Showing posts with label hikmah. Show all posts
Showing posts with label hikmah. Show all posts

Thursday, February 9, 2023

KIAI MASDUQI (KAKAK RAIS AMM PBNU) BERKISAH TENTANG MBAH WAHAB MENANGKAP JIN DAN MBAH HAMID MENGAMINI DOANYA DARI ATAP

KIAI MASDUQI (KAKAK RAIS AMM PBNU) BERKISAH TENTANG MBAH WAHAB MENANGKAP JIN DAN MBAH HAMID MENGAMINI DOANYA DARI ATAP

Kemarin sore saya dan istri takziah tujuh harinya Nyai Muzayyanah (istri dari Kiai Adib bin Wahab Chasbullah) di Surabaya. Kami bertemu dengan Ning Diah (putri Kiai Masduqi Abdul Ghoni) dan Ning Hanna (putri Kiai Jazuli Bangkalan). Selanjutnya  Kami diantar ke Ndalem Kiai Masduqi di Rangkah.

Kiai Masduqi (78 tahun) adalah putra ketiga dari Kiai Abdul Ghoni. Beliau merupakan kakak kandung dari Rais Amm PBNU, Kiai Miftachul Akhyar.

Kami ditemui oleh Kiai Masduqi dengan ditemani Gus Haq (putra Kiai Masduqi), Ning Hanna dan Ning Diah beserta beberapa putri menantu beliau yang lain.

Kiai Masduqi yang sangat tawadlu sekali ini berkisah bahwa beliau Mondok di Tambakberas saat masih kecil dan masih ngompolan, yakni sekitar usia  8 tahun. Beliau  mondok di Tambakberas  selama 10 tahun mulai dari tahun 1953 dan hingga ketika gunung Agung meletus, tahun 1963.

Beliau saat ini adalah penerus pesantren abahnya yang bernama Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Bahrul Ulum yang beralamat di Rangkah Surabaya. Rumah abah beliau (saat ini ditempati beliau) dahulu menjadi tempat persinggahan  para kiai seperti Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Hamid Chasbullah dan Kiai Romli, Mbah Ud dan lain lain. Beliau yang saat itu masih kecil masih teringat ucapan Kiai Abdul Ghoni (ayahanda beliau) bahwa Mbah Hamid Chasbullah waktu berkunjung setelah selesai acara haul Syaikh Abdul Qodir Al Jailani membawa buah tangan berupa roti kalengan.

Ketika saya tanya tentang amalan ijazah doa dari Masyayikh Tambakberas, beliau
berkata mendapatkan doa dari Mbah Wahab berupa "Huwal Habib" yang  dibaca 100 kali. Katanya,  banyak masalah yang para santri disuruh oleh Mbah Wahab agar mewiridkan "Huwal Habib". Kiai Masduqi juga sering mendengar Mbah Wahab mengajari santri dengan membaca doa "Ya Arhamarrohimin...".

Hal lain yang beliau ingat dari Mbah Wahab adalah saat Mbah Wahab mengambil jin di beberapa tempat sekitar pondok seperti di menara masjid dan lainnya. Saat itu Kiai Sholeh Hamid disuruh mengangkat jin, tapi Kiai Sholeh berkata "Tidak kuat Wak Aji (panggilan untuk Mbah Wahab dari para keponakannya)." Lalu Kiai Sholeh diajari agar menggendongnya. Setelah itu baru kuat membawa jin untuk dipindah.

Kiai Masduqi masih menangi (bertemu) Mbah Hamid yang wafat tahun 1956. Beliau sempat ngaji Alquran ke Mbah Hamid sampai ayat yang beliau sebut "Sayaqulus.. ." (awal juz 2).  Lalu oleh orang tuanya diminta pulang dulu. Saat beliau pulang pada bulan Ramadhan hari kedelapan itulah  Mbah Hamid wafat. Pada bulan Syawal Kiai Masduqi kembali mondok lagi.

Beliau berulangkali bilang Kiai Hamid Chasbullah itu wali, tamunya juga para wali seperti Kiai Sahlan, Sidoarjo, Kiai Toha Wonokromo dan lain lain.

Kiai Masduqi termasuk santri yang ikut ndalem dengan membantu menjualkan makanan blendung buatan Mbah Den (istri Mbah Hamid) untuk  para santri. Blendung adalah jagung tua yang biasanya direndam dengan air gamping, lalu digodok, dan setelah masak ditaburi parutan kelapa. Orang Nganjuk dan sekitarnya menyebutnya grontol.

Beliau juga berkisah tentang "ngawang" (terbangnya) Mbah Hamid Chasbullah. Setelah lama di pondok, pada suatu malam, Kiai Masduqi 'telek-telek" atau merenungi bahwa nanti kalau pulang dan beliau merasa belum bisa apa-apa, maka pasti akan ditanya tentang ngajinya oleh abahnya (Kiai Abdul Ghoni). Abahnya begitu tegas dan bisa menyabet manakala putranya tidak bisa ngaji.

Maka saat itu di tengah malam, Kiai Masduqi "nyawang" (melihat) atap atau "wuwung" di pondok induk. Tanpa disangka, beliau melihat Mbah Hamid (yang saat itu sudah wafat) "ngawang" atau terbang di atas wuwung pondok sambil berkata, "Aminono aku tak ndongo (ucapkan amin, saya mau berdoa)". Benar, secara secepat kilat beliau mengaminkan doa Mbah Hamid.

Terakhir, sekali lagi beliau sangat tawadlu'. Semisal saat saya minta barokah doa, bolak balik beliau mengelak menolak  tidak berkenan. Saya tidak putus harapan, maka akhirnya beliau dawuh akan membaca Fatihah tapi saya nanti diminta berdoa. Benar, selesai membaca Fatihah, saya diminta berdoa. Dengan mengharapkan berkah  "amin"nya Kiai Masduqi, maka saya berdoa pendek dengan membaca sholawat Nurudzati dan doa sapujagat.

Tidak hanya itu, saat saya pamitan dan mau ziarah ke makam Kiai Abdul Ghoni, beliau malah mau mengantar. Tentu kami cegah karena sehabis hujan. Sebelumnya saya mau "menyalami" beliau, tapi justru saya yang "disalami". Awalnya sama sama menolak, tapi karena sama-sama kekeuh, akhirnya sama sama menerima.

Semoga kiai sepuh yang andap ashor terus sehat dan panjang usia sehingga bisa jadi panutan.

Wednesday, January 25, 2023

KISAH PELECEHAN SEKSUAL SAAT TAWAF DI ZAMAN DULU

KISAH PELECEHAN SEKSUAL SAAT TAWAF  DI ZAMAN DULU

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R. Rozikin, Dosen di Universitas Brawijaya)

Berbuat dosa di tanah suci, apalagi di lingkungan Kakbah itu berbeda dengan tempat lain.

Sama-sama melakukan dosa, jika dilakukan di tempat yang suci, maka dosanya lebih berat.

Demikian beratnya dosa yang dilakukan di sana, sampai-sampai terkadang Allah mempercepat hukuman dosa itu di dunia  agar menjadi ibrah dan pelajaran bagi yang lain.

Ada seorang lelaki di masa lalu yang sedang tawaf.
Tidak sengaja tersingkaplah  lengan seorang wanita yang sedang tawaf juga.

Lengan  itu begitu halus, putih dan  indah hingga seakan-akan berkilauan.

Kemudian secara sengaja dia menempelkan lengannya pada lengan wanita itu untuk berlezat-lezat dengannya. Tiba-tiba Allah membuat lengan mereka melekat terus dan tidak bisa dilepaskan!

Dia menjadi sangat menyesal dan sedih dengan apa yang dilakukannya.

Akhirnya dia mendatangi salah seorang ulama dan meminta fatwa terkait masalah tersebut. Sang ulama memberi saran,

“Kembalikah ke tempat engkau melakukan perbuatan tersebut dan berjanjilah kepada Allah untuk tidak mengulanginya”

Kemudian saran itu dilakukan dan akhirnya terlepaslah dua lengan yang melekat tersebut.

Ibnu Abū al-Dunyā meriwayatkan,

«بَيْنَا رَجُلٌ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ، إِذْ ‌بَرِقَ ‌لَهُ ‌سَاعِدُ امْرَأَةٍ، فَوَضَعَ سَاعِدَهُ عَلَى سَاعِدِهَا يَتَلَذَّذُ، فَلَصَقَتْ بِسَاعِدِهَا، فَأُسْقِطَ فِي يَدَيْهِ، فَأَتَى بَعْضَ أُولَئِكَ الشُّيُوخِ، فَقَالَ: ارْجِعْ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي فَعَلْتَ فِيهِ، فَعَاهِدْ رَبَّ الْبَيْتِ أَلَّا تَعُودَ. فَفَعَلَ، فَخُلِّيَ عَنْهُ "». «العقوبات لابن أبي الدنيا» (ص196)

Artinya,

“Suatu saat ada seorang lelaki yang bertawaf di Kakbah. Tiba-tiba tersingkaplah lengan seorang wanita. Maka lelaki itu meletakkan lengannya pada lengan wanita itu untuk berlezat-lezat dengannya. Maka lengannya langsung melekat pada lengannya. Diapun menyesal sekali. Kemudian dia mendatangi sebagian ulama, maka sang ulama berkata, ‘Kembalikah ke tempat engkau melakukan dosa tersebut  dan berjanjilah kepada pemilik baitullah untuk tidak mengulanginya’. Diapun melakukannya dan akhirnya bebaslah dia” (al-‘Uqūbāt li Ibn Abū al-Dunyā hlm 196)

***
Kisah Isāf (إساف) dan Nā’ilah (نائلة) di zaman jahiliah juga sangat populer terkait prinsip hukuman yang dipercepat jika dosa dilakukan di lingkungan Kakbah. Dua pasangan kekasih berzina di dalam Kakbah! Maka Allah mengubah mereka menjadi batu seketika!

Karena itulah, dalam kitab-kitab fikih dinasihatkan supaya benar-benar sensitif menjaga diri saat di lingkungan Kakbah. Jangan sampai bermaksiat apapun. Sekedar maksiat pandangan sekalipun. Sekali-kali jangan memandang lawan jenis yang sifatnya menikmati. Jangan pula memandang orang lain dengan pandangan mata meremehkan, entah karena fisiknya yang kurang atau karena kejahilannya dalam manasik.

#fikihumrah
#fikihumroh

Sunday, September 27, 2020

Catatan kunjungan Gus Baha’ ke Madura ( belajar menghormati guru dari seorang Gus Baha’)

* Catatan kunjungan Gus Baha’ ke Madura ( belajar menghormati guru dari seorang Gus Baha’)

Sebuah “kaidah alam” yang bukan rahasia lagi, bahwa di balik kemuliaan luar biasa yang dicapai seseorang, pasti ada penghormatan dan tadhim yang juga luar biasa kepada seorang guru

Bagaimana seorang Sayyidina Abu Bakar menangis haru ketika mendapat izin untuk mengawal hijrah Rasulullah padahal harta bahkan nyawa adalah taruhannya. beliau menganggap “khidmah” adalah sebuah anugrah tak terkira, alih-alih menganggapnya sebagai beban atau bahan keluhan seperti realita banyak santri di era kita ini.

Bagaimana seorang Imam Subki turun dari Onta yang dinaikinya setelah mengetahui bahwa orang “baduwi” penuntun ontanya pernah menghadiri pengajian Imam Nawawi.

Bagaimana seorang Syaikhona Kholil sampai rela turun dari sebuah delman karena “khawatir” kuda delman itu adalah salah satu dari keturunan kuda gurunya Syaikh Abdul Ghani Bima, dan bagaimana beliau sangat menghormati guru beliau Syaikh Abdul Adhim An-Naqsyabandi bahkan setelah Syaikhona wafat dan berpindah ke alam barzakh.

“ tadi ketika saya mau ziarah ke makam Syaikhona Kholil, tiba-tiba di depan gang saya “diusir” oleh beliau, beliau menyuruh saya untuk berziarah dulu ke makam Gurunya Syaikh Abdul Adhim “ jawab seorang Waliyyullah al-Mursyid Habib Muhsin Al-Hinduan Sumenep ketika ditanya mengapa beliau kembali di tengah jalan sebelum sampai ke Makam Syaikhona Kholil.

Bagaimana raut wajah Habib Umar akan berubah khusuk dan penuh Tadhim setiap kali siaran radio di mobil beliau memutar ulang rekaman pengajian guru beliau Habib Abdul Qodir Assegaf, bagaimana seorang Habib Mundzir al-Musawa akan segera turun dari kursi lantas bersimpuh di lantai ketika mendapat telpon dari gurunya Habib Umar Bin Hafidz meski jarak sang guru ribuan kilometer di Tarim Hadhramaut sana.

