Friday, August 4, 2017

Pandangan Syaikhina Maimoen Zubair Tentang Pengajian kitab Ihya’ Ulumiddin.

Pandangan Syaikhina Maimoen Zubair Tentang Pengajian kitab Ihya’ Ulumiddin.

Di beberapa pesantren, khataman pengajian Ihya’ dimeriahkan dengan berbagai acara, seperti pengajian umum, tahlil dan sebagainya. Mengomentari fenomena ini Mbah Moen berpandangan bahwa khataman Ihya’ kalau dimeriahkan, biasanya tidak sampai lima kali Kiainya sudah meninggal. Beliau menyebut beberapa contoh diantaranya, Kyai Ihsan Jampes Kediri, Kyai Jazuli Jember, Kyai pesantren Mayang Ponorogo, dan seorang kyai dari Palembang yang diceritakan panjang lebar.

Ketika saya tanyakan, mengapa demikian, Beliau menjawab, “yo ngono iku”. Setelah jeda beberapa saat Beliau melanjutkan, “Ihya’ iku zuhud”. Saya mengartikan dawuh beliau bahwa karena Ihya’ bersifat zuhud, maka ia tidak cocok dengan hiruk-pikuk kemeriahan yang diadakan dalam rangka memungkasi pengajian Ihya’ tersebut.

Oleh karena itu Mbah Moen berpantang memeriahkan khataman Ihya’. Pernah suatu kali para santri berencana, bahkan sudah mengumpulkan dana, untuk memeriahkan khataman Ihya’. Ketika mengetahui hal tersebut beliau melarangnya. Dan alhamdulillah sejak pertama kali mengampu pengajian Ihya’ di tahun enam puluhan hingga kini, Beliau sudah lebih dari lima kali khataman Ihya’. Semoga Allah memanjangkan dan memberkati umur Beliau.

Menurut Mbah Moen, beberapa kyai terdahulu juga mengambil sikap kehati-hatian serupa. Mbah Dlowi Lasem, misalnya, kalau ngaji Ihya’ tidak pernah dikhatamkan. Demikian pula Mbah Ber. Mbah Moen sendiri selalu mengkhatamkan Ihya’, tetapi disertai dengan dua langkah antisipasi: Pertama, tidak memeriahkan khtaman; kedua, membuat jeda antara akhir pengajian dengan awal pengajian berikutnya.

Meski demikian Mbah Moen merasa bahwa cara yang ditempuhnya masih ada yang kurang tepat. Beliau menuturkan, setiap kali beliau sampai pada kitab dzikr al-maut ada santri yang meninggal.

Disamping keunikan di atas, Mbah Moen juga menuturkan, “moco Ihya’ iso nyebabno tentrem lan rame”. Saya menangkap pengertian “rame” di sini adalah “rame santrine”.

Tentang “tentrem” ini saya teringat dengan dawuh Beliau ketika pengajian di Dasin Tambakboyo Tuban, “Nduwe duit ora bungah, ora nduwe duit ora susah”. Ini sikap hidup yang bisa mendatangkan ketentraman, tetapi tidak mudah diresapkan. Bisa jadi dengan mengaji Ihya’ seseorang secara perlahan bisa meresapkan sikap hidup semacam itu yang pada gilirannya bisa mendatangkan ketentraman.

Dan tentang “rame santrine”, saya melihatnya sebagai berkah yang dialami Mbah Moen. Umumnya pesantren besar didirikan oleh pengasuh generasi pertama. Setelah diwariskan ke pengasuh generasi kedua atau ketiga barulah pesantren tersebut mengalami peningkatan jumlah santri yang pesat. Tetapi pesantren Al-Anwar yang didirikan Mbah Moen memiliki fenomena yang berbeda. Mbah Moen adalah perintis berdirinya Pesantren Al-Anwar, dan di tangan beliau pula peningkatan jumlah santri mengalami perkembangan pesat. Hingga kini trend pertumbuhan jumlah santri masih berada pada grafik naik. Semoga Allah memanjangkan dan memberkati usia Beliau.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين

Para penghuni kubur

Imamuna fit tashowwuf Al Ghazali -semoga Allah merahmatinya- dalam kitab Ad Durrotul Fakhiroh Fii Kasyfi Ulumil Akhiroh berkata :

" Penghuni kubur itu berada pada empat keadaan, yaitu:
1. Ada yg duduk di atas tumitnya hingga berair matanya, bengkak badannya, dan kembali tubuhnya menjadi tanah. setelah itu dia terus menerus berkeliling di kerajaan malakut di bawah langit dunia.

2. Ada yg di beri rasa kantuk oleh Allah. dia tidak mengetahui apa yg di lakukannya hingga tersadar ketika tiupan sangkakala pertama, kemudian dia meninggal.

