Thursday, March 22, 2018

HTI, Indonesia, Libya, dan Suriah

HTI, Indonesia, Libya, dan Suriah

HTI selalu mengklaim diri sebagai semata-mata organisasi dakwah Islam dan atas alasan itu, UU Ormas (kini UU) secara salah kaprah disebut anti Islam. Padahal yang disasar UU Ormas adalah ormas yang ideologinya membahayakan NKRI (anti Pancasila, pro kekerasan, dll). Tokoh ex-HTI Mereka pun mengajukan gugatan ke PTUN minta pencabutan pembubaran ormas mereka.

Untuk argumen teologis, para pakar sudah dihadirkan pihak pemerintah dalam persidangan. Tentu saja, para pakar ini dibully di medsos oleh para pembela HTI, bahkan dengan cara&tuduhan yang sangat kasar.

Untuk argumen politik, saya bisa menjelaskan, dimana bahayanya HTI, dengan cara menyimak rekam jejak mereka dalam isu Timteng.

HTI selalu mengklaim sebagai organisasi dakwah. Ini bertentangan dengan pernyataan yang dimuat di situs-situs HT di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang secara jelas menyatakan bahwa Hizbut Tahrir adalah partai politik yang memiliki tujuan untuk mendirikan kekhalifahan Islam.

Saat diwawancarai oleh Aiman dari Kompas TV (12/6), Ismail Yusanto mengelak menjawab, bagaimana proses terbentuknya kekhilafahan serta siapa dan dari negara mana asal sang khalifah.

Pertanyaan bagaimana proses terbentuknya khilafah adalah poin yang amat krusial dalam mengetes kesahihan klaim-klaim antikekerasan yang disampaikan oleh HTI. Bila kita melacak jejak digital pernyataan-pernyataan HTI terkait upaya pendirian khilafah di Libya dan Suriah, kita justru mendapati bahwa organisasi ini menyebarkan narasi yang menyerukan kekerasan. Menurut HTI, rezim Qaddafi dan Assad adalah rezim taghut, karenanya perlu jihad untuk mendirikan khilafah di kedua negara itu.

HTI dan Libya

Pada 23 Februari 2011, Ismail Yusanto merilis siaran pers berjudul “Seruan HTI untuk Kaum Muslimin di Libya Tumbangkan Rezim Diktator, Tegakkan Khilafah”. Dalam siaran pers itu Ismail menyatakan, “penguasa Libya memimpin dengan penuh kezaliman, menggunakan tekanan, paksaan dan kekangan… rakyatnya hidup dalam kemiskinan yang sangat dan kelaparan yang tiada terkira.”

Lalu pada Agustus 2011, situs HTI merilis siaran pers ucapan selamat atas tumbangnya “rezim tiran Qaddafi”.

HTI mengabaikan data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa sebelum 2011, Libya adalah negara dengan Human Development Index (HDI) tertinggi di Afrika. Pada tahun 2010, HDI Libya berada di peringkat 57 dunia. Ini adalah posisi yang jauh lebih baik darpada Indonesia yang baru sampai di peringkat 112.

Dalam situs UNDP dicantumkan bahwa pengukuran HDI dimaksudkan untuk mengetahui kondisi kehidupan manusia, dengan berbasis tiga hal berikut ini: kehidupan yang sehat, panjang umur, dan kreatif; memiliki pengetahuan, serta memiliki akses terhadap sumber daya yang diperlukan untuk memiliki kehidupan yang layak.

Pada 2010, pendapatan penduduk per kapita Libya adalah US$ 14.582. Bandingkan dengan Indonesia pada saat itu yang hanya US$ 2.149. Warga Libya menikmati pendidikan dan layanan kesehatan gratis, serta subsidi berlimpah di sektor energi dan pangan.

Dan ironisnya, di balik seruan-seruan jihad serta gegap-gempita HTI pasca tergulingnya Qaddafi, yang terjadi di Libya sesungguhnya adalah agenda penggulingan kekuasaan yang dilakukan oleh NATO. Prosesnya diawali dengan demo-demo antipemerintah oleh para “mujahidin” Libya yang berafiliasi dengan Al-Qaidah. Lalu, setelah terjadi bentrokan senjata dengan tentara pemerintah, mereka meminta kepada PBB untuk turun tangan, mengklaim telah terjadi “kejahatan kemanusiaan”.

