Showing posts with label tasawuf. Show all posts
Showing posts with label tasawuf. Show all posts

Monday, October 28, 2024

Derita kelaparan yang dialami oleh Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari dan muridnya Ibnu Hajar Al-Haitami ketika sedang menuntut ilmu di Masjid Al-Azhar

Derita kelaparan yang dialami oleh Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari dan muridnya Ibnu Hajar Al-Haitami ketika sedang menuntut ilmu di Masjid Al-Azhar.
__

Disebutkan oleh Imam Abdul Wahab As-Sya'rani dalam at-Thabaqat al-Kubra, bahwasanya guru beliau (Syaikhul Islam) berkata:

وكنت أجوع في الجامع الأزهر كثيرا، فأخرج بالليل إلى قشر البطيخ الذي كان بجانب الميضاة وغيرها، فأغسله وأكله إلى أن قيض الله لي شخصا كان يشتغل في الطواحين فصار يتفقدني ويشتري لي ما احتاج إليه من الكتب والكسوة

"Kami sering mengalami kelaparan di Masjid Al-Azhar. Jika rasa lapar sudah tidak tertahankan lagi, kami keluar dimalam hari untuk mencari kulit semangka yang ada ditepi tempat wudhu masjid dan tempat lainnya. Hingga kulit itu kami bersihkan, dan kami makan."

Derita itu juga dialami murid-nya, Ibnu Hajar Al-Haitami. Disebutkan oleh Syekh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi dalam Al-Fawaid Al-Madaniyyah, Hal. 31 :

قَاسَيْتُ فِي الْجَامِعِ الْأَزْهَرِ مِنَ الْجُوْعِ مَا لَا تَحْتَمِلُهُ الْقُوَى الْبَشَرِيَّةُ لَوْلَا مَعُوْنَةُ اللَّهِ تَعَالَى وَتَوْفِيقُهُ، بِحَيْثُ إِنِّي جَلَسْتُ فِيْهِ نَحْوَ أَرْبَعَ سِنِينَ مَا ذُقْتُ اللَّحْمَ إِلَّا فِي لَيْلَةٍ دُعِيْنَا لِأَكْلٍ، فَإِذَا هُوَ لَحْمٌ يُوْقَدُ عَلَيْهِ، فَانْتَظَرْنَاهُ إِلَى أَنِ أَبْهَارَ اللَّيْلُ، ثُمَّ جِيْءَ بِهِ فَإِذَا هُوَ يَابِسٌ كَمَا هُوَ نَيْءٌ، فَلَمْ أَسْتَسِغْ مِنْهُ لُقْمَةٌ.

Beliau (Ibnu Hajar) berkata :

"Aku pernah mengalami derita lapar di Masjid Jami' Al-Azhar, rasa lapar yang mungkin tidak akan mampu dirasakan oleh manusia jika tidak ada pertolongan dari Allah dan taufiq-Nya.

Aku belajar di Masjid Al-Azhar, selama 4 tahun. Di masa itu, aku tidak pernah mencicipi rasa daging kecuali disatu malam undangan.

Dimalam undangan itu, hidangan daging sudah dimasak, tapi kami menunggunya sampai larut malam. Ketika daging itu datang kepada kami, ternyata tekstur dagingnya sudah kering, seperti belum dimasak. Hingga akhirnya satu suapan pun tidak ada yang masuk kedalam perut.”

Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari adalah guru yang banyak memberikan corak berfikir Ibnu Hajar didalam fiqh. Terbukti, banyak ditemukan pendapat Syaikhul Islam yang selalu diikuti oleh Ibnu Hajar.

Dalam “Al-Fatawa Al-Hadistiyyah” Ibnu Hajar menceritakan tentang sang gurunya:

ما اجتمعت به قط إلا قال : أسأل الله أن يفقهك في الدين

“Aku tidak pernah ikut berkumpul mengaji dengan Syaikhul Islam, kecuali beliau senantiasa berkata: aku berdoa kepada Allah, semoga engkau diberikan pemahaman ilmu agama.”

Sebagian ulama, seperti Sayyid Muhyiddin Abdul Qadir Al-Aydrus menyebutkan dalam “An-Nur As-Safir An Akhbar Al-Qarn Al-‘Asyir” tentang Syaikhul Islam :

ويقرب عندي أنه المجدد على رأس القرن التاسع؛ لشهرة الانتفاع به وبتصانيفه، واحتياج غالب الناس إليها فيما يتعلق بالفقه وتحرير المذهب

“Menurut perkiraan saya, beliau adalah mujaddid di abad ke-9, karena kemanfaatan dan karya-karyanya yang begitu masyhur. Juga tentang mayoritas ulama yang membutuhkan beliau tentang fiqh dan tahrir madzhab Syafi’i.”

Dukturah Su’ar Maher dalam “Masajidu Misra Wa Awliya’uha As-Shalihun” menceritakan tentang Kasyaf-nya Syaikhul Islam :

كنت معتكفا مرة في العشر الأخير من شهر رمضان فوق سطح الجامع الأزهر، فجاءنى رجل تاجر من الشام وقال لي : إن بصري قد كف، ودلني الناس عليك تدعو الله أن يرد على بصري، وكان لى علاوة في إجابة دعائي، فسألت الله أن يرد عليه بصره، فأجابني ولكن بعد عشرة أيام، فقلت له : الحاجة قضيت على شرط أن تسافر من هذا البلد إن أردت أن يرد الله عليك بصرك، وذلك خوفا أن يرد عليه بصره في مصر فيهتكني بين الناس، فسافر فرد عليه بصره في غزة وأرسل لى كتابا بخطه، فأرسلت أقول له: متى رجعت إلى مصر كف بصرك، فلم يزل بالقدس إلى أن مات بصيراً.

“Aku (Syaikhul Islam) pernah melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan di atap Masjid Al-Azhar, kemudian datanglah seorang pedagang dari Syam, dia berkata : “Pandanganku hilang, dan orang-orang banyak mengarahkan-ku kepadamu, agar engkau mendo’akan-ku.” Aku berdo’a kepada Allah, namun do’a itu akan dikabulkan setelah 10 hari.

Aku berkata kepadanya: “Do’amu akan dikabulkan, tapi syaratnya, engkau harus keluar dari Mesir.” Aku merasa khawatir jika Allah menyembuhkan kebutaannya di Mesir, Allah akan memperlihatkan kejelekan ini (kasyaf) ini di hadapan manusia.

Akhirnya laki-laki pedagang itu pulang, dan penglihatannya kembali ketika sampai Gaza. Dia mengirimkan surat tentang kesembuhannya. Kemudian surat itu kuberikan tanggapan: “Jika engkau kembali lagi ke Mesir, pandanganmu akan buta kembali.” Akhirnya laki-laki itu tetap berada di Quds, Palestina, dan tidak kembali lagi sampai wafat.”

Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari termasuk ulama yang diberikan umur panjang. Sampai 100 tahun. Atas keberkahan itulah mayoritas ulama di zaman itu berguru kepada beliau. Hingga diberikan julukan, “Guru dari kakek dan cucu-nya”.

Diantara guru-guru Syaikhul Islam adalah :

1. Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H)
2. Jalaluddin Al-Mahally (w. 864 H)
3. Kamaluddin bin Al-Humam (w. 861 H)
4. Shalih bin Umar Al-Bulqini (w. 848 H)
5. Syarafuddin Yahya Al-Munawi (w. 871 H)

Diantara murid-muridnya :

1. Syihabuddin Ahmad Ar-Ramli (w. 957)
2. Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H)
3. Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H)
4. Al-Khatib As-Syirbini (w. 977 H)
5. Kamaluddin bin Abi Syarif (w. 906 H)
6. Abdul Wahab As-Sya’rani (w. 973 H)
7. Nashiruddin At-Thablawi (w. 966 H)
8. Ahmad Al-Burullusi “Al-Amirah” (w. 957 H)

Syekh Sa’id ‘Idhah Al-Jabiri Al-Yamani pernah menyampaikan seklumit biografi tentang Syaikhul Islam:

دُقِقْتُ بين حجرين وجلالين وكمالين

"Aku (Syaikhul Islam Zakariya) diapit oleh 2 Hajar, 2 Jalal, dan 2 Kamal:

~ Ibnu Hajar al-Asqalani sebagai guruku, dan Ibnu Hajar al-Haitami sebagai muridku.
~ Jalaluddin al-Mahalli sebagai guruku, dan Jalaluddin as-Suyuthi sebagai muridku.
~ Kamaluddin bin al-Himam sebagai guruku, dan Kamaluddin bin Abi Syarif sebagai muridku.”

Syaikhul Islam lahir pada tahun 824 H, dan wafat pada tahun 926 H. Beliau dimakamkan disebelah makam Imam Syafi’i, di sebelah kanan pintu gerbang. Ketika ziarah ke Imam Syafi’i, jangan lupa untuk ziarah juga ke Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari.

Karena beliau adalah maha guru dari ulama mutaakhirin yang memperjuangkan dan mempertahankan eksistensi madzhab Syafi’i. Beliau dan murid-muridnya, seperti: Ibnu Hajar, Syihab Ar-Ramli, Al-Khatib As-Syirbini, Syams Ar-Ramli disebut sebagai “النُّظَّار في الترجيح" yang mana semua pendapat mereka dianggap mu’tamad dalam madzhab Syafi’i.

رحمه الله تعالى ونفعنا بعلومه وبعلوم سائر مشايخه وتلامذته ومن انتسب إليهم أجمعين، آمين.

Allahu a,lam

Sunday, September 3, 2023

Fakta-fakta tentang al-Imam al-Ghazali yang jarang diketahui orang

Fakta-fakta tentang al-Imam al-Ghazali yang jarang diketahui orang. Kalau Gus Ulil Abshar Abdalla pasti sudah tahu:

1. ia pakar perbandingan agama. Dalam bidang ini al-Ghazali menulis kitab: al-Radd al-Jamil Li Ilahiyati Isa Bi Sharih al-Injil (Counter wacana yang baik untuk Ketuhanan Isa Perspektif Kitab Injil)

2. Dia tidak memiliki anak laki-laki tetapi nama kunyahnya adalah Abu Hamid (bapaknya Hamid). Kata Ulama kenapa mendapat panggilan ini sebab banyak mengucap hamdalah atau karena alasan tafaulan.

3. Sosok ulama multilangual (menguasai beberapa bahasa). al-Ghazali bukan hanya menguasai bahasa arab tetapi juga persia. Bukunya yang berjudul: al-Tibr al-Masbuq fi Nashihah al-Muluk yang berisi pandangan al-Ghazali tentang Politik dan Pemerintahan berbahasa Persia. Sekarang yang kita baca sudah versi terjemah dalam bahasa Arab. Konon ia juga menguasai bahasa Ibrani alasannya dalam kitab al-Radd al-Jamil, ia banyak mengadaptasi bahasa Ibrani.

4. Pernah dipuji gurunya. saat al-Ghazali merilis kitab al-Mankhul min Ta'liqah al-Ilm al-Ushul ia dipuji guru besarnya, al-Haramain. Bahkan sang guru berkata: "Kitabmu ini menenggelamkan namaku. Tidakkah kau sabar sebentar. Kepopularan Kitabmu menenggelamkan kitabku"

5. al-Ghazali lahir dari keluarga orang biasa. Ayahnya hanya seorang pedagang di pasar tetapi ia mencintai para alim ulama dan sering hadir di majelis debat atau bahtsul masail ulama untuk menyaksikan para alim berdiskusi sembari dalam hati kecilnya terus menangis agar ia dikaruniai seorang anak seperti mereka. Benar saja, lahir al-Ghazali yang namanya terus dibicarakan hingga hari ini.

Kisah di atas diadaptasi dari buku: Suluk Teladan: Keulamaan, Kearifan dan Keteladanan Ulama Ushul FIqh. Pesan buku tersebut dengan bonus tanda tangan penulisnya di sini: https://shp.ee/qkch75k. Tabik.

Ahmad Husain Fahasbu

Thursday, June 2, 2022

Petunjuk umum berguru dan bertareqat dalam ilmu tasawuf

Petunjuk umum berguru dan bertareqat dalam ilmu tasawuf

Dalam ilmu tasawuf. Guru itu ada 3 macam:

Pertama guru berkah, kita mengambil berkah pada semua ulama baik yang mengajarkan kita atau tidak, kadang alim, kadang juga ga alim, semua yang baik bisa kita ambil berkah. Sebagian mengatakan bahwa benda-benda pun bisa menjadi guru, selama bisa membuat kita belajar.

Kedua guru ilmiyah, kita memgambil ilmu dan berkah ilmu dari mereka. Mereka terbatas pada guru yang mengajarkan kita, dan tentu boleh lebih dari satu

Ketiga guru tareqah, merekalah guru yang membimbing sair kita menuju tuhan, mereka tempat kita menceritakan isi hati kita, menceritakan perubahan hati, spritual, dan segalanya. Mereka disebut juga mursyid. Dan kita tidak boleh mempunyai lebih dari satu mursyid. Karena dalam ilmu tasawuf siapa yang punya lebih dari satu mursyid maka ga akan wushul. Kalau kata imam syarany, ibarat istri yang memiliki 2 suami.