3. Ada yg tidak dapat bangun dari kuburnya kecuali selama dua atau tiga bulan saja. kemdian jiwanya dinaikkan oleh se ekor burung yg menerbangkanya ke syurga. ada hadits shohih yg meriwayatkan bahwa Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : " jiwa orang mukmin yg terbang, bergantung pada pohon syurga "
demikian pula Nabi shollallohu alaihi wasallam ditanya tentang ruh para syuhada' beliau menjawab :
" para syuhada' itu berada dalam pelukan burung2 khodhr yg menggantungkan mereka pada pohon syurga"

4. Keadaan yg di khususkan bagi para Nabi dan para wali. Mereka mempunyai pilihan , diantara mereka ada yg mengelilingi bumi sampai hari kiamat, sebagian besar terlihat di malam hari. saya mengira bahwa Abu Bakar ash shiddiq dan Umar al faruq ada diantara mereka.
Rasululloh shollallohu alaihi wasallam memiliki pilihan di dalam mengelilingi tiga alam, karena ini pada suatu hari, beliau bersabda sebagai peringatan dan isyarat :
" sesungguhnya aku memuliakan Allah agar Dia tidak membiarkanku di bumi lebih dari tiga " yakni, tiga kelipatan sepuluh, sebab al Husain gugur pada awal tiga puluh tahun. Beliau marah kepada penghuni bumi dan naik ke langit . Seorang sholih melihat beliau di dalam mimpi, dia bertanya :
" Wahai Rasululloh, demi bapakku, anda dan ibuku, apa yg anda lihat di dalam fitnah-fitnahpada umat anda ?"
beliau menjawab : "Allah menambahkan kpd mereka fitnah, mereka membunuh Al Husain, di dalam hal itu mereka tidak menjaga sunnahku "
ada lagi ungkapan2 lain yg menyerupai ungkapan perawi ini.

Diantara mereka, ada yg memilih langit ke tujuh seperti Nabi Ibrahim alaihis salaam, Nabi Isa di langit ke lima. Disetiap lapisan langin ada para Rasul dan Nabi yg tidak keluar dari sana dan terus menerus thawaf sampai pingsan.
diantara mereka tidak ada yg mempunyai pilihan selain itu kecuali Nabi Ibrahim,Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad, mereka berhenti dimana saja yg mereka inginkan di alam ini.
Adapun para wali, diantara mereka ada yg bergantung pada kebangkitan duniawi sebagaimana di riwayatkan dari Abu Yazid bahwa di bawah Arsy dia menyantap hidangan.

Didalam empat keadaan para penghuni kubur ini, ada yg di adzab, ada yg di beri rahmat, ada yg dihinakan, dan ada yg di muliakan. Diantara mereka ada yg memandang mayyit itu ketika hadir hingga menjadi sempit bagi mereka luasnya tempat penantian itu. kadang2 tersingkap baginya, hingga dia melihat mereka dan mengenalnya. saya telah melihat orang yg mengalami hal ini, saya melihat sebagian sahabat yg tersingkap pandangan bathinnya. dia memandang pada anaknya yg meninggal, telah masuk kedalam rumah. mayit itu bangun dan terbang.
inilah faedah2 malakut yg hanya terjadi bagi orang mulia atau keluarganya.

Bersamaan dengan keadaan2 yg telah di sebutkan itu, tidak di ketahui adanya pergantian siang dan malam, kecuali oleh orang yg dirinya tetap tinggal, tidak di naikkan ketempat yg tinggi.
Diantara mereka, ada yg mengenal hari jum'at dan hari raya. Apabila seseorang keluar dunia, mereka mengerumuni dan mengenalinya. yang satu menanyakan tentang istrinya, yg lain menanyakan tentang orang tuanya. masing2 menanyakan tentang keinginannya. kadang2 seseorang meninggal tanpa menjumpai seorangpun kenalannya, karena kebimbangan yg dialaminya ketika menjelang kematian. "

wallohu a'lam.

Thursday, August 3, 2017

TUHAN MENDENGAR SUARA PEREMPUAN

TUHAN MENDENGAR SUARA PEREMPUAN

Advokasi untuk menciptakan konstruksi social yang setara dan berkeadilan disarankan antara lain melalui cara mendengarkan dan merespon suara-suara yang terpinggirkan, yang diabaikan dan yang tidak dihargai.

Dalam konteks kebudayaan patriarkhis di manapun, suara-suara perempuan tidak didengarkan, diabaikan dan dibungkam. Aktualisasi personalnya dibatasi dan dimarginalkan. Kemerdekaan mereka dirampas sedikit atau banyak. Ini semua merupakan praktik-praktik kebudayaan yang tidak adil.

