Friday, July 6, 2018

Gus Nadirsyah Meluruskan Twitt Tifatul Sembiring Tentang Surat Alfath

Gus Nadirsyah Meluruskan Twitt Tifatul Sembiring Tentang Surat Alfath

Politisi PKS Tiffatul Sembiring melalui akun twitternya @tifsembiring mengutip surat Al-Fath ayat 29, dimana menurutnya Rasulullah saw bersikap tegas/keras kepada orang-orang kafir, kasih sayang (rohmah) sesama orang beriman.

"Dalam surat Al Fath ayat 29, Rasulullah saw itu bersikap tegas/keras kpd orang2 kafir, kasih sayang (rohmah) sesama orang beriman. JANGAN dibolak balik yaa. Rohmah sama orang2 kafir, eh sesama mu'min malah bersikap kasar...," tulisnya, Ahad (01/07/2018).

Mengetahui hal itu, Prof Nadirsyah Hosen (Gus Nadir) mengomentari twit Tiffatul dengan catatan ngaji Gus Nadir.

"Ustaz @tifsembiring monggo dibaca catatan ngaji saya ttg tafsir ayat tsb," tulis Gus Nadir melalui akunnya @na_dirs, Senin (02/07/2018), dengan memberikan link websitenya: http://nadirhosen.net/tsaqofah/tafsir/206-benarkah-muslim-itu-harus-keras-terhadap-orang-kafir-tafsir-surat-al-fath-29

"Saya merujuk pada: 1. Tafsir Al-Alusi 2. Tafsir Ibn Abbas 3. Tafsir Bahrul Ulum," imbuh Gus Nadir.

Berikut isi catatan ngaji Gus Nadir:

Benarkah Muslim itu Harus Keras Terhadap Orang Kafir? Tafsir Surat al-Fath:29

Oleh Nadirsyah Hosen

Surat al-Fath berjumlah 29 ayat yang semuanya turun dalam konteks perjanjian Hudaibiyah. Oleh karena itu, memahami ayat terakhir dalam surat ini juga tidak bisa sepotong-sepotong, karena kita harus memahami keseluruhan konteks ayat-ayat sebelumnya, plus pemahaman utuh tentang perjanjian Hudaibiyah. Inilah yang dilakukan oleh Imam al-Alusi, pengarang Tafsir Ruhul Ma’ani yang harus berpanjang lebar menceritakan peristiwa Hudaibiyah sebelum menjelaskan potongan ayat 29 di bawah ini:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…”

Kesalahpahaman akibat kegagalan memahami pesan utuh ayat ini sering terjadi dan berpotensi menimbulkan gesekan sosial di masyarakat yang majemuk seperti di Indonesia. Kita saksikan sebagian saudara kita yang pasang wajah kusam dan angker kepada non-Muslim atau juga kepada sesama Muslim yang sudah mereka anggap kafir. Tak ada senyum dan tak ada ramah tamah. Mereka bahkan menyalahartikan ayat ini sebagai kewajiban bersikap kasar kepada orang kafir karena kata “keras” dipahami sebagai permusuhan.

Sebagian saudara-saudara kita juga bersikap mencurigai kebaikan orang kafir dan menoleransi keburukan orang Islam karena memahami ayat di atas secara harfiah tanpa memahami konteksnya. Pendek kata, semua tindakan orang kafir dicurigai dan ditolak, dan semua hal yang tidak benar dari sesama Muslim diterima begitu saja.

Konteks ayat di atas adalah suasana ketegangan, bukan ayat di masa tenang atau damai. Jadi, memberlakukan ayat itu dalam konteks keseharian kita berinteraksi sosial tentu kurang pas. Ketika Rasulullah SAW bermimpi memasuki kota Mekkah sebagai sebuah kemenangan yang dekat (fathan qariban), maka para sahabat dan Rasul bersama-sama hendak memasuki kota Mekkah berhaji pada tahun keenam hijriah. Singkat cerita, kaum kafir Mekkah menghadang dan memaksa Rasulullah dan sahabat kembali ke Madinah lewat sebuah perjanjian di daerah Hudaibiyah, dimana menurut para sahabat utama seperti Umar bin Khattab, perjanjian tersebut amat sangat merugikan umat Islam.

