Thursday, January 18, 2018

BAHAYA BERCEKCOK DENGAN ORANG SALIH

BAHAYA BERCEKCOK DENGAN ORANG SALIH

Suatu saat, ada seorang shahabat Nabi yang salih bernama Sa’id bin Zaid (سعيد بن زيد) yang ditengkari seorang wanita bernama Arwa binti Aus (أروى بنت أوس). Arwa menuduh Sa’id mengambil sebagian tanahnya secara curang. Arwa melaporkan Sa’id kepada penguasa waktu itu yang bernama Marwan bin Al-Hakam.

Tentu saja Sa’id membantah keras. Bagaimana mungkin Sa’id, seorang shahabat Nabi yang salih berani menzalimi orang lain dalam hal batas tanah sementara beliau pernah mendengar Rasulullah bersabda bahwa orang yang mencurangi batas tanah orang lain maka nanti tanah yang dicurinya itu akan dipikulkan padanya pada hari kiamat dengan dilipatkan sebanyak tujuh kali.

Mendengar fitnah dan tuduhan keji itu, maka Sa’id pun berdoa dengan suara yang bisa didengarkan Arwa dan Marwan, “Ya Allah jika wanita ini berdusta, butakanlah matanya, dan buatlah ia mati di tanahnya itu!”

Akhirnya betul kejadiannya demikian. Wanita itu di akhir hayatnya menjadi buta meraba-raba dinding. Dia mengakui bahwa itu adalah akibat doa Sa’id. Sampai suatu saat, ketika ia berjalan-jalan di tengah tanahnya, secara tidak sengaja dia terjatuh pada sumur yang ada di sana dan akhirnya menjadi kuburannya. Kisah ini disebutkan dalam sahih Al-Bukhari dan Muslim.

Kisah yang mirip juga pernah terjadi pada shahabat mulia yang dijamin masuk surga, yaitu Sa’ad bin Abi Waqqosh.

Sa’ad bin Abi Waqqosh pernah difitnah oleh orang Kufah yang bernama Abu Sa’dah Usamah bin Qotadah bahwa Sa’ad adalah pemimpin zalim dan tidak adil dalam membagi.

Demikian keji fitnah ini sampai Sa’ad berdoa, “Ya Allah jika hambamu ini (Abu Sa’dah) berdusta, tampil karena riya’ (ingin dipuji orang) dan karena sum’ah (ingin terkenal), maka panjangkan umurnya, buatlah lama kemiskinannya, dan timpakanlah berbagai fitnah kepadanya”. Akhirnya betul kejadian demikian. Abu Sa’dah berumur panjang, tua renta, miskin, dan berperilaku seperti orang sinting dengan menggoda gadis-gadis di jalan.

Berselisih dengan siapapun itu berbahaya, tetapi yang paling berbahaya justru berselisih dengan orang salih. Alasannya, berselisih dengan orang yang tidak salih urusannya hanya dengan manusia. Paling jauh efeknya hanya rugi dunia. Tetapi berselisih dengan orang salih, urusannya adalah langsung dengan Allah, karena Allah tidak akan terima kekasih-Nya disakiti. Berselisih dengan orang salih bisa jadi rugi dunia-akhirat. Jika orang salih sampai mendoakan keburukan akhirat kita karena saking keterlaluannya kita, bisa jadi benar-benar binasalah kita. Hancur dunia dan hancur pula akhirat.

Lihatlah Rasulullah. Kurang sabar apa beliau. Tetapi ketika gangguan Abu Jahal, ‘Utbah bin Robi’ah, Syaibah bin Robi’ah, Al-Walid bin ‘Utbah, Umayyah bin Kholaf dan Uqbah bin Abi Mu’aith sudah keterlaluan, maka beliau berdoa dengan doa keras secara khusus untuk mereka dengan menyebut nama mereka secara spesifik agar dibinasakan. Dan betul, orang-orang inipun disaksikan shahabat Nabi semuanya tewas dalam keadaan kafir di perang Badar.

