Wednesday, September 27, 2017

Menepati janji, percaya dan memaafkan

Suatu hari Sayyidina Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.

Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata: "Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!"

"Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !".

Umar segera bangkit dan berkata:
"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?"

Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata:
"Benar, wahai Amirul Mukminin."

"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.

Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :

"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, kuikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."

"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.

"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat", ujarnya.

"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu", lanjut Umar.

"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,

"Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".

Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah", ujarnya dengan tegas.

"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".

"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?", tanya Umar.

"Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin".
"Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?", pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.

"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.

"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang:
"Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin".

Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.

"Salman?" hardik Umar marah.
"Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".

"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.

Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.

”Itu dia!” teriak Umar.
“Dia datang menepati janjinya!”.

Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
“Tak kukira... urusan kaumku... menyita... banyak... waktu...”.

”Kupacu... tungganganku... tanpa henti, hingga... ia sekarat di gurun... Terpaksa... kutinggalkan... lalu aku berlari dari sana..”

”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,

“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.

”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan... di kalangan Muslimin... tak ada lagi ksatria... menepati janji...”*_ jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"

Kemudian Salman menjawab : Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.

”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.

“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.

Semua orang tersentak kaget.

“Kalian...” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.

Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.*_

”Allahu Akbar!” teriak hadirin.

Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.

Tuesday, September 26, 2017

JADIKAN RUMAHMU SURGAMU

JADIKAN RUMAHMU SURGAMU

Berhias sangat penting bagi pasangan suami-istri. Salah satu faktor pemelihara keharmonisan rumah tangga adalah keindahan penampilan.

Jangan remehkan masalah penampilan. Jagalah penampilan anda di depan pasangan anda, khususnya di dalam rumah. Jangan sampai masalah penampilan merusak keharmonisan rumah tangga anda.

Seorang wanita bertanya kepada Sayidah Aisyah, "Wahai Ummul Mukminin, di wajah saya ini tumbuh bulu, bolehkah saya mencabut bulu itu saat berhias untuk suami saya?"

Aisyah menjawab:

«أَمِيطِي عَنْكِ الْأَذَى، وَتَصَنَّعِي لِزَوْجِكِ كَمَا تَصَنَّعِينَ لِلزِّيَارَةِ، وَإِذَا أَمَرَكِ فَلْتُطِيعِيهِ، وَإِذَا أَقْسَمَ عَلَيْكِ فَأَبِرِّيهِ، وَلَا تَأْذَنِي فِي بَيْتِهِ لِمَنْ يَكْرَهُ»

"Hilangkanlah sesuatu yang mengganggumu. Berhiaslah untuk suamimu sebagaimana kamu berhias kalau mau berkunjung. Kalau dia menyuruhmu, taatilah. Kalau dia meminta sesuatu, penuhilah. Dan jangan kamu masukkan orang yang tidak disukai oleh suamimu." [1]

Ibnu Abbas mengatakan:

إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَتَزَيَّنَ لِلْمَرْأَةِ، كَمَا أُحِبُّ أَنْ تَتَزَيَّنَ لِي الْمَرْأَةُ

"Sungguh aku suka berhias untuk istriku, sebagaimana aku juga suka kalau istriku berhias untukku." [2]

Asma binti Kharijah berpesan kepada putrinya sebelum menikah:

احْفَظِي أَنْفَهُ وَسَمْعَهُ وَعَيْنَهُ فَلَا يَشُمَّنَّ مِنْكِ إِلَّا طَيِّبًا وَلَا يَسْمَعُ إِلَّا حُسْنًا وَلَا ينظر إلا جميلاً

"Jagalah hidung, telinga dan mata suamimu. Jangan sampai ia mencium darimu kecuali aroma wangi. Jangan sampai ia mendengar kecuali ucapan baik. Jangan sampai ia melihat kecuali kecantikanmu." [3]

______________
[1] Mushannaf Abdurrazzaq jilid 3 halaman 146 hadits nomor: 5104.

[2] Mushannaf Ibnu Abi Syaibah jilid 4 halaman 196 hadits nomor: 19263.

[3] Ihya Ulumiddin, Imam Ghazali, 2/57.

