Friday, April 28, 2017

Ibadah dan iblis

|| Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, bahkan ada yang mengatakan setiap nafas beribadah, lalu ibadah itu apa sebenarnya?

al-Mukarram Romo Yai Asrori al-Ishaqi pernah memberikan pitutur bahwa al-'Ulama' al-Usuliyun mengatakan:

فعل المكلف على خلاف هوى نفسه تعظيما لربه
Ibadah adalah lakon-perbuatan yang dilakukan oleh mukallaf (aqil-baligh) atas dasar membedai hawanafsu-nya karena Ta'dhiman kepada Tuhan-nya.

Saya mencoba ngintip Faid al-Qadir karya al-Manawi rahimahulLah menemukan ta'rif yang sama persis seperti pada pitutur al-Mukarram diatas. Artinya. Ibadah itu amalan kebaikan yang berdasarkan penolakan hawanafsu dan ta'dziman (pengagungan) kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Akan tetapi kebanyakan orang berhenti pada amalan kebaikan saja, beberapa diantaranya berhenti pada ketaatan dan ta'dziman (pengagungan) kepada Tuhan, dan sangat sedikit yang mencakup keseluruhannya.

Saya kasih ibarah, dalam Kasyful Bayan, Imam as-Samarqandi dan juga dikatakan dalam Tafsir Showi:

فائدة : قال كعب الاخبار ان ابليس اللعين كان خازن الجنة اربعين الف سنة، ووعظ الملائكة عشرين الف سنة وسيد الكروبيين ثلاثين الف سنة، وسيد الروحانيين الف سنة، وطاف حول العرش اربعة عشر الف سنة
Sebuah Faidah: Berkata Ka'ab Al-akhbar "sungguh Iblis yang terlaknat telah menjadi penjaga surga selama 40.000 tahun, Guru dan Penasihat Malaikat selama 20.000 tahun, Pemimpin Malaikat Karubiyyun selama 30.000 tahun, Pemimpin Malaikat Ruhaniyyin selama 1000 tahun, dan (bukan cuma thawaf di ka'bah, bahkan mereka) thawaf di Arsy selama 14.000 tahun.

Titel? Coba lihat titel iblis dimukasyafat al-Kulub, Imam Ghazali;
ﺭﻭﻱ ﺃﻥ ﺇﺑﻠﻴﺲ ﻛﺎﻥ ﺍﺳﻤﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺍﻟﻌﺎﺑﺪ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﺍﻟﺰﺍﻫﺪ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﺍﻟﻌﺎﺭﻑ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺮﺍﺑﻌﺔ ﺍﻟﻮﻟﻲ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺨﺎﻣﺴﺔ ﺍﻟﺘﻘﻲ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺴﺎﺩﺳﺔ ﺍﻟﺨﺎﺯﻥ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺴﺎﺑﻌﺔ ﻋﺰﺍﺯﻳﻞ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﻠﻮﺡ ﺍﻟﻤﺤﻔﻮﻅ ﺇﺑﻠﻴﺲ
Diriwayatkan bahwa Iblis di langit dunia mendapatkan titel Ahli 'Ibadah, pada langit ke-II disebut Ahli Zuhud, pada langit ke-III al-'Arif (ma'rifat bilLah), pada langit ke-IV disebut WaliyulLah, pada langit ke-V disebut Ahli Taqwa kepada Allah, pada langit ke-VI disebut Penjaga syurga, pada langit ke-VII Azazil (mengetahui ruh yang buruk dihadapan Allah). (tapi coba lihat pada putusan akhir) dilauh al-Mahfudz Iblis dilihat Iblis. Artinya. suka mengaburkan sesuatu antara yang haq dan batil. [Lihat; Mukhasyafat al-Kulub; 61]

Lalu apa hubungannya dengan ibadah? Imam Ghazali dalam maqalah diatas, beliau menutup maqalahnya dengan:
ﻭﻫﻮ ﻏﺎﻓﻞ ﻋﻦ ﻋﺎﻗﺒﺔ ﺃﻣﺮﻩ، ﻓﺄﻣﺮﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﺴﺠﺪ ﻷﺩﻡ
Dia. Iblis itu lalai akan akhir dari perkaranya, maka Allah subhanaHu wata'ala memerintahkan untuk bersujud kepada Nabi Adam 'alaih as-Salam.

Umat Islam yang terus istiqamah dalam beribadah intinya adalah tidak mengetahui akhir dari hayatnya. Boleh jadi saya atau anda sekarang iman dan islam, tapi apakah kita tahu akhir dari hayat kita masih membawa iman?. WalLahu yahdi ila ash-Shirath al-Mustaqim. Ihdina as-Shirath al-Mustaqim. Semoga kita dianugrahi ketaatan dan selalu istiqamah dan Iman & Islam hingga ruh terpisah dari raga.

||al-Qabul maghib 'an ru'yatina. Jogjakarta, 29 04 2016

Nasihat untuk kyai

Pesan dan Nasihat..
"KH. Hasan Abdullah Sahal"

1. Kalau pondok ingin berkembang dan maju, maka pimpinan, pengasuh harus fokus pada santri dan pesantrennya, dan harus punya "sibghoh" ke-kiai-an.

