Friday, November 3, 2017

Diantara karomah syaikh abdul qodir al jilani

Dalam kitab Mir'atuz Zaman, Syeh Yusuf menceritakan :
"Abdus Shomad bin Hammam adalah salah seorang yg berada di garis kiri, seorang hartawan yg membenci Syeh Abdul Qodir Al Jaelani dan sering mengingkari karomah-karomah beliau. Abdus Shomad benar2 tidak percaya.
Namun belakangan, ia bersahabat karib dengan Syeh Abdul Qodir. orang2 heran dengan perubahan tsb. Setelah Syeh Abdul Qodir wafat, Abdus Shomad di tanya tentang perubahan pada dirinya itu, Abdus Shomad menjawab :

' Aku memang seperti yg kalian tahu, pada suatu hari aku kebetulan melintasi madrasah Syeh Abdul Qodir, waktu itu adzan berkumandang dan dalam hati ku befikir utk mengerjakan sholat dengan cepat lalu membuang hajat.
Aku berjalan dengan telanjang kaki, Aku masuk dan ku melihat dinding yg biasa di sandari Syeh Abdul Qodir, dan akupun sholat di tempat itu.

Aku tidak merasa bahwa hari itu adalah hari dimana beliau biasa menyampaikan ceramah. Orang2 mulai padat sehingga tidak mungkin aku keluar. Aku tambah keburu agar pengajian itu segera selesai .Syeh Abdul Qodir naik keatas mimbarnya. Aku tak tahan sehingga kebencianku thd Syeh Abdul Qodir semakin menjadi-jadi.

Namun aku bingung dengan diriku sendiri setelah mencium sesuatu di bajuku. Orang2 yg hadir mencium bau kotoran dariku. Aku setengah mati menahan malu. ketika aku sedang berfikir apa yg musti ku lakukan, tiba2 Syeh Abdul Qodir turun dari mimbarnya dan menutupiku dengan lengan bajunya. Aku serasa ada di sebuah taman hijau di padang rerumputan, di sana terdapat air yg mengalir. Aku membuang hajatku , setelah itu aku mengambil wudlu dan sholat dua roka'at. Kemudian Syeh Abdul Qodir mengangkat lengan bajunya dari kepalaku. Aku pun kembali berada di tempat semula, di dekat mimbarnya. Semua rasa sakit di perutku hilang. Dari situlah ketakjubanku kepada beliau semakin bertambah kuat. Aku melihat di beberapa ujung bajuku masih tampak basah oleh air tadi. Aku sungguh di buat bingung dan tak mengerti apa yg sebenarnya terjadi.

Setelah pengajian selesai, aku ikut pulang. Namun sapu tangan dan kunci peti hartaku hilang entah kemana. Aku telah berusaha mencarinya di tempat ku berada di dalam majelis itu. tapi usahaku sia2. Akupun pulang kerumah dan meminta tukang kunci utk membuatkan duplikatnya agar peti hartaku dapat di buka.
Pada hari itu juga, kebetulan aku ingin bepergian ke Iraq utk urusan penting.
Setelah 3 hari keluar dari kota Baghdad aku melewati suatu padang hijau yg di sana terdapat sungai yg mengalir.
Beberapa teman berkata, ' tidakkah lebih baik kita berhenti dan mengerjakan sholat dulu di sini dan makan2 sebentar, sebab kita tidk akan menemukan seperti ini lagi di depan sana.'

Akupun turun dari kendaraan, ku amati tempat itu dan tidak di ragukan lagi, aku pernah mengambil air wudlu di tempat itu . Lalu aku pergi menuju suatu tempat yg pernah aku tempati utk sholat . Ternyata, tak di sangka aku menemukan sapu tangan dan kunciku yg pernah hilang pada waktu mengikuti pengajian Syeh Abdul Qodir Al Jaelani.
SUBHAANALLOH ....

Wallohu a'lam.

KISAH WALI LASEM YG TAHU KAPAN AJALNYA TIBA'

"KISAH WALI LASEM YG TAHU KAPAN AJALNYA TIBA''

"Mbah Masum Mimpi Bertemu Rasullullah di Stasiun Bojonegoro"

Mbah Masum bermimpi bertemu Rasulullah saat tidur di Stasiun Bojonegoro. Beliau kemudian bersalaman dengan Kanjeng Rasul, dan setelah bangun tangannya masih berbau wangi. Sejak itu hidup Mbah Masum berubah.

