Showing posts with label wahabi. Show all posts
Showing posts with label wahabi. Show all posts

Friday, August 3, 2018

Kontroversi Bacaan Doa diantara Dua Sujud

Kontroversi Bacaan Doa diantara Dua Sujud

Saya ditanya oleh seorang kawan di medsos mengenai meme yang viral di whatsapp group tentang kesalahan bacaan doa saat duduk diantara dua sujud dalam shalat. Ada juga yang mengirimkan kepada saya video seorang Ustad yang mengatakan tambahan kata wa’fu’anni itu hanya bikinan ulama Indonesia.

Pertama, gambar yang beredar itu terlalu semangat sampai mencoret juga kata wa’afini. Padahal kata wa’afini ini terdapat dalam hadits riwayat Sunan Abi Dawud. Jadi seharusnya jangan ikut dicoret. Mungkin terlalu semangat mau nyunnah kali yah 🙂

Kedua, mayoritas ulama mengatakan duduk diantara dua sujud itu termasuk rukun shalat, namun membaca doa diantara dua sujud itu sunnah. Artinya, gak bacapun gak masalah. Shalatnya tetap sah. Kalau mau berdo’a dianjurkan kita mengikuti contoh yang diajarkan Nabi saat dalam posisi duduk diantara dua sujud. Namun bukan berarti baca doa lain itu salah.

Lagipula ternyata riwayat Haditsnya beraneka ragam dan para ulama juga berdiskusi mengenai statusnya. Ada yang bilang yang sahih itu adalah riwayat yang mengatakan berdoa cukup dengan kalimat Rabbighfirli saja. Ulama lain menerima riwayat yang mengindikasikan juga boleh berdoa lebih panjang dari kalimat pendek itu.

Akhirnya Imam Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh Muhazzab (3/437) menggabungkan redaksi yang berbeda itu dan merangkum tujuh kata, yaitu allahummaghfirli warhamni wa ‘afini wajburni warfa’ni wahdini warzuqni.

‎وأما حديث ابن عباس فرواه أبو داود والترمذي وغيرهما بإسناد جيد ، ورواه الحاكم في المستدرك وقال : صحيح الإسناد ، ولفظ أبي داود { اللهم اغفر لي وارحمني وعافني واهدني وارزقني } ولفظ الترمذي : مثله لكنه ذكر " { وأجرني وعافني } " وفي رواية ابن ماجه ( وارفعني ) بدل ( واهدني ) ، وفي رواية البيهقي { رب اغفر لي وارحمني وأجرني وارفعني وارزقني واهدني } فالاحتياط والاختيار : أن يجمع بين الروايات ويأتي بجميع ألفاظها وهي سبعة { اللهم اغفر لي وارحمني وعافني وأجرني وارفعني واهدني وارزقني }

Lantas bagaimana dengan tambahan kata wa’fu’anni? Benarkah tidak nyunnah kalau memberi tambahan satu kata dalam doa saat duduk diantara dua sujud?

Saya sarankan selain Pak Ustad itu buka kitab hadits, juga sebaiknya buka kitab fiqh. Ahli hadits itu apoteker, sedangkan ahli fiqh itu ibaratnya dokter. Apoteker tahu kandungan obat, namun hanya dokterlah yang punya kapasitas mendiagnosis penyakit dan menuliskan resepnya. Kalau da’i gimana? Yah ibaratnya perawat aja deh, bagian yang membantu dan mengingatkan pasien sudah minum obat belum. Ini tidak bermaksud merendahkan salah satu profesi di atas, hanya sekedar membuat perumpamaan siapa yang berhak mengambil kesimpulan suatu masalah.

Mari kita ngaji berbagai kitab fiqh dalam masalah ini.

Kitab semisal Ghayah Al-Muna karya Syaikh Muhammad bin ‘Ali Ba ‘Athiyyah Al-Hadhrami Ar-Ru’ani atau Kasyifatus Saja karya Syekh Nawawi al-Bantani (yang kedua kitab ini merupakan Syarh dari Kitab Safinah) sudah menyebutkan mengenai tambahan “wa’fu’anni” tersebut.

Misalnya Imam Nawawi al-Bantani dalam Kasyifatus Saja menjelaskan:

‎قال الشبراملسي: وقد جزم ابن المقري بعدم وجوب الاعتدال والجلوس بين السجدتين في النفل اهـ وأكمله أن يقول: رب اغفر لي وارحمني واجبرني وارفعني وارزقني واهدني وعافني واعف عني. قوله: رب اغفر لي أي استر ما وقع من ذنوبي وما سيقع منها. وقوله: وارحمني أي رحمة واسعة. وقوله: واجبرني أي أغنني واعطني مالاً كثيراً وهو من باب قتل. وقوله: وارفعني أي في الدنيا والآخرة. وقوله: وارزقني أي رزقاً واسعاً، ومحل جواز الدعاء بذلك إن قصد الرزق من الحلال أو أطلق وإلا حرم.

‎وقوله: واهدني أي لصالح الأعمال. وقوله: وعافني أي سلمني من بلايا الدنيا والآخرة. وقوله: واعف عني أي امح ذنوبي، ويأتي في الضمائر المذكورة بلفظ الإفراد ولو إماماً لأن التفرقة بينه وبين غيره خاصة بالقنوت، قال السويفي في تحفة الحبيب: ويسن للمنفرد وإمام محصورين رضوا بالتطويل أن يزيدوا على ذلك: رب هب لي قلباً تقياً من الشرك برياً لا كافراً ولا شقياً

Penjelasan Imam Nawawi al-Bantani tidak bisa dianggap seolah-olah beliau-lah yang membuat-buat tambahan kata “wa’fu’anni” hanya karena beliau ulama Nusantara. Beliau mengutip dari ulama lain yaitu Imam Asyibromalisi yang memberi tambahan kata wa’fu’anni. Bahkan Imam Nawawi al-Bantani juga mengutip doa tambahan lainnya dari kitab Tuhfah al-Habib atau yang biasa dikenal dengan Hasyiah al-Bujairimi ‘alal Khatib yang mengomentari kitab al-Iqna’. Ini tambahan doanya:

Rabbi Habli qalban taqiya minas syirki bariyyan la kafiran wa la saqiyyan (Tuhanku, berikan untukku anugerah hati yang takwa, bebas dari syirik, tidak kufur, dan tidak celaka).

Penjelasan lebih lanjut kita temui di kitab-kitab besar dalam mazhab Syafi’i berikut ini.

Kitab Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj (1/518)

كما في السجود أخذا من الروضة ( قائلا : رب اغفر لي وارحمني وأجبرني وارفعني وارزقني واهدني وعافني ) للاتباع روى بعضه أبو داود وباقيه ابن ماجه .

وقال المتولي : يستحب للمنفرد : أي وإمام من مر أن يزيد على ذلك رب هب لي قلبا تقيا نقيا من الشرك بريا لا كافرا ولا شقيا وارفعني وارحمني من زيادته على المحرر ، وأسقط من الروضة ذكر ارحمني وزاد في الإحياء بعد قوله وعافني واعف عني وفي تحرير الجرجاني يقول رب اغفر وارحم وتجاوز عما تعلم إنك أنت الأعز الأكرم

Dianjurkan saat shalat sendiri atau sebagai Imam yang tidak memberatkan jamaahnya untuk menambah doa saat duduk di antara dua sujud dengan kalimat:

Rabbi Habli qalban taqiyan naqiyan minas syirki bariyyan la kafiran wa la saqiyyan, warfa’ni warhamni

(Tuhanku, berikan untukku anugerah hati yang takwa, suci-bebas dari syirik, tidak kufur, dan tidak celaka. Tuhanku, angkatlah derajatku dan turunkan rahmat-Mu bagiku)

Bahkan disebutkan dalam teks di atas bahwa ada tambahan doa lainnya dari Imam al-Jurjani.

Kitab karya ulama besar mazhab Syafi’i yang bernama Imam Ramly ini memberi info menarik bahwa yang memberi tambahan kata wa’fu’anni itu adalah Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya.

Jadi, jelas tambahan kata wa’fu’anni bukan bikinan ulama Indonesia. Ulama pesantren tidak mengada-ngada. Semuanya jelas ada rujukannya.

Mari kita cek langsung pada kitab Ihya. Saya menemukannya di Juz 1, halaman 155:

‎وأن يقول سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى ثَلَاثًا فَإِنْ زَادَ فَحَسَنٌ إِلَّا أَنْ يَكُونَ إِمَامًا
‎ثُمَّ يَرْفَعُ مِنَ السُّجُودِ فَيَطْمَئِنُّ جَالِسًا مُعْتَدِلًا فَيَرْفَعُ رَأْسَهُ مُكَبِّرًا وَيَجْلِسُ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ قَدَمَهُ الْيُمْنَى وَيَضَعُ يَدَيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَالْأَصَابِعُ مَنْشُورَةٌ وَلَا يَتَكَلَّفُ ضَمَّهَا وَلَا تَفْرِيجَهَا
‎وَيَقُولُ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَارْزُقْنِي وَاهْدِنِي وَاجْبُرْنِي وَعَافِنِي وَاعْفُ عني

Klop kan? 🙂

Kitab Hasyiyah al-Jamal (1/380) juga menyebutkan bahwa tambahan wa’fu’anni itu berasal dari Imam al-Ghazali. Bukan cuma itu, tambahan doa yang dianjurkan dibaca saat duduk diantara dua sujud, menurut kitab ini, termasuk doa sapu jagad: Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina ‘azaban nar. Simak kutipan berikut:

‎زاد في الإحياء واعف عني، ويستحب للمنفرد وإمام من مر أن يزيد رب هب لي قلبا تقيا نقيا من الشرك بريا لا كافرا ولا شقيا وفي تحرير الجرجاني رب اغفر وارحم وتجاوز عما تعلم إنك أنت الأعز الأكرم ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

Kitab fiqh lainnya yang lazim digunakan sebagai standar rujukan yaitu Hasyiah Qalyubi (1/184) juga mencantumkan tambahan kata wa’fu’anni, plus dengan tambahan doa lainnya, yang sudah disebutkan di kitab-kitab sebelumnya, seperti yang saya cantumkan teksnya di bawah ini:

‎وَاعْفُ عَنِّي. رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إنَّك أَنْتَ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ، رَبِّ هَبْ لِي قَلْبًا تَقِيًّا نَقِيًّا مِنْ الشِّرْكِ بَرِيًّا لَا كَافِرًا وَلَا شَقِيًّا

Sebagai pamungkas, biar sedap rasanya, kita kutip juga keterangan Syekh bin Baz dalam Fatwanya:

‎ثم يرفع من السجدة قائلاً: (الله أكبر) ويجلس مفترشاً يسراه ناصباً يمناه، فيضع يده اليمنى على فخذه اليمنى أو على الركبة باسطاً أصابعه على ركبته، ويضع يده اليسرى على فخذه اليسرى أو على ركبته ويبسط أصابعه على ركبته هكذا السنة، إذا جلس بين السجدتين يضع اليمنى على فخذه اليمنى أو ركبته اليمنى، ويضع اليسرى على فخذه اليسرى أو ركبته اليسرى، ويقول: رب اغفر لي.. رب اغفر لي.. رب اغفر لي كما كان النبي يقول ﷺ، ويستحب أن يقول مع هذا: اللهم اغفر لي، اللهم اغفر لي، وارحمني، واجبرني، وارزقني، وعافني، يروى هذا عن النبي ﷺ أيضاً مع قوله: رب اغفر لي.. رب اغفر لي، اللهم اغفر لي، وارحمني، واهدني، واجبرني، وارزقني، وعافني، وإن دعا بالزيادة فلا بأس كأن يقول: اللهم اغفر لي ولوالدي، اللهم أدخلني الجنة وأنجني من النار، اللهم أصلح قلبي وعملي.. ونحو ذلك لا بأس، ولكن يكثر من المغفرة.. من طلب المغفرة فيما بين السجدتين اقتداء بالنبي عليه الصلاة والسلام.

Menurut ulama Wahabi ini mengucapkan tambahan doa dalam duduk diantara dua sujud itu tidak masalah. Misalnya tambahan doa Allahumaghfirli waliwalidayya, atau Allahuma adkhilnil jannah wa anjini minan nar, atau Allahuma ashlih qalbiy wa ‘amaliy, dan doa-doa yang semacam ini tidak mengapa. Intinya adalah doa mohon ampunan  kepada Allah di antara dua sujud dengan mengikuti Nabi Muhammad Saw.

Di atas sudah saya jelaskan bahwa mayoritas ulama memandang sunnah membaca doa saat duduk di antara dua sujud. Bahkan para ulama selain menggabungkan tujuh kata dalam berbagai riwayat hadits, mereka juga memberi tambahan redaksi doa. Dari hanya satu tambahan kata wa’fu’anni, sampai doa satu-dua kalimat yang lebih panjang.

Kenapa sih kita senang sekali mempersoalkan hal-hal yang sekunder seperti ini, dan sibuk menyalah-nyalahkan bacaan doa saudara kita hanya karena ada satu tambahan kata, padahal para ulama tidak mempersoalkannya?

