Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

Monday, August 19, 2024

Majelis Bukhoren

Majelis Bukhoren

Amaliyah atau laku ini adalah ngaji Kitab Shohih Bukhori. Diadakan oleh Kraton Yogyakarta Hadiningrat. Telah digelar sejak masa Sri Sultan Hamengkubuwono I (1755).

Setiap pehadir akan dibagikan kurasan atau jilidan berisi 4 lembar atau 8 halaman. Kurasan itu diambilkan dari petikan lembaran Shohih Bukhori yang akan dingajikan. Setiap orang mendapatkan kurasan yang berbeda-beda.

Setelah bertawassul mengirim doa untuk para leluhur Mataram Islam, barulah setiap orang dipersilahkan nderes kurasan yang dijatahkan untuknya.

Pada bagian nderes hadis inilah yang paling unik di majelis ini. Jadi setiap orang merapalkan hadis. Seperti merapalkan ayat quran dalam majelis  muqoddaman yang dikerjakan dengan menderes setiap juz dari quran yang dijatahkan.

Selepas itu Pengulu Kraton mempersilakan hadirin untuk mengulas beberapa hadis yang paling menarik atau paling berkaitan dengan keadaan kekinian. Bisa juga tidak berkaitan. Jika tidak, setiap orang diperkenankan untuk bertanya atau mempertanyakan maksud dari hadis tertentu. Hingga mendapatkan jawaban dari seseorang sepuh yang dianggap paling alim dan otoritatif menjawab.

Salamun ngalaikum thibtum ya Ahla Mataram..

3 DEBAT IBN TAIMIYAH

3 DEBAT IBN TAIMIYAH

Syaikh Ibn Taimiyah beberapa kali melakukan debat dengan ulama' Asy'ariyah. Tapi menurut saya, ada tiga kisah debat beliau yang paling berkesan dalam catatan sejarah dan boleh dikatakan menampakkan pemikiran beliau yang sebenarnya.

I. DEBAT DENGAN IMAM IBN ATHAILLAH:

Saat itu, tersebar dakwaan bahwa Ibn Taimiyah mengkafirkan pelaku istighotsah dengan Nabi dan beberapa masalah lain. Tapi saat diadakan majlis debat dengan Ibn Athaillah as-Sakandari al-Maliki, Ibn Taimiyah berkata, istighotsah dengan Nabi yang sehingga jatuh kafir adalah ketika dengan niatan beribadah kepada Nabi. Ibn Taimiyah juga memperbolehkan tawassul dan berharap syafaat dari Nabi. Setelah pernyataan itu, debat tidak jadi dilanjutkan, sebab ternyata sebagian issu yang berkembang tidak sesuai dengan kenyataan. Kisah ini ditulis oleh murid Ibn Taimiyah sendiri, yaitu Ibn Abdil Hadi dalam al-Uqud ad-Durriyah (I/267) dan beberapa ulama' lain.

Dari pernyataan diatas, dipastikan bahwa pemahaman beliau tentang Istighotsah, tawassul dan berharap syafaat Nabi sangat kontras dengan yang diyakini Salafi Wahabi, pengikutnya, dimana yang sudah masyhur, mayoritas dari mereka mengkafirkan pelaku istighotsah, tawassul dan berharap syafaat Nabi secara mutlak setelah kewafatan beliau.

II. DEBAT DENGAN PARA ULAMA' DAN QADHI:

Dalam kisah debat dengan beberapa ulama' dan qadhi, Ibn Taimiyah menyatakan taubat dan kembali ke akidah imam al-Asy'ari sebagaimana kisah al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqallani dalam ad-Durar al-Kaminah (I/148), Imam al-Maqrizi dalam as-Suluk Li Ma'rifah Duwal al-Muluk (II/391) dan ulama' yang menyaksikan kejadian, yakni Imam Syihabuddin an-Nuwairi dalam Nihayatul Arab (XXXII/115).

Musykilnya, setelah kisah taubat tersebut, Ibn Taimiyah masih meyakini akidah lama. Hal itu dibuktikan dengan Ibn Qayyim yang berguru kepada beliau setelah peristiwa taubat tersebut. Dan siapapun tahu, akidah beliau adalah "copy paste" dari akidah sang guru. Karena itu, banyak yang beranggapan bahwa taubat beliau adalah taqiyah. Tapi bagi Salafi Wahabi, kisah taubat tersebut adalah dusta atau hoax sebab kisah tersebut tidak dikisahkan oleh az-Zahabi, Ibn Abdil Hadi, dan Imam Ibn Katsir yang merupakan murid Ibn Taimiyah. Wallahu A'lam.

III. DEBAT DENGAN IMAM AL-BAJI:

Saat hendak berdebat dengan singa Ahlussunnah wal Jama'ah, Imam Alauddin al-Baji, Syaikh Ibn Taimiyah tiba-tiba merendah, menghormat, atau tidak berani. Saat diminta Imam al-Baji untuk memulai debatnya, Ibn Taimiyah berkata: "Orang sepertiku tidak layak berbicara didepan Anda. Bahkan selayaknya aku mengambil faidah dari Anda".

Bahkan saat kali berjumpa, Ibn Taimiyah memuji habis al-Baji. Al-Baji pun berkata: "Jangan memujiku berlebihan! Yang ada di sini hanyalah kebenaran". Dan setelah itu, Ibn Taimiyah dengan suka rela mau merubah 14 masalah dalam kitab yang pernah beliau tulis.

Kisah ini diceritakan oleh Tajuddin as-Subki dalam Thabaqot Syafi'iyah (X/342), Ibn Hajar dalam ad-Durar al-Kaminah (IV/120) dan Ibn Qadhi Syuhbah dalam Thabaqat Syafi'iyah (II/225). Sementara dalam kisah Imam Ibn Katsir, Ibn Taimiyah enggan berjumpa untuk debat dengan Imam Alauddin al-Baji (al-Bidayah wan Nihayah XIV/47).

Kisah mindernya Ibn Taimiyah diatas menampar muka pengikut beliau yang dalam banyak tulisan digambarkan beliau adalah seseorang yang gagah berani melawan Asy'ariyah dan bahkan tidak pernah mundur dalam medan debat.

[Posting ulang]

Monday, June 17, 2024

MANUSIA SEBELUM NABI ADAM

*''MANUSIA SEBELUM NABI ADAM"*
___________________________
Oleh: Khairul Umam Khairuddin, QH.

Imam al-Alusi pengarang Tafsir Ruhu al-Ma'ani mengatakan bahwa didalam kitab Jami'u al-Akbar dari orang Syi'ah Imamiah, pasal lima belas, disebutkan bahwa sebelum Allah menjadikan Nabi Adam nenek moyang kita semua, telah ada 30 Adam.

Jarak antara satu Adam dengan Adam yg lain 1.000 tahun, setelah Adam yg 30 itu, 50,000 tahun lamanya dunia ini rusak binasa, kemudian ramai lagi 50,000 tahun barulah kemudian Alloh menjadikan Nabi Adam as.

Di dalam kitab at-Tauhid Imam Ibnu Buwaihi meriwayatkan dari Imam Na'far as-Shodiq dalam satu hadis yg panjang, dia berkata:

_"Barangkali kamu sangka bahwa Alloh tidak menjadikan manusia (Basyar) selain kamu. Bahkan, demi Alloh ! Dia telah menjadikan 1,000 Adam , dan kamu lah yg terakhir dari Adam Adam itu "_

Imam al-Haisam pada syarah Nahju al-Balagah, dan dinukilkan dari Imam Muhammad al-Baqir bahwa dia berkata:
Telah habis sebelum Adam yg bapak 1000 Adam atau lebih, namun ini semua adalah pendapat dari syiah , karena Ja'far shodiq dan Muhammad Al-baqir dua di antara Imam Syiah Imamiah. Adapun dari kalangan Ahlussunnah Wal Jama'ah ada ulama yg mengemukakan seperti itu, yakni Imam Ibnul arobi dalam kitab nya Futuhatu al-Makkiyah beliau mengemukakan bahwa 40.000 tahun sebelum Adam sudah ada Adam yg lain, yg sudah hidup di bumi ini.

Namun hal ini hanya sebagai wawasan saja bukan sebagai kepercayaan karena bukan warid dari al-Quran dan al-Hadis, walaupun banyak teka-teki dari alam ini yg belum kita ketahui, belum lagi masalah manusia purba siapakah yg lebih dulu ada apakah Nabi Adam as ataukah mereka??. Sebab kalau kita katakan mereka adalah keturunan dari Nabi Adam as, kok bentuk tubuh dan rupanya agak aneh seperti yg kita saksikan dari fosil-fosil yg ditemukan oleh para peneliti.

Maka apa yg disampaikan tentang adanya manusia sebelum Nabi adam ada kemungkinan benarnya tapi ada juga kemungkinan salahnya.

Lalu ada beberapa riwayat dari para ulama tentang Nabi Adam as dimanakah beliau diturunkan oleh Allah ke muka bumi ini setelah beliau tinggal beberapa waktu di dalam syurga.

Di dalam Kitab Qishoshu al-Anbiya' oleh Imam Ibnu Katsir, bahwasanya Imam Ibnu Assakir meriwayatkan dari al-Auza'i dari Hassan (Ibnu Athiyah), ia berkata bahwa sebelum turun ke bumi, Nabi Adam hidup di Surga selama 100 tahun. Namun, ada juga yang berpendapat hanya 60 tahun saja.

AL imam ibnu asakir meriwayatkan dari ibnu Abbas bahwa Nabi Adam as diturunkan di hindustan, adapun siti Hawa di turunkan di jeddah, dan itulah kenapa dinamakan jeddah karena jeddah artinya adalah nenek perempuan, adapun tempat nabi adam di turunkan di hindustan itu tepatnya  di pulau serandib.

Maka Yang jadi pertanyaannya adalah dimanakah pulau serandib itu?!
   
Syaik Yusuf al-Makassariy tajul kholwati dalam surat suratnya yang di kirimkan dari sailan [ ceylen ] kepad murid muridnya di makassar dan banten pada akhir abad 17, sebelum beliau dipindahkan ke afrika selatan, selalu menyebutkan bahwa beliau bersyukur karena di pulau pengasingan ini, pulau serandip, tempat turunnya nenek moyang kita Nabi Adam as, dan beliau masih dapat beribadah kepada Allah swt, maka Syaikh yusuf dengan demikian memegang pendapat yg umum pada waktu itu bahwa pulau serandib iyalah pulau ceylen [sekarang menjadi srilangka].

Tetapi dalam penyelidikan ahli ahli sejarah, terakhir menunjukkan bukti bukti bhwa pulau serandib bukan pulau Ceylen, melainkan pulau sumatra. Sebab nama serandib dalam bahasa sanskerta yg ditulis dengan huruf arab. Aslinya iyalah pulau Swarna Dwipa, yaitu nama sumatra di zaman dahulu, begitu juga jawa dwipa nama dari pulau jawa. ini adalah hasil pengkajian yg di lakukan oleh Profesor Dr Haji Abdul Malik Karim Amrullah [Buya HAMKA ] yg di tuliskan nya dalam Tafsir al-Azhar jilid 1 halaman 229.

Rabu, 15 November 2023 M
___________________________
*Alumni 58 Mahad Darul Qur'an Wal Hadits, NW, Lombok Timur.

Wednesday, June 7, 2023

Sayyidah Zainab dengan Abul Ash

Berikut adalah kisah cinta Putri Sulung Rosululloh Sayyidah Zainab dengan Abul Ash putra Sayyidah Halah adik Sayyidah Khodijah istri Rosululloh.

Kanthongumur terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Mungkin ada yang kurang pas. Nanti bisa dikoreksi. Saya membaca kisah ini, dan menitikkan air mata saat membaca kisah Rosululloh melihat kalung Khodijah yang dijadikan sebagai tebusan.

Dari sini linknya:

https://youtu.be/TBxoLqqq9wE

Abul Ash bin Al-Robi datang kepada Nabi Muhammad sebelum masa kenabian. Abul Ash berkata: "Aku ingin melamar Zainab putri-mu yang paling dewasa".

(Ini adalah bentuk adab)

Nabi Muhammad bersabda: "Aku tidak akan menerima lamaranmu, sebelum aku meminta kesediaannya".

(Ini adalah tanggung jawab wali)

Nabi Muhammad kemudian menemui Zainab dan bersabda: "Putra bibimu (sepupumu) datang kepadaku, ia menyebut namamu. Apakah kamu bersedia untuk dijadikan sebagai istrinya?".

Zainab pun memerah wajahnya dan tersenyum, tanda bahwa ia menerima.

(Inilah bentuk rasa malu)

Nabi Muhammad pun kemudian menikahkan Zainab dengan Abul Ash. Dan dimulailah kisah cinta keduanya, sehingga keduanya diberikan putra bernama Ali dan putri bernama Umamah.

Setelah beberapa waktu, terjadilah suatu permasalahan keluarga. Nabi Muhammad diangkat sebagai Nabi. Sedangkan saat itu, Abul Ash sedang dalam bepergian. Dan ketika pulang, ia mendapatkan istrinya telah beriman.

(Permasalahan tentang aqidah)

Zainab berkata kepada Abul Ash: "Saya memiliki kabar besar untukmu".

Abul Ash kemudian berdiri meninggalkan Zainab. Zainab terkejut dan mengikuti Abul Ash.

Zainab berkata: "Ayahku telah diutus menjadi Rosul dan aku beriman kepadanya".

Abul Ash berkata: "Mengapa engkau tidak mengabariku terlebih dahulu?".

Zainab berkata: "Tidak mungkin aku mendustakan ayahku, dan ayahku bukanlah pendusta. Ayahku orang jujur dan dipercaya".

"Bukan hanya aku sendiri yang beriman. Ibuku (Khodijah), saudara-saudaraku, putra pamanmu Ali bin Abi Tholib, putra bibimu Utsman bin Affan dan temanmu Abu Bakar pun telah beriman". Lanjut Zainab.

Abul Ash berkata: "Sungguh aku tidak mau bila orang-orang berkata bahwa aku mengkhianati kaumku, mengkufuri nenek moyangku karena mencari kerelaan istriku. Sungguh ayahmu bukanlah orang yang patut dicurigai. Apakah kamu tidak mau menerima alasanku?".

Zainab berkata: "Bila aku tidak menerima alasanmu, siapa lagi orang yang mau menerima alasanmu?. Aku adalah istrimu. Aku akan berusaha menolongmu untuk jalan yang benar dengan semua kemampuanku".

(Saling memahami antara suami dan istri)

Dan ucapan Zainab ini dibuktikan dengan kesabaran selama dua puluh tahun.

Abul Ash masih terus dalam kekufurannya.

Dan saat menjelang hijrah ke Madinah, Zainab berkata kepada Nabi: "Wahai Rosululloh, apakah engkau mengizinkan diriku untuk tetap bersama suamiku di Makkah?".

(Bentuk cinta yang dalam seorang isteri kepada suami, tanpa menyakiti perasaan orang tua)

Rosululloh memberikan izin kepada Zainab untuk tinggal bersama sang suami di Makkah. Sampai pada saat kejadian perang badar, Abul Ash pun berperang di barisan orang-orang kafir Quraisy. Suaminya berperang melawan ayahnya.

Zainab berkata: "Ya ALLOH, saya khawatir kalau anakku menjadi yatim. Aku pun khawatir kehilangan ayahku".

(Kebimbangan dan kebingungan)

Setelah perang usai, Abul Ash menjadi tawanan perang. Dan kabar ini pun sampai ke rumah Zainab.

Zainab bertanya: "Apa yang terjadi terhadap ayahku?".

"Kemenangan diperoleh kaum muslimin".

Zainab lantas bersujud syukur kepada ALLOH atas kemenangan yang diperoleh ayahnya. Zainab lantas menanyakan kabar suaminya.

Dan setelah mengetahui kabar bahwa suaminya ditawan, Zainab berkata: "Aku akan mengirimkan tebusan untuk suamiku".

Zainab tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk dijadikan sebagai tebusan kecuali kalung yang dulu diberikan oleh Khodijah sang bunda kepada Zainab.

Akhirnya, Zainab mencopot kalungnya dan menitipkan kalung itu kepada saudara kandung Abul Ash untuk diberikan kepada Rosululloh sebagai tebusan suaminya.

Saat itu Rosululloh sedang duduk-duduk. Beliau sedang memeriksa tawanan dan tebusan perang. Dan saat melihat kalung Khodijah, beliau bertanya: "Ini tebusan untuk siapa?".

Para sahabat menjawab: "Tebusan untuk Abul Ash".

Rosululloh pun lantas menangis, kemudian bersabda: "Ini adalah kalung Khodijah".

Rosululloh bersabda: "Wahai sahabatku, orang ini (Abul Ash) tidaklah kami mencelanya selama ia sebagai menantuku. Apakah boleh saya melepaskan dirinya dari tawanan?".

(Inilah bentuk keadilan)

Rosululloh bersabda: Apakah kalian menerima jika kalung Khodijah ini dikembalikan kepada Zainab?".

(Tawadhu seorang pemimpin)

Para sahabat menjawab: "Ya boleh, wahai Rosululloh".

(Adab dari prajurit)

Rosululloh memberikan kalung itu kepada Abul Ash dan bersabda: "Katakanlah kepada Zainab: Janganlah kamu hilangkan kalung Khodijah ini".

(Kepercayaan mertua kepada menantunya walaupun sang menantu masih dalam keadaan kafir)

"Wahai Abul Ash, aku akan berkata rahasia kepadamu!". Rosululloh bersama Abul Ash kemudian berjalan menjauh dari sahabat.

"Wahai Abul Ash, sesungguhnya ALLOH memerintahkan kepadaku untuk memisahkan wanita muslimah dari lelaki kafir. Maukah dirimu mengembalikan Zainab kepadaku?".

Abul Ash berkata: "Baik".

