Showing posts with label kwagean. Show all posts
Showing posts with label kwagean. Show all posts

Tuesday, January 29, 2019

OLEH OLEH DARI LAMPUNG

OLEH OLEH DARI LAMPUNG

Hampir seminggu kemarin saya dilampung, mengurusi beberapa persyaratan haji. Yaitu tes kesehatan dan membikin paspor.

Pada awalnya saya dianjurkan untuk membikin paspor di kediri, toh paspor buatan mana saja bisa digunakan selama masih dalam masa aktif. Saya sudah berusaha bertanya dan minta tolong beberapa kenalan. Dan ternyata semuanya memberikan solusi yang hampir sama, yaitu bisa dibantu memberi surat rekomendasi namun dengan cerita seolah-olah saya akan berangkat umroh melalui biro dari kenalan saya itu.

Saya sempat mengiyakan, dan akan berangkat ke kantor imigrasi. Namun setelah difikir-fikir kok kayaknya gak pantas, saya mau haji, melaksanakan ibadah, kok ya harus ngapusi dulu dalam prosesnya.

Dengan sedikit sungkan, setelah minta tolong kok malah mengurungkan, saya akhirnya menggagalkan surat rekomendasi dari para kenalan.

Alhamdulillah semua bisa memahami alasan saya. 

Berangkat ke Lampung hari ahad, naik pesawat, yang awalnya saya sempat ragu dan hampir memutuskan melakukan perjalanan darat saja. Saya ragu Karena beberapa hal. Salah satunya adalah kejadian lion air beberapa bulan lalu yang lumayan membikin trauma. Juga, rute pesawat kelampung hari ini tidak ada yang direct(langsung), semuanya harus transit di jakarta.

Waktu lebih lama, biaya juga lebih mahal.

Alasan lain saya berencana melakukan perjalanan darat adalah karena kepingin mencoba tol baru yang sudah nyambung dari jawa timur hingga pelabuhan merak. Ditambah tol bakauheni hingga kota yang dekat rumah mertua.

Sedikit mengulang hobi melakukan perjalanan jauh yang sudah lama tak terlaksana sejak menikah. Hehehe

Namun karena badan kurang fit, akhirnya saya putuskan untuk naik pesawat saja.

Sebagai penguat, sebelum berangkat saya matur kebapak bagaimana agar saya tidak takut dan diberikan keselamatan oleh Allah. Bapak dawuh:”wacakno laqadjaakum(bacakan ayat laqadjaakum)”. “Peng pinten bah(berapa kali?)”, tanya saya. “Sak kongange(sebisanya)”, jawab bapak.

Memang banyak sekali macam doa dari para kiai demi keselamatan. Ada salah satu kiai saya yang memang terkenal suka ngebut, bahkan dalam usia beliau yang sudah sepuh pun masih suka naik motor rx king. Beliau pernah memberikan ijazah untuk membaca sholawat ketika akan bepergian. “Ben selamet(biar selamat)”, dawuh beliau.

Dan alhamdulillah, tambah lagi doa dalam perjalanan kali ini. Saya bacakan sholawat, dan juga laqodjaakum tujuh kali ketika akan terbang dan akan mendarat.

Kembali pada urusan bikin paspor, bukannya saya sok-sokan baik atau suci ketika memutuskan untuk membuat paspor di lampung lewat jalur resmi, namun karena memang bapak saya selalu mengajari kami untuk taat aturan.

Semisal  menggunakan sabuk pengaman ketika naik mobil.

Siapapun yang pernah keluar dengan bapak pasti tahu, setiap akan keluar dari gerbang pondok Kwagean, bapak pasti akan memasang sabuk pengaman. Bahkan meskipun hanya akan keluar ke rumah mbah yang jaraknya satu kilometer.

Dibanyak hal lain, bapak selalu menekankan pada kami untuk berjalan sesuai dengan aturannya.

Sebelum mengakhiri tulisan, saya akan hadirkan cerita(menggunakan redaksi seingatnya) yang saya baca ketika masih remaja dulu, dan kisah ini sangat mengena dalam hati saya hingga saat ini.

