Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Monday, November 23, 2020

MANAQIB HADROTUS SYECK ABDULLAH FAQIH LANGITAN"

MANAQIB HADROTUS SYECK ABDULLAH FAQIH LANGITAN"
Copas via WAG
Disampaikan oleh : KH MASBUHIN FAQIH.
Pada saat acara haul KH. ABDULLAH FAQIH yang ke-5 di pondok pesantren Langitan.

Ditulis oleh : Al faqir ila ridhollah wa ridloh masyayikhihi Taufiqurroziqin Tammama.

Alhamdulilĺah kita semua diberi kesempatan bisa datang dalam acara Haul ini semoga dengan menghadiri haul ini kita bisa mendapatkan barokah dan menambah kekuatan rohaniyah antara kita dan guru-guru kita sebab mengalirnya barokah sedikit banyaknya barokah yang kita dapat itu tergantung kuat lemahnya hubungan antara kita dan guru-guru kita walaupun guru-guru kita sudah tiada.
.
Saya di sini diutus menceritakan kepribadian syaikhina wa murobbi ruhina syech abdullah faqih.
.
Saya ini santri bukan kiai selalu berusaha tetap menjaga bagaimana hubungan antara santri dan kiai walaupun kiai sudah tiada.
.
Beliau dalam mentarbiyah santri itu luar biasa khususnya kepada saya pribadi telaten sabar istiqomah.
Pada suatu saat pada tuhun 1976 saya pamit kepada hadrotus syech, sebab pada saat itu ayah mendatarkan saya guru agama lalu saya pamit beliau bertanya "nandi kon mole?" (Kenapa kamu pulang?"
Kemudian Saya mator "duko tiyang sepah kulo kok dafataraken kulo guru agama" (gak tau yai, ini abah saya kok mendatarkan saya ujian guru agama)
.
Beliau dawuh kepada saya "aku gak ridloh nek kapan kon melok ujian guru agama, warahen wong tuamu aku nglarang, seng tekun olehmu ngaji nek wes hasel, nasrul ilmu seng ihlas nek kapan kon gak mangan keto'en drijiku" (aku gak ridloh kalau kamu ikut ujian guru agama, beri tahu orang tuamu aku melarang, yang temun ngaji kalau kamu sudah hasil, nashrul ilmi yang ihlas, kalau besok kamu tak bisa makan potong saja jariku).
.
Itulah dawuh kepada saya, begitu perhatianya dan kasafnya beliau.

"اذا اختلف ابو الروح و ابو الجسد لا بد ان نقدم اباالروح"
"Jika ada perselisihan antara guru dan orang tua maka kita wajib mendahulukan guru"

Oleh karnaya sam'an wa tho'atan saya kepada hadrotus syech, kashaf beliau, jika pada saat itu saya menuruti keinginan ayah saya maka tidak akan ada pondok pesantren "MAMBU'US SHOLIHIN".
.
Lah memang kenyataanya ya seperti itu saya pulang dari pondok sudah punya anak 4 tidak punya pekerjaan  apa-apa ya saya ikut dawuh hadrotus syech yaitu nashrul ilmi, alhadulillah apa yang telah di dawuhkan beliau kepada saya terjadi.
.
Cara mentarbiyah beliau kelada kami luar biasa sabarnya.
.
Pada suatu saat saya dimintai tolong oleh adek saya "Asyfihani" yang mondok di pasuruan, supaya menghantarkan sowan kepada beliau, saya tanya "perlune opo kon sowan ng hadrotus syech?" (Apa perlumu kok mau sowan kapeda hadrotussyech?)
Dia menjawab "iki cak, aku kate jalok jubah.e mbah yai abdul hadi seng nok hadrotussyech" (ini kak, saya mau minta jubahnya mbah yai abdul hadi yang dibawah oleh hadrotussyech).
.
Saat itu saya hantarkan, begitu baru saja duduk dan adek saya belum mator keperluanya beliau sudah dawuh "aku nduwe jubahe bapak 2 tak kekno koen 1, tapi lironono sarunge mbah hamid (pasuruan)" (saya punya jubah ayah 2 saya berikan kepada kamu, tapi kamu ganti dengan sarungnya mbah hamid (pasuruan)).
.
Demikian juga termasuk bagian dari kashafnya beliau, apa yang menjadi keinginan hati adek saya langsung ditebak saya beliau.
.
Beliau dalam mentarbiyah kami bukan hanya saat beliau hidup, bahkan ketika beliau wafatpun beliau juga mentarbiyah kami.
.
Pada suatu saat kami membuat rouha kitab "Shohih bukhori" dan setiap tanggal 1 rojab dan akhir bulan rojab hatam, karena saya terlalu capek usai perjalanan saya tidak ikut.

Ketika malam hari saya langsung ditemui oleh beliau.

Pada saat itu beliau ngaji, dan saya datang terlambat dan sudah selesai lalu beliau marah dan dawuh kepada saya "teko ndi ae hin, awakmu kok kari ngaji karo aku?" (Dari mana saja hin, kamu kok terlambat ngaji bersamaku?"
.
Susahnya luar biasa, saya pikir-pikir apa ya yang saya lakukan sehingga beliau marah kepadaku seperti ini.
.
Kemudian saya berkeyakinan bahwa mungkin karna saya tidak mengikuti rouha bukhori yang saya dirikan.
.
Sudah saya kapok secapek apaupun saya tidak akan meninggalkan rouha itu.
Saat itu saya begitu susah,
.
Dan pada saat itu juga saya di temui lagi, mungkin sebagai pelipur hati, saya di ajak makan-makan bersama keluarga alhamdulillah.
.
Demikian tarbiyah beliau walaupun sudah meninggalkan kita.
.
Beliau sangat luar biasa dalam berpegang teguh pada syariat, tidak bisa ditawar.
.
Pada suatu saat ketika saya menjabat sebagai kepala sekolah di langitan mengadakan acara akhirussnah, kalau tidak salah insya'allah yang menjadi ketua panitia yaitu KH. MAGHFUR BISYRI insya'allah. di acara tersebut setiap tingkatan menampilkan suatu karya seni.
Di acara tersebut tidak terkontrol karna salah satu kelas ada yang menampilkan "Genggongan/Genggong" (semacam alat musik)
.
Langsung pada saat itu beliau marah dan melemparkan bakyak kearah cendela kaca yang ada di madrasah, semua santri dan guru-guru lari tinggal saya berdiri didepan madrasah dan saya hanya bisa menangis, dan pasrah kepada beliau, lalu beliau dawuh "hin nang omah hin" (hin ikut saya kerumah)
.
Lalu beliau dawuh "kiro-kiro bapak kok sek urep ngono awakmu wani nggawe kegiatan ngono?" ( kira-kira kalau abah (mbah yai abdul hadi) masih hidup kamu berani buat acara seperti itu?) Saya tidak menjawab apa-apa, hanya hanya bisa menangis.
.
Lalu beliau dawuh "wes guru-guru kumpulno konkonen mrene kabeh" ( sudah, guru-guru kumpulkan semua, suruh dan kesini)
Jam 12 malam guru-guru sudah bersembunyi kemana, sampai saya kerepotan mencarinya sampai waktu satu jam sudah terkumpul dan sowan beliau lalu beliau dawuh sperti apa yang telah didawuhkan kepada saya, semua guru-guru menangis lalu beliau dawuh "wes saiki moroo kabeh ng pesarean jalu'o sepuro bapak" (sudah, sekarang kamu datang kepemakaman masyayih dan mintalah maaf kepedah abah).
.
Begitulah tarbiyah dari beliau dan masalah hukum tidak bisa ditawar lagi, barang haram ya haram, tidak ada rukhsoh lagi
Ini yang harus kita contoh.
.
Kita ngaji disini bukan sekedar mengabil ilmunya saja, tapi haliyahnya, maqomnya, harus kita tiru.
Sebagaimana sudah nyata beliau insya'allah adalah minaz zahidin (sebagian dari ulama yang zuhud).
Sejak saya mondok sampai sekarang rumahnya ya seperti itu.
لا يلتفت الى الدنيا بالمرة، و قلبه يتوجه الى الله سبحنه و تعلى.
"Tidak menoleh kepada dunia walau hanya sekali, dan hatinya slalu menghadap allah"
.
Di dalam memperjuangakan agama allah
لا يسمع لومة لائم
"Tidak pernah mendengar cacian orang"

Sebab disaat pemilihan bupati di daerah gresik ,lamongan, tuban, dan bojonegoro beliau selalu ikut campur.
Karna beliau slalu menginginkan yang jadi bupati di daerah tersebut adalah orang NU.
.
Pada suatu saat saya manghantarkan pak khuluq sowan minta restu kepada beliau untuk mencalonkan bupati yang pertama kali, sampai beliau memberi kami uang sebesar 50 juta di hadpan kami, subhanallah luar biasa perhatiannya, beliau dawuh "iki luk duwek teko aku, iki nek kapan dadi mok lironi yo alhamdulillah, nek gak yo tak ihlasno awkmu" ( ini luk uang dari saya, kalau kamu jadi kamu ganti ya alhamdulillah, kalau tidak ya saya ihlaskan kepadamu).
Jadi pada umumnya orang yang mendukung calon bupati dia akan mendapatkan uang, tapi beliau malah mengeluarkan uang, walaupun di su'udhoni orang macam-macam, tapi beliau tetap
لا يلتفت الى قول الغير ويستمر في الجهات لاجل وجه الله سبحنه وتعالى.
"Tidak menghiraukan ucapan orang lain, dan meneruskan perjuangan untuk mencari ridloh allah semata"
.
Ini yang benar-benar harus ditiru oleh santri-santri.
.
Dan kita mengambil kesimpulan bahwasanya beliau mempunyai pandangan yang sangat luas sekali, memperjuangkan agama bukan dalam satu bidang saja, tapi beliau berjuang diberbagai bidang yang berbeda-beda.
Beliau aktif istiqomah mentarbiyah para santri dan beliau juga ikut andil dalam memperbesar Nahdlotul Ulama, PKB, PKNU ratusan juta sudah dikeluarkan untuk memperjuangakan kepentingan PKNU.

Saya juga sering terlibat dalam PKB dan PKNU.
Yang terahir beliau dawuh " iki hin terahir, kapan ora biso teros PKNU, iki terahir aku berjuang melalui partai" (ini terahir hin, ini kalau tidak bisa terus, ini adalah yang tarahir perjuanganku melalui partai).
Begitulah hadrotussyech.
.
Pada waktu bulan sya'ban kami mator kepada beliau "romo yai tanah enkang wonten balung panggang meniko, sakderenge dipon bangun pondok, nyuwun dumateng panjengan supados jenengan incak" (romo yai tanah yang ada di balongpanggang itu sebelum dibangun pondok, harap kepada jenengan supaya jenengan injak terlebih dahulu).
Jawaban beliau "iyo, tapi peletakan batu pertama, bah  watu sitok tok gak opo-opo" (iya, tapi saat peletakan batu pertama, walau hanya satu batu saja).
.
Di beri jangka waktu 10 hari, pada hari itu, beliau akan datang ke balungpanggang.
.
Alhamdulillah, beliau bisa datang, dan yang meletakan batu pertama juga beliau.
Kemudian anak-anak saya dikumpulkan, lalu diberi tausia dan yang pokok adalah "tak jalok awakmu-awkmu kabeh seng rukun karo dulur" (saya minta kamu semua, yang rukun antar saudara-saudaramu).

Ternyata terahir beliau bulan syawal beliau sakit kemudian meninggalkan kita semua.

Begutilah perhatian beliau pada para santri.

Sekarang apa balasan kita kepada guru kita?

Jika kita benar-benar ingin berkumpul dengan beliau, apa saja yang beliau lakukan harus kita tiru dan meneruskan perjuangan beliau.
.
Insya'allah kita bisa kumpul dengan beliau.
Amin.

Semoga kita bisa meniru langka-langkanya dan menjadi suri tauladan bagi anak-anak kita nanti dan apa yang kita kerjakan selalu membahagiakan hati beliau.
.
Semoga dengan sedikit cerita ini dapat mengobati rasa rindu kita dan menambah rasa cinta kita kepada beliau.
.
Dan semoga beliau tetap dalam naungan rahmatnya.
.
Amin ya robbal alamin.

Saksikan dan Ikutilah Haul Virtual KH. Abdullah Faqih ke-9
Di Youtube Langitan TV

📅 : Senin, 23 November 2020
⌚ : Pukul 19:30 WIB
🔴 : Live Youtube Langitan TV

➖➖➖➖
#menaralangitan #haulvirtual #haulkhabdullahfaqih #haulmbahyai #pondoklangitan #langitan

Sunday, November 12, 2017

PRODUKTIVITAS AN-NAWAWI

PRODUKTIVITAS AN-NAWAWI

Sejarah hidup An-Nawawi termasuk di antara “ayat Allah” tentang berkahnya waktu dan umur seorang hamba. Beliau sendiri bertestimoni bahwa memang ada “campur tangan Allah” yang membuat waktu, aktivitas dan umurnya menjadi penuh berkah, efektif dan efisien”. Beliau berkata,

وبارك الله لي في وقتي، واشتغالي، وأعانني عليه

“Allah memberkahi waktu dan kesibukan saya. Dia juga membantu aktivitas saya …(Tuhfatu Ath-Tholibin, hlm 50)

Pada tahun 649 H, yakni pada di usia 19 tahun beliau baru mulai merantau menuntut ilmu. “Nyantri” dan “mondok” kira-kira istilahnya jika memakai sebutan pada zaman sekarang. Tempat berlabuh beliau waktu itu adalah sebuah “ponpes” bernama Al-Madrosah Ar-Rowahiyyah yang berlokasi di sebelah timur masjid Ibnu ‘Urwah. Sekitar 11 tahun beliau menghabiskan waktu untuk menuntut ilmu. Muridnya, Ibnu Al-‘Atthor menceritakan bahwa An-Nawawi di masa itu setiap hari selalu menghadiri dan melahap ilmu dari 12 matakuliah kuliah “berat” dengan pembimbing berkualitas yang pada zaman sekarang mungkin setaraf profesor atau bisa jadi malah di atasnya. Beliau belajar berbagai macam kitab dalam bidang fikih, hadis, nahwu, tashrif, matnul lughoh, ushul fikih, sejarah dan ushuluddin.