Saya pribadi sampai sekarang hanya menjalani satu tareqat saja, dari awal hanya satu, tidak berubah. Ga perlu saya menceritakan siapa guru saya, itu urusan saya sama tuhan. Yang pasti mu'tabar, ijazahnya jelas(baik am atau khas), gurunya jelas dan masyhur dikalangan mutakhasisin

Tentu sering saya ditawarkan untuk berbaiat irsyad, mulai dari yang mastur sampai pada wali masyhur dunia yang kayaknya ga ada yang ga kenal, bahkan jika ada yang mengatakan beliau ghaust, para ulama zahir akan menerimanya. Saya menghormati semuanya, saya akan menerima untuk ditalqin, saya akan menerima untuk baiat berkah, saya akan menerima wiridnya, saya menghormati dan tentu ingin ambil berkah dari semua orang baik itu.

Tapi garis merahnya adalah baiat irsyad, itu hanya satu, karena dalam ilmu tasawuf mursyid hanya satu, dan saya sudah punya mursyid, jadi saya akan menolak dengan baik dan memberi tahu bahwa saya punya guru. Dan semua mursyid yang beneran mursyid pasti paham ini, dan ga marah, karena mereka ga mengajak kita untuk berbaiat pada mereka, tapi pada allah dan rasulnya, jadi mau melalui jalur siapa saja tidak masalah. Jadi kita ambil berkahnya, tapi irsyad tetap dari mursyid kira, ibarat kata "mursyid kita itu ayah kita, sedangkan yang lain adalah paman kita"

Jika ada mursyid yang marah dengan itu, berarti kemungkinan besar dia bukan mursyid hakiki, karena ga paham kaidah dasar dalam ilmu tasawuf, kalau irsyad itu hanya sekedar wadhifah. Jadi kalau mau baiat ya baiat aja baiat berkah. Kalau irsyad, itu harus istikharah lama, biasanya mursyid kamil juga mengarahkan pada istikharah, ga langsung setuju, karena tugas irsyad itu tanggung jawab, bukan nambah-nambah pengikut.

Jadi tareqat itu bukan nambah-nambah pengikut, bukan mengajak agar orang-orang ikut tareqat kita, bukan bangga-banggaan guru saya ghaust atau qutub, tapi murni memperbaiki diri agar makin dekat dengan allah, bahkan jika guru kita bukan ghaust, hanya mursyid biasa, dikampung, jika seorang murid shadiq dalam thalab, bisa jadi membuatnya lebih dekat dengan allah bahkan dibanding dengan murid qutubuzzaman.

Jadi berhentilah bertariqat seperti itu adalah persaingan antar kelompok atau gagahan, tareqat itu bukan UCL, dimana saling mengalahkan dan membanggakan, tapi tareqat jalan menuju allah, dimana seharusnya saling menolong dan mendukung. Wallahualam

Tuesday, March 22, 2022

HARAM MENYEBARKAN PEMIKIRAN AL-HALLĀJ DAN IBNU ‘ARABĪ (bagian 1)

HARAM MENYEBARKAN PEMIKIRAN AL-HALLĀJ DAN IBNU ‘ARABĪ (bagian 1)

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

Al-Ḥallāj (الحَلاَّجُ) adalah sufi kontroversial yang hidup sebelum masa al-Gazzālī. Ibnu ‘Arabī (ابْنُ عَرَبِيٍّ) juga sufi kontroversial, tapi hidupnya setelah masa Al-Gazzālī. Tasawuf Ibnu ‘Arabī melanjutkan pemikiran al-Ḥallāj dan mengokohkannya dengan filsafat. Hanya saja akhir hayat keduanya berbeda.   Al-Ḥallāj meninggal dengan cara dihukum bunuh dan disalib sementara Ibnu ‘Arabī wafat biasa.

Ada tiga pemikiran yang dinisbahkan kepada al-Ḥallāj yang membuatnya divonis kafir zindiq oleh sejumlah ulama di zamannya yaitu,

• Al-ḥulūl (الحلول), yakni konsep penjelmaan Tuhan (lāhūt) pada  manusia (nāsūt) laksana bersatunya api dengan besi saat panas-panasnya atau seperti bercampurnya khamr dengan air yang jernih

• Al-ḥaqīqah al-muḥammadiyyah (الحقيقة المحمدية) yakni keyakinan bahwa nur muhammad adalah asal-usul segala kejadian

• Waḥdatul adyān (وحدة الأديان) yakni konsepsi kesatuan agama, bahwa semua agama hanya beda kulit tapi maksudnya sama

Di antara contoh ekspresi paham ḥulūl adalah ucapan al-Ḥallāj yang berbunyi “ana al-ḥaqq” (aku adalah Allah/al-ḥaqq ) juga kalimat “wamā fil jubbah illā Allah” (tidak ada di dalam jubah (ku ini) kecuali Allah).

Dua tokoh ini dikatakan kontroversial karena ada ulama yang membelanya bahkan mensifatinya sebagai wali Allah dan ada pula yang mengkritiknya sampai level mengkafirkan dan menzindiq-kan.

Di antara argumentasi terpenting untuk membela al-Ḥallāj adalah penjelasan yang kira-kira maknanya sebagai berikut,

“Secara substantif, ajaran al-Ḥallāj itu tidak masalah. Dia telah mencapai ma’rifatullah level tinggi yang membuatnya sampai tidak sanggup mengungkapkan pengalaman batinnya dengan kata-kata yang tepat sehingga lahirnya seperti mengucapkan kata-kata kufur”. 

Al-Gazzāli bisa jadi termasuk yang berhusnuzan dengan al-Ḥallāj dan menggolongkan kata-kata kontroversial yang keluar dari lisannya sebagai syaṭahāt (شطحات), yakni kata-kata kerinduan dan cinta terhadap Allah yang demikian mabuknya sampai-sampai seperti melantur dan seperti tidak sadar hingga mengklaim melihat Allah, berbincang-bincang denganNya dan bahkan bersatu dengan Allah! Kata-kata seperti ini diharapkan untuk dimaafkan karena kondisinya seperti orang hilang akal yang membuat taklif terangkat.

Adapun untuk Ibnu ‘Arabī, di antara argumentasi terpenting untuk membelanya  adalah penjelasan yang kira-kira maknanya sebagai berikut,

“Sufi itu punya istilah khusus dalam lingkungannya. Jika dipahami secara lahir pasti dihukumi kufur. Padahal maksudnya bukan seperti makna lahir. Oleh karena itu, jika ada kalimat-kalimat Ibnu ‘Arabī dalam kitab-kitabnya yang lahirnya bertentangan dengan syariah atau seperti kata-kata kufur, maka harus ditakwil dan dipahami sebagai istilah khusus agar tidak salah faham”

Ada pula yang membela Ibnu ‘Arabi dengan argumentasi  yang maknanya kira-kira begini,

“Hal-hal yang bertentangan dengan syariah pada karya-karya Ibnu ‘Arabī  itu bukan tulisan beliau, tetapi kerjaan orang Yahudi yang ingin merusak reputasi beliau. Seperti kasus al-Sya’rānī. Ada sebagian pendengki yang memasukkan tulisan kekufuran dalam kitab al-Sya’rānī,  lalu al-Sya’rānī disidang ulama gara-gara itu. Setelah al-Sya’rānī menunjukkan naskah asli kitab beliau,  tahulah semuanya  bahwa tulisan kufur itu bukan tulisan beliau”

(bersambung)

HARAM MENYEBARKAN PEMIKIRAN AL-HALLĀJ DAN IBNU ‘ARABĪ (bagian 2)

HARAM MENYEBARKAN PEMIKIRAN AL-HALLĀJ DAN IBNU ‘ARABĪ (bagian 2)

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

Patut dicatat, sejak dulu para ulama berbeda pendapat menyikapi dua sosok sufi ini. Sebagian mengkritik habis-habisan, sebagian lagi membela habis-habisan. Ada pula yang memilih netral agar lebih selamat. Mereka yang mengkafirkan kedua tokoh ini bukan ulama kaleng-kaleng. Tapi mereka yang membela keduanya juga bukan ulama kecil-kecil. Termasuk yang memilih untuk netral juga dikenal sebagai ulama besar.

Tetapi, di manapun posisi kita, entah sepakat dengan ulama yang mengkafirkan al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī, membela mereka  maupun bertawaqquf terhadap mereka, maka menyebarkan pemikiran keduanya tetap haram.

Jika kita bertaklid kepada ulama yang mengkafirkan al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī, maka sudah jelas keharaman menyebarkan pemikiran keduanya adalah karena itu dakwah pada kekufuran sementara kekufuran pasti mengantarkan ke neraka. Patut dicatat, yang mengkritik tajam sampai menisbahkan kekufuran kepada keduanya bukanlah ulama sembarangan. Yang mengkritik Ibnu ‘Arabi misalnya adalah al-‘Irāqī, Taqiyyuddīn al-Subkī,   Ibnu Ḥajar al-‘Asqalānī dan lain-lain.

Jika pun kita bertaklid kepada ulama yang membela al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī, maka menyebarkan pemikiran keduanya tetap haram berdasarkan sejumlah argumentasi.

PERTAMA, haram hukumnya menyampaikan sesuatu yang tidak sanggup dijangkau akal pendengar yang bisa membuat Allah dan Rasul-Nya didustakan. Al-Bukhārī meriwayatkan,

وَقَالَ عَلِيٌّ: «حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ، أَتُحِبُّونَ أَنْ ‌يُكَذَّبَ ‌اللهُ ‌وَرَسُولُهُ؟». [«صحيح البخاري» (1/ 37 ط السلطانية)]

Artinya,

“Ali berkata, ‘Berbicaralah dengan orang dengan tema yang dijangkau/difahami oleh mereka. Apa kalian senang Allah dan RasulNya didustakan?”

Pihak yang membela al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī sepakat bahwa pemikiran keduanya jika disampaikan kepada awam akan membuat fitnah, karena dianggap tidak bisa difahami oleh akal orang-orang biasa. Jika benar demikian, maka jelas haram menyampaikan hal tersebut ke publik karena menjadi wasilah nyata  fitnah dalam din. Ini juga realisasi qā‘idah syar‘iyyah, “Al-Wasīlatu ilāl ḥarām muḥarramah”. Al-Gazzālī berkata,

«فإن ‌كان ‌يفهمه ‌القائل دون المستمع فلا يحل ذكره». [«إحياء علوم الدين» (1/ 36)]

Artinya,

“Jika orang yang memiliki gagasan memahaminya, tapi pendengar tidak paham, maka tidak halal mempublikasikannya”

KEDUA, menyampaikan sesuatu yang tidak difahami terkait din adalah haram.

Jika menyampaikan sesuatu yang dipahami saja bisa haram, yakni dalam kondisi penutur lemah memilih diksi sehingga pendengarnya bisa terfitnah, maka tentu lebih haram lagi menyampaikan sesuatu yang tidak difahami dengan baik berdasarkan kaidah min bābi aulā. Orang yang husnuzan kepada al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī, lalu mempelajari pemikiran keduanya, tapi sebenarnya juga tidak mengerti betul hakikat paham mereka, dan dia juga tidak tahu apakah paham mereka melanggar syariat ataukah tidak, maka haram baginya menyampaikan pemikiran tersebut ke publik. Bagaimana mungkin orang yang tidak paham betul sebuah pemikiran lalu berani menyampaikannya ke publik? Perumpamaan orang-orang seperti ini laksana orang yang masak tapi belum matang, lalu dihidangkan ke masyarakat. Apa jadinya? Orang jadi sakit perut! Al-Gazzālī berkata,

«وهذا فيما يفهمه صاحبه ولا يبلغه عقل المستمع فكيف فيما لا يفهمه قائله». [«إحياء علوم الدين» (1/ 36)]

Artinya,

“Ini adalah hukum bagi orang yang memahami pikirannya sendiri tapi pendengarnya tidak sanggup mencernanya. Lalu, bagaimana dengan orang yang dia sendiri tidak memahami pikirannya?”

KETIGA, konsep syaṭāḥāt sudah terbukti mengantarkan para awam meninggalkan kewajibannya.

Pihak yang membela al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī telah sepakat bahwa ada ucapan-ucapan keduanya yang lahirnya melanggar syariat dan tergolong kekufuran. Tetapi dengan husnuzan, ucapan-ucapan kufur tersebut ditakwil sebagai bentuk syaṭahāt (semacam kalimat mabuk cinta karena Allah) atau istilah khusus sufi. Kalaupun benar husnuzan ini, maka bahayanya jelas nyata bagi orang awam. Kata al-Gazzālī, di zamannya saja sudah ada orang awam yang mencoba-coba masuk di dunia seperti itu, lalu meniru-niru ucapan yang dianggap syaṭaḥāt itu, sampai akhirnya meninggalkan kerjanya tidak mau bertani lagi!

Jadi, jangan heran jika ada orang awam yang masuk dalam paham seperti ini lalu melupakan anak istri dan meninggalkan semua tanggungjawabnya dengan alasan sudah asyik “berduaan” dengan Allah!