Tetapi sikap dan pandangan Nabi dalam hal ini sangat berbeda. Abd al-Rahman bin Syaibah mengatakan :

: سمعت أم سلمة زوج النبي صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم تقول: قلت للنبي صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم: يا رسول الله ما لنا لا نذكر في القرآن كما يذكر الرجال؟ قالت: فلم يرعني ذات يوم ظهرًا إلا نداؤه على المنبر وأنا أسرح رأسي، فلففت شعري ثم خرجت إلى حجرة من حجرهن، فجعلت سمعي عند الجريد، فإذا هو يقول على المنبر: يا أيها الناس إن الله يقول في كتابه:

“Aku mendengar Ummu Salamah, isteri Nabi saw, bertanya (mempertanyakan) kepada Nabi : “Wahai Nabi, mengapa kami (kaum perempuan) tidak (amat jarang) disebut-sebut dalam al-Qur’an, tidak seperti laki-laki”.

Setelah menyampaikan pertanyaan itu Ummu Salamah tidak melihat Nabi, kecuali mendengar suaranya di atas mimbar. “Waktu itu aku sedang menyisir rambut”, kata Ummi Salamah. “Aku segera membenahi rambutku lalu keluar menuju suatu ruangan. Dari balik jendela ruangan itu aku mendengarkan Nabi berbicara di atas mimbar masjid di hadapan para sahabatnya. Katanya : "hai, manusia, Tuhan mengatakan :

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Bahwa sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan yang beriman laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (Baca : Al-Thabari, Jami’ al Bayan, (Q.S. al-Ahzab,[33]:35).             

Lihatlah bagaimana Tuhan dan Nabi mendengarkan dan merespon dengan begitu cepat suara-suara perempuan yang mengadukan pikiran dan suara hatinya. Ummu Salamah, isteri Nabi yang cerdas adalah representasi dari kaum perempuan. Dia  tampaknya bukan sekedar bertanya tetapi mempertanyakan tentang hak-haknya yang dibedakan dari laki-laki.  Pertanyaan itu merefleksikan sebuah pandangan kritis Ummu Salamah. Dia seakan-akan ingin mengatakan mengapa Nabi berlaku diskriminatif terhadap perempuan. Mengapa Nabi  seakan-akan tidak menaruh perhatian terhadap hak-hak perempuan sebagaimana yang diberikan kepada laki-laki. Nabi Saw dengan segera menyampaikan klarifikasinya berdasarkan wahyu Tuhan dan menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama dalam berbagai aspek kehidupan, baik spiritual maupun social, privat maupun public. Perhatikan pula bahwa pernyataan klarifikatif ini disampaikan Nabi kepada seluruh manusia: “Ayyuha al-Nas” (Wahai manusia). Ini menunjukkan bahwa ajaran tentang  kesetaraan laki-laki dan perempuan harus diperjuangkan di manapun dan kapanpun.

Crb, 04.08.17

Dari Buya my favorite: Husein Muhammad

Cadar Yahudi

Cadar Yahudi

Jika Anda tidak paham dengan seluk-beluk kesejarahan dan studi tentang percadaran, mungkin Anda akan mengira kalau foto-foto di bawah ini adalah sekelompok perempuan Muslimah di Arab atau kawasan lain. Padahal tidak. Mereka adalah para perempuan Yahudi.

Foto tiga orang bercadar yang mirip niqab di sejumlah Negara Arab Teluk ini adalah para perempuan "Yahudi Yaman". Komunitas Yahudi Yaman atau al-Yahudu al-Yamaniyun yang konon masih "keluarga besar" Yahudi Mizrahi sudah ada ribuan tahun sebelum Islam lahir di Jazirah Arabia. Mereka memiliki tradisi agama yang unik, beda dengan kelompok Yahudi lain seperti Ashkenazi, Sephardi, dlsb. Meskipun bernama "Yahudi Yaman", mereka bukan berarti cuma tinggal di Yaman. Banyak dari mereka yang tinggal di Israel, Amerika, dlsb.

Sedangkan foto dua perempaun (bersama anak-anak) yang mengenakan cadar mirip burqa adalah komunitas Yahudi Heredi di Israel. Kelompok perempuan Yahudi bercadar di Israel ini dikenal dengan sebutan "Nesot HaSalem" atau "Perempuan yang memakai syal". Karena memakai cadar mirip perempuan di zaman rezim Taliban di Afganistan, mereka pun kadang disebut "Yahudi Taliban". Kain cadar itu mereka namakan "frumka".

Baik Yahudi Yamani maupun Yahudi Heredi adalah contoh kecil dari komunitas "Yahudi Garis Lurus" (masih ada sejumlah kelompok Yahudi lain yang berhijab dan bercadar) yang mengklaim bahwa cadar itu adalah asal-usulnya merupakan "tradisi Yahudi" (bukan "tradisi Islam" atau "tradisi Arab") seperti termaktub dalam teks-teks keagamaan mereka.

Oleh karena itu, tidak heran jika perempuan dari kelompok literalis Yahudi ini selalu mengenakan cadar jika keluar rumah dan berada di tempat-tempat umum.

Nah, sekarang silakan Anda jawab: cadar itu "Syariat Islam" atau "Syariat Yahudi"? Ingat: "Barang siapa menyerupai suatu kaum...he he

Repost: Kajian Islam Nusantara