Showing posts with label yanbu'. Show all posts
Showing posts with label yanbu'. Show all posts

Tuesday, March 2, 2021

KH. Arwani Amin Kudus yang Jago Kitab

KH. Arwani Amin Kudus yang Jago Kitab

Selama ini jika mendengar nama KH. Arwani Amin Kudus, yang terlintas adalah ulama ahli Qiraat. Atau jika pendengarnya orang-orang sepuh, maka yg terfikir beliau mursyid thariqoh. Jarang sekali yang menilik sisi kealiman KH. Arwani Kudus dalam bidang kitab kuning.

Nah, catatan KH. Abu Chaer bin Abdul Mannan Kaliwungu Kendal ini memberikan sedikit gambaran ttg itu.

KH. Abu Chaer adalah ulama besar asal Kaliwungu Kendal. Masa mudanya beliau habiskan untuk nyantri ke berbagai daerah di Jawa. Mulai dari Kaliwungu daerah asal beliau sendiri, Tebuireng Jombang, hingga Tremas Pacitan. Guru-guru dan kitab-kitab yang beliau pelajari beliau rekam dalam sebuah kitab Minhah Al-Hannan fi Tarjamah Ibn Abdil Mannan (kitab ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Gus Syafiq Cokrow Zastrow Prawirow mohon fotokan cover kitabnya).

Dalam kitab ini, KH. Abu Chaer menjelaskan bahwa pertama kali mondok di Tebuireng Jombang adalah pada bulan Syawal 1345 H. Beliau diterima di kelas V Madrasah Salafiyyah Tebuireng. Saat itu salah satu guru yang mengajar beliau adalah KH. Arwani Amin Kudus.

KH. Abu Chaer mencatat:
الشيخ القارئ أرواني القدسي، يدرسنا متن ألفية ابن مالك، وزبد ابن رسلان، ومتن الكافي في العروض والقوافي لأحمد بن شعيب القنائي، وشيئا من عدة الفارض للشيخ سعيد بن سعد بن نبهان، وشيئا من الجغرافية الحديثة لأحمد محافظ

"(Di antara guru yang mengajar kala itu adalah) KH. Arwani Amin Kudus Al-Qari'. Beliau mengajari saya:
1. Matan Alfiyyah karya Imam Ibni Malik (fan Nahwu dan Shorof).
2. Nadham Zubad karya Imam Ibnu Rulsan (fan Fiqh madzhab Syafi'i).
3. Matan Al Kafi karya Syaikh Ahmad bin Syu'aib Al-Qanna'i (fan Arudl dan Qawafi).
4. Sebagian kitab 'Iddatul Faridl karya Syaikh Said bin Sa'd bin Nabhan (fan Ilmu Waris Islam).
5. Sebagian kitab Al-Jughrafiyyah Al-Haditsah karya Ahmad Muhfidh (fan Geografi Modern)."

Jika lihat kitab-kitab yang KH. Arwani Amin ajarkan saat masih di Tebuireng, kita dapat menyimpulkan bahwa beliau adalah Allamah yang Mutafannin. Tidak hanya pakar dalam ilmu qiraat dan thariqah saja, melainkan juga Nahwu & Shorof, Fiqh, Arudl, Faraidl, dan bahkan mengajarkan Ilmu Geografi Modern juga.

Tambahan informasi dari Yai Aslim Akmal , bahwa KH. Arwani Amin meneruskan wadhifah mengajar kitab Shohih Al-Bukhari dan Tafsir Al-Jalalain di Masjid Menara Kudus pasca kewafatan KHR. Asnawi Kudus pada tahun 1959 M. Wadhifah itu beliau jalankan hingga sebelum sakit berat yg beliau alami.

Semoga Allah menciptakan Mbah Arwani - Mbah Arwani baru dari anak cucu kita. Aamiin.