Jadi, jangankan hanya ditambahi satu kata wa’fu’anni. Ditambahan doa lainnya juga boleh. Tidak baca apapun saat duduk diantara dua sujud shalat kita tetap sah. Mohon para Ustad untuk lebih bijak lagi dan tidak mempersoalkan amalan yang sudah lazim dilakukan di tanah air. Yakinlah, para ulama kami itu bijak dan paham literatur keislaman. Wa Allahu a’lam bish shawab.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Thursday, January 18, 2018

Muhkamat dan Mutasyabihat

Ringkasan Muhadloroh as Syaikh al Habib Muhammad Hassan Awkal di Mushola al Bayadir PP Mahir ar Riyadl Ringinagung :
*Muhkamat dan Mutasyabihat*
- Allah berfirman:

- (هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ)
[Surat Ali 'Imran 7]
- Ayat ini menjelaskan bahwa ayat-ayat al Qur'an terkelompokkan pada dua kelompok ayat; muhkamat dan mutasyabihat dan menegaskan bahwa ayat muhkamat adalah induk al Qur'an (umm al kitab) yg harus menjadi rujukan dalam memahami ayat mutasyabihat.
- Orang-orang Wahhabi selalu mendengung-dengungkan ayat mutasyabihat utk menyesatkan umat Islam.
- Agar kita selamat dr pengaruh paham Wahhabi maka kita harus mempunyai kaidah dalam beragama, kaidah itu adalah memahami dengan benar sifat-sifat wajib bagi Allah yang 20 (atau 13 menurut sebagian ulama Asy'ariyah)
- Ayat Muhkamat adalah ayat yg sudah jelas maknanya, karena dari segi bahasa arab hanya mengandung satu makna saja
- Ayat Mutasyabihat adalah ayat yg belum jelas maknanya, karena dalam bahasa arab mengandung lebih dari satu makna.
- Dalam memahami ayat mutasyabihat sebagian besar ulama salaf melakukan takwil ijmali; yaitu dg tidak memahami ayat tersebut dg makna dhohirnya dan menyerahkan maknanya kepada Allah, tanpa memberi makna tertentu
- Kebanyakan ulama kholaf melakukan takwil tafshili yaitu dg tidak memahami ayat mutasyabihat dg makna dhohirnya, disertai dengan menentukan makna tertentu pada ayat tersebut.
- Perbedaan pendapat ini dikarenakan perbedaan kebutuhan, pada masa salaf belum banyak menyebar akidah tasybih dan tajsim sehingga umat Islam telah mengetahui bahwa makna ayat tersebut bukan dhohirnya, sedangkan pada masa kholaf telah banyak menyebar paham tajsim dan tasybih yg menjadikan ayat mutasyabihat sebagai dalih pembenar akidah menyimpang mereka sehingga diperlukan pemberian makna tertentu terhadap ayat tersebut agar umat tidak bingung
- Namun bukan berarti tidak ada para ulama salaf yg mentakwil secara tafshili, imam al Bukhori (ulama salaf) dalam kitab Shohih, ketika menjelaskan firman Allah:
كل شيء الا وجهه
Beliau mengatakan:
أي إلا ملكه
Kecuali sifat kekuasaan Allah.

- Kelompok musyabbihah (yg menyerupakan Allah dg makhluk-Nya) sudah tertanam dalam hati mereka cinta tasybih (menyerupakan Allah dg makhluk-Nya) sebagaimana bani Israil yg telah terpatri dalam hati mereka cinta menyembah pedet. Allah berfirman :
( وَأُشْرِبُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ ۚ )
[Surat Al-Baqarah 93]
- Karena itu setiap mereka menemukan ayat-ayat mutasyabihat yg dhohirnya mengindikasikan bahwa Allah serupa dg makhluk maka mereka langsung mengambil makna tersebut. Misalnya ketika membaca ayat
الرحمن على العرش استوى
mereka langsung mengatakan bahwa maknanya Allah duduk di atas Arsy. Padahal dalam bahasa arab Istawa memiliki makna yg sangat banyak, lalu kenapa memilih duduk yg merupakan sifat makhluk?!, tdk ada lain karena telah tertanam dalam hati mereka aqidah tasybih. Padahal para ulama memaknai ayat tersebut dg Allah qoharo (menguasai) Arsy.
- Orang musyabihah wahhabi sering memprotes kita dg mengatakan: kenapa kalian (Aswaja) menggunakan istilah2 yg tdk ada dalam al Qur'an seperti Allah itu bukan jisim, Allah tidak disifati dg Aradl (sifat makhluk), Allah ada tanpa tempat dan seterusnya?! Kita jawab: kalian sampai surat al Ikhlash saja tidak memahaminya. Dalam surat itu Allah menjelaskan bahwa Allah tidak melahirkan (tidak punya anak) dan Allah tidak dilahirkan (tidak punya ibu bapak) dan ini adalah satu contoh bahwa Allah beda dengan makhluk-Nya, setelah itu Allah memberi kaidah kepada kita:
ولم يكن له كفوا أحد
"Tidak ada seorangpun yg menyerupai Allah"
dengan kaidah itu kita bisa menafikan penserupaan2 Allah yg lainya selain dua contoh yg disebutkan dalam surat itu.
Dengan demikian, al Qur'an telah memberi kaidah-kaidah kepada kita agar kita dapat mengambil kesimpulan dr kaidah-kaidah tersebut pada permasalahan2 yg lebih rinci
- Ketika orang-orang wahhabi dibantah mereka Mengatakan: "Allah duduk tidak seperti duduk kita", kita katakan: seakan-akan kalian membolehkan kita mengatakan: Allah sakit tidak seperti sakit kita, Allah tidur tidak seperti tidur kita, karena duduk itu sendiri adalah sifat makhluk dan tidak ada penetapannya dalam al Qur'an dan hadits.
- Untuk membantah syubhah wahhabi ketika berdalih ayat-ayat mutasyabihat utk menyerupakan Allah dg makhluk-Nya, cukup kita bacakan firman Allah:
ليس كمثله شيء
Karena ayat ini adalah ayat yg paling jelas dan tegas menyatakan bahwa Allah maha suci dr menyerupai makhluk-Nya.
Semoga bermanfaat

Wednesday, November 29, 2017

Reformasi Keagamaan Arab Saudi dan Wahabisme di Indonesia

Kendi, NU Online | Rabu, 29 November 2017 20:00

Oleh M. Imdadun Rahmat

Reformasi politik yang bergulir di Arab Saudi memunculkan tanda-tanda orientasi baru Negara itu termasuk reformasi paham keagamaan.  Negara kaya minyak yang telah lama mengembangkan Wahabisme global dan menyokong berkembangnya Wahabisme di Indonesia itu ingin perubahan. Arah baru dimaksud adalah menghentikan radikalisme, ekstrimisme dan konservatisme. Raja Salman, penguasa Nejed dan Hijaz itu menginginkan kembali kepada Islam moderat. 

Wacana baru yang dilontarkan Pangeran Muhammad bin Salman ini menimbulkan harapan yang tampaknya berlebihan dari publik Nahdliyyin. Tampak ada harapan bahwa kelompok Salafi yang selama ini membid’ah-bid’ahkan kaum Nahdliyyin akan berhenti beroperasi karena bantuannya dihentikan oleh Arab Saudi. Ada harapan kehidupan akan damai dan tenang karena tv, radio, terbitan, medsos dan panggung-panggung para ustadz Salafi/Wahabi akan berhenti menfitnah, mencerca dan mendelegitimasi NU. Bahkan, ada harapan dana dari Arab Saudi yang selama ini tidak pernah seriyal pun diterima oleh kaum Nahdiyyin akan menghampiri mereka. 

Apakah harapan Nahdliyyin itu akan menjadi kenyataan?

Ini terkait dengan pertanyaan tentang hakikat perubahan itu. Apa sesungguhnya yang dimaksud rejim Saudi sebagai radikalisme, ekstrimisme dan konservatisme? Kelompok mana yang dimaksud dengan itu? Kemudian, apa yang dimaksud dengan Islam moderat? Artikel pendek ini hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Koalisi Permanen Bani Saud dan Alu Syaikh

Arab Saudi menjadikan Islam sebagai agama resmi Negara. Meskipun tidak ada dokumen tertulis, Wahabi/Salafi merupakan aliran resmi yang penyebarannya dibiayai Negara. Jabatan-jabatan tinggi keulamaan dipegang oleh Alu Syaikh, sejumlah ulama yang merupakan keturunan Muhammad Bin Abdul Wahhab. Ulama Wahabi/Salafi seperti Abdullah Bin Baz menduduki status yang sangat tinggi dan didukung penuh oleh pemerintah untuk menyebarkan dan mengembangkan Salafiyah garis Ibnu Taymiyyah, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dan Muhammad Bin Abdul Wahhab di dalam negeri dan ke seluruh dunia Islam.

Di waktu yang sama pemerintah menerapkan berbagaipolicy yang cenderung mempersempit ruang gerak madzhab lain. Sebagai imbalannya, Wahabi/Salafi menjadi pendukung paling loyal terhadap kekuasaan Raja Saudi. 

Koalisi ini terbentuk sejak awal lahirnya kerajaan Arab Saudi. Semenjak fase merebut kekuasaan di wilayah Nejed (Jazirah Arabia bagian Timur), tepatnya di Dir’iyyah, Raja Saud dibantu oleh Muhammad Bin Abdul Wahhab. Abdul Wahhab memiliki pasukan Paderi yang berjumlah besar yang menjadi pasukan inti Raja Saud. Pasukan Paderi ini adalah para pengikut Abdul Wahhab yang puritanis yang mencita-citakan pembersihan dan pemurnian ajaran Islam dari bid’ah, khurafat, dan takhayul.

Pasukan ini dikenal militan, ganas dan tanpa kompromi. Kontribusi tetara Wahabi sangat besar dalam berbagai kemenangan Raja Saud. Koalisi itu juga bahu-membahu merebut wilayah Hijaz (Jazirah Arab bagian barat) termasuk Mekah dan Medinah yang menandai lahirnya kerajaan besar Saudi Arabia. 

Itulah sebabnya, sejak awal merebut Mekah dan Madinah, Raja Saud menerapkan kebijakan sapu bersih  apa yang dianggap bid’ah, khurafat, dan takhayyul. Madzhab yang empat dibatasi (kecuali Madzhab Hambali versi Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qoyim). Para ulama dan imam masjid Haramain diganti dengan para tokoh Wahabi. Wahabiyah didukung penuh oleh kerajaan untuk menjadi satu-satunya aliran di Arab Saudi. Situs-situs peninggalan Nabi, keluarga Nabi, dan para Sahabat dihancurkan termasuk makam keluarga Nabi serta para sahabat dan tabiin.

Jika saja tidak mendapatkan protes keras dari seluruh penjuru dunia Islam makam Nabi juga akan dihancurkan. Bahkan, tarekat sufiyyah dilarang sama sekali. 

Koalisi ini makin menjadi-jadi setelah Arab Saudi panen minyak sejak 1930-an dan mulai tahun 1975 menjadi Negara super kaya. Arab Saudi ingin menjadi yang terdepan di dunia Islam. Ia bersaing dengan Mesir, Irak, Turki,  Syiria dan Iran. Saudi ingin pengaruhnya meluber ke penjuru negeri-negeri OKI. Salah satu wasilah yang dipakai adalah penyebaran Wahabi ke seluruh dunia. Dengan semakin kuatnya Wahabi di sebuah Negara, maka publiknya  akan menggeser dukungan kepada Negara-negara kuat saingan Saudi. 

Internasionalisasi Wahhabi ini setidaknya dilakukan dengan beberapa strategi. Pertama, memberikan dukungan finansial kepada organisasi-organisasi penting. Cara ini dilakukan secara lebih canggih dan menyeluruh terutama pada tahun 1980-an dengan menciptakan organisasi perwakilan seperti Liga Muslim Dunia (Rabithah al-Alam al Islami), yang secara luas mendistribusikan literatur Wahhabi dalam semua bahasa utama dunia, memberikan hadiah dan sumbangan, serta menyediakan dana untuk jaringan penerbit, sekolah, mesjid, organisasi, dan perseorangan.

Tentu saja efek kampanye ini adalah munculnya banyak gerakan Islam di seluruh dunia yang menjadi pendukung ideologi Wahhabi. Kedua, persebaran Wahhabi juga didukung oleh berbagai institusi baik institusi sosial-keagamaan, pendidikan, institusi bisnis dan media massa seperti penerbitan buku, koran, radio, TV dan majalah maupun institusi politik dan pemerintah, dan juga perseorangan seperti imam, guru, ustadz, dan penulis  yang “secara oportunis” ingin mengambil untung dari donasi Saudi. 

Koalisi Rezim Saudi dengan Wahabi/Salafi makin kuat saat ini karena Iran semakin menonjol sebagai saingan Saudi di regional Timur Tengah maupun di dunia Islam. Saudi juga terlibat perang dengan pihak-pihak yang didukung  Iran; Rejim Basyar Asad dan Pemberontakan Houti di Yaman. Wahabi/Salafi menjadi alat yang efektif untuk melawan pengaruh Iran di dunia Islam dengan gerakan anti Syi’ah. Intinya, Syi’ah bukan Islam oleh karena itu ia harus diisolasi dari pergaulan dunia Islam. Iran harus keluar dari OKI, atau minimal tidak menduduki posisi penting di OKI. 

Melihat besarnya kepentingan Kerajaan Saudi terhadap Wahabi/Salafi sebagai pendukung kekuasaan dan kepentingan politik regional dan internasional ini, berat rasanya Arab Saudi meninggalkan Wahabi/Salafi. Di lain pihak, jaringan Ahlussunnah Waljamaah (non-Wahabi) di Arab Saudi telah terlanjur berantakan dihajar oleh pemerintah Saudi, tinggal sisa-sisanya, antara lain jaringan Syaikh Alwi Al-Maliki.