Dan masih banyak bukti-bukti nyata lainnya. Pun begitu dengan Gus Baha’, meski kealiman dan kegeniusan beliau adalah sisi yang banyak dikenal dan diekspos selama ini, dari dulu saya sudah curiga, bahwa dibalik kemuliaan luar biasa yang beliau dapatkan saat ini pasti ada penghormatan luar biasa juga kepada para guru beliau.

Selama ini kita mengetahui hormat dan kefanatikan beliau kepada Mbah Yai Maimun Zubair, itu sudah bukan rahasia lagi. Tapi kunjungan beliau Madura kemarin membuat saya mengetahui sisi “tadhim” lain dari seorang Gus Baha’.

Seperti biasa, destinasi yang wajib dikunjungi beliau pertama kali ketika menginjakkan kaki di bumi Madura adalah Makam Syaikhona Kholil, beliau seakan ingin mengajarkan kita satu adab : kalo mau bertamu ke suatu tempat, sowan dulu ke tuan rumahnya, ke shohibul wilayahnya, jangan asal “nyelonong” masuk begitu saja. Saya tidak sempat mengawal Gus Baha’ di Bangkalan, tapi melalui “orang dalam” yaitu dua murid kinasih beliau Habib ( Sodiq alkhered dan Muhammad Ismail Al-Ascholy ) saya mendapat info bahwa Gus Baha’ sedang menuju salah satu pesantren di Kota Sampang yang namanya mungkin masih asing di telinga masyarakat Madura : PP. Bustanul Huffadz As-Saidiyah.  Saya awalnya bertanya-tanya, di tengah jadwal padatnya, untuk apa beliau rela meluangkan waktunya untuk berkunjung ke sebuah tempat ?

Saya sampai di pondok Bustanul Huffadz sekitar jam 16:30 Wib, ketika itu Gus Baha’ dan rombongan sudah ada di dalam bersama pengasuh. saya masuk, Gus Baha’ mempersilahkan saya untuk duduk di dekat beliau. Jika dulu beliau selalu menanyakan :

“ mengapa nikah kok jauh-jauh ke Yaman ? “

Kali ini beliau bertanya :

“ katanya sekarang udah jadi artis ? “

Saya tersenyum tanpa jawab, dalam hati saya berkata :

“ jauh lebih artisan panjenengan Gus 😅”

Bagi saya seorang Gus Baha’ adalah sebuah fenomena, ketika keviralan beliau tak kalah dengan para artis dan para tokoh, Ceramah-ceramah beliau bahkan ditonton jutaan kali di Youtube, tapi beliau seakan tak peduli dengan semua itu. Terbukti sampai sekarang - disaat orang-orang berlomba-lomba untuk membeli Hp Iphone atau Android terbaru - beliau justru masih tetap memakai hp Nokia Simbian jadul yang mungkin sudah gak layak jual atau bahkan sudah punah di pasaran. Beliau gak punya Fb, Wa, apalagi Instagram.

Pada akhirnya saya tau, bahwa ternyata beliau berkunjung ke pondok itu bukan untuk mengisi seminar atau ceramah, melainkan untuk silaturrahmi sekaligus hurmat dan tabarruk. Apakah beliau pernah ngaji disana ? Tidak ! Jadi begini ceritanya :

Gus Baha’ mempunyai Sanad al-Quran melalui jalur ayahnya Kh. Nur Salim, Kh. Nur Salim mengambil sanad dan berguru kepada Kh. Abdullah Salam Kajen, dan Kh. Abdullah Salam berguru kepada Kiai Said Ismail pendiri pondok yang Gus Baha’ kunjungi.

Jadi kunjungan Baha’ bukan dalam rangka hurmat kepada guru (langsung) beliau tapi guru dari guru ayah beliau ! Kiai Said sendiri ternyata memang dikenal sebagai seorang ahli quran yang banyak mencetak ulama-ulama besar seperti Kh. Hasan Askari (Mbah Mangli) Kh. Abdullah Salam dan masih banyak murid beliau lainnya. Gus Baha sendiri pernah mengatakan bahwa Kiai Said adalah seorang ulama kelahiran Mekkah yang sudah hafal Quran sebelum usia baligh, dan ketika disebut nama Syaikh Said dalam Sanad Quran maka yang dimaksud adalah Kiai Said Sampang.

Pada acara di Sumenep kemarin, Gus Baha’ juga menyampaikan :

“ saya ini punya komitmen dari dulu untuk tetap istiqomah membaca kitab-kitab Mbah Mun, bersama santri saya juga Muhibbin. Saya tidak mau menjadi “tersangka” seorang santri yang menyia-nyiakan ilmu gurunya “ beliau lalu menukil komentar Imam Syafi’i :

الليث أفقه من مالك و لكن ضيعه أصحابه

“ Imam Laits itu lebih Alim fiqh daripada Imam Malik. Hanya saja ilmu beliau disia-siakan oleh murid-muridnya “ ( tidak ada yang memperhatikan dan membukukan ilmu-ilmu beliau sehingga madhzab beliau menjadi punah )

Dari Gus Baha’ dan para guru kita.. kita belajar bahwa kunci kemuliaan memanglah banyak, “ atthuruq ilallah bi adad anfasil kholaiq”  ucap seorang ulama, jalan menuju Allah ada sangatlah banyak sebanyak nafas para mahluk. Tapi bagi ia yang telah mengikrarkan dirinya sebagai seorang murid dan santri, kunci kemuliaan dunia-akhiratnya hanya ada pada tadhim dan cintanya kepada para guru. Persis seperti sebuah kalam yang dinukil oleh Mbah Hasyim Asyari dalam “Adabul alim wal muta’allim “

" الذي لا يعتقد جلالة أستاذه لا يفلح "

“ orang yang tak pernah meyakini keagungan dan kemuliaan gurunya ia tak akan pernah hidup beruntung dan bahagia “

Juga persis seperti pesan indah dari Sulthonul Awliya’ Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani :

" من أراد الفلاح فليصر ترابا تحت أقدام الشيوخ "

“ barang siapa yang menginginkan kebahagiaan (dunia-akhirat) maka jadilah ia debu di bawah telapak kaki para guru “

Mereka sudah melakukan dan membuktikan, tinggal kita ? Ingin memilih jalan yang mana ?

* Ismael Amin Kholil, Bangkalan , 25 September, 2020

Saturday, September 26, 2020

KISAH WANITA CANTIK DAN SI PANDAI BESI.

KISAH WANITA CANTIK DAN SI PANDAI BESI.

Sebagian Ulama menceritakan:

Ada seorang lelaki pandai besi. Dia mampu memasukkan tangannya pada api dan mengeluarkan besi yang menyala-nyala, namun dia tidak merasakan panasnya api.

Lalu dia didatangi seorang lelaki untuk membuktikan berita itu. Setelah melihat dan menyatakan apa yang didengarnya, lalu lelaki itu menunggu hingga pandai besi itu merampungkan pekerjaannya. Setelah selesai, ia terus mengucapkan salam dan pandai besi itu membalasnya.

“Aku ingin menjadi tamu engkau pada malam ini,” kata lelaki itu.

“Dengan senang hati dan penuh kehormatan,” jawab pandai besi.

Kemudian lelaki itu diajak pulang ke rumah pandai besi, ia dijamu dengan makanan khas sore hari dan bermalam bersama si pandai besi. Ternyata, dalam penelusurannya, si pandai besi tidak beribadah kecuali mendirikan shalat fardhu dan tidur hingga subuh.

“Mungkin si pandai besi itu menutupi ihwalnya terhadapku pada malam ini,” gumam lelaki itu dalam hatinya.

Lelaki itu lalu bermalam satu malam lagi. Ternyata pandai besi itu masih seperti biasa, tidak menambah ibadah sama sekali kecuali mendirikan shalat fardhu.

Melihat hal demikian, lelaki tersebut akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, “Wahai saudaraku, aku telah mendengar bahwa engkau diberi kemuliaan oleh Allah dan aku pun melihat sendiri kemuliaan itu. Namun aku merenung, karena tidak melihat banyaknya amal yang engkau lakukan. Engkau tidak beramal selain shalat fardhu. Dari mana engkau memperoleh kemuliaan seperti itu (memegang besi dibakar tidak merasakan panas)?”

Akhirnya si pandai besi tersebut menjawab, “Wahai saudaraku, aku ini mengalami cerita yang aneh dan perkara yang jarang terjadi. Ceritanya begini:

Aku mempunyai tetangga wanita cantik, aku pun sangat mencintainya. Berkali-kali tidak berhasil mendapatkan wanita itu, karena dia menjaga dirinya dengan memelihara kehormatan diri.

Lalu pada suatu masa, timbul musim paceklik (kesulitan makanan) yang mana seluruh orang merasa lesu. Saat aku duduk di rumah. Tiba-tiba ada seseorang mengetuk-ketuk pintu. Aku pun keluar sambil berkata, “Siapa itu?”.

Tiba-tiba wanita cantik itu berdiri di pintu seraya berkata, “Wahai saudaraku, aku sangat lapar. Apakah anda dapat memberi makan padaku karena Allah?”

“Aku tidak dapat memberikan makanan padamu, kecuali jika engkau menyerahkan dirimu padaku. Apakah engkau tidak tahu apa yang ada dalam hatiku? Apakah kamu tidak tahu kalau aku mencintaimu?” jawabku.

“Aku memilih mati daripada durhaka kepada Allah.” sahut wanita itu. Akhirnya ia pun kembali ke rumahnya.

Setelah dua hari berlalu, wanita itu kembali kepadaku dan mengatakan kepadaku seperti dahulu. Lalu aku jawab seperti yang lalu. Kemudian wanita itu masuk dan duduk di dalam rumahku dalam kondisi kesehatan yang sangat buruk. Aku pun meletakkan makanan di depannya. Melihat apa yang aku lakukan, maka matanya mencucurkan air mata seraya berkata, “Apa makanan ini karena Allah?”

“Tidak, syaratnya engkau harus menyerahkan dirimu kepadaku.” jawabku.

Wanita itu lalu berdiri dan sama sekali tidak mau makan, ia kemudian pulang menuju rumahnya.

Selang dua hari kemudian, datang kembali mengetuk pintu. Aku keluar sedangkan ia berdiri di depan pintu. Suaranya terputus-putus karena kondisi yang kelaparan dan punggungnya telah lemah, seraya berkata, “Wahai saudaraku, aku telah berupaya tidak bisa datang kepada selain engkau. Apakah engkau dapat memberi makanan kepadaku karena Allah?”.

“Iya, jika kamu mau menyerahkan dirimu padaku.” jawabku.

Wanita itu akhirnya mau memasuki rumahku dan duduk di dalamnya. Ketika itu, aku tidak mempunyai makanan. Saya berdiri, menyalakan api untuk memasakkan makanan buat wanita itu. Setelah makanan saya letakkan di hadapannya, belas kasihan Allah menemuiku.

“Celaka engkau hai diriku ini, wanita ini kurang akalnya, kurang agamanya, tidak memakan yang bukan miliknya. Dia berulang kali datang ke rumahmu karena sakit kelaparan, tetapi dirimu tidak mau menghentikan perbuatan maksiat kepada Allah Ta’ala. Ya Allah, aku bertaubat pada-Mu dari perbuatan dosa yang kulakukan. Aku tidak akan mendekati wanita itu selama-lamanya,” gumamku dalam hati.

Kemudian aku menjumpai wanita itu, tetapi ia tetap tidak mau makan.

“Makanlah, tak perlu takut. Sebab makanan ini aku berikan karena Allah” kataku.

Setelah wanita itu mendengar ucapanku, lalu ia mengangkat kepalanya ke langit seraya berdo’a, “Ya Allah, jika lelaki itu benar ucapannya, semoga Engkau mengharamkan api untuk orang ini di dunia dan akhirat.”

Wanita itu lalu kubiarkan untuk melanjutkan makan. Karena pada saat itu musim penghujan, aku hendak memadamkan api. Ternyata kakiku menginjak bara api, tetapi tidak terasa panas dan tidak membakar kakiku.

Ketika aku menemui wanita yang sedang makan, rasa senang terpancar dari wajahnya. Aku pun berkata, “Bergembiralah engkau karena Allah telah mengabulkan do’amu”.

Wanita itu tetap melahap suapan makanan dari tangannya. Setelah selesai memakan semua makanan, ia bersujud syukur karena Allah dengan berdo’a, “Ya Allah, Engkau telah berkenan memperlihatkan kepadaku apa yang menjadi maksudku kepada lelaki itu. Semoga Engkau berkenan mencabut nyawaku saat ini.”

Maka Allah mencabut nyawa wanita itu dalam keadaan bersujud. Inilah ceritaku wahai saudaraku, Allah Maha Mengetahui”.

______________

Disarikan dari karya Syekh Nawawi Banten yang berjudul Uqud al-Lujain, hal. 22, cet. Al-Haromain.

