Tuesday, September 11, 2018

PERNIKAHAN

PERNIKAHAN

bukan ingin menulis tentang hukum nikah atau hikmahnya, karena saya tak ingin terjebak dalam tanya jawab masalah perjodohan yang akhirnya melukai para jomblo. Disini saya lebih ingin menulis tentang bagaimana bapak menyikapi masalah perjodohan ataupun pernikahan.

Kebetulan hari ini(senin,10 september) adalah hari terakhir bulan besar, bulan dimana undangan nikahan berjajar. Memasuki tahun baru islam, sekaligus memasuki bulan muharram, bulan dimana orang jawa melarang melakukan pernikahan menurut tradisinya.

Tolong, jangan tanyakan hukum dalam islam menikah dibulan syuro pada saya. Sebagaimana jangan tanyakan hukumnya makan bakso berkuah es campur. Hehehe saya tak ahli dalil apalagi bahtsul masail.

Meskipun bapak setiap hari ngaji kitab kuning, tapi bapak juga sangat menghormati budaya jawa yang dipesankan oleh orang tua. Seperti weton dan bulan jawa. Bukan masalah harinya, tapi ada ilmu kebijaksanaan orang tua didalamnya(ilmu titen).

Meskipun toh sebenarnya, disetiap hal bapak selalu mendahulukan istikhoroh(meminta petunjuk yang terbaik) pada Tuhan.

Ada satu pesan yang saya selalu ingat dari bapak tentang istikhoroh: " lek arep njalok disitikhorohne, sakdurunge kudu noto ati. Apik elek e hasil kudu ditompo lan dilakoni(ketika akan meminta diistikhorohkan, sebelumnya harus menata hati. Bagus jeleknya hasil harus diterima dan dijalani).

Pesan ini, akan sangat berpotensi bentrok pada calon pasangan yang sudah suka sama suka. Maka, untuk yang satu ini, bapak biasanya pesan: "lek wes seneng yo ra usah njalok istikhoroh. Langsung ae dinikah(kalau sudah suka ya gak usah minta istikhoroh. Langsung saja dinikah).

Ketika sudah menikah, bapak seringkali berpesan pada manten anyar: "biasanya, para orang tua ingin anaknya bertempat tinggal dirumah atau minimal dekat dengan orang tua. Tapi saya anjurkan pada pengantin anyar untuk meminta pada ALLAH agar ditempatkan dimanapun selama membawa keberkahan dan kebaikan dunia akhirat. Bagaimana caranya? Yaitu dengan istiqomah membaca:

رب انزلني منزلا مباركا وانت خيرالمنزلين

Dibaca 11kali setiap bakda sholat fardlu. Tetapi, Saya sendiri(bapak) dulu mengamalkan doa ini selama 11 tahun ketika dipondok, setiap hari sebanyak 1000 kali." (Sampai sekarang bapak masih mewiridkan doa ini setiap bakda sholat fardlu sebelas kali).

Memang, dalam setiap wiridan bapak selalu all out. Beliau tak berhitung. Selalu mencurahkan segenap kemampuan untuk wiridan. Tak banyak tapi sungguh.

Maka, bila kita juga ingin ditempatkan pada kelas vip. Maka wiridannya juga jangan yang ekonomi(sedikit). Hehehe

Namun wiridan ini satu hal, dan berikhtiar dengan usaha badan hal lainnya. Maka disamping wiridan doa ini, bapak menganjurkan para pengantin baru untuk tetap menggerakkan tangan(berUSAHA). Sesuai dengan dawuh nabi dalam hadis qudsi:
يا عبدي حرك يدك ارزق عليك

(Wahai hambaku, gerakkan tanganmu maka akan saya berikan rezeki kepadamu)

Hanya perlu diingat, dalam berusaha pun harus disertai ilmu USAHA.

من اراد الدنيا فعليه بالعلم
(Barang siapa yang menginginkan hasil pada dunia, maka dia harus menguasai ilmunya dunia)

Demikian ringkasan pesan yang biasanya disampaikan oleh bapak disetiap resepsi pernikahan. Bapak memang selalu singkat dalam mauidloh ataupun berdoa. Kata beliau: seng paling penting isine jelas tur pas(yang paling penting adalah isinya jelas dan pas).

