Showing posts with label thoriqoh. Show all posts
Showing posts with label thoriqoh. Show all posts

Thursday, June 2, 2022

Petunjuk umum berguru dan bertareqat dalam ilmu tasawuf

Petunjuk umum berguru dan bertareqat dalam ilmu tasawuf

Dalam ilmu tasawuf. Guru itu ada 3 macam:

Pertama guru berkah, kita mengambil berkah pada semua ulama baik yang mengajarkan kita atau tidak, kadang alim, kadang juga ga alim, semua yang baik bisa kita ambil berkah. Sebagian mengatakan bahwa benda-benda pun bisa menjadi guru, selama bisa membuat kita belajar.

Kedua guru ilmiyah, kita memgambil ilmu dan berkah ilmu dari mereka. Mereka terbatas pada guru yang mengajarkan kita, dan tentu boleh lebih dari satu

Ketiga guru tareqah, merekalah guru yang membimbing sair kita menuju tuhan, mereka tempat kita menceritakan isi hati kita, menceritakan perubahan hati, spritual, dan segalanya. Mereka disebut juga mursyid. Dan kita tidak boleh mempunyai lebih dari satu mursyid. Karena dalam ilmu tasawuf siapa yang punya lebih dari satu mursyid maka ga akan wushul. Kalau kata imam syarany, ibarat istri yang memiliki 2 suami.

Saya pribadi sampai sekarang hanya menjalani satu tareqat saja, dari awal hanya satu, tidak berubah. Ga perlu saya menceritakan siapa guru saya, itu urusan saya sama tuhan. Yang pasti mu'tabar, ijazahnya jelas(baik am atau khas), gurunya jelas dan masyhur dikalangan mutakhasisin

Tentu sering saya ditawarkan untuk berbaiat irsyad, mulai dari yang mastur sampai pada wali masyhur dunia yang kayaknya ga ada yang ga kenal, bahkan jika ada yang mengatakan beliau ghaust, para ulama zahir akan menerimanya. Saya menghormati semuanya, saya akan menerima untuk ditalqin, saya akan menerima untuk baiat berkah, saya akan menerima wiridnya, saya menghormati dan tentu ingin ambil berkah dari semua orang baik itu.

Tapi garis merahnya adalah baiat irsyad, itu hanya satu, karena dalam ilmu tasawuf mursyid hanya satu, dan saya sudah punya mursyid, jadi saya akan menolak dengan baik dan memberi tahu bahwa saya punya guru. Dan semua mursyid yang beneran mursyid pasti paham ini, dan ga marah, karena mereka ga mengajak kita untuk berbaiat pada mereka, tapi pada allah dan rasulnya, jadi mau melalui jalur siapa saja tidak masalah. Jadi kita ambil berkahnya, tapi irsyad tetap dari mursyid kira, ibarat kata "mursyid kita itu ayah kita, sedangkan yang lain adalah paman kita"

Jika ada mursyid yang marah dengan itu, berarti kemungkinan besar dia bukan mursyid hakiki, karena ga paham kaidah dasar dalam ilmu tasawuf, kalau irsyad itu hanya sekedar wadhifah. Jadi kalau mau baiat ya baiat aja baiat berkah. Kalau irsyad, itu harus istikharah lama, biasanya mursyid kamil juga mengarahkan pada istikharah, ga langsung setuju, karena tugas irsyad itu tanggung jawab, bukan nambah-nambah pengikut.

Jadi tareqat itu bukan nambah-nambah pengikut, bukan mengajak agar orang-orang ikut tareqat kita, bukan bangga-banggaan guru saya ghaust atau qutub, tapi murni memperbaiki diri agar makin dekat dengan allah, bahkan jika guru kita bukan ghaust, hanya mursyid biasa, dikampung, jika seorang murid shadiq dalam thalab, bisa jadi membuatnya lebih dekat dengan allah bahkan dibanding dengan murid qutubuzzaman.

Jadi berhentilah bertariqat seperti itu adalah persaingan antar kelompok atau gagahan, tareqat itu bukan UCL, dimana saling mengalahkan dan membanggakan, tapi tareqat jalan menuju allah, dimana seharusnya saling menolong dan mendukung. Wallahualam

Thursday, May 3, 2018

Mengenal Sosok KH. Nur Hamim Adlan, Mursyid TQN dari Ponorogo

Idaroh Wustho Jam’iyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Jawa Timur terletak di Kauman III/29, Mojoagung, Jombang. Seperti umumnya di daerah Jawa Tengah atau di Jawa Barat, yang berkembang di Jawa Timur adalah tarekat-tarekat dengan pengikut besar seperti Qadiriyah wan Naqsyabandiyah (TQN) dan Syadziliyah.