Saturday, January 25, 2020

Kisah Abu Nawas Dishalati Imam Syafi’i

BincangSyariah.Com – Konon, Abu Nawas dikenal sebagai orang yang gemar berbuat maksiat dan agak gila. Dia gemar minum khamer hingga dia mendapat julukan Penyair Khamer. Salah satunya, Abu Nawas pernah membuat syair seperti ini seperti dikutip dari Dalil al-Muhtaj ilaa Syarh al-Minhaaj karya Rajab Muhammad Nuri Musyawwih,

“Biarkan masjid diramaikan oleh orang-orang yang rajin ibadah
Kita di sini saja, bersama para peminum khamer, dan saling menuangkan
Tuhanmu tidak pernah berkata, ‘Celakalah para pemabuk.’
Tapi Dia pernah berkata, ‘Celakalah orang-orang yang shalat.'”

Gara-gara syairnya ini, Khalifah Harun Ar-Rasyid marah dan ingin memenggal leher Abu Nawas. Tapi, ada orang yang mengatakan kepada Ar-Rasyid: “Wahai Amirul Mukminin, para penyair mengatakan apa-apa yang tidak mereka lakukan. Maafkanlah dia (Abu Nawas).”

Menurut satu riwayat, ketika Abu Nawas meninggal dunia, Imam Syafi’i tidak mau menshalati jenazahnya. Namun, ketika jasad Abu Nawas hendak dimandikan, di kantong baju Abu Nawas ditemukan secarik kertas bertuliskan syair berikut ini:

***Wahai Tuhanku, dosa-dosaku terlalu besar dan banyak *** Tapi aku tahu bahwa ampunan-Mu lebih besar
***Jika hanya orang baik yang boleh berharap kepada-Mu *** kepada siapa pelaku maksiat akan berlindung dan memohon ampunan?
Aku berdoa kepada-Mu, seperti yang Engkau perintahkan *** dengan segala kerendahan dan kehinaanku
*** Jika Kau tampik tanganku, lantas siapa yang memiliki kasih-sayang? *** Hanya harapan yang ada padaku ketika aku berhubungan dengan-Mu
Dan keindahan ampunan-Mu
Dan aku pasrah setelah ini”…

Setelah membaca syair tersebut, Imam Syafi’i menangis sejadi-jadinya. Abu Nawas langsung dishalati beliau bersama orang-orang yang hadir.

Wednesday, January 15, 2020

Seorang Majusi yang Masuk Islam karena Hasan al-Basri

Seorang Majusi yang Masuk Islam karena Hasan al-Basri

Hasan al-Basri memiliki seorang tetangga yang bernama Simeon, dia adalah seorang pemuja api. Suatu hari Simeon jatuh sakit dan ajalnya hampir tiba. Sahabat-sahabat meminta Hasan untuk bersedia menjenguknya. Akhirnya Hasan datang ke kediaman Simeon, dan dia mendapatkannya tengah terbaring di tempat tidur. Hasan melihat tubuh Simeon telah menghitam karena api dan asap.

“Takutlah engkau terhadap Allah,” ujar Hasan menasihatinya. “Engkau telah menghabiskan seluruh hidupmu di tengah api dan asap. Terimalah Islam, semoga Allah mengampunimu.”

“Ada tiga hal yang menahanku untuk menjadi seorang Muslim,” jawab pemuja api itu. “Yang pertama adalah, bahwa engkau berbicara buruk tentang dunia, namun siang dan malam engkau mengejar-ngejar hal-hal duniawi.

“Kedua, engkau mengatakan bahwa kematian adalah kenyataan yang harus dihadapi, namun engkau tidak melakukan persiapan untuk kematian.

“Yang ketiga, engkau mengatakan bahwa wajah Tuhan akan terlihat, namun hari ini engkau melakukan segala sesuatu yang bertentangan dengan keridhoan-Nya,” kata Simeon melanjutkan.

“Ini adalah bukti dari mereka yang benar-benar mengetahui,” jawab Hasan. “Sekarang, jika seorang Muslim bertindak seperti yang engkau gambarkan, apa yang akan engkau katakan? Mereka mengakui keesaan Allah; padahal engkau telah menghabiskan hidupmu dalam penyembahan api.

“Engkau yang telah menyembah api selama tujuh puluh tahun, dan aku yang tidak pernah menyembah api — katakanlah kita berdua akan masuk Neraka. Neraka akan membakar baik engkau maupun aku. Allah tidak akan mempedulikanmu; tetapi jika Allah menghendaki, api tidak akan berani membakar satu helai rambutpun dari tubuhku.

“Karena api adalah sesuatu yang diciptakan oleh Allah; dan makhluk itu tunduk pada perintah Pencipta. Baiklah sekarang, engkau yang telah menyembah api selama tujuh puluh tahun; mari kita berdua meletakkan tangan ke dalam api, maka engkau akan melihat dengan mata kepala sendiri ketidakberdayaan api dan Kemahakuasaan Allah.”

Setelah berkata demikian Hasan memasukkan tangannya ke dalam api dan mendiamkannya di sana. Setelah beberapa lama, tidak ada satu bagianpun dari tangannya yang terbakar. Ketika Simeon menyaksikannya, dia terkaget-kaget.

“Selama tujuh puluh tahun aku telah menyembah api,” erangnya. “Sekarang hanya satu atau dua nafas yang tersisa untukku. Apa yang harus aku lakukan?”

“Jadilah seorang Muslim,” jawab Hasan.

“Jika engkau mau memberiku surat keterangan tertulis bahwa Allah tidak akan menghukumku, maka aku akan memeluk Islam. Tetapi sampai aku belum memiliki surat keterangan tertulis itu, aku tidak akan memeluk Islam,” kata Simeon.

Hasan menyetujuinya dan dia menuliskan surat itu.

“Sekarang aku meminta dihadirkan saksi-saksi dari Basra untuk mengesahkan surat ini,” kata Simeon.

Setelah para saksi tiba, mereka mengesahkan dokumen itu. Tak lama kemudian Simeon berurai air mata dan dia menyatakan bahwa dirinya adalah seorang Muslim.

Dia kemudian menyampaikan wasiat terakhirnya kepada Hasan, “Ketika aku mati, mintalah mereka memandikanku, kemudian aku ingin engkau sendiri yang meletakkan tubuhku ke dalam bumi dengan tanganmu sendiri, dan selipkan surat ini di tanganku. Surat ini akan menjadi bukti bahwa aku seorang Muslim.”

Setelah berwasiat kepada Hasan, Simeon bersyahadat dan menghembuskan nafas terakhirnya. Mereka lalu memandikan dan men-shalat-kan jenazahnya, dan menguburkannya dengan surat yang diselipkan di tangannya. Malam itu, sebelum tidur Hasan merenungkan apa yang telah dilakukannya.

“Bagaimana aku bisa membantu orang yang akan mati, sedangkan aku sendiri akan mati? Aku sendiri tidak dapat menentukan nasibku, mengapa aku memberanikan diri untuk memastikan bagaimana seharusnya Allah bertindak?”

Dengan pemikiran ini dia tertidur. Di dalam mimpi dia melihat Simeon yang bercahaya seperti pelita; di atas kepalanya terdapat sebuah mahkota, dia mengenakan jubah yang indah dan berjalan sambil tersenyum di taman Firdaus.

“Bagaimana kabarmu Simeon?” tanya Hasan.

“Mengapa engkau bertanya? Engkau dapat melihatnya sendiri,” jawab Simeon. “Allah yang Mahakuasa atas karunia-Nya membawaku di dekat hadirat-Nya dan dengan keramahan menunjukkan wajah-Nya kepadaku. Nikmat yang Dia berikan kepadaku melampaui semua penggambaran. Engkau telah memberiku surat; sekarang ambillah suratmu. Aku tidak membutuhkannya lagi.”

Ketika Hasan terbangun, dia melihat surat itu ada di tangannya. “Ya Allah!” serunya, “Aku tahu benar apa yang Engkau lakukan tidak membutuhkan alasan, kecuali hanya karena kasih-Mu. Siapakah yang akan menderita kerugian di hadapan pintu-Mu?

“Engkau telah mengizinkan seseorang yang menyembah api selama tujuh puluh tahun untuk berada di dekat-Mu, semata-mata hanya karena satu kalimat. Lalu bagaimana mungkin Engkau akan menolak orang yang beriman selama tujuh puluh tahun?”

[Dikutip dari Kitab Tadzkirat al-Auliya’ karya Farid al-Din Attar].

Friday, September 20, 2019

Kisah Nabi Shaleh (3): Unta Betina dari Batu (1)

Di tengah situasi menyimpangnya Kaum Tsamud, Allah kemudian mengutus Nabi Shales AS kepada mereka, yakni seseorang yang berasal dari kaum mereka sendiri. Silsilah lengkap Shaleh adalah: Shaleh bin Ubaid bin Asif bin Masikh bin Ubaid bin Khadir bin Tsamud bin Gether bin Aram bin Sem bin Nuh. Dia kemudian menyeru umatnya untuk menyembah Allah semata, dan tidak mempersekutukan-Nya.[1]

Seruan Nabi Shaleh tercatat di dalam Alquran, “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).’.” (Q.S 11: 61)

Menurut Quraish Shihab, apa yang disampaikan Shaleh untuk umatnya sama persis dengan apa yang telah disampaikan oleh Nabi Nuh dan Nabi Hud kepada umat mereka masing-masing.[2] Dan respon yang didapatnya, juga serupa. Sementara sebagian kecil Kaum Tsamud beriman kepadanya, namun  sebagian besar dari mereka tidak percaya dan melukainya, baik melalui kata-kata maupun perbuatan.[3]

Sebelum mendapatkan wahyu dari Allah SWT, Shaleh di antara Kaum Tsamud dikenal sebagai seseorang yang bijaksana, suci, berakhlak baik, dan sangat dihormati oleh mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Kaum Tsamud sendiri di dalam Alquran, “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.” (Q.S 11: 62)

Mereka hanya ingin menyembah tuhan yang sama seperti yang dimiliki oleh orang tua mereka. Tidak perlu alasan, tidak perlu bukti, dan tidak perlu dipikirkan. Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Shaleh adalah bukti itu sendiri, karena tidak ada manusia manapun yang mampu mengucapkan kata-kata seperti nabi. Meski demikian, sebagian besar umatnya tetap tidak mempercayainya.

Mereka meragukan kata-katanya, mengira bahwa Shaleh hanyalah seorang penyihir, dan mereka melihat bahwa dia tidak akan berhenti berkhotbah. Khawatir bahwa para pengikut Shaleh akan terus bertambah, maka mereka mencoba untuk membendungnya dengan memberikan dia tugas penting yang seolah-olah mustahul. Sebagai bukti bahwa dia adalah seorang nabi, maka mereka memintanya untuk melakukan mukjizat.[4]

Seperti yang pernah disinggung, Kaum Tsamud adalah kaum yang mempunyai keahlian memahat gunung. Mereka mampu membuat relief-relief yang sangat indah, sehingga gambar-gambar yang dihasilkan oleh mereka bagaikan sesuatu yang benar-benar hidup. Maka mereka menuntut sesuatu yang melebihi kemampuan mereka.[5]

Kaum Tsamud berkata, “Jika engkau benar, tunjukkanlah kepada kami suatu tanda.”[6]

Mereka kemudian menunjuk sebuah batu karang dan memintanya, “Mintalah kepada Tuhanmu untuk membuatkan unta betina, yang harus sepuluh bulan hamil, tinggi, dan menarik. Buatkanlah dari batu itu untuk kami.”

Shaleh menjawab, “Lihatlah sekarang! Jika Allah mengirimkan kalian apa yang kalian minta, seperti yang telah kalian deskripsikan, akankah kalian beriman kepada apa yang telah aku datangkan kepada kalian, dan beriman kepada risalah yang telah aku sampaikan?”

Mereka menjawab, “Ya.”

Shaleh kemudian mengambil sumpah dari mereka tentang hal ini, lalu berdoa kepada Allah SWT untuk mengabulkan permintaan mereka. Allah kemudian memerintahkan batu itu untuk membelah diri, dan memunculkan unta yang hamil sepuluh bulan. Ketika mata mereka menatapnya, mereka kagum. Mereka melihat hal yang hebat, pemandangan yang indah, kekuatan yang menakjubkan dan bukti yang jelas![7]

Dalam riwayat lain, sebagaimana disampaikan oleh Abu al-Tufail, kisahnya berjalan seperti ini:

Tsamud berkata kepada Shaleh, “Tunjukkanlah kami tanda jika engkau memang benar.”

Shalih berkata kepada mereka, “Pergilah ke ketinggian di atas tanah,” dan (batu) itu berguncang keras, bagaikan seorang wanita yang bergetar ketika sedang melahirkan, dan terbelah, dan dari tengahnya muncullah seekor unta.

