Showing posts with label adat. Show all posts
Showing posts with label adat. Show all posts

Tuesday, September 11, 2018

PERNIKAHAN

PERNIKAHAN

bukan ingin menulis tentang hukum nikah atau hikmahnya, karena saya tak ingin terjebak dalam tanya jawab masalah perjodohan yang akhirnya melukai para jomblo. Disini saya lebih ingin menulis tentang bagaimana bapak menyikapi masalah perjodohan ataupun pernikahan.

Kebetulan hari ini(senin,10 september) adalah hari terakhir bulan besar, bulan dimana undangan nikahan berjajar. Memasuki tahun baru islam, sekaligus memasuki bulan muharram, bulan dimana orang jawa melarang melakukan pernikahan menurut tradisinya.

Tolong, jangan tanyakan hukum dalam islam menikah dibulan syuro pada saya. Sebagaimana jangan tanyakan hukumnya makan bakso berkuah es campur. Hehehe saya tak ahli dalil apalagi bahtsul masail.

Meskipun bapak setiap hari ngaji kitab kuning, tapi bapak juga sangat menghormati budaya jawa yang dipesankan oleh orang tua. Seperti weton dan bulan jawa. Bukan masalah harinya, tapi ada ilmu kebijaksanaan orang tua didalamnya(ilmu titen).

Meskipun toh sebenarnya, disetiap hal bapak selalu mendahulukan istikhoroh(meminta petunjuk yang terbaik) pada Tuhan.

Ada satu pesan yang saya selalu ingat dari bapak tentang istikhoroh: " lek arep njalok disitikhorohne, sakdurunge kudu noto ati. Apik elek e hasil kudu ditompo lan dilakoni(ketika akan meminta diistikhorohkan, sebelumnya harus menata hati. Bagus jeleknya hasil harus diterima dan dijalani).

Pesan ini, akan sangat berpotensi bentrok pada calon pasangan yang sudah suka sama suka. Maka, untuk yang satu ini, bapak biasanya pesan: "lek wes seneng yo ra usah njalok istikhoroh. Langsung ae dinikah(kalau sudah suka ya gak usah minta istikhoroh. Langsung saja dinikah).

Ketika sudah menikah, bapak seringkali berpesan pada manten anyar: "biasanya, para orang tua ingin anaknya bertempat tinggal dirumah atau minimal dekat dengan orang tua. Tapi saya anjurkan pada pengantin anyar untuk meminta pada ALLAH agar ditempatkan dimanapun selama membawa keberkahan dan kebaikan dunia akhirat. Bagaimana caranya? Yaitu dengan istiqomah membaca:

رب انزلني منزلا مباركا وانت خيرالمنزلين

Dibaca 11kali setiap bakda sholat fardlu. Tetapi, Saya sendiri(bapak) dulu mengamalkan doa ini selama 11 tahun ketika dipondok, setiap hari sebanyak 1000 kali." (Sampai sekarang bapak masih mewiridkan doa ini setiap bakda sholat fardlu sebelas kali).

Memang, dalam setiap wiridan bapak selalu all out. Beliau tak berhitung. Selalu mencurahkan segenap kemampuan untuk wiridan. Tak banyak tapi sungguh.

Maka, bila kita juga ingin ditempatkan pada kelas vip. Maka wiridannya juga jangan yang ekonomi(sedikit). Hehehe

Namun wiridan ini satu hal, dan berikhtiar dengan usaha badan hal lainnya. Maka disamping wiridan doa ini, bapak menganjurkan para pengantin baru untuk tetap menggerakkan tangan(berUSAHA). Sesuai dengan dawuh nabi dalam hadis qudsi:
يا عبدي حرك يدك ارزق عليك

(Wahai hambaku, gerakkan tanganmu maka akan saya berikan rezeki kepadamu)

Hanya perlu diingat, dalam berusaha pun harus disertai ilmu USAHA.