(Benar-benar sebagai lelaki)

Setelah itu Abul Ash kembali ke Makkah. Di Makkah Zainab telah menunggunya di pintu kota Makkah.

Setelah melihat istrinya, Abul Ash berkata: "Aku akan pergi".

Zainab bertanya: "Pergi kemana?".

Abul Ash berkata: "Bukan aku yang akan pergi. Tetapi engkaulah yang akan pergi dan kembali kepada ayahmu".

(Bentuk penepatan janji)

Zainab bertanya: "Karena apa?".

Abul Ash menjawab: "Ayahmu memisahkan aku dengan dirimu. Pulanglah kepada ayahmu!".

Zainab bertanya: "Apakah engkau mau menemaniku dan masuk islam?"

Abul Ash menjawab: "Tidak".

Zainab kemudian pergi ke Madinah dengan membawa putra dan putrinya.

(Taat)

Setelah beberapa tahun berlalu, Abul Ash pergi berdagang ke Syam bersama kafilah. Saat melewati sekitar Madinah, rombongan dagang itu dihadang oleh para sahabat. Ia kemudian dibawa oleh para sahabat ke Madinah.

Sesampainya di Madinah, Abul Ash meminta izin kepada sahabat untuk menemui Zainab. Ia datang ke rumah Zainab saat menjelang fajar dan mengetuk pintu rumah Zainab.

(Keberanian dan kemantapan seorang laki-laki)

Setelah Zainab melihat Abul Ash, Zainab berkata: "Apakah engkau datang sebagai orang Islam?".

(Harapan seorang istri)

Abul Ash berkata: "Aku datang sebagai orang yang melarikan diri".

Zainab berkata: "Maukah engkau masuk islam?".

(Usaha sungguh-sungguh seorang wanita untuk kebaikan lelaki)

Abul Ash masih berkata: "Tidak".

Zainab berkata: "Janganlah takut, selamat datang sepupuku. Selamat datang ayah anak-anakku".

Sesaat setelah Rosululloh selesai sholat subuh, tiba-tiba dari pojok masjid terdengar suara berkata: "Aku melindungi Abul Ash".

Rosululloh bersabda kepada para sahabat: "Apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?".

Para sahabat menjawab: "Iya, wahai Rosululloh".

Zainab berkata kepada Rosululloh: "Wahai Rosululloh, Abul Ash walaupun jauh, ia adalah sepupuku, walaupun dekat, ia adalah ayah dari anak-anakku, dan ia berada dalam lindunganku".

Rosululloh diam sejenak, kemudian bersabda: "Abul Ash, tidaklah kami mencelanya saat ia sebagai menantuku. Ia telah berkata dan membuktikan kejujuran perkataannya. Ia telah berjanji kepadaku, dan menepati janjinya kepadaku".

"Bila kalian menerima permintaanku untuk mengembalikan hartanya kepadanya, dan membiarkannya pulang ke negaranya. Dan ini aku harapkan. Tetapi bila kalian tidak mau menerima permintaanku, aku tidak akan mencela kalian. Karena ini hak kalian". Dawuh Rosululloh.

Para sahabat menjawab: "Kami kembalikan hartanya kepadanya wahai Rosululloh".

(Ini gambaran musyawarah)

Rosululloh kemudian berjalan ke rumah Zainab bersabda: "Aku lindungi orang yang engkau lindungi wahai Zainab".

"Muliakan Abul Ash. Karena ia adalah sepupumu dan ayah dari anak-anakmu. Tetapi ia tidak boleh mendekatimu, karena ia tidak halal untukmu". Lanjut Rosululloh.

(Bentuk belas kasih tanpa melanggar syariat)

Zainab menjawab: "Baik Wahai Rosululloh".

(Taat)

Zainab berkata kepada Abul Ash: "Apakah perpisahan kita terasa berat untukmu?". "Apakah engkau mau masuk islam dan tinggal bersama di sini?".

(Cinta dan harapan)

Abul Ash menjawab: "Tidak".

Abul Ash kemudian mengambil harta dagangannya dan kembali ke Makkah.

Sesampainya di Makkah, Abul Ash berkata: "Wahai penduduk Makkah, ini adalah uang milik kalian. Masihkah ada sisa tanggungan yang dibebankan kepadaku?".

(Amanah)

"Semoga engkau dibalas dengan baik, dan engkau sudah memenuhi tanggunganmu dengan baik". Jawab penduduk Makkah.

Abul Ash kemudian berkata: Asyhadu An Laa Ilaaha Illallohu Wa-Asyhadu Anna Muhammadar Rosululloh".

Setelah itu, Abul Ash datang ke Madinah. Abul Ash sampai di Madinah menjelang pagi hari, kemudian menghadap kepada Rosululloh dan berkata: "Wahai Rosululloh, kemarin engkau melindungi diriku, dan sekarang aku datang dengan mengucapkan: "Asyhadu An Laa Ilaaha Illallohu Wa-Asyhadu Anna Muhammadar Rosululloh".

Abul Ash berkata: "Wahai Rosululloh, bolehkah saya kembali lagi kepada Zainab?".

(Cinta yang dalam)

Rosululloh kemudian membawa Abul Ash ke rumah Zainab. Setelah mengetuk pintu, Rosululloh bersabda: "Wahai Zainab, sepupumu datang kepadaku dan meminta izin kepadaku untuk kembali kepadamu, apakah engkau menerimanya?".

Zainab tersipu malu dan tersenyum menerima kembali Abul Ash sebagai suaminya.

Setelah kejadian ini, setahun kemudian Zainab meninggal dunia. Abul Ash menangis sedih karena ditinggal wafat Zainab. Rosululloh pun membelai Abul Ash dan menenangkannya.

Abul Ash berkata: "Wahai Rosululloh, sekarang aku tidak mampu bertahan hidup tanpa didampingi oleh Zainab".

Dan Abul Ash pun wafat menyusul istrinya setahun kemudian.

Mbah Maimoen sering menyebutkan:

نعم الرجل أبو العاص تزوج بنتي ولم يحب غيرها

Ya ALLOH....

Thursday, February 27, 2020

SEJARAH SINGKAT ANAK CUCU RASULULLAH ﷺ DI NUSANTARA.

SEJARAH SINGKAT ANAK CUCU RASULULLAH ﷺ DI NUSANTARA.

Keturunan Nabi Muhammad SAW.

Beliau Rasulullah ﷺ dikaruniai 7 anak 3 laki-laki dan 4 prempuan, yaitu Qasim, Abdullah, Ibrahim, Zaenab, Ruqoiyah, ummu kultsum, dan Fathimah Azzahra. Setiap keturunan berasal dari ayahnya, namun khusus untuk Keturunan Sayyidatuna Fathimah bersambung kepada Rasulullah merekalah keturunan Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: "setiap anak yg dilahirkan ibunya bernasab kepada ayahnya, kecuali anak-anak dari fathimah, akulah wali mereka, akulah nasab mereka dan akulah ayah mereka" (HR.Imam Ahmad)
Sayyidatuna Fathimah dikarunia 2 orang putra yaitu Sayyidina Hasan dan Saayidina Husein, dari kedua cucu Nabi ini lahir para anak cucuk Rasulullah yang hingga kini kita kenali dengan sebutan syarif, syarifah, Sayyid, dan Habib.

Keturunan dari Sayyidina Hasan, yaitu sering disebut dengan al-hasani hanya ada sedikit saja di indonesia.
Keturunan dari Sayyidina Husein, Sayyidina Husein wafat di Karbala, beliau mempunyai enam orang anak laki-laki dan 3 wanita, yaitu Ali Akbar, Ali Awsat, Ali Ashghar, Abdullah, Muhammad, Jakfar, Zainab, Sakinah dan Fathimah. Putra Sayyidina Husein keseluruhannya wafat terkecuali Al Awsat atau yang biasa dikenal dengan Nama Imam Ali Zainal 'Abidin, mempunyai putra bernama Muhammad Al-baqir, yang mempunyai Putra bernama Ja'far Ash-Shadiq yang menjadi Guru daripada Imam Hanafi, yang kemudian Imam Hanafi ini memiliki murid Imam Maliki, lalu Imam Maliki memiliki murid Imam Syafi'i dan Imam Syafi'i bermuridkan Imam Ahmad bin Hanbal.

Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq  dilahirkan pada tahun 80 H riwayat lain menyebutkan 83 H, Meninggal di kota Madinah pada tahun 148 H dan dimakamkan di pekuburan Baqi. Keturunannya yaitu Ali Uraidi yang memiliki putra bernama Muhammad An-nagieb memiliki putra isa arumi dan memiliki putra ahmad al muhajir.
Ahmad bin Isa al-muhajir punya dua orang putra yaitu Ubaidillah dan Muhammad. Ubaidillah hijrah bersama ayahnya ke Hadramaut, Yaman dan mendapat tiga putra yaitu Alwi, Jadid dan Ismail (Bashriy). Keturunan mereka punah dalam sejarah, sedangkan keturunan Alwi tetap lestari. Mereka menamakan diri dengan nama sesepuhnya Alwi, yang kemudian dikenal masyarakat dengan sebutan kaum Sayyid Alawiyin.

Kepindahannya ke Hadramaut disebabkan karena kekuasaan diktator khalifah Bani Abbas yang secara turun-menurun terus memimpin umat Islam, mengakibatkan rasa ketidakpuasan di kalangan rakyat. Akibat dari kepemimpinan yang diktator, banyak kaum muslim berhijrah, menjauhkan diri dari pusat pemerintahan lalu hijrah dan menetap di Hadramaut, Yaman.

Penduduk Yaman khususnya Hadramaut yang mengaku penduduk asli dari qabilah Qahthan, yang awalnya bodoh dan sesat berubah menjadi mengenal ilmu dan berjalan di atas syariat Islam yang sebenarnya. Al-Imam al-Muhajir dan keturunannya berhasil menundukkan masyarakat Hadramaut yang memiliki faham khawarijme dengan akhlak dan pemahaman yang baik.

Para sayyid Alawiyin menyebarkan dakwah Islamnya di Asia Tenggara melalui dua jalan, pertama hijrah ke India kemudian pada tahap kedua dari India ke Asia Tenggara, atau langsung dari Hadramaut ke wilayah Asia Tenggara melalui pesisir India.

Diantara yang hijrah ke India adalah syarif Abdullah bin Husein Bafaqih ke kota Kanur  dan menikahi anak menteri Abdul Wahab dan menjadi pembantunya sampai wafat. Lalu syarif Muhammad bin Abdullah Alaydrus yang terkenal di kota Surat dan Ahmadabad. Dia hijrah atas permintaan kakeknya syarif Syech bin Abdullah Al-Aydrus. Begitu pula keluarga ABDUL MALIK yang diberi dengan gelar ‘ADZAMATKHAN’. Dari keluarga inilah asal-muasal keturunan penyebar Islam di Indonesia khususnya di Jawa yang dikenal dengan sebutan Wali Songo. Kemudian dari India, mereka melanjutkan dakwahnya ke Indonesia, yaitu melalui daerah pesisir utara Sumatera yang sekarang dikenal dengan propinsi Aceh.

Menurut Profesor Dr. Hamka, sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke Indonesia, tanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu lalu kepulauan Indonesia dan Filipina. Memang harus diakui banyak jasa-jasa dari mereka dalam penyebaran Islam di seluruh Nusantara ini. Penyebar Islam dan pembangun kerajaan islam di Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam di Mindanau dan Sulu. Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar Muda Mahkota Alam, pernah bangsa Sayyid dari keluarga Jamalullail menjadi raja di Aceh. Negeri Pontianak pernah diperintah oleh bangsa Sayyid al-Gadri. Siak oleh keluarga dari bangsa Sayyid Bin Shahab. Perlis (Malaysia) didominasi dan dirajai oleh bangsa dari Sayyid Jamalullail. Yang Dipertuan Agung III Malaysia, Sayyid Putera adalah raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tuanku Haji Bujang ialah berasal dari keluarga Al-Aydrus.

Kedudukan para sayyid di negeri ini yang turun-temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri di mana mereka berdiam. Kebanyakan dari mereka menjadi ulama dan ada juga yang berdagang. Mereka datang dari Hadramaut dari keturunan Imam Isa al-Muhajir dan al-Faqih al-Muqaddam. Mereka datang kemari dari berbagai keluarga. Yang kita banyak kenal dari mereka ialah dari keluarga As-Segaf, Al-Kaff, Al-Athas, Bin Syekh Abubakar, Al-Habsyi, Bafaqih, Al-Aydrus, Al-Haddad, Bin Smith, Jamalullail, Assiry, Al-Aidid, Al-Jufri, Bin Syahab, Al-Qadri, Albar, Al-Mussawa, Gathmir, Bin Aqil, Al-Hadi, Al-Zahir, Basyaiban, Ba’abud, Bin Yahya dan lain-lain.

Orang-orang dari Arab khususnya Hadramaut mulai datang secara masal ke Nusantara pada tahun-tahun terakhir diabad 18, sedangkan kedatangan mereka di pantai Malabar jauh lebih awal. Pemberhentian mereka yang pertama adalah di Aceh. Dari sana mereka lebih memilih pergi ke Palembang dan Pontianak. Orang-orang Arab mulai banyak menetap di Jawa setelah tahun 1820 Masehi, dan qabilah-qabilah mereka baru tiba di bagian Timur Nusantara pada kisaran tahun 1870 Masehi. Pendudukan Singapura oleh Inggris pada tahun 1819 Masehi dan kemajuan besar dalam bidang perdagangan membuat kota itu menggantikan kedudukan Aceh sebagai perhentian pertama dan titik pusat imigrasi bangsa-bangsa Arab. Semenjak pembangunan pelayaran kapal uap di antara Singapura dan Arab, Aceh sudah menjadi tidak penting lagi..

Di pulau Jawa terdapat enam qabilah besar Arab, yaitu di Batavia yang sekarang dikenal dengan nama Jakarta, Cirebon, Pekalongan, Semarang, Tegal, dan Surabaya. Di Madura hanya ada satu yaitu di Sumenep. Qabilah Arab di Surabaya dianggap sebagai pusat qabilah di pulau Jawa bagian Timur. qabilah Arab lainnya yang cukup besar berada di Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, Bangil, Besuki dan Banyuwangi. Qabilah Arab di Besuki mencakup pula orang Arab yang menetap di kota Panarukan dan Bondowoso.

Qabilah-qabilah Arab Hadramaut khususnya Alawiyin yang berada lokasi pesisir tetap menggunakan nama-nama qabilah mereka, sedangkan Alawiyin yang tidak dapat pindah ke pesisir karena berbagai sebab, Mereka berganti nama dengan nama-nama Jawa, mereka banyak yang berasal dari keluarga Ba’bud, Basyaiban, Bin Yahya dan lainnya.

Sumber : Kitab Syamsud Dhahiroh dan berbagai sumber lainnya.

Friday, January 18, 2019

Kemanusiaan mendahului sikap religius

Kemanusiaan mendahului sikap religius

Seorang netijen yang sedang kuliah di al-Azhar, Mesir memberitahu saya akan buku karya Habib Ali al-Jifri. Saya berterima kasih atas informasi tersebut dan segera melacak dan kemudian membacanya. Buku ini semacam kompilasi makalah dan ceramah beliau. Topik yang di bahas singkat dan aktual. Beberapa tulisan dalam buku itu juga berasal dari respon Habib Ali akan pertanyaan atau komentar di Facebook.

Secara umum, saya memiliki kesesuaian pandangan dengan Habib Ali. Bukan saja beliau luas pandangannya tapi juga luwes sikapnya. Santun dalam berdakwah, tajam dalam berargumen, dan konon kabarnya — menurut guru beliau Habib Umar bin Hafizh — wajah Habib Ali mirip datuknya, Rasulullah Saw. Wa Allahu a’lam bis shawab.

Judul yang dipilih Habib Ali mengundang kontroversi: al-Insaniyyah qabla at-tadayyun. Kemanusiaan mendahului sikap religius. Beliau mengklarifikasi dalam berbagai kesempatan bahwa beliau tidak mengatakan al-Insaniyyah qabla ad-din (kemanusian mendahului agama). Karena bagi beliau tetap agama itu nomor satu. Namun beliau hendak memisahkan antara agama dengan pandangan dan sikap keberagamaan. Religion dan religiosity itu dua hal yang terkait tapi tetap harus dibedakan.

Teks agama dalam al-Qur’an dan al-Hadis itu benar dan suci, tapi pandangan dan sikap kita belum tentu benar, apalagi suci. Kegagalan memisahkan ini akan membuat apa yang kita pahami akan kitab suci seolah dianggap sama mutlaknya dengan kebenaran kitab suci. Contoh praktis saja: banyak yang merasa membela Islam, padahal boleh jadi yang dia bela adalah sikap dan pandangannya tentang Islam.

Jadi, jelas yah jangan digoreng dan dipelintir: Habib Ali al-Jifri tetap mengutamakan agama (ad-din).

Nah, apa dalil dari pandangan Habib Ali tentang kemanusiaan didahulukan atas religiositas? Dalam bukunya beliau mengutip penjelasan dari Hadis Nabi Saw. Beliau sampaikan versi ringkasnya. Di bawah ini saya kutip versi lengkapnya.

