Showing posts with label akhlak. Show all posts
Showing posts with label akhlak. Show all posts

Monday, October 28, 2024

Derita kelaparan yang dialami oleh Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari dan muridnya Ibnu Hajar Al-Haitami ketika sedang menuntut ilmu di Masjid Al-Azhar

Derita kelaparan yang dialami oleh Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari dan muridnya Ibnu Hajar Al-Haitami ketika sedang menuntut ilmu di Masjid Al-Azhar.
__

Disebutkan oleh Imam Abdul Wahab As-Sya'rani dalam at-Thabaqat al-Kubra, bahwasanya guru beliau (Syaikhul Islam) berkata:

وكنت أجوع في الجامع الأزهر كثيرا، فأخرج بالليل إلى قشر البطيخ الذي كان بجانب الميضاة وغيرها، فأغسله وأكله إلى أن قيض الله لي شخصا كان يشتغل في الطواحين فصار يتفقدني ويشتري لي ما احتاج إليه من الكتب والكسوة

"Kami sering mengalami kelaparan di Masjid Al-Azhar. Jika rasa lapar sudah tidak tertahankan lagi, kami keluar dimalam hari untuk mencari kulit semangka yang ada ditepi tempat wudhu masjid dan tempat lainnya. Hingga kulit itu kami bersihkan, dan kami makan."

Derita itu juga dialami murid-nya, Ibnu Hajar Al-Haitami. Disebutkan oleh Syekh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi dalam Al-Fawaid Al-Madaniyyah, Hal. 31 :

قَاسَيْتُ فِي الْجَامِعِ الْأَزْهَرِ مِنَ الْجُوْعِ مَا لَا تَحْتَمِلُهُ الْقُوَى الْبَشَرِيَّةُ لَوْلَا مَعُوْنَةُ اللَّهِ تَعَالَى وَتَوْفِيقُهُ، بِحَيْثُ إِنِّي جَلَسْتُ فِيْهِ نَحْوَ أَرْبَعَ سِنِينَ مَا ذُقْتُ اللَّحْمَ إِلَّا فِي لَيْلَةٍ دُعِيْنَا لِأَكْلٍ، فَإِذَا هُوَ لَحْمٌ يُوْقَدُ عَلَيْهِ، فَانْتَظَرْنَاهُ إِلَى أَنِ أَبْهَارَ اللَّيْلُ، ثُمَّ جِيْءَ بِهِ فَإِذَا هُوَ يَابِسٌ كَمَا هُوَ نَيْءٌ، فَلَمْ أَسْتَسِغْ مِنْهُ لُقْمَةٌ.

Beliau (Ibnu Hajar) berkata :

"Aku pernah mengalami derita lapar di Masjid Jami' Al-Azhar, rasa lapar yang mungkin tidak akan mampu dirasakan oleh manusia jika tidak ada pertolongan dari Allah dan taufiq-Nya.

Aku belajar di Masjid Al-Azhar, selama 4 tahun. Di masa itu, aku tidak pernah mencicipi rasa daging kecuali disatu malam undangan.

Dimalam undangan itu, hidangan daging sudah dimasak, tapi kami menunggunya sampai larut malam. Ketika daging itu datang kepada kami, ternyata tekstur dagingnya sudah kering, seperti belum dimasak. Hingga akhirnya satu suapan pun tidak ada yang masuk kedalam perut.”

Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari adalah guru yang banyak memberikan corak berfikir Ibnu Hajar didalam fiqh. Terbukti, banyak ditemukan pendapat Syaikhul Islam yang selalu diikuti oleh Ibnu Hajar.

Dalam “Al-Fatawa Al-Hadistiyyah” Ibnu Hajar menceritakan tentang sang gurunya:

ما اجتمعت به قط إلا قال : أسأل الله أن يفقهك في الدين

“Aku tidak pernah ikut berkumpul mengaji dengan Syaikhul Islam, kecuali beliau senantiasa berkata: aku berdoa kepada Allah, semoga engkau diberikan pemahaman ilmu agama.”

Sebagian ulama, seperti Sayyid Muhyiddin Abdul Qadir Al-Aydrus menyebutkan dalam “An-Nur As-Safir An Akhbar Al-Qarn Al-‘Asyir” tentang Syaikhul Islam :

ويقرب عندي أنه المجدد على رأس القرن التاسع؛ لشهرة الانتفاع به وبتصانيفه، واحتياج غالب الناس إليها فيما يتعلق بالفقه وتحرير المذهب

“Menurut perkiraan saya, beliau adalah mujaddid di abad ke-9, karena kemanfaatan dan karya-karyanya yang begitu masyhur. Juga tentang mayoritas ulama yang membutuhkan beliau tentang fiqh dan tahrir madzhab Syafi’i.”

Dukturah Su’ar Maher dalam “Masajidu Misra Wa Awliya’uha As-Shalihun” menceritakan tentang Kasyaf-nya Syaikhul Islam :

كنت معتكفا مرة في العشر الأخير من شهر رمضان فوق سطح الجامع الأزهر، فجاءنى رجل تاجر من الشام وقال لي : إن بصري قد كف، ودلني الناس عليك تدعو الله أن يرد على بصري، وكان لى علاوة في إجابة دعائي، فسألت الله أن يرد عليه بصره، فأجابني ولكن بعد عشرة أيام، فقلت له : الحاجة قضيت على شرط أن تسافر من هذا البلد إن أردت أن يرد الله عليك بصرك، وذلك خوفا أن يرد عليه بصره في مصر فيهتكني بين الناس، فسافر فرد عليه بصره في غزة وأرسل لى كتابا بخطه، فأرسلت أقول له: متى رجعت إلى مصر كف بصرك، فلم يزل بالقدس إلى أن مات بصيراً.

“Aku (Syaikhul Islam) pernah melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan di atap Masjid Al-Azhar, kemudian datanglah seorang pedagang dari Syam, dia berkata : “Pandanganku hilang, dan orang-orang banyak mengarahkan-ku kepadamu, agar engkau mendo’akan-ku.” Aku berdo’a kepada Allah, namun do’a itu akan dikabulkan setelah 10 hari.

Aku berkata kepadanya: “Do’amu akan dikabulkan, tapi syaratnya, engkau harus keluar dari Mesir.” Aku merasa khawatir jika Allah menyembuhkan kebutaannya di Mesir, Allah akan memperlihatkan kejelekan ini (kasyaf) ini di hadapan manusia.

Akhirnya laki-laki pedagang itu pulang, dan penglihatannya kembali ketika sampai Gaza. Dia mengirimkan surat tentang kesembuhannya. Kemudian surat itu kuberikan tanggapan: “Jika engkau kembali lagi ke Mesir, pandanganmu akan buta kembali.” Akhirnya laki-laki itu tetap berada di Quds, Palestina, dan tidak kembali lagi sampai wafat.”

Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari termasuk ulama yang diberikan umur panjang. Sampai 100 tahun. Atas keberkahan itulah mayoritas ulama di zaman itu berguru kepada beliau. Hingga diberikan julukan, “Guru dari kakek dan cucu-nya”.

Diantara guru-guru Syaikhul Islam adalah :

1. Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H)
2. Jalaluddin Al-Mahally (w. 864 H)
3. Kamaluddin bin Al-Humam (w. 861 H)
4. Shalih bin Umar Al-Bulqini (w. 848 H)
5. Syarafuddin Yahya Al-Munawi (w. 871 H)

Diantara murid-muridnya :

1. Syihabuddin Ahmad Ar-Ramli (w. 957)
2. Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H)
3. Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H)
4. Al-Khatib As-Syirbini (w. 977 H)
5. Kamaluddin bin Abi Syarif (w. 906 H)
6. Abdul Wahab As-Sya’rani (w. 973 H)
7. Nashiruddin At-Thablawi (w. 966 H)
8. Ahmad Al-Burullusi “Al-Amirah” (w. 957 H)

Syekh Sa’id ‘Idhah Al-Jabiri Al-Yamani pernah menyampaikan seklumit biografi tentang Syaikhul Islam:

دُقِقْتُ بين حجرين وجلالين وكمالين

"Aku (Syaikhul Islam Zakariya) diapit oleh 2 Hajar, 2 Jalal, dan 2 Kamal:

~ Ibnu Hajar al-Asqalani sebagai guruku, dan Ibnu Hajar al-Haitami sebagai muridku.
~ Jalaluddin al-Mahalli sebagai guruku, dan Jalaluddin as-Suyuthi sebagai muridku.
~ Kamaluddin bin al-Himam sebagai guruku, dan Kamaluddin bin Abi Syarif sebagai muridku.”

Syaikhul Islam lahir pada tahun 824 H, dan wafat pada tahun 926 H. Beliau dimakamkan disebelah makam Imam Syafi’i, di sebelah kanan pintu gerbang. Ketika ziarah ke Imam Syafi’i, jangan lupa untuk ziarah juga ke Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari.

Karena beliau adalah maha guru dari ulama mutaakhirin yang memperjuangkan dan mempertahankan eksistensi madzhab Syafi’i. Beliau dan murid-muridnya, seperti: Ibnu Hajar, Syihab Ar-Ramli, Al-Khatib As-Syirbini, Syams Ar-Ramli disebut sebagai “النُّظَّار في الترجيح" yang mana semua pendapat mereka dianggap mu’tamad dalam madzhab Syafi’i.

رحمه الله تعالى ونفعنا بعلومه وبعلوم سائر مشايخه وتلامذته ومن انتسب إليهم أجمعين، آمين.

Allahu a,lam

Saturday, June 24, 2023

REZEKI TERBAIK SEORANG DAI

REZEKI TERBAIK SEORANG DAI

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R. Rozikin, Dosen di Universitas Brawijaya)

Dari semua rezeki halal yang mungkin masuk ke dalam kantong seorang dai,  rezeki yang terbaik jika diurutkan mulai kualitas tertinggi hingga level bawah adalah sebagai berikut

1. Hasil kerja halal yang tidak terkait aktivitas dakwah/mengajar

2. Upah mengajar/dakwah

3. Hadiah/pemberian penguasa

4. Pemberian murid/muhibbin/fans/teman/saudara

5. Utang

Maknanya, seorang ustaz yang berdagang/menjadi pengusaha atau menjadi tani, atau menjadi tukang cukur misalnya atau menjual jasa halal apapun, itu lebih bagus dan lebih utama daripada menggantungkan rezeki dari hasil ceramah dan berdakwah, baik diakadi maupun tidak. Sebab saat berdakwah beliau bisa lebih terbantu untuk ikhlas dan tidak mengharap uang setelah mengajar. Juga berdasarkan dalil bahwa makanan terbaik adalah yang berasal dari hasil karya tangan kita sendiri. Bukan menunggu uluran tangan orang.

Tetapi, mengajar agama lalu diberi “amplop” sebagai “bisyārah” atau mengajar dengan akad ijarah itu lebih utama dan lebih mulia daripada menggantungkan rezeki dari pemberian dan santunan penguasa. Sebab, pemberian setelah dakwah tanpa diakadi jelas mubah dan tidak merusak keikhlasan. Jika diakadi sekalipun maka juga jelas kehalalannya karena ada dalil yang memubahkannya. Berbeda dengan pemberian penguasa yang umumnya hartanya tercampur dengan yang tidak halal. 

Walaupun demikian, mendapatkan hadiah dari penguasa masih lebih mulia daripada mendapatkan rezeki dari hadiah murid/muhibbin/fans/teman/saudara. Sebab, pemberian dari murid itu bisa membuat guru menjadi sulit ikhlas, karena setiap mengajar akan ada godaan berniat mendapatkan pemberian murid. Juga karena ada potensi lidah menjadi kelu untuk mengingatkan murid yang salah sementara dia sering memberi hadiah.

Tapi menerima pemberian murid masih  lebih baik daripada berutang, karena khawatirnya wafat dalam keadaan belum bisa melunasi utangnya.