Monday, September 25, 2017

DAN PELAJARAN MENAKJUBKAN DARI SEORANG YANG TELAH BERUSIA LANJUT

DAN PELAJARAN MENAKJUBKAN DARI SEORANG YANG TELAH BERUSIA LANJUT

🌾 Seorang pria bertanya kepada orang yang telah lanjut usianya : "Apa yang sudah Anda pelajari dari usia anda yang telah berlalu?"

🌾 Maka orang tua tersebut menjawab :

  تعلمت     أن الدنيا سلف ودين
🍃 Saya belajar  bahwa dunia itu adalah piutang dan hutang (maksudnya take and give, memberi dan menerima).

  *تعلمت*     ان المظلوم لابد له من     
                   إنتصار ولو بعد حين
🍃 Saya belajar bahwa orang yang teraniaya itu pasti akan mendapatkan pertolongan, meskipun itu setelahnya (tidak saat itu juga)

  تعلمت     ان سهام الليل لاتخطئ
🍃 Saya belajar bahwa anak panah (yaitu doa) di malam hari takkan meleset (maksudnya terijabah)

  تعلمت     أن الحياة يمكن أن تنتهي     
                   بأي لحظة و نحن على غفلة.
🍃 Saya belajar bahwa hidup dapat berakhir kapan saja sedangkan kita dalam keadaan lalai.

  تعلمت     أن الكلمة الحلوة والوجه     
                   البشوش والكرم رأس مال     
                   الأخلاق.
🍃 Saya belajar bahwa perkataan yang manis, wajah yang berseri dan kedermawanan itu adalah   modal akhlaq (yang mulia)

  تعلمت     أن أغنى إنسان في العالم هو    
                   الذي يملك الصحة والأمان.
🍃 Saya belajar bahwa orang yang paling kaya di dunia ini adalah orang yang memiliki kesehatan dan ketentraman.

  تعلمت   أن من يزرع الثوم لا يجني    
                   الريحان.
🍃 Saya belajar bahwa siapa yang menanam bawang takkan memanen selasih. (Maksudnya seseorang akan memanen apa yang ia tanam)

  تعلمت     أن العمر ينتهي والمشاغل
                   لا تنتهي.
Saya belajar bahwa usia itu akan habis (berakhir) sedangkan kesibukan tidak ada habisnya.

  تعلمت     أن من يريد من الناس أن    
                   يسمعوا منه عليه أن يسمع    
                   منهم.
🍃 Saya belajar bahwa orang yang ingin didengarkan maka ia haruslah mendengarkan orang lain.

  تعلمت     أن السفر مع الناس هو أدق    
                   مجهر يكشف لك معادن الناس.
🍃 Saya belajar bahwa bepergian dengan orang lain, itu instrumen paling detail untuk menyingkap hal yang terpendam dari seseorang (maksudnya dapat mengetahui sifat orang lain)

تعلمت     أن الذي معدنه ذهب يبقى ذهبا     
                   والذي معدنه حديد يتغير    
                   ويصدأ
🍃 Saya belajar bahwa siapa yang menambang emas maka akan tetap emas, namun siapa yang menambang besi kelak akan berubah dan berkarat.

  تعلمت     ان كل الذين دفنوا في المقابر    
                   كانو مشغولين وعندهم مواعيد   
                   وفي نياتهم أمور كثيرة
                   لم يحققوها.
🍃 Saya belajar bahwa setiap orang yang dikuburkan, mereka semua tersibukkan dan memiliki berbagai janji namun betapa banyak dari niatan mereka yang belum sempat mereka realisasikan

  تعلمت     اننا ‏​نرتب السرير ونبرد الغرفه   
                   لننعم بالموتة الصغرى.
🍃 Saya belajar bahwa kita senang merapikan ranjang dan membuat kamar tidur kita sejuk agar saat kita "mati kecil" (tidur) tetap bisa nyaman
                ولكن هل رتبنا اعمالنا
                وبردنا قبورنا بالطاعة
                 لننعم بالموتة الكبرى
Namun, pernahkah kita merapikan amalan kita dan membuat kuburan kita menjadi sejuk dengan amal ketaatan agar saat kita "mati besar" (wafat) tetap bisa nyaman