Shaleh berkata, “Ini adalah unta Allah, sebuah tanda bagi kalian. Biarkan dia makan di tanah Allah, dan jangan menyakitinya, jangan sampai siksaan yang menyakitkan merenggutmu. Ia memiliki hak untuk minum, dan kalian memiliki hak untuk minum, masing-masing pada hari yang ditentukan.”[8] (PH)

Bersambung ke:

Kisah Nabi Shaleh (1): Kaum Tsamud

Untuk memulai kisah tentang Nabi Shaleh AS, kita akan memulainya dari sebuah riwayat dari Nabi Muhammad SAW yang disampaikan oleh salah satu sahabat, Abu al-Tufail:

Ketika Rasulullah pergi dalam ekspedisi untuk menyerang Tabuk, dia berkemah di al-Hijr dan berkata, “Wahai orang-orang! Janganlah meminta tanda (sebagai bukti kenabian) kepada Nabi kalian! Umat Shaleh ini meminta nabi mereka untuk mengirimi mereka tanda, dan Allah mengirim mereka unta betina sebagai tanda.

“Pada hari gilirannya (si unta betina) untuk minum, ia masuk di antara mereka dari celah (batu) ini dan meminum air mereka. Pada hari giliran mereka (Kaum Tsamud), mereka akan mendapatkan ini (air) dan akan mengambil susu darinya sebanyak sebagaimana mereka mengambil air sebelumnya. Dengan demikian ia akan keluar dari celah (untuk memberi susu).

“Namun mereka menjadi tidak taat kepada perintah Tuhan mereka dan melukainya[1](si unta betina), jadi Allah menjanjikan kepada mereka hukuman setelah tiga hari. Itu adalah janji dari Allah dan tidak salah. Maka Allah menghancurkan mereka semua, di Timur dan Barat, kecuali terhadap satu orang yang berada di tempat suci Allah. Tempat suci Allah melindunginya dari hukuman Allah.”

Mereka berkata, “Dan siapakah orang itu, wahai Rasulullah?”

Dia berkata, “Abu Righal.”[2]

Dalam hadis lain, yang diriwayatkan oleh at-Thabrani, Rasulullah bersabda, “Orang terdahulu yang paling celaka adalah pemotong unta (Nabi Shaleh).”[3]

Riwayat di atas menjadi semacam ringkasan dari apa yang terjadi terhadap Kaum Tsamud, umat Nabi Shaleh. Adapun penjelasan yang lebih lengkap, seperti misalnya mengapa Nabi Shaleh diutus? Kapan dia diutus? Bagaimana biografi Kaum Tsamud? Dan mengapa mereka dihancurkan? Itu akan dipaparkan secara lebih detail kemudian. Mari kita simak kisahnya.

Urutan masa kemunculan Nabi Shaleh, dapat diurut dari masa kenabian Nabi Nuh, dalam rentang waktu yang cukup dekat. Alquran tidak menjelaskan berapa rentang waktu antara peristiwa banjir besar pada masa Nabi Nuh sampai munculnya kaum ini, namun silsilah keluarga kaum ini masih cukup dekat dengan Nuh. Meskipun secara silsilah dekat, namun dalam banyak riwayat, orang-orang pada masa ini seringkali digambarkan berumur sangat panjang, ratusan bahkan ribuan tahun.

Setelah bahtera Nuh tiba di Gunung al-Judi dan mendarat di sana, dalam suatu riwayat dikatakatan bahwa Nuh membagi-bagi bumi kepada ketiga putranya. Amir bin Sharahil al-Sha`bi meriwayatkan, “Ketika Nuh, keturunannya, dan semua yang ada di dalam bahtera turun ke bumi, dia membagi bumi kepada para putranya ke dalam tiga bagian.

“Kepada Sem, dia memberikan bagian tengah bumi di mana Yerusalem, Sungai Nil, Sungai Efrat, Tigris, Sayhan, Jayhan (Gihon), dan Fayshan (Pison) berada. Itu memanjang dari Pison ke timur Sungai Nil, dan dari daerah dari mana angin selatan bertiup hingga ke daerah dari mana angin utara bertiup.

“Kepada Ham, dia memberikan bagian (bumi) di sebelah barat Sungai Nil dan daerah-daerah yang melampaui wilayah tempat angin barat bertiup. Bagian yang dia berikan kepada Yafet terletak di Pison dan daerah-daerah yang melampaui tempat angin timur bertiup.”[4]

Menurut Al-Tabari, dari ketiga putra Nuh tersebut, adalah keturunan dari Sem yang melahirkan dua kaum penyembah berhala. Dua kaum tersebut adalah Kaum Ad dan Kaum Tsamud. Ad dan Tsamud, dulunya adalah nama dua orang yang masih keturunan Nabi Nuh. Berikut ini adalah silsilah dari Ad: Ad bin Uz bin Aram bin Sem bin Nuh. Sementara itu, silsilah dari Tsamud adalah: Tsamud bin Gether bin Aram bin Sem bin Nuh.[5]

Allah kemudian mengutus dua nabi kepada kedua kaum tersebut. Untuk Kaum Ad, Allah mengutus Nabi Hud, dan untuk Kaum Tsamud, Allah mengutus Nabi Shaleh. Peristiwa kenabian Nabi Hud, terjadi lebih dahulu ktimbang Nabi Shaleh. Sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu Katsir dalam Qisas Al-Anbiya, “Setelah penghancuran Kaum Ad, suku Tsamud menggantikan mereka dalam kekuasaan dan kejayaan. Mereka juga jatuh ke dalam penyembahan berhala.

“Ketika kekayaan materi mereka meningkat, demikian pula cara kejahatan mereka, sementara kebajikan mereka menurun. Seperti Kaum Ad, mereka membangun bangunan-bangunan megah di dataran dan memahat rumah-rumah yang indah di perbukitan. Tirani dan penindasan menjadi lazim ketika orang-orang jahat memerintah negeri itu.”[6]

Hal ini juga diungkapkan di dalam Alquran:

“Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (Q.S 7: 74). (PH)

Bersambung ke

Kisah Nabi Shaleh (2): Bangsa Pemahat Batu Karang

Kaum Tsamud merupakan salah satu suku bangsa Arab terbesar yang telah punah. Sebaimana telah disebut pada seri sebelumnya, mereka adalah keturunan dari Tsamud bin Gether bin Aram bin Sem bin Nuh. Dengan demikian silsilah keturunan mereka bertemu dengan Kaum Ad pada kakek yang sama, yaitu Aram. Mereka bermukim di satu wilayah yang bernama al-Hijr, yaitu satu daerah di Hijaz (Saudi Arabia sekarang).[1]

Tempat itu juga dinamai Madain Shalih — karena Nabi Shaleh AS adalah Nabi yang diutus kepada mereka. Di sana hingga kini terdapat banyak peninggalan, antara lain berupa reruntuhan bangunan kota lama, yang merupakan sisa-sisa dari kaum Tsamud. Selain itu, di sana ditemukan juga pahatan-pahatan indah serta kuburan-kuburan, dan aneka tulisan dengan berbagai aksara Arab, Aramiya, Yunani, dan Romawi.[2]

Suatu waktu, Amr bin Kharijah, salah satu sahabat Rasulullah, ditanya, “Ceritakanlah kepada kami kisah tentang Tsamud.”

Amr bin Kharijah menjawab, “Aku akan menceritakan kepada kalian apa yang dikatakan oleh Rasulullah tentang Tsamud.

“Tsamud adalah umat (Nabi) Shaleh yang telah Allah karuniakan umur yang panjang di dunia ini, dan Dia membuat daya tahan mereka begitu kuat. Karena begitu kuatnya, sehingga suatu waktu, ketika salah satu dari mereka mulai membangun rumah dari lumpur kering dan (rumah) itu roboh menimpanya, orang itu masih selamat.

“Ketika mereka melihat kejadian itu, (karena tahu memiliki tubuh yang sangat kuat) mereka menggunakan keterampilan mereka untuk membuat rumah dari gunung. Mereka menatah gunung-gunung, memotongnya, dan melubanginya, dan mereka hidup dengan nyaman di dalamnya.”[3]

Allah SWT berfirman, “Dia menempatkan kamu (Kaum Tsamud) di bumi; kamu membuat pada dataran-dataran rendahnya jadi bangunan-bangunan besar, dan kamu pahat gunung-gunungnya menjadi rumah-rumah.” (Q.S 7: 74)

Terkait ayat di atas, di dalam Tafsir Al-Mishbah, tempat tinggal mereka digambarkan begitu indah, luas, dan nyaman. Rumah mereka tahan baik terhadap cuaca dingin maupun panas. Selain itu, mereka juga diberikan lahan yang dapat digunakan untuk bercocok tanam pada musim panas.[4]

Pada masa kini, dalam sebuah laporan perjalanan, bekas tempat tinggal Kaum Tsamud digambarkan, “Memasuki daerah Madain Saleh yang berpasir, gunung berbatu sudah mulai terlihat seolah menyambut pengunjung. Batu-batu super besar itu berdiri tegak memisah dan ada pula yang menyatu berbentuk bukit.

“Di tiap sudut batunya, terdapat tekstur dalam ragam bentuk. Juga goresan garis-garis dalam bidang, menghadirkan volume cekung, cembung dan datar bahkan lubang yang tembus ke sisi lainnya.

“Tak hanya itu, di sebagian besar batu itu juga terdapat pintu beserta ruangan kecil. Di dalam ruangan yang menyerupai kamar, ada bangku dari batu dengan goresan-goresan pahat tak beraturan di dindingnya. Di situs bersejarah ini disebutkan memiliki 132 kamar dan kuburan.”[5]

Pada masa bangsa ini hidup, karena keahlian dan kepandaian mereka, hasil ukiran yang dibuat oleh mereka, dijadikan sebagai barang dagangan dengan komoditas lainnya. Sebagian lagi dibuat untuk menjadi hiasan di rumah-rumah mereka.

Produk utama Kaum Tsamud adalah barang pecah-belah (tembikar) yang unik, dan memiliki nilai seni yang berkualitas tinggi, sedangkan produk lainnya berupa kemenyan dan rempah-rempah. Dari hasil perdagangan yang mereka lakukan, mereka menjadi kaya raya, dan sehingga memungkinkan mereka untuk membangun istana, rumah yang dipahat, dan makam-makam pada batu karang.[6]

Pada tahun 2008, UNESCO mengesahkan Madain Salih, atau yang mereka sebut dengan The archaeological site of Al-Hijr, sebagai salah satu situs warisan dunia (World Heritage Site). Di dalam website UNESCO, Madain Salih dikatakan sebagai situs utama peninggalan peradaban Nabatea, pada bagian selatan dari zona pengaruhnya. Bangunan dan arsitektur peninggalan bangsa ini dipahat langsung di batu karang.  

Berdasarkan gaya arsitekturnya, tempat ini dianggap sebagai tempat bertemunya berbagai peradaban, seperti Asyur, Mesir, Fenisia, dan Helenistik. Selain itu, di sana juga ditemukan kehadiran epigrafi dari beberapa bahasa kuno seperti Lihyanite, Thamudic, Nabataean, Yunani, dan Latin.

Tempat ini telah menjadi saksi dari berkembangnya teknik pertanian Nabatea yang menggunakan sejumlah besar sumur buatan di tanah berbatu. Sumur-sumur ini bahkan sampai sekarang masih dapat digunakan. Situs ini adalah contoh luar biasa dari pencapaian arsitektur dan keahlian hidrolik peradaban Nabataean. Pada masanya, Al-Hijr menjadi saksi perdagangan karavan internasional pada akhir masa peradaban kuno dunia.[7]  

Mari kita kembali kepada kisah Kaum Tsamud di masa Nabi Shaleh. Pada awalnya mereka dapat menarik pelajaran berharga dari pengalaman buruk yang menimpa Kaum Ad, karena itu mereka beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada masa itulah mereka pun berhasil membangun peradaban yang cukup megah, namun keberhasilan itu menjadikan mereka lengah, sehingga mereka kembali menyembah berhala yang serupa dengan berhala yang disembah oleh Kaum Ad. Ketika itulah Allah kemudian mengutus Nabi Shaleh untuk mengingatkan mereka agar tidak mempersekutukan Allah.[8](PH)

Bersambunke:

Friday, July 19, 2019

Ketika Wali Allah SWT Menikah

Ketika Wali Allah SWT Menikah

Dalam Kitab Risalah Qusyairiyah, Bab Syukur diceritakan...

Ada sepasang suami istri yg sudah lama menikah tapi tidak mempunyai anak sampai beliau sepuh atau sudah tua..

Kemudian ada sebagian ulama bertanya pada Wali Allah tersebut tentang keadaannya kok bisa sampai begitu. Lalu beliau bercerita:

Dulu ketika aku masih muda, aku menyukai seorang perempuan putri pamanku (misanan), begitu juga dia suka kepadaku. Dengan rahmat Allah perempuan itu menjadi istriku.