Hanya dalam waktu sebulan, di luar kewajaran, Dewan Keamanan PBB merilis Resolusi 1973/Maret 2011, yang memberikan mandat kepada NATO untuk memberlakukan no fly zone. Praktis resolusi ini memberi kesempatan kepada NATO untuk membombardir Libya. Negara yang pernah dijuluki “Swiss-nya Afrika” itu pun luluh lantak. Qaddafi terguling dan korporasi multinasional pun berpesta-pora karena mendapatkan proyek-proyek rekonstruksi dan eksplorasi minyak di negara yang amat kaya sumber daya alam itu.

HTI dan Suriah

Peran “mujahidin” sebagai proksi NATO di Libya kembali terulang di Suriah. Bahkan tokoh-tokoh Al-Qaidah Libya-lah yang merintis pembentukan milisi-milisi jihad Suriah. Laporan jurnalis Mary Fizgerald dari Foreign Policy menyebutkan bahwa salah satu komandan pemberontak Libya yang paling terkenal, Al-Mahdi Al-Harati, bersama lebih dari 30 milisi Al-Qaidah Libya datang ke Suriah untuk mendukung Free Syrian Army (FSA) serta membentuk milisi Liwaa Al-Ummah.

Lalu, di mana peran HTI? Sama seperti Libya, HTI menjadi cheerleader yang sangat aktif dalam menyerukan jihad Suriah. Pada Januari 2013, HTI bahkan sangat optimistis menyatakan bahwa “khilafah di Suriah sudah dekat”. Hafidz Abdurrahman, Ketua Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI, menyatakan, “Hizbut Tahrir terus bekerja keras untuk mengawal Revolusi Islam ini hingga mencapai tujuannya, yaitu tumbangnya rezim kufur Bashar, kemudian menggantikannya dengan khilafah.”

Menurut Hafidz, proses berdirinya khilafah di Suriah bisa dipercepat dengan “…melumpuhkan kekuasaan Bashar. Bisa dengan membunuh Bashar, seperti yang dilakukan terhadap Qaddafi, atau pasukan yang menopang kekuasaan Bashar.”
Dari kalimat ini terlihat bahwa metode yang diusung HTI dalam mendirikan kekhalifahan adalah metode destruktif.

Bila diamati rekam jejak narasi HTI terkait Suriah di situs-situs mereka: sangat jelas mereka memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok teror. Ini pun sudah diakui juga secara terbuka oleh Ismail Yusanto bahwa Hizbut Tahrir pernah mengikuti sumpah setia dengan banyak kelompok “mujahidin” Suriah, termasuk dengan Al-Nusra. Pada 9 September 2014, situs HTI memuat ucapan duka cita atas tewasnya pimpinan pasukan “jihad” Ahrar Al-Sham.

Jabhah Al-Nusrah dan Ahrar Al-Sham adalah organisasi teror yang sangat brutal, yang lahir dari rahim Al-Qaidah. Situs counterextrimism.com menyebutkan bahwa Al-Nusra didirikan oleh Abu Mus’ab Al-Zarqawi yang merupakan mantan anggota HT. Kelompok Al-Muhajirun, yang dituduh bertanggung jawab atas 50% aksi-aksi teror di Inggris sejak 1995, didirikan oleh Omar Bakri Muhammad, yang juga mantan pimpinan HT.

Di Indonesia, kita mengenal nama Muhammad Al-Khaththath yang ditangkap polisi dengan tuduhan makar, serta Bahrun Naim, yang disebut-sebut sebagai dalang bom Sarinah. Keduanya adalah mantan anggota HTI.

Suriah dan Indonesia

Sejak perang Suriah dikobarkan para "mujahidin", di Indonesia pun muncul gerakan masif mengusung narasi kebencian kepada Syiah (dan parahnya, setiap orang/pihak yang sepakat dengan mereka langsung distempel Syiah). Aksi-aksi penggalangan donasi untuk Suriah dilakukan sangat gencar, dengan membawa narasi kebencian, perang Sunni lawan Syiah, mencaci ulama-ulama Suriah yang menentang "jihad", menyebarkan foto dan video palsu, dll.