من اراد الدنيا فعليه بالعلم
(Barang siapa yang menginginkan hasil pada dunia, maka dia harus menguasai ilmunya dunia)

Demikian ringkasan pesan yang biasanya disampaikan oleh bapak disetiap resepsi pernikahan. Bapak memang selalu singkat dalam mauidloh ataupun berdoa. Kata beliau: seng paling penting isine jelas tur pas(yang paling penting adalah isinya jelas dan pas).

#salamKWAGEAN

Monday, September 18, 2017

BAHAYA SABUNISASI DI PAPUA

Saat pertama ke rimba, Oktober 1999, aku datang dengan romantisme petualangan sebagai anggota kelompok pecinta alam di kampus. Membayangkan hutan rimba yang indah dan orang-orang yang hidup harmonis di tengah alam. Kenyataan sesungguhnya ternyata berbeda dari yang aku bayangkan, meskipun juga tidak buruk. Hanya berbeda.

Dan ini sempat mengundang komentar-komentar pongah menari-nari di kepalaku yang mengaku antropolog ini, “Ih, kok mau tinggal di hutan,” atau “Hutan kok banyak lalat,” lalu “Kok nggak pakai baju … kok nggak malu, sih.”

Untunglah aku tinggal beberapa minggu di sana, lalu beberapa bulan hingga akhirnya beberapa tahun. Semakin hari, semakin aku merasa bodoh, semakin aku melihat apa yang mereka lakukan sangat masuk akal.

Di bulan pertamaku di rimba, aku sudah meralat semua sebutan itu. Menuduh telanjang, karena cuma pakai cawat, misalnya. Sementara aku yang merasa keren dengan celana cargo penuh kantong harus menanggung susah karenanya. Saat menyusur sungai yang airnya cukup tinggi, kantong-kantong celanaku itu dipenuhi air dan lumpur sehingga memberatkan perjalananku kemudian. Saat menghindari kejaran beruang, aku berlari dan memanjat pohon dengan susah payah, pakaianku tersangkut pula di duri semak.

Pada akhirnya aku harus mengakui bahwa cawat itu teknologi yang sudah teruji beratus tahun fungsi dan bahkan estetikanya menurut kaidah nilai lokal. Satu pelajaran yang aku dapat, seharusnya di awal kedatangan, aku bertanya-tanya dahulu, “Kenapa orang di sini pakai cawat?” dan kemudian bisa sibuk mencari jawabnya, bukannya langsung bilang, “Pakai cawat sama saja telanjang, primitif amat!

Itu baru soal pakaian. Hari-hari selanjutnya adalah tamparan demi tamparan yang meruntuhkan persepsi awalku.

Mundur ke tahun 1993, perkenalan pertamaku dengan bumi Papua yang kemudian menjadi pelajaran penting dalam hidupku bersama masyarakat adat. Saat itu aku ditampar oleh perjalanan sombong melakukan pendakian ke Jayawijaya. Perjalanan mendaki Puncak Trikora melalui Wamena, ditempuh selama sembilan hari perjalanan yang penuh debar.

Pengalaman paling mencekam justru saat aku melihat dengan mataku sendiri bagaimana sepasang kekasih berlari ketakutan tanpa sempat membawa perbekalan. Saat itu hari sudah mulai senja dan kabut sudah memenuhi pandangan. Beberapa jam kemudian, di belakangnya, segerombolan orang mengejar, lengkap dengan berbagai senjata, panah, tombak, parang. Mereka sempat bercakap-cakap dengan guide dan porter kami, terlihat sekali penuh kemarahan. Setelah mereka pergi, baru ceritanya dijelaskan padaku. Konon perempuan tadi adalah salah satu istri kepala suku yang kabur bersama kekasihnya.

Aku tertegun panjang, berpikir mengapa begini, mengapa begitu? Aku yang saat itu baru mahasiswa semester empat di jurusan antropologi, berusaha keras memahami tradisi suatu komunitas—dalam hal ini membunuh perempuan dan kekasih gelapnya.

