Tuesday, July 24, 2018

BENARKAH BANYAK HADIS NABI YANG HILANG?

BENARKAH BANYAK HADIS NABI YANG HILANG?

Oleh; Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)
***

PERTANYAAN

Assalamu’alaikum, permisi Ustadz, saya izin bertanya. Saya pernah mendengar pernyataan seperti ini “hadits-hadits yang diketahui & beredar di kaum muslim hari ini tidak sebanyak yang diketahui & beredar di zaman salafussholeh, karena sudah banyak hadits-hadits yang hilang alias tidak diketahui lagi. Pertanyaannya, apakah pernyataan tersebut benar Ustadz ? Apakah memang para Imam hadits dari dahulu sampai sekarang belum bisa mengkompilasi semua hadits dari Rasulullah Saw ?
Pertanyaan dari : ‪+62 813-3355-6XXX‬

JAWABAN

Wa’alaikumussalamwarohmatullah wabarokatuh.
Jika yang dimaksud adalah tidak semua hadis yang diketahui ahli hadis di masa pengumpulan hadis telah tercatat hari ini, maka hal itu benar.

Pernyataan yang lebih akurat begini, “Tidak semua hadis yang diketahui oleh generasi salaf ditulis dan dikompilasi oleh ahli hadis”, bukan “Para ahli hadis tidak sanggup mengkompilasi semua hadis Nabi”

Dua pernyataan di atas jauh berbeda maknanya.

Kalimat pertama bermakna para ahli hadis tahu hadis dan seandainya mau, mereka bisa menulis semua hadis yang diketahui selengkap-lengkapnya tanpa luput satu hurufpun. Kalimat dua bermakna para ahli hadis gagal dan tidak sanggup menulis hadis karena kelemahan yang ada pada mereka.

Jadi, pernyataan yang lebih tepat adalah “Tidak semua hadis yang diketahui oleh generasi salaf ditulis dan dikompilasi oleh ahli hadis”.

Al-Bukhari hafalan hadisnya sekitar 600.000 buah. Dari jumlah ini, sekitar 100.000 adalah hadis sahih. Dari sekitar 100.000 hadis sahih itu, Al-Bukhari hanya menuangkan sekitar 7000-an hadis dalam Shohih Al-Bukhari.

Imam Muslim saat menulis Shohih Muslim juga demikian kira-kira kisahnya.

Ini menunjukkan bahwa tidak semua hadis yang diketahui dan dihafal para ahli hadis dicatat dan dibukukan.

Hanya saja, tidak boleh dipahami bahwa ada petunjuk hadis Nabi ﷺ yang hilang. Tidak boleh disimpulkan demikian.

Kesimpulan ini salah berdasarkan dalil dan fakta sekaligus.

Dari sisi dalil, Allah berfirman,

{إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ} [الحجر: 9]

“Sesungguhnya Aku menurunkan ‘adz-dzikr’, dan sungguh aku benar-benar akan menjaganya” (Al-Hijr: 9)

Dalam ayat di atas, Allah menjamin akan menjaga “adz-dzikr”. Lafaz “adz-dzikr” mencakup Al-Qur’an dan hadis. Jadi sebagaimana Al-Qur’an terjaga, hadis wajib kita yakini juga terjaga.

Dari sisi fakta pengumpulan hadis, maka siapapun yang mengkaji sejarahnya akan tahu bahwa hadis yang ditulis itu sudah melalui pertimbangan yang tepat dan seleksi yang sangat ketat.

Sebagai gambaran, mari kita lihat fakta berikut ini.

Dari sekitar 600.000 hadis yang dihafal Al-Bukhari, sekitar 500.000 tidak ditulis karena tidak sahih. Keputusan untuk tidak menulis hadis yang tidak sahih ini sudah tepat. Buat apa menulis hadis-hadis palsu dan tidak sahih sementara yang sahih saja banyaknya sudah luar biasa?

Dengan ditulisnya hadis-hadis yang sahih saja, maka kaum muslimin boleh memiliki kaidah umum yang berbunyi “Hukum asal semua riwayat yang tidak tercantum dalam kitab-kitab hadis sahih adalah riwayat batil, sampai ada bukti yang menunjukkan sebaliknya”.