Oleh karenanya Pangeran Muhammad Bin Salman tidak pernah mengatakan akan memberantas Wahabi. Yang ia katakan adalah memberantas ekstrimisme, radikalisme dan kaum konservatif. Siapakah mereka?

Salafi Surury, Salafi Jihadis dan Salafi Takfiry

Wahabisme/Salafisme telah berkembang jauh dengan percabangan yang makin rumit. Di antara berbagai fraksi dalam Wahabi/Salafi sendiri terdapat tiga kelompok yang oposisional terhadap pemerintah Saudi. Yakni Salafi Surury, Salafi Jihadis dan Salafy Takfiry. Salafy Surury atau "Salafiyah Politik" yang lebih menaruh perhatian pada persoalan-persoalan politik ketimbang agenda pemurnian (purifikasi).  Mereka terpengaruh oleh pemikiran lkhwan Al-Muslimin (IM).

Sebutan mereka merujuk pada dai Syiria Muhammad Syurur Zein Al-Abidin, seorang tokoh IM. Kelompok inilah yang menentang keberadaan Amerika Serikat dan intervensi militernya dalam perang Teluk II.  Mereka juga menentang politik Saudi Arabia yang tidak tegas terhadap Israel.Tokoh-tokoh kelompok ini antara lain Salman Al-Audah, Safar Al-Hawali, 'Aidh Al-Qarni, dan lain-lain.  

Sedangkan Salafi Jihadis dan Salafi Takfiris sama-sama menggunakan kekerasan dan terror. Dua-duanya adalah produk Saudi sendiri. Keterlibatan Arab Saudi dan Intelijen Pakistandukungan Amerika Serikat dalam membentuk “legiun Arab” dalam perang Afghanistan serta keterlibatannya dalam mensupport kelompok perlawanan Sunni terhadap rezim Syiah Basyar Asad di Syiria telah melahirkan jenis Salafi baru yang tidak dikehendakinya.

Para sukarelawan jihad di Afghanistan melahirkan Tanzim Al-Qaidah pimpinan Usamah Bin Ladin, sebuah kelompok teroris yang berideologi Salafi Jihadi. Sedangkan sukarelawan Sunni di Syiria berkembang menjadi Daisy (Al-Daulah Al-Islamiyyah fi Al-Iraq wa Al-Syuriyah) masyhur disebut ISIS.Kelompok bersenjata yang didukung sukarelawan dari berbagai Negara ini merupakan kiblat bagi kelompok pro kekerasan yang menganut ideology Salafi Takfiri. Ketiga kelompok Salafi inilah yang disebut oleh Pangeran Muhammad Bin Salman sebagai ekstrimisme, radikalisme dan kaum konservatif.

Islam Moderat ala Saudi: Neo Fundamentalis 

Lalu, siapakah Islam moderat itu? Yaitu Salafi yang loyal kepada Kerajaan. Salafi yang a-politis yang loyal dan memberikan legitimasi agama bagi keabsahan kekuasaan Raja Saud. Salafi resmi di bawah Abdullah Bin Baz dan Syaikh Utsaimin yang menfatwakan bahwa berorganisasi dan berpolitik adalah bid’ah dlolalah.

Agenda konkretnya adalah membendung dan menyaingi pengaruh IM yang sangat politis, cenderung kritis dan oposisional terhadap semua penguasa di dunia Arab. Yang dimaui oleh Keluarga Raja Saud adalah melemahkan arus deras Islamisme (Islam sebagai ideology perlawanan) yang dimunculkan oleh IM.

Oleh karenanya, seruan yang didukung oleh Salafisme internasional ala Saudi adalah kesalehan individu, purifikasi agama dan penerapan Syariat Islam sebagai hokum formal. Inilah yang oleh Olivier Roy disebut sebagai neo-fundamentalisme yang telah berhasil sekian waktu membendung bahkan menggagalkan agenda Islamisme di dunia Islam.

Salafi-Wahabi yang berkembang di Indonesia adalah Salafi resmi ini. Reformasi di Arab Saudi tak akan berpengaruh apa-apa terhadap kelompok-kelompok Salafi di sini. Real Saudi akan tetap mengucur ke kelompok-kelompok Salafi di negeri kita. Sebab, yang diperangi hanyalah Salafi Surury, Salafi Jihadi dan Salafi Takfiry. Kaum Nahdliyyin harus tetap bersabar dibid’ah-bid’ahkan oleh kelompok Salafi. Innallaha m’ashshabiriin.

Penulis adalah Direktur SAS Institute dan pengajar Program Kajian Terorisme SKSG Universitas Indonesia

Saturday, November 18, 2017

CIRI-CIRI WAHABI

*CIRI-CIRI WAHABI*

بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران – الآية: 102

  *CIRI-CIRI PAHAM WAHABI:*

1.Sering merujuk pendapat Ibnu Taimiyyah, al-Albani, Ibnu Qayyim, Abdul Aziz bin Baz dan Ibnu Ustaimin.
2. Mengatakan Allah ada di langit bersemayam di atas Arasy.
3. Membagi tauhid kepada tiga: tauhid Uluhiyyah, Rububiyyah dan Asma' wa sifat.

- Menolak amalan menyebut lafald niat solat (USOLLI).
- Menolak amalan menyebut SAYYIDINA ketika bersolawat.
- Menolak amalan mengusap muka setelah selesai solat.
- Menolak zikir, wirid dan doa berjamaah setelah solat di masjid/musolla/tempat tertentu.
- Menolak amalan baca yaasiin berjamaah pada malam jumat di masjid/musolla/tempat tertentu
- Menolak amalan solat tarawih 20 raka'at.
- Menolak amalan baca yaasiin 3 kali pada malam nishfu Sya'ban.
- Menolak amalan membaca doa akhir dan awal tahun.
- Menolak bacaan talqin ketika pengebumian mayat.
- Menolak tahlil dan kenduri arwah.
- Menolak bacaan barzanji dan marhaban.
- Menolak amalan solawat syifa', s0lawat fatih, s0lawat nariyah, s0lawat tafrijiah.
- Menolak sambutan maulidur rasul.
- Menolak amalan ziarah makam nabi/makam auliya'.
- Menolak bacaan tarhim dan bacaan Al-Quran sebelum azan subuh menggunakan pengeras suara.
- Mengatakan tiada solat qabliah jumat.
- Menolak amalan membaca teks ketika khutbah.
- Menolak tasawwuf dan tarekat.
- Menolak MADZHAB.
- Mengatakan bid'ah tidak ada yang hasanah, semua bid'ah adalah sesat.
- Menolak beramal dengan hadits dhaif.
- Menolak amalan tawassul dengan orang yang sudah meninggal dunia.
- Menolak amalan tabarruk selain dari Nabi SAW.
- Menolak amalan istighoutsah.
- Mengatakan talak tiga sekaligus cuma jatuh talak satu.
- Menolak manhaj Asy'ariah dan Maturidiyah.
- Menolak Sifat Dua Puluh.


*AQIDAH*
1. Membagi Tauhid menjadi 3 bagian yaitu:
(a). Tauhid Rububiyyah: Dengan tauhid ini, mereka mengatakan bahwa kaum musyrik Mekkah dan orang-orang kafir juga mempunyai tauhid.
(b). Tauhid Uluhiyyah: Dengan tauhid ini, mereka menafikan tauhid umat Islam yang bertawassul, beristighoutsah dan bertabarruk sedangkan ketiga-tiga perkara tersebut diterima oleh jumhur ulama Islam khasnya ulama Empat Imam madzhab.
(c.) Tauhid Asma’ dan Sifat: Tauhid versi mereka ini bisa menjerumuskan umat islam ke lembah tashbih dan tajsim kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti:

-Menterjemahkan istiwa’ sebagai bersemayam/bersila

-Merterjemahkan yad sebagai tangan
-Menterjemahkan wajh sebagai muka
-Menisbahkan jihah (arah) kepada Allah (arah atas – jihah ulya)
-Menterjemah janb sebagai lambung/rusuk
-Menterjemah nuzul sebagai turun dengan dzat
-Menterjemah saq sebagai betis
-Menterjemah ashabi’ sebagai jari-jari, dll
-Menyatakan bahwa Allah SWT mempunyai “surah” atau rupa
-Menambah bi dzatihi haqiqatan [dengan dzat secara hakikat] di akhir setiap ayat-ayat mutasyabihat

2. Memahami ayat-ayat mutasyabihat secara dhahir tanpa penjelasan terperinci dari ulama-ulama yang mu’tabar
3. Menolak asy-sya'iroh dan al-Maturidiyah yang merupakan ulama’ Islam dalam perkara Aqidah yang diikuti mayoritas umat islam
4. Sering mengkritik asy-Sya’irah bahkan sehingga mengkafirkan asy-Sya’irah.
5. Menyamakan asy-Sya’irah dengan Mu’tazilah dan Jahmiyyah atau Mu’aththilah dalam perkara mutashabihat.
6. Menolak dan menganggap tauhid sifat 20 sebagai satu konsep yang bersumberkan falsafah Yunani dan Greek.
7. Berlindung di balik madzhab Salaf.
8. Golongan mereka ini dikenal sebagai al-Hasyawiyyah, al-Musyabbihah, al-
Mujassimah atau al-Jahwiyyah dikalangan ulama’ Ahli Sunnah wal Jama’ah.
9. Sering menuduh bahwa Abu Hasan Al-Asy’ari telah kembali ke madzhab Salaf setelah bertaubat dari mazhab asy-Sya’irah. Menuduh ulama’ asy-Sya’irah tidak betul-betul memahami faham Abu Hasan Al-Asy’ari.
10. Menolak ta’wil dalam bab Mutasyabihat.
11. Sering menuduh bahwa mayoritas umat Islam telah jatuh kepada perbuatan syirik.
12. Menuduh bahwa amalan memuliakan Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam
[ membaca maulid dll ] membawa kepada perbuatan syirik.
13. Tidak mengambil pelajaran sejarah para anbiya’, ulama’ dan sholihin dengan
dalih menghindari syirik.
14. Pemahaman yang salah tentang makna syirik, sehingga mudah menghukumi orang sebagai pelaku syirik.
15. Menolak tawassul, tabarruk dan istighoutsah dengan para anbiya’ serta sholihin.
16. Mengganggap tawassul, tabarruk dan istighoutsah sebagai cabang-cabang syirik.
17. Memandang remeh karomah para wali [auliya’].
18. Menyatakan bahwa ibu bapak dan datuk Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak selamat dari adzab api neraka.
19. Mengharamkan mengucap “radhiallahu ‘anha” untuk ibu Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam, Sayyidatuna Aminah.

*SIKAP*
1. Sering membid’ahkan amalan umat Islam bahkan sampai ke tahap mengkafirkan
mereka.
2. Mengganggap diri sebagai mujtahid atau berlagak sepertinya (walaupun tidak layak).
3. Sering mengambil hukum secara langsung dari al-Qur’an dan hadits (walaupun tidak layak).
4. Sering mentertawakan dan meremehkan ulama’ pondok dan golongan agama yang lain.
5. Ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits yang ditujukan kepada orang kafir sering ditafsir kepada orang Islam.
6. Memaksa orang lain berpegang dengan pendapat mereka walaupun pendapat itu syaz (janggal).

*HADITS*
1. Menolak beramal dengan hadis dho’if.
2. Penilaian hadits yang tidak sama dengan penilaian ulama’ hadits yang lain.
3. Mengagungkan Nasiruddin al-Albani di dalam bidang ini [walaupun beliau tidak
mempunyai sanad Untuk menyatakan siapakah guru-guru beliau dalam bidang hadits.
[Bahkan mayoritas muslim mengetahui bahwa beliau tidak mempunyai guru dalam bidang hadits dan diketahui bahwa beliau belajar hadits secara sendiri dan ilmu jarh dan ta’dil beliau adalah mengikut Imam al-Dhahabi].
4. Sering menganggap hadits dho’if sebagai hadits maudhu’ [mereka mengumpulkan hadits dho’if dan palsu di dalam satu kitab atau bab seolah-olah kedua-dua kategori hadits tersebut adalah sama]
5. Pembahasan hanya kepada sanad dan matan hadits, dan bukan pada makna hadits. Oleh karena itu, perbedaan pemahaman ulama’ [syawahid] dikesampingkan.

*QUR’AN*
1. Menganggap tajwid sebagai ilmu yang menyusahkan dan tidak perlu (Sebagian Wahabi indonesia yang jahil/bodoh)

*FIQH*
1. Menolak mengikuti madzhab imam-imam yang empat; pada hakikatnya
mereka bermadzhab “TANPA MADZHAB”
2. Mencampuradukkan amalan empat mazhab dan pendapat-pendapat lain sehingga membawa kepada talfiq [mengambil yang disukai] haram
3. Memandang amalan bertaqlid sebagai bid’ah; mereka mengklaim dirinya ber ittiba’
4. Sering mengungkit dan mempermasalahkan soal-soal khilafiyyah
5. Sering menggunakan dakwaan ijma’ ulama dalam masalah khilafiyyah
6. Menganggap apa yang mereka amalkan adalah sunnah dan pendapat pihak lain adalah Bid’ah
7. Sering menuduh orang yang bermadzhab sebagai ta’assub [fanatik] mazhab
8. Salah faham makna bid‟ah yang menyebabkan mereka mudah membid‟ahkan orang lain
9. Mempromosikan madzhab fiqh baru yang dinamakan sebagai Fiqh al-Taysir, Fiqh al-Dalil, Fiqh Musoffa, dll [yang jelas keluar daripada fiqh empat mazhab]
10. Sering mengkoarkan agar hukum ahkam fiqh dipermudahkan dengan menggunakan hadis “Yassiru wa la tu’assiru, farrihu wa la tunaffiru”
11. Sering mengatakan bahwa fiqh empat madzhab telah ketinggalan zaman

*NAJIS*
1. Sebagian mereka sering mempermasalahkan dalil akan kedudukan babi sebagai najis mughalladhah
2. Menyatakan bahwa bulu babi itu tidak najis karena tidak ada darah yang mengalir.