Pengikut tarekat yang berkembang di Jatim rata-rata mengambil baiat dari KH. Romli Tamim Rejoso Jombang dengan tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah yang dilanjutkan oleh KH. M. Utsman al-Ishaqy Jatipurwo Surabaya, KH. Abdul Jalil Mustaqim Peta Tulungagung dengan tarekat Syadziliyah, dan KH. M. Muhadi Bogbogan Tanjunganom Nganjuk dengan tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah yang diteruskan oleh KH. Nur Hamim Adlan Ponorogo.

KH. Nur Hamim Adlan mampu hidup di desa yang penuh angkara murka. Beliau ibarat ikan laut, biarpun hidup di air asin tapi tidak ikut asin. Di masa kecil rumahnya sering dijadikan ajang perjudian oleh lingkungannya. Namun beliau mampu merintis madrasah bergedung dan berkelas pada tanggal 9 Mei 1991 M/24 Syawal 1411 H. Padahal sebelumnya di lingkungan beliau paling lama empat tahun biasanya murid sudah habis.

KH. Nur Hamim Adlan lahir di Ponorogo pada tanggal 21 April 1957 M. Ayahnya bernama Kromo Kisman dan ibunya bernama Kasmirah. Ayahnya lahir di Klepu Desa Purworejo Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo. Berdarah pendiri pondok pesantren yang beberapa santrinya adalah keluarga keraton Solo. Tapi sekarang sudah rata dengan tanah, orang biasa menyebutnya dengan dukuh Mejid. Nenek moyangnya termasuk pejuang Nglorok dan sudah bertitel Haji. Dari pihak ibu masih berdarah wali, Mbah Djonasi, yang makamnya terkenal keramat.

KH. Nur Hamim Adlan saat mudanya ngaji di Mu’allimin Durisawo tiap pagi. Sedangkan tiap sorenya ngaji di PP MMH Mayak Ponorogo. Semasa mudanya dijuluki “Robot” karena kekarnya, dipukul orang pun tidak pernah terasa. Pernah suatu ketika orang sepuluh dijunjung (dipanggul) selama tiga jam saat panjat pinang. Dan Kiai Hamim tidak memegang pohon pinangnya sama sekali. Sejak itulah masyarakat Kelurahan Purbosuman Ponorogo mulai simpati dan hormat padanya. Dan masyarakat sekitar mulai memanggilnya dengan sebutan Kiai, apalagi setelah berdirinya Pondok Pesantren Nahrul Ulum.

Sekitar tahun 1983 sewaktu Kiai Hamim Adlan bin Kisman masih mondok di Pesantren Tebuireng nampak keistimewaan pada dirinya. Disaksikan teman sebangku kuliahnya di Fakultas Syari’ah Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang, bernama Lamro. Pada suatu malam Lamro wiridan di dekat makam Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Tiba-tiba ia terkantuk lalu mendadak bangun karena mendengar suara dengan jelas di dalam kubur Mbah Hasyim Asy’ari. Suara itu jelas suaranya KH. Nur Hamim Adlan dan suara Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Sepertinya Mbah Hasyim Asy’ari sedang memberi wejangan dan pengajaran kepada KH. Nur Hamim Adlan.

Kemudian Lamro menemui Kiai Hamim temannya, lalu berkata, “Mim, kamu tidak ada manfaatnya di Tebuireng. Demi Allah bukan maksudku mengusirmu, tapi menurut perasaan saya bagi kamu ilmu di Tebuireng ini sudah habis. Insyaallah tidak ada santri Tebuireng yang sehebat kamu. Pulanglah! Akan saya tunggu dan saya saksikan kehebatan tersebut.”

Dan Pak Lamro yang nama lengkapnya Drs. H. Lamro Ashari, sejak tahun 1979 sampai sekarang belum pulang. Sudah berpegawai negeri dan membantu mengajar sekaligus Tim Keamanan inti SMA Wahid Hasyim Tebuireng Jombang serta salah satu pengurus Yayasan Hasyim Asy’ari. Kini kediamannya di Desa Seblak, sebelah barat Tebuireng.

Pada bulan Rajab  tahun 1998 M, pernah KH. Nur Hamim Adlan dipanggil Gus Kholiq almarhum agar datang ke Pondok Pesantren Tebuireng. Setelah sampai di sana Kiai Hamim kebingungan di mana makam KH. Abdul Kholiq Hasyim (Gus Kholiq).

Lalu ia bertemu dengan teman lamanya yang bernama Drs. Zainal Arifin yang sehari-hari bertugas sebagai Pengurus Perpustakaan Pesantren Tebuireng. Kiai Hamim berkata pada Bpk. Zainal Arifin, “Kang aku kok ditimbali Gus Kholiq, tuduhno sarehane!”