Berdasarkan kaidah fikih al-wasīlah ilā al-ḥarām muḥarramah (wasilah yang  mengantarkan pada keharaman hukumnya haram), maka menyebarkan pemikiran al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī  juga menjadi haram karena mengantarkan pada keharaman. al-Gazzālī berkata,

«وهذا فن من الكلام عظيم ضرره في العوام حتى ترك جماعة من أهل الفلاحة فلاحتهم». [«إحياء علوم الدين» (1/ 36)]
Artinya,
“Ini adalah  jenis ucapan yang dampak buruknya sungguh besar di kalangan awam, sampai-sampai ada sejumlah petani yang meninggalkan profesi taninya”

KEEMPAT, dampak fitnah ucapan-ucapan yang ditakwil sebagai syaṭaḥāt di kalangan awam sangat besar sehingga pengucap syaṭāhāt kufur tersebut layak dihukum bunuh.

Kata al-Gazzālī, orang yang mengucapkan kata-kata kufur meskipun mungkin dihusnuzani sebagai syaṭaḥāt, maka layak dihukum bunuh untuk menjaga agama Allah. Tentu saja tidak boleh ada toleransi sama sekali dalam kata-kata kufur terkait Allah. Jika simbol-simbol negara saja bisa diancam penjara jika dihina, maka mengucapkan kata-kata kufur terkait Allah lebih layak untuk ditertibkan, karena dinullah lebih agung daripada negara. Al-Gazzālī berkata,

«فهذا ومثله مما قد استطار في البلاد شرره وعظم في العوام ضرره حتى من نطق بشيء منه فقتله أفضل في دين الله من إحياء عشرة». [«إحياء علوم الدين» (1/ 36)]

Artinya,
“Yang seperti ini dan semisalnya termasuk perkara yang bunga apinya telah menyebar di berbagai negeri dan dampak buruknya telah membesar di kalangan para awam.  Orang yang mengucapkan  kalimat seperti itu, membunuhnya lebih afdal untuk menjaga dinullah daripada menghidupi 10 nyawa”

Secara implisit dengan pernyataan ini, al-Gazzālī menyetujui hukuman bunuh untuk al-Ḥallāj, walaupun bisa jadi  secara substantif beliau berhusnuzan terhadap al-Ḥallāj.

Jika sebuah pemikiran telah terbukti pernah membuat fitnah besar di dunia Islam sampai pengucapnya layak dihukum bunuh tanpa peduli lagi substansinya benar atau salah, maka menyebarkan pemikiran jenis ini jelas haram.

KELIMA, Ibnu ‘Arabī sendiri konon melarang orang membaca buku-bukunya. Di antara kalimat yang dinisbahkan kepada Ibnu ‘Arabī berbunyi,

نحن قوم يحرم النظر في كتبنا

Artinya,

“Kami adalah kaum yang (hukumnya) haram mengkaji buku-buku kami”

Jika benar Ibnu ‘Arabī mengatakan kalimat ini, berarti pahamnya itu din pribadi. Bukan din yang untuk disebarkan kepada khalayak. Tanggung jawabnnya dihadapan Allah hanya untuk beliau pribadi, bukan untuk disebar-sebar dan dipropagandakan untuk masyarakat umum. Artinya perlakukan paham Ibnu ‘Arabī itu sebagai din, bukan millah. Ilmu yang diajarkan Allah kepada nabi Khidir adalah din, tapi ajaran nabi Musa adalah millah.

Al-Suyūṭī meskipun membela Ibnu ‘Arabī bahkan meyakininya sebagai wali, beliau tegas mengharamkan untuk membaca kitab-kitabnya. Al-Suyūṭī berkata,

والقول الفصل عندي في ابن عربي طريقة لا يرضاها فرقة أهل العصر ممن يعتقده ولا ممن ينكر عليه، وهي اعتقاد ولايته، ويحرم النظر في كتبه

Artinya,

“Pendapat final saya terkait Ibnu ‘Arabī adalah mengambil jalan yang tidak disenangi kelompok yang mempercayai beliau di zaman sekarang dan tidak juga disenangi mereka yang mengkritik beliau, yakni: Meyakini kewaliannya, tapi HARAM mengkaji kitab-kitabnya”  (Tanbīhu al-Gabī bi Tabri’ati Ibni ‘Arabī, hlm 4)

Senada dengan itu, Ibnu ‘Ḥajar al-Haitamī, walaupun beliau termasuk pecinta Ibnu ‘Arabī dan meyakini kewaliannya, tapi beliau mewanti-wanti agar orang  benar-benar berpaling dari kitab-kitab Ibnu ‘Arabī semampunya. Karena beliau melihat sendiri orang jatuh kepada kemusyrikan setelah mengkaji kitab-kitab Ibnu ‘Arabī itu.

Syarat yang disebut al-Haitamī agar orang tidak tersesat saat menelaah karya-karya Ibnu ‘Arabī juga menunjukkan itu hampir mustahil terwujud di zaman ini, karena beliau mensyaratkan harus sudah menguasai Al-Qur’an, Sunah, mengkaji hakikat semua pengetahuan dan mengkaji semua pengetahuan hakikat. Ini level mujtahid mutlak atau yang mendekatinya dan masih harus ditambah lagi dengan menguasai semua khazanah ilmu aqli seperti ilmu kalam dan filsafat. Profesornya profesor syariah di zaman sekarang dengan paper 1000 terindeks scopus sekalipun saya pribadi tidak percaya bisa memenuhi syarat itu. Jika faktanya mustahil mewujudkan  syarat-syarat yang ditetapkan al-Haitamī atau minimal super sulit, lalu diduga ada manfaat mengkajinya, maka mengkaji apalagi menyebarkan pemikiran Ibnu ‘Arabi (termasuk al-Ḥallāj) tetap haram berdasarkan kaidah fikih “Dar-ul mafāsid muqaddamun ‘alā jalbil maṣaliḥ”

Dengan demikian, haram hukumnya mempropagandakan pemikiran al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī apalagi menyebarkannya kepada masyarakat umum.  Termasuk tasawuf yang merupakan pengembangan dan anak turun dari pemikiran keduanya seperti tasawuf Ibnu al-Fāriḍ (ابن الفارض), Ibnu Sab‘īn (ابن سبعين), Jalāluddin al-Rūmī (جلال الدين الرومي), Hamzah Fanṣurī, Syamsuddīn al-Sumatranī, Siti Jenar dan semisalnya. Termasuk semua paham sinkretis lokal di negeri kita yang terpengaruh paham Ibnu Arabī seperti gagasan dalam Serat Wirid  Hidayat Jati karangan Ranggawarsita, paham perkumpulan WARGO UTOMO, paham perkumpulan PANGESTU, paham perkumpulan SUMARAH dan semisalnya.

(bersambung)

Friday, December 11, 2020

PERBEDAAN ANTARA RĀSYID, MUHTADI, ḌĀLL DAN GĀWĪ

PERBEDAAN ANTARA RĀSYID, MUHTADI, ḌĀLL DAN GĀWĪ

Oleh : Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)
***

Orang yang benar-benar buta petunjuk secara total, tidak tahu pedoman, tidak mengerti tuntunan dan tidak paham bimbingan, maka ia dinamakan ḍāll (الضَّالُّ). Bentuk jamaknya ḍāllūn (الضَّالُّوْنَ) atau ḍāllīn (الضَّالِّيْنَ). Lafal ini biasanya diterjemahkan “orang yang tersesat”. Jadi, jika dalam Al-Qur’an atau hadis digunakan lafal ini, maka itu memaksudkan kondisi orang yang buta pengetahuan sama sekali sehingga tidak mengerti arah dan berjalan ke arah yang salah. Orang-orang Arab jahiliyyah disebut ḍāllīn karena mereka tidak kenal Allah, tidak mengetahui jalan menyucikan diri dan tidak tahu bagaimana cara menuju Allah. Dalam Surah Al-Fātiḥah, ayat terakhir juga menyebut orang-orang yang memiliki sifat ḍāllīn. Para mufassir menjelaskan contoh utama kaum yang demikian adalah Nasrani, karena mereka ingin mencintai Allah, tapi salah jalan karena tidak mengikuti Nabi Muhammad.

Adapun jika orang tahu petunjuk, tetapi sengaja tidak mengikutinya, entah karena kesombongan, kedengkian, kegengsian, semangat asabiyah dan semua kecenderungan hawa nafsu lainnya, maka sebutan makhluk seperti ini bukan ḍāll, tetapi gāwī (الغاوي). Bentuk jamaknya gāwūn (الغاوون) atau gāwīn (الغاوين). Lafal ini biasanya juga diterjemahkan “orang yang tersesat”. Iblis disebut gāwī karena dia tahu kebenaran, tapi tidak mau mengikutinya. Dia tahu petunjuk tapi tidak melaksanakannya. Dia tahu perintah tapi sengaja melanggarnya. Fir’aun juga termasuk golongan ini, sebab hati Fir’aun sebenarnya meyakini kebenaran Nabi Musa, tapi hawa nafsunya yang tidak mau kehilangan kemegahan duniawi membuatnya menolak mengikuti nabi Musa. Orang Yahudi juga masuk dalam golongan ini. Mereka tahu kebenaran Nabi Muhammad, tapi enggan mengikutinya karena dengki. Mayoritas orientalis Barat yang mengkaji Islam juga banyak yang terkena sifat ini.

Jadi, bisa disimpulkan dāll adalah ciri orang yang tidak tahu kebenaran secara total, sementara gāwī adalah orang yang sebenarnya mengakui kebenran sesuatu tapi enggan mengikutinya.

Adapun muhtadī (المهتدي), maka pengertiannya adalah orang yang mendapatkan petunjuk. Bentuk jamaknya muhtadūn (المهتدون) atau muhtadīn (المهتدين). Penekanannya semata-mata dari aspek perolehan ilmu yang menjadi tuntunan, petunjuk dan pedoman untuk melangkah. Jadi, jika dalam Al-Qur’an disebut orang-orang yang mendapatkan petunjuk, kondisi-kondisi yang membuat Allah berkenan memberi petunjuk, dan hal-hal yang membuat Allah tidak berkenan memberi petunjuk, maka maksudnya adalah kondisi seseorang mendapatkan ilmu yang bisa mengarahkannya ke jalan yang benar.

Begitu petunjuk tersebut diikuti dan dilaksanakan, maka orang tersebut disebut dengan istilah rāsyid (الراشد). Bentuk jamaknya rāsyidūn (الراشدون) atau rāsyidīn (الراشدين) Dengan kata lain, rāsyid adalah muhtadī (orang yang mendapatkan petunjuk) yang mengamalkan petunjuk tersebut.

Oleh karena itu, sekarang kita bisa mamhami lebih baik mengapa para Sahabat disebut Allah sebagai kaum rāsyidun dalam ayat ini,

﴿ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللّٰهِ ۗ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنَ الْاَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيْكُمُ الْاِيْمَانَ وَزَيَّنَهٗ فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ اِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الرّٰشِدُوْنَۙ ٧ ﴾ ( الحجرٰت/49:7)
Artinya

“Ketahuilah olehmu bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah. Kalau dia menuruti (kemauan) kamu dalam banyak hal pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang rāsyidūn” (Al-Hujurat/49:7)

Para Sahabat yang memiliki sifat menonjol cinta terhadap iman, benci kekufuran dan benci kemaksiatan disebut Allah sebagai kaum rāsyidūn karena mereka mendapatkan petunjuk, lalu melaksanakan petunjuk tersebut.

Dari sini bisa difahami juga istilah khulafā’ rāsyidīn. Khalifah Abu Bakar, Umar, Uṡmān dan ‘Alī disebut para khalifah rāsyidīn karena mereka mendapatkan petunjuk dan melaksanakan petunjuk tersebut, sehingga layak ijtihadnya diikuti pada perkara-perkara yang tidak dijelaskan dalam Al-Qur’an maupun hadis.

