Showing posts with label tauhid. Show all posts
Showing posts with label tauhid. Show all posts

Thursday, February 1, 2024

Perbedaan Sifat Ma'ani dan Ma'nawiyah

Perbedaan Sifat Ma'ani dan Ma'nawiyah

Apa Bedanya Qudrah Dan Qadiran? Saya pernah bertanya seperti ini pada ustadz saya dulu sewaktu kecil. Beliau menjelaskan tetapi sepertinya beliau bingung juga membahasakannnya. Intinya pokoknya berbeda, begitu saja. Sampai sekarang, saya mendapati banyak pelajar, bahkan pengajar, ilmu kalam yang juga tidak tahu pasti bagaimana menjelaskan perbedaan antara keduanya dengan bahasa yang sederhana. Awal kebingungannya adalah karena keduanya sering diterjemah sama.

Qudrah = Maha Kuasa
Qadiran = Maha Kuasa

Lalu apa bedanya? Kebanyakan orang akan menyebutkan bahwa Qudrah adalah sifat makna sedangkan Qadiran adalah maknawi. Tapi apa bedanya? Penjelasannya panjang, mbulet dan memusingkan yang ujungnya juga tetap tidak jelas. Kalau anda pernah belajar ilmu kalam, mungkin akan membaca ini sambil mengangguk sebagai tanda mengalami kesulitan yang sama dalam memahami apa perbedaan sifat ma'ani dan ma'nawiyah.

Tapi yang ikut kelas saya dijamin paham dengan mudah sebab perbedaannya sebenarnya sederhana. Tinggal terjemahannya dibetulkan sebagai berikut:

Sifat Ma'ani:

Qudrah = Kemampuan sempurna
Iradah = Kehendak sempurna
Ilmu = Pengetahuan sempurna
Hayah = Kehidupan sempurna
Sama' = Pendengaran sempurna
Bashar = Penglihatan sempurna
Kalam = Komunikasi sempurna

Ma'nawiyah:

Qadir = Maha Mampu
Murid = Maha Berkehendak
Alim = Maha Mengetahui
Hayy = Maha Hidup
Sami' = Maha Mendengar
Bashir = Maha Melihat
Mutakallim = Maha Berkomunikasi

Sifat ma'ani di atas merupakan sifat asli dari Dzat Allah yang wujud dan dapat dilihat nanti di akhirat. Sedangkan sifat ma'nawiyah adalah sekedar status Allah yang menyandang sifat ma'ani tersebut. Karena hanya status, maka sifat ma'nawiyah ini bukan sesuatu yang dapat dilihat di akhirat tapi hanya berupa pemahaman dalam benak kita bahwa keduanya berhubungan.

Dengan kata lain begini contohnya:

Karena Allah punya sifat Qudrah (Kemampuan sempurna yang tidak terbatas), maka Allah menyandang status sebagai Qadiran (Yang Maha Mampu). Karena Allah mempunyai sifat sama' (pendengaran sempurna yang tiada batas dan tak bisa dibatasi), maka Allah menyandang status sebagai Sami' (Yang Maha Mendengar). Demikian bisa dikiaskan sendiri ke sifat yang lain. Mudah bukan?

Tuesday, January 24, 2023

Kapan Sayyidina Muhammad saw Menjadi Nabi?

Kapan Sayyidina Muhammad saw Menjadi Nabi?

Ada yang bilang bahwa Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi sejak awal sebelum usia 40 tahun, bahkan sebelum Adam tercipta. Itu tidak benar. Nabi Muhammad jelas baru menjadi Nabi setelah berusia 40 tahun, sebelum itu belum menjadi Nabi meskipun sudah ada berbagai kejadian luar biasa yang menunjukkan bahwa beliau spesial. Kejadian luar biasa tersebut istilahnya irhash, bukan mukjizat sebab istilah mukjizat hanya bagi mereka yang telah diangkat menjadi Nabi saja.