*WUDHU’*
1. Tidak menerima konsep air musta’mal
2. Bersentuhan lelaki dan perempuan tidak membatalkan wudhu’
3. Membasuh kedua belah telinga dengan air basuhan rambut dan tidak dengan air yang baru.

*ADZAN*
1. Adzan Juma’t sekali; adzan kedua ditolak

*SHALAT*
1. Mempromosikan “Sifat Shalat Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam‟, dengan alasan kononnya shalat berdasarkan fiqh madzhab adalah bukan sifat shalat Nabi yang benar
2. Menganggap melafazhkan kalimat “usholli” sebagai bid’ah.
3. Berdiri dengan kedua kaki mengangkang.
4. Tidak membaca “Basmalah‟ secara jahar.
5. Mengangkat tangan sewaktu takbir sejajar bahu atau di depan dada.
6. Meletakkan tangan di atas dada sewaktu berdiri.
7. Menganggap perbedaan antara lelaki dan perempuan dalam shalat sebagai perkara bid‟ah (sebagian Wahabiyyah Indonesia yang jahil).
8. Menganggap qunut Subuh sebagai bid’ah.
9. Menggangap penambahan “wa bihamdihi” pada tasbih ruku’ dan sujud adalah bid’ah.
10. Menganggap mengusap muka selepas shalat sebagai bid’ah.
11. Shalat tarawih hanya 8 rakaat; mereka juga mengatakan shalat tarawih itu
sebenarnya adalah shalat malam (shalatul-lail) seperti pada malam-malam lainnya
12. Dzikir jahr di antara rakaat-rakaat shalat tarawih dianggap bid’ah.
13. Tidak ada qadha’ bagi shalat yang sengaja ditinggalkan.
14. Menganggap amalan bersalaman setelah shalat adalah bid’ah.
15. Menggangap lafazh sayyidina (taswid) dalam shalat sebagai bid’ah.
16. Menggerak-gerakkan jari sewaktu tasyahud awal dan akhir.
17. Boleh jama’ dan qashar walaupun kurang dari dua marhalah.
18. Memakai sarung atau celana setengah betis untuk menghindari isbal.
19. Menolak shalat sunnat qabliyyah sebelum Jum’at
20. Menjama’ shalat sepanjang semester pengajian, karena mereka berada di landasan Fisabilillah

*DO’A, DZIKIR DAN BACAAN AL-QUR’AN*
1. Menggangap do’a berjama’ah setelah shalat sebagai bid’ah.
2. Menganggap dzikir dan wirid berjama’ah sebagai bid’ah.
3. Mengatakan bahwa membaca “Sodaqallahul ‘azhim” setelah membaca al-Qur’an adalah Bid’ah.
4. Menyatakan bahwa do’a, dzikir dan shalawat yang tidak ada dalam al-Qur’an dan Hadits sebagai bid’ah. Sebagai contoh mereka menolak Dala’il al-Khairat, Shalawat al-Syifa‟, al-Munjiyah, al-Fatih, Nur al-Anwar, al-Taj, dll.
5. Menganggap amalan bacaan Yasin pada malam Jum’at sebagai bid’ah yang haram.
6. Mengatakan bahwa sedekah atau pahala tidak sampai kepada orang yang telah wafat.
7. Mengganggap penggunaan tasbih adalah bid’ah.
8. Mengganggap dzikir dengan bilangan tertentu seperti 1000 (seribu), 10,000 (sepuluh ribu), dll sebagai bid’ah.
9. Menolak amalan ruqiyyah syar’iyah dalam pengobatan Islam seperti wafa‟, azimat, dll.
10. Menolak dzikir isim mufrad: Allah Allah.
11. Melihat bacaan Yasin pada malam nisfu Sya’ban sebagai bid’ah yang haram.
12. Sering menafikan dan memperselisihkan keistimewaan bulan Rajab dan Sya’ban.
13. Sering mengkritik keutamaan malam Nisfu Sya’ban.
14. Mengangkat tangan sewaktu berdoa’ adalah bid’ah.
15. Mempermasalahkan kedudukan shalat sunat tasbih.

*PENGURUSAN JENAZAH DAN KUBUR*
1. Menganggap amalan menziarahi maqam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para anbiya’, awliya’, ulama’ dan sholihin sebagai bid’ah dan shalat tidak boleh dijama’ atau qasar dalam ziarah seperti ini.
2. Mengharamkan wanita menziarahi kubur.
3. Menganggap talqin sebagai bid’ah.
4. Mengganggap amalan tahlil dan bacaan Yasin bagi kenduri arwah sebagai bid’ah yang haram.
5. Tidak membaca do’a setelah shalat jenazah.
6. Sebagian ulama’ mereka menyeru agar Maqam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikeluarkan dari masjid nabawi atas alasan menjauhkan umat Islam dari syirik
7. Menganggap kubur yang bersebelahan dengan masjid adalah bid’ah yang haram
8. Do’a dan bacaan al-Quran di pekuburan dianggap sebagai bid’ah.

*MUNAKAHAT [PERNIKAHAN]*
1. Talak tiga (3) dalam satu majlis adalah talak satu (1)

*MAJLIS / PERAYAAN*
1. Menolak peringatan Maulid Nabi; bahkan menyamakan sambutan Maulid Nabi dengan perayaan kristen bagi Nabi Isa as.
2. Menolak amalan marhaban para habaib
3. Menolak amalan barzanji.
4. Berdiri ketika bacaan maulid adalah bid’ah
5. Menolak peringatan Isra’ Mi’raj, dll.

*HAJI DAN UMRAH*
1. Mencoba untuk memindahkan “Maqam Ibrahim as.” namun usaha tersebut telah digagalkan oleh al-Marhum Syeikh Mutawalli Sya’rawi saat beliau menemui Raja Faisal ketika itu.
2. Menghilangkan tanda telaga zam-zam
3. Mengubah tempat sa’i di antara Sofa dan Marwah yang mendapat tentangan ulama’ Islam dari seluruh dunia

*PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN*
1. Maraknya para professional yang bertitle LC menjadi “ustadz-ustadz‟ mereka (di Indonesia)
2. Ulama-ulama yang sering menjadi rujukan mereka adalah:
a. Ibnu Taymiyyah al-Harrani
b. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
c. Muhammad bin Abdul Wahhab
d. Syekh Abdul Aziz bin Baz
e. Nasiruddin al-Albani
f. Syeikh Sholeh al-Utsaimin
g. Syeikh Sholeh al-Fawzan
h. Adz-Dzahabi dll.
3. Sering mendakwahkan untuk kembali kepada al-Qura-n dan Hadits (tanpa menyebut para ulama’, sedangkan al-Qur-an dan Hadits sampai kepada umat Islam melalui para ulama’ dan para ulama’ juga lah yang memelihara dan menjabarkan kandungan al-Qur’an dan Hadits untuk umat ini)
4. Sering mengkritik Imam al-Ghazali dan kitab “Ihya’ Ulumuddin”

*PENGKHIANATAN MEREKA KEPADA UMAT ISLAM*
1. Bersekutu dengan Inggris dalam menjatuhkan kerajaan Islam Turki Utsmaniyyah
2. Melakukan perubahan kepada kitab-kitab ulama’ yang tidak sehaluan dengan mereka
3. Banyak ulama’ dan umat Islam dibunuh sewaktu kebangkitan mereka di timur tengah
4. Memusnahkan sebagian besar peninggalan sejarah Islam seperti tempat lahir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, meratakan maqam al-Baqi’ dan al-Ma’la [makam para isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Baqi’, Madinah dan Ma’la, Mekah], tempat lahir Sayyiduna Abu Bakar dll, dengan hujjah tempat tersebut bisa membawa kepada syirik.
5. Di Indonesia, sebagian mereka dulu dikenali sebagai Kaum Muda atau Mudah [karena hukum fiqh mereka yang mudah, ia merupakan bentuk ketaatan bercampur dengan kehendak hawa nafsu].

*TASAWWUF DAN THARIQAT*
1. Sering mengkritik aliran Sufisme dan kitab-kitab sufi yang mu’tabar
2. Sufiyyah dianggap sebagai kesamaan dengan ajaran Budha dan Nasrani
3. Tidak dapat membedakan antara amalan sufi yang benar dan amalan bathiniyyah yang sesat.

*Inilah kejahatan dan kesesatan aliran Salafi Wahabi yakni ajaran yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi an-Najdi :*

1. Allah bersemayam di atas ‘arsy seperti akidahnya kaum Yahudi.
2. Golongan yang beriman kepada setengah ayat Al-Qur’an dan kafir dengan setengah ayat Al-Quran yang lain.
3. Golongan yang menolak Takwil pada setengah ayat, dan membolehkan Takwil pada setengah ayat yang lain berdasarkan mengikuti hawa nafsu mereka.
4. Golongan yang menafikan Kenabian Nabi Adam A.S.
5. Golongan yang menyatakan bahwa Alam ini Qidam/Maha Dahulu (Rujuk pandangan ibn Taimiyyah).
6. Golongan yang mengkafirkan Imam Abu al-Hasan Al-Asy’ari dan para pengikutnya.
7. Golongan yang mengkafirkan Sultan Sholahuddin Al-Ayyubi dan Sultan Muhammad Al-Fateh.
8. Golongan yang mengkafirkan Imam An-Nawazwi dan Seluruh Ulama Islam yang menjadi para pengikutnya (Asy’ariyah dan Maturidiyah).
9. Golongan yang mendhoifkan hadits-hadits shohih dan menshohihkan hadits-hadits dhoif (lihat penulisan Albani).
10. Golongan yang tidak mempelajari ilmu dari Guru atau Syeikh, hanya copy paste dan membaca dari buku-buku dan sebagainya.
11. Golongan yang mengharamkan bermusafir ke Madinah dengan niat ziarah Nabi Muhammad SAW.
12. Golongan yang membunuh Ummat Islam beramai-ramai di Mekah, Madinah, dan beberapa kawasan di tanah Hijaz (lihat tarikh an-Najdi).
13. Golongan yang meminta bantuan Askar dan Senjata pihak Britain (yang bertapak di tempat Kuwait pada ketika ini) ketika kalah dalam perang ketika mereka ingin menjajah Mekkah dan Madinah.
14. Golongan yang menghancurkan turath (sejarah peninggalan) Ummat Islam di Mekkah dan Madinah. (lihat kawasan pekuburan Jannatul Baqi, Bukit Uhud dan sebagainya).
15.  Golongan yang membenci kaum ahlul bait/keturunan Nabi.
16. Golongan yang bertentangan dengan Ijma para Shohabat, Tabiin, Salaf, Khalaf dan seluruh Ulama ASWAJA.
17. Golongan yang mendakwa akal tidak boleh digunakan dalam dalil syara’, dengan menolak fungsi akal (ayat-ayat Al-Quran menyarankan menggunakan akal).
18. Golongan yang mengejar syuhrah (pangkat, nama, promosi, kemasyhuran) dengan menggunakan pemahaman mereka yang salah terhadap Al-Qura’n dan As-Sunnah.
19.  Golongan yang mendhoifkan hadits solat tarawih 20 rakaat. (Albani)
20.  Golongan yang mengharamkan menggunakan Tasbih. (Albani)
21. Golongan yang mengharamkan berpuasa pada hari sabtu walaupun hari Arafah jatuh pada hari tersebut. (Albani)
22.  Golongan yang melecehkan Imam Abu Hanifah R.A. (Albani)
23. Golongan yang mendakwa Allah memenuhi alam ini dan menghina Allah dengan meletakkan anggota pada Allah SWT.
24. Golongan yang mendakwa Nabi Muhammad SAW tidak hayyan (hidup) di kuburan beliau. (Albani)
25. Golongan yang melarang membaca Sayyidina dan menganggap perbuatan itu bid'ah dholalah/sesat.
26. Golongan yang mengingkari membaca Al-Quran dan membaca talqin pada orang yang meninggal.
27.  Golongan yang melarang membaca shalawat setelah adzan. (Albani)
28. Golongan yang mengatakan Syurga dan Neraka ini fana (tidak akan kekal). (ibn Taimiyyah)
29. Golongan yang mengatakan lafadz talaq tiga tidak jatuh, jika aku talaq kamu dengan talaq tiga. (ibn Taimiyyah).
30. Golongan yang mengisbatkan (menyatakan/menetapkan) tempat bagi Allah. (Ibn Taimiyyah)
31. Golongan yang menggunakan uang rupiah untuk menggerakkan ajaran sesat mereka, membuat tadlis (penipuan dan pengubahan) di dalam kitab-kitab ulama yang tidak sependapat dengan mereka.
32. Golongan yang mengkafirkan orang Islam yang menetap di Palestine sekarang ini. (Albani)
33.  Golongan yang membid’ahkan seluruh ummat Islam.
34. Golongan yang menghukumi syirik terhadap amalan ummat Islam yang tidak sepaham dengan mereka.
35. Golongan yang membawa ajaran tauhid dan tidak pernah belajar ilmu tauhid. (Ibn Taimiyyah)
36. Golongan yang mengatakan bahwa Abu Jahal dan Abu Lahab juga mempunyai tauhid, tidak pernah Nabi Muhammad SAW mengajar begini atau pun para Shohabah R.A. (Muhammad Abdul Wahab)
37. Golongan yang membolehkan memakai lambang salib hanya semata-mata untuk mujamalah/urusan resmi kerajaan, dan hukumnya tidak kufur. (Bin Baz)
38.  Golongan yang membiayai keuangan Askar Kaum Kuffar untuk membunuh Ummat Islam dan melindungi negara mereka. (kerajaan Wahhabi Saudi)
39.  Golongan yang memberi Syarikat-syarikat Yahudi memasuki Tanah Haram. (Kerajaan Wahhabi Saudi)
40.  Golongan yang memecah-belah Ummat Islam dan institusi kekeluargaan.
41.  Golongan yang mengharamkan Maulid dan bacaan-bacaan barzanji, marhaban.
42.  Golongan yang menghalalkan bom bunuh diri atas nama jihad walaupun orang awam kafir yang tidak bersenjata mati. (selain di Palastine)
43. Golongan yang menghalalkan darah Ahlus Sunnah Wal Jamaah Asy’ariyah dan Maturidiyah. Lihat di Lubnan, Chechnya, Algeria, dan beberapa negara yang lain.
44.  Golongan yang menimbulkan fitnah terhadap Ummat Islam dan menjelek-jelekkan nama baik Islam.
45.  Golongan yang membuat kekacauan di Fathani, Thailand.
46.  Golongan yang sesat menyesatkan rakyat Malaysia.
47.  Golongan yang meninggalkan ajaran dan ilmu-ilmu Ulama ASWAJA yang muktabar.
48.  Golongan yang meninggalkan methodologi ilmu ASWAJA.
49.  Golongan yang minoritas dalam dunia, malah baru kemaren sore seumur jagung.
50.  Golongan yang menuduh orang lain dengan tujuan melarikan diri atau menyembunyikan kesesatan mereka.
51.  Golongan yang jahil, tidak habis mempelajari ilmu-ilmu Agama, tetapi ingin membuat fatwa sesuka hati.
52.  Golongan yang melarang bertaqlid, tetapi mereka lebih bertaqlid kepada mazhab sesat mereka.
53.  Golongan yang secara dzahirnya berjubah, berkopiah, celana di atas tumit, janggut panjang tetapi kelewatan, tidak menghormati ulama, mengutuk para Alim Ulama dan tidak amanah dengan ilmu dan agama Islam.
54.  Golongan yang tidak hujjah dalam ajaran mereka.
55. Golongan yang membawa ajaran sesat Ibn Taimiyyah/Muhamad Ibn Abd Wahab, kedua-dua individu ini telah dicemooh, ditentang, dijawab dan dikafirkan oleh Jumhur Ulama ASWAJA atas dasar akidah mereka yang sesat.