#salamKWAGEAN

Monday, September 10, 2018

Garwo (Sigarane Nyowo)

Garwo (Sigarane Nyowo)
====================

Garwo adalah istilah jawa dari istri. Garwo adalah akronim (singkatan) dari kata "sigarane nyowo" (belahan hati) Dan belahan hati adalah penentu sang buah hati.

KH. Maimoen Zuber pernah dawuh :
"Neng Al Qur-an ﻧﺴﺎﺅﻛﻢ ﺣﺮﺙ ﻟﻜﻢ
Istri iku ladang kanggo suami. Sepiro apike bibit tapi nek tanahe atau ladange ora apik, ora bakal ngasilno pari apik".

Artinya “ Di dalam Al Qur’an, Istri itu ibarat sebuah ladang bagi suami. Seberapa bagus bibit tetapi kalau tanah dan ladangnya tidak bagus, maka tidak akan menghasilkan padi yg bagus pula".

Maka, beliau menawarkan konsep dalam mencari istri itu hendaknya:
"Nek milih bojo iku sing ora patiyo ngerti dunyo, mergo sepiro anakmu sholeh, sepiro sholehahe ibune".

Artinya: “Jika memilih istri sebaiknya (wanita yg) tidak begitu suka dunia, karena seberapa sholeh anakmu tergantung dari seberapa sholeh ibunya".

Seirama dengan beliau, KH. M. Anwar Manshur pun berpesan:
"Carilah wanita yg memiliki nasab baik, karena itu akan mempengaruhi nasib yg baik pula. Tapi andai kata jodohmu bukanlah orang yg memiliki nasab, maka buatlah nasab sendiri dan bangun nasib dengan nasab yg kamu bangun".

Kemuadian Mbah Maimoen mengambil i'tibar dari kisah para sahabat Rasulullah:
“ Sohabat Abbas iku nduwe bojo ora seneng dandan, nganti sohabat Abbas isin nek metu karo bojone. Tapi beliau nduwe anak ngalime poll, rupane Abdulloh bin Abbas".

Artinya: “Sahabat Abbas mempunyai istri yg tidak suka berdandan, sampai sahabat Abbas malu jika keluar rumah bersama istrinya. Tapi beliau memiliki anak yg sangat alim sekali, yaitu Abdullah bin Abbas".

“Sayyidina Husain nduwe bojo anake Rojo Rustam (rojo Persia). Walaupun asale putri Rojo, sakwise dadi bojone Sayyidina Husain wis ora patiyo seneng dunyo. Mulane nduwe putro Ali Zainal Abidin bin Husain, ngalim-ngalime keturunane Kanjeng Nabi".

Artinya: “Sayyidina Husain (cucu Rosulullah SAW) memiliki istri dari putri Raja Rustam (Raja Persia). Walaupun berasal dari putri raja, setelah menjadi istri Sayyidina Husain sudah tidak begitu suka dunia. Makanya beliau memiliki putra bernama Ali Zainal Abidin bin Husain, keturunan Rosulullah yang paling alim".

Beliau juga memberikan contoh bukti real pentingnya peranan "garwo" di zaman now:
“Kiai-Kiai Sarang ngalim-ngalim koyo ngono, mergo mbah-mbah wedo'e do seneng poso".

Artinya: “Para kiyai dari Sarang bisa alim seperti itu, sebab para mbah perempuannya suka berpuasa".

Beliau pun memberikan contoh ulama besar Mekkah berdarah Padang Sumatra Barat. Tokoh berdarah Nusantara itu bernama Abu Al-Faidh’ Alam Ad Diin Muhammad Yasin bin Isa Al-Fadani, bergelar “Almusnid Dunya” (ulama ahli sanad dunia) karena keahliannya dalam hal ilmu periwayatan hadist. Maka banyak para ulama-ulama dunia berbondong-bondong untuk mendapat Ijazah Sanad hadist dari beliau. Bahkan Al-‘Allamah Habib Segaf bin Muhammad Assegaf salah seorang ulama dan waliyulloh dari Tarim Hadromaut sangat mengagumi keilmuan Syekh Yasin Al-Fadani hingga menyebut Syekh Yasin dengan ”Sayuthiyyu Zamanihi” (imam Al Hafid Assayuthy pada zamannya).

