Monday, September 3, 2018

BEOGRAFI 5 PENGASUH PONDOK PESANTREN LANGITAN. widang. tuban.

BEOGRAFI 5 PENGASUH PONDOK PESANTREN LANGITAN. widang. tuban. jawatimur

1. K.H. Muhammad Nur

Lembaga pendidikan sekarang ini dahulunya adalah hanya sebuah surau kecil tempat muassis (pendiri) pertama KH.Muhammad Nur mengajarkan ilmunya kepada sanak saudara dan tetengga dekatnya.

Hadratussyekh KH. Muhammad Nur adalah keturunan seorang kiai dari Desa Tuyuhan Kabupaten Rembang Jawa Tengah, dan jika diruntut lebih ke atas lagi maka beliau adalah juga termasuk keturunan Mbah Abdurrahman, Pangeran Sambo. Beliau mengasuh Pondok Pesantren Langitan ini selama kurang lebih 18 tahun (1852-1870 M.).

Cita-cita luhur dan semangat beliau dalam membidangi berdirinya pesantren ini nampaknya cukup membuahkan hasil yang signifikan, terbukti dengan tampilnya putra-putri beliau dalam mengemban amanat sekaligus menjadi pemimpin umat setelah beliau wafat pada Hari Senin, 30 Jumadil Ula 1297 H. dan dimakamkan di komplek pesarehan Sunan Bejagung lor Tuban.

2. KH. AHMAD SHOLEH

Kepemimpinan KH. M. Nur untuk selanjutnya diteruskan oleh KH. Ahmad Sholeh, putra kedua dari sembilan bersaudara putra-putri beliau. Pendidikan beliau selain mengaji kepada ayahandanya sendiri juga kepada H. Abdul Qodir Sidoresmo Surabaya dan sempat pula melakukan studi (tabarrukkan) kepada beberapa ulama besar Masjidil Haram, di antaranya adalah Syeh Ahmad Zaini Dahlan saat beliau menunaikan ibadah haji Ke Mekkah pada tahun 1289 H.

Pada masa kepengasuhan Mbah Sholeh – panggilan akrab KH. Ahmad Sholeh -Pondok Pesantren Langitan mengalami perkembangan yang cukup pesat baik dalam segi kuantitas maupun kualitas. Hal ini dibuktikan dengan semakin melobernya jumlah santri. Begitu juga dalam sisi sarana dan fasilitas, semakin lama semakin meningkat.
Nama-nama besar pemimpin keagamaan yang juga perintis besar seperti KH.Muhammad Kholil, Bangkalan Madura, K.H.Hasyim Asy’ari (pendiri NU), H.Wahab Hasbulloh, Jombang, KH. Syamsul Arifin (ayahanda KH. As’ad Syamsul Arifin), KH.Shidiq (Ayahanda mantan Rois Am NU, KH. Ahmad Shiddiq), KH. Khozin yang kelak akan meneruskan matarantai kepengasuhan KH. Ahmad Sholeh, KH. Hasyim, padangan Bojonegoro, KH.Umar Dahlan Sarang Rembang dan lain-lain adalah sejumlah santri yang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Langitan pada masa kepengasuhanya. Sebuah faktah sejarah yang cukup membanggakan, dimana sebuah lembaga pendidikan dengan segala keterbatasan sarana dan fasilitas mampu mencetak Ulama besar.

KH. Ahmad Sholeh mengembangkan pesantren ini kurang lebih 32 tahun (1870-1902 M.), Beliau wafat pada tahun 1320 H. bertepatan dengan tahun 1902 M., dimakamkan di Pemakaman Umum Desa Mandungan Kecamatan Widang Kabupaten Tuban, kurang lebih 400 m. sebelah utara lokasi Pondok Pesantren Langitan

3. KH. MUHAMMAD KHOZIN

Periode ketiga Pondok Pesantren Langitan diasuh oleh putra menantu KH.Ahmad Sholeh, yaitu KH. Muhammad Khozin, putra KH. Shihabuddin Rengel Tuban. Selain mengaji di Pondok Pesantren Langitan, beliau juga pernah menimba ilmu di Pesantren Kademangan di bawah asuhan KH.Mohammad Kholil Bangkalan, selama dua tahun. Pada tahun 1894 M, beliau dijodohkan dengan putri KH.Ahmad Sholeh, Ning Shofiyah dan sejak itu beliau mulai aktif mengajar hingga menerima tugas mulia memimpin dan mengasuh pesantren sepeninggal ayah mertuanya pada tahun 1320 H./1902 M.

