-lamanya...dan mobil yang dulu kujual sekarang malah bertambah banyak...karena saya bakul mobil.

Tinggal harapan yang tersisa adalah semoga saya bisa berkumpul kembali dengan Bapak Ibuku di Surga nanti...
Aamiin Ya Robbal Alamiin.

🕋🕋🕋🕋🕋🕋🕋🕋🕋
(Catatan Santri henry sutopo).