Mbah Maimoen dawuh:
“Syekh Yasin Al Fadani iku nduwe istri pinter dagang, nduwe putro loro. Sing siji dadi ahli bangunan sijine kerjo neng transportasi. Kabeh anake ora ono sing nerusake dakwahe Syekh Yasin".

Artinya: “Syekh Yasin Al Fadani itu mempunyai istri yg pandai dalam berdagang, mereka memiliki dua putra. Yang satunya ahli dalam bangunan, yg satunya bekerja dalam bidang transportasi. Semua anaknya tidak ada yg meneruskan dakwah Syekh Yasin".

Beliau memberikan konklusi (kesimpulan) bahwa :
“Intine iso nduwe anak ngalim, nek istrine ora patiyo ngurusi dunyo lan khidmah poll karo suamine".

Artinya: “Intinya untuk memiliki anak yg alim, jika istrinya tidak begitu mengurusi masalah dunia dan totalitas berkhidmah (patuh) kepada suaminya".

“Nek kowe milih istri pinter dunyo, kowe sing kudu wani tirakat. Nek ora wani tirakat, yo lurune istri sing ahli dzikir, kowene sing mikir dunyo alias kerjo".

Artinya: "Jika kamu memilih istri yang pandai mengurus masalah dunia, kamu harus berani untuk tirakat. Jika kamu tidak berani, yg kedua carilah istri yg ahi dalam berdzikir, kamu yg berpikir masalah dunia alias bekerja".

Dan saya ingat dawuh ipun Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya:
"Semangat bekerja, bertanggung jawab, tidak meninggalkan sholat lima waktu dan mau mendekati Ulama dan orang-orang Sholeh. Insya Allah akan membawa kebaikan, baik duniawi maupun ukhrawi. Yang masih single semoga segera mendapat jodoh, yg membawa maslahat dunia dan akhirat".

IKHTIYATH KALIMAT TAUHID

IKHTIYATH KALIMAT TAUHID
Oleh: @ziatuwel

Mengapa kita jarang sekali temukan lambang-lambang bertorehkan kalimat tauhid di acara-acara lingkungan pesantren? Lihat saja saat ada pagelaran imtihan, haflah, haul, pawai ta'aruf, istighotsah, maulid akbar, atau sejenisnya. Jarang sekali kita lihat kalimat tauhid tercetak di bendera, spanduk, kaos, peci, koko, sorban, apalagi ikat kepala.

Mengapa? Bukankah kalimat tauhid itu luhur? Apakah kalangan pesantren kurang ghirah keislamannya? Apakah mereka tidak bangga dengan ketauhidannya? Atau jangan-jangan mereka tidak suka kalimat tauhid?

Sebelum Anda menerka yang tidak-tidak, ada satu hal yang musti dipahami. Justru para kiai dan santri itu mungkin lebih akrab dengan kalimat tauhid daripada kita yang setiap hari pakai ikat kepala bertoreh lafal tauhid. Selain dikumandangan lima kali sehari saat adzan, kalimat tauhid juga diwiridkan dan diendapkan di alam bawah sadar mereka secara berjamaah tiap usai sembahyang.

Afdhaludz-dzikri fa'lam annahu; laa ilaaha illallaah. Diwiridkan serempak oleh imam dan makmum, ada yang 40 kali, 70 kali, atau 100 kali, kemudian dipungkasi dengan; 'muhammadur-rasuulullaah'. Demikian lima kali sehari, belum lagi jika ada yang mengamalkan wirid tahlil tambahan.

Kalau demikian, mengapa jarang sekali terlihat simbol-simbol kalimat tauhid di gelaran-gelaran mereka?

Saya tidak berminat membahas gegeran simbol kalimat tauhid yang lagi ramai belakangan. Tidak pula hendak membahas penggunaan bendera tauhid sejak masa Rasulullah, para sahabat, hingga peran politisnya di masa kini. Ini hanya tulisan ringan yang sekedar menguak satu 'tradisi' kaum pesantren berkaitan dengan pelabelan kalimat tauhid. Yaitu tradisi ikhtiyath; kehati-hatian fikih.

