Monday, October 15, 2018

APA MAKNA “TABYIDH” KITAB?

APA MAKNA “TABYIDH” KITAB?

Oleh; Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

***

Pada saat menelaah kitab-kitab ulama di masa lalu, kadang-kadang kita mendapati satu istilah dan ungkapan yang bisa jadi membuat kita mengerenyitkan dahi. Istilah tersebut adalah ungkapan “tabyidh” (التَّبْيِيْضُ) atau “bayyadho” (بَيَّضَ). Istilah semacam ini sering muncul pada tulisan-tulisan para ulama pada saat berbicara tentang karya-karya ulama, kitab tertentu, resensi terhadapnya dan kondisi manuskripnya. Kita ambil contoh pernyataan As-Suyuthi dalam kitab “Al-Minhaj As-Sawiyy” berikut ini,

“ومختصر الترمذي”مجلد، وقفتُ عليه بخطِّه، مُسَودة، وبيض منه أوراقاً”. (المنهاج السوي ص 64)

“dan (An-Nawawi juga mengarang kitab yang berjudul) Mukhtashor At-Tirmidzi. (jumlahnya) satu jilid. Saya mendapati (manuskrip)nya dengan tulisan tangan beliau dalam bentuk ‘musawwadah’ dan beliau (baru sempat) melakukan ‘tabyidh’ beberapa lembar saja” (Al-Minhaj As-Sawiyy, hlm 64)

Pertanyaannya, “Apa sebenarnya makna “tabyidh”/”bayyadho” itu? Apa pula makna musawwadah?”

Jawaban atas pertanyaan di atas adalah sebagai berikut.

Makna “tabyidh” secara mudah adalah “menulis ulang sebuah kitab sekaligus mengoreksinya”. “Tabyidh” diperlukan untuk membersihkan kitab dari kesalahan-kesalahan penulisan, kata yang hilang, kata yang tidak efektif, diksi yang kurang tepat, termasuk menambahi beberapa hal yang belum trecantumkan pada saat menulis kitab pertama kali. Ahmad Mukhtar Umar berkata,

بيَّض الرِّسالةَ ونحوها: نقّحها؛ أعاد كتابتها مصحّحَةً “. (معجم اللغة العربية المعاصرة (1/ 270)

“Melakukan “tabyidh” surat dan semisalnya bermakna mengoreksinya. Yakni menulis ulang sambil mengoreksinya.” (Mu’jam Al-Lughoh Al-‘Arobiyyah Al-Mu’ashiroh, juz 1 hlm 270)

Memang, secara ringkas proses menulis kitab oleh para ulama di masa dulu itu melewati tiga tahapan,

Pertama, “taswid” (التسويد)

Kedua , “tabyidh” (التبييض)

Ketiga, imla (الإملاء)

Maksud dari “taswid” adalah menulis kitab pertama kali. Yakni menulis kitab dalam bentuk naskah mula-mula (belum dikoreksi dan belum diedit sehingga memungkinkan banyak terjadi kesalahan) dan belum berbentuk naskah final. Ahmad Mukhtar Umar berkata,

سوَّد الرِّسالةَ أو الكتابَ: كتبهما للمرّة الأولى أي قبل وضعهما في صورتهما النِّهائيّة. (معجم اللغة العربية المعاصرة (2/ 1130)

“Melakukan “taswid” surat atau kitab bermakna menulisnya untuk pertama kali. Yakni sebelum disajikan dalam bentuk finalnya” (Mu’jam Al-Lughoh Al-‘Arobiyyah Al-Mu’ashiroh, juz 1 hlm 270)

Pada zaman dulu (ketika masih belum ada mesin ketik, komputer, printer dan mesin cetak) orang menulis kitab secara manual dengan tulisan tangan. Media tulisnya bisa berupa kertas papirus (waroq bardy/auroq bardiyyah), perkamen (riqq/ruquq), kertas biasa/paper/kaghod atau media yang lain yang memungkinkan. Produk tulisan mereka diistilahkan dengan nama manuskrip (المخطوطات).

