Showing posts with label karomah. Show all posts
Showing posts with label karomah. Show all posts

Saturday, July 22, 2023

Kyai Ibnu Taimiyyah dan Cerita Irrasional

**[[ Kyai Ibnu Taimiyyah dan Cerita Irrasional ]]**

Sesuatu yang bersifat irrasional, memang selalu tak masuk akal. Ya, namanya saja diluar koridor akal biasa. Terkait cerita irrasional, ada sebagian kalangan yang menelannya bulat-bulat, jika itu berkaitan dengan tokoh idolanya. Tak jarang ada yang menolak mentah-mentah semua cerita irrasional itu.

Kita akan membaca beberapa kisah yang sepertinya irrasional. Cerita ini berkaitan dengan Ibnu Taimiyyah al-Harrani (w. 728 H).

Kenapa dipilih cerita Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) disini?. Biasanya jika sesuatu yang tak masuk akal itu terjadi kepada beliau, hampir-hampir tak ada yang membantah cerita tersebut. Bahkan oleh orang yang biasanya suka mengkhurafat-tahayulkan kelompok lain.

Lain halnya jika cerita tak masuk akal ini terjadi pada diri orang yang disebut “kyai”. Memang tak bisa dipungkiri, ada orang awam yang mengiyakan saja cerita-cerita irrasional itu, bahkan menambah-nambahi cerita biar seru dan wah. Tapi disisi lain ada pula yang malah dengan mudah menuduh sang kyai bekerjasama dengan jin, sampai menuduh syirik.

Disitu kadang saya merasa sedih.

Memanggil Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dengan sebutan Kyai Ibnu Taimiyyah tentu sah-sah saja. Karena memang kata kyai sebenarnya untuk makna "yang dituakan ataupun dihormati".

Kita akan baca beberapa kejadian irrasional yang pernah terjadi pada Ibnu Taimiyyah (w. 728 H). Kejadian-kejadian ini sangat bisa dipertanggungjawabkan validitas datanya. Karena datanya primer, langsung dari kitab karangan murid-murid Ibnu Taimiyyah (w. 728 H).

*[[ Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) Bisa Meramal Masa Depan ]]*

Pernah suatu ketika Mbah Mad Dalhar atau KH. Ahmad Abdul Haq (w. 2010 M); pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Watucongol Magelang kedatangan tamu yang belum beliau kenal sebelumnya. Setelah bersalaman, serta merta Mbah Mad bilang ke tamu tersebut:

“Kamu ini kerjaannya menghalalkan sesuatu yang haram ya?”

Sontak saja tamu tersebut kaget sekaligus takut, kenapa Mbah Mad bilang seperti itu. Padahal sepertinya tak pernah si tamu menghalalkan sesuatu yang memang haram menurut agama.

Selang beberapa saat, Mbah Mad berkata sebelum tamu itu bertanya kenapa. “Pegawai KUA itu kan kerjanya menikahkan orang. Nah, laki-laki dan perempuan yang awalnya haram untuk berbuat sesuatu, gara-gara kamu nikahkan sekarang jadi halal”. Oh, begitu! Ternyata si tamu itu memang kerjanya jadi pegawai KUA.

Tentu bagi sebagian orang bertanya-tanya, darimana Mbah Kyai bisa tahu bahwa tamunya adalah pegawai KUA. Karena pada saat itu, si tamu juga tak lagi memakai seragam KUA. Si Tamu juga tak mengisi buku tamu dengan menuliskan pekerjaannya. Darimana kyai tahu perkata ghaib? Khurafatkah beliau? Atau mungkin bekerjasama dengan jin?

Tentu jika awalnya sudah tak suka kyia, akan bilang; “Iya, tuh! Kyai khurafat, tak masuk akal, itu doktrin keramat wali yang sesat, mengesampingkan akal sehat!”

Biarlah dia berkata seperti itu. Mari kita baca cerita dari Ibnu Qayyim al-Jauziyyah al-Hanbali (w. 751 H) tentang sang guru; Ibnu Taimiyyah al-Harrani (w. 728 H). Suatu ketika Ibnu Qayyim pernah bilang:

ولقد شاهدت من فراسة شيخ الإسلام ابن تيمية - رحمه الله - أمورا عجيبة. وما لم أشاهده منها أعظم وأعظم

Saya telah menyaksikan firasat Ibnu Taimiyyah pada banyak kejadian yang menghebohkan. Dan apa yang belum saya saksikan, lebih banyak dan lebih heboh lagi. (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah w. 751 H, Madarij as-Salikin, h. 2/ 459)

Ibnu Qayyim (w. 751 H) ini bisa dibilang murid terdekat Ibnu Taimiyyah (w. 728 H). Diantara kejadian aneh yang dialami oleh Ibnu Qayyim adalah Ibnu Taimiyyah bisa tahu sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi.

وأخبرني غير مرة بأمور باطنة تختص بي مما عزمت عليه، ولم ينطق به لساني. وأخبرني ببعض حوادث كبار تجري في المستقبل. ولم يعين أوقاتها. وقد رأيت بعضها وأنا أنتظر بقيتها. وما شاهده كبار أصحابه من ذلك أضعاف أضعاف ما شاهدته. والله أعلم.

(Ibnu Taimiyyah) mengabarkan kepadaku hal yang sebenarnya masih dalam pikiran saya, dan saya belum mengucapkannya kepada beliau. Beliau Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) juga mengabarkan kepadaku kejadian-kajadian besar yang akan terjadi di masa yang akan datang. Hanya beliau tidak memberikan kepastian waktu akan terjadi hal tadi. Sebagian saya lihat dan saksikan sendiri, sebagiannya masih saya tunggu. Kejadian yang disaksikan oleh para murid beliau yang lain, malah lebih banyak lagi daripada yang saya lihat. (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah w. 751 H, Madarij as-Salikin, h. 2/ 459).

Nah, sepantasnya kita juga menanyakan hal sama; darimana Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) tahu perkata ghaib? Khurafatkah beliau? Atau mungkin bekerjasama dengan jin?

Ah, kalo itu terjadi pada Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) rasanya kok tak mungkin. Beliau kan ulama salaf?

Hal serupa pernah terjadi kepada murid beliau yang lain, yaitu Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali (w. 749 H). Beliau bahkan menuliskan biografi lengkap dengan karamah dan firasat-firasat Ibnu Taimiyyah (w. 728 H). Nama kitabnya adalah al-A’lam al-Aliyyah fi Manaqib Ibnu Taimiyyah.

*[[ Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dan Kasyaf ]]*

Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali (w. 749 H) pernah bercerita:

وحدثني أيضا قال أخبرني الشيخ ابن عماد الدين المقرئ المطرز قال قدمت على الشيخ ومعي حينئذ نفقة فسلمت عليه فرد علي ورحب بي وأدناني ولم يسألني هل معك نفقة ام لا
فلما كان بعد أيام ونفدت نفقتي أردت أن اخرج من مجلسه بعد ان صليت مع الناس وراءه فمنعني وأجلسني دونهم فلما خلا المجلس دفع الي جملة دراهم وقال انت الآن بغير نفقة فارتفق بهذه فعجبت من ذلك

Telah menceritakan kepadaku Syeikh Ibnu Imadiddin al-Muqri’; beliau berkata: Suatu ketika saya datang kepada Syeikh Ibnu Taimiyyah. Saat itu saya membawa bekal nafkah. Saya menyalami beliau, hanya setelah itu beliau tak menanyakan kepadaku apakah saya punya bekal nafkah atau tidak.

Selang beberapa hari, saat bekal nafkah saya habis, saya bertemu dengan beliau lagi. Selepas shalat bersama beliau dan saya akan pamit, beliau menahanku. Saya diminta duduk di belakangnya seraya beliau memberiku sejumlah dirham. Beliau berkata; “Kamu kan sekarang sudah tak ada bekal nafkah, ini buat kamu saja. Disitu saya takjub. (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah, h. 60)

Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) bisa tahu bahwa Ibnu Imadiddin al-Muqri’ tak punya bekal nafkah pada pertemuan kedua. Ibnu Imadiddin menyimpulkan:

وعلمت ان الله كشفه على حالي أولا لما كان معي نفقة وآخرا لما نفدت واحتجت الى نفقة

Saya yakin, Allah telah membukakan (kasyaf) keadaanku kepada Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) ketika bekal nafkah saya habis pada pertemuan kedua (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah, h. 60)

Ternyata Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) telah di-kasyaf-kan mata batinnya oleh Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana penuturan murid beliau.

*[[ Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) Mendoakan Orang Sakit Langsung Sembuh ]]*

Kadang menjadi seorang kyai memang harus serba bisa. Jika ada masalah, datangnya ke kyai, mau nikah datangnya ke kyai, bahkan sakitpun datangnya ke kyai. Memangnya kyai multi talent? Padahal kadang hanya dido’akan saja.

Tapi ya begitulah, alhamdulillah datangnya masih ke kyai, bukan ke dukun. Asal tidak salah saja, datang ke dukun yang berpenampilan kyai, atau ke kyai yang memasang tarif per kunjungan.

Suatu ketika Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) pernah mendo’akan orang sakit. Setelah didoakan langsung segera sembuh.

وحدثني ايضا قال مرضت بدمشق اذ كنت فيها مرضة شديدة منعتني حتى من الجلوس فلم اشعر إلا والشيخ عند رأسي وأنا مثقل مشتد بالحمى والمرض فدعا لي وقال جاءت العافية. فما هو إلا أن فارقني وجاءت العافية وشفيت من وقتي

Suatu ketika saya sakit di Damaskus. Saat itu sakitnya cukup parah, sampai duduk saja susah. Tak terasa Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) sudah berada diatas saya. Beliau mendoakan saya, dan berkata; kesembuhan telah datang. Setelah beberapa saat beliau pergi, benar saja saya segera sembuh saat itu juga. (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah, h. 58). Hebat juga Ibnu Taimiyyah (w. 728 H).

*[[ Jika Merasa Takut dan Khawatir, Datang Saja ke Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) ]]*

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) menuturkan:

وكنا إذا اشتد بنا الخوف وساءت منا الظنون وضاقت بنا الأرض أتيناه، فما هو إلا أن نراه ونسمع كلامه فيذهب ذلك كله وينقلب انشراحاً وقوة ويقيناً وطمأنينة.

Jika kami merasa takut, sering berburuk sangka dan bumi terasa sempit, maka kami datang kepada Ibnu Taimiyyah. Ketika kami melihat beliau dan mendengarkan perkataan beliau, maka rasa takut tadi seketika hilang, berganti keyakinan dan ketenangan. (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah w. 751 H, al-Wabil as-Shayyib, h. 48)

Memang begitulah kyai, kadang masyarakat datang kepadanya hanya untuk menentramkan batin mereka.

Maka, jika setelah bertemu kyai atau ustadz, atau setelah mengikuti kajiannya, kok tak merasa tentram tapi malah bertambah panas, ada baiknya untuk muhasabah lagi. Barangkali ada sesuatu yang salah, entah apa itu.

*[[ Keramat Kyai Ibnu Taimiyyah: Menentang Beliau Akan Mendapatkan Bala’ ]]*

Kadang murid-murid Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) juga agak berlebihan juga ketika menceritakan keramat beliau. Contohnya dibawah ini:

ومن اظهر كراماته أنه ما سمع بأحد عاداه او غض منه إلا وابتلي بعدة بلايا غالبها في دينه وهذا ظاهر مشهور لا يحتاج فيه الى شرح صفته

Keramat paling nampak dari beliau adalah jika ada yang menentang atau memusuhi beliau, biasanya akan mendapatkan bala’ atau cobaan, biasanya dalam keagamaannya. Ini adalah sesuatu yang masyhur dan tak perlu dijelaskan bagaimana sifatnya. (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah, h. 62)

*[[ Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) Memang Banyak Keramatnya ]]*

Maka Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H berkesimpulan:

قلت وكرامات الشيخ رضي الله عنه كثيرة جدا لا يليق بهذا المختصر اكثر من ذكر هذا القدر منها

Keramatnya Ibnu Taimiyyah itu sangat banyak (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah, h. 62)

Itulah beberapa contoh keramat dan cerita irrasional dari Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) yang diceritakan langsung oleh beberapa murid beliau. Dan itu hanya sebagiannya saja. Jika mau lebih banyak, silahkan baca-baca lagi biografi beliau langsung di kitab-kitab murid beliau.

*[[ Kyai Ibnu Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) Bercerita Tentang Keramat: Ada Orang Bisa Berjalan Diatas Air Dengan Doa Tertentu ]]*

Jika tadi yang bercerita adalah murid Ibnu Taimiyyah tentang gurunya. Ibnu Taimiyyah sendiri mempunyai kitab yang berjudul al-Furqan Baina Auliya ar-Rahman wa Auliya as-Syeithan; Beda antara wali Allah dan wali Syeitan.