Tidak ada waktu yang disia-siakan oleh beliau. Saat berada di jalan menuju tempat belajar atau pulang sekalipun, kesempatan itu beliau gunakan untuk mengulang-ulang hafalan, atau muthola’ah atau muroja’ah materi yang telah dipelajari.

Dari sini sudah mulai terasa berkahnya waktu beliau.

Jika tiap kuliah kita asumsikan memerlukan waktu paling sedikit satu jam, maka dalam sehari durasi belajar An-Nawawi minimal adalah 12 jam. Lalu bagaimana waktu beliau untuk muroja’ah materi dan mengahafalkan? Bagaimana dengan waktu tidur? Bagaimana dengan waktu makan dan minumnya? Bagaimana dengan waktu mandi, membersihkan pakaian, membersihkan tempat tinggal dan semua kegiatan bersih-bersih yang tidak mungkin dihindari itu? Bagaimana dengan waktu untuk ibadah, tahajjud, dzikir, munajat dan semua ragam taqorrub yang mana An-Nawawi juga terkenal dengan ibadahnya yang kuat dan sikap zuhudnya yang menjadi teladan?

Benarlah, bahkan sangat benar jika dikatakan waktu An-Nawawi benar-benar sangat berkah. Seakan-akan produktivitas ilmu yang bisa dilakukan orang jenius dalam waktu dua tahun, semuanya bisa dilakukan An-Nawawi dalam satu tahun. Keberkahan waktu ini menjadi satu-satunya alasan logis jika diukur dengan produktivitas karya tulis An-Nawawi yang sangat banyak dengan kualitas yang luar biasa dan ditulis dalam waktu yang sangat singkat.

Dengan cara belajar yang ketat disiplin dan tekun semacam itu, tidak heran jika An-Nawawi memperoleh hasil yang luar biasa. Kitab At-Tanbih karya asy-Syirozi mampu beliau hapal dalam waktu 4,5 bulan. Al-Muhadzdzab bagian ibadah semuanya dihapalkan pada sisa tahun itu.

Pada tahun 660 H, yakni kira-kira di usia 30 tahun beliau mulai menulis sampai akhir hayatnya. Beliau wafat pada tahun 676 H dalam usia sekitar 45 tahun. Jadi, praktis sekitar 15 tahun dari umurnya beliau habiskan untuk menulis buku. Total seluruh karyanya 58 buah. Semuanya berkualitas tinggi. Dengan menghitung masa belajar 11 tahun dan masa menulis sekaligus mengajarkan selama 15 tahun, berarti aktivitas ilmiah beliau kira-kira menghabiskan waktu 26 tahun.

Dengan karya sedemikan banyak dan bermutu, ada yang pernah mencoba menghitung produktivitas An-Nawawi dikaitkan dengan umur beliau yang pendek. Setelah dihitung, dengan jumlah karya 58 buku dengan waktu penulisan 15 tahun, maka kira-kira dalam sehari beliau menulis rata-rata sebanyak dua kurrosah (الكراسة).

Definisi kurrosah menurut Al-Mu’jam Al-Wasith adalah semacam buku kecil (booklet) yang dicontohkan terdiri dari 10 waroqoh (الورقة). Dalam Mu’jam Ar-Ro-id, 10 waroqoh itu kalau dalam ukuran kertas cetak sekarang kira-kira sebanyak 8 atau 16 halaman. Jadi, satu kurrosah di zaman sekarang kira-kira adalah seukuran penulisan satu artikel/makalah dalam jurnal. Jadi An-Nawawi (jika memakai standar penulisan di dunia kampus pada zaman sekarang) setiap hari menghasilkan kira-kira dua artikel dalam jurnal berkualitas internasional!

Bayangkan. Di dunia kampus, lahir satu artikel yang diterbitkan jurnal internasional setiap satu semester saja sudah dihitung produktvitas yang sangat bagus. An-Nawawi rahimahullah memproduksi kira-kira dua artikel/makalah setiap hari!

Bisakah menjadi ibrah bagi anak muda?

Anda yang berusia 20 tahunan, adalah niat mulia jika ingin memberi manfaat ke pada kaum muslimin dengan menjadi An-Nawawi kedua. Jika menyamai An-Nawawi dianggap terlalu ambisisus, mencapai 1/10 beliau saja di zaman sekarang sudah luar biasa.

Tentu saja Anda harus memiliki memiliki kedisiplinan dan ketekunan setinggi An-Nawawi. Juga harus siap menghilangkan semua hal yang mengalihkan perhatian dan menumpulkan ketajaman pikiran. Tidak memuja cinta, memburu kemewahan, mencari kesenangan dunia atau memuaskan hawa nafsu. Yang terpenting dari semua itu, niat tersebut harus didorong pada niat yang ikhlash, murni beramal karena ingin meraih ridha-Nya. Karena salah niat dari awal, buahnya akan tampak pada saat sudah mulai beramal.

رحم الله النووي رحمة واسعة
اللهم اجعلنا من محبي العلماء الصالحين

Versi Situs: http://irtaqi.net/2017/11/12/produktivitas-an-nawawi/

***
Muafa
22 Shofar 1439 H

Thursday, September 28, 2017

Ilmuwan dan karyawan

TANPA JUDUL
Oleh : Najih Ibn Abdil Hameed*
.
Kutulis khusus untukmu, anak anakku yg sedang kuliah.
.
Pertama niat dan tujuan. Saya tidak tahu persis untuk apa dan atas pertimbangan apa kalian sekarang memilih salah satu mata pelajaran untuk didalami hingga ke perguruan tinggi. Bahkan satu mata pelajaran pilihan kamu itu akan menjadi bagian hidup tak terpisahkan darimu selamanya. Sarjana kimia, guru kimia, atau professor kimia akan menjadi cap yang melekat padamu selamanya. Begitu juga mapel lainnya.
.
Beberapa kemungkinan, tujuan kamu mempelajari memang untuk menjadi guru. Sekedar menghafal teori teori yg sudah ada lalu menyampaikan ulang kepada murid muridmu nantinya. Ini bukan ranah keilmuan namanya, tapi ranah kerja. Tidak beda dengan fakultas keahlian lain yang memang menyiapkan kader kader untuk bekerja di bidang itu.
.
Iya kalau kamu beruntung diterima saat ada lowongan bidang pilihan kamu. Jika nyatanya kamu mendapatkan profesi pekerjaan yang berbeda, rumus rumus fisika yang kamu kumpulkan bertahun tahun dengan susah payah dan biaya mahal itu, kemungkinan besar hilang tinggal kenangan. Ya saya sih tetep doakan semoga tetap manfaat ilmunya.
.
Jika tujuanmu lebih dari sekedar menjadi guru, lebih dari mencari pekerjaan (lebih tepatnya mencari penghasilan dari pekerjaan), akan tetapi ingin mengembangkan keilmuan, yang penerapannya akan berguna bagi kelangsungan hidup umat manusia, betapa luhur cita citamu. Kamu memang layak disebut calon ilmuan. Bukan sekedar calon karyawan.
.
Ilmuwan adalah mereka yang terus memutar otaknya demi mengemban sebuah misi, bukan mereka yang memimpikan kenyamanan kursi kerja, yang muaranya pada penghasilan, apalagi puas dengan gaji bulanan. Sepertinya tidak perlu sekolah tinggi untuk sekedar mencari rizki. Ratusan ribu sarjana menganggur dan jutaan manusia strata di bawahnya bisa hidup layak dan bahagia.
.
Bagi seorang muslim yang menyadari keberadannya di alam semesta ini hanyalah bagian terkecil dari ciptaan Allah, maka tidak akan ada tujuan lain dalam benaknya dalam segala aktifitas hidupnya, selain berusaha menyumbangkan seluruh  usia hidupnya yang hanya sekian detik ini (jika dibanding milyar tahun umur dunia), untuk mengemban tugas dari Allah yang telah menciptakan keberadaannya. Yaitu menjadi kholifah di bumi untuk ikut berusaha mengkondisikan lingkungan (alam dan masyarakat) sekitarnya agar selalu sesuai dengan "keinginan" (aturan) Allah, hingga ia kembali kepada Allah meninggalkan dunia dengan membawa RidhoNya.
.
Kedua, khusus untuk kamu yang mendalami sains.
.
Anakku, alam semesta raya ini telah diciptakan Allah jauh sebelum lahir ilmu sains. Allah satu satunya yang mendesain, menciptakan, mengatur, dan menjaga hingga alam semesta masih tetap bertahan dengan keteraturannya sampai hari ini. Ilmu pengetahuan atau sain adalah sekumpulan teori teori yg ditulis dari hasil pengamatan manusia terhadap keteraturan alam semesta ciptaanNya.
.
Menjadi sangat dungu ketika akhirnya kenyataan ini dibalik. Manusia selalu mengukur alam semesta dengan teori teori sains. Sehingga apapun kejadian yg berbeda dengan teori dianggap hoax. Bahkan Berita yg diceritakan oleh Allah melalui Alquran atau melalui rasulnya, harus disaring dulu dengan teori ilmu pengetahuan. Mana yg cocok, diterima, yang kurang cocok harus ditakwil (direka tafsir) agar cocok dengan teori mereka.
.
Satu contoh sederhana. Sejak pertama kali Allah menciptakan makhluk bernama api,  selalu (Allah) menjadikan benda benda yang di dekatinya menjadi panas atau terbakar, kejadian panas dan terbakar yg selalu berulang sepanjang sejarah ini, diamati oleh manusia (ilmuan), dihitung dan diteliti sedemikian rupa hingga tercetuslah teori perpindahan kalor dengan rumus rumusnya yg biasa kita pelajari di pelajaran fisika.
.
Anehnya ketika Allah bercerita bahwa Nabi Ibrahim kedinginan ketika dibakar api oleh raja kafir, serta banyak umat Nabi Muhammad saw, para wali Allah yg memiliki karomah sama, tidak mempan dibakar api, cerita cerita ini dianggap tidak logis karena tidak sesuai dengan rumus kalor.
.
Sampai banyak orang yang gara gara sekolah terlalu tinggi bidang sains, menjadi tidak percaya kepada tuhan, menjadi atheis (tidak beragama) atau minimal agnostik (beragama di KTP, tapi tidak menerima aqidah dan aturan agama).
.
Apakah salah  jika produsen pentol bakso yg sejak zaman prasejarah selalu membuat pentol berbentuk bulat, suatu hari membuatnya berbentuk balok atau bentuk hati? Apakah pembuat pentol berbentuk balok harus dibunuh hanya karena kebiasaanya membuat bakso bulat sudah terlanjur ditulis oleh konsumen dalam sebuah kamus besar bahasa, pentol adalah daging bla bla bla berbentuk bulat.
.
Seharusnya setiap atom atau  molekul alam semesta yang kamu pelajari ini, menambah keyakinamu atas kehebatan Allah, kemahakuasaanNya serta  kasih sayangNya kepada manusia. Lalu membuatmu semakin takut dan cinta kepadaNya. Menggerakkanmu semakin rajin dan ikhlas mengabdikan diri kepadaNya. Bukan justru membatasi kuasaNya dengan rumus rumusmu. Bahkan meniadakan tuhan karena menganggap alam semesta diatur oleh hukum gravitasi dan hukum hukum lainnya.
.
Titik terpenting anakku. Apakah ilmu ilmu yg kamu pelajari selama ini sudah membuatmu semakin takut kepadaNya?? Semakin berilmu semakin takut dan cinta kepadaNya? Jika tidak, entah siksa apa yg akan kamu dapatkan dari ilmumu. Sebab definisi ilmu manfaat adalah ilmu yg menjadikan manusia semakin takut kepada Allah. Tidak peduli itu ilmu agama, kitab kuning, atau ilmu pengetahuan umum, jika ia tidak membuatmu takut kepadanya, maka doakan penulis agar selamat dari ancaman hadits Nabi yg artinya " Manusia yg paling dahsyat siksanya di hari kiamat adalah orang alim yg Allah tidak menjadikan ilmunya manfaat"
.
Bojonegoro, 28 September 2017
Najih Ibn Abdil Hamid
-------
*Penulis adalah tukang ngobraki santri di Pondok Pesantren, dan tukang ngobraki guru di Sekolah Aliyah. Ayo nang masuk kelas wis bel kae lho.