Papua, yang alam dan manusianya kuimpikan sejak kecil memang datang memberiku pengalaman dahsyat. Aku tidak tahu apa yang kemudian terjadi kepada pasangan tersebut.

Sepanjang malam aku membayangkan perasaan mereka dan memikirkan cerita orang tentang angka bunuh diri perempuan yang tinggi di kawasan Jayawijaya. Sempat aku menyeberangi jembatan akar, di bawahnya sungai berarus ganas penuh bebatuan terjal.

Pemanduku bilang, sungai itu sering menjadi tujuan bunuh diri para perempuan.

***

Mari kembali ke soal cara pandang: Saat kita datang ke suatu tempat kemudian di detik pertama kita langsung menerjemahkan pengalaman kasat mata dengan bergumam “kasihan”, “liar”, “miskin”, “bodoh”, “kotor”, “telanjang”, dan sebagainya, sebenarnya kita sedang melakukan kejahatan karena seolah kita berkata pada mereka bahwa diri kita “lebih bahagia”, “beradab”, “kaya”, “pintar”, “bersih”, dan “sopan”. Berlaku juga ketika kita datang dengan niat untuk membantu.

Setulus apapun bantuan kita, tapi pikiran-pikiran seperti itu berbahaya jika kita belum tahu betul situasi sebenarnya di lapangan. Pikiran kita akan mewarnai bantuan atau program yang akan diberikan. Jika sebuah program atau bantuan didasarkan pada persepsi sepihak, yang terjadi adalah penaklukan karena kita memaksakan kepada mereka untuk memakai ukuran-ukuran kita. Hati-hati, niat baik saja tidak cukup!

Di Jambi, aku melihat bagaimana rumah-rumah bantuan untuk Orang Rimba ditinggalkan. Bahkan atapnya dijual dan dinding kayunya dijadikan kayu bakar. Proyek itu, selain memberi sepetak rumah, juga sepetak kebun, jatah makan dan uang selama satu-dua tahun pertama.

Mengapa proyek-proyek perumahan beserta paket-paketnya ini sering gagal? Ya karena si pembawa program sudah gagal memahami sejak awal.

Tragisnya, setelah gagal, yang sering disalahkan adalah komunitas. Mereka menganggap komunitas itu boros, malas, tidak bisa menabung. Padahal, kalau mereka tidak sok tahu dan lebih banyak bertanya, mereka akan memahami bahwa kepercayaan terhadap dewa yang diyakini memberi rejeki berbeda setiap hari dan keyakinan bahwa jika mereka selalu merawat alam maka alam akan selalu memanjakan mereka, menumbuhkan segala sesuatu yang bisa dimakan dan mengantarkan binatang buruan ke hadapan mereka, maka seharusnya sangat mudah dimengerti: cara hidup subsistenlah yang terjadi.

Mereka merasa tidak harus mengolah tanah, tidak harus menabung, karena apa yang didapat hari ini adalah untuk hari ini. Rezeki esok akan diberikan besok. Jadi tidak akan mengambil melebihi kebutuhannya. Kebiasaan ini sering dipandang merugikan oleh orang kota, padahal kalau dilihat dalam konteks lokal, itu adalah kekuatan besar yang memastikan alam mereka senantiasa terjaga selama ini.

Aku ingat, Pastor dan antropolog Vins yang sudah melayani selama lebih dari 40 tahun di distrik Sawaerma, Asmat, bercerita, “Secara empirik, arti kata “miskin” (dan kaya) sendiri baru dikenal orang Asmat saat pertemuannya dengan dunia luar.” Menurut beliau, orang di sana dulu tak pernah menggunakan kata itu. Ya, semua orang keadaannya sama, dan tak ada dunia luar yang datang mencecar dengan pembandingan skala metropolitan. Sekarang mereka sering menyebut kata itu, lebih sering digunakan untuk menyebut diri mereka sendiri miskin, sifatnya politis untuk menggambarkan ketidakberdayaan secara material.