Kyai besar dan Wali Allah yang amat dihormati di kalangan umat Islam ini, yang biasa disapa Mbah Ma’shum, adalah salah satu dari dua “Gembong Kyai” asal Lasem selain Kyai Baidhowi Abdul Aziz.

Beliau senantiasa menjalin silaturahmi, jujur, mengayomi, menghormati tamu dan teguh menjaga kebenaran. Seluruh hidupnya diabdikan kepada masyarakat, terutama kaum papa. Beliau bahkan menganggap pengabdian ini sebagai laku tarekatnya.

Menurut Denys Lombard, ahli sejarah terkenal, “Mbah Masum adalah seorang guru (kyai) dari Lasem yang kurang dikenal di tingkat nasional, namun kematiannya pada tahun 1972 menimbulkan guncangan hebat dari satu ujung jaringan ke ujung jaringan lainnya.”

Nama aslinya adalah Muhammadun, diperkirakan lahir sekitar tahun 1870. Ayahnya bernama Ahmad, seorang saudagar. Dari jalur ayahnya, beliau masih punya hubungan darah dengan Sultan Minangkabau, dan silsilahnya bersambung hingga ke Rasulullah. Ibunya bernama Nyai Qosimah. Mbah Ma’shum punya dua saudara, yakni Nyai Zainab dan Nyai Malichah.

Sejak kecil Mbah Ma’shum telah dikirim ke beberapa pesantren untuk mendalami ilmu agama, di antaranya kepada Kyai Nawawi Jepara, Kyai Ridhwan Semarang, Kyai Umar Harun Sarang, Kyai Abdus Salam Kajen, Kyai Idris Jamsasren Solo, Kyai Dimyati Termas, Kyai Hasyim Asy’ari Jombang dan Kyai Kholil Bangkalan. Di Mekkah beliau berguru kepada Syekh Mahfudz al-Turmusi dari Termas.

Tanda-tanda keutamaan Mbah Ma’shum telah diketahui secara kasyaf oleh Mbah Kholil Bangkalan, seorang wali Qutub yang amat masyhur. Dikisahkan, sehari sebelum kedatangan Mbah Ma’shum ke Bangkalan, Mbah Kholil menyuruh para santri membuat kurungan ayam.

Kata Mbah Kholil, “Tolong aku dibuatkan kurungan ayam jago. Besok akan ada ayam jago dari tanah Jawa yang datang ke sini.”

Begitu Mbah Ma’shum datang, yang saat itu usianya sekitar 20-an tahun, beliau langsung dimasukan ke kurungan ayam itu. Mbah Ma’shum disuruh oleh Mbah Kholil untuk mengajar kitab Alfiyah selama 40 hari.

Yang aneh, pengajaran dilakukan oleh Mbah Ma’shum di sebuah kamar tanpa lampu, sedangkan santri-santrinya berada di luar. Mbah Ma’shum hanya 3 bulan di Bangkalan. Ketika hendak pulang, Mbah Kholil memanggilnya dan didoakan dengan doa sapujagad.

Lalu, saat Mbah Ma’shum melangkah pergi beberapa meter, beliau dipanggil lagi oleh Mbah Kholil dan didoakan dengan doa yang sama. Hal ini terjadi berulang hingga 17 kali.

Mbah Ma’shum menikah dua kali – nama istri pertama ada beberapa versi, sedangkan istri kedua adalah Nyai Nuriyah. Putra pertama Mbah Ma’shum, Kyai Ali Ma’shum, kelak menjadi pemimpin Pesantren Munawwir Krapyak, Yogyakarta, dan menjadi salah satu tokoh NU yang terkenal di tingkat nasional.

Bertemu nabi

Sejak muda Mbah Ma’shum sudah hidup zuhud. Beliau sempat menjadi pedagang baju hasil jahitan Nyai Nuri, juga berjualan nasi pecel, lampu petromak, sendok, garpu, konde dan peniti.