Thursday, September 7, 2017

KRONOLOGI FDS DIHAPUS DAN PEMERINTAH MENDUKUNG MADRASAH DINIYAH

KRONOLOGI FDS DIHAPUS DAN PEMERINTAH MENDUKUNG MADRASAH DINIYAH

Oleh: KH. Muhammad Sulton Fatoni

Para kiai se-Indonesia menyimak seksama pernyataan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada hari Selasa (5/9) bahwa Presiden Jokowi akan menandatangani Perpres Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Telepon dari para kiai dari berbagai penjuru Indonesia masuk ke handphone Kiai Said Aqil.

Mayoritas isinya senada: Maukah Pak Jokowi mendengarkan nasihat para kiai? Ya, nasihat. Meskipun dalam beberapa bulan terakhir hiruk-pikuk perdebatan tentang Permendikbud nyaris tak terlacak ujung pangkalnya, substansi protes para kiai adalah nasehat kepada Presiden Jokowi tentang indikasi kuat adanya awal proses pendangkalan karakter bangsa Indonesia.

Kiai Said Aqil melayani telepon dari para kiai satu persatu. Menjelaskan berulang-ulang dengan sabar dan perlahan hasil pembicaraannya dengan Presiden. Terkadang intonasi suara Kiai Said Aqil agak tertekan, alur suaranya terpotong. Mungkin para kiai yang menelepon itu mendesak-desak, minta kepastian, menuntut kelugasan tentang sikap Presiden Jokowi. Kiai Said Aqil selalu menutup teleponnya dengan kalimat, “semoga, semoga, mari kita doakan Pak Jokowi diberi kekuatan.”

Kami pun di PBNU mengalami hal yang sama. Selasa itu adalah hari kecemasan bagi PBNU karena hanya Kiai Said Aqil yang mampu mengkalkulasi kecenderungan hati Pak Jokowi. Selasa itu, adalah puncak lobby Kiai Said Aqil kepada Presiden Jokowi, “Niat kami ikhlas, demi masa depan anak bangsa,” kata Kiai Said Aqil.

Memasuki hari Rabu, kami bersyukur kepada Allah Swt.  Begitu membaca lembar demi lembar isi Perpres Nomor 87/2017 yang mengakomodir nasehat para Kiai se-Indonesia. Kantor PBNU ramai. Wajah-wajah sumringah mewarnai sudut-sudut ruangan PBNU. Lenyaplah kelelahan lahir batin kami berbalas kenikmatan tiada tara.

Kiai Said Aqil yang menyaksikan Pak Jokowi membubuhkan tanda tangan Perpres Nomor 87/2017 tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Allah Swt. Tamu berdatangan mengucapkan selamat. Kiai Said Aqil membalas, “Saya hanya lempeng bersikap karena permintaan para kiai, Pak Jokowi mendengarkan…ya klop wis.”

Kami pun duduk di meja tamu bercengkerama. Mengingat kembali beberapa pekan lalu saat berjibaku memeras tenaga dan pikiran akibat SK Permendikbud 23/2017 yang tiba-tiba muncul. Kekuatan wacana yang dibangun PBNU tidak kuat membendung represive state aparatus yang sedang dimainkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Rupanya era reformasi yang bercirikan partisipasi masyarakat dan demokrasi diabaikan Kemendikbud.

PBNU pun memilih untuk memperluas suara protes dari pusat hingga ke Kabupaten/Kota. PBNU memantau Kemendikbud berakrobat politik dengan cara melakukan lobby langsung ke kiai-kiai di pondok pesantren. Bertepuk sebelah tangan. Kemendikbud tidak digubris para kiai. PBNU saat itu sengaja membiarkan roadshow Kemendikbud ke pondok-pondok pesantren agar tahu fakta penolakan para kiai.

Kami juga mengingat fase dimana Kiai Said Aqil marah karena didekati dan ditekan seseorang agar menerima Permendikbud tersebut. Di acara IKA PMII kemarahan Kiai Said Aqil ditumpahkan. Di kantor PBNU Kiai Said Aqil memberikan intstruksi, “Semua pengurus PBNU dilarang menghadiri undangan pemerintah yang temanya membahas Permendikbud atau Perpres.”

Tak satu pun undangan kami hadiri. Kiai Said Aqil juga memantau pemberitaan media massa tentang full day school. Jika ada kader NU yang bersikap tidak tegas terhadap penolakan full day school, Kiai Said Aqil langsung meneleponnya minta klarifikasi.

Audiensi, pernyataan sikap, aksi protes di jalan sudah menggema di penjuru negeri terutama di Jawa. Kami mendengar tim Kemenag dan Kemendikbud menemui jalan buntu. Persoalan akhirnya ditarik ke tingkat Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Dari tangan Mbak Puan Maharani akhirnya draf Perpres berpindah ke Sekretariat Negara.

Pada tahap ini Presiden Jokowi mengirimkan Pak Menteri Praktikno untuk membuka dialog dengan PBNU. Kiai Said Aqil menerima dengan hangat dan kami berdiskusi intens. Pak Pratikno ke PBNU, di lain hari kami ke kantor Sekretariat Negara. Semua komponen diajak urun rembug. Menyenangkan iklim yang dibangun Presiden Jokowi.

Di tahap akhir ini perdebatan cukup sengit tapi mengasikkan. Kiai Said Aqil memantau dinamika yang dialami delegasi PBNU. Kiai Said gigih menolak delapan jam sekolah setiap hari untuk pelajar. “Jangan kecolongan, tak ada toleransi untuk full day school.” Pesan Kiai Said Aqil. Di tahap inilah ruang demokrasi dan suara civil society terasa dijunjung tinggi.

Pak Jokowi benar-benar menanggalkan pendekatan korporatisme otorier dalam mengelola silang pendapat muatan Perpres. Pasti Pak Jokowi memahami bahwa melakukan kontrol politik secara otoriter di era reformasi itu tindakan jadul. PBNU pun bersemangat memberikan masukan kepada pemerintah.

Perjuangan para kiai ini menjadi penggal sejarah yang terdokumentasi di PBNU. Inilah proses pendewasaan berpolitik dan berkuasa. Setelah Pak Presiden Jokowi menandatangi Perpres, beliau mengatakan, "Senang lah menatap ke depan." Ya, Pak. Kami pun lega. Di sela-sela menerima telepon dari para kiai dari berbagai daerah, Kiai Said Aqil berpesan, “Ayo kita akhiri debat hari sekolah.”

*Penulis adalah Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Judul asli "Kegigihan Kiai Said Menolak Full Day School" di nu.or.id.

Friday, August 25, 2017

CITA-CITA MBAH HASYIM ASY'ARI YANG BELUM KESAMPAIAN

CITA-CITA MBAH HASYIM ASY'ARI YANG BELUM KESAMPAIAN

“Aku ingin ketemu Kiai Salam,” kata pendiri NU, Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Nawawi pun mengantarkan.

Kiai Salam yang bernama lengkap Abdussalam adalah ayahanda dari Kiai Abdullah Salam dan kakek dari Kiai Sahal Mahfudh.

Sesampai di kediaman Kiai Salam, didapati tuan rumah sedang mengajar anak-anak kecil mengaji. Kiai Hasyim serta-merta menahan langkah, menyembunyikan diri dari pandangan Kiai Salam, dan menunggu.

Setelah semua anak-anak kecil itu selesai ngajinya, barulah Kiai Hasyim mengucap salam, yang lantas disambut dengan suka-cita luar biasa.

Meninggalkan kediaman Kiai Salam, Kiai Hasyim kelihatan ngungun. Air matanya mengambang. “Ada apa, Yai?” Kiai Nawawi keheranan.

Kiai Hasyim mengendalikan tangisnya, menghela napas dalam-dalam. “Aku punya cita-cita sudah sejak sangat lama tapi sampai sekarang belum mampu melaksanakan. Kiai Salam malah sudah istiqomah. Aku iri…”

“Cita-cita apa, Yai?”

“Ta’limush shibyaan…” (Mengajar anak-anak kecil).

(Sumber: Kumpulan Foto Ulama dan Habaib)

Saturday, August 12, 2017

Full Day School antara Maqam Shiddiqiyah dan Ahlil Ilham

Full Day School antara Maqam Shiddiqiyah dan Ahlil Ilham
===============================
FDS atau sekolah full selama lima hari ditolak berbagai pihak dengan mati-matian karena akan merusak eksistensi Madrasah Diniyah dan disisi lain pula ngototnya pihak kemendikbud untuk merealisasikanya dengan berbagai bentuk manuvernya. Ibarat tanaman padi yang hijau subur kemudian direncanakan akan diternakan hewan wereng didalamnya. Memang terkesan memberikan suasana keberagaman dan bisa menyatukan diantara keduanya. Tapi seiring berjalanya waktu tanaman padi tersebut akan semakin meranggas dan dimungkinkan gagal panen. Begitu juga madrasah semakin diminimkan eksistensinya maka dimungkinkan madrasah akan gagal panen, gagal menelurkan penerusnya.

Dibalik hal ini ada dua hikmah, yaitu akan semakin sedikit jumlah siswa madrasah yang masih utuh dalam meneruskan pendidikan dengan model full pelajaran agama, karena mereka lebih mengedepankan formalitasnya daripada religiusnya dan itu memang lumrah karena semakin dekat dengan akhir zaman. Yang kedua, siswa yang meneruskan di jenjang pendidikan madrasah ini adalah orang yang memang benar-benar terpilih dan mempunyai himmah yang tinggi di dalam meninggikan agama Allah, karena sudah menjadi konsekuensi jika mereka memilih pendidikan agamanya maka ia harus mengorbankan sekolah formalnya.

Itulah bentuk saringan dan ujian yang Allah berikan untuk menunjukan mana orang-orang yang benar-benar memilih dan mengangkat agama Allah setinggi-tingginya, walaupun harus mengorbankan semuanya.

Dulu Allah juga menguji para sahabat melalui perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian itu menghasilkan poin-poin yang menyudutkan sahabat di kala itu, diantaranya, tidak saling menyerang antara kaum muslimin dengan penduduk Makah selama sepuluh tahun, kaum muslimin menunda untuk Umroh dan diperbolehkan memasuki kota Makah pada tahun berikutnya dengan tidak membawa senjata kecuali pedang dalam sarungnya serta senjata pengembara, siapa saja yang datang ke Madinah dari kota Makah harus di kembalikan ke kota Makah, siapa saja dari penduduk Madinah yang datang ke Makah, maka tidak boleh dikembalikan ke Madinah, kesepakatan ini disetujui oleh kedua belah pihak dan tidak boleh ada pengkhianatan atau pelanggaran. Ditambah lagi naskah perjanjian tersebut tidak diperbolehkan menggunakan kata الرحمن الرحيم hanya menggunakan بسم الله اللهم, dan tidak diperbolehkan menggunakan kata محمد رسول الله, tapi menggunakan محمد بن عبد الله.

Perjanjian itu menimbulkan pro dan kontra diantara para sahabat, dan yang paling kontras adalah sahabat Umar. Berbeda dengan sahabat Abu Bakar, beliau selalu mengamini apapun yang menjadi keputusan Rasulullah. Tetapi dibalik perjanjian itu terdapat hikmah yang memberikan kejayaan terhadap kaum muslimin, karena perjanjian itu pada dasarnya malah melemahkan kekuatan kaum Quraisy. Bayangkan saja, mereka memohon genjatan senjata selama sepuluh tahun, tidak diperbolehkan masuk Makah menggunakan senjata dan harus dikembalikanya orang Makah yang beriman yang datang ke Madinah. Itu adalah hal yang remeh sekali, karena tidak menutup dakwah islam bahkan dakwah dialihkan lebih luas ke wilayah selain Makah dan memungkinkan orang mukmin Makah untuk hijrah ke selain Madinah. Dari sinilah muncul bahwa maqam Abu Bakar yaitu maqam Shiddiqiyah lebih tinggi daripada maqam Umar, yaitu maqam ahlil ilham.

Ada beberapa sisi persamaan antara poin FDS dan Perjanjian Hudaibiyah.

Pertama, mereka takut dakwah dan pendidikan islam meluas terhadap kelompok tertentu dan mengabaikan yang lain, seolah-olah mereka melambaikan tangan tapi pada hakikatnya mereka menggiring dan mendorong aktivis muslim untuk mendirikan sekolah sendiri yang berbasis islam, karena program sekolah terpadu memang dibuat padat dan diisi dengan pendidikan agama, eksistensi sekolah model ini akan semakin menguat jika dikuatkan dengan peraturan mendikbud.

Kedua, akan semakin terlihat perbedaan antara mereka yang mengiginkan pendidikan dunia/formal atau agama. Akhirnya akan terbentuk garis yang memisahkan antara kaum formalis dan agamis. Tidak ada lagi model kaum agamis yang pemikiranya kanan kiri pro sekuler liberalis. Yang jika orang model ini bertahan dalam bingkai aswaja maka akan terus menggerogoti sampai ke akar-akarnya, lebih baik mereka pergi saja.

Ketiga, lebih jauhnya madin akan berubah menjadi lembaga pendidikan dibawah organisasi besar yang menaunginya yang selalu siap untuk mempertahankan substansinya, walaupun mempunyai bentuk dan badan yang berbeda. Seperti yang dinaungi oleh LP. Ma'arif misalnya.