Ini jelas membawa masalah besar buat Indonesia. Apa masalahnya? Karena kebencian itu bagai api, akan membakar ke segala penjuru. Dampaknya sudah sangat terasa di atmosfir Indonesia: kebencian meruyak ke segala arah; melebar ke semua isu. Fasisme atas nama agama dengan cara mengusung kebencian semakin merajalela. Isu yang dimanfaatkan bukan cuma Syiah, tapi PKI, China, dll. Dan siapa yang membawa narasi kebencian ini? Tak lain mereka yang berafiliasi dengan ormas-ormas radikal yang angkat senjata di Suriah.

Kalau mau diperdalam lagi, silahkan cek, kelompok-kelompok yang sering membawa hoax soal Suriah adalah kelompok-kelompok yang sama yang juga aktif menyebarkan hoax soal pemerintah.

Karena itu, sepatutnya melawan hoax soal Suriah gencar dilakukan, terutama oleh mereka yang mengaku aktivis anti Hoax.


Catatan Penting:

Sebenarnya yang paling awal berperan mengobrak-abrik Suriah adalah kelompok Ikhwanul Muslimin (mengaku berjihad, padahal dapat suplai dana dan senjata dari Barat). Saat inipun pasukan "jihad" terkuat di Suriah selain ISIS dan Al Qaida adalah yg berhaluan IM. IM ini ada cabangnya di Indonesia dan mendirikan partai.

#HTISudahlah

Sumber: facebook dina sulaenan

JUAL BELI MALAQIH, APA ITU?

JUAL BELI MALAQIH, APA ITU?

“Malaqih” (الملاقيح) adalah bentuk jamak dari “malquhah” (الملقوحة) atau “malquh” (الملقوح). Arti “malquhah” adalah “janin/fetus”. Dinamakan “malquhah” karena dia muncul dan hadir sebagai hasil dari pembuahan yang melibatkan “liqoh” (اللقاح)/”air mani” yang kemudian dikandung (لَقَحَتْهُ) oleh induknya.

Jual beli “malaqih” bermakna menjual janin yang masih ada dalam perut induknya. Misalnya ada orang yang memiliki unta bunting, atau sapi bunting, atau kambing bunting. Kemudian pemilik berniat menjual janin yang ada pada binatang itu. pemilik hanya berniat menjual janinnya saja, tidak berniat menjual induk yang mengandungnya.

Istilah yang semakna dengan “malaqih” adalah “madhomin” (المضامين). Lafaz “madhomin” adalah bentuk jamak dari “madh-mun” (المضمون). Lafaz “madhmun” adalah “isim maf’ul” yang bermakna “sesuatu yang dikandung”. Jadi, “madhmun” boleh juga dimaknai “janin”, karena janin adalah sesuatu yang dikandung oleh induknya. Kadang-kadang “madhmun” juga dimaknai air mani yang berada dalam tulang sulbi pejantan.


Jual beli “malaqih” dan jual beli “madhomin” semuanya terlarang dan ini adalah jual beli batil yang tidak sah jika dilakukan. Jual beli ini mengandung unsur “ghoror” (ketidak jelasan) sehingga dekat dengan jual beli yang mengandung unsur penipuan dan atau memicu perselisihan.

Rasulullah ﷺ melarang jual beli “madhomin”, “malaqih” dan “habalul habalah”. Abdur Rozzaq meriwayatkan dari Ibnu umar,

وَقَدْ نَهَيْ عَنِ الْمَضَامِينِ، وَالْمَلَاقِيحِ وَحَبَلِ الْحَبَلَةِ»

“…Sungguh, beliau (Rasulullah ﷺ ) melarang (jual beli) madhomin, malaqih dan habalul habalah…”

Terkait jual beli “habalul habalah” sudah kita buatkan catatan khusus pada artikel yang berjudul “Jual Beli “Habalul Habalah”, Apa Itu?”