Dari sekitar 100.000 hadis sahih yang dihafal Al-Bukhari, beliau hanya menuliskan sekitar 7000-an hadis. Keputusan menulis sekitar 7000 hadis ini sudah tepat karena yang tidak ditulis itu sudah terwakili hadis-hadis yang ditulis. Banyak sekali hadis yang sahih dengan jalur yang berbeda-berbeda tetapi isinya sama. Kalau isinya sama dan hanya beda di sanad, buat apa ditulis? Tidak efisien.

Keputusan Al-Bukhari sangat bagus. Dari sekian puluh ribu hadis sahih itu, beliau pilih mana yang redaksinya terbaik dan sanadnya terbaik dan itulah yang beliau tuliskan dalam Shohih Al-Bukhari.

Jadi, 7000-an hadis Al-Bukhori itu sudah mewakili seluruh hadis sahih yang beliau ketahui. Karena itu, nama asli shahih Al-Bukhari itu dicantumkan kata “mukhtashor” (ringkasan) karena memang isi Shahih Al-Bukhari itu meringkas hadis-hadis yang kontennya sama lalu dipilih sanad terbaik dan terkuat oleh Al-Bukhari, kemudian dicantumkan dalam shahihnya.

Jadi bisa disimpulkan, semua hadis Nabi ﷺ terjaga sebagaimana terjaganya Al-Qur’an. Hanya saja, pernyataan ini tidak bermakna setiap huruf ucapan Nabi ﷺ dan setiap detik perbuatan beliau terekam dalam catatan buku. Makna pernyataan tadi adalah, semua yang berasal dari Nabi ﷺ yang sifatnya wahyu dan memperjelas Al-Qur’an dan dibutuhkan hamba Allah dalam dien semuanya telah terjaga dan tercatat secara sempurna sampai hari ini.

Wallahua’lam

Versi Situs: http://irtaqi.net/2018/07/24/benarkah-banyak-hadis-nabi-yang-hilang/

***
13 Dzulqo’dah 1439 H

Monday, July 23, 2018

USAHA BAPAK (1) (KH. Abdul hannan ma'shum)

USAHA BAPAK (1) (KH. Abdul hannan ma'shum)

bagi yang sudah membaca tulisan saya sebelumnya yang berjudul bapak dan ibu, maka pasti ingat rayuan bapak untuk ibuk agar setia menemani meskipun masih kere(melarat).

pada tulisan kali ini akan saya ulas sekilas tentang bagaimana bapak membangun ekonomi keluarga dan pesantren.

bapak adalah seseorang yang lahir dalam keluarga serba kekurangan, ibunya berjualan gorengan dan bapak berjualan kelapa.

tumbuh berkembang dalam lingkungan yang serba kurang tak membuat bapak kecil berpangku tangan, bapak bercerita pernah mengajak kerjasama pemilik lahan kosong untuk ditanami umbi-umbian. bila sudah layak konsumsi, umbi-umbian ini akan dibagi dua dengan pemilik lahan, sebagian untuk makan bapak dan keluarga besarnya sebagian disetorkan ke pemilik lahan(karena kata bapak, waktu kecilnya makanan pokok adalah umbi-umbian. nasi menjadi barang sangat mewah yang jarang sekali bisa dimakan).

setelah selesai SR(sekolah rakyat), atau sekolah raja biasanya bapak guyon. beliau berinisiatif untuk mondok. keinginan ini tak mulus terlaksana. izin orang tua telah didapat, tapi dengan sedikit berat hati karena memang tak ada harta untuk bekal dipondok. kalaupun ada hanya sedikit sekali. ditambah, ada saudara yang menyindir: “ awakmu mondok, opo anak bojomu arep dipangani dampar?(kamu mondok, apa anak istrimu nanti dikasih makan bangku dampar?)”.

tekad sudah bulat, bapak berangkat.

dengan penuh semangat dan perhatian bapak memasuki dunia pesantren dan menikmati nikmatnya ilmu, berbekal beberapa butir kelapa dan 5 kilo beras setiap bulannya selama 6 tahun. ada juga kiriman uang tapi hanya sedikit, biasanya cuman cukup dibelikan garam dan cabe. cabe dijemur hingga kering lalu dicampur keberas, agar terasa sedikit pedasnya hingga sebulan.

kadang bila bapak ingin merasakan sedikit bumbu lain, menunggu teman lain selesai nyambel. lalu ketika cobek bekas sambelnya akan dibersihkan dilarang bapak. dipinjam bentar, disiram sedikit air lalu untuk dimakan dengan nasinya bapak.