Begitu banyak bantuan dana dan program selalu dikait-kaitkan dengan kata ini. “Bantuan datang sebabnya adalah karena kita miskin,” begitu kata mereka.

Kata “kaya” maupun “miskin” adalah label baru yang kita bawa saat mendatangi komunitas yang berbeda. Seolah-olah kita datang dengan membawa stempel “miskin” yang disematkan di jidat masing-masing orang di sana hanya karena kekayaan alam dan budaya setempat, menurut manusia kota pada umumnya tidak termasuk dalam kategori kekayaan—bisa jadi karena kita yang di kota tidak memiliki kedua hal berharga itu.

GDP hanya menghitung pendapatan finansial per kepala dalam satu tahun saja, tidak pernah dikurangi atau sekadar dikaitkan dengan berapa keanekaragaman hayati baik tumbuhan maupun hewan yang berkurang setiap tahun, bahasa lokal yang hilang, serta kekayaan budaya lain seperti tari-tarian, benda seni dan pusaka, pengetahuan obat-obatan tradisional, mantra, atau cerita rakyat yang berkurang. Modal sosial (social capital)komunitas tidak pernah dihitung dan divalidasi nilainya. Padahal jumlahnya sangat banyak dan istimewa sehingga tidak bisa dibandingkan dengan nilai uang. Buat apa GDP naik 100% kalau semua hal diatas, yang adalah modal besar, hilang semua?

Secara garis besar, aku melihat dua macam proses “pemiskinan” terjadi di Papua. Keduanya sama-sama mengingkari HAM dalam hal ini masyarakat adat di sana. Pertama adalah pemiskinan sumber daya alam di Papua. Ini sudah lagu lama dan kita semua tahu, kuncinya adalah hukum, peraturan yang seharusnya berpihak kepada masyarakat dan pemerintahan yang bersih.

Apa daya, itu di luar kuasa kita rakyat jelata.

Nah, yang kebanyakan belum orang sadari adalah yang kedua, yaitu pemiskinan dalam konteks kultural. Ini tak terlihat bercela karena kebanyakan datang lewat proyek “mulia” berupa bantuan atau proyek-proyek “pembangunan” yang tidak sensitif terhadap budaya setempat. Pemiskinan jenis kedua ini bisa berakibat lebih fatal karena kerugiannya tak ternilai dan irreversible (kondisinya tak bisa dikembalikan lagi seperti semula). Potensi pembawanya ada dalam berbagai program yang diusung negara atau pihak-pihak yang merasa datang “membantu”, termasuk pendidikan, proyek konservasi, misionaris, atau masuknya sistem pasar yang mengenalkan konsep ekonomi uang.

Di titik inilah dimulai penilaian berdasarkan berapa banyak uang/materi yang ia miliki, sehingga seseorang akan dapat disebut miskin ataukah kaya.

Ini masalah persepsi, perbedaan cara pandang. Sepele, tapi fatal. Cara pandang ini pula yang seharusnya bertanggung jawab atas hilangnya banyak kekuatan (bukan sekedar kekayaan) budaya di Papua.

Adat-istiadat dari suatu komunitas itu bersifat khas dan telah dibangun, disepakati memberi manfaat, serta dijunjung tinggi oleh pemiliknya selama ini. Adat bergerak dinamis, mengalami penyesuaian ataupun perubahan seiring waktu, namun tetap berdasarkan kesepakatan. Tak seorang pun punya hak berkata bahwa tradisi X atau ambil contoh tradisi membunuh pasangan gelap misalnya, adalah buruk.

Semakin tradisi sebuah komunitas itu berbeda dengan tradisi yang kita miliki, semakin sulitlah tradisi itu kita terima, bukan? Bagaimana dengan universalitas nilai-nilai ataupun HAM? Ada perang suku, kanibalisme, incest, pernikahan bawah umur, dan lain-lain. Bukankah ada pihak-pihak yang terzalimi? Ada orang yang dirampas hak asasinya? Ini pun tetap saja bisa subyektif. Misalnya, ada adat orang eskimo yang menunjukkan kasih sayang kepada orang tuanya yang sudah sangat renta dengan cara menidurkan mereka (hingga meninggal) di luar rumah saat hari bersalju besar.