*_Wallahu a’lam bish-Showab wal hadi ila sabilil haq._*

Friday, October 27, 2017

ARAB SAUDI, UANG MINYAK, DAN WAHABISME

ARAB SAUDI, UANG MINYAK, DAN WAHABISME

M. Kholid Syeirazi

Saya mencermati apa yang sedang terjadi di Arab Saudi dan kabar itu datang juga. Negeri ini paling mentereng di Timur Tengah dan masih tegak berdiri di antara peradaban Arab yang koyak setelah Arab Spring. Pendapatannya 87% dipasok dari minyak, sisanya dari sektor lain terutama devisa haji dan umrah. Dia pemilik cadangan minyak terbesar kedua di dunia setelah Venezuela, pemilik cadangan gas terbesar rangking lima setelah Iran, Rusia, Qatar, Turkmenistan, dan Amerika. Dia kelola cadangan migasnya sendiri melalui Saudi Aramco. Banyak konsultan berspekulasi, Aramco adalah perusahaan minyak tertutup dengan aset terbesar di dunia. Dengan uang minyak, Kerajaan menjalankan pemerintahan dengan cara tertutup dan mengusung Wahabisme sebagai ideologi negara. Mereka tidak perlu pajak rakyat, sebaliknya rakyat tidak perlu tahu urusan pemerintah. “What right do they have when they pay no taxes and when the government provides all the needed services” (Apa hak rakyat wong mereka tidak bayar pajak dan pemerintah memenuhi semua kebutuhan mereka), demikian kata pejabat Saudi menjawab pertanyaan Valeria Marcel, penulis buku Oil Titans. Uang minyak memungkinkan Kerajaan mengekspor Wahabisme ke seluruh dunia melalui pendirian lembaga pendidikan dan tempat ibadah, termasuk Indonesia. Arabian style sekarang menjamur di kalangan anak muda Tanah Air.  Gaya itu diyakini lebih dekat dengan Islam dan sunnah Nabi.

Sampai akhirnya harga minyak anjlok pada tahun 2014. Biaya pokok produksi minyak Saudi memang rendah, tetapi mereka perlu harga minyak tinggi, idealnya US$100-an per barel, agar dapat menggenjot pendapatan dan pembangunan. Harga terpuruk membuat APBN Kerajaan terpukul. Anggaran negara defisit 366 miliar riyal tahun 2015 dan 297 miliar riyal tahun 2016. Kerajaan menempuh sejumlah langkah, antara lain memangkas subsidi energi, memotong gaji pegawai, menggalang pinjaman asing, melepas saham minor Aramco, dan menjalankan program reformasi fiskal. Atas saran IMF, Kerajaan mendeversifikasi penerimaan dengan menerapkan pajak. Kerajaan akan memungut  pajak pertambahan nilai (VAT) sebesar 5 persen untuk beberapa jenis barang mulai tahun 2018.

Pajak adalah instrumen demokratis untuk mendorong keterbukaan politik. Imbal balik dari pungutan pajak adalah tax payers berhak tahu apa yang dikerjakan pemerintah. Kebutuhan terhadap dana asing dan pajak rakyat mengharuskan keran keterbukaan dibuka. Pada saat bersamaan, Kerajaan jatuh kepada Raja Salman bin Abdulaziz dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Keduanya dikenal moderat dan open-minded. Sang Putra Mahkota inilah yang kemarin mengejutkan dunia dengan pernyataannya yang mencela ideologi keagamaan konservatif yang dianut Kerajaan selama 30 tahun dan berniat meretas jalan Islam moderat. Di hadapan investor yang berkumpul di Riyadh (24/10), Putra Mahkota menegaskan tidak akan membuang waktu 30 tahun untuk memerangi pikiran-pikiran ekstrem. “We will destroy them now and immediately” (Kita akan hancurkan mereka sekarang dan segera!) https://www.theguardian.com/world/2017/oct/24/i-will-return-saudi-arabia-moderate-islam-crown-prince. Sebelumnya, dalam lawatan ke Rusia bersama Raja Salman (9/10), Menteri Luar Negeri Adel Al-Jubeir mengatakan pemerintah telah memecat beberapa ribu imam radikal dari kegiatan masjid karena menyebarkan ekstremisme. “We will not let anyone spread the ideology of hatred, to finance that kind of ideology or terrorism.” (Kami tidak akan membiarkan siapapun menyebarkan ideologi kebencian, untuk membiayai ideologi atau terorisme semacam itu) http://nation.com.pk/09-Oct-2017/thousands-of-extremist-imams-fired-in-saudi-arabia-foreign-minister-adel-al-jubeir.

Sekarang yang perlu diperhatikan adalah bagaimana nasib proyek Wahabisme di dunia? Sudah menjadi rahasia umum, uang Saudi berlumuran dalam penyebaran militansi dan radikalisme yang ditempa oleh paham keagamaan radikal dan skripturalis ala Wahabi. Gairah beragama puritan dan skripturalis kini banyak diminati anak-anak muda di tanah air. Celana congklang dan jenggot adalah ciri khas mereka. Mereka berkumpul di sejumlah tempat, aktif menggelar kajian dan menyebarkannya melalui piranti-piranti media sosial. Ustadz-ustadz mereka mencurahkan waktu sepenuhnya untuk mengajar, pengikutnya dari kalangan profesional dan kelas menengah kota. Sebagaimana terpotret dari berbagai survei, perkembangan mereka yang pesat belakangan tidak lepas dari perjuangan bertahun-tahun, dengan dukungan dari sejumlah negara Timur Tengah  sebagai penyandang dananya. Sekarang Arab Saudi berniat menyetop radikalisme dan berhenti membiayai penyebaran ideologi kebencian. Kalau benar, berarti tidak akan ada uang lagi untuk mengekspor Wahabisme. Arab Saudi kini memusuhi Qatar yang dituduh masih membiayai proyek ekstremisme. Apakah lantas kiblat Wahabisme akan bergeser dari Arab Saudi ke Qatar? Perkembangan lanjut layak dicermati untuk melihat geopolitik Timur Tengah dan imbasnya terhadap gerakan Islam di Tanah Air.  

Sekretaris Jenderal PP ISNU

Sunday, August 13, 2017

KENALI ASWAJA & KENALI WAHABI

Darul Ulum Poncol
KENALI ASWAJA & KENALI WAHABI
______________
Supya kita lbih fhm arti terminologi yg dpkai

1. *Imam Hanafi* :
Lahir 80 Hijrah

2. *Imam Maliki* :
Lahir 93 Hijrah

3. *Imam Syafi'i* :
Lahir 150 Hijrah

4. *Imam Hanbali* :
Lahir 164 Hijrah

*5. Imam Asy'ari* :
Lahir 240 Hijrah

Mereka ini semua ulama Salafus Sholih dikenali dgn nama ulama *SALAF*...

*Apa itu SALAF?*

Salaf ialah nama "zaman" yaitu merujuk kpd golongan ulama yg hidup antara kurun zaman kerasulan Nabi Muhammad hingga 300 HIJRAH.

1) Golongan generasi pertama dr 300 tahun hijrah tu disebut *"Sahabat Nabi"* kerana mereka pernah bertemu Nabi.

2) Golongan generasi kedua pula disebut *"Tabi'in"* yaitu golongan yg pernah bertemu Sahabat Nabi tp tak pernah bertemu Nabi.

3) Golongan generasi ketiga disebut sbg *"Tabi' tabi'in"* yaitu golongan yg tak pernah bertemu Nabi & Sahabat tp bertemu dgn Tabi'in.

Jd Imam Abu Hanifah (pengasas madzhab Hanafi) merupakan murid Sahabat Nabi maka beliau seorang *TABI'IN.*

* *Imam Malik*,
* *Imam Syafie*,
* *Imam Hanbali*,
* *Asy'ari*
pula berguru dgn Tabi'in maka mereka adalah golongan *TABI' TABI'IN.*

Jd kesemua imam2 yg mulia ini
merupakan golongan
*SALAF YG SEBENAR* &
pengikut mazhab mereka lah yg paling layak digelar sbg "Salafi" kerana "salafi" bermaksud "pengikut golongan *SALAF".*

Jd beruntung lah kita di *(Nusantara) yg masih berpegang kpd mazhab Syafi'i yg merupakan mazhab SALAF* yg *SEBENAR* &
tidak lari dr kefahaman
*NABI & SAHABAT*...

Rujukan orang Wahhabi :

1) *Ibnu Taimiyyah* lahir:
661 Hijrah (lahir 361 tahun selepas berakhirnya zaman SALAF)

2) *Albani* lahir:
1333 Hijrah (mati tahun 1420 hijrah @ 1999 Masihi,
lahir 1033 tahun selepas berakhirnya zaman SALAF)

3) *Muhammad Abd Wahhab* *(pengasas gerakan Wahhabi)*:
1115 Hijrah (lahir 815 tahun selepas berakhirnya zaman SALAF)

4) *Bin/Ibnu Baz* lahir:
1330 Hijrah (mati tahun 1420 hijrah @ 1999 Masihi,
sama dgn Albani,
lahir 1030 tahun selepas berakhirnya zaman SALAF)

5) *Ustaimin* lahir:
1928 Masihi (mati tahun 2001,
lebih kurang 12 tahun lepas dia mati,
lahir entah berapa ribu tahun selepas zaman SALAF.

Mereka ini semua hidup di *AKHIR ZAMAN* kecuali Ibnu Taimiyyah yg hidup di pertengahan zaman antara zaman salaf & zaman dajjal (akhir zaman)...
tak ada sorg pun imam rujukan mereka yg mereka ta'asub (fanatik) buta hidup di zaman *SALAF*....

Mereka ini semua *TERAMAT LAH JAUH DARI ZAMAN SALAF* tp *SANGAT2 ANEH* apabila orang2 Wahhabi menggelarkan diri sebagai "Salafi" (pengikut golongan Salaf).