Musnad Ahmad, Hadis Nomor 16402

‎١٦٤٠٢ - حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي عَمْرٍو السَّيْبَانِيِّ عَنْ أَبِي سَلَّامٍ الدِّمَشْقِيِّ وَعَمْرِو بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُمَا سَمِعَا أَبَا أُمَامَةَ الْبَاهِلِيَّ يُحَدِّثُ عَنْ حَدِيثِ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ السُّلَمِيِّ قَالَ رَغِبْتُ عَنْ آلِهَةِ قَوْمِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ فَسَأَلْتُ عَنْهُ فَوَجَدْتُهُ مُسْتَخْفِيًا بِشَأْنِهِ فَتَلَطَّفْتُ لَهُ حَتَّى دَخَلْتُ عَلَيْهِ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَقُلْتُ لَهُ مَا أَنْتَ فَقَالَ نَبِيٌّ فَقُلْتُ وَمَا النَّبِيُّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ فَقُلْتُ وَمَنْ أَرْسَلَكَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قُلْتُ بِمَاذَا أَرْسَلَكَ فَقَالَ بِأَنْ تُوصَلَ الْأَرْحَامُ وَتُحْقَنَ الدِّمَاءُ وَتُؤَمَّنَ السُّبُلُ وَتُكَسَّرَ الْأَوْثَانُ وَيُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرَكُ بِهِ شَيْءٌ قُلْتُ نِعْمَ مَا أَرْسَلَكَ بِهِ وَأُشْهِدُكَ أَنِّي قَدْ آمَنْتُ بِكَ وَصَدَّقْتُكَ أَفَأَمْكُثُ مَعَكَ أَمْ مَا تَرَى فَقَالَ قَدْ تَرَى كَرَاهَةَ النَّاسِ لِمَا جِئْتُ بِهِ فَامْكُثْ فِي أَهْلِكَ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِي قَدْ خَرَجْتُ مَخْرَجِي فَأْتِنِي فَذَكَرَ الْحَدِيثَ

16402. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata; Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin 'Ayyasy dari Yahya bin Abu 'Amr As-Syaibani dari Abu Sallam Ad-Dimasyqi dan 'Amr bin Abdullah sesungguhnya keduanya telah mendengar Abu Umamah Al Bahili menceritakan dari hadis 'Amr bin 'Abasah As-Sulami berkata; "Saya sangat membenci tuhan-tuhan kaumku pada Masa Jahiliyyah, " lalu dia menyebutkan haditsnya. ('Amr bin 'Abasah As-Sulami) berkata; lalu saya bertanya tentang keberadaan nabi, dan saya pun mendapatkan Nabi dalam keadaan menyembunyikan diri dari keramaian orang. Saya berusaha menemuinya dengan cara menyamar hingga saya bisa menemuinya, saya ucapkan salam kepadanya, lalu saya bertanya,

"Apa (status/kedudukan) anda?”
Beliau menjawab, "Nabi."
Saya ('Amr bin 'Abasah) berkata; "Apakah Nabi itu?"
Beliau menjawab, "Rasulullah."

Saya bertanya, "Siapakah yang mengutus kamu?."
Beliau menjawab, "Allah Azzawajalla."
Saya bertanya, "Dengan apa?"
beliau menjawab, "Agar kamu menyambung silaturrahim, melindungi darah, mengamankan jalan, berhala dihancurkan, Allah semata yang disembah dan tidak ada sekutu bagi-Nya sesuatupun."

Saya berkata; "Sangat bagus risalah yang karenanya kau diutus. Saya bersaksi sesungguhnya saya beriman kepadamu, dan saya mempercayaimu, apakah saya harus tinggal bersamamu atau bagaimana pendapatmu?" Maka beliau bersabda: "Kamu telah melihat kebencian orang-orang atas apa yang saya bawa, maka tinggallah di keluargamu. Jika suatu hari nanti kamu mendengarku dan saya telah keluar dari tempat persembunyianku, datangilah saya, " lalu dia menyebutkan hadis secara lengkap.”

Habib Ali menjelaskan bahwa cara Rasulullah menjelaskan risalahnya itu dengan menyebut ketiga hal mendasar dulu.

1. Menyambung Silaturrahim. Ini dimaknai Habib Ali jaminan keamanan masyarakat.
2. Melindungi darah. Ini dimaknai Habib Ali sebagai perlindungan terhadap kehidupan
3. Mengamankan jalan. Ini berarti, menurut Habib Ali, keamanan publik.

Setelah itu barulah Rasul menjawab mengenai religiositas, yaitu menghancurkan berhala (ini bagian amar ma’ruf nahi munkar), dan sikap kukuh bertauhid hanya menyembah Allah (ini masuk wilayah dakwah).

Berdasarkan riwayat, yang menurut Syekh Arnaut statusnya Sahih ini, Habib Ali al-Jifri menyampaikan pesan-pesan kemanusiaannya. Kita pun memahami bahwa semua manusia dijamin keamanan dan kehormatannya, baik di level keluarga-kolega, maupun masyarakat. Setiap orang harus dihormati darahnya, hartanya, keluarganya, status sosialnya. Islam menghendaki setiap orang aman dan nyaman berjalan-jalan di pasar, jalan raya, dan area publik lainnya tanpa khawatir akan dibully, dinistakan, atau diserang kehormatannya maupun terkena tindak kriminal seperti pencopetan, serangan teroris, atau bahkan sekadar sandal hilang di Masjid.

Dengan jaminan sosial, kehidupan dan keamanan publik itu barulah kemudian orang bisa beragama dengan khusyu’ dan aman serta nyaman. Hati yang adem akan membuat sikap keberagamaan kita juga adem.

Dengan kata lain, problem yang kita hadapi dewasa ini bukan soal teks keagamaan, tapi soal kemanusiaan kita yang merasa terancam, tidak aman dan tidak nyaman. Ini menggerus kemanusiaan kita sehingga kita tidak lagi jernih, adil dan beradab dalam memahami teks keagamaan. Pada gilirannya, sikap keberagamaan kita dipengaruhi oleh sehat atau sakitnya kemanusiaan kita. Itu sebabnya Rasulullah menyentuh sisi kemanusiaan kita terlebih dahulu dengan ajaran menyambung silaturrahmi, melindungi darah sesama manusia, dan mengamankan jalan raya.

Pesan Habib Ali dalam bukunya ini cocok dengan penjelasan para Kiai NU seperti Gus Mus, misalnya, yang menekankan dakwah kita itu bertujuan untuk memanusiakan kembali kemanusiaan kita. Sayang, saat ini kita mengalami krisis kemanusiaan dan malah asyik memaki: kampret dan cebong.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
dan Dosen Senior Monash Law School

Saturday, November 3, 2018

JANGAN SURIAHKAN INDONESIA

== JANGAN SURIAHKAN INDONESIA ==

Apa yang pertama kali terlintas di benak saat mendengar kata “Suriah”?

Kalau aku, tergambar di benakku mendengar kata Suriah, identik dengan perang dan ISIS. ISIS adalah singkatan dari Islamic State of Iraq and Syria. Negara Islam Irak dan Suriah. Jadi di Negara Suriah ada Negara Islam.

Namun setelah menghadiri diskusi kebangsaan kemarin malam, semuanya menjadi terang benderang bagiku. Diskusi itu bagaikan “pamungkas” dari rangkaian seminar dan diskusi kebangsaan tentang radikalisme yang selama ini aku ikuti.

Diskusi ini diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Syam Indonesia (ALSYAMI). Diadakan di Magzi Ballroom, Hotel Grand Kemang dari jam 19.30 – 21.30. Narasumber yang dihadirkan cukup kompeten, yaitu orang-orang yang tahu betul mengenai keadaan Suriah.

Mereka adalah Syeikh Dr. Adnan al-Afyoni (Mufti Damaskus dan Ketua Dewan Rekonsiliasi Nasional Suriah), Drs. Djoko Harjanto (Duta Besar RI untuk Suriah), Dr. Ziyad Zahruddin (Duta Besar Suriah untuk Indonesia), Ahsin Mahrus (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Damaskus), dan Dr. Ainur Rofiq (mantan HTI). Sebagai moderator adalah Rahma Sarita Al Jufri, presenter berita televisi.

Bersyukur dapat hadir di acara itu tepat waktu, padahal diselingi dengan insiden ban kempes. Sampai disana ternyata disuguhi makan malam. Wah, menyesal juga tadi sudah makan sebelum berangkat.

Hidangan utamanya tentu saja hidangan khas Timur Tengah. Aku tak tahu namanya. Tapi ada mi yang dimasak seperti Mi Aceh, daging yang dimasak seperti gulai tapi warnanya kelabu dan rasanya pedas, lalu ada ayam yang dimasak dengan balutan tepung. Tak lupa dilengkapi dengan nasi putih, kerupuk kampung dan kerupuk udang, serta sambal.

Berhubung sudah cukup kenyang, aku ambil sedikit-sedikit saja makanan yang menurutku “aneh” karena bukan makanan Indonesia. Ingin tahu rasanya. Di sisi sebelah kanan meja utama terdapat hidangan khas Indonesia seperti bakso, soto, rujak buah dan gado-gado. Makanan sehari-hari, jadi aku tak tertarik.

Seperti biasa, aku selalu melongo kalau lihat orang makannya dicampur-campur yang menurutku tidak lazim. Selain itu ambilnya banyak-banyak seakan-akan besok tidak makan. Toh akhirnya tidak habis, dan aku melihat petugas membuang 3 potong ayam dari sebuah piring…..

Makanya, ukurlah dirimu sebelum makan. Walaupun makanan gratis, tapi bukan berarti bisa diambil sebanyak kita mau, lalu tidak dihabiskan dan akhirnya terbuang. Tetap saja kita yang berdosa karena sudah buang-buang makanan.

Sambil makan, aku mengamati orang-orang di sekitarku. “Radar” ku langsung bergerak cepat mengidentifikasi orang-orang ini. Walau tidak kenal dengan siapapun, tapi aku bisa merasakan siapa mereka. Sebagian besar tentu saja orang-orang yang pernah belajar di Suriah. Aku sempat merasa khawatir dengan penampilan orang-orang yang memakai rompi, pakai jas, dan pakai peci kupluk warna putih. Walau tak adil rasanya jika menilai seseorang dari penampilannya. Habis mau bagaimana…? Penampilannya seperti yang biasa demo-demo berjilid-jilid itu….

Belum lagi sapaan “Assalamualaikum” dengan lafal yang kental sekali, serta penggunaan kata “Antum”, “Ana”, serta percakapan dalam bahasa Arab yang berseliweran di sekitarku… Membuatku tiba-tiba dapat kunci surga….

Namun kehadirang orang-orang berpenampilan “Islam Nusantara” cukup membuatku merasa tenang. Selain itu ada pula orang-orang dari organ relawan Jokowi.

Yang cukup menarik perhatianku adalah orang yang membawa tas ransel besar di punggungnya. Pakai celana panjang model banyak kantong dan sepatu keds tebal. Asumsiku, dia seperti “survivor” dari daerah konflik.

Kemudian datang orang-orang asing dengan tipikal bangsa Timur Tengah. Dikawal oleh beberapa orang Indonesia, mereka memasuki sebuah ruangan tertutup. Tak lama kemudin disusul oleh seorang perempuan berkerudung. Badannya tinggi, hidungnya mancung dan wajahnya cantik, khas keturunan Arab. Belakangan baru kuketahui mereka adalah para nara sumber dan moderator.

Tak lama kemudian panitia meminta para tamu memasuki ruangan karena acara akan segera dimulai. Kusudahi pula makanku. Kuletakkan piring yang sudah bersih. Terakhir, aku menyantap dessert berupa pudding roti dan aneka kue tart mungil. Semoga, setelah kenyang, aku tak mengantuk….

Acara kemudian dibuka dengan pembacaan Surat Al Fatihah. Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu wajib Indonesia Raya oleh para hadirin. Berikutnya pembukaan secara singkat oleh Ketua ALSYAMI yang menyampaikan sabda Rosululloh bahwa,

“Siapapun yang sholatnya sama, menghadap kiblat yang sama, maka dia adalah muslim dan berada dalam lindungan Allah. Agar setiap muslim menjaga persatuan, saling mencintai pada sesama muslim pada khususnya dan pada sesama manusia pada umumnya. Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena belum tentu yang mengolok-olok itu lebih baik.”

Berikutnya pemaparan dari Drs. Djoko Haryanto, Duta Besar RI untuk Suriah. Beliau menceritakan kedatangannya ke Indonesia saat ini membawa 60 pengusaha dari Suriah yang rencananya akan melakukan hubungan perdagangan dengan Indonesia. Beliau juga menyampaikan bahwa pada Asian Games kemarin, Suriah mengirimkan 100 orang atletnya.

Konflik yang terjadi di Suriah, sebenarnya cukup membingunkan bagi masyarakat Indonesia, karena letaknya yang jauh, namun bisa berdampak ke Indonesia. Apa yang terjadi di Suriah merupakan gelombang Arab Spring yang diawali di Tunisia, Mesir, Libya, dan Yaman saat ini. Tak seperti pergantian pucuk kekuasaan di Indonesia yang berlangsung damai, pergantian kekuasaan di Arab disertai pertumpahan darah, perang saudara dan berakhir tragis. Seperti pada pemimpin Libya, Moamar Khadafi yang tewas dibunuh rakyatnya sendiri.

Suatu konspirasi sebenarnya memprediksi kekuasaan Bashar Al Assad akan tumbang dalam waktu 3 bulan, namun prediksi itu meleset, dan menenggelamkan Suriah dalam perang panjang selama 7 tahun.

Konflik yang bermula di bulan Maret 2011 itu diawali oleh Syrian Free Army, kelompok oposisi yang merupakan tentara desersi yang menolak rezim Assad.

Amerika, Israel, Eropa dan Yordania, ramai-ramai memusuhi Suriah hingga akhirnya Bashar Al Assad meminta bantuan pada Rusia dan Iran pada tahun 2015. Kejadian ini diumumkan di PBB. Sehingga perang tidak hanya terjadi di lapangan, namun juga di meja diplomasi. Hal-hal yang berkaitan dengan Suriah, di-veto oleh Amerika dan sekutunya. Suriah diganjar embargo ekonomi. Hal ini menyebabkan Cina juga masuk ke dalam perekonomian Suriah.

Begitu buruknya keadaan di Suriah, sampai-sampai wilayah yang dikuasai oleh pemerintah tinggal 20%. Namun pada tahun 2017 Aleppo berhasil direbut kembali. ISIS berhasil dipinggirkan sampai ke wilayah Raqqa.

Konflik yang terjadi di Suriah, murni merupakan konspirasi politik dan tak ada kaitannya dengan agama. Muslim Sunni dan Syiah disana tidak berperang. Bahkan tak ada bedanya dalam keseharian. Baru terlihat dari tata cara ibadahnya.  “Penggorengan” isu Syiah muncul karena Suriah dibantu oleh Iran yang Syiah.

Djoko Harjanto, sebagai dubes, berupaya memasuki kota-kota yang terisolasi di Suriah dalam upayanya menyelamatkan dan melindungi TKI dan para pelajar Indonesia. Sikap Indonesia yang tidak memihak, menyebabkan beliau banyak mendapatkan bantuan berupa pengamanan yang maksimal kemanapun ia berkehendak untuk bepergian dalam rangka mencari WNI disana.

Sebagai penutup, beliau menyampaikan bahwa kepentingan Negara itu nomor satu. Belajar dari pengalamannya saat menjadi staf kedutaan di Malaysia yang pernah juga terjadi insiden pembakaran bendera, namun tidak berlanjut dan berkembang semakin jauh. Dengan saling meminta maaf urusan selesai.

Belajar Islam, mestinya tak perlu jauh-jauh ke Arab. Tapi cukup di Indonesia. Karena di Indonesia sudah ada semua. Berhati-hatilah selalu ada upaya memecah belah. Persatuan dan kesatuan harus selalu digaungkan.

Pemaparan berikutnya disampaikan oleh Ziyad Zahrudin, Duta Besar Suriah untuk Indonesia. Tak banyak yang disampaikan oleh beliau karena kondisi secara umum sudah disampaikan oleh dubes RI. Untuk mengatasi masalah di Suriah itu semua hal sudah dilakukan. Apa yang tadinya mengancam dan berhasil menghancurkan Suriah, kini mengancam Indonesia, oleh karenanya jangan sampai Indonesia menjadi hancur.

Di Suriah bukan perang suku, bukan perang agama, tapi murni politik. Suriah belajar dari Indonesia cara merawat kebhinekaan. Indonesia memiliki kesan yang baik dimata dunia.

Pembicara selanjutnya merupakan pembicara kunci. Beliau adalah Syeikh Dr. Adnan Al Afyouni. Beliau menjabat sebagai Mufti Damaskus dan Ketua Dewan Rekonsiliasi Nasional Suriah. Mufti itu seperti tokoh ulama. Kedatangannya adalah dalam rangka untuk meningkatkan hubungan dengan Kementrian Agama, Alumni Syam dan lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia.

Tahun ini pemerintah Suriah bekerja sama dengan Alumni Syam memberi beasiswa untuk 30 orang. Satu-satunya beasiswa luar negeri dari Suriah untuk Indonesia. Tanggal 30 November nanti akan berangkat ke Suriah.

Di Suriah terdapat mahasiswa dari 60 negara, namun yang mengesankan adalah mahasiswa dari Indonesia. Di awal-awal terjadinya konflik, semua mahasiswa kembali ke negaranya masing-masing, kecuali mahasiswa dari Indonesia. Mereka menghadap Mufti dan bertanya apa yang harus mereka lakukan. Dijawab oleh Mufti bahwa jika ingin pulang dipersilakan. Namun jika ingin tinggal pun silakan. Hingga saat ini mereka masih berada di Suriah.

Para mahasiswa Indonesia dikenal memiliki akhlak yang baik.

Diceritakan pula olehnya bahwa bangsa Suriah adalah bangsa yang heterogen. Tidak bisa dibedakan berdasarkan agama. Hidup bersama sebagai bangsa yang satu.

Agama seharusnya menyatukan manusia bukan memecah belah manusia. Agama mengajarkan norma-norma yang baik, bersatu dalam sebuah Negara. Krisis Suriah adalah krisis politik, cerminan konflik global. Dimana melibatkan banyak pihak, banyak Negara untuk kepentingan suatu golongan.

Suriah tadinya adalah Negara teraman di dunia. Tidak ada perang suku. Biaya hidup murah dan tidak ada orang miskin di Suriah.