Sembari berdagang beliau juga menyempatkan diri untuk mengajar umat dan secara rutin berkunjung ke Tebuireng untuk mengaji kepada Kyai Hasyim Asy’ari, walau dari segi usia Mbah Ma’shum lebih tua.

Mbah Ma’shum berhenti berdagang setelah bermimpi bertemu Rasulullah beberapa kali, di mana Kanjeng Rasul menasihatinya agar meninggalkan perdagangan dan beralih menjadi pengajar umat.

Mimpi itu terjadi di beberapa tempat – di stasiun Bojonegoro, saat antara tidur dan terjaga, beliau berjumpa Kanjeng Rasul yang memberinya nasihat La khayra illa fi nasyr al-ilmi (Tiada kebaikan kecuali menyebarkan ilmu).

Beliau juga bermimpi bersalaman dengan Kanjeng Rasul, dan setelah bangun tangannya masih berbau wangi. Beliau juga bermimpi bertemu nabi sedang membawa daftar sumbangan untuk pembangunan pesantren, dan berpesan kepada Mbah Ma’shum, “Mengajarlah … dan segala kebutuhanmu Insya Allah akan dipenuhi semuanya oleh Allah.”

Ketika dikonsultasikan dengan Kyai Hasyim Asy’ari, yang biasa memanggil Mbah Ma’shum dengan sebutan Kangmas Ma’shum karena sudah amat akrab, mengatakan mimpi itu sudah jelas dan tak perlu lagi ditafsirkan.

Setelah mimpi-mimpinya itulah beliau menetap di Lasem dan istiqamah mengajar. Sebelum mendirikan pesantren, beliau berziarah dulu ke beberapa makam Wali Allah, seperti makam Habib Ahmad ibn Abdullah ibn Tholib Alatas, Sapuro, Pekalongan.

Menurut Mbah Ma’shum, saat berziarah pada malam Jum’at, Habib Ahmad Alatas menemuinya dan memimpin doa bersama. Setelah itu Mbah Ma’shum keliling kota meminta sumbangan, dan berhasil mendapatkan sejumlah uang yang dibutuhkan untuk membangun pesantren.

Selain ke makam Habib Ahmad, beliau juga sering mendatangi haul Habib Ali Kwitang, Jakarta, dan ke makam Mbah Jejeruk (Sultan Mahmud) di Binangun Lasem. Setiap kali berziarah ke makam Mbah Jejeruk ini Mbah Ma’shum selalu membaca Shalawat Nariyah 4444 kali dalam sekali duduk.

Mbah Ma’shum juga istiqamah mengamalkan doa Nurun Nubuwwah selepas shalat Subuh dan Ashar. Setelah beberapa lama mengembangkan pondok, pesantrennya kemudian dinamakan Pesantren al-Hidayat.

Tetapi agresi Belanda tahun 1949 membuat Mbah Ma’shum harus mengungsi, dan pesantren mengalami masa vakum sampai situasi tenang dan aman kembali. Mbah Ma’shum selama mengajar banyak berperan aktif langsung dalam pendidikan santrinya.

Beliau juga memiliki kebiasaan mengajar beberapa kitab yang diajarkan terus-menerus berulang-ulang – artinya jika kitab itu khatam, maka akan dimulai lagi dari awal. Di antaranya adalah pelajaran al-Qur’an, Fathul Qarib, Fathul Wahhab, Jurumiyah, Alfiyah, al-Hikam ibn Athaillah, dan Ihya Ulumuddin.

Dua tahun lagi mati

Dalam mengajar santri Mbah Ma’shum amat disiplin dan istiqamah, sebab istiqamah adalah lebih utama ketimbang seribu karamah. Beliau juga tak segan-segan menegur khatib Jum’at yang khotbahnya terlalu lama dengan cara bertepuk tangan. Banyak muridnya yang menjadi kyai besar, seperti Kyai Abdul Jalil Pasuruan, Kyai Abdullah Faqih Langitan, Kyai Ahmad Saikhu Jakarta, Kyai Bisri Mustofa Rembang, Kyai Fuad Hasyim Buntet Cirebon, dan masih banyak lagi.

Sebagai kyai NU beliau juga gigih berjuang mendukung membesarkan NU bersama kyai-kyai lainnya. Beliau amat mencintai organisasi ini, sehingga beliau menyatakan tidak ridho jika anak keturunannya tidak mengikuti NU.