Sunday, January 26, 2020

CAHAYA KEBERKAHAN MBAH ARWANI DI PULAU DEWATA

oleh:Nuruddin Udien Hidayat

CAHAYA KEBERKAHAN MBAH ARWANI DI PULAU DEWATA
Di tengah hingar-bingar Bali dengan berbagai pesonanya. Terdapat pondok pesantren tahfidz yang sudah lama berdiri. Bahkan perkembangannya semakin pesat, bermula dari langgar, sepetak kamar asrama dan sekarang memiliki lembaga pendidikan berbasis pondok mulai Paud hingga Perguruan Tinggi.
Kami Bersama rombongan ziarah Bali MA TBS berkesempatan sowan ke pondok tersebut.
Pendiri sekaligus pengasuhnya adalah KH. Noor Hadi. Beliau lama nyantri sekaligus menjadi abdi ndalem Mbah Arwani Kudus.
"saya mondok di kudus mulai 1966, sangking lamanya sampai yai lupa,kalau saya itu santri", ungkap beliau.
Suatu hari beliau didawuhi sama Mbah Arwani:, "Nur, Aku duwe omah Apik, Yo pondok iku. Njalukko sanad neng pengurus terus pamit. Saiki Gawehho omah dewe yo, tapi neng Bali. Iki kanggo sangu, engko bakal dicukupi pengeran. Pondokmu tak jenengno Roudlotul Huffadz, lirkadiyo wangine koyok Roudlotul Jannah",
Sambil matanya berkaca-kaca beliau melanjutnya ceritanya.
Akhirnya KH Nur Hadi memutuskan merantau ke daerah Tabanan Bali.
Alangkahnya kagetnya beliau, ternyata di Bali untuk membuat mushola 3x3 meter saja, harus meminta ijin gubernur dan harus disertai 100 tanda tanga warga sekitar, itupun kalau tidak menyalahi aturan adat.
Belum lagi harga tanahnya yang selangit. Yakni 10 meter saja mencapai 2 Milyar. Apalagi untuk membangun Masjid dan Pondok.
"kulo namung saget nangis lan wadul kalih mbah Arwani, nanging boten wantun matur langsung, jadi namung lewat do'a bakdo qiyam lail", tangkasnya.
Tapi anehnya, keesokkan harinya ada orang datang, mengaku utusan dari Kudus dan menawarkan sejumlah uang yang sama persis jumlahnya untuk beli tanah itu.
"Masyallah dibayar lunas kalih Mbah Arwani, padahal saya tidak berani matur langsung". Imbuh beliau.
Sampai sekarang, jika beliau mendapati kesulitan apapun selalu mengadu pada Mbah Arwani.
"Kulo yakin mbh arwani teseh gesang, teseh saget rawuh. Kulo boten nate melanggar perintah guru, selami hidup, nopo malih nku mbh arwani". Tambahnya.
Suatu ketika KH Nur Hadi mencoba mencari tambahan penghasilan dengan berjualan di pasar bersama isteri. Padahal semasa hidup Mbah Arwani berpesan, "Le...mbesuk ojo dodolan neng pasar".
Akhirnya sepulang dari pasar, semua orang yang dilihat beliau sepanjang jalan ternyata sangat mirip dengan wajah Mbh Arwani.
"Menawi kulo diemotke", katanya.
"Kulo nate boten pecinan, tindakan ke suatu acara. Seketika Mbah Arwani Rawuh, Le,,, nek sirahe rak dipecini ngalamat qur'ane ilang".
Akhirnya kemanapun beliau pergi pasti pecinan, sampai bertemu presiden sekalipun.
"Kulo sampun ketemu kalih sedanten presiden mulai pak Harto sampai pak Jokowi. Cuma satu presiden yang menolak saya temui, yaitu gus dur".
Saat saya kesana malah gus dur marah, "lapo kuwe rene Nur, ngurusi pondokmu ae... Negoro tak urusane aku.. "
Spontan KH Nur pun berbalik tanya, "lho kok jenengan perso nek kulo gus, padahal kulo dereng matur Nopo2.,,, "yo ambune wes ketoro nek kuwe Nur, wes muliho wiridan neng pondokmu dewe".... Kata beliau mencerikan gus dur.
Salain itu, beliau juga sempat dikucilkan oleh pemerintah setempat. Gara-gara melarang santri untuk mengikuti MTQ.
"kulo kedah nderek wasiat dawuhnya guru kulo Mbh Arwani, daripda boten didaku satrine dunia akhirat", imbuh Rois Syuriah PWNU provinsi Bali itu.
Tantangan di Bali juga dalam hal sihir ataupun santet.
"Dalam mimpi kulo, mbh Arwani nyapu teng ngajeng Pondok, tapi yang dibersihkan ada paku, beling dan batu yang tajam. Tak resik ane Le..... Ojo lali ambi dongane.... " tambah beliau.
"Kulo ngestoaken dawuh yai. Sampek sakniki Kulo nek bten nderes langsung dipun dangu mbh arwani.. Le, nderes. ...."
Sekarang masjid di Tabanan merupakan salah satu masjid yang diperbolehkan adzan dengan mikrofon. Pondok yang mempunyai madrasah sampai univertas. Semula hanya 10 anggota keluarga, namung sekarang kawasannya ramai dan mayoritas muslim."sedanten niku barokahnya mbh Arwani, kulo sambatnya ke beliau walau pun sedo, Kulo ngrasa jahil, tp yai ingkang dawuhi kulo lampahi".
Selain itu, ternyata yang mengawali adanya ziarah wali 7 di Bali adalah KH Nur Hadi.
"Daripda datang ke Bali hanya untuk berlibur, kulo berusaha mengimbangi dg hal positif. Kulo mengumpulkan 7 makam orang sholih, kersane di ziarohi. Tapi kulo boten ngarani niku wali. Soale ingkang ngertos wali kan wali pyambak, lha kulo boten wali ngeh boten ngertos... Tapi sakniki saget syiar" tambah pengasuh pondok tersebut.
"Estu le, nderekke gurumu. Boten usah mamang, pengeran bakal nyukupi, nulung..." tutup beliau.
Foto: KH Nur Hadi ketika menyampaikan mauidhoh, didampingi KH Hasan Fauzi.