Di komunitas Orang Rimba 18 tahun lalu, saat aku datang, baca tulis dianggap tabu, dianggap petaka buat adat karena sudah sering sekali mereka ditipu oleh tulisan yang tidak mereka pahami. Tapi seorang anak bernama Gentar mendobrak tradisi itu. Ia percaya ilmu baca tulis akan bisa berguna untuk komunitasnya. Ini mirip dengan tradisi perempuan Jawa zaman Kartini yang tidak boleh sekolah dan bahwa perempuan hanya dipersiapkan kecakapannya untuk menunggu dipinang oleh laki-laki.

Aku pikir, dari manapun datangnya, kebudayaan itu dinamis, bergerak, berubah, sesuai dengan dinamika kelompok penganutnya. Dan dengan dialog positif, kita bisa mencari tahu lebih dalam, apa sejarah, makna, dan tujuan suatu tradisi. Nilai apa yang terkandung pada suatu tindakan tersebut.

Di buku Yang Menyublim di Sela HujanFawazmenceritakan bagaimana tradisi kanibalisme yang dulu dilakukan Orang Asmat, kini “dialihkan” sehingga bagi mereka kanibalisme terasa masih dilakukan, sementara di mata orang luar itu sudah tidak dilakukan lagi. Ini bukan sekedar soal baik buruk, karena baik buruk menurut orang luar tidak sama dengan baik buruk Orang Asmat menilainya. Meninggalkan kanibalisme berarti menggusur keyakinan mereka akan kedamaian roh orang yang baru meninggal, termasuk roh nenek moyang, keyakinan bahwa mereka yang sudah mati akan menujusafar (surga) dengan tenang. Keyakinan penting ini yang membuat tidak mudah untuk menghapus sebuah tradisi kecuali ada pendekatan lain yang dapat mereka terima. Pendekatan yang tidak meninggalkan tujuan dan keyakinan tradisi ini, hanya caranya saja yang berbeda.

Ada cerita menarik lain pada pendakianku di tahun 1993 tadi. Dalam perjalanan itu, kami sempat menumpang tidur di honai milik penduduk di perkampungan sekitar danau Habema. Di honai, semua orang tidur di atas tanah, mengeliling api unggun, ada yang sambil memeluk anaknya, ada juga yang sambil memeluk babi peliharaannya. Aku tidur di atas matras karetku.

Tiba-tiba ada benda yang kurasakan mendarat di hidungku. Setengah sadar, aku menepis dan melempar kesal benda yang saat itu aku pikir sebuah kayu bakar yang jatuh dari atas, saking keras dan beratnya. Pagi harinya baru aku menyadari kalau tidak ada kayu bakar di atas kepalaku, dan segera kusimpulkan kalau benda itu adalah kaki dan selanjutnya aku tak berhenti mengagumi jejari kaki mereka. Telapak kaki tebal dan kuat, tidak ada jari yang berdempetan satu sama lain, semua mencuat, seperti sesisir pisang yang berlarian ke segala arah. Saking aku kagum, sampai-sampai aku meminta ijin untuk memegang telapak dan jari-jari kaki porter perempuan pendampingku selama pendakian. Keras seperti batu!

Pagi itu dengan sebal aku memakaikan kaos kaki dan sepatu kepada telapak kakiku yang ringkih.

Belasan tahun kemudian, saat aku mendengar ada proyek “penyepatuan” di satu desa di Papua, aku teringat kaki-kaki perkasa itu, yang menendang hidungku, dan dapat kurasakan bagaimana duri-duri akan hancur diinjak dalam perjalanan mereka menembus hutan untuk memangkur sagu. Konon, mereka kemudian menuntut donator sepatu karena setelah memakai sepatu selama empat tahun, dan setelah sepatu mereka hancur tak bisa dipakai lagi, telapak kaki-kaki mereka menjadi lembut, sehingga menjadi sakit-sakit saat dipakai berjalan di tanah Papua tanpa sepatu.