Pada waktu malam pertama, aku berkata," Kemarilah istriku, kita beribadah dahulu sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah karena telah menjadikan kita suami istri."

Lalu kami sholat pada malam itu, karena terlalu enak dalam sholat, kita lupa kepada pasangan kita, kita hanya ingat Allah dan kita sholat sampai subuh.

Di malam berikutnya, kejadian ini kembali terulang, dan selama 80 Tahun kejadian itu selalu terulang sampai sekarang.

Kemudian Ulama itu bertanya kepada Istrinya," Apakah memang seperti itu Wahai Fulanah?

Istrinya yang sudah tua itu menjawab," Ya, memang seperti apa yang dikatakan suamiku."

Masya Allah, itulah Hati seorang wali, Jika dia sudah beribadah maka ingatannya hanya Allah. Sampai lupa kepada pasangannya..

Mungkin karena inilah kenapa banyak temanku belum nikah, mereka terlalu khusuk dalam beribadah sampai lupa bahwa kiamat sudah dekat

Monday, July 15, 2019

"NASEHAT al-Habib Umar bin Hafidz Untuk Para Istri, Suami, Anak Laki-laki, Ibu, Anak...."

"NASEHAT al-Habib Umar bin Hafidz Untuk Para Istri, Suami, Anak Laki-laki, Ibu, Anak...."

Jadilah...

"ISTRI"
Yang tunduk patuh pada suami, yang senantiasa berseri seri saat dipandang, yang ridho terdiam saat suami marah, tidak merasa lebih apalagi meninggikan suara, tercantik di hadapan suami, terharum saat menemani suami beristirahat, tak menuntut keduniaan yang tidak mampu diberikan suaminya, yang sadar bahwa ridho-Nya ada pada ridho suaminya.

Berusaha menjadi...

"SUAMI"
Yang mengerti bahwa istrinya bukan pembantu, yang sadar tak melulu ingin dilayani, yang malu jika menyuruh ini itu karena tahu istrinya sudah repot seharian urusan anak dan rumah, yang tak berharap keadaan rumah lapang saat pulang karena sadar itulah resiko hadirnya amanah amanah yang masih kecil, yang sadar pekerjaan rumah tangga juga kewajibannya, yang rela mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena rasa sayangnya terhadap istrinya yang kelelahan.

Usahakan menjadi...

"ANAK LELAKI"
Yang sadar bahwa ibunya yang paling berhak atas dirinya, yang mengutamakan dan memperhatikan urusan ibunya, yang lebih mencintai ibunya dibanding mencintai istri dan anak anaknya, yang sadar bahwa surganya ada pada keridhoan ibunya.

Selalu berusaha menjadi...

"ORANG TUA"
Yang sadar bahwa anak perempuannya jika menikah sudah bukan lagi miliknya lagi, yang selalu menasehati untuk mentaati suaminya selama suaminya tidak menyuruhnya kepada perkara munkar, yang sadar bahwa keridhoan Allah SWT bagi anaknya telah berpindah pada ridho suaminya.

Istiqomah menjadi...

"IBU#
Yang meskipun tahu surga berada di bawah telapak kakinya, tapi tidak pernah sekalipun menyinggung hal tersebut saat anaknya ada kelalaian terhadapnya, yang selalu sadar bahwa mungkin segala kekurangan pada anak anaknya adalah hasil didikannya yang salah selama ini, yang sadar bahwa jika dirinya salah berucap maka malaikat akan mengijabah do'anya, karena itu dia akan berhati berhati dalam menjaga lisannya dari berkata yang mengutuk anaknya.

Usaha terus agar menjadi...

"ANAK"
Yang senantiasa mendoakan kebaikan bagi orangtuanya dalam keheningan sepertiga malam terakhir, meskipun sehari hari dalam kesibukan rumah tangganya, dalam kesibukan usahanya, dalam kesibukan pekerjaannnya.

Akhirnya menjadi...

"ORANG-ORANG"
Yang saling memberikan nasehat dalam kebenaran dan kesabaran, yang saling memaklumi jika hal hal di atas lupa atau lalai dilakukan, sehingga saling memaafkan diantara kita,
maka...
Rahmat Allah SWT berada diantara kita dan Allah SWT dengan kemurahanNya memaafkan kesalahan kesalahan kita...

Wallahu A'lam Bishawab

credit: FP Nibrosuz Zaman

Wednesday, June 12, 2019

MAKAN DAN TIDUR YANG BERLAKU BAGI ROMO YAI (Asrori) RA

MAKAN DAN TIDUR
YANG BERLAKU BAGI ROMO YAI (Asrori) RA
(1)
Dalam suasana duduk duduk santai di teras Aula Ponpes As Salafi Al Fithrah Surabaya, seusai majlis Haul Akbar Ahad Pagi, tahun 2006, ada seorang Habib mengajak bicara salah seorang khodim penderek Romo Yai RA. Semula, si penderek ini mengira hanya mengajak berbasa basi. Tapi setelah disimak lebih serius, rupanya Habib ini sedang mengajak ngobrol ("ngerasani") tentang Romo YAI RA.
"Orang seperti Kyai Asrori ini", kata Habib tersebut, "rasa senangnya terletak di orang lain. Coba saja lihat".
"Maksudnya bagaimana, Bib?" Tanya si khodim.
Lantas Habib itu menyahut meneruskan dawuhnya, "Kyai Asrori itu, akan merasa nikmat, nikmatnya makan misalnya, jika Beliau melihat orang lain makan dan kelihatan sangat menikmati. Itu Kyai Asrori baru ikut merasakan nikmatnya. Beliau seperti merasa seneeeeeng dan bersyukur."
Lanjutnya, "Tapi, bagaimana dengan makannya Yai sendiri? Tak pernah. Dan tak bakal pernah Yai bisa makan sampai merasa nikmat. Kenapa? Karena tak sempat. Tidak mungkin bagi orang seperti Kyai Asrori sempat enak makan, seperti kita kita ini. Tidak mungkin sempat. Percaya, sudah." Kata Habib itu dengan nada meninggi karena tampak serius dan berusaha meyakinkan.
Si khodim terdiam dan mulai merenung. Ia mengingat ingat bagaimana Romo YAI RA di saat harus dahar. Juga, bagaimana Beliau RA di saat semestinya orang pada umumnya harus tidur untuk rehat. Dalam hatinya lalu seperti mengatakan : Ada benarnya juga Habib ini.
Lalu Habib itu meneruskan, "Coba lihat sekarang ini. Makanan begitu banyak. Di sana makanan, di sini makanan. Enak enak. Maasyaa-Allaah. Tapi ana lihat tadi, Kyai Asrorinya cuma berdiri. Pindah ke sana, pindah ke lain lagi, cuma mempersilakan : Fadhdhol Bib ... Fadhdhol Bib ... ! Habibnya pada "leko", ambil ini ambil itu. Yang lezat lezat. Semua disantap. Tapi saya perhatikan betul, Kyai Asrorinya cuma senyum senyum melihat para habib yang makan itu. Subhaana-Allaah."
"Ini bagaimana? Kapan makannya Kyai Asrori ini? WaAllaaah ... Ana belum pernah melihat Kyai Asrori makan dengan enak. Belum pernah ana lihat." Habib ini mulai tampak berkeringat karena seriusnya.
(2)
Si khodim jadi keingat akan banyak hal. Romo YAI RA itu, misalnya ketika dalam perjalanan ke luar kota bersama rombongan beberapa orang pengikut atau pendereknya, lalu tiba saatnya harus berhenti untuk makan, maka Beliau RA selalu mencari tempat makan yang sekira menurut para pengikut ini merasa cocok dan enak.
Setelah semua pesanan sudah dihidangkan, semua pada khusyu' dengan isi piringnya sendiri. Romo YAI RA pun kelihatan ikut dahar. Tapi, jika diamati dengan seksama, maka akan ketahuan kalau dahar Beliau RA itu cuma sesuap-dua suap, "cimik-cimik". Sepintas kelihatannya saja Beliau RA dahar dengan lahapnya. Namun waktunya lebih banyak dihabiskan untuk mengamati dan melayani yang lain.
Yang sering Beliau RA lakukan, misalnya, tiba tiba saja Beliau RA mengambil tambahan lauk. Setelah dihidangkan, dicicip sedikit, lantas dikasikan ke yang lain. Pesan menu lauk lagi, dicicip sedikit, lalu dikasikan ke yang lain lagi. Sementara yang dikasi tetap saja menerima dan menikmatinya. Bahkan berebut dengan temannya. Selalu begitu.
Ketika semua pada habis, isi di piring Romo YAI RA seringkali masih tersisa. Sisanya lebih dari separo. Tapi tidak banyak yang tahu. Sebab biasanya Beliau RA dengan cepat menyembunyikan piringnya itu. Sementara yang lain sibuk dengan minumannya. Atau bagi yang duduk di dekat Romo YAI RA, diajaknya bicara soal sesuatu, sehingga pikirannya beralih, tidak ke isi piring Romo YAI RA itu.
Sampai di suatu saat, memang benar. Beliau RA sempat Dawuh : "Saya paling seneng, melihat orang itu, ketika dalam dua keadaan. Pertama, ketika saya lihat orang sedang makan dengan lahap. Sepertinya dia menikmati benar makannya itu. Itu saya senang".
"Kedua, kalau saya melihat orang yang sedang tidur lelap sekali. Sampai "ngorok" (mendengkur). Saya membayangkan betapa nikmatnya ia. Kalau sudah begitu, saya itu tidak berani membangunkan. Meskipun ada acara penting. Begitu."
Begitulah Romo YAI RA. Tergambar jelas meskipun tersirat. Betapa secara manusiawi, diri Beliau RA "memimpikan" bagaimana nikmatnya bisa merasakan makan lahap dan bisa tidur nyenyak. Karena memang Beliau RA tidak pernah merasakan itu. "Status" atau "tanggung jawab" Beliau RA menjadikan kesehariannya tak akan pernah sempat merasakannya.
(3)
Pernah suatu ketika, si khodim ini terpaksa matur untuk bertanya. Karena tidak satu dua kali tapi sering terjadi. Di saat Romo YAI RA dahar bareng-bareng dengan yang lain, tiba tiba Beliau RA berdiri meninggalkan meja, menuju toilet. Dan itu lama sekali.
Semula khodim beranggapan ini hal yang biasa. Tapi berhubung sering dilakukan oleh Romo YAI RA, akhirnya si khodim memberanikan diri untuk menanyakan, "Ngapunten Yai. Saya perhatikan, Yai seringkali di saat ketika dahar, terus pergi ke toilet. Dan itu tidak sebentar. Jujur, saya lalu ada muncul khawatir. Atau pingin tahu kenapa. Maaf jika saya salah Yai. Atau Yai kurang berkenan."
Syukur Alhamdulillah, ternyata Romo YAI RA menanggapi dengan menjelaskan.
"Begini Fulan. Saya itu kalau makan, harusnya cepet cepet selesai. Pokoknya, masuk ditelan, masuk ditelan. Begitu. Itu mestinya, kalau saya pingin makan yang agak banyak. Kenapa? Sebab jangan sampai, kedahuluan pikiran saya kemasukan urusan."
"Karena kalau sudah kemasukan urusan ; ingat murid, ingat ini, ingat itu, ingat apa saja yang memang jadi tanggung jawab keseharian saya, itu kalau pas makan, pasti pingin muntah. Pembawaan tubuh saya itu sudah otomatis begitu. Tidur pun begitu. Jadi akhirnya gak bisa tidur."
"Kamu bayangkan sendiri lah. Misalnya anakmu punya hutang sama orang. Jumlahnya jutaan. Tiba tiba ketika malam mau tidur, kamu ditelp kalau besok pagi pagi akan ditagih. Dan harus kamu bayar lunas. Kalau nggak, kamu akan dibawa ke penjara. Apa kamu bisa tidur? Nggak waras kalau kamu masih bisa tidur lelap. Yaa ibaratnya seperti itu."
"Jadi, makan gak pernah bisa enak. Tidur gak pernah bisa lama. Apalagi pulas. Selalu gelisaaaah. Pikiran ini selalu "umep" (mendidih). Saya bisa tidur itu biasanya kalau kondisi fisik ini benar benar memang menuntut sendiri untuk harus tidur. Memang badan manusiawi saya yang tidak kuat. Sehingga akhirnya jadi tertidur. "Keseliyer". Itu tidur saya. Yaa ... yang namanya orang "keseliyer" itu berapa lama sih?"
(4)
Di akhir obrolan di Aula yang diceritakan di awal tadi, Habib itu berkata, "Itu memang sudah jadi ciri bagi setiap Ulama Besar yang ditugasi Allah untuk mengemban ummat. Siapa pun. Coba ditelaah kisah kisah dari Ulama Besar dunia yang lainnya. Ini tak lain karena memang mewarisi ciri dari kekasihnya Rasulullah SAW".
"Rasulullah SAW itu sepanjang hidup di masa ke-Nabiannya, dua puluh empat jam tidak pernah putus untuk memikirkan nasib ummatnya. Hingga sampai sampai di saat sakarotul-maut, yang muncul di pikirannya malah bertanya : bagaimana nasib ummatku kelak."
"Persis ! Para Mursyid para Ulama Besar itu yaa persis seperti Rasulullah SAW ini. Begitu pun Kyai Asrori yang sekarang kita ikuti ini. Persis." Sambil setengah gemetaran, lalu Habib itu menepuk nepuk pundak si khodim sambil mulutnya mengucapkan doa. Dan, "Aamiiin Aamiiin AllaaHhumma Aamiiin Yaa Robbal 'Aalamiiin", hanya itu yang bisa diucapkan oleh Fulan si khodim ini.

(AllaaHhummanfa'naa BiHhii
Wa Bi BarkatiHhii Wa Bi 'UluumiHhii
Fid-Daaroiin. Aamiiin.
Al Faatihah ... !)
----------------------------------------------------------------

Friday, May 3, 2019

AGAR PUASA MENGHASILKAN CAHAYA

AGAR PUASA MENGHASILKAN CAHAYA
_______________________________________
Berkata sebagian arifin,
الصوم بقدر ما يكون تجويعا للبطن فانه يكون غذاء للروح
Besarnya makanan bagi ruh sesuai kadar kosongnya perut seseorang. Semakin lapar perut seseorang ketika berpuasa semakin besar cahaya yang masuk ke dalam ruhnya.

Al-Imam Al-Habib Abdullah Al-Haddad berkata
ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺤﺪﺍﺩ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ: ﻭﻣﻦ ﺁﺩﺍﺏ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﺜﺮ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺑﺎﻟﻨﻬﺎﺭ ، ﻭﻻ ﻳﻜﺜﺮ ﺍﻷﻛﻞ ﺑﺎﻟﻠﻴﻞ ، ﻭﻟﻴﻘﺘﺼﺪ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺣﺘﻰ ﻳﺠﺪ ﻣﺲ ﺍﻟﺠﻮﻉ ﻭﺍﻟﻌﻄﺶ ؛ ﻓﺘﺘﻬﺬﺏ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﺗﻀﻌﻒ ﺷﻬﻮﺗﻪ ، ﻭﻳﺴﺘﻨﻴﺮ ﻗﻠﺒﻪ ...ﻭﺫﻟﻚ ﺳﺮ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻭﻣﻘﺼﻮﺩﻩ (ﺍﻟﻨﺼﺎﺋﺢ ﺍﻟﺪﻳﻨﻴﺔ ﺹ 138)

"Diantara adab-adabnya orang yang berpuasa, hendaknya ia tidak memperbanyak tidur di siang hari dan tidak memperbanyak makan di malam hari. Hendaknya ia bersikap wajar saja akan hal tersebut, sehingga ia tetap merasakan rasa lapar dan dahaga (di siang harinya karena tidak banyak tidur, dan di malam harinya mampu berjaga karena tidak terlalu kenyang). Dengan demikian jiwanya akan bersih, nafsu syahwatnya akan melemah dan hatinya akan bercahaya. Inilah rahasia dan tujuan dari ibadah puasa"

Berkata Jalaluddin Rumi,
"Jika otak dan perutmu terbakar karena puasa,
Api nya akan terus mengeluarkan ratapan dari dalam dadamu.
Melalui api itu, setiap waktu kau akan membakar seratus hijab.
Dan kau akan mendaki seribu derajat di atas jalan di dalam hasratmu".

Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menerangkan tiga tingkatan dalam berpuasa.
Tingkatan pertama, adalah menahan makan dan minum dan menjaga kemaluan dari godaan syahwat.
Tingkatan kedua, selain menahan makan dan minum serta syahwat juga menahan pendengaran, pandangan, ucapan, tangan dan kaki dari segala macam bentuk dosa.
Tingkatan ketiga, menjaga pandangan hati agar senantiasa memandang Allah dan tidak terbersit kepada selainNya.

Bulan puasa adalah bulan riyadhoh.Kata Abah Guru Sekumpul,
"Arti riyadhoh itu tarkul manam (meninggalkan tidur),
tarkul anam (meninggalkan manusia, uzlah),
tarkul tho'am ( meninggalkan makanan, lapar),
tarkul kalam (meninggalkan berbicara, banyak diam)."

Berkata Syekh Abil Hasan As Syadzili,
"Jika engkau ingin diberikan khusyu' maka janganlah memandang hal-hal yang diharamkan Allah.
Jika engkau ingin dianugerahi hikmah maka janganlah berlebihan dalam berbicara (perbanyaklah diam).
Jika engkau ingin merasakan lezatnya iman maka janganlah berlebihan dalam makanan."

Mudah-mudahan berkat Rasulullah,Auliya Allah,Guru-guru kita dan orang-orang sholeh Allah ampuni dosa-dosa kita, dipanjangkan umur sehingga dapat bertemu dengan bulan ramadhan.
ﺍﻣﻴﻦ ﺍﻣﻴﻦ ﺍﻣﻴﻦ ﻳﺎ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ
ﺍَﻟﻠﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﷺ

Saturday, April 27, 2019

SANG WALI MASTUR YANG KH. HASYIM ASY'ARI INGIN MENDENGAR SUARANYA Oleh: Gus Ainur Rofiq Al -Amin

SANG WALI MASTUR YANG KH. HASYIM ASY'ARI INGIN MENDENGAR SUARANYA
Oleh: Gus Ainur Rofiq Al -Amin

Mbah Karim (70 an tahun) Tulungagung didawuhi Kiai Mustaqim (abahnya Kiai Abdul Djalil, pondok Peta Tulungagung) bahwa Mbah Irom itu wali.  Di lain waktu,  Mbah Karim datang ke Mbah Irom, lalu Mbah Irom bilang bahwa Kiai Mustaqim adalah orang sholeh. Siapa Mbah Irom?

Mbah Irom (Mukarrom)  lahir di Tulungagung sekitar tahun 1901 dan wafat tahun 1976. Beliau santri sepuh (lama mondoknya) di Mojosari Nganjuk. Saat mau mondok ke Mojosari, beliau dipesani oleh ibunya agar jangan menjadi tukang ngliwet  dan harus ngirit karena abahnya sudah meninggal. Selanjutnya Mbah Irom berangkat mondok dengan berjalan kaki dari Tulungagung ke Mojosari. Sampai di sungai untuk menyeberang,  uang sedikit untuk sangunya jatuh di dasar sungai, dan hilang.

Setiba di Mojosari dengan tanpa bekal,  karena uangnya hilang,  Mbah Irom akhirnya riyadloh yang dalam keseharaiannya selama tiga bulan pertama hanya makan kacang dari hasil ngasak atau mengais sisa panen di sawah dari para petani yang baru memetik kacangnya. Tiga bulan kedua ngasak kedele di sawah, dan itu yang dimakan. Tiga bulan ketiga makan ares (hatinya batang pisang). Kalau ares pisang tentu di desa banyak. Tiga bulan keempat hanya meminum air putih.

Setelah itu,  badan Mbah Irom lemah sekali karena hanya air putih yang masuk ke tubuhnya. Saat membuka kitab, tanpa disengaja terdapat uang yang pas untuk membeli satu porsi makanan. Demikian tiap hari kalau lapar, dan membuka kitab,  akan mendapatkan uang yang hanya pas untuk membeli nasi satu porsi (teringat cerita guru saya yang mirip. Yakni beras di kuali kecil dan gula di toples kecil tidak habis dan uang di lemari tiap awal bulan ada,  tapi  hanya pas  kebutuhan minim rumah tangga, tidak lebih sedikitpun).

Kata Mbah Karim,  setelah itu Mbah Irom mbruwah (memanen atas hasil tirakatnya). Di antara mbruwahnya muncul "keanehan",  Mbah Irom sering diajak makan orang-orang, sehari bisa lebih tiga kali dan mampu saja menghabiskan makanan,  tapi beliau juga mampu tidak makan tujuh hari.

Mbah Irom pesan kepada Mbah Karim,  "Kalau punya 'ilmu', harus kamu pendam di bumi sap (tingkat) tujuh yang bawah sendiri. Kalau di langit,  letakkan di langit sap (tingkat)  tujuh, yang atas sendiri."

Model khumul yang demikian ketat dan rapat tentu banyak orang akan terkecoh dengan tampilan luarnya yang bisa jadi kayak orang gembel, bodoh, cuek, apalagi tampilan dan gayanya tidak kayak di tivi yang penuh "ornamen" sehingga dapat "memukau-menipu" pemirsa.

Maka bisa dipahami saat Mbah Irom tidak berkenan membaca ayat di hadapan khalayak ramai saat ada tamu Mbah Kiai Hasyim Asy'ari yang menyebut sebagai santri kung. Dalam dunia perkutut, ada katuranggan dari perkutut yang memiliki suara bagus (kung). Perkutut yang kung menurut mereka terkadang tidak hanya menunjukkan bagusnya suara,  tapi ada dimensi supra yang mereka percaya. Dalam konteks santri kung, tentu bukan hanya suara saja, tapi berdimensi lebih dari itu. Artinya Mbah Irom santri unggulan yang mempunyai daya linuwih spiritual,  sehingga Kiai Hasyim yang waskita ingin menjumpai dan mendengarnya.

Wajar juga saat para santri Mojosari ingin mengaji kepada Mbah Irom,  selalu ditolak. Tapi pernah suatu kali ada santri yang ngringik (maksa halus secara terus menerus), maka terpaksa Mbah Irom membacakan kitab sekali duduk dikhatamkan. Tentu santri tidak kuat, akhirnya setelah itu tidak ada yang berani lagi minta mengaji.

Kiai Ghufron pernah bercerita, saat Kiai Zainuddin menjelang wafat,  beliau jatuh sakit.  Untuk itu, Kiai Zainuddin menugaskan kepada Mbah Irom menjadi imam sholat,  temasuk imam sholat Jum'at.

Sekitar seminggu sebelum wafat pas hari Jumat, Mbah Irom menjadi imam dengan membaca surat pendek.  Sekalipun Kiai Zainuddin sakit,  beliau ikut sholat Jum'at. Selesai sholat Jum'at, Kiai Zainuddin berteriak,  "Siapa tadi pak tua ngimami kok lama sekali. Dia harus didenda seratus rupiah."

Tidak berhenti sampai di situ,  beliau memanggil lurah santri supaya memanggil Mbah Irom.  Sesampai Mbah Irom di hadapan Kiai Zainuddin,  Kiai Zainuddin mengulangi ucapan di atas. Lalu Mbah Irom menjawab, "Saya tidak punya uang,  dendanya diganti membaca qulhu saja."

Kiai Ghufron memungkasi, ternyata betul,  sekitar satu mingguan,  Kiai Zainuddin wafat dan dibacakan qulhu (fida'an)  oleh Mbah Irom.

Anda yang belum paham karakter kiai dan santri pondok Mojosari tempo dulu akan masygul dengan cerita-cerita nyleneh seperti. Kiai Abdul Mun'im DZ, sejarawan NU bercerita bahwa di antara sekian banyak pesantren, maka pesantren Mojosari ini, terutama KH Zainuddin, yang paling mempengaruhi dalam pembetukan kepribadian KH. Wahab Chasbullah. Pikiran, bicara sikap dan tindakan Kiai Wahab, sudah melampaui logika, beyond gramatika (nahwu shorof), beyond fikih. Kelihatan "anarkis" tapi sangat kreatif. Ini persis sikap Kiai Zainuddin dan Kiai alumni Mojosari lainnya.
Walupun mereka "anarkis" dan jadzab, tetapi sangat disiplin.

Mbah Irom jelang wafat,  saat naza' yang menunggu dan membacakan Yasin adalah Gus Tom Mojosari dan Mbah Karim.

Lahum al-Fatihah
****
Saya menunggu masukan dan koreksi dari semua pembaca
****

Sumber kisah:
1. Mbah Karim pada 26 April 2019 di Pondok Peta. Mbah Karim dapat cerita dari abahnya sendiri dan juga dari Mbah Irom.  Mbah Karim masih famili dengan Mbah Irom (cucu ponakan).

2. Kiai Ghufron pada 10 Pebruari 2019
****

Foto Mbah Karim di makam Mbah Irom desa Plandaan Tulungagung.  Ciri khas makamnya, kijingnya miring ke barat.

Friday, April 19, 2019

RINGKASAN KITAB 'APA YG ADA DI BULAN SYA'BAN

📝. *ماذا في شعبان*. 📝

*_📚 RINGKASAN KITAB  'APA YG ADA DI BULAN SYA'BAN'_*
✍ *_Abuya As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki_*

Dinamakan Sya'ban karena bercabang kebaikan yang banyak.
Dan kenapa kaum muslimin merayakannya dan bersungguh² menghadapinya dengan taubah, ibadah dan ketaatan: dzikir, ziarah ke Rasululloh, dll.