Adapun jika membeli janin BESERTA induknya (bukan hanya janinnya saja), maka hal ini mubah sebagaimana mubahnya membeli rumah beserta pondasinya (meskipun tidak tahu bagaimana rupa pondasinya), atau membeli kambing sekaligus dengan air susu yang terdapat pada ambingnya (meskipun belum tahu kuantitas dan kualitas air susu tersebut). Kebolehan jual beli seperti ini sudah disepakati sebagaimana disebutkan oleh An-Nawawi. Beliau menulis dalam Al-Majmu’,

(فَأَمَّا) مَا تَدْعُو إلَيْهِ الْحَاجَةُ وَلَا يُمْكِنُ الِاحْتِرَازُ عَنْهُ كَأَسَاسِ الدَّارِ وَشِرَاءِ الْحَامِلِ مَعَ احْتِمَالِ أَنَّ الْحَمْلَ وَاحِدٌ أَوْ أَكْثَرُ وَذَكَرٌ أَوْ أُنْثَى وَكَامِلُ الْأَعْضَاءِ أَوْ نَاقِصُهَا وَكَشِرَاءِ الشَّاةِ فِي ضَرْعِهَا لَبَنٌ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَهَذَا يَصِحُّ بَيْعُهُ بِالْإِجْمَاعِ

‘…Adapun sesuatu yang memang dibutuhkan dan tidak mungkin dihindari, seperti (membeli) pondasi rumah (sekaligus dengan rumahnya) dan membeli hewan bunting padahal ada kemungkinan janinnya itu satu atau lebih, jantan atau betina, normal atau cacat, dan juga seperti (membeli) kambing yang dalam ambingnya (payudaranya) terdapat air susu dan semisalnya, maka jual beli seperti ini sah berdasarkan ijma’ (Al-Majmu’, juz 9 hlm 258)

Versi Situs:  http://irtaqi.net/2018/03/22/jual-beli-malaqih-apa-itu-2/

***
Muafa
4 Rojab 1439 H

Wednesday, March 21, 2018

Di Balik Keramat Kiai Siroj Payaman

Khoiron, NU Online | Jumat, 16 Maret 2018 05:30

Kiai Siroj, Payaman, Magelang yang oleh masyarakat masyhur dengan panggilan Romo Agung merupakan orang yang dikenal kewaliannya. Namun, di balik keramat yang ia miliki, ada ibadah yang sangat kuat, di luar kebiasaan orang pada umumnya. 

Satu ketika, Kiai Siroj berkunjung ke rumah salah satu temannya, KH Dardiri dari Tingkir, Kota Shalatiga. Waktu itu, desa ini masih mengikuti wilayah Kabupaten Semarang.

Di rumah Kiai Dardiri ini, selain Kiai Siroj, Payaman, ada Kiai Munajat yang turut hadir di sana. Ketiga kiai yang berkumpul dalam satu majelis tersebut mempunyai hubungan yang akrab.

Sesaat sebelum melaksanakan shalat Isya', Kiai Siroj tahu bahwa tuan rumah sedang memasak, mempersiapkan jamuan. Diperkirakan, nanti jamuan akan disajikan setelah shalat Isya' dilaksanakan sehingga pas. 

Usai shalat isya', Kiai Siroj ternyata tidak lekas beranjak dari tempat sujudnya. Ia tidak hanya shalat beberapa rakaat ba'diyah atau shalat witir. Ia menyambung dengan shalat-shalat sunah. Dua kiai lain, Kiai Dardiri dan Kiai Munajat hanya menunggu sambil berbincang bersama di luar.

Pukul 02.00 dini hari, Kiai Siroj baru selesai melaksanakan shalat-shalatnya. Ia bertanya kepada tuan rumah, "Lha, masakannya apa sudah matang?"

Sangat tampak, Kiai Siroj seperti orang yang baru melaksanakan shalat lima atau sepuluh menit. Tidak heran jika ia bertanya masakannya sudah matang apa belum. Padahal, dua kawannya yang lain sudah menunggu berjam-berjam. Oleh Kiai Siroj dikira baru beberapa menit. 

Karena Kiai Siroj sudah mencapai maqam kelezatan dalam beribadah, mencapai ekstase tinggi, shalat yang begitu lama dikira baru sebentar saja.

Tidak cukup di situ. Untuk membuktikan kewalian dan kedekatannya kepada Allah dan jauhnya hati dengan dunia, Kiai Dardiri mencoba berbisik kepada Kiai Munajat. 

"Mbah, anda ingin membuktikan nggak bagaimana cara membedakan wali atau tidak?" tanya Kiai Dardiri. 

Sejurus, Kiai Munajat menjawab, "Iya."