Lalu mengapa orang-orang ini melawan pemerintah? Karena misikin, atau agama, atau politik?

Apa yang terjadi di Suriah adalah imbas dari Arab Spring yang melanda Tunisia, Mesir, Libya dan Yaman yang juga jadi porak poranda karena konflik.

Mereka yang menyerang Suriah, untuk menghancurkan Suriah, namun tak berhasil. Diantaranya ada Qatar yang ingin agar jalur pipa gasnya melewati Suriah. Ada Amerika yang ingin mengamankan Israel dari serangan Suriah.

Amerika menemukan adanya cadangan gas dan minyak di Suriah pada tahun 2008, maka mereka ingin menguasai Suriah seperti apa yang telah mereka lakukan pada Irak.

Mereka menggunakan agama dan melakukan propaganda di masjid-masjid.

Di Suriah pendidikan dan kesehatan gratis. Kebutuhan pokok dijamin oleh pemerintah. Maka tidak ada yang bisa dimainkan selain melalui agama. Mereka menebar ketakutan, akan membunuh orang Kristen, Syiah. Namun hal ini tidak berhasil karena mayoritas rakyat Suriah tidak rela jika gama digunakan sebagai alat merebut kekuasaan.

Bangsa Suriah pun ingin hidup lebih baik. Presiden Assad telah membuka diri untuk memaafkan pihak-pihak yang memusuhinya, demi masa depan Suriah. Yang tidak mau rekonsiliasi dipersilakan pergi, disediakan tempat di bagian selatan.

Rekonsiliasi ini dilakukan atas dasar cinta Islam, cinta Allah, dan cinta Rosululloh. Seluruh rakyat Suriah hari ini berbondong-bondong melakukan rekonsiliasi. Tapi Negara-negara luar masih tetap mengirim pasukan. Mereka tak ingin Suriah damai.

“Kami ingin mempertahankan Suriah. Kami telah melewati masa-masa sulit. Yang bikin sulit adalah orang-orang diluar Suriah,” ujar Syeikh Adnan. Sebagai Ketua Dewan Rekonsiliasi ia telah berkeliling menjumpai para oposan. Mengajak berdamai untuk Suriah yang lebih baik.

“Kami tak ingin menyia-nyiakan 1 nyawapun. Mendahulukan kepentingan Negara, tidak lagi saling menyalahkan. Sepakat membangun Suriah kembali bersama. Yang kemarin menentang, sudah kembali bersatu dalam 1 barisan.”

“Kami berkumpul dengan berbagai komponen yang tadinya saling bertempur. Tidak ada artinya dan tidak ada harganya jika kita tidak punya Negara dan Suriah hancur. Jika Suriah masih ada, itu untuk anak cucu. Jika sudah hancur, apa yang mau diwariskan.”

“Wahai bangsa Indonesia. Tempatkan kepentingan Negara diatas segalanya. Diatas perasaan kita, emosi kita. Masyarakat Suriah punya tanggung jawab kepada Allah. Tidak ada satu rumahpun yang tidak berduka karena krisis ini. Api jika sudah membakar akan sulit dipadamkan. Bagi orang yang berakal, mukmin sejati, cinta Allah, cinta Rosululloh, tidak akan menciptakan konflik bagi negaranya. Mukmin sejati bisa mengorbankan dirinya untuk kepentingan negaranya.”

Syeikh Adnan kemudian mengambil teladan dari kisah Rosululloh yang banyak mengalah pada saat Perjanjian Hudaibiyah agar tidak terjadi pertumpahan darah. Jika ingin bersama Rosululloh maka berperilakulah seperti Rosululloh. Semoga komponen di Indonesia bisa bekerja sama untuk kepentingan Negara.

Sebagai penutup, Syeikh Adnan menyampaikan :

Keimanan adalah hal yang utama. Ketika keimanan hilang maka tak ada keamanan. Barang siapa hidup tanpa agama, maka ia hidup dalam kerusakan. Iman menciptakan keamanan. Bayangkan Negara tanpa iman, tanpa akhlak, maka tak ada keamanan. Dengan syarat, keimanan yang benar. Bukan iman yang palsu.

Kelompok Khawarij mengaku beriman tapi iman yang salah. Mereka mengatasnamakan iman tapi membunuh dan melarang haji ke Baitullah.

Rosululloh bersabda, “Akan datang pada kalian suatu kaum yang sholatnya sama, baca Qurannya sama tapi tidak sampai ke sanubari.”

Keimanan tercermin pada kepribadian Rosululloh yang rahmatan lil alamain. Keimanan menurut Rosululloh, sesama muslim harus saling menjaga darah. Saling menjaga saudara muslim yang lain. Sebaik-baik orang iman adalah orang yang member manfaat bagi orang lain.

Jadi jika keimanan itu palsu, akan terjebak pada kepalsuan-kepalsuan berikutnya.

Pemaparan berikutnya disampaikan oleh Ahsin Mahrus sebagai perwakilan mahasiswa Indonesia di Suriah. Ia menceritakan bagaimana pada saat Aleppo dalam keadaan genting namun Dubes Djoko Harjanto berani memasuki wilayah tersebut untuk mengevakuasi WNI.

Ia menceritakan bahwa masyarakat Suriah adalah masyarakat yang baik hati. Senang pada pelajar yang bicara dalam bahasa Arab terpatah-patah, kemudian memberi sedekah. Biaya pendidikan diSuriah sebesar 60 – 100 dolar setahun, namun diberi uang saku sehingga bisa punya uang melebihi yang dibayarkan untuk biaya pendidikan tersebut. Sekolah, makan, minum, buku, semua gratis. Tapi itu sebelum perang.

Setelah perang, semua orang jadi saling mencurigai. Apakah golongan pro rezim atau anti rezim. Selama kurun waktu 2012-2018 tidak ada pelajar asing yang masuk karena banyaknya orang asing yang ikut konflik. Selain itu fasilitas pendidikan pun telah hancur. Yang dirugikan tentu saja pelajarnya. Para pendidiknya mengungsi ke luar negeri. Barang-barang jadi mahal, ekonomi hancur.
Kenapa tidak belajar dari Suriah?
Tidak bisa mempermasalahkan perbedaan suku, diangkatlah masalah agama. Hal yang kecil jadi besar. Baru sadar setelah hancur. Ternyata kita ini di adu domba. Gunakan akal sehat untuk mencerna agama.

Berikutnya pemaparan dari Dr. Ainur Rofiq. Beliau dulunya pernah tergabung dalam HTI. Cukup aktif sampai-sampai ikut mendekati para kyai di Jawa Timur untuk menyampaikan gagasan mengenai khilafah. Namun akhirnya keluar dari HTI karena merasa tertipu. Gagasan mengenai berdirinya Negara khilafah tak kunjung terwujud. Beliau juga merupakan saksi ahli dalam persidangan HTI.

Secara singkat beliau menyampaikan bahwa, “Siapa yang bisa membuktikan bahwa bendera yang dipegang HTI itu adalah bendera yang sama dengan bendera Rosululloh? Jangan terpengaruh bahwa itu adalah bendera yang disepakati oleh umat Islam.”
**
Catatan penulis :
Tulisan ini dibuat sebagai bentuk laporan pandangan mata setelah mengikuti acara diskusi secara langsung. Sama sekali tidak ada niatan untuk menjadi propaganda atau kepanjangan tangan dari pihak manapun.

Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan konflik Timur Tengah pada umumnya, dan Suriah khususnya. Sama seperti jika tetangga kita bertengkar dalam rumah tangganya. Tak elok rasanya jika kita ikut campur urusan rumah tangga orang.

Kecuali jika pertikaian itu bisa berdampak pada diri kita dan sudah pada taraf membahayakan, kemudian kita dimintai pertolongan, barulah kita mengkaji akar masalahnya dan memberi pertolongan sebisanya.

Yang bisa kita lakukan sebagai orang yang mencintai negeri kita adalah menolak masuknya paham-paham asing yang tidak sesuai dengan budaya kita.

Bangsa dan Negara ini bisa bertahan sampai  saat ini justru karena kita sudah terbiasa rukun dengan orang-orang yang  budaya dan agamanya berbeda dengan kita. Kita sudah terbiasa bertoleransi. Toleransi dan menghargai perbedaan ini sudah diajarkan sejak kita kecil.

Apa yang terjadi di Suriah setelah perang, dimana masyarakatnya jadi saling mencurigai, sudah terjadi pada diri kita sekarang ini.

Lu Jokower apa Prabowo?
Lu Ahoker apa Anieser?
Lu Jawa? Jawanya mana?
Lu Islam? Sunni atau Syiah? Wahabi atau Salafi? NU atau Muhammadiyah?

Astaghfirullohalazim….

Mari mulai sekarang kita biasakan tidak mempermasalahkan perbedaan suku dan aliran. Kalaupun orang Jawa, ya sudahlah Jawa saja. Kalupun Islam, ya sudahlah Islam saja.

Kita adalah satu. IndONEsia….

#JanganSuriahkanIndonesia

Sunday, September 16, 2018

Penjelasan Soal Hadits Nabi dan Bendera Khilafah HTI - ISIS l

Penjelasan Soal Hadits Nabi dan Bendera Khilafah HTI - ISIS

ISIS dan HTI sama-sama mengklaim bendera dan panji yg mereka miliki adalah sesuai dg Liwa dan rayah-nya Rasulullah. Benarkah? enggak! Kalau klaim mereka benar, kenapa bendera ISIS dan HTI berbeda design dan khat tulisan arabnya? Ayoooo 🙂

Secara umum hadits-hadits yg menjelaskan warna bendera Rasul dan isi tulisannya itu tidak berkualitas shahih. Riwayatnya pun berbeda-beda: ada yg bilang hitam saja, ada yg bilang putih saja, ada riwayat yg bilang hitam dan putih, malah ada yang bilang merah dan juga kuning.  Riwayat lain bendera itu gak ada tulisan apa-apa. Jadi gak ada tulisan tauhidnya, cuma kosong saja. Riwayat lain bilang ada tulisan tauhidnya. Riwayat seputar ini banyak sekali, dan para ulama sudah memberikan penilaian. Secara umum tidak berkualitas sahih.

Dalam sejarah Islam juga kita temukan fakta yang berbeda lagi. Ada yg bilang Dinasti Umayyah pakai bendera hijau, Dinasti Abbasiyah pakai hitam, dan pernah juga berwarna putih. Apa mau bilang para Khalifah ini tidak mengikuti bendera Rasul? Ribet kan!

Jadi yang mana bendera khilafah? Yah tergantung anda mau merujuk ke Khilafah Umayyah atau Abbasiyah? Gak ada hal yang baku soal bendera ini. Coba saja buka kitab Ahkamus Sulthaniyah karya Imam Mawardi: apa ada pembahasan soal bendera negara Khilafah? Enggak ada!  Kenapa yang gak ada terus mau diada-adakan seolah menjadi urusan syariat? Mau bilang Imam al-Mawardi gak paham soal ini? Nah, tambah ribet kan!

Konteks bendera dan panji dipakai Rasul itu sewaktu perang untuk membedakan pasukan Rasul dengan musuh. Bukan dipakai sebagai bendera negara. Jadi kalau ISIS dan HTI tiap saat mengibarkan liwa dan rayah, emangnya kalian mau perang terus? Kok kemana-mana mengibarkan bendera perang?

Kalau dianggap sebagai bendera negara khilafah, kita ini NKRI, sudah punya bendera merah putih. Masak ada negara dalam negara?! Ini namanya makar! Bahkan ada tokoh HTI yang mempertanyakan apa ada haditsnya bendera RI yang berwarna merah-putih? Nah kan, kelihatan makarnya, sudah mereka tidak mau menerima Pancasila dan UID 1945, sekarang mereka juga menolak bendera merah-putih. Jadi, yang syar’i itu bendera HTI, begitu maunya mereka, padahal urusan bendera ini bukan urusan syari’at.

Sekarang bagaimana status hadits soal bendera ini? Kita bahas singkat saja biar gak makin ribet membacanya.

Hadits riwayat Thabrani dan Abu Syeikh yg bilang bendera Rasul hitam dan panjinya putih itu dhaif.  Mengapa demikian? Riwayat Thabrani ini dhaif karena ada rawi yg dianggap pembohong yaitu Ahmad bin Risydin. Bahkan kata Imam Dzahabi, dia pemalsu hadits.

Riwayat Abu Syeikh dari Abu Hurairah itu dhaif karena kata Imam Bukhari rawi yg namanya Muhammad bin Abi Humaid itu munkar.

Riwayat Abu Syeikh dari Ibn Abbas menurut Ibn Hajar dalam kitabnya Fathul Bari, sanadnya lemah sekali.

‎وجنح الترمذي  إلى التفرقة فترجم بالألوية وأورد حديث جابر  " أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل مكة  ولواؤه أبيض " ثم ترجم للرايات وأورد حديث البراء  " أن راية رسول الله صلى الله عليه وسلم كانت سوداء مربعة من نمرة " وحديث ابن عباس  " كانت رايته سوداء ولواؤه أبيض " أخرجه الترمذي  وابن ماجه  ، وأخرج الحديث أبو داود ،  والنسائي  أيضا ، ومثله لابن عدي  من حديث أبي هريرة  ، ولأبي يعلى  من حديث بريدة  ، وروى أبو داود  من طريق سماك  عن رجل من قومه عن آخر منهم " رأيت راية رسول الله صلى الله عليه وسلم صفراء " ويجمع بينها باختلاف الأوقات ، وروى أبو يعلى  عن أنس  رفعه " أن الله أكرم أمتي بالألوية " إسناده ضعيف ، ولأبي الشيخ  من حديث ابن عباس  " كان مكتوبا على رايته : لا إله إلا الله محمد  رسول الله " وسنده واه

Kalau sudah Ibn Hajar yang komentar soal hadits, HTI dan ISIS mau ngeles apa lagi? Jangan marah sama saya, saya hanya mengutip pendapat Ibn Hajar yang otoritasnya dalam ilmu Hadits sangat diakui dalam dunia Islam. Kalau ada ulama yg menyatakan hadits Abu Syeikh ini sahih, ya silakan saja. Saya lebih percaya dengan Ibn Hajar daripada dengan ulama HTI.

Komentar Ibn Hajar di atas itu telak sekali. Semoga ini membuka mata para kader HTI, yang sudah dibubarkan pemerintah itu. Bendera HTI dan juga ISIS tidak memliki landasan yang kuat. Tidak ada perintah Rasulullah untuk kita mengangkat bendera semacam itu; tidak ada kesepakatan mengenai warnanya, dan apa ada tulisan atau kosong saja, dan tidak ada kesepakatan dalam praktek khilafah jaman dulu, serta para ahli Hadits seperti Ibn Hajar menganggap riwayatnya tidak sahih.

Katakanlah ada tulisannya, maka tulisan khat jaman Rasul dulu berbeda dengan di bendera ISIS dan HTI. Jaman Rasul, tulisan al-Qur'an belum ada titik, dan khatnya masih pra Islam yaitu khat kufi. Makanya meski mirip, bendera ISIS dan HTI itu beda khatnya. Kenapa ayo? Kan sama2 mengklaim bendera Islam? Itu karena tulisan khat-nya rekaan mereka saja. Gak ada contoh yg otentik dan sahih bendera Rasul itu seperti apa. Itu rekaan alias imajinasi orang-orang ISIS dan HTI berdasarkan hadits-hadits yg tidak sahih

Jadi jangan mau dibohongin yah sama bendera Islam-nya HTI dan ISIS.

Perkara ini bukan masuk kategori syari'ah yg harus ditaati. Gak usah ragu menurunkan bendera HTI dan ISIS. Itu bukan bendera Islam, bukan bendera Tauhid.

Tapi ada tulisan tauhidnya? Masak kita alergi dengan kalimat tauhid? Itu hanya akal-akalan mereka saja. Untuk mengujinya gampang saja, kenapa HTI gak mau mengangkat bendera ISIS dan kenapa orang ISIS tidak mau mengibarkan bendera HTI padahal sama-sama ada kalimat Tauhid-nya? Itu karena sifat sebuah bendera di masa modern ini sudah merupakan ciri khas perangkat dan simbol negara. Misalnya warga Indonesia tidak mau mengangkat bendera Belanda atau lainnya. Bukan karena benci dengan pilihan warna bendera mereka, tapi karena itu bukan bendera negara kita.

Bendera itu merupakan ciri khas sebuah negara. Apa HTI dan ISIS mau mengangkat bendera berisikan kalimat Tauhid yang khat dan layout-nya berbeda dengan ciri khas milik mereka? Atau angkat saja deh bendera Arab Saudi yang juga ada kalimat Tauhidnya. Gimana? Gak bakalan mau kan. Karena bendera sudah menjadi bagian dari gerakan mereka. Maka jelas bendera ISIS dan HTI bukan bendera Islam, bukan bendera Rasul, tapi bendera ISIS dan HTI.

Itu sebabnya Habib Luthfi bin Yahya dengan tegas meminta bendera HTI diturunkan dalam sebuah acara. Mursyid yang juga keturunan Rasulullah ini paham benar dengan sejarah dan status hadits soal bendera ini.

Saya ikut pendapatnya Imam Ibn Hajar dan ikut sikap Habib Luthfi.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Monday, June 18, 2018

ISLAM DI KUDUS ( abad 16 - 19 M ) ; ANTARA PERSPEKTIF BELANDA DAN HIKAYAT RAKYAT.

ISLAM DI KUDUS ( abad 16 - 19 M )  ; ANTARA PERSPEKTIF BELANDA DAN HIKAYAT RAKYAT. 

Oleh: Gus Mahin Saiq.