Doa orang-orang salih yang pasti dikabulkan oleh Allah adalah bentuk karomah yang diberikan Allah kepada wali-wali-Nya, karena mereka adalah para kekasih Allah.

Hanya saja, yang harus hati-hati dalam menerima berita karomah yang terjadi sesudah masa kenabian adalah dalam hal pengaitan. Jangan mudah mengaitkan suatu kejadian dengan kejadian yang lain lalu distempel bahwa itu karomah. Harus ada bukti yang kuat untuk mengaitkannya. Tetapi juga jangan terlalu paranoid dalam menolak sehingga menafikan hal-hal yang sebenarnya sudah layak menjadi hujjah.

Harus hati-hati juga mengaitkan musibah yang menimpa seseorang yang ditafsirkan sebagai akibat berseteru dengan orang salih tertentu. Ketidakhati-hatian terhadap masalah ini bisa membahayakan orang yang diopinikan “wali”/”orang salih”, menyesatkan orang awam, dan menciptakan penokohan yang salah serta tidak pada tempatnya.

Termasuk hal yang harus ekstra hati-hati karena berbahaya bagi akhirat seorang hamba adalah ketika merasa memiliki karomah dan merasa menjadi wali. Ini adalah di antara seburuk-buruk ujub. Tidak ada orang salih yang merasa dirinya salih. Para wali itu justru merasa menjadi hamba yang sangat buruk di hadapan Rabbnya, tetapi Allah tahu bahwa dia adalah hamba yang salih sehingga dimuliakan oleh-Nya dengan karomah agar dikenal oleh hamba-Nya yang lain dan menjadi hujjah dalam sejumlah perkara dien. Hamba Allah yang benar-benar wali sekalipun, malah heran dan tidak merasa memiliki karomah, sebagaimana herannya Abu Bakar terhadap makanannya yang terus bertambah padahal terus diambili.

اللهم إنا نسألك حبك وحب من يحبك والعمل الذي يبلغنا حبك

Versi Situs: http://irtaqi.net/2018/01/18/bahaya-bercekcok-dengan-orang-salih/

****
Muafa
2 Jumada Al-Ula 1439 H

Monday, January 15, 2018

UMAR BIN ABDUL AZIZ DARI GARIS IBU

UMAR BIN ABDUL AZIZ DARI GARIS IBU

Umar bin Abdul Aziz yang disebut-sebut oleh ulama sebagai Khulafaurrosyidin kelima itu punya ibu, ibunya punya ibu, nah ibu ini punya kisah menarik dengan Amirul Mukminin Umar bin Khottob RA.

Suatu malam aku (Sayyidina Aslam) berpatroli menemani Umar bin Khottob di Madinah, ketika lelah beliau istirahat menyandar ke sebuah pagar di satu desa, kemudian terdengar suara seorang ibu yang tak berpunya berkata pada anaknya: “anakku, ayo buatlah susu dan campuri dengan air agar lebih menguntungkan”

“Wahai ibu, apa ibu tidak tau peraturan yang dibuat Amirul Mukminin hari ini?”

“Memangnya apa ketetapannya, anakku?” Tanya ibunya

Lalu anaknya menjawab: “Dia memberi pengumuman bahwa tidak diperbolehkan menjual susu yang sudah tercampur dengan air, sebab tak murni dan ada unsur merugikan yang lain”

“Anakku, sudahlah bikin saja susu campurkan air, toh Amirul Mukminin tidak melihatnya” kata sang ibu.

“Ibu, demi Allah aku tidak ingin mentaati Amir dalam keramaian lalu aku membangkangnya dalam sepi”

Umarpun terkejut mendengarnya, beliau langsung berkata “Aslam, ingat ingat tempat ini”. Dan keesokan harinya beliau menyuruh “Aslam, cari tau siapa yang berbicara tadi malam, bersama siapa, dan apakah dia punya suami.” Lalu akupun mendatangi tempat tersebut dan kutemui bahwa perempuan itu belum bersuami, ada ibunya dan tak ada seorang lelakipun disitu. Maka kukabari hal tersebut pada Amirul Mukminin, lalu beliau mengumpulkan putra-putranya: “adakah dari kalian yang menginginkan perempuan untuk kunikahkan?”