Jawab Bpk. Zainal, “Lho Kang, sampeyan kok ditimbali Gus Kholiq, opo arep diparingi ilmu kejadukan?” Memang konon kabarnya, pembantunya Gus Kholiq jika memijat badan beliau memakai tongkat besi dan ditumbuk-tumbukkan. Gus Kholiq beratnya mendekati dua kuintal.

Lalu Kiai Hamim berkata, “Menengo, sing penting saiki tuduhno maqome Gus Kholiq.”

Akhirnya Kiai Hamim diantar ke makam Gus Kholiq. Di situ Kiai Hamim diberi amanat oleh Gus Kholiq berupa Surat An-Nashr 1000 kali dan agar diamalkan setiap seminggu sekali di Tebuireng dekat makam KH. Hasyim Asy’ari. Pada waktu Gus Kholiq memanggil itu, Jawa Timur sedang digoncang dengan isu Ninja (1 Oktober 1998). Dengan rajin Kiai Hamim seminggu sekali datang ke Tebuireng membaca amalan tersebut. Baru setelah Gus Dur menjadi Presiden, Gus Kholiq memberi isyarat agar amalan itu dihentikan.

Sejak 1980 Kiai Hamim sudah mengajar sebagai mubaligh di Tuwawo Kenjeran Surabaya dan Kepala SD Budiyakin II Rangkah Tegalrejo Surabaya. Tahun 1985-1993 ia mengajar di Ponpes Hudatul Muna Jenes Ponorogo, Ponpes Darul Huda Mayak Ponorogo, MTs Al-Rasyid Ponpes Hidayatul Mubtadi’in Klego Mrican Ponorogo dan Mu’allimat Ma’arif Ponorogo.

Pada tahun 2003 Kiai Hamim yang merupakan Mursyid Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah dari KH. Imam Muhadi Bagbogo Tanjung Anom Nganjuk menjabat sebagai Mudir Am Syu’biyah JATMAN Ponorogo, Ketua Syuriyah MWC NU Ponorogo, Ketua Umum MUI Ponorogo.

Diantara guru-guru Kiai Hamim adalah KH. Adlan Ali Cukir Jombang, KH. Syamsuri Badawi Tebuireng Jombang, KH. Asror Ridhwan Kaliwungu Kendal, KH. Abdul Hamid Pasuruhan, KH. Dahnan Trenggalek, KH. Mahrus Ali Lirboyo, KH. Abdul Majid Blega Madura, KH. Hasyim Sholeh Mayak Ponorogo dan KH. Imam Muhadi Bagbogo Nganjuk.

Tanggal 24 Syawal 1411 H/ 9 Mei 1991 M adalah tanggal resmi Kiai Hamim mendirikan Pondok Pesantren Nahrul Ulum Purbosuman Ponorogo. Hingga kini Ponpes Nahrul Ulum memiliki 5 unit pendidikan; Tarbiyatul Mu’allimin Subulus Salam yang mengedepankan kitab-kitab salafiyah, Madrasah Diniyah Al-Anwar, TPQ  Al-Anwar, TK Muslimat Sumber Sari dan MI Al-Ihsan. (Syaroni as-Samfuriy

Friday, February 23, 2018

Mahalul qiyam anteng karo ora

Seorang penderek, suatu ketika, pernah memberanikan diri matur untuk bertanya kepada Beliau RA (Hadlrotusy Syeikh Romo Yai Achmad Asrori Al Ishaqi R.A) . Lebih kurangnya seperti ini :

“Yai, saya perhatikan, di saat mahallul qiyaam, Yai itu berdiri dengan amat khusyuk. Dengan tangan yang terlipat di depan, Yai berdiam tanpa kaki atau tubuh bergerak atau bergoyang sedikitpun. Hampir seperti khusyuknya orang ketika di dalam sholat. Sementara, saya perhatikan para jamaah yang lain, termasuk para kyai maupun habaib, yaa khusyuk, tapi tidak sediam seperti Yai itu. Masih ada yang kadang tangannya bergerak santai. Ada pula yang tolah toleh lihat sana lihat sini. Bahkan, tidak sedikit yang kaki dan tubuhnya ikut bergoyang karena mengikuti irama tabuhan terbang dan lagu bacaan sholawatnya itu.”

Sembari tersenyum, Beliau menyahut :

“Lalu kenapa? Kan gak apa apa juga, mereka baca sholawat sambil bergerak gerak?. Bisa jadi, itu menunjukkan bahwa hatinya senang, gembira menyambut kedatangan Rasulullah SAW. Orang kalau hatinya senang kan lalu suka bergerak dan melantunkan lagu. Tidak ada masalah, sebenarnya. Terkembali ke hati dan kebiasaan masing masing pribadi. Jadi tidak bisa disalahkan.”