Habis itu, Kiai Dardiri tanya langsung kepada Kiai Siroj tadi. 

"Mbah, wedangnya sudah manis apa belum?"

Kiai Siroj tidak lekas menjawab. Padahal ia baru beberapa detik yang lalu meminumnya. Kiai Siroj mengambil gelas, diminum, seketika itu, gelas masih dalam genggaman, Kiai Siroj baru menjawab, "Oh ya, sudah manis"   

Artinya, Kiai Siroj, dalam urusan dunia seperti manisnya gula, selang beberapa detik saja sudah terlupakan. Ia tidak ingat lagi. Karena hatinya penuh dengan ingat Allah. Semua benda dunia tidak mendapat tempat di hatinya. Sebaliknya, shalat yang berjam-jam, oleh Kiai Siroj, dikira baru beberapa menit.

Jadi, di luar keramat yang dikenal masyarakat luas kala itu, ada dzikir dan ibadah yang  perlu kita teladani. Kita tidak boleh hanya takjub dengan keramatnya, namun abai terhadap amalan di balik keramat yang tampak pada seorang wali.

Cerita tersebut juga memberikan visualisasi, bagaimana Baginda Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam dulu sampai bisa shalat 100 rakaat dalam semalam. Ya, bagaimanapun kalau landasannya adalah cinta yang mendominasi, yang berat terasa ringan. 

Kerja di sawah, menjadi tukang becak, tukang bangunan atau apa saja, rata-rata susah payah secara fisik. Namun  karena dilandasi cinta, tidak begitu terasa. Capeknya adalah nikmat. Seperti pengantin baru yang dicubit pasangannya, sesakit apa pun, ia tidak memandang itu sakit, tapi nikmat karena dilandasi cinta yang kuat. 

Demikian orang yang cinta kepada Allah, capeknya shalat tidak terasa. Adapun yang shalat hanya dua menit setengah sudah merasa capek atau justru malas melakukan, cintanya kepada Allah perlu dipertanyakan. (Ahmad Mundzir

Monday, March 19, 2018

HIKAYAT SEORANG WANITA YANG MEMBACA SURAT AL IKHLASH SETIAP HARI DI BULAN RAJAB

*HIKAYAT SEORANG WANITA YANG MEMBACA SURAT AL IKHLASH SETIAP HARI DI BULAN RAJAB*

HIKAYAT SEORANG WANITA YANG MEMBACA SURAT AL IKHLASH SETIAP HARI DI BULAN RAJAB

Pertama:

Dari Kitab Mukasyafatul Qulub halaman 255, karya Imam Ghazali:

وَحُكِيَ أَنَّ امْرَأَةً فِيْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ كَانَتْ تَقْرَأُ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ رَجَبٍ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اِثْنَتَيْ عَشْرَةَ أَلْفَ مَرَّةٍ وَكَانَتْ تَلْبَسُ الصُّوْفَ فِيْ شَهْرِ رَجَبٍ فَمَرِضَتْ وَأَوْصَتْ اِبْنَهَا أَنْ يَدْفِنَ مَعَهَا صُوْفَهَا فَلَمَّا مَاتَتْ كَفَّنَهَا فِيْ ثِيَابٍ مُرْتَفِعَةٍ فَرَآهَا فِيْ مَنَامِهِ تَقُوْلُ لَهُ أَنَا عَنْكَ غَيْرُ رَاضِيَةٍ لِأَنَّكَ لَمْ تَعْمَلْ بِوَصِيَّتِيْ فَانْتَبَهَ فَزِعًا وَأَخَذَ صُوْفَهَا لِيَدْفِنَهُ مَعَهَا فَنَبَشَ قَبْرَهَا فَلَمْ يَجِدْهَا فِيْهِ فَتَحَيَّرَ فَسَمِعَ نِدَاءً أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ مَنْ أَطَاعَنَا فِيْ رَجَبٍ لَا نَتْرُكُهُ فَرْدًا وَحِيْدًا

Diceritakan, bahwa ada seorang wanita di Baitul Maqdis. Dia membaca surat QUL HUWALLAAHU AHAD setiap hari 12000 kali di bulan Rajab, dan di bulan Rajab tsb ia mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu kambing (shuf) .