“Suatu hari, lewat tengah malam, ada tiga orang pejabat tinggi yang salah satunya adalah menteri. Sang menteri kebetulan yang menyetir mobil.

Ketika lampu rambu-rambu menyala merah, sang menteri menghentikan mobil. Teman yang duduk disebelahnya menyeletuk:’kenapa berhenti, kan tengah malam begini sepi. Gak ada apa-apa’.

Sang menteri menjawab:’peraturan haruslah ditaati. Terutama oleh kita, yang menjadi pejabat tinggi. Memang seharusnya menjadi contoh utama’.”

Memang begitulah, disetiap POSISI yang kita tempati memaksa AKSI yang seharusnya patut.

Semoga kita bisa selalu memberikan aksi yang sesuai dengan hati nurani.

#salamKWAGEAN

Monday, January 21, 2019

MUBALIGH BESAR

MUBALIGH BESAR

Sebagaimana pondok atau lembaga pendidikan yang lain, penutupan akhir tahun atau biasa disebut akhirus sanah adalah momen penutupan kegiatan yang tidak hanya diisi dengan mewisuda santri atau siswa, namun juga sebagai ajang unjuk gigi kepada masyarakat sekitar atas perkembangan pondok.

Salah satu unsur yang ingin di’tunjuk’kan dalam acara akhirus sanah biasanya adalah mubaligh, atau pengisi acara utama. Semakin kondang sang pengisi, maka gengsi akan semakin tinggi. Dikwagean pun sama, sejak meningkatnya perekonomian pondok, dan juga semakin berkembangnya pondok, pengurus mulai berani menaikkan kualitas mubaligh. Kualitas disini dari kadar ketenaran, bukan kadar kualitas keilmuan.

Karena seringkali, kualitas ketenaran tak berbanding lurus dengan kualitas keilmuan.

Sebelum saya pulang, pengurus telah beberapa kali mencoba mengundang mubaligh besar kelas wahid, namun tak pernah berhasil. Sudah sowan, dan dikasih jadwal sama sang mubaligh, eh ketika harinya malah digantikan oleh santrinya atau orang lain.

Saya yang hanya mendengar cerita dari panitia pun ikut kecewa, entah memang karena ada udzur atau bertepatan dengan acara yang lebih besar, yang jelas saya merasa kwagean belum di’anggap’ oleh para mubaligh besar itu.

Dan kekecewaan saya bertambah ketika saya menemukan cerita yang hampir sama dipondok teman saya, dimalang. Mengundang mubaligh besar yang sama, telah sowan, dan sang mubaligh yang menentukan tanggalnya. Namun menjelang hari H, malah mengabarkan kalau tidak bisa hadir.

Saking mangkelnya, teman saya nyeletuk:”kulo i radi jengkel, wes tanggal acara manut mriko, geh sudah di dp lumayan katah. Kok malah iseh mboten rawuh. Nopo kurang to jane bayarane?(saya agak jengkel, tanggal acara sudah ngikut beliau, sang mubaligh. Dp juga sudah masuk lumayan besar. Kok ya malah tidak hadir. Apa memang kurang bayarannya?)”.  Hahaha

Saya pun hanya tertawa mendengarnya. Antara geli dan ikut merasa kecewa.

Saya tak mau su’udzon, semoga saja memang karena ada udzur yang benar-benar membuat sang mubaligh tidak bisa rawuh. Namun yang membuat hati kecil jengkel, seringkali diacara besar(jumlah massa dan liputannya), atau acara ditempat pondok besar, beliaunya hampir dipastikan sering rawuh.

Wallahua’lam.

Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada bapak, beliau hanya berpesan:”yo gak usah mikir aneh-aneh. Gae pembelajaran wae. Lek diundang sopo ae, kapan ae wes nyanggupi, diusahakne kudu rawuh. Gak perduli wong cilik opo wong gede(gak usah mikir aneh-aneh. Dijadikan pembelajaran saja. Kalau diundang siapa saja, kapan sudah menyanggupi hadir, harus diusahakan untuk hadir. Tidak perduli yang mengundang orang besar atau orang kecil)”.