Di riwayatkan Imam Ahmad berkata,

أجرة التعليم خير من جوائز السلطان وجوائز السلطان ‌خير ‌من ‌صلة ‌الإخوان». «مجموع الفتاوى» (30/ 193)

Artinya,

“Upah mengajar lebih baik daripada hadiah penguasa dan hadiah penguasa lebih baik daripada pemberian saudara (dalam din)/para murid” (Majmū’ al-Fatāwā, juz 30 hlm 193)

Friday, June 23, 2023

SUMBER PENGHASILAN IMAM AHMAD

SUMBER PENGHASILAN IMAM AHMAD

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R. Rozikin, Dosen di Universitas Brawijaya)

Imam Ahmad termasuk imam besar, mujtahid mutlak dan ulama saleh yang sangat berilmu tetapi diuji dengan kemiskinan. Walaupun demikian beliau tetap rida dengan harta yang sempit.

Saya ceritakan  kondisi ekonomi beliau dalam catatan ini untuk membuktikan bahwa sempit lapangnya rezeki tidak terkait dengan kesalehan-kefasikan, banyak-sedikitnya sedekah, tinggi-rendahnya ilmu atau persangkaan-persangkaan batil lainnya. Yang benar adalah luas sempitnya harta itu keputusan Allah, ketentuanNya dan kebijaksanaanNya  atas pertimbangan dan hikmah yang dikehendakiNya.

Juga agar menjadi pelajaran dan teladan praktis terkait sumber rezeki seorang  dai dan ulama besar di masa lalu. Melengkapi catatan-catatan sebelumnya.

***

Pekerjaan, profesi dan sumber rezeki imam Ahmad itu jika mau disebut dengan satu kata maka diksi yang paling mewakili adalah SERABUTAN.

Jadi kerja beliau itu memang tidak tetap.

Kerja beliau serabutan.

Apapun yang penting halal dan bisa dilakukan untuk mengais rezeki, maka akan beliau lakukan.

Beliau lebih memilih bekerja menggunakan kedua tangannya atau berakad yang tidak terkait dengan aktivitas dakwahnya daripada menggantungkan pemasukan dari pemberian orang. Sikap hidup menonjol Imam Ahmad di antaranya memang benar-benar anti dengan pemberian. Jangankan pemberian yang haram atau syubhat. Yang jelas-jelas halal sekalipun beliau tetap tegas menolaknya!

Jika ada ulama atau ustaz atau dai di zaman sekarang yang pekerjaannya serabutan, maka beliau mendapatkan teladan mulia di masa lalu, yakni imam Ahmad ini.

***

Kajian terhadap biografi beliau yang terkait dengan sumber penghasilan akan memberi kita beberapa data sebagai berikut.

Di antara sumber penghasilan beliau adalah hasil kebun. Tidak diterangkan dalam kitab biografi apa isi hasil kebunnya. Yang jelas jumlahnya sedikit. Kebun itu adalah warisan dari ayahnya.

Ada juga hasil menyewakan toko tenun yang kecil sekali. Toko tenun itu juga warisan dari sang ayah. Harga sewanya juga tidak besar. Ada riwayat yang menunjukkan beliau hanya dapat 1,5 dirham saja dari hasil sewa!

Terkadang  beliau juga bekerja sebagai penyalin naskah. Pernah terjadi saat baju beliau dicuri orang di masa menuntut ilmu, maka beliau membeli baju baru dengan cara menyalin naskah.

Pernah juga beliau menjadi kuli panggul. Ini terjadi di masa menuntut ilmu juga. Dalam safar, saat beliau kehabisan bekal, maka beliau mengontrakkan dirinya untuk menjadi kuli panggul barang-barang dengan upah tertentu.

Pernah juga beliau menenun baju lalu menjualnya.Itupun hanya mau dengan harga wajar. Tidak mau diberi harga berlebihan.

Terkadang juga beliau mencari nafkah dengan NGREMPES! Istilah ngrempes dalam bahasa Jawa jika di Batu (kota kelahiran saya)  bermakna memunguti sisa-sisa sayuran dari kebun/sawah setelah panen atas izin pemilik kebun/sawah. Bisa juga ngrempes ini dilakukan di pasar pada sisa sayuran pedagang.

***

Ibnu Kaṡīr melaporkan  bahwa nafkah utama Imam Ahmad adalah dari hasil  kebun dan menyewakan itu. Sebulan hanya menghasilkan 17 dirham dan itulah yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan beliau dan keluarganya. Ibnu Kaṡīr menulis,

«وَكَانَتْ ‌غَلَّتُهُ ‌مِنْ ‌مِلْكٍ ‌لَهُ ; ‌فِي ‌كُلِّ ‌شَهْرٍ ‌سَبْعَةَ ‌عَشَرَ ‌دِرْهَمًا يُنْفِقُهَا عَلَى عِيَالِهِ، وَيَتَقَنَّعُ بِذَلِكَ، رَحِمَهُ اللَّهُ، صَابِرًا مُحْتَسِبًا». «البداية والنهاية» (14/ 412 ت التركي)

Artinya,

“Penghasilan beliau dari properti yang beliau miliki setiap bulannya 17 dirham. Itulah yang beliau nafkahkan untuk keluarganya. Beliau qanaah/nrimo dengan rezeki tersebut rahimahullah. Beliau juga bersikap tabah seraya mengharap pahala dari Allah” (al-Bidāyah wa al-Nihāyah, juz 14 hlm 412)

***
Sekarang kita akan mencoba menghitung penghasilan Imam Ahmad jika dikonversikan ke rupiah.

1 dirham setara dengan 2,979 gram perak.

Harga perak per ram pada Sabtu, 24 Juni 2023 menurut situs harga-emas.org adalah Rp 10.826. Dengan demikian 1 dirham setara dengan Rp. 32.250,654. Jika ini yang kita jadikan ukuran, berarti penghasilan Imam Ahmad sebulan adalah 17 x 32.207,35  = Rp 548.261,118,- !

Andai 1 dirham nilainya kita naikkan menjadi 100 rb sekalipun, maka penghasilan imam Ahmad perbulan hanyalah Rp 1.700.000,-!

Andai nilai 1 dirham nilainya  kita naikkan menjadi 250 rb sekalipun, maka penghasilan imam Ahmad perbulan adalah Rp 4.250.000!

Dalam riwayat al-Bukhārī ada kesan bahwa harga seekor kambing adalah 10 dirham. Harga kambing tahun 2023 menurut berita  antara 2.650.000- 3.850.000. Artinya rata-rata Rp 3.250.000,-. Dengan kata lain, jika memakai standar harga kambing di zaman Nabi ﷺ diperkirakan 10 dirham setara dengan Rp 3.250.000,-. Dengan demikian penghasilan 17 dirham kondisi terbaiknya diperkirakan setara dengan Rp.5.525.000,-!

Uang segitu dipakai untuk menafkahi dirinya dan anak istrinya!

Ingat, Imam Ahmad hidup di kota besar, yakni Bagdad. Bahkan, di zaman beliau Bagdad adalah ibukata Khilafah Abbasiyyah. Anda yang hidup di kota-kota besar semisal Jakarta, Surabaya, Bogor dan semisalnya bisa memperkirakan bagaimana perjuangan sebuah keluarga  bertahan hidup jika penghasilannya sekitar 3-5 jutaan.

Wajar jika imam Ahmad juga dikenal punya utang! Pernah sampai berutang dan menggadaikan sandalnya pada tukang roti!

Sudah begitu beliau anti sekali dengan pemberian siapapun, dari khalifah sekalipun!

Pernah menolak juga jabatan hakim yang sekarang mungkin setara dengan jabatan menteri!

رحم الله الإمام أحمد رحمة واسعة
اللهم اجعلنا من محبي العلماء الصالحين

Friday, June 9, 2023

MENAWARKAN DIRI UNTUK MENJADI ISTRI

MENAWARKAN DIRI UNTUK MENJADI ISTRI

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R. Rozikin, Dosen di Universitas Brawijaya)

Di antara solusi agar tidak salah pilih suami adalah MENAWARKAN DIRI.

Yakni menawarkan diri kepada lelaki saleh yang sudah jelas reputasinya, akhlaknya dan dinnya, bukan lelaki majhul yang tidak diketahui kualitas aslinya. Yakni yang  segala akhlak dan wataknya adalah hasil pencitraaan.

Menawarkan diri bukan tabu, bukan tanda murahan, bukan tanda tak tahu malu dan bukan bentuk kehinaan. Tapi justru bentuk kedalaman ilmu karena tahu bagaimana syariat masalah ini dan juga tahu bagaimana kebiasaan orang-orang saleh dalam hal ini.

Juga menunjukkan ketegasan wanita yang tahu kepada siapa dia mempersembahkan baktinya.

Juga bentuk keseriusan wanita untuk menjaga din dan dunianya.

Dikatakan menjaga din, karena jika wanita sampai salah pilih, ketemu lelaki “error”, maka dia bisa terseret untuk menjadi rusak dinnya, atau minimal tertimpa kesedihan dan kesusahan luar biasa yang membuat dinnya menjadi rapuh dan mudah hancur.

Dikatakan menjaga dunianya, karena jika wanita sampai salah pilih, ketemu lelaki yang “trouble maker”, maka justru bisa jadi hartanya yang malah habis karena lelaki itu, atau malah terjerat utang, atau mengalami penderitaan gara-gara suami yang tidak peduli nafkah

Bukankah sangat bijaksana untuk memutuskan hidup dengan lelaki yang sudah dipercaya bisa mengajak dan menggandeng tangannya menuju surga?

Menawarkan diri atau menawarkan wanita yang berada dalam perwaliannya supaya dinikahi lelaki saleh adalah di antara adab baik yang banyak diabaikan di zaman sekarang. Al-Qurṭubī berkata, 

«فَمِنَ الْحَسَنِ عَرْضُ الرَّجُلِ وَلِيَّتَهُ، وَالْمَرْأَةُ نَفْسَهَا عَلَى الرَّجُلِ الصَّالِحِ، اقْتِدَاءً بِالسَّلَفِ الصَّالِحِ». «تفسير القرطبي = الجامع لأحكام القرآن» (13/ 271)

Artinya,

“Termasuk hal baik adalah seorang lelaki menawarkan wanita yang berada di bawah perwaliannya atau wanita menawarkan dirinya kepada lelaki saleh, sebagai bentuk berteladan kepada al-salafus ṣāliḥ” (Tafsīr al-qurṭubī, juz 13 hlm 271)

Menunggu dan bersikap pasif dilamar itu boleh saja. Hanya saja cara ini beresiko. Karena tidak semua lelaki yang datang itu dikenal dengan baik. Tidak semua lelaki yang datang reputasinya diketahui dengan baik.

Terkadang, bahkan mungkin banyak terjadi kasus para wanita merasa salah pilih.

Merasa tertipu.

Merasa salah memutuskan.

Merasa menyesal setelah itu.

Kelihatannya sabar dan lembut, tapi setelah menikah ternyata wataknya keras dan KDRT.

Kelihatan romantis saat belum menikah, tapi setelah menjadi pasangan suami istri ternyata cuek bebek.

Kelihatan bertanggung jawab dan baik, tapi ternyata setelah menikah tidak peduli nafkah.

Dikira menikah betulan, ternyata si lelaki hanya ingin “incip-incip”.

Dikira menikah sampai mati, ternyata hanya sebentar sudah dicerai.

Jadi, di antara solusi untuk meminimalisasi kasus “salah pilih suami” adalah mengubah tradisi yang dianggap tabu atau dianggap aib itu. Wanita salehah sudah harus punya keberanian untuk menawarkan dirinya kepada lelaki yang diduga kuat bisa mengajaknya menuju rida Allah. Baik melalui perantaraan orang lain maupun dirinya sendiri.

Thursday, February 23, 2023

IRI YANG BOLEH

IRI YANG BOLEH

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R. Rozikin, Dosen di Universitas Brawijaya)

Iri yang boleh namanya gibṭah (الغِبْطَةُ).

Bedanya dengan hasad yang haram:

Gibṭah itu ingin memiliki kebaikan seperti yang dimiliki saudara, tapi kita tetap bergembira dengan nikmat yang ada pada saudara itu dan tidak ingin nikmat itu hilang darinya.

Kalau iri tercela yang disebut hasad dan sering disebut dengki itu ingin mendapatkan nikmat yang ada pada saudara disertai perasaan senang jika nikmat tersebut dicabut dari hamba tersebut.

Contoh hasad:

Ada salah seorang wanita  idaman, cantik, salehah, kaya, lalu menerima pinangan lelaki yang wajahnya di bawah standar, berilmu juga tidak, kaya juga tidak.

Lalu ada lelaki yang merasa lebih ganteng, lebih kaya, dan lebih berilmu yang merasa tidak senang dengan nikmat pria beruntung tersebut. Dia berfikir dirinyalah yang lebih layak jadi suaminya.

Tak lama kemudian ada berita mereka bercerai, maka diapun bersorak!

Nah bersoraknya dia adalah tanda di hatinya ada dengki karena menunjukkan senang jika sebuah nikmat hilang dari saudaranya.

Adapun kegembiraan karena musibah yang menimpa orang seperti itu, maka ia dinamakan syamātah (الشَّمَاتَةُ) dan itu juga haram.

Jadi dia melakukan dua maksiat sekaligus: Hasad sekaligus syamātah.

Bahaya syamātah kepada saudara beriman adalah, Allah akan berbalik menyayangi orang yang kita soraki itu dan justru malah memberi kita musibah dan kesusahan.

Diriwayatkan Rasulullah ﷺ bersabda,

«لَا ‌تُظْهِرِ ‌الشَّمَاتَةَ» لِأَخِيكَ فَيَرْحَمَهُ اللهُ وَيَبْتَلِيكَ. «سنن الترمذي» (4/ 277 ت بشار)

Artinya,

“Janganlah kamu menampakkan kegembiraan terhadap musibah saudaramu sehingga Allah akan menyayanginya dan mengujimu” (H.R. al-Tirmiżī)

CATATAN

Hadis  tentang syamātah di atas didaifkan al-Albānī tapi al-Tirmiżī mengatakan ḥasan garīb. Al-Haitamī menegaskan bahwa al-Tirmiżī menghasankannya. Syu’aib al-Arnaūṭ berpendapat hadis di atas hasan ligairihi

Saturday, May 1, 2021

Abu Hanifah Terhadap Hammad

Abu Hanifah Terhadap Hammad

Abu Hanifah, Nu’man bin Tsabit, mempunyai 4000 syaikh. Dari sekian banyak gurunya, ada satu guru yang ia anggap gurunya yang paling agung (Assyaikh al-Akbar): ia adalah Hammad bin Abi Sulaiman, seorang fakih Kufah dari kelompok tabi’in. Al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan, Abu Hanifah sangat membanggakan jalur keilmuan lewat Hammad. Saat ditanya, "dari mana kau ambil ilmumu?". Abu Hanifah menjawab, "dari Hammad, dari Ibrahim, sampai ke Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas'ud dan Abdullah bin Abbas."

Abu Hanifah membersamai Hammad 18 tahun lamanya—atau mungkin lebih. Abu Hanifah berguru pada Hammad bukan saat beliau baru belajar. Ia berguru saat berumur 22 tahun, tahun dimana Abu Hanifah sudah kesohor sebagai “Syekh” dan ahli debat dalam ilmu kalam. Ini adalah pengakuan Abu Hanifah sendiri sebagaimana disebutkan Al Dzahabi. Ia masuk Bahsrah 27 kali khusus mendebat sekte sekte sesat ketika itu. Saat ia bertemu Hammad inilah, fase perpindahannya dari seorang teolog ke ahli fikih.

Bersama Hammad, Abu Hanifah menceritakan pengalaman yang akan dialami oleh semua murid pada gurunya: yakni perasaan yang muncul pada diri seorang murid, bahwa ilmunya telah setara dengan ilmu sang guru, atau bahkan telah melebihi kemampuan gurunya.

Habib Ali al-Jufri pernah menyampaikan ungkapan senada: seorang murid pandai--siapapun itu--pasti akan sampai pada satu titik dimana ia merasa kemampuannya telah setara gurunya, atau bahkan telah melebihi ilmu gurunya. Menurutnya, semakin lama kita membersamai seorang syekh, maka akan sering muncul pula perasaan dirimu telah melebihi syekh tersebut.

Perasaan ini pula yang dialami oleh Abu Hanifah.

Sepuluh tahun bersama Hammad, perasaan Abu Hanifah dihinggapi "pangkat keulamaan." Ia merasa sudah menguasai ilmu Hammad bahkan telah sampai di level meluruskan pendapat murid murid Hammad yang lebih senior. Akhirnya ia berkeinginan membuat majlis fikih sendiri di luar majlis Hammad.

Abu Hanifah mengatakan, "aku berkeinginan tak lagi ikut halaqah Hammad. Suatu sore, aku bertolak ke Masjid untuk melaksanakan niatku. Tapi saat melihatnya sedang mengajar, aku urungkan niatku itu."

Tiba tiba malamnya datang berita kematian  kerabat Hammad di Bahsrah: ia meninggalkan harta sementara tak ada ahli waris. Hammadpun bertolak ke Bashrah dan meminta Abu Hanifah menggantikannya.

"Saat menggantikannya mengajar, aku ditanya 60 pertanyaan yang belum pernah aku dengar dari Hammad. Aku menjawab dan aku tulis jawabannya. Hammad pergi selama dua bulan, dan ia kembali ke Kufah."

Abu Hanifah kemudian memperlihatkan jawabannya, namun Hammad hanya menyetujui 40 jawaban, dan menyalahkan 20 jawaban lainnya.

Keduanya terlibat dalam perdebatan panjang mengenai jawaban 20 permasalahan yang tak disetujui itu, sampai akhirnya Abu Hanifah tak berkutik dengan argumen argumen Hammad.

Abu Hanifah kemudian mengatakan, "selepas itu, aku berjanji tidak akan berhenti mengikuti majlis Hammad sampai ia meninggal."

Wahbi Sulaiman dalam Imam al-Aimmah al-Fuqaha mengatakan, terhadap Hammad inilah, Abu Hanifah total berkhidmah. Ia menunggu di pintu rumah Hammad bahkan saat Hammad hendak shalat dan keluar untuk kebutuhan tertentu. Abu Hanifah yang menyiapkan dan menghandle segala keperluannya.

Rasa takdzim Abu Hanifah terhadap Hammad sampai pada batas saat duduk di rumah sendiri, ia tidak akan menghadapkan kakinya ke arah rumah Hammad.

Hammad meninggal, murid muridnya mendatangi Abu Hanifah untuk menggantikan Hammad. Dari sinilah permulaan fikih Madzhab Hanafi dimulai.

Jika Abu Hanifah membuat majlis fikih saat Hammad hidup, mungkin tak akan terdengar ada fikih Hanafi sekarang.

> Foto hanya pemanis 😁

Monday, July 15, 2019

"NASEHAT al-Habib Umar bin Hafidz Untuk Para Istri, Suami, Anak Laki-laki, Ibu, Anak...."

"NASEHAT al-Habib Umar bin Hafidz Untuk Para Istri, Suami, Anak Laki-laki, Ibu, Anak...."

Jadilah...

"ISTRI"
Yang tunduk patuh pada suami, yang senantiasa berseri seri saat dipandang, yang ridho terdiam saat suami marah, tidak merasa lebih apalagi meninggikan suara, tercantik di hadapan suami, terharum saat menemani suami beristirahat, tak menuntut keduniaan yang tidak mampu diberikan suaminya, yang sadar bahwa ridho-Nya ada pada ridho suaminya.

Berusaha menjadi...

"SUAMI"
Yang mengerti bahwa istrinya bukan pembantu, yang sadar tak melulu ingin dilayani, yang malu jika menyuruh ini itu karena tahu istrinya sudah repot seharian urusan anak dan rumah, yang tak berharap keadaan rumah lapang saat pulang karena sadar itulah resiko hadirnya amanah amanah yang masih kecil, yang sadar pekerjaan rumah tangga juga kewajibannya, yang rela mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena rasa sayangnya terhadap istrinya yang kelelahan.

Usahakan menjadi...

"ANAK LELAKI"
Yang sadar bahwa ibunya yang paling berhak atas dirinya, yang mengutamakan dan memperhatikan urusan ibunya, yang lebih mencintai ibunya dibanding mencintai istri dan anak anaknya, yang sadar bahwa surganya ada pada keridhoan ibunya.

Selalu berusaha menjadi...

"ORANG TUA"
Yang sadar bahwa anak perempuannya jika menikah sudah bukan lagi miliknya lagi, yang selalu menasehati untuk mentaati suaminya selama suaminya tidak menyuruhnya kepada perkara munkar, yang sadar bahwa keridhoan Allah SWT bagi anaknya telah berpindah pada ridho suaminya.

Istiqomah menjadi...

"IBU#
Yang meskipun tahu surga berada di bawah telapak kakinya, tapi tidak pernah sekalipun menyinggung hal tersebut saat anaknya ada kelalaian terhadapnya, yang selalu sadar bahwa mungkin segala kekurangan pada anak anaknya adalah hasil didikannya yang salah selama ini, yang sadar bahwa jika dirinya salah berucap maka malaikat akan mengijabah do'anya, karena itu dia akan berhati berhati dalam menjaga lisannya dari berkata yang mengutuk anaknya.

Usaha terus agar menjadi...

"ANAK"
Yang senantiasa mendoakan kebaikan bagi orangtuanya dalam keheningan sepertiga malam terakhir, meskipun sehari hari dalam kesibukan rumah tangganya, dalam kesibukan usahanya, dalam kesibukan pekerjaannnya.

Akhirnya menjadi...

"ORANG-ORANG"
Yang saling memberikan nasehat dalam kebenaran dan kesabaran, yang saling memaklumi jika hal hal di atas lupa atau lalai dilakukan, sehingga saling memaafkan diantara kita,
maka...
Rahmat Allah SWT berada diantara kita dan Allah SWT dengan kemurahanNya memaafkan kesalahan kesalahan kita...

Wallahu A'lam Bishawab

credit: FP Nibrosuz Zaman

Thursday, June 6, 2019

Viral Warga Bersujud pada Jokowi, Bagaimanakah Hukumnya?

BincangSyariah.Com – Tradisi open house atau halal bi halal yang dilakukan para petinggi negara dan pejabat Muslim biasa dilakukan seusai momen shalat Idulfitri. Momen halal bi halal ini pun dimanfaatkan oleh Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (05/06/2019). Menariknya, ada salah seorang warga yang tiba-tiba bersujud di hadapan Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana. Sebagaimana diberitakan Kompasaksi pria tersebut sempat membuat Jokowi dan Iriana terkaget-kaget. Keduanya masing-masing bergeser ke samping kiri dan kanan lantaran terkejut sekaligus menghindar dari sujud pria itu. Bagaimanakah hukum bersujud pada sesama manusia?

Bersujud pada sesama manusia termasuk hal yang diperbincangkan oleh banyak ulama. Bahkan para sahabat pun pernah ingin bersujud kepada Nabi sebagai penghormatan, namun Nabi Muhammad saw. sendiri tidak berkenan. Hal ini sebagaimana pernah diungkapkan oleh Sahabat Qais bin Sa’d dan Mu’adz bin Jabal.

Paling tidak ulama terbagi menjadi dua golongan dalam permasalahan ini. Pertama, ulama yang menganggap bahwa bersujud pada sesama manusia itu termasuk dosa besar, namun tidak sampai menjerumuskan pelakunya pada kekufuran bila ia berniat hanya sekedar penghormatan, bukan bentuk penyembahan sebagaimana menyembah Tuhan. Hal ini di antaranya disampaikan oleh Imam al-Syaukani dalam al-Sail al-Jarar berikut.

وأما قوله: “ومنها السجود لغير الله” فلا بد من تقييده بأن يكون سجوده هذا قاصدا لربوبية من سجد له فإنه بهذا السجود قد أشرك بالله عزوجل وأثبت معه آلاها آخر وأما إذا لم يقصد إلا مجرد التعظيم كما يقع كثيرا لمن دخل على ملوك الأعاجم أنه يقبل الأرض تعظيما له فليس هذا من الكفر في شيء

Adapun perkataannya (pengarang ḥadāiqul azhār) “Di antaranya permasalahan bersujud pada selain Allah” itu harus diperjelas. Jika sujud itu dilakukan sengaja mengakui manusia yang ia bersujud padanya sebagai tuhan, maka sujud seperti ini sudah termasuk musyrik dan ia termasuk yang mengakui ada tuhan lain selain Allah. Namun, jika ia bersujud hanya sebatas bentuk penghormatan, seperti yang banyak dilakukan rakyat pada para rajanya dengan cara mencium tanah sebagai penghormatan, maka itu tidak termasuk bentuk kekufuran sama sekali.

Kedua, ulama yang menganggap bersujud pada sesama manusia itu termasuk perbuatan kufur secara mutlak, baik sebagai penghormatan atau penyembahan pada sesama manusia, sebagaimana pendapat Imam al-Sarkhasi dalam al-Mabsuth berikut ini.

Baca Juga :  Bagaimana Adab Bertetangga Pada Bulan Ramadan?

السجود لغير الله تعالى على وجه التعظيم كفر

Sujud pada selain Allah sebagai bentuk penghormatan itu termasuk bentuk kekufuran.

Dari paparan di atas, solusi terkait bagaimana kita harus menyikapi kejadian tersebut paling tidak ada dua. Pertama, bentuk penghormatan kita terhadap orang yang kita muliakan, seperti guru, orang tua, atasan, atau presiden, itu tidak perlu sampai bersujud di hadapan orang yang kita hormati tersebut. Menghormati mereka cukup dengan cara sedikit membungkukkan badan sambil bersalaman.

Hal ini untuk menghindari penilaian orang lain yang tentu tidak tahu niat persis di dalam hati kita bila penghormatan yang kita lakukan itu dengan cara bersujud. Hal ini juga senada dengan kaidah fikih al-khuruj minal khilāf mustahabb ‘menghindari perselisihan pendapat itu sunah’.

Kedua, sikap kita terhadap orang yang sudah terlanjur menghormati orang yang dimulaikan dengan cara bersujud tidak boleh berlebihan. Walaupun ada pendapat ulama yang mengharamkan, bahkan mengafirkan orang yang bersujud di hadapan manusia, sekalipun terhadap orang yang dimuliakan, tapi ada hal dasar yang kita tidak tahu, yaitu niat orang yang bersujud itu, apakah dia bersujud karena tujuan sekedar menghormati atau menyamakan orang yang dimuliakan itu dengan Tuhan.

Nah, karena ketidakjelasan masalah niat dan tujuan orang tersebut, makannya kita harus menahan diri mudah mengafirkan orang lain. Bila kenal orang tersebut, kita boleh menegur dan menasehatinya agar tidak mengulangi perbuatannya. Bila kita tidak mengenalnya, hindari komentar macam-macam, apalagi di media sosial. Wallahu a’lam.

Saturday, December 22, 2018

JANGAN PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH

JANGAN PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH

Ada seorang sholeh yang telah naik haji sebanyak 11 kali. Lalu pada tahun berikutnya beliau mengajak murid beliau untuk berhaji bersama ke Makkah.

Pada saat berhaji, manakala sang guru mengucapkan "Labbaikallahumma Labbaik", sang murid selalu mendengar suara yg menjawab "La Labbaik" (tak ada panggilan untukmu).
Demikian jawaban La labbaik tsb berulang ulang ia dengar setiap sang guru mengucapkan Labbaikallaumma labbaik (aku penuh panggilan ya Allah). Ia mencoba mencari sumber suara, namun tak kunjung berhasil.

Sampai pada suatu hari sang murid tak bisa lagi menahan kesedihannya. Guru yg dia cintai, panutannya, malah mendapat penolakan sendiri dari Allah. Demikian pemahamannya. Maka sang murid pun demam, tak bisa muncul selama beberapa hari di hadapan gurunya.

Menyadari muridnya tak kelihatan selama beberapa hari, maka sang guru pun mencari keberadaan sang murid. Guru bertanya, "wahai muridku, ada apa denganmu? Mengapa aku tak melihat dirimu beberapa lama untuk ikut beribadah?"

Sang murid pun pecah tangisnya. Tak mampu lagi menahan kesedihan yg luar biasa. Maka ia menjawab :" duhai guruku, sesungguhnya hamba selalu mendengar jawaban yg mengatakan "La Labbaik" setiap kali hamba mendengar engkau mengucapkan Labbaikallah humma labbaik.. " Hamba tak kuasa mendengarnya duhai guru. Inilah yg menyebabkan hamba demam".

Apa yg terjadi?
Sang guru dengan lembut tersenyum pada sang murid..dengan penuh kasih sayang beliau menjawab : "oh ..jadi itu rupanya yg membuatmu demam..karena kesedihanmu yang mendengar jawaban untukku..
Ketahuilah nak, aku sudah 11 kali menunaikan ibadah haji, dan setiap tahun aku selalu mendengar jawaban (La labbaik) yang sama..

"Namun aku mencintai Allah Tuhanku..aku tak mau berputus asa dari rahmatNYA...Tugasku hanyalah beribadah, meninggikanNYA, memujiNYA. Maka aku hanya akan melakukan apa yang diperintahkanNYA untukku. Aku tak mau mengatur keputusan Rabb-ku tentang diriku. Bahkan jika aku ditempatkan oleh Nya di neraka, maka aku akan redha dengan keputusan Tuhanku untukku."

MasyaAllah
Siapa yang redha kepada Allah..maka Allah pun redha kepadanya

Dipahami dari Alhabib Muhammad Bagir bin Yahya

Wallahualam
Allahumma sholli'ala sayyidina Muhammad nabiyil umiyi wa aalihi washohbihi wasalim

Thursday, December 13, 2018

Antara mengingat dan melupakan dosa

Imam Junaid, salah seorang ulama Sufi kenamaan, pernah bercerita:

Pada suatau hari, aku menemui Sari As-Saqiti yang sedang tertunduk sedih. Aku bertanya, “Apa yang terjadi padamu?

Ada seorang pemuda mendatangiku dan bertanya perihal taubat. Kemudian aku menjawab bahwa taubat itu tidak melupakan dosa yang pernah diperbuat. Tetapi pemuda tersebut tidak setuju. Ia berkata bahwa taubat itu adalah melupakan dosa yang pernah diperbuat.” jawab Sari As-Saqiti.

Kalau aku lebih setuju dengan perkataan pemuda itu.” kataku.

Bagaimana bisa demikian?” tanya Sari As-Saqiti mulai penasaran.

Sesungguhnya ketika aku dalam keadaan yang tidak menyenangkan kemudian Allah merubahku pada keadaan yang menyenangkan, maka mengingat-ingat hal yang tidak menyenangkan di dalam kondisi yang menyenangkan tersebut merupakan perbuatan yang tidak menyenangkan.” jelasku.

Akhirnya, Sari As-Saqiti terdiam seribu bahasa setelah mendengar penjelasanku tersebut.

_______________________

Disarikan dari kitab Kunuzis Sa’adatil ‘Abadiyyah Fil Anfasil ‘Aliyyatil Habasyiyyah karya Abu Bakar Al-‘Atthos bin AbdullahAl-Habsyi, hal. 194

Saturday, December 8, 2018

Sombong

Sombong

Suatu hari Nabi Sulaiman alaihis salaam naik ke udara dengan bala tentaranya hingga bisa mendengar bacaan tasbihnya para malaikat, kemudian turun hingga telapak kakinya menyentuh lautan. Kemudian Nabi Sulaiman mendengar suara yg berkata :
" Jikalau di dalam hati anak buahmu terdapat sebiji sawi kesombongan maka dengan kesombongan itu ditenggelamkan."

Pada hari yg lain, Nabi Sulaiman alaihis salaam mengendarai singgasana kerajaannya bersama bala tentaranya di udara, kemudian beliau merasa takjub thd dirinya sendiri, maka singgsananya itu hendak membalikkannya. Nabi Sulaiman berkata :
" Tenanglah ! "
Singgasana itu berkata : "aku tdk akan tenang hingga anda juga tenang."
Singgasana itu terbuat dari emas dan sutera yg ditenun oleh para jin, lebarnya 1 farsakh X 1 farsakh, didalamnya terdapat 300.000 kursi dari emas dan perak, para Nabi duduk bersama Nabi Sulaiman di atas kursi emas dan para ulama' duduk di atas kursi perak.

Sahabat Anas -rodliyallohu anhu- berkata :
" Ketika Nabi Nuh alaihis salaam menaiki bahtera, Iblis bergelantungan pada bahtera itu, lalu Nabi Nuh berkata :
" kamu siapa?"
" saya Iblis." jawabnya.
" apa yg engkau kehendaki ?" tanya Nabi Nuh.
Iblis menjawab : " mintakan pertaubatan untukku kepada Tuhanmu."
Kemudian Allah memberi wahyu kpd Nabi Nuh bahwa taubatnya Iblis adalah dengan mendatangi kuburannya Nabi Adam alaihi salaam lalu sujud kepadanya.
Nabi Nuh memberitahukan itu kepada Iblis, Iblis berkata :
" Sewaktu masih hidup saja aku tdk mau sujud kepadanya, bagaimana mungkin aku sujud kepadanya setelah meninggal ?"

Imam An Nasafi -rohimahulloh- menuturkan bahwa Iblis -la'anahulloh- menempati neraka Jahannam selama 100.000 tahun kemudian Allah mengeluarkannya dari Jahannam, dan Allah mengeluarkan Nabi Adam dari syurga.
Kemudian Allah berkata : " wahai Iblis, inilah Adam, Aku memasukkanmu keneraka sebab dia. sekarang sujudlah kepadanya. "
Iblis berkata : " pada awwalnya aku mendurhakainya, maka pada akhirnya pun aku tdk akan menta'atinya."
Ibnu 'Uyainah berkata :
" Jika kemaksiyatan seorang hamba berasal dari syahwat maka bisa diharapkan taubat darinya, seperti Nabi Adam. dan jika kemaksiyatan berasal dari kesombongan maka tdk bisa diharapkan taubat darinya, seperti Iblis."

Nabi Yusuf alaihis salaam melihat ke cermin kemudian ia merasa takjub dengan dirinya sendiri dan berkata :
" Jikalau aku ini menjadi seorang budak, tentunya aku sebanding dengan harta yg banyak."
Maka terjadilah hal itu, saudara2nya yg ada 11 orang menjual Nabi Yusuf
seharga 22 dirham, masing2 mendapat 2 dirham kecuali Yahudza, karena dia tdk mengambil bagian sama sekali.

Ketika Allah menciptakan 'Arsy dengan 360 tiang, setiap tiang seukuran dunia, jarak antara tiang adalah 500 tahun perjalanan, Arsy mempunyai 1.600.000 kepala, setiap kepalanya mempunyai wajah, setiap wajahnya mempunyai bibir dan setiap bibirnya mempunyai lisan.
setiap lisannya digantungkan 100.000 pelita dan setiap pelita bisa memuat dunia. maka 'Arsy berkata :
" Allah tdk menciptakan makhluk yg lebih besar dariku."
Arsy merasa tinggi dan besar, kemudian Allah menundukkannya dengan seekor ular yg kepalanya terbuat dari mutiara putih, kedua matanya dari yakut merah, gigi2nya dari zamrud hijau, badannya dari emas merah, panjangnya sejauh 700.000 tahun perjalanan.
Ular itu mempunyai 70.000 sayap, setiap sayapnya terdapat 70.000 ribu bulu, setiap bulunya terdapat 70.000 wajah , setiap wajahnya terdapat 70.000 lisan yg keluar dari bibirnya bermacam bacaan tasbih dengan jumlah sebanyak tetesan air hujan, daun pepohonan dan sebanyak jumlah hari2 dunia.
Ketika Arsy melihat ular itu, ia berkata :
" Wahai Tuhanku, mengapa Engkau menciptakan ular ini ?"
" Aku menciptakannya agar engkau lupa terhadap keagunganmu dan melihat kepada keagungan-Ku. " Jawab Allah.