Sampai sini bisa disimpulkan juga bahwa dāll adalah lawan muhtadī, sementara gāwī adalah lawan rāsyid. Ibnu Rajab berkata,

فالراشد عرف الحقَّ واتَّبعه، والغاوي: عرفه ولم يتَّبعه، والضالُّ: لم يعرفه بالكليَّة، فكلُّ راشدٍ، فهو مهتد، وكل مهتدٍ هدايةً تامَّةً، فهو راشد؛ لأنَّ الهدايةَ إنَّما تتمُّ بمعرفة الحقِّ والعمل به أيضاً. جامع العلوم والحكم ت ماهر الفحل (2/ 781)
Artinya,

“Rāsyid adalah orang yang mengetahui kebenaran dan mengikutinya. Gāwī adalah orang yang mengetahui kebenaran tapi tidak mengikutinya. Ḍāll adalah orang yang tidak mengetahui kebenaran secara total. Jadi, setiap rāsyid adalah muhtadī dan setiap muhtadī yang mendapatkan hidayah sempurna maka dia rāsyid karena hidayah itu hanya sempurna dengan cara mengetahui kebenaran kemudian mengamalkannya juga” (Jāmi‘ Al-‘Ulūm wa Al-Ḥikam, juz 2 hlm 781)

Versi Situs: irtaqi.net/2020/12/10/perbedaan-antara-rasyid-muhtadi-ḍall-dan-gawi/

***
24 Rabi’ul Akhir 1442 H

Tuesday, August 18, 2020

Jejak Tasawuf dalam Kepemimpinan Bung Karno

Jejak Tasawuf dalam Kepemimpinan Bung Karno
Kamis 18 Agustus 2016 08:51 WIB
Oleh Ren Muhammad

Kiai Muhammad Muchtar Mu’thi bin KH Abdul Mu'thi, dari Pondok Pesantren Majma'al Bahrain Shiddiqiyyah, Losari, Ploso, Jombang, Jawa Timur, mengungkapkan bahwa kurang lebih lima bulan jelang kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamirkan oleh Dwi Tunggal: Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, keduanya telah menemui empat orang ulama tasawuf yang mukasyafah (terbuka mata batinnya). Empat ulama tasawuf itu adalah Syeikh Musa dari Sukanegara, Cianjur; KH Abdul Mu'thi dari Madiun; Sang Alif atau Raden Mas Panji Sosrokartono yang sudah mukim di Bandung; dan Hadratusysyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari, Jombang (pendiri Nahdlatul Ulama). Kesimpulan dari pertemuan Sukarno dengan empat ulama tasawuf tersebut adalah: Akan ada berkat Rahmat Allah yang besar turun di Indonesia, pada Jumat legi, 9 Ramadhan 1364 Hijriah. Bila meleset, harus menunggu tiga abad lagi. Titimangsa itu sama persis dengan Proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dikumandangkan Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Nama Hatta kerap diabaikan sebagai bagian penting sejarah Proklamasi. Padahal dialah yang menyusun teks Proklamasi itu dan Sukarno yang membacanya. Hal ini bisa kita temukan dalam tulisan Hatta di otobiografinya, Untuk Negeriku, yang ia rampungkan penulisannya sebelum wafat pada 1980. Atas sumbangsih Hatta itulah, maka menjadi sah julukan yang diembannya sebagai dwitunggal RI. Ungkapan Kiai Muchtar di atas, sejajar dengan yang dikatakan Prof. Mansur Suryanegara saat diwawancarai situs Eramuslim pada 11 Syawal 1434 H/17 Agustus 2013, yang menguraikan siapa saja ulama penyokong pembacaan Proklamasi. “Pertama. Syeikh Musa, ulama dari Sukanegara, Cianjur Selatan. Kedua. Drs. Sosrokartono, kakaknya RA Kartini. Ketiga. KH Abdul Mukti, dan keempat, KH Hasyim Asy’ari. Mereka inilah yang memberi tahu bahwa Jepang tidak akan mengganggu Indonesia lagi. Kiai Hasyim pada waktuitu juga mengatakan bahwa presiden pertama Indonesia adalah Bung Karno, dan hal itu telah disetujui angkatan laut Jepang.” Dari deretan nama tersebut, hanya Syeikh Musa saja yang belum terjelaskan dengan baik dalam catatan sejarah. Perlu dilakukan penelitian lanjutan terkait hal ini. Prof. Mansur Suryanegara masih memberi tambahan data lagi selain peran empat orang pembesar di atas. “Jadi ketika 10 Ramadhan atau 18 Agustus 1945, Pancasila sebagai dasar negara dikukuhkan oleh tiga orang, KH Wahid Hasyim (NU), Ki Bagus Hadi Kusumo, dan Kasman Singodimejo (keduanya dari Muhammadiyah). Mereka itulah yang membuat kesimpulan Pancasila sebagai adicita negara, dan UUD ‘45 sebagai konstitusi. Kalau tidak ada mereka, BPUPKI takkan mencapai kata sepakat, walaupun diketuai oleh Bung Karno sendiri. Dari situ pula, Bung Karno diangkat jadi presiden, dan Bung Hatta sebagai wakilnya. Jadi negara ini yang memberi kesempatan Proklamasi seperti itu adalah ulama.” Terkait hubungan Sukarno dengan RMP Sosrokartono, memang sangat sedikit buku sejarah yang mencatatnya. Bagi Sukarno, Sosrokartonoyang poliglot itu, tak hanya sekadar guru bahasanya, melainkan juga guru spiritual yang memang ia akui. Posisi penting Sosrokartono itu bisa kita amini ketika Sukarno dan tiga pembelanya di Landraad (Pengadilan) Bandung pada 18 Agustus 1930, ketika membacakan “Indonesia Klaagt Aan” (Indonesia Menggugat), yang ia susun di Penjara Banceuy, mendatangi rumah sekaligus balai pengobatan Sosrokartono—semalamsebelum putusan pengadilan dijatuhkan. Kedatangan mereka secara diamdiam itu, ternyata telah diketahui lebih dulu oleh Sosrokartono melalui mukasyafah-nya. Di dalam rumah, telah disediakan empat bangku kosong. Sedang Sosrokartono telah duduk mendahului tamunya. Sebelum para tamu yang gelisah itu angkat bicara, tuan rumah seketika berujar. “Sukarno adalah seorang satria. Pejuang seperti satria boleh saja jatuh, tetapi ia akan bangkit kembali. Waktunya tidak lama lagi.” Apa yang terjadi keesokan harinya? Sukarno dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Paling berat di antara tiga kawan seperjuangannya, Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata, yang hanya diganjar hukuman separuh dari waktu yang harus dilalui Sukarno. Meski mereka berupaya mengajukan banding ke Raud van Justitie (Pengadilan Tinggi), namun hasilnya nihil. Hukuman Sukarno telah mantap dikukuhkan. Di sebuah rumah panggung di Jalan Pungkur No. 7, Bandung (sekarang tepat di seberang terminal Kebon Kalapa), pernah berdiri rumah pengobatan bernama Pondok Darussalam. Rumah inilah yang menjadi pelabuhan terakhir Sosrokartono setelah pengembaraannya di Eropa selama 27 tahun. Rumah panggung itu terbuat dari kayu berdinding bambu. Dibangun memanjang membentuk huruf L. Sosrokartono diminta menempati gedung itu oleh RM Suryodiputro, adik Ki Hajar Dewantara. Gedung inilah yang menjadi saksi kesaktian Sosrokartono mengobati pasiennya hanya dengan mencelupkan telunjuk ke dalam air di gelas. Jari telunjuk itu adalah simbolisasi dari huruf alif (١) yang jadi ciri khasnya saat mengobati orang sakit. Kenapa huruf alif? Ja’far Ash-Shadiq ra (dalam Schimmel, 1996: 230) mengungkapkan: ”Tuhan membuat huruf Hijaiyyah sebagai induk segala benda; indeks dari segala sesuatu yang bisa dilihat... Segala sesuatu bisa diketahui melalui huruf.” Kemampuan ajaib Sosrokartono inilah yang membuat ia digelari persoonlijke magnetisme oleh seorang dokter yang anak kerabatnya disembuhkan Sosrokartono ketika masih melanglang buana di Eropa. Menurut Budya Pradipta, Ketua Paguyuban Sosrokartanan Jakarta dan dosen tetap bahasa, sastra, dan budaya Jawa, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, “Darussalam adalah bekas gedung Taman Siswa, Bandung. Eyang Sosro di sana karena diminta menjadi pimpinan Nationale Middelbare School (Sekolah Menengah Nasional) milik Taman Siswa.”Para guru di sekolah Taman Siswa itu antara lain, Ir. Sukarno, Dr. Samsi, Mr. Sunario SH, dan Mr. Usman Sastroamijoyo. RMP Sosrokartono juga ikut aktif dalam kegiatan politik saat zaman pergerakan nasional Indonesia. Kegiatan Sosrokartono dapat dilihat dari laporan para pejabat kolonial Belanda.Dalam laporan rahasia yang dibuat Van Der Plas pejabat Adviseur Voor Inlandse Zaken tertulis, kalau (Doctorandus) Drs. Sosrokartono termasuk pelopor gerakan nasional Indonesia dan tidak dapat dipercaya oleh pemerintah kolonial Belanda. Ada lagi laporan dari Komisi Istimewa yang terdiri Herwerden dan Toxopeus langsung kepada Ratu Wilhelmina, yang berisi kalau Sosrokartono penganjur swadesi dan sangat berbahaya bagi berlangsungnya ketenteraman dan kedamaian di Hindia Belanda. Kelak, gedung ini juga pernah dipakai oleh Partai Nasional Indonesia pimpinan Sukarno, dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisastie pimpinan Abdul Rachim, mertua Bung Hatta.Kayanto Soepardi, 63 tahun, putra seorang asisten Sosrokartono, menuturkan ingatannya, “Darussalam tak pernah sepi. Tamunya beragam. Sedari orang Belanda, pribumi, hingga Cina peranakan. Ia juga pernah melihat Sukarno datang menemui Sosrokartono. Saat itu Sosrokartono sedang menggoreskan huruf alif di atas kertas putih seukuran prangko dan menyelipkannya ke dalam peci Sukarno muda, entah untuk apa. Saat itu, Sukarno dan kawan seperjuangannya sudah kerap datang ke Darussalam guna belajar bahasa pada Sosrokartono. Hubungan mesra Sukarno dengan para ulama tasawuf sebelum kemerdekaan, juga bisa kita lacak dari laporan Jose Hendra untuk Majalah Historia pada Rabu, 1 Juni 2016, yang berjudul Sila Ketuhanan dari Ulama Padang Japang. Syeikh Abbas Abdullah adalah tokoh yang memberi wejangan kepada Sukarno terkait sila pertama Pancasila. Kala itu, ia berkunjung ke Perguruan Darul Funun el Abbasiyah (DFA) di Puncakbakuang, Padang Japang, yang didirikan Syeikh Abbas. “Bung Karno berkunjung ke madrasah Darul Funun, dengan tujuan meminta saran kepada Syeikh Abbas Abdullah tentang apa sebaiknya landasan bagi negara Indonesia yang akan didirikan kelak, bila kemerdekaan sungguh benar tercapai. Syeikh Abbas menyarankan negara yang akan didirikan kelak haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa,” tulis Muslim Syam dalam Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat, terbitan Islamic Centre Sumatera Barat (1981). Syeikh Abbas, yang juga dikenal dengan sebutan Buya (Syeikh) Abbas Padang Japang, menambahkan kalau hal demikian diabaikan, revolusi takkan membawa hasil yang diharapkan. Fachrul Rasyid HF, yang turut menulis dalam buku tersebut, mengatakan, tidak banyak orang tahu pembicaraan mereka berdua sebelum Syeikh Abbas mengungkapkannya tiga hari kemudian, “Di hadapan guru dan siswa DFA—usaishalat Jumat di Masjid al-Abbasyiah. Syeikh Abbas mengatakan kedatangan Sukarno ke DFA untuk membicarakan konsep dasar dan penyelenggaraan negara. Persisnya, Syeikh Abbas menyarankan bahwa negara harus berdasar ketuhanan,”ujar Fachrul menirukan kembali cerita yang ia dapat dari keluarga Syeikh Abbas dan masyarakat setempat. Kedatangan Sukarno ke Padang Japang masih menjadi ingatan kolektif masyarakat Padang Japang saat ini. Yulfian Azrial, anggota Masyarakat Sejarahwan Indonesia Sumatera Barat, mengatakan, Darul Funun merupakan madrasah yang cukup berpengaruh berkat kebesaran dua syeikhnya, yakni Syeikh Abbas Padang Japang dan Syeikh Mustafa Abdullah.Kebesaran kedua syeikh yang bersaudara ini membuat Sukarno merasa perlu ke Padang Japang, setelah bebas dari pembuangan di Bengkulu. Syeikh Abbas dan Syeikh Mustafa adalah murid ulama Minangkabau terkemuka di Makkah, Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Syeikh Abbas juga berkawan dekat dengan Syeikh Abdul Karim Amarullah atau Inyiak Rasul. Bersama Abdullah Ahmad dan beberapa ulama lain, Syeikh Abbas mendirikan Madrasah Sumatera Thawalib. Pada 1930, Syeikh Abbas mengubah Sumatera Thawalib di Padang Japang menjadi DFA karena menolak bergabung dengan Persatuan Muslimin Indonesia (Permi). Syeikh Abbas sendiri kala itu bukan sekadar ulama melainkan juga panglima jihad Sumatera Tengah. Pasukan jihad ini didirikan DFA sebagai basis perjuangan menghadapi Belanda. Anggotanya adalah Hizbul Wathan dan Laskar Hizbullah.Sementara sekolah tetap menjadi basis untuk menggapai dan mengisi kemerdekaan. “Wajar Sukarno menemui Syeikh Abbas, karena ia bukan saja ulama tapi panglima perang,” tukas Fachrul, wartawan senior di Sumatera Barat. Menurut Fachrul, perjumpaan Sukarno dengan Syeikh Abbas hanya berlangsung sebentar. Ia datang sekitar pukul satu siang, lalu balik sore hari. Sukarnoberada di Padang ketika era transisi Belanda ke Jepang. Ia berada di Sumatera Barat selama lima bulan, sedari Februari 1942 hingga Juli 1942. Ketika sudah menjabat sebagai presiden Indonesia, Sukarno masih terus melakukan kontak dengan para ulama kawakan, terutama dari barisan Nahdliyin. Dua di antaranya yang paling terkenal rapat dengan Sukarno adalah KH.Abdul Wahab Chasbullah dan KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Kemerdekaan Indonesia yang masih terus dirongrong Belanda dengan membonceng tentara Sekutu, membuat Sukarno dan para tetua bangsa kita, resah dan cemas. Maka Sukarno, Mohammad Hatta, dan Jenderal Sudirman pun meminta wejangan pada KH Wahab terkait hukummempertahankan kemerdekaan pada awal Oktober 1945. KH Wahab yang mumpuni di bidangushul fiqih menyatakan, bahwa kemerdekaan yang telah diraih bangsa ini wajib dipertahankan. Guru Bangsa, HOS Cokroaminoto, juga merupakan satu dari sekian banyak tokoh yang pernah urun rembuk dengan Kiai Wahab terkait persoalan kebangsaan yang tengah dihadapi bersama. Kiai Wahab dan Kiai Hasyim memang memiliki hubungan darah yang cukup erat. Secara silsilah, dua kiai sepuh ini merupakan keturunan dari Kiai Sikhah. Anak buah Pangeran Diponegoro yang kemudian masuk ke Kabupaten Jombang saat Perang Jawa meletus. Mereka berdua pernah satu pesantren namun beda angkatan, yakni ketika nyantri di pesantren Syaikhona Kholil, Bangkalan, Madura. Sejauh yang bisa kita telusuri, mungkin hanya Sukarno satusatunya presiden dunia yang berhubungan baik dengan para ulama. Bahkan kecenderungan itu sudah ia lakukan tanpa sadar sejak masih usia belia, saat keluarganya menetap di Pojokkrapak, Jombang. KH Abdul Mu’thi yang pernah ia temui sebelum kemerdekaan, misal, adalah sahabat kental sekaligus guru ayahnya, Raden Sukeni. Wajar bila sosok kharismatik itu didatangi lagi oleh Sukarno ketika ia harus mengambil keputusan besar bagi bangsa ini: mendirikan satusatunya negara tauhid di dunia. HOS Cokroaminoto yang juga induk semang sekaligus cermin utama bagi Sukarno, juga pegiat tasawuf. Sebelum tampil sebagai Raja Jawa Tak Bermahkota, ia sudah lebih dulu belajar pada Kiai Ageng Muhammad Besari (Hasan Besari I) yang adalah buyutnya sendiri. Kiai Hasan Besari, adalah panglima perang Pangeran Diponegoro yang sangat ditakuti Belanda. Jadi antara Kiai Hasan Besari, Kiai Wahab Chasbullah, dan Kiai Hasyim, terjadi hubungan unik. Ketiganya, punya keterkaitan dengan Pangeran Diponegoro. Mereka bertiga adalah kiai pejuang yang tangguh pada zamannya. Atas dasar itulah, menjadi sah jika sebelum dan semasa menjabat sebagai presiden Indonesia, Sukarno cenderung menampung semua aspirasi yang berdatangan ke kursi kekuasaannya. Peran sebagai Manusia Indonesia (bukan Nusantara) Pertama, ia jalankan sesuai fungsi. Anak-anak republik yang baru lahir, punya hak yang sama untuk tumbuh. Barisan agamis, nasionalis, sosialis, komunis, ia gandeng erat. Corak tasawuf dalam kepemimpinannya bahkan masih terasa ketika Suharto berusaha mengudeta pemerintahan. Demi alasan menghindari perang saudara, Sukarno angkat kaki secara sukarela dari Istana Negara, dan kembali pada fitrah kebangsaannya menjadi rakyat jelata. Penulis adalah pecinta Indonesia dengan melakukan studi atasnya