Keempat, pembahasan FDS ini akan menyedot perhatian semua kalangan. Walaupun diantara mereka ada pro dan kontra. Tetapi dibalik itu semua kini nama Madin atau Madrasah Diniyah menjadi naik daun. Dan hal itu secara tidak langsung akan menyedot pemerhati dari berbagai kalangan untuk memberikan solusi jalan tengah, bahkan menyikapi hal ini presiden sendiri juga memberikan pernyataan untuk menengah-nengahi problemnya. Setidaknya masyarakat awam mulai paham betapa pentingya pendidikan agama bagi mereka, yang secara tidak langsung informasinya mereka terima. selain itu, informasi  kini bukan lagi informasi tetapi doktrin. Masyarakat awam selalu memandang ketokohan dan kelembagaan secara parsial tanpa melihat substansinya. Dan sekarang yang menolak secara besar-besaran adalah mereka yang berada di posisi MUI, NU dan Kemenag. Otomatis mereka akan lebih memihak keputusan NU daripada keputusan Kemendikbud.

Sunday, July 30, 2017

GUS DUR BELAJAR KEMANUSIAAN DARI SEHELAI KUTANG

GUS DUR BELAJAR KEMANUSIAAN DARI SEHELAI KUTANG

Dari KH Abdul Fattah Hasyim, Gus Dur belajar betapa kemanusiaan sama pentingnya dengan hukum.Menghukum peserta didik adalah jalan termudah, tapi hukuman harus selalu menjadi cara mendidik yang lain. Pelajaran sangat berharga didapatkan Gus Dur saat menjadi kepala keamanan sebuah pondok pesantren.

“Gus Dur seharusnya tidak melaksanakan cita-cita separatisme mereka. Hal ini bukanlah apa yang kita harapkan dari seorang presiden. Ia seharusnya mendorong persatuan dan pembangunan,” kata Akbar Tandjung dalam Biografi Gus Dur (2004: 447) saat mengomentari cara pandang Presiden K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terhadap krisis di Irian Jaya.

Tidak hanya Akbar Tandjung, sang Wakil Presiden, Megawati, juga mendukung kritik yang dilayangkan untuk Gus Dur. Hal tersebut terkait beberapa rencana Gus Dur untuk Irian Jaya. Seperti mengganti nama Irian Jaya yang sangat kental nuansa Orde Baru dengan nama Papua, sampai ucapan tentang simbol Bintang Kejora sebagai lambang kultural dan bukan ancaman.

“Bintang kejora itu bendera kultural. Kalau kita anggap sebagai bendera politik salah kita sendiri,” kata Gus Dur saat itu. “Sepakbola saja punya bendera sendiri,” lanjutnya.
Pandangan ini tentu memicu kontroversi. Setelah di periode Presiden BJ. Habibie, Timor Timur diberi referendum yang berakhir dengan kemerdekaan, pendekatan Gus Dur yang lebih lunak tergolong jadi hal baru pada era itu.

Bukannya menumpas habis para separatis, Gus Dur malah memberi napas, menganggapnya sebagai bagian dari budaya bangsa, bahkan malah mencoba merangkul bersahabat dengan sikap kemanusiaan. Sikap yang bagi banyak kalangan sangat bertentangan, karena justru menyemai benih-benih perpecahan bangsa.

Sepanjang sejarah, memang hanya Gus Dur Presiden Indonesia yang punya latar belakang santri. Akan tetapi, siapa sangka, justru dari pemikiran santri inilah lahir pengakuan agama Konghucu, tahun baru Imlek, sampai dengan yang paling kontroversialniatan mencabut TAP/MPRS 1966 soal ajaran marxisme-komunisme dan PKI serta berbagai implikasinya.

Semua karena alasan yang sederhana, rasa kemanusiaan. Dari siapa Gus Dur belajar punya pandangan seperti ini?
Setelah menempuh pendidikan pesantren di Tegalrejo, Magelang, dengan berguru pada Kiai Chudhori, Gus Dur diminta Kiai Haji Abdul Fattah Hasyim, pamannya, untuk membantu mengurus Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas di Jombang pada 1959. Usia Gus Dur saat itu sudah hampir 20 tahun. (Gus Dur, Siapa sih Sampeyan?, hal 20-21)
Setelah mendapat restu dari Kiai Chudhori, Gus Dur membantu Kiai Fattah mengurus pesantren sebagai kepala keamanan pondok. Cerita ini didengar dari hasil diskusi dengan kawan-kawan komunitas Gusdurian Jogja dan juga pernah diceritakan ulang oleh K.H. Anwar Zahid, penceramah terkenal dari Bojonegoro, Jawa Timur.

Diceritakan bahwa tugas Gus Dur sebagai kepala keamanan saat itu cukup sederhana. Yakni menindak santri yang melanggar peraturan, bahkan kalau perlu menghukum secara langsung. Dalam bahasa santri: "di-takzir”. Takzir dalam pondok pesantren ada level-levelnya. Digundul, disuruh membaca Alquran di halaman pesantren, menguras kamar mandi, sampai dengan level paling nakal adalah diusir dari pondok pesantren.

Saat Gus Dur menjadi bagian keamanan pesantren, ia punya satu santri yang luar biasa nakal. “Saya geregatan sama santri nakal itu,” kata Gus Dur. Hal itu bahkan sampai membuat Gus Dur “niteni” atau mengincar setiap kesalahan yang diperbuatnya karena begitu jengkel.
Bagaimana tidak jengkel jika kulit bedug di pesantren Tambakberas sering dipotong sedikit demi sedikit sampai membuatnya berlubang-lubang?
“Siapa ini ada orang berani-beraninya mencuri kulit bedug masjid?” kata Gus Dur.
Setelah diselidiki oleh bagian keamanan, akhirnya terjawab kenapa kulit bedug ini bisa hilang. Kulit bedug masjid yang terbuat dari kulit sapi asli ini dicuri salah satu santri. Setelah ketahuan siapa yang mencuri si santri dipanggil untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
“Kenapa kamu mencuri kulit bedug?” tanya Gus Dur, “Kamu jual ya? Biar dapat duit?”
Si santri menunduk diam saja.
Setelah didesak berulang kali akhirnya si santri menjawab, “Anu, Kang, digoreng buat lauk makan. Jadi krecek.”

Sontak saja Gus Dur malah tertawa mendengar alasan si santri mencuri kulit bedug masjid. Dengan alasan itu, Gus Dur tidak menindaklanjutinya dengan takzir berlevel keras. Si santri tetap dihukum, tapi masih pada level-level ringan.

Sayangnya, bukannya kapok, si santri ini tetap nakal. Salah satu bentuk kenakalannya adalah ia sering masuk ke kompleks pondok putri. Mengintip para santri putri. Masalahnya (baik Gus Dur maupun Kiai Anwar Zahid tidak menyebut nama si santri dalam ceramah), tidak pernah bisa ditemukan bukti-bukti yang bisa digunakan untuk melaporkan si santri kepada Kiai Fattah.

Kenapa harus dilaporkan ke Kiai Fattah dan tidak ditindak oleh Gus Dur sendiri?
Karena sudah jadi pandangan umum di pesantren, jika sebuah kasus pelanggaran sampai dibawa ke tingkat pengasuh, itu artinya pelanggaran yang dilakukan adalah pelanggaran tingkat tinggi. Dan hukuman yang menanti pun tingkatnya ada di level tertinggi pula, yaitu diusir dari pondok pesantren.
Karena selalu gagal dalam melakukan “operasi tangkap tangan”, Gus Dur akhirnya memilih cara alternatif untuk bisa menangkap santri nakal ini dengan bukti serta alasan yang cukup kuat. Dalam kesimpulan Gus Dur, jika suka mengintip perempuan, itu berarti pikiran bocah ini pasti mesum. Dan karenanya pasti ada sesuatu di dalam lemarinya yang menunjukkan kemesuman itu.

Akhirnya Gus Dur melakukan razia ke lemari-lemari santri putra. Benar saja, dalam lemari santri yang dimaksud, ditemukan sebuah kutang, yang setelah diselidiki memang salah satu kutang dari pondok putri. Gus Dur senang, karena dengan ini si santri akan mendapatkan hukuman tertinggi sesuai dengan hukum yang berlaku di pesantren.

Dengan bungah Gus Dur pun menghadap ke Kiai Fattah sambil membawa kutang sebagai alat bukti. Begitu sudah sampai ndalem (kediaman) Kiai Fattah, Gus Dur mengeluarkan kutang curian tersebut.
“Itu apa, Dur? Kenapa kamu bawa kutang kemari?” tanya Kiai Fattah heran.

“Pak Kiai, ini hasil curian salah satu santri putra. Namanya Fulan bin Fulan. Dia sering ngintip ke pondok putri. Di dalam lemarinya saya temukan bukti ini,” kata Gus Dur, “Saya sama teman-teman dari keamanan pondok sepakat, agar santri ini bisa segera dikeluarkan.”
“Oh, begitu,” kata Kiai Fattah.
“Santri ini nakal banget, Kiai,” kata Gus Dur kepada pamannya.
“Lho, santri nakal, kok, dilaporkan ke aku? Mau dikeluarkan lagi,” kata Kiai Fattah, “Kalau lapor ke aku, lapor santri yang sudah baik, sudah pintar, biar aku keluarkan dari pondok. Orang tua santri itu berharap anaknya pulang dari pondok biar jadi makin baik, bukan malah jadi tambah nakal,” tambah Kiai Fattah.
Mendengar jawaban itu, Gus Dur heran. “Lha, terus gimana ini Kiai?” tanya Gus Dur.
“Begini saja. Aku hargai musyawarah para pengurus keamanan. Karena kalian sudah sepakat untuk mengeluarkannya, ya sudah aku ya sepakat,” kata Kiai Fattah.
Gus Dur tersenyum senang mendengarnya.
“Keluar dari pondok, lalu masuk ke sini saja,” kata Kiai Fattah menunjuk kediamannya sendiri.
Gus Dur terkejut mendengarnya. “Maksudnya, Kiai?”
“Iya, dipindahkan ke sini. Ke ndalem. Rumahku. Kamu aturlah sama teman-temanmu. Pokoknya mulai hari ini santri itu dipindah ke sini,” kata Kiai Fattah menunjuk kediamannya sendiri.
Meski bingung dengan perintah pamannya, pada akhirnya Gus Dur tetap menurut. Mengeluarkan si santri dari pondok, tapi malah memasukkannya ke ndalem Kiai Fattah. “Bukannya dikeluarkan, malah naik pangkat ini santri,” komentar teman-teman si santri.

Pada akhirnya, karena kamarnya dekat dengan kamar Kiai Fattah, si santri jadi orang pertama yang selalu ditemui Kiai Fattah ketika bangun tidur, berangkat ngaji, sampai dengan salat tahajud.
Ketika Kiai Fattah mengajar ngaji, si santri disuruh membawakan kitab dan menandai halaman-halamannya. Hal itu tanpa sadar membuat si santri mau tidak mau ikut belajar mengaji tanpa bisa membolos satu kali pun. Karena sering harus menandai bagian yang akan dimulai dan yang diakhiri, ia jadi belajar membaca kitab kuning.

Selain itu, setiap Kiai Fattah akan salat, santri ini disuruh mempersiapkan tempat salat. Entah itu salat wajib atau pun sunah. Dengan pola seperti itu, akhirnya si santri terpaksa mengikuti laku hidup Kiai Fattah selama bertahun-tahun. Pada akhirnya, diawali dengan terpaksa, si santri jadi terbiasa dan benar-benar menjadi santri yang saleh.

“Baik secara syariat, akhlak, maupun aturan pondok pesantren, ngintip ke dalam pondok putri adalah pelanggaran yang tidak bisa dibiarkan,” kata Gus Dur.
Dari segala aspek hukum apapun si santri ini jelas salah. Dan keputusan Kiai Fattah benar-benar memberi pelajaran berharga bagi Gus Dur.

Jika Kiai Fattah hanya ikut apa kata hukum saat itu, si santri memang benar harus diusir, pesantren jelas tidak akan rugi, Kiai Fattah tidak akan repot. Hanya saja santri tersebut akan kehilangan peluang untuk bisa berubah menjadi orang yang lebih baik. Dengan langkah sederhana, Kiai Fattah menunjukkan bahwa ada yang lebih penting daripada sekadar mengikuti nalar hukum, yaitu mengikuti nalar kemanusiaan.

“Ternyata di atas hukum, masih perlu adanya rasa kemanusiaan,” kata Gus Dur.

Dari cerita versi K.H. Anwar Zahid, santri ini kemudian menjadi kiai yang punya santri cukup banyak. Dan suatu ketika, Gus Dur dan santri ini bertemu. Dengan akrab Gus Dur pun bertanya, “Yang kamu curi dulu warnanya apa, Nda?”
Keduanya pun tertawa terpingkal-pingkal. Tanpa menyadari, bahwa dari sanalah kemanusiaan untuk negeri ini lahir beberapa dekade tahun kemudian saat si kepala keamanan naik pangkat jadi kepala negara.

Like Fanpage ULAMA & KIAI Nusantara

Saturday, July 15, 2017

Jika Anak Sekolah Terlalu Dini

Jika Anak Sekolah Terlalu Dini
(Elly Risman, S. Psi)

1. Keyakinan umum...
* Otak anak usia dini seperti spons, artinya ini masa yg tepat untuk ditanamkan ilmu, agar anak tumbuh cerdas
* Semakin dini disekolahkan, otak anak semakin berkembang.