Sedangkan rujukan mereka
semuanya merupakan manusia2 yg hidup di *AKHIR ZAMAN?*

_*Mari kita angan-angan..!!!*_

Saturday, August 5, 2017

DZIKIR BERJAMA'AH . Habib Mundzir Al-Musawa

DZIKIR BERJAMA'AH
.
Habib Mundzir Al-Musawa :
.
Menanggapi surat anda, memang perlu sedikit penjelasan tentang sekte yg baru ini (faham wahabi), butuh kejelian atas tipuan tipuan sekte ini (maaf saya tidak menamakan mereka ini madzhab).
.
Sekte wahabi muncul pada abad 14 hijriah, mereka ini merupakan penyakit dalam tubuh muslimin yg telah menyerang hampir seluruh Negara muslimin dimuka bumi.
.
Mereka ini selalu mengada adakan dan mempermasalahkan hal hal yg tidak pernah dipermasalahkan oleh Ulama Besar, Para Imam, para Tabi\’in, para sahabat, bahkan Rasul saw.
.
Maaf saya tidak mengakategorikan Ibn Abdulwahhab sebagai Imam Madzhab, karena seorang Imam Madzhab adalah orang yg suci dari mencaci maki muslimin, apalagi menganggap musyrik pada ahli syahadat, atau menganggap perbuatan sahabat rasul radhiyallahu\’anhum adalah Bid?ah munkarah.
Imam madzhab adalah pewaris Rasul saw, orang yg berjiwa arif dan lidahnya selalu basah berdzikir kepada Allah, mendoakan yg sesat, mendoakan hidayah bagi orang kafir, demikian pulalah Lidah Rasul saw.
.
Dzikir berjamaah sejak zaman Rasul saw, sahabat, tabi\’in tak pernah dipermasalahkan, bahkan merupakan sunnah rasul saw, dan pula secara akal sehat, semua orang mukmin akan asyik berdzikir,
.
dan hanya syaitan yg benci dan akan hangus terbakar dan tak tahan mendengar suara dzikir. kita bisa bandingkan mereka ini dari kelompok mukmin, atau kelompok syaitan yg sesat.., dengan cara mereka yg memprotes dzikir jamaah, telinga mereka panas, dan ingin segera kabur bila mendengar jamaah berdzikir.
.
1). para sahabat berdoa bersama Rasul saw dengan melantunkan syair (Qasidah/Nasyidah) di saat menggali khandaq (parit) Rasul saw dan sahabat2 radhiyallhu?anhum bersenandung bersama sama dengan ucapan : \"HAAMIIIM LAA YUNSHARUUN..\". (Kitab Sirah Ibn Hisyam Bab Ghazwat Khandaq). Perlu diketahui bahwa sirah Ibn Hisyam adalah buku sejarah yg pertama ada dari seluruh buku sejarah, yaitu buku sejarah tertua. Karena ia adalah Tabi\’in.
.
2). saat membangun Masjidirrasul saw : mereka bersemangat sambil bersenandung : \"Laa \’Iesy illa \’Iesyul akhirah, Allahummarham Al Anshar wal Muhaajirah\" setelah mendengar ini maka Rasul saw pun segera mengikuti ucapan mereka seraya bersenandung dengan semangat : \"Laa \’Iesy illa \’Iesyul akhirah, Allahummarham Al Anshar wal Muhajirah.. \" (Sirah Ibn Hisyam Bab Hijraturrasul saw- bina\’ masjidissyarif hal 116)
.
3). ucapan ini pun merupakan doa Rasul saw demikian diriwayatkan dalam shahihain
.
4). Firman Allah swt : \"SABARKANLAH DIRIMU BERSAMA KELOMPOK ORANG ORANG YG BERDOA PADA TUHAN MEREKA SIANG DAN MALAM SEMATA MATA MENGINGINKAN KERIDHOAN NYA, DAN JANGANLAH KAU JAUHKAN PANDANGANMU (dari mereka), UNTUK MENGINGINKAN KEDUNIAWIAN.\" (QS Alkahfi 28)
Ayat ini turun ketika Salman Alfarisi ra berdzikir bersama para sahabat, maka Allah memerintahkan Rasul saw dan seluruh ummatnya duduk untuk menghormati orang2 yg berdzikir.
Mereka (sekte wahabi) mengatakan bahwa ini tidak teriwayatkan bentuk dan tata cara dzikirnya, ah..ah?ah.. Dzikir ya sudah jelas dzikir.., menyebut nama Allah, mengingat Allah swt, adakah lagi ingin dicari pemahaman lain?,
.
5). Sahabat Rasul radhiyallahu\’anhum mengadakan shalat tarawih berjamaah, dan Rasul saw justru malah menghindarinya, mestinya merekapun shalat tarawih sendiri sendiri, kalau toh Rasul saw melakukannya lalu menghindarinya, lalu mengapa Generasi Pertama yg terang benderang dg keluhuran ini justru mengadakannya dengan berjamaah..,
.
Sebab mereka merasakan ada kelebihan dalam berjamaah, yaitu syiar,
.
ah..ah..ah.. mereka masih butuh syiar dibesarkan, apalagi kita dimasa ini..,
.
maka kalau ada pertanyaan : \"siapakah yg pertama kali mengajarkan Bid\’ah hasanah?, maka kita dengan mudah menjawab, yg pertama kali mengajarkannya adalah para Sahabat Rasul saw, karena saat itu Umar ra setelah bersepakat dengan seluruh sahabat untuk jamaah tarawih, lalu Umar ra berkata : \"WA NI\’MAL BID\’AH HADZIH..\". (inilah Bid\’ah yg terindah).
.
Siapa lebih tahu makna menghindari bid\’ah?, Umar bin Khattab ra, makhluk nomer dua paling mulia di ummat ini bersama seluruh sahabat radhiyallahu\’anhum.., atau madzhab sempalan abad ke 20 ini.
.
6). Lalu para tabi\’in sebab cinta mereka pada sahabat, maka mereka menggelari setiap menyebut nama sahabat dengan ucapan Radhiyalahu\’anhu/ha/hum. Inipun tak pernah diajarkan oleh Rasul saw, tak pula pernah diajarkan oleh sahabat, walaupun itu berdalilkan beberapa ayat didalam alqur\’an bahwa bagi mereka itu kerdhoan Allah, namun tak pernah ada perintah dari Rasul saw untuk menggelari setiap nama sahabat beliau saw dg ucapan radhiyallahu\’anhu/ha/hum.
Inipun Bid\’ah hasanah, kita mengikuti Tabi\’in mengucapkannya krn cinta kita pd Sahabat.
.
7). Khalifah Umar bin Abdul Aziz menambahkan lagi dengan menyebut nyebut nama para Khulafa?urrasyidin dalam khotbah kedua pada khutbah jumat, Ied dll.., inipun bid?ah, tak pernah diperbuat oleh para Tabi\’in, Sahabat, bahkan Rasul saw, namun diada adakan karena telah banyak kaum mu\’tazilah yg mencaci sahabat dan melaknat para Khulafa\’urrasyidin, maka hal ini mustahab saja, (baik dilakukan), tak ada pula yg benci dengan hal ini kecuali syaitan dan para tentaranya.
.
Lalu kategori Bid\’ah ini pun muncul entah darimana?, membawa hadits : \"Semua Bid?ah adalah sesat dan semua sesat adalah di neraka\". Menimpakan hadits ini pada kelompok sahabat. Ah..ah..ah… adakah seorang muslim mengatakan orang yg memanggil nama Allah Yang Maha Tunggal, menyebut nama Allah dengan takdhim, berdoa dan bermunajat, mereka ini sesat dan di neraka?,
.
Orang yg berpendapat ini berarti ia telah mengatakan seluruh nama nama diatas adalah penduduk neraka termasuk Umar bin Khattab ra dan seluruh sahabat, dan seluruh tabi?in, dan seluruh ulama ahlussunnah waljama\’ah termasuk Sayyidina Muhammad saw, yg juga diperintah Allah untuk duduk bersama kelompok orang yg berdoa, dan beliau lah saw yg mengajarkan doa bersama sama.
.
Kita di Majelis Majelis menjaharkan lafadz doa dan munajat untuk menyaingi panggung panggung maksiat yg setiap malam menggelegar dengan dahsyatnya menghancurkan telinga, berpuluh ribu pemuda dan remaja MEMUJA manusia manusia pendosa dan mengelu elukan nama mereka.. menangis menjilati ludah dan air seni mereka..
.
Salahkah bila ada sekelompok pemuda mengelu-elukan nama Allah Yang Maha Tunggal?, menggemakan nama Allah?,
Ah..ah..ah..apakah Nama Allah sudah tak boleh dikumandangkan lagi dimuka bumi?.??!!
.
Seribu dalil mereka cari agar Nama Allah tak lagi dikumandangkan.. cukup berbisik bisik..!, sama dengan komunis yg melarang meneriakkan nama Allah, dan melarang kumpulan dzikir..
.
Adakah kita masih bisa menganggap kelompok wahabi ini adalah madzhab..?!!
.
Kita Ahlussunnah waljama?ah berdoa, berdzikir, dengan sirran wa jahran, di dalam hati, dalam kesendirian, dan bersama sama.
Sebagaimana Hadist Qudsiy Allah swt berfirman : \"BILA IA (HAMBAKU) MENYEBUT NAMAKU DALAM DIRINYA, MAKA AKU MENGINGATNYA DALAM DIRIKU, BILA MEREKA MENYEBUT NAMAKU DALAM KELOMPOK BESAR, MAKA AKUPUN MENYEBUT (membanggakan) NAMA MEREKA DALAM KELOMPOK YG LEBIH BESAR DAN LEBIH MULIA\". (HR Bukhari Muslim).
.
Saran saya, kita doakan saja madzhab sempalan abad ke 20 ini, agar mereka diberi hidayah dan kembali kepada kebenaran.
Wahai Allah telah terkotori permukaan Bumi Mu dengan sanubari sanubari yg disesatkan syaitan, maka hujankanlah hidayah Mu pada mereka agar mereka mau kembali pd kebenaran, beridolakan sang Nabi saw, beridolakan Muhajirin dan Anshar, berakhlak dengan akhlak mereka, sopan dan rendah hati sebagaimana mereka. Demi Kemuliaan Ramadhan, Demi Kemuliaan Shiyaam walqiyaam, Demi Kemuliaan Nuzululqur\’an, dan Demi Kemuliaan Muhammad Rasulullah saw, amiin.
.
Wallahu a'lam
.
Allahuma sholi 'ala sayidina Muhammad nabiyil umiyi wa 'alihi wa shohbihi wa salim
.
Silahkan Tag & share ~
=====================
Silahkan kunjungi fanspage kami lainnya dan Jangan lupa Like & kunjungannya :
=> Video Dakwah Islami
=> Dakwah Para Habaib dan Ulama Was Sholihin
=> Rumah-muslimin
Instagram kami di :
=> https://www.instagram.com/dakwah_ulamaku/ (dakwah_ulamaku )
Website kami di :
=> http://rumah-muslimin.blogspot.co.id (masih tahap editing)

Thursday, July 27, 2017

KUBURAN KERAMAT, DAN KEBOHONGAN WAHABI

KUBURAN KERAMAT, DAN KEBOHONGAN WAHABI

Beberapa waktu yang lalu, seorang tokoh Wahabi mempersoalkan kuburan keramat. Menurut tokoh yang bersangkutan, berziarah ke makam para nabi, para wali dan para ulama, hanya boleh dengan tujuan agar kita mengingat mati dan mendoakan mereka. Sedangkan ziarah ke makam mereka dengan tujuan tabaruk, atau ngalap barokah kata orang Jawa, adalah dilarang dan pasti tidak akan mereka (Wahabi) lakukan. Ziarah dengan tujuan tabaruk, diistilahkan dengan mengkeramatkan kuburan. Tulisan ini akan berusaha mengajak kaum Wahabi untuk berpikir dengan jernih, dan kembali ke ajaran kaum salaf, yang memang mengkeramatkan kuburan keramat, seperti makam para nabi, para wali, orang-orang shaleh dan para ulama.

Sebagaimana dimaklumi, bahwa di antara tujuan ziarah kubur, adalah tabaruk, atau ngalap barokah. Ziarah kubur dilakukan dengan tujuan tabaruk, adalah ketika makam yang diziarahi adalah makam para nabi, para wali, orang-orang shaleh dan para ulama. Dalil Ahlussunnah Wal-Jamaah dalam hal ini adalah firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّابًا رَحِيمًا (64)

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. al-Nisa’ : 64).

Dalam ayat ini Allah menuntun kita apabila kita menganiaya diri dengan melakukan perbuatan dosa, dan kita hendak bertaubat dan memohon ampun kepada Allah, maka kita mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, baik ketika beliau masih hidup atau sudah meninggal, lalu kita memohon ampun kepada Allah serta ber-tawassul dan ber-istighatsah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar dimohonkan ampun kepada Allah. Al-Hafizh Ibn Katsir, ketika menafsirkan ayat tersebut berkata:

وَقَدْ ذَكَرَ جَمَاعَةٌ مِنْهُمْ الشَّيْخُ أَبُوْ نَصْرٍ بْنِ الصَّبَّاغِ فِيْ كِتَابِهِ الشَّامِلِ الْحِكَايَةَ الْمَشْهُوْرَةَ عَنِ الْعُتْبِيِّ قَالَ : كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ قَبْرِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَجَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ: السَّلامُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ سَمِعْتُ اللهَ يَقُوْلُ (وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوْا أَنْفُسَهُمْ جَاؤُوْكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّاباً رَحِيْماً) وَقَدْ جِئْتُكَ مُسْتَغْفِرًا لِذَنْبِيْ مُسْتَشْفِعًا بِكَ إِلَى رَبِّيْ ثُمَّ أَنْشَأَ يَقُوْلُ:
يَا خَيْرَ مَنْ دُفِنَتْ بِالْقَاعِ أَعْظُمُهُ   فَطَابَ مِنْ طِيْبِهِنَّ الْقَاعُ وَاْلأَكَمُ
نَفْسِي الْفِدَاءُ لِقَبْرٍ أَنْتَ سَـاكِنُهُ   فِيْهِ الْعَـفَافُ وَفِيْهِ الْجُوْدُ وَالْكَرَمُ
ثُمَّ انْصَرَفَ اْلأَعْرَابِيُّ فَغَلَبَتْنِيْ عَيْنِيْ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فِي النَّوْمِ فَقَالَ يَا عُتْبِيُّ اِلْحَقِ اْلأَعْرَابِيَّ فَبَشِّرْهُ أَنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَ لَهُ انتهى،

“Banyak ulama menyebutkan seperti al-Imam Abu Manshur al-Shabbagh dalam al-Syamil, cerita yang populer dari al-‘Utbi. Beliau berkata: “Aku duduk di samping makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,kemudian datang seorang a’rabi dan berkata: “Salam sejahtera atasmu ya Rasulullah. Aku mendengar Allah berfirman: “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. al-Nisa’: 64). Aku datang kepadamu dengan memohon ampun karena dosaku dan memohon pertolonganmu kepada Tuhanku”. Kemudian ia mengucapkan syair:

Wahai sebaik-baik orang yang jasadnya disemayamkan di tanah ini
Sehingga semerbaklah tanah dan bukit karena jasadmu
Jiwaku sebagai penebus bagi tanah tempat persemayamanmu
Di sana terdapat kesucian, kemurahan dan kemuliaan

Kemudian a’rabi itu pergi. Kemudian aku tertidur dan bermimpi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau berkata: “Wahai ‘Utbi, kejarlah si a’rabi tadi, sampaikan berita gembira kepadanya, bahwa Allah telah mengampuni dosanya”. (Al-Hafizh Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 1/492).