setelah memasuki tahun ke 7, ibuknya(nenek saya) bilang ke bapak sambil menangis: “ sakiki aku wes ra kuat ngirim le(sekarang saya tidak mampu mengirimi uang nak)”.

dengan tegas hati bapak menjawab: “ pun buk, namung pangestune njenengan kawulo suwon(sudah bu, hanya doa restu ibuk yang saya minta)”.

setelah itu bapak mencari bekal sendiri dipondok selama 9 tahunan dengan menjadi buruh nulis(juru tulis).  menulis apa saja, dibayar seikhlasnya. bahkan kadang dibayar dengan kitab.

alkisah, saking banyak dan seringnya nulis kitab, bapak hampir hafal beberapa kitab seperti alfiyah dan yang lainnya.

usaha dzohir memenuhi kebutuhan dengan menulis, ikhtiyar batinnya dengan tirakat, wirid, dan juga ziarah ke makam auliya’.

bapak seorang pembelajar, dari siapa saja. bahkan beliau pernah bertanya pada seorang kusir kuda yang cukup sukses punya beberapa kuda. bapak bertanya bagaimana caranya kok bisa sukses? lalu dijawab oleh sang kusir kuda: “kudu ngekehne ping ngurangi sudo(harus memperbanyak perkalian mengurangi pengurangan)”.

yang dimaksud disini adalah harus memperbanyak jalan jalan usaha untuk pemasukan, dan meminimalisir pengeluaran. 

dan ditambah dengan keterangan yang bapak dapatkan dikitab: “bila sudah punya beberapa jalan pemasukan jangan lalu menutup salah satunya. meskipun kecil, selama masih menghasilkan maka harus tetap dijaga usaha itu.”

(bersambung)

#salamKWAGEAN

Sunday, July 22, 2018

Kisah Sebantal Berdua Santri dan Kiai

Kisah Sebantal Berdua Santri dan Kiai

Santri muda bernama Ibrahim itu datang jauh dari pelosok Sumatera Selatan ke Cirebon. Menemui seorang Kiai di Buntet Pesantren yang disebut-sebut oleh Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari sebagai penjaga langit tanah Jawa. Kiai Abbas namanya.

Kiai Abbas menatap tajam pada sosok di depannya. Menganggukkan kepala tanda beliau berkenan menerima Ibrahim.

“Saya tidur dimana, Pak Kiai?” tanya Ibrahim salah tingkah melihat Sang Kiai masih terus menatapnya.

‘Ya di rumah ini. Itu kamarmu.”

Ibrahim terkejut. Santri lainnya diarahkan menuju pondok, sementara ia malah diminta menetap di rumah Sang Kiai.

Maka hari-hari selanjutnya, Ibrahim menerima gemblengan berbagai ilmu khusus langsung dari Kiai Abbas. Belajar langsung bertatap muka dengan Sang Kiai adalah anugerah luar biasa.

Tapi keberuntungan Ibrahim tidak hanya sampai di sana. Sebagai Kiai NU yang disegani di wilayah Jawa Barat, Kiai Abbas sering bepergian ke sejumlah wilayah. Ibrahim dibawanya turut serta.

Berpuluh-puluh tahun kemudian Ibrahim mengenang bahwa suatu ketika ia mendampingi Kiai Abbas dalam suatu pertemuan tingkat tinggi para ulama NU di Jawa Tengah. Sebagai santri kesayangan, Ibrahim bukan saja melayani keperluan Sang Kiai selama dalam perjalanan, tapi juga turut duduk dan mengikuti berbagai pembahasan.

Dalam perjalanan pulang, tak hentinya Kiai Abbas memuji kehadiran seorang Kiai dari Jombang yang sangat dikaguminya: Kiai Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri dan penggerak roda organisasi NU. Ibrahim mengenang bahwa Kiai Abbas terus menerus menceritakan diskusinya dengan Kiai Wahab. Kiai Abbas tak bisa menutupi kekagumannya betapa hebatnya pemikiran Kiai Wahab yang disampaikan dalam pertemuan para Kiai tadi.

Ibrahim penasaran. “Kiai Wahab itu yang mana yah?”

Kiai Abbas tersenyum, “Yang semalam tidur berbagi bantal denganmu. Itulah Kiai Wahab.”