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/70499/jejak-tasawuf-dalam-kepemimpinan-bung-karno

Friday, May 3, 2019

AGAR PUASA MENGHASILKAN CAHAYA

AGAR PUASA MENGHASILKAN CAHAYA
_______________________________________
Berkata sebagian arifin,
الصوم بقدر ما يكون تجويعا للبطن فانه يكون غذاء للروح
Besarnya makanan bagi ruh sesuai kadar kosongnya perut seseorang. Semakin lapar perut seseorang ketika berpuasa semakin besar cahaya yang masuk ke dalam ruhnya.

Al-Imam Al-Habib Abdullah Al-Haddad berkata
ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺤﺪﺍﺩ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ: ﻭﻣﻦ ﺁﺩﺍﺏ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﺜﺮ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺑﺎﻟﻨﻬﺎﺭ ، ﻭﻻ ﻳﻜﺜﺮ ﺍﻷﻛﻞ ﺑﺎﻟﻠﻴﻞ ، ﻭﻟﻴﻘﺘﺼﺪ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺣﺘﻰ ﻳﺠﺪ ﻣﺲ ﺍﻟﺠﻮﻉ ﻭﺍﻟﻌﻄﺶ ؛ ﻓﺘﺘﻬﺬﺏ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﺗﻀﻌﻒ ﺷﻬﻮﺗﻪ ، ﻭﻳﺴﺘﻨﻴﺮ ﻗﻠﺒﻪ ...ﻭﺫﻟﻚ ﺳﺮ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻭﻣﻘﺼﻮﺩﻩ (ﺍﻟﻨﺼﺎﺋﺢ ﺍﻟﺪﻳﻨﻴﺔ ﺹ 138)

"Diantara adab-adabnya orang yang berpuasa, hendaknya ia tidak memperbanyak tidur di siang hari dan tidak memperbanyak makan di malam hari. Hendaknya ia bersikap wajar saja akan hal tersebut, sehingga ia tetap merasakan rasa lapar dan dahaga (di siang harinya karena tidak banyak tidur, dan di malam harinya mampu berjaga karena tidak terlalu kenyang). Dengan demikian jiwanya akan bersih, nafsu syahwatnya akan melemah dan hatinya akan bercahaya. Inilah rahasia dan tujuan dari ibadah puasa"

Berkata Jalaluddin Rumi,
"Jika otak dan perutmu terbakar karena puasa,
Api nya akan terus mengeluarkan ratapan dari dalam dadamu.
Melalui api itu, setiap waktu kau akan membakar seratus hijab.
Dan kau akan mendaki seribu derajat di atas jalan di dalam hasratmu".

Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menerangkan tiga tingkatan dalam berpuasa.
Tingkatan pertama, adalah menahan makan dan minum dan menjaga kemaluan dari godaan syahwat.
Tingkatan kedua, selain menahan makan dan minum serta syahwat juga menahan pendengaran, pandangan, ucapan, tangan dan kaki dari segala macam bentuk dosa.
Tingkatan ketiga, menjaga pandangan hati agar senantiasa memandang Allah dan tidak terbersit kepada selainNya.

Bulan puasa adalah bulan riyadhoh.Kata Abah Guru Sekumpul,
"Arti riyadhoh itu tarkul manam (meninggalkan tidur),
tarkul anam (meninggalkan manusia, uzlah),
tarkul tho'am ( meninggalkan makanan, lapar),
tarkul kalam (meninggalkan berbicara, banyak diam)."

Berkata Syekh Abil Hasan As Syadzili,
"Jika engkau ingin diberikan khusyu' maka janganlah memandang hal-hal yang diharamkan Allah.
Jika engkau ingin dianugerahi hikmah maka janganlah berlebihan dalam berbicara (perbanyaklah diam).
Jika engkau ingin merasakan lezatnya iman maka janganlah berlebihan dalam makanan."

Mudah-mudahan berkat Rasulullah,Auliya Allah,Guru-guru kita dan orang-orang sholeh Allah ampuni dosa-dosa kita, dipanjangkan umur sehingga dapat bertemu dengan bulan ramadhan.
ﺍﻣﻴﻦ ﺍﻣﻴﻦ ﺍﻣﻴﻦ ﻳﺎ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ
ﺍَﻟﻠﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﷺ

Thursday, December 13, 2018

Antara mengingat dan melupakan dosa

Imam Junaid, salah seorang ulama Sufi kenamaan, pernah bercerita:

Pada suatau hari, aku menemui Sari As-Saqiti yang sedang tertunduk sedih. Aku bertanya, “Apa yang terjadi padamu?

Ada seorang pemuda mendatangiku dan bertanya perihal taubat. Kemudian aku menjawab bahwa taubat itu tidak melupakan dosa yang pernah diperbuat. Tetapi pemuda tersebut tidak setuju. Ia berkata bahwa taubat itu adalah melupakan dosa yang pernah diperbuat.” jawab Sari As-Saqiti.

Kalau aku lebih setuju dengan perkataan pemuda itu.” kataku.

Bagaimana bisa demikian?” tanya Sari As-Saqiti mulai penasaran.

Sesungguhnya ketika aku dalam keadaan yang tidak menyenangkan kemudian Allah merubahku pada keadaan yang menyenangkan, maka mengingat-ingat hal yang tidak menyenangkan di dalam kondisi yang menyenangkan tersebut merupakan perbuatan yang tidak menyenangkan.” jelasku.

Akhirnya, Sari As-Saqiti terdiam seribu bahasa setelah mendengar penjelasanku tersebut.

_______________________

Disarikan dari kitab Kunuzis Sa’adatil ‘Abadiyyah Fil Anfasil ‘Aliyyatil Habasyiyyah karya Abu Bakar Al-‘Atthos bin AbdullahAl-Habsyi, hal. 194

Tuesday, September 4, 2018

I S T I Q O M A H

I S T I Q O M A H

"Kulo kaleh panjenengan niku nopo? “
ummatu Rasulillah SAW”,
umate kanjeng Nabi seng paleng lemah, nggeh ta?.

Awak.e gak patek kuat, nggeh nopo mboten?. Umure endeg, nggeh ta?.
Rizkine molak-malik; sak niki enten, mbenjing mboten enten; emben setengah enten, enggeh?.

Ngken kapan maleh rodok enten, di samping enten yo sek nduwe utang; umure endeg!. Mboten mampu, umat Muhammad Rasulillah SAW niku.

Kranten kewontenan kulo kaleh panjenengan kados mekaten kolo wau, dipun dawuhaken dening Rasulullah SAW, nopo niku?.

Dipun aturi istiqomah; “inna ahabbal a’maal ‘indalllaah adwamuhaa wa in qallat”. Sing paling dicintai Gusti Allah niku lelakonmu seng istiqomah senajan titik.

Saben isuk sampeyan moco nopo?.
Mboten moco nopo-nopo!.
Gak tuman khatam qur’an?.
“Mboten saget, mboten sempat”.
Moco nopo?. “Cumak “qul hu”
Istiqomah?. Istiqomahno!.

Lho niku seng didelek.i niku.
Kadang-kadang kulo kaleh panjenengan mboten..., kadung metenteng, nggeh ta?.

Nopo maleh katek (tepak) posoan, masya Allah!... Sampek jam siji-loro (sek) darusan.. gak peduli, bah tonggone grebegen, babahno!. Nggeh ta?.
Bah tonggone loro ati, babahno!. Pokok.e darusan!. Kadung ngotot!. Entek riyoyoe, entek Ramadlane, nopo maleh entek; wes tanggal selikuran, (akhire ngajine) prei setahun!. Lho niki lho, kulo kaleh panjenengan niku nopo?. Ayok istiqomah!.

Dipun dawuhi dening Gusti Allah; “tatanazzalu ‘alayhimul malaaikat”.
Barokahe istiqomah, (bakal) dibarengi malaikat.
Nopo tandane kulo kaleh sampeyan niku dibarengi malaikat?.
Ibadah, dzikire, perjuangane “an laa takhaafuu wa laa tahzanuu”. Ngadepi nopo mawon mboten tuman goncang atine;
mboten tuman bingung.
Nek sampek goncang, bengung, susah mergo gawane manungsane, pantes (nek ngantos) kaget..!.

Tapi gak suwe-suwe!. Niki lho!.
Niku tandane istiqomah. Yak nopo kiro-kiro?. Pun istiqomah nopo dereng?.
Mugi-mugi saget istiqomah...
Mboten akeh-akehan, mboten!.

Titik-titik.an, pokok.e ajheg!. Istiqomah seng diwoco, istiqomah panggonane, nopo maleh atek istiqomah waktune!. Pun nggeh!."
~Hadlratusy Syaikh KH. Achmad Asrori Alishaqy RA

By ning Nurul Istivadah

Sunday, June 10, 2018

KRITIK SYAMS TABRIZI

KRITIK SYAMS TABRIZI

Suatu hari Syamsi Tabrizi, si darwish pengembara, hadir dalam pertemuan para ulama di Konya yang diadakan di sebuah pondok.  Para ulama itu sedang mendiskusikan sejumlah isu sosial. Kira-kira semacam "Bahtsul Masail", NU.  Kitab-kitab Referensi diletakkan di atas meja yang telah disediakan. Masing-masing ulama menyampaikan pendapatnya atas isu-isu itu, sambil mengutip hadits Nabi, al-Atsar (pernyataan sahabat Nabi) dan ucapan "Auliya" para waliyullah atau bijakbestari.

Syamsi Tabrizi tampak resah mendengar dan menyaksikan perdebatan itu. Ia terusik ingin sekali ikut bicara. Ia berdiri lalu mengatakan  :

الى ما تمضون اوقاتكم فى النقل عن فلان وفلان. اليس لديكم شيء جديد تقولونه؟. ومتى سيقول أحدكم : قلبى نقل عن الهى كذا وكذا. بدلا من أن تستعيدوا كلاما مكررا مسموعا ومعروفا؟ (شمس التبريزي).