Ketika Allah menciptakan syurga, syurga berkata :
" akulah yg terbaik." kemudian Adam di masukkan kedalam syurga dan Adam menyelisihi perintah-Nya karena lupa, maka tahulah syurga tentang kelemahannya.
Lalu Allah menciptakan Adam, Adam melihat dirinya sendiri ketika para malaikat sujud kepadanya, maka Allah mengujinya dengan memakan buah pohon terlarang.
Ketika Allah menciptakan bumi, bumi merasa sombong lalu Allah menundukkannya dengan gunung2 yg kokoh. yg paling besar adalah gunung Qof.

Gunung merasa sombong, maka Allah menundukkannya dengan besi dengan cara memotong2 batunya.
Besi merasa sombong, maka Allah menundukkannya dengan api.
Api merasa sombong, maka Allah menundukkannya dengan air.
Air merasa sombong, maka Allah menundukkannya dengan awan dengan cara menyebarkannya kesana kemari.
Awan merasa sombong , maka Allah menundukkannya dengan angin dengan cara membawanya pergi ke timur dan ke barat.
Angin merasa sombong, maka Allah menundukkannya dengan manusia yg membangun rumah yg bisa mencegah angin.
Manusia merasa sombong, maka Allah menundukkannya dengan tidur.
Tidur merasa sombong, maka Allah menundukkannya dengan penyakit.
Penyakit merasa sombong, maka Allah menundukkannya dengan kematian.
Dan Kematian merasa sombong, maka Allah menundukkannya dengan disembelih kelak di hari kiamat diantara syurga dan neraka, yg menyembelihnya adalah Nabi Yahya alaihis salaam, waqila yg menyembelih adalah Jibril.

Wallohu a'lam.

~Nuzhatul majaalis~

Apa Itu Penyakit Ain?

Apa Itu Penyakit Ain?

Penulis

 Moh Juriyanto

23 November 2018

BincangSyariah.Com – Selama ini kita sering mendengar penyakit ain dibahas oleh sebagian ustadz, baik di televisi maupun di media sosial. Namun demikian, banyak di antara kita yang belum paham apa sebenarnya yang dimaksud dengan penyakit ain itu. Apa itu penyakit ain?

Penyakit ain adalah penyakit yang ditimbulkan akibat pandangan mata yang disertai rasa iri atau rasa takjub terhadap sesuatu yang dipandang. Orang yang memandang disebut nadzir dan perkara yang disebut mandzur. Penyakit ain ini bisa bersumber dari pandangan orang yang dengki dan jahat karena iri atau hasud, juga bisa timbul dari pandangan orang yang cinta dan orang baik karena takjub.

Dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar Alasqalani menjelaskan penyakit ain sebagai berikut;

وَاْلعَيْنُ نَظْرٌ بِاسْتِحْسَانٍ مَشُوْبٍ بِحَسَدٍ مِنْ خَبِيْثِ الطَّبْعِ يَحْصُلُ لِلْمَنْظُوْرِ مِنْهُ ضَرَرٌ

“Penyakit ain adalah pandangan suka disertai dengki yang berasal dari kejelekan tabiat, yang dapat menyebabkan orang yang dipandang tersebut tertimpa suatu bahaya.”

Selanjutnya, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa penyakita bukan hanya timbul dari pandangan orang yang dengki, namun juga dari orang yang cinta dan orang saleh karena takjub dan tanpa disengaja. Beliau berkata;

وَأَنَّ الْعَيْنَ تَكُونُ مَعَ الْإِعْجَابِ وَلَوْ بِغَيْرِ حَسَدٍ وَلَوْ مِنَ الرَّجُلِ الْمُحِبِّ وَمِنَ الرَّجُلِ الصَّالِحِ

“Sesungguhnya ain dapat terjadi bersama rasa takjub meski tanpa disertai rasa iri, meskipun dari orang yang mencintai dan dari orang yang saleh.”

Salah satu dalil yang dijadikan dasar oleh Ibnu Hajar bahwa penyakit ain juga timbul dari rasa takjub adalah hadis riwayat Imam Bukhari dari Sahl bin Hunaif, dia berkata bahwa Nabi Saw. bersabda;

اِذَا رَأَى اَحُدُكُمْ مَا يُعْجِبُهُ فِيْ نَفْسِهِ اَوْ مَالِهِ فَلْيُبَرِّكْ لَهُ فَأِنَّ اْلعَيْنَ حَقٌّ

Baca Juga :  Mengkaji Hukum Suap: Kritik atas Pandangan Ustadz Abdul Somad

“Jika salah satu di antara kalian melihat perkara yang menakjubkan, baik dalam diri sendiri atau dalam harta, maka berdoalah agar perkara tersebut diberkahi, karena sesungguhnya penyakit ain adalah nyata.”

Melalui hadis ini dan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa penyakit ain diakibatkan pandangan dengki atau takjub pada seseorang, harta atau benda lainnya. Karena itu, jika seseorang melihat perkara yang menakjubkan, maka hendaknya dia mendoakan agar perkara tersebut diberkahi oleh Allah

Sunday, November 11, 2018

YASIN AL-MARROKISYI, SIAPAKAH BELIAU?

YASIN AL-MARROKISYI, SIAPAKAH BELIAU?

Oleh; Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)
***

Syaikh Yasin Al-Marrokisyi (ياسين المراكشي) barangkali memang bukan nama yang familiar di telinga kita. Tetapi jika kita tahu bahwa beliau adalah salah satu guru istimewa An-Nawawi, maka itu akan menjadi alasan penting untuk membuat kita mengkaji sebagian kisah terkait beliau yang bisa menjadi ibrah penting untuk kita.

Telah diketahui bahwa An-Nawawi memiliki banyak guru dalam berbagai bidang ilmu seperti ilmu fikih, hadis, ushul fikih, nahwu, lughoh, dan lain-lain. Hanya saja, guru An-Nawawi yang secara khusus memberikan bimbingan terhadap An-Nawawi dalam hal ilmu pembersihan jiwa dan amal adalah syaikh Yasin Al-Marrokisyi ini.

Beliau adalah seorang ulama pengajar Al-Qur’an yang digelari “Al-Muqri’“ karena memiliki keahlian mengajarkan “qiroat sab’ah”. Profesinya adalah tukang bekam dan berdagang. Tokonya terletak di pinggir Jabiyah. Kulitnya digambarkan para sejarawan berwarna hitam. Beliau dikenal sebagai orang salih yang memiliki sejumlah mukasyafah dan karomah. Beliau berhaji lebih dari 20 kali dan usianya mencapai 80 tahun. Wafatnya tahun 687 H.

Yasin Al-Marrokisiyi inilah yang ketika pertama kali berfirasat bahwa An-Nawawi akan menjadi “orang besar” , yakni orang yang paling berilmu di zamannya. Sekitar tahun 640-an Al-Marrokisyi bertemu pertama kali dengan An-Nawawi yang waktu itu masih bocah di Nawa. Dalam pertemuan pertama kali itu, Al-Marrokisyi sudah membaca tanda-tanda istimewa pada An-Nawawi. Kisahnya firasat Al-Marrokisyi ini diceritakan Ibnu Al-‘Atthor, langsung dari lisan Yasin Al-Marrokisyi yang menceritakan dialognya dengan guru hafalan Al-Qur’an An-Nawawi. Ibu Al-‘Atthor menulis,

هذا الصبيُّ يُرْجى أن يكون أعلم أهل زمانه فقال لي: أمنجِّمٌ أنت؟ فقلتُ: لا، وإنما أنطقني الله بذلك

“ (Yasin Al-Marrokisyi berkata kepada guru tahfizh An-Nawawi;)” Bocah ini bisa diharapkan menjadi orang paling berilmu di zamannya”. Dia (guru tahfizh An-Nawawi itu) merespon, “Apakah engkau tukang ramal?’ Aku menjawab, ‘Tidak. Tetapi Allah yang membuatku mengucapkan hal itu” (Tuhfatu Ath-Tholibin hlm 44-45)

Karena firasat itu, Yasin Al-Marrokisyi benar-benar berpesan kepada ayah dan guru An-Nawawi agar memberi perhatian serius dalam pendidikannya. Ayahnya diberi saran agar An-Nawawi diajari menghafal Al-Qur’an dan menyibukkan diri dengan ilmu. Karena wasiat Yasin Al-Marrokisyi ini pulalah, ayah An-Nawawi memutuskan untuk “memondokkan” An-Nawawi di “ponpes” Ar-Rowahiyyah sampai An-Nawawi menjadi ulama besar sebagaimana kita saksikan hingga hari ini.

An-Nawawi sebagai murid beradab dan tahu hak-hak gurunya tidak melupakan jasa besar Al-Marrokisyi ini. An-Nawawi memutuskan untuk rutin mendatangi majelisnya, belajar adab kepadanya, mengharap berkahnya dan meminta nasihat dalam berbagai urusannya. Singkat kata Yasin Al-Marrokisyi adalah guru “spiritual” khusus An-Nawawi yang mengajari beliau dalam ilmu-ilmu pembersihan jiwa.

Karena An-Nawawi tidak hanya belajar ilmu Islam yang bersifat pemikiran, tetapi juga belajar ilmu Islam yang sifatnya amal, yakni membersihkan hati, menyucikan jiwa, mendidik akhlak, memperindah adab, dan menguatkan ibadah maka wajar jika An-Nawawi muncul sebagi seorang ulama yang bukan hanya pakar dalam ilmu-ilmu syar’i, tetapi juga menjadi pribadi yang sangat menarik dalam hal zuhud, wara’, ketakwaan dan kesalihan. Beliau orang yang sangat kuat beribadah, sangat berhati-hati, sangat kuat menahan nafsunya, benci perdebatan kosong, tekun beribadah, dan meninggalkan segala hal yang sia-sia.

Belajar dari kisah An-Nawawi dengan Yasin Al-Marrokisyi ini, ada satu pelajaran penting bagi kita semua. Tidak cukup orang hanya menyibukkan diri dengan ilmu yang bersifat pembahasan hujjah, perdebatan dengan segala ikhtilafnya. Hal itu karena ilmu yang seperti itu ada potensi membuat hati menjadi keras, membuat sombong, dan ujub .

Agar lebih dekat dengan cara hidup para Nabi, para Rasul dan orang-orang salih, seorang hamba memerlukan guru yang fokusnya membantunya dalam merawat hati, memperindah akhlak, dan menguatkannya dalam ibadah dan dzikir. Sangat beruntung jika seorang murid mendapatkan guru yang bukan hanya mengajari ilmu-ilmu syar’i yang bersifat pemikiran tetapi juga bisa menjadi pembimbing dalam hal kesalihan, pembersihan jiwa, pendidikan akhlak, ibadah dan dzikir, baik dalam hal ilmu maupun amal.

Jika tidak mampu mendapati guru, maka hendaklah seseorang memiliki, setidaknya, seorang sahabat yang paling berharga. Bukan sahabat yang hanya datang di saat ia mendapatkan kesenangan dunia dan menjauh saat ia mendapatkan kesempitan hidup. Satu  sahabat terbaik dalam dien ini lebih baik daripada 1000 "sahabat palsu".

Oh ya, menjadi anugerah Allah yang tak terkira jika sahabat dengan kualifikasi seperti itu adalah pasangan hidup kita sendiri.

اللهم ارزقني خليلا فقيها زاهدا ورعا تقيا عَبادا كريما محببا إليك
أحبه ويحبني فيك
وبه تجعلني من السبعة الذين تظلهم يوم لا ظل إلا ظله

Versi Situs: http://irtaqi.net/2018/11/11/yasin-al-marrokisyi-siapakah-beliau/

***

4 Rabi’ul Awwal 1440 H

Tuesday, October 23, 2018

Ketika Habib Abu Bakar Mimpi Disentil Sayyidina Ali

Khoiron, NU Online | Selasa, 23 Oktober 2018 15:00

Jalan Karya Bakti di Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Kota Depok, sesak orang berpakaian serbaputih saban Ahad sore. Pengajian memang digelar rutin di tempat ini. Pesertanya bisa mecapai ribuan. Ibu-ibu, bapak-bapak, remaja, hingga anak-anak dari ragam penjuru Jabodetabek tumpah ruah di jalanan sekitar kediaman al-Habib Abu Bakar bin Hasan al-Atthas az-Zabidi.

Tapi itu dulu. Pemandangan jamaah pengajian duduk lesehan saban Minggu bakda Ashar itu kini sudah tak ada. Habib Abu Bakar, sang pengasuh, pada 7 Oktober 2018 secara resmi mengumumkan penutupan majelis ta'limnya itu setelah sebelumnya menemui isyarat lewat mimpi yang tak biasa. Mimpi?

Ya. Habib Abu Bakar bercerita bahwa Amirul Mu'minin Sayyidina Ali bin Abi Thalib menemuinya di alam mimpi dan tiba-tiba menyentil bibirnya. Habib terkejut. Ia berkesimpulan, ini isyarat dari sahabat Nabi berjuluk "pintu ilmu" itu agar ia lebih banyak menutup mulut. Habib sudah mengonsultasikan ihwal ta'bir mimpinya ini kepada guru-gurunya, termasuk yang di Kota Zabid, Yaman. Salah satu perintahnya adalah menutup majelis ta'lim sebab ilmu yang disampaikan tak menyentuh kalbu murid. 

Dengan penuh rendah hati Habib menangkap mimpi itu sebagai bentuk kasih sayang kakek buyutnya, Sayyidina Ali karramallahu wajhah. Ia bersyukur dengan teguran tersebut karena dirinya memang masih banyak kekurangan. Teman karib Gus Dur saat belajar di Mesir ini pun berjanji akan lebih banyak diam. Berbicara ke publik hanya bila ada hal yang sangat penting. Sampai tutup usia, Habib tidak akan membuka majelis ta'lim sebelum ada isyarat baru yang mengizinkannya.

Keputusan Habib Abu Bakar ini sungguh menohok hati. Nyaris tak ada alasan awam yang membenarkan ia mundur dari kegiatan majelis ta'lim. Habib Abu Bakar dikenal sebagai sosok kharismatik yang tidak punya musuh. Dakwahnya juga tak meledak-ledak, apalagi sampai mencaci dan menghujat. Sosok habib yang moderat, humoris, dan tak bosan-bosan mengimbau jamaahnya mencintai maulid Nabi. Satu-satunya "alasan rasional" untuk tak lagi berceramah ke khalayak adalah mimpi.

Sudah 38 tahun Habib Abu Bakar malang melintang di dunia dakwah, sepulang dari Mesir, Yaman, Maroko, dan Makkah. Ribuan muridnya tersebar di berbagai daerah yang pernah ia singgahi, mulai dari Ternane, Ambon, Makassar, Banjarmasin, Flores, Deli Serdang, hingga sejumlah kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Papua.

Sesuai pesan gurunya, Sayyid  Muhammad bin Alawi al-Maliki, Habib mengaku tak mau neko-neko dalam berdakwah. Yang pokok dalam dakwah adalah kemanfaatan ilmu, bukan kuantitas jamaah. Meskipun, dengan prinsip ini, Habib Abu Bakar sendiri akhirnya juga mendapat banyak murid di berbagai wilayah di Indonesia.

Mundurnya Habib Abu Bakar dari aktivitas dakwah tentu tak bermakna ia menghindari, apalagi mengabaikan dakwah. Ini pemaknaan kelewat harfiah. Sang habib hanya tidak ingin tampil menonjol, banyak bersuara, untuk hal-hal yang tidak terlalu krusial. Tapi, menurut saya, pesan yang paling penting di balik keputusan "aneh" ini sedikitnya dua poin.

Pertama, betapa ketatnya syarat seseorang menjadi pendakwah. Sikap Habib tersebut di satu sisi adalah simbol kerendahan hati, tapi di sisi lain penetapan yang standar tinggi dalam berdakwah. Menjadi juru dakwah bukan semata urusan pandai bicara, tapi juga soal kedalaman ilmu agama, akhlak, teladan, dan sampainya pesan ruhani ke hati khalayak. Bila Habib Abu Bakar yang berilmu luas dan "tidak neko-neko" saja mendapat sentil dari Sayyidina Ali, lalu bagaimana dengan kebanyakan dai?

Pesan kedua, sasaran utama dakwah sesungguhnya adalah diri sendiri, baru kemudian orang lain. Di sinilah relevansi memprioritaskan muhasabatun nafs (introspeksi) ketimbang gemar menghakimi perilaku orang lain. Pesan ini menemukan momentumnya seiring santer bermunculan di zaman sekarang orang-orang lebih gemar menjadi juru dakwah ketimbang juru dengar, lebih giat berceramah daripada belajar, lebih sering mengkhutbahi orang lain ketimbang diri sendiri. Beramar-makruf nahi-munkar ke orang lain sebelum benar-benar mampu beramar-makruf nahi-munkar dengan diri sendiri.

Pada tahap ini, Habib Abu Bakar sebenarnya tidak sedang mengikhbarkan soal mimpi dan penutupan majelis ta'lim Ahad sore. Di tengah ketenaran yang makin meningkat, ia justru menjauh dari itu semua. Pilihan sikap semacam ini seolah hendak menampar keras para juru dakwah yang kerap tergiur dengan popularitas, banyaknya jamaah, serta pundi-pundi keuntungan dari "profesi" mengisi pengajian. Wallahu a'lam.

(Mahbib Khoiron

Monday, October 22, 2018

BAJU DAN ILMU

BAJU DAN ILMU

Saya sangat beruntung, pernah beberapa tahun mondok dikajen dan mendekat dengan kiai Sahal(allahu yarham). Beliau pribadi yang sangat sederhana dalam hidup, dan terutama dalam berpakaian. Seringkali dalam keseharian hanya memakai baju taqwa, sarung batik, dan kopiah.

Untuk ukuran kiai sekelas beliau, ini sangat sederhana sekali.

Dan ternyata tak hanya dalam keseharian, ketika menghadiri undangan pun beliau juga berpakaian sederhana.Karena baju yang sederhana ini pula, beliau pernah ditolak untuk masuk ke sebuah acara, dimana beliau adalah bintang tamu yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya oleh sang panitia acara.

Saya masih ingat, ketika membuat undangan apapun, yai Sahal(allahuyarham) tidak pernah kerso(mau) bila ditulis dengan KH. Beliau hanya kerso ditulis: H.Sahal mahfudz.

Ini menunjukkan betapa para kiai yang sesungguhnya, malah seringkali merasa tidak pantas menyertakan gelar kiai, karena sekali lagi kiai atau ustad adalah wujud penghormatan orang lain kekita, bukan wujud kita membanggakan diri.

Dan ketika dirumah pun, saya belajar hal yang hampir sama pada bapak.Dalam menghadiri undangan pun, bapak saya juga sering berpakaian seadanya. Biasanya baju apa saja yang paling atas, sarung apa saja yang ada ditumpukan atas, dan kopiah(kadang hitam kadang putih).Dibeberapa kesempatan ditambah surban kecil putih(tapi waktu itu, ini sangat jarang).

Pernah suatu kali, bapak menghadiri undangan nikahan. Bapak rawuh dan diterima oleh salah satu panitia yang tahu siapa bapak(kebetulan sang manten adalah alumni kwagean), maka bapak langsung didudukkan dibarisan paling depan tengah.

Tak berselang lama ada panitia lain yang tidak tahu, langsung saja menghampiri bapak dan ngomong:"ngapuntene, niki ten ngajeng panggenane poro menteri lan kiai-kiai ageng. Panjenengan ten wingkeng mawon(maaf, dibarisan sini tempatnya para menteri dan kiai-kiai besar. Silahkan anda pindah kebelakang saja).

Bapak mengiyakan, dan langsung pindah kebelakang.

Hingga beberapa saat muncul lagi panitia yang awal, dan kaget kok bapak malah pindah ke barisan belakang. Dimintalah bapak kebarisan depan lagi. Bapak pindah, manut sesuai arahan.

Masalah belum usai, ternyata panitia lain mengerutu. Kok ini tamu gak penting pindah kedepan lagi. Akhirnya disuruh pindah kebelakang lagi.

Bapak manut saja, wong tamu.

Hingga akhirnya bapak disuruh pindah lagi oleh panitia yang tahu tadi, namun bapak menolak. "Pun kulo ten mriki mawon mboten nopo-nopo(sudah, saya disini saja tidak apa-apa)".

Tetap dibelakang, sebelah pinggir, bapak duduk hingga akhir acara.

Namun sebelum selesai, ternyata resepsi ditutup dengan doa.Dipanggillah nama bapak disertai penjelasan kalau bapak adalah kiai dari sang pengantin untuk menimpin doa.

Hahaha entah, bagaimana perasaan panitia yang mengusir beberapa kali tadi.

Fenomena Ini sesuai dengan dawuh yang diceritakan bapak beberapa hari yang lalu:

يكرم المرء بلباسه قبل الجلوس وبعلمه بعد الجلوس
"Seseorang, dimulyakan karena bajunya sebelum dia duduk. Dan dimulyakan karena ilmunya setelah duduk. "

Banyak orang yang menilai kemulyaan seseorang dengan melihat baju apa yang dipakai, seberapa besar surbannya, atau seberapa wah jubahnya. Namun ketika sudah duduk, maka standar mulai berubah, dengan keilmuanlah seseorang dimulyakan.

Yang terjadi akhir-akhir ini banyak yang mengejar kemasan kiai, ulama, atau ustad. Namun lupa mengisinya dengan ilmu yang membuat dia pantas disebut kiai, ataupun sebutan lain.

Karena kiai, ulama, ataupun ustad bukanlah gelar yang bisa kita cari, apalagi beli. Tapi adalah sesuatu anugerah yang diberi oleh tuhan, dan dilegitimasi oleh masyarakat.

"Ketika kita sudah berlaku layak, maka gelar yang layak juga akan datang dengan sendirinya."

Seorang gusdur pun pernah guyon:
"Saya lebih senang dipanggil GUS, karena sebutan KIAI terlalu berat buat saya".

"Jadi Kiai itu kan harus kuat tirakat: makan sedikit, tidur sedikit, ngomongnya juga sedikit. Nggak kuat saya. Enakan jadi Gus aja: dikit-dikit makan, dikit-dikit tidur, dikit-dikit ngomong"