Sejarah Kudus berangkat dari hijrahnya Sunan Kudus ke daerah Tajug yang berada di kawasan Pulau Muria. Dalam buku "The Islamic State of Java", Th. Pigeaud dan D.J. De Graf pernah menulis bahwa pasca hijrah ke pulau muria, Sunan Kudus berhasil membangun kota keagamaan yang hari ini bernama Kudus. Menurut tradisi lisan, kawasan tsb berada di sebelah barat sungai Gelis.  Istilah "Kota keagamaan" yang dipakai oleh D.J. De Graf ini-lah yang tentunya sangat menarik untuk kita dalami.

Dua sejarawan gaek di atas tidak menjelaskan gambaran yang rinci tentang kota islam yang baru ini. Dia hanya menulis bahwa kota di kawasan pulau Muria itu, seperti kota Pati, Jepara dan Juwana, adalah kota kecil dibanding Demak yang banyak ditumbuhi pohon-pohon jati. Kawasan pulau Muria pada abad 16 umun-nya menjadi pemasok beras ke kawasan Demak. Sebagaimana diketahui, Demak saat itu adalah kota terpenting di Jawa dan dihuni tak kurang dari 7 ribu orang.

Tome Pires di dalam bukunya "Suma Oriental" juga tidak banyak memberi informasi tentang islam di Kudus. Agen Portugis yang datang ke Jawa pada paruh pertama abad 15 M itu justru malah banyak berbicara tentang Jepara, Demak, Pati, atau Cajongan (Juwana). Hal ini bisa dimaklumi karena Kudus saat itu belum ada. Kudus sendiri baru berdiri sesudah kedatangan Pires, yakni pada tahun 1549 M. (Hitungan berdasarkan prasasti Menara).

Meski demikian, Tome Pires sempat menyebut lokasi Kudus berada, yakni kawasa gunung Muria. Ia juga menulis tentang adanya selat yang memisahkan Demak dengan kepulaun Muria, yang katanya bisa dilalui kapal-kapal besar hingga ke daerah Rembang. Apa yang disampaikan Pires ini, agaknya bisa diperkuat dengan cerita rakyat desa Jepang - Mejobo. Menurut tradisi lisan daerah tsb dulunya adalah rawa-rawa. Arya Jipang yang diyakini sebagai cikal bakal daerah tsb, dulu sempat menambatkan perahunya di daerah tsb saat hendak menemui Sunan Kudus. 

Sebelumnya Tome Pires juga telah menggambarkan kondisi sosial pesisir utara jawa secara umum. Menurutnya, di Pesisir utara Jawa saat itu banyak terdapat pedagang asing dari Arab, Persia, Gujarat, dan Cina. Apa yang disampaikan Tome Pires ini, jika kita tarik lebih jauh sebenarnya punya akar sejarah yang kuat. Apalagi secara geografis, laut Jawa saat itu merupakan jalur sutra perdagangan internasional. Wajar bila kemudian banyak pedagang asing di sepanjang pesisir tsb, terlebih pasca jatuhnya Malaka ke tangan VOC yang membuat para pedagang harus mencari lahan baru.

Tome Pires tidak menggambarkan secara rinci tentang kondisi islam di pesisir utara pada masa itu. Namun ia bilang bahwa orang asing itu, selain berdagang juga berdakwah dan membangun masjid. Pertanyaan kita : Apa nama masjid tsb dan ada di daerah mana ? Tidak ada informasi yang jelas. Hanya menurut tradisi lisan,  terdapat sebuah masjid di Demak yang usianya lebih tua dibanding masjid agung yang dibangun Wali songo. Konon, masjid ini dibangun oleh saudagar Palembang. Laporan ini kalau bisa dipastikan kebenarannya, agaknya akan sesuai dengan apa yang disampaikan oleh utusan Portugis tsb.

Berbicara soal sejarah berdirinya kota Kudus tentu tidak bisa dilepaskan dengan peristiwa hijrah-nya Sunan Kudus dari Demak ke kepulauan Muria. Peristiwa ini-lah yang kemudian tercatat oleh sumber-sumber Belanda, dan dianggap menjadi titik awal lahirnya kota "keagamaan" yang baru sebagai pecahan dari Demak. Pasca hijrah tidak saya temukan catatan rinci tentang kehidupan Sunan Kudus ini. Sumber-sumber yang ada justru lebih sering menyoroti kiprah beliau saat masih aktif di Demak.

Sedikit laporan yang bersumber dari Babad Tanah Jawi menyebutkan bahwa Sunan Kudus membawa murid-muridnya saat hijrah ke kepulauan Muria. Tak ada catatan siapa murid yang dimaksud itu. Namun diriwayatkan beberapa nama orang yang pernah belajar kepada beliau, seperti Aryo Penangsang (Adipati Jipang), Sunan Prawoto (Raja Demak pasca Trenggono), dan Ratu Kalinyamat. Di dalam tradisi lisan masyarakat Dema'an juga disebut bahwa Pangeran Puger pernah berguru kepada beliau. 

Terlepas dari pro-kontra di atas, yang jelas agama islam pada saat itu (abad 15) sudah menyebar ke berbagai pelosok kaki gunung Muria. Dalam artian bahwa islam tidak hanya dianut oleh penduduk sekitar Menara saja -- sebagai pusat islam Kudus saat itu -- tapi juga telah dianut di berbagai kawasan lain. Beberapa hikayat rakyat, adanya makam-makam tua dan temuan arkeologis mengindikasikan tepri ini. Apalagi saat itu banyak delegasi kerajaan Demak lainnya yang telah menyebarkan islam di berbagai penjuru pulau Muria.

Sekitar tahun 2010 pernah ditemukan beberapa makam tua di daerah Loram (kecamatan Jati) yang diperkirakan berasal dari abad 15 M. Posisi makam yang menghadap ke barat, memberi indikasi kuat bahwa itu adalah makam islam. Hal ini jelas memberi informasi adanya pemeluk islam di kawasan tsb sejak zaman dulu. Apalagi pernah ada laporan serupa yang seingat saya pernah didasarkan pada penelitian Agus Sunyoto.

Beberapa simbol islam, khususnya masjid yang dibangun pada abad 16 setidaknya juga masih eksis sampai hari ini. Sejarawan belanda seperti De Graff, Pigeaud dan Denys Lombard pernah menyebut masjid Al-Manar atau Al-Aqsha. Berdasarkan prasasti yang ada, masjid ini memang selesai dibangun pada masa Sunan Kudus. Yakni tahun 1549 M. Sejauh penelusuran saya, hanya masjid ini-lah yang disebut para sejarawan belanda itu. Hal ini seolah mengindikasikan bahwa islam di Kudus saat itu hanya ada di daerah Menara saja. Padahal tidak demikian.

Dalam tradisi lisan masyarakat misalnya, saat itu juga sudah ada beberapa masjid di Kudus. Diantaranya masjid Madureksan di sebelah selatan masjid Menara. Masjid ini bahkan dianggap lebih tua dari masjid menara. Di bagian timur, tepatnya di daerah Jepang - Mejobo terdapat masjid wali yang oleh masyarakat diyakini dibangun pada periode ini. Di daerah Loram - Jati juga terdapat masjid Wali yang didirikan pada abad 16 ini. Dalam tradisi lisan masyarakat, Sunan Kudus menjadi pelopor berdirinya masjid ini. Sementara di daerah Jekulo, juga ada masjid yang kini bernama Baitus Salam. Dalam catatan para Kyai sepuh setempat, nama Sunan Kudus juga disebut sebagai salah satu pelopor pendirian masjid ini.

Apalagi jika kita membicarakan fakta menarik tentang jaringan makam-makam tua di Kudus. Yang biasanya mereka ini berafiliasi ke Sunan Kudus, Sunan Muria atau bahkan diantaranya ke Demak. Baik dalam hubungan guru murid, prajurit perang, atau abdi dalem. Berdasarkan tradisi lisan yang ada, jaringan itu terutama jaringan guru - murid, menggambarkan sebuah teori yang menarik, bahwa dakwah kedua Sunan tsb -- kemungkinan juga Sunan lainnya -- merupakan sebuah program yang telah disusun sistematis. Dalam artian para Sunan tsb tidak sendirian di dalam mengemban misi dakwah tsb, melainkan juga mengerahkan para muridnya yang dikirim ke berbagai daerah.

Sebut saja Sunan Muria. Dalam hikayat rakyat, ia mengirim murid-muridnya ke berbagai desa. Seperti Mbah Jaelani ke daerah Garung - Kaliwungu. Atau Mbah Abdul Jalil ke ke daerah Jekulo yang juga berafiliasi ke Demak sebagai salah satu panglima perang.  Atau misalnya Pangeran Poncowati yang di makamkan di belakang masjid Menara. Dugaan di atas semakin kuat bila kita menengok tradisi lisan masyarakat Loram yang percaya bahwa penyebar islam di kawasan tsb adalah sultan Hadirin yang diutus oleh Sunan Kudus secara langsung.

Berbicara peran orang-orang cina di Kudus, lagi-lagi berdasarkan tradisi lisan, kita juga akan mendapati jaringan cina muslim di Kudus dan secara umum di pesisir utara Jawa. Pada abad 16 M ini, secara umum sumber-sumber belanda juga pernah menyebut komunitas Cina di pesisir utara. Di Kudus sendiri, tercatat nama-nama cina yang berjasa menyebarkan islam. Sebut saja Sunan Telingsing ( guru Sunan Kudus) dan ayahnya, Sun Ging An. Tokoh terkait -- terlepas benar adanya -- adalah penyebar islam di Kudus sebelum kedatangan Sunan Kudus. Namun sayangnya, tidak ada dokumen tertulis yang menjelaskan sosok ini. Sumber lisan hanya menyebut ia berafiliasi kepada Ceng-Ho.

Anak buah Ceng-Ho ini -- dalam tradisi lisan -- juga terlacak jejaknya di kawasan Loram - Jati. Sultan Hadirin yang oleh masyarakat setempat pernah menyebarkan islam di kawasan tsb, kabarnya ditemani seorang keturunan Cina bernama Tji Wie Gwan. Menurut masyarakat, tokoh cina terkait selain ikut menyebarkan islam, juga membuat gapura masjid yang bisa kita lihat sampai sekarang. Tokoh cina juga terlacak di daerah Ngembal rejo. Orang tsb bernama Cong-He, dan sekarang namanya dijadikan nama desa daerah tsb. Namun sekali lagi, kami tidak bisa memverifikasi kebenaran cerita-cerita tsb.

Pada abad 17 M atau era kepemerintahan Mataram, lagi-lagi tidak ada catatan rinci tentang Kudus yang bisa kita tampilkan. Secara politis, juga tidak ada laporan tentang jejak siapa penerus pemerintahan. Sumber belanda menulis, bahwa penerus Sunan Kudus ketiga melarikan diri ke jawa timur. Hal ini dipicu karena persoalan politik. Lagi-lagi tidak diketahui kemana ia lari, namun kemungkinan ke Madura.

Berdasarkan sumber lisan, pada abad 17 ini, terdapat pendakwah asal Madura di kawasan Padurenan - Gebog. Tokoh tsb bernama Raden Syarif dan diyakini merupakan putera dari adipati Sumenep, Pangeran Yudonegoro. Tidak jelas kapan ia datang ke Kudus. Sumber lisan hanya menyebuy bahwa ia selalu berpindah-pindah tempat dalam berdakwah. Dia bahkan juga pernah berdakwah di Mayong - Jepara. Sementara di kawasan Ngembal Rejo kabarnya juga terdapat tokoh agama bernama Ki Kalamudin.  (Sementara orang keliru menyebut beliau sebagai nama lain dari Mbah Abdur Rohim. Ulama' ngembal yang hidup abad 18 M, keturunan Sunan Tegal Arum).

Pada abad 18 M sepanjang penelusuran saya tidak ada catatan rinci tentang kondisi islam di Kudus. Hanya ada beberapa nama tokoh agama yang biografinya tidak banyak terdeteksi. Salah satunya "Ketib Anom Kudus" yang disebut dalam Serat Cebolek sebagai penentang Syekh Mutamakkin ( Kajen - Pati). Dalam serat tsb, Ketib Anom diceritakan bahwa Sang Ketib menentang habis-habisan ajaran Mbah Mutamakkin yang dianggap tidak benar. Konflik antara keduanya bahkan sampai ke telinga keraton Surakarta. Namun sekali lagi, biografi tentang "Ketib Anom" tsb tidak kami dapatkan. Hanya yang jelas, berangkat dari gelarnya. Sosok tsb adalah Ulama Kudus yang menjabat posisi keagamaan di keraton (Surakarta).

Sekitar akhir abad 18, kami merlacak beberapa nama Ulama Kudus di manuskrip-manuskrip kuno. Salah satunya manuskrip terjemahan "Fathul Muin" berbahasa jawa milik perpustakaan pesantren Al-Yasir, disebut secara jelas penulisnya bernama Tuan Haji Ismail Kudus. Kemudian ada keterangan bahwa penulis pengamal tarekat Khalwatiyah - Samman, tarekat yang dipopulerkan oleh Abdus Shamad al-Palimbani dan duo banjar, Arsyad al-Banjari dan Nafis al-Banjari.

Dari data terbatas yang ada tsb, ada dugaan kecil jaringan Sammaniyah pernah ada di Kudus ini. Setidaknya pada akhir atau awal abad 19 M. Yang lebih membuat penasaran, di manuskrip satunya yang juga bersumber dari Kudus, penulis manuskrip secara lebih jelas mengaku memperoleh pelajaran tajwid al-Quran dari "Maulana Arsyad bin Abdullah". Sayangnya tidak ada imbuhan gelar "Al-Banjari" setelah nama tsb, sehingga tidak bisa diyakini bahwa tokoh yang dimaksud adalah pembawa tarekat Samman ke Indonesia.

Namun berdasarkan isi manuskrip yang berbahasa melayu khas banjar, saya menduga kuat tokoh terkait adalah Syekh Arsyad al-Banjari. Ditambah lagi fakta adanya Tuan Haji Ismail yang merupakan pengamal tarekat khas Syekh Arsyad, tentu ini juga memperkuat dugaan adanya jaringan murid Syekh Arsyad al-Banjari, atau paling tidak jaringan tarekat Samman di Jawa khususnya Kudus. Hipotesis yang kami tampilkan ini, sekali pun perlu kajian mendalam lagi, tapi setidaknya memberi harapan terhadap rekonstruksi sisi-sisi sejarah islam Kudus yang lama terkubur.

Kondisi islam di Kudus terbaca secara lebih utuh baru  pada abad 19 M. Pada periode ini, secara struktural pusat pemerintahan Kudus sudah dipindahkan ke kawasan sebelah timur sungai Gelis. Kawasan ini kemudian banyak dihuni oleh orang-orang Cina dan pendatang dari luar. Secara kondisi keagamaan, Kudus abad 19 M juga sudah terdapat banyak pengajian dan Kyai. Pada periode ini, sejauh penelusuran saya memang belum ada pesantren atau madrasah di Kudus. Tapi tidak berarti kegiatan keagamaan juga tidak ada.

Dama catatan kami tentang Ulama-Ulama Kudus apada abad 18 ini juga banyak nama Ulama yang hari ini sudah tidak terdengar lagi. ada nama-nama seperti Kyai Asnawi Sepuh (Cucu Mbah Mutamakkin), Kyai Abdullah Sajjad (pendiri Muawanatul Muslimin), Kyai Imam Haramain (kakek Mbah Arwani), Kyai Abdullah Faqih, Kyai Raden Syarbini (Piji Dawe), Sayid Ali (gebog), Kyai Abdul Jalil, Kyai Moh Imam, Kyai Kamal Damaran, Kyai Mufid Sunggingan, Kyai Nurhadi, Kyai Asnawi Kudus, Kyai (mbah) Sanusi Jekulo, Kyai Ya'qub Gili, Kyai Abdur Rahim (Ngembal rejo), Kyai Yasir (Jekulo), Kyai Fakhrur Rozi, Kyai Shaleh Asnawi ( putra Kyai Asnawi sepuh) dan banyak tokoh lain.  Tokoh terakhir ini kemudian menjadi salah satu guru dari Kyai Shaleh Ndarat (semarang).

Pada abad 19 ini juga banyak orang-orang Kudus yang meneruskan study ilmu agama di Mekkah. Seperti umumnya tradisi Mekah, Orang-orang Jawa yang tinggal di sana biasanya diberi nama akhiran kota asalnya. Maka orang-orang Kudus pun demikian. Seperti Ali Kudus (ayah Syekh Abdul Hamid), Hamid Mannan Kudus, Utsman Kudus, dan beberapa nama lain.

Pada periode ini tercatat ada keluarga dari Yaman yang hijrah ke Kudus. Namanya Abdul Qadir. Tidak jelas di mana tepatnya keluarga itu tinggal. Di Kudus itu lahir-lah putra laki-laki yang bernama Ali.  Keluarga mereka akhirnya hijrah ke Mekah, dan Ali kecil mulai belajar agama di sini. Kelak Ali ini menjadi Ulama besar di Mekah yang mengarang banyak kitab keagamaan. Diantaranya kitab Kifayatul Mubtadi yang membahas persoalan akidah.

Sosok lain asal Kudus yang tinggal di Mekah adalah Haji Hamid Mannan. Kami tidak mendapati sumber utuh mengenai sosok ini. Namun dalam catatat sejarah Raden Asnawi, tokoh yang kita bicarakan ini membangun rumah tinggal di Mekah. Dan di situ-lah, Kyai Raden Asnawi tinggal selama menuntut ilmu.   Haji Hamid  tercatat juga punya relasi dengan mufti Mesir saat itu, Sayid Bik al-Husaeni. Dia-lah yang mempertemukan Kyai Raden Asnawi dengan sang mufti tsb.