Sejumlah orang munafik mengambil kesempatan untuk menimbulkan kegaduhan, seperti terekam dalam ayat-ayat awal surat al-Fath. Allah pun menenangkan umat Islam yang seolah patah semangat bahkan ada pula yang mempertanyakan kebenaran mimpi Rasul sebelumnya. Surat al-Fath turun dalam suasana yang demikian. Di akhir surat, Allah menegaskan kembali kebenaran mimpi Rasul, kepastian kemenangan (yang terbukti saat Fathu Makkah) dan kebenaran bahwa Muhammad itu seorang utusan Allah. Di ayat 29 inilah Allah seolah hendak mengatakan: “jangan kalian ribut dan ragu sesama kalian, kalian harus saling berkasih sayang dan berlemah lembut diantara kalian, dan sifat keras dan tegas itu seharusnya ditujukan pada orang kafir bukan pada sesama kalian!”.

Ibn Abbas menafsirkan ayat 29 surat al-Fath yang sedang kita bahas ini khusus untuk para sahabat yang menyaksikan peristiwa Hudaibiyah. Sahabat Nabi yang terkenal cerdas luar biasa ini menafsirkan sebagai berikut:

Muhammad itu utusan Allah, tidak seperti kesaksian Suhail bin Amr (yang memaksa Rasul untuk menghapus kalimat Muhammad Rasulullah dalam naskah perjanjian Hudaibiyah dan diganti dengan Muhammad bin Abdullah saja); dan orang yang bersama Muhammad, yaitu Abu Bakar, ia termasuk orang yang pertama kali mengimani kerasulan Muhammad; keras terhadap orang kafir (maksudnya ini merujuk kepada Umar bin Khattab sebagai pembela Rasulullah), berkasih sayang sesama mereka (ini ditujukan kepada Utsman bin Affan). Lanjutan ayatnya: Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud (ini menyifatkan Ali bin Abi Thalib); mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya (ini menyifatkan Thalhah dan Zubair).

Al-Samarqandi dalam kitab tafsirnya Bahrul Ulum memberi penafsiran yang mirip dengan Tafsir Ibn Abbas di atas. Yang dimaksud bersama Nabi itu adalah Abu Bakar, yang keras itu Umar, yang berkasih sayang itu menyifatkan Utsman dan yang rajin ruku’ dan sujud itu Ali, sementara yang mencari karunia Allah dan keridhaannya itu adalah Zubair dan Abdurrahman bin Awf.

Penafsiran model Ibn Abbas di atas juga dikonfirmasi oleh Imam al-Alusi. Meski demikian beliau juga menyebutkan bahwa jumhur ulama menganggap penyifatan ini tidak hanya khusus untuk pihak tertentu yang menyaksikan peristiwa Hudaibiyah tapi merupakan sifat semua sahabat Nabi. Kalaupun kita terima pendapat jumhur ini, namun ini tidak berarti bahwa saat ini kita dibenarkan bersikap garang dan bermusuhan kepada orang kafir, karena semua ahli tafsir sepakat asbabun nuzul ayat di atas terikat erat dengan konteks ketegangan peristiwa Hudaibiyah.

Allah telah berfirman dalam Surat al-Mumtahanah ayat 8 mengatur relasi dengan pihak kafir:

“Allah tidaklah melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi kalian karena agama dan tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Itu artinya, Muslim tidak dilarang berbuat baik kepada tetangga maupun kawan sepermainan atau kolega di kantor yang merupakan non Muslim. Dua bukti lain bisa kita lihat dalam sejarah Rasulullah. Pertama, ketika ayat assyidda’u ‘alal kuffar (al-Fath: 29) di atas turun, justru Rasulullah sedang bersikap ‘lunak’ kepada orang kafir dalam perjanjian Hudaibiyah bukan sedang memerangi mereka.

Kedua, ketika peristiwa Fathu Makkah terjadi, Rasulullah juga bersikap lemah lembut kepada penduduk Makkah, bahkan Abu Sufyan pun mendapatkan perlindungan dari Rasulullah. Itulah sebabnya Rasulullah disebut sebagai al-Qur’an berjalan, karena beliau tidak mengikuti hawa nafsu, amarah maupun dendam permusuhannya, tetapi benar-benar merupakan perwujudan rahmat bagi semesta alam.

"Wa ma yanthiqu ‘anil hawa in huwa illa wahyu yuha (tidaklah Ia bicara berdasarkan hawa nafsunya melainkan apa-apa yang diwahyukan kepadanya)" QS 53:3-4.