Suatu kesempatan Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) menuliskan:

والعلاء بن الحضرمي كان عامل رسول الله صلى الله عليه وسلم على البحرين وكان يقول في دعائه: يا عليم يا حليم يا علي يا عظيم، فيستجاب له، ودعا الله بأن يسقوا ويتوضؤوا، لما عدموا الماء، والإسقاء لما بعدهم، فأجيب.
ودعا الله لما اعترضهم البحر ولم يقدروا على المرور بخيولهم، فمروا كلهم على الماء ما ابتلت سروج خيولهم

Al-Ala’ bin al-Hadhromi termasuk salah satu pekerja Nabi Muhammad di Bahrain. Suatu ketika dia berdoa: ya Alim, ya Halim, ya Aliy, ya Adzim! Maka doanya terkabul. Beliau juga berdoa ketika sedang tidak ada air, agar bisa wudhu dan minum. Dan beliau dikabulkan doanya.

Beliau berdoa ketika mau melewati laut, agar bisa berjalan diatas air bersama dengan kudanya. Maka beliau bersama rombongannya bisa berjalan diatas air tanpa basah sedikitpun. (Ibnu Taimiyyah al-Harrani w. 728 H, al-Furqan Baina Auliya ar-Rahman wa Auliya as-Syeithan, h. 162).

Itulah salah satu keramat shahabat Nabi yang diceritakan oleh Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dalam kitabnya. Hal yang menarik adalah shahabat Nabi al-Ala’ bin al-Hadhromiy dalam do’anya beliau mengucapkan: ya Alim, ya Halim, ya Aliy, ya Adzim!

Darimanakah doa itu didapatkan? Adakah haditsnya? Bukankah itu membuat-buat doa yang tak diajarkan oleh Nabi? Bid’ahkah?

Kadang ada orang yang nyinyir jika ada orang yang mengamalkan suatu kalimah thayyibah tertentu, misalnya: dengan membaca ya Hayyu ya Qayyum, insyaAllah bisa berjalan diatas air, dst. Dengan mengatakan, itu tak dalilnya.

*[[ Keramat Wali dan Sikap Kita ]]*

Tentu masih banyak lagi cerita tak masuk akal yang terjadi kepada para kekasih Allah. Tak sedikit memang yang hanya cerita fiktif belaka.

Agama Islam tak mengingkari adanya sesuatu yang irrasional. Maka jika ada kejadian tak masuk akal terjadi pada diri seseorang, kita akan gali lebih dalam lagi terkait siapa orang itu. Apakah wali Allah atau wali Syeitan?

Kita akan membaca beberapa episode menarik dari hidupnya Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) pada kesempatan yang lain, insyaAllah. Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa'fu anhu. Lahu al-Fatihah..

Monday, March 28, 2022

Berdalil Dengan Mimpi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam

Berdalil Dengan Mimpi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam

Pernah suatu kali seorang Qadhi di Tarim menetapkan awal bulan Syawal, sehingga para Sadah Bumi Auliya' itu pun berkumpul pagi harinya untuk menjalankan shalat ied. Namun sebelum shalat di mulai, ulama yang menjadi khathib pada pagi itu tidak melihat seorang tokoh kalangan Alaydrus di tempat shalat 'ied, maka khathib itu pun mendatangi rumah Habib itu langsung dan bertanya apa sebabnya beliau tidak berangkat shalat.
"Saya bermimpi bertemu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam semalam, dan saya bertanya kepada beliau "apakah malam ini sudah masuk bulan Syawal?", dan Baginda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab belum. Maka saya pun hari ini masih menjalankan puasa", jawab Habib fam Alaydrus itu.
"Kalau Anda bertemu dengan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam mimpi, saya malah bertemu dengan beliau dalam keadaan terjaga, dan beliau juga berkata kepada saya bahwa Malam ini tadi sudah masuk bulan Syawal, maka tentu hari ini pun sudah masuk Syawal.", kata khathib itu.
"Benarkah?, Bagaimana bisa?", tanya Habib Alaydrus heran.
"Anda belum mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : “Berpuasalah kalian ketika telah melihat hilal Ramadan dan berhentilah berpuasa ketika telah melihat hilal bulan Syawal..?", tanya Khathib.
"Tentu saya tahu hadits itu", jawabnya.
"Yang Anda yakini itu hanyalah mimpi, sedangkan yang saya sampaikan adalah sesuatu yang haq, sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam secara langsung, yang diriwayatkan oleh para ulama terpercaya dari para ulama terpercaya dan bersambung hingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan beliau bersabda itu dalam keadaan terjaga."

Maka tokoh Alaydrus itupun mengerti, lalu berkata;
"Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan, sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam benar, dan ucapan Anda juga benar", kemudian beliau pun makan kurma dan minum untuk menandai bahwa beliau tidak lagi berpuasa. Dan beliau berdua pun berangkat ke tempat shalat ied dan shalat bersama masyarakat.
Begitulah akhlak para Ulama, inshaf dan sangat mudah menerima kebenaran.

Dari kitab Tadzkirun Nas, hal. 250

Copas Gus Ahmad Atho

Kisah wali ghaust yang masyhur dan salah kasyaf

Kisah wali ghaust yang masyhur dan salah kasyaf
Oleh Sidi Fauzan Inzagi

Salah seorang ulama yang hampir disepakati oleh ulama zahir dan batin sebagai seorang ghaust pada zamannya adalah Maulana Khalid An-Naqsyabandy QS. Beliau hampir disepakati sebagai ghaust zaman baik oleh ulama sezamannya atau setelahnya. Didalam tareqat beliau dikenal sebagai salah satu mujadid besar tareqat naqsyabandiyah yang terkenal diseluruh dunia, bahkan menjadi salah satu furu tareqat terbesar yang terbesar diindonesia.

Di ilmu zahir beliau juga mutafanin yang menguasai hampir semua bidang ilmu agama, hampir setiap fan ilmu agama beliau mempunyai karangan, dalam ilmu kalam beliau menulis syarah aqidah adhudiyah, dalam ilmu tasawuf beliau menulis risalah khalidiyah, dalam hadis beliau menulis hasyiah ala jam'il fawaid, dalam fikih beliau menulis hasyiah atas nihayah muhtaj, dalam bahasa arab beliau menisyarag maqamat hariry, dst, beliau mutafanin dalam ilmu zahir, ulama besar yanh jadi rujukan pada masanya

Ditambah kisah kewalian beliau, dan kisah dakwah beliau yang membuat orang tidak meragukan kewalian beliau, dan beliau termasuk wali masyhur atas pengakuan para ulama zahir dan batin, sehingga tak perlu diragukan lagi maqam beliau. Dan atsar atau hasil dari dakwah beliau terlihat diseluruh dunia. Itu bukti keikhlasan beliau. Dan pada masa hidupnya pun beliau sudah masyhur.

Dengan maqam keulamaan dan kewalian yang seperti itu, ada kisah menarik tentang beliau, suatu hari beliau mendapat kasyaf(saya lupa melalui mimpi atau tersadar, perlu murajaah lagi kitabnya), dalam kasyafnya beliau melihat bahwa imam mahdi akan turun dijami umawi 3 hari lagi. Berdasarkan kasyaf beliau yang selama ini yang nyaris tidak pernah salah, beliau pun mengajak muridinnya turun gunung ke jami umawi untuk itikaf disana untuk menyiapkan penyambutan kedatangan imam mahdi

Berita ini membuat damaskus gempar, karena berita ini dari syeikh khalid langsung, seorang yang masyhur kewaliannya dan keulamaannya, bukan dari seorang mastur yang belum tentu mendapat pengakuan wali lain dan alim ulama atau wali awam yang rawan tidak mundhabit secara ilmiyah. Tapi ini beda, yang mengatakannya adalah syeikh khalid wali madhinnatul wilayah, sanadnya jelas, diakui wali masyhur bahkan hampir disepakati sebagai qutub zamannya, mundhabit secara syariah dalam amal, zauq dan aqidahnya bahkan beliau ulama besar dibanyak bidang ilmu dan ahli fatwa. Dan sanadnya jelas bahkan terang benderang

Tetapi setelah tiga hari menunggu, tak ada yang spesial, imam mahdi tidak datang, didepan umum beliau berkata, lihatlah kasyafku salah, memang tidak ada manusia yang tidak pernah salah kecuali nabi, termasuk aku dan kasyafku yang selama ini benar, ga ada yang selalu kita percaya selain nabi, maka dari itu berpeganglah pada sunnah nabi/syariat yang tidak pernah salah. Beliau mengatakan ini didepan umum sebagai pelajaran bagi beliau dan umat. Begitulah ulama dan wali, tak perlu malu mengakui kesalahan, apalagi salah kasyaf, bahkan hikmahnya kesalahan kasyaf beliau menjadi pelajaran besar bagi umat sampai ratusan setelahnya, sekarang dengan mudah kita katakan "okey ente wali, tapi syeikh khalid yang jelas wali besar, sanadnya jelas, istiqamah, diakui, dan ulama besar saja bisa salah kok kasyafnya, apalagi yang lain, jangan aneh-aneh deh"

Kisah ini juga sering dijadikan syahid dan pelajaran sebagai bukti bahwa seorang selevel syeikh khalid, semasyhur beliau, semundhabut beliau, sealim beliau, dan diakui sebagai qutub zamannya secara mutawatir, ternyata bisa salah kasyafnya, makanya kita ga boleh berpegang pada kasyaf tanpa syariat dalam beragama, apalagi mimpi, karena itu bisa salah, beda dengan syariat nabi saw, itu adalah kasyaf dari nabi yang makshum, dan tidak mungkin salah. Itulah yang jadi pegangan seorang muslim dalam beragama. Ingat dulu awal-awal suluk, mimpi ketemu ini dan itu, guruku langsung mengingatkan, "nikmati saja ahwalnya, tapi ingat jangan jadikannya pegangan, karena agama kita tidak dijalankan dengan mimpi"

Jadi, seorang ghaust yang diakui banyak orang sekalipun bisa salah kasyafnya, apalagi yang belum banyak yang mengakui, apalagi yang nampak secara zahir melanggar syariat, yang berpegang aja bisa salah. Ini alhamdulillah kasyafnya ga melanggar syariat, karena kalau melanggar syariat itu sangat jelas tertolak oleh orang sekaliber beliau, bayangkan kasyaf yang bertentangan dengan syariat? Betapa bahayanya itu, sesuai dengan syariat ada potensi salah, apalagi melanggar syariat kan? Apalagi jika itu datang dari orang yang gak ada yang diakui? darimana kita tau kalau itu jibril,khaidir, dll? Siapa tau itu permainan setan memperdaya manusia.

Kasyaf memperkuat zauq syariah, tapi bukan pegangan dalam berqgama. Kasyaf memperdalam ilmu syariat yang ada, tapi bukan menentang ilmu syariat. Wali bisa salah, nabi enggak, dan ijma juga enggak, jika ada kasyafmu yang bertentangan dengan syariat dan ijma, maka bisa dipastikan itu salah. Yang sesuai aja bisa salah, apalagi yang bertentangan. Pelajaran hidup yang sangat mahal dari para wali. Alfatihah buat beliau sayidina maulana khalid naqsyabandy qaddasallahu sirrahu

Tuesday, February 22, 2022

Keistimewaan KH. Adlan Aly, Murid Kinasih KH. Hasyim Asy’ari

"Keistimewaan KH. Adlan Aly, Murid Kinasih KH. Hasyim Asy’ari"

KH. Adlan Aly, pendiri Pondok Pesantren Putri Walisongo Jombang.
Tebuireng.online— KH. Hasyim Asy’ari memiliki santri yang hebat-hebat, salah satunya yaitu KH. Adlan Aly, pendiri Pondok Pesantren Putri Walisongo Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Kiai Adlan dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1900 di Pesantren Maskumambang, Kabupaten Gresik, dari pasangan Hj. Muchsinah dan KH. Ali. Kiai Adlan Aly wafat pada tanggal 6 Oktober 1990 di Jombang.

Kiai Adlan merupakan santri kinasihnya Kiai Hasyim Asyari. Hal ini dikarenakan Kiai Adlan sosok yang alim dan hafal Al Quran. Sering sekali Kiai Hasyim meminta santrinya ini menggantikan menjadi imam salat dan kegiatan lainnya. Bahkan karena rasa cinta yang begitu besar terhadap gurunya, Kiai Adlan bermukim selamanya di selatan Pondok Tebuireng.

Setelah Nahdlatul Ulama (NU) berdiri, KH. Hasyim Asy’ari memanggil Kiai Adlan, untuk membentuk kepengurusan NU di Kecamatan Diwek. Dari sini Kiai Adlan Aly berkiprah di NU hingga ke level nasional. Dalam Muktamar NU yang ke-8 di Cirebon pada Agustus 1931, Kiai Adlan Aly dipercaya sebagai pemimpin sidang.