Waktu pun bergulir, selang beberapa tahun kemudian tepatnya pada tahun 1904 M. beliau berkesempatan menunaikan ibadah haji di Makkah Al Mukarramah. Kesempatan emas ini dimanfaatkan oleh beliau untuk mengaji (tabarrukan) kepada Syeh Makhfudz At Termasi dan beberapa masyayekh lain di Masjid Al Haram.
Dalam periode ini, sekembali beliau dari menunaikan ibadah haji terjadi banjir yang cukup dahsyat, lokasi Pondok Pesantren Langitan digenangi air Bengawan Solo dan terancam erosi cukup berat. Sehingga dengan terpaksa beliau memindahkan bangunan-bangunan pondok yang semula berada di tepi Bengawan Solo ke arah utara. Upaya ini juga dibarengi dengan perluasan areal pondok dan perbaikan sarana dan fasilitas pemukiman santri yang rusak akibat banjir. Pondok yang berhasil dibangun pada saat itu adalah sebanyak empat unit yang terdiri dari Pondok Kidul yang sekarang disebut dengan Pondok Al Ghozali (a), Pondok Lor yang terkenal dengan nama Pondok Al Maliki (c), Pondok Kulon atau yang saat ini lebih populer dengan nama Pondok As Syafii (b) dan Pondok Wetan yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Pondok Al Hanafi (d).

KH. Khozin mengasuh dan mengembangkan pesantren ini selama kurang lebih sembilan belas tahun (1902-1921 M.), beliau wafat pada tahun 1340 H./1921 M. dimakamkan di Pemakaman Umum Desa Mandungan Kecamatan Widang Kabupaten Tuban.

4. KH. ABDUL HADI ZAHID

Matarantai kepengasuhan Pondok Pesantren Langitan terus berlanjut. Pada periode ke empat ini Pondok Pesantren Langitan diasuh oleh putra menantu K.H. Khozin, Hadrotussyekh KH. Abdul Hadi Zahid. Beliau lahir di Desa Kauman Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan pada tanggal 17 Rabi’ul Awwal 1309 H. Sejak berusia sebelas tahun beliau sudah mulai belajar di Pondok Pesantren Langitan hingga usia sembilan belas tahun, dan atas saran KH. Muhammad Khozin beliau melanjutkan studi di Pesantren Kademangan Bangkalan Madura di bawah asuhan KH. Kholil selama tiga tahun. Pada usia 13 tahun, beliau belajar di Pesantren Jamsaren Solo asuhan KH. Idris.

Setelah itu beliau kembali lagi nyatri di Pondok Pesantren Langitan hingga pada usia 25 tahun, dan diambil menantu oleh KH. Muhammad Khozin, dijodohkan dengan Ning Juwairiyah.

Pada usia yang relatif muda, 30 tahun beliau sudah menerima tugas berat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Langitan. Namun meskipun begitu, di bawah asuhannya Pondok Pesantren Langitan saat itu mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Terbukti mulai periode ini (tahun 1949 M) mulai dikembangkan sistem pengajaran klasikal yang dahulu belum dikenal, dengan cara mendirikan madrasah ibtida’iyah dan madrasah muallimin serta kegiatan ekstra kurikuler seperti bahsul masail lil waqiah, jamiyatul muballighin, jamiyatul qurro wal khuffadz dan lain-lain. Di samping itu kegiatan rutinitas berupa pengajian kitab baik sistem sorogan maupun weton terus dilestarikan dan kembangkan, terlebih sholat berjamaah, karena beliau adalah seorang ulama yang bertipikal sangat disiplin waktu dan terkenal keistiqomahannya.
Waktu pun terus bergulir, bergerak menuju suratan taqdir. Mendung duka menyelimuti atmosfir Pondok Pesantren Langitan. Air mata sebagai kesaksian atas cinta kepada sang guru besar jatuh menetes tak tertahankan. Hari itu, 9 Shofar 1391 H. atau bertepatan dengan tanggal 5 April 1971 M. kiai panutan umat, pengemban amanat, telah kembali ke haribaan ilahi Rabbi setelah mengasuh Pondok Pesantren Langitan dalam masa yang cukup lama, 50 tahun (1921-1971 M.). Ribuan umat kehilangan tongkat, orang bijak kehilangan hikmat. Nadimu adalah perjuangan, nafasmu adalah keihlasan dan santri-santrimu akan siap bertahan mewarnai kehidupan dengan tuntunan keteladanan yang telah diajarkan.

5. KH. AHMAD MARZUQI ZAHID & KH. ABDULLOH FAQIH

Kepengasuhan Pondok Pesantren Langitan setelah wafatnya KH. Abdul Hadi Zahid diamanatkan kepada KH. Ahmad Marzuqi Zahid bersama dengan KH. Abdullah Faqih.
Ahmad Marzuqi Zahid dilahirkan di Desa Kauman Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan pada Hari Kamis pon tanggal 22 Jumadal Ula 1327 H. yang bertepatan dengan tanggal 10 Juni 1909 M. Beliau adalah putra ke sembilan KH. Zahid dan Nyai ‘Alimah dari sebelas bersaudara.