2. Sehingga...
Ada ortu yg menyekolahkan sedini mungkin, bahkan ada yg masuk prasekolah diusia 1,5-2 tahun.

3. Mari kita bercermin...
* Apakah kita begitu meyakini bahwa anak harus segera pintar agar siap menghadapi persaingan zaman?
* Apakah kita disiapkan mjd orang tua?
* Apakah memiliki bekal yang cukup dlm mengasuh?
* Bagaimana innerchild diri kita?

4. Betapa kita disiapkan untuk menjadi ahli namun tdk disiapkan jadi orangtua, shg tidak punya kesabaran & endurance utk jadi ortu.

5. Ilmu yg kita miliki untuk mengasuh pun serba tanggung.
Ilmu yg setengah-tengah, berujung pada false belief (keyakinan yg salah).
Sayangnya false belief ini dpt berubah menjadi societal false belief (keyakinan yg salah pd sekelompok orang).
Jika ortu tdk memiliki kemampuan berpikir (thinking skill) yg baik, false belief akibat ilmu yg serba tanggung itu jd pembenaran bersama atas keputusan kita yg keliru.

6. Pintar ada waktunya!
Karena yg berkembang adalah pusat perasaan, anak usia dini hrs jadi anak yg bahagia, bukan jd anak yg pintar!

7. Kita berpikir...
"Kan di sekolah belajarnya sambil bermain"
"Kan anak perlu belajar sosialisasi"
"Kan anak jd belajar berbagi & bermain bersama"
Padahal...
* Anak usia dini belum perlu belajar sosialisasi dg beragam orang
* Saat anak diusia dini, otak anak yg paling pesat berkembang adl pusat perasaannya, bukan pusat berpikirnya.

8. Di sekolah, kegiatan anak hanya bermain kok!
Taukah ayah bunda, permainan terbaik adalah tubuh ayah ibunya! Bermain dg ayah ibu jga menciptakan kelekatan. Misal: bermain peran, bermain pura-pura, muka jelek, petak umpet.

9. Di sekolah, mainan lebih lengkap.
Permainan paling kreatif adalah bermain tanpa mainan. Jangan batasi kreatifitas anak dg permainan yg siap pakai.
Contoh: karpet jadi mobil, panci jadi topi.

10. Di sekolah, anak belajar bersosialisasi & berbagi.
Anak <5 th blm saatnya belajar sosialisasi. Ia blm bisa bermain bersama. Mereka baru bisa bermain bersama-sama.
Bermain bersama-sama= bermain diwaktu & tempat yg sama namun tdk berbagi mainan yg sama (menggunakan mainan masing2)
Bermain bersama= bermain permainan yg membutuhkan berbagi mainan yg sama.

11. Di sekolah, anak belajar patuh pada aturan & mengikuti instruksi.
Aturan & instruksi perlu diterapkan setahap demi setahap. Jika di rumah ada aturan, di sekolah ada aturan, berapa banyak aturan yg harus anak ikuti? Apa yg dirasakan anak?
Analogi: Seorang anak <5 thn yg sangat berbakat dlm memasak, dimasukkan ke sekolah memasak. Di sekolah itu, dia diajari berbagai aturan memasak yg banyak, dilatih oleh beberapa instruktur sekaligus. Yg dirasakan anak: pusing!

12. Memasukkan sekolah anak terlalu dini, sama seperti menyemai benih kanker.
Kita tidak tahu kapan kanker akan muncul & dlm jenis apa.
Otaknya belum siap. Kita tidak pernah tahu kapan ia kehilangan motivasi belajar.
Semakin muda kita sekolahkan anak, semakin cepat pula ia mengalami BLAST (Bored Lonely Afraid-Angry Stress Tired).
anak yg mengalami BLAST, lebih rentan mjd pelaku & korban bullying, pornografi & kejahatan seksual.

13. Jika si adik ingin ikut kakaknya sekolah...
Sekolah itu bukan karena ikut-ikutan. Anak harus masuk masa teachable moment, krn memang ada anak yg mampu sekolah lebih cepat dr ketentuan umum yg berlaku. Ortu harus mampu mengendalikan keinginan anak. Kendali ada ditangan ortu, krn otak anak belum sempurna bersambungan.

14. Ciri anak memasuki masa teachable moment.
* Menunjukkan minat utk sekolah
* Minat tersebut bersifat menetap
* Jika kita beri kesempatan untuk bersekolah, ia menunjukkan kemampuannya.

15. Kapan sebaiknya anak masuk sekolah?
* TK A → usia 5 th
* TK B → usia 6 th
* SD → usia 7 th
Dibawah usia 5 th, anak tdk perlu bersekolah.

Kebutuhan anak 0-8 tahun adalah bermain & terbentuknya kelekatan.
Jangan kau cabut anak2 dari dunianya terlalu cepat, krn kau akan mendapatkan orang dewasa yg kekanakan. -Prof. Neil Postman, The Disappearance Childhood-

Sumber: Yayasan Kita & Buah Hati

*Copas dari grup PU*

Wednesday, July 12, 2017

Mooryati Soedibyo, Dian Sastro, dan Metakognisi Susi Pudjiastuti

Mohon izin share tulisan Prof. Renald Kasali

*Mooryati Soedibyo, Dian Sastro, dan Metakognisi Susi Pudjiastuti*

Oleh Prof. Rhenald Kasali

Saya kebetulan mentor bagi dua orang ini: Dian Sastro dan Mooryati Soedibyo. Akan tetapi, pada Susi Pudjiastuti yang kini menjadi menteri, saya justru belajar.

Ketiganya perempuan hebat, tetapi selalu diuji oleh sebagian kecil orang yang mengaku pandai. Entah ini stereotyping, atau soal buruknya metakognisi bangsa. Saya kurang tahu persis.

Mooryati Soedibyo

Sewaktu diterima di program doktoral UI yang pernah saya pimpin, usianya saat itu sudah 75 tahun. Namun, berbeda dengan mahasiswa lain yang datang pakai jins, dia selalu berkebaya. Anda tentu tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk berkebaya, bukan?

Akan tetapi, ia memiliki hal yang tak dimiliki orang lain: self discipline. Sampai hari ini, dia adalah satu-satunya mahasiswa saya yang tak pernah absen barang sehari pun. Padahal, saat itu ia salah satu pimpinan MPR.
Memang ia tampak sedikit kewalahan "bersaing" dengan rekan kuliahnya yang jauh lebih muda. Akan tetapi, rekan-rekan kuliahnya mengakui,  kemajuannya cepat. Dari bahasa jamu ke bahasa strategic management dan science yang banyak aturannya.

Teman-teman belajarnya bersaksi: "Pukul 08.00 malam, kami yang memimpin diskusi. Tetapi pukul 24.00, yang muda mulai ngantuk, Ibu Moor yang memimpin. Dia selalu mengingatkan tugas harus selesai, dan tak boleh asal jadi."

Masalahnya, ia pemilik perusahaan besar, dan usianya sudah lanjut. Ada stereotyping dalam kepala sebagian orang. Sosok seperti ini jarang ada yang mau kuliah sungguhan untuk meraih ilmu. Nyatanya, kalangan berduit lebih senang meraih gelar doktor HC (honoris causa) yang jalurnya cukup ringan.

Akan tetapi, Mooryati tak memilih jalur itu. Ia ingin melatih kesehatan otaknya, mengambil risiko dan lulus 4 tahun kemudian. Hasil penelitiannya menarik perhatian Richard D’aveni (Tuck School-USA), satu dari 50 guru strategi teratas dunia. Belakangan, ia juga sering diminta memaparkan kajian risetnya di Amerika Serikat, Belanda, dan Jerman.

Meski diuji di bawah guru besar terkemuka Prof Dorodjatun Kuntjoro Jakti, kadang saya masih mendengar ucapan-ucapan miring dari orang-orang yang biasa menggunakan kacamata buram dan lidahnya pahit. Ada saja orang yang mengatakan ia "diluluskan" dengan bantuan, "sekolahnya hanya dua tahun", dan seterusnya. Anehnya, kabar itu justru beredar di kalangan perempuan yang tak mau tahu keteladanan yang ia tunjukkan. Kadang ada juga yang merasa lebih tahu dari apa yang sebenarnya terjadi.

Akan tetapi, ada satu hal yang sulit mereka sangkal. Perempuan yang meraih doktor pada usia 79 tahun ini berhasil mewujudkan usahanya menjadi besar tanpa fasilitas. Perusahaannya juga go public. Padahal, yang menjadi dosennya saja belum tentu bisa melakukan hal itu, bahkan membuat publikasi ilmiah internasional saja tidak. Namun, Bu Moor juga berhasil mengangkat reputasi jamu di pentas dunia.

Dian Sastro

Dia juga mahasiswi saya yang keren. Sewaktu diterima di program S-2 UI, banyak juga yang bertanya: apa benar artis mau bersusah payah belajar lagi di UI?

Anak-anak saya di UI tahu persis bahwa saya memang cenderung bersahabat, tetapi mereka juga tahu sikap saya: "no bargain on process and quality".

Dian, sudah artis, dan sedang hamil pula saat mulai kuliah. Urusannya banyak: keluarga, film, dan seabrek tugas. Namun lagi-lagi, satu hal ini jarang dimiliki yang lain: self discipline. Ia tak pernah abai menjalankan tugas.
Sebulan yang lalu, setelah lulus dengan cum laude dari MM UI, ia berbagi pengalaman hidupnya di program S-1 pada kelas yang saya asuh.

"Saat ayah saya meninggal dunia, ibu saya berujar: kamu bukan anak orang kaya. Ibu tak bisa menyekolahkan kalau kamu tidak outstanding," ujarnya.

Ia pun melakukan riset terhadap putri-putri terkenal. Di situ ia melihat nama-nama besar yang tak lahir dari kemudahan. "Saya tidak cantik, dan tak punya apa-apa," ujarnya.

Dengan uang sumbangan dari para pelayat ayahnya, ia belajar di sebuah sekolah kepribadian. Setiap pagi, ia juga melatih disiplin, jogging berkilo-kilometer dari Jatinegara hingga ke Cawang, ikut seni bela diri. "Mungkin kalian tak percaya karena tak pernah menjalaninya," ujarnya.

Itulah mental kejuangan, yang kini disebut ekonom James Heckman sebagai kemampuan nonkognisi. Dian lulus cum laude dari S-2 UI, dari ilmu keuangan pula, yang sarat matematikanya. Padahal, bidang studi S-1 Dian amat berjauhan: filsafat.

Metakognisi Susi

Sekarang kita bahas menteri kelautan dan perikanan yang ramai diolok-olok karena "sekolahnya". Beruntung, banyak juga yang membelanya.

Khusus terhadap Susi, saya bukanlah mentornya. Ia terlalu hebat. Ia justru sering saya undang memberi kuliah. Dia adalah "self driver" sejati, yang bukan putus sekolah, melainkan berhenti secara sadar. Sampai di sini, saya ingin mengajak Anda merenung, adakah di antara kita yang punya kesadaran dan keberanian sekuat itu?

Akan tetapi, berbeda dengan kebanyakan orangtua yang membiarkan anaknya menjadi "passenger", ayah Susi justru marah besar. Pada usia muda, di pesisir selatan yang terik, Susi  memaksa hidup mandiri. Ditemani sopir, ia menyewa truk dari Pangandaran, membawa ikan dan udang, dilelang di Jakarta. Hal itu dijalaninya selama bertahun-tahun, seorang diri.
Saat saya mengirim mahasiswa pergi "melihat pasar" ke luar negeri yang terdiri dari tiga orang untuk satu negara, Susi membujuk saya agar cukup satu orang satu negara. Saya menurutinya (kisah mereka bisa dibaca dalam buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor).

Dari usaha perikanannya itu, ia jadi mengerti penderitaan yang dialami nelayan. Ia juga belajar seluk-beluk logistik ikan, menjadi pengekspor, sampai terbentuk keinginan memiliki pesawat agar ikan tangkapan nelayan bisa diekspor dalam bentuk hidup, yang nilainya lebih tinggi. Dari ikan, jadilah bisnis carter pesawat, yang di bawahnya ada tempat penyimpanan untuk membawa ikan segar.

Dari Susi, kita bisa belajar bahwa kehidupan tak bisa hanya dibangun dari hal-hal kognitif semata yang hanya bisa didapat dari bangku sekolah. Kita memang membutuhkan matematika dan fisika untuk memecahkan rahasia alam. Kita juga butuh ilmu-ilmu baru yang basisnya adalah kognisi. Akan tetapi, tanpa kemampuan nonkognisi, semua sia-sia.

Ilmu nonkognisi itu belakangan naik kelas, menjadi metakognisi: faktor pembentuk yang paling penting di balik lahirnya ilmuwan-ilmuwan besar, wirausaha kelas dunia, dan praktisi-praktisi andal. Kemampuan bergerak, berinisiatif, self discipline, menahan diri, fokus, respek, berhubungan baik dengan orang lain, tahu membedakan kebenaran dengan pembenaran, mampu membuka dan mencari "pintu" adalah fondasi penting bagi pembaharuan, dan kehidupan yang  produktif. 