Sayyis Ashim, salah satu putranya berkata: “wahai ayahku, aku belum menikah maka nikahkanlah aku”

Kemudian beliau mengirimnya pada perempuan tersebut dan menikahkan mereka berdua, lahirlah seorang anak perempuan, dari anak ini kelak lahirlah Umar bin Abdul Aziz sang mujaddid pertama di dunia Islam, pemimpin terbaik sepanjang sejarah.

Memang bibit yang baik sangat ditentukan dari ibunya karena نساءكم حرث لكم, maka generasi mendatang adalah sangat bergantung pada calon-calon ibu yang benar tingkahnya. Kalau calon ibunya saja sudah keleleran masa mudanya, akan sulit nanti untuk mencetak generasi yang bermutu.

PENDIRI JATMAN

PENDIRI JATMAN

Pendiri JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah) ada 5 orang. Dua diantaranya adalah KH. Masykur dan KH. Idham Chalid. Tiga lainnya adalah KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syansuri dan KH. Muslih Mranggen.

Al-Quthb Syaikh Muhammad Amin Kutbi berpesan kepada Muassis dan Mudir ‘Aam Jatman KH. Idham Chalid, “Idham, thariqah di Indonesia akan maju dan berkembang bila nanti dipimpin oleh seorang Habib yang bernama Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim Bin Yahya.”

Maka sepulangnya dari Mekkah, KH. Idham bertemu dengan Habib Luthfi Bin Yahya dan bersalaman dengan durasi yang lama tanpa berkata-kata, tapi Habib Luthfi bersuara berulang-ulang, “InsyaAllah, Pak Kiai, saya laksanakan.”

Hal ini membuat hadirin yang melihat pemandangan itu terheran-heran. Selidik punya selidik ternyata keduanya berkomunikasi batin. Kiai Idham bilang, “Habib, nanti kamu yang melanjutkan thariqah.”

Habib Luthfi Bin Yahya pun menjawab, “InsyaAllah, Pak Kiai, saya laksanakan.”

Saat Muktamar Thariqah, KH. Idham berucap kepada ulama yang hadir bahwa dirinya dalam JATMAN diibaratkan seperti orang yang membangun rumah sakit, namun dokter spesialisnya adalah Habib Luthfi Bin Yahya.

Tuan Guru Sekumpul Syaikh KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani berucap kepada KH. Syafriansyah, “KH. Idham Chalid itu penanggak kita. Beliau lebih dahulu menjadi wali quthub daripada aku. Kalau menyandingkan fotoku dengan beliau, letakkan posisi beliau di kananku.” (Nur Hidayatullah Yuzarsif).

Sunday, January 14, 2018

SILSILAH KEILMUAN PROF. KH. SAID AQIL SIRAJ, MA. (Ketua umum PBNU), jam'iyahnya para wali

*SILSILAH KEILMUAN PROF. KH. SAID AQIL SIRAJ, MA. (Ketua umum PBNU), jam'iyahnya para wali

Tak kenal maka tak sayang. Barangkali peribahasa itu tepat untuk menggambarkan keadaan Indonesia akhir-akhir ini, dimana orang tak hanya tak kenal dan tak sayang, tetapi bahkan justru memfitnah, membenci dan memaki, dengan orang yang belum dikenalnya di media. Tak terkecuali, berbagai fitnah, berita palsu (hoax) dan makian yang dialamatkan kepada Prof Dr KH Said Aqil Siradj, MA, Ketua Umum Ormas Islam terbesar di dunia: Nahdlatul Ulama (NU).