Menurut Mahasiswa Pasca Sarjana dan Santri Pesantren Tebuireng Abdul Aziz, Kiai Adlan setiap bulan Ramadan membacakan kitab Fathul Qarib. Tepat di posisi yang dulu digunakan Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari mengajar. Kiai Adlan duduk di sana, sedangkan para santri mengitarinya sebagai halaqah ilmiah.

Dalam pengajian ini ada karomah Kiai  Adlan yang tampak di setiap tahunnya. Ketika pembahasan tepat pada bab  Istisqa’ (ritual memohon hujan), anehnya langit Tebuireng menjadi gelap.

Ketika beliau membaca bab tersebut lalu mempraktekan shalat istisqa’ dan mengalungkan sorban ke pundaknya dalam seketika itu hujan turun dan mengguyur halaman pondok.

“Kiai Adlan itu tidak pernah melihat langit. Istilah ini menunjukkan saking tawadhu’nya Kiai Adlan. Ketika berjalan tidak pernah mengangkat kepala ke atas. Beliau senantiasa menunduk sopan,”  katanya, Sabtu (27/4).

Ada lagi kesan para santri tentang Kiai Adlan yang masih abadi hingga saat ini. Bagi santri Tebuireng dan Walisongo, Kiai Adlan adalah ayah yang sabar dan istikamah. Ketika para santri ditanya tentang “Bagaimana sosok Kiai Adlan?” maka berbagai komentar yang hampir tak serupa senantiasa didengar.

“Ada yang menuturkan, kiai yang tidak hanya hafal isi Al Quran tetapi juga menjalankannya”, ujarnya.

Aziz menambahkan, Kiai Adlan adalah kuncinya jika ingin bertemu Kiai Hamid Pasuruan. Sehingga ada keyakinan sebagian jamaah saat itu kalau ingin mudah bertemu dengan Kiai Hamid harus sowan dulu ke Kiai Adlan.

“Bahkan suatu hari KH. Thalhah Hasan pernah berkata di Tebuireng itu ada dua penghuni surga. Pertama Kiai Idris Kamali dan Kiai Adlan Aly. Keduanya sama-sama alim, wara, zuhud,” tandas Aziz.

"Noto Ati;  Pelajaran Yang Mulai Dilupakan"

"Belajar dari Kisah Kiai Muhaimin Duraid dan Kiai Adlan Aly"

Suatu hari, guru kami Kiai Muhaimin Duraid rahimahullah oleh banyak orang dianggap sebagai Waliyullah atau kekasih Allah. Mendengar desas-desus itu, suatu ketika Kiai Muhaimin dengan memakai kaos oblong dan celana pendeknya turun langsung ikut girigan atau kerja bakti di kali bersama masyarakat.

Di tengah kerja bakti, telapak kaki Kiai Muhaimin menginjak pecahan beling dan mengeluarkan banyak darah. Sejak kejadian itu, orang-orang mulai mengubah anggapan mereka, "Kiai Muhaimin bukan Wali, dia orang biasa. Wali macam apa kok kena beling keluar darah?"

Syaikh Mutawalli Sya'rawi rahimahullah dalam perjalanan pulang dari mengisi kuliah umum di sebuah Universitas, memilih berhenti di area toilet umum. Supir yang mengantar beliau merasa heran, Syaikh Mutawalli ternyata sedang membersihkan dan menyikat lantai toilet, "Apa yang anda lakukan, Syaikh?"

"Saya sedang menebus dosa yang baru saja saya lakukan. Saya merasa bangga ketika pulang dari kuliah umum dan mendapatkan penghormatan luar biasa dari Universitas. Dengan begini, saya sedang menenangkan hati saya sendiri bahwa saya bukan siapa-siapa." Syaikh Mutawalli menjawab sambil menahan isak.

Dari kisah tersebut, kita dapat mengambil pelajaran penting bahwa sekian panjang perjalanan hidup, sesungguhnya tugas besar manusia adalah noto ati (menata hati).

Kata Nabi, hati adalah pusat segala energi yang mampu menarik manusia pada dua keadaan : tenang dan gemrungsung atau panik.

Hati tenang adalah hati yang lepas dari kecenderungan duniawi : pujian, sanjungan, kehormatan dan bangga diri.

Hati gemrungsung adalah hati yang mengikat pada semua kecenderungan dan keinginan. Apa saja yang tampak menyenangkan, mengenyangkan, memuaskan, ia jejalkan ke dalam hati sehingga menjadi ramai. Hati yang terlalu ramai dengan kecenderungan duniawi, sesungguhnya sedang pelan-pelan menutup diri dari cahaya Allah.

Itulah sebabnya, menata hati adalah ibadah yang paling berat. Manusia bisa mendirikan shalat sehari semalam tanpa henti, manusia bisa menuntaskan puasa berhari-hari, manusia bisa membiasakan diri berangkat ke tanah suci. Tetapi, seluruh energi ibadah itu akan sia-sia jika hati sebagai pusat dari energi sesungguhnya, justru ramai, keruh bahkan gelap karena banyaknya tumpukan keinginan-keinginan duniawi.

Termasuk keinginan dimuliakan, diistimewakan dan dielu-elukan adalah kecenderungan manusia yang bisa menghambat petunjuk Allah. Petunjuk Allah meliputi ilmu, hikmah dan berkah.

Hati adalah tempat dimana Allah berhak hadir di dalamnya. Manusialah yang justru menghadirkan selain Allah di dalam hatinya.

Menempatkan diri sebagai manusia biasa adalah satu dari sekian panjang usaha lahir batin menata hati.

Itulah yang dicontohkan oleh orang-orang saleh dahulu : tidak menuntut keistimewaan atas nama keren dan wibawa.

Kiai Adlan Aly rahimahullah, seorang Kiai besar yang mempunyai ribuan santri justru setiap pagi dan sore hari menyapu sendiri lingkungan pesantrennya. Sampai-sampai suatu ketika pernah disuruh-suruh angkat koper dan karung oleh santri baru yang melihat Kiai Adlan tampak seperti orang biasa.

Apa yang sesungguhnya orang-orang saleh upayakan itu adalah untuk menetralisir atau menenangkan energi hati yang sewaktu-waktu bisa menyeret manusia pada kesombongan.

Imam Ghazali pernah berkata, "Tidak ada kemampuan yang lebih berat, lebih besar daripada kemampuan mengendalikan hatiku sendiri."

Sebab, mustahil hati mampu menampung dua kecenderungan atau lebih, kecuali manusia yang sedang mempersiapkan kehancuran dirinya sendiri.

Oleh KH.  Abdul Mun'im Muzani

TIGA MOBIL SAKSI KAROMAH KH. ADLAN ALY CUKIR

Usai Rejoso, pusat terekat Qodiriyah dan Naqsabandiah di Jombang, berpindah ke Cukir. Perkembangan itu berpusat di Pesantren Putri Walisongo yang didirikan oleh seorang kiai kharismatik dan alim, yaitu KH. Adlan Aly. Santri sekaligus menantu keponakan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari itu juga dikenal sebagai kiai ahli Al Quran, banyak kiai dan ulama yang pernah belajar kepada kiai asal Maskumambang Gresik itu.

Sebagai mana ahli terekat dan mursyid, KH. Adlan Aly memiliki banyak karomah yg khariqul ‘adah (tidak biasa). Salah satunya, beberapa kali ditunjukkan ketika beliau sedang melakukan perjanan.

Dalam buku “Karomah Sang Wali, Biografi KH. Adlan Aly”, Anang Firdaus, penulis buku tersebut, menjelaskan setidaknya tiga peristiwa yg menunjukkan karomah Mbah Delan (panggilan akrab beliau) yg berhubungan dgn kendaraan, dalam hal ini mobil. Menariknya dari ketiga mobil tersebut bukan milik Kiai Adlan, melainkan milik orang lain.

Mobil Cerola milik H. Faqih, juragan sate

Pertama, mobil milik H. Faqih, salah satu tetangga dekat beliau di Cukir yang hingga sekarang memiliki warung sate yang cukup terkenal di Jombang. Mobil Cerola merah itu pernah dipakai Kiai Adlan untuk bepergian ke Jawa Tengah dalam rangka menghadiri suatu acara. Yg bertindak sebagai sopir saat itu seorang bernama Ma’mun, putra Pak Tohir.

Selesai acara, Kiai Adlan langsung pulang, padahal saat itu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Tiba2 di tengah jalan, mobil itu kehabisan bensin. Praktis, sang sopir khawatir, karena pada jam selarut itu, tidak ada yg berjualan bensin eceran, sedangkan kondisinya jauh dari SPBU. Sang sopir lapor kepada Kiai Adlan, “Mbah Yai, bensinnya habis. Lalu beli di mana? Kalau sudah jam sekian, tidak ada penjual bensin yg buka, Yai”.

Mendengar itu, Kiai Adlan pun keluar dari mobil dan berjalan kaki. Di jalan beliau menemukan pedagang degan (kelapa muda). Lalu beliau membeli dua plastik, yg satu diberikan sopir untuk diminum, sedangkan satunya ditaruh di dekat mesin mobil. Setelah itu, Kiai Adlan berkata, “Ya sudah, ayo naik”. Tak disangka, ternyata bensin mobil itu menjadi full. Perjalanan dapat dilanjutkan dan sampai di rumah dgn selamat.

Mobil sedan milik KH. Yusuf Hasyim

Kedua, mobil sedan , milik KH. M. Yusuf Hasyim atau Pak Ud yg saat itu menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng. Kiai Adlan meminjam mobil itu untuk menghadiri acara di Jawa Tengah. Saat perjalanan pulang di daerah Mantingan, oli mesinnya habis. Sang sopir yg bernama Pak Bari melaporkan kepada Kiai Adlan terkait hal itu.

Lalu, Kiai Adlan menjawab, “Teruskan saja tidak apa2”. Sontak membuat Pak Bari bingung, oli habis malah diminta meneruskan perjalanan. Ternyata, walau tanpa oli, mobil tetap bisa berjalan sampai rumah.

Mobil milik Pesantren Tebuireng

Mobil ketiga yg menjadi saksi karomah Sang Wali Cukir, yaitu mobil milik Pesantren Tebuireng pada zaman itu.  Saat itu Nyai Halimah, istri kedua Kiai Adlan, masih sugeng (hidup). Seorang bernama Aji pernah diminta mengantar Kiai Adlan Aly menghadiri undangan ke Bojonegoro menggunakan mobil milik Pesantren Tebuireng. Saat musim hujan, di tengah perjalanan mobil yg dikendarai Kiai Adlan dan Aji terperosok ke lubang jalan dan mogok alias tidak bisa nyala. Kiai Adlan bertanya, “Ada apa?”. “Mobilnya tidak bisa jalan, Yai,” jawab Aji. Kiai Adlan malah menjawab, “Ya sudah kamu di atas saja, saya turun”.

Sang Sopir mengira Kiai Adlan akan mendorong mobilnya. Ternyata bukan. Kiai Adlan Aly tidak mendorong mobil itu, tetapi justru mengangkat mobil tersebut, sehingga bagian yang masuk ke lubang bisa keluar. Perjalanan bisa dilanjutkan dan menyisakan keheranan di hati Aji.

Begitulah sedikit ulasan tentang karomah Sang Wali Cukir, Mursyid Terekat Qodiriyah wa Naqsabadiyah itu. Masih banyak karomah dan cerita unik tentang kiai yg juga semasa hidupnya memiliki sejumlah usaha di bidang perdagangan dan pertanian itu.

Semoga bermanfaat.
Wallahu a’lam.

*Disarikan dari buku “Karomah Sang Wali, Biografi KH. Adlan Aly” karya Anang Firdaus, diterbitkan Pustaka Tebuireng

"Karomah Mbah Yai Adlan Aly Tak Tersentuh Air Hujan"

“Hanya Ngaji Taqrib Saja!”
Itulah jawaban singkat Kikai Adlan Aly saat diwawancarai oleh peneliti dari Leknas dan UGM. Sewaktu diajukan pertanyaan, “ngaji apa kepada hadlratusy syekh ?” Padahal, siapapun tahu, selain hafal al-qur’an alim berbagai khazanah disiplin keilmuan.Tentunya, sang peneliti dibuat bingung bukan alang kepalang, lantaran tak sebagaimana lainnya yang cenderung justru memamerkan kepintarannya saat diminta pendapatnya.

Itulah, sesisi potret Yai Adlan. Selalu menyembunyikan kelebihan dirinya di hadapan orang lain. Senantiasa menganggap dirinya “biasa biasa” saja, tak ubahnya yang lainnya. Menyebut dirinya al- haqir dan al-dhaif tak jemu jemunya ditunjukkan kepada publik. Pernah mendengar Yai Adlan bertaushiyah ? Acapkali sekedar berdoa, narasi dan tutur katanya lebih panjang hanya saat menjadi qari’ Taqrib setiap ramadhan di serambi masjid pesantren Tebuireng.