Kisah al-‘Utbi ini juga diriwayatkan oleh al-Imam al-Nawawi dalam al-Idhah fi Manasik al-Hajj (hal. 498), Ibn Qudamah al-Maqdisi al-Hanbali dalam al-Mughni (3/556), Abu al-Faraj Ibn Qudamah dalam al-Syarh al-Kabir (3/495), al-Syaikh al-Buhuti dalam Kasysyaf al-Qina’ (5/30) dan lain-lain. Keterangan tersebut, memberikan kesimpulan bahwa ketika kita punya hajat, seperti ingin diampuni oleh Allah atau hajat lainnya, maka kita melakukan ziarah ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, para wali dan orang-orang shaleh, lalu kita berdoa di sana. Ziarah dengan tujuan tabaruk di atas, jelas dilarang dan dianggap syirik oleh kaum Wahabi, meskipun dalilnya dari al-Qur’an dan pengamalan ulama salaf yang shaleh.

FAKTA-FAKTA BAHWA UMAT ISLAM MENGKERAMATKAN MAKAM PARA KEKASIH ALLAH SEJAK GENERASI SALAF YANG SHALEH

1. Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha
Al-Imam al-Darimi  meriwayatkan:
حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ ثَنَا سَعِيْدُ بْنِ زَيْدٍ ثَنَا عَمْرُو بْنِ مَالِكٍ النُّكْرِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو الْجَوْزَاءِ أَوْسُ بْنُ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَحَطَ أَهْلُ الْمَدِيْنَةِ قَحْطًا شَدِيْدًا فَشَكَوْا إِلىَ عَائِشَةَ فَقَالَتْ اُنْظُرُوْا قَبْرَ النَّبِيِّ صلى الله علسه وسلم فَاجْعَلُوْا مِنْهُ كُوًّا إِلىَ السَّمَاءِ حَتَّى لاَ يَكُوْنَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّمَاءِ سَقْفٌ قَالَ فَفَعَلُوْا فَمُطِرْنَا مَطَرًا حَتَّى نَبَتَ الْعُشْبُ وَسَمِنَتِ اْلإِبِلُ حَتَّى تَفَتَّقَتْ مِنَ الشَّحْمِ فَسُمِّيَ عَامَ الْفَتْقِ اهـ رِجَالُهُ ثِقَاتٌ وَهُوَ مَوْقُوْفٌ عَلىَ عَائِشَةَ.
“Abu al-Nu’man telah bercerita kepada kami: “Sa’id bin Zaid telah bercerita kepada kami: “Amr bin Malik al-Nukri telah bercerita kepada kami: “Abu al-Jauza’ Aus bin Abdullah telah bercerita kepada kami: seraya berkata: “Suatu ketika penduduk Madinah mengalami musim paceklik yang sangat parah. Lalu mereka mengadu kepada Aisyah. Lalu Aisyah berkata: “Kalian lihat makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, buatkan lubang dari makam itu ke langit, sehingga antara makam dan langit tidak ada atap yang menghalanginya.” Mereka melakukannya. Setelah itu, hujan pun turun dengan lebat sekali, sehingga rerumputan tumbuh dengan subur dan unta-unta menjadi sangat gemuk, sehingga tahun itu disebut dengan tahun subur.”
Dalam hadits di atas jelas sekali, bahwa Ummul Mu’minin Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha menyuruh umat Islam kota Madinah pada waktu itu agar bertabaruk dengan makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Salafi-Wahabi yang berpandangan bahwa bertabaruk dengan makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk syirik yang mengeluarkan dari Islam, melakukan kecurangan ilmiah dalam menolak hadits shahih di atas sebagaimana yang dilakukan oleh Syaikh al-Albani dalam sebagian bukunya.

2. Al-Imam al-Syafi’i
Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris al-Syafi’i (150-204 H/767-819 M), mujtahid besar, pakar hadits dan pendiri madzhab Syafi’i yang diikuti oleh mayoritas kaum Muslimin di dunia, juga mengakui bolehnya ber-tabaruk dengan para nabi dan wali sesudah meninggal. Hal ini dapat dilihat dengan memperhatikan pernyataan beliau berikut ini:

عَنْ عَلِي بْنِ مَيْمُوْنٍ قَالَ: سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ رضي الله عنه يَقُوْلُ: إِنِّيْ َلأَتَبَرَّكُ بِأَبِيْ حَنِيْفَةَ وَأَجِيْءُ إِلَى قَبْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ يَعْنِيْ زَائِرًا، فَإِذَا عَرَضَتْ لِيْ حَاجَةٌ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَأَتَيْتُ إِلَى قَبْرِهِ وَسَأَلْتُ اللهَ الْحَاجَةَ عِنْدَهُ فَمَا تَبْعُدُ عَنِّيْ حَتَّى تُقْضَى. رواه الحافظ الخطيب البغدادي في تاريخ بغداد (1/123) بسند صحيح.

“Dari Ali bin Maimun, berkata: “Aku mendengar al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku selalu bertabarruk dengan Abu Hanifah dan mendatangi makamnya dengan berziarah setiap hari. Apabila aku mempunyai hajat, maka aku menunaikan shalat dua rekaat, lalu aku datangi makam beliau dan aku memohon hajat itu kepada Allah di sisi makamnya, sehingga tidak lama kemudian hajatku segera terkabul”.

3. Al-Imam Ahmad bin Hanbal
Al-Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H/781-855 M), mujtahid besar, muhaddits terkemuka dan pendiri madzhab Hanbali –yang pura-pura diikuti oleh orang-orang Wahhabi di Saudi Arabia–, juga mengakui kebolehan dan bahkan kesunnatan ber-tabaruk dengan para nabi dan wali sesudah meninggal. Hal ini dapat dilihat dengan memperhatikan perkataan beliau dalam kitab al-‘Ilal wa Ma’rifat al-Rijal (2/492), ketika menjawab pertanyaan tentang tabarruk berikut ini:

3242 – سَأَلْتُهُ عَنِ الرَّجُلِ يَمَسُّ مِنْبَرَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَيَتَبَرَّكُ بِمَسِّهِ وَيُقَبِّلُهُ وَيَفْعَلُ بِالْقَبْرِ مِثْلَ ذَلِكَ أَوْ نَحْوَ هَذَا يُرِيْدُ بِذَلِكَ التَّقَرُّبَ إِلىَ اللهِ جَلَّ وَعَزَّ فَقَالَ : لاَ بَأْسَ بِذَلِكَ. (الإمام أحمد في كتابه العلل ومعرفة الرجال، 2/492).

“3243. Aku bertanya kepada ayahanda, al-Imam Ahmad bin Hanbal, tentang seorang laki-laki mengusap mimbar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bermaksud tabarruk dengan mengusapnya itu, ia mencium mimbar itu, dan melakukan hal yang sama terhadap makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau yang seperti itu dengan maksud ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah - jalla wa ‘azza. Beliau menjawab: “Boleh”.

4. Al-Imam Abu Ali al-Khallal
Abu Ali al-Hasan bin Ibrahim al-Khallal, pemuka madzhab Hanbali pada masanya, juga membolehkan ber-tawassul dan ber-istighatsah dengan orang yang sudah meninggal. Hal ini dapat dilihat dengan memperhatikan perkataan beliau:

مَا هَمَّنِيْ أَمْرٌ فَقَصَدْتُ قَبْرَ مُوْسَى بْنِ جَعْفَرٍ يَعْنِيْ الْكَاظِمَ فَتَوَسَّلْتُ بِهِ إِلاَّ سَهَّلَ اللهُ لِيْ مَا أُحِبُّ. رواه الخطيب البغدادي في تاريخ بغداد (1/120).

“Setiap aku mengalami kesulitan, lalu aku mendatangi makam Musa al-Kazhim bin Ja’far al-Shadiq, dan aku bertawassul dengannya, pasti Allah memudahkan apa yang aku inginkan.”

Pernyataan ini diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi (392-463 H/1002-1072 M) dalam Tarikh Baghdad (1/120).

5. Al-Hafizh Ibn Khuzaimah
Al-Hafizh Abu Bakar bin Khuzaimah (223-311 H/838-924 M), yang dijuluki Imam al-Aimmah (pemimpin para imam) dan pengarang Shahih Ibn Khuzaimah melakukan tabaruk dengan Sayyid Ali al-Ridha bin Musa al-Kazhim. Abu Bakar bin al-Mu’ammal berkata:

خَرَجْنَا مَعَ إِمَامِ أَهْلِ الْحَدِيْثِ أَبِيْ بَكْرٍ بْنِ خُزَيْمَةَ وَعَدِيْلِهِ أَبِيْ عَلِي الثَّقَفِيِّ مَعَ جَمَاعَةٍ مِنْ مَشَايِخِنَا وَهُمْ إِذْ ذَاكَ مُتَوَافِرُوْنَ إِلَى زِيَارَةِ قَبْرِ عَلِي بْنِ مُوْسَى الرِّضَا بِطُوْس قَالَ: فَرَأَيْتُ مِنْ تَعْظِيْمِهِ يَعْنِي ابْنُ خُزَيْمَةَ لِتِلْكَ الْبُقْعَةِ وَتَوَاضُعِهِ لَهَا وَتَضَرُّعِهِ عِنْدَهَا مَا تَحَيَّرْنَا. رواه الحافظ في تهذيب التهذيب (7/339).

“Kami berangkat bersama pemuka ahli hadits, al-Imam Abu Bakar bin Khuzaimah dan rekannya al-Hafizh Abu Ali al-Tsaqafi beserta rombongan beberapa guru kami, yang begitu banyak, untuk berziarah ke makam Ali al-Ridha bin Musa al-Kazhim di Thus. Ia (Abu Bakar bin al-Mu’ammal) berkata: “Aku melihat ke-ta’zhim-an beliau (Ibn Khuzaimah) terhadap makam itu, serta sikap tawadhu’ terhadapnya dan doa beliau yang begitu khusyu’ di sisi makam itu, sampai membuat kami bingung”.
Pernyataan ini diriwayatkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani dalam Tahdzib al-Tahdzib (7/339).

6. Tiga Orang Hafizh; al-Thabarani, Abu al-Syaikh dan Abu Bakar Ibn al-Muqri’
Tiga orang hafizh dan muhaddits terkemuka pada masanya yaitu al-Hafizh Abu al-Qasim al-Thabarani (260-360 H/874-971 M) pengarang al-Mu’jam al-Kabir, al-Mu’jam al-Ausath, al-Mu’jam al-Shaghir dan lain-lain, al-Hafizh Abu al-Syaikh al-Ashbihani (274-369 H/897-979 M) pengarang Kitab al-Tsawab dan al-Hafizh Abu Bakar bin al-Muqri’ al-Ashbihani (273-381 H/896-991 M) melakukan tawassul dan istighatsah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kisah berikut:

قَالَ اْلإِمَامُ أَبُوْ بَكْرٍ بْنِ الْمُقْرِئِ: كُنْتُ أَنَا وَالطَّبَرَانِيُّ وَأَبُو الشَّيْخِ فِيْ حَرَمِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، وَكُنَّا عَلَى حَالَةٍ وَأَثَّرَ فِيْنَا الْجُوْعُ وَوَاصَلْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ، فَلَمَّا كَانَ وَقْتُ الْعِشَاءِ حَضَرْتُ قَبْرَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ الْجُوْعَ الْجُوْعَ، وَانْصَرَفْتُ. فَقَالَ لِيْ أَبُو الْقَاسِمِ: اِجْلِسْ إِمَّا أَنْ يَكُوْنَ الرِّزْقُ أَوْ الْمَوْتُ، قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ: فَنِمْتُ أَنَا وَأَبُو الشَّيْخِ وَالطَّبَرَانِيُّ جَالِسٌ يَنْظُرُ فِيْ شَيْءٍ فَحَضَرَ فِي الْبَابِ عَلَوِيٌّ فَدَقَّ فَفَتَحْنَا لَهُ فَإِذًا مَعَهُ غُلاَمَانِ مَعَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا زَنْبِيْلٌ فِيْ شَيْءٍ كَثِيْرٍ، فَجَلَسْنَا وَأَكَلْنَا، قَالَ الْعَلَوِيُّ: يَا قَوْمُ أَشَكَوْتُمْ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَإِنِّيْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي الْمَنَامِ فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَحْمِلَ بِشَيْءٍ إِلَيْكُمْ. رواه الحافظ ابن الجوزي في الوفا بأحوال المصطفى (ص/818)، والحافظ الذهبي في تذكرة الحفاظ (3/973) وتاريخ الإسلام (ص/2808).