Oleh karena pada zaman dulu belum ditemukan teknologi komputer, tentu saja kesalahan tulis tidak bisa dikoreksi dengan “delete” saja. Seorang ulama yang menulis sebuah kitab akan memulai pekerjaannya dengan aktivitas menulis yang fokus pada materi dan konten kitab, tanpa memperdulikan kesalahan khoth, kelemahan diksi, kekuranglengkapan pembahasan dan sebagainya. Keputusan fokus pada isi kitab ini adalah jalan yang paling logis, karena jika seorang penulis memfokuskan perhatian pada kesalahan-kesalahn teknis (pada saat sedang menulis), bisa jadi ide-ide briliannya malah tidak keluar karena tersibukkan mengurus hal teknis tersebut. Hal ini malah akan mengurangi mutu kitab yang ditulis.

Nah, tahapan menulis kitab pertama kali tanpa peduli kesalahan yang mungkin muncul inilah yang disebut dengan tahapan “taswid”. Produk tulisannya dinamakan musawwadah (المسودة). Dengan demikian, “musawwadah” secara mudah boleh kita terjemahkan “draf/draft kitab”.

Setelah selesai tahap “taswid”, penulis masuk ke tahap “tabyidh”. Pada tahap “tabyidh” ini, penulis kitab menulis ulang draf kitabnya untuk mengoreksi sejumlah kesalahan pada draf kitab, mengganti unggapan, menambahi hal-hal yang luput ditulis, membuang hal-hal yang dianggap keliru, dan lain-lain. Istilah lain untuk “tabyidh” ini adalah “tahrir” atau “tanqih”. Produk tulisannya disebut “mubayyadhoh”. Dengan demikian, “tabyidh” secara mudah boleh kita terjemahkan “editing”. Biasanya sebuah kitab tidak akan dipublikasikan ke pada masyarakat sebelum masuk tahap “tabyidh” ini.

Setelah selesai “tabyidh”, barulah masuk tahap imla’. Makna imla’ adalah “mendiktekan”. Pada tahapan ini, seorang ulama yang menulis sebuah kitab mendektekan kitabnya di sebuah majelis di hadapan sejumlah murid. Tujuan dari dikte ini tentu saja untuk menyebarkan ilmu yang dikandung kitab sekaligus dipakai sebagai metode menyalin kitab secara manual. Maksudnya, setelah adanya imla’, murid-murid yang menulis kitab sang guru akhirnya mendapatkan salinan naskah kitab guru yang mereka tulis dengan tangan mereka sendiri. Jadi, metode imla’ adalah cara sederhana untuk “mengcopy” kitab di masa lalu. Melalui cara seperti ini pula mulai muncul sanad kitab sebagai media penting memvalidasi keotentikan isi sebuah kitab.

Setelah tahapan imla’ ini, barulah kitab bisa menyebar ke masyarakat secara lebih luas baik dengan cara diimla’-kan lagi, disalin (naskh) oleh para penyalin (nassakh/warroq), dihibahkan, diperjual belikan, dan lain-lain.

Oleh karena fakta penyalinan naskah kitab adalah sebuah manfaat yang mungkin dimintakan kompensasi, maka berlakulah hukum ekonomi sehingga muncul profesi “wiroqoh” (tukang salin). Orang yang punya ketrampilan menyalin disebut warroq atau nassakh. Tukang salin inilah yang berposisi seperti penerbit buku pada zaman sekarang. Melalui peran mereka banyak kitab bisa diproduksi dan menyebar ke berbagai negeri. Pada saat ditemukan mesin cetak di Jerman pada masa Bani Utsmaniyyah, orang-orang berprofesi ini merasa terancam pekerjaannya sehingga sempat memusuhi percetakan. Tetapi kemajuan teknologi memang tak terbendung. Lama-lama profesi tukang salin jadi hilang dan saat ini seluruh dunia Islam sudah mengadopsi percetakan untuk penyebaran ilmu-ilmu Islam.