Ikhtiyath bisa kita sebut sebagai tradisi moral kalangan santri dalam berfikih. Ikhtiyath inilah yang membuat mereka membuat kobokan kaki di luar tempat wudhu sebelum masuk masjid, memilih pakai mukenah terusan daripada potongan, pelafalan niat sebelum takbirotul ihrom, koor niat puasa setelah taraweh, memakai sandal khusus dari toilet ke tempat salat di rumah.

Apalagi dalam kaitannya dengan kalimat tauhid. Ada kehati-hatian fikih bagi kalangan santri agar tidak sembrono meletakkan kalimat suci tersebut di sembarang tempat. Bagi santri, kalimat tauhid adalah jimat dunia akhirat yang sangat luhur. Ia tidak boleh tercecer, tergeletak, terbuang, atau bertempat di lokasi kotor apalagi najis.

Jika ia dicetak di sandangan semisal kaos, baju, topi, atau bandana, dikuatirkan bisa bercampur najis ketika dicuci. Jika dicetak di spanduk-spanduk atau bendera temporer, dikuatirkan akan tercampakkan sewaktu-waktu. Kalau dicantumkan di lambang pesantren, akan menyulitkan saat membuat undangan, kartu syahriyah, baju almamater, dan lainnya. Apalagi jika dicetak di stiker-stiker. Di tempat-tempat tersebuy, kalimat tauhid bisa sangat rawan terabaikan.

Bagi kalangan pesantren, kalimat tauhid hanya boleh dicantumkan di tempat-tempat spesial yang sekiranya bisa terjaga kehormatannya. Semisal panji peperangan yang tentu akan dijaga kibarannya hidup atau mati. Sebagaimana kisah dramatis Sayyidina Ja'far at-Thayyar. Atau bendera kerajaan yang tentu akan dirawat dan dimuliakan, sebagaimana bisa kita lihat di kasunanan Cirebon.

Almarhum simbah Kiai Zainal Abidin termasuk sosok yang sangat ketat dalam hal ikhtiyath perkara tauhid. Beliau selalu tutup mata jika lewat Jalan Magelang yang di kiri kanannya penuh patung-patung 'makhluk bernyawa'. Beliau selalu berpaling kalau ada tanda palang salib, juga tidak berkenan dengan atribut-atribut semacam akik atau yang identik dengan perjimatan. Ngregeti iman, kata beliau. Kalimat tauhid tidak lagi berkibar di spanduk atau ikat kepala, melainkan sudah terpatri kuat di dalam sanubari beliau.

Kalimat tauhid, bagi Mbah Zainal, sama sucinya dengan mushaf Quran. Bahkan saya menyaksikan sendiri, dingklik (tatakan kayu) yang biasa digunakan untuk membaca Quran pun beliau muliakan. Pernah suatu kali hendak salat jamaah isya di bulan Ramadan, ada satu dingklik yang tergeletak di belakangku. Ketika beliau lewat, dingklik itu beliau pindah ke sampingku agar tidak kubelakangi.

Bahkan tulisan 'almunawwir' pun sangat beliau muliakan, sebagaimana dikisahkan oleh Kang Tahrir, santri ndalem Mbah Zainal. Memang lazim di Krapyak, kami membuat stiker kecil bertulis 'almunawwir community'. Fungsi stiker ini untuk menandai kendaraan santri sehingga mudah dikenali. Biasanya dipasang di spidometer, plat nomor, atau body sepeda motor.

Nah, menurut penuturan Kang Tahrir, Mbah Zainal tidak berkenan jika melihat ada nama 'almunawwir' kok dipasang di slebor, lebih rendah dari lutut, atau tempat-tempat lain yang kurang pantas. Biar bagaimanapun, 'almunawwir' adalah nama pesantren sekaligus nama pendirinya yang merupakan ulama besar ahli Quran Nusantara, simbah Kiai Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad.

Demikian hati-hatinya sikap beliau terhadap nama 'almunawwir'. Lebih-lebih terhadap ayat-ayat Quran, hadits Nabi, dan kalimat tauhid. Maka bagi teman-teman yang sedang hobi menunjukkan identitas keislaman dengan atribut berlabel kalimat tauhid, mohon dijaga dengan baik agar benda-benda tersebut tidak tercampakkan.