Untuk itu, tulisan ini sedikit mengupas profil beliau, sosok santri yang dulu pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI) itu dinobatkan oleh Republika sebagai Tokoh Perubahan Tahun 2012 karena kontribusinya dan komitmennya dalam mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berperan aktif dalam perdamaian dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah.

Ketika usia negara ini masih belia – delapan tahun – dan para pendiri bangsa baru beberapa tahun menyelesaikan “status kemerdekaan” Indonesia di Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949, di sebuah desa bernama Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, senyum bahagia KH Aqil Siroj mengembang. Tepat pada 3 Juli 1953, Pengasuh Pesantren Kempek itu dianugerahi seorang bayi laki-laki, yang kemudian diberi nama Said.

Said kecil kemudian tumbuh dalam tradisi dan kultur pesantren. Dengan ayahandanya sendiri, ia mempelajari ilmu-ilmu dasar keislaman. Kiai Aqil sendiri – Ayah Said – merupakan  putra Kiai Siroj, yang masih keturunan dari Kiai Muhammad Said Gedongan. Kiai Said Gedongan merupakan ulama yang menyebarkan Islam dengan mengajar santri di pesantren dan turut berjuang melawan penjajah Belanda.

“Ayah saya hanya memiliki sepeda ontel, beli rokok pun kadang tak mampu. Dulu setelah ayah memanen kacang hijau, pergilah ia ke pasar Cirebon. Zaman dulu yang namanya mobil transportasi itu sangat jarang dan hanya ada pada jam-jam tertentu,” kenang Kiai Said dalam buku Meneguhkan Islam Nusantara; Biografi Pemikiran dan Kiprah Kebangsaan (Khalista: 2015).

Setelah merampungkan mengaji dengan ayahanda maupun ulama di sekitar Cirebon, dan umur dirasa sudah cukup, Said remaja kemudian belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang didirikan oleh KH Abdul Karim (Mbah Manaf). Di Lirboyo, ia belajar dengan para ustadz dan kiai yang merawat santri, seperti KH Mahrus Ali, KH Marzuki Dahlan, dan juga Kiai Muzajjad Nganjuk.

Setelah selesai di tingkatan Aliyah, ia melanjutkan kuliah di Universitas Tribakti yang lokasinya masih dekat dengan Pesantren Lirboyo. Namun kemudian ia pindah menuju Kota Mataram, menuju Ngayogyokarta Hadiningrat. Di Yogya, Said belajar di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak dibawah bimbingan KH Ali Maksum (Rais Aam PBNU 1981-1984). Selain mengaji di pesantren Krapyak, ia juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, yang ketika itu KH Ali Maksum menjadi Guru Besar di kampus yang saat ini sudah bertransformasi menjadi UIN itu.

Ia merasa belum puas belajar di dalam negeri. Ditemani istrinya, Nurhayati, pada tahun 1980, ia pergi ke negeri kelahiran Nabi Muhammad SAW: Makkah Al-Mukarramah. Di sana ia belajar di Universitas King Abdul Aziz dan Ummul Qurra, dari sarjana hingga doktoral. Di Makkah, setelah putra-putranya lahir, Kang Said – panggilan akrabnya – harus mendapatkan tambahan dana untuk menopang keluarga. Beasiswa dari Pemerintah Saudi, meski besar, dirasa kurang untuk kebutuhan tersebut. Ia kemudian bekerja sampingan di toko karpet besar milik orang Saudi di sekitar tempat tinggalnya. Di toko ini, Kang Said bekerja membantu jual beli serta memikul karpet untuk dikirim kepada pembeli yang memesan.

Keluarga kecilnya di Tanah Hijaz juga sering berpindah-pindah untuk mencari kontrakan yang murah. “Pada waktu itu, bapak kuliah dan sambil bekerja. Kami mencari rumah yang murah untuk menghemat pengeluaran dan mencukupkan beasiswa yang diterima Bapak,” ungkap Muhammad Said, putra sulung Kang Said.