Hadis yang menceritakan bahwa beliau diangkat sebagai Nabi tatkala berusia 40 tahun cukup banyak. Di antaranya adalah:

عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ، قالَ: «بُعِثَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وهُوَ ابْنُ أرْبَعِينَ سَنَةً
"Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah diangkat menjadi Nabi tatkala berusia 40 tahun"

Sebenarnya dalil di atas sudah cukup, tapi sebagian orang betul-betul meyakini sebelum Itu Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi meskipun belum mendapat wahyu pertamanya. Mereka juga menguatkan pendapatnya dengan beberapa hadis. Untuk itu perlu saya kutip pernyataan beliau sendiri bahwa sebelumnya beliau tidak menjadi nabi agar masalah ini terurai. Perhatikan hadis berikut:

فإن الله اتخذني عبدًا قبل أن يتخذني نبيًا

"Sesungguhnya Allah telah menjadikanku seorang hamba sebelum menjadikanku seorang Nabi"

Artinya ada fase di mana beliau menjadi hamba biasa terlebih dahulu sebelum diangkat menjadi Nabi. Adapun hadis-hadis yang mengisyaratkan seolah Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi sebelum Nabi Adam, misalnya hadis berikut:

قلت: يا رسول اللَّه، متى كنت نبيًا؟ قال:»وآدم بين الروح والجسد
"Aku bertanya: Wahai Rasulullah, kapan engkau menjadi Nabi? Beliau menjawab: Ketika Adam masih antara ruh dan jasad (belum hidup)"

Maka maksud hadis itu adalah beliau sudah ditakdirkan menjadi nabi nantinya ketika beliau lahir ke dunia dan berusia 40 tahun. Pencatatan dalam buku takdir bahwa beliau nantinya akan diangkat menjadi Nabi ini dapat dipahami dari redaksi kedua hadis berikut:

وعَنْ أبِي هُرَيْرَةَ، قالَ: قالُوا: «يا رَسُولَ اللَّهِ! مَتى وجَبَتْ لَكَ النُّبُوَّةُ؟ قالَ: وآدَمُ بَيْنَ الرُّوحِ والجَسَدِ

Mereka berkata: "Wahai Rasulullah, kapan kenabian ditetapkan untukmu?" Rasul berkata : "Ketika Adam masih antara ruh dan jasad"

Ditetapkan di sini maksudnya ditetapkan dalam catatan takdir, bukan diangkat saat itu juga. Riwayat berikut memperjelas hal ini:

إنِّي عِنْدَ اللَّهِ مَكْتُوبٌ: خاتَمُ النَّبِيِّينَ، وإنَّ آدَمَ لِمُنْجَدِلٌ فِي طِينَتِهِ

"Aku sudah dicatat di sisi Allah sebagai Nabi terakhir, dan saat itu Adam masih dibentuk dalam tanahnya".

Dengan pemahaman ini maka semua hadis dalam pembahasan ini singkron dan tidak saling kontradiksi. Semoga bermanfaat.

*NB: Ada hadis-hadis lain yang seolah menekankan bahwa beliau sudah diangkat menjadi Nabi sejak awal tetapi sengaja tidak saya kutip karena lemah atau palsu.

Monday, September 10, 2018

IKHTIYATH KALIMAT TAUHID

IKHTIYATH KALIMAT TAUHID
Oleh: @ziatuwel

Mengapa kita jarang sekali temukan lambang-lambang bertorehkan kalimat tauhid di acara-acara lingkungan pesantren? Lihat saja saat ada pagelaran imtihan, haflah, haul, pawai ta'aruf, istighotsah, maulid akbar, atau sejenisnya. Jarang sekali kita lihat kalimat tauhid tercetak di bendera, spanduk, kaos, peci, koko, sorban, apalagi ikat kepala.

Mengapa? Bukankah kalimat tauhid itu luhur? Apakah kalangan pesantren kurang ghirah keislamannya? Apakah mereka tidak bangga dengan ketauhidannya? Atau jangan-jangan mereka tidak suka kalimat tauhid?

Sebelum Anda menerka yang tidak-tidak, ada satu hal yang musti dipahami. Justru para kiai dan santri itu mungkin lebih akrab dengan kalimat tauhid daripada kita yang setiap hari pakai ikat kepala bertoreh lafal tauhid. Selain dikumandangan lima kali sehari saat adzan, kalimat tauhid juga diwiridkan dan diendapkan di alam bawah sadar mereka secara berjamaah tiap usai sembahyang.

Afdhaludz-dzikri fa'lam annahu; laa ilaaha illallaah. Diwiridkan serempak oleh imam dan makmum, ada yang 40 kali, 70 kali, atau 100 kali, kemudian dipungkasi dengan; 'muhammadur-rasuulullaah'. Demikian lima kali sehari, belum lagi jika ada yang mengamalkan wirid tahlil tambahan.

Kalau demikian, mengapa jarang sekali terlihat simbol-simbol kalimat tauhid di gelaran-gelaran mereka?

Saya tidak berminat membahas gegeran simbol kalimat tauhid yang lagi ramai belakangan. Tidak pula hendak membahas penggunaan bendera tauhid sejak masa Rasulullah, para sahabat, hingga peran politisnya di masa kini. Ini hanya tulisan ringan yang sekedar menguak satu 'tradisi' kaum pesantren berkaitan dengan pelabelan kalimat tauhid. Yaitu tradisi ikhtiyath; kehati-hatian fikih.

Ikhtiyath bisa kita sebut sebagai tradisi moral kalangan santri dalam berfikih. Ikhtiyath inilah yang membuat mereka membuat kobokan kaki di luar tempat wudhu sebelum masuk masjid, memilih pakai mukenah terusan daripada potongan, pelafalan niat sebelum takbirotul ihrom, koor niat puasa setelah taraweh, memakai sandal khusus dari toilet ke tempat salat di rumah.

Apalagi dalam kaitannya dengan kalimat tauhid. Ada kehati-hatian fikih bagi kalangan santri agar tidak sembrono meletakkan kalimat suci tersebut di sembarang tempat. Bagi santri, kalimat tauhid adalah jimat dunia akhirat yang sangat luhur. Ia tidak boleh tercecer, tergeletak, terbuang, atau bertempat di lokasi kotor apalagi najis.

Jika ia dicetak di sandangan semisal kaos, baju, topi, atau bandana, dikuatirkan bisa bercampur najis ketika dicuci. Jika dicetak di spanduk-spanduk atau bendera temporer, dikuatirkan akan tercampakkan sewaktu-waktu. Kalau dicantumkan di lambang pesantren, akan menyulitkan saat membuat undangan, kartu syahriyah, baju almamater, dan lainnya. Apalagi jika dicetak di stiker-stiker. Di tempat-tempat tersebuy, kalimat tauhid bisa sangat rawan terabaikan.

Bagi kalangan pesantren, kalimat tauhid hanya boleh dicantumkan di tempat-tempat spesial yang sekiranya bisa terjaga kehormatannya. Semisal panji peperangan yang tentu akan dijaga kibarannya hidup atau mati. Sebagaimana kisah dramatis Sayyidina Ja'far at-Thayyar. Atau bendera kerajaan yang tentu akan dirawat dan dimuliakan, sebagaimana bisa kita lihat di kasunanan Cirebon.

Almarhum simbah Kiai Zainal Abidin termasuk sosok yang sangat ketat dalam hal ikhtiyath perkara tauhid. Beliau selalu tutup mata jika lewat Jalan Magelang yang di kiri kanannya penuh patung-patung 'makhluk bernyawa'. Beliau selalu berpaling kalau ada tanda palang salib, juga tidak berkenan dengan atribut-atribut semacam akik atau yang identik dengan perjimatan. Ngregeti iman, kata beliau. Kalimat tauhid tidak lagi berkibar di spanduk atau ikat kepala, melainkan sudah terpatri kuat di dalam sanubari beliau.

Kalimat tauhid, bagi Mbah Zainal, sama sucinya dengan mushaf Quran. Bahkan saya menyaksikan sendiri, dingklik (tatakan kayu) yang biasa digunakan untuk membaca Quran pun beliau muliakan. Pernah suatu kali hendak salat jamaah isya di bulan Ramadan, ada satu dingklik yang tergeletak di belakangku. Ketika beliau lewat, dingklik itu beliau pindah ke sampingku agar tidak kubelakangi.