Nah, lebih hebat mana mereka, yang sebelum atau sesudah pakai sepatu? Sekarang, tanpa sepatu dan tanpa kaki yang kuat, bukankah mereka jadi tergantung? Bukankah mereka jadi lebih miskin daripada sebelumnya? Ini disebutnya bantuan, tapi sesungguhnya pemiskinan.

Atau kejadian minyak babi yang digantikan oleh sabun (sabunisasi) yang akhirnya membuat angka kematian akibat malaria tinggi, menjadi contoh bahwa ini bukan tradisi yang pantas dicampurtangani. Wongminyak babi tidak mengkhianati hak asasi siapa pun, kok. Semata-mata hanya karena dianggap bau dan kotor saja. Ini sama dengan aku yang bersabun di rimba, langsung dijauhi. Katanya aku bau busuk, bau racun, dan membawa sial kalau ikut berburu karena hewan buruan langsung akan dapat mengenali bauku.

Terkadang, nilai-nilai itu relatif bukan?

Tuesday, August 15, 2017

Khurofat dan tafaul

Dulu, saat pertama kali mondok, diberi sangu debu dan air untuk disebarkan di area pesantren. Tak terasa empat belas tahun begitu cepat dan melekat. Adat unik, Seakan tidak ada kaitannya.

Jika kamu sedang sibuk padahal perut tidak kompromi mules ingin qodhil hajat, bawa saja batu kerikil di saku. Berjalanlah, tak terasa keinginan untuk hajat menjadi hilang. Berulang kali saya membuktikan.

Ada lagi. Galuh. Nama untuk tanah liat yang dibikin silinder bolong buat nelayan menjaring ikan. Dikalungkan ke leher anak kecil yang sering sakit-sakitan dan gatal menahun, izin ALLOH dia bisa sembuh.

Khurofat dan tafa'ul itu beda-beda tipis. Suatu hari, seorang sahabat datang membawa tamaaim (jimat menggantung di leher), Nabi saw menegurnya. Riwayat lain Ibnu Mas'ud.

Al Qarrafi dalam Al Furuqnya menjelaskan bahwa perbedaan tafa'ul yang baik dan buruk adalah obyeknya.

Jika orientasi undian itu baik seperti qosmuz zaujaat maka boleh. Jika undian untuk keberangkatan pergi maka buruk haram. Karena bisa menghantarkan buruk sangka kepada-Nya (al Furuq: 357).

Melihat ini, tradisi baik nyangoni air dan lemah tentunya masuk tafaul yang baik agar dia betah sebagaimana betahnya tanah di manapun.

منها خلقناكم وفيها نعيدكم ومنها نخرجكم تارة أخرى

Di Maqbaroh Habib Alwi Al-Haddad Peterongan Jombang.

Thursday, August 3, 2017

Cadar Yahudi

Cadar Yahudi

Jika Anda tidak paham dengan seluk-beluk kesejarahan dan studi tentang percadaran, mungkin Anda akan mengira kalau foto-foto di bawah ini adalah sekelompok perempuan Muslimah di Arab atau kawasan lain. Padahal tidak. Mereka adalah para perempuan Yahudi.

Foto tiga orang bercadar yang mirip niqab di sejumlah Negara Arab Teluk ini adalah para perempuan "Yahudi Yaman". Komunitas Yahudi Yaman atau al-Yahudu al-Yamaniyun yang konon masih "keluarga besar" Yahudi Mizrahi sudah ada ribuan tahun sebelum Islam lahir di Jazirah Arabia. Mereka memiliki tradisi agama yang unik, beda dengan kelompok Yahudi lain seperti Ashkenazi, Sephardi, dlsb. Meskipun bernama "Yahudi Yaman", mereka bukan berarti cuma tinggal di Yaman. Banyak dari mereka yang tinggal di Israel, Amerika, dlsb.