Dengan keteguhannya hidup ditengah panasnya cuaca Makkah di siang hari dan dinginnya malam hari, serta kerasnya hidup di mantan “tanah Jahiliyyah” ini, ia menyelesaikan karya tesisnya di bidang perbandingan agama: mengupas tentang kitab Perjanjian Lama dan Surat-Surat Sri Paus Paulus. Kemudian, setelah 14 tahun hidup di Makkah, ia berhasil menyelesaikan studi S-3 pada tahun 1994, dengan judul: Shilatullah bil-Kauni fit-Tashawwuf al-Falsafi (Relasi Allah SWT dan Alam: Perspektif Tasawuf). Pria yang terlahir di pelosok Jawa Barat itu mempertahankan disertasinya – diantara para intelektual dari berbagai dunia – dengan predikat Cumlaude.

Ketika bermukim di Makkah, ia juga menjalin persahabatan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “Gus Dur sering berkunjung ke kediaman kami. Meski pada waktu itu rumah kami sangat sempit, akan tetapi Gus Dur menyempatkan untuk menginap di rumah kami. Ketika datang, Gus Dur berdiskusi sampai malam hingga pagi dengan Bapak,” ungkap Muhammad Said bin Said Aqil. Selain itu, Kang Said juga sering diajak Gus Dur untuk sowan ke kediaman ulama terkemuka di Arab, salah satunya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.

Setelah Kang Said mendapatkan gelar doktor pada 1994, ia kembali ke tanah airnya: Indonesia. Kemudian Gus Dur mengajaknya aktif di NU dengan memasukkannya sebagai Wakil Katib ‘Aam PBNU dari Muktamar ke-29 di Cipasung. Ketika itu, Gus Dur “mempromosikan” Kang Said dengan kekaguman: “Dia doktor muda NU yang berfungsi sebagai kamus berjalan dengan disertasi lebih dari 1000 referensi,” puji Gus Dur. Belakangan, Kang Said juga banyak memuji Gus Dur. “Kelebihan Gus Dur selain cakap dan cerdas adalah berani,” ujarnya, dalam Simposium Nasional Kristalisasi Pemikiran Gus Dur, 21 November 2011 silam.

Setelah lama akrab dengan Gus Dur, banyak kiai yang menganggap Kang Said mewarisi pemikiran Gus Dur. Salah satunya disampaikan oleh KH Nawawi Abdul Jalil, Pengasuh Pesantren Sidogiri, Pasuruan, ketika kunjungannya di kantor PBNU pada 25 Juli 2011. Kunjungan waktu itu, merupakan hal yang spesial karena pertama kalinya kiai khos itu berkunjung ke PBNU – di dampingi KH An’im Falahuddin Mahrus Lirboyo. Kiai Nawawi menganggap bahwa Kang Said mirip dengan Gus Dur, bahkan dalam bidang ke-nyelenehan-nya.

“Nyelenehnya pun juga sama,” ungkap Kiai Nawawi, seperti dikutip NU Online. “Terus berjuang di NU tidak ada ruginya. Teruslah berjuang memimpin, Allah akan selalu meridloi,” tegas Kiai Nawawi kepada orang yang diramalkan Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU di usia lebih dari 55 tahun itu.

Menjaga NKRI dan mengawal perdamaian dunia.

Pada masa menjelang kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1936, para ulama NU berkumpul di Banjarmasin untuk mencari format ideal negara Indonesia ketika sudah merdeka nantinya. Pertemuan ulama itu menghasilkan keputusan yang revolusioner: (1) negara Darus Salam (negeri damai), bukan Darul Islam(Negara Islam); (2) Indonesia sebagai Negara Bangsa, bukan Negara Islam. Inilah yang kemudian menginspirasi Pancasila dan UUD 1945 yang dibahas dalam Sidang Konstituante – beberapa tahun kemudian. Jadi, jauh sebelum perdebatan sengit di PPKI atau BPUPKI tentang dasar negara dan hal lain sebagainya, ulama NU sudah terlabih dulu memikirkannya.