Pada suatu ketika dia jatuh sakit dan berwasiat pada anak laki-lakinya, apabila dia mati supaya dikubur bersama pakaiannya yang terbuat dari bulu

Dan ketika ibunya meninggal, si anak mengkafani jenazah ibunya dengan pakaian yang mahal.

Syahdan, si anak bermimpi melihat ibunya berkata padanya : “Wahai anakku, aku tidak ridha kepadamu, karena kamu tidak melaksanakan wasiatku”

Maka si anakpun kaget dan terbangun dari tidurnya. Ia cepat-cepat mengambil pakaian shuf ibunya untuk ia qubur bersama ibunya

Lalu iapun menggali kembali kuburan ibunya, namun dia tidak mendapati ibunya didalam kuburnya. Diapun bingung sekali, tiba-tiba mendengar suara yang berkata : “Tidaklah engkau tahu, bahwa barang siapataat kepada kami di bulan Rajab maka tidak akan kami tinggalkan sendirian di dalam kuburnya”.

Kedua:

Dari Kitab Durratunnasihin halaman 43-44, karya Syeikh Utsman bin Hasan al Khaubari:

حُكِيَ أَنَّ امْرَأَةً فِيْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ كَانَتْ عَابِدَةً إِذَا جَاءَ رَجَبُ تَقْرَأُ كُلَّ يَوْمٍ (قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ) اِثْنَتَيْ عَشْرَةَ مَرَّةً تَعْظِيْمًا لَهُ وَكَانَتْ تَنْزِعُ اللِّبَاسَ الْأَطْلَسَ وَتَلْبَسُ ثَوْبَ الْبَلَاسَ

Diceritakan, bahwa di Baitul Maqdis ada seorang perempuan ahli ibadah, jika tiba bulan Rajab, ia membaca surat QUL HUWALLAAHU AHAD setiap hari 12 kali. Dia melepas pakaian lusuhnya dan berganti mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu.

فَمَرِضَتْ فِيْ رَجَبَ وَأَوْصَتْ اِبْنَهَا أَنْ يَدْفِنَهَا مَعَ بَلَاسِهَا فَكَفَّنَهَا اِبْنُهَا فِيْ ثِيَابٍ مُرْتَفِعَةٍ رِيَاءَ النَّاسِ

Pada suatu ketika dalam bulan Rajab, ia jatuh sakit dan berwasiat pada puteranya, apabila ia mati supaya dikubur bersama pakaiannya yang terbuat dari bulu, akan tetapi si anak mengkafani jenazah ibunya dengan pakaian yang mahal, dengan tujuan pamer kepada orang-orang.

فَرَآهَا فِي الْمَنَامِ فَقَالَتْ يَا بُنَيَّ لِمَ لَمْ تَأْخُذْ بِوَصِيَّتِيْ إِنِّيْ غَيْرُ رَاضِيَةٍ عَنْكَ

Syahdan, si anak bermimpi melihat ibunya berkata padanya : “Wahai anakku, kenapa engkau tidak melaksanakan wasiatku? Sesungguhnya aku tidak ridha kepadamu”.

فَانْتَبَهَ فَزِعًا وَنَبَشَ قَبْرَهَا فَلَمْ يَجِدْهَا فِيْ قَبْرِهَا وَتَحَيَّرَ وَبَكَى بُكَاءً شَدِيْدًا

Maka si anak kaget dan terbangun dari tidurnya. Dia cepat-cepat menggali kembali kuburan ibunya, namun dia tidak mendapati ibunya didalam kuburnya. Diapun bingung dan menangis sejadi-jadinya

فَسَمِعَ نِدَاءً يَقُوْلُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ مَنْ عَظَّمَ شَهْرَنَا رَجَبَ لَا نَتْرُكُهُ فِي الْقَبْرِ فَرِيْدًا وَحِيْدًا

dan diapun mendengar suara yang berkata : “Tidaklah engkau tahu, bahwa barang siapa yang mengagungkan bulan kami, bulan Rajab maka tidak akan kami tinggalkan sendirian di dalam kuburnya”.

NB : Semua Ulama telah sepakat, bahwa utk fadhoilul a'mal (amalan-amalan yang Soleh) boleh menggunakan semua mcm derajat hadist, termasuk dhoif.

*Walloohu a'lamu bish-showaab*