Showing posts with label ilmu. Show all posts
Showing posts with label ilmu. Show all posts

Friday, October 4, 2024

Metode Sanad dan Materialisme dunia Barat

Metode Sanad dan Materialisme dunia Barat

Metode isnad/ sanad (baik hadis maupun ilmu lain) adalah fenomena yang bisa dikatakan hanya terjadi dalam khazanah Islam. Tidak ada peradaban lain yang memiliki khazanah metode isnad selain peradaban Islam. Masalahnya, yang sekarang menjadi trend center keilmuan bukanlah dunia Islam, melainkan dunia Barat yang berfokus pada panca indra dan logika. Materialisme. Maka jangan heran jika metode isnad ini hanya disebut sebagai dongeng belaka dan diklaim sebagai metode tidak ilmiah. Karena Barat memang tidak punya sejarah “mengambil ilmu dari sumber terpercaya”. Hampir tidak pernah terdengar ada yang merunut sanad seorang professor hingga ke Issac Newton atau bahkan ke Einsten yang masih relative baru.

Barat memang sedang menjadi trend center dunia. Maka jangan heran jika melihat mereka yang “ter-Baratkan” mereka akan menganggap ilmu sanad itu terbelakang dan tidak ilmiah. Mirip seperti orang Jawa yang heran melihat orang Papua kenyang makan sagu, atau orang Indonesia yang bilang bahwa suku pedalaman itu “buta huruf” padahal mereka sangat pandai membaca bahasa alam. Mentalnya sama. Karena mereka yang jadi trend center, punya power, media, uang, dan pengaruh, maka merekalah yang menentukan “apa itu ilmiah”. Dalam analogi ini, maka jangan heran jika sebagian dari kita justru seperti orang Papua yang keheranan “kenapa masyarakat Papua masih makan sagu dan bukan beras?”.

Disinilah studi agama yang berkaitan dengan objek dan bisa dinilai dengan indra dan logika menjadi berkembang pesat. Contohnya adalah studi filologi (baik yang berasal dari manuskrip atau studi artefak). Sedangkan studi berbasis sanad, bisa dikatakan belum menjadi trend-center. Tentunya kajian filologi adalah ilmu yang keren, tapi jika kebenaran sebuah kejadian hanya disandarkan dari sebuah teks manuskrip atau artefak, hal ini akan berbahaya bagi Islam itu sendiri. Kenapa? Karena misalpun studi filologi dapat mengkaji dan membuktikan bahwa suatu manuskrip hadis berasal dari zaman sahabat (misalnya), lalu bagaimana menentukan bahwa isi hadis tersebut adalah hadis yang asli dan bukan hadis buatan pemalsu hadis yang canggih? Bagaimanapun, manuskrip itu benda mati. Disinilah ilmu sanad sangat berperan sebagai pemberi stempel keaslian dan kebeneran teks tersebut. Masalahnya, ilmu sanad yang bergantung pada pribadi seseorang, dinilai sudah tidak objektif, karena sudah terpengaru subjektifitas ulama tersebut. Academia dengan paradigma materialistik lebih percaya kepada manuskrip (yang merupakan barang mati) daripada kepada manusia yang bahkan terkenal pandai dan tidak pernah berdusta sekalipun. Disitulah muncul tokoh seperti Guru Gembul, yang gagal melihat keilmiahan Studi Aqidah (dan mungkin seluruh studi dalam Islam). Dan model gugat menggugat keilmiahan hadis hingga al-Quran dengan mempertanyakan kebsahan metode sanad ini sudah lumrah. Muslim yang menyerah pada standar keilmiahan Barat, maka ya akan mengatakan bahwa Al-Quran dan Hadis itu tidak ilmiah dan hanya sekedar “faith” tanpa bukti.

Sunday, August 20, 2023

Kitab ushul fiqh

Tangga mempelajari kitab ushul fiqh, versi guru ushul fiqh kami di Universitas Al-Azhar, Syekh Prof. Dr. Ahmad bin Ali al-Adawi (Guru Besar Ushul Fiqh di Fakultas Syariah dan Hukum Al-Azhar, Kairo) :

(1). Matan al-Waraqat karya Imam Al-Haramain, sekaligus syarah dari Imam Al-Mahalli.

(2). Matan al-Luma’ karya Al-Ustadz Abu Ishaq As-Syirazi.

(3). Ghoyatul Wushul karya Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari, atau Jam’ul Jawami’ karya Imam As-Subki, atau Minhajul Wushul karya Imam Al-Baidhawi.

Tanbih : Syarah Jam’ul Jawami’ yang digunakan beliau adalah : Al-Badru At-Thali’ karya Al-Mahally dan Tasynif al-Masami’ karya Az-Zarkasyi.

Faidah : Untuk syarah terhadap Minhajul Wushul, beliau merekomendasikan Syarh dari Al-Halwa’i, sebuah syarah yang meringkas penjelasan Al-Isnawi dalam Nihayah as-Suul, dan penjelasan Al-‘Ibri dalam syarah Minhaj-nya. Kelebihan syarah ini bisa dilihat dari sedikitnya munaqasyah yang di bawakan penulis.