Manusia itu belajar untuk membuat diri dan bangsanya tangguh, bijak mengatasi masalah, mampu mengambil keputusan, bisa membuat kehidupan lebih produktif dan penuh kedamaian. Kalau cuma bisa membuat keonaran dan adu pandai saja, kita belum tuntas mengurai persepsi, baru sekadar mampu mendengar, tetapi belum bisa menguji kebenaran dengan bijak dan mengembangkannya ke dalam tindakan yang produktif.

Ketiga orang itu mungkin tak sehebat Anda yang senang melihat kecerdasan orang dari pendekatan kognitif yang bermuara pada angka, teori, ijazah, dan stereotyping. Akan tetapi, saya harus mengatakan, studi-studi terbaru menemukan, ketidakmampuan meredam rasa tidak suka atau kecemburuan pada orang lain, kegemaran menyebarkan fitnah dan rasa benar sendiri, hanya akan menghasilkan kesombongan diri.

Anak-anak kita pada akhirnya belajar dari kita, dan apa yang kita ucapkan dalam kesaharian kita juga akan membentuk mereka, dan masa depan mereka.

Friday, May 19, 2017

10 Pemikiran Cak Nun Yang Revolusioner

"10 Pemikiran Cak Nun Yang Revolusioner"

Sebenarnya ini adalah rangkuman dari tulisan soal Cak Nun terdahulu. Saya ambil sepuluh pemikiran saja yang paling menginspirasi. Lha wong sepuluh saja males bacanya apalagi sampai seratus, alaa raimu. Yo wis lah, semoga bisa jadi bahan renungan.

1. Negara Hukum Itu Rendah.
Hukum itu paling rendah. Di atas hukum itu ada akhlak, di atas akhlak ada taqwa, karomah, kemuliaan dan seterusnya. Jangan pernah sebuah negara jadi negara hukum. Harus kalau bisa jadi negara akhlak atau moral. Kalau negara hukum, ada orang mati di jalan, anda lewati (tidak menolong), tidak masalah menurut hukum, tapi salah menurut akhlak.

Ada orang kecelakaan anda tidak tolong, tidak masalah menurut hukum. Ada orang lapar tidak anda kasih makan, tidak masalah menurut hukum, tapi salah menurut akhlak. Maka negara hukum itu rendah. Hukum itu hanya jalan kalau ada aparatnya. Sialnya banyak aparat yang malah suka mengancam : “Wani piro!?”

Rakyat sekarang tidak punya parameter berpikir yang benar. Rakyat dgn bodoh menyelesaikan semua urusan pada negara. Baik dan buruk diserahkan pada hukum, itu bodoh! Hukum itu tidak mampu mengurusi kebaikan dan kebenaran sampai tingkat yang diperlukan manusia. Hukum itu tahunya satu level kecil, orang nyopet yang dilihat nyopetnya, dia tidak pernah bertanya kenapa nyopet.

Kewajiban negara menghukum secara hukum (yuridis), masyarakat menghukum secara kebudayaan dan moral. Tapi sekarang hukuman kebudayaan dan moral ini sudah tidak dipegang oleh rakyat. Ingat penyanyi cowok yang terlibat kasus penyebaran video cabul dirinya dengan sejumlah artis, setelah keluar penjara malah dielu-elukan, dicium tangannya, jadi bintang besar.

2. Surga Itu Nggak Penting
Kalau orang cari surga mungkin akan dapat surga, tapi surganya tidak seindah kalau tujuannya Tuhan. Sebab kalau dia cari Tuhan pasti dapat surga. Tauhid itu menyatukan diri dengan Tuhan, bukan dengan surga. Surga itu efek akibat, pelengkap penderita dari penyatuan kita dengan Tuhan.

“Surga nggak penting”, itu cuman ungkapan, tidak ada maksud meremehkan surga. Surga tetap penting. Cak Nun tidak anti surga. Itu ungkapan orang yang level imannya di atas rata-rata. Ibadahnya dalam rangka bersyukur (merdeka), bukan karena minta imbalan dan takut neraka. Bukan seperti kita yang Shalat Dhuha berharap jadi PNS, naik haji berharap dagangannya laris, sedekah Avanza berharap dapat kembalian Alphard, Tuhan diperlakukan sebagai mitra bisnis.

3. Hak Asasi Manusia Itu Menipu
Hanya Tuhan yang punya hak, manusia punyanya hanya kewajiban. Satu-satunya hak manusia adalah memilih pemimpin saat Pemilu. Seseorang punya hak di masyarakat atau negara karena punya ‘saham’. Orang yang tidak bayar pajak, tidak punya andil di masyarakat, dia tidak punya hak apa pun di masyarakat. Jadi yang benar itu bukan Hak Asasi Manusia tapi Wajib Asasi Manusia.

Hak Asasi Manusia adalah ideologi yang Anti Tuhan. Atas nama Hak Asasi, orang boleh menikah dengan sesama jenis, bahkan dengan hewan. Manusia begitu menyanjung kebebasan. Padahal kebebasan adalah jalan menuju batasan. Kalau manusia tidak tahu batasannya, mereka akan jadi binatang, bahkan lebih rendah.

Jadi, kita nggak butuh ideologi HAM yang diadopsi dari Barat itu. Kita punya Hukum Negara maupun Hukum Adat untuk mengatasi pelanggaran hukum apa pun.

4. Kita Semua Sesat
Kalau ada orang yang ngakunya paling benar dan lurus itu berarti dia sombong. Lha wong semua Nabi saja ngakunya dzalim kok. Walau dijamin surga, semua Nabi tidak pernah menyombongkan ilmu dan imannya.

Kalau kamu sudah merasa sudah benar dan lurus, jangan mendatangi pengajian. Pengajian itu tempatnya orang yang merasa salah, merasa masih sesat, merasa rapuh imannya, merasa sedikit ilmunya. Penganjian itu bukan mengajari, tapi kumpulan manusia yang bersama-sama mencari derajat yang lebih tinggi di hadapan Allah.

Tiap hari seorang muslim diwajibkan selalu membaca doa dalam Shalat, “ihdinas siratal mustaqim” (tunjukan kami jalan yang lurus). Artinya, walaupun sudah shalat, puasa, zakat dan haji, tetap kita masih butuh petunjuk ke jalan yang lurus.

Kebenaran (sejati) itu tidak ada, yang bisa dilakukan manusia itu sebisa mungkin menuju kebenaran. Kebenaran itu ada 3 : benarnya diri sendiri, benarnya orang banyak dan kebenaran sejati. Dan yang bikin kita bentrok itu karena seseorang atau umat ngotot dengan benarnya sendiri.

Jadi nggak usah sombong dengan madzhabmu, sektemu, aliranmu. Islamnya NU, Muhammadiyah, LDII, MTA, dan lain-lainnya itu tidak ada yang betul-betul benar, semua dalam rangka mencari Islamnya Rasulullah.

5. Tidak Ada Tafsir yang Betul-betul Benar
Suara kokok ayam versi orang Madura itu “kukurunuk”, orang Sunda “kongkorongkong, orang Jawa “kukuruyuk”. Yang benar yang mana? semuanya salah. Yang benar adalah taruh ayamnya di tengah ketiga orang tadi dan sama-sama mendengar suara kokok ayamnya.

Jarak antara kokok ayam dengan kita menirukan suara kokoknya itu namanya tafsir. Tafsir itu melahirkan madzhab dan pengelompokan-pengelompokan. Itu karena pendengaran tiap orang berbeda terhadap suara kokok ayam.

Kita harus saling menyadari bahwa yang benar itu ayamnya bukan kokoknya. Antara tafsir ‘kukuruyuk’, ‘kukurunuk’ dan ‘kongkorongkong’ harus saling menyadari kelemahan masing-masing sehingga tercipta toleransi. Kalau nganggap benarnya sendiri, egois atau egosentris dengan tafsirnya sendiri maka akan terjadi bentrok.

Jadi, tidak ada tafsir yang betul betul benar. Anda boleh menafsirkan menurut pikiranmu yang penting itu membuatmu menjadi lebih dekat, lebih cinta pada agama dan Tuhanmu. Dan tentu saja tidak menimbulkan kemudharatan umat.

Sebenarnya menafsirkan Al Qur’an itu hanya bisa dilakukan oleh ahli tasfir, kita sebagai orang awam bisanya hanya tadabbur, mencari manfaat dari pergaulan kita dengan nilai-nilai Islam (terutama Al Qur’an). Parameter keberhasilannya adalah yang penting kita menjadi lebih baik sebagai manusia.

Paham atau nggak paham itu bukan parameter. Benar atau tidak benar pemahamanmu itu juga bukan parameter. Parameternya adalah setelah kamu baca dan mencintai Al Quran kamu menjadi lebih dekat pada Allah apa tidak, lebih beriman apa tidak, kamu lebih baik menjadi manusia apa tidak.

6. Ucapan Ulama Itu Bukan Kebenaran
Ucapan Ulama, Kyai atau Ustadz itu bukan kebenaran, tapi tafsir. Saya sudah bahas tadi bahwa tidak ada tafsir yang betul-betul benar. Jadi ucapan ulama kayak apa pun itu tidak mutlak benar. Yang pasti benar itu Al Quran, bukan tafsir yang diucapkan Ulama atau siapa pun.

“Yang saya omongkan tidak harus anda anut. karena anda berdaulat atas diri anda sendiri, anda bertanggung jawab atas diri anda sendiri di hadapan Allah. Jadi setiap keputusan, langkah, pikiran dan sikap anda harus berasal dari anda sendiri karena nanti tanggung jawabnya juga anda sendiri. Saya bukan makelar umat! ” Kata Cak Nun.

“Saya tidak bisa mempertanggungjawabkan kelakuan anda. Saya bukan Nabi Muhammad. Kalau Muhammad harus ditaati, karena bisa menolong kita. Sedangkan saya tidak bisa menolong anda. Tugas Ulama itu mempopulerkan Rasulullah, jangan sampai lebih populer dari Rasulullah, ” lanjutnya.

Apakah Kyai, Ulama, Ustadz bisa menyelamatkan kamu? tidak bisa. Begitu juga dengan pemuka agama yang lain, tidak bisa menyelamatkan kita. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan kamu sendiri di hadapan Allah. Maka kalau kamu beribadah pada Allah jangan ada siapa-siapa (antara kamu dan Allah).

Jadi jangan taat pada Ulama, Kyai, Ustadzmu. Bahkan pada orang tua sendiri pun nggak harus taat kok. Pada orang tua kita hanya diwajibkan berbuat baik. Walau wujud berbuat baik itu adalah taat, tapi hakikatnya taat itu hanya pada Allah.

—“Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu. Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu. Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu. Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri.­­…..” (Kahlil Gibran)–­­­­­-

“Jangan pernah punya keputusan yang tidak otentik pada diri anda. Artinya kalau shalatmu itu ya shalat kamu dan Allah, itu otentik. Bukan kamu plus Cak Nun, plus Kyai, plus Ustadz, plus Ulama dan Allah, ” kata Cak Nun.

“Jangan mau ditipu oleh siapapun yang menghadir-hadirkan Tuhan kepadamu. Yang menghalang-halangi hubunganmu dengan Allah. Jangan percaya kepada Cak Nun, Kyai, Ustadz atau siapapun. Itu hak pribadimu untuk menemukan Tuhanmu dengan gayamu dan caramu, ” kata Cak Nun lagi.

7. Kemuliaan Itu Melakukan Kewajiban yang Tidak Disukai
Kita selalu menjawab “Suka!” saat ditanya, “kamu suka puasa Ramadhan nggak?” Padahal tidak ada seorang pun yang suka puasa. Orang melakukan puasa itu karena perintah wajib. Tuhan sengaja mewajibkan puasa karena manusia tidak suka. Kalau manusia sudah suka, ngapain diwajibkan.

Justru baik kalau orang yang tidak suka puasa tapi tetep puasa. Apa hebatnya melakukan puasa kalau sudah suka puasa. Yang gemblung itu yang puasa tapi mencari jalan bagaimana caranya agar tidak merasa lapar. Dengan cara minum suplemen atau cara lain. Lha wong puasa itu agar kita merasa lapar, mencicipi penderitaan orang miskin. Cuman mencicipi, nggak merasakan benar susahnya jadi orang kere yang paginya sahur sorenya nggak pasti berbuka.

Nggak cuman puasa, sepertinya semua ibadah wajib nggak ada yang kita suka. Cobalah untuk jujur pada diri kamu sendiri. Nggak papa nggak suka, asal tetap ikhlas melakukan ibadah tersebut dengan baik. Itu lah kemuliaan. Letak kemuliaan itu melakukan hal yang tidak disukai tapi tetap ikhlas melakukannya, karena tahu kewajiban dari Tuhan itu pasti baik dan bermanfaat.

Jadi, jujurlah kalau sebenarnya kamu tidak suka menjalankan kewajiban ibadah.

8. Melayani Umat Bukan Dagang
Allah ‘membeli’ sembahyang, pelayanan dan cinta kita padaNya. Ongkosnya adalah segala macam rahmat dan berkah alam semesta yang dihamparkan pada kita. Jadi Allah sangat menjual murah rahmatNya itu hanya agar kita shalat, puasa dan lainya. Tapi Allah tidak menjual martabat (harga diri) Nya.