Hahaha

#salamKWAGEAN

Wednesday, October 17, 2018

keluhuran budi pekerti Alhabib Umar ibn Hafidz

Berikut ini ada sekelumit kisah menarik tentang keluhuran budi pekerti Alhabib Umar ibn Hafidz yang dikisahkan langsung oleh Si Penulisnya. Berikut saya akan kutip kisahnya, semoga lantaran kisah ini semakin membuat kita akan rindu kehadiran beliau di bumi Indonesia pertiwi ditahun-tahun berikutnya.
Ini adalah pengalaman pribadi saya (Habib Ahmad ibn Muhammad Alkaff) yang tak akan pernah terlupa tentang kemuliaan akhlak Alhabib Umar ibn Hafidz. Waktu itu pertengahan april 1994 musim sejuk di kota Tarim-Hadramaut mulai menyapa kami yang memang kami belum terbiasa dengan dinginnya cuaca Tarim ketika musim dingin. Alhabib Umar pun telah menyiapkan untuk kami para pelajarnya dari Indonesia yang waktu itu sangatlah manja dengan sebuah selimut tebal yang mahal, masing-masing dari kami mendapatkan satu selimut.
Kisah pun bermula, seperti biasanya selepas Ashar kami dan Alhabib Umar menuju kota Tarim untuk menghadiri “rauhah” dan maulid di kota tersebut. Selepas acara kami pun kembali ke kediaman Alhabib Umar di kota Aidid. Biasanya kami pulang larut malam dan kerana pada waktu itu Alhabib Umar hanya memiliki 1 mobil maka kami pun selalu berebutan untuk menaiki kereta tersebut. Terkadang kereta Nissan patrol itu dimuat oleh 20 orang lebih sehingga penuh di dalam dan di atas kereta. Kami berebut kerana memang jika kami tidak dapat tempat di kereta tersebut terpaksa kami akan pulang dengan berjalan kaki yang berjarak kurang lebihnya 5 km. Saya dan dua teman saya pada waktu itu kurang beruntung. Walhasil, kami bertiga berjalan kaki untuk pulang ke rumah Alhabib Umar. Sesampainya di tempat Alhabib Umar, kami mendapati teman-teman kami yang lain telah mendapatkan selimut tebal yang baru saja dibagikan oleh Alhabib Umar. Kami pun bergegas menemui Alhabib Umar. Tetapi, lagi-lagi kami kurang beruntung karena selimutnya telah habis. Alhabib Umar mengatakan bahawa kedai penjual selimutnya kehabisan stok dan berjanji akan memenuhi kekurangannya besok pagi.
Kami pun minta izin pergi kepada beliau untuk tidur. Akan tetapi, sebelum kami pergi Alhabib Umar menyuruh kami untuk menunggu. Kami menunggu Alhabib Umar yang masuk ke dalam rumahnya. Beberapa saat kemudian Habib Umar pun keluar dengan membawa beberapa selimut tipis dan lusuh dan membagikannya kepada kami bertiga. Kami pun menerima selimut itu tanpa pikir panjang lalu kami pun pulang menuju asrama yang berada tepat di belakang rumah Alhabib Umar. Kami membagikan selimut tipis dan lusuh pemberian Alhabib Umar yang berjumlah 2 selimut besar dan 3 selimut kecil untuk kami bertiga.
Baru saja kami meluruskan badan untuk tidur terdengar tangisan bayi yang tak henti-hentinya yang kami yakin itu adalah tangisan anak Alhabib Umar yang masih bayi pada waktu itu. Kami pun sempat bertanya tanya dalam hati kenapa bayi itu menangis sepanjang malam. Sambil tetap berusaha untuk memejamkan mata. Menjelang Subuh suara tangisan bayi pun berhenti, mungkin karena kelelahan menangis sepanjang malam. Kami pun bergegas menuju ke masjid Aidid yang terletak persis di depan rumah Alhabib Umar sambil membawa kitab Nahwu yang akan kami pelajari setelah shoat Subuh di bawah bimbingan langsung Alhabib Umar.
Setelah selesai belajar Nahwu kami pun pulang ke asrama kami. Di pertengahan jalan kami bertemu dengan Habib Salim anak dari Alhabib Umar bin Hafidz yang waktu itu masih berusia 6 tahun. Kami cuba menyapa dan bertanya, “Wahai Salim mengapa adik bayimu menangis tak henti-hentinya tadi malam? Apakah dia sakit?
Habib Salim pun menjawab, “Tidak, adikku tidak sakit.” Jawab Habib Salim.
“Lalu apa yang membuatnya menangis?” Tanya lagi kami.
Dengan keluguannya Salim pun menjawab, “Mungkin kerana kedinginan, kerana semalam kami sekeluarga tidur tanpa selimut?!”
Bagai tersambar petir kami terkejut mendengar ucapan tersebut. Kami pun berlari menuju asrama untuk mengambil selimut lusuh yang ternyata milik keluarga Alhabib Umar yang beliau berikan kepada kami, dan beliau sekeluarga rela tidur tanpa selimut didinginnya malam kota Tarim demi anak-anak muridnya. Kami kembalikan selimut tersebut kepada Alhabib Umar sambil membendung air mata dan tanpa tahu harus berkata apa. Dengan senyum dan seolah-olah tak terjadi apa-apa, Alhabib Umar menerima selimut dari kami dan menggantikan selimut tersebut dengan yang baru, yang juga baru saja dikirim oleh pemilik toko. Kami pun kembali ke asrama tanpa dapat membendung lagi air mata kami yang melihat kemuliaan yang beliau berikan kepada kami.
Sambil berkata di dalam hati, “Ya Allah ternyata di abad ini masih ada orang yang berhati begitu mulia seperti beliau. Terimakasih Ya Allah yang telah mempertemukan aku dengan manusia mulia dikehidupanku ini.

Kisah Nyata Keindahan Akhlak Putri Al-Habib Umar bin Hafidz - Yaman

Kisah Nyata Keindahan Akhlak Putri Al-Habib Umar bin Hafidz - Yaman

Selagi aku masih duduk di Daruzzahro, Guru Mulia Al-Habib Umar bin Hafidz pernah berkata kepada salah satu putri beliau :
“Darul Mustofa dan Daruzzahro ini bukanlah kepunyaan kita, sekalipun ayah yang mendirikannya tetapi sejatinya adalah kepunyaan Kakek kita Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam beserta putri kecintaan beliau ibu kita Sayyidah Fatimah Azzahro Radhiyallohu ‘Anha, maka sekali-sekali kamu jangan berbuat seenaknya di dalamnya, harus tunduk dengan segala macam peraturannya, jangan memakan hak-hak tamu Azzahro sebelum mereka semua telah habis makan kecuali sisa-sisa puing makanan dari mereka. Ingat !! peran kita di sini hanya sebagai pembantu, khaddam, dan pelayan yang melayani rumah ini beserta tamu-tamunya”.

Al Habib Umar bin Hafidz

Pada suatu hari, saat jam istirahat, aku hendak pergi ke kamar kecil, tetapi aku melihat putri kecil putri bungsu Habib Umar bin Hafidz duduk seorang diri di salah satu tangga Daruzzahro sambil memegang perut, maka aku pun menghampirinya dan bertanya:

“Ada apa denganmu wahai putri mulia?“

Maka dengan polosnya ia menjawab bahwa ia dalam keadaan lapar dari tadi, sebab sebelum pergi ke sekolah tidak sempat bersarapan terlebih dahulu, khawatir terlambat ucapnya. Spontan aku membalas ucapannya dan berujar:

“Mengapa yang mulia tidak mengambil sepotong roti di ruang makan Darruzzahro saja?”.

Ia hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Atau pulang sebentar ke rumah mengambil sarapan?”, tawarku kembali.

Ia pun tetap membalasnya dengan gelengan.

Aku semakin keheranan: “Bukankah engkau putri guru mulia kami (Habib Umar bin Hafidz)? Pemilik Daruzzahro ini wahai yang mulia?”.

Maka ia pun menceritakan pesan sang ayah untuk putra putri dan seluruh keluarga. Mendengarnya, aku tercengang dan terkejut, ku rasakan sudut mataku mulai berembun, hatiku bergetar mendengar penuturannya. Tidak hanya sampai di situ, putri kecil guru mulia mengejutkanku dengan perkara lain. Merasa kasihan dan tak tega, aku pun merogoh saku baju dan mengambil selembar uang di dalamnya:

“Jika begitu ku mohon ambilah ini sebagai hadiah dariku, dan belilah sedikit makanan untuk mengganjal perut yang mulia”, ucapku penuh harap sambil menyodorkan selembar uang itu ke hadapannya. Ia tersenyum ramah, mata beningnya menatapku lembut dan ia menolak halus pemberianku dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, namun aku terus merayu dan memohon agar dia bersedia menerimanya, tetapi putri kecil guru mulia tetap bersikeras untuk tidak menerimanya dan terus mengindahkan tangannya dari tanganku, melihat usahaku tiada henti, dengan polosnya ia berkata:

“Maafkan aku saudaraku, bukannya menolak pemberianmu, dan ingin melukai perasaanmu, akan tetapi ayah mengajarkan kami untuk tidak memberatkan orang lain dan tidak berharap belas kasih manusia selain belas kasih Allah Subhanahu wa Ta’ala, simpanlah uang itu, karena engkau lebih memerlukannya ketimbang aku, lagi pula kalau ayahanda mengetahui pasti beliau tidak akan menyetujuinya”.

Tes tes… ku rasakan air mataku mulai berjatuhan di pipiku, aku memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ku lihat kerudungnya nampak kumal, pakaiannya pun terlihat lusuh, ia hanya menggunakan keresek putih untuk alat-alat sekolahnya, kakinya penuh debu tanpa mengenakan sandal, aku terdiam terpaku tak mampu berkata sekalimat pun sampai putri guru mulia berlalu dari hadapanku sambil berlari-lari kecil dengan wajah yang tetap riang.

Aku menelan ludah susah payah, gemetar jiwaku menatap bayangnya yang perlahan menghilang dari pandanganku, hatiku bergetar hebat, pendidikan macam apa ini yang membuat anak sebelia dia memiliki hati sedemikian mulia. Sambil berderai air mata ku segerakan langkahku menuju kamar. Sesampainya di kamar ku membenamkan kepalaku di bantal dan pecah tangisku seketika, bagaimana tidak?

Jiwaku hancur lembur dihantam akhlak mulia sebegitu luhur, benar benar kami ini murid yang tak tau diri, jauh kami merantau dari negara kami hanya demi menimba ilmu serta mengambil keberkahan dari Guru Mulia beserta Sang Istri, malam-malam kami tidur dengan nyenyak, tidak pernah sedikitpun kekurangan air dan makanan, bahkan kami menganggap tempat ini seperti rumah kami sendiri, terkadang kami berbuat semaunya, makan dengan kenyang dan menggunakan kipas angin dan AC sepuasnya, tetapi guru mulia yang mendirikan tempat ini pun merasa tidak memilikinya dan tidak berlaku seenaknya.

Hatiku benar-benar serasa dicambuk rasa malu yang begitu dalam, teramat malu atas ketidaktahuan kami, atas sedikitnya perhatian dan kepedulian kami. Guru mulia beserta keluarga begitu memuliakan para pelajarnya melebihi penghormatan kami kepada beliau. Huhuhu… aku terus saja menangis.

Sampai akhirnya terdengar suara peringatan waktu istirahat segera berakhir. Aku pun menghentikan tangisanku dan menyeka air mata. Masih dengan mata yang sembab aku bangkit berdiri dan berniat mengambil air wudhu.

Saat ku lewati ruang makan Daruzzahro, sungguh ku menyaksikan pemandangan yang kembali sangat membuat hatiku miris. Ku lihat tangan mungil putri mulia memunguti beberapa pecahan roti yang tersisa dari bekas sarapan sebagian pelajar tadi pagi. Melihatnya aku membuang pandangan karena tak sanggup menyaksikannya.

Kejadian tersebut sangat membekas di hatiku sehingga aku merenungkannya selama berhari-hari. Semenjak itu aku jadi jarang ikut makan bersama dengan teman-teman lainnya, kecuali menunggu mereka telah usai semua, dan aku mulai bermujahadah melunturkan kesombongan yang ada di diriku.

Terkadang aku sengaja memakan roti yang sudah kering dan keras yang sudah ku hancurkan sebelumnya, atau memakan bekas-bekas nasi yang akan dibuang, atau makan bersama kawan tetapi dengan suapan yang terbatas, ketika kenyang hanya 3 suap, jika memang dalam keadaan lapar hanya 9 suap, semua itu sengaja ku lakukan agar diriku yang sangat payah ini dapat merasakan kerasnya menuntut ilmu tanpa memanjakan diri sedikitpun, terlebih-lebih setiap mengingat kejadian di atas hatiku sangat malu terhadap Sang Guru.

Kami hanya seorang murid dan hanya menumpang di tempat ini, harusnya kami yang menjadi pelayan bukannya memanjakan diri terus menerus.

Wallohu ‘Alam.

(Diceritakann oleh seorang Alumni Darul Musthofa, Tarim, Hadhromaut, Yaman, yang bersumber Mii AL Bein Yahya‎).

Monday, September 10, 2018

IKHTIYATH KALIMAT TAUHID

IKHTIYATH KALIMAT TAUHID
Oleh: @ziatuwel

Mengapa kita jarang sekali temukan lambang-lambang bertorehkan kalimat tauhid di acara-acara lingkungan pesantren? Lihat saja saat ada pagelaran imtihan, haflah, haul, pawai ta'aruf, istighotsah, maulid akbar, atau sejenisnya. Jarang sekali kita lihat kalimat tauhid tercetak di bendera, spanduk, kaos, peci, koko, sorban, apalagi ikat kepala.

Mengapa? Bukankah kalimat tauhid itu luhur? Apakah kalangan pesantren kurang ghirah keislamannya? Apakah mereka tidak bangga dengan ketauhidannya? Atau jangan-jangan mereka tidak suka kalimat tauhid?