Dan memang itu yang selalu dicontohkan bapak kekami, setiap hari. Bapak punya satu kalender khusus(bapak tak punya asisten khusus bagian penjadwalan). Bapak yang melingkari sendiri kalender tersebut setiap ada undangan masuk, biasanya bahkan sebelum sang tamu pulang dari rumah bapak. Bila belum ada lingkaran, dan bapak masih memungkinkan hadir, maka bapak akan menyanggupi. Namun bila sudah ada lingkaran, bapak akan menanyakan waktunya. Bila memang tidak bertabrakan dengan jadwal awal, dan memungkinkan jarak dan waktunya, bapak akan berusaha hadir.

Dulu, almarhumah ibuk saya selalu berpesan:”sok awakmu kudu niru bapakmu, lek diundang sopo wae wong kwagean opo sopo kudu teko. Meskipun seng ngundang wong ra nduwe. Ojo nekani undangan wong seng ketoke sugeh tok(nanti, kamu harus niru bapakmu, kalau diundang oleh orang kwagean atau siapa saja harus hadir-bila mampu-. Meskipun yang mengundang orang tak punya. Jangan hanya menghadiri undangan orang kaya saja)”.

Mubalig sendiri dalam kbbi berarti juru dakwah. Saya tambahi h karena saya merasa gh lebih patut menjadi ghoin dalam bahasa arab. Sedangkan besar, dalam konteks mubaligh ini saya maksudkan pada para kiai atau penceramah yang sudah kondang ditingkat nasional.

Disetiap bapak mendapat undangan, dan diaturi menjadi mubaligh, bapak pasti akan matur bila ada yang lain, lainnya saja. Bapak selalu merasa tak ahli dalam hal ceramah.

“Dadi mubaligh ki abot. Kudu ngomong opo anane. Gak oleh nambah-nambah i cerito. Gak oleh ngarang-ngarang cerito. Opo maneh goroh. Kadang akeh seng ngunu kui, gur ben seneng jamaah e. Aku ra sanggup lek ngunu kuwi(menjadi mubaligh itu berat. Harus berbicara apa adanya. Tidak boleh menambah-nambahi cerita. Tidak boleh mengarang-ngarang cerita. Apalagi berbohong hanya agar jamaahnya senang. Saya tak sanggup kalau harus seperti itu)”. Kata bapak seringkali pada kami.

Dan biasanya, bila memang yang mengundang memaksa bapak tetap mengisi acara, bapak seringkali mengisinya dengan ngaji.

Iya ngaji, bapak akan menulis cuplikan kitab(biasanya ihya’), lalu dimaknai gandul(utawi iki iku) dan selanjutnya diterangkan pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari beserta pengalaman hidup bapak.

Persis ngaji ihya’ setiap hari dikwagean, hanya saja porsinya ditambahi dibagian cerita-cerita.

Dan pada akhirnya, saya selalu belajar untuk memosisikan diri. Saat mengundang, kita harus tahu diri, dan jangan berharap lebih. Selalu berharap yang terbaik, namun mempersiapkan diri pada yang terburuk.

Dan bila diundang, jangan pilih-pilih. Dahulukan yang lebih awal mengundang.

Semoga mampu selalu adil, bahkan sejak dalam fikiran(ini dawuh tokoh).

#salamKWAGEAN

Monday, December 10, 2018

Selametan

Ahad pagi, 9 Desember 2018 pondok As-Salam Kwagean "nduwe gawe"(punya hajat) ngunggahke kap atau molo atau atap kamar mandi baru. Sebelum para santri gotong royong ngunggahke kap, pengasuh Pondok As-Salam mengajak para santri untuk keduren bersama, berdo'a bersama untuk slametan.