“Al-Imam Abu Bakar bin al-Muqri’ berkata: “Saya berada di Madinah bersama al-Hafizh al-Thabarani dan al-Hafizh Abu al-Syaikh. Kami dalam kondisi prihatin dan sangat lapar, selama satu hari satu malam belum makan. Setelah waktu isya’ tiba, saya mendatangi makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu saya berkata: “Ya Rasulullah, kami lapar, kami lapar”. Dan saya segera pulang. Lalu al-Hafizh Abu al-Qasim al-Thabarani bertaka: “Duduklah, kita tunggu datangnya rezeki atau kematian”. Abu Bakar berkata: “Lalu aku dan Abu al-Syaikh tidur. Sedangkan al-Thabarani duduk sambil melihat sesuatu. Tiba-tiba datanglah laki-laki ‘Alawi (keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) dan mengetuk pintu. Kami membukakan pintu untuknya. Ternyata ia bersama dua orang budaknya yang masing-masing membawa keranjang penuh dengan makanan. Lalu kami duduk dan makan bersama. Lalu laki-laki ‘Alawi itu berkata; “Hai kaum, apakah kalian mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ? Aku bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyuruhku membawakan makanan untuk kalian”.

Kisah ini diriwayatkan oleh al-Hafizh Ibn al-Jauzi (508-597 H/1114-1201 M) dalam al-Wafa bi-Ahwal al-Mushthafa (hal. 818), al-Hafizh al-Dzahabi dalam Tadzkirat al-Huffazh (3/973), dalam Tarikh al-Islam (hal. 2808) dan disebutkan oleh Syaikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani dalam Hujjatullah ‘ala al-‘Alamin (hal. 805).

7. Ibrahim al-Harbi
Abu Ishaq Ibrahim bin Ishaq al-Harbi (198-285 H/813-898 M), seorang hafizh, faqih dan mujtahid, oleh para ulama disejajarkan dengan al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam ilmunya. Ia juga salah satu tokoh mazhab Hanbali pada masanya. Ia membolehkan ber-tabaruk dengan orang yang sudah meninggal. Hal ini dapat dilihat dengan memperhatikan perkataan beliau:

قَالَ إِبْرَاهِيْمُ الْحَرْبِيُّ: قَبْرُ مَعْرُوْفٍ يَعْنِي الْكَرَخِيَّ التِّرْيَاقُ الْمُجَرَّبُ. رواه الخطيب البغدادي في تاريخ بغداد (1/122)، والحافظ الذهبي في تاريخ الإسلام (ص/1494).

“Ibrahim al-Harbi berkata: “Makam Ma’ruf al-Karakhi adalah obat penawar yang mujarab (Maksudnya, datangilah makam Ma’ruf al-Karakhi, karena berdoa di sisinya banyak manfaatnya dan dikabulkan)”.

Perkataan Ibrahim al-Harbi ini diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (1/122), al-Hafizh al-Dzahabi dalam Tarikh al-Islam (hal. 1494) dan disebutkan di beberapa kitab fiqih Hanbali yang mu’tabar.

8. Al-Hafizh Abu Ali al-Naisaburi
Abu Ali al-Husain bin Ali bin Yazid al-Naisaburi (277-349 H/900-961 M), hafizh besar, pemimpin ahli hadits yang disepakati pada masanya. Beliau termasuk guru utama al-Imam al-Hakim pengarang al-Mustadrak. Beliau membolehkan ber-tabaruk dengan orang yang sudah meninggal. Hal ini dapat dilihat dengan memperhatikan riwayat berikut ini:

قَالَ الْحَاكِمُ: سَمِعْتُ الْحَافِظَ أَبَا عَلِيٍّ النَّيْسَابُوْرِيَّ يَقُوْلُ: كُنْتُ فِيْ غَمٍّ شَدِيْدٍ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فِي الْمَنَامَ كَأَنَّهُ يَقُوْلُ لِيْ: صِرْ إِلَى قَبْرِ يَحْيَى بْنِ يَحْيَى وَاسْتَغْفِرْ وَسَلْ تُقْضَ حَاجَتُكَ، فَأَصْبَحْتُ فَفَعَلْتُ ذَلكَ فَقُضِيَتْ حَاجَتِيْ. رواه الحافظ الذهبي في تاريخ الإسلام (ص/1756) والحافظ ابن حجر في تهذيب التهذيب (11/261).

“Al-Imam al-Hakim berkata: “Aku mendengar al-Hafizh Abu Ali al-Naisaburi berkata: “Suatu ketika aku dalam kesusahan yang mendalam. Lalu aku bermimpi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau berkata kepadaku: “Pergilah ke makam Yahya bin Yahya (142-226 H/759-840 M), bacalah istighfar dan berdoalah kepada Allah, nanti hajatmu akan dikabulkan”. Pagi harinya, aku lakukan hal itu, lalu hajatku segera terkabul.”

Pernyataan ini diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Dzahabi dalam Tarikh al-Islam (hal. 1756) dan al-Hafizh Ibn Hajar dalam Tahdzib al-Tahdzib (11/261).

Pernyataan ini menunjukkan bahwa ber-tabarruk dan ber-tawassul dengan orang yang sudah meninggal dibolehkan oleh al-Hafizh Abu Ali al-Naisaburi, al-Imam al-Hakim pengarang al-Mustadrak, al-Hafizh al-Dzahabi dan al-Hafizh Ibn Hajar.

9. Al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi
Al-Hafizh Abdul Ghani bin Abdul Wahid al-Maqdisi (541-600 H/1146-1204 M), seorang hafizh dan faqih dalam mazhab Hanbali. Karyanya yang berjudul ‘Umdat al-Ahkam menjadi kajian utama kalangan Wahhabi di Saudi Arabia. Ia membolehkan ber-tabarruk dengan orang yang sudah meninggal. Hal ini dapat dilihat dengan memperhatikan perkataan beliau berikut ini:

قَالَ اْلإِمَامُ الْحُجَّةُ ضِيَاءُ الدِّيْنِ الْمَقْدِسِيُّ رَحِمَهُ اللهُ: سَمِعْتُ الشَّيْخَ اْلإِمَامَ أَبَا مُحَمَّدٍ عَبْدَ الْغَنِيِّ بْنَ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْمَقْدِسِيَّ يَقُوْلُ: خَرَجَ فِيْ عَضُدِيْ شَيْءٌ يُشْبِهُ الدُّمَّلَ، وَكَانَ يَبْرَأُ ثُمَّ يَعُوْدُ، وَدَامَ ذَلِكَ زَمَنًا طَوِيْلاً، فَسَافَرْتُ إِلَى أَصْبِهَانَ، وَعُدْتُ إِلَى بَغْدَادَ وَهُوَ بِهَذِهِ الصِّفَةِ، فَمَضَيْتُ إِلَى قَبْرِ اْلإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ رضي الله عنه وَمَسَحْتُ بِهِ الْقَبْرَ فَبَرَأَ وَلَمْ يَعُدْ. (الإمام الحافظ الحجة ضياء الدين المقدسي في الحكايات المنثورة (3834).

“Al-Imam al-Hujjah Dhiyauddin al-Maqdisi berkata: “Aku mendengar al-Syaikh al-Imam Abu Muhammad Abdul Ghani bin Abdul Wahid al-Maqdisi berkata: “Lenganku terserang penyakit seperti bisul. Penyakit itu pernah sembuh tetapi kemudian kambuh lagi. Dan lama sekali tidak sembuh-sembuh. Kemudian aku pergi ke Ashbihan dan kembali ke Baghdad dalam keadaan belum sembuh. Lalu aku pergi ke makam al-Imam Ahmad bin Hanbal – radhiyallahu ‘anhu -, dan aku usapkan lenganku yang sakit itu ke makam beliau. Ternyata setelah itu sembuh dan tidak kambuh lagi”.

Pernyataan ini diriwayatkan oleh al-Hafizh Dhiyauddin al-Maqdisi dalam kitabnya al-Hikayat al-Mantsurah (3834).

10. Abu al-Khair al-Aqtha’
Al-Imam Abu al-Khair al-Aqtha’ al-Tinati (229-349 H/769-961 M), seorang ulama shufi terkemuka dan murid al-Imam Abu Abdillah bin al-Jalla’, melakukan, tabaruk tawassul dan istighatsah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

قَالَ أَبُو الْخَيْر اْلأَقْطَعُ: دَخَلْتُ مَدِيْنَةَ الرَّسُوْلِ صلى الله عليه وسلم وَأَنَا بِفَاقَةٍ فَأَقَمْتُ خَمْسَةَ أَيَّامٍ مَا ذُقْتُ ذَوْقًا فَتَقَدَّمْتُ إِلَى الْقَبْرِ فَسَلَّمْتُ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَقُلْتُ أَنَا ضَيْفُكَ اللَّيْلَةَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَتَنَحَّيْتُ فَنِمْتُ خَلْفَ الْمِنْبَرِ فَرَأَيْتُ فِي النَّوْمِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَقَبَّلْتُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ فَدَفَعَ إِلَيَّ رَغِيْفًا فَأَكَلْتُ نِصْفَهُ وَانْتَبَهْتُ وَإِذًا فِي يَدِيْ نِصْفُ رَغِيْفٍ، رواه الإمام الحافظ السلمي في طبقات الصوفية (ص/382) والحافظ ابن الجوزي في صفة الصفوة (4/284) والحافظ ابن عساكر في تاريخ دمشق (66/161)، والحافظ الذهبي في تاريخ الإسلام (2632)، والحافظ السخاوي في القول البديع (ص/160) والعارف الشعراني في الطبقات الكبرى (1/109).

“Abu al-Khair al-Aqtha’ berkata: “Saya mendatangi makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan sangat lapar. Lalu saya berkata: “Aku bertamu kepadamu wahai Rasulullah”. Lalu aku agak menjauh dan tidur di belakang mimbar. Dalam tidur aku bermimpi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku cium antara kedua mata beliau dan beliau memberiku sepotong roti. Lalu aku makan roti itu separuh. Lalu aku terbangun, dan ternyata di tanganku tersisa separuh roti itu”.

Kisah ini diriwayatkan oleh al-Imam al-Hafizh al-Sulami dalam Thabaqat al-Shufiyyah (hal. 382), al-Hafizh Ibn al-Jauzi dalam Shifat al-Shafawah (4/283), al-Hafizh Ibn ’Asakir dalam Tarikh Dimasyq (66/161), al-Hafizh al-Dzahabi dalam Tarikh al-Islam (hal. 2632), al-Hafizh al-Sakhawi dalam al-Qaul al-Badi’ (hal. 160), al-Sya’rani dalam al-Thabaqat al-Kubra (1/109) dan lain-lain.

Berdasarkan riwayat-riwayat di atas, dapat disimpulkan bahwa mengkeramatkan makam para kekasih Allah dalam arti bertabaruk dengan makam tersebut, seperti makam para nabi, para wali, orang shaleh dan para ulama telah disepakati, diamalkan dan dianjurkan oleh seluruh ulama salaf yang saleh, yang di antaranya adalah para imam mazhab empat; al-Imam Abu Hanifah, al-Imam Malik, al-Imam al-Syafi’i dan al-Imam Ahmad dan diikuti oleh para ulama ahli hadits dari kalangan huffazh seperti Ibn Khuzaimah, al-Thabarani, Abu al-Syaikh, Ibn al-Muqri’, al-Maqdisi, Ibrahim al-Harbi dan lain-lain. Dan masih terdapat ratusan riwayat lagi tentang mengkeramatkan makam para kekasih Allah dan diriwayatkan oleh para pakar hadits dan sejarah.

Bahkan al-Imam al-Lalaka’iy menegaskan, bahwa tanda-tanda ulama Ahlussunnah Wal-Jamaah, makam mereka keramat, senantiasa diziarahi orang. Al-Lalaka’iy berkata:

وَقُبُورُهُمْ مُزَارَةٌ،... يُزَارُونَ فِي قُبُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ أَحْيَاءٌ فِي بُيُوتِهِمْ، لِيَنْشُرَ اللهُ لَهُمْ بَعْدَ مَوْتِهِمُ الأَعْلَامَ حَتَّى لا تَنْدَرِسَ أَذْكَارُهُمْ عَلَى الأَعْوَامِ، وَلا تَبْلَى أَسَامِيهِمْ عَلَى مَرِّ الأَيَّامِ. فَرَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمْ وَرِضْوَانُهُ، وَجَمَعَنَا وَإِيَّاهُمْ فِي دَارِ السَّلامِ.

“Makam mereka selalu diziarahi. ... Mereka selalu diziarahi di makam mereka, seakan-akan mereka masih hidup, agar supaya Allah menyebarkan reputasi mereka setelah meninggal dunia, sehingga kenangan mereka tidak hilang dalam perjalanan tahun, nama mereka tidak rusak dalam perjalanan hari. Semoga Allah mengasihi dan meridhai mereka. Semoga Allah mengumpulkan kita bersama mereka di surga Darussalam.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, juz 1 hlm 26).

Semoga Allah memberikan hidayah kepada kami dan Anda sekalian, amin. Wallahu a’lam.