Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Friday, April 19, 2019

RINGKASAN KITAB 'APA YG ADA DI BULAN SYA'BAN

📝. *ماذا في شعبان*. 📝

*_📚 RINGKASAN KITAB  'APA YG ADA DI BULAN SYA'BAN'_*
✍ *_Abuya As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki_*

Dinamakan Sya'ban karena bercabang kebaikan yang banyak.
Dan kenapa kaum muslimin merayakannya dan bersungguh² menghadapinya dengan taubah, ibadah dan ketaatan: dzikir, ziarah ke Rasululloh, dll.

Maka Abuya As Sayyid Muhammad Al Maliki berkata dengan qawaid, bahwa zaman itu mulia karena terjadi pada waktu itu beberapa kejadian.
Dari sini diketahui sangat jelas bahwa ada keterkaitan dengan sejarah.

🍃 *DI ANTARA KEJADIAN² DI BULAN SYA'BAN :*

*١. تحويل القبلة (pindahnya arah kiblat)*
Sungguh Rasululloh menunggu dengan sangat dan selalu berdoa menghadap kepada Allah hingga akhirnya dikabulkan-Nya. Allah berfirman:

قد نرى تقلب وجهك في السماء. فلتولينك قبلة ترضها. فول وجهك شطر المسجد الحرام. وحيث ما كنتم فولوا وجوهكم شطره. (البقرة :... )
Kaum muslimin sholat menghadap ke Baitul Maqdis selama 17 bulan 3 hari.

*٢. رفع الأعمال (terangkatnya amal)*
Ada hadits dari sahabat Utsamah bin Zaid: ya Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa dari beberapa bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya'ban.
Dijawab oleh Rasulullah: Itu adalah bulan dimana manusia banyak yang lalai dengan bulan tersebut, yakni antara Rajab dan Ramadhan. Bulan itu diangkat atau diterima ke Tuhan semesta alam. Dan saya senang apabila diangkat amalku dan aku dalam keadaan berpuasa. (HR. Nasai)

*٣. تقدير الأعمار (penentuan umur)*
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah, bahwa Rasulullah berpuasa Sya'ban sebulan penuh.
Sayyidah Aisyah bertanya: Ya Rasululloh, paling dicintai bagimu adalah berpuasa di bulan Sya'ban.
Rasulullah menjawab: Allah menetapkan pada bulan Sya'ban setiap jiwa yang meninggal pada tahun itu. Maka aku senang dan berharap apabila ajalku datang, dan aku dalam keadaan berpuasa. (HR. Abu Ya'la)

*٤.  شهر الصلوة على النبي صلى الله عليه وسلم*
Dari keistimewaan bulan Sya'ban, yaitu diturunkannya bacaan sholawat kepada Rasulullah, yaitu ayat:
إن الله و ملائكته يصلون على النبي. يأيها الذين ءامنوا صلوا عليه وسلموا تسليما (الأحزاب : ٥٦)

Keutamaan membaca sholawat atas Rasul:
1. Dibalas 10 kali
من صلى علي واحدة صلى الله عليه عشرا (رواه مسلم)
2. Barangsiapa yang membaca shalawat kepada Nabi, maka Rasulullah membacakan sholawat untuknya.
3. Sesungguhnya orang yang membaca sholawat pada Rasul, maka para malaikat membacakan sholawat untuknya.
4. Barangsiapa yang membaca shalawat kepada Rasulullah, akan diangkat derajatnya, ditambah kebaikannya dan dihapus kejelekannya. (HR. Nasai)
5. Orang yang membaca shalawat kepada Nabi, sama dengan memerdekakan budak 10 yang karena Allah SWT.
6.  Membaca sholawat penyebab dosa2 diampuni. Demikian itu menurut keimanan seorang mukmin, cintanya dan ikhlasnya dalam membaca shalawat.
7. Sholawat kepada Nabi, akan memohonkan ampun bagi pembacanya, dan akan menyenangkan di kuburnya.
8. Keistimewaan membaca shalawat kepada Nabi, yaitu Rasululloh akan mensyafaatinya.
9. Keutamaan sholawat, yaitu menghilangkan dari kefakiran, dan mendapatkan limpahan kebaikan dan keberkahan.
10. Keutamaan sholawat, orang yang memperbanyak sholawat, menjadi paling utamanya manusia menurut Rasululloh, yaitu yang paling banyak membaca sholawat.
أولى الناس بي يوم القيامة أكثرهم علي صلاة
11. Berkah dan kebaikan sholawat ke Rasululloh, bisa didapati (sampai) ke putranya, dan putra putranya.
كما روي عن حذيفة رضي الله عنه أنه قال: ألصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم تدرك الرجل وولده وولد ولده