(4). Mukhtasar Muntaha as-Suul, karya Imam Ibnul Hajib.

“Kalau sudah sampai pada Mukhtasar Ibnul Hajib, maka engkau layak disebut Syaikh fil Ushul” ungkap beliau.

Saya bertanya : “Bagaimana dengan al-Khulasoh karya Syekh Muhammad Hasan Hitto?” Jawaban beliau : “Al-Waraqat sudah mencukupi. Karena, biasanya saya menjelaskan Al-Waraqat, sudah mencakup kandungan dari Al-Khulasoh”

Syekh Dr. Ahmad bin Ali al-Adawi adalah seorang ushuli yang memiliki sikap tawadhu’ dan istiqamah yang luar biasa. Jiwa ke-istiqamah-an mengajar beliau sangat tidak terkalahkan, entah ketika mengajar di kampus, atau diluar kampus.

Sudah berapa banyak beliau mengkhatamkan kitab-kitab ushul fiqh bersama para thullab Al-Azhar. Beberapa kitab ushul yang sudah beliau khatam kan, dan diunggah di youtube :

(-) Syarh Waraqat karya Imam Al-Mahalli.

(-) Al-Khulasoh Fi Ushul al-Fiqh, karya Syekh Muhammad Hasan Hittou.

(-) Al-Luma’ karya Al-Ustadz Abu Ishaq As-Syirazi.

(-) Al-Lubab fi Ushul al-Fiqh, karya Syekh Shafwan Adnan Dawudi.

(-) Al-Badru At-Thali’ Syarh Jam’u al-Jawami’, karya Imam Al-Mahalli.

(-) Tasynif al-Masami’ Syarh Jam’u al-Jawami’, karya Imam Az-Zarkasyi.

Sekarang ini, beliau sedang menemani kami dalam menjelaskan kandungan Minhajul Wushul karya Imam Al-Baidhawi setiap 2 minggu sekali. Dan sedang mengajarkan Al-Mustashfa karya Imam Ghazali dan Syarh Badakhsyi ala Minhaj kepada para pelajar-pelajar wafidin lainnya. Dalam waktu dekat ini, beliau akan mengkhatamkan Syarh Al-‘Adhud ala Mukthasar Muntaha as-Suul.

Ini adalah channel youtube yang memuat rekaman penjelasan beliau terhadap kitab-kitab ushul fiqh diatas :

https://youtube.com/@user-ex3fp4rk5n

Dichannel itu, tersimpan juga kajian beliau terhadap kitab Ihkam al-Ahkam Syarh Umdah al-Ahkam, karya Ibnu Daqiq Al’-Ied, dan sudah di khatamkan.

Semoga beliau dijaga oleh Allah SWT dalam keadaan sehat wal’afiat, dan semoga kita diberikan himmah wal istiqamah, sehingga kita mampu untuk bermulazamah dan beristifadah kepada-nya.

Saturday, June 24, 2023

REZEKI TERBAIK SEORANG DAI

REZEKI TERBAIK SEORANG DAI

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R. Rozikin, Dosen di Universitas Brawijaya)

Dari semua rezeki halal yang mungkin masuk ke dalam kantong seorang dai,  rezeki yang terbaik jika diurutkan mulai kualitas tertinggi hingga level bawah adalah sebagai berikut

1. Hasil kerja halal yang tidak terkait aktivitas dakwah/mengajar

2. Upah mengajar/dakwah

3. Hadiah/pemberian penguasa

4. Pemberian murid/muhibbin/fans/teman/saudara

5. Utang

Maknanya, seorang ustaz yang berdagang/menjadi pengusaha atau menjadi tani, atau menjadi tukang cukur misalnya atau menjual jasa halal apapun, itu lebih bagus dan lebih utama daripada menggantungkan rezeki dari hasil ceramah dan berdakwah, baik diakadi maupun tidak. Sebab saat berdakwah beliau bisa lebih terbantu untuk ikhlas dan tidak mengharap uang setelah mengajar. Juga berdasarkan dalil bahwa makanan terbaik adalah yang berasal dari hasil karya tangan kita sendiri. Bukan menunggu uluran tangan orang.

Tetapi, mengajar agama lalu diberi “amplop” sebagai “bisyārah” atau mengajar dengan akad ijarah itu lebih utama dan lebih mulia daripada menggantungkan rezeki dari pemberian dan santunan penguasa. Sebab, pemberian setelah dakwah tanpa diakadi jelas mubah dan tidak merusak keikhlasan. Jika diakadi sekalipun maka juga jelas kehalalannya karena ada dalil yang memubahkannya. Berbeda dengan pemberian penguasa yang umumnya hartanya tercampur dengan yang tidak halal. 