Bahkan Mbah Ma’shum sendiri selalu didatangi oleh banyak kyai jika ada urusan penting di tubuh NU untuk meminta nasihat dan doanya. Misalnya ketika hangat-hangatnya pembentukan Jam’iyyah Thariqah al-Mu’tabarah al-Nahdliyah, Mbah Ma’shum termasuk yang setuju, dan bahkan menjadi salah satu “petinggi” organisasi tarekat itu, walaupun beliau sendiri tidak mengamalkan praktik-praktik tarekat.

Menurutnya, “Saya sudah menggunakan tarekat langsung dari Kanjeng Nabi Muhammad, yakni berupa Hubb al-Fuqara wa al-Masakin (mencintai kaum fakir miskin).”

Selain itu banyak pula tokoh lain yang sowan kepada beliau guna meminta doa restu. Hal ini juga dilakukan oleh Profesor Kyai Haji Mukti Ali saat diangkat menjadi menteri agama. Mbah Ma’shum bersedia mendoakan Mukti Ali jika dia mau mengikuti sarannya, yang salah satunya menunjukkan kebesaran jiwanya: “Engkau jangan sekali-kali membenci NU. Sebab membenci NU sama dengan membenci aku karena NU itu saya yang mendirikan bersama-sama ulama lain. Tetapi engkau pun jangan membenci Muhamadiyyah. Jangan pula membenci PNI dan partai lain … Kau harus dapat berdiri di tengah-tengah dan berbuat adil terhadap mereka.”

Ketika pecah huru-hara PKI Mbah Ma’shum terpaksa melakukan perjalanan dari kota ke kota, karena beliau termasuk tokoh yang diincar hendak dibunuh oleh PKI. Mbah Ma’shum wafat pada 28 April 1972 (14 Robiul Awal 1392 H) jam 2 siang, setelah shalat Jum’at. Upacara pemakamannya dibanjiri massa yang ingin memberikan penghormatan terakhir.

Pemakamannya dihadiri oleh banyak tokoh ulama, petinggi partai politik dan pejabat pemerintah. Karamah Sebagaimana umumnya para Wali Allah, Mbah Ma’shum juga dikaruniai karamah. Beliau tahu kapan dirinya akan meninggal. Ketika Kyai Baidhowi wafat pada 11 Desember 1970, Mbah Ma’shum menyatakan bahwa 2 tahun lagi dirinya akan wafat – pernyataan ini menjadi kenyataan.

Menurut seorang saksi, Mbah Ma’shum ketika di depan jenazah Mbah Baidhowi, beliau seperti berbicara dengan almarhum, dan berkata, “Ya, 2 tahun lagi saya akan menyusul.”

Karamah lainnya adalah firasat yang tajam, mengetahui isi pikiran orang. Ada satu kisah karamah lain yang menunjukkan ketinggian kedudukan spiritualnya. Dikisahkan bahwa suatu waktu seusai shalat Dhuha, beliau dipijiti oleh santrinya yang bernama Ahmad hingga tertidur. Mendadak di luar kamar terdengar ada tamu menyampaikan salam. Ada sembilan orang tamu berwajah habaib, duduk melingkar di ruang tamu.

“Mbah Ma’shum ada?” tanya salah satu dari mereka. Oleh Ahmad dijawab masih tidur, sambil menawarkan untuk membangunkannya. “Tidak usah,” kata tamu itu. Lalu para tamu itu berbicara satu sama lain dengan bahasa yang aneh, kemudian mereka membaca shalawat lalu berpamitan. Begitu para tamu beranjak keluar, Mbah Ma’shum memanggil Ahmad.

“Ada apa Mad?” Setelah dijelaskan, Mbah Ma’shum menyuruh Ahmad memanggil tamunya itu. Namun dalam waktu sesingkat itu para tamu itu sudah menghilang. Kemudian Mbah Ma’shum memberi tahu bahwa mereka adalah Sunan Ampel dan 8 Wali lainnya.

Subhanallah ... Inilah bagian dari kisah karomah Mbah Ma’shum, semoga dengan kisah ini dapat bermanfaat dan mengambil pelajaran dari karomah almarhum Mbah Ma’shum.
Wallahu a'lam bisshawab.