Dengan demikian, ungkapan As-Suyuthi di atas berdasarkan penjelasan ini bisa kita terjemahkan sebagai berikut,

“ومختصر الترمذي”مجلد، وقفتُ عليه بخطِّه، مُسَودة، وبيض منه أوراقاً”. (المنهاج السوي ص 64)

“dan (An-Nawawi juga mengarang kitab yang berjudul) Mukhtashor At-Tirmidzi. (jumlahnya) satu jilid. Saya mendapati (manuskrip)nya dengan tulisan tangan beliau dalam bentuk draf kitab dan beliau (baru sempat) melakukan editing beberapa lembar saja” (Al-Minhaj As-Sawiyy, hlm 64)

رحم الله علماءنا رحمة واسعة
اللهم اجعلنا من محبي العلماء الصالحين

Versi Situs: http://irtaqi.net/2018/10/15/apa-makna-tabyidh-kitab/
***
4 Shofar 1440 H

Sunday, October 7, 2018

Perempuan suci dari sevilla

Kawan, pernah kuceritakan padamu mengenai seorang perempuan suci dari Mesir, Sayyidah Nafisah, guru dari Imam Syafi’i. Kali ini, perkenankan aku, masih dalam keadaan berwudhu, untuk bercerita tentang seorang perempuan suci dari Sevilla (sebuah kota di Spanyol), yang merupakan guru dari al-Syekh al-Akbar Ibn Arabi (1165-1240). Ini kisah lebih dari 750 tahun yang lalu.

Namanya Nunah. Atau lengkapnya Syaikhah Nunah Fatimah binti Ibn al-Mutsanna. Lahir di Cordoba Spanyol, namun kemudian beliau pindah ke Sevilla, dan bertemu dengan Ibn Arabi yang masih remaja saat itu. Syaikhah Nunah sudah berusia 90-an tahun, namun saat Ibn Arabi menatap wajahnya, Ibn Arabi melihat pancaran sinarnya yang begitu menakjubkan. Begitulah dunia spiritual itu, yang tua sinarnya bisa menyilaukan seperti terlihat masih muda, dan yang muda aura-nya bisa terlihat seperti orang tua penuh wibawa.

Syaikhah Nunah selalu ceria meskipun ia hidup dalam kondisi serba papa. Dan ketika muridnya bertanya, gurunya menjelaskan, “Aku merasa sangat senang karena Allah swt selalu memperhatikanku. Terlebih karena Dia telah menjadikanku sebagai salah satu kekasihNya. Siapalah aku ini sampai Allah memilihku. Aku heran dengan mereka yang mengaku mencintai Allah tapi tak bisa merasa gembira dengan apapun yang Allah berikan padaNya [baik suka maupun duka].” Rasa bahagia berdekatan dengan Allah telah mengalahkan segala duka dan nestapanya.

Pada titik ini, saya teringat ungkapan sufi yang lain: “bahkan jika Allah menyodorkan racun pahit untuk aku minum, akan aku terima dengan bahagia bagaikan meminum anggur termahal”. Ah….jauhhh…masih jauhhh diri ini mengikuti para kekasihNya.

Syaikhah Nunah mengingatkan muridnya bahwa Sang Kekasih itu sangat pencemburu. “Sesaat saja aku berpaling dariNya dan tak menyadari kehadiranNya maka aku akan mendapat cobaan yang sebanding dengan kelengahanku.” Inilah makna dzikir yang sesungguhnya: selalu mengingat Allah dalam setiap langkah kita, dan sebagai ganjarannya Allah akan selalu menemani langkah kita. Jangan coba-coba berpaling apalagi berkhianat pada Sang Kekasih. Inilah “kontrak” mereka dengan Sang Kekasih.

Ibn Arabi menuturkan bahwa dalam munajatnya, Syaikhah Nunah mendapat penawaran dari Allah berupa kerajaanNya namun ia menjawab, “Aku hanya inginkan Engkau oh Gustiku. Hanya Engkau. Segala sesuatu selainMu hanyalah kehampaan.”

Sebagai gantinya, Allah memberinya hadiah berupa surat al-Fatihah yang senantiasa melayani kebutuhannya. Kata Ibn Arabi, guruku itu “orang yang sangat penyayang terhadap semesta”. Mereka yang sudah mampu mengikuti langkah Nabi Muhammad sebagai rahmat semesta alam tentu sangat layak mendapat ‘hadiah’ langsung dari Allah.

Ibn Arabi menyaksikan sendiri manakala seorang perempuan mengadu kepada Syaikhah Nunah bahwa ia telah ditinggalkan suaminya yang pergi ke kota lain, maka untuk menolong perempuan yang menderita itu, Syaikhah Nunah membaca surat al-Fatihah. Lalu datanglah surat al-Fatihah menjelma dan berjasad dalam bentuk seperti awan. Maka Sang Syaikhah meminta Surat al-Fatihah untuk membawa suami perempuan itu kembali ke Sevilla. Setelah peristiwa itu terdengar kabar bahwa suami perempuan itu sudah berkumpul kembali bersama keluarganya dalam waktu tiga hari. Sewaktu ditanya, suami itu kebingungan dan tidak mengerti bagaimana hatinya berubah dan kemudian memutuskan kembali ke rumahnya. Inilah salah satu karamah Syaikhah Nunah.