___
Kalibening, Salatiga, Jumat Kliwon 7 September 2018.

*Foto: almarhum Mbah Kiai Zainal Abidin bin Munawwir bersama Syaikh Muhammad Syarif as-Shawwaf dari Universitas Ahmad Kaftaro, Suriah. Kunjungan Syaikh Syarif di Krapyak ini pada tahun 2011, yang kemudian kutulis reportasenya untuk Majalah Almunawwir Pos edisi I. Dalam kesempatan ini beliau juga berpesan agar kami tetap menjaga kedamaian negeri, serta jangan mudah terhasut dengan apa yang saat itu sedang terjadi di Suriah.

Sunday, September 9, 2018

Beberapa Peristiwa Penting Para Nabi pada 10 Muharram

Mahbib, NU Online | Selasa, 26 September 2017 12:10

Oleh KH Zakky Mubarak

Masa kebangkitan, keemasan, dan kehancuran suatu umat terjadi silih berganti, dari satu generasi ke generasi yang lain, dari suatu abad ke abad yang lainnya. Peristiwa-peristiwa itu terus bergulir dengan pasti, sesuai dengan sunnatullah. Semua peristiwa tersebut merupakan pelajaran yang amat berharga bagi kita dan bagi generasi yang akan datang, untuk memilih mana yang baik yang harus diikuti dan mana yang buruk yang harus dihindari.

Hari sepuluh Muharram atau hari Asyura merupakan hari bersejarah. Menurut beberapa riwayat disebutkan, banyak peristiwa penting terjadi di hari itu pada masa yang lalu, di antaranya disebutkan sebagai berikut: (1) Nabi Adam 'alaihissalam bertobat kepada Allah dari dosa-dosanya dan tobat tersebut diterima oleh-Nya. (2) Berlabuhnya kapal Nabi Nuh di bukit Zuhdi dengan selamat, setelah dunia dilanda banjir yang menghanyutkan dan membinasakan. (3) Selamatnya Nabi Ibrahim 'alaihissalam dari siksa Namrud, berupa api yang membakar. (4) Nabi Yusuf 'alaihissalam dibebaskan dari penjara Mesir karena terkena fitnah. (5) Nabi Yunus 'alaihissalam selamat, keluar dari perut ikan hiu. (6) Nabi Ayyub 'alaihissalam disembuhkan Allah dari penyakitnya yang menjijikkan. (7) Nabi Musa 'alaihissalam dan umatnya kaum Bani Israil selamat dari pengejaran Fir’aun di Laut Merah. Beliau dan umatnya yang berjumlah sekitar lima ratus ribu orang selamat memasuki gurun Sinai untuk kembali ke tanah leluhur mereka. Banyak lagi peristiwa lain yang terjadi pada hari sepuluh Muharram itu, yang menunjukkan sebagai hari yang bersejarah, yang penuh kenangan dan pelajaran yang berharga.

Sayyidah Aisyah, istri Nabi shallallahu 'alaihi wassalam menyatakan bahwa hari Asyura adalah hari orang-orang Quraisy berpuasa di masa Jahiliyah, Rasulullah juga ikut mengerjakannya. Setelah Nabi berhijrah ke Madinah beliau terus mengerjakan puasa itu dan memerintahkan para sahabat agar berpuasa juga. Setelah diwajibkan puasa dalam bulan Ramadhan, Nabi s.a.w. menetapkan:

مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَهُ فَلْيَتْرُكْهُ 

“Barangsiapa yang menghendaki berpuasa Asyura puasalah dan siapa yang tidak suka boleh meninggalkannya." (HR. Bukhari, No: 1489; Muslim, No: 1987)

Ibnu Abbas seorang sahabat, saudara sepupu Nabi yang dikenal sangat ahli dalam tafsir al-Qur’an meriwayatkan bahwa saat Nabi berhijrah ke Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi di sana mengerjakan puasa Asyura. Nabi pum bertanya tentang alasan mereka berpuasa. Mereka menjawab:

هُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ 

“Allah telah melepaskan Musa dan Umatnya pada hari itu dari (musuhnya) Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Musa berpuasa pada hari itu, dalam rangka bersyukur kepada Allah”. Nabi bersabda : “Aku lebih berhak terhadap Musa dari mereka." Maka Nabi pun berpuasa pada hari itu dan menyuruh para sahabatnya agar berpuasa juga." (HR. Bukhari; No: 1865  & Muslim, No: 1910)