Dan, hujan-pun turun begitu derasnya di langit Tebuireng. Entah alasan apa yang mendorongnya mesti bergegas kembali ke dalemnya di Tjoekir selepas membaca Taqrib pada khataman kitab ramadha-an di serambi masjid pesantren Tebuireng.Tak menunggu hujan reda. Sebagaimana kebiasaannya, Yai Adlan selalu berjalan kaki Tjoekir-Tebuireng. Masya Allah, saya di antara saksinya, sekujur tubuh Yai Adlan tak tersentuh oleh air hujan. Seolah hujan itu menghindarinya.

Lazimnya, memanglah setiap bacaan Taqrib sampai kepada bagian shalat istisqa’, kendati bukan musim hujan, tiba tiba langit berselimut mendung dan tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Dan, kejadian itu berulang di setiap tahunnya. Bisa dimengerti, bila lahir biografi Yai Adlan dalam kemasan “Karomah dan Waliyullah”.

"Bensin Ajaib Mbah adlan"

Usai Rejoso, pusat terekat Qodiriyah dan Naqsabandiah di Jombang, berpindah ke Cukir. Perkembangan itu berpusat di Pesantren Putri Walisongo yang didirikan oleh seorang kiai kharismatik dan alim, yaitu KH. Adlan Aly.

Santri sekaligus menantu keponakan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari itu juga dikenal sebagai kiai ahli Al Quran, banyak kiai dan ulama yang pernah belajar kepada kiai asal Maskumambang Gresik itu.

Sebagai mana ahli terekat dan mursyid, KH. Adlan Aly memiliki banyak karomah yang khariqul ‘adah (tidak biasa). Salah satunya, beberapa kali ditunjukkan ketika beliau sedang melakukan perjanan.

Suatu ketika selesai acara di daerah Jawa Tengah, Kiai Adlan langsung pulang, padahal saat itu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Tiba-tiba di tengah jalan, mobil (mobil H Faqih penjual sate jombang) itu kehabisan bensin. Praktis, sang sopir (ma'mun putra pak tohir) khawatir, karena pada jam selarut itu, tidak ada yang berjualan bensin eceran, sedangkan kondisinya jauh dari SPBU. Sang sopir lapor kepada Kiai Adlan,

“Mbah Yai, bensinnya habis. Lalu beli di mana? Kalau sudah jam sekian, tidak ada penjual bensin yang buka, Yai”.

Mendengar itu, Kiai Adlan pun keluar dari mobil dan berjalan kaki. Di jalan beliau menemukan pedagang degan (kelapa muda). Lalu beliau membeli dua plastik, yang satu diberikan sopir untuk diminum, sedangkan satunya ditaruh di dekat mesin mobil. Setelah itu, Kiai Adlan berkata,

“Ya sudah, ayo naik”.

Tak disangka, ternyata bensin mobil itu menjadi full. Perjalanan dapat dilanjutkan dan sampai di rumah dengan selamat.

Sumber:
buku “Karomah Sang Wali, Biografi KH. Adlan Aly” karya Anang Firdaus, diterbitkan Pustaka Tebuireng,

"Kyai Adlan Aly Tak Pernah Melihat Langit"

Sosok kiai yang sabar dan istiqamah ini sangat terkenang betul di benak para santri. Ketika mereka ditanya tentang “Bagaimana sosok Kiai Adlan menurut Panjenengan?” maka berbagai komentar yang hampir tak serupa senantiasa kami dengar. Ada yang menuturkan, "Beliau itu kiai yang tidak hanya hafal isi al-Quran tetapi juga menjalankannya”, “Kiai Adlan adalah kuncinya Kiai Hamid Pasuruan. Jadi kalau ingin mudah bertemu dengan Kiai Hamid harus sowan dulu ke Kiai Adlan.”
.
Bahkan Prof. Dr. KH. Thalhah Hasan menambahkan; “Di Tebuireng itu ada dua penghuni surga: Kiai Idris Kamali dan Kiai Adlan Aly. Beliau berdua sama-sama alim, wara', zuhud…"
.
Ada lagi kesan para santri yang membuat kami terkesan unik, “Kiai Adlan Aly itu kiai yang tidak pernah melihat langit.” Istilah ini menunjukkan saking tawadhu’nya Kiai Adlan. Ketika berjalan tidak pernah mengangkat kepala ke atas. Beliau senantiasa menunduk sopan.
.
Di Tebuireng, setiap bulan Ramadhan, Kiai Adlan membacakan kitab matan at-Taqrib. Tepat di posisi yang dulu digunakan Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari mengajar, Kiai Adlam duduk di sana, sedangkan para santri mengitarinya sebagai halaqah ilmiah. Dalam pengajian ini ada karomah Kiai Adlan yang tampak di setiap tahunnya. Ketika pembahasan tepat pada bab Istisqa’ (ritual memohon hujan), anehnya langit Tebuireng menjadi gelap. Dan tiba-tiba saja, bulan Ramadhan yang biasanya kemarau turun hujan deras mengguyur lahan pondok.
.
Langit pun malu oleh Kiai Adlan. Ia tidak pernah dipandang oleh Kiai Adlan. Ketika ia disindir lewat pembacaan bab istisqa’ maka, ia langung menangis menurunkan air mata hujannya.
.
K.H. Adlan Aly wafat pada tanggal 17 Rabiul Awal 1411 H/6 Oktober 1990 M dalam usia 90 tahun. Ulama kharismatik ini kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Tebuireng, Jombang.

"Rahasia Kiai Adlan Aly yang Tidak Mau Pamer Keilmuan"

Tidak salah orang yang pamer kepandaian, pamer kecerdasan, demi kepentingan agama dan kebutuhan masyarakat. Ada kemanfaatan yang lebih besar bahwa jika tidak seperti itu khawatir masyarakat akan salah jalan dan mengikuti orang-orang yang salah petunjuk, lebih-lebih soal agama. Ini soal pertimbangan masing-masing, yang tentu tujuannya harus baik dan mulia.

Di kesempatan lain, ada juga yang tidak suka pamer kepandaian. Ini juga tidak salah. Karena itu pilihan hidup dan bagian dari kehidupan. Berikut saya ceritakan kiai yang tidak suka pamer kepandaian. Saya kutip dari sumber buku kiai nyentrik membela pemerintah yang saya baca ketika di bus perjalanan malang Madura kemarin dan juga media lain.

Sebut saja namanya kiai Adlan Aly Jombang, beliau adalah murid Kiai Hasyim Asy’ari yang sejak dulu memang terkenal dengan kealimannya, ketawaduannya, dari raut wajahnya terpancar penuh ketulusan. Beliau juga senang bergurau yang cerdas, substantif dan halus, humornya tidak menyakiti orang lain.

Beliau juga sosok yang sangat disiplin, tepat waktu, memilki kemampuan yang bisa dikeluarkan kapan saja ketika terdesak. Beliau juga termasuk sosok yang tidak suka pamer kepandaian buktinya:

Pernah suatu ketika ada seorang peneliti dari leknas UGM Yogyakarta datang ke rumah beliau, tentu peneliti itu akan melakukan tugasnya sebagai peneliti, tidak sedang mau bercanda atau apa-apa, iseng-iseng. Tidak.

Memulai pertanyaan, peneliti bertanya, “ngapunten (mohon maaf) kiai, dulu ketika belajar ke Mbah Hasyim Asy’ari apa saja yang panjenengan pelajari ? Tanya seorang peneliti dengan wajah yang serius dan penuh keyakinan

“Cuma kitab taqrib saja” jawab kiai Adlan dengan senyumnya yang menunjukkan kerendahan hatinya.

Nah, tentu saja peneliti itu kaget’, “kok cuma taqrib saja, kan kitab taqrib itu kitab dasar pesantren, kecil lagi” batinnya. Karena tidak yakin dengan kemasyhuran, kealiman, dan kemampuan-kemampuan yang sering diceritakan banyak orang , sang peneliti tanya lagi:

” Masak iya kiai njenengan cuma belajar kitab taqrib saja, apa tidak ada kitab yang lain ?” Tambahnya sambil menunggu jawaban yang pasti dan meyakinkan.

“Ada, banyak juga yang lain yang saya pelajari, cuma yang saya ingat kitab taqrib saja, yang lain sudah lupa,” jawab Kiai Aly dengan sedikit mengelak dan menghindar dari rasa pamer.

Itulah kenapa saya katakan di atas kadang tidak pamer kepandaian itu bagian pilihan hidup. Mereka punya pertimbangan sendiri untuk bisa bermanfaat untuk agama dan bangsa. Tidak terkecuali pilihan yang diambil oleh kiai Adlan Aly ini.

Di beberapa literatur lain, kenapa kiai Adlan Aly cuma ingat kitab taqrib saja. Tidak heran dari beberapa kesaksian santri-santrinya tiap kali ngaji kitab Fathul Qorib-Taqrib dan masuk bab istisqo’ (shalat meminta hujan) ketika sudah dipraktikkan pasti langsung turun hujan, padahal sebelumnya cuaca panas. Dan kejadian terjadi berulang-ulang kali dan langsung disaksikan santri-santrinya.

Karenanya imam Nawawi menyebutkan dalam kitab Maraqil Ubudiyah bahwa dua hal penting yang harus diperhatikan seseorang dalam menunjukkan/memamerkan kepandaian atau apa saja. Satu, Mazdmumun (pamer yang dicela). Hal ini tentu memerkan prestasi bermaksud untuk menyombongkan diri, seolah-olah hanya dirinya lah yang punya prestasi seperti itu. Dan hal ini cenderung meremehkan orang lain dan mendiskreditkan orang lain

Dua, Mahbubun (pamer yang disenangi dan dianjurkan). Memamerkan prestasi, kepandaian atau sebuah kebaikan dan keberhasilan itu justru sangat dianjurkan oleh agama dengan syarat ada kemaslahatan terhadap agama.

Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa yang dimaksud kemaslahatan agama adalah di dalamnya mengandung unsur amar ma’ruf nahi munkar, mengandung nasehat atau petunujuk untuk sebuah kemaslahatan.

"IJAZAH DOA KH. ADLAN ALY UNTUK PARA PENUNTUT ILMU"

Setiap pondok pesantren memiliki sesuatu yg menjadi ciri khas dari pondok pesantrennya masing-masing. Ciri khas ini akan melekat pada diri para santrinya. Berawal dari pendiri sebuah pondok pesantren, pengasuh, dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Begitu pula dalam hal amalan atau wiridan yg diberikan seorang kiai atau ibu nyai pengasuh pondok pesantren secara turun temurun kepada santrinya. Terkadang amalan yg diwariskan oleh Kyai atau Nyai pesantren tersebut merupakan amalan yg diberikan gurunya saat beliau masih menjadi santri di pondok pesantren terdahulu.

Seperti halnya amalan doa yg diberikan oleh muassis Pondok Pesantren Puteri Walisongo pertama, KH. Adlan Aly. Beliau mewariskan amalan berupa doa untuk mencerdaskan akal dan doa untuk menghafal al-Quran.

Doa Mencerdaskan Akal

Doa ini diambil dari QS. al-Anbiyaa ayat 79, dengan mengamalkan doa ini diharapkan dapat mencerdaskan akal orang yg membaca dan mengamalkannya, sebagai berikut:

فَفَهّمْنَهاَ سُلَيْمنُ وَ كُلاًّ اتَيْناَ حُكْماً وَّعِلْماً وَّ سَخَّرْ ناَ مَعَ دَاوُدَ الْجِباَلَ يُسَبِّحْنَ وَألطَّيْر وَ كُنَّأ فَعِلِيْنَ

“Maka Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yg lebih tepat), dan kepada masing2, Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung2 dan burung2, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yg melakukannya.”

Doa ini di lafadzkan sebelum belajar dan setelahnya, bisa juga dibaca setelah sholat Magrib. Diharapkan dengan membaca ayat ini Allah Swt. memberikan pemahaman seperti apa yang Allah Swt. berikan kepada Nabi Sulaiman serta dapat memecahkan problematika kehidupan.

Doa untuk Penghafal Al Quran

Berikutnya adalah doa untuk Penghafal al-Quran. Doa ini dilafadzkan sebelum menghafal ayat al-Quran, diharapkan setelah membaca doa bisa diterangkan hatinya dan dilancarkan lisannya serta dapat mengamalkan kandungan ayat yg dihafalkan.

اَللَّهُمَّ نَوِّرْبِكِتاَبِكَ بَصَرى وَاَطْلِقْ بِهِ لِسَانِى وَاشْرَحْ بِهِ صَدْرِى واسْتَعْمِلْ بِهِ بَدَ نِى بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ فَاِ نَّهُ لاَ حَوْلَ وَ لاَقٌوَّةَ اِلاَّ بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

“Yaa Allah terangilah dgn Kitab Suci-Mu terhadap mataku, lancarkanlah lisanku dgnnya, lapangkanlah dadaku (hatiku) dengannya, jadikan badanku (diriku) mengamalkan isinya dengan pertolongan daya dan kekuatan-Mu. Sesungguhnya tidak ada daya dan  kekuatan kecuali atas pertolongan Allah Swt. Yang Maha Luhur dan Agung”.

