Wednesday, August 30, 2017

Kurban Satu kambing, Sekeluarga Sudah Dapat Kesunnahan Kurban

Kurban Satu kambing, Sekeluarga Sudah Dapat Kesunnahan Kurban

Ada sebuah Pemahaman bahwa Qurban kambing itu bukan hanya untuk 1 orang saja, melainkan satu kambing untuk 1 orang beserta keluarganya. Demikian juga 1 sapi bukan hanya untuk 7 orang saja tetapi untuk 7 keluarga. keterangan ini berdasarkan ibarat berikut:

وَالْبَعِيرُ وَالْبَقَرَةُ ) أَيْ كُلٌّ مِنْهُمَا يُجْزِئُ ( عَنْ سَبْعَةٍ وَالشَّاةُ ) تُجْزِئُ ( عَنْ وَاحِدٍ ) ، وَمَنْ كَانَ لَهُ أَهْلُ بَيْتٍ حَصَلَتْ السُّنَّةُ لِجَمِيعِهِمْ ، وَكَذَا يُقَالُ فِي كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ السَّبْعَةِ فَالتَّضْحِيَةُ سُنَّةُ كِفَايَةٍ ، لِكُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ أَيْ وَسُنَّةُ عَيْنٍ لِمَنْ لَيْسَ لَهُ أَهْلُ بَيْتٍ

Onta dan sapi masing-masing untuk 7 orang. Sedangkan kambing cukup untuk satu orang dan yang memiliki keluarga maka kesemuanya mendapatkan kesunnahan. Demikian juga masing-masing dari 7 orang. Qurban itu sunnah kifayah bagi yang berkeluarga. Dan sunnah 'ain bagi yang tidak memiliki keluarga. Hasyiyah Qulyuby wa 'Amirah Juz 16 Hal 95 (kitab listrik).

Mari kita kaji lebih lanjut

Pemahaman awal yang perlu kita pegangi adalah bahwa 1 kambing tidak cukup untuk 2 orang atau lebih dan 1 sapi (atau onta) tidak cukup untuk lebih dari 7 orang. Ibarat yang disampaikan diatas menunjukkan bahwa bagi yang tak punya keluarga, berkurban adalah sunnah aini sedang bagi yang punya keluarga, berkurban adalah sunnah kifayah, bila berkurban salah satu dari mereka maka gugur sunnah 'aininya (gugurnya tuntutan melakukan sunnah qurban), ingat hanya dalam hal tuntutan kesunahannya saja yang gugur.

Pemahaman ini diperkuat dengan ta'bir Hasyiyah Jamal 22/146 :

وَالسُّنَّةِ لِلْكُلِّ بِمَعْنَى أَنَّهُ يَسْقُطُ الطَّلَبُ عَنْهُمْ لَا أَنَّهُ يَحْصُلُ لَهُمْ الثَّوَابُ الْمُسْتَلْزِمُ لِكَوْنِهَا فِدَاءً عَنْ النَّفْسِ وَإِنَّمَا هُوَ لِلْمُضَحِّي خَاصَّةً

Sunnah bagi semuanya bermakna gugur tuntutan (sunnah berqurban)  dari mereka (sekeluarga), tidak berarti mereka mendapatkan pahala yang tetap sebagai penebus jiwa yang itu khusus hanya bagi yang berqurban saja.

Namun menurut Imam Ramliy semua keluarganya sama-sama dapat pahala. :

.(قوله فإذا أتى بها واحد من أهل بيت ) أى بحيث يكونون في نفقة واحدة و قوله كفى عن جميعهم أى في سقوط الطلب فقط و إلا فثوابها خاص بالفاعل و في كلام الرملى ما يقتضى حصول الثواب للجميع فراجعه. الباجوري ٢/٢٩٦

Dengan kata lain Satu orang yang kurban dalam sebuah keluarga berarti itu telah mencukupi untuk satu keluarga dalam arti telah menggugurkan kesunahan kurban dari keluarganya, di samping juga semua keluarga akan dapat pahala kurban (itu dinamakan sunah 'alal kifayah pada bab kurban) menurut pendapat Imam Ramli.
Diolah dari Piss-ktb

Sumber : ngaji.web.

Wong kaji kok kurang soko enem atus ewu, kuwi mesti ditambahi rijalul ghoib

Wong kaji kok kurang soko enem atus ewu, kuwi mesti ditambahi rijalul ghoib.

Dawuhe Mbah Moen (Allah, nafa'analLahu bi 'ulumih wa amiddana asrorih): Jika jama'ah ibadah haji kurang dari 600.000 maka ditambahi para Malaikat.

Sopo wonge kok nemoni kaji kurang soko jumlah iki mau, bejo²ne uwong. Kranane dongane dibarengi rijalul ghoib, akeh mandhine, akeh mabrur kajine.

Siapa yang mendapati jama'ah haji, kurang dari 600.000 itu sungguh beruntung, karena doa-nya di amini para Malaikat, dan hajinya mabrur.

Setelah mendengar dawuh dari KH. Maemon Zubair ini, aku membaca kitab Ihya dan disana terdapat maqolah yang serupa, dikatakan dalam Ihya Ulumuddin, sbb:
إِنَّ اللَّهَ عز وجل قد وعد هذا البيت أن يحجه كل سنة ستمائة ألف فإن نقصوا أكملهم الله عز وجل من الملائكة.
Sungguh, Allah 'Azza wa Jall menyiapkan (menentukan) ini Masjidil Haram ini, setiap tahunnya terdapat 600.000 Jama'ah. Jika kurang dari jumlah itu maka Allah Menyempurnakan dengan para Malaikat. [Lihat Ihya Ulumuddin bab 'Keutamaan Ka'bah]

‏لا تغرب الشمس من يوم إلا ويطوف بهذا البيت رجل من الأبدال ولا يطلع الفجر من ليلة إلا طاف به واحد من الأوتاد.
Masih di kitab Ihya Ulumuddin, disana juga dijelaskan bahwa: Setiap harinya, setidaknya ada satu Wali Abdal yang tawaf diwaktu malam sampai matahari terbit dan satu Wali Awtad diwaktu siang sampai matahari benar benar terbenam.

‏وإذا انقطع ذلك كان سبب رفعه من الأرض فيصبح الناس وقد رفعت الكعبة، ولا يرون لها أثراً وهذا إذا أتى عليها سبع سنين لم يحجها أحد ثم يرفع القرآن من المصاحف فيصبح الناس فإذا الورق أبيض يلوح ليس فيه حرف ثم ينسخ القرآن من القلوب فلا تذكر منه كلمة ثم يرجع الناس إلى الأشعار والأغاني وأخبار الجاهلية ثم يخرج الدجال وينزل عيسى بن مريم عليه السلام
Jika terputus (sehari saja, tanpa adanya kedua Wali tersebut) maka akan menjadi sabab musabab diangkatnya Ka'bah, dan manusia tidak mengetahui atsar bekasnya.

Kemudian selama 7 tahun tidak ada seorangpun yang haji. Lalu al-Qur'an diangkat dari mushafnya, dan tiada yang dijumpai orang-orang kecuali kertas-kertas yang putih kosong, tiada huruf sama sekali.

Kemudian al-Qur'an dihapus dari hati manusia, tiada satupun yang mengingat sepotong kalimat dari al-Qur'an, lalu manusia kembali congkak dan saling berlomba dalam kekayaan. Masyhur kembali seperti masa jahiliah. Lalu keluar Dajjal dan turunlah Nabi Isa 'alaihi salam 'ala nabiyyina muhammadin shallallahu 'alaihi wa aalihi wa salam. [Keterangan yang akhir ini Imam Ghazali merujuk pada kitab Quut al-Qulub]

Kembali pada keterangan yang awal. Maka semoga para jamaah Haji tahun ini, khususnya dari negara tercinta Indonesia, dianugerahkan kesehatan serta kelancaran dalam menyempurnakan rukun Islam. Dan semoga yang belum pernah Haji, dianugerahkan tidak lama segera berangkat menunaikan ibadah Haji.

WalLahua'lam.
Yogyakarta || Ulinuha Asnawi

Menjawab Gugatan: “Puasa Tarwiyah Dalilnya Hadis Palsu?”

Menjawab Gugatan: “Puasa Tarwiyah Dalilnya Hadis Palsu?”

Oleh: Ustadz Ma’ruf Khozin, anggota dewan pakar Aswaja NU Center Jatim

Sudah menjadi kebiasaan kalau banyak kalangan yang suka menyalahkan amaliah orang lain. Itulah Salafi-Wahabi, yang ilmunya selalu meresahkan bagi umat Islam. Wajar saja jika kajiannya ditolak di banyak tempat. Kali ini mereka menggugat masalah puasa Tarwiyah:

ﺣﺪﻳﺚ: “ﻣﻦ ﺻﺎﻡ اﻟﻌﺸﺮ ﻓﻠﻪ ﺑﻜﻞ ﻳﻮﻡ ﺻﻮﻡ ﺷﻬﺮ ﻭﻟﻪ ﺑﺻﻮﻡ ﻳﻮﻡ اﻟﺘﺮﻭﻳﺔ ﺳﻨﺔ ﻭﻟﻪ ﺑﺼﻮﻡ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﺳﻨﺘﺎﻥ”.
“Barangsiapa puasa 10 Dzulhijjah maka setiap hari seperti puasa 1 bulan. Baginya seperti puasa setahun jika berpuasa Tarwiyah. Dan baginya seperti puasa 2 tahun jika puasa Arofah.”

Kedudukan riwayat ini disampaikan oleh:

1. Syaikh Nashiruddin Al-Albani (dlaif)
(ﺣﺪﻳﺚ: ” ﺻﻮﻡ ﻳﻮﻡ اﻟﺘﺮﻭﻳﺔ ﻛﻔﺎﺭﺓ ﺳﻨﺔ “. اﻟﺤﺪﻳﺚ. ﺭﻭاﻩ ﺃﺑﻮ اﻟﺸﻴﺦ ﻓﻰ اﻟﺜﻮاﺏ ﻭاﺑﻦ اﻟﻨﺠﺎﺭ ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻣﺮﻓﻮﻋﺎ (ﺻ 229) .
* ﺿﻌﻴﻒ.
Hadis: “Puasa hari Tarwiyah adalah tebusan selama setahun.” HR Abu Syaikh Ibnu Hibban dalam ats-Tsawab dan Ibnu Najjar daei Ibnu Abbas secara Marfu’. *hadis dlaif (Irwa’ al-Ghalil 4/112)

Namun di dalam kitab al-Jami’ ash-Shaghir beliau menilai kalau hadits tersebut maudlu’ (17/88)

2. Syekh Ali Asy-Syaukani (maudlu’):
ﺭﻭاﻩ اﺑﻦ ﻋﺪﻱ ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﻣﺮﻓﻮﻋﺎ ﻭﻻ ﻳﺼﺢ ﻭﻓﻲ ﺇﺳﻨﺎﺩﻩ: اﻟﻜﻠﺒﻲ ﻛﺬاﺏ ﻭﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﺑﻮ اﻟﺸﻴﺦ ﻓﻲ اﻟﺜﻮاﺏ ﻭﺭﻭاﻩ اﺑﻦ اﻟﻨﺠﺎﺭ ﻓﻲ ﺗﺎﺭﻳﺨﻪ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺟﺎﺑﺮ .
HR Ibnu Adi dari Aisyah secara marfu’, hadis tidak sahih. Di dalamnya ada al-Kalbi, ia pendusta. Juga diriwayatkan oleh Abu Syaikh dalam ats-Tsawab (juga melalui al-Kalbi). Dan Ibnu Najjar dalam Tarikhnya dari Jabir (Di dalamnya ada perawi Ibnu Abdil Malik al-Anshari al-Madani, ia pendusta dan pemalsu hadis)

Apakah kemudian tidak boleh puasa Tarwiyah?
Berikut jawaban beberapa ulama:

1. Syekh Syuaib al-Arnauth, yang menggunakan dalil secara umum baik dlaif maupun sahih:
ﻭﻣﺎ ﺭﻭﻱ ﻋﻨﺪ اﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ (1728) ، ﻭاﻟﺘﺮﻣﺬﻱ (758) ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻗﺎﻝ: ” … ﻭﺇﻥ ﺻﻴﺎﻡ ﻳﻮﻡ ﻓﻴﻬﺎ ﻟﻳﻌﺪﻝ ﺻﻴﺎﻡ ﺳﻨﺔ … “، ﻓﻀﻌﻴﻒ ﻟﻀﻌﻒ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺑﻦ ﻭاﺻﻞ ﻭﺷﻴﺨﻪ اﻟﻨﻬﺎﺱ ﺑﻦ ﻗﻬﻢ.
Hadis riwayat Ibnu Majah dan Tirmidzi dari Abu Hurairah bahwa: “… Sesungguhnya puasa pada 10 hari Dzulhijjah adalah setara dengan puasa 1 tahun…” hadis ini dlaif karena Mas’ud bin Washil dan gurunya Nahas bin Qahm adalah dlaif.

Metode Syekh Syuaib ini sama dengan yang disampaikan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar menggunakan dalil hadis sahih berikut:
ﻟﻜﻦ ﺟﺎء ﻓﻲ ﻓﻀﻞ ﻋﺸﺮ ﺫﻱ اﻟﺤﺠﺔ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﻏﻴﺮ ﻭاﺣﺪ ﻣﻦ اﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻣﺮﻓﻮﻋﺎ: “ﻣﺎ ﻣﻦ ﺃﻳﺎﻡ اﻟﻌﻤﻞ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﻓﻴﻬﺎ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻰ اﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ اﻷﻳﺎﻡ”، اﻧﻈﺮ ﺣﺪﻳﺚ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ اﻟﺴﺎﻟﻒ ﺑﺮﻗﻢ (1968) ، ﻭﺣﺪﻳﺚ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ اﻟﺴﺎﻟﻒ ﺑﺮﻗﻢ (5446) . ﻭاﻟﻌﻤﻞ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﻳﺸﻤﻞ اﻟﺼﻴﺎﻡ ﻭاﻟﺼﻼﺓ ﻭﺫﻛﺮ اﻟﻠﻪ ﻭﻗﺮاءﺓ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻣﻦ ﺃﻋﻤﺎﻝ اﻟﺒﺮ ﻭاﻟﻄﺎﻋﺎﺕ
“Namun dalil keutamaan 10 Dzulhijjah diriwayatkan lebih dari satu sahabat secara marfu’: “Tidak ada amal saleh di dalam 10 Dzulhijjah yang laling dicintai Allah melebihi hari-hari tersebut…” [HR Ahmad dan al-Bukhari].
Amal saleh ini mencakup puasa, dzikir kepada Allah, membaca al-Quran dan amal baik lainnya.” (Ta’liq Musnad Ahmad)

2. Syekh Muhammad bin Soleh al-Utsaimin, ulama Wahabi:
Ketika beliau ditanyakan puasa Tarwiyah, maka tidak menyalahkan dan menjawab sebagai berikut:
ﻭﻳﻮﻡ اﻟﺘﺮﻭﻳﺔ ﻫﻮ اﻟﻴﻮﻡ اﻟﺜﺎﻣﻦ ﻭﻫﻮ ﻛﺒﺎﻗﻲ ﺃﻳﺎﻡ اﻟﻌﺸﺮ ﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﻣﺰﻳﺔ ﺧﺎﺻﺔ ﻭﺇﻧﻤﺎ اﻟﻤﺰﻳﺔ ﻟﻴﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﻟﻐﻴﺮ اﻟﺤﺎﺝ
“Hari Tarwiyah adalah hari kedelapan, sama seperti 10 hari bulan Dzulhijjah lainnya. Tidak ada keistimewaan khusus di hari itu. Keistimewaan hanya ada di hari Arofah bagi selain orang haji.” (Fatawa Nur ala Darb 6534-74)

3. Ulama Madzhab Syafiiyah
ﻭﻳﺴﻦ ﺻﻮﻡ اﻟﺜﻤﺎﻧﻴﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻗﺒﻞ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﻛﻤﺎ ﺻﺮﺡ ﺑﻪ ﻓﻲ اﻟﺮﻭﺿﺔ ﺳﻮاء ﻓﻲ ﺫﻟﻚ اﻟﺤﺎﺝ ﻭﻏﻴﺮﻩ
“Disunahkan puasa 8 hari sebelum hari Arofah seperti penjelasan an-Nawawi dalam ar-Raudlah, baik bagi orang haji atau lainnya (Imam ar-Ramli, Nihayat al-Muhtaj 3/207)

Jika masih menggugat bahwa penjelasan di atas adalah 8 hari Dzulhijjah, mengapa hanya puasa di hari Tarwiyah saja? Jawablah: “Mana hadis yang melarang puasa di hari ke 8 Dzulhijjah?!”

I S T I Q O M A H

I S T I Q O M A H

"Kulo kaleh panjenengan niku nopo? “ummatu Rasulillah SAW”, umate kanjeng Nabi seng paleng lemah, nggeh ta?. Awak.e gak patek kuat, nggeh nopo mboten?. Umure endeg, nggeh ta?. Rizkine molak-malik; sak niki enten, mbenjing mboten enten; emben setengah enten, enggeh?. Ngken kapan maleh rodok enten, di samping enten yo sek nduwe utang; umure endeg!. Mboten mampu, umat Muhammad Rasulillah SAW niku. Kranten kewontenan kulo kaleh panjenengan kados mekaten kolo wau, dipun dawuhaken dening Rasulullah SAW, nopo niku?. Dipun aturi istiqomah; “inna ahabbal a’maal ‘indalllaah adwamuhaa wa in qallat”. Sing paling dicintai Gusti Allah niku lelakonmu seng istiqomah senajan titik.

Saben isuk sampeyan moco nopo?. Mboten moco nopo-nopo!. Gak tuman khatam qur’an?. “Mboten saget, mboten sempat”. Moco nopo?. “Cumak “qul hu”. Istiqomah?. Istiqomahno!. Lho niku seng didelek.i niku. Kadang-kadang kulo kaleh panjenengan mboten..., kadung metenteng, nggeh ta?. Nopo maleh katek (tepak) posoan, masya Allah!... Sampek jam siji-loro (sek) darusan.. gak peduli, bah tonggone grebegen, babahno!. Nggeh ta?. Bah tonggone loro ati, babahno!. Pokok.e darusan!. Kadung ngotot!. Entek riyoyoe, entek Ramadlane, nopo maleh entek; wes tanggal selikuran, (akhire ngajine) prei setahun!. Lho niki lho, kulo kaleh panjenengan niku nopo?. Ayok istiqomah!.

Dipun dawuhi dening Gusti Allah; “tatanazzalu ‘alayhimul malaaikat”. Barokahe istiqomah, (bakal) dibarengi malaikat. Nopo tandane kulo kaleh sampeyan niku dibarengi malaikat?. Ibadah, dzikire, perjuangane “an laa takhaafuu wa laa tahzanuu”. Ngadepi nopo mawon mboten tuman goncang atine; mboten tuman bingung. Nek sampek goncang, bengung, susah mergo gawane manungsane, pantes (nek ngantos) kaget..!. Tapi gak suwe-suwe!. Niki lho!. Niku tandane istiqomah. Yak nopo kiro-kiro?. Pun istiqomah nopo dereng?. Mugi-mugi saget istiqomah... Mboten akeh-akehan, mboten!. Titik-titik.an, pokok.e ajheg!. Istiqomah seng diwoco, istiqomah panggonane, nopo maleh atek istiqomah waktune!. Pun nggeh!."

~Hadlratusy Syaikh KH. Achmad Asrori Alishaqy RA

Repost Buletin Al Fithrah