Kehancuran manusia sekarang itu karena di setiap bidang tidak diurai mana hal yang boleh dijual dan mana yang tidak boleh dijual. Guru mengajar itu bukan jualan ilmu. Dia menerima gaji karena waktu, energi yang dipakai si guru saat mengajar, bukan karena ilmu dan martabatnya. Martabat tidak boleh dijual.

Dokter menyembuhkan orang sakit itu bukan peristiwa dagang. Pasien membayar dokter itu yang dibayar obatnya, waktu dan energi si dokter, juga ikut urunan alat dan sarana yang dibeli dokter untuk menyembuhkan pasien.

Ustadz, Motivator dan sejenisnya, jangan pasang tarif. Pekerjaan memotivasi, mengajari, menyemangati, mencerahkan, mencerdaskan orang itu melayani umat, bukan jualan ilmu dan martabat. Kalau kita membayar Ustadz, itu karena kita menghargai waktu dan energi si Ustadz saat menyampaikan ilmunya.

Kalau mengajar, mengajarlah yang baik. Kalau menulis, menulislah yang beneran, nggak usah mikir tarif. Bahkan jualan nasi pun, nggak perlu dipikir labanya tapi bagaimana caranya bikin nasi yang baik dan sehat, jualan yang sopan, bertanggung jawab pada pembeli, pasti akan dapat rejeki.

9. Belajarlah Memilih Pemimpin, Bukan Dipilih
Pemimpin yang baik itu yang diajukan rakyat, yang didorong-dorong agar maju jadi pemimpin, bukan mereka yang mencalonkan diri. Seperti juga Imam Shalat, Imam yang baik itu yang diajukan oleh makmum, bukan diri sendiri yang mengajukan dirinya jadi imam. Sampeyan iku sopo mas?

Di Al Qur’an tidak ada perintah untuk menjadi pemimpin (yang ada hanya kriteria pemimpin). Yang disuruh Allah belajar adalah memilih pemimpin. Jadi urusannya adalah memilih, bukan dipilih. Kalau ada debat “Bagaimana supaya dipilih jadi pemimpin” itu berarti menyalahi Al Qur’an.

Manusia itu harusnya bisa rumangsa, bukan rumangsa bisa. Kita itu hamba Tuhan, kita punya muka, punya malu, punya martabat. Tapi kita sudah terlanjur mempermalukan diri dengan proses yang ada selama ini. Seharusnya sejak awal pemimpin itu sudah tumbuh secara natural, sosial, kultural.

“Rumus saya : barang siapa yang masih mencalonkan diri (jadi pemimpin), saya sudah tidak percaya lagi pada dia. Kalau negeri ini masih hidup dengan orang yang mencalonkan diri, negeri ini bakalan hancur, ” kata Cak Nun.

10. Jangan Sampai Diperalat Sekolah
Belajar boleh pada apa dan siapapun. Nggak masalah mempelajari Fir’aun, Hitler, Che Guevara, Fidel Castro. Semua yang ada di dunia ini adalah cahaya ilmu. Selama kita dewasa, kita nggak akan gampang ‘masuk angin’ oleh kalimat kayak apapun. Yang penting nggak mudah terseret untuk menyalahkan atau membenarkan. Ambil saja makna dan manfaatnya. Simpan yang baik, tendang jauh-jauh yang mblendes.

Kalau kita cermati saat bayi baru lahir. Kok si bayi ini menggerak-gerakan mulutnya, bisa tahu tempat dan caranya menyusui. Kok bisa anak kucing yang masih merah bisa tahu puting susu induknya. Maka sebenarnya pendidikan itu jangan ge-er, guru itu tidak bisa mengajari orang, guru itu bisanya menemani. Agar murid punya bahan dalam rangka meneliti dirinya sendiri. Kalau kita tidak tahu diri kita ini siapa, bagaimana kita tahu kemampuan kita.

Kalau nggak tahu kita ini kiper apa penyerang, maka saat di lapangan sepakbola, kita bakalan kebingungan, aku iki lapo nang kene? Kalau kucing jangan diajari menggongong. Kalau kambing jangan diajari terbang. Maka kenali dirimu, barang siapa mengenali dirinya sesungguhnya ia mengenali Tuhannya.

Kalau kamu bernama Paimo. Apa kamu itu memang Paimo? Itu khan nama yang diberikan bapakmu. Kalau kamu menamai dirimu sendiri, pasti bukan Paimo. Jadi dirimu itu bukan Paimo, bukan Markeso, bukan semua itu. Dirimu dijadikan tertutup. Begitu kamu punya orang tua, begitu masuk sekolah TK sampai kuliah, kamu ditutupi. Tugas sekolah adalah membuka tabir siapa dirimu, memberikan alat supaya mengenal dirimu. Tapi, sekolah malah menutup-nutupi dan malah ditambahi sarjana anu, ditambah doktor, ditambah kepala dinas, dsb.

“Kamu itu harus jadi tuan, sekolah itu alat anda, jangan sampai diperalat sekolah. Andai kamu perlu ijazah, oke no problem, ikutilah aturan sampai mendapatkan ijazah. Tapi tidak ada hubungannya dengan cari ilmu. Kalau cari ilmu ya banyak tempatnya, tidak hanya di sekolah. Kuliah itu mencari ijazah untuk membahagiakan orang tuamu. ” kata Cak Nun yang pendidikannya hanya sampai semester satu Fakultas Ekonomi UGM tapi otaknya nggak kalah dengan Profesor yang paling top.

Jadi jangan salah niat. Kalau niatnya mencari ilmu, goblok! Kita bersekolah itu biar punya sertifikat buat mencari pekerjaan. Sekolah itu tidak mengenal Tuhan. Tuhan tidak diakui secara akademis. Karena Tuhan tidak bisa diteliti, didata, dianalisis dan disimpulkan. Segala sesuatu yang tidak memenuhi persyaratan akademis (nggak ilmiah) itu tidak diterima. Jadi semua universitas itu sebenarnya atheis!

Jangan terjajah oleh dunia pendidikan. Penting mana anda sekolah atau belajar? Anda ‘diperalat’ sekolah atau anda ‘memperalat’ sekolah? Anda bergantung pada sekolah ataukah sekolah yang tergantung pada anda? Terhadap pendidikan, jadikan anda subyek dari sekolah, bukan obyek sekolah.

******
Sebenarnya masih banyak pemikiran Cak Nun yang dahsyat, tapi jujur, saya capek nulisnya, enak awakmu moco tok. Lagian anda juga pasti males bacanya, ngaku saja. Saya sudah beberapa kali nulis pemikiran-pemikiran Cak Nun. Banyak bajingan internet yang mengcopy paste (seluruh tulisan atau cuman satu dua kalimat) tanpa ijin, tanpa menyertakan nama penulis dan link.

Tulisan saya dulu yang “Surga Itu Nggak Penting” dicopy paste oleh beberapa situs nggak jelas, inisial penulisnya diganti bukan saya, tapi Cak Nun. Sehingga orang mengira Cak Nun sendiri yang nulis. Akibatnya, Cak Nun (seharusnya saya) dicibir banyak pembaca yang hati dan pikirannya nggak luas, yang memahami pemikiran Cak Nun dengan sangat gemblung dan sempit.

Friday, April 28, 2017

Nasihat untuk kyai

Pesan dan Nasihat..
"KH. Hasan Abdullah Sahal"

1. Kalau pondok ingin berkembang dan maju, maka pimpinan, pengasuh harus fokus pada santri dan pesantrennya, dan harus punya "sibghoh" ke-kiai-an.

2. Berdasarkan pengalaman Gontor dan pengamatan puluhan tahun terhadap pondok-pondok alumni maka sebaiknya untuk para Kiai pesantren:
- Kiai jangan di bawah Yayasan
- Kiai jangan nyambi PNS
- Guru-guru jangan pula nyambi PNS
- Kiai jangan banyak kegiatan di luar (dakwah, gerakan politik praktis, dan bisnis)
- Kiai harus mengajar santri
- Kiai jangan magang Bupati/legislatif
- Kiai jangan ikutan partai
- Rumah Kiai jangan kelihatan megah seperti istana, kalau perlu tidak lebih baik daripada asrama santri
- Keuangan administrasi pondok harus profesional, jangan dipegang Bu Nyai.

3. Kecepatan kemajuan pondok diantaranya adalah sesuai kadar diwakafkannya, juga kadar keikhlasannya. Bila statusnya wakaf 100% dan ditunjang keikhlasan yang tinggi, Insya Allah akan berkembang dan maju. Tetapi, jika setengah-setengah, maka setengah-setengah pula perkembangan dan kemajuannya.

4. Pondok bukan lembaga pergerakan praktis, akan tetapi lembaga pendidikan. Fokus mendidik dan mengasuh anak-anak dan menyiapkan mereka untuk menjadi "mundzirul qaum".

Maka, anak-anak harus dididik "tafaqquh fid-din" (mendalami ilmu agama) di pondok supaya bisa menjadi "mundzirul qaum" (penyeru umat). Sebab, sekarang ini yang terjadi "mundzirul qaum" nya "ghoiru mutafaqqih fid-din". Ini kecelakan besar untuk umat dan bangsa. Kalau pondok meninggalkan sibghoh ini sebagai tempat "tafaqquh fid-din" lalu siapa yang akan mengambil peran ini?

5. Di pondok itu Kiai mendidik kehidupan, bukan sekedar mengatur kehidupan. Mengatur kehidupan itu seperti menejer, direktur, yang penting ada sistem dan SOP tinggal jalankan.

Akan tetapi mendidik kehidupan itu ketekunan, keikhlasan, keteladanan dan keterpanggilan yang dilandasi oleh nilai-nilai, jiwa, falsafah hidup dan sakralitas.

Bukan sekedar mengatur bagaimana santri makan, tidur dan sekolah, akan tetapi mendidik mereka cara makan yang benar, cara tidur yang benar, cara belajar yang benar dengan niat dan orientasi yang lurus. Dan itu bukan sekedar diomongkan, tetapi diteladankan. Itulah mendidik.

6. Di pondok itu jangan berfikir apa dan berapa yang didapat: saya dapat apa? keluarga dan anak saya dapat apa? fasilitas apa? itu namanya sampah perjuangan. Yang berlaku di pondok adalah: apa yang bisa aku lakukan untuk santri dan pesantren?

Tidak ada transaksi materialistik, tidak ada kontrak-kontrakan, karena semua yang di pondok ini berangkatnya dari keterpanggilan. Bukan mencari pekerjaan, bukan mencari popularitas!

Give, give and give! Itu yang berlaku di pondok. Bukan take and give! Apalagi take, take and take. Itu sampah perjuangan. Sampah kehidupan..!
_______________________
*10 April 2016

Thursday, January 19, 2017

Ndandani anak

Gus miek :
"Dandani anak, dandani bojo.. Nggae cangkem, nggae kata-kata, nasehat..niku mpun boten usum. Sing usum damel getaran bathiniyyah. Termasuk anake di fatihai siji2.. sopo weruh, kenek sinare fatihah, dadi kebuka'.. anak2e dadi sholeh, gelem nyantri, gelem sholat..".

Sunday, January 15, 2017

MENGAJILAH BIAR GAGAH

~ Sang Hafidz Al-Quran yang Produktif Menulis

KH. Maftuh Basthul Birri terlahir di Kutoarjo Purworejo Jawa Tengah pada tahun 1948 M. Mula-mula beliau menghafal al-Quran di hadapan KH. Ahmad Munawwir, Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Dilanjut belajar qiraah sab’ah di hadapan Kyai Nawawi Abdul Aziz (Ngrukem, Bantul Yogyakarta). Beliau juga pernah tabarukan di Pondok Pesantren Yanbu’ul Quran Kudus di hadapan Kyai Arwani Amin, Kudus.

Selanjutnya KH. Maftuh Basthul Birri belajar ke Pondok Pesantren Lirboyo Kediri dan Pesantren Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Beliau bukan hanya ahli dalam bidang bacaan al-Quran, melainkan juga dalam bidang tulis-menulis al-Quran (khath). Hasil karyanya dalam bidang kaligrafi cukup banyak dan sangat indah. Tidak berlebihan jika kita menggolongkan beliau ke dalam daftar para khaththat handal Indonesia.

Saat ini beliau menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Murotilil Quran (PPMQ) Lirboyo Kediri. Pesantren ini termasuk salah satu unit dari Pondok Pesantren Lirboyo yang konsen dalam mempelajari al-Quran. Pesantren yang dirintis KH. Maftuh Basthul Birri ini telah banyak mencetak hafidz-hafidzah berkualitas sekaligus mumpuni membaca dan memahami kitab-kitab kuning (kitab klasik Islam).

Di awal-awal berdirinya semaan al-Quran “Jantiko MANTAB” beliau aktif sebagai qari’ untuk daerah Kediri dan sekitarnya. Beliau juga menjadi pengamal wirid Dzikrul Ghafilin-nya Gus Miek, sehingga tidak heran kalau beliau menulis biografi dan karomah singkat para wali yang disebutkan dalam wirid itu.