Kyai Hamid Pasuruan Dan Kisah Salamnya Kyai Hamid kepada ‘Wali Gila’ di Pasar Kendal

Kyai Hamid Pasuruan Dan Kisah Salamnya Kyai
Hamid kepada ‘Wali Gila’ di Pasar Kendal
________________________________________________

Suatu ketika seorang Habib dari Kota Malang, ketika masih muda, yaitu Habib Baqir Mauladdawilah (sekarang beliau masih hidup),
diijazahi sebuah doa oleh al-Ustadzul Imam Al-Habr al-Quthb al-Habib Abdulqadir bin Ahmad
Bilfaqih, Habib Abdulqadir Bilfaqih berpesan kepada Habib Baqir untuk membaca doa tersebut ketika akan menemui seseorang agar tahu sejatinya orang tersebut siapa, orang
atau bukan.

Suatu kesempatan datanglah Habib Baqir menemui seorang waliyullah di daerah Pasuruan, Jawa Timur, yang masyhur dengan nama Mbah Hamid Pasuruan. Ketika itu di tempat Mbah Hamid banyak sekali orang yang sowan kepada beliau, meminta doa atau
keperluan yang lain.

Setelah membaca doa yang diijazahkan, Habib Baqir merasa kaget. Ternyata orang yang terlihat seperti Mbah Hamid sejatinya bukan
Mbah Hamid. Beliau mengatakan:

“Ini bukan Mbah Hamid, ini adalah khodamnya. Mbah Hamid tidak ada di sini” Kemudian Habib Baqir mencari di manakah sebetulnya Mbah Hamid.

Setelah bertemu dengan Mbah Hamid yang asli, Habib Baqir bertanya kepada beliau:
“Kyai, Kyai jangan begitu.”

Mbah Hamid menjawab: “Ada apa
Bib?”

Habib Baqir kembali berkata:
“Kasihan orang-orang yang meminta
doa, itu doa bukan dari panjenengan, yang mendoakan itu khodam. Panjenengan di mana waktu itu?”

Mbah Hamid tidak menjawab, hanya diam. Namun Mbah Hamid pernah menceritakan masalah ini kepada Seorang Habib sepuh. Habib sepuh tersebut juga pernah bertanya
kepada beliau, Saat itu Habib sepuh tersebut
bertanya:

“Kyai Hamid, waktu banyak orang-orang meminta doa kepada njenengan, yang memberikan doa bukan njenengan, njenengan di mana. Kok tidak ada..?”

Jawab Mbah Hamid: “Hehehee.. ke sana sebentar”

Habib sepuh tersebut semakin penasaran:
“Ke sana ke mana Kyai?”

Jawab Mbah Hamid: “Kalau njenengan pengen tahu, datanglah ke sini lagi.”

Singkat cerita, Habib sepuh tersebut kembali menemui Mbah Hamid, ingin tahu di mana tempat persembunyian beliau. Setelah bertemu, bertanyalah Habib sepuh tadi:

“Di mana Kyai?”

Mbah Hamid tidak menjawab, hanya langsung memegang Habib sepuh tadi. Seketika itu, kagetlah Habib sepuh tadi, melihat suasana di
sekitar mereka berubah menjadi bangunan Masjid yang sangat megah.

“Di mana ini Kyai?” Tanya Habib
sepuh tadi.

“Monggo njenengan pirsani
piyambek niki teng pundi”
(Silakan kamu lihat sendiri ini di mana_red)
jawab Mbah Hamid.

Subhanalloh, ternyata Habib sepuh tadi dibawa oleh Mbah Hamid mendatangi Masjidil Haram.

Habib sepuh kembali bertanya kepada Kyai Hamid:

“Kenapa njenengan memakai doa?”

Mbah Hamid kemudian
menceritakan:
“Saya sudah terlanjur.terkenal, saya tidak ingin terkenal,.tidak ingin muncul, hanya ingin asyik sendirian dengan Allah, saya sudah berusaha bersembunyi, bersembunyi di mana saja, tapi
orang-orang selalu ramai datang kepadaku. Kemudian saya ikhtiar menggunakan doa ini, itu yang saya taruh di sana bukanlah khodam dari
jin, melainkan Malakul Ardhi, Malaikat yang ada di bumi. Berkat doa ini, Allah Ta’ala menyerupakan malaikatNya dengan rupaku.”