              يقول أحد الصالحين
   🌾 Salah seorang yang shalih berkata :
               عجبت للناس يحذرون
         من بعض الطعام مخافة المرض
🍃Saya heran dengan manusia, mereka menghindar dari sejumlah makanan karena takut sakit
              ولا يحذرون من الذنوب
                       مخافة النار
Namun mereka tidak menghindar dari dosa karena takut siksa neraka

                قرأتها فاعجبتني
💞 Betapa mengagumkan yang kubaca ini
      فأحببت أن أبعثها للنفوس الطيبة💐❤👌
🌸 Karena itulah saya senang untuk menyebarkannya teruntuk jiwa-jiwa yang baik...

✏ Dialihbahasakan oleh Abû Salmâ Muhammad
ℳـ₰✍
​✿❁࿐❁✿​
@abinyasalma

__________________

YANG JARANG DIKETAHUI TENTANG TAHUN HIJRIYYAH

YANG JARANG DIKETAHUI TENTANG TAHUN HIJRIYYAH

JUMLAH BULAN DALAM SETAHUN
12 Bulan

JUMLAH BULAN HARAM
4 Bulan

SIAPA YANG MENETAPKANNYA?
Yang menetapkannya adalah Allah sejak menciptakan langit dan bumi. Dan merupakan ketetapan Agama yang kokoh yang terlarang untuk diubah. (QS al-Taubah ayat 36)

PERHITUNGANNYA
Perjalanan bulan, atau disebut kalender lunar (QS al-Baqarah: 185 dan 189)

NAMA-NAMANYA
1. Muharram
2. Shafar
3. Rabi'ul Awwal
4. Rabi'ts Tsani
5. Jumadal Ula
6. Jamada Tsaniyah
7. Rajab
8. Sya'ban
9. Ramadhan
10. Syawwal
11. Dzhul Qa'dah
12. Dzul Hijjah

YANG MANAKAH BULAN HARAM?
1. Muharram
2. Rajab
3. Dzul Qa'dah
4. Dzul Hijjah

SIAPA YANG MEMBUAT NAMA-NAMA ITU?
Kakek Rasulullah Saw yang kelima, yaitu Kilab bin Murroh setelah bermusyawarah dengan suku-suku Arab.

SIAPA YANG MENGURUTKANNYA DARI MUHARRAM?
Juga Kilab bin Murroh

PADA TAHUN BERAPA?
Tahun 412 M, atau sekitar 150 tahun sebelum Rasulullah Saw diutus.

DARI MANA PENGAMBILAN NAMA-NAMA ITU?
Ada yang diambil dari musim yang terjadi pada saat penamaan. Yaitu:
1. Rab'ul Awwal (Musim Semi Pertama)
2. Rabi'uts Tsani (Musim Semi Kedua)
3. Jumada Ula (Musim Dingin Pertama)
4. Jumada Tsaniah (Musim Dingin Kedua)
5. Ramadhan (Musim Panas)
6. Syawwal (Musim Panas Naik)

Ada yang diambil dari aturan seputar bulan haram dan kegiatan ibadah di dalamnya. Yaitu nama empat bulan haram:
1. Rajab (Agung, karena dilarang berperang)
2. Dzul Qa'dah (Diam, karena dilarang berperang)
3. Dzul Hijjah (Haji)
4. Muharram (Dimuliakan atau diharamkan berperang.

Ada yang diambil dari tradisi Arab setelah bulan Haram. Yaitu:
1. Shafar. Artinya kosong karena mereka mengosongkan rumah-rumah mereka untuk berperang setelah berakhir bulan haram (Muharram)
2. Sya'ban. Artinya bercabang, karena berpencar setelah berakhir untuk kembali berperang setelah berakhir bulan Haram (Rajab)

NAMA BULAN YANG DISEBUTKAN DALAM AL-QURAN
Hanya 1. Yaitu Ramadhan.