Sebelum kenduren dimulai, beliau memberikan wejangan mengenai tradisi ala jawa yang salah satunya sedang di lakukan pagi tadi, ngunggahke kap. Menurut beliau, tradisi ini ialah tradisi jawa yang perlu untuk di lestarikan. Tradisi yang belakangan hampir punah di kota-kota besar. Beliau juga menambahkan bahwa tradisi ini sebagai aplikasi rasa gotong royong membantu tetangga yang membutuhkan (sambatan/ nduwe gawe). Karna bersifat gotong royong, maka yang punya hajat kemudian biasanya memberikan ; jajan, makanan, dan minuman. "Neg kulo di ijazahi Bapak moco ayat kursi 7x, ingkang sakderenge maos hahdrah-hadhrah fatihah kangge kanjeng nabi, keluarga, poro sahabat, kangge poro nabi-nabi, poro malaikat, poro wali-wali, poro simbah-simbah, syekh Abdul Qodir al-Jilany, lan ingkang babat deso" (kalau saya di ijazahi Bapak -red.KH. Abdul Hannan Ma'shum- untuk membaca ayat kursi sebanyak 7x. Sebelum membaca ayat kursi, hadiah fatihah kepada Nabi Muhammad Saw, beserta keluarga dan sahabat-nya, kepada para nabi, para malaikat, para wali Alloh, kepada kakek nenek kita, kepada Syekh Abdul Qodir aljilany, dan kepada yang membuka lahan desa). Imbuh beliau pengasuh As-Salam.

Acara kenduren di tutup dengan do'a oleh beliau pengasuh, kemudian para santri menyantap bersama jenang abang (merah). Acara ngunggahke kap atau molo pun dimulai, para santri As-Salam saling gotong royong membantu ngunggahke kap.

Maka benar realitanya, pondok ialah miniatur masyarakat. Jika di Pondok sudah terbiasa interaksi, sosialisasi, ikut rewang kegiatan pondok, ikut ro'an, maka kelak di masyarakat para santri akan mudah berbaur dengan masyarakatnya.

Beliau romo KH.Abdul Hannan Ma'shum juga pernah di tegur oleh guru beliau, Simbah KH. Zamroji tentang noto awak(memperbaiki diri sendiri) saat masih nyantri., "Neg nom iseh kluyuran nang dalan, sok tuwek yo panggah (kalau masih muda sering jalan-jalan, maka masa  tua pun tak ada bedanya dengan masa muda.)" Teguran guru beliau.

Jika kita analogikan teguran tersebut, maka selayaknya sebagai santri mulai sekarang untuk belajar ilmu kemasyarakatan sebelum kelak hidup di masyarakat. Karna masa muda tak akan pernah kembali lagi, sebagaimana gubahan syair para pujangga arab :
ألا ليت الشباب يعود يوما # فأخبره بما فعل المشيب
andai masa muda bisa kembali lagi, pasti aku beritahu mereka apa yg aku alami di masa tuaku.

Mohon doa restunya, agar pembangunan kamar mandi segera selesai.

#AssalamKwagean
#Kwagean
#TradisiJawa
#AdatJawa
#Slametan

Monday, October 22, 2018

BAJU DAN ILMU

BAJU DAN ILMU

Saya sangat beruntung, pernah beberapa tahun mondok dikajen dan mendekat dengan kiai Sahal(allahu yarham). Beliau pribadi yang sangat sederhana dalam hidup, dan terutama dalam berpakaian. Seringkali dalam keseharian hanya memakai baju taqwa, sarung batik, dan kopiah.

Untuk ukuran kiai sekelas beliau, ini sangat sederhana sekali.

Dan ternyata tak hanya dalam keseharian, ketika menghadiri undangan pun beliau juga berpakaian sederhana.Karena baju yang sederhana ini pula, beliau pernah ditolak untuk masuk ke sebuah acara, dimana beliau adalah bintang tamu yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya oleh sang panitia acara.

Saya masih ingat, ketika membuat undangan apapun, yai Sahal(allahuyarham) tidak pernah kerso(mau) bila ditulis dengan KH. Beliau hanya kerso ditulis: H.Sahal mahfudz.