Sedangkan foto dua perempaun (bersama anak-anak) yang mengenakan cadar mirip burqa adalah komunitas Yahudi Heredi di Israel. Kelompok perempuan Yahudi bercadar di Israel ini dikenal dengan sebutan "Nesot HaSalem" atau "Perempuan yang memakai syal". Karena memakai cadar mirip perempuan di zaman rezim Taliban di Afganistan, mereka pun kadang disebut "Yahudi Taliban". Kain cadar itu mereka namakan "frumka".

Baik Yahudi Yamani maupun Yahudi Heredi adalah contoh kecil dari komunitas "Yahudi Garis Lurus" (masih ada sejumlah kelompok Yahudi lain yang berhijab dan bercadar) yang mengklaim bahwa cadar itu adalah asal-usulnya merupakan "tradisi Yahudi" (bukan "tradisi Islam" atau "tradisi Arab") seperti termaktub dalam teks-teks keagamaan mereka.

Oleh karena itu, tidak heran jika perempuan dari kelompok literalis Yahudi ini selalu mengenakan cadar jika keluar rumah dan berada di tempat-tempat umum.

Nah, sekarang silakan Anda jawab: cadar itu "Syariat Islam" atau "Syariat Yahudi"? Ingat: "Barang siapa menyerupai suatu kaum...he he

Repost: Kajian Islam Nusantara

Friday, April 21, 2017

KEUTAMAAN TRADISI KENDURI

Sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ اْلأَعْمَالِ أَنْ تُدْخِلَ عَلىَ أَخِيْكَ الْمُؤْمِنِ سُرُوْرًا أَوْ تَقْضِيَ عَنْهُ دَيْنًا أَوْ تُطْعِمَهُ خُبْزًا

Amalan yang paling utama adalah kamu memberikan kesenangan kepada saudaramu yang beriman, atau melunaskan hutangnya dan atau memberinya makanan roti.

Hadits riwayat Ibnu Abi al-Dunya dalam Qadha’ al-Hawaij [112] dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman.

Maksud hadits tersebut, perbuatan yang paling utama setelah amalan-amalan wajib, adalah;

Pertama, memberikan kesenangan kepada saudaramu yang beriman, misalnya dengan menyampaikan kabar yang menyebabkannya senang dan berbahagia atau menghiburnya dengan candaan tanpa melampaui batas.

Kedua, melunaskan hutangnya yang ia tidak mampu melunasinya dengan memberinya masa tempo sampai mampu melunasi, atau kamu menurunkan sebagian hutangnya dan atau membebaskannya dari hutangnya.

Ketiga, memberinya makanan roti, maksudnya memberinya makan sampai ia merasa kenyang. Makanan yang diberikan tidak harus berupa roti. Tetapi disesuaikan dengan tradisi makanan setiap masyarakat.

Amalan seperti di atas lebih baik daripada sebagian besar amalan sunnah, karena manfaatnya mengalir kepada orang lain yang seagama. Pahala amalan di atas akan berlipat ganda, apabila dilakukan kepada tetangga sebelah rumah, sebagaimana akan berlipatganda apabila dilakukan kepada kerabat dekat. Tidak sedikit dari kalangan ulama dan orang-orang shaleh meninggalkan haji dan umrah sunnah, karena harta mereka digunakan untuk membantu kaum lemah seperti anak-anak yatim, para janda dan orang-orang yang memerlukan.

Sebagian kaum Wahabi, berusaha menghentikan tradisi memberi makan orang lain, seperti kenduri, dan menyarankan agar diganti dengan ibadah haji dan umrah. Jelas ini saran yang keliru. Ibadah sunnah yang manfaatnya mengalir kepada orang lain, lebih utama daripada ibadah sunnah yang hanya kembali kepada diri sendiri. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas.