Sunday, September 3, 2017

ADAB-ADAB SUAMI THD ISTRI

ADAB-ADAB SUAMI THD ISTRI

Bagi pasangan suami hedaknya memperhatikan 12 hal penting berikut ini:

1. Walimah/resepsi pernikahan , karena mengadakan hal ini merupakan kesunnahan.

2. Berakhlak yg baik kepada istri dan bersabar kepada cobaan2 yg akan timbul darinya.
dalam hadits shohih disebutkan : " bersikap baiklah kpd wanita karena ia di ciptakan dari tulak rusuk yg paling atas makanya paling melengkung. jika engau melusruskannya ia akan patah, jika engkau biarkan ia tetap melengkung, maka bersikap baiklah kpd wanita "
Ketahuilah bahwa akhlak yg baik pada istri bukanlah mengindari cobaan yg timbul darinya, melainkan sabar dalam menghadapi hal tsb dan dewasa dalam menyikapi kegegabahan dan kemarahannya, sebagaimana yg telah di ajarkan oleh Rasululloh shollallohu alaihi wasallam . di dalam shohih bukhori dan muslim dijelaskan bahwa istri2 Nabi shollallohu alaihi wasallam pernah berdebat dengannya, bahkan salah satu dari mereka pernah tidak menyapa dari siang hingga malam hari, hadits ini sangat masyhur.

3. Suami hendaknya mengajak sang istri utk bercanda, sebagaimana Rasululloh shollallohu alaihi wasallam pernah melakukannya bersama Aisyah -semoga Allah meridloinya-
Rasul juga bercanda dengan istri2nya yg lain, beliau berkata kepada jabir :
" mengapa engkau tidak menikahi perawan yg dapat englau ajak utk bercanda dan ia dapat mencandaimu ?"

4. Candaan itu seharusnya sesuai kadar dan tdk berlebihan. tidaklah kedua mempelai terlalu larut dalam kesenangan bercanda hingga sang istri kehilangan hormatnya kepada suami, oleh karena itu hendaklah tidak terlalu sering bercanda dan dilakukan sekedarnya saja.

5. Suami hendaknya dapat mengatasi emosi ketika diliputi kecemburuan dan hendaknya ia tidaklah melupakan hal2 buruk yg akan ia lakukan, sebab hal itu dikhawatirkan berpotensi menjadi petaka di kemudian hari, akan lbih baik baginya utk tidak berburuk sangka kpd sang istri. bahkan Rasululloh shollallohu alaihi wasallam melarang seseorang utk mengunjungi saudaranya di malam hari.

6. Seorang suami hendaknya dapat mengontrol rezeki yg di dapatkan, tidak terlalu boros dan tdk terlalu pelit. seorang suami seharusnya juga tidak terpengaruh oleh makanan enak yg dimiliki oleh saudaranya, karena hal2 demikian benar2 dapat membutakan hati.

7. Suami seharusnya mempelajari ilmu tentang haid dan hukum2nya sehingga akan memudahkan dirinya utk mengerti sang istri. ia dapat mengetahui cara bergaul dengan perempuan yg sedang datang bulan , ia dapat mengajarkan sang istri asumsi yg benar, dan dapat menghindarkan sang istri dari bid'ah yg mungki dilakukan sebelumnya. suami juga dapat mengajarkan hukum2 di dalam sholat , haid dan istihadhoh .

8. Jika sang suami memiliki beberapa istri , sudah menjadi kewajiban baginya utk bersikap adil, yaitu adil di dalam giliran menginap dan pemberian2. bukan hanya adil di dalam cinta dan hubungan badan, karena dua hal ini tidak dapat di kontrol.
jika ingin bepergian ditemani salah satu istri ,sebaiknya mengundi. barang siapa yg keluar undiannya maka dialah yg akan menemani dirinya bepergian.

9. Jika ketidak patuhan dilakukan oleh sang istri, maka sang suami haruslah mendidiknya dengan baik dan mengajarinya utk patuh dengan tekun, tentunya dilakukan secara bertahap. dimulai dengan memberi nasehat dan ancaman, jika tdk berhasil beralih utk tidak menggaulinya di ranjang, memalingkan punggungnya, tidur diranjang yg berbeda, atau tdk mengajaknay berbicara selama kurang dari 3 hari. jika tetap tdk berhasil, barulah diperkenankan utk memukul istri tetapi dengan pukulan yg tdk menyakitkan, yaitu tdk sampai mengeluarkan darah dan tidak memukul wajah.

10. Adab di dalam berhubungan badan, diantaranya sunnah memulainya dengan baca basmallah dan tdk mengahadap qiblat. hendaknya keduanya menutup diri dalam satu selimut dan tdk mengenakan pakaian.
hubunagn intim harusnya dimulai dengan candaan, pelukan, dan kecupan. beberapa ulama' menyukai hubungan badan di malam jum'at.
Jika suami telah sampai titik klimaks maka hendaknya bersabar hingga sang istri juga mencapai puncak kenikmatannya.
jika suami ingin hubungan badan lagi maka hendaknya membasuh kemaluannya dan berwudlu terlebih dahulu.

11. Adab ketika melahirkan :
a. Suami tdk terlalu senang dan istri tdk terlalu takut dan bersedih, karena tidak diketahui mana yg lebih baik diantara senang dan sedih saat proses persalinan berlangsung.
b. ketika bayi telah lahir, hendaknya suami mengumandangkan adzan di telinganya.
c. membrikan nama yg baik.
d. aqiqah dengan dua kambing utk anak laki2, satu kambing utk anak perempuan.
e. tidak terlalu banyak memberi anak kurma dan manisan.
f. khitan.

12. Hal2 yg berkaitan dengan pernikahan, yaitu pereraian.
adapun perceraian adalah hal yg boleh namun paling dibenci oleh Allah.
Makruh hukumnya bagi seorang suami tiba2ingin menceraikan istri yg merasa tdk melakukan kesalahan apa2 kpdnya, dan tidak diperkenankan pula bagi seorang istri utk buru2 meminta sang suami utk menceraikannya,
jika perceraian memang benar2 harus terjadi, maka hendaknya diperhatikan 4 hal berikut ini :
a. Menceraikan istri dalam keadaan suci.
b. mencukupkan pada satu talak saja.
c. Hendaklah tetap bersikap lembut kpd sang istri dengan memberikan hal2 yg disukai agar luka hatinya terobati.
dikisahkan pada suatu hari Al Hasan bin Ali mentalak istrinya, lalu ia mengirimkan uang 10.000 dirham , si istri berkata : " ini sebuah hadiah kecil dari seornag kekasih yg hebndak pergi "
d. Hendaklah tdk membuka rahasia istri yg di talak.

Demikianlah paparan mengenai hal2 yg harus di perhatikan oleh suami.

wallohu a'lam.

~Mukhtashor Minhajul Qoshidin~

PENGADILAN HEWAN

PENGADILAN HEWAN

Alkisah di akherat kelak, hewan2 saling menunjukkan kelebihan, dan memperlihatkan kepantasannya masuk surga. Masing2 mereka juga melapor kepada Allah Ta’ala bagaimana kontribusi mereka terhadap manusia sebagai khalifah fil-ardl, alias yg paling bertanggung jawab dalam menjaga dan mengelola keseimbangan jagat raya ini.
Singkat cerita, tibalah saatnya kambing maju di hadapan khalayak untuk matur kepada Allah Ta’ala: “Terima kasih, ya Allah, karena Engkau telah menciptakanku sebagai hewan yg diberkahi dan digembalakan oleh para Nabi. Engkau memberiku keistimewaan menjadi bagian dari harta yg harus dizakati. Engkau menjadikanku sebagai sembelihan di Hari Raya dan hari2 Tasyriq, serta saat akikah kelahiran anak manusia. Banyak sekali kelebihan pada daging, susu, kulit dan buluku, yang karena itu aku diternak dan dikonsumsi oleh ummat manusia. Oleh sebab itu, ya Allah, tentu aku lebih bermanfaat dan lebih layak masuk surga daripada hewan lain ciptaanmu, seperti ayam!”

Allah kemudian memerintahkan kambing untuk masuk surga, dan selanjutnya memanggil ayam untuk melapor dan mempertanggungjawabkan perbuatan2nya selama di dunia. Ayam pun berkata: “Terima kasih, ya Allah, karena Engkau telah menciptakanku dan memberi manfaat bagi ummat manusia. Aku dipelihara karena daging, telur dan buluku disukai oleh banyak orang. Memang aku tidak seperti kambing yg memiliki banyak kelebihan, tapi aku termasuk hewan yg berkembang biak lebih cepat daripada kambing. Aku juga tidak kalah daripada kambing karena kontribusiku terhadap manusia juga signifikan: saat fajar, kokokku membangunkan mereka dari tidur malam, sehingga mereka bisa melaksanakan shalat dan beribadah kepadaMu. Oleh karena itu, ya Allah, tentu hidupku bermanfaat dan tidak sia2. Aku juga layak masuk surga, lebih layak daripada “tinggi” (kutu atau serangga yg biasa menghisap darah manusia dan tinggal di kasur atau tempat tidur).”

Allah kemudian memperbolehkan ayam untuk masuk surga. Allah lalu memanggil kutu “tinggi” untuk menghadap dan melapor kepadaNya. Tinggi pun berkata: “Terima kasih, ya Allah, karena Engkau telah menciptakanku. Tentu aku hidup di dunia ini tidak sia2, meskipun Engkau menempatkanku di tempat2 yg tersembunyi. Memang aku tidak seperti ayam yg bisa dikonsumsi oleh manusia, tetapi sungguh aku berguna bagi kehidupan mereka.” Allah pun bertanya: “Apa sumbangsihmu bagi manusia?” Si kutu menjawab: “Ya Allah, meskipun barangkali sumbangsihku amat kecil, tapi sungguh aku berperan bagi kebaikan kehidupan manusia, utamanya ketika aku menggigit mereka saat tertidur nyenyak, padahal suara adzan sudah berkumandang sedemikian kerasnya. Dg gigitanku itu, mereka terbangun dari tidurnya, sekaligus menyadari sudah saatnya mereka shalat dan beribadah kepadaMu. Jadi, sungguh aku layak masuk surga, karena lebih baik daripada hewan seperti lalat!”

Allah pun mengizinkan kutu “tinggi” masuk surga, dan kemudian memanggil lalat untuk dimintai pertanggungjawabannya. Lalat pun berkata: “Terima kasih, ya Allah, karena Engkau telah menciptakanku. Sungguh adalah anugerah bagiku telah Engkau ciptakan, karena dengan demikian Engkau telah memberiku kesempatan untuk mengabdi kepadaMu. Ya, memang aku tidak seperti si kutu yg gigitannya bisa membangunkan manusia untuk bersujud kepadaMu, tapi sungguh peranku bagi kebaikan ummat manusia tidak kalah dari si kutu.” Allah pun bertanya: “Apa yg telah kamu perbuat untuk ummat manusia?” Lalat menjawab: “Ya Allah, aku memang Engkau ciptakan dan Engkau titahkan untuk berada di tempat2 yg busuk dan buruk. Tapi sungguh dg itu, aku telah menunjukkan kepada manusia mana tempat2 yg sepatutnya dibersihkan, karena aku menjadi indikator bagi sesuatu yg jorok atau kotor. Aku jg sering nempel dan hinggap di hidung, wajah atau badan manusia, untuk mengingatkan mereka sebagai makhluq terbaikMu, agar tidak berlaku sombong. Jadi tentu kontribusiku tidak sedikit bagi kebaikan ummat manusia, yg karena itu sungguh aku layak masuk surga. Aku tentu lebih baik daripada anjing!”

Allah kemudian memperkenankan lalat untuk masuk surga. Allah kemudian memanggil anjing untuk laporan kegiatannya selama di dunia. Anjing pun berkata: “Terima kasih, ya Allah, karena Engkau telah menciptakanku. Sungguh merupakan karunia bagiku telah Engkau ciptakan dan turut mengambil bagian dalam kehidupan semesta selama di dunia. Bahkan meskipun Engkau menjadikanku sebagai binatang yg najis, tidak boleh dimakan dan tidak dianjurkan untuk dipelihara, tetapi sungguh aku memiliki banyak manfaat yg berguna bagi manusia. Aku bisa menjadi penjaga keamanan rumah dan lahan, bisa menjadi pelacak benda2 berbahaya dan bisa menjadi pemburu buruan. Aku bahkan menjadi teman setia kekasih2Mu yg tergabung dalam Ashhabul-Kahfi. Oleh karena itu, sungguh patut bagiku masuk surgaMu, dan aku lebih layak dibanding hewan seperti babi!”

Allah kemudian mengizinkan anjing untuk masuk surga. Allah lalu memanggil babi untuk dimintai pertanggungan jawabnya. Babi lalu berkata: “Terima kasih, ya Allah, karena Engkau telah menciptakanku. Adalah hadiah bagiku bisa menjadi makhluq yg mengabdi padaMu. Sungguh meskipun Engkau menakdirkanku sebagai hewan yg najis dan jorok, yg untuk membersihkannya saja memerlukan tujuh kali bilasan air dan salah satunya dg debu; walaupun Engkau menitahkanku sebagai hewan yg rakus dan kotor, yg karenanya tidak patut dipelihara, dan seluruh bagian tubuhku tidak boleh dikonsumsi dan digunakan sebagai apa saja; dan meskipun Engkau menjadikanku sebagai hewan yg haram dimakan, yg karenanya Engkau tidak memberiku leher sebagai tempat sembelihan. Tapi sungguh ya Allah, aku memiliki banyak peranan penting dalam kehidupan manusia. Antara lain, karena organ dan gen-ku paling mirip dg manusia, yg menjadikanku paling pantas digunakan sebagai tes percobaan segala obat dan terapi kesehatan bagi ummat manusia. Jadi, Engkau menakdirkan wujudku sebagai tidak sia2 dan ada manfaatnya. Sekecil apapun manfaat itu bagi ummat manusia. Oleh karena itu, ijinkan aku, ya Allah, untuk masuk ke dalam surgaMu. Sungguh meskipun aku adalah makhluk paling dihindari, tapi aku pantas masuk surga, karena ternyata ada makhluk yg lebih buruk dariku, yg tentu tidak patut masuk surgaMu.”

Allah bertanya: “Adakah yg lebih buruk darimu, wahai babi?” Babi menjawab: “Ada, ya Allah, yaitu orang kafir. Mereka lebih buruk dari kami karena mereka tidak bersyukur telah Engkau ciptakan sebagai makhluq terbaik. Engkau telah menganugerahkan akal, agar mereka mampu membedakan antara yg benar dan yg salah, tetapi mereka malah mengingkari, membantah dan menentangMu. Engkau telah memberi mereka pedoman kitab suci, tetapi mereka malah menyembunyikan kebenaran dan mengkhianati amanahMu, yg menyebabkan mereka berperilaku merusak. Engkau telah memberi mereka rasul pembimbing, agar mereka senantiasa ingat dg misi utama mereka, yaitu peduli dg kebaikan semesta, tapi mereka malah hidup penuh pura2, semata2 mencari kesenangan dunia dan menuruti hawa nafsu belaka. Mereka bukan hanya lebih buruk dari kami, tapi bahkan lebih buruk dari Iblis, sang terlaknat. Mengapa? Karena sejelek2 kelakuan Iblis, mereka masih mengakui dan menganggapMu sebagai Tuhan pencipta dan pengatur alam. Sedang orang kafir, mereka bukan hanya menentang perintahMu, tapi bahkan mengingkari keberadaanMu sebagai Tuhan…”
(Aw kama qala KH. Ali Maksum rahimahullah Ta’ala)

Saturday, September 2, 2017

SERING INGAT MATI

SERING INGAT MATI

Imam Ahmad dalam kitabnya Az-Zuhd (no. 1359) meriwayatkan:

أنَّ مُطَرِّفًا حَفَرَ لَهُ قَبْرًا فِي دَارِهِ ثُمَّ كَانَ يُحْمَلُ حَتَّى قَرَأَ فِيهِ الْقُرْآنَ فَلَمَّا مَاتَ دُفِنَ فِيهِ رَحِمَهُ اللَّهُ

"Dahulu Mutharrif membuat galian untuknya di dalam rumahnya. Kemudian ia dimasukkan ke dalam galian itu sehingga ia membaca Al-Quran di dalamnya. Ketika wafat, beliau pun dimakamkan di dalamnya."

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Al-Ihya (2/211) mengatakan:

وكان الربيع بين خيثم قد حفر في داره قبرا فكان إذا وجد في قلبه قساوة دخل فيه فاضطجع فيه ومكث ساعة ثم قال {رب أرجعون لعلي أعمل صالحاً فيما تركت} ثم يقول يا ربيع قد أرجعت فاعمل الآن قبل أن لا ترجع

"Dahulu Ar Rabie bin Khaitsam menggali kuburan di dalam rumahnya. Setiap kali merasakan hatinya menjadi keras, ia masuk ke dalam galian itu lalu berbaring dan berdiam diri beberapa saat di dalamnya. Kemudian ia membaca firman Allah: 'Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) supaya aku bisa melakukan kebaikan yang dulu kutinggalkan.'

Lalu ia mengatakan (kepada dirinya sendiri) : 'Wahai Rabie, kamu telah kukembalikan (ke dunia), maka sekarang beramallah sebelum kau kembali (kepada-Ku).'"

Di zaman sekarang, ada orang menggali kuburan lalu masuk ke dalamnya, orang-orang pada kaget dan heran lalu diliput di salah satu saluran televisi. Parahnya lagi, orang awam ikutan berkomentar, "Bid'ah."

Duh, semakin jauhnya umat ini.

Pesan Nabi SAW, "Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan, yaitu: mati."

Putri Dzunun Al-Mishri dan Ikan yang Bertasbih

Mahbib, NU Online | Selasa, 06 Juni 2017 10:31

Cirebon, NU Online
Dzunun Al-Mishri adalah tokoh tasawuf yang cukup terkenal, melalui 'tangannya' seorang biduanita bernama Rabi'atul Adawiyah bertaubat kepada Allah dan kemudian oleh Allah mengampuninya bahkan mengangkatnya menjadi salah seorang kekasih-Nya.

Ada pula cerita unik tentang Dzunnun al-Misri yang menyibak hikmah di dalamnya. Alkisah Dzunnun Al-Mishri adalah orang yang gemar memancing ikan. Saat bulan puasa, sambil ngabuburit, ia biasa berburu ikan di sungai, ikan yang didapat dari memancing itu lalu dimasak dan dimakan sebagai menu buka puasa.

Suatu hari, Dzunun Al-Mishri mengajak anak perempuannya ikut memancing. Saat itulah  tiba-tiba putrinya mengingatkan kepada ayahnya yang sufi, 'alim, dan muhadits itu bahwa ikan yang ada di sungai tersebut sedang dan selalu bertasbih kepada Allah. 

Kalau sampai ikan tersebut diambil, disembelih lalu dimakan maka mereka akan berhenti berdzikir kepada Allah. Akhirnya, Dzunun Al-Mishri mengiyakan perkataan anaknya, lalu pulang tanpa membawa ikan.

Sejak saat itu Dzunnun Al-Mishri 'pensiun' menjadi pemancing dan selalu bertawakal kepada Allah, tentu saja setelah melakukan ikhtiar tanpa mengganggu makhluk Allah yang ada di muka bumi.

Akhirnya Allah Swt membalas Dzunun Al-Mishri dan putrinya itu dengan makanan surga, setiap Maghrib selalu datang pasukan elite yang membawa makanan super lezat. "Ini makanan dari Sang Raja untuk kalian berdua," kata pasukan itu.Begitu setiap hari selama 30 tahun.

Setelah 30 tahun berlalu putri Dzunun Al-Misri wafat dan sejak saat itu pasukan elite utusan Sang Raja tidak lagi datang membawa makanan ke rumahnya dan menyadari bahwa anugerah itu merupakan karomah dari putrinya.

Kisah ini disampaikan oleh KH Tb Ahmad Rifqi Chowas dalam pengajian pasaran di Pasantren Daarussalam Buntet, Cirebon, Sabtu (3/6). Menurutnya, kisah ini sangat terkenal, dan banyak ditemui di beberapa kitab seperti kitab Jami' Karamatil Auliya, Thabaqatul Kubra karya Imam Sya'roni, dan lain-lain. (Aiz Luthfi)