Lantas Beliau RA meneruskan Dawuhnya :

“Tapi, kalau yang kamu tanyakan itu tentang saya, kenapa Yai koq diam atau tidak bergerak, tidak bergoyang, nahh … itu lain lagi, jawaban saya.”
“Begini yaa …. Coba kamu bayangkan sendiri lah. Bagaimana sih sikapmu ketika kamu berdiri persis di depan Gurumu? Apa kamu masih sempat tolah toleh? Apa kamu berani bergoyang atau menari mengikuti irama yang kamu dengar? Enggak, kan? Kamu diam dan dingkluk (kepala menunduk), kan? Yaa seperti itu.”

“Itu, kamu masih di depan Gurumu. Lha bagaimana kalau di depanmu itu Para Guru yang lain, lalu juga hadir Kanjeng Syeikh RA? Bahkan lalu kemudian hadir Rasulullah SAW? Apa masih sempat kamu melihat sana sini? Apa masih sempat kamu bergoyang? Yaa sudah …. Sudah gak bisa ngomong gak bisa apa apa kalau sudah begitu … ! Iyaa kan?”

“Kenapa bisa begitu? Karena kita ini sudah kadung dididik sebagai orang thoriqoh. Orang thoriqoh itu lebih focus kepada sentuhan sentuhan hubungan ruhaniyah. Hubungan bathiniyyah. Diamnya saja, kalau sudah berhadap hadapan secara bathin, berhadapan secara ruhani seperti itu, sudah sangat banyak roso yang mengalir. Itu orang thoriqoh. Iyaa kan?”.

“Tapi, sekali lagi, kita tidak bisa menyalahkan orang lain yang tidak seperti itu. Malah salah kalau kita menyalahkan. Sebab ini urusan didikan roso, bukan soal hukum. Kalau soal hukum, mau baca sholawat sambil menaiki bojo pun, hehehe …, gak ada masalah. Kan begitu?”

Bisakah kita mempertahankan didikan Beliau RA itu? Barangkali, kunci jawabannya terkembali kepada pertanyaan : Sejauh mana kita yakin dan merasa, bahwa di saat majlis berlangsung itu, sedang ada Romo YAI RA di depan kita (?).

Robbi Fanfa’naa Bi BarkatiHhii
WaHhdinaal-Husnaa Bi HurmatiHhii
Wa Amitnaa Fii ThoriiqotiHhii
Wa Mu’aafaatin Minal-Fitani
Aamiiin. Al Faatihah … !!

_____________________________

Tulisan Pak Imam Subakti

Monday, January 15, 2018

PENDIRI JATMAN

PENDIRI JATMAN

Pendiri JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah) ada 5 orang. Dua diantaranya adalah KH. Masykur dan KH. Idham Chalid. Tiga lainnya adalah KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syansuri dan KH. Muslih Mranggen.

Al-Quthb Syaikh Muhammad Amin Kutbi berpesan kepada Muassis dan Mudir ‘Aam Jatman KH. Idham Chalid, “Idham, thariqah di Indonesia akan maju dan berkembang bila nanti dipimpin oleh seorang Habib yang bernama Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim Bin Yahya.”

Maka sepulangnya dari Mekkah, KH. Idham bertemu dengan Habib Luthfi Bin Yahya dan bersalaman dengan durasi yang lama tanpa berkata-kata, tapi Habib Luthfi bersuara berulang-ulang, “InsyaAllah, Pak Kiai, saya laksanakan.”

Hal ini membuat hadirin yang melihat pemandangan itu terheran-heran. Selidik punya selidik ternyata keduanya berkomunikasi batin. Kiai Idham bilang, “Habib, nanti kamu yang melanjutkan thariqah.”

Habib Luthfi Bin Yahya pun menjawab, “InsyaAllah, Pak Kiai, saya laksanakan.”

Saat Muktamar Thariqah, KH. Idham berucap kepada ulama yang hadir bahwa dirinya dalam JATMAN diibaratkan seperti orang yang membangun rumah sakit, namun dokter spesialisnya adalah Habib Luthfi Bin Yahya.

Tuan Guru Sekumpul Syaikh KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani berucap kepada KH. Syafriansyah, “KH. Idham Chalid itu penanggak kita. Beliau lebih dahulu menjadi wali quthub daripada aku. Kalau menyandingkan fotoku dengan beliau, letakkan posisi beliau di kananku.” (Nur Hidayatullah Yuzarsif).