Kedalaman ilmu dan pengalaman KH. Maftuh Basthul Birri dalam bidang al-Quran dan kitab kuning mengantarkan beliau menjadi penulis produktif dan kreatif. Diantara hasil karyanya adalah:

1. Hidangan Segar Al-Quran (Keutamaan-keutamaan dan Kewajiban Belajar al-Quran). Kediri: Pustaka Jet Tempur, PPMQ Lirboyo.
2. Persiapan Membaca Al-Quran dengan Rosm Utsmani dan Tanda Baca yang Bertajwid. Kediri: Pustaka Jet Tempur, PPMQ Lirboyo.
3. Mari Memakai Al-Quran Rosm ‘Utsmaniy (RU), Kajian Tulisan al-Quran dan Pembangkit Generasinya. Kediri: Pustaka Jet Tempur, PPMQ Lirboyo.
4. Al-Quran Bonus yang Terlupakan, Metode canggih mengaji dan mengajar al-Quran dan Perihal yang Terkait. Kediri: Pustaka Jet Tempur, PPMQ Lirboyo.
5. Fath al-Mannan (Tajwid Jawa Komplit). Surabaya: CV Ihsan.
6. Standar Tajwid Bacaan Al-Quran (terjemah bahasa Indonesia Fath al-Mannan). Kediri: Pustaka Jet Tempur, PPMQ Lirboyo.
7. Mental Khataman Al-Quran. Kediri: Pustaka Jet Tempur, PPMQ Lirboyo.
8. Reformasi Menurut Al-Quran. Kediri: Pustaka Jet Tempur, PPMQ Lirboyo.
9. Manaqib al-Auliya’ al-Khamsin. Kediri: Pustaka Jet Tempur, PPMQ Lirboyo.
10. Manaqib 50 Wali Agung (terjemahan bahasa Indonesia dari Manaqib al-Auliya’ al-Khamsin) Kediri: Pustaka Jet Tempur, PPMQ Lirboyo.
11. Jet Tempur, Turutan Mengaji Al-Quran Kanak-kanak (Pemula). Kediri: Pustaka Jet Tempur, PPMQ Lirboyo.
12. Dan lainnya.

~ Pondok Pesantren Murottilil Qur’an (PPMQ)

Berdirinya pondok pesantren unit Lirboyo yang satu ini, tidak bisa dilepaskan dari Madrasah Murottilil Qur’an (MMQ) yang dirintis oleh KH. Maftuh Basthul Birri. Madrasah ini berawal sekitar tahun 1397 H/ 1977 M yang kala itu berupa pengajian dengan sistem sorogan yang diasuh langsung oleh KH. Maftuh Basthul Birri. Karena semakin banyaknya santri yang mengaji, maka sekitar tahun 1979/ 1980 M. MMQ berdiri sebagai lembaga pendidikan Pondok Pesantren Lirboyo yang khusus membidangi al-Quran.

Kepengrursan MMQ sendiri mulai dibentuk tahun 1990. Dan mengingat kuantitas siswa yang terus bertambah, MMQ merasa perlu untuk memilah siswanya dalam beberapa tingkatan. Maka dibentuklah jenjang pendidikan dengan tingkatan Ibtidaiyyah, Tsanawiyyah dan Aliyyah. Kemudian sekitar tahun 1997, dibentuklah sebuah jam’iyyah sebagai media ta’aruf antar santri MMQ dan ajang pendidikan yang bersifat ekstra kurikuler. Diantara kegiatannya adalah mengembangkan bakat santri dalam seni baca al-Quran.

Setiap tahun, MMQ terus melakukan perkembangan. Dan di tahun 2011 ini, dalam MMQ terdapat lima tingkatan.

• Pertama, tingkat I’dadiyah. Waktunya setengah tahun, dengan materi; Buku Turutan A, Ba, Ta.. Jet Tempur, mempelajari dan membaca mulai surat al-A’la sampai surat an-Nas.

• Kedua, tingkat Ibtidaiyah. Waktunya setengah tahun, dengan materi; Buku Persiapan Membaca al-Quran, Buku Bonus Agung yang Terlupakan, mempelajari dan menghafal mulai surat al-A’la-surat an-Nas.

• Ketiga, tingkat Tsanawiyah. Waktunya setengah tahun, dengan materi; Buku Standar Tajwid (Fathul Mannan), Manaqib al-Auliya’ al-Khamsin, mempelajari dan menghafal mulai surat al-A’la-syrat an-Nas, surat Yasin, al-Waqi’ah dan Bacaan-bacaan Ghorib.

• Ketiga, tingkat Aliyah. Waktunya kurang lebih satu tahun setengah, dengan materi; Buku Mari Memakai Rosm Utsmany, sorogan al-Quran mulai juz 1- 30 dan menghafal qisharis suwar.

• Sedangkan tingkatan keempat adalah Sab’atul Qira-at. Waktunya kurang lebih dua bulan dan diperuntukkan bagi siswa yang sudah selesai setoran al-Quran 30 juz, telah sukses menghafalkan surat-surat pendek (antara lain; juz 30, al-Mulk, al-Waqi’ah, ad-Dukhan, Yasin, as-Sajdah, al-Kahfi,) dan telah terdaftar sebagai peserta Takhtiman (Khatmil Quran).

Pada tanggal 16 Juni 2002, MMQ meresmikan cabangnya di daerah Batam. Kala itu, meski dengan fasilitas minim (bahkan tempat mengajinya masih meminjam lahan yang terletak di kawasan liar belakang Dormitori Blok R kawasan industri Batamindo Muka Kuning), MMQ Batam telah diikuti kurang lebih 600 siswa dengan tingkatan yang sama dengan MMQ Pusat, yaitu tingkatan Jet Tempur, Ibtidaiyyah, Tsanawiyyah, Aliyyah, Tahaffuzh, dan Qiro-ah Sab’ah. Cabang MMQ dengan Akte Notaris Yondri Darto, S.H. No. 196 tanggal 20 Juli 2004 ini, kini telah diikuti oleh lebih dari 4000 santri.

Selain MMQ, di dalam Pondok Pesantren Murottilil Qur’an (PP MQ) juga ada Majlis Qiro’ah Wat Tahfidz (MQT). Kegiatannya terbagi dua, harian dan mingguan.

• Harian meliputi: shalat jamaah lima waktu, qiyamullail, mengaji setor hafalan (ba’da jamaah shalat Shubuh), murattalan bersama (aktivitas memperbaiki bacaan al-Quran, membenahi makhraj dan menerapkan shifatul huruf yang dilaksanakan setelah jamaah shalat Dzuhur), dan mengaji Takror Hafalan (sebuah kegiatan yang mngumpulkan antara guru dan santri guna mengulang dan memahirkan hafalan al-Quran, disamping penyampaian materi kitab-kitab tajwid setelah jamaah shalat Ashar).

• Sedangkan kegiatan mingguannya adalah: musyawarah kitab-kitab tajwid (Kamis sore), Jam’iyyah Maulidiyyah (kegiatan yang di dalamnya juga berisikan pembacaan Manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, latihan khithabah dan praktek ubudiyyah setiap malam Jum’at), serta semaan al-Quran (hari Jum’at selepas jamaah shalat Shubuh). MQT juga membagi tingkatan-tingkatan anggotanya. Tingkat Marhalah I’dadiyyah (waktunya setengah tahun, dengan materi; hafalan surat-surat penting dan buku Persiapan Membaca Al-Quran), Tingkat Marhalah Ula, (waktunya satu tahun, dengan materi; hafalan juz 1-10 dan buku Standar Tajwid), Tingkat Marhalah Tsaniyyah, (waktunya satu tahun, dengan materi; hafalan juz 11-20 dan buku Tajwid Jazariyyah), Tingkat Marhalah Tsalitsah, (selama satu tahun, dengan materi; hafaln juz 21- 30 dan buku Tajwid Jazariyyah), dan Tingkat Sab’atul Qira-at (ditempuh kurang lebih tiga tahun dan diperuntukkan bagi santri yang telah mengkhatamkan al-Quran di hadapan KH. Maftuh Basthul Birri).

PP. MQ kian hari makin berkembang. Saat ini, PP. MQ yang diketuai Agus Khothibul Umam dan Imam Hasan Asy’ari Sebagai sekretarisnya, untuk MMQ diikuti siswa sebanyak 1467 dan MQT sejumlah 78 santri. Untuk menampung para santrinya, tahun 2005 dibangunlah bangunan baru di Dusun Sidomulyo Desa Klodran Kec. Semen yang berjarak kurang lebih 3 km dari PP. Lirboyo yang saat ini dihuni oleh 127 santri, 36 diantaranya adalah santri putri. Dan meskipun PP. MQ adalah pesantren yang fokus pada pengkajian al-Quran, di dalamnya juga diajarkan ilmu tauhid, fikih, akhlak, hadis, nahwu dan shorof, yang digelar setiap hari mulai pukul 08.00 WIs.

~ Shalawat Mengajilah Al-Quran Karya KH. Maftuh Basthul Birri

صَـلاةُ اللهِ سَـلامُ اللهِ # عَـلَى طـهَ رَسُـوْلِ اللهِ
صَـلاةُ اللهِ سَـلامُ اللهِ # عَـلَى يـس حَبِيْـبِ اللهِ
اِلهِـى عَـلِّـمِ اْلاُمـَّة #  بالْقُرْان وَالْحكْمَة
وَبالْعُلُوْم وَالْاَعْمَال # بِاَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى اغْفِـرِ وَاَ كْرِمْنَـا #  بِـنَيـْلِ مـَطَالِبٍ مِنَّا
وَدَفْـعِ مَسَـاءَةٍ عَـنَّا # بِاَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَللهُ
اَتَيـْنَا طَالِـبِى الرِّفْـقِ # وَجُـلِّ الْخَـيْرِ وَالسَّـعْدِ
فَوَسِّـعْ مِنْحَـةَ اْلاَيـْدِىْ # بِاَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَللهُ

Al-Quran penuh berkah, mengajilah biar gagah (2X)
Al-Quran penuh cahaya, mengajilah biar kaya.

Ngaji Quran tidak mudah, janganlah dianggap mudah (2X)
Jangan hanya kanak-kanak, tua pun mengajilah.

Para guru para imam, mengajilah sampai mahir (2X)
Itulah perintah Allah, janganlah dilupakan.

Baca tulisan bukanlah ngaji, bahkan harus sampai hafal pandai (2X)
Itulah namanya ngaji, yang harus kita tekuni.

Kalau Quran diremehkan, hilanglah barokah Allah (2X)
Gejolak datang petaka datang, susah payah kita semua.

Sekarang bukti nyata, sadarlah kita bersama (2X)
Di dunia berantakan, di akhirat masuk neraka.

Semoga Allah melimpahkan, keberuntungan bagi kita (2X)
Di dunia sejahtera, akhir kelak masuk ke surga.

Link download: https://www.dropbox.com/s/qxennw5s7eg6rvh/MENGAJI%20AL-QURAN%2C%20KH.%20MAFTUH%20BASTHUL%20BIRRI%20LIRBOYO.mp3

Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkap Jaktim 13 Maret 2014

http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2014/03/mengajilah-biar-gagah-sekilas-pandang.html
http://www.muslimedianews.com/2014/03/mengajilah-biar-gagah-kh-maftuh-basthul.html

Friday, January 13, 2017

Petuah Mbah Hamid Kepada Para Pendidik

​Ada satu kisah dari Waliyulloh Agung dari Pasuruan, Kiai Hamid, tentang bagaimana seharusnya seorang guru menghadapi murid yang tidak sesuai dengan harapannya.
Suatu hari di sekitar tahun 60-an, salah seorang santri beliau yang menjadi pimpinan GP Ansor Cabang Pasuruan nyaris putus asa dalam kaderisasi di ranting-ranting. Pasalnya, dari 100 lulusan pelatihan, paling hanya ada 3-5 orang kader saja yg betul-betul bisa diandalkan. Dalam kegalauannya ini, si santri memutuskan sowan pada Kiai Hamid dahulu untuk konsultasi.
Saat dia sowan, sembari menunjuk pada pohon-pohon kelapa yang berbanjar di pekarangan rumah, Kiai Hamid berkata panjang lebar.
“Aku menanam pohon ini, yang aku butuhkan itu buah kelapanya. Ternyata yang keluar pertama kali malah blarak, bukan kelapa. Setelah itu glugu, baru setelah beberapa waktu keluar mancung. Mancung pecah, nongol manggar, yang (sebagian rontok lalu sisanya) kemudian jadi bluluk, terus (banyak yang rontok juga dan sisanya) jadi cengkir, terus (sebagian lagi) jadi degan, baru kemudian jadi kelapa. Lho setelah jadi kelapa pun masih ada saput, batok, kulit tipis (yang semua itu bukan yg saya butuhkan tadi). Lantas, ketika mau diambil santannya, masih harus diparut kemudian diperas. Yang jadi santan tinggal sedikit. Lha itu sunnatulloh. Lha yang 95 orang kader itu, carilah, jadi apa dia. Glugu bisa dipakai untuk perkakas rumah, blarak untuk ketupat.”
Kalau inginnya mencetak orang ‘alim, tidak bisa diharapkan bahwa semua murid di kelas itu bakal jadi ‘alim semua. Pasti ada seleksi alam, akan ada proses pengerucutan. Meski begitu, bukan berarti pendidikan itu gagal. Katakanlah yang jadi hanya 5 %, tapi yang lain bukan lantas terbuang percuma. Yang lain tetap berguna, tapi untuk fungsi lain, untuk peran lain.

*(dari buku Percik-percik Keteladanan Kiai Hamid Pasuruan)*