Ibrahim terkejut. Tidak menyangka bahwa sosok sederhana yang semalam berbagi bantal (yang satu meletakkan kepala di atas bantal menghadap ke utara, dan satunya menghadap ke selatan) ternyata itulah Kiai yang tengah diceritakan Kiai Abbas dengan rasa hormat dan kagum.

Pertemuan para ulama NU memang dilakukan dengan sederhana. Selepas diskusi panjang, para Kiai beristirahat dengan alas tikar seadanya dan berbagi bantal. Satu-satunya kemewahan adalah tumpukan kitab kuning dan argumentasi yang dilakukan para Kiai saat berdiskusi. Selebihnya sederhana. Itu dulu.

Sosok Kiai Wahab Chasbullah, penerus Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari ini, merupakan Kiai yang luar biasa baik kedalaman ilmunya dan keaktifannya berorganisasi. Kecintaannya pada tanah air melegenda dalam syair Ya Lal Wathan.

Santri muda Ibrahim kelak mendirikan Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (PTIQ) khusus Pria tahun 1971 dan Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Khusus Perempuan tahun 1979 dan sekaligus sebagai Rektornya, serta dua puluh tahun memimpin Komisi Fatwa MUI (1980-2000) dengan segala kontroversinya. Gelarnya sudah panjang saat itu: Prof KH Ibrahim Hosen, LML. Makna tatapan tajam Kiai Abbas saat menerimanya sebagai santri khusus tempo doeloe terjawab sudah.

Kelak, pada Muktamar NU ke 25 di Surabaya tahun 1971, Mbah Wahab Chasbullah sudah sepuh dan sakit namun Kiai Bisri Syansuri tidak mau menggantikan beliau selama Mbah Wahab masih ada. Maka terpilihlah Mbah Wahab kembali menjadi Rais Am. Yang menarik, dalam perumusan nama-nama pengurus, Mbah Wahab mengirim utusan meminta kesediaan Ibrahim Hosen sebagai salah seorang Rais Syuriah PBNU untuk turut membantu beliau.

Memori sebantal berdua kembali hadir di benak Ibrahim Hosen.

Namun beberapa hari kemudian Mbah Wahab meninggal dunia. Sehingga Mbah Bisri yang naik menggantikan, dan formasi kepengurusan berubah. Ibrahim Hosen dengan tawadhu’ menolak masuk dalam kepengurusan dan memilih mencurahkan waktu sebagai Rektor PTIQ.

Merasa mendapat keberkahan dari tinggal dan belajar khusus dengan Kiai Abbas Buntet, Abah saya, Prof KH Ibrahim Hosen LML, menceritakan ulang kisah sebantal berdua dengan Kiai Wahab Chasbullah kepada saya lebih dari 30 tahun yang lalu. Berkah...berkah...berkah!

Demikianlah kisah sebantal berdua antara seorang santri Buntet dengan kiai besar NU dari Tambakberas, Jombang.

Alhamdulillah untuk kedua kalinya saya sempat ‘sowan’ ke makam Kiai Wahab Chasbullah beberapa waktu lalu. Meneruskan tradisi penghormatan santri pada para Kiai. Lahumul fatihah...

Tabik.

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand
dan Dosen Senior Monash Law School

Friday, July 6, 2018

AMAR MAKRUF GUS MUT DAN DAKWAH SANDAL JEPIT KIAI KHOLIL

KHADAFI AHMAD

KHOTBAH 36

MOJOK.CO – Dakwah itu tidak perlu berat-berat, tidak perlu pakai teriak-teriak di jalanan, cuma mintain orang jaga sandal jepit saja juga bisa.

Masjid di kampung Gus Mut geger karena belakangan ini sandal-sandal jamaah sering hilang. Tidak seperti biasanya, ketika sandal hilang cuma satu atau dua cuma karena tertukar dengan jamaah lain, dalam dua minggu ini beberapa sandal jamaah benar-benar hilang tak berbekas. Semua kejadiannya sama, yakni setelah salat Jumat ketika masjid sedang penuh-penuhnya.

Sudah dua kali kejadian sandal hilang ini, dan sebagai salah satu pengurus masjid, Gus Mut merasa perlu untuk membereskannya.