Habib sepuh yang menyaksikan secara langsung peristiwa tersebut, sampai meninggalnya merahasiakan apa yang pernah dialaminya bersama Mbah Hamid, hanya sedikit
yang diceritakan kepada keluarganya.

…………………………………………………………………………

Lain waktu, ada tamu dari Kendal sowan kepada Mbah Hamid. Lantas Mbah Hamid menitipkan salam untuk si fulan bin fulan yang
kesehariannya berada di Pasar Kendal, menitipkan salam untuk seorang yang dianggap gila oleh masyarakat Kendal. Fulan bin fulan kesehariannya berada di sekitar pasar dengan pakaian dan tingkah laku persis seperti orang gila, namun tidak pernah mengganggu orang-
orang di sekitarnya. Tamu tersebut bingung kenapa Mbah Hamid sampai menitip salam
untuk orang yang dianggap gila oleh.dirinya.

Tamu tersebut bertanya: “Bukankah.orang tersebut adalah orang gila Kyai.?”

Kemudian Mbah Hamid menjawab:
“Beliau adalah wali besar yang menjaga Kendal, rahmat Allah turun, bencana ditangkis, itu berkat beliau, sampaikan salamku.”

Kemudian setelah si tamu pulang ke Kendal, menunggu keadaan pasar sepi, dihampirilah “orang yang dianggap gila tersebut” yang
ternyata Shohibul Wilayah Kendal.

“Assalamu’alaikum…” Sapa si tamu.

Wali tersebut memandang dengan tampang menakutkan layaknya orang gila sungguhan, kemudian keluarlah.seuntai kata dari bibirnya dengan nada sangar: “Wa’alaikumussalam..
ada apa..!!!”

Dengan badan agak gemetar, si tamu memberanikan diri. Berkatalah ia:

“Panjenengan dapat salam dari Kyai Hamid Pasuruan, Assalamu’alaikum…”

Tak beberapa lama, wali tersebut berkata: “Wa’alaikumussalam” dan berteriak dengan nada keras:

“Kurang ajar si Hamid, aku berusaha bersembunyi dari manusia, agar tidak diketahui manusia, kok malah dibocor-bocorkan. Ya Allah, aku tidak sanggup, kini telah ada yang tahu siapa aku, aku mau pulang saja, gak sanggup aku hidup di dunia.”

Kemudian wali tersebut membaca sebuah doa, dan bibirnya mengucap:

“Laa Ilaaha Illallah Muhammadun
Rasulullah…”

Seketika itu langsung meninggallah.sang Wali di hadapan orang yang diutus Mbah Hamid.

Subhanallah… begitulah para.Walinya Allah, saking inginnya berasyik-asyikkan hanya dengan Allah sampai berusaha bersembunyi
dari keduniawian, tak ingin ibadahnya diganggu oleh orang-orang ahli dunia, Bersembunyinya
mereka memakai cara mereka masing-masing.

Oleh karena itu.janganlah kita su’udzon terhadap orang-orang di sekitar kita, jangan-
jangan dia adalah seorang Wali yang. “bersembunyi”.

Jadi ingat nasihat Maha Guru kami, al-Quthb al-Habib Abdulqadir bin Ahmad Bilfaqih:
“Jadikanlah dirimu.mendapat tempat di hati seorang Auliya.”

Semoga nama kita tertanam di hati para kekasih Allah, sehingga kita selalu mendapat nadzrah dari guru-guru kita, dibimbing ruh kita sampai terakhir kita menghirup udara dunia
ini, Aamiin.

Sumber: KH. Achmad Sa’idi bin KH. Sa’id (Pengasuh Ponpes Attauhidiyyah Tegal)

Thursday, November 2, 2017

KISAH WANITA TARIM DI YAMAN YANG RELIGIUS

"KISAH WANITA TARIM DI YAMAN YANG RELIGIUS."

Tahukah Wanita Tarim ?
Wanita tarim sudah terbiasa sejak kecil dibesarkan dlm lingkungan beragama. Hidupnya dipenuhi hadir di majlis ilmu. Sedari kecil mereka dididik utk membaca al-Qur’an oleh orangtua mereka. Terdidik dgn akhlak yg mulia & terjaga pergaulannya.