Bahkan tulisan 'almunawwir' pun sangat beliau muliakan, sebagaimana dikisahkan oleh Kang Tahrir, santri ndalem Mbah Zainal. Memang lazim di Krapyak, kami membuat stiker kecil bertulis 'almunawwir community'. Fungsi stiker ini untuk menandai kendaraan santri sehingga mudah dikenali. Biasanya dipasang di spidometer, plat nomor, atau body sepeda motor.

Nah, menurut penuturan Kang Tahrir, Mbah Zainal tidak berkenan jika melihat ada nama 'almunawwir' kok dipasang di slebor, lebih rendah dari lutut, atau tempat-tempat lain yang kurang pantas. Biar bagaimanapun, 'almunawwir' adalah nama pesantren sekaligus nama pendirinya yang merupakan ulama besar ahli Quran Nusantara, simbah Kiai Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad.

Demikian hati-hatinya sikap beliau terhadap nama 'almunawwir'. Lebih-lebih terhadap ayat-ayat Quran, hadits Nabi, dan kalimat tauhid. Maka bagi teman-teman yang sedang hobi menunjukkan identitas keislaman dengan atribut berlabel kalimat tauhid, mohon dijaga dengan baik agar benda-benda tersebut tidak tercampakkan.

___
Kalibening, Salatiga, Jumat Kliwon 7 September 2018.

*Foto: almarhum Mbah Kiai Zainal Abidin bin Munawwir bersama Syaikh Muhammad Syarif as-Shawwaf dari Universitas Ahmad Kaftaro, Suriah. Kunjungan Syaikh Syarif di Krapyak ini pada tahun 2011, yang kemudian kutulis reportasenya untuk Majalah Almunawwir Pos edisi I. Dalam kesempatan ini beliau juga berpesan agar kami tetap menjaga kedamaian negeri, serta jangan mudah terhasut dengan apa yang saat itu sedang terjadi di Suriah.

Wednesday, November 22, 2017

SUKU PRIMITIF YANG TIDAK MENGENAL ISLAM, APAKAH DISIKSA DI AKHIRAT?

SUKU PRIMITIF YANG TIDAK MENGENAL ISLAM, APAKAH DISIKSA DI AKHIRAT?

Suku primitif dan mereka yang tinggal di pedalaman yang tak tersentuh dunia modern, jauh dari peradaban, hidup dengan adat istiadat dan sistem kepercayaan sendiri kemudian mati dalam keadaan demikian tanpa mengenal Islam maka status mereka disamakan dengan ahlul fatroh (أهل الفترة). Ahlul fatroh adalah manusia yang hidup tanpa pernah menerima dakwah Nabi/Rasul, terutama mereka yang hidup di masa antara Nabi Isa dengan dibangkitkannya Nabi Muhammad.

Ahlul fatroh dimaafkan seluruh perbuatan mereka di dunia, tidak dihisab, tidak dituntut, tidak diuji dan tidak disiksa berdasarkan keumuman dalam ayat berikut ini,

{وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا } [الإسراء: 15]
Artinya :

“Tidaklah Aku menyiksa sampai Ku utus seorang utusan” (Surah Al-Isro’; 15)

Ahlul fatroh tidak disiksa berdasarkan perbuatan mereka selama hidup di dunia. Mereka hidup bagaikan makhluk Allah yang tidak diberi taklif seperti burung-burung, kupu-kupu, dan merak. Mereka akan diuji di akhirat, dan lulus-tidaknya ujian itulah yang menentukan apakah kelak mereka masuk surga atau masuk neraka.