Jelas sudah ada orang yang benar-benar niat untuk mencuri sandal jamaah di masjid. Selain sandal, beberapa sepatu bermerek jamaah ikut-ikutan dicuri. Merasa ada yang tidak beres, Gus Mut pun bertanya kepada beberapa orang.

“Kok bisa ya, sandal hilang di masjid berturut-turut begini?” tanya Gus Mut kepadaFanshuri, salah satu jamaah.

“Iya ini Gus, saya juga tidak tahu. Padahal biasanya aman-aman saja,” kata Fanshuri.

“Kamu tahu, siapa kira-kira orang yang ngambilin sandal para jamaah? Ini sudah yang kedua. Pasti orang sekitaran ini, hampir mustahil orang asing. Tidak bisa dibiarkan ini, Fan,” kata Gus Mut.

“Mungkin Gus Mut perlu tanya ke Bang Is. Preman pasar kampung,” usul Fanshuri.

“Wah, jangan. Nanti saya dikira nuduh macam-macam. Lagipula saya tidak punya bukti,” elak Gus Mut.

“Bukan begitu, Gus. Kita tanya saja baik-baik. Sebagai preman pasar, barangkali Bang Is tahu siapa anak kampung sini yang suka mencuri. Siapa tahu Bang Is bisa kasih petunjuk,” kata Fanshuri.

Gus Mut pun sepakat dengan pendapat Fanshuri. Untuk menangkap serigala, tidak ada salahnya meminta tolong kepada singa.

Setelah salat asar, Gus Mut menghampiri rumah Bang Is. Preman pasar yang dikenal garang dan punya reputasi mentereng sebagai residivis. Meski dikenal kasar, Bang Is termasuk sosok yang menghormati tokoh-tokoh kiai di sekitaran kampung. Ayah Gus Mut yang merupakan sesepuh kampung, yakni Kiai Kholil, adalah salah satu sosok yang dihormati Bang Is.

Alasan Bang Is menghormati Kiai Kholil juga tidak serta-merta karena Kiai Khollil seorang kiai yang ahli dalam ilmu agama. Melainkan karena Kiai Kholil juga seorang jawara di kampung. Ahli silat yang diakui kehebatan bertarungnya saat muda dulu. Bang Is beberapa kali kalah telak melawan ilmu silat Kiai Kholil. Oleh karena itu, meski sekarang Kiai Kholil sudah sepuh dan tak lagi menggunakan ilmu silatnya, sebagai sesama pendekar, Bang Is tetap hormat.

Begitu keduanya bertemu dan berbasa-basi sebentar Gus Mut pun menanyakan perihal yang menjadi tujuannya berkunjung ke rumah Bang Is.

“Jadi, Bang Is tahu nggak kira-kira siapa yang suka mencuri sandal jamaah di masjid?”

Air muka Bang Is yang sejak awal pertemuan menyambut dengan tangan terbuka kedatangan Gus Mut tiba-tiba berubah.

“Maksudnya apa nih, Mut? Kok tiba-tiba situ tanya aneh-aneh begitu? Situ nuduh ya?” Bang Is terlihat tersinggung.

Gus Mut pun buru-buru minta maaf, “Bukan begitu Bang Is, maksud saya itu cuma nanya. Siapa tahu sebagai yang mbahurekso daerah sini, Bang Is tahu dan bisa menunjukkan ke saya siapa yang kira-kira sering nyuri.”

Dijelaskan seperti itu kemarahan Bang Is bukannya mereda, malah menjadi-jadi. “Kalaupun aku tahu, ya aku nggak akan kasih tahu ke kamu, Mut. Enak saja. Jangan terus apa-apa hal buruk di daerah sini jadi otomatis melibatkan aku,” kata Bang Is.

Benar Bang Is menghormati Kiai Kholil, tapi kepada anaknya, hormat itu masih ada hanya saja cuma sedikit saja. Lagian, sehormat-hormatnya Bang Is kepada Kiai Kholil, ia tidak bisa terima jika Gus Mut menuduh bahwa kehilangan sandal di masjid ada andil juga dari dirinya.

Baca juga:  Walikota Surabaya Risma Bersujud di Hadapan Takmir Masjid

Gus Mut pun memilih undur diri tanpa mendapatkan pencerahan apapun. Merasa gagal, Gus Mut pun tidak langsung pulang ke rumah, melainkan menyempatkan mampir ke rumah ayahnya, Kiai Kholil. Diceritakanlah perihal masalah pencurian sandal di masjid sampai kunjungannya ke rumah Bang Is.