Sumber : Dutaislam.com

Thursday, July 5, 2018

Cara Mbah Kholil Bangkalan Carikan Jodoh Buat KH Hasyim Asy'ari

Cara Mbah Kholil Bangkalan Carikan Jodoh Buat KH Hasyim Asy'ari

Ketika Mbah Hasyim nyantri di Bangkalan beliau diberi tugas mengurusi kuda milik Mbah Kholil hingga kesempatan untuk ngajipun tidak banyak. Suatu hari Mbah Kholil kedatangan tamu dari Jawa dan kebetulan dia seorang Kyai namun santrinya tak sampai ratusan hanya puluhan saja. Setelah tamu ditanya keperluannya apa, lalu tamu tersebut mengutarakan keperluannya kepada Mbah Kholil.

Tamu: “Mbah Kholil, saya datang kesini kyai pertama niat silaturahmi dan yang kedua saya hendak menikahkan putri saya berhubung dia sudah dewasa kiranya patut saya carikan jodoh apalagi usia saya juga sudah ada di ambang pintu ajal yang tak lama lagi Allah pasti memanggil ruh saya Kyai. Jika ada Kyai, saya mohon petunjuk dan izin Kyai untk mencarikannya”.

Tanpa berfikir panjang Mbah Kholil langsung memanggil Mbah Hasyim yang ada di belakang rumah beliau yang sedang ngurusi kuda. Spontan Mbah Hasyim yang mendengar suara gurunya memanggil langsung lari tunggang langgang menghadap sang guru.
Mbah Hasyim: “Iya Kyai Njenengan manggil saya?”
Mbah Kholil: “Iya”.

Tanpa banyak tanya lagi Mbah Hasyim langsung diam merunduk, lalu Mbah Kholil berkata kepada tamu beliau. Ini dia calon menantumu yang akan meneruskan perjuanganmu. Tamu pun terkejut tegang dan tak habis fikir sambil bergumam dalam hatinya, masa iya sih santri mblasaken seperti ini akan mengurus pesantrenku? Saya tidak yakin bila anak ini banyak ilmunya.

Di sisi lain Mbah Hasyim pun terkejut pula sambil begumam dalam hatinya, masa iya ya Mbah Kholil tega akan menjodohkan saya dengan putrinya ulama’ yang begitu mulia dan santrinya banyak nan berwibawa serta alim?
Mbah Kholil lalu menyambung dawuhnya apa yang keduanya pikirkan.

Mbah Kholil: “Sudahlah kamu (tamu) pulang saja dan siapkan selamatannya di rumahmu. Tiga hari lagi aqad nikah dilaksanakan. Dan kamu Hasyim kembali ke belakang!”
Mbah Hasyim pun kembali ke tempat tugasnya dengan hati yang risau, pikiran kacau balau dan perasaan galau, sembari bertanya-tanya dalam hati kecilnya: “Bagaimana saya bisa menjalani ini semua, kenapa guru tidak memberi tau saya sebelumnya atau paling tidak menawarkannya?”

Gundah gulana bimbang ragu dan bingung terus berkecamuk dalam fikiran Mbah Hasyim. Di saat-saat seperti itulah Hidayah Allah ditampakkan. Mbah Hasyim teringat dimana suatu hari saat Mbah Kholil molang kitab beliau Dawuh sederhana saja : “Barang siapa di antara kalian yang ingin tercapai hajatnya maka bacalah sholawat nariyah sebanyak-banyaknya dan pada waktu ijabah sangat dianjurkan yaitu setelah separuh malam hingga menjelang subuh”.

Saat malam kira-kira jam 12 malam, Mbah Hasyim melaksanakan apa yang pernah diucapkan gurunya itu yaitu membaca Shalawat Nariyah sebanyak-banyaknya, dan menjelang Subuh beliau ketiduran dan hal ajaib dimana dalam mimpi tidur sekejapnya beliau bermimpi bertemu Imam al-Bukhari dan mengajarkan kepada beliau hadits shahih selama 40 tahun lamanya, lalu beliau terbangun serta terkejut tidak percaya atas mimpinya itu.

Di malam yang kedua terjadi lagi, dalam mimpinya beliau bertemu Imam as-Syafi’i dan mengajarkan kepada beliau kitab-kitab Fiqih dari bebagai Madzhab yaitu Imam as-Syafi’i sendiri Hanafi Maliki dan Hanbali selama 40 Tahun lamanya.