Dasar penjelasan ini adalah hadis berikut,

عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ سَرِيعٍ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ أَصَمُّ لَا يَسْمَعُ شَيْئًا وَرَجُلٌ أَحْمَقُ وَرَجُلٌ هَرَمٌ وَرَجُلٌ مَاتَ فِي فَتْرَةٍ فَأَمَّا الْأَصَمُّ فَيَقُولُ رَبِّ لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَسْمَعُ شَيْئًا وَأَمَّا الْأَحْمَقُ فَيَقُولُ رَبِّ لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَالصِّبْيَانُ يَحْذِفُونِي بِالْبَعْرِ وَأَمَّا الْهَرَمُ فَيَقُولُ رَبِّي لَقَدْ جَاءَ الْإِسْلَامُ وَمَا أَعْقِلُ شَيْئًا وَأَمَّا الَّذِي مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ فَيَقُولُ رَبِّ مَا أَتَانِي لَكَ رَسُولٌ فَيَأْخُذُ مَوَاثِيقَهُمْ لَيُطِيعُنَّهُ فَيُرْسِلُ إِلَيْهِمْ أَنْ ادْخُلُوا النَّارَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ دَخَلُوهَا لَكَانَتْ عَلَيْهِمْ بَرْدًا وَسَلَامًا

Artinya :

“Dari Al-Aswad bin Sari’ bahwasanya Nabiyullah ﷺ bersabda:

“Ada empat (jenis orang) di hari kiamat nanti: Orang tuli yang tidak mendengar apapun, orang idiot, orang pikun, dan orang yang mati di masa fatroh.

Orang tuli berkata, ‘Wahai Rabbku, telah datang Islam tapi aku tidak mendengar apapun tentang hal itu’.

Adapun orang idiot berkata, ‘Wahai Rabku, Islam telah datang sementara anak-anak melempariku dengan kotoran’.

Adapun orang pikun ia berkata, ‘Wahai Rabbku, telah datang Islam hanya aku tidak bisa memahami sama sekali’.

Adapun orang di masa fatroh berkata, ‘Wahai Rabku, tidak ada utusan-Mu yang mendatangiku’.

Lalu Allah mengambil perjanjian dengan mereka agar mereka benar-benar taat kepada-Nya. Lantas Allah mengutus malaikatnya untuk mengatakan ‘Masuklah kalian ke dalam neraka’.

Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalaulah mereka memasuki api tersebut, api itu akan menjadi dingin dan menyelamatkan mereka”. (H.R.Ahmad)

Dalam hadis di atas Rasulullah menceritakan ada empat golongan manusia yang akan membela diri di hadapan Allah pada saat dihisab. Mereka adalah ORANG TULI, ORANG PIKUN, ORANG IDIOT, dan AHLUL FATROH.

Orang tuli menolak dihukum karena tidak masuk Islam dengan alasan dia tidak bisa mendengar risalah Islam sehingga tidak bisa mengimaninya. Orang pikun mengaku tidak bisa memeluk Islam dengan alasan bahwa dakwah Islam sampai kepadanya pada saat akalnya sudah tidak berfungsi lagi. Orang idiot mengaku tidak bisa memeluk Islam karena saat hidup di dunia dalam keadan tolol, tidak bisa menimbang baik-buruk, bahkan dihinakan manusia, sampai-sampai anak-anak kecilpun melemparinya dengan kotoran. Ahlul fatroh mengatakan tidak bisa memeluk Islam karena tidak ada satu utusan Allahpun yang mendakwahkan Islam kepadanya.

Allah menerima semua alasan mereka kemudian membuat perjanjian dengan mereka saat itu juga agar menaati apapun yang diperintahkan Allah. Di titik ini Allah mulai menguji agar diketahui apakah nasib mereka ke surga atukah ke neraka. Mereka menerima dan siap. Kemudian Allah memerintahkan mereka untuk masuk neraka!

Perintah Allah untuk masuk neraka ini tentu saja mengejutkan mereka. Tetapi dari situ justru akan tampak siapa yang memang sifat dasarnya taat kepada Allah dan membangkang. Mereka yang memang tabiatnya taat segera saja melaksanakan perintah itu dan api nerakapun terasa dingin bagi mereka sebagaimana diberitahukan Rasulullah kepada kita. Adapun yang tidak mau melakukannya karena takut, maka Allah mencela mereka dan mengatakan kepada mereka yang kira-kira maknanya “Ini yang jelas-jelas perintahKu saja kalian membangkangnya, bagaimana jika kalian Ku kembalikan ke dunia kemudian mendapatkan perintah-Ku melalui utusan-Ku? Pasti kalian lebih hebat lagi dalam membantah dan membangkang pada para utusan-Ku”. Dengan cara itu, maka menjadi jelaslah siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka.

Hadis ini dishahihkan oleh Al-Baihaqi, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar Al-‘Asqolani dan Al-Albani. Syu’aib Al-Arnauth menghasankannya. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa riwayat ini bisa dijadikan hujjah karena memiliki sejumlah syawahid yang menguatkan satu sama lain.

Adanya ujian di akhirat untuk orang-orang tertentu ini adalah pemahaman Al-Baihaqi, Abu Al-Hasan Al-‘Asy’ari, Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dan Ibnu Baz.

Adapun pendapat yang menolak riwayat di atas dengan alasan bahwa akhirat itu Darul Jaza’ (negeri balasan) bukan Darul Imtihan (negeri ujian), maka jawabannya adalah sebagai berikut. Maksud akhirat sebagai Darul Jaza’ adalah pada saat mereka sudah dimasukkan ke surga dan ke neraka, bukan sebelumnya. Oleh karena itu, hal ini tidak bertentangan jika ada perintah dan taklif sebelum dimasukkan ke salah satu negeri balasan itu. Dalam Al-Qur’an sendiri ada ayat yang memerintahkan semua makhluk sujud di akhirat nanti, maka orang kafir dan munafik tidak bisa sujud sedangkan orang mukmin bisa sujud. Perintah sujud adalah taklif, jadi hal ini menunjukkan taklif sebelum dimasukkan surga atau neraka diakui dalam Al-Qur’an. Lagipula ada riwayat sahih tentang kisah lelaki yang terakhir keluar dari neraka dan membuat perjanjian dengan Allah tetapi dia melanggar perjanjian itu berkali-kali dan pada akhirnya dimasukkan Allah ke dalam surga. “Akhdzul mawatsiq” (mengambil janji) bermakna taklif.

Adapun alasan bahwa taklif disuruh terjun ke neraka itu tidak akan mampu dilakukan orang, maka ini juga tidak menghalangi kehujjahan hadis di atas karena Allah juga memerintahkan melewati Shiroth/Jisr (jembatan) di akhirat, padahal jembatan itu lebih tajam daripada pedang dan lebih kecil daripada sehelai rambut. Apalagi dalam hadis juga ada riwayat yang memerintahkan untuk meminum air sungai Dajjal yang tampak seperti api. Lagipula Allah memerintahkan Bani Israil untuk bunuh diri karena dosa menyembah anak sapi. Pendeknya, orang taat akan tetap taat selama yakin itu perintah Allah dan Rasul-Nya. Sementara para pembangkang yang memang tabiatnya membangkang akan melanggar perintah Allah seringan apapun perintah itu.

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam kitab Ahkam Ahli Adz-Dzimmah telah menghadirkan 19 argumentasi dalam kitabnya untuk membenarkan adanya ujian di akhirat itu.

Di antara ulama yang menolak hadis imtihan di atas dengan alasan riwayatnya lemah dan tidak sesuai dengan prinsip bahwa akhirat adalah Darul Jaza’ adalah Ibnu Abdil Barr sebagaimana dinukil Ibnu Katsir dalam tafsirnya dan Al-Itsyubi dalam kitab “Dzakhirotu Al-‘Uqba”. Di antara yang setuju dengan pendapat ini di kalangan kontemporer adalah Dr. Abdul Aziz bin Ahmad Al-Bijadi.

Hukum terhadap ahlul fatroh ini sama statusnya dengan orang-orang yang masuk usia taklif tapi risalah Islam tidak sampai pada mereka karena udzur-udzur syar’i seperti orang tuli (dan tidak ada yang mengajarinya tentang Islam), orang pikun, orang gila dan orang idiot. Wallahua’lam.

اللهم إنا نسألك العافية في الدنيا والآخرة

Versi Situs: http://irtaqi.net/2017/11/22/suku-primitif-yang-tidak-mengenal-islam-apakah-disiksa-di-akhirat/

***
Muafa
3 Robiul Awwal 1439 H