2. Berdasarkan pengalaman Gontor dan pengamatan puluhan tahun terhadap pondok-pondok alumni maka sebaiknya untuk para Kiai pesantren:
- Kiai jangan di bawah Yayasan
- Kiai jangan nyambi PNS
- Guru-guru jangan pula nyambi PNS
- Kiai jangan banyak kegiatan di luar (dakwah, gerakan politik praktis, dan bisnis)
- Kiai harus mengajar santri
- Kiai jangan magang Bupati/legislatif
- Kiai jangan ikutan partai
- Rumah Kiai jangan kelihatan megah seperti istana, kalau perlu tidak lebih baik daripada asrama santri
- Keuangan administrasi pondok harus profesional, jangan dipegang Bu Nyai.

3. Kecepatan kemajuan pondok diantaranya adalah sesuai kadar diwakafkannya, juga kadar keikhlasannya. Bila statusnya wakaf 100% dan ditunjang keikhlasan yang tinggi, Insya Allah akan berkembang dan maju. Tetapi, jika setengah-setengah, maka setengah-setengah pula perkembangan dan kemajuannya.

4. Pondok bukan lembaga pergerakan praktis, akan tetapi lembaga pendidikan. Fokus mendidik dan mengasuh anak-anak dan menyiapkan mereka untuk menjadi "mundzirul qaum".

Maka, anak-anak harus dididik "tafaqquh fid-din" (mendalami ilmu agama) di pondok supaya bisa menjadi "mundzirul qaum" (penyeru umat). Sebab, sekarang ini yang terjadi "mundzirul qaum" nya "ghoiru mutafaqqih fid-din". Ini kecelakan besar untuk umat dan bangsa. Kalau pondok meninggalkan sibghoh ini sebagai tempat "tafaqquh fid-din" lalu siapa yang akan mengambil peran ini?

5. Di pondok itu Kiai mendidik kehidupan, bukan sekedar mengatur kehidupan. Mengatur kehidupan itu seperti menejer, direktur, yang penting ada sistem dan SOP tinggal jalankan.

Akan tetapi mendidik kehidupan itu ketekunan, keikhlasan, keteladanan dan keterpanggilan yang dilandasi oleh nilai-nilai, jiwa, falsafah hidup dan sakralitas.

Bukan sekedar mengatur bagaimana santri makan, tidur dan sekolah, akan tetapi mendidik mereka cara makan yang benar, cara tidur yang benar, cara belajar yang benar dengan niat dan orientasi yang lurus. Dan itu bukan sekedar diomongkan, tetapi diteladankan. Itulah mendidik.

6. Di pondok itu jangan berfikir apa dan berapa yang didapat: saya dapat apa? keluarga dan anak saya dapat apa? fasilitas apa? itu namanya sampah perjuangan. Yang berlaku di pondok adalah: apa yang bisa aku lakukan untuk santri dan pesantren?

Tidak ada transaksi materialistik, tidak ada kontrak-kontrakan, karena semua yang di pondok ini berangkatnya dari keterpanggilan. Bukan mencari pekerjaan, bukan mencari popularitas!

Give, give and give! Itu yang berlaku di pondok. Bukan take and give! Apalagi take, take and take. Itu sampah perjuangan. Sampah kehidupan..!
_______________________
*10 April 2016

Dua Teladan Akhlak Mbah Arwani Amin

KH Muhammad Arwani Amin, sosok ulama kharismatik yang lahir di Kudus, Selasa Kliwon, 5 Rajab 1323 H, bertepatan dengan 5 September 1905 M. Selain masyhur sebagai seorang ulama yang sangat mencintai Al-Qur’an, pendiri Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an tersebut juga dikenal karena memiliki akhlak dan etiket yang sangat patut untuk dijadikan teladan.
1. MemuliakanTamu
Dalam keseharian KH Muhammad Arwani Amin, atau masyarakat sekitar biasa memanggil dengan sebutan Mbah Arwani, sangat memuliakan tetangga, para tamu, bahkan seorang pedagang yang menawarkan barang dagangan ke rumahnya. Semua kalangan dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pejabat, pengusaha, hingga masyarakat biasa mendapat penghormatan yang sama. Mbah Arwani memuliakan mereka tanpa memandang status sosialnya.
Pernah suatu ketika ada pedagang sarung yang datang ke rumah beliau dan menawarkan sebuah sarung biasa (murah) tetapi pedagang tersebut mematok harga yang sangat tinggi. Khadim beliau, yaitu KH Muhammad Manshur yang mengetahui hal tersebut lantas matur (bilang) kepada Mbah Arwani, “Sebenarnya harga sarung itu murah, Mbah. Jenengan sudah ditipu oleh pedagang itu.” Lantas Mbah Arwani menjawab, “Biarkan saja, harusnya kita tetap bersyukur. Syukurlah bukan kita yang dijadikan Allah sebagai penipu.”
Mbah Arwani juga sering melakukan hal-hal yang semestinya “tidak perlu” beliau lakukan. Dikisahkan dari pengalaman seorang yang pernah bertamu di rumah Mbah Arwani. Setiap lebaran saya sowan (silaturrahim) ke rumah Mbah Yai. Tamu-tamu yang datang tentu bukan hanya saya, banyak sekali. Ketika rombongan kami masuk ke ruang tamu, langsung disambut beliau dengan keramahan. Setelah kami duduk, beliau mohon pamit sebentar, lalu menuju pintu dari mana tadi kami masuk. "Apa yang dilakukan beliau?" Batin saya. Saya terkejut ternyata beliau menata dan merapikan sandal-sandal kami.
2. Menyenangkan Orang Lain
Menurut KH Sya’roni Ahmadi yang juga merupakan salah satu santri Mbah Arwani berpendapat, setidak-tidaknya ada tiga hal yang sangat menonjol pada diri KH Muhammad Arwani Amin. Pertama, kedalaman ilmu pengetahuan agama (Islam), terutama pengetahuan terhadap ilmu-ilmu Al-Qur’an.
Kedua, ketawadukannya. Sebagai seorang ulama besar yang sudah dikenal masyarakat luas, Mbah Arwani tetap rendah hati dan selalu hormat kepada setiap orang dengan tanpa melihat apakah ia orang terpandang atau hanya orang biasa. Ketika KH Raden Asnawi masih hidup, beliau pernah menganjurkan kepada KH Muhammad Arwani Amin agar mendirikan pondok, tapi beliau menolak dengan alasan di Kudus sudah banyak pondok. Beliau hanya akan urun mengajar saja. Hal ini sebenarnya menunjukkan ketawadukan dan kehalusan perasaannya.
Ketiga, salah satu prinsip hidup beliau adalah idkhalus surur artinya, beliau selalu berusaha untuk menyenangkan dan menggembirakan orang. Itulah sebabnya, dalam pergaulan beliau senantiasa berperilaku yang membuat orang senang karenanya. Sebaliknya, beliau paling tidak suka merepotkan orang lain.”
Di samping kealiman Mbah Arwani sebagai seorang ulama, beliau senantiasa menjunjung tinggi sikap rendah hati dan memuliakan orang lain. Ihwal akhlak dan etiket beliau yang telah dipaparkan di atas, sudah semestinya kita jadikan teladan dalam berperilaku bermasyarakat. Al-Fatihah.
________________________
Oleh Aniq Muhammad, santri Pesantren Darul Falah Be-Songo; mahasiswa S1 UIN Walisongo Semarang.
NU Online
.
Banyak dari orang orang yg mengagumi para Beliau dan Ahlul Bait,  kita sebagai putu,  dan santri beliau Ahlul bait seharusnyalah kita sebagai santri yg lebih berhak untuk mengerti dan tahu,  untuk itu bila kita memiliki kisah teladan tentang beliau beliau,  marilah koya jangan sungkan untuk berbagi ke sesama putu santrine Mbah Arwani.
.
Matursuwun lan pangapunten ipun.

Tuesday, April 25, 2017

DOA AGAR DUNIA MENGEJARMU TANPA KAU MENGEJARNYA


بسم الله الرحمن الرحيم

Diriwayatkan bahwa seorang Shohaabat mengeluh kepada Rosuulullooh shollalloohu ‘alayhi wasallam dan berkata :
.
“Yaa Rosulallooh, kenapa DUNIA seolah-olah tidak menginginkanku, semua usahaku bangkrut, peternakan dan pertaniankupun selalu gagal panen?
.
Sambil tersenyum Nabiy Muhammad shollalloohu ‘alayhi wasallam mengajarkan tentang tasbiihnya para Malaaikat serta tasbiihnya penghuni 'alam semesta yaitu kalimat :

*ﺳﺒﺤﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﺤﻤﺪﻩ ﺳﺒﺤﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ ﺍﺳﺘﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ*

SUBHAANALLOOHI WA BIHAMDIHII SUBHAANALLOOHIL ‘ADZHIIM ASTAGHFIRULLOOH
.
Lalu Nabiy shollalloohu ‘alaiyhi wasallam bersabda :
“Bacalah 100 kali sebelum terbit Fajar."
.
Maka DUNIA akan memohon kepada Allooh agar engkau miliki (mengejarmu tanpa kau mengejarnya)”
.
Selang beberapa bulan kemudian, shohaabat tadi kembali lagi dan bercerita :
.
“Yaa Rosuulallooh sekarang aku bingung dengan hartaku kemana harus aku letakkan hasil usaha dan peternakanku karena banyaknya.”
.
( Kitaab ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﻔﺮﺝ oleh Sayyid Muhammad bin 'Alwiy Al Maliki Al Hasany ra.)
.
Allhuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim
.
Silahkan Tag & share ~