Pemikiran, pandangan dan manhaj ulama pendahulu tentang relasi negara dan agama (ad-dien wa daulah) itu, terus dijaga dan dikembangkan oleh NU dibawah kepemimpinan Kang Said. Dalam pidatonya ketika mendapat penganugerahan Tokoh Perubahan 2012 pada April 2013, Kiai Said menegaskan sikap NU yang tetap berkomitmen pada Pancasila dan UUD 1945. “Muktamar (ke-27 di Situbondo-pen) ini kan dilaksanakan di Pesantren Asembagus pimpinan Kiai As’ad Syamsul Arifin. Jadi, pesantren memang luar biasa pengaruhnya bagi bangsa ini. Meski saya waktu itu belum menjadi pengurus PBNU,” kata Kiai Said, mengomentari Munas Alim Ulama NU 1983 dan Muktamar NU di Situbondo 1984 yang menurutnya paling fenomenal dan berdampak dalam pandangan kebangsaan.

Sampai kini, peran serta NU dalam hal kebangsaan begitu kentara kontribusinya, baik di level anak ranting sampai pengurus besar, di tengah berbagai rongrongan ideologi yang ingin menggerogoti Pancasila sebagai dasar negara. Hal ini tercermin dalam berbagai kegiatan dan program NU yang selalu mengarusutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam konteks ini, Kiai Said sangat berpengaruh karena kebijakan PBNU selalu diikuti kepengurusan dibawahnya – termasuk organisasi sayapnya.

Salah satu peran yang cukup solutif, misalnya, ketika beliau menaklukkan Ahmad Mushadeq – orang yang mengaku sebagai Nabi di Jakarta dan menimbulkan kegaduhan nasional – lewat perdebatan panjang tentang hakikat kenabian (2007). “Alhamdulillah, doa saya diterima untuk bertemu ulama, tempat saya bermudzakarah (diskusi). Sekarang saya sadar kalau langkah saya selama ini salah,” aku Mushadeq. Disisi lain, Kang Said juga mengakui kehebatan Mushadeq. “Dia memang hebat. Paham dengan asbabun nuzul Al-Qur’an dan asbabul wurud Hadits. Hanya sedikit saja yang kurang pas, dia mengaku Nabi, itu saja,” jelas Kiai Said seperti yang terekam dalam Antologi NU: Sejarah, Istilah, Amaliah dan Uswah (Khalista & LTN NU Jatim, Cet II 2014).

Kiai yang mendapat gelar Profesor bidang Ilmu Tasawuf dari UIN Sunan Ampel Surabaya ini bersama pengurus NU juga membuka dialog melalui forum-forum Internasional, khususnya yang terkait isu-isu terorisme, konflik bersenjata dan rehabilitasi citra Islam di Barat yang buruk pasca serangan gedung WTC pada 11 September 2001. Ia juga kerapkali membuat acara dengan mengundang ulama-ulama dunia untuk bersama-sama membahas problematika Islam kontemporer dan masalah keumatan.

Pada Jumat, 7 Maret 2014, Duta Besar Amerika untuk Indonesia Robert O. Blake berkunjung ke kantor PBNU. Ia menginginkan NU terlibat dalam penyelesaian konflik di beberapa negara. “Kami berharap NU bisa membantu penyelesaian konflik di negara-negara dunia, khususnya di Syria dan Mesir. NU Kami nilai memiliki pengalaman membantu penyelesaian konflik, baik dalam maupun luar negeri,” kata Robert, seperti dilansir NU Online. “Sejak saya bertugas di Mesir dan India, saya sudah mendengar bagaimana peran NU untuk ikut menciptakan perdamaian dunia,” imbuhnya.