"Sampai kapan kalian menghabiskan waktu-waktu kalian dengan mengutip kata si anu dan si anu?. Apakah tidak ada sesuatu yang baru yang kalian sampaikan?. Kapan ada orang yang mengatakan : "hatiku menerima dari Tuhanku begini dan begini, daripada mengulang-ulang kata-kata orang, atau menerima begitu saja pernyataan-pernyataan yang didengar dan yang sudah dikenal?". (Syarh Qawa'id al-Isyq al-Arbaun).

Guru Maulana Jalaluddin Rumi dan sufi "nyentrik" ini tampaknya sedang mengkritik pengetahuan eksoteris, pandangan-pandangan dan metode Bahtsul Masail bernuansa konservatif itu dan belum beranjak ke pemecahan substantif, filosofis dan sufistik.

Kritik Syams yang tajam itu mengundang kontroversi bahkan kemarahan para ulama eksoteris. Tetapi ia tak peduli.

10.06.18
HM

Monday, January 15, 2018

PENDIRI JATMAN

PENDIRI JATMAN

Pendiri JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah) ada 5 orang. Dua diantaranya adalah KH. Masykur dan KH. Idham Chalid. Tiga lainnya adalah KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syansuri dan KH. Muslih Mranggen.

Al-Quthb Syaikh Muhammad Amin Kutbi berpesan kepada Muassis dan Mudir ‘Aam Jatman KH. Idham Chalid, “Idham, thariqah di Indonesia akan maju dan berkembang bila nanti dipimpin oleh seorang Habib yang bernama Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim Bin Yahya.”

Maka sepulangnya dari Mekkah, KH. Idham bertemu dengan Habib Luthfi Bin Yahya dan bersalaman dengan durasi yang lama tanpa berkata-kata, tapi Habib Luthfi bersuara berulang-ulang, “InsyaAllah, Pak Kiai, saya laksanakan.”

Hal ini membuat hadirin yang melihat pemandangan itu terheran-heran. Selidik punya selidik ternyata keduanya berkomunikasi batin. Kiai Idham bilang, “Habib, nanti kamu yang melanjutkan thariqah.”

Habib Luthfi Bin Yahya pun menjawab, “InsyaAllah, Pak Kiai, saya laksanakan.”

Saat Muktamar Thariqah, KH. Idham berucap kepada ulama yang hadir bahwa dirinya dalam JATMAN diibaratkan seperti orang yang membangun rumah sakit, namun dokter spesialisnya adalah Habib Luthfi Bin Yahya.

Tuan Guru Sekumpul Syaikh KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani berucap kepada KH. Syafriansyah, “KH. Idham Chalid itu penanggak kita. Beliau lebih dahulu menjadi wali quthub daripada aku. Kalau menyandingkan fotoku dengan beliau, letakkan posisi beliau di kananku.” (Nur Hidayatullah Yuzarsif).

Sunday, November 26, 2017

KAROMAH AL-IMAM ASY-SYAFI’i

KAROMAH AL-IMAM ASY-SYAFI’i

Al-Imam Asy-Syafi’i bukan hanya seorang fakih, seorang mujtahid mutlak dan seorang panutan untuk mengetahui hukum Allah/perkara halal-haram, tetapi beliau juga orang salih yang memenuhi hak Allah dan hamba-hamba-Nya sebaik-baiknya. Di antara tanda bahwa beliau orang salih yang dicintai Allah adalah berita tentang karomahnya. Berikut ini kisah tentang satu karomah beliau yang diceritakan Al-Baihaqi dalam kitabnya; “Manaqibu Asy-Syafi’i”.

قال الربيع: دخلنا على الشافعي عند وفاته أنا والبويطي والمزني ومحمد ابن عبد الله بن عبد الحكم. قال: فنظر إلينا الشافعي ساعة فأطال ثم التفت إلينا فقال: أمّا أنت يا أبا يعقوب فتموت في حديدك. وأما أنت يا مزني فستكون لك بمصر هَنَاتٌ وهَنَات، ولتدركن زماناً تكون أقيس أهل ذلك الزمان. وأما أنت يا محمد فسترجع إلى مذهبك أبيك. وأما أنت يا ربيع فأنت أنفعهم لي في نشر الكتب. قم يا أبا يعقوب فتسلم الحلقة. قال الربيع: فكان كما قال.

“Ar-Robi’ berkata, ‘Kami masuk menemui Asy-Syafi’i menjelang wafatnya. Saya, Al-Buwaithi, Al-Muzani dan Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam. Ar-Robi’ berkata, ‘Asy-Syafi’i memandang kami cukup lama kemudian dengan serius memperhatikan kami seraya berkata, ‘Engkau wahai Abu Ya’qub, dirimu akan meninggal dalam belenggu besimu. Adapun engkau wahai Muzani, di Mesir akan ada peristiwa besar dan engkau akan mengalami masa dimana engkau akan menjadi orang yang terpandai di zaman itu. Adapun engkau wahai Muhammad, engkau akan kembali ke madzhab ayahmu. Adapun engkau wahai Robi’, engkau akan menjadi muridku yang paling bermanfaat bagiku dalam menyebarkan kitab. Bangkitlah wahai Abu Ya’qub dan terimalah halqoh (jadilah pengasuh majelisku). Ar-Robi’ berkata, ‘Demikianlah yang terjadi sebagaimana yang beliau katakan;” (Manaqib Asy-Syafi’i juz 2 hlm 136)

Dalam kisah di atas diceritakan ada empat murid menonjol Asy-Syafi’i yang datang membesuk gurunya pada saat sang guru sakit. Mereka adalah Ar-Robi’, Al-Buwaithi (dipanggil Asy-Syafi’i dengan nama Abu Ya’qub), Al-Muzani dan Ibnu Abdi Al-Hakam (dipanggil Asy-Syafi’i dengan nama Muhammad). Setelah Asy-Syafi’i memandang beberapa saat maka dengan serius beliau memberitahukan “penglihatan”nya kepada mereka. Al-Buwaithi “diramalkan” Asy-Syafi’i akan diuji dan meninggal dalam belenggu besi. Al-Muzani “diramalkan” akan menjadi tokoh besar. Ibnu Abdi Al-Hakam “diramalkan” akan kembali ke madzhab Maliki, dan Ar-Robi’ “diramalkan” akan berperan besar menyebarkan kitab-kitab karangan Asy-Syafi’i.

Ternyata memang demikianlah kenyataan sejarah yang terjadi.

Di masa Khalifah Al-Watsiq Billah, Ibnu Abi Du-ad yang beraliran mu’tazilah memerintahkan wali Mesir untuk memanggil Al-Buwaithi dan mengetesnya terkait Al-Qur’an. Al-Buwaithi menolak untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Beliau pun ditangkap, diikat pada leher dan kakinya dengan belenggu dan rantai seberat 40 rithl (kira-kira seberat 16 kg) dan dibawa ke Baghdad. Di sana beliau dipenjara dalam keadaan dibelenggu dan beliaupun wafat dalam keadaan dibelenggu sebagaimana firasat Asy-Syafi’i.

Setelah Al-Buwaithi dizalimi dalam peristiwa fitnah “Qur’an makhluk” itu, maka Al-Muzani-lah yang menggantikan Al-Buwaithi untuk mengasuh majelis Asy-Syafi’i. Pengaruh Al-Muzani semakin membesar dan ilmunya tersebar luas terutama setelah beliau mengarang kitabnya yang termasyhur; “Mukhtashor Al-Muzani”. Barangkali inilah yang dimaksud Asy-Syafi’i sebagai perkara besar dan Al-Muzani akan menjadi orang terpandai di zamannya.

Adapun Ibnu Abdi Al-Hakam, pada awalnya murid Asy-Syafi’i ini bermadzhab Maliki sebagai mana ayahnya. Setelah datang Asy-Syafi’i ke Mesir, beliau tertarik dengan ilmunya, berguru kepadanya dan menjadi muridnya. Pada saat Asy-Syafi’i sakit, Ibnu Abdi Al-Hakam ingin menggantikan Asy-Syafi’i sebagai pengasuh majelis. Al-Buwaithi menolak karena beliaulah murid Asy-Syafi’i yang dipercaya sang imam. Akhirnya terciptalah ketegangan di antara keduanya. Al-Humaidi datang sebagai penengah dan bersaksi bahwa Asy-Syafi’i menegaskan Al-Buwaithi-lah muridnya yang paling berilmu sehingga paling layak mengasuh majelis menggantikan beliau. Ibnu Abdi Al-Hakam menyergah ucapan Al-Humaidi dengan mengatakan , “Kadzabta!’ (dusta kamu!). Al-Humaidi menjawab lebih keras lagi, “Kadzabta anta wa abuka wa ummuka!” (dusta kamu, juga ayah dan ibumu). Ibnu Abdi Al-Hakam menjadi marah, meninggalkan majlis Asy-Syafi’i dan akhirnya kembali ke madzhab Maliki. Dengan demikian genaplah firasat Asy-Syafi’i.

Adapun Ar-Robi’ bin Sulaiman Al-Murodi, kita semua tahu jasa besar Ar-Robi’ dalam menulis ulang, meriwayatkan dan menyebarkan kitab besar Asy-Syafi’i yang bernama “Al-Umm”. Melalui perantaraan Ar-Robi’ lah kita menjadi tahu kitab-kitab besar Asy-Syafi’i dalam hal fikih maupun ushul fikih. Dengan demikian genap pulalah firasat Asy-Syafi’i.

Karomah Asy-Syafi’i dalam kisah inilah yang disebut Al-Ghozzali dengan istilah “kasyf” (الكشف) atau “mukasyafah” (المكاشفة). Orang-orang sufi kadang menyebutnya ilmu “ladunni”. Ia juga bisa juga disebut “ilham” (الالهام), “fath” (الفتح), “tahdits” (التحديث), atau “firasat” (الفراسة). “Ru’ya shodiqoh”/mimpi yang benar (االرؤيا الصادقة) bisa juga dimasukkan dalam golongan ini.

Secara epistemologis Syed Naquib Al-Attas mengakui “kasyf” sebagai salah satu sumber ilmu selain wahyu, rasio dan empiri. Hanya saja ilmu yang dimaksud tidak boleh sampai taraf digunakan untuk “ilzamul ghoir” (إلزام الغير). Ibnu Taimiyyah memposisikan “kasyf” maksimal hanya bisa dijadikan “murojjih” terhadap dalil-dalil perlu ditarjih, tidak boleh diangkat terlalu tinggi menjadi dalil untuk dien.

Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh Yusuf Al-Qordhowi dalam kitabnya “Mauqifu Al-Islam Min Al-Ilham Wa Al-Kasyf Wa Ar-Rua Wa Min At-Tama-im Wa Al-Kahanah Wa Ar-Ruqo”. Beliau tidak mengingkari “kasyf” dengan syarat tidak bertentangan dengan “nash”. Sikap ini juga ditegaskan oleh Hasan Al-Banna pada prinsip nomor tiga dari 20 prinsip yang beliau rumuskan. Yang menganggap “kasyf” dan ilham sebagai dalil dalam dien adalah sebagian sufi yang disebut Al-Qordhowi sebagai pseudo-sufi.

Memposisikan “kasyf” secara berlebihan memang berpotensi merusak dan menghancurkan ajaran dien. Tasawuf yang benar, atau ilmu ihsan atau ilmu “tazkiyatun nufus” atau ilmu mujahadah fi tho’atillah atau ilmu apapun namanya yang bertujuan untuk membersihkan jiwa dan memperkuat ketaatan kepada Allah tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ilmu pembersihan jiwa yang benar seharusnya memiliki hasil seperti Asy-Syafi’i dan An-Nawawi. Kuat dan tajam dalam hal ilmu fikih, dan dianugerahi Allah karomah sebagai tanda kesalihan yang layak dijadikan panutan.

Versi Situs: http://irtaqi.net/2017/11/26/karomah-al-imam-asy-syafii/

***
Muafa
7 Robiul Awwal 1439 H

Tuesday, October 10, 2017

Tobat dan diampuni

Syaikh Ibnu Athailah: "Seseorang bertanya pada Rabiah al adawiyah, "Aku telah sering berbuat dosa dan menjadi semakin tidak taat. Tetapi, apabila aku bertobat akankah Allah mengampuninya?Rabiah menjawab:"Tidak. Tetapi apabila Allah mengampunimu, maka engkau akan bertobat.""

~dari buku "Tutur Penentram Hati" ibnu athailah~

Allahuma sholi 'ala sayidina Muhammad nabiyil umiyi wa 'alihi wa shohbihi wa salim

silahkan tag dan share

Tentang keramat

Tentang keramat, Syekh Muhammad bin Ibrohim mengomentari dawuh panjenenganipun Syekh Ibnu Athoilah rohimahulLoh bahwa "Terkadang keramat itu dianugrahkan tanpa adanya Istiqomah", beliau katakan "Janganlah kalian tercengang dengan keheranan tentang seseorang yang memasukkan sakunya yang kosong kemudian mengeluarkan tangannya dengan menggegam sesuatu yang diinginkan, akan tetapi tercenganglah kalian dengan seseorang yang memiliki sesuatu yang sangat berharga dalam sakunya, kemudian dia memasukkan tangannya kedalam saku tersebut dengan tangan kosong tanpa mendapati sesuatu yang berharga miliknya, hilang. Kemudian hatinya tidak berubah sedikitpun"

Syarh Al Hikam, Shohifah: XIV Al-Haromain.