Sebelum Anda menerka yang tidak-tidak, ada satu hal yang musti dipahami. Justru para kiai dan santri itu mungkin lebih akrab dengan kalimat tauhid daripada kita yang setiap hari pakai ikat kepala bertoreh lafal tauhid. Selain dikumandangan lima kali sehari saat adzan, kalimat tauhid juga diwiridkan dan diendapkan di alam bawah sadar mereka secara berjamaah tiap usai sembahyang.

Afdhaludz-dzikri fa'lam annahu; laa ilaaha illallaah. Diwiridkan serempak oleh imam dan makmum, ada yang 40 kali, 70 kali, atau 100 kali, kemudian dipungkasi dengan; 'muhammadur-rasuulullaah'. Demikian lima kali sehari, belum lagi jika ada yang mengamalkan wirid tahlil tambahan.

Kalau demikian, mengapa jarang sekali terlihat simbol-simbol kalimat tauhid di gelaran-gelaran mereka?

Saya tidak berminat membahas gegeran simbol kalimat tauhid yang lagi ramai belakangan. Tidak pula hendak membahas penggunaan bendera tauhid sejak masa Rasulullah, para sahabat, hingga peran politisnya di masa kini. Ini hanya tulisan ringan yang sekedar menguak satu 'tradisi' kaum pesantren berkaitan dengan pelabelan kalimat tauhid. Yaitu tradisi ikhtiyath; kehati-hatian fikih.

Ikhtiyath bisa kita sebut sebagai tradisi moral kalangan santri dalam berfikih. Ikhtiyath inilah yang membuat mereka membuat kobokan kaki di luar tempat wudhu sebelum masuk masjid, memilih pakai mukenah terusan daripada potongan, pelafalan niat sebelum takbirotul ihrom, koor niat puasa setelah taraweh, memakai sandal khusus dari toilet ke tempat salat di rumah.

Apalagi dalam kaitannya dengan kalimat tauhid. Ada kehati-hatian fikih bagi kalangan santri agar tidak sembrono meletakkan kalimat suci tersebut di sembarang tempat. Bagi santri, kalimat tauhid adalah jimat dunia akhirat yang sangat luhur. Ia tidak boleh tercecer, tergeletak, terbuang, atau bertempat di lokasi kotor apalagi najis.

Jika ia dicetak di sandangan semisal kaos, baju, topi, atau bandana, dikuatirkan bisa bercampur najis ketika dicuci. Jika dicetak di spanduk-spanduk atau bendera temporer, dikuatirkan akan tercampakkan sewaktu-waktu. Kalau dicantumkan di lambang pesantren, akan menyulitkan saat membuat undangan, kartu syahriyah, baju almamater, dan lainnya. Apalagi jika dicetak di stiker-stiker. Di tempat-tempat tersebuy, kalimat tauhid bisa sangat rawan terabaikan.

Bagi kalangan pesantren, kalimat tauhid hanya boleh dicantumkan di tempat-tempat spesial yang sekiranya bisa terjaga kehormatannya. Semisal panji peperangan yang tentu akan dijaga kibarannya hidup atau mati. Sebagaimana kisah dramatis Sayyidina Ja'far at-Thayyar. Atau bendera kerajaan yang tentu akan dirawat dan dimuliakan, sebagaimana bisa kita lihat di kasunanan Cirebon.

Almarhum simbah Kiai Zainal Abidin termasuk sosok yang sangat ketat dalam hal ikhtiyath perkara tauhid. Beliau selalu tutup mata jika lewat Jalan Magelang yang di kiri kanannya penuh patung-patung 'makhluk bernyawa'. Beliau selalu berpaling kalau ada tanda palang salib, juga tidak berkenan dengan atribut-atribut semacam akik atau yang identik dengan perjimatan. Ngregeti iman, kata beliau. Kalimat tauhid tidak lagi berkibar di spanduk atau ikat kepala, melainkan sudah terpatri kuat di dalam sanubari beliau.

Kalimat tauhid, bagi Mbah Zainal, sama sucinya dengan mushaf Quran. Bahkan saya menyaksikan sendiri, dingklik (tatakan kayu) yang biasa digunakan untuk membaca Quran pun beliau muliakan. Pernah suatu kali hendak salat jamaah isya di bulan Ramadan, ada satu dingklik yang tergeletak di belakangku. Ketika beliau lewat, dingklik itu beliau pindah ke sampingku agar tidak kubelakangi.

Bahkan tulisan 'almunawwir' pun sangat beliau muliakan, sebagaimana dikisahkan oleh Kang Tahrir, santri ndalem Mbah Zainal. Memang lazim di Krapyak, kami membuat stiker kecil bertulis 'almunawwir community'. Fungsi stiker ini untuk menandai kendaraan santri sehingga mudah dikenali. Biasanya dipasang di spidometer, plat nomor, atau body sepeda motor.

Nah, menurut penuturan Kang Tahrir, Mbah Zainal tidak berkenan jika melihat ada nama 'almunawwir' kok dipasang di slebor, lebih rendah dari lutut, atau tempat-tempat lain yang kurang pantas. Biar bagaimanapun, 'almunawwir' adalah nama pesantren sekaligus nama pendirinya yang merupakan ulama besar ahli Quran Nusantara, simbah Kiai Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad.

Demikian hati-hatinya sikap beliau terhadap nama 'almunawwir'. Lebih-lebih terhadap ayat-ayat Quran, hadits Nabi, dan kalimat tauhid. Maka bagi teman-teman yang sedang hobi menunjukkan identitas keislaman dengan atribut berlabel kalimat tauhid, mohon dijaga dengan baik agar benda-benda tersebut tidak tercampakkan.

___
Kalibening, Salatiga, Jumat Kliwon 7 September 2018.

*Foto: almarhum Mbah Kiai Zainal Abidin bin Munawwir bersama Syaikh Muhammad Syarif as-Shawwaf dari Universitas Ahmad Kaftaro, Suriah. Kunjungan Syaikh Syarif di Krapyak ini pada tahun 2011, yang kemudian kutulis reportasenya untuk Majalah Almunawwir Pos edisi I. Dalam kesempatan ini beliau juga berpesan agar kami tetap menjaga kedamaian negeri, serta jangan mudah terhasut dengan apa yang saat itu sedang terjadi di Suriah.

Friday, September 7, 2018

Beginilah Ulama Berfatwa, Kisah Syekh Bin Bayyah dan Seorang Istri yang Minta Cerai karena Suaminya Pemabuk

Pada suatu saat Syekh Abdullah Bin Bayyah ada di acara live sebuah stasiun televisi. Kemudian ada seorang perempuan dari Jazair bertanya kepada beliau, “Wahai Guru, bagaimana pendapat Anda tentang seorang perempuan dimana suaminya selalu meminum minuman keras dan datang di malam hari. Pada suatu saat ketika saya membaca Alquran, suami saya datang dan memukuliku, mengambil Alquran dan menyobeknya. Saya bingung, apakah saya boleh minta cerai atau tidak. Bagaimana pendapatmu?”

Lalu Syekh Abdullah Bin Bayyah balik bertanya, “Apakah kamu mempunyai anak?”

Perempuan tersebut berkata, “Iya, saya mempunyai lima anak masih kecil-kecil.”

Syekh Bin Bayyah bertanya lagi, “Apakah keluargamu ada?”

“Ada, tapi saya di ibukota sedangkan keluarga saya jauh ada di pelosok desa,” jawab si perempuan.

Lalu Syekh Bin Bayyah bertanya lagi, “Apakah ada yang mengayomimu?”

Jawab si perempuan, “Tidak, karena anakku semuanya masih kecil.”

Lalu Syekh Bin Bayyah berkata, “Wahai perempuan, janganlah engkau pergi dari rumahmu dan jangan kau minta cerai terhadap suamimu. Sabarlah bersamanya, jangan sampai engkau memarahinya.”

Tanya si perempuan, “Apakah saya harus sabar terhadap suami yang tiap malam datang dengan bau khamer, wahai Syekh?”

Syaikh Abdullah Bin Bayyah menjawab, “Kalau engkau berada di rumah tersebut maka yang akan meminum khamer cuman satu, sedangkan tugasmu membentengi anak-anakmu. Tapi ketika engkau keluar, maka yang akan meminum khamer 6 orang. Anak kecilmu akan terdidik dengan meminum khamer. Nanti kalau sudah tua mereka akan suka meminum khamer. Bersabarlah dan selalu meminta kepada Allah di tengah malam.”

Setelah beberapa tahun Syekh Abdullah Bin Bayyah kembali live di TV tersebut. Kemudian ada telepon masuk, “Saya adalah perempuan dulu yang bertanya tentang masalah apakah istri boleh minta cerai terhadap suaminya yang selalu meminum khamer.”

Jawab Syekh Bin Bayyah, “Oh iya, saya ingat kepadamu, ceritakan kepadaku bagaimana keadaan suamimu sekarang.”

Lalu si perempuan itu bercerita, “Kalau suamiku sekarang sudah memegang kunci Masjid Jami’. Setiap akhir malam dia yang membuka pintu masjid. Allah memberikan ijabah terhadap doaku yang di tengah malam. Allah selalu membersihkan hatiku menjadikan aku sabar. Dan alhamdulillah anakku terdidik dengan baik.” (Hb. Hamid Ja’far Al Qadri/Ala-NU)

Tuesday, September 4, 2018

I S T I Q O M A H

I S T I Q O M A H

"Kulo kaleh panjenengan niku nopo? “
ummatu Rasulillah SAW”,
umate kanjeng Nabi seng paleng lemah, nggeh ta?.

Awak.e gak patek kuat, nggeh nopo mboten?. Umure endeg, nggeh ta?.
Rizkine molak-malik; sak niki enten, mbenjing mboten enten; emben setengah enten, enggeh?.

Ngken kapan maleh rodok enten, di samping enten yo sek nduwe utang; umure endeg!. Mboten mampu, umat Muhammad Rasulillah SAW niku.

Kranten kewontenan kulo kaleh panjenengan kados mekaten kolo wau, dipun dawuhaken dening Rasulullah SAW, nopo niku?.

Dipun aturi istiqomah; “inna ahabbal a’maal ‘indalllaah adwamuhaa wa in qallat”. Sing paling dicintai Gusti Allah niku lelakonmu seng istiqomah senajan titik.

Saben isuk sampeyan moco nopo?.
Mboten moco nopo-nopo!.
Gak tuman khatam qur’an?.
“Mboten saget, mboten sempat”.
Moco nopo?. “Cumak “qul hu”
Istiqomah?. Istiqomahno!.

Lho niku seng didelek.i niku.
Kadang-kadang kulo kaleh panjenengan mboten..., kadung metenteng, nggeh ta?.

Nopo maleh katek (tepak) posoan, masya Allah!... Sampek jam siji-loro (sek) darusan.. gak peduli, bah tonggone grebegen, babahno!. Nggeh ta?.
Bah tonggone loro ati, babahno!. Pokok.e darusan!. Kadung ngotot!. Entek riyoyoe, entek Ramadlane, nopo maleh entek; wes tanggal selikuran, (akhire ngajine) prei setahun!. Lho niki lho, kulo kaleh panjenengan niku nopo?. Ayok istiqomah!.

Dipun dawuhi dening Gusti Allah; “tatanazzalu ‘alayhimul malaaikat”.
Barokahe istiqomah, (bakal) dibarengi malaikat.
Nopo tandane kulo kaleh sampeyan niku dibarengi malaikat?.
Ibadah, dzikire, perjuangane “an laa takhaafuu wa laa tahzanuu”. Ngadepi nopo mawon mboten tuman goncang atine;
mboten tuman bingung.
Nek sampek goncang, bengung, susah mergo gawane manungsane, pantes (nek ngantos) kaget..!.

Tapi gak suwe-suwe!. Niki lho!.
Niku tandane istiqomah. Yak nopo kiro-kiro?. Pun istiqomah nopo dereng?.
Mugi-mugi saget istiqomah...
Mboten akeh-akehan, mboten!.

Titik-titik.an, pokok.e ajheg!. Istiqomah seng diwoco, istiqomah panggonane, nopo maleh atek istiqomah waktune!. Pun nggeh!."
~Hadlratusy Syaikh KH. Achmad Asrori Alishaqy RA

By ning Nurul Istivadah