Raja Yordania Abdullah bin Al-Husain (Abdullah II) juga berkunjung ke PBNU. Ia ditemui Kiai Said, meminta dukungan NU dalam upaya penyelesaian konflik di Suriah. “Di Timur Tengah, tidak ada organisasi masyarakat yang bisa menjadi penengah, seperti di Indonesia. Jika ada konflik, bedil yang bicara,” ungkap Kiai Said.

Selain itu, menguapnya kasus SARA di Indonesia belakangan juga kembali marak muncul ke permukaan. “Munculnya kerusuhan bernuansa agama memang sangat sering kita temukan. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia harus terus belajar pentingnya toleransi dan kesadaran pluralitas. Sikap toleransi tersebut dibuktikan oleh Kaisar Ethiopia, Najashi (Negus) ketika para sahabat ditindas oleh orang-orang Quraisy di Mekkah dan memutuskan untuk hijrah ke Ethiopia demi meminta suaka politik kepadanya. Kaisar Negus yang dikenal sebagai penguasa beragama Nasrani itu berhasil melindungi para sahabat Nabi Muhammad SAW dari ancaman pembunuhan kafir Quraisy,” tulis Kiai Said dalam Dialog Tasawuf Kiai Said: Akidah, Tasawuf dan Relasi Antarumat Beragama (Khalista, LTN PBNU & SAS Foundation, Cet II, 2014).

Menghadapi potensi konflik horisontal itu, NU juga tetap mempertahankan gagasan Darus Salam, bukan Darul Islam, yang terinspirasi dari teladan Nabi Muhammad dalam Piagam Madinah. Dalam naskah tersebut, nabi membuat kesepakatan perdamaian, bahwa muslim pendatang (Muhajirin) dan muslim pribumi (Anshar) dan Yahudi kota Yastrib (Madinah) sesungguhnya memiliki misi yang sama, sesungguhnya satu umat. Yang menarik, menurut Kiai Said, Piagam Madinah – dokumen sepanjang 2,5 halaman itu – tidak  menyebutkan kata Islam. Kalimat penutup Piagam Madinah juga menyebutkan: tidak ada permusuhan kecuali terhadap yang dzalim dan melanggar hukum. “Ini berarti, Nabi Muhammad tidak memproklamirkan berdirinya negara Islam dan Arab, akan tetapi Negara Madinah,” terang Kiai Said.

Selain itu, menurutnya, faktor politis juga kerapkali mempengaruhi, bukan akidah atau keyakinan. “Seperti di masa Perang Salib, faktor politis dan ekonomis lebih banyak menyelimuti renggangnya keharmonisan kedua umat bersaudara tersebut di Indonesia. Dengan demikian, kekeruhan hubungan Islam-Kristen tidak jarang dilatarbelakangi nuansa politis yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama itu sendiri,” ungkapnya, dalam buku Tasawuf Sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi bukan Aspirasi.

***

Ditengah agenda Ketua Umum PBNU yang sedemikian padat, Kiai Said dewasa ini diterpa berbagai fitnah, hujatan dan bahkan makian dari urusan yang remeh-temeh sampai yang menyangkut urusan negara. Ia dituduh agen Syiah, Liberal, antek Yahudi, pro Kristen, dan fitnah-fitnah lain oleh orang yang sempit dalam melihat agama dan konsep kemanusiaan dan kebangsaan.

Meski demikian, ia toh manusia biasa – yang tak luput dari salah, dosa dan kekurangan – bukan seorang Nabi. Artinya, kritik dalam sikap memang wajar dialamatkan, tetapi tidak dengan hujatan, fitnah, dan berita palsu, melainkan dengan kata yang santun. Terkait hal ini, dalam suatu kesempatan ia memberi tanggapan kepada para haters-nya. Bukannya marah, Kiai Said justru menganggap para pembenci dan pemfitnah itu yang kasihan. Dan sebagai orang yang tahu seluk beluk dunia tasawuf, tentu dia sudah memaafkan, jauh sebelum mereka meminta maaf atas segenap kesalahan. Wallahu a’lam.