Sunday, April 2, 2017

Hewan Ternak Memiliki Beberapa Lambung

Allah berfirman dalam surat An-Nahl ayat 66 dan dalam surat Al-Mu’minun ayat 21.

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِي بُطُونِهِ مِن بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَآئِغًا لِلشَّارِبِينَ

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. [An-Nahl : 66]

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُّسقِيكُم مِّمَّا فِي بُطُونِهَا وَلَكُمْ فِيهَا مَنَافِعُ كَثِيرَةٌ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ

Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu,dan sebagian darinya kamu makan, [Al-Mu’minun : 21]

Kemu’jizatan ilmiah pada ayat di atas terletak pada ungkapan “dari apa yang ada dalam perut-perutnya (mimma fii buthuunihi)”. Ungkapan ini merupakan petunjuk bahwa binatang ternak merupakan hewan pemamah biak yang memiliki beberapa lambung di dalam perutnya. Studi-studi ilmiah modern di bidang anatomi pun membuktikan bahwa binatang-binatang pemamah biak seperti sapi dan domba, mempunyai beberapa lambung di dalam satu perut. Satu perut bisa mempunyai sampai empat lambung yang berbeda-beda ukuran dan fungsinya. Keempat lambung itu ialah rumen (lambung besar), reticulum, abomasums, dan omasum.
Sesungguhnya informasi anatomis seperti ini belum diketahui pada masa hidup Nabi.
Empat lambung di dalam perut hewan ternak adalah sebagai berikut:

1. Retikulum mempunyai tiga buah lubang yang menyambungkannya dengan rumen, tenggorokan, dan omasum. Fungsi reticulum adalah untuk mengarahkan makanan yang masuk dan membentuk gumpalan-gumpalan makanan untuk dikembalikan ke mulut melalui tenggorokan selama proses pemamahan.

2. Rumen merupakan lambung yang paling besar. Di sinilah terjadi proses fermentasi makanan. Fungsi rumen adalah untuk mencampur aduk bahan makanan yang masuk ke dalamnya dengan cara membuat kontraksi-kontraksi pada dindingnya.

3. Omasum adalah saluran di antara abomasum dan reticulum. Ia berperan untuk menyerap air dan lemak asam pada makanan yang dicerna oleh hewan pemamah biak.

4. Abomasums bertanggung jawab untuk menghasilkan asam lambung.

Hasil dari proses percernaan di perut hewan pemamah biak kemudian bergerak menuju usus, hati, kantong empedu, dan seterusnya. Perjalanan makanan melalui beberapa lambung pada hewan pemamah biak ini bisa membunuh semua bakteri dan parasit yang terkandung dalam makanan yang di makannya.
Kata “bathn” (perut, lambung) berarti lubang atau ruang pada setiap benda. Pengertian inilah yang terdapat pada kamus Mufradat al-Kalimat al-Arabiyyah. Hal ini berarti bahwa Al-Qur’an telah dengan jelas menyatakan keberadaan beberapa lambung pada perut hewan pemamah biak.
--------------------------------
Sumber: SAINS DALAM AL-QUR AN, DR. Nadiyyah Thayyarah
.
Darul Ulum, 2 April 2017

Nasehat keluarga

Dawuh Romo Yai Anwar Manshur :

√ Anakmu Wacakno Surat Maryam Kaleh Surat Yusuf Ben gampang olehe babaran, Dadi Wong Sing Sholeh, Tur Apik koyo nabi Yusuf.

√ Kapan ngelus wetenge bojomu, Wacakno Dungo ROBBI HABLI MINASHSHOLIHIN.

√ Ben Dino Moco ShollaAllahu 'ala Muhammad Ojo sampe kurang saking 1000× insyaallah rejekine lancar, Barokah.Amin

√ Mulangoo bocah-bocah cilik.... Warahono carane wudlu, karo sholat.

#Repost : kang Wildan Cirebon

Cara Syekh Mahfudz Mengenalkan Tremas pada Dunia

Sebagai salah seorang ulama Nusantara berkaliber internasional yang kepakaran dan keilmuannya di bidang agama diakui dunia Islam, Syekh Mahfudz bin Abdullah Attarmasi tidak lantas melupakan tanah kelahiranya begitu saja. Ia yang dilahirkan dari daerah kecil di Kabupaten Pacitan yang bernama “Tremas” itu masih tetap berbakti terhadap tanah airnya, Indonesia.

Kecintaanya pada tanah kelahiran, yang pertama diwujudkan dengan seringnya Syekh Mahfudz menggunakan Bahasa Jawa sebagai ciri khasnya saat mengajar para santrinya di Masjidil Haram Mekah. Penggunaan Bahasa Jawa itu tidak terlepas dari banyaknya santri yang berasal dari Jawa. Walaupun tidak sedikit santri yang berasal dari luar Jawa, bahkan luar Indonesia seperti Thailand, Malaysia, India dan Syiria.

Sementara beberapa tradisi muslim Nusantara seperti dibaan dan tahlilan pada masa Syekh Mahfudz juga dilakukan dengan baik di sana. Diceritakan, tiap datang bulan maulid, nuansa tradisi muslim Jawa terasa begitu kental. Layaknya tradisi di Jawa, lantunan sholawat nabi dan terbangan bergema di serambi Masjidil Haram.

Syekh Mahfudz berangkat ke Mekah bersama adiknya, Kiai Dimyathi pada tahun 1872 M. Ia mulai mengajar di Masjidil Haram sejak tahun 1890 M. Sewaktu ayahnya (Kiai Abdullah) wafat pada tahun 1894 M, ia mengirim adiknya, Kiai Dimyathi untuk pulang ke Jawa. Kemudian Kiai Dimyathi inilah yang menjadi kiai di Tremas. Sementara ia tidak kembali ke Nusantara dan memilih berkarir di Mekah.

Meskipun tidak pernah mengajar di Pesantren Tremas, Syekh Mahfudz turut mengangkat dan mengharumkan nama pesantren yang didirikan kakeknya, Kiai Abdul Mannan Dipomenggolo, pada tahun 1830 M itu hingga terkenal ke saentero dunia.

Tiap musim haji tiba, banyak orang Jawa bermukim di Mekah dan berguru langsung kepada Syekh Mahfudz. Bila santrinya hendak kembali pulang ke Jawa, Syekh Mahfudz selalu menitipkan salam untuk saudaranya yang berada di Jawa. Selain itu, para santrinya juga diminta untuk meneruskan belajar kepada adiknya, Kiai Dimyathi yang kala itu mulai mengasuh Pesantren Tremas.

Ini merupakan cara Syaikh Mahfudz mengenalkan Pesantren Tremas kepada para santrinya sehingga sejak saat itu Pesantren Tremas mulai banyak didatangi para santri dari penjuru Nusantara.

Padahal sebelumnya sulit dibayangkan, Tremas yang terletak di daerah Pacitan yang kala itu sulit dijangkau oleh manusia karena daerahnya yang berbukit-bukit dan masih berupa hutan belantara serta belum tersedianya sarana transportasi yang memadai dapat dikenal luas sebagai tempat untuk menimba ilmu.

Selanjutnya seperti kebanyakan ulama Nusantara lainya, Syekh Mahfudz kembali mengabadikan nama tempat ia dilahirkan dengan menyandangkan nama “Attarmasi” di belakang namanya. Seperti Syekh Nawawi yang menisbatkan nama Banten menjadi Al-Bantani dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minagkabawi yang menisbatkan nama Minangkabau.

Sedang nama Attarmasi merupakan nisbat dari sebuah desa bernama Tremas. Keterangan lain menyebut “Atturmusi” dan “Attirmisi”, namun nama yang paling populer adalah Attarmasi. Hingga kesohorlah nama Syekh Mahfudz Attarmasi, yang berarti ulama dari daerah Tremas.

Tidak sampai di situ, ia juga menulis nama Attarmasi pada judul kitab yang dikarangnya. Yaitu kitab Hasyiah at-Tarmasi ala Syarah Bafadhal dan Al-Fawaidz At-Tirmisiah ‘ala As-Sanid Al-Qiro’at As’ariyahs.

Asal Mula Nama Tremas
Tremas berasal dari kata Patrem yang berarti senjata atau keris kecil dan Mas berasal dari kata emas yang berarti logam mulia yang biasa dipakai untuk perhiasan kaum wanita. Kata ini berkaitan erat dengan cerita tentang dibukanya sebuah hutan yang akhirnya dinamakan Tremas. Yang pertama kali membuka hutan tersebut adalah seorang punggawa keraton Surakarta yang bernama Ketok Jenggot atas perintah raja keraton Surakarta sebagai hadiah atas jasanya yang telah berhasil mengamankan keraton dari mara bahaya.

Perlu diketahui, bahwa sebelum Ketok Jenggot membuka hutan Tremas, di daerah tersebut sudah ada sekelompok orang yang lebih dahulu datang dan bermukim, yaitu R Ngabehi Honggowijoyo (Ayah Mertua Kiai Abdul Manan, pendiri pertama Pesantren Tremas). Maka dari itu setelah meminta izin dan memberi keterangan tentang tugasnya, barulah Ketok Jenggot mulai melaksanakan tugasnya dengan membuka sebagian besar hutan di daerah tersebut.

Setelah tugasnya selesai, senjata Patrem Emas yang dibawanya itu kemudiam ditanam di tempat ia pertama kali membuka hutan tersebut, dan akhirnya daerah yang baru dibukanya tersebut diberi nama “Tremas“.

Melalui cerita singkat ini, sangat tepat apabila seseorang ingin selalu dikenang, maka ia harus meninggalkan sesuatu yang bermanfaat. Selaras dengan ungkapan “Barangsiapa yang tidak punya tanah air, maka tidak mungkin punya sejarah. Barangsiapa yang tidak punya sejarah, maka akan terlupakan”.

Sumber :NU Online

Tentang iblis

#Ngaji_Iblis

Diriwayatkan bahwa ketika Iblis di turunkan ke bumi, ia berkata :
" wahai Rabbku, Engkau turunkan aku ke bumi dan menjadikanku yg terkutuk, buatkanlah rumah bagiku "
Allah : " rumahmu adalah kamar mandi "
Iblis : " buatkanlah tempat duduk bagiku "
Allah : " tempat dudukumu adalah pasar "
iblis : "buatkanlah makanan bagiku "
Allah : " makananmu adalah semua makanan yg tdk di bacakan basmalah pdnya "
iblis : "buatkanlah minuman bagiku "
Allah " minumanmu adalah semua yg memabukkan"
iblis : "buatkanlah muadzin bagiku"
Allah : "muadzinmu adalah seruling "
iblis : "buatkanlah kitab bagiku "
Allah : "kitabmu adalah tato"
iblis : "buatkan hadits bagiku "
Allah : " haditsmu adalah kebohongan"
iblis : "buatkanlah utusan bagiku "
Allah : " utusanmu adalah dukun"
iblis : " buatkanlah alat berburu bagiku"
Allah :" alat berburumu adalah wanita "

wallohu a'lam.

~Is'adur Rofiq~