Saturday, October 7, 2017

Ibadah khusus antara hamba dan Allah

*_Dawuh Hadrotusy Syaikh Romo Yai Ahmad Asrori Al Ishaqy RA_*

Al Imam  _al a'dham asy Syafi'i RA_ pernah dawuh: _*"Yanbaghii Li thaalibil 'ilmi an yakuuna laHuu khabii-atun min 'amalin fiima baynaHuu wa bainallaaH ghairal 'ilmi"*_ . Imam Syafi'i berkata: _*"seseorang itu, belajar ilmu apapun, meskipun baik seperti apapun,dia harus punya waktu (ibadah) khusus untuk Allah SWT selain ilmu"*_. Seminar terus-menerus. Kongres terus-menerus . Berjuang (yang mana perjuangannya) tampak orang lain terus. Dicocokkan dengan kondisi, situasi dan posisinya tapi ia tak punya waktu Khusus antara dia dan Allah SWT saja (yang tak terlihat orang). Tak sempat pula ia kumpul-kumpul dengan orang-orang shaleh. Yang dia jabanin cuma sebatas hal-hal formal terus. Yang seperti ini banyak apa tidak?... Orang yang seperti ini, _*fainnal 'ilma ghaalibuHuu dhaahirun linnaas"*_ . Biasanya, orang-orang ilmiah itu memang agar terlihat keren atau lebih unggul dalam pandangan orang lain saja.

Perkumpulan orang-orang ilmiah, jangankan orang-orang yang backgroundnya umum, sampai santri pondokpun akan saling bantah-bantahan ketika Bahtsul masail dan saling ngotot menguatkan pendapatnya sendiri. Ini kalau sampai Ustdz/Kyainya kurang bisa menengahi, tak akan selesai-selesai pembahasannya. Sebab masalah khilafiyah muncul semua. Itu dalam pondok yang notabenenya banyak yang ngerti agama, apalagi saresehan, apalagi diskusi. Sudah lah, ini imam Syafi'i sudah ratusan tahun *dawuh* seperti itu. Kalau sampai kejadian, orang-orang yang menuntut ilmu atau para pendidik ilmu saja, tanpa dibimbing secara *bathiniyah*, namun tidak diajak berkumpul dengan orang-orang shalih, didawuhkan: _*"kullu maa dhaHara linnaas min 'ilmin -au 'amalin,faHuwa qaliilul jadwaa fil-aakhirah"*_. Ilmumu, amal ibadah perjuanganmu, selama masih bisa disaksikan oleh orang lain, apalagi bisa dirasakan oleh orang lain, maka nanti takkan begitu ada manfaatnya di akhirat; tak bakalan bisa membela dirimu. Ini sebab apa?... Sebab, hati kita biar bagaimanapun masih belum kuat. Sudahlah. Misalnya saja sekarang saya mengaji di hadapan _*sampean*_ . Sama ngajinya; niatnya juga sama. _*Insyaa Allah*_ secara garis besar sama-sama niat mencari _*Ridlo Allah*_ . Tapi dorongannya berbeda-beda. Kadang-kadang dorongan saya berbeda: karena terlihat orang. Coba saya dan sampean yang sudah terbiasa terlihat orang lain seperti saya _ seperti da'i atau penceramah dan yang sejenisnya, bagaimana nanti kalau sudah masuk ruangan lain, apakah Membaca Al-Qur'an dan shalawatnya Masih tetap semangat seperti tadi _*(ketika masih terlihat orang banyak)*_ ?...

*Aw kamaa qaal*

_*Hadrotusy Syaikh Romo Yai Ahmad Asrori Al Ishaqy RA*_

Thursday, September 28, 2017

pangkal dari segala keta'atan

Berikut ini adalah pangkal dari segala keta'atan, yg dengannya seorang hamba dapat mencapai derajat orang2 yg shaleh :

1. Menjauhi sifat gampang bersumpah dgn nama Allah, baik dengan sengaja maupun tidak, sekalipun dalam hal yg benar (bukan sumpah palsu) . jika sikap ini sudah dimiliki, maka Allah akan membukakan baginya pintu cahaya-Nya, yg dengannya ia mampu merasakan besar manfa'atnya pada dirinya, diantaranya ia akan memiliki iman yg kuat dan pandangan hati yg tajam, shg ia disegani oleh orang lain.

2. Menjauhi perbuatan dusta sama sekali, baik sewaktu becanda maupun serius. jika ia telah mampu demikian maka Allah akan melapangkan dadanya dan membersihkan hatinya dari keiningan berbuat dusta, shg tidak ada yg bisa mempengaruhinya utk melakukannya.

3. Menjauhi ingkar janji dengan sengaja, sebab perbuatan ini termasuk kpd perbuatan dusta yg dibenci oleh Allah.jika ia sudah meninggalkannya maka Allah membukakan pintu rezekinya dan menimbulkan rasa kasih sayang dari orang2 yg baik thdnya.

4. Tidak mengutuk ataupun menyakiti makhluk apapun. jika ia mampu demikian, maka Allah menjaganya di dunia serta memberinya rasa nikmat beribadah kepada-Nya.

5. Menjauhi mendoakan yg tidak baik thd orang lain, sekalipun orang itu telah mendholiminya. begitu juga, menjauhi mengata-ngatainya atapun memeprlakukan yg tdk baik thdnya.
orang yg mempunyai sifat ini akan mndapatkan derajat yg tinggi disisi Allah di dunia dan akherat, serta di segani oleh orang2 lain.

6. Tidak menuduh seorang muslim dengan tuduhan kafir, musyrik, ataupun munafiq. orang yg sanggup spt ini akan emndapatkan rahmat dan derajat yg tinggi dari Allah ta'ala.

7. Jauhi memandang dan mengangan -angankan perbuatan maksiyat baik lahir maupun bathin. sebab sikap ini akan segera mendatangkan pahala dari Allah baik di dunia maupun di akherat kelak.

8. Tidak membebani orang lain, sekecil apapun. sikap ini akan mendatangkan penghormatan dari orang2 lain, dan akan mempermudah baginya utk melaksanakan amar ma'ruf nahi mungkar thd mereka.

9. Tidak menggantungkan harapan kpd siapapun selain Allah. orang yg mampu melaksanakan hal inilah sebenarnya orang yg kaya, mulia dan terhormat dalam hidupnya. sebab ia memiliki keyakinan yg benar dan ketawakkalan yg murni, yg kedunya merupakan salah sata dari pintu zuhud yg akan mengantarkannya kpd sikap wira'i dalam dunia ini.

10. Hendaklah memiliki sifat rendah hati / tawdlu', sebab sifat ini akan mengantarkannya kpd kemuliaan, derajat yg tinggi dan kedudukan yg terhormat di sisi Allah juga di sisi makhluk-Nya .

Semua perkara di atas merupakan pangkal dari segala keta'atan yg dengannya seorang hamba dapat mencapai derajat orang2 yg shaleh, yg senantiasa ridla kepada-Nya baik dalam keadaan senang maupun susah. dan itulah kesempurnaan ketakwaan seseorang kepada Allah.

Orang yg memiliki kesepuluh sifat di atas akan memandang orang lain lebih baik daripada dirinya, tidk memandang remeh orang lain.
misalnya , thd orang yg lebih kecil darinya ia akan berkata :
" mungkin orang ini belum pernah berbuat maksiyat kpd Allah sedangkan aku pernah "
Thd orang yg lebih tua darinya ia akan berkata :
"orang ini lebih dahulu beribadah kpd Allah daripada aku ."
Thd orang yg alim ia akan berkata :
" orang ini telah memperoleh apa yg belum ku peroleh, dan mengetahui apa yg tdk ku ketahui."
Thd orang bodoh ia akan berkata :
" ia telah berbuat maksiyat lantaran kebodohannya thd agama, sdgkan aku yg sudha tahu masih terus melakukannya. dan aku tdk tahu bagaimana kesudahan hidupnya dan kesudahan hidupku, dimana mungkin saja ia nanti berubah menjadi orang yg berilmu dan ta'at, sedngakn aku berubah menjadi orang yg ingkar kpd-Nya "
dan thd orang kafir ia akan berkata :
" aku tidak tahu, siapa tahu ia nanti masuk islam dan mati dalam keadaan demikian, sebaliknya aku mungkin saja nantinya keluar dari islam dan mati dalam keadaan kafir kepada-Nya "

Mereka adalah orang2 yg suci dan dicintai oleh Allah serta menjadi musuh bagi Iblis laknatulloh alaih. Sifat2 yg mereka miliki itu merupakan pintu pembuka rahmat dan pemutus jalan2 kesombongan dan kecongkakannya. itulah sebenarnya inti daripada ibadah itu sendiri dan puncak dari kemuliaan orang2 zuhud.

Wallohu A'lam.

~Al Guniyah, Syeh Abdul Qodir Al Jaelani~

Saturday, September 23, 2017

THARIQAH MENURUT HABIB LUTHFI BIN YAHYA

THARIQAH MENURUT HABIB LUTHFI BIN YAHYA

Ma’rifat adalah “mengerti dan mengenal”. Mengerti belum tentu mengenal, tapi kalau mengenal sudah pasti mengerti. Jadi ma’rifat di sini adalah mengenal Allah Swt., seperti halnya kita mengetahui sifat-sifatNya, baik yang wajib, mustahil dan jaiz. Tapi pengenalan itu baru pondasi. Untuk mengenal lebih jauh kita harus sering-sering mendekati Allah Swt. agar Allah juga mendekat dengan kita.

Makhluk Allah banyak yang mengerti tapi tidak mengenal Allah. Dengan ilmu ma’rifat ini, kita belajar mengenal Allah dan Allah pun akan mengenali kita. Tapi tidak semudah yang kita bayangkan, diperlukan ritual-ritual khusus untuk bisa lebih dekat dengan Allah dan agar kita juga tidak lalai dengan Allah.

Bila dalam mengenal Allah kita sudah dapat saling mengenal, berarti kita sudah semakin dekat dengan Allah. Tapi pasti pengenalan seseorang dengan Allah berbeda-beda, tergantung dengan tahapan-tahapannya. Itulah pentingnya wirid untuk mencapai tingkatan kema’rifatan yang tinggi.

Sebenarnya dalam thariqah yang dikhususkan adalah cara membersihkan hati, tashfiyatulqulub atau tazkiyatunnufus. Sedangkan bacaan-bacaannya (wiridan) adalah sebagai nilai tambahan untuk pendekatan kepada Allah Swt.

Thariqah sebagian besar adalah mengamalkan kalimat “La ilaha illallah” atau kalimat “Allah” sebanyak-banyaknya sesuai ketentuan oleh thariqah itu sendiri. Ada yang mewiridkan secara sirr (dalam hati atau pelan) dan ada pula yang mewiridkannya secara jahr (keras).

Wirid yang paling baik sebenarnya adalah membaca al-Quran, karena dalam hadits dijelaskan bahwa “Barangsiapa ingin berdialog dengan Allah, maka bacalah al-Quran”. Dialog dengan Tuhan adalah wirid yang paling indah. Kemudian membaca kalimat thayibah seperti lafadz “La ilaha illallah”, maka Allah akan menjamin surga bagi para pembaca kalimat tersebut. Kemudian lafadz-lafadz yang lainya seperti istighfar, shalawat, tahmid, tasbih, asmaul husna, karena itu semua juga adalah kalimat-kalimat yang sering dibaca oleh Rasulullah Saw. dan kalimat-kalimat tersebut adalah kalimat yang biasa dibaca oleh para jamaah thariqah.

Memang tidak dapat kita pungkiri bahwa, thariqah juga amalan yang tidak gampang untuk dijalani. Karena apabila terjadi kelalaian dalam pengerjaannya kita akan berdosa, sebab amalan dalam thariqah adalah suatu keharusan (kewajiban) untuk dikerjakan. Tapi kalau dilihat dari segi positifnya memang thariqah tersebut adalah proses kita untuk lebih mengenali Allah.

Disamping itu, thariqah dapat melepaskan kedua penyakit hati yang ada pada diri kita; untuk mengatasi kealpaan dalam hati dan menghilangkan noktah atau kotoran yang ada. Sebab amalan dalam thariqah adalah kewajiban maka orang akan berhutang apabila tidak mengerjakan amalan tersebut, dan akan mengerjakannya walaupun dalam keadaan apapun. Dan thariqah juga dapat menghapus hijab pembatas yang terdapat dalam dirinya yang mengakibatkan sifat lalai serta banyak lupa kepada Allah Swt.

Kalau seseorang ingin hatinya bersih dan membersihkan hati setidaknya orang tersebut mempunyai ketertarikan terhadap thariqah tersebut, karena kalau dilihat dari fungsi thariqah adalah menghapuskan kotoran dalam hati dengan selalu mengamalkan dzikirnya. Karena dari dzikir tersebut orang akan selalu tenang dan sabar dalam menghadapi setiap masalah yang ia hadapi, karena orang tersebut akan selalu merasa dekat dengan Allah.