Maka Abuya As Sayyid Muhammad Al Maliki berkata dengan qawaid, bahwa zaman itu mulia karena terjadi pada waktu itu beberapa kejadian.
Dari sini diketahui sangat jelas bahwa ada keterkaitan dengan sejarah.

🍃 *DI ANTARA KEJADIAN² DI BULAN SYA'BAN :*

*١. تحويل القبلة (pindahnya arah kiblat)*
Sungguh Rasululloh menunggu dengan sangat dan selalu berdoa menghadap kepada Allah hingga akhirnya dikabulkan-Nya. Allah berfirman:

قد نرى تقلب وجهك في السماء. فلتولينك قبلة ترضها. فول وجهك شطر المسجد الحرام. وحيث ما كنتم فولوا وجوهكم شطره. (البقرة :... )
Kaum muslimin sholat menghadap ke Baitul Maqdis selama 17 bulan 3 hari.

*٢. رفع الأعمال (terangkatnya amal)*
Ada hadits dari sahabat Utsamah bin Zaid: ya Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa dari beberapa bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya'ban.
Dijawab oleh Rasulullah: Itu adalah bulan dimana manusia banyak yang lalai dengan bulan tersebut, yakni antara Rajab dan Ramadhan. Bulan itu diangkat atau diterima ke Tuhan semesta alam. Dan saya senang apabila diangkat amalku dan aku dalam keadaan berpuasa. (HR. Nasai)

*٣. تقدير الأعمار (penentuan umur)*
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah, bahwa Rasulullah berpuasa Sya'ban sebulan penuh.
Sayyidah Aisyah bertanya: Ya Rasululloh, paling dicintai bagimu adalah berpuasa di bulan Sya'ban.
Rasulullah menjawab: Allah menetapkan pada bulan Sya'ban setiap jiwa yang meninggal pada tahun itu. Maka aku senang dan berharap apabila ajalku datang, dan aku dalam keadaan berpuasa. (HR. Abu Ya'la)

*٤.  شهر الصلوة على النبي صلى الله عليه وسلم*
Dari keistimewaan bulan Sya'ban, yaitu diturunkannya bacaan sholawat kepada Rasulullah, yaitu ayat:
إن الله و ملائكته يصلون على النبي. يأيها الذين ءامنوا صلوا عليه وسلموا تسليما (الأحزاب : ٥٦)

Keutamaan membaca sholawat atas Rasul:
1. Dibalas 10 kali
من صلى علي واحدة صلى الله عليه عشرا (رواه مسلم)
2. Barangsiapa yang membaca shalawat kepada Nabi, maka Rasulullah membacakan sholawat untuknya.
3. Sesungguhnya orang yang membaca sholawat pada Rasul, maka para malaikat membacakan sholawat untuknya.
4. Barangsiapa yang membaca shalawat kepada Rasulullah, akan diangkat derajatnya, ditambah kebaikannya dan dihapus kejelekannya. (HR. Nasai)
5. Orang yang membaca shalawat kepada Nabi, sama dengan memerdekakan budak 10 yang karena Allah SWT.
6.  Membaca sholawat penyebab dosa2 diampuni. Demikian itu menurut keimanan seorang mukmin, cintanya dan ikhlasnya dalam membaca shalawat.
7. Sholawat kepada Nabi, akan memohonkan ampun bagi pembacanya, dan akan menyenangkan di kuburnya.
8. Keistimewaan membaca shalawat kepada Nabi, yaitu Rasululloh akan mensyafaatinya.
9. Keutamaan sholawat, yaitu menghilangkan dari kefakiran, dan mendapatkan limpahan kebaikan dan keberkahan.
10. Keutamaan sholawat, orang yang memperbanyak sholawat, menjadi paling utamanya manusia menurut Rasululloh, yaitu yang paling banyak membaca sholawat.
أولى الناس بي يوم القيامة أكثرهم علي صلاة
11. Berkah dan kebaikan sholawat ke Rasululloh, bisa didapati (sampai) ke putranya, dan putra putranya.
كما روي عن حذيفة رضي الله عنه أنه قال: ألصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم تدرك الرجل وولده وولد ولده

*٥. شعبان شهر القرآن*

*٦. الإستغفار*
قال صلى الله عليه وسلم: من لزم الاستغفار جعل الله له من كل هم فرجا ومن كل ضيق مخرجا و يرزقه من حيث لا يحتسب (رواه أبو داود والنسائي)

🍃 *ليلة النصف من شعبان*
Malam yang agung, yang berkah, yang mulia.
Allah Ta'ala menampakkan keagungan Nya atas makhluk Nya dengan keumuman ampunan dan mencakup rahmat Nya. Maka Allah akan mengampuni orang yang mohon ampunan, membelas-kasihi orang yang minta belas-kasih, dan meng-ijabahi orang yang memohon, serta memberi jalan keluar bagi orang yang kesulitan.
Dan Allah memerdekakan pada malam itu golongan orang² yang masuk neraka. Serta Allah menulis dan menetapkan rizqi² dan amal².

Allah menampakkan kepada makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya'ban. Maka Allah mengampuni semua makhluk-Nya, kecuali orang musyrik, مشاحن /musyahin (munafik yang jelek/berbahaya, yang memunculkan perpecahan dan membakar permusuhan antara pecinta). Makna lain musyahin yakni   ألعداوة (permusuhan).

☘ *NAMA² MALAM NISFU SYA'BAN*
١.ألليلة المباركة
٢. ليلة القسمة
٣. ليلة التكفير
٤. ليلة الإجابة
٥. ليلة الحياة
٦. ليلة عيد الملائكة
٧. ليلة الشفاعة
٨. ليلة البراءة
٩. ليلة الصك
١٠. ليلة الجائزة
١١. ليلة الغفران
١٢. ليلة الرحجان
١٣. ليلة التعظيم
١٤. ليلة القدر

☘ *CARA MENGHIDUPKAN MALAM NISFU SYA'BAN*
Ulama ahli Syam berbeda pendapat tentang cara menghidupkannya:
1. Disunnahkan berjama'ah di masjid.
Memakai baju yang terbaik, berminyak, bercelak pada malam tersebut.
2. Dimakruhkan berkumpul di masjid untuk melakukan sholat (dan amalan Nisfu Sya'ban). Dan tidak dimakruhkan bila sholat sendirian.

☘ *ألتوجه النبوي للعناية بالليلة*
*Anjuran dari Nabi untuk memperhatikan malam Nisfu Sya'ban*
Sungguh Rasululloh memerintah untuk memperhatikan malam Nisfu Sya'ban, dan mendapatkan keberkahan amal sholeh pada malam tersebut.
Sebagaimana dari sahabat Ali Ra., dari Nabi SAW bersabda:
Apabila malam Nisfu Sya'ban, maka hidupkanlah malamnya dan puasalah pada harinya (esoknya). Maka sesungguhnya Allah Tabaaroka wa Ta'ala turun pada malam tersebut mulai terbenamnya matahari ke langit dunia.

Maka Allah berfirman:
Ingatlah, adakah orang yang minta ampunan maka Aku akan mengampuninya. Adakah orang yang minta rizqi, maka akan Aku beri rizqi. Adakah orang yang diuji sakit, maka Aku akan menyehatkannya. Ingatlah, begini, begini...
(على كذا على كذا على كذا)
Sampai munculnya fajar. (HR. Ibnu Majah)

🍃 *ألدعاء في شعبان*
Do'a termasuk bagian paling agungnya pintu kemudahan.
قال تعالى: أدعوا ربكم تضرعا و خفية
أدعونى أستجب لكم

Sungguh Rasululloh telah memberi kabar: Seseorang yang telah diberi ilham do'a, maka ia adalah orang yang مرحومين (orang yang dibelaskasihi).

فقال صلى الله عليه وسلم: من فتح له منكم باب الدعاء، فتحت له ابواب الرحمة. وما سئل الله شيئا- يعني أحب إليه- من أن يسأل العافية (رواه الترمذي والحاكم)
Barangsiapa yang dibuka baginya di antara kalian bab doa, maka dibukakan baginya pintu² rahmat. Dan tidaklah memohon kepada Allah sesuatu (yang lebih disenanginya) daripada memohon sehat wal aafiyah.

☘ *دعاء نصف شعبان*
Tidak ada ketetapan dari Rasululloh Do'a yang mu'ayyan (yang ditetapkan), yang khusus mengenai malam Nisfu Sya'ban, juga tentang sholat yang khusus.
Dan sesungguhnya yang datang adalah menyemangatlan untuk menghidupkan malam itu saja, dengan segala macam doa dan ibadah, tanpa menjelaskannya.
Barangsiapa yang membaca, berdoa, sholat, bersedekah, dan beramal dengan apa yang mudah baginya dari ibadah, maka ia betul² menghidupkan dan mendapatkan atas hal itu.

☘ *قراءة بس لقضائك الحوائج*
Baca Yasin dengan niat mohon kebaikan dunia akhirat. Atau baca Qur'an semuanya untuk dunia akhirat adalah tidak berdosa dan tidak dilarang.

Kebiasaan yang dilakukan orang² adalah membaca Yasin 3x:
1. Niat panjang umur beserta mendapat taufiq untuk ketaatan.
2. Niat terjaga malapetaka, bencana dan penyakit, serta niat dilapangkan rizqi.
3. Niat untuk agar kaya hati dan baik akhirnya (husnul khotimah).

Diringkas oleh: KH. Abdul Mu'thi Hasyim, Pasuruan

Friday, March 29, 2019

MENGENANG KH.AHMAD JAUHARI UMAR

MENGENANG KH.AHMAD JAUHARI UMAR
Oleh : Arjun Khan

Diantara putra2 beliau mungkin akulah yang paling bebas ngomong apa saja dihadapan beliau, sering kali beliau memanggilku lewat pengeras suara masjid sampai seisi kampung bisa mendengarnya, terkadang hanya sekedar ingin mengajakku makan,mengantar beliau jalan jalan atau membicarakan sesuatu terkait pribadi atau lembaga, ya, aku diantara putra putra beliau yg bisa bebas mengutarakan apa saja didepan beliau, karna mungkin kharisma dan haibah yg dimiliki membuat kita 5 bersaudara sangat takut ewuh pakewuh jika berhadapan dg beliau, bukan karna keras atau saking sangarnya beliau melainkan karna kelembutan hati yg dimiliki beliau yg tidak semua orang tau, kecuali aku dan pengurus2 yg lain, bahkan terkadang jika beliau mengaji ihya atau tafsir sering kali terlihat beliau menangis sesenggukan hingga membuat santri2 berderai air mata,

Kedekatan hubungan emosional tersebut bagiku sangat beralasan mungkin karna seringnya aku menjadi supir beliau selama beberapa tahun, bahkan kakak tertuaku sendiri meski sudah bisa nyopir belum mau mengatakan kalau dirinya bisa nyupir saking takutnya jadi sopir pribadi beliau, walkhasil akulah yg sering kena damprat berkali kali waktu dijalan karna meski aku yg jadi supirnya beliaulah yg jadi nakodanya hahahaha...

Aku punya sedikit tips yg mungkin bisa ditiru oleh gus2 atau putra kiai yg kebetulan mempunyai persoalan yg sama,takut bicara atau sulit menyampaikan sesuatu pada sosok ayah yg sangar dan berwibawa, yaitu Bicara sambil memijit hehehe...itu salah satu cara yg sering aku pakai jika ingin mengutarakan atau menginginkan sesuatu, dengan santai dan rilex bahkan diselingi candaan khas beliau,

Abah, begitulah aku memangilnya, beliau adalah sosok yg dermawan dan zuhud, Beliau sangat sederhana.. suka memberi pakaian kapada fakir miskin, terkadang sarung,sewek kepada salah satu tamu dan memberi makan setiap kali ada rombongan yang datang,selain juga aktif melakukan selamatan kepada semua santri 3x dalam seminggu.dan alkhamdulillah tradisi selametan itu terus berlanjut sampai sekarang. Abah daharannya sederhana, sayur, tempe goreng dan sambal, beliau tidak suka makan daging walaupun setiap bulan atau lebih tepatnya setiap jumat legi selalu menyembelih sapi untuk selamatan manaqiban

Beliau mengajar santri dengan sangat disiplin dalam segala hal, mengajari ilmu2 hikmah, ilmu2 perdagangan, dan kitab2 klasik khas pesantren baik yang tahunan atau berkala menjelang bulan romadlon tiba, beliau tidak berafiliasi pada salah satu partai manapun, tp kalau ditanya apa pilihanya, beliau hanya menjawab dg gaya bercanda " aku seneng ijo" hehe..Hari hari beliau hanya di isi ngaji dan ngaji, dari cara beliau membimbing santri inilah kemudian banyak mencetak santri2 yg sukses yang berkiprah di tengah tengah masyarakat.