Di malam ke tiga beliau bermimpi bertemu dgn Imam al-Ghazali dan Junayd al-Baghdady yang mengajarkan beliau kitab-kitab tasawwuf selama 40 tahun. Setelah beliau bangun, beliau terkejut dan bertanya dalam pikirannya apa makna dari semua mimpi ini.

Keesokan harinya beliau hendak bertanya kepada gurunya namun tidak ada kesempatan karena beliau justru disuruh siap-siap berangkat ke rumah calon mertua untuk melangsungkan aqad nikah.

Lalu keduanya pun berangkat hingga ditempat tujuan langsung dilakukan Aqad Nikah selesai itu Mbah Kholil akan pulang ke Bangkalan. Sepatah katapun tak ada yang keluar terucap dari Mbah Kholil mulai dari Bangkalan hingga sampai di tempat akad pernikahan. Baru Mbah Kholil hendak pulang beliau dawuh kepada Mbah Hasyim lalu kepada mertuanya dan disaksikan banyak santri dan tamu undangan.
Kepada Mbah Kholil: “Hasyim Jangan Nyelewang-Nyeleweng ya! Ibadah ikut yang dicontohkan Nabi melalui ulama’nya dan ikutilah ulama’nya Allah agar selamat, Allah pasti bersamamu.” Kepada mertua Mbah Hasyim dikatakan: “Jangan ragu dengan Hasyim dia sudah ngaji 120 tahun lamanya.”

Baik Mbah Hasyim, mertua dan para tamu tidak begitu paham serta kebingungan menafsiri dawuh Mbah Kholil karena mereka pikir ini gak masuk akal kapan ngajinya sampai 120 tahun sementara usia beliau belum sampai 50 tahun. Lalu Mbah Kholilpun balik ke Bangkalan.

Esoknya Mbah Hasyim diuji mertuanya sembari ingin membuktikan se alim apakah menantunya yang dijagokan gurunya itu. Dan beliaupun dengan agak gugup berada di masjid sementara di tempat yang biasa mertuanya duduk sudah disediakan 2 kitab tafsir dan hadits, sudah disiapkan ujian membaca kitab.

Nah keajaiban pun dimulai tanpa harus menengok apalagi memegang kitabnya Mbah Hasyim langsung membaca dengan fasih dan hafal diluar kepala serta membahasnya laiknya Masyayikh yang sudah kenyang dengan segudang ilmu, tak satupun ada yang salah.

Ustadz dan santri senior yang tidak yakin dengan kemampuan beliaupun pun menjadi takjub begitupula mertuanya yang mengintip dari celah jendela rumahnya pun ikut takjub.
Dari hari itu hingga seterusnya Mbah Hasyimlah yang molang semua kitab-kitab klasik yang tebal dari berbagai cabang ilmu agama Islam. Itulah beberapa karomah Mbah Kholil kepada Mbah Hasyim dan masih banyak lagi karomah-karomah beliau kepada santri-santri beliau yang lain.

Semoga Allah Senantiasa Mengalirkan tetesan-Tetesan Barokah dan Manfaat dari beliau-beliau ini kepada kita dan anak cucu kita sehingga kita tetap berada di jalur Ahlussunnah wal Jamaah.

Lahumul Fatihah...

Like Fanpage ULAMA & KIAI Nusantara

Tuesday, July 3, 2018

SUDAH KHATAM KITAB BERAPA KALI?

SUDAH KHATAM KITAB BERAPA KALI?

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)
***

Suatu saat, An-Nawawi didebat dan dikritik seseorang terkait akurasi penukilan beliau ketika menukil informasi dari kitab “Al-Wasith” karya Al-Ghozzali. Tidak banyak berdebat, An-Nawawi memberikan jawaban yang cukup menohok sebagaimana ditulis oleh As-Sakhowi berikut ini,

إن الشيخ نوزع مرة في نقل عن ” الوسيط ” فقال: تنازعوني في ” الوسيط ” وقد طالعته أربعمائة مرة؟

“Sesungguhnya syaikh An-Nawawi suatu saat didebat terkait penukilan beliau dari kitab “Al-Wasith” (karya Al-Ghozzali). Beliau berkomentar, ‘Engkau mendebatku terkait (nukilanku) di “Al-Wasith” sementara AKU TELAH MENELAAHNYA SEBANYAK 400 KALI?!’” (Al-Manhal Al-‘Adzbu Ar-Rowiyy, hlm 27).

Kitab “Al-Wasith” dicetak oleh penerbit “Dar Al-Basya-ir Al-Islamiyyah” pada tahun 2015 atas jasa tahqiq Prof. Ali Al-Qorodaghi dalam 9 jilid. Jumlah total halamannya adalah sekitar 5500-an. Jika kita membuang seluruh catatan kaki dan komentar dalam terbitan itu dan menyisakan matan inti “Al-Wasith” saja, lalu kita asumsikan matan inti “Al-Wasith” adalah seperempat jumlah halaman totalnya, maka ketebalan kitab “Al-Wasith” adalah kira-kira 1000-1500 halaman.

Bayangkan, An-Nawawi membaca kitab yang tebalnya sekitar 1000-1500 halaman sebanyak 400 kali!

Dengan keseriusan mengkaji yang sangat luar biasa semacam ini, wajar jika An-Nawawi muncul sebagai ulama yang sangat luas pengetahuannya dan mendalam penguasaan ilmunya. Cobalah dibaca kitab “Al-Majmu’” atau syarah beliau terhadap Shahih Muslim. Pasti akan terasa sedalam dan seluas apa pengetahuan yang beliau miliki.

Keseriusan membaca dan mengkaji kitab lebih dari sekali ini memang sudah menjadi sifat para ulama di berbagai zaman.

Al-‘Imroni, pengarang kitab “Al-Bayan” telah membaca kitab “Al-Muhadzdzab” karya Asy-Syirozi sebanyak 40 kali sampai menghafalnya.

Asy-Syaukani membaca Shahih Al-Bukhari lebih dari 50 kali.

Al-Muzani membaca kitab “Ar-Risalah” karya Asy-Syafi’i dalam kurun waktu 50 tahun.

Dan seterusnya.

Kisah-kisah pembangkit semangat seperti ini banyak sekali bertaburan dalam biografi ulama-ulama besar.

Bagaimana dengan dirimu?
Sudah berapa kali khatam dipelajari kitab yang engkau anggap penting?

Apapun kondisimu, ilmu yang engkau miliki saat ini adalah cerminan kesungguhanmu dalam menuntut ilmu.

اللهم إني أعوذ بك من العجز والكسل
اللهم ارزقنا علما نافعا ورزقا طيبا وعملا متقبلا

Versi Situs: http://irtaqi.net/2018/07/03/sudah-khatam-kitab-berapa-kali/

***
21  Syawwal 1439 H

Sunday, July 1, 2018

MAKAN ENAK DIHISAB DI AKHIRAT?

MAKAN ENAK DIHISAB DI AKHIRAT?

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

***

Suatu malam -demikian tersebut dalam Shahih Muslim- Rasulullah ﷺ keluar rumah karena kelaparan. Di jalan, secara tidak sengaja beliau bertemu dengan Abu Bakar dan Umar. Ketika Rasulullah ﷺ bertanya alasan mereka keluar, ternyata rasa laparlah yang menyebabkannya.

Akhirnya Rasulullah ﷺ dan kedua Shahabatnya berjalan bersama-sama menuju rumah salah satu shahabat Anshor. Sesampai di sana, yang menemui adalah istri shahabat Anshor tersebut karena suaminya masih mencari air.

Tak lama kemudian, datanglah shahabat Anshor itu. Gembira sekali ia dengan kedatangan ketiga tamu agung itu. Segera saja ia mengambilkan setandan kurma untuk dihidangkan kepada Rasulullah ﷺ dan kedua shahabatnya. Upayanya dalam memuliakan Rasulullah ﷺ dan kedua shahabatnya tidak berhenti di sini. Setelah menghidangkan tandan kurma, segera saja ia mengambil pisau, menyembelih kambing, memasaknya dan menyajikannya untuk disantap tamu-tamunya.