Adapun kesebelas putra-putri KH. Zahid adalah : (1. KH. Abdul Hadi (2. Mutmainnah (3. Tashrifah (4. Zainab (5. KH. Muhammad Rofii (ayahanda KH. Abdullah Faqih) (6. Musfi’ah (7. ‘Aisyah (8. Musta’inah (meninggal usia muda) (9. KH. Ahmad Marzuqi (10. Hindun (11. Maryam (meninggal ketika masih kecil)

Pendidikan tentang dasar-dasar agama telah dirasakan oleh putra ke sembilan KH. Zahid ini sejak dini, karena semenjak masa balita beliau bersama saudara-saudaranya telah hidup dalam suasana relegius di bawah bimbingan ayahnya sendiri.

Ketika berusia sepuluh tahun, beliau mulai melanjutkan studi dan memperdalam pengetahuan agama di Pondok Pesantren Langitan di bawah asuhan KH. Abdul Hadi Zahid yang merupakan kakak kandungnya sendiri. Selama puluhan tahun beliau memperdalam dan meningkatkan kemampuan intelektualnya dalam semua disiplin ilmu agama dengan tekun dan sabar. Selain belajar di Pondok Pesantren Langitan beliau juga kadangkala mengikuti pengajian secara temporal (pasanan) di Pondok Pesantren Tebuireng di bawah bimbingan ulama besar, Hadratus Syeh KH. Hasyim Asy’ari yang juga termasuk salah satu alumni Pondok Pesantren Langitan semasa kepengasuhan KH. Muhammad Sholeh. Selain itu beliau juga pernah mendalami ilmu seni kaligrafi kepada KH. Basuni, Blitar Jawa Timur.

Karena kapabilitas dan kredibilitasnya yang mumpuni dalam bidang pengetahuan agama, beliau mendapat amanat dari KH. Abdul Hadi Zahid untuk menjadi pengajar di Pondok Pesantren Langitan. Selain memiliki penguasaan ilmu pengetahuan agama yang luas beliau juga mempunyai banyak pengetahuan tentang dasar managemen organisasi sehingga pada tahun 1944 M. beliau mendapat kepercayaan menjadi lurah pondok (sekarang populer dengan sebutan Ro’is Am). Tugas-tugas mulia itu dilaksanakannya dengan penuh ketekunan, kesabaran dan konsisten, sampai pada akhirnya ketika berusia 36 tahun beliau dijodohkan dengan Ning Halimah putri KH. Zaini Pambon Brondong Lamongan yang juga termasuk putra menantu KH. Muhammad Khozin.
Perhatian dan komitmen KH. Ahmad Marzuqi Zahid terhadap dunia pendidikan tidak pernah surut dan padam, kendati beliau telah disibukkan dengan urusan-urusan rumah tangga. Hal itu terbukti dengan masih tetap aktifnya beliau dalam mengajar dan bahkan pada tahun 1949 M. beliau memperoleh amanat menjadi Kepala Madrasah Al Falahiyah ketika sedang dirintasnya pengajaran klasikal (madrasiyah) semasa kepengasuhan KH. Abdul Hadi Zahid. Berkat SDM dan olah menejerial yang mumpuni, beliau berhasil membawa Madrasah Al Falahiyah menjadi sebuah lembaga pendidikan yang berkualitas dan progresif. Selain aktif dalam dunia pendidikan yang sudah menyatu dengan jiwa dan karakternya, beliau juga pernah berkiprah dan berperan dalam dunia perpolitikan dengan menjadi anggota DPR Kabupaten Tuban hasil pemilu tahun 1955 dengan membawa bendera Nahdlotul Ulama (NU).
Cita-cita dan harapan para pengasuh pendahulu Pondok Pesantren Langitan diterjemahkan dengan baik dan penuh kearifan oleh KH. Ahmad Marzuqi Zahid bersama KH. Abdullah Faqih. Kerjasama yang sinergis antar keduanya dalam memimpin roda kepengasuhan Pondok Pesantren Langitan telah banyak membuahkan hasil yang signifikan. Seperti kebijakan baru di bidang pendidikan dan ketrampilan berupa pelajaran Manhaj Tadris, pembentukan Pusat Pelatihan Bahasa Arab, kursus komputer, administrasi dan manajemen, diklat jurnalistik, pertanian dan peternakan, pendirian Taman Kanak-kanak (TK) dan Taman Peldidikan Al Quran (TPQ), dan lain- lain
Di bidang dakwah mengadakan pengajian umum mingguan dan pengiriman dai k

KH. Abdulloh Faqih Syaikhina lahir dari pasangan bahagia Kiai Rofi’I dan Nyai Khodijah. Bersaudarakan tiga, yaitu: Abdullah Faqih, Khozin, dan Hamim. Namun semenjak kecil, kepengasuhan berada di bawah KH Abdul Hadi Zahid, Pengasuh Pondok Pesantren Langitan generasi keempat. Ini terjadi lantaran Ayahanda beliau, Kiai Rofi’I (adik KH Abdul Hadi) wafat saat syaikhina masih kecil, kurang lebih ketika berusia tujuh atau delapan tahun, ini sebagaimana yang dikatakan KH Muhammad Faqih (putra syaikhina). Dan ibunya, Nyai Khodijah dinikah oleh KH Abdul Hadi Zahid. Semenjak itulah KH Abdul Hadi yang mengarahkan kehidupan, mulai mondok hingga berkeluarga. Beliau sendiri dilahirkan pada tanggal 2 Mei 1932 M Ketiga bersaudara tersebut menjalani kehidupan kecil sebagaimana layaknya anak-anak.
Bermain bersama penuh canda-tawa dan tangis di satu kesempatan. Bedanya, mereka bertiga berada dalam suasana yang kental nilai-nilai religiuitas. Ini terjadi lantaran mereka berada dalam kepengasuhan kiai yang alim, KH Abdul Hadi Zahid. Waktu terus berjalan, lambat laun watak dan karakter ketiga bersaudara ini sudah mengalami perbedaan sedikit demi sedikit. Abdullah Faqih dan Hamim muda senang bergelut dengan kitab-kitab keagamaan sementara Khozin muda suka bepergian. Bahkan diriwayatkan beliau melancong dalam waktu yang lama dan sempat dicari-cari Ayahanda KH Abdul Hadi Zahid. Setelah ditemukan ternyata beliau berada di luar jawa dan sudah berkeluarga.Hingga kini beliau berkeluarga dan menetap di Bandung. Tinggal Syaikhina dan adik beliau Hamim yang masih asyik dengan pelajaran agama.. Setelah belajar pada Ayahanda, kini tiba saatnya Abdullah Faqih muda pergi mencari ilmu.
Pindah satu tempat ke tempat lain guna mencari ilmu dan kalam hikmah. Jika kita melihat kealiman syaikhina dalam membaca kitab dan memberikan fatwa, mungkin kita akan berpikir bahwa beliau mondok dalam waktu yang lama. Ternyata itu tidaklah tepat, beliau hanya mondok selama 4 tahun. Dalam sebuah kesempatan beliau pernah bercerita, Di Lasem “mondok- dua setengah tahun, di Senori enam bulan, setelah itu satu bulan pindah ke pesantren lain. Total semuanya tidak lebih dari empat tahun”. Meski hanya empat tahun, namun konsentrasi dan usahanya dalam memperoleh ilmu sangat luar biasa. Tidak hanya sebatas pada usaha panca indera dengan membaca dan mengamati pelajaran, namun beliau juga menggunakan dasar batin. Selama mondok selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Dengan segala kekurangan dan keprihatinan beliau menjalani masa-masa di medan ilmu. Beliau pernah bercerita dalam sebuah pengajian, Saya belajar di Lasem kurang lebih dua tahun setengah, kebanyakan bekal teman-teman saat itu bisa dapat 24-40 kg beras. Tapi bekal saya hanya dapat dibelikan 6 kg beras”. Beliau juga sempat dawuh, Saya tidak pernah meminta tambahan kiriman. Saya niati tirakat meski awalnya terpaksa. Makan ketela saja pernah. Sementara yang paling sering sehari makan nasi ketan satu lepek dan kopi satu cangkir. Bahkan pernah dalam bulan Ramadhan tidak sahur dan buka, tapi cuma minum sebanyak-banyaknya”.

Kondisi prihatin ini diterima dengan ikhlash oleh syaikhina. Karena ini temasuk pembelajaran kesederhanaan dalam mengarungi kehidupan. Cara ini juga diterapkan beliau dalam mendidik putrera-puteranya. Namun dengan kondisi demikian, ilmu beliau bersinar. Menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman (dirasah islamiyah). Selama empat tahun, syaikhina muda telah mengambil ilmu dari para guru yang utama. Mereka pakar ilmu keislaman dan selalu istiqamah menjalankannya. Selama di Lasem beliau belajar kepada beberapa kiai, diantaranya: KH Baidhowi, KH Ma’shum, KH Fathurrohman, KH Maftuhin, KH Manshur, dan KH Masdhuqi. Sementara di Bangilan beliau belajar kepada para kiai dan diantaranya adalah KH Abu Fadhol. Kemudian beliau melanjutkan pengembaraan dengan ber-tabarruk ke pondok-pondok lain diantaranya di pesantren Watu Congol yang diasuh oleh KH Dalhar. Di pesanten ini pula beliau pernah mondok kepada Abuya Dimyathi

Robbi fan Fa'na bi Barkatihim
Wahdinal khusna bi khurmatihim
Wa amitna fi thorii qotihim
Wa mu'afatin minal fitani

Sunday, September 2, 2018

DIDIKLAH SEORANG ANAK SEPERTIMANA TERDIDIKNYA ANAK-ANAK TAREEM

DIDIKLAH SEORANG ANAK SEPERTIMANA TERDIDIKNYA ANAK-ANAK TAREEM
بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Dari dalam kandungan, anak ahli tareem telah diberi makan dengan zikrulloh dan sholawat serta Tilawatul qur'an.. Ibunya pasti amat menjaga makanan dari memakan makanan syubhat apa lagi yang haram.