Pernah pula Sang Guru kehabisan minyak untuk pelita tendanya. Lalu Syaikhah Nunah menyuruh Ibn Arabi mengambil bejana berisi air. Dicelupkanlah tangan Syaikhah Nunah ke dalamnya, dan dengan ijin Allah, air pun berubah menjadi minyak.

Kawan, dari kisah ini kita bisa belajar bahwa baik lelaki maupun perempuan punya hak yang sama untuk mendekati Allah swt.

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridaan Allah adalah lebih besar: itu adalah keberuntungan yang besar. (QS al- Taubah:72)

Para perempuan pun ada yang derajatnya begitu dekat dengan Allah. Dan para lelaki yang paham tidak akan segan-segan belajar dari para perempuan. Ibn Arabi mendapat ilmu, pelajaran dan barakah dengan berguru dan berkhidmat pada Syaikah Nunah, seperti yang diceritakan sendiri oleh Ibn Arabi dalam kitabnya al-Futuhat al-Makkiyyah dan Ruh al-Quds.

Untuk para perempuan suci yang menjadi kekasih Allah di Timur dan di Barat…al-fatihah….

Tabik,

 

Nadirsyah Hosen

Thursday, October 4, 2018

Kegagalan gus dur

[MOJOK.CO] “Mengenang sewindu wafatnya Gus Dur.”

Jika kita menelusuri riwayat hidup Gus Dur, akan terlihat bahwa ia adalah sosok manusia yang boleh dikata “sering gagal”. Kok bisa? Ya, memang begitulah kenyataannya.

Kita bisa mulai dari yang sangat umum diketahui: Gus Dur tak pernah berhasil menyelesaikan pendidikan S-1.

Tahun 1962 Gus Dur pergi ke Mesir untuk kuliah di Universitas Al-Azhar atas beasiswa dari pemerintah yang merupakan kelanjutan kerja sama negara-negara yang ikut dalam Konferensi Asia-Afrika. Di Kairo ini ia lebih banyak baca buku, nonton film, dan keluyuran. Ia bosan kuliah karena pelajarannya, menurutnya, banyak mengulang yang sudah ia dapatkan di pesantren di tanah air.

Apa pun alasannya, Gus Dur gagal menyelesaikan kuliah di Al-Azhar. Hanya dua tahun di kota ini, ia kemudian hengkang ke Irak dan mengambil kuliah lagi di Universitas Baghdad. Jadi, dia mau nyoba jadi sarjana lagi nih, tapi lagi-lagi gagal dan hanya sanggup bertahan dua tahun di bangku kuliah.

Dua kali kuliah dan dua-duanya gagal diselesaikan. Untuk yang kedua ini, alasannya Gus Dur, ia tidak suka sistem hafalan. Apa pun alasannya, Gus Dur gagal. Anda yang bisa selesai S-1, lebih-lebih di Kairo atau Baghdad, tentu pada tingkatan ini lebih hebat dari seorang Gus Dur.

Setelah kegagalan ini, ia mencoba peruntungannya kuliah ke Belanda. Ia sangat tertarik dengan tradisi ilmiah di universitas-universitas di Barat. Ia pun mendaftarkan diri ke Universitas Leiden. Setelah beberapa bulan menunggu dan mukim di kota ini, ia kemudian menerima kenyataan pahit: tidak diterima. Alasannya, kuliah-kuliahnya di Mesir dan Irak tidak diakui kesetaraannya. Gus Dur pulang dengan perasaan sedih.

Nah, Anda yang bisa kuliah di Eropa, apalagi di Leiden, layak berbangga karena dalam hal ini Anda jauh di atas Gus Dur.