Sosok lain yang belajar di Mekah pada era ini adalah Utsman bin Abdullah Kudus. Dugaan saya sosok ini adalah murid dari Syekh Nawawi banten. Namun lagi-lagi biografinya tidak terlacak. Sementara ini saya hanya menemukan keterangan bahwa tokoh terkait adalah penulis naskah kitab Mabadi' al-'Asyrah (10 prinsip keilmuan) karya Sekh Nawawi banten. Naskah tsb tersimpan di perpustakaan King Abdul Aziz dan selesai ditulis oleh tokoh tsb pada tahun 1322 H. Karya Syekh Nawawi ini -- sejauh penelusuran saya -- juga belum pernah terbit.

Saturday, June 16, 2018

Sejarah_Yahudi_Dan_Palestina

#Sejarah_Yahudi_Dan_Palestina

(فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولَاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ ۚ وَكَانَ وَعْدًا مَفْعُولًا * ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا * إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا)
[Surat Al-Isra' 5 - 7]

"Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang perkasa, lalu mereka merajalela di kampung-kampung. Dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. * Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka, Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. * Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjidil Aqsa), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai".

1. Nabi Ibrohim AS memiliki dua istri, Siti Saroh yang beliau buatkan rumah di dekat Masjidil Aqsha Palestina, dan Siti Hajar yang beliau buatkan rumah di dekat Masjidil Haram Makkah.

2. Dari siti saroh ini, Nabi Ibrohim memiliki putra nabi Ishaq, kemudian nabi Ishaq memiliki putra nabi Ya'qub, dan Nabi Ya'qub memiliki putra Nabi Yusuf dan 11 saudaranya yang lain, yang semuanya pada akhirnya diangkat menjadi nabi. Diantara mereka ada yang bernama YAHUDA. Kemudian lahir juga nabi² yang lain, yang diutus oleh allah untuk menyebarkan agama kepada Bani Israil, sebutan bagi penduduk keturunan nabi Ibrohim dari Siti Saroh.

3. Dari istri kedua nabi Ibrohim, Siti Hajar, lahir Nabi Isma'il. Namun tidak seperti dari jalur istri pertama yang melahirkan keturunan nabi secara berkesinambungan. Keturunan nabi Ibrohim dari siti Hajar yang menjadi nabi terhenti di Nabi Ismail baru kemudian setelah berabad-abad lamanya muncul dari keturunan ini, nabi akhir zaman pemimpin para Nabi, Nabi Muhammad SAW.

4. Keturunan nabi Ibrohim dari jalur Nabi Ishaq awalnya menetap di Palestina, setelah mengalami kekeringan panjang, mereka dibawa oleh Nabi Yusuf untuk pindah ke mesir setelah Nabi Yusuf menjadi bendahara di kerjaan Mesir. Namun setelah beberapa tahun setelah Nabi Yusuf wafat dan kepemimpinan Mesir dilanjutkan oleh Fir'aun yang terkenal jahat, Allah menghinakan Bani Israil, mereka diperbudak dan disiksa oleh Fir'aun.

5. Kemudian Allah mengutus Nabi Musa untuk kembali memurnikan ajaran tauhid dan menyelamatkan Bani Israil dari kekejaman Fir'aun. Mereka dibawa kembali oleh Nabi Musa dari Mesir menuju Palestina.

6. Di Palestina mereka hidup tentram dan berkuasa. Namun karena terlalu congkak, dan tidak mentaati hukum-hukum Allah dalam kitab taurot, Allah kembali menghinakan mereka dengan datangnya Jalut yang menyerang Palestina dan memperbudak Bani Israil. Ini yang dalam ayat di atas disebut sebagai janji pertama (وعد أولهما) dari dua janji Allah memporak porandakan Bani Israil.

7. Lama diperbudak oleh Jalut. Mereka diselamatkan kembali oleh Allah melalui tentara Tholut yang didalamnya ada Nabi Daud yang berhasil membunuh Jalut. Bani Isroil kembali berkuasa di Palestina dan hidup tentram serta mewah, puncaknya pada kekuasaan Nabi Sulaiman yang oleh orang² Yahudi masa kini disebut King Solomon.

8. Namun mereka kembali congkak setelah berkuasa. Mereka kembali mengingkari hukum-hukum Allah di dalam kitab Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud. Bahkan setelah diutus nabi baru untuk memurnikan ajaran tauhid, mereka tidak menerima dan mengingkarinya bahkan membunuhnya. Diantara nabi yang mereka bunuh adalah Nabi Yahya. Puncaknya terjadi saat Allah mengutus Nabi Isa AS dengan ajaran baru yang menyempurnakan kitab Zabur sebelumnya dengan kitab Injil, mereka tetap tidak menerima dan bahkan kembali mengupayakan pembunuhan terhadap Nabi Isa, namun mereka gagal karena Allah angkat Nabi Isa ke langit.

9. Dari kecongkaan inilah, Allah kembali hinakan mereka yang dalam ayat di atas disebut janji terakhir (وعد الأخيرة). Mereka kembali diserang dan diperbudak oleh bangsa romawi, dan persia. Hingga Islam datang, kawasan Palestina terbagi dua, sebagian dikuasai bangsa Romawi dan sebagian dikuasai bangsa Persia. Bani Isroil dengan agama yahudi yang telah mereka rubah (tidak murni lagi) terus diperbudak. Hingga akhirnya masa Nabi akhir zaman akan segera datang, dan mereka meyakini, Nabi ini berasal dari Bani Israil dan yang akan mengembalikan kejayaan Bani Israil. Namun sayang keyakinan mereka salah, ternyata nabi terakhir muncul dari bangsa arab yang tak lain kerabat jauh mereka yang memang mereka benci. Akhirnya mereka kecewa dan mengingkari ayat² Allah kembali dengan tidak mengimani Nabi Muhammad SAW. Dan sejak saat ini permusuhan orang² Yahudi terhadap Islam dimulai.

10. Setelam Islam muncul, Palestina berhasil dikuasai pemerintahan Islam setelah kepemimpinan Sayyidina Umar bin Khattab. Di bawah kepemimpinan Sayyidina Umar, sebenarnya orang-orang Yahudi diberi kebebasan melakukan semua ajaran agamanya. Namun mereka tetap merasa termarginalkan dan tidak puas karena bukan penguasa.

11. Pada masa selanjutnya, Palestina terus diperbutkan oleh masing-masing tiga agama. Kristen pernah berkuasa tapi kembali didapatkan oleh Islam melalui kepemimpinan Salahuddin al-Ayyubi dan berlangsung hingga Kekhilafahan Turki Utsmani runtuh. Orang-orang Yahudi kembali diperbudak bahkan dibasmi oleh bangsa eropa dan menjadi bulan²an di bawah kepemimpinan Hitler.

12. Setelah perang dunia pertama pecah, dan Palestina berada di bawah jajahan Inggris, orang² Yahudi meminta perlindungan pada kekaisaran Inggris dan diberi tempat beberapa desa untuk menjadi pemukiman Yahudi. Namun setelah perang dunia kedua meledak, orang² Yahudi malah memberontak pada pemerintahan Inggris yang menolongnya, dan pada akhirnya memaksa Inggris keluar dari tempat yang mereka tempati dan mendeklarasikan diri sebagai negara Israel pada tahun 1948 dan baru diakui dunia pada tahun 1949. Namun tidak cukup dengan itu, karena di eropa orang² Yahudi masih tetap menjadi bulan²an, mereka memperluas kekuasaan untuk menampung orang² yahudi di luar Israel, dengan melakukan infansi militer ke desa-desa sekitar di bawah kekuasaan Palestina yang masih belum mendapatkan pengakuan kemerdekaan oleh dunia. Hingga pada tahun 1988 M. Palestina mendeklarasikan diri sebagai negara yang merdeka. Namun begitu, deklarasi ini tidak mendapat pengakuan seluruh dunia khusunya oleh Israel sendiri dan negara² pendukungnya termasuk Amerika. Oleh karenanya sampai sekarang Palestina meski secara fakat (De Facto) telah merdeka, tapi dalam catatan dunia (De Juro) masih belum mendapatkan kemerdekaannya. Karenanya Palestina terus mengalami konflik dan penyerangan dari Israel yang masih terus ingin memperluas kekuasaan. Dan yang terpenting bagi Yahudi adalah menguasai Yarussalem, karena menurut keyakinan mereka, hanya dengan menguasai Yarussalem, mereka bisa mengembalikan masa keemasan KING SOLOMON yang mereka perkirakan kekuasaannya terpendam di bawah masjidil aqsha yang sekarang.

Tuesday, January 2, 2018

Islam jawa

ISLAM JAWA
Oleh : Gus Muwaffiq.
***

Ternyata, jaman dulu ada orang Belanda namanya Snouck Hurgronje. Dia ini hafal Alquran, Sahih Bukhori, Sahih Muslim, Alfiyyah Ibnu Malik, Fathul Mu’in , tapi tidak islam, sebab tugasnya menghancurkan Islam Indonesia.

Mengapa? Karena Islam Indonesia selalu melawan Belanda. Sultan Hasanuddin, santri. Pangeran Diponegoro atau Mbah Abdul Hamid, santri. Sultan Agung, santri. Mbah Zaenal Mustofa, santri. Semua santri kok melawan Belanda.

Akhirnya ada orang belajar secara khusus tentang Islam, untuk mencari rahasia bagaimana caranya Islam Indonesia ini remuk. Snouck Hurgronje masuk ke Indonesia dengan menyamar namanya Syekh Abdul Ghaffar. Dia belajar Islam, menghafalkan Alquran dan Hadis di Arab. Maka akhirnya paham betul Islam.

Hanya saja begitu ke Indonesia, Snouck Hurgronje bingung: mencari Islam dengan wajah Islam, tidak ketemu. Ternyata Islam yang dibayangkan dan dipelajari Snouck Hurgronje itu tidak ada.

Mencari Allah disini tidak ketemu, ketemunya Pangeran. Ketemunya Gusti. Padahal ada pangeran namanya Pangeran Diponegoro. Ada Gusti namanya Gusti Kanjeng. Mencari istilah shalat tidak ketemu, ketemunya sembahyang. Mencari syaikhun, ustadzun , tidak ketemu, ketemunya kiai. Padahal ada nama kerbau namanya kiai slamet. Mencari mushalla tidak ketemu, ketemunya langgar.

Maka, ketika Snouck Hurgronje bingung, dia dibantu Van Der Plas. Ia menyamar dengan nama Syekh Abdurrahman. Mereka memulai dengan belajar bahasa Jawa. Karena ketika masuk Indonesia, mereka sudah bisa bahasa Indonesia, bahasa Melayu, tapi tidak bisa bahasa Jawa.

Begitu belajar bahasa Jawa, mereka bingung, strees. Orang disini makanannya nasi (sego).  Snouck Hurgronje dan Van Der Plas tahu bahasa beras itu, bahasa inggrisnya rice, bahasa arabnya ar-ruz .

Yang disebut ruz, ketika di sawah, namanya pari, padi. Disana masih ruz, rice. Begitu padi dipanen, namanya ulen-ulen, ulenan. Disana masih ruz, rice. Jadi ilmunya sudah mulai kucluk , korslet.

Begitu ditutu, ditumbuk, digiling, mereka masih mahami ruz, rice , padahal disini sudah dinamai gabah. Begitu dibuka, disini namanya beras, disana masih ruz, rice . Begitu bukanya cuil, disini namanya menir, disana masih ruz, rice. Begitu dimasak, disini sudah dinamai sego , nasi, disana masih ruz, rice.

Begitu diambil cicak satu, disini namanya
upa, disana namanya masih ruz, rice. Begitu dibungkus daun pisang, disini namanya lontong, sana masih ruz, rice. Begitu dibungkus janur kuning namanya ketupat, sana masih ruz, rice. Ketika diaduk dan hancur, lembut, disini namanya bubur, sana namanya masih ruz, rice.

Inilah bangsa aneh, yang membuat Snouck Hurgronje judeg, pusing.

Mempelajari Islam Indonesia tidak paham, akhirnya mencirikan Islam Indonesia dengan tiga hal. Pertama, kethune miring sarunge nglinting (berkopiah miring dan bersarung ngelinting). Kedua, mambu rokok (bau rokok). Ketiga, tangane gudigen (tangannya berpenyakit kulit).

Cuma tiga hal itu catatan (pencirian Islam Indonesia) Snouck Hurgronje di Perpustakaan Leiden, Belanda. Tidak pernah ada cerita apa-apa, yang lain sudah biasa. Maka, jangankan  Snouck Hurgronje, orang Indonesia saja kadang tidak paham dengan Islam Indonesia, karena kelamaan di tanah Arab.

Lihat tetangga pujian, karena tidak paham, bilang bid’ah . Melihat tetangga menyembelih ayam untuk tumpengan, dibilang bid’ah. Padahal itu produk Islam Indonesia. Kelamaan diluar Indonesia, jadi tidak paham. Masuk kesini sudah kemlinthi, sok-sokan, memanggil Nabi dengan sebutan “Muhammad” saja. Padahal, disini, tukang bakso saja dipanggil “Mas”. Padahal orang Jawa nyebutnya Kanjeng Nabi.

Lha , akhir-akhir ini semakin banyak yang tidak paham Islam Indonesia. Kenapa? Karena Islam Indonesia keluar dari rumus-rumus Islam dunia, Islam pada umumnya. Kenapa? Karena Islam Indonesia ini saripati (essensi) Islam yang paling baik yang ada di dunia.

Kenapa? Karena Islam tumbuhnya tidak disini, tetapi di Arab. Rasulullah orang Arab. Bahasanya bahasa Arab. Yang dimakan juga makanan Arab. Budayanya budaya Arab. Kemudian Islam datang kesini, ke Indonesia.

Kalau Islam masuk ke Afrika itu mudah, tidak sulit, karena waktu itu peradaban mereka masih belum maju, belum terdidik. Orang belum terdidik itu mudah dijajah. Seperti pilkada, misalnya, diberi Rp 20.000 atau mie instan sebungkus, beres. Kalau mengajak orang berpendidikan, sulit, dikasih uang Rp 10 juta belum tentu mau.

Islam datang ke Eropa juga dalam keadaan terpuruk. Tetapi Islam datang kesini, mikir-mikir dulu, karena bangsa di Nusantara ini sedang kuat-kuatnya. Bangsa anda sekalian ini bukan bangsa kecoak. Ini karena ketika itu sedang ada dalam kekuasaan negara terkuat yang menguasai 2/3 dunia, namanya Majapahit.

Majapahit ini bukan negara sembarangan. Universitas terbesar di dunia ada di Majapahit, namanya Nalanda. Hukum politik terbaik dunia yang menjadi rujukan adanya di Indonesia, waktu itu ada di Jawa, kitabnya bernama Negarakertagama. Hukum sosial terbaik ada di Jawa, namanya Sutasoma. Bangsa ini tidak bisa ditipu, karena orangnya pintar-pintar dan kaya-raya.

Cerita surga di Jawa itu tidak laku. Surga itu (dalam penggambaran Alquran): tajri min tahtihal anhaar (airnya mengalir), seperti kali. Kata orang disini: “mencari air kok sampai surga segala? Disini itu, sawah semua airnya mengalir.” Artinya, pasti bukan itu yang diceritakan para ulama penyebar Islam. Cerita surga tentang buahnya banyak juga tidak, karena disini juga banyak buah. Artinya dakwah disini tidak mudah.

Diceritain pangeran, orang Jawa sudah punya Sanghyang Widhi. Diceritain Ka’bah orang jawa juga sudah punya stupa: sama-sama batunya dan tengahnya sama berlubangnya. Dijelaskan menggunakan tugu Jabal Rahmah, orang Jawa punya Lingga Yoni.

Dijelaskan memakai hari raya kurban, orang Jawa punya peringatan hari raya kedri. Sudah lengkap. Islam datang membawa harta-benda, orang Jawa juga tidak doyan. Kenapa? Orang Jawa pada waktu itu beragama hindu. Hindu itu berprinsip yang boleh bicara agama adalah orang Brahmana, kasta yang sudah tidak membicarakan dunia.

Dibawah Brahmana ada kasta Ksatria, seperti kalau sekarang Gubernur atau Bupati. Ini juga tidak boleh bicara agama, karena masih ngurusin dunia. Dibawah itu ada kasta namanya Wesya (Waisya), kastanya pegawai negeri. Kasta ini tidak boleh bicara agama.

Di bawah itu ada petani, pedagang dan saudagar, ini kastanya Sudra . Kasta ini juga tidak boleh bicara agama. Jadi kalau ada cerita Islam dibawa oleh para saudagar, tidak bisa dterima akal. Secara teori ilmu pengetahuan ditolak, karena saudagar itu Sudra dan Sudra tidak boleh bicara soal agama.

Yang cerita Islam dibawa saudagar ini karena saking judeg-nya, bingungnya memahami Islam di Indonesia. Dibawahnya ada kasta paria, yang hidup dengan meminta-minta, mengemis. Dibawah Paria ada pencopet, namanya kasta Tucca. Dibawah Tucca ada maling, pencuri, namanya kasta Mlecca. Dibawahnya lagi ada begal, perampok, namanya kasta Candala.

Anak-anak muda NU harus tahu. Itu semua nantinya terkait dengan Nahdlatul Ulama. Akhirnya para ulama kepingin, ada tempat begitu bagusnya, mencoba diislamkan. Ulama-ulama dikirim ke sini.

Namun mereka menghadapi masalah, karena orang-orang disini mau memakan manusia. Namanya aliran Bhirawa. Munculnya dari Syiwa. Mengapa ganti Syiwa, karena Hindu Brahma bermasalah. Hindu Brahma, orang Jawa bisa melakukan tetapi matinya sulit. Sebab orang Brahma matinya harus moksa atau murco.

Untuk moksa harus melakukan upawasa. Upawasa itu tidak makan, tidak minum, tidak ngumpulin istri, kemudian badannya menyusut menjadi kecil dan menghilang. Kadang ada yang sudah menyusut menjadi kecil, tidak bisa hilang, gagal moksa, karena teringat kambingnya, hartanya. Lha ini terus menjadi jenglot atau batara karang.