*٥. شعبان شهر القرآن*

*٦. الإستغفار*
قال صلى الله عليه وسلم: من لزم الاستغفار جعل الله له من كل هم فرجا ومن كل ضيق مخرجا و يرزقه من حيث لا يحتسب (رواه أبو داود والنسائي)

🍃 *ليلة النصف من شعبان*
Malam yang agung, yang berkah, yang mulia.
Allah Ta'ala menampakkan keagungan Nya atas makhluk Nya dengan keumuman ampunan dan mencakup rahmat Nya. Maka Allah akan mengampuni orang yang mohon ampunan, membelas-kasihi orang yang minta belas-kasih, dan meng-ijabahi orang yang memohon, serta memberi jalan keluar bagi orang yang kesulitan.
Dan Allah memerdekakan pada malam itu golongan orang² yang masuk neraka. Serta Allah menulis dan menetapkan rizqi² dan amal².

Allah menampakkan kepada makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya'ban. Maka Allah mengampuni semua makhluk-Nya, kecuali orang musyrik, مشاحن /musyahin (munafik yang jelek/berbahaya, yang memunculkan perpecahan dan membakar permusuhan antara pecinta). Makna lain musyahin yakni   ألعداوة (permusuhan).

☘ *NAMA² MALAM NISFU SYA'BAN*
١.ألليلة المباركة
٢. ليلة القسمة
٣. ليلة التكفير
٤. ليلة الإجابة
٥. ليلة الحياة
٦. ليلة عيد الملائكة
٧. ليلة الشفاعة
٨. ليلة البراءة
٩. ليلة الصك
١٠. ليلة الجائزة
١١. ليلة الغفران
١٢. ليلة الرحجان
١٣. ليلة التعظيم
١٤. ليلة القدر

☘ *CARA MENGHIDUPKAN MALAM NISFU SYA'BAN*
Ulama ahli Syam berbeda pendapat tentang cara menghidupkannya:
1. Disunnahkan berjama'ah di masjid.
Memakai baju yang terbaik, berminyak, bercelak pada malam tersebut.
2. Dimakruhkan berkumpul di masjid untuk melakukan sholat (dan amalan Nisfu Sya'ban). Dan tidak dimakruhkan bila sholat sendirian.

☘ *ألتوجه النبوي للعناية بالليلة*
*Anjuran dari Nabi untuk memperhatikan malam Nisfu Sya'ban*
Sungguh Rasululloh memerintah untuk memperhatikan malam Nisfu Sya'ban, dan mendapatkan keberkahan amal sholeh pada malam tersebut.
Sebagaimana dari sahabat Ali Ra., dari Nabi SAW bersabda:
Apabila malam Nisfu Sya'ban, maka hidupkanlah malamnya dan puasalah pada harinya (esoknya). Maka sesungguhnya Allah Tabaaroka wa Ta'ala turun pada malam tersebut mulai terbenamnya matahari ke langit dunia.