Ia pulang ke tanah air dan kembali ke Tebuireng, Jombang. Sambil mengajar di pesantren, konon ia berjualan kacang goreng hasil olahan sang istri untuk menunjang ekonomi keluarga. Ia kemudian mencoba peruntungan baru: melamar jadi dosen di IAIN Sunan Ampel. Hasilnya: tidak diterima. Duh Gus! Kurang apa pinternya, plus anak mantan menteri agama dan cucu pendiri NU lagi. Saya terus terang nggak bisa membayangkan perasaan Gus Dur saat itu.

Anda yang jadi dosen, lebih-lebih di IAIN Sunan Ampel, dalam hal ini jelas lebih hebat dari Gus Dur. Kipas-kipaslah!

Suatu kali ketika sedang aktif-aktifnya mengkritik pemerintahan Orde Baru, Gus Dur ditanya wartawan: sebenarnya apa sih cita-cita dan obsesinya? Gus Dur menjawab ringkas dan enteng: menulis novel. Kita tahu, Gus Dur tak pernah berhasil mewujudkan impiannya ini. Anda, yang telah berhasil menulis novel, tentu jauh lebih keren daripada Gus Dur.

Baca juga:  Ode untuk Pak Bondan Winarno yang Maknyuss
Demikianlah. Gus Dur ternyata cukup sering gagal dalam perjalanan hidupnya. Mungkin ada banyak kegagalan lainnya. Tapi, hidup harus bergulir dan kegagalan itu bagian dari rute dan halte yang harus dilewati untuk perjalanan yang lebih besar lagi. Andai dulu ia bisa menyelesaikan kuliahnya di Mesir atau Irak, para santri Tebuireng dan orang-orang sekitar Jombang akan mengenal seorang Gus Dur dengan gelar “Lc” yang amat mentereng saat itu, yang mengabdi di pondok hingga menjadi pimpinan pondok sembari sesekali main politik tingkat daerah. Mungkin. Tapi, dengan itu, mungkin juga takkan ada Gus Dur yang kita kenal.

Demikian juga kalau dulu dia diterima di Universitas Leiden, lingkungan akademis Indonesia mungkin akan mengenal seorang ilmuwan sosial bergelar M.A. atau bahkan Ph.D. yang mengajar di sebuah perguruan tinggi ternama sembari jadi konsultan pembangunan di sana-sini. Mungkin ia akan jadi guru besar yang masyhur. Setidaknya yang mengenal dan mengingatnya adalah para mahasiswa dan bimbingannya.

Gus Dur juga tidak diterima ketika mendaftar jadi dosen, jika tidak, kampus IAIN Sunan Ampel tentu akan mencatat nama Abdurrahman Ad-dakhil sebagai dosen PNS yang rajin meneliti, menulis, dan berpikir keras siang

Monday, October 1, 2018

TAKOK SANTRENA GILE DUNNYA

" TAKOK SANTRENA GILE DUNNYA" (takut santrinya gila dunia)

Suatu saat KHR. SYAMSUL ARIFIN  pulang ke Madura, saat di Madura Putra Mahkotanya KHR. AS'AD SYAMSUL ARIFIN (Kyai As'ad) mengganti atap rumah ayahandanya yg terbuat dari rumput ilalang dengan genteng, tentu maksudnya agar ayahandanya merasa lebih nyaman dan tenang, selain itu perwujudan amal bakti yg baik kepada orang tua.
Lalu apa yang terjadi....?
Begitu Kyai Syamsul arifin pulang ke Madura beliau tidak mau masuk ke rumahnya, sehingga harus singgah ke rumah KH. ABD.FATTAH Nyamplong, Beliau bilang tidak mau masuk rumahnya selama genteng rumahnya tidak diganti dengan atap dari rumput ilalang seperti semula, kemudian beliau ditanya mengapa? Jawab beliau : " Takok tang santre gile dunnya (takut santrinya gila dunia)"
Inilah sosok ulama pewarisnya para nabi, maka teringat pada sejarah Rosulullah yg pipinya selalu ada bekas ketika habis istirahat, lalu sayyidina Umar memeriksanya, ternyata bantal yg beliau pakai adalah potongan pelepah kurma.
Lalu siapakah diantara santri Kyai Syamsul Arifin saat ini yg mampu mengikuti jejak beliau, untuk ikut jejak rosul terlalu jauh, sedangkan mengikuti kezuhudan Kyai Syamsul Arifin sangat sulit dan langka menemukan di jaman akhir ini....
Subhaanallah.....