Wallahu’alam.....

Saturday, September 26, 2020

KISAH WANITA CANTIK DAN SI PANDAI BESI.

KISAH WANITA CANTIK DAN SI PANDAI BESI.

Sebagian Ulama menceritakan:

Ada seorang lelaki pandai besi. Dia mampu memasukkan tangannya pada api dan mengeluarkan besi yang menyala-nyala, namun dia tidak merasakan panasnya api.

Lalu dia didatangi seorang lelaki untuk membuktikan berita itu. Setelah melihat dan menyatakan apa yang didengarnya, lalu lelaki itu menunggu hingga pandai besi itu merampungkan pekerjaannya. Setelah selesai, ia terus mengucapkan salam dan pandai besi itu membalasnya.

“Aku ingin menjadi tamu engkau pada malam ini,” kata lelaki itu.

“Dengan senang hati dan penuh kehormatan,” jawab pandai besi.

Kemudian lelaki itu diajak pulang ke rumah pandai besi, ia dijamu dengan makanan khas sore hari dan bermalam bersama si pandai besi. Ternyata, dalam penelusurannya, si pandai besi tidak beribadah kecuali mendirikan shalat fardhu dan tidur hingga subuh.

“Mungkin si pandai besi itu menutupi ihwalnya terhadapku pada malam ini,” gumam lelaki itu dalam hatinya.

Lelaki itu lalu bermalam satu malam lagi. Ternyata pandai besi itu masih seperti biasa, tidak menambah ibadah sama sekali kecuali mendirikan shalat fardhu.

Melihat hal demikian, lelaki tersebut akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, “Wahai saudaraku, aku telah mendengar bahwa engkau diberi kemuliaan oleh Allah dan aku pun melihat sendiri kemuliaan itu. Namun aku merenung, karena tidak melihat banyaknya amal yang engkau lakukan. Engkau tidak beramal selain shalat fardhu. Dari mana engkau memperoleh kemuliaan seperti itu (memegang besi dibakar tidak merasakan panas)?”

Akhirnya si pandai besi tersebut menjawab, “Wahai saudaraku, aku ini mengalami cerita yang aneh dan perkara yang jarang terjadi. Ceritanya begini:

Aku mempunyai tetangga wanita cantik, aku pun sangat mencintainya. Berkali-kali tidak berhasil mendapatkan wanita itu, karena dia menjaga dirinya dengan memelihara kehormatan diri.

Lalu pada suatu masa, timbul musim paceklik (kesulitan makanan) yang mana seluruh orang merasa lesu. Saat aku duduk di rumah. Tiba-tiba ada seseorang mengetuk-ketuk pintu. Aku pun keluar sambil berkata, “Siapa itu?”.

Tiba-tiba wanita cantik itu berdiri di pintu seraya berkata, “Wahai saudaraku, aku sangat lapar. Apakah anda dapat memberi makan padaku karena Allah?”

“Aku tidak dapat memberikan makanan padamu, kecuali jika engkau menyerahkan dirimu padaku. Apakah engkau tidak tahu apa yang ada dalam hatiku? Apakah kamu tidak tahu kalau aku mencintaimu?” jawabku.

“Aku memilih mati daripada durhaka kepada Allah.” sahut wanita itu. Akhirnya ia pun kembali ke rumahnya.

Setelah dua hari berlalu, wanita itu kembali kepadaku dan mengatakan kepadaku seperti dahulu. Lalu aku jawab seperti yang lalu. Kemudian wanita itu masuk dan duduk di dalam rumahku dalam kondisi kesehatan yang sangat buruk. Aku pun meletakkan makanan di depannya. Melihat apa yang aku lakukan, maka matanya mencucurkan air mata seraya berkata, “Apa makanan ini karena Allah?”

“Tidak, syaratnya engkau harus menyerahkan dirimu kepadaku.” jawabku.

Wanita itu lalu berdiri dan sama sekali tidak mau makan, ia kemudian pulang menuju rumahnya.

Selang dua hari kemudian, datang kembali mengetuk pintu. Aku keluar sedangkan ia berdiri di depan pintu. Suaranya terputus-putus karena kondisi yang kelaparan dan punggungnya telah lemah, seraya berkata, “Wahai saudaraku, aku telah berupaya tidak bisa datang kepada selain engkau. Apakah engkau dapat memberi makanan kepadaku karena Allah?”.

“Iya, jika kamu mau menyerahkan dirimu padaku.” jawabku.

Wanita itu akhirnya mau memasuki rumahku dan duduk di dalamnya. Ketika itu, aku tidak mempunyai makanan. Saya berdiri, menyalakan api untuk memasakkan makanan buat wanita itu. Setelah makanan saya letakkan di hadapannya, belas kasihan Allah menemuiku.

“Celaka engkau hai diriku ini, wanita ini kurang akalnya, kurang agamanya, tidak memakan yang bukan miliknya. Dia berulang kali datang ke rumahmu karena sakit kelaparan, tetapi dirimu tidak mau menghentikan perbuatan maksiat kepada Allah Ta’ala. Ya Allah, aku bertaubat pada-Mu dari perbuatan dosa yang kulakukan. Aku tidak akan mendekati wanita itu selama-lamanya,” gumamku dalam hati.

Kemudian aku menjumpai wanita itu, tetapi ia tetap tidak mau makan.

“Makanlah, tak perlu takut. Sebab makanan ini aku berikan karena Allah” kataku.

Setelah wanita itu mendengar ucapanku, lalu ia mengangkat kepalanya ke langit seraya berdo’a, “Ya Allah, jika lelaki itu benar ucapannya, semoga Engkau mengharamkan api untuk orang ini di dunia dan akhirat.”

Wanita itu lalu kubiarkan untuk melanjutkan makan. Karena pada saat itu musim penghujan, aku hendak memadamkan api. Ternyata kakiku menginjak bara api, tetapi tidak terasa panas dan tidak membakar kakiku.

Ketika aku menemui wanita yang sedang makan, rasa senang terpancar dari wajahnya. Aku pun berkata, “Bergembiralah engkau karena Allah telah mengabulkan do’amu”.

Wanita itu tetap melahap suapan makanan dari tangannya. Setelah selesai memakan semua makanan, ia bersujud syukur karena Allah dengan berdo’a, “Ya Allah, Engkau telah berkenan memperlihatkan kepadaku apa yang menjadi maksudku kepada lelaki itu. Semoga Engkau berkenan mencabut nyawaku saat ini.”

Maka Allah mencabut nyawa wanita itu dalam keadaan bersujud. Inilah ceritaku wahai saudaraku, Allah Maha Mengetahui”.

______________

Disarikan dari karya Syekh Nawawi Banten yang berjudul Uqud al-Lujain, hal. 22, cet. Al-Haromain.

Monday, September 2, 2019

Asal Mula Gelar 'Raja Para Wali' untuk Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Kitab Al-Fawaid al-Mukhtarah (Yaman: Dar al-Ilmi wa ad-Da`wah, 2018) karya Habib Ali Hasan Baharun merupakan bunga rampai dari perkataan-perkataan gurunya, yaitu Habib Zain bin Ibrahim bin Smith. Kitab tersebut berisi tentang wejangan-wejangan para ulama, wali, habaib, dan termasuk kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam perjalanannya memperoleh gelar sulthanul auliya (raja dari seluruh para wali).

Di waktu menimba ilmu, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berteman dengan dua orang yang bisa dibilang cukup cerdas dan pandai yaitu Ibnu Saqa dan Ibnu Abi `Asrun. Pertemanan itu berlanjut hingga mereka bertiga ingin mengunjungi seorang wali berpangkat wali al-ghouts, rumah wali tersebut cukup jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Mungkin lebih tepatnya bisa dikatakan pelosok banget. Tapi, keinginan mereka untuk bertemu sang wali tidak terhalang walau jarak yang demikian jauh dan sudah barang tentu kunjungan mereka tak lepas dari maksud dan tujuan.

Dalam perjalanan, mereka saling bertanya satu sama lain terkait tujuan dan niat masing-masing. Dengan polosnya Ibnu Abi `Usrun memulai pertanyaan kepada Ibnu Saqa.

“Hei Saqa, kamu mau ngapain bertemu wali itu?” 

“Aku akan mengajukan sebuah pertanyaan yang begitu sulit, hingga ia bingung dan tidak mampu untuk menjawabnya, ha.. ha.. Aku ini kan orang cerdas, jadi, sudah sepatutnya menguji kedalaman ilmu seorang wali,” jawabnya. 

Tak menunggu lama Ibnu Abi `Asrun pun mengatakan maksudnya. 

“Kalau aku ingin bertanya tentang sesuatu yang aku yakin dia tidak mampu untuk menjawabnya,” tuturnya.

Pada hakikatnya tujuan dari keduanya sama yakni ingin menguji ketinggian ilmu dari seorang wali. Mungkin karena Syekh Abdul Qadir Al-Jailani tidak segera mengutarakan niatnya, akhirnya mereka berdua bertanya.

“Qadir, kamu mau mengajukan pertanyaan seperti kami atau ada hal lain?” 

“Saya tidak mau bertanya apa-apa?” jawabnya. 

Lalu mereka pun bertanya lagi. 

“Lho, terus kamu ini mau apa? Hanya mau mengikuti kami?” 

“Saya itu gak punya pertanyaan yang mau diajukan. Saya hanya ingin sowan saja dan mengharap berkah darinya. Itu saja cukup kok, karena orang seperti ini biasanya hanya disibukkan dengan kekasihnya yaitu Allah SWT,” jelas Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Dari dialog mereka, kita sudah bisa melihat sifat dan sikap mereka terhadap kekasih Allah SWT. Kesombongan dan rendah diri manusia, juga bisa diukur dengan sebuah perkataan. Kesombongan terhadap orang lain terjadi ketika kita memposisikan diri kita lebih tinggi atau lebih hebat daripada orang lain. Sementara, orang yang rendah hati tetap memposisikan dirinya sebagai penerima anugrah ilahi yang tidak sempurna dan lemah. Dia merasa memperoleh segala sesuatunya karena karunia Allah bukan karena kegagahan dan kehebatannya.

Sesampainya di kediaman wali al-ghouts, mereka mengetuk pintu rumahnya. Tapi, sang wali tak kunjung membuka pintu, malahan ia memperlambat jalannya. Kemudian, wali tersebut keluar dalam keadaan marah seraya bertanya. 

“Siapa di antara kalian yang bernama Ibnu Saqa?” 

“Saya, wahai Syekh,” jawab Ibnu Saqa. 

Tak banyak bicara, wali itu pun langsung menebak pertanyaan Ibnu Saqa dan langsung memberikan jawabannya secara detail, begitu pula dengan pertanyaan dan jawaban Ibnu Abi `Asrun dan langsung mengusir mereka berdua dari hadapannya. Sebelum mereka berdua beranjak dari kediamannya, wali itu  meng-kasyaf (membaca lewat batin) mereka berdua dengan karamahnya. 

“Hai Ibnu Saqa, dalam pandangan batinku, aku melihat ada api kekufuran yang menyala dalam tulang rusukmu. Dan kamu Ibnu Abi `Asrun, sesungguhnya aku melihat dunia berjatuhan menimpa tubuhmu.”

Sampai pada giliran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, wali al-ghouts hanya memandang sekujur tubuhnya, dan tak lama kemudian, ia pun berkata.

“Wahai anakku, Abdul Qadir, aku tahu tujuan kamu ke sini hanya ingin berkah dariku, dan insyaallah tujuan baikmu akan tercapai.” 

Sebelum menyuruh pergi Abdul Qadir, ia berkata, “Aku melihat kamu berkata padaku, ‘kakiku ini berada di leher seluruh para wali di dunia ini’, sekarang pergilah anakku!”

Selang beberapa hari dari kejadian aneh itu, Ibnu Saqa dipanggil oleh raja di negerinya dan diperintahkan untuk pergi menemui ulama Nasrani agar ia berdebat dengan para ulama pentolan-pentolan Nasrani. Dalam perjalanan menuju ulama Nasrani, ia bertemu dengan seorang gadis cantik keturunan Nasrani dan jatuh cinta kepadanya. Namun, hubungan cinta mereka berdua tidak direstui. Tanpa pikir panjang akhirnya dia menemui ayahnya dan menyampakan bahwa dia sungguh mencintainya dan siap berkorban apa pun. 

Akhirnya terbukti perkataan wali al-ghouts bahwa ada api yang menyala dalam tulang rusuknya dan benar, ia telah menggadaikan agamanya dengan agama Nasrani. 

Sedangkan Ibnu Abi `Asrun, diberi jabatan oleh raja di negerinya untuk mengurusi harta wakaf dan sedekah dan jabatan itu datang terus menerus dari seluruh penjuru kota tersebut. Kemudian dia sadar bahwa ini merupakan doa dari wali al-ghouts. 