“Oh, begitu rupanya,” komentar Kiai Kholil singkat.

“Kalau begitu, biar urusan sama Is jadi urusan Abah saja,” kata Kiai Kholil.

“Oh, jadi Abah juga curiga kalau Bang Is juga terlibat?” tanya Gus Mut.

“Lho? Kenapa kamu bisa berkesimpulan seperti itu? Maksud Abah, biar Abah ke sana dulu mencairkan suasana. Kamu juga salah, datang ke rumah orang malah nuduh macam-macam,” kata Kiai Kholil.

“Aku nggak nuduh, Bah. Aku cuma nanya kok,” bela Gus Mut.

“Ya nanya begitu nggak ada bedanya sama nuduh,” terang Abah, “Sudah, biar besok Abah ke sana menjelaskan duduk perkaranya.”

Keesokan harinya, Kiai Kholil benar-benar mengunjungi rumah Bang Is. Kehadiran Kiai Kholil tentu sempat bikin kalut Bang Is. “Kurang aja benar si Mut itu, beraninya bilang ke abahnya. Brengsek betul,” maki Bang Is dalam hati.

“Assalamualaikum, Is. Wah, sudah lama tak ketemu. Sehat Is?” tanya Kiai Kholil basa-basi.

“Waalaikumsalam Kiai Kholil. Maaf, kalau Kiai Kholil datang ke sini karena saya marah-marah sama si Mut. Ya saya nggak terima aja dituduh macam-macam,” bela Bang Is tiba-tiba.

Kiai Kholil cuma terkekeh. “Oh, soal si Mut itu. Hahaha, dia memang anak kurang ajar. Nggak tahu sopan santun. Makanya saya datang ke sini mau meminta maaf atas kelakuan anak saya kemarin itu,” tanya Kiai Kholil.

Bang Is yang mendengarnya tentu saja heran. Kenapa ini Kiai Kholil tiba-tiba datang ke rumahnya untuk meminta maaf?

“Tapi sebenarnya maksud kedatangan saya ke sini bukan cuma untuk minta maaf, Is,” kata Kiai Kholil.

“Oh, Kiai Kholil juga curiga kalau saya termasuk dari sindikat yang suka nyuri sandal di masjid?” selidik Bang Is.

“Lho bukan. Wah, kamu kok kayak Mut jadinya kalau suka nuduh-nuduh sembarang begitu,” kata Kiai Kholil.

“Habis saya masih sakit hati sama omongan si Mut kemarin,” balas Bang Is.

“Maksud kedatangan saya adalah meminta tolong ke kamu untuk jagain pelataran depan masjid tempat sandal-sandal biasanya ditinggal para jamaah. Sebagai sosok yang ditakuti dan punya pengaruh besar di kampung, sudah pasti tidak akan ada orang yang berani kalau Is yang turun gunung langsung untuk jaga. Sebenarnya sih, saya bisa saja minta tolong orang lain, tapi saya pikir tidak ada yang sekuat kamu pengaruhnya di kampung sini.”

Mendengar kata-kata “yang ditakuti” dan “punya pengaruh besar di kampung” membuat dada Bang Is jadi sedikit membusung. Ada rasa bangga muncul tiba-tiba, lebih-lebih yang bilang barusan adalah Kiai Kholil, sesepuh kampung si jawara silat.

“Oh, tidak masalah Kiai. Kalau soal itu, saya siap. Biar saya rontokkan gigi si pencuri yang sudah bikin saya dituduh macam-macam,” jawab Bang Is.

“Baiklah kalau begitu. Tapi tidak perlu tiap hari juga. Lagi pula kamu pasti juga punya kesibukan lain. Saya minta tolong untuk setiap salat Jumat saja. Ketika jamaah lagi penuh-penuhnya dan sandal lagi banyak-banyaknya. Nanti kalau kamu ingin dapat tambahan, kamu bisa tarik uang parkir dari jamaah. Seribu dua ribu kan lumayan. Nanti biar saya yang bilang sama pengurus masjidnya.”

“Siap, Kiai Kholil, tidak masalah,” jawab Bang Is tambah senang. Sudah dipercaya, dapat uang tambahan pula dari parkir. Lumayan.

Baca juga:  Kenapa SPBU Lebih Ramai Ketimbang Masjid?