Terjaga pula aurat mereka. Bagi mereka setelah mencapai umur baligh, tempat mereka adalah di dalam rumah.

Mereka tidak pernah melihat lelaki asing selain daripada saudara2 lelaki dan ayah saudara mereka saja. Mereka dibesarkan dgn tidak mengenal musik & tidak kenal wajah orang fasiq.

Perbicangan mereka hanya seputar majlis2 ilmu, Al-Qur’an, adab, akhlak, dsb. Begitulah keadaan mereka dibesarkan.

Apabila tiba saat yg sesuai utk menikah, maka mereka dinikahkan pada pasangan yg sesuai. Pilihan keluarga, tanpa ada bantahan.

Tanpa ada cinta atau ‘dating’ sebelumnya. Kebiasaannya mereka menikah usia masih muda, sekitar belasan tahun.

Begitulah keadaan mereka, cukup terpelihara dan terjaga. Wanita Tarim juga tidak pernah menyusahkan suami mereka. Begitu juga dengan para suaminya, tidak menyusahkan isteri mereka.

Bila ada keperluan membeli barang seperti beras susu, dsb kehabisan. Mereka tidak langsung memberitahu suami karena takut mungkin si suami tidak mempunyai uang atau sedang sibuk, maka apa yg mereka lakukan adalah dgn meletakkan bungkusan2 kosong pada tempat yg mudah dilihat oleh suaminya.

Begitu juga para suami, seluruh hajat & keperluan dapur seperti sayur dsb, suami yang belikan.

Keadaan ini tidak pula menghalang para isteri utk keluar membeli ke pasar seperti membeli baju atau barang keperluan wanita, namun urusan dapur seperti membeli sayur, beras dan lain-lainnya itu merupakan tugas suami atau pembantu.

Si isteri selalu menghias & menjadikan kamar tidur harum wangi. Bila suaminya pulang, kamar sudah rapih, indah dan harum.

Pakaian suami sudah pasti wangi, kamar mandi juga wangi & semuanya dikemas serapi mungkin. Karena wangi-wangian itu mampu membangkitkan suasana yg tenang & romantis serta menambahkan kasih sayang.

Si isteri juga tdk pernah mengangkat & meninggikan suara pd suami. Mereka tidak pernah marah & memperlihatkan rasa cemburu. Bila mereka merasa kesal, mereka akan menangis & mengadu pada suaminya dgn nada yg lirih. Itulah marah mereka.

Keadaannya sama juga dgn para suami. Mereka tdk pernah marah pd isteri, apalagi mencaci & menghina. Bila suami merasa sangat kesal atas sesuatu perkara, mereka akan menulis sepucuk surat kepada isteri & kemudian mereka akan pergi atau tidur.

Kemudian nanti isteri akan menjawab surat dr suami tadi, seterusnya suami pula akan menjawab surat dr isteri sampai akhirnya mereka berdua akan saling memaafkan.

Mungkin akan sulit didapati di jaman sekarang, kehidupan yg menjalankan sesuai tuntunan Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم
Tapi sangat mudah ditemukan di kota Tarim.

Di Tarim akan sulit ditemukan kaum perempuan yg memperlihatkan wajahnya di khalayak ramai tatkala mereka bekerja di ladang / mengembala kambing dibukit. Meski jauh dr pandangan kaum lelaki, mereka tetap menutup rapih tubuhnya & berniqab/berpurdah hitam.

Mereka dapat bertahan walaupun di dalam keadaan panas teriknya matahari di negeri Tarim/Hadhramaut yg terkenal dgn panasnya.

Begitulah perempuan di Tarim. Kepanasan api neraka lebih di takutkannya daripada panasnya matahari di bumi.

Dan kaum perempuan di Tarim hanya keluar jika ada keperluan saja. Kalau ke pasar / ke kedai selalu ditemani mahram yg akan menemaninya / mereka keluar secara bergerombolan.

Sungguh terpeliharalah mereka dr sembarang fitnah.
Semoga ada sedikit manfaat yg bisa kita ambil dr cerita diatas.