Kaitan Thariqah dan Syariat

Kalau kita pahami lebih lanjut, thariqah dan syariat sebenarnya memang tidak dapat dipisahkan, karena tujuan keduanya sama yaitu mendekatkan diri kepada Allah Swt. Karena ketika seseorang berthariqah tetapi ia meninggalkan syariat, maka itu juga salah karena ia telah meninggalkan kewajibannya.

Thariqah adalah buah dari syariat. Jadi kalau berthariqah tidak boleh lepas dari pintunya dahulu yaitu syariat. Karena syariatlah yang mengatur tentang kehidupan kita, dengan menggunakan hukum, dari mulai aqidah, keimanan, keislaman, sehingga kita beriman kepada Allah, malaikat, kitab Allah, para rasul, hari akhir, takdir yang baik dan buruk. Dan dengan syariat pula kita mengetahui rukun Islam, yaitu dua kalimat syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji.

Setelah kita dapat menjalankan syariat dengan baik, dan kita sudah memgetahui hukum-hukum dalam syariat maka kita baru menuju pada tingkatan yang lebih tinggi, yaitu menuju thariqah dan belajar untuk mengenal Allah. Maksudnya bahwa thariqah adalah tingkatan bagi orang yang sudah cukup ilmunya, terutama yang sudah diwajibkan syariat. Karena tidak semua orang langsung dapat menuju pada tingkat thariqah.

Orang yang menuju thariqah haruslah mengetahui Allah, seperti mengetahui tentang sifat wajib dan mustahil Allah, dan juga mengetahui sifat mumkin (jaiz) Allah. Orang tersebut juga mengetahui tentang hukum-hukum dalam beribadah, seperti rukun wudhu, rukun iman, hal-hal yang membatalkan wudhu, rukun shalat serta hal-hal yang membatalkan dalam shalat. Dan juga orang tersebut dapat membedakan mana yang halal dan yang haram. Bilamana hal-hal tersebut sudah dapat terpenuhi maka tidak ada salahnya apabila orang tersebut masuk ke dalam thariqah.

Antisipasi dalam Berthariqah

Perlu diketahui juga bahwa sufisme itu sudah tidak asing lagi di kalangan kita, dan telah menjadi warna di kota-kota besar di beberapa negara. Jika kita tertarik pada thariqah atau perkumpulan dzikir tertentu, kita juga harus mengetahui tentang perkumpulan tersebut. Karena di jaman sekarang banyak organisasi-organisasi yang mengatasnamakan Islam untuk kepentingan mereka dan menyelewengkan tentang hukum-hukum yang telah ditetapkan.

Maka untuk mengantisipasi hal tersebut, yang perlu kita lakukan adalah seperti apakah thariqah tersebut dan siapakah yang memimpin thariqah tersebut. Meskipun dalam dzikir yang dibaca itu memang dari Rasulullah Saw., namun terkadang ada kelompok yang menyelewengkannya atau menyimpang dari ajaran sehingga keluar dari jalan yang benar dan menyesatkan.

Pada thariqah yang kita perlu ketahui dahulu adalah alirannya, semissal thariqah Qadiriyah, Syadziliyah, Syatariyah dan lain sebagainya. Menurut data yang ada pada Jam’iyyah Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN), jumlah thariqah yang diakui itu ada sekitar 70 thariqah. Penegasan muktabar atau tidaknya sebuah thariqah tentu harus melalui suatu penelitian. Pertama dari ajarannya, kemudian dari ketentuan wiridnya tergolong ma’tsur atau tidak, dan yang ketiga memiliki silsilah atau mata rantai dengan guru yang jelas hingga pada pendiri thariqah tersebut.

Guru thariqah yang merupakan guru ruhani itu haruslah orang yang mengerti tentang agama. Jika tidak mengerti maka bisa diragukan kapasitas keguruannya. Sebab bagaimana ia bisa memimpin suatu organisasi ritual dan keruhanian sementara ia tidak mengerti tentang agama? Sebab orang yang telah menapak jalur thariqah haruslah sudah sempurna syariatnya dan guru tersebut juga telah menjalankan semua kewajiban agama bahkan termasuk shalat sunnahnya. Hal ini juga terkait dengan akhlak sang guru. Seseorang dianggap mengerti tentang ilmu agama minimal bisa dilihat dari bacaan al-Qurannya. Sebab seorang ulama diukur pertama kalinya dari pemenuhan syarat menjadi imam shalat antara lain dari kefasihannya membaca ayat-ayat al-Quran.

Memang dalam kenyataannya, terkadang banyak orang yang bingung tentang thariqah, ada yang ingin masuk tetapi belum sampai pada tingkatan tersebut dan juga belum mengetahui tentang pentingnya berthariqah. Perlu kita ketahui, jika kita masuk pada thariqah maka keimanan kita akan terbimbing. Disitulah peran para guru mursyid, sehingga tingkatan tauhid kita, ma’rifat kita tidak salah dan tidak sembarangan menempatkan diri sebab ada bimbingan dari mursyid tersebut.

Antara Berthariqah dan Tidak

Bagaimana dengan orang yang tidak berthariqah? Syarat berthariqah itu harus mengetahui syariatnya dahulu, artinya kewajiban-kewajiban yang harus dimengerti oleh setiap individu sudah dapat dipahami. Diantaranya hak Allah Swt., lalu hak para rasulNya. Setelah kita mengenal Allah dan RasulNya kita perlu meyakini apa yang telah disampaikannya, seperti rukun Islam, yaitu membaca syahadat, mengerjakan shalat, melaksanakan puasa, berzakat bagi yang cukup syaratnya, serta naik haji bagi yang mampu. Begitu juga mengetahui rukun iman, serta beberapa tuntunan Islam seperti shalat, wudhu dan lain-lain.

Orang yang menempuh jalan kepada Allah dengan sendirinya, tentu tidak sama dengan orang yang menempuh jalan kepada Allah secara bersama-sama yaitu melalui seorang mursyid. Sebagai contoh kalau kita ingin ke Mekkah dan kita belum pernah ke Mekkah dan belum mengenal Mekkah, tentu berbeda dengan orang yang datang ke tempat tersebut dengan disertai pembimbing atau mursyid.

Orang yang tidak mengenal sama sekali tempat tersebut, karena meyakini berdasarkan informasi dan kemampuannya maka itu sah-sah saja. Namun bagi orang yang disertai mursyid akan lebih runtut dan sempurna, karena pembimbing tadi sudah berpengalaman dan akan mengantar ke rukun yamani, sumur zamzam, makam Ibrahim, dan lain-lain. Meski orang tersebut sudah sampai ke Ka’bah namun apabila tidak tahu rukun yamani, dia tidak akan mampu untuk thawaf karena tidak tahu bagaimana memulainya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa seseorang yang ingin berthariqah haruslah melalui para guru atau mursyid, agar jalan yang ditempuh dapat berjalan dengan baik dan bisa mendekatkan diri kepada Allah sedekat mungkin.

Agama Islam adalah agama yang fleksibel, yaitu maksudnya bahwa agama Islam tidak memberatkan kepada umatnya tentang suatu ibadah. Dalam arti orang Islam melakukan suatu ibadah itu menurut kemampuannya masing-masing, karena kemampuan seseorang dengan orang yang lain tentu berbeda-beda. Itulah sebabnya mengapa tingkatan-tingkatan seseorang dalam beribadah kepada Allah pun berbeda-beda pula. Memang tujuannya sama, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah, akan tetapi tentu hasilnya akan berbeda menurut dengan usaha yang dilakukan.

Dalam beribadah tentu sekelompok orang memiliki cara yang berbeda-beda dalam mencapai kesempurnaan untuk dapat mengerti Allah dan dekat dengan Allah Swt. Cara-cara tersebut sah-sah saja asal tidak keluar dari jalur yang telah ditentukan oleh syariat, dan tidak menyesatkan.

Kaitan Thariqah dan Tasawuf

Tasawuf adalah salah satu usaha peniadaan diri, yaitu menyerahkan seluruh jiwa dan raga hanya untuk mengabdi kepada Allah Swt. Itulah cara yang kebanyakan ditempuh oleh seorang sufi, melalui ritual-ritual khusus dan amalan-amalan yang berbeda-beda pula. Amalan-amalan tersebut ditunjukan untuk menyanjung Allah dan mengakui kebesaran Allah Swt. Allah adalah Dzat yang Mahapengasih dan penyayang. Barangsiapa yang ingin berusaha dengan sungguh-sungguh pasti Allah akan mengabulkannya.

Thariqah itu min ahli la ilaha illallah, dimana ajarannya mencermikan setelah kita iman dan Islam lalu ihsan. Makna ihsan dalam hal ini adalah menyembahlah kepada Allah seolah-olah kita melihat Allah. Kalau tidak mampu, kita harus yakin bahwa kita sedang dilihat Allah Swt. Dengan merasa didengar dan dilihat oleh Yang Maha Kuasa, itu akan mengurangi perbuatan-perbuatan yang merugikan dirinya sendiri apalagi kepada orang lain. Karena kita malu, takut kepada Yang Maha Kuasa.

Tasawuf itu sendiri berfungsi untuk menjernihkan hati dan membersihkan hawa nafsu dari berbagai sifat yang dimiliki manusia, utamanya sifat kesombongan yang disebabkan oleh banyak hal. Jika ajaran tasawuf itu diamalkan, tidak ada yang namanya saling dengki dan saling iri, justeru yang muncul adalah saling mengisi.

Tasawuf itu buah dari thariqah. Pakaian thariqah adalah tasawuf yang bersumberkan dari akhlak dan tatakrama (adab). Contohnya, orang masuk kamar mandi dengan kaki kiri terlebih dahulu, masuk masjd mendahulukan kaki kanan, dll. Itu semua ajaran tasawuf. Contoh lain, sebelum makan baca Basmalah dan setelah selesai baca Hamdalah. Apa yang diajarkan dalam tasawuf sebagai bentuk rasa terimakasih kepada yang memberi rejeki. Kita ambil satu butir nasi yang terjatuh, karena kita sadar bahwa kita tidak bisa membuat butir nasi, lalu kita bersyukur. Itu semua ajaran tasawuf.

Nah, kalau syariat itu terbatas. Maka jika syariat yang diberlakukan, orang mabuk tidak boleh berdekatan dengan orang Muslim. Kalau tasawuf tidak demikian, mereka harus diajak bicara, mengapa mereka mabuk. Kita tidak boleh tunduk dengan pejabat karena ada alasan tertentu, akan tetapi kita wajib menjaga wibawa pejabat di hadapan umum, sekalipun dengan pribadi kita ada ketidakcocokan. Akan tetapi jangan asal tabrak. Ini semua juga ajaran tasawuf.

Berthariqah dan Batasan Usia

Jika belajar dzikir kepada Allah Swt. menunggu sudah tua, iya kalau umurnya sampai tua. Bagaimana kalau masih muda meninggal? Yang terpenting adalah mereka mengerti tata urutan berthariqah, mengerti syarat dan rukunnya dulu seperti masalah wudhu dan shalat, mengerti sifat wajib, jaiz dan mustahil Allah, mengetahui halal dan haram.

Kalau menertibkan hati menunggu tua, nanti terlanjur hati berkarat tebal. Maka sejak usia muda seyogyanya mereka mulai mengamalkan ajaran thariqah, seperti MATAN (Mahasiswa Ahlit Thariqah An-Nahdliyyah).

Apakah boleh mengikuti baiat thariqah, padahal masih belajar ilmu syariat? Setiap Muslim tentu boleh, bahkan harus, berusaha menjaga serta meningkatkan kualitas iman dan Islam di hatinya dengan berbagai cara. Salah satunya dengan berthariqah. Namun berthariqah sendiri bukan hal yang sangat mudah. Karena, sebelum memasukinya, seseorang harus terlebih dulu mengetahui ilmu syariat. Tapi juga bukan hal yang sangat sulit, seperti harus menguasai seluruh cabang ilmu syariat secara mumpuni.

Yang diprasyaratkan untuk masuk thariqah hanya pengetahuan tentang hal-hal yang paling mendasar dalam ilmu syariat. Dalam aqidah, misalnya, ia harus sudah mengenal sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah. Dalam fiqih, ia sudah mengetahui tata cara bersuci dan shalat, lengkap dengan syarat, rukun, dan hal-hal yang membatalkannya, serta hal-hal yang dihalalkan atau diharamkan oleh agama.

Jika dasar-dasar ilmu syariat sudah dimiliki, ia sudah boleh berthariqah. Tentu saja ia tetap mempunyai kewajiban melengkapi pengetahuan ilmu syariatnya yang bisa dikaji sambil jalan. Syariat lainnya adalah umur yang cukup (minimal 8 tahun), dan khusus bagi wanita yang berumah tangga harus mendapat izin dari suami. Jika semuanya sudah terpenuhi, saya mengimbau segeralah ikut thariqah.

Semua thariqah, asalkan mu’tabarah, ajarannya murni dan silsilahnya bersambung sampai Rasulullah Saw., sama baiknya. Karena semua mengajarkan penjagaan hati dengan memperbanyak dzikrullah, istighfar dan shalawat. Yang terpenting, masuklah thariqah dengan niat agar kita bisa menjalankan ihsan. Jangan masuk thariqah karena khasiatnya atau karena cerita kehebatan guru-guru mursyidnya.

(*Ibj, dikompilasi dari ceramah-ceramah Maulana Habib Luthfi bin Yahya).