Maka Allah berfirman:
Ingatlah, adakah orang yang minta ampunan maka Aku akan mengampuninya. Adakah orang yang minta rizqi, maka akan Aku beri rizqi. Adakah orang yang diuji sakit, maka Aku akan menyehatkannya. Ingatlah, begini, begini...
(على كذا على كذا على كذا)
Sampai munculnya fajar. (HR. Ibnu Majah)

🍃 *ألدعاء في شعبان*
Do'a termasuk bagian paling agungnya pintu kemudahan.
قال تعالى: أدعوا ربكم تضرعا و خفية
أدعونى أستجب لكم

Sungguh Rasululloh telah memberi kabar: Seseorang yang telah diberi ilham do'a, maka ia adalah orang yang مرحومين (orang yang dibelaskasihi).

فقال صلى الله عليه وسلم: من فتح له منكم باب الدعاء، فتحت له ابواب الرحمة. وما سئل الله شيئا- يعني أحب إليه- من أن يسأل العافية (رواه الترمذي والحاكم)
Barangsiapa yang dibuka baginya di antara kalian bab doa, maka dibukakan baginya pintu² rahmat. Dan tidaklah memohon kepada Allah sesuatu (yang lebih disenanginya) daripada memohon sehat wal aafiyah.

☘ *دعاء نصف شعبان*
Tidak ada ketetapan dari Rasululloh Do'a yang mu'ayyan (yang ditetapkan), yang khusus mengenai malam Nisfu Sya'ban, juga tentang sholat yang khusus.
Dan sesungguhnya yang datang adalah menyemangatlan untuk menghidupkan malam itu saja, dengan segala macam doa dan ibadah, tanpa menjelaskannya.
Barangsiapa yang membaca, berdoa, sholat, bersedekah, dan beramal dengan apa yang mudah baginya dari ibadah, maka ia betul² menghidupkan dan mendapatkan atas hal itu.

☘ *قراءة بس لقضائك الحوائج*
Baca Yasin dengan niat mohon kebaikan dunia akhirat. Atau baca Qur'an semuanya untuk dunia akhirat adalah tidak berdosa dan tidak dilarang.

Kebiasaan yang dilakukan orang² adalah membaca Yasin 3x:
1. Niat panjang umur beserta mendapat taufiq untuk ketaatan.
2. Niat terjaga malapetaka, bencana dan penyakit, serta niat dilapangkan rizqi.
3. Niat untuk agar kaya hati dan baik akhirnya (husnul khotimah).

Diringkas oleh: KH. Abdul Mu'thi Hasyim, Pasuruan

Friday, January 18, 2019

Kemanusiaan mendahului sikap religius

Kemanusiaan mendahului sikap religius

Seorang netijen yang sedang kuliah di al-Azhar, Mesir memberitahu saya akan buku karya Habib Ali al-Jifri. Saya berterima kasih atas informasi tersebut dan segera melacak dan kemudian membacanya. Buku ini semacam kompilasi makalah dan ceramah beliau. Topik yang di bahas singkat dan aktual. Beberapa tulisan dalam buku itu juga berasal dari respon Habib Ali akan pertanyaan atau komentar di Facebook.

Secara umum, saya memiliki kesesuaian pandangan dengan Habib Ali. Bukan saja beliau luas pandangannya tapi juga luwes sikapnya. Santun dalam berdakwah, tajam dalam berargumen, dan konon kabarnya — menurut guru beliau Habib Umar bin Hafizh — wajah Habib Ali mirip datuknya, Rasulullah Saw. Wa Allahu a’lam bis shawab.

Judul yang dipilih Habib Ali mengundang kontroversi: al-Insaniyyah qabla at-tadayyun. Kemanusiaan mendahului sikap religius. Beliau mengklarifikasi dalam berbagai kesempatan bahwa beliau tidak mengatakan al-Insaniyyah qabla ad-din (kemanusian mendahului agama). Karena bagi beliau tetap agama itu nomor satu. Namun beliau hendak memisahkan antara agama dengan pandangan dan sikap keberagamaan. Religion dan religiosity itu dua hal yang terkait tapi tetap harus dibedakan.

Teks agama dalam al-Qur’an dan al-Hadis itu benar dan suci, tapi pandangan dan sikap kita belum tentu benar, apalagi suci. Kegagalan memisahkan ini akan membuat apa yang kita pahami akan kitab suci seolah dianggap sama mutlaknya dengan kebenaran kitab suci. Contoh praktis saja: banyak yang merasa membela Islam, padahal boleh jadi yang dia bela adalah sikap dan pandangannya tentang Islam.

Jadi, jelas yah jangan digoreng dan dipelintir: Habib Ali al-Jifri tetap mengutamakan agama (ad-din).

Nah, apa dalil dari pandangan Habib Ali tentang kemanusiaan didahulukan atas religiositas? Dalam bukunya beliau mengutip penjelasan dari Hadis Nabi Saw. Beliau sampaikan versi ringkasnya. Di bawah ini saya kutip versi lengkapnya.

Musnad Ahmad, Hadis Nomor 16402

‎١٦٤٠٢ - حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي عَمْرٍو السَّيْبَانِيِّ عَنْ أَبِي سَلَّامٍ الدِّمَشْقِيِّ وَعَمْرِو بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُمَا سَمِعَا أَبَا أُمَامَةَ الْبَاهِلِيَّ يُحَدِّثُ عَنْ حَدِيثِ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ السُّلَمِيِّ قَالَ رَغِبْتُ عَنْ آلِهَةِ قَوْمِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ فَسَأَلْتُ عَنْهُ فَوَجَدْتُهُ مُسْتَخْفِيًا بِشَأْنِهِ فَتَلَطَّفْتُ لَهُ حَتَّى دَخَلْتُ عَلَيْهِ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَقُلْتُ لَهُ مَا أَنْتَ فَقَالَ نَبِيٌّ فَقُلْتُ وَمَا النَّبِيُّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ فَقُلْتُ وَمَنْ أَرْسَلَكَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قُلْتُ بِمَاذَا أَرْسَلَكَ فَقَالَ بِأَنْ تُوصَلَ الْأَرْحَامُ وَتُحْقَنَ الدِّمَاءُ وَتُؤَمَّنَ السُّبُلُ وَتُكَسَّرَ الْأَوْثَانُ وَيُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرَكُ بِهِ شَيْءٌ قُلْتُ نِعْمَ مَا أَرْسَلَكَ بِهِ وَأُشْهِدُكَ أَنِّي قَدْ آمَنْتُ بِكَ وَصَدَّقْتُكَ أَفَأَمْكُثُ مَعَكَ أَمْ مَا تَرَى فَقَالَ قَدْ تَرَى كَرَاهَةَ النَّاسِ لِمَا جِئْتُ بِهِ فَامْكُثْ فِي أَهْلِكَ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِي قَدْ خَرَجْتُ مَخْرَجِي فَأْتِنِي فَذَكَرَ الْحَدِيثَ

16402. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata; Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin 'Ayyasy dari Yahya bin Abu 'Amr As-Syaibani dari Abu Sallam Ad-Dimasyqi dan 'Amr bin Abdullah sesungguhnya keduanya telah mendengar Abu Umamah Al Bahili menceritakan dari hadis 'Amr bin 'Abasah As-Sulami berkata; "Saya sangat membenci tuhan-tuhan kaumku pada Masa Jahiliyyah, " lalu dia menyebutkan haditsnya. ('Amr bin 'Abasah As-Sulami) berkata; lalu saya bertanya tentang keberadaan nabi, dan saya pun mendapatkan Nabi dalam keadaan menyembunyikan diri dari keramaian orang. Saya berusaha menemuinya dengan cara menyamar hingga saya bisa menemuinya, saya ucapkan salam kepadanya, lalu saya bertanya,

"Apa (status/kedudukan) anda?”
Beliau menjawab, "Nabi."
Saya ('Amr bin 'Abasah) berkata; "Apakah Nabi itu?"
Beliau menjawab, "Rasulullah."

Saya bertanya, "Siapakah yang mengutus kamu?."
Beliau menjawab, "Allah Azzawajalla."
Saya bertanya, "Dengan apa?"
beliau menjawab, "Agar kamu menyambung silaturrahim, melindungi darah, mengamankan jalan, berhala dihancurkan, Allah semata yang disembah dan tidak ada sekutu bagi-Nya sesuatupun."

Saya berkata; "Sangat bagus risalah yang karenanya kau diutus. Saya bersaksi sesungguhnya saya beriman kepadamu, dan saya mempercayaimu, apakah saya harus tinggal bersamamu atau bagaimana pendapatmu?" Maka beliau bersabda: "Kamu telah melihat kebencian orang-orang atas apa yang saya bawa, maka tinggallah di keluargamu. Jika suatu hari nanti kamu mendengarku dan saya telah keluar dari tempat persembunyianku, datangilah saya, " lalu dia menyebutkan hadis secara lengkap.”

Habib Ali menjelaskan bahwa cara Rasulullah menjelaskan risalahnya itu dengan menyebut ketiga hal mendasar dulu.

1. Menyambung Silaturrahim. Ini dimaknai Habib Ali jaminan keamanan masyarakat.
2. Melindungi darah. Ini dimaknai Habib Ali sebagai perlindungan terhadap kehidupan
3. Mengamankan jalan. Ini berarti, menurut Habib Ali, keamanan publik.

Setelah itu barulah Rasul menjawab mengenai religiositas, yaitu menghancurkan berhala (ini bagian amar ma’ruf nahi munkar), dan sikap kukuh bertauhid hanya menyembah Allah (ini masuk wilayah dakwah).

Berdasarkan riwayat, yang menurut Syekh Arnaut statusnya Sahih ini, Habib Ali al-Jifri menyampaikan pesan-pesan kemanusiaannya. Kita pun memahami bahwa semua manusia dijamin keamanan dan kehormatannya, baik di level keluarga-kolega, maupun masyarakat. Setiap orang harus dihormati darahnya, hartanya, keluarganya, status sosialnya. Islam menghendaki setiap orang aman dan nyaman berjalan-jalan di pasar, jalan raya, dan area publik lainnya tanpa khawatir akan dibully, dinistakan, atau diserang kehormatannya maupun terkena tindak kriminal seperti pencopetan, serangan teroris, atau bahkan sekadar sandal hilang di Masjid.

Dengan jaminan sosial, kehidupan dan keamanan publik itu barulah kemudian orang bisa beragama dengan khusyu’ dan aman serta nyaman. Hati yang adem akan membuat sikap keberagamaan kita juga adem.

Dengan kata lain, problem yang kita hadapi dewasa ini bukan soal teks keagamaan, tapi soal kemanusiaan kita yang merasa terancam, tidak aman dan tidak nyaman. Ini menggerus kemanusiaan kita sehingga kita tidak lagi jernih, adil dan beradab dalam memahami teks keagamaan. Pada gilirannya, sikap keberagamaan kita dipengaruhi oleh sehat atau sakitnya kemanusiaan kita. Itu sebabnya Rasulullah menyentuh sisi kemanusiaan kita terlebih dahulu dengan ajaran menyambung silaturrahmi, melindungi darah sesama manusia, dan mengamankan jalan raya.

Pesan Habib Ali dalam bukunya ini cocok dengan penjelasan para Kiai NU seperti Gus Mus, misalnya, yang menekankan dakwah kita itu bertujuan untuk memanusiakan kembali kemanusiaan kita. Sayang, saat ini kita mengalami krisis kemanusiaan dan malah asyik memaki: kampret dan cebong.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
dan Dosen Senior Monash Law School