Tidak hanya kepada santri, tapi beliau juga sangat konsen memperhatikan kondisi masyarakat terutama jam'iyyah manakib jawahirul maani, khususnya dalam hal perekonomian. Oleh karena inilah maka beliau menyebarkan manaqib yang diyakini dan sudah banyak terbukti keberhasilannya. Beliau sangat menganjurkan umat islam untuk membca manaqib jawahirul maani, sebab dampak ekonominya sangat dahsyat. Beliau dawuh, "wong islam iku nek sugih, agomo islam dadi joyo dadi kuat. Awakmu dadi kyai tapi nompakmu sepeda ontel, gak kiro omonganmu dindel karo wong. Mulo santri kudu sugih, iki tak wei manaqib karo sholawat saniyah diamalno. Manaqib go dunyomu, awaknu ngembangke agomo butuh dunyo ben ojo tamak bondone wong liyo, sholawat di enggo ilmumu ben iso manfaat lan berkembang, okeh santrine...okeh bojone.. Awakmu dadi wong sing tenanan, nek arep ngalor, ngaloro sing tenan, nek arep ngidul ngidulo sing tenan. Nek pingin dadi pegawe negeri, sekolah seng tenan, mulai sd, smp, sma, kuliah, golek kerjo neng pemerintah sampe oleh gajih pemerintah. Nek arep ngaji, ngaji sing tenan, mondok sampe ngalim, marek karo pengeran lewat riydhoh karo slametan sampek awakmu dibayar karo pengeran. ojo melu2 wong akeh, nek wong2 mlaku ngetan, awakmu mlakuho ngulon, nek wong podo dodol es awakmu dodolo jamu, engko nek wong2 iku kakehan nginum es terus loro, sing digoleki jamumu"

Selanjutnya beliau mengatakan " Manaqib jawahirul maani ini dari syeh syarifudin bujuk sara/saroh yg makamnya ada di barat makam syeh kholil bangkalan, beliau datang kepadaku mengaku masih keturunan syeh abdul Qodir dan memberiku manaqib jawahirul maani sambil berkata, amalkan.

Suatu ketika saya kehabisan uang, saya bingung, akhirnya saya bilang ibu sepuh, "..bu sudah, kamu minta makan sana kepada orang tuamu dan saya akan mnta rizki kpd Alloh ta'ala..kemudian Jam 7 ibu keluar dan aku(abah)ke jeding berwdlu, sholat duha dan baca mnaqib. Sampai dg وظهرت عليه الخوارق العادة في طفوليته..didepan rumah tiba tiba ada suara orang mengetuk pintu berucap salam, aku jawab tapi tidak aku temui, terus ada suara ketuk pintu lagi dan tidak aku temui. Setelah selesai membaca manaqib saya kedepan, ternyata ada orang yg membawa roti, membawa nangka, gula, beras dan satu lagi menbawa uang. Semuanya berpesan 'amalkan mnaqib'
Akhirnya sampai sekarang saya tdk lepas membaca mnaqib, dan alhamdulillah duniaku berkembang, ilmuku berkembang...bangun masjid bangun pondok omah tuku tanah budal haji tanpo bantuan wong tuwo moro tuwo dulur tonggo iso !! dalam waktu yg sangat cepat

Itulah sebgian dawuh2 Abah Yai Jauhari yang bisa aku tulis, untuk mengenang khol beliau tahun ini, insyaAlloh akan ada penulisan berikutnya agar supaya bisa mengenal lebih dekat sekaligus mengenang kisah kisah perjuangan beliau insyaAlloh, dari nara sumber2 saksi sejarah yang belum tercover di auto biografi beliau, banyak kisah kisah yg bisa kita jadikan uswah suri teladan dari beliau, sebab ada satu maqolah yg mengatakan siapa yg menghidupkan sejarah cerita2 orang alim, maka jika ia hidup ia akan hidup bahagia, jika ia mati maka ia mati dalam keadaan syuhada.

Dengan momentum khol kali ini Marilah kita teruskan amaliah2 beliau, Dawuh beliau, "amalkan manaqib dengan yakin, tenan dan ikhlas, nanti kamu pasti akan merasakan manfaatnya, jika tidak merasakan manfaatnya berarti kamu kurang tenanan."alias ngapusi..

Dan menjelang wafat beliau memerintahkan santri2 untuk membaca Alquran di sebalah kanan dan kiri beliau...lalu suatu ketika  tiba tiba abah menarik tangan saya dan berwasiat "seng ahli nulung wong..mbuh iku dirupakke nguwehi wong..dungakne wong..nguwehi zakat wong..nguwehi sarung wong...dst..
Seng ahli nulung wong..

Tepat tanggal 23 rajab 1424 h /20 september 2003 m.jam 01 malam beliau pulang keharibaan Alloh dengan wajah tersenyum dan sumringah...dan yg lebih membuat kami terkejut lagi adalah kain mori sudah tersedia di lemari beliau entah kapan beliau membelinya..seolah olah beliau sudah tau bahwa tak ada toko yg masih bukak pada malam itu...hingga jauh2 hari sudah mempersiapkanya...wallohu'alam

Arjun khan 29 maret 2019

Thursday, March 21, 2019

ULAR DI DALAM GUA TSUR RINDU KEPADA NABI MUHAMMAD ï·º

ULAR DI DALAM GUA TSUR RINDU KEPADA NABI MUHAMMAD ﷺ

Sewaktu nabi Muhammad saw. dan abu bakar hendak hijrah ke Madinah, mereka berdua singgah di gua Tsur. Sebelum Nabi Muhammad SAW memasuki gua, Abu Bakar dengan sigapnya mengecek dan menutup lubang-lubang yang ada di gua agar terhindar dari binatang buas.

Di dalam gua, mereka sepakat untuk bergantian berjaga. Dalam tidurnya, Nabi Muhammad SAW melabuhkan kepalanya di pangkuan sang sahabat. Di dalam gua yang dingin dan remang-remang,tiba-tiba seekor ular mendesis keluar dari salah satu lubang yang belum ditutup oleh Abu Bakar.Abu Bakar r.a menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu dienyahkannya dari benak, tak ingin ia mengganggu tidur Rasulullah SAW. Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih Allah SWT itu.

Abu Bakar r.a menutup lubang itu dengan salah satu kakinya.lalu ular itu menggigit pergelangan kakinya, tapi kakinya tetap saja tak berg-erak sedikitpun Dalam hening, sekujur tubuh Abu Bakar r.a terasa panas, ketika bisa ular menjalar cepat di dalam darahnya. Abu Bakar r.a tak kuasa menahan isak tangis ketika rasa sakit itu tak tertahankan lagi. Tanpa sengaja, air matanya menetes mengenai pipi Rasulullah saw yang tengah berbaring.

Rasulullah saw terbangun dan berkata, “Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini?” “Tentu saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana pun,” jawab Abu Bakar r.a. “Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?” bertanya Rasulullah SAW dengan bersahaja. “Seekor ular, baru saja menggigit saya, wahai Rasulullah SAW, dan bisanya menjalar begitu cepat ke dalam tubuhku.

Lalu Nabi Muhammad SAW berbicara kepada sang ular itu ” Wahai ular Tahu nggak Kamu? Jangankan daging, atau kulit Abu Bakar, rambut Abu Bakar pun haram Kamu makan?”
Dialog Rasulullah dengan sang Ular itu didengar pula oleh Abu
Bakar as-Shidiq, berkat mukjizat Beliau.

“Ya hamba mengerti Ya Rasulullah, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah SWT mengatakan ‘Barang siapa memandang kekasih- Ku, Muhammad, fi ainil mahabbah atau dengan mata kecintaan. Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga firdaus,” kata sang ular.

“Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. “Aku (ular) ingin memandang wajah kekasih-Mu fi ainal mahabbah,” lan jut sang ular.

Apa kata Allah SWT Tuhan Semesta Alam?

“Silakan pergi ke gua Tsur, tunggu disana, kekasihKu akan datang pada waktunya,’ jawab Allah SWT

“Ribuan tahun aku menunggu disini. Aku digodok oleh kerinduan untuk jumpa Engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin ketemu Engkau, Wahai Nabi Muhammad SAW. “Jawab sang Ular dari gua Tsur.

“Lihatlah ini. Lihatlah wajahku,” kata Rasulullah SAW. Dan sang ular dari gua Tsurpun memandang wajah Nabi Muhammad SAW penuh dengan rasa cinta dan rindu.

Selanjutnya tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, Rasulullah meraih pergelangan kaki Abu Bakar r.a. Dengan menga- gungkan nama Allah SWT Sang pencipta semesta, Nabi Muhammad SAW mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha suci Allah SWT, seketika rasa sakit itu hilang tak berbekas.

(Sumber : Kisah Rasulullah)

#ular yang dianggap makhluk yang tidak berakal saja mampu menghadirkan rindu lantas bagaimana dengan kita yang berakal.? pastinya lebih dari pada itu

Friday, January 25, 2019

Hikmah Pagi: Ketika Abu Hanifah “Meramal” Suksesnya Abu Yusuf

BincangSyariah.Com – Salah seorang santri Abu Hanifah yang cukup cerdas adalah Abu Yusuf, beliau yatim ditinggal wafat bapaknya ketika beliau masih belia. Ibunya membawa kepada seorang penjahit untuk belajar ilmu menjahit.

“Setiap kali ia pergi ke toko penjahit itu, beliau berhenti di majelis Abu Hanifah. Lalu duduk di sudut majelis itu untuk mendengarkan kajian Abu Hanifah. Setelah diperhatikan ibunya ketika seringnya terlambat datang ke toko, ibunya menemukan Abu Yusuf sudah duduk di majelis Abu Hanifah, ketika kejadian ini terulang berulang kali. Ibunya mendatangi Abu Hanifah sambil marah-marah dan berujar, “Ini anak yatim, kami tidak memiliki apa-apa selain hasil pekerjaanku memintal benang. Oleh karena itu, saya ingin ia belajar menjahit agar bisa membiayai hidupnya. Namun sekarang, engkau telah merusak anak saya!”

Imam Abu Hanifah berkata: “Tenang sabar, Bu. Ia sekarang tengah belajar ilmu agama. Suatu hari nanti, ia akan menjadi seorang yang bisa menyantap Faluzaj (sejenis suguhan kue mewah yang hanya dimakan oleh raja-raja dan orang-orang kaya kala itu).”

Namun ibu Abu Yusuf tidak mempercayai, malah semakin marah. Kemudian berkata: “Engkau orang tua yang sudah ngelantur!” sambil bangkit dan meninggalkan majelis Abu Hanifah.

Sementara itu, hari terus berganti dan Allah taqdirkan Abu Yusuf karena semangatnya belajar, akhirnya beliau menjabat sebagai Hakim Agung (Qadi Al-Qudlat), pada masa kekhalifahan Harun ar-Rasyid.

Suatu hari, ketika Abu Yusuf diundang oleh Harun Al-Rasyid. Dihidangkanlah ke hadapan beliau sebuah kue yang sangat mewah. ia tidak mengenali kue itu karena belum pernah melihatnya seumur hidupnya.”

Harun berkata kepadaku, “Wahai tuan Hakim, cicipilah makanan ini. Tidak setiap hari kue ini dibuatkan untuk kita.”

Abu Yusuf bertanya, “Apa nama kue ini, wahai Amirul Mukminin?” Beliau menjawab : “Ini Faluzaj”. Mendengar ini, Abu Yusuf tersenyum dan termenung ingat perkataan Abu Hanifah. Khalifah bertanya: “Kenapa engkau tersenyum?” Abu Yusuf berkata: “Tidak ada apa-apa, wahai Khalifah.”

Khalifah merayunya: “Beritahukanlah saya.” Maka Abu Yusuf menceritakan kisah dirinya , bahwasanya kyainya dulu Abu Hanifah pernah berkata “Suatu hari nanti, ia akan menyantap Faluzaj (sejenis kue mewah yang hanya dimakan oleh raja-raja dan orang-orang kaya kala itu) di atas periuk yang terbuat dari barang mewah.”

Mendengar kisah ini, Harun Al-Rasyid berkata: “Barang siapa yang menghendaki dunia maka hendaklah dengan ilmu, Barang siapa yang menghendaki akhirat hendaklah dengan ilmu. Barangsiapa yang menghendaki keduanya hendaklah dengan ilmu.”

Semoga Allah merahmati Abu Hanifah, beliau mampu melihat dengan mata hatinya, apa-apa yang tidak terlihat oleh orang lain dengan mata kepalanya.”

Semoga kita ini menginspirasi kita untuk terus semangat belajar ilmu agama yang bisa menyelamatkan di dunia dan akhirat. Amiin Allahumma Amiin