Ketiga hamba Allah mulia tersebut pun menikmati hidangan istimewa itu dengan penuh nikmat sampai kenyang. Setelah selesai maka Rasulullah ﷺ bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ الْجُوعُ ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Kalian pasti akan ditanya oleh Allah tentang nikmat ini pada hari kiamat! Rasa lapar telah membuat kalian keluar rumah, kemudian sebelum pulang kalian telah mendapatkan nikmat ini” (H.R. Muslim)

Sabda Rasulullah ﷺ ini sesungguhnya adalah menegaskan ayat dalam Al-Qur’an yang berbunyi,

{ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ} [التكاثر: 8]

“Kemudian, sungguh kalian pasti akan ditanyai tentang nikmat (yang diberikan Allah) pada hari itu -hari kiamat- (Q.S. At-Takatsur: 8 )

Mari kita renungkan.

Jika nikmat makan sampai kenyang saja nanti akan ditanyakan oleh Allah, bagaimana dengan nikmat makan yang lebih dari itu?

Bagaimana dengan para hamba yang dalam makan tujuannya bukan sekedar memadamkan rasa lapar tetapi juga pilih-pilih makanan enak, bahkan sengaja hanya mau makan di tempat-tempat tertentu demi mengejar prestise?

Sungguh. Semua nikmat pasti akan dihisab oleh Allah kecuali tiga saja,

Pertama: Sepotong makanan untuk sekedar memadamkan rasa lapar

Kedua: Secarik pakaian untuk sekedar menutup aurot

Ketiga: Kediaman untuk sekedar berlindung dari panas dan dingin.

Ahmad meriwayatkan,

فَأَخَذَ عُمَرُ الْعِذْقَ فَضَرَبَ بِهِ الْأَرْضَ حَتَّى تَنَاثَرَ الْبُسْرُ قِبَلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَئِنَّا لَمَسْئُولُونَ عَنْ هَذَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ نَعَمْ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ خِرْقَةٍ كَفَّ بِهَا الرَّجُلُ عَوْرَتَهُ أَوْ كِسْرَةٍ سَدَّ بِهَا جَوْعَتَهُ أَوْ حَجَرٍ يَتَدَخَّلُ فِيهِ مِنْ الْحَرِّ وَالْقُرِّ

“…Umar mengambil setangkai kurma kemudian memukulkannya di atas tanah hingga kurma-kurma mudanya berguguran di dekat Rasulullah ﷺ. Lalu dia bertanya, ‘Wahai Rasulullah ﷺ, apakah kita nanti akan ditanya tentang ini pada hari kiamat?’ Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Ya, kecuali tiga hal. Kain perca yang digunakan seseorang untuk menutup auratnya, sepotong makanan untuk menghilangkan rasa laparnya, dan kediaman yang ia masuki untuk berlindung dari panas dan dingin…” (H.R. Ahmad)

Dengan adanya ajaran seperti ini, tidak heran jika shahabat seperti Salman Al-Farisi menolak jika diajak makan yang membuatnya sampai kenyang terus-terusan karena beliau pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengatakan bahwa orang yang paling lama kenyangnya di dunia adalah orang yang paling lama laparnya di akhirat!

Kalau begitu, apakah dilarang makan enak, punya pakaian bagus, punya rumah bagus, punya kendaraan nyaman, gadget canggih dan semua kenikmatan duniawi lain selain tiga hal tadi?

Tidak juga.

Hanya saja harus diakui, orang yang mendapatkan nikmat berlebih, pasti hisabnya lebih berat daripada orang yang nikmatnya minimalis.

Yang dituntut Allah kepada seorang hamba saat mendaptkan nikmat adalah bersyukur kepada-Nya. Minimal, jika dia makan sampai kenyang atau makan enak dia mengawali dengan menyebut nama Allah dan mengakhiri dengan memuji-Nya, maka itu sudah cukup dikatakan bersyukur.

Syukur yang paling ideal adalah memaksimalkan penggunaan nikmat itu untuk menyenangkan Allah dan membuatnya menjadi ridha. Setelah makan, energi yang tercipta kemudian diniatkan untuk melakukan ketaatan habis-habisan. Entah itu salat, haji, jihad, membaca Al-Qur’an, berdakwah, membantu meringankan pekerjaan orang dan semua amal salih yang disenangi Allah. Dengan cara itulah kita bisa berharap selamat dari hisab atas nikmat-nikmat yang diberikan Allah.

اللهم اجعلنا من الزاهدين
فإنه لا عيش إلا عيش الآخرة

Versi Situs: http://irtaqi.net/2018/07/01/makan-enak-dihisab-di-akhirat/

***
19 Syawwal 1439 H