Abu Musa al-Asy’ari mengatakan:

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَتَتَّخِذُهُ عِيدًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوهُ أَنْتُمْ 

“Hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan dijadikan oleh mereka sebagai hari raya, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam bersabda: “Berpuasalah kamu sekalian pada hari itu." (H.R. Bukhari, No: 1866; Muslim, No: 1912)

Dari uraian di atas nyatalah bagi kita, bahwa hari Asyura merupakan hari bersejarah yang diagungkan dari masa ke masa. Kita hendaknya menyambut hari itu dengan banyak mengambil pelajaran yang bermanfaat dari sejarah masa lalu. Kita menyambutnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah, agar senantiasa berada dalam bimbingannya, yaitu dengan jalan:

Pertama, mengerjakan puasa sunnah pada hari Asyura atau tanggal 10 Muharram. Keutamaan puasa pada hari ini diantaranya disebutkan dalam hadits Nabi:

سُئِلَ عَنْ صِياَمِ يَوْمِ عَاشُوْرآءَ؟ قَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ 

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari Asyura, beliau menjawab: “Puasa pada hari Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim, No: 1977) 

Dalam hadits yang lain, Rasulullah menjelaskan:

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ 

“Sesungguhnya shalat yang terbaik setelah shalat fardhu adalah shalat tengah malam dan sebaik-baiknya puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah yang kamu menyebutnya bulan Muharram." (HR. Nasa’i, No: 1614)

Kedua, mengerjakan puasa Tasu’a atau puasa sunnah hari kesembilan di bulan Muharram. Mengenai puasa ini Ibnu Abbas meriwayatkan:

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه مسلم وأبو داود)

“Pada waktu Rasulullah dan para sahabatnya mengerjakan puasa Asyura, para sahabat menginformasikan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wassalam bahwa hari Asyura diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Maka Nabi bersabda : “Tahun depan Insya Allah kami akan berpuasa juga pada hari kesembilan”. kata Ibnu Abbas, akan tetapi sebelum mencapai tahun depan Rasulullah s.a.w. wafat”. (H.R. Muslim, No: 1916, Abu Daud, No: 2089).

Dengan demikian, kita melakukan puasa Asyura dengan menambah satu hari sebelumnya yaitu hari Tasu’a, atau tanggal 9 di bulan Muharram. Kita disunnahkan berpuasa selama 2 hari, yaitu tanggal 9 dan 10 Muharram.

Ketiga, memperbanyak sedekah. Dalam menyambut bulan Muharram diperintahkan agar memperbanyak pengeluran dari belanja kita sehari-hari untuk bersedekah, membantu anak-anak yatim, membantu keluarga, kaum kerabat, orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan. Semua itu hendaknya dilakukan dengan tidak memberatkan diri sendiri dan disertai keikhlasan semata-mata mengharap keridhaan Allah.

Mengenai hal ini Rasulullah bersabda:

مَنْ وَسَّعَ عَلى عِيَالِهِ وَ أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ

“Siapa yang meluaskan pemberian untuk keluarganya atau ahlinya, Allah akan meluaskan rizki bagi orang itu dalam seluruh tahunnya.” (HR Baihaqi, No: 3795)

Dengan memperingati hari Asyura, kita dapat mengambil pelajaran dari perjuangan para Nabi dan Rasul terdahulu. Misi mereka pada dasarnya adalah sama menegakkan aqidah Islamiyah, meyakini ke-Esaan Allah subhanahu wata'ala yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Peristiwa masa lalu merupakan cermin bagi kita untuk berusaha memisahkan kebenaran dan kebathilan, memisahkan yang baik dan buruk, agar dapat meratakan jalan bagi kita untuk menjangkau masa depan. Semua peristiwa dan kejadian-kejadian yang ada dalam alam semesta ini merupakan pelajaran yang bermanfaat bagi orang-orang yang mempergunakan akalnya. Pergantian siang dan malam, pergantian musim dan pada segala sesuatu di alam ini terdapat tanda, bahwa sesungguhnya Allah itu adalah Maha Esa dan Maha Kuasa.

Penulis adalah Rais Syuriyah PBNU