Tuesday, July 9, 2019

WIRID KH. ARWANI AMIN KUDUS AGAR PUNYA ANAK-ANAK SHALIH-SHOLIHAH

WIRID KH. ARWANI AMIN KUDUS AGAR PUNYA ANAK-ANAK SHALIH-SHOLIHAH

Kiai Arwani merupakan ulama masyhur di Indonesia, terlebih di Pulau Jawa. Murid dari Kiai Muhammad Munawir, Krapyak, Yogyakarta ini juga dikenal sebagai kiai ngabéhi yang berasal dari bahasa Jawa kabeh. Kabeh artinya semua. Jadi ngabéhi mempunyai arti menyeluruh/menguasai. Maksudnya keilmuan Kiai Arwani adalah menyeluruh, menguasai berbagai macam bidang keilmuan.

Tidak hanya alim di bidang qira'ah sab'ah, yang terkenal atas terbitan karyanya kitab Faidlul Barakât fî Sab'il Qirâ'at yang aplikatif dan mudah dicerna untuk orang yang belajar mendalami Al-Qur'an melalui tujuh imam qira'at, Kiai Arwani juga cakap di bidang keilmuan-keilmuan lain seperti nahwu, sharaf, balaghah, fiqih, ilmu falak, dan lain sebagainya.

Selain berbalut kepribadian akhlak luhur serta keluasan ilmu yang dia miliki, pendiri Pesantren Yanbu'ul Qur'an ini juga diberi anugrah oleh Allah subhanahu wa ta'ala berupa keluarga bahagia, semuanya ahli Qur'an.

Tercatat, Kiai Arwani bésanan kepada dua ulama alim, ahli Qur'an, KH. Abdullah Salam, Kajen, Pati dan KH Sya'roni Ahmadi, Kudus yang masing-masing putri yang dipersunting hafal Al-Qur'an serta berkepribadian baik.

Kedua putra Kiai Arwani sendiri, yakni KH Ulin Nuha dan KH Ulil Albab selain alim juga ahli Qur'an. Mereka hafal Al-Qur'an hingga masing-masing tuntas mengaji secara tatap muka (musyafahah) dengan tujuh macam bacaan imam (Qira'at Sab'ah) kepada ayahandanya sendiri.

Merasa penasaran atas apa amalan yang dilakukan oleh Kiai Arwani Amin sehingga mempunyai putra-putra yang taat sejak kecil, tidak bertindak macam-macam, dan alim di bidang agama tersebut, suatu ketika KH Ma'ruf Irsyad asal Kudus mencoba bertanya kepada Kiai Arwani.

"Mohon maaf, Mbah. Ada amalan apa yang panjengan lakukan sehingga anda diberikan Allah putra-putra yang nurut, ahli Qur'an, baik akhlaknya," begitu kira-kira kata Kiai Ma'ruf saat bertanya.

Kemudian Kiai Arwani menjawab bahwa membaca:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Rabbanâ hab lanâ min azwâjinâ wa dzurriyâtinâ qurrata a'yunin waj'alnâ lilmuttaqîna imâmâ.

Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami, dan keturunan-keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS  al-Furqan: 74)

Kata Kiai Arwani Amin, ayat tersebut dibaca tiga kali setiap usai shalat.

Catatan:
(Kisah di atas disarikan dari keterangan KH M. Shofi Al Mubarok Baedlowie, Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Grobogan, Jawa Tengah)

Thursday, November 8, 2018

Nirakati anak

pada suatu kesempatan Sowan ke Kyai Ulil Albab Arwani Kudus

"Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya jadi anak yang Sholeh, pinter, berbakti & hal2 baik lainnya"

beliau membuka obrolan Jum'at pagi itu
kami kebanyakan wali santri yang sowan pada waktu itu cuman bisa mengangguk dan tersenyum

lalu beliau melanjutkan dengan memberikan ijazah untuk diamalkan :

1. diusahakan setiap hari minimal satu kali setelah salat, anak2 dihadiahi Fatihah dengan tata cara "Ila Ruhi wal Jasadi .....(nama-anak).... Al-Fatihah.. 7x
syukur alhamdulilah bisa setiap habis salat

2. disaat waktu sambangan atau jadwal nengok anak di pondok, sediakan air putih yang dibacakan
Bismillahirrahmanirrahim 786 x
Al-Fatihah 70 x
lalu diminumkan ke anaknya

Insyaallah
semoga Allah SWT mengijabahi Do'a kita

itulah oleh2 sowannya
semoga bermanfaat

Saturday, February 4, 2017

Simbah KH R Arwani Amin Qudus

Simbah KH R Arwani Amin Qudus

Nama asli beliau sebenarnya Arwan. Tambahan “I” di belakang namanya menjadi “Arwani” itu baru dipergunakan sejak kepulangannya dari Haji yang pertama pada 1927. Sementara Amin bukanlah nama gelar yang berarti “orang yang bisa dipercaya”. Tetapi nama depan Ayahnya; Amin Sa’id.