APAKAH KALENDER BULAN SESUAI DENGAN MUSIM?
Tidak. Melainkan akan terus bergulir melintasi musim-musim. Ramadhan misalnya, meskipun artinya musim panas, tapi adakalanya terjadi pada musim semi, musim dingin, atau musim panas.

MENGAPA ADA NAMA YANG BERARTI MUSIM?
Karena pada saat pembuatan namanya bertepatan dengan musim-musim itu.

NAMA-NAMA BULAN SEBELUM PERIODE KILAB BIN MURRAH

1. Mu'tamar (Muharram). Artinya bulan muktamar suku-suku Arab.
2. Najir (Shafar). Artinya bulan yang sangat panas.
3. Khuwan (Rabi'ul Awwal). Artinya bulan pengkhianat
4. Bushan / Shuwan (Rabi'uts Tsani). Artinya bulam penjaga.
5. Hanin (Jumada Ula). Artinya bulan rindu. Atau Khatm. Artinya tmpayan hijau.
6. Warnah atau Ziya (Jumada Tsaniyyah). Artinya nama wanita pembunuh yang dijadikan nama bulan).
7. Al-Ashamm (Rajab). Artinya tuli.
8. Wa'l atau 'adil (Sya'ban). Artinya beralih atau adil.
9. Natiq (Ramadhan). Artinya mati atau mencabut.
10. 'Adzil atau Waghil (Syawwal). Artinya pencela atau sekutu.
11. Huwa' (Dzul Qa'dah). Artinya bunglon betina.
12. Burak (Dzul Hijjah). Artinya menderum.

KEKACAUAN PENANGGALAN
Pernah terjadi kekacauan pada penanggalan, tapi bukan pada tanggalnya, melainkan pada bulannya akibat penundaan (interkalasi) Bulan Haram selama berabad abad. Misalnya, bulan haram yang harusnya Muharram maka dijatuhkan pada bulan Shafar, dan seterusnya. Hal ini dilakukan agar aturan-aturan seputar Bulan Haram disesuaikan dengan keinginan mereka. Termasuk menyesuaikan dengan musim yang diinginkan. Pada akhirnya seringkali pelaksanaan ibadah haji jatuh pada bulan yang bukan bulan haji. Demikian pula peperangan yang terlarang di Bulan Haram malah terjadi pada Bulan Haram. Pada pasa berikutnya tak diketahui lagi siklus yang benar bulan-bulan haram.

TOKOH YANG PERTAMA KALI MELAKUKAN PENUNDAAN
Sarir bin Tsa'labah yang disetujuai semua kabilah Arab.

TOKOH TERAKHIRNYA
Junadah bin Auf.

KAPAN DILURUSKAN?
Ayat Al-Quran turun melarang interkalasi dan Rasulullah Saw menjelaskan mana bulan haram yang sesuai siklus yang benar sejak pertama kali Allah menciptakan langit dan bumi. Ini terjadi pada masa Junadah bin Auf, dan berakhirlah masa kekacauan Bulan Haram. (QS al-Taubah 37)

PENENTUAN TAHUN KE-1
Penentuan tahun ke 1 terjadi pada zaman Umar bin Khattab, 6 tahun setelah Rasulullah Saw wafat.

SIAPA YANG MENGUSULKAN?
Abu Musa al-Asy'ari. Saat itu, Abu Musa sebagai gubernur Bashrah menerima surat dari Umar bin Khaththab yang bertarikh bulan Sya'ban tapi Abu Musa bingung apakah bulan Sya'ban yang dimaksud Umar adalah bulan Sya'ban tahun sekarang atau Sya'ban tahun sebelumnya. Lalu Abu Musa mengusulkan dibuatkan penanggalan yang diberikan keterangan tahun.

MENGAPA DISEBUT HIJRIYAH?
Karena Umar bin Khaththab menetapkan tahun pertama dari Hijrah Rasulullah Saw ke Madinah setelah bermusyawarah dengan para sahabat besar. Sehingga disebut Hijriyyah, dan tahun-tahun sebelumnya disebut Sebelum Hijrah.