Walaupun demikian, mendapatkan hadiah dari penguasa masih lebih mulia daripada mendapatkan rezeki dari hadiah murid/muhibbin/fans/teman/saudara. Sebab, pemberian dari murid itu bisa membuat guru menjadi sulit ikhlas, karena setiap mengajar akan ada godaan berniat mendapatkan pemberian murid. Juga karena ada potensi lidah menjadi kelu untuk mengingatkan murid yang salah sementara dia sering memberi hadiah.

Tapi menerima pemberian murid masih  lebih baik daripada berutang, karena khawatirnya wafat dalam keadaan belum bisa melunasi utangnya.

Di riwayatkan Imam Ahmad berkata,

أجرة التعليم خير من جوائز السلطان وجوائز السلطان ‌خير ‌من ‌صلة ‌الإخوان». «مجموع الفتاوى» (30/ 193)

Artinya,

“Upah mengajar lebih baik daripada hadiah penguasa dan hadiah penguasa lebih baik daripada pemberian saudara (dalam din)/para murid” (Majmū’ al-Fatāwā, juz 30 hlm 193)

Friday, January 25, 2019

Hikmah Pagi: Ketika Abu Hanifah “Meramal” Suksesnya Abu Yusuf

BincangSyariah.Com – Salah seorang santri Abu Hanifah yang cukup cerdas adalah Abu Yusuf, beliau yatim ditinggal wafat bapaknya ketika beliau masih belia. Ibunya membawa kepada seorang penjahit untuk belajar ilmu menjahit.

“Setiap kali ia pergi ke toko penjahit itu, beliau berhenti di majelis Abu Hanifah. Lalu duduk di sudut majelis itu untuk mendengarkan kajian Abu Hanifah. Setelah diperhatikan ibunya ketika seringnya terlambat datang ke toko, ibunya menemukan Abu Yusuf sudah duduk di majelis Abu Hanifah, ketika kejadian ini terulang berulang kali. Ibunya mendatangi Abu Hanifah sambil marah-marah dan berujar, “Ini anak yatim, kami tidak memiliki apa-apa selain hasil pekerjaanku memintal benang. Oleh karena itu, saya ingin ia belajar menjahit agar bisa membiayai hidupnya. Namun sekarang, engkau telah merusak anak saya!”

Imam Abu Hanifah berkata: “Tenang sabar, Bu. Ia sekarang tengah belajar ilmu agama. Suatu hari nanti, ia akan menjadi seorang yang bisa menyantap Faluzaj (sejenis suguhan kue mewah yang hanya dimakan oleh raja-raja dan orang-orang kaya kala itu).”

Namun ibu Abu Yusuf tidak mempercayai, malah semakin marah. Kemudian berkata: “Engkau orang tua yang sudah ngelantur!” sambil bangkit dan meninggalkan majelis Abu Hanifah.

Sementara itu, hari terus berganti dan Allah taqdirkan Abu Yusuf karena semangatnya belajar, akhirnya beliau menjabat sebagai Hakim Agung (Qadi Al-Qudlat), pada masa kekhalifahan Harun ar-Rasyid.

Suatu hari, ketika Abu Yusuf diundang oleh Harun Al-Rasyid. Dihidangkanlah ke hadapan beliau sebuah kue yang sangat mewah. ia tidak mengenali kue itu karena belum pernah melihatnya seumur hidupnya.”

Harun berkata kepadaku, “Wahai tuan Hakim, cicipilah makanan ini. Tidak setiap hari kue ini dibuatkan untuk kita.”

Abu Yusuf bertanya, “Apa nama kue ini, wahai Amirul Mukminin?” Beliau menjawab : “Ini Faluzaj”. Mendengar ini, Abu Yusuf tersenyum dan termenung ingat perkataan Abu Hanifah. Khalifah bertanya: “Kenapa engkau tersenyum?” Abu Yusuf berkata: “Tidak ada apa-apa, wahai Khalifah.”

Khalifah merayunya: “Beritahukanlah saya.” Maka Abu Yusuf menceritakan kisah dirinya , bahwasanya kyainya dulu Abu Hanifah pernah berkata “Suatu hari nanti, ia akan menyantap Faluzaj (sejenis kue mewah yang hanya dimakan oleh raja-raja dan orang-orang kaya kala itu) di atas periuk yang terbuat dari barang mewah.”

Mendengar kisah ini, Harun Al-Rasyid berkata: “Barang siapa yang menghendaki dunia maka hendaklah dengan ilmu, Barang siapa yang menghendaki akhirat hendaklah dengan ilmu. Barangsiapa yang menghendaki keduanya hendaklah dengan ilmu.”

Semoga Allah merahmati Abu Hanifah, beliau mampu melihat dengan mata hatinya, apa-apa yang tidak terlihat oleh orang lain dengan mata kepalanya.”

Semoga kita ini menginspirasi kita untuk terus semangat belajar ilmu agama yang bisa menyelamatkan di dunia dan akhirat. Amiin Allahumma Amiin