Sementara Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mendapatkan maqam tertinggi dari Allah SWT berkat sikap rendah dirinya kepada seorang wali dan beliau diangkat menjadi raja dari seluruh para wali di muka bumi. 

Pada saat mengajar muridnya, dia pun berkata seperti apa yang dikatakan wali al-ghouts, “kakiku ini berada di atas lehernya seluruh para wali,” dan perkataannya didengar oleh seluruh wali di penjuru dunia, lalu mereka berikrar “sami`na wa atha`na.”

Ada sedikit hikmah yang bisa kita ambil pelajaran dari kejadian ini, bahwa siapa pun kita tidaklah pantas mengedepankan kelebihan karena di atas langit masih ada langit. Sikap rendah diri haruslah menjadi prioritas utama setiap manusia, mengingat ilmu tidak lebih diutamakan daripada akhlak. Sebagaimana perkataan Sayyid Muhammad Alwi Al- Maliki, “Al-Adab qabla al-`Ilmi (adab lebih didahulukan daripada ilmu).” Wallahu a’lamu bish-shawab.

 

 

Hilmi Ridho, santri Ma`had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo
Jl. KHR. Syamsul Arifin, Sukorejo, Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur Email: hilmikamila241@gmail.com

Thursday, August 29, 2019

Gitar dan wali

Suatu hari, al-Habib Saggaf bin Abu Bakar Assegaf bermain gitar gambus dengan sya'ir-sya'ir arabnya. Tiba-tiba al-Quthub al-Fard al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf (Gresik) Sang Abah menegur beliau sang anak.
"Yek, kapan kau bermunajat kepada Allah kalau kau main gitar terus?"

Seketika itu juga Sang Abah menyimpan gitar gambus Waladnya tersebut dilemarinya. Semenjak itu al-Habib Saggaf tidak pernah bermain gitar lagi. Namun kemudian selang satu bulan, ketika al-Quthb al-Fard al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf sedang Qiyamullail (sholat malam), beliau mendengar suara tangisan yg sangat memilukan hati, kemudian dicarinya suara tersebut. Ternyata suara itu dari dalam almari dimana gitar sang Putra yaitu al-Habib Saggaf disimpan, menangis tersedu-sedu.

Al Quthb Habib Abu Bakar Assegaf bertanya (tentunya hal ini bisa saja terjadi kalau Allah SWT menghendaki untuk membuktikan derajat kewalian beliau) :
"Wahai gitar, kenapa engkau menangis?"

Si Gitar menjawab:
"Wahai Habib, kenapa aku tidak boleh di ajak bersenandung memuji Allah dan Nabi-Nya bersama anakmu?"

Semenjak itu dan setelah peristiwa menangisnya gitar gambus milik al-Habib Saggaf sang Putra tercintanya, al-Habib Saggaf di persilahkan oleh sang Abah utuk bermain gitar gambus lagi. Dan dari beliaulah Musik Gambus dan Jalsah yg sangat Populer hingga sekarang ini yg sering kita dengarkan, dan para Yek (para habib muda) berdendang dalam Balutan Mahabbah ilAlloh wa Rasulihi.

Kuteringat juga kisah tentang rebana Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani saat didendangkan sambil thawaf di Ka'bah. Ketika diketahui pihak Askar kerajaan Saudi, Askar itupun menangkap beliau. Tapi anehnya rebana yg jatuh itu terbang sendiri mengitari Ka'bah.

اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Gitar dan wali

Suatu hari, al-Habib Saggaf bin Abu Bakar Assegaf bermain gitar gambus dengan sya'ir-sya'ir arabnya. Tiba-tiba al-Quthub al-Fard al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf (Gresik) Sang Abah menegur beliau sang anak.
"Yek, kapan kau bermunajat kepada Allah kalau kau main gitar terus?"

Seketika itu juga Sang Abah menyimpan gitar gambus Waladnya tersebut dilemarinya. Semenjak itu al-Habib Saggaf tidak pernah bermain gitar lagi. Namun kemudian selang satu bulan, ketika al-Quthb al-Fard al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf sedang Qiyamullail (sholat malam), beliau mendengar suara tangisan yg sangat memilukan hati, kemudian dicarinya suara tersebut. Ternyata suara itu dari dalam almari dimana gitar sang Putra yaitu al-Habib Saggaf disimpan, menangis tersedu-sedu.

Al Quthb Habib Abu Bakar Assegaf bertanya (tentunya hal ini bisa saja terjadi kalau Allah SWT menghendaki untuk membuktikan derajat kewalian beliau) :
"Wahai gitar, kenapa engkau menangis?"

Si Gitar menjawab:
"Wahai Habib, kenapa aku tidak boleh di ajak bersenandung memuji Allah dan Nabi-Nya bersama anakmu?"

Semenjak itu dan setelah peristiwa menangisnya gitar gambus milik al-Habib Saggaf sang Putra tercintanya, al-Habib Saggaf di persilahkan oleh sang Abah utuk bermain gitar gambus lagi. Dan dari beliaulah Musik Gambus dan Jalsah yg sangat Populer hingga sekarang ini yg sering kita dengarkan, dan para Yek (para habib muda) berdendang dalam Balutan Mahabbah ilAlloh wa Rasulihi.

Kuteringat juga kisah tentang rebana Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani saat didendangkan sambil thawaf di Ka'bah. Ketika diketahui pihak Askar kerajaan Saudi, Askar itupun menangkap beliau. Tapi anehnya rebana yg jatuh itu terbang sendiri mengitari Ka'bah.

اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Friday, September 14, 2018

Kisah Habib Umar bin Thoha bin yahya Indramayu Mengimami Sholat Jamaah Di Jabal Qof

Kisah Habib Umar bin Thoha bin yahya Indramayu Mengimami Sholat Jamaah Di Jabal Qof.

Setiap menjelang masuknya bulan sya'ban Habib Umar selalu mengenakan pakaian yang sangat rapi setelah itu beliau pergi ke tepi pantai,dalam waktu beberapa detik beliau sudah menghilang dan beliau akan muncul kembali di tempat yang sama satu bulan kemudian.lantas kemanakah perginya beliau selama satu bulan itu? Menurut Maulana Habib Luthfi bin yahya selama satu bulan Habib Umar bin yahya berada di Jabal Qof ( gunung qof ) dan mengimami sholat jamaah bersama para Awliya di sana.dan selama satu bulan itu pula Habib Umar menjalankan puasa ramadhan di sana.karena selisih waktu antara jabal Qof dengan waktu di dunia ini adalah satu bulan.jadi jika di dunia ini masih tanggal 1 Sya'ban maka di Jabal Qof sudah masuk tanggal 1 Ramadhan,dan awal Ramadhan di dunia ini adalah awal Syawal ( idul fitri ) di Jabal Qof. Jadi ketika beliau kembali ke Indramayu,beliau sudah menjalankan puasa ramadhan di jabal qof.

Maulana Habib Luthfi juga menceritakan tentang salah seorang murid Habib Umar bin yahya Indramayu yang  di bawa ke kota madinah hanya dalam waktu satu detik.murid itu namanya adalah mbah darwo,saat itu ia sedang berada di pengimaman masjid Indramayu bersama Habib Umar. Ia di ajak pergi ke kota madinah oleh Habib Umar dengan perjalanan tempuh hanya satu detik dan menjalankan sholat jamaah di sana,setelah selesai sholat Habib Umar mengajak ia pulang kembali ke kampung halamannya di Indramayu namun mbah darwo lebih memilih menetap di madinah dan ia tinggal di sana selama 7 tahun.selama waktu itu pula ia menimba ilmu kepada para masyayih yang tinggal di Madinah sehingga sepulang dari sana dia menjadi orang yang alim.

Mbah darwo awalnya adalah seorang penjahat yang paling di takuti di desanya lantaran kesaktianya,ia di kenal menguasai berbagai macam ilmu hitam dan ilmu kekebalan.perjalanan taubatnya bermula ketika ia bertemu dengan salah seorang santri Habib Umar, singkat cerita ketika ia hendak menyatroni santri itu,si santri berteriak dengan menyebut nama Habib Umar seketika itu pula semua ilmu hitam yang di miliki mbah darwo lenyap dari dalam tubuhnya sehingga dia tidak bisa berbuat apa apa. Melihat keramat Habib Umar yang luar biasa itu akhirnya ia meminta kepada santri itu untuk di antarkan ke kediaman Habib Umar. Setibanya di sana ia menyatakan taubatan nasuha di hadapan Habib Umar dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatanya lagi.sejak saat itu ia menjadi pelayan Habib Umar yang setia.selain mbah darwo sebenarnya banyak murid murid Habib Umar yang menjadi Ulama besar di antaranya adalah sipitung ( pendekar legendaris dari betawi ) KH Muqoyyim ( Pendiri Pondok Pesantren Buntet ),KH Sholeh ( Pendiri Pondok Pesantren Benda Kerep ) selama 40 Tahun KH Sholeh Benda Kerep menjalankan sholat isya dan subuh berjamaah di belakang Habib Umar,dan masih banyak lagi murid murid beliau yang menjadi Ulama besar.

Melihat seorang wali jangan hanya memandang dari sisi keramatnya saja tapi lihatlah perjuangan dan pengorbananya serta peran sosialnya,keberadaan Beliau di dunia bukan hanya sebagai Himayah anil bala' ( penangkal turunnya bencana ) tetapi juga sebagi pengayom umat.sumbangsih beliau dalam mensejahterakan kaum fuqoro wal masakin sangatlah besar.beliau memiliki tanah yang luasnya mencapai ratusan hektar.dari hasil pertaniannya itu beliau gunakan untuk membantu fuqoro wal masakin.

Beliau juga menaruh perhatiaan yang sangat besar terhadap dunia pendidikan,beliau tidak senang apabila melihat para gus ( putra kyai ) yang tidak menyebarkan ilmunya,maka agar mereka tetap bisa menyebarkan ilmunya semua kebutuhan hariannya di tanggung oleh Habib Umar.
Habib Umar wafat pada tahun 1883 M

Di sampaikan oleh Maulana Habib Luthfi bin Yahya pada pengajian rutin bulan suci ramadhan di kediamanya tepatnya 27 Ramadhan 1434 H/Agustus 2013

Thursday, August 23, 2018

MBAH KHOLIL DAN SEGELAS AIR SUSU DI LAUT

MBAH KHOLIL DAN SEGELAS AIR SUSU DI LAUT

Syahdan, Mbah Kholil Bangkalan Madura memanggil tiga santrinya, Mbah Manab (kelak menjadi pendiri Lirboyo) dan dua orang santri lainnya. "Anu Cung, tolong sampean carikan air susu di laut."

Saling pandang sejenak, ketiganya menjawab kompak, "Enggih, Kiai..."

Setelah pamitan mereka langsung berangkat. Dengan bekal keyakinan bahwa dawuh guru walaupun kelihatan mustahil tetap harus dilaksanakan. Selama tiga hari tiga malam mencari di lautan, ternyata hasilnya nihil.

Di tengah keputusasaan ketiganya bermusyawarah. "Bagaimana ini?"

"Lha iya, kalau kita jawab tidak ada berarti kan sama saja mengatakan guru kita tidak tahu, bodoh?" "Seperti beli rokok di toko bangunan," jawab lainnya.

"Wah gini saja, bagaimana kalau kita jawab 'Kami belum menemukan, Kiai,'" kata yang ketiga. Yang akhirnya jawaban ini disetujui dua orang temannya.

Lalu ketiganya sowan kembali ke Mbah Kholil, dan mengatakan kalau belum menemukan.

"Oh gitu. Ayo kalian ikut saya," kata Mbah KH. Kholil singkat.

Kemudian beliau mengajak ke tepi laut. Mengeluarkan gelas yang dibawa dari rumah dan mengambil air laut dengan gelasnya. Aneh bin ajaib, ternyata air laut itu berubah menjadi susu! "Sekarang mintalah kepada Allah keinginan kalian, dengan lantaranku." Ucap Mbah Kholil.

Dua orang santri pertama meminta agar kaya raya. Sedangkan Mbah Manab meminta ilmu yang bermanfaat. Kelak keinginan mereka terkabul. Dua orang santri itu benar-benar kaya raya, namun kekayaannya habis berbarengan dengan meninggalnya. Sedangkan Mbah Manab bisa mendirikian Pondok Pesantren Lirboyo yang santrinya menyebar ke seluruh Nusantara.

Thursday, July 26, 2018

Kisah sowan nya Kyai Asrori Al Ishaqy kpd Shohibul Fadhilah wal Karomah Al Masyhur bi Waliyillah Simbah KH ABDUL HAMID UTSMAN, MAGELANG..

Kisah sowan nya Kyai Asrori Al Ishaqy kpd Shohibul Fadhilah wal Karomah Al Masyhur bi Waliyillah Simbah KH ABDUL HAMID UTSMAN, MAGELANG..