USULAN SIAPA?
Ali bin Abu Thalib yang mengusulkan agar tahun pertama dihitung dari Hijrah mengalahkan usulan yang lain yang mengusulkan agar tahun pertama dihitung dari kelahiran Rasulullah Saw atau tahun diutus beliau.

BULAN APA RASULULLAH SAW HIJRAH?
Bulan Rabi'ul Awwal tanggal 12

PENENTUAN BULAN PERTAMA DALAM SETAHUN

Umar bin Khaththab menetapkan bulan Muharram sebagai bulan pertama. Hal ini karena Umar bersandar kepada:
1. Rencana hijrah Rasulullah Saw dirancang pada bulan haji (dzul hijjah) di mana terjadi bai'at delegasi dari Madinah kepada Rasulullah Saw di Aqabah, Mina, sehingga sebenarnya rangkaian proses hijrah beliau sudah dimulai sejak berakhirnya bulan Dzul Hijjah, bukan hanya pada Rabi'ul Awwal.
2. Orang-orang Arab sudah lebih dahulu menetapkan bulan Muharram sebagai pertama dalam setahun sementara Rasulullah Saw tidak meluruskannya. Berarti tradisi Arab itu disetujui wahyu.
3. Bulan Muharram terjadi setelah bulan Dzul Hijjah, bulan terakhir dari bulan haji. Para jamaah haji sudah pulang kampung dan memulai hidup baru di bulan Muharram. Tepat kalau bulan Muharram jadi bulan pertama dalam setahun.

APAKAH BOLEH MEMODIFIKASI NAMA-NAMA BULAN?
Nama-nama bulan tidak disebutkan dalam Al-Quran kecuali Ramadhan. Rasulullah Saw pun tidak membuat nama baru untuknya melainkan menganggap cukup dengan nama-nama yang telah dibuat oleh kakek kelima beliau, Kilab bin Murrah. Diamnya beliau bisa difahami dengan dua kesimpulan:
1. Rasulullah Saw mengidzinkan memberi nama dengan nama-nama yang tidak mengurangi keagungannya selama tidak melanggar aturan-aturan Allah terkait siklus-nya. Yaitu 12 bulan dalam setahun dengan 29 atau 30 hari setiap bulannya. Juga tidak melanggar aturan Bulan Haram seperti penangguhan dan lainnya. Kalau tidak mengidzinkan, mana mungkin beliau setuju dengan nama-nama yang dibuat kakek kelimanya.
2. Rasulullah Saw sudah menetapkan dan mengukuhkan nama-nama itu. Berarti tidak boleh diganti lagi dengan yang lain.
Tapi para ulama di Nusantara, mengenal nama-nama bulan Hijriyah yang identik dengan tradisi keislaman lokal. Misalnya nama-nama bulan menurut orang Jawa:

1. Sura / Suro (Muharram)
2. Sapar (Shafar)
3. Mulud (Rabiul Awwal)
4. Bakda Mulud (Rabi'uts Tsani)
5. Jumadil Awwal (Jumadal Ula)
6. Jumadil Akhir (Jumadats Tsaniyah)
7. Rejeb (Raja)
8. Ruwah (Sya'ban)
9. Poso (Ramadhan)
10. Sawal (Syawwal)
11. Apit / Sela(Dzul Qa'dah)
12. Besar / Haji (Dzul Hijjah)

SUDAH BERAPA TAHUN SEKARANG
Di tahun 2017 ini sudah 1439 tahun. Berarti kalau perumusan tahun Hijriyyah dilukan enam tahun setelah Rasulullah wafat maka perumusan tersebut terjadi pada tahun 17 Hijriyyah. Atau 1422 tahun yang lalu.

REFERENSI
1. Al-Ayyam wa al-Layaali wa al-Syuhuur, al-Farra (w. 215 H.)
2. Al-Mufashshal fi Tarikh al-'Arab Qabla al-Islam, Dr. Jawad Ali
3. Al-Bidayah wa al-Nihayah, Ibnu Katsir (w. 774 H.)
4. Sirah Ibn Katsir (w. 774 H.)
5. Tafsir Ibn Katsir (w. 774 H.)

Deden Muhammad Makhyaruddin
Indonesia Murojaah Foundation