Kenapa?

Karena apa yang dimakan itu akan membentuk akhlak anaknya yang berada dalam kandungannya itu.

Begitu juga apabila dilahirkan. Mereka hias rumah dan menidurkan bayi dengan suara tilawatul qur'an dan zikrulloh.. Diberi makanan buatan tangan mereka sendiri. Mereka pastikan apa yang dimakan itu semuanya halal. Subhanalloh..

Bagi ibu yang tidak banyak susu, bagaimana mereka susukan bayi ?

Adakah dengan menggunakan susu instan dipasaran?

Tidak sesekali mereka tidak akan berbuat begitu. Yang tiada susu, akan beri minum air madu atau beri kepada ibu susuan.

Ada seorang habib (ana dh terlupa apa nama beliau), katanya "setiap malam sejak dari umurku 3 tahun, ayah dan ibuku selalu membangunkanku di tengah malam hanya untk mengucap La ilaha illalloh.. sampailah umurku 7 tahun, aku langsung tidak pernah meninggalkan sholat qiyamullail sehingga aku tua. Apabila selesai mengucap la ilaha illalloh, barulah mereka membenarkanku untuk tidur kembali."

Ketika ibu mereka ingin memberikan susu, pasti akan dibaca bismillah terlebih dahulu. Bagaimana seorang ibu dan ayah ingin menghiaskan akhlak kepada seorang anaknya, pasti ia akan menghiaskan akhlak pada dirinya terlebih dahulu.

Dari kecil telah diajar surah2 Pendek berserta azkar (zikir).
"Ana (ukhti syauqul muhibbin) sungguh kagum dengan anak ahli tareem,, ketika ana mengantar adik ana yang berusia 5 tahun, yang baru ingin bermula masuk kelas Paud, ana dapati anak ahli tareem yang seumur dengan adikku juga baru masuk Pra sekolah. Mereka telah menghafal bacaan dalam sholat dan azkar (zikir) selepas sholat. subhanalloh.."

Darimana mereka belajar semua ini?
Bukan itu saja, malah sunnah2 Nabi SAW juga diajarnya,,
semua bawa siwak (kayu sugi) ke madrasah..
Alloh..Alloh..
sungguhku kagum dengan akhlak mereka,,
di ajar membaca dan menulis,,
di ajar cara sholat, tapi jika dilihiat, seolah-olah mereka sudah pandai,,
di ajar mengira dan lain2.
mereka sangat menekankan sunnah..

Tapi ketika 5 tahun itu, bagaimana dengan quran mereka?
semua sudah bisa membaca dengan baik? Hafal surah2 pendek.

MaasyaaAlloh.

Saturday, September 1, 2018

KANTONG BOCOR

KANTONG BOCOR

Imam mesjidil haram almakki dalam khutbahnya mengatakan:

إحذروا الكيس المثقوب
Hati-hati dengan kantong yg bocor

" تتوضأ أحسن وضوء " لكــن. .. تسرف في الماء' كيس مثقْوب
Engkau telah berwudhu dgn sebaik-baik wudhu akan tetapi engkau boros memakai air, (itu sama dengan)
kantong bocor

" تتصدق عَلى الفقراء بمبلغ ثم .. تذلهم وتضايقهم *كيس مثقْوب.
Engkau bersedekah kepada fakir miskin kemudian, engkau menghina dan menyulitkan mereka, (itu seperti)
kantong bocor

تقوم الليل وتصوم النهار وتطيع ربك" لكــن. .. قاطع الرحم كيس مثقْوب
Engkau sholat malam hari, puasa di siang hari, dan mentaati tuhanmu, tapi engkau memutuskan (tali) silaturrahmi, (jelas itu adalah)
kantong bocor

تصوم وتصبر عَلى الجوع و العطش" لكـن .. تسب وتشتم وتلعن كيس مثقْوب
Engkau sabar dengan haus dan lapar, tapi engkau menghina dan mencaci, (sama dengan)
kantong bocor

" تلبسين الطرحه والعباية فوق الملابس "لكـن .. العطر فواح كيس مثقْوب
Engkau memakai baju kerudung dan kebaya, tapi minyak Wangi menyengat, (itu)
kantong bocor

تكرم ضيفك وتحسن إليه لكـن .. بعد خروجه تغتابه وتخرج مساوئه كيس مثقْوب
Engkau memuliakan tamumu dan berbuat baik kepadanya, tapi setelah dia pergi engkau menggunjingkanya, (sungguh itu)
kantong bocor

أخيرا ً لا تجمعوا حسناتكم في كيس مثقْوب . تجمعوها بصعوبة من جهة .. ثم تسقط بسهولة من جهه أخرى..
يا رب اسألك لي ولأحبتي الهداية والغفران .
Pada akhirnya engkau hanya mengumpulkan kebaikanmu dalam kantong bocor, satu sisi engkau mengumpulkan dengan susah payah kemudian engkau menjatuhkannya dg mudah di sisi lain.

Ya Rabb, kami mohon hidayah dan ampunan atas kami dan orang-orang yg kami cintai
عجائب الشعب العربي :

Keganjilan-keganjilan kaum muslimin umumnya :

1- لايستطيع السفر للحج لأن تكلفة الحج مرتفعه .. لكن يستطيع السفر رغبةً في تغيير الجو !
ألا إن سلعة الله غالية
1. Tidak mampu pergi haji karna biayanya besar, akan tetapi sanggup pergi wisata mengganti suasana,
bukankah perdagangan Allah itu mahal

2- لايستطيع شراء الأضحية لغلاء السعر لكن يستطيع شراء آيفون لمواكبة الموضة.
ألا إن سلعة اللَّـه غالية

2. Tidak sanggup membeli hewan qurban karna harganya yg mahal, tapi sanggup membeli iPhone sekedar ganti model.
bukankah perdagangan Allah itu mahal

3- يستطيع قراءة محادثات تصل إلى ١٠٠ محادثه في اليوم ..
ولا يستطيع قراءة ١٠ آيات من القرآن بحجة ليس لديه وقت لقراءة القرآن
ألا إن سلعة الله غالية

Sanggup membaca chatingan hingga seratus percakapan tiap hari, namun tidak sanggup membaca 10 ayat alquran dengan dalih tiada waktu yg cukup untuk membaca.
bukankah perdagangan Allah itu mahal

قليل من سيرسلها لأنه يشعر بالحرج .

Sedikit yg mau menyebarkannya/ men share karena merasa berat..

تخيل ان الله يراك وانت تنشرها لاجله.

Angankan di benakmu bahwa Allah selalu melihatmu.. Dan engkau menyebarkannya karenaNya..
اذا اعجبتك الفكرة .. فانشرها .
وإذا لم تعجبك .. فمر كأنك لم ترى شيئا.

Jika engkau terpanggil sebab tulisan ini maka sebarkanlah.. Namun jika tidak maka anggap engkau tidak pernah lihat..

يارب من يرسلها ترزقه من حيث لايحتسب

Ya Rabb... Siapa yg mau menshare tulisan ini berilah rizki dari arah yg tidak disangka-sangka..Aamiin...

MENTARI DARI MURIA

[terbit september 2018]

MENTARI DARI MURIA
Oleh Sujewo Tejo

Akhirnya ada juga buku penjelasan-bercerita tentang Sugih Tanpo Bodo, lagu yang saya kompos atas dasar lirik dari RMP Sosrokartono, kakak kandung RA Kartini:

Sugih tanpo bondo
Digdoyo tanpo aji
Trimah mawi pasrah
Sepi pamrih tebih ajrih

Langgeng
Tanpo susah
Tanpo seneng
Anteng mantheng
Sugeng jeneng

Selama ini penjelasan tentang lagu yang memasyarakat tersebut --- ada banyak versi YouTube, Instagram dan lain-lain kalangan milenial yang meng-cover lagu tersebut dan versi saya sendiri yang tak sampai enam bulan telah mendapatkan 1 juta lebih views --- bisanya cuma berupa serpih-serpih informasi.

Itu pun berupa informasi kognitif, bukan afektif maupun impresif melalui kehidupan konkret Sosrokartono yang melahirkan larik-larik tersebut. Kini bolehlah secara gede rasa saya sebut bahwa telah terbit buku yang memang diterbitkan semata-mata untuk menjelaskan makna lirik lagu Sugih Tanpo Bondo.

Sugih Tanpo Bondo, kaya tanpa harta, sebelum ada buku ini  biasanya saya jelaskan ke penonton sebagai rasa memiliki kesemestaan. Bahwa tiada yang ada selain Tuhan. Segala yang tampak bukan Tuhan hanya seolah-olah saja bukan Tuhan. Termasuk kita. Karena semua milik Tuhan, maka sebenarnya tanah di mana pun kita berpijak adalah milik kita bersama. Begitu juga jabatan siapa pun. Semuanya jabatan kita bersama. Hanya perkara administrasi, secara sertifikat tanah maupun SK jabatan, yang membuat masing-masing itu milik si A, si B, dan lain-lain.

Dengan rasa itulah maka kita tidak akan pernah iri dan dengki. Dengan rasa itulah maka kita turut menjaga harta yang secara administratif milik si Anu. Kita tak akan membuang sambah sembarangan di tanah yang secara sertifikat milik si Anu. Kita tidak akan mengumpat pejabat yang secara SK ditujukan kepada si Anu. Karena semua tak lain adalah tanah kita juga. Semua tak lain adalah jabatan kita juga.

Penjelasan itu biasanya saya sampaikan dalam pentas-pentas saya yang memanggungkan Sugih Tanpo Bondo, pentas yang biasanya menampilkan nara sumber lain pula termasuk dari kalangan Islam.

Kyai Ulil Abshar-Abdalla dan ustad Habib Anis Sholeh Ba’asyin pernah menambahkan di panggung yang berbeda bahwa Sugih Tanpo Bondo di sini tidak harus berarti tak berharta atau miskin. Menurut mereka, sugih tanpo bondo di sini berarti zuhud. Bisa saja kita kaya, tetapi zuhud alias tidak punya kemelekatan terhadap harta-benda. Siap sewaktu-waktu “kehilangan”-an semuanya karena sesungguhnya kita tak pernah memiliki semua itu. Semua hanyalah titipan.

Lain halnya novel biografi Sosrokartono ini. Novel 337 halaman karya Aguk Irawan MN ini menjelaskan dengan perbuatan, dengan laku yang dilakoni sendiri oleh penulis syairnya. Misalnya, bagaimana lelaki kelahiran Mayong ini tidak melekat dengan jabatan dan gaji menggiurkannya di PBB di Jenewa, Swiss.

“Liga Bangsa-Bangsa yang seharusnya menjadi organisasi yang akan menguntungkan bagi semua negara-negara anggotanya, ternyata justru cuma dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menang peran untuk semakin menunjukkan taring-taring kekuasaannya kepada negara lain melalui jalur politik,” alasan kemundurannya dari jabatan bergengsi sebagai juru bahasa di lembaga dunia itu.

***

Digdoyo tanpo aji, sakti tanpa mantra, tanpa jimat, tanpa … Ah, susah saya menjelaskannya di publik. Seingat saya di panggung-panggung pementasan Sugih Tanpo Bondo termasuk di depan ribuan jamaah di halaman IAIN Tulungangung bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Kadang di tempat lain saya katakan saja bahwa digdoyo tanpo aji itu kekuasaan tanpa alat kekuasaan.

Sudah pasti penjelasan itu membingungkan bahkan bagi saya sendiri. Bahkan pun bila digdoyo tanpo aji itu saya rangkai dengan larik berikutnya trimah mawi pasrah, sepi pamrih, tebih ajrih .. Bahwa kita akan bisa menguasai apa pun tanpa senjata hanya bila menerima apa pun dengan rasa pasrah, tanpa pamrih. Bukan saja menguasai, kita akan tebih ajrih, akan terjauhkan dari rasa takut.

Tapi, ketahuilah, seluruh penjelasan kognitif yang membingungkan itu patah sudah hanya dengan secuplik cerita di buku ini tentang bagaimana Sosrokartono menghadapi gerombolan penyamun di Eropa. Mereka meminta isi tas yang dibawa Sosro. Sosro tidak melawan bahkan ketika mereka mengancam benar-benar akan membunuhnya dengan todongan pisau.

Sosro hanya pasrah memberikan alamat ibunya di Hindia Belanda, seraya meminta satu hal, “Tolong beritakan kepada ibu saya yang sangat saya cintai dan saya junjung tinggi. Bahwa saya, putranya, telah mati terbunuh. Sekarang silakan bunuh saya.”

Bagi mereka yang telah mencapai maqom tertentu cerita tersebut masih bisa ternalar. Termasuk ketika Sosrokartono merambah ke Hungaria. Seorang pangeran bangkrut di sana ingin membalas-budi dengan memberikan jabatan khusus kepada Sosrokarto yang nasihat-nasihatnya telah berhasil mengentaskannya dari kebangkrutan.

Harta benda dan jabatan pangeran itu yang bakal dipasrahkan ke Sosrokartono pun ditolaknya. Ini masih ternalar. Tapi bagaimana dengan Sosrokartono yang juga menolak halus ketika pangeran tersebut ingin menyerahkan kepada Sosro orang yang dicintainya: Istrinya sendiri?

***

Itulah sekelumit kisah dari banyak kisah di buku ini yang bisa menjelaskan via cerita tentang digdoyo tanpo aji, trimah mawi pasrah, sepi pamrih tebih ajrih.

Mungkin juga karena trimah mawi pasrah dan sepi pamrih itulah Sosrokartono tak takut kepada “raksasa” intelektual yang memegang hegemoni akademis kala itu, Snouck Hurgronje. Dialah guru besar di Belanda yang keahliannya tentang bangsa-bangsa di Asia dan Islam digunakan oleh Belanda untuk menguasai Asia. Demi martabat Nusantara, bayi yang lahir di Mayong ketika mentari muncul di Gunung Muria menyinari Mayong itu secara terbuka berani melakukan pembangkangan akademis terhadap Snouck.

Tuan Abendanon sampai miris menyaksikannya. Sahabat-pena RA Kartini itu memihak Sosrokartono atas jiwa kebangsaannya yang besar. Ia bisa mengerti kenapa di Belanda Sosro menentang habis-habisan Snouck. Tetapi menurutnya, Sosro yang menguasai banyak bahasa asing ini terlalu berani.

Atau jangan-jangan keberanian lelaki kelahiran Rabu Pahing ---weton yang baik --- itu didorong juga oleh kecintaannya yang luar biasa terhadap adik kandungnya, RA Kartini. Dari “Pendekar kaumnya yang harum namanya” itu Sosro mendapat info tentang rencana-rencana penguasaan Nusantara oleh Snouck dan kelompoknya melalui ilmu pengetahuan. Halaman-halaman buku ini juga mengabarkan kepada kita betapa cintanya Sosro ke Kartini. Betapa banyak hari-harinya di Eropa, baik semasa kuliah maupun semasa menjadi wartawan perang, dipakainya untuk merenungi dan mencemasi Kartini nun jauh di Nusantara.

***

Langgeng, tanpo susah, tanpo seneng, anteng mantheng, sugeng jeneng …

Langgeng .. Tanpa susah yang berlebih, tanpa senang yang berlebih, damai …

Kyai Budi Harjono ketika sepanggung dengan saya saat pentas Sugih Tanpo Bondo menjelaskan ke khalayak bahwa leluhur kita sering membuat pilihan antara jenang (harta) dan jeneng (nama, martabat). Dalam pilihan antara jenang dan jeneng, leluhur kita sudah tegas dan tandas kepada kita untuk pilihlah jeneng. Dan, di antara topik-topik yang dibahas di buku ini, soal jeneng yang diperjuangkan oleh Sosrokartono adalah topik yang halaman-halamannya paling banyak.

Jangan-jangan jeneng itu pula yang sejatinya menempati halaman-halaman terbanyak di setiap manusia sebagai buku berjalan. Sayangnya selama ini halaman-halaman itu masih diplastiki. Hanya cover-nya yang tertera dalam kolom nama di KTP. Walau cuma jadi nama KTP, belum menjadi nama di martabat, potensi nama sebagai martabat itu sudah memenuhi halaman-halaman di dalam buku berjalan tersebut. Tak heran kalau frekuensinya ketemu dengan frekuensi dalam lirik Sugih Tanpo Bondo.

Lihat, video klip Sugih Tanpo Bondo – Sujiwo Tejo feat Lian Panggabean (Official Music Video) https://youtu.be/RIGn_hxHSWE belum genap enam bulan saya release di halaman Candi Simping Blitar, candi perabuan Raden Wijaya Pendiri Majapahit, sudah mencapai di atas sejuta views pada saat kata pengantar ini saya tulis di penghujung Agustus 2018. Jangan dibandingkan dengan musik pop yang dalam tiga hari bisa mencapai jutaan views. Tapi bila dibandingkan dengan musik-musik non pop, lebih dari sejuta views dalam rentang tak sampai enam bulan itu luar biasa.

Bahkan sebelum klip tersebut saya release, saya pun kaget saat menemani maiyahan Cak Nun di Tuban. Entah berapa puluh ribu orang ketika itu. Alun-alun Tuban dekat makam Sunan Bonang kayak lautan manusia. Ketika didaulat nyanyi oleh Cak Nun, saya spontan membawakan Sugih Tanpo Bondo dengan spontanitas musik Kyai Kanjeng pula. Saya pikir paling hanya puluhan atau ratusan #Jancukers di depan panggung yang akan turut nyanyi. Ternyata hampir separo alun-alun sudah tahu lagu tersebut, sudah hafal dan turut menyanyikannya.

Hanya adanya frekuensi yang sama, yang bisa membuatnya demikian. Itulah frekuensi dalam lirik lagu Sugih Tanpo Bondo yang ditulis oleh Sosrokartono, dan frekuensi yang masih tersembunyi di balik halaman-halamana tertutup buku berjalan yang bernama manusia. Saya hanya menjembatani pertemuan kedua frekuensi itu melalui melodi dan musik. Dan buku karya Aguk Irawan MN ini akan membuat mereka ngeh, “Kenapa kami menyukai lirik lagu Sugih Tanpo Bondo.”

Maka saya ucapkan selamat atas terbitnya buku ini. Sambil saya ucapkan terima kasih kepada Kang Mbok Dr Sri Teddy Rusdy yang atas diskusi kami dengan beliau tentang Ki Ageng Suryomentaram-lah saya jadi pertama kali mendengar nama RMP Sosrokartono alias si Mandor Klungsu dan juga Si Joko Pring. Terima kasih juga kepada juru kunci pesarean RMP Sosrokartono di Kudus yang memperkaya penjelasan buku tentang apa itu makna Mandor Klungsu (biji asam) dan Joko Pring. “Pring itu bambu. Bahasa ngoko. Bahasa halusnya Deling. RMP Sosrokartono itu tokoh yang selalu nganDEL (percaya Tuhan) dan eLING (mengingatNYa),” katanya.

Selamat membaca Sosro, selamat membaca tokoh yang sedari bocah sudah aneh-aneh ini, misalnya sudah bisa meramalkan bahwa ayahnya akan pindah dari Mayong ke Jepara, yang ayah-ibu serta keluarga bilang bahwa itu mustahil tetapi beberapa tahun kemudian Ario Sosroningrat ayahnya memang harus pindah ke Jepara, menjadi bupati.

Padepokan StArt Bandung, Agustus 2018