Mbah Yai Hamid adalah seorang Waliyullah besar di Magelang, banyak murid beliau dari kalangan Kyai maupun Habaib.. Salah satu nya adalah Waliyullah KH Hasan Asy'ari (Mbah Mangli)

Saat itu Romo Yai tiba" mengajak cak poyo utk sowan berangkat sowan ke Mbah Hamid,
Tiba di kajoran, Magelang, ndalem Mbah Hamid, pas ba'da subuh.. Sedangkan Mbah Hamid sendiri masih di masjid..
Saat itu ada seorang murid Kyai Hamid yg menemui beliau, dan berkata :
"Klo Mbah Hamid setelah ini datang, berarti beliau berkenan menerima tamu, klo sampai siang blm dtg berarti beliau tdk berkenan"..dan murid mempersilahkan Romo Yai utk istrhat di kamar, sdgkan cak poyo menunggu beliau di depan kamar sembari menunggu kedatangan Mbah Hamid..

Tak lama.. Sekitar jam 6 pagi, sontan Mbah Hamid datang bertanya siapa yg datang,
Di jawab santri.. "Kyai Asrori dari Surabaya"
Melihat Mbah Hamid datang cak poyo berdiri dan Salim sungkem kpd Mbah Hamid..
Ketika Mbah Hamid sdh datang, cak poyo ber inisiatif utk mengetuk pintu dan memberi tahu kpd Romo Yai akan kedatangan Kyai Hamid, dan ketika akan mengetuk pintu, tangan cak poyo di tahan sama Mbah Hamid, dan berkata : "biarkan, saya saja yg menunggu.. Kamu silahkan duduk! "
Bercengkrama lah beliau berdua, hingga tak terasa sampai hingga mau jam 9 lamanya Romo Yai tak kunjung keluar..

Terdengar suara pintu dari kamar, ternyata beliau Kyai Asrori keluar tepat jam 9..
Sama mbah Hamid, Romo Yai di ciumi dari ujung kepala sampai ke bawah, hingga sampai mau ke lutut di tahan sama Romo Yai.. Mbah Hamid memeluk Romo Yai sampai menangis, ckup lama beliau menangis, sampai dlm berpelukan itu, Mbah Hamid dawuh kpd cak poyo..
"SAYANGI DIA, JAGALAH DIA DAN BANTU PERJUANGANNYA, DI DUNIA INI HANYA ADA SATU ORANG SEPERTI DIA (KYAI ASRORI) "

Semoga Allah meridhoi beliau nya, mengangkat beliau berdua di Surga yg tinggi, dg para Guru dan dg RASULULLAH SAW..

#Sumber_dan_saksi_sejarah :
"Abah Chusnul Hadi" atau yg akrab di panggil cak poyo.. "

Thursday, July 5, 2018

Cara Mbah Kholil Bangkalan Carikan Jodoh Buat KH Hasyim Asy'ari

Cara Mbah Kholil Bangkalan Carikan Jodoh Buat KH Hasyim Asy'ari

Ketika Mbah Hasyim nyantri di Bangkalan beliau diberi tugas mengurusi kuda milik Mbah Kholil hingga kesempatan untuk ngajipun tidak banyak. Suatu hari Mbah Kholil kedatangan tamu dari Jawa dan kebetulan dia seorang Kyai namun santrinya tak sampai ratusan hanya puluhan saja. Setelah tamu ditanya keperluannya apa, lalu tamu tersebut mengutarakan keperluannya kepada Mbah Kholil.

Tamu: “Mbah Kholil, saya datang kesini kyai pertama niat silaturahmi dan yang kedua saya hendak menikahkan putri saya berhubung dia sudah dewasa kiranya patut saya carikan jodoh apalagi usia saya juga sudah ada di ambang pintu ajal yang tak lama lagi Allah pasti memanggil ruh saya Kyai. Jika ada Kyai, saya mohon petunjuk dan izin Kyai untk mencarikannya”.

Tanpa berfikir panjang Mbah Kholil langsung memanggil Mbah Hasyim yang ada di belakang rumah beliau yang sedang ngurusi kuda. Spontan Mbah Hasyim yang mendengar suara gurunya memanggil langsung lari tunggang langgang menghadap sang guru.
Mbah Hasyim: “Iya Kyai Njenengan manggil saya?”
Mbah Kholil: “Iya”.

Tanpa banyak tanya lagi Mbah Hasyim langsung diam merunduk, lalu Mbah Kholil berkata kepada tamu beliau. Ini dia calon menantumu yang akan meneruskan perjuanganmu. Tamu pun terkejut tegang dan tak habis fikir sambil bergumam dalam hatinya, masa iya sih santri mblasaken seperti ini akan mengurus pesantrenku? Saya tidak yakin bila anak ini banyak ilmunya.

Di sisi lain Mbah Hasyim pun terkejut pula sambil begumam dalam hatinya, masa iya ya Mbah Kholil tega akan menjodohkan saya dengan putrinya ulama’ yang begitu mulia dan santrinya banyak nan berwibawa serta alim?
Mbah Kholil lalu menyambung dawuhnya apa yang keduanya pikirkan.

Mbah Kholil: “Sudahlah kamu (tamu) pulang saja dan siapkan selamatannya di rumahmu. Tiga hari lagi aqad nikah dilaksanakan. Dan kamu Hasyim kembali ke belakang!”
Mbah Hasyim pun kembali ke tempat tugasnya dengan hati yang risau, pikiran kacau balau dan perasaan galau, sembari bertanya-tanya dalam hati kecilnya: “Bagaimana saya bisa menjalani ini semua, kenapa guru tidak memberi tau saya sebelumnya atau paling tidak menawarkannya?”

Gundah gulana bimbang ragu dan bingung terus berkecamuk dalam fikiran Mbah Hasyim. Di saat-saat seperti itulah Hidayah Allah ditampakkan. Mbah Hasyim teringat dimana suatu hari saat Mbah Kholil molang kitab beliau Dawuh sederhana saja : “Barang siapa di antara kalian yang ingin tercapai hajatnya maka bacalah sholawat nariyah sebanyak-banyaknya dan pada waktu ijabah sangat dianjurkan yaitu setelah separuh malam hingga menjelang subuh”.

Saat malam kira-kira jam 12 malam, Mbah Hasyim melaksanakan apa yang pernah diucapkan gurunya itu yaitu membaca Shalawat Nariyah sebanyak-banyaknya, dan menjelang Subuh beliau ketiduran dan hal ajaib dimana dalam mimpi tidur sekejapnya beliau bermimpi bertemu Imam al-Bukhari dan mengajarkan kepada beliau hadits shahih selama 40 tahun lamanya, lalu beliau terbangun serta terkejut tidak percaya atas mimpinya itu.

Di malam yang kedua terjadi lagi, dalam mimpinya beliau bertemu Imam as-Syafi’i dan mengajarkan kepada beliau kitab-kitab Fiqih dari bebagai Madzhab yaitu Imam as-Syafi’i sendiri Hanafi Maliki dan Hanbali selama 40 Tahun lamanya.

Di malam ke tiga beliau bermimpi bertemu dgn Imam al-Ghazali dan Junayd al-Baghdady yang mengajarkan beliau kitab-kitab tasawwuf selama 40 tahun. Setelah beliau bangun, beliau terkejut dan bertanya dalam pikirannya apa makna dari semua mimpi ini.

Keesokan harinya beliau hendak bertanya kepada gurunya namun tidak ada kesempatan karena beliau justru disuruh siap-siap berangkat ke rumah calon mertua untuk melangsungkan aqad nikah.

Lalu keduanya pun berangkat hingga ditempat tujuan langsung dilakukan Aqad Nikah selesai itu Mbah Kholil akan pulang ke Bangkalan. Sepatah katapun tak ada yang keluar terucap dari Mbah Kholil mulai dari Bangkalan hingga sampai di tempat akad pernikahan. Baru Mbah Kholil hendak pulang beliau dawuh kepada Mbah Hasyim lalu kepada mertuanya dan disaksikan banyak santri dan tamu undangan.
Kepada Mbah Kholil: “Hasyim Jangan Nyelewang-Nyeleweng ya! Ibadah ikut yang dicontohkan Nabi melalui ulama’nya dan ikutilah ulama’nya Allah agar selamat, Allah pasti bersamamu.” Kepada mertua Mbah Hasyim dikatakan: “Jangan ragu dengan Hasyim dia sudah ngaji 120 tahun lamanya.”

Baik Mbah Hasyim, mertua dan para tamu tidak begitu paham serta kebingungan menafsiri dawuh Mbah Kholil karena mereka pikir ini gak masuk akal kapan ngajinya sampai 120 tahun sementara usia beliau belum sampai 50 tahun. Lalu Mbah Kholilpun balik ke Bangkalan.

Esoknya Mbah Hasyim diuji mertuanya sembari ingin membuktikan se alim apakah menantunya yang dijagokan gurunya itu. Dan beliaupun dengan agak gugup berada di masjid sementara di tempat yang biasa mertuanya duduk sudah disediakan 2 kitab tafsir dan hadits, sudah disiapkan ujian membaca kitab.

Nah keajaiban pun dimulai tanpa harus menengok apalagi memegang kitabnya Mbah Hasyim langsung membaca dengan fasih dan hafal diluar kepala serta membahasnya laiknya Masyayikh yang sudah kenyang dengan segudang ilmu, tak satupun ada yang salah.

Ustadz dan santri senior yang tidak yakin dengan kemampuan beliaupun pun menjadi takjub begitupula mertuanya yang mengintip dari celah jendela rumahnya pun ikut takjub.
Dari hari itu hingga seterusnya Mbah Hasyimlah yang molang semua kitab-kitab klasik yang tebal dari berbagai cabang ilmu agama Islam. Itulah beberapa karomah Mbah Kholil kepada Mbah Hasyim dan masih banyak lagi karomah-karomah beliau kepada santri-santri beliau yang lain.

Semoga Allah Senantiasa Mengalirkan tetesan-Tetesan Barokah dan Manfaat dari beliau-beliau ini kepada kita dan anak cucu kita sehingga kita tetap berada di jalur Ahlussunnah wal Jamaah.

Lahumul Fatihah...

Like Fanpage ULAMA & KIAI Nusantara

Tuesday, May 29, 2018

SEPENGGAL KISAH DARI ABUYA SAYYID MUHAMMAD AL-MALIKI...

SEPENGGAL KISAH DARI ABUYA SAYYID MUHAMMAD AL-MALIKI...

Diceritakan oleh salah satu Murid Beliau :
"Pada suatu Malam di Bulan Ramadhan, Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki sangat sibuk dengan banyak hal, sehingga Beliau baru siap untuk beristirahat pada pukul 02.00 dini hari".

"Ketika Beliau siap untuk beristirahat tiba-tiba Beliau berkata :
"Andai saja ada Nasi Biryani yang masih panas".

"Sayapun tersenyum karena menganggap kalimat Abuya tersebut hanya sebuah candaan, tetapi sepertinya Abuya memang sedang membayangkan Nasi Biryani, mungkin dikarenakan kesibukan Beliau sejak selesai Tarawih tadi membuat Beliau merasa lapar lebih cepat".

"Beberapa saat kemudian terdengar suara bel pintu gerbang berbunyi, kami pun terkejut karena ada tamu tengah malam begini".

"Tak lama kemudian penjaga pintu gerbang datang memberi tahu bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengan Abuya, saya lupa siapa orang tersebut, yang pasti dia orang Makkah Murid Abuya".

"Dengan perasaan aneh Abuya mengizinkan Tamu itu masuk".

"Tamu tersebut masuk membawa nampan besar yang tertutup, nampan itu diletakkan di hadapan Abuya yang sedang duduk di kursi".

"Setelah basa basi sebentar, Tamu tersebut pamit untuk pulang, suasana masih sedikit tegang karena kami merasa bahwa itu "Tidak wajar" seorang Murid Abuya berani menemui Beliau ditengah malam hanya untuk memberikan makanan".

"Abuya menyuruh seorang dari kami untuk membuka nampan besar tersebut, ternyata isinya adalah Nasi Biryani yang masih panas!".

"Kami semua tersenyum dan tiba-tiba sadar dan ingat kalau sepuluh menit yang lalu Abuya menginginkan Nasi Biryani".

"Namun tiba-tiba Abuya Beristighfar berulang-ulang, murung dan Wajah Beliau nampak sangat sedih".

"Beliau kemudian berkata:
"Andai saja tadi aku menginginkan Ampunan Allah saja, andai saja tadi aku tidak menginginkan Nasi Biryani."

"Abuya merasa Allah Swt telah Mengabulkan keinginan Beliau...Beliau sangat sedih dan menyesal karena keinginan itu adalah Kenikmatan Dunia, yaitu berupa Makanan".

"Penyesalan itu membuat Abuya menjadi tidak selera makan, Beliau nampak sedih seperti kehilangan sesuatu yang amat Berharga".

Allahumma Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad Wa 'Alaa Aali Sayyidina Muhammad.