Jika anda menemukan jenglot ini, jangan dijual mahal karena itu produk gagal moksa. Pada akhirnya, ada yang mencari ilmu yang lebih mudah, namanya ilmu ngrogoh sukmo . Supaya bisa mendapat ilmu ini, mencari ajar dari Kali. Kali itu dari Durga. Durga itu dari Syiwa, mengajarkan Pancamakara.

Supaya bisa ngrogoh sukmo, semua sahwat badan dikenyangi, laki-laki perempuan melingkar telanjang, menghadap arak dan ingkung daging manusia. Supaya syahwat bawah perut tenang, dikenyangi dengan seks bebas. Sisa-sisanya sekarang ada di Gunung Kemukus.

Supaya perut tenang, makan tumpeng. Supaya pikiran tenang, tidak banyak pikiran, minum arak. Agar ketika sukma keluar dari badan, badan tidak bergerak, makan daging manusia. Maka jangan heran kalau muncul orang-orang macam Sumanto.

Ketika sudah pada bisa ngrogoh sukmo, ketika sukmanya pergi di ajak mencuri namanya
ngepet . Sukmanya pergi diajak membunuh manusia namanya santet. Ketika sukmanya diajak pergi diajak mencintai wanita namanya pelet. Maka kemudian di Jawa tumbuh ilmu santet, pelet dan ngepet.

Ada 1.500 ulama yang dipimpin Sayyid Aliyudin habis di-ingkung oleh orang Jawa pengamal Ngrogoh Sukma. Untuk menghindari pembunuhan lagi, maka Khalifah Turki Utsmani mengirim kembali tentara ulama dari Iran, yang tidak bisa dimakan orang Jawa.

Nama ulama itu Sayyid Syamsuddin Albaqir Alfarsi. Karena lidah orang Jawa sulit menyebutnya, kemudian di Jawa terkenal dengan sebutan Syekh Subakir. Di Jawa ini di duduki bala tentara Syekh Subakir, kemudian mereka diusir.

Ada yang lari ke Pantai Selatan, Karang Bolong, Srandil Cicalap, Pelabuhan Ratu, dan Banten. Di namai Banten, di ambil dari bahasa Sansekerta, artinya Tumbal. Yang lari ke timur, naik Gunung Lawu, Gunung Kawi, Alas Purwo Banyuwangi (Blambangan). Disana mereka dipimpin Menak Sembuyu dan Bajul Sengoro.

Karena Syekh Subakir sepuh, maka pasukannya dilanjutkan kedua muridnya namanya Mbah Ishak (Maulana Ishak) dan Mbah Brahim (Ibrahim Asmoroqondi). Mereka melanjutkan pengejaran. Menak Sembuyu menyerah, anak perempuannya bernama Dewi Sekardadu dinikahi Mbah Ishak, melahirkan Raden Ainul Yaqin Sunan Giri yang dimakamkan di Gresik.

Sebagian lari ke Bali, sebagian lari ke Kediri, menyembah Patung Totok Kerot, diuber Sunan Bonang, akhirnya menyerah. Setelah menyerah, melingkarnya tetap dibiarkan tetapi jangan telanjang, arak diganti air biasa, ingkung manusia diganti ayam, matra ngrogoh sukmo diganti kalimat tauhid; laailaahaillallah. Maka kita punya adat tumpengan.

Kalau ada orang banyak komentar mem-bid’ah -kan, ceritakanlah ini. Kalau ngeyel, didatangi: tabok mulutnya. Ini perlu diruntutkan, karena NU termasuk yang masih mengurusi beginian.

Habis itu dikirim ulama yang khusus mengajar ngaji, namanya Sayyid Jamaluddin al-Husaini al-Kabir. Mendarat di Semarang dan menetap di daerah Merapi. Orang Jawa sulit mengucapkan, maka menyebutnya Syekh Jumadil Kubro.

Disana dia punya murid namanya Syamsuddin, pindah ke Jawa Barat, membuat pesantren puro di daerah Karawang. Punya murid bernama Datuk Kahfi, pindah ke Amparan Jati, Cirebon. Punya murid Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Inilah yang bertugas mengislamkan Padjajaran. Maka kemudian ada Rara Santang, Kian Santang dan Walangsungsang.

Nah , Syekh Jumadil Kubro punya putra punya anak bernama Maulana Ishak dan Ibrahim Asmoroqondi, bapaknya Walisongo. Mbah Ishak melahirkan Sunan Giri. Mbah Ibrahim punya anak Sunan Ampel. Inilah yang bertugas mengislamkan Majapahit.

Mengislamkan Majapahit itu tidak mudah. Majapahit orangnya pinter-pinter. Majapahit Hindu, sedangkan Sunan Ampel Islam. Ibarat sawah ditanami padi, kok malah ditanami pisang. Kalau anda begitu, pohon pisang anda bisa ditebang.

Sunan Ampel berpikir bagaimana caranya? Akhirnya beliau mendapat petunjuk ayat Alquran. Dalam surat Al-Fath, 48:29 disebutkan : ".... masaluhum fit tawrat wa masaluhum fil injil ka zar’in ahraja sat’ahu fa azarahu fastagladza fastawa ‘ala sukıhi yu’jibuz zurraa, li yagidza bihimul kuffar………”

Artinya: “…………Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin)……………”

Islam itu seperti tanaman yang memiliki anak-anaknya, kemudian hamil, kemudian berbuah, ibu dan anaknya bersama memenuhi pasar, menakuti orang kafir. Tanaman apa yang keluar anaknya dulu baru kemudian ibunya hamil? Jawabannya adalah padi.

Maka kemudian Sunan Ampel dalam menanam Islam seperti menanam padi. Kalau menanam padi tidak di atas tanah, tetapi dibawah tanah, kalau diatas tanah nanti dipatok ayam, dimakan tikus.

Mau menanam Allah, disini sudah ada istilah pangeran. Mau menanam shalat, disini sudah ada istilah sembahyang. Mau menanam syaikhun, ustadzun, disini sudah ada kiai. Menanam tilmidzun, muridun , disini sudah ada shastri, kemudian dinamani santri. Inilah ulama dulu, menanamnya tidak kelihatan.

Menanamnya pelan-pelan, sedikit demi sedikit: kalimat syahadat, jadi kalimasada. Syahadatain, jadi sekaten. Mushalla, jadi langgar. Sampai itu jadi bahasa masyarakat. Yang paling sulit mememberi pengertian orang Jawa tentang mati.

Kalau Hindu kan ada reinkarnasi. Kalau dalam Islam, mati ya mati (tidak kembali ke dunia). Ini paling sulit, butuh strategi kebudayaan. Ini pekerjaan paling revolusioner waktu itu. Tidak main-main, karena ini prinsip. Prinsip inna lillahi wa inna ilaihi rajiun berhadapan dengan reinkarnasi. Bagaimana caranya?

Oleh Sunan Ampel, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun kemudian di-Jawa-kan: Ojo Lali Sangkan Paraning Dumadi.

Setelah lama diamati oleh Sunan Ampel, ternyata orang Jawa suka tembang, nembang, nyanyi. Beliau kemudian mengambil pilihan: mengajarkan hal yang sulit itu dengan tembang. Orang Jawa memang begitu, mudah hafal dengan tembang.

Orang Jawa, kehilangan istri saja tidak lapor polisi, tapi nyanyi: ndang baliyo, Sri, ndang baliyo . Lihat lintang, nyanyi: yen ing tawang ono lintang, cah ayu. Lihat bebek, nyanyi: bebek adus kali nyucuki sabun wangi. Lihat enthok: menthok, menthok, tak kandhani, mung rupamu. Orang Jawa suka nyanyi, itulah yang jadi pelajaran. Bahkan, lihat silit (pantat) saja nyanyi: … ndemok silit, gudighen.

Maka akhirnya, sesuatu yang paling sulit, berat, itu ditembangkan. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun diwujudkan dalam bentuk tembang bernama Macapat . Apa artinya Macapat? Bahwa orang hidup harus bisa membaca perkara Empat.

Keempat perkara itu adalah teman nyawa yang berada dalam raga ketika turun di dunia. Nyawa itu produk akhirat. Kalau raga produk dunia. Produk dunia makanannya dunia, seperti makan. Yang dimakan, sampah padatnya keluar lewat pintu belakang, yang cair keluar lewat pintu depan.

Ada sari makanan yang disimpan, namanya mani (sperma). Kalau mani ini penuh, bapak akan mencari ibu, ibu mencari bapak, kemudian dicampur dan dititipkan di rahim ibu. Tiga bulan jadi segumpal darah, empat bulan jadi segumpal daging. Inilah produk dunia.

Begitu jadi segumpal daging, nyawa dipanggil. “Dul, turun ya,”. “Iya, Ya Allah”. “Alastu birabbikum?” (apakah kamu lupa kalau aku Tuhanmu?). “Qalu balaa sahidnya,” (Iya Ya Allah, saya jadi saksi-Mu), jawab sang nyawa,. ”fanfuhur ruuh” (maka ditiupkanlah ruh itu ke daging). Maka daging itu menjadi hidup. Kalau tidak ditiup nyawa, tidak hidup daging ini. (lihat, a.l.: Q.S. Al-A’raf, 7:172, As-Sajdah: 7 -10, Al-Mu’min: 67, ed. )

Kemudian, setelah sembilan bulan, ruh itu keluar dengan bungkusnya, yaitu jasad. Adapun jasadnya sesuai dengan orang tuanya: kalau orang tuanya pesek anaknya ya pesek; orang tuanya hidungnya mancung anaknya ya mancung; orang tuanya hitam anaknya ya hitam; kalau orang tuanya ganteng dan cantik, lahirnya ya cantik dan ganteng.

Itu disebut Tembang Mocopat: orang hidup harus membaca perkara empat. Keempat itu adalah teman nyawa yang menyertai manusia ke dunia, ada di dalam jasad. Nyawa itu ditemani empat: dua adalah Iblis yang bertugas menyesatkan, dan dua malaikat yang bertugas nggandoli, menahan. Jin qarin dan hafadzah.

Itu oleh Sunan Ampel disebut Dulur Papat Limo Pancer. Ini metode mengajar. Maka pancer ini kalau mau butuh apa-apa bisa memapakai dulur tengen (teman kanan) atau dulur kiwo (teman kiri). Kalau pancer kok ingin istri cantik, memakai jalan kanan, yang di baca Ya Rahmanu Ya Rahimu tujuh hari di masjid, yang wanita nantinya juga akan cinta.

Tidak mau dulur tengen, ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Jaran Goyang, ya si wanita jadinya cinta, sama saja. Kepingin perkasa, kalau memakai kanan yang dipakai kalimah La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim . Tak mau yang kanan ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Bondowoso, kemudian bisa perkasa.

Mau kaya kalau memakai jalan kanan ya shalat dhuha dan membaca Ya Fattaahu Ya Razzaaqu , kaya. Kalau tidak mau jalan kanan ya jalan kiri, membawa kambing kendhit naik ke gunung kawi, nanti pulang kaya.

Maka, kiai dengan dukun itu sama; sama hebatnya kalau tirakatnya kuat. Kiai yang ‘alim dengan dukun yang tak pernah mandi, jika sama tirakatnya, ya sama saktinya: sama-sama bisa mencari barang hilang. Sama terangnya. Bedanya: satu terangnya lampu dan satunya terang rumah terbakar.

Satu mencari ayam dengan lampu senter, ayamnya ketemu dan senternya utuh; sedangkan yang satu mencari dengan blarak (daun kelapa kering yang dibakar), ayamnya ketemu, hanya blarak-nya habis terbakar. Itu bedanya nur dengan nar.

Maka manusia ini jalannya dijalankan seperti tembang yang awalan, Maskumambang: kemambange nyowo medun ngalam ndunyo , sabut ngapati, mitoni , ini rohaninya, jasmaninya ketika dipasrahkan bidan untuk imunisasi.

Maka menurut NU ada ngapati, mitoni,
karena itu turunnya nyawa. Setelah Maskumambang, manusia mengalami tembang Mijil. Bakal Mijil : lahir laki-laki dan perempuan. Kalau lahir laki-laki aqiqahnya kambing dua, kalau lahir perempuan aqiqahnya kambing satu.

Setelah Mijil, tembangnya Kinanti. Anak-anak kecil itu, bekalilah dengan agama, dengan akhlak. Tidak mau ngaji, pukul. Masukkan ke TPQ, ke Raudlatul Athfal (RA). Waktunya ngaji kok tidak mau ngaji, malah main layangan, potong saja benangnya. Waktu ngaji kok malah mancing, potong saja kailnya.

Anak Kinanti ini waktunya sekolah dan ngaji. Dibekali dengan agama, akhlak. Kalau tidak, nanti keburu masuk tembang Sinom: bakal menjadi anak muda (cah enom), sudah mulai ndablek, bandel.

Apalagi, setelah Sinom, tembangnya asmorodono , mulai jatuh cinta. Tai kucing serasa coklat. Tidak bisa di nasehati. Setelah itu manusia disusul tembang Gambuh , laki-laki dan perempuan bakal membangun rumah tangga, rabi, menikah.

Setelah Gambuh, adalah tembang Dhandanggula. Merasakan manis dan pahitnya kehidupan. Setelah Dhandanggula , menurut Mbah Sunan Ampel, manusia mengalami tembang Dhurma.

Dhurma itu: darma bakti hidupmu itu apa? Kalau pohon mangga setelah berbuah bisa untuk makanan codot, kalau pisang berbuah bisa untuk makanan burung, lha buah-mu itu apa? Tenagamu mana? Hartamu mana? Ilmumu mana yang didarmabaktikan untuk orang lain?

Khairunnas anfa’uhum linnas , sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya. Sebab, kalau sudah di Dhurma tapi tidak darma bakti, kesusul tembang Pangkur.

Anak manusia yang sudah memunggungi dunia: gigi sudah copot, kaki sudah linu. Ini harus sudah masuk masjid. Kalau tidak segera masuk masjid kesusul tembang Megatruh : megat, memutus raga beserta sukmanya. Mati.

Terakhir sekali, tembangnya Pucung. Lha ini, kalau Hindu reinkarnasi, kalau Islam Pucung . Manusia di pocong. Sluku-sluku Bathok, dimasukkan pintu kecil. Makanya orang tua (dalam Jawa) dinamai buyut, maksudnya : siap-siap mlebu lawang ciut (siap-siap masuk pintu kecil).

Adakah yang mengajar sebaik itu di dunia?
Kalau sudah masuk pintu kecil, ditanya Malaikat Munkar dan Nankir. Akhirnya itu, yang satu reinkarnasi, yang satu buyut . Ditanya: “Man rabbuka?” , dijawab: “Awwloh,”. Ingin disaduk Malaikat Mungkar – Nakir apa karena tidak bisa mengucapkan Allah.

Ketika ingin disaduk, Malaikat Rakib buru-buru menghentikan: “Jangan disiksa, ini lidah Jawa”. Tidak punya alif, ba, ta, punyanya ha, na, ca, ra, ka . “Apa sudah mau ngaji?”kata Mungkar – Nakir. “Sudah, ini ada catatanya, NU juga ikut, namun belum bisa sudah meninggal”. “Yasudah, meninggalnya orang yang sedang belajar, mengaji, meninggal yang dimaafkan oleh Allah.”

Maka, seperti itu belajar. Kalau tidak mau belajar, ditanya, “Man rabbuka?” , menjawab, “Ha……..???”. langsung dipukul kepalanya: ”Plaakkk!!”. Di- canggah lehernya oleh malaikat. Kemudian jadi wareng , takut melihat akhirat, masukkan ke neraka, di- udek oleh malaikat, di-gantung seperti siwur, iwir-iwir, dipukuli modal-madil seperti tarangan bodhol , ajur mumur seperti gedhebok bosok.

Maka, pangkat manusia, menurut Sunan Ampel: anak – bapak – simbah – mbah buyut – canggah – wareng – udek-udek – gantung siwur – tarangan bodol – gedhebok bosok. Lho, dipikir ini ajaran Hindu. Kalau seperti ini ada yang bilang ajaran Hindu, kesini, saya tabok mulutnya!

Begitu tembang ini jadi, kata Mbah Bonang, masa nyanyian tidak ada musiknya. Maka dibuatkanlah gamelan, yang bunyinya Slendro Pelok : nang ning nang nong, nang ning nang nong, ndang ndang, ndang ndang, gung . Nang ning nang nong: yo nang kene yo nang kono (ya disini ya disana); ya disini ngaji, ya disana mencuri kayu.

Lho, lha ini orang-orang kok. Ya seperti disini ini: kelihatannya disini shalawatan, nanti pulang lihat pantat ya bilang: wow!. Sudah hafal saya, melihat usia-usia kalian. Ini kan kamu pas pakai baju putih. Kalau pas ganti, pakainya paling ya kaos Slank.

Nah, nang ning nang nong, hidup itu ya disini ya disana. Kalau pingin akhiran baik, naik ke ndang ndang, ndang ndang, gung. Ndang balik ke Sanghyang Agung. Fafirru illallaah , kembalilah kepada Allah. Pelan-pelan. Orang sini kadang tidak paham kalau itu buatan Sunan Bonang.

Maka, kemudian, oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, dibuatkan tumpeng agar bisa makan. Begitu makan kotor semua, dibasuh dengan tiga air bunga: mawar, kenanga dan kanthil.

Maksudnya: uripmu mawarno-warno, keno ngono keno ngene, ning atimu kudhu kanthil nang Gusti Allah (Hidupmu berwarna-warni, boleh seperti ini seperti itu, tetapi hatimu harus tertaut kepada Allah). Lho , ini piwulang-piwulangnya, belum diajarkan apa-apa. Oleh Sunan Kalijaga, yang belum bisa mengaji, diajari Kidung Rumekso Ing Wengi. Oleh Syekh Siti Jenar, yang belum sembahyang, diajari syahadat saja.

Ketika tanaman ini sudah ditanam, Sunan Ampel kemudian ingin tahu: tanamanku itu sudah tumbuh apa belum? Maka di-cek dengan tembang Lir Ilir, tandurku iki wis sumilir durung? Nek wis sumilir, wis ijo royo-royo, ayo menek blimbing. Blimbing itu ayo shalat. Blimbing itu sanopo lambang shalat.

Disini itu, apa-apa dengan lambang, dengan simbol: kolo-kolo teko , janur gunung. Udan grimis panas-panas , caping gunung. Blimbing itu bergigir lima. Maka, cah angon, ayo menek blimbing . Tidak cah angon ayo memanjat mangga.

Akhirnya ini praktek, shalat. Tapi prakteknya beda. Begitu di ajak shalat, kita beda. Disana, shalat 'imaadudin, lha shalat disini, tanamannya mleyor-mleyor, berayun-ayun.

Disana dipanggil jam setengah duabelas kumpul. Kalau disini dipanggil jam segitu masih disawah, di kebun, angon bebek, masih nyuri kayu. Maka manggilnya pukul setengah dua. Adzanlah muadzin, orang yang adzan. Setelah ditunggu, tunggu, kok tidak datang-datang.

Padahal tugas Imam adalah menunggu makmum. Ditunggu dengan memakai pujian. Rabbana ya rabbaana, rabbana dholamna angfusana , – sambil tolah-toleh, mana ini makmumnya – wainlam taghfirlana, wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.

Datang satu, dua, tapi malah merokok di depan masjid. Tidak masuk. Maka oleh Mbah Ampel: Tombo Ati, iku ono limang perkoro….. . Sampai pegal, ya mengobati hati sendiri saja. Sampai sudah lima kali kok tidak datang-datang, maka kemudian ada pujian yang agak galak: di urugi anjang-anjang……. , langsung deh, para ma'mum buruan masuk. Itu tumbuhnya dari situ.

Kemudian, setelah itu shalat. Shalatnya juga tidak sama. Shalat disana, dipanah kakinya tidak terasa, disini beda. Begitu Allahu Akbar , matanya bocor: itu mukenanya berlubang, kupingnya bocor, ting-ting-ting, ada penjual bakso. Hatinya bocor: protes imamnya membaca surat kepanjangan. Nah, ini ditambal oleh para wali, setelah shalat diajak dzikir, laailaahaillallah.

Hari ini, ada yang protes: dzikir kok kepalanya gedek-gedek, geleng-geleng? Padahal kalau sahabat kalau dzikir diam saja. Lho, sahabat kan muridnya nabi. Diam saja hatinya sudah ke Allah. Lha orang sini, di ajak dzikir diam saja, ya malah tidur. Bacaannya dilantunkan dengan keras, agar ma'mum tahu apa yang sedang dibaca imam.

Kemudian, dikenalkanlah nabi. Orang sini tidak kenal nabi, karena nabi ada jauh disana. Kenalnya Gatot Kaca. Maka pelan-pelan dikenalkan nabi. Orang Jawa yang tak bisa bahasa Arab, dikenalkan dengan syair: kanjeng Nabi Muhammad, lahir ono ing Mekkah, dinone senen, rolas mulud tahun gajah.

Inilah cara ulama-ulama dulu kala mengajarkan Islam, agar masyarakat disini kenal dan paham ajaran nabi. Ini karena nabi milik orang banyak (tidak hanya bangsa Arab saja). Wamaa arsalnaaka illa rahmatal lil ‘aalamiin ; Aku (Allah) tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.

Maka, shalawat itu dikenalkan dengan cara berbeda-beda. Ada yang sukanya shalawat ala Habib Syekh, Habib Luthfi, dll. Jadi jangan heran kalau shalawat itu bermacam-macam. Ini beda dengan wayang yang hanya dimiliki orang Jawa.

Orang kalau tidak tahu Islam Indonesia, pasti bingung. Maka Gus Dur melantunkan shalawat memakai lagu dangdut. Astaghfirullah, rabbal baraaya, astaghfirullah, minal khataaya, ini lagunya Ida Laila: Tuhan pengasih lagi penyayang, tak pilih kasih, tak pandang sayang. Yang mengarang namanya Ahmadi dan Abdul Kadir.

Nama grupnya Awara. Ida Laila ini termasuk Qari’ terbaik dari Gresik. Maka lagunya bagus-bagus dan religius, beda dengan lagu sekarang yang mendengarnya malah bikin kepala pusing. Sistem pembelajaran yang seperti ini, yang dilakukan oleh para wali. Akhirnya orang Jawa mulai paham Islam.

Namun selanjutnya Sultan Trenggono tidak sabaran: menerapkan Islam dengan hukum, tidak dengan budaya. "Urusanmu kan bukan urusan agama, tetapi urusan negara,” kata Sunan Kalijaga. “Untuk urusan agama, mengaji, biarlah saya yang mengajari,” imbuhnya.

Namun Sultan Trenggono terlanjur tidak sabar. Semua yang tidak sesuai dan tidak menerima Islam di uber-uber. Kemudian Sunan Kalijaga memanggil anak-anak kecil dan diajari nyanyian:

Gundul-gundul pacul, gembelengan.
Nyunggi-nyunggi wangkul, petentengan.
Wangkul ngglimpang segane dadi sak latar 2x

Gundul itu kepala. Kepala itu ra’sun. Ra’sun itu pemimpin. Pemimpin itu ketempatan empat hal: mata, hidung, lidah dan telinga. Empat hal itu tidak boleh lepas. Kalau sampai empat ini lepas, bubar.

Mata kok lepas, sudah tidak bisa melihat rakyat. Hidung lepas sudah tidak bisa mencium rakyat. Telinga lepas sudah tidak mendengar rakyat. Lidah lepas sudah tidak bisa menasehati rakyat. Kalau kepala sudah tidak memiliki keempat hal ini, jadinya gembelengan.

Kalau kepala memangku amanah rakyat kok terus gembelengan, menjadikan wangkul ngglimpang, amanahnya kocar-kacir. Apapun jabatannya, jika nanti menyeleweng, tidak usah di demo, nyanyikan saja Gundul-gundul pacul. Inilah cara orang dulu, landai.

Akhirnya semua orang ingin tahu bagaimana cara orang Jawa dalam ber-Islam. Datuk Ribandang, orang Sulawesi, belajar ke Jawa, kepada Sunan Ampel. Pulang ke Sulawesi menyebarkan Islam di Gunung Bawakaraeng, menjadilah cikal bakal Islam di Sulawesi.

Berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di penjuru Sulawesi. Khatib Dayan belajar Islam kepada Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Ketika kembali ke Kalimantan, mendirikan kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan.

Ario Damar atau Ario Abdillah ke semenanjung Sumatera bagian selatan, menyebarkan dan mendirikan kerajaan-kerajaan di Sumatera.
Kemudian Londo (Belanda) datang. Mereka semua – seluruh kerajaan yang dulu dari Jawa – bersatu melawan Belanda.

Ketika Belanda pergi, bersepakat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka kawasan di Indonesia disebut wilayah, artinya tinggalan para wali. Jadi, jika anda meneruskan agamanya, jangan lupa kita ditinggali wilayah. Inilah Nahdlatul Ulama, baik agama maupun wilayah, adalah satu kesatuan: NKRI Harga Mati.

Maka di mana di dunia ini, yang menyebut daerahnya dengan nama wilayah? Di dunia tidak ada yang bisa mengambil istilah: kullukum raa’in wa kullukum mas uulun ‘an ra’iyatih ; bahwa Rasulullah mengajarkan hidup di dunia dalam kekuasaan ada sesuatu yaitu pertanggungjawaban.

Dan yang bertanggungjawab dan dipertanggung jawabkan disebut ra’iyyah. Hanya Indonesia yang menyebut penduduknya dengan sebutan ra’iyyah atau rakyat. Begini kok banyak yang bilang tidak Islam.

Nah, sistem perjuangan seperti ini diteruskan oleh para ulama Indonesia. Orang-orang yang meneruskan sistem para wali ini, dzaahiran wa baatinan, akhirnya mendirikan sebuah organisasi yang dikenal dengan nama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Kenapa kok bernama Nahdlatul Ulama. Dan kenapa yang menyelamatkan Indonesia kok Nahdlatul Ulama? Karena diberi nama Nahdlatul Ulama. Nama inilah yang menyelamatkan. Sebab dengan nama Nahdlatul Ulama, orang tahu kedudukannya: bahwa kita hari ini, kedudukannya hanya muridnya ulama.

Meski, nama ini tidak gagah. KH Ahmad Dahlan menamai organisasinya Muhammadiyyah: pengikut Nabi Muhammad, gagah. Ada lagi organisasi, namanya Syarekat Islam, gagah. Yang baru ada Majelis Tafsir Alquran, gagah namanya. Lha ini “hanya” Nahdlatul Ulama. Padahal ulama kalau di desa juga ada yang hutang rokok.

Tapi Nahdlatul Ulama ini yang menyelamatkan, sebab kedudukan kita hari ini hanya muridnya ulama. Yang membawa Islam itu Kanjeng Nabi. Murid Nabi namanya Sahabat. Murid sahabat namanya tabi’in . Tabi’in bukan ashhabus-shahabat , tetapi tabi’in , maknanya pengikut.

Murid Tabi’in namanya tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikut. Muridnya tabi’it-tabi’in namanya tabi’it-tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikutnya pengikut. Lha kalau kita semua ini namanya apa? Kita muridnya KH Hasyim Asy’ari.

Lha KH Hasyim Asy’ari hanya muridnya Kiai Asyari. Kiai Asyari mengikuti gurunya, namanya Kiai Usman. Kiai Usman mengikuti gurunya namanya Kiai Khoiron, Purwodadi (Mbah Gareng). Kiai Khoiron murid Kiai Abdul Halim, Boyolali.

Mbah Abdul Halim murid Kiai Abdul Wahid. Mbah Abdul Wahid itu murid Mbah Sufyan. Mbah Sufyan murid Mbah Jabbar, Tuban. Mbah Jabbar murid Mbah Abdur Rahman, murid Pangeran Sambuh, murid Pangeran Benowo, murid Mbah Tjokrojoyo, Sunan Geseng.

Sunan Geseng hanya murid Sunan Kalijaga, murid Sunan Bonang, murid Sunan Ampel, murid Mbah Ibrahim Asmoroqondi, murid Syekh Jumadil Kubro, murid Sayyid Ahmad, murid Sayyid Ahmad Jalaludin, murid Sayyid Abdul Malik, murid Sayyid Alawi Ammil Faqih, murid Syekh Ahmad Shohib Mirbath.

Kemudian murid Sayyid Ali Kholiq Qosam, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Ahmad Al-Muhajir, murid Sayyid Isa An-Naquib, murid Sayyid Ubaidillah, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Ali Uraidi, murid Sayyid Ja’far Shodiq, murid Sayyid Musa Kadzim, murid Sayyid Muhammad Baqir. Sayyid Muhammad Baqir hanya murid Sayyid Zaenal Abidin, murid Sayyidina Hasan – Husain, murid Sayiidina Ali karramallahu wajhah . Nah, ini yang baru muridnya Rasulullah saw.

Kalau begini nama kita apa? Namanya ya tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit…, yang panjang sekali. Maka cara mengajarkannya juga tidak sama. Inilah yang harus difahami.

Rasulullah itu muridnya bernama sahabat, tidak diajari menulis Alquran. Maka tidak ada mushaf
Alquran di jaman Rasulullah dan para sahabat. Tetapi ketika sahabat ditinggal wafat Rasulullah, mereka menulis Alquran.

Untuk siapa? Untuk para tabi’in yang tidak bertemu Alquran. Maka ditulislah Alquran di jaman Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman. Tetapi begitu para sahabat wafat, tabi’in harus mengajari dibawahnya.

Mushaf Alquran yang ditulis sahabat terlalu tinggi, hurufnya rumit tidak bisa dibaca. Maka pada tahun 65 hijriyyah diberi tanda “titik” oleh Imam Abu al-Aswad ad-Duali, agar supaya bisa dibaca.

Tabiin wafat, tabi’it tabi’in mengajarkan yang dibawahnya. Titik tidak cukup, kemudian diberi “harakat” oleh Syekh Kholil bin Ahmad al-Farahidi, guru dari Imam Sibawaih, pada tahun 150 hijriyyah.

Kemudian Islam semakin menyebar ke penjuru negeri, sehingga Alquran semakin dibaca oleh banyak orang dari berbagai suku dan ras. Orang Andalusia diajari “ Waddluha” keluarnya “ Waddluhe”.

Orang Turki diajari “ Mustaqiim” keluarnya “ Mustaqiin”. Orang Padang, Sumatera Barat, diajari “ Lakanuud ” keluarnya “ Lekenuuik ”. Orang Sunda diajari “ Alladziina ” keluarnya “ Alat Zina ”.

Di Jawa diajari “ Alhamdu” jadinya “ Alkamdu ”, karena punyanya ha na ca ra ka . Diajari “ Ya Hayyu Ya Qayyum ” keluarnya “ Yo Kayuku Yo Kayumu ”. Diajari “ Rabbil ‘Aalamin ” keluarnya “ Robbil Ngaalamin” karena punyanya ma ga ba tha nga.

Orang Jawa tidak punya huruf “ Dlot ” punyanya “ La ”, maka “ Ramadlan ” jadi “ Ramelan ”. Orang Bali disuruh membunyikan “ Shiraathal…” bunyinya “ Sirotholladzina an’amtha ‘alaihim ghairil magedu bi’alaihim waladthoilliin ”. Di Sulawesi, “’ Alaihim” keluarnya “’ Alaihing ”.

Karena perbedaan logat lidah ini, maka pada tahun 250 hijriyyah, seorang ulama berinisiatif menyusun Ilmu Tajwid fi Qiraatil Quran , namanya Abu Ubaid bin Qasim bin Salam. Ini yang kadang orang tidak paham pangkat dan tingkatan kita. Makanya tidak usah pada ribut.

Murid ulama itu beda dengan murid Rasulullah. Murid Rasulullah, ketika dzikir dan diam, hatinya “online” langsung kepada Allah SWT. Kalau kita semua dzikir dan diam, malah jadinya tidur.
Maka disini, di Nusantara ini, jangan heran.

Ibadah Haji, kalau orang Arab langsung lari ke Ka’bah. Muridnya ulama dibangunkan Ka’bah palsu di alun-alun, dari triplek atau kardus, namanya manasik haji. Nanti ketika hendak berangkat haji diantar orang se-kampung.

Yang mau haji diantar ke asrama haji, yang mengantar pulangnya belok ke kebun binatang. Ini cara pembelajaran. Ini sudah murid ulama. Inilah yang orang belajar sekarang: kenapa Islam di Indonesia, Nahdlatul Ulama selamat, sebab mengajari manusia sesuai dengan hukum pelajarannya ulama.

Anda sekalian disuruh dzikir di rumah, takkan mau dzikir, karena muridnya ulama. Lha wong dikumpulkan saja lama kelamaan tidur. Ini makanya murid ulama dikumpulkan, di ajak berdzikir.

Begitu tidur, matanya tidak dzikir, mulutnya tidak dzikir, tetapi, pantat yang duduk di majelis dzikir, tetap dzikir. Nantinya, di akhirat ketika “wa tasyhadu arjuluhum ,” ada saksinya. Orang disini, ketika disuruh membaca Alquran, tidak semua dapat membaca Alquran. Maka diadakan semaan Alquran.

Mulut tidak bisa membaca, mata tidak bisa membaca, tetapi telinga bisa mendengarkan lantunan Alquran. Begitu dihisab mulutnya kosong, matanya kosong, di telinga ada Alqurannya.

Maka, jika bukan orang Indonesia, takkan mengerti Islam Indonesia. Mereka tidak paham, oleh karena, seakan-akan, para ulama dulu tidak serius dalam menanam. Sahadatain jadi sekaten. Kalimah sahadat jadi kalimosodo. Ya Hayyu Ya Qayyum jadi Yo Kayuku Yo Kayumu.

Ini terkesan ulama dahulu tidak ‘alim. Ibarat pedagang, seperti pengecer. Tetapi, lima ratus tahun kemudian tumbuh subur menjadi Islam Indonesia. Jamaah haji terbanyak dari Indonesia. Orang shalat terbanyak dari Indonesia. Orang membaca Alquran terbanyak dari Indonesia.

Dan Islam yang datang belakangan ini gayanya seperti grosir: islam kaaffah, begitu diikuti, mencuri sapi. Dilihat dari sini, saya meminta, Tentara Nasional Indonesia, Polisi Republik Indonesia, jangan sekali-kali mencurigai Nahdlatul Ulama menanamkan benih teroris.

Teroris tidak mungkin tumbuh dari Nahdlatul Ulama, karena Nahdlatul Ulama lahir dari Bangsa Indonesia. Tidak ada ceritanya Banser kok ngebom disini, sungkan dengan makam gurunya. Mau ngebom di Tuban, tidak enak dengan Mbah Sunan Bonang.

Saya yang menjamin. Ini pernah saya katakan kepada Panglima TNI. Maka, anda lihat teroris di seluruh Indonesia, tidak ada satupun anak warga jamiyyah Nahdlatul Ulama. Maka, Nahdlatul Ulama hari ini menjadi organisasi terbesar di dunia.

Dari Muktamar Makassar jamaahnya sekitar 80 juta, sekarang di kisaran 120 juta. Yang lain dari 20 juta turun menjadi 15 juta. Kita santai saja. Lama-lama mereka tidak kuat, seluruh tubuh kok ditutup kecuali matanya. Ya kalau pas jualan tahu, lha kalau pas nderep di sawah bagaimana. Jadi kita santai saja. Kita tidak pernah melupakan sanad, urut-urutan, karena itu cara Nahdlatul Ulama agar tidak keliru dalam mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad SAW.