KH. Arwani Amin adalah putera kedua dari 12 bersaudara. Saudara-saudara beliau secara berurutan adalah Muzainah, Arwani Amin, Farkhan, Sholikhah, H. Abdul Muqsith, Khafidz, Ahmad Da’in, Ahmad Malikh, I’anah, Ni’mah, Muflikhah dan Ulya.

Dari sekian saudara Mbah Arwani (demikian panggilan akrab KH. M. Arwani Amin), yang dikenal sama-sama menekuni al-Qur’an adalah Farkhan dan Ahmad Da’in. Ahmad Da’in, adiknya Mbah Arwani ini bahkan terkenal jenius. Karena beliau sudah hafal al-Qur’an terlebih dahulu daripada Mbah Arwani. Yakni pada umur 9 tahun. Ia bahkan hafal Hadits Bukhori Muslim dan menguasai Bahasa Arab dan Inggris. Kecerdasan dan kejeniusan Da’in inilah yang menggugah Mbah Arwani dan adiknya Farkhan, terpacu lebih tekun belajar.

Konon, menurut KH. Sya’roni Ahmadi, kelebihan Mbah Arwani dan saudara-saudaranya adalah berkat orangtuanya yang senang membaca al-Qur’an. Di mana orangtuanya selalu menghatamkan membaca al-Qur’an meski tidak hafal. Selain barokah, orang tuanya yang cinta kepada al-Qur’an, KH. Arwani Amin sendiri adalah sosok yang sangat haus akan ilmu. Ini dibuktikan dengan perjalanan panjang beliau berkelana ke berbagai daerah untuk mondok, berguru pada ulama-ulama.

Tak kurang, 39 tahun beliau habiskan untuk berkelana mencari ilmu. Diantara pondok pesantren yang pernah disinggahinya menuntut ilmu adalaj pondok Jamsaren (Solo) yang diasuh oleh Kyai Idris, Pondok Tebu Ireng yang diasuh oleh KH. Hasyim Asy’ari dan Pondok Munawir (Krapak) yang diasuh oleh Kyai Munawir.

Selama menjadi santri, Mbah Arwani selalu disenangi para Kyai dan teman-temannya karena kecerdasan dan kesopanannya. Bahkan, karena kesopanan dan kecerdasannya itu, KH. Hasyim Asy’ari sempat menawarinya akan dijadikan menantu.

Namun, Mbah Arwani memohon izin kepada KH. Hasyim Asy’ari bermusyawarah dengan orang tuanya. Dan dengan sangat menyesal, orang tuanya tidak bisa menerima tawaran KH. Hasyim Asy’ari, karena kakek Mbah Arwani (KH. Haramain) pernah berpesan agar ayahnya berbesanan dengan orang di sekitar Kudus saja.

Akhirnya, Mbah Arwani menikah dengan Ibu Nyai Naqiyul Khud pada 1935. Bu Naqi adalah puteri dari KH. Abdullah Sajad, yang sebenarnya masih ada hubungan keluarga dengan Mbah Arwani sendiri. Dari pernikahannya dengan Bu Naqi ini, Mbah Arwani diberi empat keturunan. Namun yang masih sampai sekarang tinggal dua, yaitu KH. M. Ulinnuha dan KH. M. Ulil Albab, yang meneruskan perjuangan Mbah Arwani mengasuh pondok Yanbu’ sampai sekarang.

Demikian besar jasa Mbah Arwani terhadap Ummat Islam di Indonesia terutama masyarakat Kudus, dengan kiprahnya mendirikan pondok yang namanya dikenal luas hingga sekarang.

Banyak Kyai telah lahir dari pondok yang dirintisnya tersebut. KH. Sya’roni Ahmadi, KH. Hisyam, KH. Abdullah Salam (Kajen), KH. Muhammad Manshur, KH. Muharror Ali (Blora), KH. Al Habib Najib Bin Abdul Qodir (Jogja), KH. Nawawi (Bantul), KH. Marwan (Mranggen), KH. Ahmad Hafidz (Mojokerto), KH. Abdullah Umar (Semarang), KH. Hasan Mangli (Magelang), adalah sedikit nama dari ribuan Kyai yang pernah belajar di pondok beliau.
Lahumul fatikhah