Wednesday, March 21, 2018

Di Balik Keramat Kiai Siroj Payaman

Khoiron, NU Online | Jumat, 16 Maret 2018 05:30

Kiai Siroj, Payaman, Magelang yang oleh masyarakat masyhur dengan panggilan Romo Agung merupakan orang yang dikenal kewaliannya. Namun, di balik keramat yang ia miliki, ada ibadah yang sangat kuat, di luar kebiasaan orang pada umumnya. 

Satu ketika, Kiai Siroj berkunjung ke rumah salah satu temannya, KH Dardiri dari Tingkir, Kota Shalatiga. Waktu itu, desa ini masih mengikuti wilayah Kabupaten Semarang.

Di rumah Kiai Dardiri ini, selain Kiai Siroj, Payaman, ada Kiai Munajat yang turut hadir di sana. Ketiga kiai yang berkumpul dalam satu majelis tersebut mempunyai hubungan yang akrab.

Sesaat sebelum melaksanakan shalat Isya', Kiai Siroj tahu bahwa tuan rumah sedang memasak, mempersiapkan jamuan. Diperkirakan, nanti jamuan akan disajikan setelah shalat Isya' dilaksanakan sehingga pas. 

Usai shalat isya', Kiai Siroj ternyata tidak lekas beranjak dari tempat sujudnya. Ia tidak hanya shalat beberapa rakaat ba'diyah atau shalat witir. Ia menyambung dengan shalat-shalat sunah. Dua kiai lain, Kiai Dardiri dan Kiai Munajat hanya menunggu sambil berbincang bersama di luar.

Pukul 02.00 dini hari, Kiai Siroj baru selesai melaksanakan shalat-shalatnya. Ia bertanya kepada tuan rumah, "Lha, masakannya apa sudah matang?"

Sangat tampak, Kiai Siroj seperti orang yang baru melaksanakan shalat lima atau sepuluh menit. Tidak heran jika ia bertanya masakannya sudah matang apa belum. Padahal, dua kawannya yang lain sudah menunggu berjam-berjam. Oleh Kiai Siroj dikira baru beberapa menit. 

Karena Kiai Siroj sudah mencapai maqam kelezatan dalam beribadah, mencapai ekstase tinggi, shalat yang begitu lama dikira baru sebentar saja.

Tidak cukup di situ. Untuk membuktikan kewalian dan kedekatannya kepada Allah dan jauhnya hati dengan dunia, Kiai Dardiri mencoba berbisik kepada Kiai Munajat. 

"Mbah, anda ingin membuktikan nggak bagaimana cara membedakan wali atau tidak?" tanya Kiai Dardiri. 

Sejurus, Kiai Munajat menjawab, "Iya."

Habis itu, Kiai Dardiri tanya langsung kepada Kiai Siroj tadi. 

"Mbah, wedangnya sudah manis apa belum?"

Kiai Siroj tidak lekas menjawab. Padahal ia baru beberapa detik yang lalu meminumnya. Kiai Siroj mengambil gelas, diminum, seketika itu, gelas masih dalam genggaman, Kiai Siroj baru menjawab, "Oh ya, sudah manis"   

Artinya, Kiai Siroj, dalam urusan dunia seperti manisnya gula, selang beberapa detik saja sudah terlupakan. Ia tidak ingat lagi. Karena hatinya penuh dengan ingat Allah. Semua benda dunia tidak mendapat tempat di hatinya. Sebaliknya, shalat yang berjam-jam, oleh Kiai Siroj, dikira baru beberapa menit.

Jadi, di luar keramat yang dikenal masyarakat luas kala itu, ada dzikir dan ibadah yang  perlu kita teladani. Kita tidak boleh hanya takjub dengan keramatnya, namun abai terhadap amalan di balik keramat yang tampak pada seorang wali.

Cerita tersebut juga memberikan visualisasi, bagaimana Baginda Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam dulu sampai bisa shalat 100 rakaat dalam semalam. Ya, bagaimanapun kalau landasannya adalah cinta yang mendominasi, yang berat terasa ringan. 

Kerja di sawah, menjadi tukang becak, tukang bangunan atau apa saja, rata-rata susah payah secara fisik. Namun  karena dilandasi cinta, tidak begitu terasa. Capeknya adalah nikmat. Seperti pengantin baru yang dicubit pasangannya, sesakit apa pun, ia tidak memandang itu sakit, tapi nikmat karena dilandasi cinta yang kuat. 

Demikian orang yang cinta kepada Allah, capeknya shalat tidak terasa. Adapun yang shalat hanya dua menit setengah sudah merasa capek atau justru malas melakukan, cintanya kepada Allah perlu dipertanyakan. (Ahmad Mundzir

Tuesday, January 9, 2018

Habib Luthfi Bin Yahya: Perbedaan Antara Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dan Imam Asy-Syadzili

Pustakamuhibbin.club ~ Di dalam kitab Sa’adat ad-Darain, bab keutamaan membaca shalawat, dikisahkan bahwa nanti di Mahsyar Rasulullah Saw. akan dilalaikan untuk memberi syafa’at kepada sebagian umatnya. Waktu itu pun beliau Saw. menyangka semua umatnya telah beliau syafa’ati.

Selang beberapa waktu, ada malaikat yang lapor kepada Nabi Saw. bahwa masih ada sebagian umatnya yang teriak-teriak meminta tolong di neraka. Lalu beliau Saw. pun berdoa memohon kepada Allah agar diberi ijin memberikan syafa’atnya.

Lalu, beliau Saw. juga bertanya, “Ya Allah, mengapa Engkau menjadikanku lalai dari sebagian umatku itu ?”

Allah menjawab, “Benar wahai Muhammad. Engkau Aku jadikan lalai akan mereka sebab mereka dulu di dunia juga sering melalaikanmu dengan tidak membaca shalawat.”

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani pernah dawuh, “Telapak kakiku di atas tengkuk setiap wali, dan tengkukku ada di bawah telapak kaki Rasulullah Saw.”

Sedangkan Syaikh Abul Hasan asy-Syadzili dawuhnya berbeda, yakni, “Telapak kakiku di atas kening setiap wali, dan keningku ada di bawah telapak kaki Rasulullah Saw.”

Demikian itu karena saat Rasulullah Saw. Isra’ dan Mi’raj dan akan naik ke Sidratul Muntaha, beliau Saw. berpijak (bancik; Jawa) pada arwah para wali Quthub. Yang dipijak dari Syaikh Abdul Qadir al-Jailani adalah tengkuknya, sedangkan dari Syaikh Abul Hasan asy-Syadzili adalah keningnya. Sehingga, dawuh beliau berdua berbeda.

(Pengajian Ramadhan Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan, malam Rabu 5 Ramadhan 1438 H/30 Mei 2017 M. Sumber: FP TintaSantri

Sunday, January 7, 2018

Habib Luthfi Bin Yahya: Wali Tetap Hidup di Kuburnya

Pustakamuhibbin.club ~ Para wali tetap hidup di alam kuburnya seperti kehidupan mereka di dunia. Para wali yang ahli Tahajjud tetap Tahajjud di alam kuburnya. Yang ahli tadarus al-Quran tetap tadarus al-Quran. Yang ahli silaturahim tetap silaturahim. Dst. Hal ini sebagai kenikmatan yang mereka alami di alam kubur.

Jika ada para peziarah berdiri mengucapkan salam dan doa-doa, maka si wali yang diziarahi juga ikut berdiri, menjawab salam dan mengamini doa-doanya. Jika para peziarah membaca Yasin, tahlil, dsb, maka si wali juga ikut membacanya. Jika para peziarah tawassul, maka si wali ikut mendoakan.

Diantara wali ada yang ahli darak (menolong), sering keluar dari kuburnya ke alam dunia ini untuk menolong para pencintanya. Diantara wali yang ahli darak adalah Mbah Hasan Minhajul Abidin, Gabutan, Solo. Banyak cerita nyata dari para pencintanya yang membuktikannya. Diantara mereka ada yang ditolong dari kecelakaan, perampokan, dll.

Sehingga sebagian mereka ada yang ingin sowan ke ndalem Mbah hasan Minhaj sebagai rasa terimakasih dengan membawa oleh-oleh layaknya orang yang akan sowan kiai. Namun, mereka kaget setelah diberitahu penduduk setempat bahwa Mbah Hasan Minhaj itu sudah wafat dan kemudian ditunjukkan tempat makamnya.

Dalil tentang hal ini diantaranya adalah ayat yg menjelaskan bahwa para syuhada (orang-orang yang mati syahid) tetap hidup di alam kuburnya, yakni QS. al-Baqarah ayat 154: “Jangan kalian katakan bagi orang yang dibunuh di jalan Allah, (mereka) itu orang-orang mati! Namun, mereka adalah orang-orang yang hidup, tetapi kalian tidak menyadarinya.”

Jika para syuhada saja mendapat karunia tetap hidup di alam kuburnya, maka para ulama dan wali pasti mendapat karunia lebih besar, mengingat derajat mereka lebih tinggi.

Di Indonesia jumlah makam wali sangat banyak dengan berbagai tingkatannya, nomor kedua setelah Hadhramaut Yaman. Banyak kitab yang menulis biografi para wali di Timur Tengah, seperti kitab Jami’ Karamat al-Auliya’Thabaqat al-Auliya’, dsb. Sebenarnya, di Indonesia waktu itu sudah banyak para wali, hanya saja tradisi tulis-menulis di tanah air belum semarak, jadi tidak sempat terbukukan.

Tingkatan wali tertinggi disebut al-Quthb al-Ghauts, dan hanya ada 1 orang dalam setiap masa. Beliau dijuluki Abdullah. Kemudian, di bawahnya ada al-Imamani (dua imam), yang salah satunya akan menggantikan al-Ghauts ketika wafat. Kemudian di bawahnya ada al-Autad, jumlahnya ada 4 orang. Imam Syafi’i dulu adalah pemimpin wali Autad. Kemudian di bawahnya ada al-Abdal, jumlahnya ada 7 orang. Dst. Keterangan tentang tingkatan para wali bisa dibaca diantaranya di kitab Jami’ Karamat al-Auliya’.

(Pengajian Ramadhan Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan, malam Ahad 9 Ramadhan 1438 H/3 Juni 2017 M. Sumber: FP TintaSantri

Monday, January 1, 2018

KH Ali Mas'ud

KH Ali Mas'ud

Suatu hari Jend. A.H Nasution diantar KH  Mahrus Ali Lirboyo sowan ke Gus Ud. Sampai disana diberi segelas air suwuk (air yang sudah didoakan oleh Gus Ud) sambil berucap: “ombehen lee, kowe ben selamet” (minumlah nak, biar kamu selamat). Dan terbukti ketika meletus insiden G-30S PKI, Jend. A.H Nasution adalah satu-satunya target yang selamat.

Gus Ud mendapat derajat kewalian sejak masih kecil. Gus Ud sangat nakal dan banyak tingkah hingga membuat ayahnya sering marah kepadanya. Setiap ayahnya mengajar sering terganggu oleh suara-suara teriakan Gus Ud kecil.

Suatu saat ayahnya menegur beliau sambil membentak "Kamu ini banyak tingkahnya, makanya gak bisa ngaji!“ .
Kemudian si kecil Gus Ud menimpali teguran ayahnya ”Ngajar ngajinya saya ganti ya?“ Ayahnya heran dengan ucapan anaknya yang baru berusia 8 tahunan itu. Gus Ud langsung mengambil kitab kuning ayahnya tersebut dan langsung membacanya.
Meski kitab itu gundul (tak berharokat), Gus Ud kecil lancar membacanya berikut menjelaskan semua keterangan kitab itu. Ayahnya terheran-heran dan sejak itulah sang ayah membiarkan saja apa yang dilakukan putranya itu.

Saat musim haji, Gus Ud berangkat haji dengan KH Mas Zubeir bin Harits. Ketika pesawat mau berangkat, di dalam pesawat itu Gus Ud membaca marhabanan dengan suara keras dan tidak teratur sambil memukulkan sesuatu yang dipakai untuk musiknya

Semua yang melihat tidak berani melarang karena paham siapa itu Gus Ud. Hanya salah satu awak pesawat lelaki menegur Gus Ud dengan halus, "maaf pak, pesawat mau berangkat, tolong berhenti dulu “ katanya.
Lalu Gus Ud berhenti mambaca marhabanan dengan hati yang dongkol. Lalu apa yang terjadi? Sampai beberapa jam mesin pesawat tidak mau hidup!

Setelah diperiksa, ternyata tidak ada masalah. Tapi tetep saja mesinnya tidak bisa hidup. Akhirnya salah satu jama’ah haji ada yang menegur awak pesawat tadi agar minta maaf pada Gus Ud.

Setelah awak pesawat tadi minta maaf, Gus Ud langsung membaca marhabanan seperti tadi dengan suka cita Dan mesin pesawat langsung hidup dan berangkat ke saudi dengan selamat .

Sumber : @jamaah_dzikrul_ghofilin