Ini menunjukkan betapa para kiai yang sesungguhnya, malah seringkali merasa tidak pantas menyertakan gelar kiai, karena sekali lagi kiai atau ustad adalah wujud penghormatan orang lain kekita, bukan wujud kita membanggakan diri.

Dan ketika dirumah pun, saya belajar hal yang hampir sama pada bapak.Dalam menghadiri undangan pun, bapak saya juga sering berpakaian seadanya. Biasanya baju apa saja yang paling atas, sarung apa saja yang ada ditumpukan atas, dan kopiah(kadang hitam kadang putih).Dibeberapa kesempatan ditambah surban kecil putih(tapi waktu itu, ini sangat jarang).

Pernah suatu kali, bapak menghadiri undangan nikahan. Bapak rawuh dan diterima oleh salah satu panitia yang tahu siapa bapak(kebetulan sang manten adalah alumni kwagean), maka bapak langsung didudukkan dibarisan paling depan tengah.

Tak berselang lama ada panitia lain yang tidak tahu, langsung saja menghampiri bapak dan ngomong:"ngapuntene, niki ten ngajeng panggenane poro menteri lan kiai-kiai ageng. Panjenengan ten wingkeng mawon(maaf, dibarisan sini tempatnya para menteri dan kiai-kiai besar. Silahkan anda pindah kebelakang saja).

Bapak mengiyakan, dan langsung pindah kebelakang.

Hingga beberapa saat muncul lagi panitia yang awal, dan kaget kok bapak malah pindah ke barisan belakang. Dimintalah bapak kebarisan depan lagi. Bapak pindah, manut sesuai arahan.

Masalah belum usai, ternyata panitia lain mengerutu. Kok ini tamu gak penting pindah kedepan lagi. Akhirnya disuruh pindah kebelakang lagi.

Bapak manut saja, wong tamu.

Hingga akhirnya bapak disuruh pindah lagi oleh panitia yang tahu tadi, namun bapak menolak. "Pun kulo ten mriki mawon mboten nopo-nopo(sudah, saya disini saja tidak apa-apa)".

Tetap dibelakang, sebelah pinggir, bapak duduk hingga akhir acara.

Namun sebelum selesai, ternyata resepsi ditutup dengan doa.Dipanggillah nama bapak disertai penjelasan kalau bapak adalah kiai dari sang pengantin untuk menimpin doa.

Hahaha entah, bagaimana perasaan panitia yang mengusir beberapa kali tadi.

Fenomena Ini sesuai dengan dawuh yang diceritakan bapak beberapa hari yang lalu:

يكرم المرء بلباسه قبل الجلوس وبعلمه بعد الجلوس
"Seseorang, dimulyakan karena bajunya sebelum dia duduk. Dan dimulyakan karena ilmunya setelah duduk. "

Banyak orang yang menilai kemulyaan seseorang dengan melihat baju apa yang dipakai, seberapa besar surbannya, atau seberapa wah jubahnya. Namun ketika sudah duduk, maka standar mulai berubah, dengan keilmuanlah seseorang dimulyakan.

Yang terjadi akhir-akhir ini banyak yang mengejar kemasan kiai, ulama, atau ustad. Namun lupa mengisinya dengan ilmu yang membuat dia pantas disebut kiai, ataupun sebutan lain.

Karena kiai, ulama, ataupun ustad bukanlah gelar yang bisa kita cari, apalagi beli. Tapi adalah sesuatu anugerah yang diberi oleh tuhan, dan dilegitimasi oleh masyarakat.

"Ketika kita sudah berlaku layak, maka gelar yang layak juga akan datang dengan sendirinya."

Seorang gusdur pun pernah guyon:
"Saya lebih senang dipanggil GUS, karena sebutan KIAI terlalu berat buat saya".

"Jadi Kiai itu kan harus kuat tirakat: makan sedikit, tidur sedikit, ngomongnya juga sedikit. Nggak kuat saya. Enakan jadi Gus aja: dikit-dikit makan, dikit-dikit tidur, dikit-dikit ngomong"

Hahaha

#salamKWAGEAN