Kiai Kholil tahu betul, sebagai preman pasar yang garang, Bang Is mana sudi ikut salat di masjid. Bang Is sendiri memang Islam, tapi Islamnya cuma di mulut. Jadi tidak meminta Bang Is salat sudah termasuk penghargaan tersendiri untuk orang seperti Bang Is. Lagian Kiai Kholil menyediakan “pekerjaan” baru yang cukup mengutungkan.

Pada akhirnya, penjagaan Bang Is dimulai. Setiap salat Jumat Bang Is selalu datang paling awal. Nongkrong di seberang masjid sambil memberi aba-aba untuk motor-motor jamaah yang datang. Awalnya, banyak jamaah yang menggerutu karena parkir sekarang dipasang tarif. Tapi setelah dari mulut ke mulut dijelaskan perihal seringnya sandal di masjid hilang, para jamaah akhirnya memaklumi.

Penjagaan pun berlangsung sampai salat Jumat keempat. Lama kelamaan Bang Is merasa ada yang aneh. Memang betul sudah tidak ada lagi kasus kehilangan sandal seperti sebelum-sebelumnya. Tapi sebagai sosok yang berpengaruh dan ditakuti, menjaga sandal seperti ini adalah pekerjaan yang harusnya tidak cocok untuk orang dengan posisi seperti dirinya.

Bang Is pun menghadap ke Kiai Kholil. “Kiai, masa saya yang kepala preman begini harus jagain sandal para tukang becak, tukang bangunan, tukang jaga loper koran begini? Enak betul mereka dijagain sandalnya sama orang kayak saya? Justru harusnya orang-orang kayak begitu yang jaga sandal saya dong. Enak betul mereka,” kata Bang Is protes.

“Jadi maksudnya gimana nih, Is. Kamu ingin sandalmu ikut dijaga juga? Lha kalau sandalmu pengen dijaga, ya kamu kudu salat di dalam. Lha gimana jagain sandalmu kalau kamunya masih pakai sandal?” tanya Kiai Kholil.

“Oh, tidak masalah. Saya ikut salat Jumat nggak apa-apa,” jawab Bang Is.

“Waduh jangan ikut salat Jumat, Is, jangan.”

“Lho kok begitu, Kiai? Kan bagus tho saya ikut salat juga? Memang kenapa orang kayak saya nggak boleh ikut salat?” tanya Bang Is.

“Kalau kamu ikut salat, yang jagain sandal siapa nanti?” tanya Kiai Kholil.

“Oh betul juga,” kata Bang Is. Sejenak Bang Is berpikir. “Oh, tidak masalah Kiai. Saya kan punya banyak anak buah. Biar mereka saja nanti yang jaga. Biar sandal saya dijaga mereka. Saya salat di dalam. Gimana cocok kan?” kata Bang Is.

“Duh, walaupun sebenarnya saya tidak setuju sepenuhnya karena anak buahmu tidak sekuat kamu pengaruhnya, tapi kalau kamu maunya begitu. Ya saya bisa apa?” kata Kiai Kholil pura-pura.

Jumat depan, gantian anak buah Bang Is yang menjaga sandal depan masjid. Bang Is senang bukan kepalang, sandalnya ikut dijaga. Sandal jepit buntut miliknya dijaga. Rasanya benar-benar jadi orang penting. Tapi tidak sampai dua kali salat Jumat, pada minggu kedua, anak buah Bang Is gantian yang protes.

“Bang, masa aku cuma disuruh jaga sandal. Preman begini masa jagain sandal tukang becak sama tukang asongan begini. Mana sudi aku. Harusnya sandalku yang dijaga,” protes anak buah Bang Is.

“Ya kalau kamu nggak terima. Kamu cari orang lain dulu buat gantiin posisimu,” kata Bang Is.

Hal ini terus terjadi sampai beberapa waktu. Sampai akhirnya Bang Is dan semua anak buahnya—termasuk yang suka nyuri sandal di masjid—jadi ikut-ikutan salat Jumat. Alhasil, pencurian sandal di masjid pun jadi hilang sampai ke akar-akarnya. Hanya karena sebuah alasan sepele, masing-masing preman nggak sudi jagain sandal orang lain dan lebih pengen sandalnya yang dijaga.

 

*) Diinspirasi dari kisah Kiai As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo